Anda di halaman 1dari 75

PROPOSAL SKRIPSI

PENGARUH INFORMATION SUPPORT BERBASIS TELENURSING


(REMINDER WHATSAPP DAN MODUL) TERHADAP KEPATUHAN
PEMBATASAN INTAKE ASUPAN CAIRAN PADA
PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK

DIAN TUKIRAHMWATI
NIM : 1130119010

DOSEN PEMBIMBING :
SYIDDATUL BUDURY, S.Kep., Ns., M.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S1)


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2020
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kegagalan fungsi ginjal dapat menimbulkan terjadinya komplikasi gangguan

kesehatan lain, salah satunya kondisi overload cairan yang diakibatkan karena

ketidakpatuhan dalam pembatasan intake asupan cairan sehingga menjadi pemicu

terjadinya hipervolemia, mengakibatkan beban sirkulasi yang berlebihan, edema,

gangguan kardiovaskular, gangguan fungsi kognitif dan kematian (Lestari et al.,

2018). Para penderita gagal ginjal kronik yang menjalani tindakan hemodialisa

sebagian besar sulit dalam mengendalikan pembatasan intake asupan cairan sehingga

menyebabkan kegagalan terapi yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien serta

meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas. Diharapkan penderita gagal ginjal

kronik yang menjalani terapi hemodialisis dapat mematuhi pembatasan intake cairan

yang sudah ditentukan. Oleh karena dalam meningkatkan kepatuhan diperlukan

dukungan yang kuat terkait pentingnya manajemen pembatasan intake asupan cairan.

Prevalensi penderita gagal ginjal kronik di dunia adalah sebanyak 661.648

orang dan merupakan suatu ancaman kesehatan global. Tingkat ketidakpatuhan

penderita gagal ginjal kronik yang hemodialisis dalam membatasi intake asupan

cairan mencapai 79,5% di Amerika, Jerman, Belgia dan Irlandia. Demikian juga, di

Negara Cina jumlah penderita gagal ginjal kronik yang tidak patuh dengan

hemodialisis hingga pembatasan intake asupan cairan berkisar antara 43,6 – 54,9%

(Nursalam et al., 2020). Berdasarkan data Indonesian Renal Registry (IRR) tahun
2017 menyebutkan bahwa jumlah data penderita gagal ginjal kronik di Negara

Indonesia sebanyak 77.892 pasien baru dan 30.831 pasien aktif, penyebabnya paling

banyak adalah hipertensi dan diabetes mellitus (IRR, 2018).

Data Riskesdas (2018) menyebutkan bahwa penderita gagal ginjal kronik di

Provinsi Jawa Timur dalam 5 tahun terakhir cukup tinggi yaitu mencapai 113.045

penderita.Berdasarkan data rekam medis di Rumah Sakit Islam Surabaya A.Yani

jumlah kunjungan penderita gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis di

ruang hemodialisis pada bulan Juni sampai Agustus 2020 sebayak 2271 .kunjungan.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dari 10 penderita gagal ginjal kronik

yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Islam Surabaya A.Yani, 7 diantaranya

masih terjadi overload cairan yang diakibatkan karena pasien tidak patuh dalam

melakukan pembatasan intake asupan cairan.

Perilaku terkait kepatuhan intake pembatasan asupan cairan pada pasien

gagal ginjal kronik merupakan suatu hal yang spesifik dan berbeda antar individu.

ketidakpatuhan dapat menyebabkan meningkatnya resiko berkembangnya masalah

kesehatan atau memperpanjang serta memperburuk kesakitan yang sedang diderita

oleh pasien. Sebagian besar penderita gagal ginjal kronik yang masuk rumah sakit

akibat dari ketidakpatuhan dalam melakukan pembatasan intake asupan cairan (Nadi

et al., 2015). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien gagal

ginjal kronik dalam pembatasan intake asupan cairan antara lain usia, pendidikan,

lamanya hemodialisa, pengetahuan tentang hemodialisa, motivasi, akses pelayanan

kesehatan, persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan dan dukungan sosial


(berupa dukungan informasi /information support, esteem support dan instrument

support). Kepatuhan pasien diartikan sebagai sejauh mana kesesuaian perilaku pasien

dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan (Widiany, 2017).

Beberapa pasien mengalami kesulitan dalam membatasi intake asupan cairan

yang masuk, dikarenakan mereka tidak mendapatkan informasi yang adekuat tentang

pembatasan cairan dan bagaimana strategi yang dapat membantu mereka dalam

melakukan pembatasan intake asupan cairan. Untuk pasien dengan penyakit gagal

ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, asupan cairan harus diatur sehingga

kenaikan berat badan yang diperoleh tidak lebih dari 2 kg diantara waktu dialisis (Nur

et al., 2020). Pembatasan intake asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik penting

untuk diperhatikan. Asupan cairan harian yang dianjurkan pada pasien gagal ginjal

kronik dibatasi sebanyak Insensible Water Loss (IWL) ditambah dengan jumlah

urine. Dengan demikian pasien menjadi banyak mengkonsumsi cairan, dan berat

badan akan naik sampai jadwal hemodialisis berikutnya. Pembatasan intake asupan

cairan mempunyai tujuan untuk mengurangi kelebihan cairan pada periode

interdialitik. Kelebihan cairan dapat menyebabkan terjadinya edema, hipertensi, dan

juga berhubungan dengan lama hidup pasien. Tindakan hemodialisis dilakukan untuk

menarik cairan pasien gagal ginjal kronik sampai mencapai target berat badan kering

pasien (Sulastri et al., 2018).

Berdasarkan evidence based practice banyak cara yang dapat kita lakukan

dalam meningkatkan kepatuhan pada penderita gagal ginjal kronik, antara lain:

edukasi kesehatan, memberikan dukungan sosial, memberikan modul, melakukan


psikoedukasi, edukasi komprehensif, membberikan konseling, serta memberikan

dukungan informasi (information support) (Mahyuvi, 2020). Pemberian dukungan

informasi (information support) merupakan salah satu hal yang perlu untuk

diperhatikan dalam pengelolaan pasien dengan gagal ginjal kronik . Kepuasan

kualitas hubungan interpersonal antara pasien dan perawat serta tenaga kesehatan

secara signifikan berhubungan dengan kepatuhan pengobatan, sehingga untuk

mencapai keberhasilan terapi perlu dilakukan dukungan informasi (information

support) oleh perawat serta tenaga kesehatan dengan menggunakan pendekatan

interpersonal kepada pasien.

Pemberian dukungan informasi (information support) yang dilakukan oleh

perawat di era modern ini dapat menggunakan telenursing. Kemajuan teknologi yang

sangat pesat telah menjadikan aplikasi di telepon pintar sebagai alat potensial guna

meningkatkan kepatuhan terhadap terapi pengobatan. Beberapa penelitian telah

dilakukan untuk membuktikan intervensi berbasis teknologi informasi yang dapat

meningkatkan manajemen diri dan perilaku kepatuhan pada pasien dengan penyakit

kronis (Nursalam et al., 2020). Salah satunya adalah penggunaan media WhatsApp

dan penggunaan modul sebagai media dalam memberikan dukungan informasi

(information support).

Penelitian yang dilakukan oleh (Nadi et al., 2015) menyatakan bahwa

Dukungan sosial dan motivasi merupakan faktor yang sangat penting dalam

kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien penyakit ginjal kronik yang

menjalani hemodialis. Hal ini didukung oleh penelitian (Soripet & Iryani, 2019)
menyatakan bahwa penggunaan modul dapat meningkatkan kepatuhan mengonsumsi

zat besi pada ibu hamil. Serta penelitian yang dilakukan (Haksara & Rahmanti, 2020)

yaitu dalam meningkatkan kualitas hidup penderita gagal ginjal kronik dengan

inovasi Nursing Dialysis Development (NDD) ini merupakan interaksi yang

dilakukan baik di rumah sakit maupun di tempat tinggal pasien yang bertujuan untuk

mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan/kualitas hidup pasien dialisis

menggunakan media aplikasi WhatsApp group.

1.2 Batasan Penelitian

Dari penjelasan latar belakang di atas dapat dijadikan sebagai landasan untuk

menentukan karakteristik batasan masalah dalam penelitian yang akan dilakukan,

yaitu peneliti akan membatasi dengan cara memberikan intervensi pengaruh

information support berbasis telenursing (reminder whatsApp dan modul) terhadap

kepatuhan pembatasan intake asupan cairan pada penderita gagal ginjal kronik.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai

berikut “adakah pengaruh information support berbasis telenursing (reminder

whatsApp dan modul) terhadap kepatuhan pembatasan intake asupan cairan pada

penderita gagal ginjal kronik ?”.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Menjelaskan pengaruh information support berbasis telenursing (reminder

whatsapp dan modul) terhadap kepatuhan pembatasan intake asupan cairan pada

penderita gagal ginjal kronik .


1.4.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi tingkat kepatuhan pembatasan cairan pada penderita gagal ginjal

kronik sebelum diberikan information support berbasis telenursing (reminder

whatsApp dan modul).

2. Mengidentifikasi tingkat kepatuhan pembatasan cairan pada penderita gagal ginjal

kronik sesudah diberikan information support berbasis telenursing (reminder

whatsApp dan modul).

3. Menganalisis pengaruh information support berbasis telenursing (reminder

whatsapp dan modul) terhadap kepatuhan pembatasan intake asupan cairan pada

penderita gagal ginjal kronik.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan oleh peneliti dalam penelitian ini sebagai berikut :

1.5.1 Manfaat teoritis

Menambah wawasan, pengetahuan serta sebagai bahan kajian tentang

pengaruh information support berbasis telenursing (reminder whatsApp dan modul)

terhadap kepatuhan pembatasan intake asupan cairan pada penderita gagal ginjal

kronik.

1.5.2 Manfaat praktis

1. Bagi pelayanan keperawatan

Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam memberikan asuhan

keperawatan serta dapat digunakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi

penderita gagal ginjal kronik berdasarkan evidence-based practice.


2. Bagi responden

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya

mengatasi masalah yang berkaitan kepatuhan pembatasan cairan pada penderita gagal

ginjal kronik.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat menjadi pengayaan ilmu dan dapat memberikan

masukan data bagi peneliti selanjutnya, sehingga dapat mengembangkan ilmu

keperawatan dengan berbagai inovasi intervensi sesuai dengan kebutuhan pasien.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Gagal Ginjal Kronik

2.1.1 Definisi gagal ginjal kronik

Penyakit gagal ginjal kronik merupakan proses patofisiologis dengan etiologi

yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada

umumnya berakhir dengan penyakit ginjal. Selanjutnya, penyakit gagal ginjal

merupakan keadaan klinis yang ditandai oleh penurunan fungsi ginjal yang bersifat

ireversibel atau tidak dapat kembali, pada suatu derajat tertentu memerlukan terapi

pengganti ginjal yang tetap yang berupa tindakan dialisis ataupun transplantasi ginjal

(Nur et al., 2020b).

Penyakit gagal ginjal kronik (estage renal disease) merupakan kerusakan

ginjal secara progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan

limbah nitrogen lainnya) yang beredar dalam darah serta komplikasinya apabila tidak

dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal. Gagal ginjal kronik merupakan gangguan

fungsi ginjal yang secara progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh

penyakit untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan

elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lainnya dalam

darah) (Asyrofi & Arisdiani, 2020).

Penyakit gagal ginjal kronis (estage renal disease) merupakan gangguan

fungsi renal yang secara progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh

penyakit untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan

elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
Penyakit ginjal kronis berdasarkan The Kidney Outcomes Quality Initiative

(K/DOQI) of National Kidney Foundation (NKF) adalah kerusakan ginjal yang terjadi

selama atau lebih tiga bulan dengan laju filtrasi glomerulus kurang dari 60

ml/men./1,73 m2 (Nissenson & Fine, 2016).

2.1.2 Angka kejadian gagal ginjal kronik

Global Burden of Disease Study tahun 2015 mengatakan penyakit ginjal

adalah penyebab kematian paling sering ke-12, terhitung 1,1 juta kematian di seluruh

dunia. Secara keseluruhan, kematian yang diakibatkan oleh gagal ginjal kronik

meningkat sebesar 31,7% selama 10 tahun terakhir, yang menjadi salah satu

penyebab kematian paling cepat dan meningkat, di samping diabetes dan demensia.

The United State Renal Data System (USRDS), Amerika Serikat menunjukkan terjadi

peningkatan dramatis pasien gagal ginjal Kronik yang membutuhkan dialisis kronik

atau transplantasi. Pada tahun 1999, terdapat 340 ribu pasien, tetapi pada tahun 2010

diproyeksikan meningkat sampai 651 ribu pasien. The Third National Health and

Examination Survey (NHANES III) mengestimasikan angka kejadian gagal ginjal

kronik orang dewasa di Amerika Serikat sekitar 11% (19,2 juta penduduk) dengan

rincian sebagai berikut: 3,3% (5,8 juta) pada stadium 1, 3% (5,3 juta) pada stadium

2; 4,3% (7,5 juta) pada stadium 3; 0,2% (340 ribu) pada stadium 4 dan 0,2% (340

ribu) pada stadium 5 atau penyakit ginjal kronik. Pada tingkat internasional, rata-rata

insiden dari penyakit ginjal kronik stadium 5 atau penyakit ginjal mengalami

peningkatan secara terus-menerus sejak 1989. Amerika Serikat mempunyai tingkat


rata-rata insiden paling tinggi dari penyakit ginjal kemudian disusul Jepang (Ariyanto

et al., 2018).

Gagal ginjal kronik ditemukan pada semua usia. Meskipun demikian, di

Amerika Serikat rata-rata insiden tertinggi pasien gagal ginjal kronik stadium 5

terjadi pada usia lebih dari 65 tahun. Di samping diabetes melitus dan hipertensi, usia

adalah faktor risiko utama terjadinya gagal ginjal kronik. Populasi pada geriatri

adalah populasi terbanyak yang mengalami penyakit ginjal di Amerika Serikat

(Ariyanto et al., 2018).

Di Indonesia data yang menunjukkan penderita penyakit ginjal didapatkan

dari tahun 2007 – 2014 tercatat 28.882 pasien, dimana pasien baru sebanyak 17.193

pasien dan pasien lama sebanyak 11.689 pasien. Jawa timur pada tahun 2014 tecatat

mempunyai 2.787 pasien lama dan 3.621 adalah pasien baru. (Indonesia Renal

Registry, 2014).

