Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN

MIOMA UTERI
Askep ini untuk memenuhi tugas perkuliahan Keperawatan Maternitas

Disusun Oleh:

MAULANA AHMAD

YUNIA SETIAWASIH

WIDODO RS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM B

STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN

TAHUN AJARAN 2014


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kesehatan ibu saat ini, merupakan suatu tantangan yang cukup besar
di Indonesia. Tingginya angka kesakitan ibu tidak terlepas dari beberapa faktor
diantaranya diagnosa karena tanda-tanda  dan gejala yang masih banyak kurang
dipahami/kurang diketahui, kurangnya pengetahuan ibu, pencegahan jarang
disosialisasikan dan penanganannya yang terlambat / fasilitas yang kurang. Salah satu
penyebab angka kesakitan ibu adalah, adanya penyakit dan kelainan tidak langsung yang
menyertai kehamilan, yaitu, myoma uteri.
Insiden myoma yang mempersulit kehamilan adalah 1 dalam 200, tetapi
kebanyakan myoma tersebut kecil dan tidak menimbulkan masalah. Komplikasi yang
terjadi tergantung pada jumlah, ukuran, dan posisi myoma di dalam uterus. Dengan
adanya neoplasma jinak yang paling umum pada fraktus genitalia ini akan saling
berkaitan, dengan kehamilan dan persalinan. Dimana kehamilan dan persalinan
berpengaruh pada mioma uteri dan mioma uteri mempengaruhui kehamilan dan
persalinan. Oleh karena itu, kehamilan pada myoma uteri memerlukan pengamatan yang
cermat.
Selain itu penyebab dari myoma uteri itu sendiri belum jelas kebenarannya.
Berdasarkan basil penelitian semua hasilnya masih sebatas perkiraan-perkiraan saja. Yang
pasti myoma uteri merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit yang menjadi
momok tersendiri bagi kaum wanita.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas kami membuat makalah mengenai myoma uteri yang diambil,
dari beberapa pustaka bersama kesimpulan dari beberapa pustaka tersebut disertai
ASKEB sebagai asuhan pada penderita Myoma Uteri
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIA
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan
ikat yang menumnpang, sehingga dalam kepustakaan  dikenal dengan
istilah Fibromioma, leiomioma, atau fibroid (Mansjoer, 2007).
Mioma Uteri adalah suatu tumor jinak, berbatas tegas, tidak berkapsul, yang
berasal dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri,
leiomioma uteri atau uterine fibroid. Tumorjinak ini merupakan neoplasma jinak yang
paling sering ditemukan pada traktus genitalia wanita,terutama wanita usai produktif.
Walaupun tidak sering, disfungsi reproduksi yang dikaitkan dengan mioma mencakup
infertilitas, abortus spontan, persalinan prematur, dan malpresentasi (Crum, 2003).
B. KLASIFIKASI
Mioma umumnya digolongkan berdasarkan lokasi dan ke arah mana mereka tumbuh.
Klasifikasinya sebagai berikut :
1. Mioma intramural :merupakan mioma yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar
tumbuh di antara lapisan uterus yang paling tebal dan paling tengah, yaitu
miometrium.
2. Mioma subserosa : merupakan mioma yang tumbuh keluar dari lapisan uterus yang
paling luar, yaitu serosa dan tumbuh ke arah rongga peritonium. Jenis mioma ini
bertangkai (pedunculated) atau memiliki dasar lebar. Apabila terlepas dari induknya
dan berjalan-jalan atau dapat menempel dalam rongga peritoneum
disebut wandering/parasitic fibroid  Ditemukan kedua terbanyak.
3. Mioma submukosa : merupakan mioma yang tumbuh dari dinding uterus paling
dalam sehingga menonjol ke dalam uterus. Jenis ini juga dapat bertangkai atau
berdasarkan lebar. Dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan
melalui saluran serviks, yang disebut mioma geburt (Chelmow, 2005)
C. ETIOLOGI
 Etiologi pasti belum diketahui
 Peningkatan reseptor estrogen-progesteron pada jaringan mioma uteri  mempengarui
pertumbuhan tumor
 Faktor predisposisi yang bersifat herediter, telah diidentifikasi kromosom yang
membawa 145 gen yang diperkirakan berpengaruh pada pertumbuhan fibroid.
Sebagian ahli mengatakan bahwa fibroid uteri diwariskan dari gen sisi paternal.
 Mioma biasanya membesar pada saat kehamilan dan mengecil setelah menopause
jarang ditemukan sebelum menarke (Crum, 2005)
Faktor Risiko terjadinya mioma uteri yaitu:
1. Usia penderita
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia reproduksi dan sekitar 40%-
50% pada wanita usia di atas 40 tahun (Suhatno, 2007). Mioma uteri jarang
ditemukan sebelum menarke (sebelum mendapatkan haid). Sedangkan pada wanita
menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10% (Joedosaputro, 2005).
2. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi daripada jaringan
miometrium normal. (Djuwantono, 2005)
3. Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri
mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan
wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. (Parker, 2007)
4. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. (Parker, 2007)
5. Makanan
Dilaporkan bahwa daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan daging babi
menigkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden mioma
uteri (Parker, 2007).
6. Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar esterogen dalam
kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Hal ini mempercepat
pembesaran mioma uteri (Manuaba, 2003).

