Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

Akhlak Terhadap Diri Sendiri


Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok mata Kuliah Akhlak
Dosen pengampu : H. M. Zainuri S.Ag., M. Pd.

Disusun oleh:

1. Ismatur Rohmah 191310004377


2. Kiki Anita Sari 191310004239

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA JEPARA
TAHUN AKADEMIK 2019/202

1
Kata Pengantar

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.


Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kemudahan sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya penuis tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga
mampu tercurahkan kepada Baginda Tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti
nantikan syafaatnya di akhirat nanti
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
merupakan sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas kelompok dari dosen pengampu mata kuliah Akhlak dengan
judul “Akhlak Terhadap Diri Sendiri”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan
kritikan dan saran dosen pengampu untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat
menjadi makalah yang lebih baik lagi, kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada
makalah ini, penulis mohon maaf dengan sebesar besarnya.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, khususnya pada Bapak Dosen
mata kuliah Akhlak kami. Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat, terimakasih.
Wassalamu’laikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jepara, 12 Desember 2020

penyusun

2
FTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................i
KATA PENGANTAR....................................................................................ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................4
1.1 Latar Belakang....................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................5
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................6
2.1 Pengertian Akhlak Terhadap Diri Sendiri ……..……………………6
2.2 Macam – Macam Akhlak Terhadap Diri Sendiri...............................6
a. Berakhlak terhadap Akal…………………………………………6
b. Berakhlak terhadap Jiwa.…………………………………….......7
c. Berakhlak terhadap Jasmani..……………………………………8
d. Hikmah terrhadap diri sendiri.......................................................9
BAB III PENUTUP.........................................................................................11
3.1 Kesimpulan …………………………………………11
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................12

3
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Akhlak terhadap dirimu sendiri pada dasarnya disetujui oleh semua manusia yang
diperuntukkan bagi umat Muslim. utamanya bagi seluruh umat muslim. Seorang muslim adalah
pemimpin bagi dirinya sendiri. Siapapun dia, seorang muslim tentu akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuat terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itu,
Islam memandang bahwa setiap muslim harus menunaikan etika dan akhlak yang baik terhadap
dirinya sendiri, sebelum ia berakhlak yang baik terhadap orang lain.. Dan ternyata hal ini sering
dilalaikan oleh kebanyakan kaum muslimin.
Secara garis besar, akhlak seorang muslim terhadap dirinya dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
terhadap fisiknya, terhadap akalnya, dan terhadap hatinya. Karena memang setiap insan memiliki
tiga komponen tersebut dan kita dituntut untuk memberikan hak kita terhadap diri kita sendiri
dalam ketiga unsur yang terdapat dalam dirinya tersebut. Namun, tanpa disadari seseorang telah
berakhlak tidak baik pada dirinya sendiri.
Jadi, sebagai manusia atau sebagai seorang muslim yang baik hendaklah kita selalu
berakhlak baik dalam hal apapun. Karena sesungguhnya, Allah SWT menciptakan manusia
dengan tujuan utama penciptaannya adalah untuk beribadah. Ibadah dalam pengertian secara
umum yaitu melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh
kesadaran dan keikhlasan. Manusia diperintahkan-Nya untuk menjaga, memelihara, dan
mengembangkan semua yang ada untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.  Untuk itulah
materi akhlak terhadap diri sendiri ini sangatlah penting untuk dipahami, dipelajari dan
diteladani.

4
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Penjelasan Berakhlak Terhadap Diri Sendiri?
2. Bagaimana Jenis/Macam-Macam Akhlak Terhadap Akal?
3. Bagaimana Jenis/Macam-Macam Akhlak Terhadap Fisik/Jasmani?
4. Bagaimana Jenis/Macam-Macam Akhlak Terhadap Psikis/Jiwa?
5. Bagaimana Hikmah Berakhlak Terhadap Diri Sendiri?

1.3. Tujuan
1. Pembaca Dapat Mengetahui Tentang Berakhlak Terhadap Diri Sendiri.
2. Pembaca Dapat Mengetahui Mcam-Macam Akhlak Terhadap Akal.
3. Pembaca Dapat Mengetahui Macam-Macam Akhlak Terhadap Fisik/Jasmani.
4. Pembaca Dapat Mengetahui Macam-Macam Akhlak Terhadap Psikis/Jiwa.
5. Pembaca Dapat Mengetahui Hikmah Berakhlak Terhadap Diri Sendiri.