2.1.3 Klasifikasi gagal ginjal kronik

Gagal ginjal kronik dapat diklasifikasikan berdasarkan sebabnya (Lilia &

Supadmi, 2019), yaitu :

Tabel 2.1 : Klasifikasi gagal ginjal kronik berdasarkan penyebab

Klasifikasi Penyakit Penyakit


Penyakit infeksi dan peradangan Pielonefritis kronik, Glomerulonefritis

Penyakit vaskuler hipertesif Nefrosklerosis benigna, Nefrosklerosis maligna,


Stenosis arteri renalis

Gangguan jaringan penyambung Lupus eritematosus sistemik, Poliartritis nodusa,


Sklerosis sistemik progresif
Gangguan kongenital dan herediter Penyakit ginjal polikistik, Asidosis tubulus ginjal

Penyakit metabolik Diabetes Melitus, Gout Disease, Hipertiroidisme

Nefropati toksi Penyalahgunaan analgesic Nefropati timbale

Nefropati obstruksi Saluran kemih bagian atas : kalkuli, neoplasma,


fibrosis retroperineal.
Saluran kemih bagian bawah : hipertropi prostat,
striktur uretra, anomali leher kandung kemih serta
uretra.

Berdasarkan perjalanan klinis, gagal ginjal dapat dibagi menjadi tiga stadium

(Tyas et al., 2020), yaitu :

1. Stadium I

Dinamakan penurunan cadangan ginjal. Selama stadium ini kreatinin serum

dan kadar BUN normal dan penderita asimptomatik. Gangguan fungsi ginjal hanya

dapat diketahui dengan tes pemekatan kemih dan tes GFR yang secara teliti.

2. Stadium II

Dinamakan insufisiensi ginjal. Pada stadium ini dimana lebih dari 75%

jaringan yang berfungsi sudah rusak. GFR besarnya 25% dari yang normal. Kadar

BUN dan kreatinin serum mulai meningkat diatas normal. Gejala-gejala nokturia atau

seting berkemih di malam hari sampai 700 ml dan poliuria (akibat dari kepenyakitan

pemekatan) mulai muncul.

3. Stadium III

Dinamakan gagal ginjal stadium tahap akhir atau uremia Sekitar 90% dari

massa nefron telah hancur atau rusak, atau hanya sekitar 200 ribu nefron saja yang
masih utuh. Nilai GFR hanya 10% dari nilai normal. Kreatinin serum dan BUN akan

meningkat seara mencolok. Gejala-gejala yang timbul karena ginjal tidak mampu lagi

mempertahankan homeostasis cairan dan elektrolit dalam tubuh, yaitu: oliguri akibat

dari kepenyakitan glomerulus dan sindrom uremik.

Gagal gagal ginjal kronik menurut The Kidney Outcomes Quality Initiative

(K/DOQI) dapat diklasifikasikan berdasarkan tahapan penyakit dari waktu ke waktu

sebagai berikut :

a. Stadium 1 : kerusakan masih normal (GFR > 90 ml/min/1,73 m2)

b. Stadium 2 : ringan (GFR 60-89 ml/min/1,73 m2)

c. Stadium 3 : sedang (GFR 30-59 ml/min/1,73 m2)

d. Stadium 4 : penyakit berat (GFR 15-29 ml/min/1,73 m2)

e. Stadium 5 : gagal ginjal terminal (GFR <15 ml/min/1,73 m2)

Pada gagal ginjal kronik tahap 1 dan 2 tidak menunjukkan tanda-tanda

kerusakan ginjal termasuk komposisi darah yang abnormal atau urin yang abnormal.

2.1.4 Patofisiologi gagal ginjal kronik

Patofisiologi gagal ginjal kronik pada awalnya tergantung pada penyakit yang

mendasarinya, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya proses yang terjadi

kurang lebih sama. Berkurangnya massa ginjal dapat mengakibatkan hipertrofi

struktural dan fungsional nefron yang masih tersisa (surviving nephrons) sebagai

upaya terjadinya kompensasi, yang diperantarai oleh molekul vasoaktif seperti

sitokinin dan growth factor. Hal ini berakibat terjadinya hiperfiltrasi, yang diikuti

oleh peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah pada glomerulus. Proses adaptasi

ini berlangsung secara singkat, hingga akhirnya diikuti dengan penurunan fungsi
nefron yang secara progresif, walaupun penyakit dasarnya sudah tidak aktif lagi

(Wahyuni et al., 2019).

Adanya peningkatan aktivitas aksis renin-angiotensin-aldosteron intrarenal,

ikut memberikan kontribusi terhadap terjadinya hiperfiltrasi, sklerosis dan

progresifitas tersebut. Aktivasi jangka panjang aksis reninangiotensin-aldosteron,

sebagian diperantarai oleh growth factor seperti transforming growth factor β (TGF-

β). Beberapa hal yang dianggap berperan terhadap terjadinya progresifitas gagal

ginjal kronik meliputi albuminuria, hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia. Terdapat

variabilitas interindividual untuk terjadinya sklerosis dan fibrosis glomerulus maupun

tubulointerstitial (Wahyuni et al., 2019).

Stadium yang paling dini pada gagal ginjal kronik, terjadi kehilangan daya

cadang ginjal (renal reserve), pada keadaan mana basal LFG masih normal atau

meningkat. Kemudian secara perlahan akan terjadi penurunan fungsi nefron yang

secara progresif yang ditandai oleh peningkatan kadar urea dan kreatinin serum.

Sampai pada LFG sebesar 60% dan pasien masih belum merasakan keluhan

(asimptomatik), tapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin serum.

Sampai pada LFG sebesar 30% mulai merasakan keluhan pada seperti nokturia,

badan lemah, mual, nafsu makan kurang serta penurunan berat badan. Sampai pada

LFG kurang 30 % pasien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang nyata seperti

anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan metabolisme fosfor dan kalsium,

pruritus, mual, muntah dan lain sebagainya. Pasien juga mudah terkena infeksi

diantaranya infeksi saluran kemih, infeksi saluran nafas, maupun infeksi saluran

cerna. Akan terjadi pula gangguan keseimbangan air seperti hipo atau hipervolumia,
gangguan keseimbangan elektrolit antara lain natrium dan kalium. Pada LFG di

bawah 15% menyebakan gejala dan komplikasi yang lebih serius dan pasien sudah

memerlukan terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy) antara lain dialisis

atau transplantasi ginjal. Pada keadaan ini pasien dikataan sampai pada stadium

penyakit ginjal (Wahyuni et al., 2019).

2.1.5 Etiologi gagal ginjal kronik

Beberapa penyebab terjadinya penyakit gagal ginjal kronik (End Stage Renal

Disease) (Lilia & Supadmi, 2019) adalah sebagai berikut:

1. Glomerulonefritis

Glomerulonefritis merupakan inflamasi nefron, terutama terjadi pada

glomerulus. Glomerulonefritis terbagi menjadi 2, yaitu glomerulonefritis akut dan

glomerulonefritis kronis. Glomerulonefritis akut seringkali terjadi oleh akibat respon

imun terhadap toksin bakteri tertentu (kelompok bakteri streptokokus beta A).

Glomerulonefritis kronis tidak hanya merusak glomerulus tetapi juga merusak

tubulus. Inflamsi ini kemungkinan diakibatkan oleh infeksi streptokokus, akan tetapi

juga merupakan akibat sekunder dari penyakit sistemik lain atau glomerulonefritis

akut.

2. Pielonefritis kronis

Pielonefritis merupakan inflamasi ginjal dan pelvis ginjal yang diakibatkan

oleh infeksi bakteri. Inflamasi dapat berawal di area traktus urinaria bawah (kandung

kemih) dan menyebar ke bagian ureter, atau karena infeksi yang dibawa darah dan

limfe menuju ke ginjal. Obstruksi kaktus urinaria terjadi akibat dari pembesaran
kelenjar prostat, batu ginjal, atau defek kongenital yang memicu terjadinya

pielonefritis.

3. Batu ginjal

Batu ginjal atau kalkuli urinaria terbentuknya akibat dari pengendapan garam

kalsium, magnesium, asam urat, atau sistein. Batu-batu kecil tersebut dapat mengalir

bersama urine, batu yang lebih besar akan tersangkut didalam ureter serta

menyebabkan rasa nyeri yang tajam (kolik ginjal) yang menyebar dari ginjal sampai

ke selangkangan.

4. Penyakit polikistik ginjal

Penyakit ginjal polikistik ditandai dengan adanya kista multiple, bilateral, dan

berekspansi yang lambat laun akan mengganggu dan menghancurkan parenkim ginjal

normal akibat dari terjadinya penekanan.

5. Penyakit endokrin (nefropati diabetik)

Nefropati diabetik (peyakit ginjal pada penderita diabetes) merupakan salah

satu penyebab kematian terpenting pada penderita diabetes mellitus yang lama. Lebih

dari 1/3 dari semua pasien baru yang masuk dalam program ESRD (End Stage Renal

Disease) menderita gagal ginjal. Diabetes mellitus menyerang struktur dan fungsi

ginjal dengan berbagai bentuk. Nefropati diabetik merupakan istilah yang mencakup

semua lesi yang terjadi di ginjal pada penderita diabetes mellitus.


2.1.6 Manifestasi klinis gagal ginjal kronik

Pada penderita gagal ginjal kronik, setiap sistem tubuh dipengaruhi oleh

kondisi uremia, makapenderita akan menunjukkan sejumlah tanda dan gejala. Tingkat

keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian serta tingkat kerusakan ginjal,

kondisi lain yang mendasari dan usia penderita (Wiliyanarti & Muhith, 2019).

Adapun manifestasi klinis yang terjadi pada penderita gagal ginjal kronik diantaranya

1. Gastrointestinal : ulserasi saluran pencernaan dan perdarahan


2. Kardiovaskuler : hipertensi, perubahan EKG, perikarditis, efusi

pericardium, tamponade pericardium


3. Respirasi : edema paru, efusi pleura, pleuritis
4. Neuromuskular : lemah, gangguan tidur, sakit kepala, letargi,

gangguan muskular, neuropati perifer, bingung

dan

koma
5. Metabolik/ endokrin : inti glukosa, hiperlipidemia, gangguan hormon

seks menyebabkan penurunan libido, impoten dan

ammenore
6. Cairan-elektrolit : gangguan asam basa menyebabkan kehilangan

sodium sehingga terjadi dehidrasi, asidosis,

hiperkalemia, hipermagnesemia, hipokelemia


7. Dermatologi : pucat, hiperpigmentasi, pluritis, eksimosis,

uremia frost
8. Abnormal skeletal : osteodistrofi ginjal menyebabkan osteomalaisia
9. Hematologi : anemia, defek kualitas flatelat, perdarahan

meningkat
10. Fungsi psikososial : perubahan kepribadian dan perilaku
sertagangguan proses kognitif.
2.1.7 Pemeriksaan penunjang pada gagal ginjal kronik

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita gagal ginjal

kronik (Rahmawati, 2018), antara lain yaitu :

1. Darah lengkap

2. Ureum

3. Kreatinin

4. Urine lengkap

5. Creatinine cleareance test (CCT)

6. Elektrolit (Na, K, Cl, Ca, P dan Mg)

7. Fritin serum

8. Hormone PTH

9. Albumin

10. Globulin

11. USG ginjal

12. Pemeriksaan imunologi

2.1.8 Penatalaksanaan pada gagal ginjal kronik

Secara garis besar langkah-langkah penatalaksanaan pada penderita gagal

ginjal kronik (Widiani, 2020) antara lain sebagai berikut :

1. pengobatan penyakit dasar atas diagnosis yang ada

2. pengobatan terhadap penyakit yang menyertai

3. penghambatan perogresitivitas penurunan fungsi ginjal

4. pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit kardiovaskular


5. pencegahan dan pengobatan terhadap komplikasi yang terjadi

6. persiapan dan pemilihan terapi ginjal pengganti, khususnya apabila sudah

didapatkan gejala dan tanda- tanda terjadinya uremia.

Ada beberapa terapi non-farmakologis yang dapat di sertakan sebagai terapi

untuk penderita gagal ginjal kronik, yaitu :

1. Pengaturan asupan protein

2. Pasien non-dialisis 0,6 – 0,75 g/kb BB ideal/hari, sesuai dengan creatinine

cleareance test (CCT) dan toleransi pasien

3. Pasien hemodialisis 1 – 1,2 g/kb BB ideal/hari

4. Pasien peritoneal dialisis 1,3 g/kb BB ideal/hari

5. Pengaturan intake asupan kalori : 35 Kal/kb BB ideal/hari

6. Pengaturan intake asupan lemak : 20 – 40 % dari kalori total dan mengandung

jumlah yang sama antara asam lemak bebas jenuh dan yang tidak jenuh

7. Pengaturan inatake asupan karbohidrat : 50 – 60 % dari kalori total

8. Pengaturan intake asupan garam dan mineral

1) Garam (NACL) : 2 – 3 g/hari

2) Kalium : 40 – 70 mEq/kg BB/hari

3) Fosfor : 5 – 10 mg/hari

4) Kalsium : 1400 – 1600 mg/hari

5) Besi : 10 – 18 mg/hari

6) Magnesium : 200 – 300 mg/hari

9. Asam folat pada pasien hemodialisis : 5 mg

10. Air : jumlah urine dalam 24 jam + 500 ml (insensible water los)
2.2 Konsep Dasar Hemodialisa

2.2.1 Definisi Hemodialisa

Hemodialisa merupakan proses pembersihan darah dari zat sisa metabolisme

dengan cara mengalirkan darah pasien dari tubuhnya melalui dialiser (ginjal buatan)

yang terjadi secara difusi dan ultrafilasi, kemudian darah kembali lagi dimasukkan ke

dalam tubuh pasien (Nissenson & Fine, 2016).

Hemodialisa didefinisikan sebagai pergerakan larutan dan air dari darah

pasien melalui membran semipermiabel (dialyzer) secara proses dialisis. Dialyzer

juga bisa dipergunakan untuk memindahkan sebagian besar volume cairan dalam

tubuh. Pemindahan ini dilakukan dengan cara ultrafiltrasi dimana tekanan hidrostatik

menyebabkan aliran yang besar dari air plasma (dengan perbandingan sedikit larutan)

melalui membran dengan cara proses memperbesar jalan masuk pada vaskuler,

antikoagulasi dan produksi dialyzer yang dapat dipercaya dan efisien (Listiana,

2020).

