Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara
bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas
guna mempertahankan kesehatannya (Andri Setiya Wahyudi & Abd. Wahid,
2016). Kehilangan kemampuan untuk bergerak menyebabkan ketergantungan
dan ini membutuhkan tindakan keperawatan. Mobilisasi diperlukan untuk
meningkatkan kemandirian diri, meningkatkan kesehatan, memperlambat
proses penyakit khusunya penyakit degeneratif dan untuk aktualisasi diri
(Wahyudi & Abd. Wahid, 2016).
Tujuan Mobilisasi (Alimul, 2014) mengemukakan bahwa tujuan
mobilisasi adalah memenuhi kebutuhan dasar (termasuk melakukan aktivitas
hidup sehari-hari dan aktivitas rekreasi), mempertahankan diri (melindungi
diri dari trauma), mempertahankan konsep diri, mengekspresikan emosi
dengan gerakan tangan nonverbal. Adapun tujuan dari mobilisasi ROM
menurut Brunner dan Suddarth, 2002 yaitu:
a. Mempertahankan fungsi tubuh dan mencegah kemunduran serta
mengembalikan rentang gerak aktivitas tertentu sehingga penderita dapat
kembali normal atau setidaknya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
b. Mempercepat peredaran darah.
c. Membantu pernafasan menjadi lebih kuat.
d. Mempertahankan tonus otot, memelihara dan meningkatkan pergerakan
dari persendian.
e. Memperlancar eliminasi alvi dan urine.
f. Melatih atau ambulasi.
Patah tulang atau disebut fraktur merupakan terputusnya kontinuitas
tulang atau tulang rawan pada umumnya disebabkan oleh ruda paksa paksa
(Brunner dan sudarth, 2010). Sebagian besar fraktur disebabkan oleh
kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa benturan,
pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan posisi miring,

1
2

pemuntiran, atau penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat


patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti rusak.Fraktur
biasanya terjadi pada ektremitas bawah, dapat terjadi akibat adanya peristiwa
trauma tunggal . (Muttaqin dan Sari, 2009)
World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa kecelakaan
lalu lintas merupakan penyebab kematian nomor 8 dan merupakan penyebab
kematian teratas pada penduduk usia 15 – 29 tahun di dunia dan jika tidak
ditangani dengan serius pada tahun 2030 kecelakaan lalu lintas akan
meningkat menjadi penyebab kematian kelima di dunia. Pada tahun 2011-
2012 terdapat 5,6 juta orang meninggal dunia dan 1,3 juta orang menderita
fraktur akibat kecelakaan lalu lintas. (Desiartama & aryana, 2017)
Hasil riset kesehatan dasar 2017 di Indonesia penyebab terjadinya
cedera antara lain karna jatuh 40,9%, dan kecelakaan sepeda motor 40,6%,
terkena benda tajam/tumpul 7,3%, transportasi darat lain 7,1% dan kejatuhan
2,5%. Sedangkan untuk penyebab yang belum disebutkan proporsinya sangat
kecil. Kecenderungan prevalensi cedera menunjukkan sedikit kenaikan dari
7,5% pada tahun 2007 menjadi 8,2% pada tahun 2013. Adapun untuk
penyebab cedera akibat transportasi darat tampak ada kenaikan cukup tinggi
yaitu dari 25,9% menjadi 47,7%. Prevalensi patah tulang di Indonesia
mengalami peningkatan dari 4,5% pada tahun 2009 menjadi 5,8% pada tahun
2017. Angka kejadian patah tulang tertinggi di Indonesia terdapat pada
provinsi Papua dengan 8,3% sementara pada provinsi lampung terdapat 4,9%
( RISKESDAS, 2017 ).
Penurunan risiko cedera dilakukan dengan menjaga untuk mobilisasi
daerah pascabedah, pasien pascabedah pada tulang panjang seperti femur
biasanya dibebat dengan perban elastis yang bertujuan untuk mengimobilisasi
dua sendi dari tulang yang mengalami fraktur, untuk menurunkan risiko
cedera pascabedah biasanya dilakukan evaluasi radiologi untuk menilai
keberhasilan operasi. (Muttaqin, Sari, 2009)
Data unit gawat darurat Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung pada bulan November 2017 sampai dengan bulan
Januari 2018, didapatkan jumlah pasien yang masuk ke Unit Gawat Darurat
3