7. Paritas
Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan multipara dibandingkan dengan
wanita yang mempunyai riwayat frekuensi melahirkan 1 (satu) atau 2 (dua) kali
(Khashaeva, 1992).
D. PATOFISIOLOGI 
Ammature muscle cell nest dalam miometrium akan berproliferasi hal tersebut
diakibatkan oleh rangsangan hormon estrogen. ukuran myoma sangat bervariasi. sangat
sering ditemukan pada bagian body uterus (corporeal) tapi dapat juga terjadi pada servik.
Tumot subcutan dapat tumbuh diatas pembuluh darah endometrium dan menyebabkan
perdarahan. Bila tumbuh dengan sangat besar tumor ini dapat menyebabkan penghambat
terhadap uterus dan menyebabkan perubahan rongga uterus. Pada beberapa keadaan
tumor subcutan berkembang menjadi bertangkai dan menonjol melalui vagina atau cervik
yang dapat menyebabkan terjadi infeksi atau ulserasi. Tumor fibroid sangat jarang
bersifat ganas, infertile mungkin terjadi akibat dari myoma yang mengobstruksi atau
menyebabkan kelainan bentuk uterus atau tuba falofii. Myoma pada badan uterus dapat
menyebabkan aborsi secara spontan, dan hal ini menyebabkan kecilnya pembukaan
cervik yang membuat bayi lahir sulit.
Pathway Mioma Uteri
E. TANDA DAN GEJALA
Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat mioma, besarnya tumor, perubahan
dan komplikasi yang terjadi.Gejala yang mungkin timbul diantaranya:
1. Perdarahan abnormal, berupa hipermenore, menoragia dan metroragia. Faktor-faktor
yang menyebabkan perdarahan antara lain:
1) Terjadinya hiperplasia endometrium sampai adenokarsinoma endometrium karena
pengaruh ovarium
2) Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasanya
3) Atrofi endometrium di atas mioma submukosum
4) Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya mioma di antara
serabut miometrium
2. Rasa nyeri yang mungkin timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma,
yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Nyeri terutama saat menstruasi
3. Pembesaran perut bagian bawah
4. Uterus membesar merata
5. Infertilitas
6. Perdarahan setelah bersenggama
7. Dismenore
8. Abortus berulang
9. Poliuri, retention urine, konstipasi serta edema tungkai dan nyeri panggul.
(Chelmow, 2005)

