Anda di halaman 1dari 11

A.

PENGANTAR KONSELING EGO

Konseling ego dipopulerkan oleh Erik Erikson. Dalam model konseling


ego yang dikemukan oleh Erikson ini dikenal satu istilah yang sangat
menonjol yaitu “ego strength” yang artinya kekuatan ego. Pada dasarnya
kegiatan konseling adalah usaha memperkuat “ego strength”. Dengan
demikian orang yang bermasalah adalah orang yang memiliki ego yang
lemah. Misalnya orang yang penakut, rendah diri, banyak lemah, tidak bisa
mengambil keputusan termasuk orang yang memiliki ego lemah. Dikatakan
demikian adalah karena orang yang keadaannya seperti itu tidak dapat
memfungsikan egonya secara penuh, baik untuk menggerakkan dirinya dalam
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya maupun untuk meraih keinginan-
keinginannya. Pada umumnya masalah-masalah yang dialami individu
diwarnai oleh kuat dan lemahnya ego tersebut.
Perbedaan antara ego menurut Sigmund Freud dengan Ego menurut
Psikoanalisis Baru adalah : menurut Freud, ego itu tumbuh dari Id atau
merupakan kelanjutan daripada Id, sedangkan menurut Psikoanalisis baru,
ego itu tidak terikat pada Id, jadi tumbuh sendiri yang merupakan keseluruhan
kepribadian. Ego itulah yang tumbuh dan menjadi kepribadian seseorang.
Jenis ego baru ini disebutnya juga dengan ego kreatif.

