Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH DEMOGRAFI

Disusun Oleh :
Kelompok 1
kelas 3A
Adhitya Indra Maulana ( A0009001 )
Aditya Widyananda ( A0009002 )
Alfian Nur Faqih ( A0009004 )
Anisatul Arifa ( A0009005 )
Annisa Rizki Lestari ( A0009006 )
Arfat Rizanti ( A0009007 )

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


STIKES BHAMADA
2011
BAB I
LATAR BELAKANG

Walaupun kebijakan kependudukan dan program pembangunan sosial dan ekonomi yang
dihasilkan Indonesia telah berhasil menurunkan angka kelahiran dan kematian sehingga
menghambat laju pertumbuhan penduduk tetapi jumlah penduduk Indonesia masih akan terus
bertambah. Di daerah yang yang pertumbuhan penduduknya telah menurun, terjadi perubahan
struktur umur penduduk yang ditandai dengan penurunan proporsi anak-anak usia 15 tahun
disertai dengan peningkatan pesat proporsi penduduk usia kerja dan peningkatan proporsi
penduduk usia lanjut (lansia) secara perlahan.

Sedangkan di daerah yang tingkat pertumbuhan penduduknya masih tinggi, proporsi


penduduk usia 0-4 tahun masih besar sehingga memerlukan investasi social dan ekonomi yang
besarr pula untuk penyediaan sarana tumbuh kembang, termasuk pendidikan dan kesehatan.

Pertumbuhan penduduk, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah, dan
sempitnya kesempatan kerja merupakan akar permasalahan kemiskinan. Jadi, aspek demografis
mempunyai kaitan erat dengan masalah kemiskinan yang dihadapi di Indonesia pada saat ini.
Kesimpulannya adalah bahwa pertumbuhan penduduk berkaitan dengan kemiskinan dan
kesejahteraan masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONEP DASAR DEMOGRAFI
1. Pengertian
Demografi berasal dari kata demos yang berarti rakyat atau penduduk dan
grafein yang berarti menulis. Jadi, demografi adlah tulisan-tulisan atau karangan-
karangan mengenai penduduk. Menuruit A. Guillaerd (1985), demoigrafi adalah
elements de statistique humaine on demographic compares. Definisi demografi
antara lain sebagai berikut.
1. Demografi merupakan studi ilmiah yang menyangkut masalah kependudukan,
terutama dalamm kaitannya dengan jumlah, struktur, dan perkembangan suatu
penduduk.
2. Demografi merupakan studi stastistik dan matematis tentang besar, komposisi,
dan distribusi penduduk, serta perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui
komponen demografi, yaitu kelahiran, kematian, perkawinan, dan mobilitas
sosial.
3. Demografi merupakan studi tentang jumlah, penyebaran territorial dan
komposisi penduduk, serta perubahan-perubahan dan sebab-sebabnya.

2. Ruang lingkup
Demografi mencakup batasan-batasan umum kematian, kelahiran, migrasi, dan
perwakinan dengan proses penduduk dan hukum pertumbuhan penduduk. Sedangkan
menurut A. Laundry (1937), demografi formal bersifat analitnik matematik dan
teknik-teknik sosiologikal. Demografi atau studi populasi adalah penghubungan
antara penduduk dan sistem sosiel.

3. Tujuan dan kegunaan


1. Mempelajari kuantitas dan distribusi penduduk dalam daerah
tertentu.
2. Menjelaskan pertumbuhan, masa lampau, penurunannya, dan
persebarannya.
3. Menggambarkan hubungan sebab akibat antara perkembangan
penduduk dengan bermacam-macam aspek organisasi sosial.
4. Mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk di masa akan
datang dan kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya.
4. Kebijakan penduduk
Kebijakan kependuduk merupakan gejala yang relatife baru. Kebijakan dapat
meliputi penyediaan lapangan kerja untuk penduduk yang menghendakinya,
memberikan kesempatan pendidikan, meingkatkan kesejahteraan, serta usaha-usaha
untuk menambah kesejahteraan penduduk lainnya. Berbagai kebijakan itu
mempengaruhi penduduk, naik mengenai besar komposisi, distribusi,
pertumbuhannya, maupun cirri-ciri penduduk yang lain. Kebijakan kependudukan
menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan langkah-langkah dan
program-program yang membantu tercapainya tujuan-tujuan ekonomi, sosial,
demografi, dan tujuan-tujuan umum yang lain dengan jalan mempengeruhi variabel-
variabel demografi utama, yaitu besar dan pertumbuhan penduduk, serta perubahan
dan cirri-ciri demografi. Perlu dibedakan antara kebijakan yang mempengaruhi
variabel-variabel kependudukan maupun yang menggapai perubahan-perubahan
penduduk. Kebijakan yang mempengaruhi variabel kependudukan, misalnya
mengadakan vaksinasi anak-anak dengan tujuan menyelamatkan mereka dari
berbagai penyakit yang berbahaya.
Kebijakan yang menggapai perubahan penduduk antara lain pendirian sekolah-
sekolah untuk menampung peningkatan jumlah anak-anak yang disebabkan oleh
penurunan angka kematian anak-anak. Kebijakan kependudukan berhubungan
dengan keputusan pemerintah. Dengan merujuk pada kelahiran, kematian, dan
perbesaran penduduk pemerintah menyusun kebiakn yang mempengaruhi penduduk.