sebanyak 46.000 pasien. Dari 46.000 pasien tersebut yang di rawat di Ruang
Gelatik sebanyak 290 pasien. Dari 290 pasien yang di rawat di Ruang
Gelatik, terdapat 227 pasien yang mengalami fraktur.
Data dan rekam medik pasien yang di rawat di Ruang Gelatik Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul MoeloekProvinsi Lampung tahun 2015.
Didapatkan jumlah pasien yang masuk hingga 6 bulan terakhir sebanyak 360
jiwa dan yang mengalami fraktur atau trauma akibat kecelakaan sebanyak
156 jiwa sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah kecelakaan pada 6 bulan
terakhir di Ruang Gelatik Rumah Sakit Abdul Moeloek setengah dari jumlah
keseluruhan. Pada bulan januari terdapat 94 pasien dan yang mengalami
fraktur sebanyak 47 orang, pada bulan februari terdapat 77 pasien dan yang
mengalami fraktur sebanyak 55 orang, pada bulan maret terdapat 83 pasien
dan yang mengalami fraktur sebanyak 30 orang, pada bulan april terdapat 52
pasien dan yang mengalami fraktur sebanyak 15 orang, pada bulan Mei
terdapat 54 pasien dan yang mengalami fraktur sebanyak 15 orang.
Berdasarkan data tahun 2018 didapatkan bahwa terdapat 19 pasien yang
di rawat di Ruang Gelatik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung. 19 pasien tersebut diantaranya adalah 1 pasien
fraktur pelvis, 1 pasien post operasi tumor tiroid, 1 pasien cidera kepala
ringan dan fraktur cruris, 1 pasien fraktur cruris, 1 pasien peritonitis, 1 pasien
abses penis dan ca buli, 1 pasien post operasi ureterorenoscopy (URS), 1
pasien fraktur kompresi thorakal 11-12 dan fraktur lumbal 5, 1 pasien pre
operasi, 2 pasien post operasi debridement, 1 pasien post operasi kraniotomi,
1 pasien seminoma, 1 pasien osteomilitis, 1 pasien spinal cord injury (SCI), 1
pasien limfoma maligna dan bronkitis, 1 pasien ca prostat dan low back pain
(LBP), 1 pasien fraktur femur dan fraktur antebrachi, 1 pasien fraktur femur.
Dari data tersebut, jenis fraktur yang paling banyak adalah fraktur femur dan
fraktur cruris.
Fraktur dapat menyebabkan komplikasi, morbiditas yang lama dan juga
kecacatan apabila tidak mendapatkan penanganan yang baik. Komplikasi
yang timbul akibat fraktur antara lain perdarahan, cedera organ dalam, infeksi
luka, emboli lemak dan sindroma pernafasan. Banyaknya komplikasi yang
4

ditimbulkan contohnya diakibatkan oleh tulang femur adalah tulang


terpanjang, terkuat, dan tulang paling berat pada tubuh manusia dimana
berfungsi sebagai penopang tubuh manusia. Selain itu pada daerah tersebut
terdapat pembuluh darah besar sehingga apabila terjadi cedera pada femur
akan berakibat fatal (Desiartama & Aryana, 2018)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Eko Budi Kurniawan pada
tahun 2018 dengan memberikan asuhan keperawatan kebutuhan mobilisasi
pada pasien Tn.H dan Tn.Y dengan hasil akhir yang diharapkan dari pasien
fraktur ektremitas bawah dengan gangguan kebutuan mobilisasi adalah
gangguan mobilitas fisik dapat teratasi, pada kasus kedua subyek, diagnosa
keperawatan gangguan mobilitas fisik dapat teratasi sebagian karena waktu
pemberian asuhan hanya 3x24 jam. Dalam waktu 3x24 jam, kedua subyek
asuhan hanya memenuhi kriteria hasil yaitu mengerti tujuan dari peningkatan
mobilisasi dan memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan mobilisasi.
Sedangkan klien belum memenuhi kriteria hasil aktivitas fisik menigkat
dikarenakan subyek 1 menolak untuk dilakukan tindakan operasi, dan subyek
2 belum siap atau takut untuk dilakukan tindakan operasi, sehingga posisi
ektremitas yang fraktur tidak boleh digerakkan. Pada asuhan keperawatan ini
Eko Budi Kurniawan telah melakukan asuhan dengan intervensi yang sama
kepada kedua subyek asuhan. Keterbatasan yang dialami oleh Eko Budi
Kurniawan antara lain adalah kekhawatiran keluarga pada saat melaksanakan
tindakan keperawatan,apakah ada efek samping atau tidak, tapi disini Eko
Budi Kurniawan dapat meyakinkan dan embuktikan pada saat dilakukan
tindakan tidak terjadi efek samping pada kedua subyek. Kedua subyek adalah
klien yang menolak untuk dilakukannya tindakan operasi. Dalam melakukan
tindakan keperawatan ROM, Eko Budi Kurniawan sangat berhati-hati karena
apabila melakukan ROM dengan cara yang salah akan menyebabkan
komplikasi pada daerah yang fraktur dan Eko Budi Kurniawan melakukan
tindakan keperawatan ROM hanya pada daerah yang bukan bagian yang
fraktur. Kedua subyek asuhan berada pada ruangan yang sama, yaitu Ruang
Gelatik. Ruang gelatik adalah ruangan bangsal yang kurang kondusif karena
ramai pasien, namun Eko Budi Kurniawan berusaha mengkondusifkan
5