B. ASUMSI TENTANG MANUSIA

Erikson beranggapan bahwa manusia tidaklah dijadikan sesederhana


binatang yang hanya bertingkah laku berdasarkan pada instink atau semata-
mata memenuhi kebutuhannya. Selanjutnya dikemukakannya bahwa manusia
tidaklah didorong oleh energi dari dalam, tetapi manusia itu lahir ke dunia
untuk merespon perangsang-perangsang yang berbeda-beda, misalnya
individu dalam kehidupannya perlu menyesuaikan diri dengan keadaan
lingkungannya, perlu melakukan sesuatu untuk keperluan orang lain di
sekitarnya dam lain-lain. Jadi disinilah perbedaan pendapat dimana Sigmund
Freud lebih menekankan peranan Id dalam kehidupan, sedangkan konseling
ego lebih menekankan peranan ego dalam kehidupan seseorang.
Egolah yang mengembangkan segala sesuatunya, misalnya kemampuan
individu, keadaan dirinya, penyaluran minatnya hubungan sosialnya dan
sebagainya.
1. Tahap-tahap perkembangan kepribadian
a. Trust vs Mistrust (Percaya vs tidak percaya)
- Terjadi pada usia 0 – 18 bulan
- Perkembangan kepercayaan didasarkan pada ketergantungan dan
kualitas dari pengasuhan anak
- Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa
selamat dan aman dalam dunia. Kegagalan dalam mengembangkan
kepercayaan akan menghasilkan ketakutan dan kepercayaan bahwa
dunia tidak konsisten, kejan dan tidak dapat ditebak.
b. Autonomy vs Shame and doubt (Otonomi vs malu dan ragu-ragu)
- Terjadi pada usia 18 bulan – 3 tahun
- Erikson percaya bahwa belajar untuk mengontrol fungsi tubuh
seseorang akan membawa kepada perasaan mengendalikan dan
kemandirian
- Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan
percaya diri, sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak
cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri
c. Initiative vs Guilt (Initsiatif vs Rasa bersalah)
- Terjadi pada usia 3 – 5 tahun
- Individu tertantang karena menghadapi dunia sosial yang lebih
luas, maka individu dituntut memiliki perilaku aktif dan bertujuan
- Anak yang berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan
berkompeten dalam memimpin orang lain. Adanya rasa
tanggungjawab dan prakarsa
- Mereka yang gagal akan merasakan perasaan bersalah, ragu-ragu,
dan kurang inisiatif.
d. Industry vs Inferiority (Tekun vs Rasa rendah diri)
- Terjadi pada usia 6 tahun – pubertas
- Melalui interaksi sosial individu mulai mengembangkan perasaan
bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka
- Anak yang didukung dan diarahkan oleh orangtua dan guru
membangun perasaan kompeten dan percaya dengan keterampilan
yang dimilikinya
- Anak yang menerika sedikit atau tidak sama sekali dukungan
orangtua, guru, atau teman sebaya akan merasa ragu terhadap
kemampuannya untuk berhasil
- Permasalahan yang sering muncul pada tahun sekolah dasar adalah
berkembangnya rasa rendah diri, tidak berkompeten dan tidak
produktif
e. Identify vs Identify confussion (Identitas vs Kebingungan identitas)
- Terjadi pada usia remaja, yaitu 10 – 20 tahun
- Individu dihadapkan dengan penemuan siapa mereka, bagaimana
mereka nantinya, dan kemana mereka menuju dalam
kehidupannya.
- Jika seorang remaja menjajaki peran-peran semacam itu dengan
cara positif maka identitias positif akan terwujud
- Sebaliknya, jika seorang remaja mejajaki dengan cara negative,
tidak memadai dan adanya penolakan dari orangtua maka
kebingungan identitas merajalela
f. Intimacy vs Isolation (Keintiman vs Keterkucilan)
- Terjadi pada usia dewasa awal 20an – 30an tahun
- Merupakan tahap di mana seseorang membangun hubungan yang
dekat dan siap berkomitmen dengan orang lain
- Individu yang berhasil pada tahap ini akan dapat mengembangkan
hubungan yang komit dan aman
- Jika mengalami kegagalan maka akan muncul rasa keterasingan
dan jarak dengan orang lain
g. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)
- Terjadi pada masa pertengan dewasa 40an – 50an tahun
- Selama masa ini, individu melanjutkan membangun hidupnya
berfokus terhadap karir dan keluarga
- Mereka yang berhasil dalam tahap ini, maka akan merasa bahwa
mereka berkontribusi terhadap dunia dengan partisipasinya di
dalam rumah serta komunitas
- Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif
dan tidak terlibat di dunia ini
h. Integrity vs Despair (Integritas vs Putus asa)
- Terjadi pada masa akhir dewasa, >60an tahun
- Selama fase ini cenderung melakukan cerminan terhadap masa lalu
- Individu yang gagal pada fase ini akan merasa bahwa hidupnya
percuma dan mengalami banyak penyesalan. Individu akan merasa
kepahitan hidup dan putus asa
- Individu yang berhasil melewati tahap ini berarti ia dapat
mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami.
Individu ini akan mencapai kebijaksanaan, meskipun saat
menghadapi kematian.
2. Proses perkembangan kepribadian
Berlangsungnya perkembangan kepribadian menurut Erikson dapat
dibagi menjadi empat tahapan, yaitu sebagai berikut:
a. Ego berkembang atas kekuatan dirinya sendiri
b. Pertumbuhan ego yang normal adalah dengan berkembangnya
keterampilan anak dalam berkomunikasi, karena dengan komunikasi
individu dapat mengukur dan menilai tingkah lakunya berdasarkan
reaksi dari orang lain.
c. Perkembangan bahasa juga menambah keterampilan individu untuk
membedakan suatu objek dalam lingkungan dan dengan bahasa
individu mampu untuk berkomunikasi dengan orang lain
d. Kepribadian individu berkembang terus melalui proses hubungan
dirinya dengan dunia luar atau lingkungannya (adanya keterkaitan
antara hubungan yang satu dengan yang lain)
3. Fungsi ego
Fungsi ego dalam diri individu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Fungsi dorongan ekonomis; fungsi ego yang menyalurkan dorongan-
dorongan dengan cara mewujudkannya dalam bentuk tingkah laku
secara baik yaitu baik dan dapat diterima lingkungan, berguna, dan
menguntungkan bagi diri individu sendiri maupun orang lain di
lingkungannya.
b. Fungsi kognitif; kemampuan ego untuk menganalisis dan berpikir logis
mengatasi perasaan. Fungsi ini maksudnya berfungsinya ego pada diri
individu untuk menerima rangsangan dari luar kemudian
menyimpannya dan setelah itu dapat mempergunakannya untuk
keperluan coping behavior. Individu yang memiliki fungsi kognitifnya
dalam bertingkah laku selalu menggunakan aspek pikiran dan selalu
diiringi dengan kemampuan mengingat dan memutuskan. Apabila
tidka berfungsi aspek kognitif ego tersebut, maka tingkah laku individu
akan nampak agak sembrono, impuls dan kekanak-kanakan
c. Fungsi pengawasan; kemampuan ego memusatkan usaha penyelesaian
tugas tanpa diganggu oleh perasaan. Fungsi ini disebut juga fungsi
control, maksudnya ego tidak membiarkan tingkah laku seseorang itu
sembarangan atau acak tetapi tingkah laku yang dilahirkan itu
hendaknya merupakan tingkah laku yang berpola dan menurut aturan
tertentu.