5
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Akhlak Kepada Diri Sendiri


Menurut etimologi kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang berarti “budi pekerti”.
Sedangkan menurut terminologi, kata “budi pekerti”, budi adalah yang ada pada manusia,
berhubungan dengan kesadaran yang didorong oleh pemikiran, sedangkan Pekerti adalah apa
yang terlihat pada manusia karena didorong oleh perasaan hati yang disebut behavior. Jadi budi
pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah
laku manusia.
Manusia mempunyai kewajiban kepada dirinya sendiri yang harus ditunaikan untuk
memenuhi haknya. Kewajiban ini bukan semata-mata untuk mementingkan dirinya sendiri atau
menzalimi dirinya sendiri. Dalam diri manusia mempunyai dua unsur, yakni:
 jasmani (jasad) dan
 rohani (jiwa).
Tiap-tiap unsur memiliki hak di mana antara satu dan yang lainnya mempunyai kewajiban
yang harus ditunaikan untuk memenuhi haknya masing-masing. Selain itu manusia juga
dikaruniai akal pikiran yang membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya.
Yang dimaksud dengan akhlak terhadap diri sendiri adalah sikap seseorang terhadap diri
pribadinya baik itu jasmani atau rohani. Manusia dapat diperbaiki akhlaknya dengan
menghilangkan akhlak-akhlak tercela. Kita harus adil dalam memperlakukan diri kita dan jangan
pernah memaksa diri kita untuk melakukan sesuatu yang tidak baik atau bahkan membahayakan
jiwa. Sesuatu yang membahayakan jiwa bisa bersifat fisik atau psikis. Misalnya kita melakukan
hal-hal yang bisa membuat tubuh kita menderita. Misalkan iri, dengki , munafik dan lain
sebagainya. Hal itu semua dapat membahayakan jiwa kita, semua itu merupakan penyakit hati
yang harus kita hindari.
Untuk menghindari hal tersebut di atas maka kita dituntut untuk mengenali berbagai
macam penyakit hati yang dapat merubah hati kita, yang tadinya merupakan tempat kebaikan
dan keimanan menjadi tempat keburukan dan kekufuran. Seperti yang telah dikatakan bahwa
diantara penyakit hati adalah iri dengki dan munafik. Maka kita harus mengenali penyakit hati
tersebut.
2. Macam-Macam Akhlak Seorang Muslim Pada Diri Sendiri
a. Berakhlak terhadap Akal
 Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim,
sekaligus sebagai bentuk akhlak seorang muslim. Muslim yang baik, akan
memberikan porsi terhadap akalnya yakni berupa penambahan pengetahuan
dalam sepanjang hayatnya.
Ilmu fardh ‘ain yang menjadi asas bagi diri seseorang muslim hendaklah
diutamakan karena ilmu ini mampu dipelajari oleh siapa saja, asalkan dia berakal
dan cukup umur. Pengabaian ilmu ini seolah-olah tidak berakhlak terhadap
akalnya. Akhlak Muslim ialah menjaganya agar tidak rusak dengan mengambi

6
sesuatu yang memabukkan dan menghayalkan. Islam menyuruh supaya
membangun potensi akal hingga ke tahap maksimum, salah satu cara
memanfaatkan akal ialah mengisinya dengan ilmu.
 Penguasaan ilmu
Setiap muslim perlu mempelajari hal-hal yang memang sangat urgen
dalam kehidupannya. Perkara utama yang patut diketahui ialah pengetahuan
terhadap kitab Allah, bacaannya, tajwidnya, dan tafsirnya. Kemudian hadits-
hadits Rasul, sirah, sejarah sahabat, ulama, dan juga sejarah Islam, hukum hakam
ibadat serta muamalah, namun bisa juga dalam bidang-bidang lain. Sementara itu
umat islam hendaklah membuka tingkap pikirannya kepada segala bentuk ilmu,
termasuk juga bahasa asing supaya pemindahan ilmu berlaku dengan cepat.
Rasulullah pernah menyuruh Zaid bin Tsabit supaya belajar bahasa Yahudi dan
Syiria.
 Mengajarkan Ilmu pada Orang Lain
Termasuk akhlak muslim terhadap akalnya adalah menyampaikan atau
mengajarkan apa yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan ilmunya.
Dalam firman Allah SWT; Artinya : “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu,
kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui” (An-Nahl:43)
b. Berakhlak terhadap jiwa
 Bertaubat
Taubat adalah meninggalkan seluruh dosa dan kemaksiatan, menyesali
perbuatan dosa yang telah lalu dan berkeinginan teguh untuk tidak mengulangi
lagi perbuatan dosa tersebut pada waktu yang akan dating.
 Bermuraqabah
Muraqabah adalah rasa kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu
diawasi oleh Allah SWT. Dengan demikian dia tenggelam dengan pengawasan
Allah dan kesempurnaan-Nya sehingga ia merasa akrab, merasa senang, merasa
berdampingan, dan menerima-Nya serta menolak selain Dia.
 Mujahadah
Mujahadah adalah berjuang, bersungguh-sungguh, berperang melawan
hawa nafsu. Hawa nafsu senantiasa mencintai ajakan untuk terlena, menganggur,
tenggelam dalam nafsu yang mengembuskan syahwat, kendatipun padanya
terdapat kesengsaraan dan penderitaan. Jika seorang Muslim menyadari bahwa itu
akan menyengsarakan dirinya, maka dia akan berjuang dengan menyatakan
perang kepadanya untuk menentang ajakannya, menumpas hawa nafsunya.
c. Berakhlak terhadap jasmani
 Senantiasa Menjaga Kebersihan

