Anda di halaman 1dari 15

SOP WASH OUT ENEMA

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 13

Risky waruwu 170204059


Chenny Anggun LbnTobing 170204011
Mary Lowrenza Samosir 170204039
Darman Seventinus Mendrofa 170204012

DosenPengajar:
Ns.Lasma Rina Efrina Sinurat,S.Kep.M.Kep.

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN
2021
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kehidupan seseorang yang mempunyai penyakit yang diharuskan untuk dilakukannya
operasi tetapi klien tersebut tidak mampu melakukan defekasi sendiri maka wash out lah langkah
yang harus diambil, wash out hampir sama dengan huknah. Bagi masyarakat yang pendidikanya
masih dibawah standar mungkin asing dengan bahasa ini hal yang paling sering dilakukannya
wash out adalah keadaan konstipasi, tapi selain itu masih banyak kegunaan dari wash out. Dalam
melakukan wash out ini kita harus memerhatikan kesterilannya karena melakukan wash out ini
sifatnya alat yang digunakan masuk kedalam organ tubuh manusia sehingga jika tidak
diperhatikan kesterilannya maka akan menimbulkan komplikasi.
Enema (wash out) adalah suatu larutan yang dimasukan kedalam rectum dan kolon
sigmoid. Fungsinya adalah untuk meningkatkan defekasi/pengeluaran feses dengan cara
menstimulasi peristaltik. Enema juga diberikan sebagai alat transfortasi obat-obatan yang
menimbulkan efek local pada mukosa rektum. enema dapat diklasifikasikan kedalam 4 golongan
menurut cara kerja, yaitu cleanising (membersihkan), Carminative (untuk mengobati flatulen),
retensi (menahan), dan mengembalikan (Perry, dkk., 2005).
Kasus yang paling sering, enema diberikan karena klien tidak mampu mengosongkan
usus secara alami. Enema membantu mengeluarkan feses tetapi, kecuali stimulasi normal dan
pola defekasi teratur telah terbentuk, otot dapat melemah dan penggunaan enema dapat menjadi
kebiasaan atau kebutuhan dapat mencapai defekasi. Situasi ini harus dihindari, jika
memungkinkan program dari penyediaan layanan kesehatan primer diperlukan sebelum
memberikan enema. Program ini akan menyatakan jenis enema yang harus diberikan dan
frekuensi pemberian enema.
Berdasarkan latar belakang, bahwa wash out dilakukan ketika klien tidak mampu
mengosongkan usus secara alami. maka, kami tertarik untuk menjelaskan materi mengenai wash
out atau sering dikenal dengan enema/huknah/lavement.

Rumusan Masalah
Apa definisi dari wash out (enema) ?
Apa saja jenis wash out (enema) ?
Bagaimana pedoman pemberian wash out (enema) ?
Apa indikasi untuk pemberian wash out (enema) ?

Tujuan
Tujuan Umum
Tujuan umum dari makalah yang kami buat adalah, agar pembaca mampu mengetahui,
mengerti dan paham mengenai tindakan keperawatan wash out (enema).
Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dalam pembuatan makalah yang kami buat, yaitu :
Agar mahasiswa mengetahui definisi dari wash out (enema).
Agar mahasiswa mengetahui jenis wash out (enema).
Agar mahasiswa mengetahui pedoman pemberian wash out (enema).
Agar mahasiswa mengetahui indikasi untuk pemberian wash out (enema).
BAB II
PROSEDUR TINDAKAN WASH OUT (ENEMA)

Definisi Wash Out (Enema)


