Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH KEPERAWATAN KEUARGA

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TAHAP CHILD


BEARING FAMILY

OLEH :
KELOMPOK 2

1. Siswantoro (1130119004)
2. Ayu Syafitri Rosalinda (1130119019)

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN ALIH JENJANG


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2020-2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya
yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“Asuhan Keperawatan Keluarga Tahap Child Bearing Family”.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian makalah ini baik moril maupun materil.
Untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar–besarnya
dengan hati yang tulus kepada dosen pengajar yang telah mengajarkan materi
keperawatan keluarga tentang asuhan keperawatan keluarga tahap child bearing
family. Serta teman-teman yang telah membantu dalam menyelesaikan
penyusunan makalah ini.

Surabaya, 13 November 2020

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................2
DAFTAR ISI...........................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................4
A. Latar Belakang..............................................................................................4
B. Rumusan Masalah.........................................................................................4
C. Tujuan...........................................................................................................5
BAB II TIJAUAN PUSTAKA..............................................................................6
A. Definisi..........................................................................................................6
B. Tipe Keluraga................................................................................................7
C. Struktur Keluarga..........................................................................................8
D. Prinsi-Prinsip Perawatan Keluarga...............................................................9
E. Perkembangan Keluraga Child Bearing......................................................10
F. Tugas Perkembangan Child Bearing...........................................................11
G. Masalah Yang Sering Muncul Pada Keluarga Child Bearing.....................11
H. Perubahan Ibu Pada Periode Child Bearing................................................12
I. Asuhan Keperawatan Keluarga...................................................................15
BAB III PENUTUP..............................................................................................18
A. Kesimpulan.................................................................................................18
B. Saran............................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................19
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Periode childbearing adalah waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu dan
seluruh keluarga. Orang tua dan saudara sekandung harus beradaptasi terhadap
perubahan struktur karena adanya anggota baru dalam keluarga, yaitu bayi.
Dengan kehadiran bayi maka sistem dalam keluarga akan berubah dan pola
interaksi dalam keluarga harus dikembangkan.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami, istri,
dan anaknya, atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya.
Pada periode transisi, keluarga membutuhkan adaptasi yang cepat, sehingga
kondisi ini menempatkan keluarga menjadi sangat rentan dan mereka
memerlukan bantuan untuk beradaptasi dengan peran yang baru. Stress dari
berbagai sumber dapat berefek negatif pada fungsi dan interaksi ibu dengan
bayi dan keluarga, yang berdampak pada kesehatan fisik ibu dan bayi.
Dalam masa ini, peran perawat sangat dibutuhkan. Perawat dapat berperan
sebagai fasilitator proses adaptasi dalam fase perkembangan keluarga pada
masa childbearing agar keluarga mampu beradaptasi secara positif dengan
peran barunya.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi keluarga dan child bearing?
2. Apa sajakah tipe keluarga?
3. Apa saja struktur keluarga?
4. Apakah prinsip-prinsip perawatan keluarga?
5. Bagaimanakah perkembangan keluarag child bearing?
6. Apa sajakah tugas perkembangan child bearing?
7. Apa saja masalah yang sering muncul pada keluarga child bearing?
8. Apakah perubahan ibu pada periode child bearing?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari keluarga dan child bearing.
2. Untuk mengetahui tipe keluarga.
3. Untuk mengetahui struktur keluarga.
4. Untuk mengetahui prinsip-prinsip perawatan kleuarga.
5. Untuk mengetahui perkembang keluarga chil bearing.
6. Untuk mengetahui tahap perkembangan child bearing.
7. Untuk mengetahui masalah yang sering muncul pada keluarga child
bearing.
8. Untuk mengetahui perubahan ibu pada peroide child bearing.
BAB II
TIJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
a. Keluarga
Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui
pertalian darah, adopsi atau perkawinan.
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena
hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka
hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam
peranya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.
Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari
kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu
tempat dibawah auatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
b. Child Bearing
Periode childbearing adalah waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu
dan seluruh keluarga. Orang tua dan saudara sekandung harus beradaptasi
terhadap perubahan struktur karena adanya anggota baru dalam keluarga,
yaitu bayi.
Dengan kehadiran bayi maka sistem dalam keluarga akan berubah dan
pola interaksi dalam keluarga harus dikembangkan.
Pada periode transisi, ibu membutuhkan adaptasi yang cepat, sehingga
kondisi ini menempatkan ibu menjadi sangat rentan dan mereka
memerlukan bantuan untuk beradaptasi dengan peran yang baru. Stres dari
berbagai sumber dapat berefek negatif pada fungsi dan interaksi ibu dengan
bayi dan keluarga, yang berdampak pada kesehatan fisik ibu dan bayi.
Memahami bagaimana ibu yang beradaptasi dengan perubahan
fisiologik, konsep diri, fungsi peran, dan fungsi interdependen untuk
menjadi orang tua sangat penting bagi perawat, dimana perawat dalam hal
ini dituntut mampu membantu dan memfasilitasi proses adaptasi yang
terjadi agar ibu dapat beradaptasi dengan secara positif dengan peran
barunya. Untuk itu diperlukan kemampuan perawat dalam melakukan
asuhan keperawatan ibu dalam masa perinatal.