F. DIAGNOSIS
Diagnosis mioma uteri dapat ditegakkan dari:
1. Anamnesis
Dari anamnesis dapat ditemukan antara lain :
1) Timbul benjolan diperut bagian bawah dalam waktu relatif lama.
2) Kadang-kadang disertai gangguan haid
3) Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir mioma bertangkai, atau pecah.
4) Pemeriksaan fisik
2. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Pemeriksaan abdomen
 Uterus yang membesar dapat dipalpasi pada abdomen
 Teraba benjolan tidak teratur, tetap dan lunak
 Ada nyeri lepas yang disebabkan oleh perdarahan intraperitoneal

2) Pemeriksaan pelvis
 Adanya dilatasi serviks
 Uterus cenderung membesar, tidak beraturan dan berbentuk nodul
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis mioma uteri
, sebagai berikut :
1) Ultra Sonografi (USG), untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan
endometrium dan keadaan adneksa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi
dengan Computerized Tomografi Scanning (CT scan) ataupun Magnetic Resonance
Image ( MRI), tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal.
2) Foto Bulk Nier Oversidth (BNO), Intra Vena Pielografi (IVP) pemeriksaaan ini
penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan
perjalanan ureter.
3) Histerografi dan histerokopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan
infertilitas.
4) Laparoskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
5) Laboratorium: hitung darah lengkap dan apusan darah, untuk menilai kadar
hemoglobin dan hematokrit serta jumlah leukosit.
6) Tes kehamilan adalah untuk tes hormon Chorionic gonadotropin,  karena bisa
membantu dalam mengevaluasi suatu pembesaran uterus, apakah oleh karena
kehamilan atau oleh karena adanya suatu mioma uteri yang dapat menyebabkan
pembesaran uterus menyerupai kehamilan.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada mioma uteri secara umum, yaitu:
1. Degenerasi ganas
Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila
terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.
2. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadi sindrom abdomen akut.

H. PENATALAKSANAAN
1. Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan
terbagi atas :
1) Penanganan konservatif
Cara penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
 Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
 Monitor keadaan Hb
 Pemberian zat besi
 Penggunaan agonis GnRH untuk mengurangi ukuran mioma
2) Penanganan operasi
Intervensi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah :
1) Perdarahan uterus abnormal yang menyebabkan penderita anemia
2) Nyeri pelvis yang hebat
3) Ketidakmampuan untuk mengevaluasi adneksa (biasanya karena mioma
berukuran kehamilan 12 minggu atau sebesar tinju dewasa)
4) Gangguan buang air kecil (retensiurin)
5) Pertumbuhan mioma setelah menopause
6) Infertilitas
7) Meningkatnya pertumbuhan mioma (Moore, 2001).

Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :


a. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan rahim/uterus
(Rayburn, 2001). Miomektomi lebih sering di lakukan pada penderita mioma uteri
secara umum. Penatalaksanaan ini paling disarankan kepada wanita yang belum
memiliki keturunan setelah penyebab lain disingkirkan (Chelmow, 2005).
b. Histerektomi
Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat rahim,
baik sebagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya (total) berikut
serviks uteri (Prawirohardjo, 2001). Histerektomi dapat dilakukan bila pasien
tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang memiliki mioma yang
simptomatik atau yang sudah bergejala. Ada dua cara histerektomi, yaitu :
a) Histerektomi abdominal, dilakukan bila tumor besar terutama mioma
intraligamenter, torsi dan akan dilakukan ooforektomi
b) Histerektomi vaginal, dilakukan bila tumor kecil (ukuran < uterus gravid 12
minggu) atau disertai dengan kelainan di vagina misalnya rektokel, sistokel
atau enterokel (Callahan, 2005).
c) Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists
(ACOG) untuk histerektomi adalah sebagai berikut :
1. Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari
luar dan dikeluhkan oleh pasien.
2. Perdarahan uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan
bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari dan anemia
akibat kehilangan darah akut atau kronis.
3. Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat dan
akut, rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis
dan penekanan pada vesika urinaria mengakibatkan frekuensi miksi yang
sering (Chelmow, 2005).
2. Penatalaksanaan mioma uteri pada wanita hamil
Selama kehamilan, terapi awal yang memadai adalah tirah baring, analgesia dan
observasi terhadap mioma. Penatalaksanaan konservatif selalu lebih disukai apabila
janin imatur. Seksio sesarea merupakan indikasi untuk kelahiran apabila mioma uteri
menimbulkan kelainan letak janin, inersia uteri atau obstruksi mekanik.