Wash Out (sering juga di sebut huknah, enema, lavement), adalah suatu tindakan
memasukan suatu larutan ke dalam rectum dan kolon sigmoid. Tindakan ini diberikan untuk
meningkatkan defekasi dengan merangsang peristaltik. Obat-obatan kadang diberikan dengan
enema untuk mengeluarkan efek lokal pada mukosa rectal. Pemberian eneme dapat digunakan
untuk melunakkan fases yang telah menjadi impikasi atau untuk mengosongkan rectum dan
kolon bawah untuk prosedur diagnostik atau pembedahan (Rosdahl, Caroline Bunker, 2014).
Wash Out (Enema) adalah tindakan memasukan larutan kedalam rectum dan kolon untuk
menstimulasi peristalsis sehingga menyebabkan eliminasi feses. Enema dapat juga diberikan
untuk memasukan obat atau agen sterapetik lain. Selain itu, enema terkadang diberikan sebelum
prosedur, seperti kolonskopi, atau sebelum pembedahan usus untuk membersihkan usus
(Hidayat, A. Aziz, 2008).
Wash Out (Enema) adalah suatu larutan yang dimasukan kedalam rectum dan kolon
sigmoid. Fungsinya adalah untuk meningkatkan defekasi/pengeluaran feses dengan cara
menstimulasi peristaltik. Enema juga diberikan sebagai alat transfortasi obat-obatan yang
menimbulkan efek local pada mukosa rektum. enema dapat diklasifikasikan kedalam 4 golongan
menurut cara kerja, yaitu cleanising (membersihkan), Carminative (untuk mengobati flatulen),
retensi (menahan), dan mengembalikan (Perry, dkk., 2005).
Cleanising enema merangsang peristaltik dengan mengiritasi kolon dan rectum dan/
meregangkan interstistal dengan memasukan volume cairan. Ada dua jenis dari Cleanising
enema yaitu high enema (huknah tinggi) dan low enema (huknah rendah). Huknah tinggi
diberikan untuk membersihkan kolon sebanyak mungkin, diberikan sekitar 1000 ml larutan
orang dewasa, dan posisi klien berubah dari posisi lateral kiri ke posisi recumbent dan
kemudian diposisi lateral kanan untuk pemberian ini agar cairan dapat turun ke usus besar.
Cairan diberikan ada tekanan yang tinggi daripada huknah rendah. Oleh karena itu, wadah
dari larutan ditahan lebih tinggi. Cleanising enema paling efektif jika diberikan dalam waktu
5-10 menit. Huknah rendah diberikan hanya untuk mebersihkan rectum dan kolon sigmoid.
sekitar 500 ml larutan diberikan kepada orang dewasa, klien di pertahankan diposisi sim ke
kiri selama pemberian.
Carminative enema terutama diberikan untuk mengeluarkan flatus. Larutan dimasukan kedalam
rectum untuk mengeluarkan gas yakni ia meregangkan rectum dan kolon kemudian
merangsang peristaltik. Untuk orang dewasa dimasukan 60-180 ml.
Retention enema dimasukan pelumas kedalam rectum dan kolon sigmoid, pelumas itu tertahan
untuk suatu waktu yang lama (1-3 jam). Ia bekerja untuk melumasi rectum dan kanal anal,
yang akhirnya memudahkan jalannya feses.
Enema yang mengembalikan aliran, kadang-kadang mengarah pada pembilasan kolon digunakan
untuk mengeluarkan flatus. Ini adalah pemasukan cairan yang berulang ke dalam rectum dan
pengaliran cairan dari rectum pertama-tama larutan (100-200 ml untuk orang dewasa)
dimasukan ke rectum dan kolon sigmoid klien, kemudian wadah larutan direndahkan
sehingga cairan turun kembali keluar melalui rectal tube kedalam wadah. Pertukaran aliran
cairan ke dalam dan keluar ini berulang 5-6 kali, sampai (perut) gembung hilang atau
abdomen merenggang dan rasa tidak nyaman berkurang atau hilang. larutan ini mungkin perlu
dipindahkan beberapa kali selama pemberian prosedur jika feses berbentuk padat. Oleh karena
larutan dipindahkan, jumlah total 1000 ml merupakan hal yang biasa diberikan pada orang
dewasa.

Jenis Wash Out (Enema)