B. Tipe Keluraga
1. Tradisional Nuclear
Keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang tinggal dalam satu
rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan,
satu atau kedduanya dapat bekerja diluar rumah.
2. Extended Family
Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek,
kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan lain sebagainya.
3. Reconstituted Nuclear
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami
atau istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya,
baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru.
Satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah.
4. Niddle Age/Aging Couple
Suami sebagai pencari uang, istridi rumah atau kedua-duanya bekerja di
rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/
perkawinan/ meniti karir.
5. Dyadic nuclear
Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak, keduanya
atau salah satu bekerja diluar rumah.
6. Single Parent
Satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian pasanganya dan
anak-anaknya dapat tinggal dirumah atau diluar rumah.
7. Dual cariier
Suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak
8. Commuter married
Suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak
tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
9. Single adult
Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya
keinginan untuk kawin.
10. Three Generation
Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah
11. Institusional
Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalamm suatu panti-panti.
12. Communal
Satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogamy dengan
anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
13. Group Marriage
Satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunanya didalam satu
kesatuan keluarga dan tiiap individu menikah dengan yang lain dan semua
adalah orang tua dari anak-anak.
14. Unmarried parent and Child
Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anak diadopsi.
15. Cohibing Couple
Dua orang atau pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.

C. Struktur Keluarga
a) Macam
Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah:
1) Patrilinear
Patrilinear adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak keluarga
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui
jalur garis ayah.
2) Matrilinear
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dari
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalir garis ibu.
3) Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
istri.
4) Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami.
5) Keluarga kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar pembinaan keluarga, dan
beberapa sanak saudara menjadi bagian keluarga karena adanya
hubungan dengan suami istri.
b) Ciri-Ciri Struktur Keluarga
a. Terorganisasi
Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga.
b. Ada keterbatasan
Setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai
keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.
c. Ada perbedaan dan kekhususan
Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-
masing.

D. Prinsi-Prinsip Perawatan Keluarga


a) Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan.
b) Dalam memberikan asuhan perawatan kesehatan keluarga, sehat sebagai
tujuan utama.
c) Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai
peningkatan kesehatan keluarga.
d) Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, perawat
melibatkan peran serta keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya.
e) Lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat promotif dan
preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitative.
f) Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga memanfaatkan
sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan kesehatan
keluarga.
g) Sasaran asuhan perawatan kesehatan keluarga adalah keluarga secara
keseluruhan.
h) Pendekatan yang digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan
kesehatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan
menggunakan proses.
i) Kegiatan utama dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga
adalah penyuluhan kesehatan dan asuhan perawatan kesehatan
dasar/perawatan di rumah.
j) Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk resiko tinggi.