I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Data biografi pasien
2. Riwayat kesehatan saat ini, meliputi : keluhan utama masuk RS, faktor pencetus,
lamanya keluhan, timbulnya keluhan, faktor yang memperberat, upaya yang
dilakukan untuk mengatasi, dan diagnosis medik.
3. Riwayat kesehatan masa lalu, meliputi : penyakit yang pernah dialami, riwayat alergi,
imunisasi, kebiasaan merokok,minum kopi, obat-obatan dan alkohol
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Pemeriksaan fisik umum dan keluhan yang dialami. Untuk pasien dengan kanker
servik, pemeriksaan fisik dan pengkajian keluhan lebih spesifik ke arah pengkajian
obstretri dan ginekologi, meliputi :
1) Riwayat kehamilan, meliputi : gangguan kehamilan, proses persalinan, lama
persalinan, tempat persalinan, masalah persalinan, masalah nifas serta laktasi,
masalah bayi dan keadaan anak saat ini
2) Pemeriksaan genetalia
3) Pemeriksaan payudara
4) Riwayat operasi ginekologi
5) Pemeriksaan pap smear
6) Usia menarche
7) Menopause
8) Masalah yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi
6. Kesehatan lingkungan/higiene
7. Aspek psikososial meliputi : pola pikir, persepsi diri, suasana hati,
hubungan/komunikasi, kebiasaan seksual, pertahanan koping, sistem nilai dan
kepercayaan dan tingkat perkembangan.
8. Data laboratorium dan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lain
9. Terapi medis yang diberikan
10. Efek samping dan respon pasien terhadap terapi
11. Persepsi klien terhadap penyakitnya

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis (kanker serviks) dan agen injuri
fisik (jika dilakukan terapi pembedahan)
2. PK : Anemia
3. Cemas b.d krisis situasional (histerektomi atau kemoterapi), ancaman terhadap konsep
diri, perubahan dalam status kesehatan, stres,
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor
biologis (status hipermatebolik berkenaan dengan kanker) dan faktor psikososial
5. Resiko infeksi dengan faktor resiko ketidakadekuatan pertahanan sekunder;
ketidakadekuatan pertahanan imun tubuh; imunosupresi (kemoterapi), dan prosedur
invasi
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit;
keterbatasan kognitif (dilihat dari tingkat pendidikan); misinterpretasi dengan
informasi yang diberikan ; dan tidak familiar dengan sumber informasi
7. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan perubahan
perkembangan penyakit
8. Gangguan eliminasi fekal : Konstipasi b.d menurunnya mobilitas intestinal
9. Retensi urin b.d penekanan yang keras pada uretra

K. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


N DIANGOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
o KEPERAWATAN DAN
KOLABORASI
1 Nyeri akut berhubungan NOC : Kontrol Nyeri  NIC
dengan agen injuri Setelah dilakukan pemberian 1. Manajemen Nyeri
biologis (kanker serviks) asuhan keperawatan selama …..x  Kaji secara komphrehensif tentang
dan agen injuri fisik (jika 24 jam, diharapkan respon nyeri nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik,
dilakukan terapi pasien dapat terkontrol dengan durasi, frekuensi, kualitas,
pembedahan) kriteria hasil sebagai berikut : intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-
 Klien mampu mengenal faktor- faktor pencetus
faktor penyebab nyeri, beratnya  observasi isyarat-isyarat  verbal dan
ringannya nyeri, durasi nyeri, non verbal dari ketidaknyamanan,
frekuensi dan letak bagian tubuh meliputi ekspresi wajah, pola tidur,
yang nyeri nasfu makan, aktitas dan hubungan
 Klien mampu melakukan sosial.
tindakan pertolongan non-  Kolaborasi pemberian analgetik
analgetik, seperti napas dalam, sesuai dengan anjuran. Pemberian
relaksasi dan distraksi analgetik harus memperhatikan hal-
 Klien melaporkan gejala-gejala hal sebagai berikut : prinsip
kepada tim kesehatan pemberian obat 6 benar (benar nama,
 Klien mampu mengontrol nyeri benar obat, benar dosis, benar cara,
 Ekspresi wajah klien rileks benar waktu pemberian, dan benar
 Klien melaporkan adanya dokumentasi)
penurunan tingkat nyeri dalam  Gunakan komunikiasi terapeutik
rentang sedang (skala nyeri: 4 agar pasien dapat mengekspresikan
sampai 6) hingga nyeri ringan nyeri
(skala nyeri : 1 sampai 3)  Kaji pengalaman masa lalu individu
 Klien melaporkan dapat tentang nyeri
beristirahan dengan nyaman  Evaluasi  tentang keefektifan dari
 Nadi klien dalam batas normal tindakan mengontrol nyeri yang
(80-100x/menit) telah digunakan
 Tekanan darah klien dalam batas  Berikan dukungan terhadap pasien
normal (120/80 mmHG) dan keluarga
 Frekuensi pernafasan klien  Berikan informasi tentang nyeri,
dalam batas normal (12 – 20 seperti: penyebab, berapa lama
x/menit) terjadi, dan tindakan pencegahan
 Ajarkan penggunaan teknik non-
farmakologi (seperti: relaksasi,
guided imagery, terapi musik, dan
distraksi)
 Modifikasi tindakan mengontrol
nyeri berdasarkan respon pasien
 Anjurkan klien untuk meningkatkan
tidur/istirahat
 Anjurkan klien untuk melaporkan
kepada tenaga kesehatan jika
tindakan tidak berhasil atau terjadi
keluhan lain
2 PK : Anemia Setelah dilakukan tindakan  Kaji gejala-gejala anemia yang
keperawatan selama ......x 24 jam, terjadi
perawat dapat meminimalkan  Pantau tanda-tanda anemia yang
komplikasi anemia yang terjadi terjadi
dengan kriteria hasil:  Monitor hasil pemeriksaan lab untuk
 Konjungtiva merah muda pemeriksaan kadar Hb, RBC, Hct
 Capilary refille ≤ 2 detik  Anjurkan pasien untuk
 Mukosa mulut merah muda mengkonsumsi makanan yang
 Kadar Hb dbn (wanita dewasa: seimbang, terutama makanan tinggi
12-14 g/dl), RBC dbn (wanita kalori dan tinggi protein.
dewasa: 3,80-5,80 x 105/uL) dan  Kolaborasi pemberian suplemen besi
Hct dbn (wanita dewasa : 37,0- tambahan, vitamin dan mineral
47,0%) sesuai indikasi
 Kolaborasi pemberian transfusi
darah sesuai kebutuhan
 monitor efek samping dan respon
pasien setelah dilakukan transfusi
darah
3 Cemas b.d krisis NOC: Kontrol Cemas NIC
situasional (histerektomi Setelah dilakukan asuhan Menurunkan cemas:
atau kemoterapi), keperawatann kepada pasien  Tenangkan pasien dan kaji tingkat
ancaman terhadap konsep selama …... x 24 jam, diharapkan kecemasan pasien
diri, perubahan dalam pasien dapat mengkontrol cemas  Jelaskan seluruh prosedur tindakan
status kesehatan, stres dengan kriteria hasil sebagai kepada pasien dan perasaan yang
berikut: mungkin muncul pada saat
 Perawat memonitor  tingkat melakukan tindakan