5. Ruang lingkup kebijakan penduduk


Kebijakan kependudukan berhubungan dengan dinamika kependudukan, yaitu
perubahan-perubahan terhadap tingkat fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Kebijakan
kependudukan dapat mempengaruhi fersilitas. Fersilitas sering hanya hubungankan
dengan penurunan fersilitas melalui Keluarga Berencana (KB). Kebijakan mengenai
mortalitas biasanya langsung dihubungkan dengan kesehatan, bahkan sering
dihubungkan dengan klinik, rumah sakit, dan dokter. Mortalitas mempunyai
hubungan yang erat dengan morbidilitas.
Migrasi merupakan mekanisme redistribusi penduduk. Urbanisasi sebagai
keadaan dan proses pemutusan penduduk di daerah urban (perkotaan) banyak
dipengaruhi oleh migrasi dari desa ke kota. Masalah yang dapat mempengaruhi
fersilitas ialah nuptialitas, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan perkawinan.

6. Program – program kependudukan


Kegiatan nyata untuk melakukan kebijakan dengan dasar tertentu, batas waktu,
dan dana tertentu. Kegiatan KB adalah program kependudukan. Peningkatkan
pelayanan kesehatan ibu dan anak yang akan menurunkan angka kematian bayi juga
merupakan program kepnduduk. Dalam kenyataannya, program kependudukan di
Indonesia diartikan sebagai beyond family planning yaitu kegiatan-kegiatan yang
menjangkau lebih jauh dari KB.
Transmigrasi merupakan kebijakn kependudukan mengenai migrasi.
Kebijakannya adalah redistribusi penduduk melalui migrasi yang diatur oleh
pemerintah sejak tahun 1972 dengan Undang-Undang No. 3 yang mengatur tentang
Pokok-pokok Penyelenggaraan Transmigrasi.

7. Kebijakan kependudukan diberbagai negara


Pengertian kebijakan kependudukan di banyak negera dihuungkan dengan KB. Di
negara-negara tersebut, usaha KB dilakukan oleh organisasi-organisasi masyarakat
dengan dana dari masyrakat pula. Dengan demikian, pengetahuan dan sikap positif
terhadap KB serta praktik KB dimulai dari golongan atas menurun ke golongan
menengah terus ke golongan buruh akhirnya mencapai petani di desa-desa.

8. Berbagai kebijakan kependudukan


Kebiajakan yang banyak dianut di berbagai negara adalah kebijakan antinatalis.
Negara-negara yang menjalankan kebijakan KB bersifat antinatalis. Alasan umum
yang digunakan adalah untuk kesejahteraan ibu dan anak, baik ditinjau dari
kesehatan ibu dan anak maupun pertimbangan kesejahteraan sosial ekonomi
keluarga.
Sedangkan kebijaksanaan pronatalis tidak banyak diikuti. Contoh yang sering
digunakan adalah Perancis yang sudah kalah perang dengan Jerman pada tahun
1871, keluarga-keluarga dianjurkan untuk memperbesar jumlah keluarga dengan
meningkatkan kelahiran. Sementara itu, pemerintahan Hongkong menggalakkan
memperbesar jumlah keluarga sebab tren ibu-ibu karier yang tidak ingin mempunyai
anak dulu. Macam kebijakan kependudukan dapat bersifat nasional terpadu atau
sektoral. Semua komponen yang mempunyai hubungan dengan penduduk
mempunyai orientasi yang sama.
Negara-negara Asia terbagi dua dalam kebijakan kependudukannya. Negara-
negara di Asia Selatan, Tenggara, dan Timur hampir semua mengikuti kebijakan
antinatalis. Dari Pakistan sampai Jepang, dengan perkecualian Birma dan Vietnam,
semuanya menjalankan KB. Cina bahkan sejak akhir-akhir ini mengusahakan
keluarga dengan hanya satu anak setelah penduduk mendekati jumlah satu miliar.
Program-program yang mempunyai akibat kependudukan lebih bersifat sosial
ekonomi atau sekadar menampung akbat-akibat negative tindakan masyarakat. Di
Amerika selatan kebijakan kepndudukan dapat dibagi dua, yaitu kebijakan pronalitas
di sebagaian besar negara-negara yang penduduknya beragama Katolik dan
antinatalis. Negara-negara Amerika Latin mengikuti paham yang mengatakan bahwa
apabila keadaan sosial ekonomi diperbaiki, maka angka kelahiran akan turun, seperti
halnya dalam teori transisi demografi.