Dua jenis peralatan dasar yang digunakan untuk sebagian besar pemberian enema adalah
enema sekali pakai dalam kemasan yang dijual dipasaran (mis., enema Fleet) atau yang dijual
dipasaran umumnya mengandung 120 sampai 180 ml larutan hipertonik. Untuk volume yang
lebih besar, digunakan kantong enema. Kantong ini dapat menahan sebanyak 1500 ml larutan.
Keduajenis enema telah diberi lubrikasi/pelumas terlebih dahulu untuk kemudahan dan
kenyamanan pemasukan enema namun, lebih banyak lubrikan dapat ditambahkan.
Kasus yang paling sering, enema diberikan karena klien tidak mampu mengosongkan
usus secara alami. Enema membantu mengeluarkan feses, tetapi kecuali stimulasi normal dan
pola defekasi teratur telah terbentuk, otot dapat melemah dan penggunaan enema dapat menjadi
kebiasaan atau kebutuhan dapat mencapai defekasi. Situasi ini harus dihindari, jika
memungkinkan.
Program dari penyediaan layanan kesehatan primer diperlukan sebelum memberikan
enema. Program ini akan menyatakan jenis enema yang harus diberikan dan frekuensi pemberian
enema. Berikut jenis-jenis wash out (enema):
Enema Pembersih.
Wash Out (Enema) pembersih adalah tindakan memasukan cukup cairan atau larutan
yang diformulasikan secara khusus kedalam kolon untuk membantu melunakan feses,
menstimulasi feristalsis, dan melubrikasi sebagai persiapan untuk evakuasi. Enema membantu
menghasilkan pergerakan usus (defekasi) yang mengosongkan rectum dan kolon bawah.
Enema pembersih diberikan ketika klien mengalami konstipasi atau ketika usus harus
dikosongkan sebelum pembedahan atau prosedur khusus. Larutan yang paling sering
digunakan untuk enema meliputi air kran dan salin normal.
Enema Sekali Pakai yang Dijual di Pasaran (Enema Fleet).
Wash Out (Enema) ini mengandung sejumlah kecil larutan hipertonik, biasanya salin,
dengan 120 ml adalah ukuran yang paling umum digunakan. Sebagai larutan hipertonik,
larutan ini menarik air dari jaringan kolonke lumen instenstin dengan cara osmosis. Ini
menambahkan cairan untuk melunakan feses yang keras dan menstimulasi peristalsis dan
defekasi.
Evakuasi yang efektif biasanya terjadi dalam waktu sekitar 10 menit. Enema ini berguna
untuk klien yang tidak mampu mempertahankan jumlah cairan yang lebih besar atau yang
mengalami inkontiensia anal. Enema juga membantu mencegah impaksi feses pada klien yang
harus berbaring dalam satu posisi atau yang tidak mampu duduk. Enema Fleet sering kali
digunakan sebagai persiapan untuk pemeriksaan atau prosedur kolon. Enema jenis Fleet sekali
pakai yang mengandung larutan khusus lain juga tersedia.
Enema Karminatif.
Wash Out (Enema) karminatif diberikan untuk menstimulasi peristalsis sehingga flatus
(gas) dikeluarkan dari usus, bersamaan dengan feses.
Enema Antbelmintik.
Obat-obatan antbelmitik membantu menghancurkan parasite usus. Obat antbelmentik
biasanya diberikan peroral, tetapi karena obat ini toksik, obat ini tidak aman untuk diminum
oleh beberapa klien secara oral. Dalam keadaan ini, larutan obat anthemintik dapat dimasukan
ke dalam rectum untuk ditahan di dalamanya (selama klien mampu menahannya).
Enema Emolin.
Wash Out (Enema) Emolin ini sejumlah kecil minyak zaitun atau minyak biji kapas
yang diberikan untuk melindungi atau menyejukan membrane mukosa kolon. Enema ini
untuk ditahan didalam.
Enema Retensi Minyak.
Wash Out (Enema) Retensi Minyak terdiri dari sejumlah kecil minyak dan diberikan
jumlah yang sangat sedikit karena minyak ini harus ditahan agar efektif. (minyak dalam
jumlah besar akan menstimulasi evakuasi usus). Setelah retensi akan terjadi pergerakan usus.
Jika larutan minyak tidak efektif setelah beberapa jam, tindakan ini mungkin perlu dilanjutkan
dengan enema larutan salin.
Enema Obat.
Wash Out (Enema) Obat adalah tindakan memasukan obat kedalam rectum. Terkadang,
ini adalah satu-satunya cara untuk memberikan obat kepada klien, kemungkinan karena klien
muntah, tidak sadar, atau baru menjalani bedah mulut atau tenggorokan. Enema obat juga
dapat menjadi cara terbaik agar obat tertentu dapat bekerja dengan cepat oleh membrane
mukosa kolon. Karena enema ini harus ditahan untuk memastikan efektivitas absorpsi, obat
dikombinasikan dengan sejumlah kecil minyak atau salin untuk mengurangi efek dan untuk
mengurangi keinginan klien utuk mengeluarakannya.
Enema Aliran Balik (Harris Flash).
Haris Flash diresepkan untuk meredakan gas dan distensi usus, yang menyebabkan
nyeri. Enema ini diberikan dengan pelengkapan kantong dan selang. Tujuan dan proses ini
adalah untuk menstimulasi pengeluaran flatus sehingga meredakan distensi abdomen dan
‘nyeri gas’. Jika proses ini berhasil, klien akan mengungkapkan nyerinya telah reda, dan
lingkar abdomen akan berkurang. Proses dapat menyebabkan klien defekasi.