kecemasan pasien  Berusaha memahami keadaan pasien
 Klien mampu menurunkan (rasa empati)
penyebab-penyebab kecemasan  Berikan informasi tentang diagnosa,
 Perawat dan keluarga dapat prognosis dan tindakan dengan
menurunkan stimulus lingkungan komunikasi yang baik
ketika pasien cemas  Mendampingi pasien untuk
 Klien mampu mencari informasi mengurangi kecemasan dan
tentang hal-hal yang dapat meningkatkan kenyamanan
dilakukan untuk menurunkan  Dorong pasien untuk menyampaikan
kecemasan tentang isi perasaannya
 Klien manpu menggunakan  Ciptakan hubungan saling percaya
strategi koping yang efektif  Bantu pasien menjelaskan keadaan
 Klien melaporkan kepada yang bisa menimbulkan kecemasan
perawat penurunan kecemasan  Bantu pasien untuk mengungkapkan
 Klien mampu menggunakan hal hal yang membuat cemas dan
teknik relaksasi  untuk dengarkan dengan penuh perhatian
menurunkan cemas  Ajarkan pasien teknik relaksasi
 Klien mampu mempertahankan  Anjurkan pasien untuk 
hubungan social, dan konsentrasi meningkatkan ibadah dan berdoa
 Klien melaporkan kepada  Kolaborasi dengan dokter untuk
perawat tidur cukup, tidak ada pemberian obat-obatan yang
keluhan fisik akibat kecemasan, mengurangi kecemasan pasien
dan tidak ada perilaku yang
menunjukkan kecemasan
4 Ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari Status nutrisi : intake makanan dan 1. Manajemen Nutrisi
kebutuhan tubuh minuman  Kaji adanya alergi makanan
berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
faktor biologis (status keperawatann kepada pasien menentukan jumlah nutrisi yang
hipermatebolik berkenaan selama …... x 24 jam, diharapkan sesuai dengan keadaan pasien
dengan kanker) dan faktor status nutrisi meliputi
intake  Anjurkan pasien untuk
psikososial makanan dan minuman membaik meningkatkan intake Fe, protein,
dengan kriteria hasil sebagai karbohidrat, dan vitamin C
berikut:  Berikan diet yang mengandung
 Adanya peningkatan berat badan tinggi serat untuk mencegah
sesuai dengan tujuan konstipasi
  Klien mampu mengidentifikasi  Berikan informasi tentang kebutuhan
kebutuhan nutrisi nutrisi pasien
 Tidakada tanda tanda malnutrisi 2. Monitoring nutrisi
 Tidak terjadi penurunan berat  Monitor tipe dan jumlah aktivitas
badan yang berarti yang biasa dilakukan
 Berikan lingkungan yang nyaman
dan bersih selama makan
 Jadwalkan pengobatan  dan tindakan
tidak selama jam makan
 Monitor kulit kering dan perubahan
pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan, rambut kusam,
dan mudah patah
 Monitor mual dan muntah
 Monitor kadar albumin, total protein,
Hb, dan kadar Ht
 Kaji makanan kesukaan
 Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
 Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.
 Monitor variasi makanan yang
dikonsumsi pasien
5 Resiko infeksi dengan NOC NIC
faktor resiko Pengetahuan:Kontrol infeksi Kontrol Infeksi:
ketidakadekuatan Setelah dilakukan asuhan  Bersikan lingkungan setelah
pertahanan sekunder; keperawatann kepada pasien digunakan oleh pasien
ketidakadekuatan selama …... x 24 jam, diharapkan  Ganti peralatan pasien setiap selesai
pertahanan imun tubuh; pasien dapat menjelaskan kembali tindakan
imunosupresi cara mengkontrol infeksi dengan  Batasi jumlah pengunjung
(kemoterapi), dan kriteria hasil sebagai berikut:  Ajarkan cuci tangan untuk menjaga
prosedur invasi  Mampu menerangkan cara-cara kesehatan individu
penyebaran infeksi  Anjurkan pasien untuk cuci tangan
 Mampu menerangkan factor- dengan tepat
faktor yang berkontribusi dengan  Gunakan sabun antimikrobial untuk
penyebaran cuci tangan
 Mampu menjelaskan tanda-tanda  Anjurkan pengunjung untuk mencuci
dan gejala tangan sebelum dan setelah
 Mampu menjelaskan aktivitas meninggalkan ruangan pasien
yang dapat meningkatkan  Cuci tangan sebelum dan sesudah
resistensi terhadap infeksi kontak dengan pasien
 Gunakan universal precautions