9. Kebijakan kependudukan di indonesia


Kebijakan yang menyangkut distribusi penduduk sesudah diikuti sejak permulaan
abad ke-19 oleh pemerintah Hindia belanda. Jawa diperkirakan hanya mampu
menampung 30 juta penduduk dan selebihnya harus ditransmigrasikan. Undang-
undang No. 3 Tahun 1972 memberikan tujuan yang luas pada transmigrasi di mana
pertimbangan demografi hanya merupakan satu dari 7 sasaran yang terdiri atas:
1. Peningkatan taraf hidup
2. Pembangunan daerah
3. Keseimbangan penyebaran penduduk.
4. Pembangunan yang merata di seluruh Indonesia
5. Pemanfaatan sumber-sumber alam dan tenaga manusia
6. kesatuan dan persatuan bangsa
7. Memperkuat pertahanan dan keamanan nasional.

Kebijakan kependudukan telah dirumuskan dalam GBHN. Kebijakan ini


merupakan bagian dari kebijakan kependudukan yang meliputi:
1. Bidang pengendalian kelahiran
2. Penurunan tingkat kematian terutama kematian anak-anak;
3. Perpanjangan harapan hidup
4. Penyebaran penduduk yang lebih serasi dan seimbang;
5. Pola urbanisasi yang lebih berimbang dan merata
6. Perkembangan dan penyebaran angkatan kerja.

Kebijakan kependudukan utama di Indonesia adalah Kebijakan Keluarga


Berencana. Kebijaksanaan ini sudah diketahui oleh semua petugas KB maupun
masyarakat.
1. Program KB sesuai dengan Deklarasi PBB mengenai kependudukan di mana
Presiden Soeharto ikut menandatangani deklarasi ini. Kebijaksanaan pemerintah
yang menjadi komitmen pimpinan teringgi untuk melaksanakan program KB
merupakan salah satu produk “Orde Baru” yang paling penting dengan jangkauan
yang jauh.
2. Kenyataan bahwa dukungan masyarakat cukup besar dari golongan maupun
secara prinsipil tidak ada terhadap program KB.
3. Indnesia dapat membuktikan nbahwa KB dapat di laksanakan di daerah pedesaan
secara efektif. Kegagalan program KB di negara-negara lain karena dimulai pada
aspek teknis medis, yaitu pengadaan klinik-klinik KB.
4. Menjadikan KB sebagai suatu lembaga atau pranata sosial, maka KB diusahakan
untuk menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat dalam bentuk Norma
Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).
5. Usahakan untuk melaksanakan kegiatan beyond family planning. Konsep ini
sebenarnya sebagai usaha untuk mempertemukan tiga pandangan, diantaranya
adalah sebagai berikut :
a. Pandangan yang menyatakan bahwa penurunan fertilitas hanya dapat dicapai
melalui pemangunan ekomomi. Apabila ekonomi terbangun, fertilitas akan
turun dengan sendirinya.
b. Pandanga bahwa perubahan nilai-nilai dalam masyarakat yang mengurangi
peranaan anak dalam kehidupan keluarga dan sebagai jaminan hari tua
maupun tenaga bantu untuk keluarga.
c. Pandangan bahwa dengan program KB yang dikelola dengan baik, fertilitas
akan dapat diturunkan.

Negara-negara yang berhasil menurunkan fertilitas dengan cepat dalam masa


dua dasawarsa terakhir adalah Korea Taiwan, Hongkong, dan Singapura.
Dalam hal transmigrasi masih perlu untuk mencari pendekatan yang lebih
mantap. Cara berpikir yang inovatif dan lebih efisien perlu dikembangkan sehingga
sasaran kuantiatif (500 ribu kepala keluarga) dalam Pelita III dapat dicapai. Sesuai
dengan Undang-undang No. 31 Tahun 1972, transmigrasi swakarsa harus lebih
didorong untuk memulai proses migrasi berantai.
Baik KB maupun transmigrasi mempunyai implikasi sosial, ekonomi,
budaya, dan politik. Mengingat pentingnya masalah kependudukan, sehingga perlu
adanya undang-undang yang mengatur pokok-pokok mengenai kependudukan
sebagai suatu sistem yang terpadu. Undang-undang yang mencakup aspek-aspek
kependudukan secara menyeluruh akan menjadi pegangan dalam menangani
masalah penduduk yang kompleks secara terpadu.

10. Masalah kependudukan di indonesia


Berikut ini adalah masalah kependudukan yang ada di Indonesia.
1. Jumlah penduduk relative besar; pada tahun 2000 diperkirakan 200 juta.
2. Laju pertummbuhan penduduk tinggi, pada tahun 1971-1980 = 2,32% tahun.
3. Kepadatan penduduk penyebarannya tak merata.
4. Susunan usia penduduk tak seimbang.
11. Transisi demografi
Angka kelahiran dan kematian

50 tingkat kelahiran
40

30 I II III IV
Tingkat kematian

Trransisi demografi

Keterangan :
1. Stabil tinggi : kelahiran tinggi, kematian tinggi.
2. Stabil rendah : kelahiran rendah, kematian rendah.
3. Dari stabil tinggi ke stabil rendah melalui tahapan transisi (tahap I-IV).