Pedoman Pemberian Wash Out (Enema)


Pada cairan dan elektrolit, larutan hipertonik seperti larutan fospat dari beberapa enema
siap pakai menyebabkan sedikit iritasi pada membrane mukosa, dan yang menyebabkan cairan
tertarik ke dalam kolon dari jaringan sekitar. Proses ini disebut osmosis. Oleh karena sebagian
kecil cairan yang diambil, rasa nyaman tertahan 5-7 menit dan secara umum diluar dari manfaat
ini. Bagaimanapun ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dan dapat terjadi, terutama ada anak
dibawah 2 tahun. Larutan bisa menyebabkan hipokalsemia dan hiperfospatema.
Gunakan rectal tube dengan ukuran yang tepat, untuk orang dewasa biasanya nomor 22-30,
anak-anak menggunakan tube yang kecil, seperti nomor 12 untuk bayi, dan nomor 14-18
untuk anak toodler atau anak usia sekolah.
Rektal tube harus licin dan fleksibel, dengan satu atau dua pembukaan pada ujungnya dimana
larutan mengalir. Biasanya terbuat dari karet atau pelastik. Beberapa tube yang ujungnya
tajam dan kasar seharusnya tidak digunakan, karena kemungkinan rusaknya membrane
mukosa pada rectum. rectal tube dilumasi dengan larutan water-oil untuk memudahkan
pemasukannya dan mengurangi iritasi pada mukosa rectum.
Enema untuk orang dewasa biasanya diberikan pada suhu 40,5-43o C untuk anak-anak 37o C.
Beberapa retensi enema diberikan pada suhu 33o C suhu yang tinggi bisa berbahaya untuk
mukosa usus, suhu yang dingin tidak nyaman untuk klien dan dapat menyababkan spasme
pada otot sfingter.
Jalan larutan yang diberikan bergantung pada jenis enema, pada usia dan ukuran tubuh klien
serta jumlah cairan yang bisa disimpan. Volume maksimum yang dianjurkan adalah sebagai
berikut.
Bayi 150-250 ml
toddler atau preschool 250-350 ml
Anak usia sekolah 300-500 ml
Remaja/adolescent 500-750 ml
Dewasa/ adult 750-1000 ml
Ketika enema diberikan klien biasanya mengambil posisi lateral kiri, sehingga kolon sigmoid
berada dibawah rectum dan memudahkan pemasukan cairan. Selama huknah tinggi, klien
mengubah posisinya dari lateral kiri ke dorsal recumbent, kemudian lateral kanan. Pada
posisi ini seluruh kolon dijangkau oleh air.
Perlengkapan pada tube bergantung pada usia dan ukuran klien pada orang dewasa, biasanya
dimasukan 7,5-10 cm, pada anak-anak 5-7,5 cm, dan pada bayi hanya 2,5-3,75 cm. Jika
terjadi obstruksi ketika dimasukan, tube harus ditarik perlahan-lahan.
Kekuatan aliran larutan ditentukan oleh tingginya wadah larutan, ukuran tube, kekentalan cairan,
dan tahan rectum. Wadah larutan tinggi adalah diatas rectum, aliran yang lebih cepat, dan
kekuatan yang lebih besar pada rectum. Enema pada sebagian orang dewasa, pada larutan
tidak boleh lebih tinggi dari 30 cm diatas rectum. selama huknah tinggi, wadah larutan
biasanya 30-45 cm diatas rectum karena cairan dimasukan lebih jauh untuk membersihkan
seluruh usus. Untuk bayi, wadah larutan tidak boleh lebih dari 7,5 cm diatas rectum.
Waktu yang diperlukan untuk memasukan enema sebagian besar bergantung pada jumlah cairan
yang dimasukan dan toleransi klien. Volume yang banya seperti 1000 ml mungkin
membutuhkan waktu 10-15 menit. Untuk membantu klien menahan larutan, perawat dapat
menekan bokongnya, agar terjadi tekanan diluar arena anal.
Ketika larutan enema berada didalam tubuh, klien mungkin merasa kembung, dan rasa tidak
nyaman pada abdomen.
Ketika klien BAB, perawat bisa membantunya ke kamar kecil, bergantung pada pilihan klien dan
kondisi fisik.
Pada pemberian enema yang dilakukan sendiri, orang dewasa dapat di posisikan litotomi.
Ketika pemberian enema pada bayi, kaki bayi bisa ditahan dengan popok.