2.2.2 Indikasi tindakan hemodialisisa

Tidak ada petunjuk secara jelas berdasarkan kadar kreatinin darah untuk

menentukan kapan intervensi tindakan harus dimulai. Ahli ginjal dalam mengambil

keputusan berdsarkan kesehatan penderita yang terus diikuti dengan cermat sebagai

penderita rawat jalan. Tindakan biasanya dimulai apabila penderita sudah tidak

sanggup lagi bekerja purna waktu, menderita neuropati perifer atau memperlihatkan

gejala klinis lainnya. Tindakan juga bisanya dapat dimulai dengan menemukan kadar

kreatinin serum diatas 6mg/100ml (pada lali-laki), 4mg/100ml (pada perempuan) dan
glomerulo filtration rate (GFR) kurang dari 4 ml/menit. Penderita tidak boleh terus-

menerus berbaring di tempat tidur atau sakit berat sampai kegiatan sehari-hari tidak

dilakukan lagi. Secara ideal seluruh penderita dengan laju filtrasi goal (LFG) kurang

dari 15 ml/menit, LFG kurang dari 10 mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan

LFG kurang dari 5mL/menit walaupun tanpa gejala dapat menjalani terapi dialisis.

Selain indikasi tersebut juga disebutkan adanya indikasi secara khusus yaitu apabila

terjadi komplikasi akut seperti odem paru, hiperkalemia, asidosis metabolik berulang,

dan nefropatik diabetik (Zasra et al., 2018).

Tindakan hemodialisa dimulai ketika bersihan kreatinin menurun dibawah 10

mL/menit, ini sebanding dengan kadar kreatinin serum 8-10 mg/ml. Pasien yang

terdapat gejala-gejala uremia dan secara mental dapat membahayakan dirinya juga

dianjurkan dilakukan tindakan hemodialisis. Selain itu indikassi relatif dari

hemodialisis adalah azotemia simtomatis yang berupa: ensefalopati, dan toksin yang

dapat didialisis. Sedangkan indikasi yang khusus adalah pericarditis uremia,

hiperkalemia, kelebihan volume cairan yang bersifat tidak responsive dengan diuretic

(odem pulmonal) dan asidosis yang tidak dapat diatasi (Nuari & Widayati, 2017).

2.2.3 Kontraindikasi tindakan hemodialisa

Kontraindikasi dari tindakan hemodialisa (Simbolon & Simbolon, 2019)

antara lain adalah sebagai berkut:

1. Hipertensi yang tidak responsive

2. Penyakit stadium terminal

3. Sindrom otak organik


4. Tidak didapat akses vaskuler pada tindakan hemodialisis

5. Akses vaskuler sulit

6. Instabilitas hemodinamik dan koagulasi

7. Alzeimer

8. Demensia

9. Multi infark

10. Sindrom hepatorenal

11. Sirosis hepatis lanjut dengan ensefalopati

12. Kanker keganasan/carcinoma

2.2.4 Tujuan tindakan hemodialisa

Tujuan dari tindakan terapi hemodialisa (Wiliyanarti & Muhith, 2019) antara

lain adalah sebagai berkut :

1. Mengganti fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa

metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang

lainnya

2. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya

dikeluarkan sebagai urine pada saat ginjal sehat

3. Meningkatkan kualitas hidup penderita penururnan fungsi ginjal

4. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program terapi lainnya

2.2.5 Waktu dilakukannya tindakan hemodialisa

Proses tindakan hemodialisisa disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu.

Tiap tindakan hemodialisisa dilakukan 4-5 jam dengan frekuensi 2-3 kali dalam
seminggu. Tiap tindakan hemodialisisa idealnya dilakukan 10-15 jam/minggu dengan

kecepatan aliran darah (QB) 200 – 300 ml/menit. (Nuari & Widayati, 2017).

Pada interval 2- 3 dari diantara hemodialisis, keseimbangan garam, air, dan

pH sudah tidak normal lagi. Tindakan hemodialisa ikut berperan menyebabkan

anemia karena sebagian sel darah merah rusak dalam proses hemodialisis (Nuari &

Widayati, 2017).

2.2.6 Kondisi Pasien gagal ginjal kronik saat dialisis

Terapi hemodialisis telah menjadi metode yang dominan dalam pengobatan

penyakit gagal ginjal akut dan kronik di negara negara maju maupun Negara

berkembang. Tindakan Hemodialisis memerlukan sebuah mesin dialisa dan sebuah

filter khusus yang dinamakan dialyzer (suatu membran semipermiabel) yang

dipergunakan untuk membersihkan darah, kemudian darah dialirkan keluar dari tubuh

penderita dan beredar masuk ke dalam sebuh mesin diluar tubuh manusia.

Hemodialisis memerlukan jalan masuk ke aliran darah, maka dibuat suatu hubungan

buatan antara arteri dan vena (fistula arteriovenosa) melalui proses pembedahan

(Nuari & Widayati, 2017).

Tindakan hemodialisa ini juga menimbulkan berbagai efek samping salah

satunya gangguan kecemasan yang diakibatkan oleh lamanya terapi hemodialisis

yang dilaksanakan seumur hidup dengan pembiayaan yang tidak murah. Hal ini

sesuai dengan teori kecemasan yaitu gangguan yang memiliki ciri kecemasan atau

ketakutan yang tidak realistik, juga tidak rasional, dan tidak dapat secara intensif

diperlihatkan dalam cara-cara yang jelas.


Berbagai macam manifestasi klinis dapat terjadi pada penderita penyakit

ginjal kronik tahap stadium akhir. Gejala yang diakibatkan oleh penurunan fungsi

ginjal terjadi secara perlahan-lahan dan terlihat secara jelas pada Laju Filtrasi

Glomerulus (LFG) < 10 ml/menit/1,73 m2. Beberapa kondisi ataupun respon

gangguan yang dapat terjadi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani

Hemodialisis diataranya :

1. Ketidakseimbangan cairan

Fungsi ginjal adalah sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah

dengan mengekskresikan solut dan air secara selektif. APabila jumlah nefron yang

tidak berfungsi meningkat maka ginjal tidak mampu untuk menyaring urine. Pada

tahap ini glomerulus menjadi kaku dan plasma tidak dapat difilter dengan mudah

melewati tubulus. Maka hal ini akan mengakibatkan terjadinya kelebihan cairan

dengan retensi air dan natrium (PAPDI, 2014).

Kondisi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, meskipun

pada awal hemodialisis sudah pernah diberikan health education untuk mengurangi

asupan cairan akan tetapi pada kenyataanya pada terapi hemodialisis berikutnya

masih sering terjadi pasien datang dengan keluhan sesak nafas karena kelebihan

volume cairan (overhidrasi).

Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani tindakan hemodialisis, sebagian

besar akan mengalami penurunan volume urine karena akibat dari adanya kerusakan

pada ginjal. Kebanyakan pasien yang menjalani tindakan hemodialisis mendapatkan

perawatan dialisis dua sampai tiga kali seminggu. Kelebihan cairan akan
menyebabkan terjadinya penumpukan cairan di dalam tubuh dengan manifestasi

adanya edema dan bertambahnya berat badan (PAPDI, 2014).

2. Ketidakseimbangan natrium

Natrium merupakan kation yang paling banyak didalam cairan ekstrasel.

Natrium mempengaruhi keseimbangan cairan, dan hantaran impuls saraf dan

kontraksi otot. Ion natrium di dapatkan dari saluran pencernaan, makanan atau

minuman masuk ke dalam cairan ekstrasel melalui proses yang disebut difusi.

Pengeluaran ion natrium yaitu melalui ginjal, pernafasan, saluran pencernaan dan

kulit. Pengaturan konsentrasi ion dilakukan oleh ginjal.

Ketidakseimbangan natrium merupakan masalah yang serius dimana ginjal

dapat mengeluarkan sedikitnya 20-30 mEq natrium setiap hari atau dapat meningkat

sampai 200 mEq per hari. Apabila terjadi kerusakan nefron maka tidak akan terjadi

pertukaran natrium. Nefron menerima kelebihan natrium sehingga menyebabkan LFG

menurun dan terjadi dehidrasi. Kehilangan natrium lebih meningkat pada kondisi

gangguan gastrointestinal, terutama pada saat muntah atau diare. Pada pasien gagal

ginjal kronik yang menjalani tindakan hemodialisis natrium yang diberikan dibatasi 1

- 2 gram/ hari (Silva et al., 2013).

Penimbunan natrium dan cairan serta peningkatan aktivitas sistem renin

angiotensin aldosteron, semuanya berperan dalam meningkatnya resiko terjadinya

penyakit jantung dan hipertensi. Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis.

Retensi cairan yang terjadi pada kondisi uremia sering menyebabkan penyakit

jantung kongestif dan atau edema paru (Potter et al., 2014).


3. Ketidakseimbangan kalium

Kalium merupakan kation utama cairan intrasel. Kalium berfungsi sebagai

excitability neuromuskuler dan kontraksi otot. Kalium diperlukan untuk pembentukan

glikogen, sintesis protein, pengaturan keseimbangan asam dan basa, karena ion K+

dapat diubah menjadi ion hidrogen H+ (Hidayat Alimul Aziz, 2011).

Apabila keseimbangan cairan dan asidosis metabolik dapat terkontrol, maka

hiperkalemia jarang terjadi sebelum stadium IV. Keseimbangan kalium berhubungan

dengan sekresi aldosteron. Selama urine output masih bisa dipertahankan, kadar

kalium biasanya akan terpelihara. Hiperkalemia terjadi akibat dari pemasukan kalium

yang berlebihan, dampak pengobatan, infeksi, atau hiponatremia. Hiperkalemia juga

merupakan karakteristik dari tahap uremia. Hipokalemia terjadi pada keadaan muntah

atau diare berat. Pada penyakit tubuler ginjal, nefron ginjal mereabsorbsi kalium

sehingga ekskresi kalium meningkat (Muttaqin & Sari, 2014).

4. Ketidakseimbangan magnesium

Magnesium merupakan kation yang terbanyak kedua pada cairan intrasel.

Sumber magnesium di dapat dari makanan seperti sayuran hijau, daging dan ikan

(Hidayat Alimul Aziz, 2011). Magnesium pada tahap awal penyakit ginjal kronik

adalah normal, tetapi menurun secara progresif dalam ekskresi urine pada penyakit

ginjal tahap akhir. Kombinasi penurunan ekskresi dan intake yang berlebihan

mengakibatkan henti nafas dan jantung.

5. Ketidakseimbangan Kalsium dan Fosfor


Keadaan normal kalsium dan fosfor dipertahankan oleh parathyroid hormone

yang menyebabkan ginjal mereabsorpsi kalsium, dan mobilisasi kalsium dari tulang

dan depresi resorbsi tubuler dari fosfor. Hiperparatiroid dapat menstimulasi sel mast

untuk melepaskan histamin dan dapat menyebabkan mikropresipitasi garam kalsium

dan magnesium di kulit (Roswati, 2013).

6. Gangguan Hematologi

Ginjal merupakan tempat produksi hormon eritropoetin yang mengontrol

produksi sel darah merah. Pada penyakit ginjal produksi eritropoetin mengalami

gangguan sehingga merangsang pembentukan sel darah merah oleh bone marrow.

Akumulasi racun uremia akan menekan produksi sel darah merah dalam bone

marrow dan menyebabkan massa hidup sel darah merah menjadi lebih pendek

(Muttaqin & Sari, 2014).

Penyebab dari anemia pada penderita gagal ginjal kronik yang menjalani

tindakan hemodialisis dikarenakan oleh kehilangan darah selama proses dialisis,

seringnya pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium, dan meningkatnya

tendensi untuk terjadinya perdarahan. Manifestasi klinis dari anemia antara lain

pucat, takikardia, penurunan toleransi terhadap aktivitas, gangguan perdarahan dapat

terjadi epistaksis, peradarahan gastrointestinal, kemerahan pada kulit dan jaringan

subkutan.

7. Retensi ureum dan kreatinin

Urea yang merupakan hasil metabolik dari protein meningkat. Kadar BUN

bukan merupakan indikator yang tepat dari penyakit ginjal karena peningkatan BUN
dapat terjadi pada penurunan LFG dan peningkatan intake protein. Kreatinin serum

adalah indikator yang lebih baik pada penyakit ginjal kronik karena kreatinin

diekskresikan sama dengan jumlah yang diproduksi tubuh (Smeltzer & Bare, 2014).

8. Gangguan pada sistem gastrointestinal

Anoreksia, nausea dan vomitus, berhubungan erat dengan gangguan

metabolisme protein di dalam usus, dan terbentuknya zat-zat toksik akibat dari

metabolisme bakteri usus. Faktor uremik yang disebabkan oleh ureum yang

berlebihan pada air liur diubah oleh bakteri di mulut menjadi amonia sehingga nafas

berbau amonia dan sering disertai dengan sensasi atau rasa yang tidak

menyenangkan. Akibat yang lain adalah mulut dapat mengalami peradangan atau

stomatitis, lidah dapat menjadi kering, terkadang timbul parotitis (PAPDI, 2014).

9. Gangguan pada sistem dermatologi

Pada pasien dengan gagal ginjal kronik yang menjalani tindakan hemodialisis

menunjukkan berbagai abnormalitas kulit seperti kulit berwarna pucat akibat anemia

dan kekuning-kuningan akibat penimbunan urokrom, serta gatal-gatal dengan

ekskoriasi akibat toksin uremik dan pengendapan kalsium di pori-pori kulit,

terkadang terdapat bekas-bekas garukan karena gatal. Kulit mungkin menjadi kering

dan bersisik, pada kondisi uremia tahap lanjut konsentrasi ureum dalam air keringat

dapat mencapai kadar yang cukup tinggi sehingga setelah penguapan dapat

ditemukan garis-garis bubuk putih pada permukaan kulit (PAPDI, 2014).

10. Gangguan pada sistem saraf dan otot


Pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani tindakan hemodialisis sering

ditemui gejala Rest Leg Sydrome (RLS) yaitu pasien merasa pegal pada kakinya

sehingga ingin selalu digerakkan, dan juga gejala Burning feat syndrome yaitu rasa

kesemutan dan seperti terbakar, terutama di telapak kaki (PAPDI, 2014).