E. Perkembangan Keluraga Child Bearing


Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama) adalah Keluarga yang
menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama
dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan :
1. Persiapan menjadi orang tua
Terjadi waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu serta ayah dan seluruh
anggota keluarga, dalam hal ini orang tua, saudara atau anggota keluarga
lainnya harus dapat beradaptasi terhadap perubahan stuktur karena adanya
anggota keluarga baru yaitu bayi, dengan kehadiran seorang bayi maka
sistem dalam keluarga akan berubah serta pola pikir keluarga harus
dikembangkan.
2. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
sexual dan kegiatan keluarga
Dalam hal ini peran orang tua dapat dimulai selagi kehamilan membesar
dan semakin kuat saat bayi dilahirkan. Pada periode awal orang tua harus
mengenali hubungan mereka dengan anak. periode berikutnya orang tua
dapat mencerminkan suatu waktu untuk bersama-sama membangun
kesatuan keluarga, periode waktu berkonsolidasi ini meliputi peran
negosiasi (suami istri, ibu-ayah,orang tua-anak,saudara-saudara) untuk
menetapkan komitmen . perode yang berlangsung akan membutuhkan
waktu.
Dalam hal ini ikatan diperkuat melalui penggunaan respons seksual atau
kemampuan oleh kedua pasangan dalam melakukan interaksi orangtua-anak.
Respon sensual dan kemampuan yang dipakai dalam komunikasi antara
orangtua dan anak meliputi :
a) Sentuhan Sentuhan atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh
orangtua sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi yang baru lahir.
Banyak ibu yang ingin meraih anaknya yang baru lahir dan tali pusatnya
dipotong, mereka mengangkat bayi ke dada, merangkulnya kedalam
pelukan. Begitu anak dekat dengan ibunya maka anak akan mulai proses
ekspoli.
b) Kontak Mata.
c) Suara.
d) Aroma.
3. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan

F. Tugas Perkembangan Child Bearing


1) Adaptasi perubahan anggota keluarga (peran, interaksi, seksual dan
kegiatan).
2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
3) Membagi peran dan tanggung jawab.
4) Bimbingan orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
5) Konseling KB post partum 6 minggu.
6) Menata ruang untuk anak.
7) Biaya/dana child bearing.
8) Mengfasilitasi role learning anggota keluarga.

G. Masalah Yang Sering Muncul Pada Keluarga Child Bearing


a) Hubungan seksual dan sosial terganggu
Hubungan seksual antar pasangan umumnya menurun selama masa
kehamilan dan selama enam minggu periode pascapartum. Kesulitan seksual
selama periode pascapartum biasa terjadi, muncul akibat faktor peran baru
yang dijalankan oleh Ibu, akibat kelelahan dan merasa kehilangan
ketertarikan seksual sementara suami merasa “ditinggalkan atau
disingkirkan”.
b) Suami merasa diabaikan
Sebagian besar ayah secara tradisonal tidak diikutsertakan dalam proses
perinatal sehingga tentu saja hal ini membuat pria terlambat dalam
melaksanakan perubahan peran penting sehingga menghindari keterlibatan
emosional mereka.
c) Peningaktan perselisihan
Pola komunikasi pernikahan yang baru, berkembang dengan hadirnya
seorang anak, pasangan suami istri dalam berhubungan satu sama lain
memperlakukan pasangannya sebagai pasangan hidup dan sebagai orang
tua. Pola transaksional pasangan terbukti berubah secara drastis. Feldman
(1961) mengobservasi bahwa orang tua bayi sedikit berbicara satu sama lain
dan sedikit memiliki kesenangan, kurang mnestimulsi percakapan dan
menurunnya kualitas interaksi pernikahan mereka. Beberapa orang tua
merasa kewalahan dengan bertambahnya tanggung jawab, terutama pada
keluarga yang suami dan istrinya bekeja penuh waktu.