Tahap I : Pratansisi
Angka kelahiran tinggi, kematian tinggi. Mengapa? Manusia masih sangat
bergantung pada alam musim panen, disamping itu banyak peperangan, penyakit,
dan lain-lain. Jadi kelahiran tinggi merupakan kompensasi kematian yang tinggi.
Tahap II
Ada keterlibatan pemerintah, angka kematian manurun, tetapi kelahiran
meningkat karena masyarakat tidak tahu adanya penurunan kematian. Shingga
terjadilah peledakan penduduk dan krisis pangan.
Tahap III
Tahap ini pada garis dimulailah revolusi industri yang memperkerjakan
orang usia produktif laki-laki dan perempuan sehingga ada tahap ini kelahiran
menurun.
Tahap IV
Pada akhirnya industri membawa dampak penurunan pertambahan kelahiran,
karena orang sudah berubah pola pikinya. Mereka memilih tidak punya anak/ tidak
menikah karena dirasakan lebih menguntungkan atau bisa dinikmati.
Transisi di Indonesia
Sebelum merdeka angka kelahiran tinggi, kematian tinggi (karena budaya,
seperti orang Jawa; adanya istilah anak ontang-anting, pendawa lima, dan lain-lain).
Transisi dimulai pada tahun 1966 dengan adanya angak kelahiran yang tinggi dan
kematian rendah. Program Keluarga Berencana dimulai pada tahun 70-an.
12. Struktur dan persebaran penduduk

Struktur dan persebaran penduduk akan membahas terbatas pada komposisi


penduduk dan persebaran penduduk. Dalam demografi ada tiga fenomena yang
merupakan bagian penting dari penduduk, yaitu: 1) dinamika kependudukan
(change in population), 2) komposisi penduduk (population composition), 3) besar
dan persebaran penduduk (size and poplation distribution) .

Sebagaimana kita ketahui, penduduk dapat dibagi dalam berbagai cirri atau
karakteristik tertentu, baik sosial ekonomi maupun geografis. Pengelompokan
penduduk sanat berguna untuk berbagai maksud dan tujuan sebagai berikut.

1. Mengetahui sumber daya manusia yang ada, baik menurut usia


maupun jenis kelamin.

2. Mengambil suatu kebijaksanaan yang berhubungan dengan


kependudukan.

3. Membandingkan keadaan suatu penduduk dengan penduduk


lainnya.

4. Melalui penggambaran piramida penduduk dapat diketahui


“proses demografi” yang telah terjadi pada penduduk tersebut.

13. Komposisi penduduk


Pengelompokkan penduduk berdasarkan cirri-ciri tertentu dapat diklasifikasikan
sebagai berikut : 1) bilogis, meliputi: usia dan jenis kelamin; 2) sosial, meliputi:
tingkat pendidikan, status perkawinan dan sebagainya; 3) ekonomi, meliputi:
penduduk yang aktif secara ekonomi, lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, tingkat
pendapatan, dan sebaginya; 4) geografis berdasarkan tempat tinggal, daerah
perkotaan, pedesaan, provinsi, dan kabupaten.
1. Komposisi penduduk menurut usia dan jenis kelamin
Usia dan jenis kelamin merupakan karakter penduduk yang pokok. Struktur ini
mempunyai pengaruh penting, baik terhadap tingakh laku demografis maupun
sosial ekonomi. Distribusi usia dalam demografi penduduk dapat digolongkan
menurut usia satu tahunan juga lima tahunan.
Tabel Distribusi Usia dalam Demografi
Contoh Usia Satu Usia Lima
Tahunan Tahunan
0 0–4
1 5–9
2 ….. dst 10 – 14 … dst

2. Pengelompokan penduduk berdasarkan cirri-ciri sosial.


Pengelompokan penduduk berdasarkan cirri-ciri sosial antara lain tingkat
pendidikan pendudukk, status perkawinan, dan sebaginya. Komposisi penduduk
menurut tingkat pendidikan tercermin pada kepandaian membaca, menulis
(literacy), dan tingkat pendidikan.
3. Penduduk berdasarkan cirri-ciri ekonomi
Penduduk berdasarkan ciri-ciri ekonomi meliputi: lapangan pkerjaan, jenis
pekerjaan, status pkerjaan, dan sebagainya.
4. Komposisi penduduk Indonesia berdasarkan tempat tinggalnya.
Berdasarkan data sensus tahun 1971 komposisi penduduk Indonesia adalah
sebagai berikut.
a. Penduduk yang tinggal di daerah perkotaan sebesar 17,4%
b. Penduduk yang tinggal di daerah pedesaan sebesar 72,6%.

14. Konsep, definisi, dan Ukuran-ukuran dalam Demograsi


Dalam membahas komposisi penduduk, terutama yang berhubungan dengan
komposisi menurut usia dan jenis kelamin, terdapat beberapa konsep, definisi, dan
ukuran-ukuran yang perlu diketahui, antara lain sebagai berikut.