11. Sistem metabolik dan endokrin

Gangguan metabolik dan endokrin pada umumnya terjadi pada pasien gagal

ginjal kronik yang menjalani tidakan hemodialisis. Kemampuan tubuh untuk

melakukan metabolisme glukosa terganggu pada pasien dengan tindakan

hemodialisis. Intoleransi glukosa pada uremia sebagian besar disebabkan oleh

resistensi perifer terhadap kerja insulin. Pada gagal ginjal pada tahap akhir (klirens

kreatinin <15 ml/menit), terjadi penurunan klirens metabolik insulin yang

menyebabkan waktu paruh hormon aktif memanjang. Kelainan metabolisme

karbohidrat, lemak, dan protein juga berperan dalam proses peningkatan

aterosklerosis dan keadaan intoleransi protein pada pasien yang menjalani tindakan

hemodialisis (PAPDI, 2014).

2.3 Konsep Dasar Kepatuhan

2.3.1 Pengertian Kepatuhan

Kepatuhan (adherence) adalah suatu bentuk perilaku yang timbul akibat

adanya interaksi antara petugas kesehatan dengan pasien sehingga pasien mengerti

rencana dengan segala konsekuensinya dan menyetujui rencana tersebut serta

melaksanakannya (Kemenkes, 2018).


Kepatuhan adalah prilaku individu (misal : minum obat, mematuhi diet, atau

melakukan perubahan gaya hidup) sesuai anjuran terapi dari petugas kesehatan.

Tingkat kepatuhan dapat dimulai dari tindakan mengindahkan setiap aspek anjuran

hingga mematuhi rencana (Kozier, 2011).

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku

kepatuhan merupakan suatu upaya dan perilaku individu menunjukkan kesesuaian

dengan peraturan atau anjuran yang diberikan oleh profesional kesehatan untuk

menunjang kesembuhannya.

2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien hemodialisa

Faktor- faktor yang mempengaruhi kepatuhan pada penderita gagal ginjal

kronik yang menjalani hemodialisis adalah :

1. Faktor pasien

Faktor-faktor yang berhubungan dengan pasien meliputi sumber daya,

pengetahuan, sikap, keyakinan, persepsi dan harapan pasien. Faktor-faktor ini

analog dengan Faktor Predisposisi (Predisposing factors) dari Green.Pengetahuan

pasien dan keyakinan tentang penyakit, motivasi untuk mengelolanya,

konsekuensinya kepercayaan (self efficacy) tentang kemampuan untuk terlibat

dalam perilaku manajemen penyakit, dan harapan mengenai hasil pengobatan

serta dari ketidakpatuhan berinteraksi untuk mempengaruhi kepatuhan dengan cara

yang belum sepenuhnya dipahami (Wijaya et al., 2018).


Penelitian tidak menunjukkan hubungan yang jelas antara demografi

pasien dan kepatuhan, tetapi beberapa hasil riset mencoba menghubungkannya

dengan kepatuhan terapi dialisis. (Purnomo et al., 2018) menunjukkan hasil

studi DOPPS (the Dialysis Outcomes and Practice Patterns Study), bahwa

prediktor peluang ketidakpatuhan lebih tinggi mengenai usia yang lebih muda

(untuk melewatkan dan memperpendek dialisis, IDWG berlebihan, dan

hiperfosfatemia), jenis kelamin perempuan (untuk IDWG berlebihan), status

bekerja (untuk hiperposfatemia), merokok (untuk melewatkan dialisis dan

IDWG berlebihan), depresi (untuk melewatkan dan memperpendek dialysis),

status perkawinan (untuk hiperfosfatemia), dan waktu pada dialysis (untuk

memperpendek dialysis, IDWG berlebihan, dan hyperkalemia). Beberapa

bukti menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pasien berperan dalam kepatuhan,

tetapi memahami intruksi pengobatan dan pentingnya perawatan mungkin

lebih penting daripada tingkat pendidikan pasien. Penelitian telah

menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan tidak berarti meningkatkan

kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang diresepkan. Yang paling penting,

seorang pasien harus memiliki sumber daya dan motivasi untuk mematuhi

protokol pengobatan.

2. Fasilitas pelayanan kesehatan

Fasilitas pelayanan Hemodialisis dapat dikaitkan dengan

ketidakpatuhan. Fasilitas ukuran besar (10 atau lebih pasien di HD)

dihubungkan dengan reaksi melewatkan dan memperpendek waktu

pengobatan dialysis, serta kelebihan IDWG.


Tekanan waktu dalam pengaturan klinis merupakan hambatan utama

untuk memahami atau memperbaiki ketidakpatuhan. Komunikasi

dengan pasien adalah komponen penting dari perawatan, sehingga pemberi

pelayanan kesehatan harus mempunyai waktu yang cukup untuk berbagi

dengan pasien dalam diskusi tentang perilaku mereka dan motivasi untuk

perawatan diri. Perilaku dan penelitian pendidikan menunjukkan kepatuhan

terbaik mengenai pasien yang menerima perhatian individu. Fasilitas

hemodialisis yang besar dengan beberapa perubahan dan pergantian

cepat pasien dapat membuat situasi yang lebih sulit untuk memberikan

perawatan pribadi. Tampaknya sistem pelayanan kesehatan sendiri menjadi

tantangan yang paling berat untuk kemampuan pasien berpartisipasi secara

efektif dalam perawatan mereka sendiri dan pengobatan. Banyak

penyedia layanan kesehatan cenderung untuk menekankan kepatuhan yang

ketat dan mungkin mempercayai bahwa pasien hemodialisis mampu

mengelola dirinya sendiri. Pada model perilaku Green, faktor-faktor ini

analog dengan faktor-faktor pemungkin (enabling factors).

3. Petugas hemodialisa

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kepatuhan adalah

hubungan yang dijalin oleh anggota staf hemodialisis dengan pasien.

4. Keluarga

Keluarga merupakan bagian dari penderita yang paling dekat dan tidak

dapat dipisahkan. Penderita akan merasa senang dan tentram apabila mendapat
perhatian dan dukungan dari keluarganya karena dengan dukungan tersebut akan

menimbulkan kepercayaan dirinya untuk menghadapi atau mengelola

penyakitnya dengan baik, serta penderita mau menuruti saran-saran yang

diberikan keluarga untuk penunjang pengelolaan penyakitnya.

2.3.3 Alat ukur kepatuhan

Alat ukur kepatuhan (Anita & Novitasari, 2017) adalah sebagai berikut:
Tanggapilah pernyataan-pernyataan pada lembar berikut ini, dengan cara
memberi tanda (√) pada kolom jawaban disebelah kanan sesuai dengan keadaan anda.
Terdapat pilihan jawaban yang disediakan untuk setiap pernyataan yaitu : Selalu ;
Sering ; Kadang-Kadang ; Jarang ; Tidak Pernah
No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Jarang Tidak
kadang pernah
1 Saya mengkonsumsi
asupan cairan sesuai yang
dianjurkan petugas
kesehatan.
2 Saya mengkonsumsi air
dalam jumlah banyak.
3 Saya mengkonsumsi
asupan cairan tidak lebih
dari 1000 cc dalam sehari
4 Saya menghitung jumlah
air yang diminum sehari-
hari
5 Saya mengukur jumlah air
kencing (urin) dalam
sehari
6 Saya mengkonsumsi
asupan air sebanyak
jumlah air kencing (urin)
dalam sehari ditambah
dengan ± 500 cc (2-3 gelas
belimbing)
7 Sebelum cuci
darah/hemodialisa, berat
badan saya bertambah dari
berat badan sebelumnya
8 Pada saat kebutuhan cairan
sudah mencapai batas,
untuk menghilangkan haus
biasanya saya mengulum
es batu atau sikat gigi dan
berkumur
9 Saya mengkonsumsi
makanan instan (contoh :
ikan kaleng, buah kaleng,
cornet, jamur kaleng, jus
kalengan, mie kuah,dll)
10 Selain asupan cairan yang
dianjurkan, saya
mengkonsumsi makanan
berkuah (sop, gule kambing,
soto, mie kuah, sayur lodeh,
dll)
11 Saya mengkonsumsi bayam,
daun pepaya, daun singkong,
dan sayuran yang lain
12 Saya mengkonsumsi lebih
dari 1 butir telur dalam
sehari
13 Saya mengkonsumsi lebih
dari 4 potong tempe/tahu
dalam sehari
14 Pada saat ada jamuan
pesta/acara yang
menyuguhkan minuman
segar (es buah, es jeruk, teh)
saya akan meminumnya
15 Saya mengikuti anjuran
untuk membatasi buah-
buahan dengan kandungan
tinggi air (seperti :
semangka, melon, pepaya,
pir, jeruk, dll)
2.4 Konsep Dasar Dukungan Sosial

2.4.1 Pengertian Dukungan Sosial

Hubungan interpersonal merupakan salah satu ciri khas kehidupan manusia

karena sudah menjadi sifat serta kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Dalam

banyak hal, individu memerlukan keberadaan orang lain untuk saling memberikn

sebuah perhatian, membantu, mendukung serta bekerja sama dalam menghadapi

tantangan kehidupan, bantuan ini disebut dengan dukungan sosial (Nadi et al., 2015).

Berikut mengenai pengertian social support atau yang biasa disebut

dukungan sosial menurut beberapa ahli. Dukungan sosial menurut (Kuntjoro, 2009)

merupakan bantuan atau dukungan yang diterima individu dari orang-orang tertentu

dalam kehidupannya dan berbeda dalam lingkungan sosial tertentu membuat

penerima merasa diperhatikan, dihargai, dan dicintai.

Dukungan sosial menekankan orientasi subyektif yang memperlihatkan

bahwa dukungan sosial itu terdiri atas informasi yang membuat orang merasa

diperhatikan. Sikap informasi apapun dari lingkungan sosial yang membuat subyek

mempersepsikan bahwa dia menerima efek positif atau bantuan yang menandakan

ungkapan dari adanya dukungan sosial (Asnaningsih, 2019).

Menurut House & Khan dalam (Asnaningsih, 2019) dukungan sosial

merupakan transaksi interpersonal yang meliputi perasaan emosional (perasaan suka,

cinta, dan empati), bantuan instrumental (barang/jasa), informasi dan penilaian

(informasi yang berhubungan dengan self evaluation). Johnson dan Johnson dalam

(Hidayanti et al., 2016) mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan pertukaran


sumber yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan serta keberadaan orang-

orang yang mampu diandalkan untuk memberikan bantuan, semangat, penerimaan

dan perhatian; sistem dukungan sosial terdiri dari significant others yang bekerja

sama berbagi tugas, menyedia sumber-sumber yang dibutuhkan seperti materi,

peralatan, keterampilan, informasi atau nasehat untuk memberi individu dalam

mengatasi situasi khusus yang mendatangkan stress, sehingga individu tersebut

mampu menggerakkan sumber-sumber psikologisnya untuk mengatasi permasalahan.

Menurut (Baron & Hmieleski, 2018) dukungan sosial juga bisa diartikan

sebagai pemberian perasaan nyaman baik secara fisik maupun psikologis atau

keluarga kepada seseorang untuk menghadapi suatu masalah. Individu lebih

merasakan aman karena mendapatkan dukungan dalam menghadapi masalah daripada

individu yang mendapat penolakan dari orang lain. Penelitian mengenai dukungan

sosial pada dua dasawarsa terakhir mencakup dua isi dukungan sosial, yakni

dukungan yang diterima (Received Support) dan dukungan yang dirasakan

(Perceived Support). Dukungan yang diterima mengacu pada perilaku menolong

yang terjadi dan diberikan oleh orang lain sedangkan dukungan yang dirasa mengacu

pada kepercayaan bahwa perilaku menolong akan tersedia ketika dibutuhkan, secara

sederhana dikatakan bahwa Received Support adalah perilaku menolong yang telah

terjadi sedangkan Perceived Support yaitu perilaku menolong yang dirasakan atau

kemungkinan akan terjadi (Baron & Hmieleski, 2018)

Dukungan lebih konsisten akan mampu meningkatkan kesehatan psikis dan

melindungi psikis dalam stress (Baron & Hmieleski, 2018). Berdasar pada beberapa

teori yang mengemukakan tentang dukungan sosial di atas, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa dukungan sosial merupakan suatu bentuk ungkapan emosional

yang berfungsi melindungi seseorang dari kecemasan yang hal tersebut bisa

ditimbulkan salah satunya oleh keluarga. Dukungan sosial tersebut mampu

memberikan suatu bentuk informasi atau nasehat pada seseorang yang diberikan

berdasarkan keakraban sosial atau didapat karena kehadiran seseorang mempunyai

manfaat emosional oleh efek keputusan yang sesuai dengan keinginan nantinya.

2.4.2 Macam-macam bentuk dukungan sosial

Macam-macam bentuk dukungan sosial (Asnaningsih, 2019) adalah sebagai

berikut:

1. Esteem support (dukungan penghargaan)

Dukungan ini berupa pernyataan rasa cinta dan penerimaan diri individu

dengan segala kesalahan serta kekurangan sehingga dapat menimbulkan kepercayaan

diri seseorang.

2. Information support (dukungan informasi)

Dukungan ini berupa informasi, nasihat, bimbingan serta penghargaan yang

diberikan pada individu untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan yang

dihadapi.

3. Instrument support

Dukungan ini berupa kehadiran seseorang ketika individu sedang menghadapi

persoalan-persoalan yang dihadapi.

2.4.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifikats dukungan sosial

Cohen dan Syme dalam (Asnaningsih, 2019) menyatakan ada beberapa faktor

yang mempengaruhi efektivitas dukungan sosial adalah:


1. Pemberian dukungan sosial. Dukungan yang diterima melalui dukungan yang

sama akan lebih memiliki arti daripada yang berasal dari sumber yang berbeda.

Pemberian dukungan dipengaruhi oleh adanya norma, tugas, dan keadilan.

2. Jenis dukungan. Jenis dukungan yang diterima akan memiliki arti bila dukungan

itu bermanfaat dan sesuai atau tepat dengan situasi yang ada.

3. Penerima dukungan. Karakteristik atau ciri-ciri penerima dukungan sosial akan

menemukan keefektifan dukungan. Karakteristik itu seperti kepribadian,

kebiasaan, dan peran sosial. Proses yang terjadi dalam dukungan itu dipengaruhi

oleh kemampuan penerima dukungan untuk memberi dan mempertahankan

dukungan.

4. Permasalahan yang dihadapi. Dukungan yang tepat dipengaruhi oleh kesesuaian

antar jenis dukungan yang diberikan dan masalah yang ada. Misalnya konflik yang

terjadi dalam pernikahan dan pengangguran akan berbeda dalam hal pemberian

dukungan yang akandiberikan.