H. Perubahan Ibu Pada Periode Child Bearing


Masa nifas adalah masa setelah melahirkan hingga pulihnya rahim dan
organ kewanitaan yang umumnya diiringi dengan keluarnya darah nifas,
berlangsung selama kurang lebih 6 pekan.
Pada masa nifas ini ibu akan mendapati beberapa perubahan pada tubuh
maupun emosi. Bagi yang belum mengetahui hal ini tentu akan merasa
khawatir akan perubahan yang terjadi, oleh sebab itu penting bagi ibu
memahami apa saja perubahan yang terjadi agar dapat menangani dan
mengenali tanda bahaya secara dini.
a) Rahim
Setelah melahirkan rahim akan berkontraksi (gerakan meremas) untuk
merapatkan dinding rahim sehingga tidak terjadi perdarahan, kontraksi
inilah yang menimbulkan rasa mulas pada perut ibu. Berangsur angsur
rahim akan mengecil seperti sebelum hamil, sesaat setelah melahirkan
normalnya rahim teraba keras setinggi 2 jari dibawah pusar, 2 pekan setelah
melahirkan rahim sudah tak teraba, 6 pekan akan pulih seperti semula. Akan
tetapi biasanya perut ibu masih terlihat buncit dan muncul garis-garis putih
atau coklat berkelok, hal ini dikarenakan peregangan kulit perut yang
berlebihan selama hamil, sehingga perlu waktu untuk memulihkannya,
senam nifas akan sangat membantu mengencangkan kembali otot perut.
b) Jalan lahir (servik, vulva dan vagina)
Jalan lahir mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar
selama proses melahirkan bayi, sehingga penyebabkan mengendurnya organ
ini bahkan robekan yang memerlukan penjahitan, namun insyaalloh akan
pulih setelah 2-3 pekan (tergantung elastis tidak atau seberapa sering
melahirkan), walaupun tetap lebih kendur dibanding sebelum melahirkan.
Jaga kebersihan daerah kewanitaan agar tidak timbul infeksi (tanda infeksi
jalan lahir bau busuk, rasa perih, panas, merah dan terdapat nanah).
c) Darah nifas (Lochea)
Darah nifas hingga hari ke dua terdiri dari darah segar bercampur sisa
ketuban, berikutnya berupa darah dan lendir, setelah satu pekan darah
berangsur-angsur berubah menjadi berwarna kuning kecoklatan lalu lendir
keruh sampai keluar cairan bening di akhir masa nifas. Darah nifas yang
berbau sangat amis atau busuk dapat menjadi salah satu petunjuk adanya
infeksi dalam rahim.
d) Payudara
Payudara menjadi besar, keras dan menghitam di sekitar puting susu, ini
menandakan dimulainya proses menyusui. Segera menyusui bayi sesaat
setelah lahir (walaupun ASI belum keluar) dapat mencegah perdarahan dan
merangsang produksi ASI. Pada hari ke 2 hingga ke 3 akan diproduksi
kolostrum atau susu jolong yaitu ASI berwarna kuning keruh yang kaya
akan anti body, dan protein, sebagian ibu membuangnya karena dianggap
