Anda di halaman 1dari 5

*Renungan Ture, 4 Oktober 2020*

Hi, teens… Tema kali ini cukup serius yah… Jadi, ambil waktu dan tempat
yang khusus, berdoalah terlebih dahulu, kemudian mulailah membaca
renungan ini… _baca pelan-pelan paragraph demi paragraph dan
renungkan…_ Semoga renungan ini menginspirasimu!

*- BE AN EXAMPLE -*
Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16
_"Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"_

Seorang ahli teologia/filsuf/musikolog dan pemenang Nobel asal Jerman


yang semasa hidupnya bertugas sebagai misionaris di Afrika bernama
Albert Schweitzer dalam sebuah wawancara di tahun 1952 menjelaskan
seperti apa teladan itu menurutnya. Ia berkata: _"Example is not the main
thing. It's the only thing"._ Memberi contoh atau teladan bukanlah hal
yang utama dalam mempengaruhi orang, tapi itu adalah satu-satunya cara.
Artinya, kalau kita ingin menyampaikan nilai-nilai kebenaran, tidak ada
jalan yang lebih baik selain menjadi contoh nyata dari kebenaran itu. Pintar
mengajar tapi apa yang diajarkan tidak tercermin dari perbuatan nyata, itu
tidak akan membawa dampak yang signifikan dan hanya akan sia-sia saja.

Seperti arus air, manusia cenderung mengikut arus. Semakin deras


arusnya, semakin banyak yang terseret. Sayangnya hal ini seringkali
berlaku dalam hal-hal yang tidak baik. Dalam berkendara misalnya, kita
akan ikut melawan arus kalau ada yang mulai di depan. Ikut melanggar
lampu merah karena kendaraan di depan kita melakukannya. Kalau kena
semprit polisi, kita akan bilang: "soalnya yang di depan duluan sih pak...
saya cuma ngikut aja." Kalau tahu orang salah, kenapa kita malah ikut-
ikutan salah? Orang baik salah gaul dalam lingkungan pertemanan yang
buruk jadi ikutan buruk.

Seperti itulah kecenderungan manusia. Untuk hal baik pun sebenarnya


sama. Kalau arus baiknya deras, akan banyak pula manusia yang ikut ke
dalam arus itu. Hanya saja sayangnya jumlah orang yang mampu
menimbulkan arus kegerakan yang baik dalam kebenaran sangatlah sedikit
jumlahnya dibandingkan arus pengaruh buruk. Dunia butuh lebih banyak
lagi teladan. Sayang sekali tidak banyak orang percaya yang mau naik level
dari sekedar percaya untuk menjadi pelaku Firman dan kemudian menjadi
teladan dalam hidupnya.

Kenapa tidak banyak yang mau? Jawabannya sederhana, karena menjadi


teladan bukanlah perkara mudah. Keteladanan mengacu kepada sesuatu
yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh seperti dalam sifat, sikap,
perbuatan, perilaku dan gaya hidup. Itu idealnya. Tapi anehnya ada
banyak orang yang mengidolakan orang-orang yang justru tidak pantas
jadi teladan karena memberi contoh atau pengaruh buruk. Meski tidak
semua, ada banyak musisi, artis atau selebritis yang hidupnya penuh
dengan obat-obat terlarang, hubungan bebas, menyampaikan pengajaran-
pengajaran buruk dalam karyanya dan sebagainya, itu tentu bukan
merupakan teladan yang baik meski banyak yang mengidolakan. Ada yang
malah bangga mengidolakan tokoh dunia yang terkenal kejam dan sudah
membantai begitu banyak jiwa karena mereka pikir akan membuat mereka
keren di mata orang lain.

Banyak juga orang yang mengira bahwa untuk menjadi teladan itu berat
karena harus menginspirasi banyak orang. Ya, memang berat, tapi bukan
berarti tidak bisa. Kita harus terlebih dahulu melakukan sebelum kita
mengajarkannya. Kalau kita mengajarkan bahwa tidak baik untuk cepat
marah, kita harus terlebih dahulu menunjukkan kesabaran, bukan malah
menunjukkan betapa pendeknya sumbu kesabaran anda. Kalau
maumengajarkan harus hidup jujur dan bersih, maka kita harus terlebih
dahulu melakukannya. Kalau kita mengajarkan harus rajin membangun
hubungan dengan Tuhan, kita harus mencontohkannya dan bukan hanya
menyuruh tapi sendirinya malas dengan dalih tidak lagi punya cukup waktu
untuk itu. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang pintar
mengajarkan tentang yang baik dan benar tapi kita  tidak mau memberi
keteladanan. Atau malah sehari-hari perilaku masih buruk dan secara
transparan dilihat oleh orang lain.

Ada begitu banyak tokoh dalam Alkitab yang sangat baik untuk dijadikan
teladan, salah satunya adalah Paulus. Pada suatu kali Paulus berkata
dengan penuh percaya diri kepada jemaat Korintus: _"Sebab itu aku
menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"_ (1 Korintus 4:16). Kalimat ini
sangat singkat dan sederhana, tapi sungguh tidak main-main. Paulus tidak
mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum
mencontohkan apapun yang ia sampaikan mengenai kebenaran Firman
Tuhan. Bukan cuma mendengar apa yang ia sampaikan, tapi ia pun
menasihatkan orang untuk menuruti keteladanan yang sudah ia contohkan
secara langsung. Artinya, Paulus bukan hanya mengajar, tapi juga pasti
memberi contoh langsung terhadap apa yang ia ajarkan. Ia tahu cara
termudah bagi orang untuk memahami apa yang ia ajarkan adalah dengan
melihat keteladanannya, dan ia pun mengingatkan pentingnya hal tersebut
kepada para jemaat Korintus dan siapapun yang membaca ayat ini
sepanjang masa.