1. Usia Tunggul (Single Age)


Usia tunggal adalah usia sesorang yang dihitung berdasarkan hari ulang tahun
terakhirnya. Misalnya, jika sekarang berusia 11 ½ tahun, maka dalam pengertian
di atas dianggap berusia 11 tahun. Pada kenyataannya, baik dalam survey maupun
sensus menanyakan usia seseorang tidaklah mudah. Masih banyak penduduk
Indonesia yang tidak tahu sama sekali mengenai tanggal kelahiran maupun
tahunnya. Ada kecendurungan orang menyenangi usia-usia 30 tahun, keadaan
seperti itu disebut age heaping atau age preference. Kesalahan pelaporan usia
bisa terjadi, baik lapangan (sewaktu survey ataupun sensus) maupun pada saat
memproses data usia.
2. Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio)
Perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk
perempuan pada suatu daerah dan waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam
banyaknya penduduk laki-laki per 100 perempuan. Rumus :

Sex Ratio = Jumlah penduduk laki-laki x k


Jumlah penduduk
Perempuan

Pada tahun 2008 rasio jenis kelamin penduduk Indonesia 97. Ini berarti tiap 100
perempuan terdapat 97 laki-laki, yaitu jumlah penduduk laki-laki 58.338.664 dan
jumlah penduduk perempuan 60.029.206

Sehingga sex ratio = dibulatkan menjadi 97.

3. Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio)


Angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya orang yang tidak
produktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun ) dengan banyaknya orang
yang termasuk usia produktif (usia 15-64 tahun )
4. Usia Median (Median Age)
Usia median adalah usia yang membagi penduduk menjadi dua bagian dengan
jumlah yang sama, bagian yang pertama lebih muda dan bagian yang kedua lebih
tua daripada medium age. Usia median ini ditentukan berdasarkan usia dari
sebagian penduduk yang lebih tua dan usia sebagian penduduk pada kelompok-
kelompok usia tertentu.

15. Persebaran penduduk


Secara garis besar, persebaran penduduk dapat digolongkan menurut geografis
serta adminiatrasi dan politik.
1. Geografis. Indonesia yang terdiri atas beberapa kepulauan besar dan kecil,
penduduknya tersebar secara tidak merata. Terdapat 922 pulau berpenghuni dan
12.675 pulau tanpa penghuni. Pulau yang terdapat penduduknya adalah pulau
Jawa, lebih dari sepuluh (64%) penduduk Indonesia bertempat tinggal di pulau
tersebut, padahal luasnya hanya 6,6% dari luas wilayah Indonesia. Sedangkan
daerah Kalimantan yang luasnya 27,2 % hanya dihuni oleh 4,4% dari seluruh
penduduk Indonesia. Persebaran penduduk yang belum merata ini tentu saja
menimbulkan masalah sosial ekonomi yang serius bagi pemerintah. Persebaran
penduduk dunia secara geografis sebagaimana kita ketahui penduduk tersebar di
lima benua, yaitu : Asia, Afrika, Amerika, Eropa, dan Oseania.
2. Administrasi dan politis. Secara administrasi dan politis penduduk Indonesia
tersebar di 27 provinsi; namun menjadi 26 provinsi setelah Timor-Timor menjadi
negara merdeka. Setela itu diadkan pemekaran untuk wilayah administrasi
provinsi, sihingga jumlah provinsi Indonesia saat ini banyak 33 provinsi.
Selanjutnya di tiap-tiap provinsi secara administrasi dibagi dalam Kabupaten,
Kecamatan, dan Kelurahan. Dalam sistem administrasi pemerintahan di Indonesia
terdapat tiga daerah khusus atau istimewa yang setingkat dengan provinsi, yaitu:
Daerah Istimewa Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam), Daerah Istimewa
Yogyakrta, dan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

16. Piramida penduduk


Komposisi usia dan jeni kelamin suatu penduduk secara grafik dapat digambarkan
dalam bentuk piramida penduduk. Berikut ini cara penggambaran piramida
penduduk.
1. Sumbu vertical untuk distribusi usia.
2. Sumbu horizontal untuk jumlah penduduk, dapat absolute maupun presentase.
3. Dasar piramida di mulai untuk usia muda ( 0 – 4) tahun, semakin ke atas untuk
usia yang lebih tua.
4. Puncak piramida untuk usia tua sering dibuat dengan sistem open end interval ,
artinya untuk usia 75, 76, 77, 78 dan seterusnya cukup dituliskan 75 +
5. Bagian sbelah kiri untuk penduduk laki-laki dan bagian sebelah kanan untuk
penduduk perempuan.
6. Besarnya balok diagram untuk masing-masing kelompokm usia harus sama.