kotor, sebaliknya justru ASI ini sangat bagus untuk bayi.
e) Sistem perkemihan
Hari pertama biasanya ibu mengalami kesulitan buang air kecil, selain
khawatir nyeri jahitan juga karena penyempitan saluran kencing akibat
penekanan kepala bayi saat proses melahirkan. Namun usahakan tetap
kencing secara teratur, buang rasa takut dan khawatir, karena kandung
kencing yang terlalu penuh dapat menghambat kontraksi rahim yang
berakibat terjadi perdarahan.
f) Sistem pencernaan
Perubahan kadar hormon dan gerak tubuh yang kurang menyebabkan
menurunnya fungsi usus, sehingga ibu tidak merasa ingin atau sulit BAB
(buang air besar). Terkadang muncul wasir atau ambein pada ibu setelah
melahirkan, ini kemungkinan karena kesalahan cara mengejan saat bersalin
juga karena sembelit berkepanjangan sebelum dan setelah melahirkan.
Dengan memperbanyak asupan serat (buah-sayur) dan senam nifas
insyaalloh akan mengurangi bahkan menghilangkan keluhan ambein ini.
g) Peredaran darah
Sel darah putih akan meningkat dan sel darah merah serta hemoglobin
(keeping darah) akan berkurang, ini akan normal kembali setelah 1 minggu.
Tekanan dan jumlah darah ke jantung akan lebih tinggi dan kembali normal
hingga 2 pekan.
h) Penurunan berat badan
Setelah melahirkan ibu akan kehilangan 5-6 kg berat badannya yang
berasal dari bayi, ari-ari, air ketuban dan perdarahan persalinan, 2-3 kg lagi
melalui air kencing sebagai usaha tubuh untuk mengeluarkan timbunan
cairan waktu hamil. Rata-rata ibu kembali ke berat idealnya setelah 6 bulan,
walaupun sebagian besar tetap akan lebih berat daripada sebelumnya.
i) Suhu badan
Suhu badan setelah melahirkan biasanya agak meningkat dan setelah 12
jam akan kembali normal. Waspadai jika sampai terjadi panas tinggi, karena
dikhawatirkan sebagai salah satu tanda infeksi atau tanda bahaya lain.
j) Perubahan emosi
Emosi yang berubah-ubah (mudah sedih, khawatir, tiba-tiba bahagia)
disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adanya perubahan hormon,
keletihan ibu, kurangnya perhatian keluarga, kurangnya pengetahuan akan
cara merawat bayi serta konflik dalam rumah tangga. Perubahan ini
memiliki berbagai bentuk dan variasi dan akan berangsur-angsur normal
sampai pada pekan ke 12 setelah melahirkan. Yang perlu diingat, masa nifas
bukan berarti ibu terlepas sama sekali dari nilai-nilai ibadah, dzikir adalah
salah satu ibadah lisan dan hati yang cukup efektif untuk membuat ibu
merasa tenang, sabar dan tegar menjalani masa nifas ini. Perbanyaklah
berdoa kepada Alloh agar dimudahkan dan diberi pahala atas kesabaran
serta jerih payah ibu dalam merawat sang buah hati.