 Lakukan perawatan aseptic pada
semua jalur IV
 Lakukan teknik perawatan luka
dengan memperhatikan prinsip
septik dan aseptik
 Anjurkan istirahat
 Kolaborasi pemberian terapi
antibiotik dengan memperhatikan
prinsip pemberian obat 6 benar
(benar obat, benar nama, benar
dosis, benar waktu, benar cara
pemberian, dan benar dokumentasi)
 Ajarkan pasien dan keluarga tentang
tanda-tanda, gejala dari infeksi dan
cara pencegahan infeksi
6 Kurang pengetahuan NOC NIC
berhubungan dengan Pengetahuan : proses penyakit 1. Pembelajaran : proses penyakit
kurangnya informasi Pengetahuan : prosedur perawatan  Kaji tingkat pengetahuan klien
tentang penyakit; Setelah dilakukan asuhan tentang penyakit
keterbatasan kognitif keperawatann kepada pasien  Jelaskan nama penyakit, proses
(dilihat dari tingkat selama …... x 24 jam, diharapkan penyakit, faktor penyebab atau
pendidikan); pasien dapat menjelaskan kembali faktor pencetus, tanda dan gejala,
misinterpretasi dengan tentang proses penyakit dan cara meminimalkan perkembangan
informasi yang diberikan ; prosedur perawatan dengan penyakit, komplikasi penyakit dan
dan tidak familiar dengan kriteria hasil sebagai berikut: cara mencegah komplikas
sumber informasi  Pasien mengenal nama penyakit,  Berikan informasi tentang kondisi
proses penyakit, faktor penyebab perkembangan klien
atau faktor pencetus, tanda dan  Anjurkan klien untuk melaporkan
gejala, cara meminimalkan tanda dan gejala kepada petugas
perkembangan penyakit, kesehatan
komplikasi penyakit dan cara 2. Pembelajaran : prosedur/perawatan
mencegah komplikasi  Informasikan klien waktu
 Pasien mengetahui prosedur pelaksanaan prosedur/perawatan
perawatan, tujuan perawatan dan  Informasikan klien lama waktu
manfaat tindakan. pelaksanaan prosedur/perawatan
 Kaji pengalaman klien dan tingkat
pengetahuan klien tentang prosedur
yang akan dilakukan
 Jelaskan tujuan prosedur/perawatan
 Instruksikan klien utnuk
berpartisipasi selama
prosedur/perawatan
 Jelaskan hal-hal yang perlu
dilakukan setelah
prosedur/perawatan
 Ajarkan tehnik koping seperti
relaksasi untuk mengurangi efek dari
prosedur yang dilakukan
7 Gangguan citra tubuh NOC NIC
berhubungan dengan Meningkatkan citra tubuh, Peningkatan citra tubuh
pembedahan dan Setelah dilakukan asuhan  Kaji penerimaan pasien tentang
perubahan perkembangan keperawatann kepada pasien kondisinya saat ini
penyakit selama …... x 24 jam, diharapkan  Bantu klien untuk mendiskusikan
citra tubuh atau gambaran tubuh perubahan tubuh akibta penyakit
pasien meningkat dengan kriteria  Bantu klien untuk mendiskusikan
hasil sebagai berikut: fungsi tubuh yang terganggu
 Pasien mengungkapkan  Kaji perasaan klien ketika
penerimaan citra tubuh secara berinteraksi dengan orang lain
verbal maupuan non verbal  Kaji persepsi klien dan keluarga
 Pasien mampu mempertahankan tentang perubahan tubuh yang terjadi
kontak mata ketika  Kaji strategi mengatasi masalah
berkomunikasi (koping) yang digunakan
 Pasien mampu melakukan  Kaji apakah perubahan gambaran
komunikasi terbuka diri mempengaruhi hubungan sosial
 Pasien menunjukkan tingkat klien
kepercayaan diri  Bantu klien mengidentifikasi bagian
tubuh lain yang bernilai positif
 Kaji dukungan sosial yang dimiliki
klien
8 Gangguan eliminasi NOC NIC : Manajemen Konstipasi
fekal : Konstipasi b.d Buang Air Besar  Monitor tanda dan gejala konstipasi
menurunnya mobilitas Setelah dilakukan asuhan  Monitor warna, konsistensi, jumlah
intestinal keperawatan kepada pasien selama dan waktu buang air besar
….x 24 jam, diharapkan pasien  Konsultasikan dengan dokter tentang
tidak mengalamai gangguan dalam pemberian laksatif, enema dan
buang air besar, dengan kriteria pengobatan
hasil:  Berikan cairan yang adekuat
 Pasien kembali ke pola dan
normal dari fungsi bowel
 Terjadi perubahan pola hidup
untuk menurunkan factor
penyebab konstipasi

