Anda di halaman 1dari 11

atau aliran darah dan akan tersangkut pada berbagai organ.

Jadi TB
primer merupakan infeksi yang bersifat sistemis (Muttaqin, 2015).
2. Tuberculosis Sekunder
Setelah terjadi resolusi dari infeksi primer, sejumlah kecil bakteri
TB masih hidup dalam keadaan dorman di jaringan parut. Sebanyak
90% diantaranya tidak mengalami kekambuhan. Reaktifitas penyakit
TB terjadi bila daya tahan tubuh menurun, alkoholisme, keganasan,
slikosis, diabetes mellitus, dan AIDS.
Berbeda dengan TB primer, pada TB sekunder kelenjar limfe
regional dan organ lainnya jarang terkena, lesi lebih terbatas dan
terlokasi. Reaksi imonologis terjadi dengan adanya pembentukan
granuloma, mirip dengan yang terjadi pada TB primer. tetapi, nekrosis
jaringan lebih menyolok dan menghasilkan lesi kaseosa (pengkijauan )
yang luas dan disebut tuberkuloma. Protease yag dikeluarkan oleh
akrofag aktif akan meyebabkan pelunakan bahan kaseosa. Secara
umum, dapat dikatakan bahwa terbentuknya kavitas dan manifiestasi
lainnya dari TB sekunder adalah akibat dari reaksi nekrotik yag
dikenal sebagai hipersesitivitas seluler (Mutaqqin, 2015).
H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut  Nurafif, 2015 ada beberapa pemeriksaan penunjang
pada klien dengan dengan tuberkulosis paru untuk menunjang dignosis
yaitu :
1. Sputum culture: untuk memastikan apakah keberadaan M.
Tuberkulosis pada stadium aktif.
2. Ziehl neelsen (Acid-fast staind applied to smear of body fluid) : positif
untuk BTA.
3. Skin test (PPD, mantoux, tine, and vollmer patch): reaksi postif (area
indurasi 10 mm atau lebih, timbul 48-72 jam setelah injeksi antigen
intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibodi, tetapi
tidak mengindikasikan penyakit yang sedang aktif.
4. Chest X-ray: dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal
dibagian paru paru, deposit kalsium pada lesi primer yang membaik
atau cairan pleura. Perubahan yang mengindikasikan TB yang lebih
berat dapat mencakup area berlubang dan fibrosa.
5. Histlogi atau kultur jaringan ( teramasuk kumbah lambung, urin dan
CSF, serta biopsi kulit): positif untuk M. Tuberkulosis.
6. Needle biopsi of lung tissue: positif untuk granuloma TB, adanya sel-
sel besar yang mengindikasikan nekrosis.
7. Elektrolit: mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya
infeksi misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air, dapat
ditemukan pada TB paru-paru lanjut kronis.
8. ABGs: mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat, dan sisa kerusakan
paru paru.
9. Bronkografi: merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan
bronkhus atau kerusakan paru-paru karena TB.
10. Darah: leukositosis, LED meningkat.
11. Tes fungsi paru paru: VC menurun, dead space meningkat, TLC
meningkat, dan menurunnya saturasi O2 yang merupakan gejala
sekunder dari fibrosis/infiltrasi parenkim paru-paru dan penyakit
pleura. ( Nurafif, 2015 )
Menurut Muttaqin, 2011 pemeriksaan penunjang untuk
tubercolosis yaitu
1. Pemeriksaan rontgen thorax, hasilnya ditemukan lesi sebelum
ditemukan gejala subyektif awal dan sebelum pemeriksaan fisik
menentukan kelainan paru dan bila pemeriksaan menemukan kelainan
2. Pemeriksaan sputum klien, sputum sebaiknya diambil pada pagi hari
dan yang pertama keluar. Jika sulit didapatkan maka sputum akan
dikumpulkan selama 24 jam.
3. Pemeriksaan urine, urine yang diambil adalah urine pertama di pagi
hari atau urine yang dikumpulkan selama 12 sampai 24 jam
4. Pengambilan cairan kumbah lambung, umumnya bahan pemeriksaan
ini digunakan jika anak-anak atau klien tidak dapat mengeluarkan
sputum
5. Bahan bahan lain misalnya pus, cairan serebrospinal, sumsum tulang
belakang, cairan pleura, jaringan tubuh, faeces dan swab tenggorok
(Muttaqin, 2011).
I. Penatalaksanaan
1. Secara Keperawatan
a. Berdasarkan jurnal Effect of Inhalation of Aromatherapy Oil on
Patients with Perennial Allergic Rhinitis: A Randomized
Controlled Trial Pemberian inhalasi minyak aroma terapi ini
dapat memberikan kualitas tidur dan kelelahan menjadi
berkurang, pada penelitiannya ini sangat signifikan
peningkatan TNSS terutama pada sumbatan pada hidung.
b. Berdasarkan jurnal Vitamin D, cod liver oil, sunshine, and
phototherapy: Safe, effective and forgotten tools for treating
and curing tuberculosis infections — A comprehensive review
Secara historis, minyak hati ikan kod pada tahun 1840-an,
fototerapi pada tahun 1890-an, sinar matahari pada tahun 1890-
an dan 1930-an, vitamin D oral dalam dosis 100.000-150.000
unit internasional sehari pada tahun 1940-an, dan vitamin D
suntik dalam Semua tahun 1940-an terbukti mampu mengobati
TBC dengan aman.
c. latihan batuk efektif terhadap frekuensi pernafasan
Batuk efektif adalah aktivitas perawat untuk membersihkan
sekresi pada jalan nafas, yang berfungsi untuk meningkatkan
mobilisasi sekresi dan mencegah risiko tinggi retensi sekresi.
Setelah diberikan tindakan batuk efektif dalam waktu 1 x 24
jam diharapkan pasien mengalami peningkatan bersihan jalan
nafas.
2. Secara medis
Berdasarkan Nurarif 2015, membgi penatalaksanaan medis
tuberculosis menjadi 3 bagian yaitu : pencegahan, pengobatan dan
penemuan penderita (active case finding).
a. Pencegahan
1) Pemeriksaan kontak yaitu pemeriksaan terhadap individu yang
bergaul erat dengan penderita tb paru BTA positif.
Pemeriksaan meliputi tes tuberkulin, klinis, radiologi. Bila tes
tuberkulin positif maka pemeriksaan radiologis foto thorax
diulang pada 6 dan 12 bulan mendatang. Bila, masih negatif
diberikan BCG vaksinasi. Bila pemeriksaan positif berarti
terjadi konversi hasil tes tuberkulin dan diberikan
kemoprofilaksis (Nurarif ,2015).
2) Mass chest X-Ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap
kelompok populasi seperti karyawan tenaga kesehatan,
penghuni rumah tahanan dan santri pesantren (Muttaqin,2015).
3) Kemoprofilaksis dengan menggunakan INH 5 mg/kgBB
selama 6 sampai 12 bulan untuk menghancurkan dan
mengurangi bakteri yang masih sedikit (Nurarif , 2015).
b. Pengobatan
Pengobatan TB dibagi dalam 2 tahap yaitu tahap awal
atau intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai tahap
lanjutan. Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam
obat pada fase awal/intensif (2 bulan pertama) dan dilanjutkan
dengan 2 macam obat pada fase lanjutan (4 bulan, kecuali pada
TB berat). Panduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama
dan tambahan. Obat yang digunakan adalah OAT (Obat Anti
Tubercolosis) yang mengandung Rifampisin, Isoniazid,
Pirazinamid, Streptomisin dan Etambutol. Aturan pakai OAT
(Nurarif , 2015).
J. Komplikasi

Komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit tuberculosis paru,


yaitu (Muttaqin, 2011) :
a. Penyakit yang parah dapat menyebabkan sepsis yang hebat, gagal
nafas, dan kematian
b. TB yang resisten terhadap obat dapat terjadi. Kemungkinan jalur lain
yng resiten obat dapat terjadi. (Muttaqin, 2011)
Menurut Corwin 2009 mengatakan Komplikasi yang serius dan
meluas Tuberkulosis Paru  saat ini adalah berkembangnya basil
tuberculosis yang resisten terhadap berbagai kombinasi obat. Resistensi
terjadi jika individu tidak menyelesaikan program pengobatannya hingga
tuntas, dan mutasi basil mengakibatkan basil tidak lagi responsive
terhadap antibiotic yang digunakan dalam waktu jangka pendek. Basil
tuberculosis bermutasi dengan cepat dan sering. Tuberculosis yang
resisten terhadap obat obatan juga dapat terjadi jika individu tidak dapat
menghasilkan respons imun yang efektif sebagai contoh, yang terlihat
pada pasien AIDS atau gizi buruk. Pada kasus ini, terapi antibiotik hanya
efektif sebagian. (Corwin, 2009).
10. Pola Pertahanan Diri (Coping-Toleransi Stres)
Menggambarkan kemampuan untuk menanngani stress dan
penggunaan system pendukung penggunaan obat untuk menangani
stress.
11. Pola Keyakinan Dan Nilai
Menggambarkan dan Menjelaskan pola nilai,keyakinan termasuk
spiritual. Menerangkan sikap dan keyakinan klien dalam melaksanakan
agama yang dipeluk dan konsekuensinya.
2. Diagnosa
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan benda
asing dalam jalan nafas (00031)
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis (00002)
c. Hipertermia berhubungan dengan penyakit (00007)
d. Resiko infeksi berhubungan dengan leukopenia (00004)
3. Intervensi
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas berhubugan dengan benda
asing dalam jalan nafas (00031)
a. Batasan Karakteristik
a) Batuk Yang Tidak efektif
b) Dispnea
c) Penurunan bunyi nafas ( Heather, 406)
b. NOC
Outcame : status pernafasan : kepatenan jalan nafas ( P )