5. Waktu pemberian dukungan. Dukungan sosial optimal di satu situasi tetapi akan

tidak menjadi optimal dalam situasi lain. Misalnya saat seseorang kehilangan

pekerjaan, individu akan tertolong kekita mendapat dukungan sesuai dengan

masalahnya, tetapi bila telah bekerja, maka dukungan yang lain yang diperlukan.

6. Lamanya pemberian dukungan. Lama atau singkatnya pemberian dukungan

tergantung pada kapasitasnya. Kapasitas adalah kemampuan dari pemberian

dukungan untuk memberi dukungan yang ditawarkan selama suatu periode.

2.4.3 Komponen-komponen dukungan sosial

Weis dalam (Asnaningsih, 2019) mengemukakan ada 6 komponen dkungan


social yang disebut sebagai “The Social Provision Scale”, dimana masing-masing

komponen dapat berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi satu sama lain saling

berhubungan. Adapun komponen-komponen tersebut adalah:

1. Kerekatan emosional (emotional attachment)

Jenis social support semacam ini memungkinkan seseorang memperoleh

kerekatan (kedekatan) emosional, sehingga menimbulkan rasa aman bagi yang

menerima. Orang yang menerima social support semacam ini merasa tenteram, aman

dan damai yang ditunjukkan dengan sikap tenang dan bahagia. Sumber social

support semacam ini yang paling sering dan umum adalah diperoleh dari pasangan

hidup, anggota keluarga, teman dekat, sanak keluarga yang akrab dan memiliki

hubungan yang harmonis.

2. Integrasi sosial (Social integration)

Jenis dukungan sosial semacam ini memungkinkan individu untuk

memperoleh perasaan memiliki suatu kelompok yang memungkinkan untuk membagi

minat, perhatian serta melakukan kegiatan yang sifatnya rekreatif atau bermain secara

bersama-sama.Sumber dukungan semacam ini memungkinkan individu mendapatkan

rasa aman, nyaman serta merasa memiliki dan dimiliki oleh kelompok. Adanya

kepedulian oleh keluarga atau masyarakat untuk mengorganisasi individu dan

melakukan kegiatan bersama tanpa pamrih akan banyak memberikan dukungan

sosial. Mereka merasa bahagia, ceria dan dapat mencurahkan segala ganjalan yang

ada pada dirinya untuk bercerita yang sesuai dengan kebutuhan individu. Hal itu

semua merupakan dukungan yang sangat bermanfaat bagi individu atau remaja.

3. Adanya Pengakuan (reassurance of worth)


Pada dukungan sosial jenis ini individu mendapat pengakuan atas kemampuan

dan keahliannya serta mendapat penghargaan dari orang lainatau lembaga. Sumber

dukungan semacam ini dapat berasal dari keluarga, lembaga atau sekolah, perusahaan

atau organisassi dimana individu pernah bekerja.

4. Ketergantungan yang dapat diandalkan (reliablereliance)

Dalam dukungan sosial ini jenis ini, individu mendapat social support berupa

jaminan bahwa ada orang yang dapat diandalkan bantuannya ketika individu

membutuhkan bantuan tersebut. Social support jenis ini pada umumnya berasal dari

keluarga diri sendiri.

5. Bimbingan (guidance)

Dukungan sosial jenis ini adalah berupa adanya hubungan kerja ataupun

hubungan sosial memungkinkan individu mendapatkan informasi, saran atau nasihat

yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan untuk mengatasi permasalahan yang

dihadapi. Jenis dukungan ini bisa berasal dari guru, alim ulama, pamong dalam

masyarakat, figur yang dituakan, dan juga orang tua.

6. Kesempatan untuk mengasuh (opportunity ofnurturance)

Suatu aspek penting hubungan interpersonal akan perasaan dibutuhkan oleh

orang lain. Jenis dukungan sosial semacam ini memungkinkan individu untuk

memperoleh perasaan bahwa orang lain tergantung padanya untuk memperoleh

kesejahteraan.

2.4.3 Manfaat dukungan sosial / Information support

Manfaat dukungan sosial / Information support akan meningkatkan, antara

lain :
1. Produktivitas melalui peningkatan motivasi, kualitas penalaran, kepuasan kerja,

prestasi serta mengurangi dampak stress kerja.

2. Kesejahteraan psikologi disertai kemampuan penyesuaian diri melalui perasaan

memiliki, kejelasan identitas diri peningkatan harga diri; pencegahan neurotisme

psikopatologi; pengurangan distress berlanjut ke penyediaan sumber kebutuhan.

3. Kesehatan fisik, individu mempunyai hubungan dekat dengan orang lain jarang

terkena penyakit dibandingkan individu terisolasi serta mendapatkan informasi

terkait penyakit yang dideritanya.

4. Managemen stres yang produktif melalui perhatian, informasi disertai umpan balik

yang diperlukan.

2.5 Konsep Dasar Telenursing

2.5.1 Definisi telenursing

Telenursing merupakan pemberian servis dan perawatan oleh perawat dengan

menggunakan telekomunikasi, guna untuk meningkatkan akses untuk tindakan

keperawatan kepada pasien (Pratama et al., 2019).

Telenursing adalah bentuk upaya penggunaan teknologi informasi dalam

memberikan pelayanan keperawatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara

perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat. Sebagai bagian dari telehealth dan

beberapa bagian terkait dengan aplikasi bidang medis dan non-medis seperti:

telediagnosis, telekonsultasi dan telemonitoring (Franciska & Boro, 2020).

Telenursing diartikan sebagai pemakaian telekomunikasi untuk memberikan

informasi serta pelayanan keperawatan jarak-jauh. Aplikasinya saat ini yaitu

menggunakan teknologi informasi untuk menyiarkan konsultasi antara fasilitas-


fasilitas kesehatan di dua negara dan memakai peralatan video conference.

Telenursing merupakan bagian integral dari telemedicine atau telehealth (Watkins &

Neubrander, 2020).

Telenursing merupakan salah satu layanan utama merawat pasien kronis di

rumah, mengacu pada penyediaan layanan keperawatan melalui penggunaan

teknologi telekomunikasi seperti telepon, komputer, alat telemonitoring, dan Internet.

Penggunaan teknologi ini mengarah pada akses cepat pasien ke layanan yang lebih

baik dengan biaya lebih rendah, akses mudah ke keterampilan profesional yang

paling tepat, dan peningkatan menyeluruh dalam kualitas penyediaan layanan

kesehatan (Patimah, 2019).

2.5.2 Prinsip-prinsip telenursing

Prinsip-prinsip telenursing tidak mengubah dasar dari praktek asuhan

keperawatan, dimana perawat terlibat dalam telenursing mulai dari pengkajian,

perencanaan, pelaksanaan asuhan keperawatan , evaluasi dan dokumentasi. Perawat

juga terlibat dalam informasi, pendidikan, arahan dan dukungan secara pribadi dalam

telenursing hubungan ditetapkan melalui penggunaan telepon, komputer, internet atau

teknologi komunikasi lainnya (Dadgari et al., 2017).

2.5.3 Media telenursing

Telenursing Inc., 2013; Dadgari et al, 2017 media telenursing adalah sebagai

berikut:

1. Telepon seluler (berupa whatshapp, SMS, telegram dll)

2. Mesin faksimili
3. Internet

4. Video

5. Kumputer sistem informasi

2.5.4 Manfaat telenursing

American Nurse Assosiation, 1999; (Souza-Junior et al., 2016) manfaat

apabila kita menggunakan teknologi dalam layanan keperawatan jarak jauh

(Telenuring) diantaranya sebagai berikut:

1. Mengurangi waktu tunggu dan mengurangi kunjungan yang tidak perlu.

2. Mempersingkat hari rawatan dan mengurangi biaya perawatan

3. Membantu memenuhi kebutuhan kesehatan.

4. Memudahkan akses petugas kesehatan yang berada di daerah yang terisolasi.

5. Berguna dalam kasus-kasus kronis atau kasus geriatik serta kasus penderita gagal

ginjal kronik yang perlu perawatan di rumah dengan jarak yang jauh dari

pelayanan kesehatan.

6. Mendorong tenaga kesehatan atau daerah yang kurang terlayani untuk mengakses

penyedia layanan melalui mekanisme seperti: konferensi video dan internet.

Selain itu telekomonuikasi elektronikal merupakan akses terbaik untuk

kesempatan pendidikan, metode baru dalam pendokumentasian, peningkatan akses

informasi, pengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang dapat

membantu melakukan perubahan dalam profesionalisasi perawat (R. et al., 2017)

2.5.5 Keuntungan telenursing


Keuntungan menggunakan telenursing (Shahrokhi et al., 2018) adalah

sebagai berikut :

1. Efektif dan efisiensi dari sisi biaya kesehatan, pasien dan keluarga dapat

mengurangi kunjungan ke pelayanan kesehatan (dokter praktek, ruang gawat

darurat, RS dan nursing home)

2. Dengan sumber daya minimal dapat meningkatkan cakupan dan jangkauan

pelayanan keperawatan tanpa batas geografis.

3. Telenursing dapat mengurangi jumlah kunjungan dan masa hari rawat di RS.

4. Dapat meningkatkan pelayanan untuk pasien kronis, tanpa memerlukan biaya dan

meningkatkan pemanfaatan tehnologi.

5. Dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan keperawatan (model distance

learning) dan perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan.

Telenursing dapat pula digunakan dalam pembelajaran di kampus, video

conference, pembelajaran online dan multimedia distance learning. Ketrampilan

klinik keperawatan dapat dipelajari dan dipraktekkan melalui model simulasi lewat

secara interaktif.

2.6 Konsep Dasar WhatsApp

2.6.1 Definisi WhatsApp

WhatsApp Messenger merupakan aplikasi pesan telepon pintar lintas platform

atau perangkat lunak yang dapat digunakan di beberapa sistem operasi yang berbeda,

sehingga memungkinkan untuk bertukar pesan / informasi lebih murah dengan paket

data internet dibanding menggunakan sistem tarif dari pulsa short message service
atau pesan singkat pada telepon selular biasa (Yusmita et al., 2014). WhatsApp

Messenger memungkinkan penggunanya melakukan percakapan menggunakan

telepon maupun teks secara interaktif hingga berbagi file data teks, foto maupun

video/ voice note (Rahartri, 2019).

Sosial media jenis WhatsApp menggunakan paket data internet yang sama

digunakan untuk surat elektronik serta berselancar di dunia maya. Aplikasi WhatsApp

tersedia untuk telepon pintar, diantaranya: iPhone, BlackBerry, Windows Phone,

Android, dan Nokia (A.Sukrillah et al., 2017).

2.6.2 Cara menggunakan aplikasi dan fitur WhatsApp

Sebelum menggunakan aplikasi WhatsApp anda harus memasang perangkat

atau menginstall WhatsApp (Susanto et al., 2019) dengan cara sebagai berikut:

1. Unduh atau download aplikasi tersebut dari layanan konten digital yang

menyediakan aplikasi android.

2. Install aplikasi tersebut ke smartphone.

3. Daftarkan nomor telepon Anda tanpa menggunakan 0 atau format internasional.

Karena WhatsApp akan menggunakan nomor telepon Anda untuk mendaftar

Anda dalam database-nya.

4. Aplikasi kemudian akan mengirimkan kode konfirmasi lewat pesan singkat atau

short message service yang mengharuskan Anda untuk mengisikan kode

konfirmasi tersebut ke langkah selanjutnya. Setelah Anda mengkonfirmasi nomor

telepon Anda, Anda siap untuk menggunakannya.


5. Aplikasi WhatsApp akan secara otomatis mendata buku telepon atau phonebook

untuk menunjukkan siapa-siapa saja yang sudah menggunakan WhatsApp. Untuk

mengetahui siapa saja yang sudah masuk ke daftar, tekan pada tab contact.

Mereka yang menggunakan WhatsApp akan memiliki status disamping nama

mereka.

6. Mulailah perbincangan dengan teman-teman Anda yang menggunakan WhatsApp

dengan mengklik nama tersebut.

7. Anda dapat juga mengundang teman Anda untuk menggunakan WhatsApp

aplikasi dengan menggunakan “Invite Friends”.

Aplikasi WhatsApp ini dapat diunduh secara gratis melalui layanan

konten digital aplikasi android. WhatsApp dapat mengirim file-file

(Afnibar & N, 2020) antara lain:

1. Foto. Berupa pesan gambar tidak bergerak yang direkam dapat diperoleh langsung

dari dari kamera, file manager dan media galeri.

2. Video. Berupa pesan gambar bergerakyang direkam dapat langsung dari video

kamera, file manager dan media galeri.

3. Audio. Berupa pesan suara yang direkam dapat langsung dari audio,file manager

atau musik galeri.

4. Location. Berupa pesan keberadaan pengguna di suatu tempat dengan bantuan

fasilitas Google Maps. Pesan ini memungkinkan penggunanya menjelaskan tempat

ia berada dengan pengguna lain.

5. Contact. Dapat mengirim detail nomor kontak dari buku telpon atau phonebook.
Fitur lain yang terdapat di WhatsApp (Kartikawati & Pratama, 2017)antara

lain :

1. View Contact: dapat melihat daftar nama kontak dibuku telepon.

2. Avatar : dapat mengganti avatar atau tampilan profil secara manual.

WhatsApp akan mengambil data avatar dari profile phonebook. Apabila

menggunakan sinkronisasi Facebook dengan phonebook, maka avatar yang

muncul adalah avatar Facebook.

3. Add conversation shortcut : dapat juga menambahkan shortcut conversation ke

homescreen.

4. Email Conversation : menu ini bisa menyimpan percakapan pengguna dan

mengirimkannya lewat email.

5. Grup Chat : penggunanya bisa membuat kelompok atau grup percakapan.

Kemampuannya kini ditingkatkan hingga tiap grup kini mencapai 256 anggota.

6. Copy/Paste : Setiap kalimat perbincangan juga dapat digandakan ataucopy,

disebarkan atau forward dan dihapus atau delete dengan menekan dan menahan

kalimat tersebut dilayar.

7. Emoji: Untuk menambahkan serunya perbincangan, tidak hanya menggunakan

bahasa teks tapi juga dengan bahasa gambar sesuai ikon-ikon yang pengguna

tampilkan sebagai pesan.


Gambar 2.1. Icon Emoji

8. Search : fitur dasar setiap Instan Messaging, Anda dapat mencari daftar contact

melalui fitur ini.

9. WhatsApp Call : karena verifikasi WhatsApp sama dengan nomor telepon selular

pengguna lainnya. Penggunanya dapat melakukan panggilan langsung dari aplikasi

WhatsApp ini dengan koneksi internet atau data.