7
Islam menjadikan kebersihan sebagian dari Iman. Ia menekankan
kebersihan secara menyeluruh meliputi pakaian dan juga tubuh badan. Rasulullah
memerintahkan sahabat-sahabatnya supaya memakai pakaian yang bersih, baik
dan rapi terutamanya pada hari Jum’at, memakai wewangian dan selalu bersugi.
Seorang muslim harus bersih/ suci badan, pakaian, dan tempat, terutama saat akan
melaksanakan sholat dan beribadah kepada Allah, di samping suci dari kotoran,
juga suci dari hadas.
 Menjaga Makan dan Minumnya
Makan dan minum merupakan kebutuhan vital bagi tubuh manusia, jika
tidak makan dan minum dalam keadaan tertentu yang normal maka manusia akan
mati. Bersederhanalah dalam makan minum, berlebihan atau melampau di tegah
dalam Islam. Sebaiknya sepertiga dari perut dikhaskan untuk makanan, satu
pertiga untuk minuman, dan satu pertiga untuk bernafas.
 Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan bagi seorang muslim adalah wajib dan merupakan
bagian dari ibadah kepada Allah SWT dan sekaligus melaksanakan anmanah
dariNya. latihan jasmani sangat penting dalam penjagaan kesehatan, walau
bagaimnapun riyadhah harus tetap dilakukan menurut etika yang ditetapkan oleh
Islam.
 Berbusana yang Islami
Seorang muslim mestilah mempunyai rupa diri yang baik. Islam tidak
pernah mengizinkan budaya tidak senonoh, Manusia mempunya budi, akal dan
kehormatan, sehingga bagian-bagian badannya ada yang harus ditutupi (aurat)
karena tidak pantas untuk dilihat orang lain.
3. Hikmah Akhlak Terhadap Diri Sendiri
 Berakhlak terhadap akal
a) memperoleh banyak ilmu
b) dapat mengamalkan ilmu yang kita peroleh untuk orang lain
c) membantu orang lain
d) mendapat pahala dari Allah SWT
 Berakhlak terhadap jiwa
a) selalu dalam lindungan Allah SWT
b) jauh dari perbuatan yang buruk
c) selalu ingat kepada Allah SWT
 Berakhlak terhadap jasmani
a) jauh dari penyakit karena sering menjaga kebersihan
b) menjadikan badan kuat dan tidak mudah lemah
c) tubuh menjadi sehat dan selalu bugar

8
Kesimpulan

Akhlak terhadap diri sendiri adalah sikap seseorang terhadap diri pribadinya baik itu
jasmani sifatnya atau rohani. Kita harus adil dalam memperlakukan diri kita, dan jangan pernah
memaksa diri kita untuk melakukan sesuatu yang tidak baik atau bahkan membahayakan jiwa.
Cara untuk memelihara akhlak terhadap diri sendiri yaitu dengan sabar, shidiq, tawaduk, syukur,
istiqamah, iffah, pemaaf dan amanah.

9
Daftar pustaka

https://blog.uad.ac.id/rizkiagung/2011/12/04/akhlak-terhadap-diri-sendiri/
https://rizkifisthein.wordpress.com/2011/06/23/akhlak-terhadap-diri-sendiri/
Faridl, Miftah.1997. Etika Islam : Nasehat Islam Untuk Anda. Bandung: Pustaka.

10

Anda mungkin juga menyukai