9 Retensi urin b.d NOC NIC: Pemasangan Kateter


penekanan yang keras Inkontinensia urin  Menjelaskan prosedur dan rasional
pada uretra Setelah dilakukan asuhan intervensi kateterisasi
keperawaran selama ...x24 jam,  Monitore intake dan output
pasien tidak mengalami  Menjaga teknik aseptik dalam
inkontinensia urin, dengan kriteria melakukan kateterisasi
hasil:  Memelihara drainase urinari secara
 Pasien mampu memprekdisikan tertutup.
pola eliminasi urin
 Pasien mampu memulai dan
memghentikan aliran urin
 Tidak adanya tanda-tanda infeksi

DAFTAR PUSTAKA

1. Achadiat CM. 2004. Prosedur tetap Obstetri dan ginekologi. Jakarta : EGC


2. Callahan MD MPP, Tamara L. 2005. Benign Disorders of the Upper Genital

Tract in Blueprints Obstetrics & Gynecology. Boston : Blackwell Publishing,

3. Chelmow.D.

2005. GynecologicMyomectomy Http://www.emedicine.com/med/topic331 9.html.

4. Crum MD, Christopher P & Kenneth R. Lee MD. 2003. Tumors of the

Myometrium in Diagnostic Gynecologic and Obstetric Pathology. Boston : Elsevier

Saunders

5. Djuwantono T. 2004. Terapi GnRH Agonis Sebelum Histerektomi atau Miomektomi.

Farmacia. Vol III NO. 12. Juli 2004. Jakarta

6. Hart MD FRCS FRCOG, David McKay. 2000. Fibroids in Gynaecology Illustrated.

London : Churchill Livingstone.

7. Joedosapoetro MS. 2003.  Ilmu Kandungan. Wiknjosastro H, Saifudin AB,

Rachimhadi T. Editor. Edisi Ke-2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

8. Manuaba IBG. 2003. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetric dan Ginekologi. Edisi

2. Jakarta : EGC

9. Moore JG. 2001. Essensial obstetri dan ginekologi. Edisi 2. Jakarta : Hipokrates

10. Panay BSc MRCOG MFFP, Nick et al. 2004. Fibroids in Obstetrics

and  Gynaecology. London : Mosby

11. Parker WH. 2007. Etiology, Symptomatology and Diagnosis of Uterine Myomas.

Volume 87. Department of Obstetrics and gynecology UCLA School of Medicine.

California : American Society for Reproductive Medicine