10. Block: digunakan untuk memblok kontak tertentu.

11. Status : seperti kebanyakan fitur Instan Messaging, status juga hadir di

WhatsApp. Namun tidak seperti BlackBerry Messenger yang menampilkan kondisi

terbaru atau update setiap ada perubahan status dari teman, WhatsApp hanya

menampilkan status dibawah nama teman, mirip dengan di Yahoo Messenger.

Anda pun dapat mengganti status yang sudah tersedia di WhatsApp seperti

available, busy, at school dan lain-lain.

2.6.3 Keuntungan menggunakan WhatsApp

Keuntungan menggunakan WhatsApp (Trisnani, 2017) adalah sebagai

berikut :

1. Tidak hanya teks : WhatsApp memiliki fitur untuk mengirim gambar, video, suara,

dan lokasi GPS via hardware GPS atau Gmaps. Media tersebut langsung dapat
ditampilkan dan bukan berupa link.

2. Terintegrasi ke dalam sistem : WhatsApp layaknya sms, tidak perlu membuka

aplikasi untuk menerima sebuah pesan. Notifikasi pesan masuk ketika telepon

selular sedang tidak aktif atau off akan tetap disampaikan jika telepon selular

sudah aktif atau on.

3. Status Pesan : Jam merah untuk proses loading di telepon selular kita. Tanda

centang jika pesan terkirim ke jaringan. Tanda centang ganda jika pesan sudah

terkirim ke teman chat. Silang merah jika pesan gagal

4. Broadcats dan Group chat : Broadcast untuk kirim pesan ke banyak pengguna.

Grup chat untuk mengirim pesan ke anggota sesama komunitas.

5. Hemat Bandwidth : Karena terintegrasi dengan sistem maka tidak perlu login atau

masuk dan loading contact/avatar, sehingga transaksi data makin irit. Aplikasi

dapat dimatikan dan hanya aktif jika ada pesan masuk, sehingga bisa menghemat

tenaga baterai telepon selular.

2.7 Konsep Dasar Modul

2.7.1 Definisi Modul

Modul merupakan bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa

yang mudah dipahami oleh klien, sesuai usia dan tingkat pengetahuan mereka agar

mereka dapat belajar secara mandiri dengan bimbingan minimal dari

pendidik/perawat(Johariyah & Mariati, 2018).

Modul adalah bagian kesatuan belajar yang terencana yang dirancang untuk

membantu klien secara individual dalam mencapai tujuan belajarnya serta dapat

meningkatkan kepatuhan dalam menjalani pengobatan(Soripet & Iryani, 2019). Klien


yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menguasai materi.

Sementara itu, Klien yang memiliki kecepatan rendah dalam belajar bisa belajar lagi

dengan mengulangi bagian-bagian yang belum dipahami sampai paham.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas terdapat hal-hal penting dalam

mendefinisikan modul yaitu bahan belajar mandiri, membantu klien menguasai tujuan

belajarnya, dan paket program yang disusun dan didesain sedemikian rupa untuk

kepentingan belajar klien. Jadi dapat disimpulkan bahwa modul merupakan paket

program yang disusun dan didesain sedemikian rupa sebagai bahan belajar mandiri

untuk membantu klien menguasai tujuan belajarnya. Oleh karena itu, klien dapat

belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing.

2.7.2 Karakteristik modul

Modul yang dikembangkan harus memiliki karakteristik yang diperlukan

sebagai modul agar mampu menghasilkan modul yang mampu meningkatkan

motivasi penggunannya. Modul yang akan dikembangkan harus memperhatikan lima

karaktersistik sebuah modul yaitu self instruction, self contained, stand alone,

adaptif, dan userfriendly (Tati et al., 2019).

1. Self Instruction, klien dimungkinkan belajar secara mandiri dan tidak tergantung

pada pihak lain. Self Intruction dapat terpenuhi apabila modul tersebut: memuat

tujuan pembelajaran yang jelas; materi pembelajaran dikemas dalam unit-unit

kegiatan yang kecil/spesifik; ketersediaan contoh dan ilustrasi yang mendukung

kejelasan pemaparan materi pembelajaran; terdapat soal-soal latihan, tugas dan

sejenisnya; kontekstual; bahasanya sederhana dan komunikatif; adanya rangkuman


materi pembelajaran; adanya instrumen penilaian mandiri (self assessment);

adanya umpan balik atas penilaian siswa; dan adanya informasi tentang rujukan.

2. Self Contained , seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam

modul tersebut. Karakteristik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk

mempelajari materi pembelajran secara tuntas.

3. Stand Alone, modul yang dikembangkan tidak tergantung pada bahan ajar lain atau

tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain.

4. Adaptif, modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi, fleksibel/luwes digunakan diberbagai perangkat keras (hardware).

Modul yang adaptif adalah jika modul tersebut dapat digunakan sampai kurun

waktu tertentu.

5. User Friendly (bersahabat/akrab), modul memiliki instruksi dan paparan informasi

bersifat sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah yang umum

digunakan. Penggunaan bahasa sederhana dan penggunaaan istilah yang umum

digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly.

2.7.3 Sistematika penulisan modul

Sistematika penulisan modul adalah sebagai berikut:

1. Tinjauan Mata Pelajaran Tinjauan mata pelajaran berupa paparan umum mengenai

keseluruhan pokok-pokok isi mata pelajaran yang mencakup deskripsi mata

pelajaran, kegunaaan mata pelajaran, kompetensi dasar, bahan pendukung lainnya

(kaset, kit, dll), petunjuk belajar.

2. Pendahuluan Pendahuluan dalam modul merupakan pembukaan pembelajaran


suatu modul yang berisi:

a. Deskripsi singkat isi modul

b. Indikator yang ingin dicapail

c. Memuat pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya sudah diperoleh.

d. Relevansi, yang terdiri atas:

1) Urutan kegiatan belajar logis

2) Petunjuk belajar

3. Kegiatan Belajar

Kegiatan belajar memuat materi yang harus dikuasai klien. Bagian ini terbagi

menjadi beberapa sub bagian yang disebut kegiatan belajar.

2.8 Konsep Dasar Theory of Planned Behaviour

Theory Reasoned Action (TRA) pertama kali dicetuskan oleh Ajzen pada

tahun 1980 . Teori ini disusun menggunakan asumsi dasar bahwa manusia

berperilaku dengan cara yang sadar dan mempertimbangkan segala informasi yang

tersedia. Dalam TRA ini, Ajzen (1980) yang menyatakan bahwa seseorang dapat

melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tergantung dari niat yang dimiliki

oleh orang tersebut. Lebih lanjut, Ajzen (1980) mengemukakan bahwa niat

melakukan atau tidak melakukan perilaku tertentu dipengaruhi oleh dua penentu

dasar, yang pertama berhubungan dengan sikap (attitude towards behavior) dan yang

lain berhubungan dengan pengaruh sosial yaitu norma subjektif (subjective norms).

Dalam upaya mengungkapkan pengaruh sikap dan norma subjektif terhadap niat

untuk dilakukan atau tidak dilakukannya perilaku, Ajzen melengkapi TRA ini dengan
keyakinan (beliefs). Dikemukakannya bahwa sikap berasal dari keyakinan terhadap

perilaku (behavioral beliefs), sedangkan norma subjektif berasal dari keyakinan

normatif (normative beliefs). Secara skematik, TRA dapat digambarkan seperti

berikut:

Gambar 2.1. Theory Reaction Action (Fishbein & Ajzen, 1975)

Theory of Planned Behavior (TPB) merupakan pengembangan lebih lanjut

dari TRA. Ajzen (1988) menambahkan konstruk yang belum ada dalam TRA, yaitu

kontrol perilaku yang dipersepsi (perceived behavioral control). Konstruk ini

ditambahkan dalam upaya memahami keterbatasan yang dimiliki individu dalam

rangka melakukan perilaku tertentu. Dengan kata lain, dilakukan atau tidak

dilakukannya suatu perilaku tidak hanya ditentukan oleh sikap dan norma subjektif

semata, tetapi juga persepsi individu terhadap kontrol yang dapat dilakukannya yang

bersumber pada keyakinannya terhadap kontrol tersebut (control beliefs). Secara

lebih lengkap Ajzen (2005) menambahkan faktor latar belakang individu ke dalam

perceived behavioral control, sehingga secara skematik perceived behavioral control

dterangkan sebagaimana pada gambar 2.2 .


Gambar 2.2 bagan Theory of Planned Behaviour (TPB)

Model teoritik dari Teori Planned Behavior (Perilaku yang direncanakan)

mengandung berbagai variabel yaitu :

1. Latar belakang (background factors). Seperti usia, jenis kelamin, suku, status sosial

ekonomi, suasana hati, sifat kepribadian, dan pengetahuan) mempengaruhi sikap

dan perilaku individu terhadap sesuatu hal. Faktor latar belakang pada dasarnya

adalah sifat yang hadir di dalam diri seseorang, yang dalam model Kurt Lewin

dikategorikan ke dalam aspek O (organism). Dalam kategori ini Ajzen (2005),

memasukkan tiga faktor latar belakang, yakni personal, sosial, dan informasi.

Faktor personal adalah sikap umum seseorang terhadap sesuatu, sifat kepribadian

(personality traits), nilai hidup (values), emosi, dan kecerdasan yang dimilikinya.

Faktor sosial antara lain adalah usia, jenis kelamin (gender), etnis, pendidikan,
penghasilan, dan agama. Faktor informasi adalah pengalaman, pengetahuan, dan

ekspose pada media.

2. Keyakinan perilaku (behavioral belief). Hal-hal yang diyakini oleh individu

mengenai sebuah perilaku dari segi positif dan negatif, sikap terhadap perilaku

atau kecenderungan untuk bereaksi secara afektif terhadap suatu perilaku, dalam

bentuk suka atau tidak suka pada perilaku tersebut.

3. Keyakinan normatif (normative beliefs). Berkaitan langsung dengan pengaruh

lingkungan yang secara tegas dikemukakan oleh Lewin dalam Field Theory.

Pendapat Lewin ini digaris bawahi juga oleh Ajzen melalui perceived behavioral

control. Menurut Ajzen (2005), faktor lingkungan sosial khususnya orang-orang

yang berpengaruh bagi kehidupan individu (significant others) dapat

mempengaruhi keputusan individu.

4. Norma subjektif (subjective norm) . Sejauh mana seseorang memiliki motivasi

untuk mengikuti pandangan orang terhadap perilaku yang akan dilakukannya

(Normative Belief). Kalau individu merasa itu adalah hak pribadinya untuk

menentukan apa yang akan dia lakukan, bukan ditentukan oleh orang lain

disekitarnya, maka dia akan mengabaikan pandangan orang tentang perilaku yang

akan dilakukannya. Fishbein dan Ajzen (1975), menggunakan istilah ”motivation

to comply” untuk menggambarkan fenomena ini, yaitu apakah individu mematuhi

pandangan orang lain yang berpengaruh dalam hidupnya atau tidak.

5. Keyakinan dari dalam diri individu bahwa suatu perilaku yang dilaksanakan

(control beliefs) dapat diperoleh dari berbagai hal, pertama adalah pengalaman

melakukan perilaku yang sama sebelumnya atau pengalaman yang diperoleh


karena melihat orang lain misalnya, teman, keluarga dekat dalam melaksanakan

perilaku itu sehingga ia memiliki keyakinan bahwa ia pun akan dapat

melaksanakannya. Selain pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman, keyakinan

individu mengenai suatu perilaku akan dapat dilaksanakan ditentukan juga oleh

ketersediaan waktu untuk melaksanakan perilaku tersebut, tersedianya fasilitas

untuk melaksanakannya, dan memiliki kemampuan untuk mengatasi setiap

kesulitan yang menghambat pelaksanaan perilaku.

6. Persepsi kemampuan mengontrol tingkah laku (perceived behavioral control).

Keyakinan (beliefs) bahwa individu pernah melaksanakan atau tidak pernah

melaksanakan perilaku tertentu, individu memiliki fasilitas dan waktu untuk

melakukan perilaku itu, kemudian individu melakukan estimasi atas kemampuan

dirinya apakah dia punya kemampuan atau tidak memiliki kemampuan untuk

melaksanakan perilaku tersebut. Ajzen (2005) menamakan kondisi ini dengan

“persepsi kemampuan mengontrol” (perceived behavioral control). Niat untuk

melakukan perilaku (intention) adalah kecenderungan seseorang untuk memilih

melakukan atau tidak melakukan sesuatu pekerjaan. Niat ini ditentukan oleh

sejauh mana individu memiliki sikap positif pada perilaku tertentu, dan sejauh

mana kalau dia memilih untuk melakukan perilaku tertentu itu dia mendapat

dukungan dari orang-orang lain yang berpengaruh dalam kehidupannya.

Menurut Theory of Planned Behavior, seseorang dapat bertindak berdasarkan

intensi atau niatnya hanya jika ia memiliki kontrol terhadap perilakunya (Ajzen,

2002). Teori ini tidak hanya menekankan pada rasionalitas dari tingkah laku manusia,

tetapi juga pada keyakinan bahwa target tingkah laku berada di bawah kontrol
kesadaran individu tersebut atau suatu tingkah laku tidak hanya bergantung pada

intensi seseorang, melainkan juga pada faktor lain yang tidak ada dibawah kontrol

dari individu, misalnya ketersediaan sumber dan kesempatan untuk menampilkan

tingkah laku tersebut (Ajzen, 2005). Dari sini lah Ajzen memperluas teorinya dengan

menekankan peranan dari kamuan yang kemudian disebut sebagai Perceived

Behavioral Control (Vaughan & Hogg, 2005).

Berdasarkan Theory of Planed Behavior, intensi merupakan fungsi dari tiga

determinan, yang satu yang bersifat personal, kedua merefleksikan pengaruh sosial

dan ketiga berhubungan dengan masalah kontrol (Ajzen, 2005). Berikut ini adalah

penjabaran dari variabel utama dari Theory of Planned Behavior yang terdiri dari:

intensi, attitude toward behavior, subjective norms, dan perceived behavioral

control.