C. PERKEMBANGAN TINGKAH LAKU SALAH SUAI

Erikson merumuskan munculnya tingkah laku salah suai pada diri


seseorang disebabkan oleh tiga faktor, yaitu sebagai berikut:
1. Individu dahulunya kehilangan kemampuan atau tidak diperkenankan
merespo rangsangan dari luar secara tepat sehingga pada saat sekarang
menjadi salah tingkah.
2. Apabila pola-pola coping behavior yang sudah terbina pada dirinya
sekarang tidak sesuai laigi dengan situasi setempat di mana dia berada.
3. Fungsi ego tidak berjalan dengan baik.

D. TUJUAN KONSELING DAN PROSES KONSELING

1. Tujuan konseling
Tujuan konseling berdasarkan pandangan Erikson adalah menfungsikan
ego klien yang sebelumnya tidak berfungsi dengan penuh. Selain itu,
tujuan konseling itu adalah melakukan perubahan pada diri klien sehingga
terbentuk coping behavior yang dikehendaki dan dapat terbuna serta agar
ego klien itu dapat lebih kuat (ego integrity)
2. Proses konseling
Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan konseling egom yaitu:
a. Pertama-tama membantu klien mengkaji perasaan-perasaannya
berkenaan dengan kehidupannya, juga feeling terhadap peranan-
peranannya, feeling penampilannya dan hal-hal lain yang bersangut
paut dengan tugas-tugas kehidupannya. Dalam hal ini konselor melihat
feeling klien disesuaikan dengan masalahnya, tidak saja di sekolah,
tetapi bisa di lingkungan keluarga, masyarakat, dsb. Guna dari feeling
ini adalah untuk menemukan kesenjangan dan menerapkan konfrontasi
serta melaksanakan perbandingan
b. Klien memproyeksikan dirinya terhadap masa depan. Dengan
keadaannya sekarang, apa yang dapat ia capai di masa depan. Konselor
harus bersama-sama mendiskusikan karir dan tujuan hidup untuk masa
depan, sekaligus dibahas potensi-potensi yang ada pada diri klien.
Kemudian konselor membawa klien agar mampu melihat hubungan
masa depan dan tujuan hidup klien dengan keadaannya di masa
sekarang.
c. Selanjutnya, konselor berusaha mendiskusikan dengan klien
hambatan-hambatan yang dijumpai untuk mencapai tujuan yang
dibicarakan tadi serta dibahas cara-cara menyingkirkan hambatan
tersebut.
d. Jika diskusi tentang hambatan tersebut berlangsung cukup jauh,
konselor melalui proses interpretasi dan refleksi mengajak klien untuk
mengkaji kembali diri sendiri dan lingkungannya. Selanjutnya
konselor berusaha agar klien dapat melihat hubungan antara perasaan-
perasaan tersebut dengan tingkah lakunya.
e. Terakhir, konselor membantu klien menumbuhkan hasrat kemauan dan
semangat yang lebih baik dan mantap dalam kaitannya dengan
pelajaran. Selanjutnya, mengubah serta melatih tingkah laku yang
baru.
Agar konseling ego dapat diselenggarakan dengan efektif, maka ada
beberapa aturan yang perlu diterapkan, yaitu sebagai berikut:
a. Proses konseling harus bertitik tolak dari proses kesadaran
b. Proses konseling hendaklah bertitik tolak dari azas kekinian atau
tingkah laku sekarang dan tidak membahas masa lampau
c. Proses konseling lebih ditekankan pada pembahasan secara rasional,
aspek kognitif dan dimensi kognitif yang ada hubungannya dengan
bagaimana individu berfikir tentang dasar-dasar tingkah lakunya
d. Konselor hendaklah menciptakan suasana hangat dan spontan, baik
dalam penerimaan klien maupun dalam proses konseling
e. Konseling harus dilakukan secara profesional dan dilakukan oleh
konselor yang sudah terlatih
f. Proses konseling hendaklah tidak berusaha mengorganisir keseluruhan
kepribadian individu, tetapi hanya pada pola tingkah laku yang salah
suai
E. TEKNIK KONSELING