ruangan agar tetap tenang, nyaman, dan kedua subyek asuha dapat dilakukan
tindakan kepeawatan dengan baik.
Berdasarkan uraian diatas orang yang mengalami fraktur khususnya
fraktur ektremitas bawah perlu diberikan asuhan keperawatan yaitu
mobilisasi, yang tujuannya untuk menurunkan risiko cedera post operasi,
maka penulis ingin melakukan asuhan keperawatan mobilisasi dan tertarik
untuk membuat laporan tugas akhir yang berjudul “Asuhan Keperawatan
Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Mobilisasi Pada Klien Post Operasi
Fraktur Ektremitas Bawah di Ruang Gelatik Rumah Sakit Umum Daerah Dr.
H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengambil rumusan masalah
yaitu “Bagaimanakah asuhan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan
mobilisasi pada pasien post operasi fraktur ektremitas bawah di Ruang
Gelatik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung ?”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Melaksanakan asuhan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan
mobilisasi pada klien post operasi fraktur ektremitas bawah di Ruang
Gelatik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan
mobilisasi pada pasien post operasi Fraktur ektremitas bawah di
Ruang Gelatik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung.
b. Merumuskan diagnosis keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan
mobilisasi pada pasien post operasi Fraktur ektremitas bawah di
Ruang Gelatik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung.
6

c. Membuat perencanaan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan


mobilisasi pada pasien post operasi Fraktur Femur di Ruang Gelatik
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung.
d. Melakukan tindakan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan
mobilisasi pada pasien post operasi Fraktur ektremitas bawah di
Ruang Gelatik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung.
e. Melakukan evaluasi keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan
mobilisasi pada pasien Fraktur ektremitas bawah di Ruang Gelatik
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Manfaat bagi pengembang ilmu keperawatan
Laporan Tugas Akhir ini bertujuan untuk menambah
pengetahuan dan wawasan dalam memberikan asuhan keperawatan
yang komprehensif dan dapat meningkatkan keterampilan dalam
memberikan asuhan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan
mobilisasipada klien dengan fraktur ektremitas bawah serta karya
tulis ilmiah ini dapat dipakai sebagai salah satu bahan bacaan
kepustakaan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Pasien
Memberikan asuhan keperawatan dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan mobilisasi yang baik serta menambah
pengetahuan pasien mengenai pentingnya asuhan keperawatan yang
tepat dalam mengatasi gangguan pemenuhan kebutuhan mobilisasi.
b. Bagi Keluarga
Memberikan pengetahuan dan meningkatkan kemampuan
keluarga dalam merawat pasien khususnya pada pasien gangguan
pemenuhan kebutuhan mobilisasi dengan fraktur ektremitas bawah.
7

c. Bagi Profesi
Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan lainnya dalam
melaksanakan asuhan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan
mobilisasi pada pasien post operasi fraktur ektremitas bawah.
d. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan dan informasi terbaru mengenai
asuhan keperawatan gangguan pemenuhan kebutuhan mobilisasi
pada pasien post operasi fraktur ektremitas bawah.
e. Bagi Rumah Sakit
Sebagai masukan yang diperlukan dalam pelaksanaan praktek
pelayanan keperawatan khususnya pada gangguan pemenuhan
kebutuhan mobilitas pada pasien post operasi fraktur ektremitas
bawah.

E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penulisan laporan tugas akhir ini meliputi Asuhan
Keperawatan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Mobilisasi Pada Pasien Post
Operasi Fraktur Ektremitas Bawah di Ruang Gelatik Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian dalam
Laporan Tugas Akhir berupa asuhan keperawatan yang berfokus pada
gangguan kebutuhan khususnya pemenuhan kebutuhan mobilisasi dengan 2
klien fraktur ektremitas bawah yang memiliki batasan karakteristik sesuai
dengan gangguan pemenuhan kebutuhan mobilisasi selama 3 hari yang
bertujuan menurunkan komplikasi post operasi. Penelitian akan dilakukan
melalui beberapa proses seperti perizinan, informed consent dengan pasien
yang bersedia menjadi sampel penelitian, serta pemberian asuhan
keperawatan mulai dari pengkajian sampai evaluasi.
Asuhan keperawatan ini akan dilakukan di Ruang Gelatik Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.