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual

Faktor yang mempengaruhi Kepatuhan pembatasan Kriteria kepatuhan:


kepatuhan: intake asupan cairan Patuh, kurang patuh
1. Faktor predisposisi dan tidak patuh
(pendorong), meliputi :
- kepercayaan
- faktor geografis
- sikap individu
2. Faktor reinforcing
(penguat), meliputi : Pembatasan intake
-- dukungan
dukungan petugas
petugas (berupa
(berupa asupan cairan
dukungan informasi)
dukungan informasi)

- dukungan keluarga
3. Faktor enabling
(pemungkin) :
- fasilitas kesehatan
- prasarana kesehatan yang
lengkap dan mudah
dijangkau
Information support berbasis
telenursing (reminder whatsApp
dan modul)

Keterangan :
: diukur
: tidak diukur

Gambar 3.1 Kerangka konseptual information support berbasis telenursing (reminder


whatsApp dan modul) terhadap kepatuhan pembatasan intake asupan
cairan pada penderita gagal ginjal kronik

Banyak faktor yang berpengaruh di dalam kepatuhan pasien gagal ginjal kronik
Behavior Belief
yang menjalani Manfaat / konsekuensi dari perilaku
Penilaian individu tentang dari hasil perilakunya
hemodialisa dalam Normative Belief
Theory of Planed Motivasi
Behavior Harapan
pembatasan intake Control Belief
Faktor pendukung
asupan cairan dalah Faktor penghambat

satunya adalah dukungan informasi (information support) petugas kesehatan .

Informatian support kepada pasien merupakan salah satu dari intervensi keperawatan.

Informatian support bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang

materi yang berkaitan dengan penyakit, dan membantu pasien untuk mengambil

keputusan terkait dengan masalah kesehatan yang dialami. Informatian support


banyak didasari oleh kebutuhan pasien dan metode pemberian informasi yang

digunakan, yang penekanannya adalah keaktifan pasien terlibat dalam proses

pemberian informasi . Informatian support berbasis telenursing (reminder whatsApp

dan modul) dirasa sangat baik digunakan guna meningkatkan kepatuhan pembatasan

intake asupan cairan pada penderita gagal ginjal kronik.

3.2 Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah :

1. Ada pengaruh information support berbasis telenursing (reminder whatsapp dan

modul) terhadap kepatuhan pembatasan intake asupan cairan pada penderita gagal

ginjal kronik.
BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis dan Rancang Bangun

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan desain

penelitian quasy experiment dengan pendekatan the one group pretest – posttest

design yang berfungsi untuk mencari hubungan sebab akibat antara variabel

independen dengan variabel dependen dalam periode waktu tertentu. Pada penelitian

ini menggunakan simple random sampling peneliti memilih reponden sesuai dengan

kriteria sehingga memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai responden,

hal ini dilakukan untuk meminimalisir faktor resiko. Pada responden diberikan

information support berbasis telenursing (reminder whatsapp dan modul). Hasil yang

didapatkan untuk melihat perubahan tingkat kepatuhan dalam pembatasan intake

asupan cairan penderita gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Islam Surabaya A.Yani.

Hal ini sesuai dengan pendapat (Sastroasmoro & Ismael, 2014) bahwa penelitian

eksperimen bertujuan untuk mengukur efek dari intervensi yang telah diberikan oleh

peneliti. Secara sistematis rancangan penelitian digambarkan pada skema dibawah

ini :

Subyek Efek (O2)


Penelitian
(O1) X

Gambar 4.1 Rancangan Penelitian Pre-Post Test Control Group


Keterangan:

O1 : Penilaian tingkat kepatuhan pembatasan intake asupan cairan


sebelum diberikan information support berbasis telenursing
(reminder whatsapp dan modul)
X : Pemberian intervensi information support berbasis telenursing
(reminder whatsapp dan modul)
O2 : Penilaian tingkat kepatuhan pembatasan intake asupan cairan
sesudah diberikan information support berbasis telenursing
(reminder whatsapp dan modul)
O1 - O2 : Perbedaan tingkat tingkat kepatuhan pembatasan intake asupan
cairan sebelum dan sesudah diberikan intervensi information
support berbasis telenursing (reminder whatsapp dan modul)

4.2 Populasi Penelitian

Populasi merupakan sejumlah besar subjek penelitian yang memiliki

karakteristik tertentu yang disesuaikan dengan ranah dan tujuan penelitian

(Sastroasmoro & Ismael, 2014). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien

gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis di Rumah Sakit Islam

Surabaya A.Yani sejumlah 76 pasien.

4.3 Sampel, Besar Sampel, dan Cara Pengambilan Sampel

4.3.1 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah sebagian besar pasien gagal ginjal kronik

yang menjalani terapi hemodialisis di Rumah Sakit Islam Surabaya A.Yani. Sampel

diambil dengan kriteria - kriteria sebagai berikut :


1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah :

a. Pasien gagal ginjal kronik yang menjalankan hemodialisa di unit hemodialisa

Rumah Sakit Islam Surabaya A.Yani

b. Pasien yang mengalami kenaikan berat badan lebih dari 2 kg

c. Pasien yang mengalami odema

d. Bersedia menjadi responden dan menandatangani informed consent

2. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah :

a. Pasien yang mempunyai gangguan indera pendengaran dan gangguan bicara

b. Pasien yang mengalami komplikasi saat dilakukan hemodialisis

c. Tidak bersedia menjadi responden

4.3.2 Besar Sampel

Sampel penelitian adalah sebagian yang diambil dari seluruh objek yang
diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Dharma, 2011). Jumlah sampel yang
mewakili populasi dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:
N
n =
1 + N.e²

Keterangan :
n : jumlah sampel
N : jumlah populasi
e : batas toleransi kesalahan ( 10 % )

76
n =
1 + 76 x 0,1²

76
n =
1,76

n = 43,18
Jadi jumlah sampel yang akan diambil sebagai responden dibulatkan menjadi 44

orang responden.

4.3.3 Cara Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan tehnik simple

random sampling peneliti memilih reponden sesuai dengan kriteria sehingga memiliki

kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai responden (Nursalam, 2020).

4.4 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Unit Hemodialisa Rumah Sakit Islam Surabaya

A.Yani. Pemilihan tempat penelitian ini dikarena jumlah pasien gagal ginjal kronik

yang menjalani terapi hemodialisa cukup banyak. Penelitian dilaksanakan selama 1

bulan terhitung 01 sampai 30 November 2020.


4.5 Kerangka Kerja Penelitian

Populasi target :
Seluruh pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi
hemodialisa di Rumah Sakit Islam Surabaya sebanyak
76 orang Sampling :
Simple
random
sampling
Sampel :
Sebagian gagal ginjal kronik yang menjalani terapi
hemodialisa di Rumah Sakit Islam Surabaya
sebanyak 44 orang

Informed Concent
Intervensi

Pre test :
Tingkat kepatuhan

Intervensi :
Information support berbasis telenursing (reminder whatsapp
dan modul)

Post test :
Tingkat kepatuhan

Analisis data dan Uji Statistik:


Menggunakan Paired t-test

Penyajian hasil dan pembahasan

Kesimpulan dan saran


Gambar 4.2. Kerangka kerja penelitian

4.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

4.6.1 Variabel Penelitian

Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Variabel bebas (independent variable)

Variabel idependen pada penelitian ini adalah information support berbasis

telenursing (reminder whatsapp dan modul)

2. Variabel terikat (dependent variable)

Variabel dependen pada penelitian ini adalah kepatuhan

4.6.2 Definisi Operasional

Tabel 4.1 Definisi Operasional Penelitian pengaruh information support berbasis


telenursing (reminder whatsapp dan modul) terhadap kepatuhan
pembatasan intake asupan cairan pada penderita gagal ginjal kronik.

Variabel Definisi Operasional Parameter Alat ukur Skala


Information Dukungan berupa 1. Diberikan Nominal
support informasi, nasihat, Information
berbasis bimbingan serta support berbasis
telenursing penghargaan yang telenursing
(reminder diberikan pada penderita (reminder
whatsapp dan gagal ginjal kronik whatsapp dan
modul) menggunakan teknologi modul)
informasi pada aplikasi 2. Tidak diberikan
telepon pintar whatsapp Information
dan modul sebagai alat support berbasis
potensial guna telenursing
meningkatkan kepatuhan (reminder
whatsapp dan
modul)

Kepatuhan kemampuan dari individu Kuesioner 1. Patuh jika nilai Ordinal


pembatasan untuk mengikuti cara Kepatuhan >43
intake asupan sehat yang berkaitan pembatasan 2. Kurang patuh
cairan dengan nasihat dan aturan cairan 21-43
yang ditetapkan serta 3. Tidak patuh
mengikuti jadwal dalam <21
melakukan pembatasan
intake asupan cairan pad
pederita gagal ginjal
kronik
4.7 Instrument Penelitian dan Cara Pengumpulan Data

4.7.1 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian pada penelitian ini menggunakan :

1. Smartphone (aplikasi whatsapp) dan modul

2. Kueisioner kepatuhan

3. Instrumen karakteristik responden

Instrument mengenai data karakteristik responden, yang terdiri dari jenis kelamin,

usia, pendidikan dan pekerjaan.

4.7.2 Kueisioner kepatuhan pada penderita gagal ginjal kronik

Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data secara formal dari subjek

untuk menjaab pertanyaan secara tertulis. Jenis kuesioner yang digunakan adalah

kuesioner tertutup, aitu yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden hanya

tinggal memberikan tanda check-list pada kolom yang tersedia. Kuesioner ini terdiri

dai dua bagian yaitu kuesioner data umum pasien agal ginjal kronik, dan data khusus

berupa kuesioner pernyataan tentang kepatuhan pembatasan cairan dengan

menggunakan skala likert. Kuesioner pembatasan cairan berisi 16 pertanyaan yang

terdiri dari pernyataan favorable berjumlah 7 pertanyaan dan pertanyaan unfavorable

berjumlah 9 pertanyaan. Untuk menghitung pengukuran kepatuhan pembatasan cairan

dimana pasien menjawab selalu diberi skor “4”, sering diberi skor “3”, kadang-

kadang doberi skor “2”, jarang diberi skor “1” dan tidak pernah diberi skor “0”.

Menghitung rentang minimum-maksimumnya adalah 16x0 = 0 sampai dengan 64.


Dengan demikian standar deviasinya bernilai α : 64/6 = 10,6 dan mean teoritisnya

adalah 64 + 0 = 64, jadi 64/2 = 32. Kemudian ditentukan 3 katagori dengan ketentuan

sebagai berikut :

<21 : tidak patuh

21-43 : kurang patuh

>43 : patuh

4.7.2 Cara Pengumpulan Data

Langkah-langkah dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Tahap administrasi

Penelitian dilakukan setelah mendapatkan izin penelitian oleh pembimbing

dan dinyatakan lolos uji etik oleh komite etikpenelitian kesehatan (KEPK)

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Setelah itu peneliti melakukan koordinasi

dengan pihak Rumah Sakit Islam Surabaya A.Yani.

2. Tahap pelaksanaan

Peneliti berdiskusi dengan perawat ruangan untuk memilih pasien sesuai

kriteria inklusi. Setelah itu peneliti menemuai pasien dan keluarga untuk

meperkenalkan diri dan menjelaskan prosedur dan manfaat pemberian information

support berbasis telenursing (reminder whatsapp dan modul). Tahapan dalam

pemgambilan data sebagai berikut :


a. Pasien atau keluarga yang telah dijelaskan dan bersedia untuk berpartisipasi

dalam penelitian maka dilakukan penandatanganan inform consent.

b. Responden diberikan information support berbasis telenursing (reminder

whatsapp dan modul).

c. Setiap responden dilakukan pengukuran tingkat kepatuhan sebelum dan sesudah

diberikan intervensi.

4.8 Pengolahan dan analisis data

4.8.2 Pengolahan data

Pengolahan data yang dilakukan meliputi: memeriksa data (editing), memberi

kode (coding) dan menyusun data (tabulating). Proses editing adalah memeriksa data

yang telah terkumpul kuisioner kuisioner tingkat kepatuhan yang dilakukan dengan

cara melakukan pemeriksaan pada lembar kuisioner dan melakukan koreksi terhadap

kelengkapan kuisioner. Coding adalah pemberian kode yang dilakukan untuk

mempermudah dalam pengolahan data. Misalanya pemberian kode pada penelitian ini

dalah R untuk responden. Tahap tabulating disesuaikan dalam bentuk tabel

berdasarkan variabel - variabel yang diukur.

4.8.3 Analisis Data

1. Analisis deskriptif

Hasil pengambilan data dilakukan analisis deskriptif untuk variabel

karakteristik responden (jenis kelamin,usia pendidikan dan pekerjaan). Variabel

kepatuhan dihitung menggunakan mean, median standar deviasi, rerata dan membuat

distribusi frekuensi berdasarkan variabel (Nursalam, 2017).


2. Analisis

Tujuan penelitian berikutnya adalah melakukan analisis pre dan post test

menggunakan paired t test. Untuk melihat hasil hitung kemaknaan perhitungan

statistik digunakan batas kemaknaan 5% artinya jika p value < 0,05 maka artinya

bermakna yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima yang menyatakan ada pengaruh.

Tetapi jika p value > 0,05 maka hasilnya tidak bermakna H1 ditolak dan H0

diterima yang artinya tidak ada pengaruh (Nursalam, 2017).

4.9 Etik Penelitian

Prinsip etik penelitian dijunjung tinggi untuk menjaga integritas peneliti

dan melindungi responden dari pelanggaran hak asasi manusia. Pada penelitian ini

peneliti menggunakan aspek-aspek etik penelitian: Informed concent (lembar

persetujuan), anonymity (tanpa nama), confidentiality (kerahasiaan), beneficiency

(manfaat), non maleficiency (tidak merugikan), veracity (kejujuran) dan justice

(keadilan) (Nursalam, 2017).

1. Informed concent (lembar persetujuan)

Peneliti menjelaskan maksud serta tujuan penelitian kepada responden.

Setelah responden mengerti maksud serta tujuan penelitian, responden diberikan

Informed concent (lembar persetujuan) baik kelompok intervensi maupun

kelompok kontrol dan selanjutnya meminta tanda tangan apabila mereka bersedia

untuk diteliti.

2. Anonymity (tanpa nama)


Nama respoden tidak dicantumkan didalam lembar pengumpulan data

dengan tujuan untuk menjaga kerahasiaan responden. Namun untuk mengetaui

partisipasi responden, peneliti menggunakan kode pada masing – masing lembar

pengumpulan data.

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Semua informasi yang diperoleh dari responden selama penelitian dijamin

kerahasiaannya oleh peneliti dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.

4. Beneficiency (manfaat)

Penelitian tentang pemberian psikoedukasi (berbasis social cognitive

theory) ini akan sangat memberi manfaat dalam menurukan tingkat depresi,

meningkatkan self efficacy dan mengontrol tekanan darah pasien dengan stroke

iskemik.