Kita tahu seperti apa sejarah hidup Paulus. Ia mengalami perubahan hidup
180 derajat dalam waktu relatif singkat, dari seorang yang jahat dan
kejam, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam
menyebarkan Injil keselamatan. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa
berdasarkan semua catatan perjalanannya mengunjungi berbagai kota,
perjalanan Paulus mencapai lebih dari 10 ribu mil (setara dengan 16 ribu
lebih kilometer). _It wasn't a fun ride._ Itu bukan perjalanan santai dan
menyenangkan, sebaliknya merupakan perjalanan berat penuh penderitaan
dan kesakitan. Itu bukanlah environment atau lingkungan maupun
keadaan ideal bagi orang untuk bisa tampil menjadi teladan.

Kalau perjalanan panjang untuk menyampaikan kabar keselamatan yang


dianugerahkan lewat Kristus saja sudah berat, perhatikan pula fakta yang
tertulis di dalam Alkitab bahwa ia masih harus bekerja demi membiayai
keperluan pelayanannya. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya
perjuangan Paulus. Cobalah letakkan diri kita pada posisinya, mungkin kita
langsung stres, depresi dan sebagainya diterpa kelelahan dan tekanan
dalam menghadapi hari demi hari. Atau mungkin saja kita merasa kecewa
dan tawar hati karena apa yang dialami berbeda dengan yang diharapkan.
Dan bagi mereka yang pamrih dalam melayani, yang menganggap mereka
harus dapat fasilitas mewah kelas satu sebagai hamba Tuhan, mereka bisa
kepahitan kalau harus mengalami situasinya Paulus.

Tapi Paulus bukanlah orang yang punya mental seperti itu. Ia tahu diatas
segalanya anugerah keselamatan yang ia terima merupakan sebuah
anugerah yang luar biasa besar sehingga ia ingin melihat banyak orang lagi
bisa mengikuti jejaknya. Ia memang berkeliling menyampaikan berita
keselamatan, tetapi yang jauh lebih penting adalah ia mencontohkan
sendiri aplikasi kebenaran dalam hidup lewat cara hidupnya, meski apa
yang ia harus hadapi atau jalani sungguh berat dan sulit. Ia benar-benar
menghayati keselamatan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan
mempergunakan seluruh sisa hidupnya secara penuh hanya untuk Tuhan.

Dalam menjalankan misinya Paulus mengalami banyak hal yang mungkin


akan mudah membuat kita kecewa apabila berada di posisinya. Tetapi
tidak demikian dengan Paulus. Lihatlah apa yang ia katakan: _"Sampai
pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara,
kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami
memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami
tetap menjawab dengan ramah."_ (1 Korintus 4:11-13a). Itu jelas
menunjukkan sebuah keteladanan luar biasa. Ia tetap memberkati walau
dimaki, ia tetap sabar saat dianiaya, ia tetap ramah saat difitnah.

Tuhan menghendaki kita semua agar tidak berhenti hanya dengan


memberi nasihat, teguran atau pengajaran saja, melainkan terus berproses
hingga bisa menjadi teladan dengan memiliki karakter, gaya hidup, sikap,
tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran.
Pesan penting akan hal ini bisa kita baca dalam surat Titus: _"Dan
jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah
engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"_ (Titus 2:7).

Yang juga penting untuk diingat adalah bahwa tugas menjadi teladan pun
telah menjadi keharusan bagi orang-orang muda, *"Jangan seorangpun
menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah
teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam
tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam
kesucianmu."* (1 Timotius 4:12).

Paulus menghidupi Firman. Ia melakukan apa yang ia ajarkan mengenai


prinsip-prinsip kebenaran. Saat ia mewartakan kabar gembira mengenai
keselamatan dalam Kristus, ia sendiri memberi contoh lewat hidupnya.
Karena itulah ia bisa dengan berani dan tegas meminta jemaat di Korintus
untuk meneladani cara hidup dan perbuatannya. Kalau Paulus yang tadinya
punya masa lalu kelam bisa, mengapa kita tidak? Sebuah kehidupan yang
mengaplikasikan Firman secara nyata akan mampu berbicara banyak, jauh
lebih banyak dari penyampaian kebenaran Firman lewat kata-kata atau
tulisan. Hal keteladanan sangatlah penting karena orang cenderung lebih
mudah percaya dan menerima sebuah kebenaran lewat contoh nyata yang
mereka saksikan sendiri ketimbang hanya lewat kata-kata atau teoritis
saja. Orang yang hidup sesuai kebenaran akan memiliki banyak kesaksian
untuk dibagikan yang sanggup mengenalkan kebenaran kepada orang-
orang yang belum mengetahuinya. Tidak perlu muluk-muluk, hal-hal
sederhana saja bisa menjadi sebuah bukti penyertaan Tuhan yang luar
biasa yang mampu menjadi berkat bagi orang lain.

Seperti apa cara dan gaya hidup kita hari ini? Seperti apa karakter yang
dilihat orang dari kita hari ini? Apakah kita sudah atau setidaknya sedang
berusaha untuk menjadi teladan dalam hidup sesuai Firman Tuhan, atau
kita masih hidup egois, eksklusif, pilih kasih, kasar, membeda-bedakan
orang bahkan masih melakukan banyak hal yang jahat meski kerap
mengajarkan kebaikan? Semoga tidak demikian. Sadarilah bahwa cara
hidup kita akan selalu diperhatikan oleh orang lain. Jangan sampai kita
mempertontonkan kehidupan yang malah membuat orang keliru melihat
sosok Kristus. Jangan sampai kita sama saja atau malah lebih buruk dari
orang-orang yang hidup berpusat pada dunia yang sedang lenyap bersama
keinginan-keinginannya.