I. Asuhan Keperawatan Keluarga


1. Pengkajian
a. Identitas klien
b. Riwayat keluarga
a) Riwayat kesehatan dahulu
Apakah ada kebiasaan berenang, apakah penah menderita gangguan
pendengaran (kapan, berapa lama, pengobatan apa yang dilakukan,
bagaimana kebiasaan membersihkan telinga, keadaan lingkungan,
daerah industri, daerah polusi), apakah ruwayat pada anggota
keluarga.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Kaji kesehatan yang dirasakan klien pada saat anamnesa, seperti
penjabaran dari riwayat adanya kelainan nyeri yang dirasakan.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Kaji ada tidaknya keluarga yang mengalami penyakit yang sama. Ada
atau tidaknya riwayat saluran nafas atas yang berulang dan riwayat
alergi pada keluarga.
c. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umu klien
Lakukan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi dari kepala (mata,
hidung, telinga, leher, dada, jantung, perut, genetalia dan ekstremitas).
2. Kaji nutrisi, eliminasi, aktivitas dan perawatan diri
d. Pemeriksaan diagnostik
1) Tes audiometri.
2) X-ray.
3) Tes berbisik.
4) Tes garpu tala.
2. Diagnosa Keperawatan dan Fokus Intervensi
a. Perilaku kesehatan cenderung beresiko
a) Keluarga mampu mengenal masalah. Mengembangkan materi
pendidikan yang sesuai tingkat pengetahuan keluarga.
b) Keluarga mampu mengambil keputusan, sesuai dengan informasi yang
diperoleh.
c) Keluarga mampu merawat anggota yang sakit, meningkatkan istirahat
dan perawatan yang baik.
d) Keluarga mampu memodifikasi lingkungan. Menentukan sumber daya
keuangan, menentukan status pendidikan, merencanakan kegiatan
pencegahan resiko.
e) Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan. Menentukan
apakah klien dan keluarga mempunyai pengetahuan mengenai kondisi
kesehatan.
b. Ketidakefektifan manajemen kesehatan
1) Keluarga mampu mengenal masalah. Beri pengertian keluarga resio
penyakit.
2) Keluarga mampu mengambil keputusan.
3) Keluarga mampu merawat anggota yang sakit, beri pendidikan
kesehatan mengenai penyakit dan penyebabnya.
4) Keluarga mampu memodifikasi lingkungan. Ciptakan lingkungan
yang bersih dan bebas dari bakteri pencetus.
5) Keluarga mmpu memanfaatkan fasilitas kesehatan. Menentukan
apakah keluarga sudah memahami tentang kesehatan dan keluarga
memanfaatkan kesehatan.
3. Implementasi
Implementasi atau pelaksaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelakasaan dimulai setelah rencana
tindakan disusun dan ditunjukkan pada Nursing Order untuk membantu
klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, rencana tindakan
yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi masalah kesehatan klien. Implementasi pada asuhan
keperawatan keluarga harus didasarkan dari 5 fungsi keperawatan keluarga
(Nursalam, 2008).
4. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,
rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai (Nursalam,
2008).
Hasil evaluasi dapat dibentuk :
1. Tujuan tercapai, jika keluarga menunjukkan perubahan sesuai dengan
standar fungsi pemeliharaan keluarga yang ditetapkan.
2. Tujuan tercapai sebagian, jika keluarga menunjukkan perubahan
sebagian dari standar fungsi pemelihraan keluarga yang ditetapkan.
3. Tujuan tidak tercapai, jika keluarga tidak menunjukkan perubahan sama
sekali bahkan timbul msalah baru.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Periode childbearing adalah waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu dan
seluruh keluarga. Orang tua dan saudara sekandung harus beradaptasi terhadap
perubahan struktur karena adanya anggota baru dalam keluarga, yaitu bayi.
Dengan kehadiran bayi maka sistem dalam keluarga akan berubah dan pola
interaksi dalam keluarga harus dikembangkan.
Pada periode transisi, keluarga membutuhkan adaptasi yang cepat, sehingga
kondisi ini menempatkan keluarga menjadi sangat rentan dan mereka
memerlukan bantuan untuk beradaptasi dengan peran yang baru. Stress dari
berbagai sumber dapat berefek negatif pada fungsi dan interaksi ibu dengan
bayi dan keluarga, yang berdampak pada kesehatan fisik ibu dan bayi.
Dalam masa ini, peran perawat sangat dibutuhkan. Perawat dapat berperan
sebagai fasilitator proses adaptasi dalam fase perkembangan keluarga pada
masa childbearing agar keluarga mampu beradaptasi secara positif dengan
peran barunya.

B. Saran
Semoga makalah ini dapat membantu mahasiwa dalam memahami tentang
asuhan keperawatan keluarga pada tahap child bearing yang terdapat dalam
keperawatan komunitas. Dan semoga penulis selanjutnya dapat melengkapi
makalah ini. Terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA

Nursalam. 2008. Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

https://febrisendaljepit.wordpress.com/2012/10/09/konsep-keluarga-dalam-
periode-child-bearing/ diakses pada tanggal 13 November pukul 19.23 WIB

http://ners-novriadi.blogspot.com/2013/04/asuhan-keperawatan-keluarga-
dengan.html diakses pada tanggal 13 November 2020 pukul 20.00 WIB

http://asuhankeperawatanonline.blogspot.com/2012/09/konsep-keluarga-
childbearing.html#:~:text=Menurut%20Spradley%20tugas%20perkembangan
%20keluarga,persalinan%20dan%20menjadi%20orang%20tua. diakses pada
tanggal 13 November 2020 pukul 20.45 WIB