Indikasi Untuk Pemberian Wash Out (Enema)


Klien Tidak Mampu Menahan Enema.
Jika klien tidak mampu mengontraksikan otot sfinger anal untuk menahan larutan,
posisikan klien diatas bedpan, commode, atau toilet untuk memberikan enema. Jika klien di
tempat tidur, tinggikan kepala tempat tidur sedikit dan letakan sebuah bantal di area lumbal
untuk mengurangi ketegangan punggung. Dalam beberpa kasus, selang enema disusupkan
melalui sebuah bola dan bola ditahan dilubang rectum untuk menahan cairan tetap di dalam.
Keuntungan unit enema sekali pakai untuk klien ini adalah bahwa hanya sejumlah kecil
larutan yang diperlukan. Selain itu, wadah enema sekali pakai dapat ditempelkan kelubang
rectum untuk membantu mempertahankan larutan.
Klien Tidak Mampu Mengeluarkan Enema.
Ketika sfingter tidak berespon terhadap stimulasi dan klien tidak mampu mengeluarkan
enema, perawat harus menarik larutan. Jika menggunakan susunan kantong-dan-slang, letakan
bedpan diatas sebuah kursi di samping tempat tidur klien, lebih rendah dari rectum. (prosedur
ini dilakukan dengan cara yang sama seperti merendahkan kantong dalam Harris Flash.)
Ketika selang rectum diarah kanke bedpan, dorongan gravitasi membantu mengalirkan cairan.
Jika enema diberikan dengan jenis fleet, selang rectal tanpa kantong dapat dimasukan
kedalam rectum dan ujung slang rectum diarahkan ke bedpan yang letaknya lebih rendah. Jika
ini tidak efektif konsultasikan pemimpin tim atau penyedia layanan kesehatan primer Anda
untuk intruksi lebih lanjut.
Memberikan Enema pada Klien Paralisis.
Memberikan enema memerlukan pendekatan khusus jika individu mengalami paralisis.
Sering kali, klien paralisis tidak mampu menahan larutan enema. Jika klien harus mendapat
enema secara teratur, diberikan kepada mereka di jam yang sama setiap hari. Selanjutnya,
supositoria pada saat ini mungkin adalah yang dibutuhkan untuk menstimulasi pergerakan
usus, sampai pada akhirnya klien tidak memerlukan bantuan-bantuan tersebut. Tekanan jari
secara manual ke abdomen atau disimpaksi manual dapat juga dilakukan untuk membantu
klien ini untuk defeksi.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Wash Out (Enema) adalah suatu larutan yang dimasukan kedalam rectum dan kolon
sigmoid. Fungsinya adalah untuk meningkatkan defekasi/pengeluaran feses dengan cara
menstimulasi peristaltik. Enema juga diberikan sebagai alat transfortasi obat-obatan yang
menimbulkan efek local pada mukosa rektum. enema dapat diklasifikasikan kedalam 4 golongan
menurut cara kerja, yaitu cleanising (membersihkan), Carminative (untuk mengobati flatulen),
retensi (menahan), dan mengembalikan (Perry, dkk., 2005).
Adapun jenis-jenis dari Wash Out (Enema), yaitu : Enema Pembersih, Enema Sekali Pakai
Yang Dijual Di Pasaran (Enema Fleet), Enema Karminatif, Enema Antbelmintik, Enema
Emolin, Enema Retensi Minyak, Enema Obat, Dan Enema Aliran Balik (Harris Flash).
Pada cairan dan elektrolit, larutan hipertonik seperti larutan fospat dari beberapa enema
siap pakai menyebabkan sedikit iritasi pada membrane mukosa, dan yang menyebabkan cairan
tertarik ke dalam kolon dari jaringan sekitar. Proses ini disebut osmosis. Oleh karena sebagian
kecil cairan yang diambil, rasa nyaman tertahan 5-7 menit dan secara umum diluar dari manfaat
ini. Bagaimanapun ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dan dapat terjadi, terutama ada anak
dibawah 2 tahun. Larutan bisa menyebabkan hipokalsemia dan hiperfospatema.
Berikut indikasi klien untuk pemberian wash out (enema) :Klien Tidak Mampu Menahan
Enema, Klien Tidak Mampu Mengeluarkan Enema, dan Memberikan Enema pada Klien
Paralisis.