5. Non maleficiency (tidak merugikan)

Penelitian tentang pemberian psikoedukasi (berbasis social cognitive

theory) berpedoman pada prinsip minimum risk (resiko rendah) sehingga secara

minimal menimbulkan masalah pada responden.

6. Veracity (kejujuran)

Responden diminta untuk menjawab pertanyaan dengan jujur dan hasil

yang didapatkan selama pengumpulan data merupakan hasil yang sesuai dengan

kenyataan.

7. Justice (keadilan)

Responden harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama dan

sesudah keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya deskriminasi.


Referensi:

A.Sukrillah, Ratnamulyani, A., & Kusumadinata. (2017). Pemanfaatan Media Sosial


Melalui Whatsapp Group Fei Sebagai Sarana Komunikasi. Jurnal Komunikatio
Volume 3 Nomor 2, 2(2), 32. https://doi.org/10.24036/ld.v2i2.3525
Afnibar, & N, D. F. (2020). PEMANFAATAN WHATSAPP SEBAGAI MEDIA
KOMUNIKASI KEGIATAN BELAJAR ( Studi terhadap Mahasiswa UIN
Imam Bonjol Padang ). Jurnal Komunikasi Dan Penyiaran Islam, 11, 70–83.
Anita, D. C., & Novitasari, D. (2017). Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan
Terhadap Lama Menjalani Hemodialisa. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(1),
104–112.
Ariyanto, A., Hadisaputro, S., Lestariningsih, L., & Adi, M. S. (2018). Beberapa
Faktor Risiko Kejadian Penyakit Ginjal Kronik (PGK) Stadium V pada
Kelompok Usia Kurang dari 50 Tahun (Studi di RSUD dr.H.Soewondo Kendal
dan RSUD dr.Adhyatma,MPH Semarang). Jurnal Epidemiologi Kesehatan
Komunitas, 3(1), 1. https://doi.org/10.14710/jekk.v3i1.3099
Asnaningsih, A. (2019). Pengaruh family social support Terhadap Mekanisme
Koping Dan Stres Pada Penderita Pasca Stroke. Masters Thesis, University of
Nahdlatul Ulama Surabaya.
Asyrofi, A., & Arisdiani, T. (2020). Status energi fungsi fisik dan kualitas tidur
pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Jurnal Keperawatan,
12(2), 153–160.
Baron, R. A., & Hmieleski, K. M. (2018). Essentials of Entrepreneurship: Changing
the World, One Idea at a Time (Second Edition). Northampton. Edward Elgar
Publishing.
Dadgari, F., Hoseini, S., Aliyari, S., & Masoudi, S. (2017). The effect of sustained
nursing consulting via telephone (Tele Nursing) on the quality of life in
hypertensive patients. Applied Nursing Research, 35, 106–111.
https://doi.org/10.1016/j.apnr.2017.02.023
Franciska, M., & Boro, V. (2020). Implementasi Telenursing Dalam Praktik
Keperawatan : Studi Literatur. Carolus Journal of Nursing, 2(2), 162–166.
http://ejournal.stik-sintcarolus.ac.id/index.php/CJON/article/view/40/33
Haksara, E., & Rahmanti, A. (2020). Inovasi Nursing Dialysis Development (NDD)
terhadap peningkatan kualitas hidup pasien dialisis. The 1st Widya Husada
Nursing Conference (1st WHNC), 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Hidayanti, E., Hikmah, S., Wihartati, W., & Handayani, M. R. (2016). Kontribusi
Konseling Islam Dalam Mewujudkan Palliative Care Bagi Pasien Hiv/Aids Di
Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Religia, 19(1), 113.
https://doi.org/10.28918/religia.v19i1.662
Hidayat Alimul Aziz. (2011). Buku Panduan Kebutuhan Dasar Manusia. EGC.
Johariyah, A., & Mariati, T. (2018). Efektivitas Penyuluhan Kesehatan Reproduksi
Remaja Dengan Pemberian Modul Terhadap Perubahan Pengetahuan Remaja.
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo, 4(1), 38.
https://doi.org/10.29241/jmk.v4i1.100
Kartikawati, S., & Pratama, H. (2017). Pengaruh Penggunaan WhatsApp Messenger
Sebagai Mobile Learning Terintegrasi Metode Group Investigation Terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis. Jupiter (Jurnal Pendidikan Teknik Elektro), 2(2),
33. https://doi.org/10.25273/jupiter.v2i2.1797
Kozier, B. (2011). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, & Praktik
Volume 2. EGC.
Kuntjoro. (2009). Peran Dukungan Keluarga pada Penanganan Penderita
Skizofrenia. (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Lestari, W., Asyrofi, A., & Prasetya, H. A. (2018). Manajemen Cairan Pada Pasien
Penyakit Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisis. Jurnal.Akper-Whs.Ac.Id,
2(2), 20–29. https://doi.org/10.33655/mak.v2i2.36
Lilia, I. H., & Supadmi, W. (2019). Faktor Risiko Gagal Ginjal Kronik Pada Unit
Hemodialisis Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta. Majalah Farmasetika.,
4(Suppl 1), 60–65. https://doi.org/10.24198/mfarmasetika.v4i0.25860
Listiana, D. (2020). Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat
Kecemasan Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisa. Jurnal Keperawatan
Muhammadiyah Bengkulu, 08(April), 34–42.
Mahyuvi, T. (2020). Evidence-Based Practice : Pentingnya Health Education Dalam
Meningkatkan Kepatuhan Pembatasan Intake Asupan Cairan Pada Penderita
Gagal Ginjal Kronik. Lembaga Mutiara Hidup Indonesia.
Muttaqin, A., & Sari, K. (2014). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Salemba Medika.
Nadi, H. I. K., Kurniawati, N. D., & Maryanti, H. (2015). Dukungan Sosial Dan
Motivasi Berhubungan Dengan Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan Pada
Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis. Jurnal
Universitas Airlangga, 3(2), 1–7.
Nissenson, A., & Fine, R. (2016). Handbook of Dialysis Therapy 5th Edition.
Elsevier.
Nuari, N. A., & Widayati, D. (2017). Gangguan pada system perkemihan &
penatalaksanaan keperawatan. CV. Budi Utama.
Nur, Y. M., Johan, T., & Hermaini, L. (2020a). Pengetahuan Dan Dukungan
Keluarga Terhadap Kepatuhan Diet Pasien Gagal Ginjal Kronik. Journal of
Public Health, 01(01), 24–33.
Nur, Y. M., Johan, T., & Hermaini, L. (2020b). Pengetahuan Dan Dukungan
Keluarga Terhadap Kepatuhan Diet Pasien Gagal Ginjal Kronik. EPIDEMICA
(Journal of Public Health), 01, 24–33.
Nursalam, N., Kurniawati, N. D., Putri, I. R. P., & Priyantini, D. (2020). Automatic
reminder for fluids management on confidence and compliance with fluid
restrictions in hemodialysis patients. Systematic Reviews in Pharmacy, 11(5),
226–233. https://doi.org/10.31838/srp.2020.5.34
PAPDI. (2014). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Edisi VI). Internal Publishing.
Patimah, I. (2019). Telenursing outcome for management chronical illness. 3(1),
260–262.
Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P., & Hall, A. (2014). Fundamental
Keperawatan Edisi 7. Salemba Medika
Pratama, W. W., Nurhest, P. O. Y., & Sulistiowati, M. D. (2019). Pengaruh
Telenursing Terhadap Perawatan Diri Pasien Dengan Penyakit Kronis.
Community of Publishing in Nursing (COPING), 7(2), 87–94.
https://ojs.unud.ac.id/index.php/coping/article/view/53714
Purnomo, M. W., Yusuf, A., & Kartini, Y. (2018). Pengaruh Edukasi Kesehatan
Berbasis Theory Of Planned Behavior Terhadap Penurunan Nilai Interdialiytic
Weight Gain (IDWG) Dan Kecemasan Pasien Hemodialisa Di Rs Islam
Jemursari Surabaya. Proceedings of CSW Candle.
R., A., R, N., R., A., V., B., & Naveen, S. M. (2017). Telehealth and telenursing –
Progression in healthcare practice. Research Journal of Pharmacy and
Technology. https://doi.org/https://doi.org/10.5958/0974-360X.2017.00495.4
Rahartri. (2019). “Whatsapp” Media Komunikasi Efektif Masa Kini (Studi Kasus
Pada Layanan Jasa Informasi Ilmiah di Kawasan PUSPIPTEK). Visi Pustaka,
21(2), 147–156. https://doi.org/https://www.google.com/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=https://ejournal.perpusnas.go.id/vp/article/downlo
ad/552/pdf&ved=2ahUKEwiN-
4qy7I3qAhXVT30KHYwcB_84ChAWMAh6BAgAEAE&usg=AOvVaw0pDng
ziXQY2CH474N74V5p
Rahmawati, F. (2018). Aspek Laboratorium Gagal Ginjal Kronik. Jurnal Ilmiah
Kedokteran Wijaya Kusuma, 6(1), 14. https://doi.org/10.30742/jikw.v6i1.323
Riskesdas. (2018). Riset kesehatan dasar. Badan penelitian dan pengembangan
kesehatan. Kementrian kesehatan RI.
Roswati. (2013). Pruritus Pada Pasien Hemodialisis.
Shahrokhi, A., Azimian, J., Amouzegar, A., & Oveisi, S. (2018). Effect of telenursing
on outcomes of provided care by caregivers of patients with head trauma after
discharge. Journal of Trauma Nursing, 25(1), 21–25.
https://doi.org/10.1097/JTN.0000000000000338
Silva, L., Telini, R., Carvalho, G. De, Luis, C., & Martin, C. (2013). Effect of dietary
sodium restriction on body water , blood pressure , and inflammation in
hemodialysis patients : a prospective randomized controlled study. Nephrology,
123. https://doi.org/10.1007/s11255-013-0382-6
Simbolon, N., & Simbolon, P. (2019). Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan
Pasien PGK Menjalani Hemodialisa di Unit Rawat Hemodialisa Rumah Sakit
Santa Elisabeth Medan. Journal of Midwifery and Nursing, 1(2), 7–14.
Smeltzer, S. C. O., & Bare, B. G. (2014). Keperawatan Medikal Bedah Brunner and
Suddarth’s. EGC.
Soripet, M., & Iryani, D. (2019). Pengaruh Penggunaan Modul Terhadap Kepatuhan
Konsumsi Tablet Zat Besi Dan Pengetahuan Pada Ibu Hamil Anemia Di
Puskesmas Sanggeng Kabupaten Manokwari Tahun 2019. Nursing Arts, 13(2),
98–108. https://doi.org/10.36741/jna.v13i2.94
Souza-Junior, V. D., Mendes, I. A. C., Mazzo, A., & Godoy, S. (2016). Application
of telenursing in nursing practice: An integrative literature review. Applied
Nursing Research, 29, 254–260. https://doi.org/10.1016/j.apnr.2015.05.005
Sulastri, Nursalam, & Astuti, P. (2018). The Effect Of Self Care Education Based On
Patient Nursing Interactions On Diet Compliance In Chronic Kidney Disease
Patients. Journal.Stikespemkabjombang.Ac.Id, 77–82.
Susanto, Y., Lailani, F., Alfian, R., Rianto, L., Febrianti, D. R., Aryzki, S.,
Prihandiwati, E., & Khairunnisa, N. S. (2019). Pemanfaatan Media Sosial Untuk
Meningkatkan Kepatuhan Minum Obat Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan Di
Rsud Ulin Banjarmasin. Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Tati, Jubaedah, Y., & Yusup, A. K. (2019). Pengembangan Modul Perawatan
Kesehatan Mental Berbasis Home Care. JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga
Dan Pendidikan), 6(01), 9–15. https://doi.org/10.21009/jkkp.061.02
Trisnani. (2017). Pemanfaatan Whatsapp Sebagai Media Komunikasi Dan Kepuasan
Dalam Penyampaian Pesan Dikalangan Tokoh Masyarakat. Jurnal Komunikasi
Media Dan Informatika, 6(3), 1–12.
Tyas, A., Miro, S., & Asyari, A. (2020). Gambaran Kejadian Perdarahan Saluran
Cerna pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Jurnal Kesehatan Andalas, 9(1S), 8–15. https://doi.org/10.25077/jka.v9i1s.1149
Wahyuni, A., Kartika, I. R., Asrul, I. F., & Gusti, E. (2019). Korelasi Lama
Hemodialisa Dengan Fungsi Kognitif. REAL in Nursing Journal (RNJ), 1(1), 1–
8. https://ojs.fdk.ac.id/index.php/Nursing/index
Watkins, S., & Neubrander, J. (2020). Primary-care registered nurse telehealth policy
implications. Journal of Telemedicine and Telecare.
https://doi.org/10.1177/1357633X20940142
Widiani, H. (2020). Penyakit ginjal kronik stadium V akibat nefrolitiasis. Intisari
Sains Medis, 11(1), 160–164. https://doi.org/10.15562/ism.v11i1.680
Widiany, F. L. (2017). Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan diet pasien
hemodialisis. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 14(2), 72–79.
Wijaya, A. K., Busjra, B., & Azzam, R. (2018). Pengaruh Edukasi Pendekatan
Spiritual Berbasis Video terhadap Kepatuhan Pembatasan Cairan Klien ESRD
yang Menjalani Hemodialisa. Jurnal Keperawatan Silampari, 1(2), 17–31.
https://doi.org/10.31539/jks.v1i2.97
Wiliyanarti, P. F., & Muhith, A. (2019). Life Experience of Chronic Kidney Diseases
Undergoing Hemodialysis Therapy. NurseLine Journal, 4(1), 54.
https://doi.org/10.19184/nlj.v4i1.9701
Wulan, S. N., & Emaliyawati, E. (2018). Kepatuhan Pembatasan Cairan dan Diet
Rendah Garam (Natrium) pada Pasien GGK yang Menjalani Hemodialisa.
Faletehan Health Journal, 5(3), 99–106. https://doi.org/10.33746/fhj.v5i3.15
Yusmita, M., Larisu, Z., & Saidin. (2014). Pemanfaatan WhatsApp Messenger
Sebagai Media Komunikasi Antar Pribadi Mahasiswa Ilmu Komunikasi. 1–12.
Zasra, R., Harun, H., & Azmi, S. (2018). Indikasi dan Persiapan Hemodialis Pada
Penyakit Ginjal Kronis. Jurnal Kesehatan Andalas, 7(Supplement 2), 183.
https://doi.org/10.25077/jka.v7i0.847