No Kode Indikator 1 2 3 4 5

1 041004 Frekuensi Pernafasan

2 041005 Irama Pernafasan

3 041007 Kedalaman Inspirasi

4 041012 Kemampuan untuk


mengeluarkan sekret

Keterangan : 1 = Deviasi berat dari kisaran normal


2 = Deviasi yang cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal
( Sue Moorhead, 558)
Outcame : status pernafasan : pertukaran gas ( E )

No Kode Indikator 1 2 3 4 5

1 040210 PH arteri

2 040211 Saturasi oksigen

3 040212 Tidal Karbondioksida akhir

4 040213 Keseimbangan ventilasi


dan perfusi

Keterangan : 1 = Deviasi berat dari kisaran normal


2 = Deviasi yang cukup berat dari kisaran normal
3 = Deviasi sedang dari kisaran normal
4 = Deviasi ringan dari kisaran normal
5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal
( Sue Moorhead, 559)
c. NIC
1. Monitor respirasi dan satus oksigen pasien
2. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
3. Keluarkan secret dengan batuk atau suction
4. Pastikan kebutuhan oral atau tracheal suctioning
5. Berikan oksigen dengan menggunakan nasal untuk
memfasilitasi suction nasotrakeal

2. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh


berhubungan dengan faktor biologis (00002)
a. Batasan Karakteristik
a) Bising usus hiperaktif
b) Gangguan sensasi rasa
c) Diare ( Heather, 177)
b. NOC
Outcame : Status Nutrisi : Asupan Nutrisi ( P )

No Kode Indikator 1 2 3 4 5

1 100901 Asupan Kalori

2 100902 Asupan Protein

3 100903 Asupan Lemak

4 100904 Asupan Karbohidrat

Keterangan : 1 = Tidak Adekuat


2 = Sedikit Adekuat
3 = Cukup Adekuat
4 = Sebagian Besar Adekuat
5 = Sepenuhnya Adekuat
( Sue Moorhead, 553 )
Outcame : status nutrisi Asupan Makanan dan Cairan ( E )

No Kode Indikator 1 2 3 4 5

1 100801 Asupan makanan secara


oral

2 100803 Asupan cairan secara oral

3 100804 Asupan cairan intravena

4 100805 Asupan Nutrisi Parenteral

Keterangan : 1 = Tidak Adekuat


2 = Sedikit Adekuat
3 = Cukup Adekuat
4 = Sebagian Besar Adekuat
5 = Sepenuhnya Adekuat
( Sue Moorhead, 553 )
Outcame pengetahuan manajemen berat badan ( S )
No Kode Indikator 1 2 3 4 5

1 184101 Kisaran Berat Badan


personal yang optimal

2 184102 Massa indeks tubuh yang


optimal

3 184103 Strategi untuk mencapai


berat badan yang optimal

4 184104 Strategi mempertahankan


berat badan optimal

Keterangan : 1 = Tidak ada pengetahuan


2 = pengetahuan terbatas
3 = pengetahuan sedang
4 = pengetahuan banyak
5 = pengetahuan sangat banyak
( Sue Moorhead, 370 )
c. NIC
a) Manajemen Cairan
1) Timbang berat badan setiap hari dan monitor status
klien
2) Hitung dengan baik
3) Jaga asupan yang akurat dan catat outcame
b) Manajemen Nutrisi
1) Tentukan status gizi pasien dan kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan gizi
2) Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan
yang dimiliki pasien
3) Tentukan jumla kalori dan jenis nutrisi yang
dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi
c) Manajemen Berat Badan
1) Diskusikan dengan pasien mengenai hubungan
antara asupan makanan, olahraga, peningktan
berat badan, dan penurunan berat badan
2) Diskusikan dengan pasien mengenai kondisi
medis apa saja yang berpengaruh terhadap berat
badan
3) Dorong pasien untu mengkonsumsi air yang
cukup setiap hari
3. Hipertermi berhubungan dengan leukopenia (00007)
a. Batasan karakteristik
1) Kulit terasa hangat
2) Takikardi
3) Kulit kemerahan

b. NOC
No. Indikator 1 2 3 4 5
1 Merasa merinding
. saat dingin
2 Berkeringat saat
. panas
3 Mengigil saat
. dingin

Keterangan :
1. Sangat terganggu
2. Banyak terganggu
3. Cukup terganggu
4. Sedikit terganggu
5. Tidak terganggu
c. NIC
1) Perawatan demam
a) Monitor warna kulit dan suhu
b) Mandikan (pasien) dengan spons hangat dengan hati-hati
(yaitu : berikan untuk pasien dengan suhu yang sangat
tinggi tidak memberikannya selama fase dingin, dan hindari
agar pasien tidak menggigil)
c) Pastikan tanda lain dari infeksi yang terpantau pada orang
tua, karena hanya menunjukan demam ringan atau tidak
demam sama sekali selama proses infeksi
2) Pengaturan suhu
a) Monitor dan laporkan adanya tanda dan gejala dari
hipotermia
b) Instruksikan pasien bagaimana mencegah keluarnya panas
dan serangan panas
Instruksikan pasien, khsusunya pasien lansia,
mengenai tindakan untuk mencegah hipertemia karena
paparan dingin