Saran
Dalam melakukan wash out perawat atau mahasiswa harus memperthatikan kesterilan dari
pemberian wash out tersebut karena jika kesterilan tidak diperhatikan maka akan ada
kemungkinan komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, Wahit Iqbal.,dkk. 2015. Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar Buku 2. Jakarta :
Salemba Medika.
Rosdahl, Caroline Bunker., dkk. 2014.Buku Ajar Keperawatan Dasar. Jakarta : EGC.
Hidayat, Masriful dan A. Aziz Alimul Hidayat. 2009.Keterampilan Dasar Praktik Klinik Ilmu
Kebidanan.Jakarta : Salemba Medika.
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, 2010. Instruksi Kerja Pelaksanaan Wash Out.
Wong, D.L. 1996. Clinical Manual For Pediatric Nursing. Fourth Edition. St Louis; The Mosby
Company.
WAST OUT
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
PENGERTIAN Wash out merupakan salah satu prosedur dengan cara memasukan cairan
kedalam colon untuk mengeluarkan feses atau membersihkan colon.

TUJUAN Merangsang peristaltik usus


Membersihkan usus
Untuk pengobatan

KEBIJAKAN Indikasi :
Pasien morbus hirschprung
Pasien yang akan dioperasi ; PSA, Pultrough
Persiapan diagnostik > colon in loop,
Barium fulthrough, Intra venous
Pasien obstipasi
PERALATAN Cairan hangat NaCl 0,9% dengan jumlah :
Pada infant : 120 – 240 cc
Anak kecil : 240 – 360 cc
Adolesence : 480 – 780 cc
Spuit 50 – 60 cc CT
Selang kanula rectie dengan ukuran :
WAST OUT
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Infant dan todler : 10 -12 fr
Adolesence : 22 fr
Perlak dan kain pengalas
Vaseline atau jelly
Sarung tangan
Pispot
Air untuk cebok / kapas cebok
Tissue
Celemek / barakshort
Kom untuk tempat NaCl 0,9 %
Format dokumentasi
Sampiran bila diperlukan
PROSEDUR PERENCANAAN :
PELAKSANAA
N Cuci tangan
Persiapan alat yang dibutuhkan
Pesiapan pasien
Berikan informasi pada anak dan keluarga tentang tindakan yang
akan dilakukan.
Jaga privasy klien dengan menutup tirai atau memasang
sampiran

IMPLEMENTASI

Siapkan alat dan dekatkan kepada klien


Pakai celemek /barakshort
Pasang perlak dan kain pengalas
Atur posisi pasien (terlentang jika pasien dipasang kolostomi,
infant dan anak kecil posisi dorsal recumbent atau supine dengan
lutut fleksi. Pada anak yang cukup besar posisi sim dengan lutut
kanan fleksi.
Pasang selimut, kemudian buka celana pasien
Pasang pispot
Pakai sarung tangan
WAST OUT
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
Tuang NaCl 0,9 % hangat kedalam kom
Ambil cairan menggunakan spuit
Siapkan kanul dan lumasi ujungnya dengan vaseline atau jelly
Tangan kiri membuka anus, tangan kanan memasukkan kanul.
( anak dengan kolostomy, kanul dimasukkan dilubang
kolostomy).
Anak disuruh untuk nafas dalam
Tahan kanul 5-10 menit
Biarkan cairan keluar kembali dan ditampung
Masukkan cairan berulang – ulang hingga bersih atau sesuai
dengan kebutuhan pasien
Cabut kanul rectie dari anus atau kolostomi dan anjurkan pasien
untuk menarik nafas dalam
Pispot atau penampung feses diangkat, kemudian diganti dengan
yang bersih untuk cebok.
Anak kembali dirapikan dan bereskan alat – alat
Cuci tangan

EVALUASI

Kenyamanan pasien
Hasil dan respon pasien selama proses tindakan
Beritahukan pada pasien dan keluarga

DOKUMENTASI

Waktu pelaksanaan
Jumlah dan karakter feces
Keadaan abdomen
Nama perawat yang melaksanakan tindakan disertai tanda
tangan.

Anda mungkin juga menyukai