17. Tiga ciri penduduk


Berdasarkan komposisi usia dan jenis kelamin,maka karakteristik penduduk dari
suatu negara dapat dibedakan atas tiga ciri(the three general population) berikut ini.
1. Expansive, yaitu sebagian besar penduduk berada dalam kelompok usia termuda,
contoh negara indonesia.
2. Constrictive, yaitu sebagian kecil penduduk berada dalam kelompok usia muda,
contoh negara Amerika Serikat.
3. Stationary, yaitu banyaknya penduduk tiap kelompok usia hampir sama
banyaknya dan mengecil pada usia tua kecuali pada kelompok usia tertentu,
contoh negara Swedia.

18. Faktor – faktor yang mempengaruhi struktur usia penduduk


Adapun faktor – faktor yang memengaruhi struktur usia penduduk adalah
fertilitas, mortalitas (kematian bayi atau infant mortality) , dan migrasi.
a. Fertilitas (Kelahiran)
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang
nyta dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain, fertilitas
menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Sebaliknya, fekunditas merupakan
potensi fisik untuk melahirkan anak. Jadi merupakan lawan arti kata sterilitas.
Natalitas mempunyai arti sama dengan fertilitas, hanya berbeda ruang ruang
lingkupnya fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk.
Sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan
reproduksi manusia.
Konsep – konsep yang terkait dengan fertilitas, antara lain sebagai berikut.
1. Lahir hidup (live birth). Menurut Perserikatan Bangsa – bangsa dan WHO adalah
suatu kelahiran seorang bayi tanpa memperhitungkan lamanya di dalam
kandungan, di mana bayi menunjukkan tanda – tanda kehiduan, misalnya
bernafas, ada denyut jantung atau denyut tali pusat dan gerakan – gerakan otot.
2. Lahir mati (still birth). Adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang
berumur paling sedikit 28 minggu tanpa menunjukkan tanda – tanda kehidupan.
3. Abortus. Adalah kematian bayi dalam kandungan dengan usia kehamilan kurang
dari 28 minggu. Ada dua macam abortus, yaitu disengaja (induced) dan tidak
sengaja (spontaneous). Induced abortion dapat dilakukan berdasarkan alasan
medis, misalnya karena mempunyai peyakit jantung yang berat, sehingga
membahayakan jiwa ibu dan tidak berdasarkan alasan medis.
4. Masa reproduksi (CHILDBEARING AGE), yaitu masa dimana wanita mampu
melahirkan, disebut juga usia subur (15-49 tahun)

Langkah – langkah yang harus dulakukan untuk mengetahui tingkat fertilitas


penduduk adalah sebagai berikut.
1. Registrasi data yang tersedia, seperti statistikkelairan (birth statistics),
kelemahannya:
a. Ketepatan definisi yang dignakan dan aplikasinya.
b. Kelengkapan (completeness) registrasi
c. Ketepatan lokasi tempat
d. Ketepatan pengelompokan kelahiran berdasar karakteristik ekonomi atau
demografi.
Untuk negara maju, kelemahan – kelemahan tersebut seagian besar sudah teratasi.
Sedangkan di negara yang sedang berkembang kelemahan tersebut masih terasa,
yang paling menonjol adalah kelemahan dalam hal kelengkapan registrasi. Hal ini
disebabkan oleh penduduk, baik yang mempunyai anak maupun petugas
registrasi tidak menyadari pentingnya registrasi kelahiran dan tidak mengerti
bagaimana menjawab pertanyaan – pertanyaan seperti tanggal kelahirannya
anaknya, usia ibunya, dan sebagainya.
2. Sensus data yang tersedia berupa hal – hal dibawah ini.
a. Komposisi penduduk menurut usia dan jenis kelamin.
b. Jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup.
c. Jumlah anak yang dilahirkan dalam suatu periode yang lalu (misalnya; 1
tahun yang lalu).
d. Data penduduk yang berhubungan dengan variabel fertilitas (misalnya
penduduk usia kawin).
Kelemahan – kelemahan sensus adalah sebagai berikut.
a. Keterangan jumlah anak yang pernah dilahirkan sangat tergantung pada daya
ingat dari si ibu semakin tua usia ibu semakin besar kemungkinan melupakan
jumlah anak yang pernah dilahirkan. Hal ini dapat disebabkan anaknya mungkin
sudah menikah, meninggal, atau tinggal bersama dengan salah satu keluarganya
di tempat lain.
b. Keterangan mengenai banyaknya anak yang lahir setahun yang lalu bergantung
pada ketepatan dalam memperkirakan jangka waktu satu tahun sebelum sensus.
Perkiraan jangka waktu ini bisa terlalu panjang atau sebaliknya terlalu pendek.
c. Keterangan – keterangan penduduk yang dikaitkan dengan variabel fertilitas juga
mengundang kesalahan pelaporan usia oleh penduduk, dan biasanya sering terjadi
di negara yang sedang berkembang.
3. Survei data yang tersedia berupa:
a. Sama dengan data yang tersedia dari sensus.
b. Keterangan tambahan mengenai fertilitas yang lebih terperinci.
c. Riwayat kelahiran (birth history atau pregnancy history), mulai dari anak
pertama hingga anak terakhir.
d. Status kehamilan (pregnancy status).
e. Kelemahan yang ditemui disensus juga berlaku di dalam survei, karena
kedua jenis sumber data tersebut berdasarkan informasi mengenai kejadian
kelahiran (birth event) yang sudah lampau.

Data fertilasi yang bersifat nasional adalah sebagai berikut.


1. Sensus penduduk 1961, BPS.
2. SUSENAS (survei sosial ekonomi nasional) tahap III, 1967, BPS.
3. Sensus penduduk 1971, BPS.
4. Survei fertilitas dan mortalitas indonesia 1973, LD FEUI.
5. SUPAS (survei penduduk antarsensus) tahap II dan III, 1967, BPS.
6. SUSENAS, 1979, BPS.
7. Sensus penduduk 1980, 1990, 2000, BPS.

Seperti halnya angka mortalitas, angka fertilitaspun diukur berdasarkan


pembagian jumlah kejadian (events) dengan penduduk yang menanggung resik
melahirkan (exposed risk). Walaupun demikian, ada beberapa persoalan yang
dihadapi dalam hal pengukuran fertilitas yang tidak dijumpai dalam pengukuran
mortalitas, yaitu:
1. Suatu angka (rate) menunjukkan ukuran untuk jangka waktu. Angka fertilitas
menunjukkan dua pilihan jangka waktu, pertama untuk jangka waktu pendek
biasanya 1 tahun, sedangkan pilihan kedua adalah jumlah kelahiran selama masa
reproduksi.
2. Suatu kelahiran melibatkan kedua rangtuanya, sehingga memungkinkan
timbulnya keinginan untuk mengukur fertilitas berdasarkan sifat – sifat ibu, ayah,
atau kedua orangtuanya. Namun, informasi yang dikumpulkan biasanya hanya
berhubungan dengan si ibu. Sehingga dengan sendirinya pengukuan fertilitas
hanya berdasarkan sifat – sifat ibu saja. Walaupun demikian, cara yang digunakan
untuk pengukuran fertilitas terhadap wanita seperti yang telah disebutkan
sebenarnya dapat juga digunakan untuk mengukur fertilitas dari pria.
3. Penentuan penduduk yang exposed to risk di dalam pengukuran fertilitas sangat
sulit. Tidak setiap orang mempunyai resiko melahirkan. Walaupun yang masih
kanak – kanak dan yang tua bisa dengan mudah dipisahkan, tetapi tidak semua
wanita yang berumur diantara kedua kelompok tersebut menanggung resiko
melahirkan.
4. Sangat sulit membedakan live birth (lahir hidup) dan still birth (lahir mati).
5. Melahirkan lebih dari satu kali adalah hal yang bisa terjadi pada seorang istri.
Oleh, karena itu ada unsur plihan antara melahirkan lagi atau tidak. Pilihan ini
bergantung pada bebarapa hal seperti pendidikan, status sosial ekonomi, jumlah
anak yang telah mereka miliki, dan lain – lain.

Ukuran Dasar Dalam Pengukuran Fertilitas


Ada dua macam pendekatan, yaitu yearly performance (current fertility) dan
reproductive history ( comulative fertility).
1. Yearly performace (current fertility)
Mencerminkan fertilitas dari suatu kelompok penduduk untuk jangka waktu satu
tahun.
a. Crude birth rate (CBR) atau angka kelahiran kasar.
Rumus :
CBR = B x k
R

Di mana;
B = banyaknya kelahiran selama 1 tahun.
R = banyaknya penduduk pada pertengahan tahun.
k = bilangan konstanta, biasanya 1.000.

Contoh :
Banyaknya kelahiran di Gresik pada tahun 2008 adalah 182.880 orang bayi.
Banyaknya penduduk Gresik pada pertengan tahun 2008 sebesar 4.546.942 orang.

Maka CBR = 182.880 x 1.000 = 40 per seribu penduduk


4. 546.942

b. Angka kelahiran umum atau General Fertiliti Rate (GFR)


GFR adalah banyaknya kelahiran tiap seribu wanita yang berumur 15 – 49 atau 15 -
49 tahun.
Rumus :

GFR = Pᶠ 4-49 K atau GFR = Pᶠ 15 - 44


Di mana :
B = banyaknya kelahiran selama 1 tahun.
Pᶠ4-49 = banyaknya penduduk wanita yang berumur 14 – 49 tahun pada
pertengahan tahun.
Pᶠ15-44 = banyaknya penduduk wanita yang berumur 14 – 44 tahun pada
pertengahan tahun.
K = bilangan konstanta, biasanya 1000.

Kelebihannya adalah ukuran ini hanya memasukan wanita yang berusia 15 – 49


tahun, sedangkan kelemahan ukuran ini tidak membedakan resiko melahirkan dari
berbagai kelompok usia.

c. Angka kelahiran menurut kelompok usia atau Age Specific Fertiliti Rate (ASFR)
ASFR adalah banyaknya kelahiran tiap seribu wanita pada kelompok usia tertentu.
Rumus:
ASFR ͥ = b ͥ k ( i = 1-7 )

Di mana :
b ͥ = banyaknya kelahiran di dalam kelompok usia 1 selama 1 tahun.
K = bilangan konstanta, biasanya 1000.

Kelebihannya adalah ukuran lebih cermat dari GFR dan ASFR dimungkinkan
dilakukannya fertilitas menurut kohor, sedangkan kelemahannya tidak menunjukan
ukuran fertilitas untuk keseluruhan wanita usia 15 – 49 tahun.

d. Total Fertility Rate (TFR)


Jumlah dari ASFR, bahwa usia dinyatakan dalam satu tahunan.

TFR = 5 i=17 ASFR i ( i = 1,2 …… )

Di mana ;
ASFR = angka kelahiran menurut kelompok usia
I = kelompok usia 5 tahunan di mulai dari 15 – 19

Kelebihan rumus ini adalah ukuran seluruh wanita usia 15 – 49 tahun yang di hitug
berdasarkan angka kelahiran menurut kelompok usia.

2. Reproductive History ( Cumulative Vertility )


a. jumlah anak yang pernah di lahirkan
Mencerminkan banyaknya kelahiran sekelompok wanita selama reproduksinya,
Kelebihannya adalah mudah di dapatkan informasinya dan tidak ada referensi
Waktu, sedangkan kelemahannya adalah angka paritas kelompok usia akan
Mengalamin kesalahan pelaporan usia penduduk dan angka kecenderungan
Semakin tua semakin besar.

b. Child Woman Ratio (CWR)


Hubungan dalam bentuk rasio antara jumlah anak di bawah 5 tahun.
Rumus:

CWR = Pᵒ-4 x k
P15-44
atau

CWR = Pᵒ-4 x k
P15-49
Dimana:
P0-4 = banyaknya penduduk usia 0-4 tahun.
P15-44 = banyaknya wanita usia 15-44 tahun.
P15-49 = banyaknya wanita usia 14-49 tahun.
K = konstanta, biasanya 1000.

Kelebihan metode ini adalah data yang di perlukan tidak memerlukan pernyataan
khusus, sedangkan kelemahanny langsung di pengaruhi oleh kekurangan pelaporan
tentang anak serta di pengaruhi olehh tingkat moralitas anak di bawah 1 tahun lebih
besar dari orang tua.

c. Menghitung GFR berdsarkan CWR


Asumsi yang di gunakan tidak ada migrasi

Langkah - langkah
 - Hitung jumlah anak di bawah 5 tahun ( P0-4 ) misal : 431.658
- Hitung jumlah wnita usia 15 – 44 tahun ( Pᶠ 15-44 )
- Hitung jumlah wanita usia ( Pᶠ 20-49 ) misal : 458.851
 Hitung jumlah wanita usia 17½ - 47½
Pᶠ 17½ - 47½ = ½ ( Pᶠ 15-44 + Pᶠ 20-49 ) = ½ ( 537.670 + 458.851 ) = 498.261
Hitung rasio masih hidup ( survival ratio )0-4 : L0-4
 Hitung
 Mencari
 Perkiraan
 GFR

Faktor – faktor yang mempengaruhi fertilitas


Ada 3 tahap penting dalam proses reproduksi
1. Tahap hubungan kelamin (intercourse)
Pada tahap ini di prngaruhi oleh beberapa faktor
a. usia memulai kelamin
b. selibat permanent, proporsi wanita tidak pernah mengadakan hubungan kelamin
c. lamanya status pernikahan
d. abstinesti sukarela
e. abstinensi terpaksa, misalnya sakit atau berpisah sementara

2. Tahap konsepsi (conseptio)


Pada konsep ini di pengaruhi beberapa faktor
a. fekunditas atau infukunditas di sebabakan hal tidak di sengaja
b. pemakaian kontrasepsi
c. fekunditas terpaksa yang di sebabkan hal di sengaja, misalnya sterilisasi

3. Tahap kehamilan
Berikut ini adalah hal yang mempengaruhi kehamilan
a. moralitas janin karena sebab tidak di sengaja
b. moralitas janin karena sebab yang di sengaja

Studi perbedaan fertilitas di indonesia


Hasil studi yang pernah di lakukan ternyata di pengaruhi beberapa faktor penentu
fertilitas tidak seperti yang di temukan dalam generalisasi yang telah ada.beberapa
faktor penentu tersebut adalah
1. Tempat tinggal wanit pada saat pencacahan
2. Tingkat pendidikan
3. Usia perkawinan pertama
4. Pengalaman kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Efendi, Fery. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik


dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Iqbal Wahit, Mubarak. 2005. Ilmu Keperawatan Komunitas Pengantar dan
Teori 1. Jakarta : Salemba Medika
Iqbal Wahit, Mubarak, dan Nurul Chayatin. 2009. Ilmu Keperawatan
Komunitas 1. Jakarta : Salemba medika