Adapun teknik konseling ego, yaitu sebagai berikut:


1. Pertama-tama konselor perlu membina hubungan yang akrab dengan klien,
sehingga dapat muncul kepercayaan dari diri klien terhadap konselor
2. Usaha yang dilakukan konselor harus dipusatkan pada masalah yang
dikeluhkan oleh klien, khususnya pada masalah yang ternyata di dalamnya
tampak kekuatan egonya melemah
3. Pembahasan itu dipusatkan pada aspek kognitif, tetapi hal yang
mempunyai kaitan langsung dengan perasaan juga disinggung
4. Mengembangkan situasi “ambiguitas”.
5. Pada saat klien melakukan transference, maka konselor hendaklah
melakukan kontra transference. Maksudnya konselor mengendalikan diri
terhadap kesan-kesan pada klien
6. Konselor hendaknya melakukan diagnosis dengan dimensi-dimensinya,
yaitu:
- Perincian dari masalah yang sedang dialami klien saat diselenggarakan
konseling tersebut
- Sebab-sebab timbulnya masalah tersebut
- Letak masalahnya, apakah pada kebiasaan klien, sikapnya atau pada
cara tingkah laku yang dilakukannya saat itu
- Kekuatan dan kelemahan masing-masing orang yang bermasalah
7. Membangun fungsi ego yang baru dengan cara:
- Dapat dikemukakan berbagai gagasan-gagasan baru
- Berdasarkan diagnosis dan gagasan tersebut langsung diberikan upaya
perubahan tingkah laku
- Pembuatan kontrak untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang telah
diputuskan dalam konseling.
F. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN KONSELING EGO

1. Kelebihan
- Membangun identitas ego klien serta memperluas dan memperkuat
berfungsinya sistem ego
- Konseling ego tidak mementingkan permasalahan yang terjadi pada
masa balita saja, tetapi juga masa-masa setelah itu seperti masa remaja,
dewasa, maupun masa tua
- Dapat membangun dan membentuk tingkah laku yang tepat suai
dengan menekankan adanya kekuatan ego (ego strength)
- Memperkuat 3 fungsi ego
- Kembalinya kemampuan seseorang untuk mengembangkan coping
behavior dalam setiap kali menghadapi masalah-masalah dalam
kehidupannya
2. Kelemahan
- Konselor hanya menggunakan teknik konseling biasa karena tidak
memiliki teknik khusus yang bisa diterapkan untuk menggali masalah-
masalah klien
- Lebih memusatkan pada ciri-ciri individu yang normal dan sadar
- Apabila individu tertekan oleh keadaan yang menimpanya dan ego
kehilangan control, maka control terhadap tingkah laku beralih dari
kesadaran ke ketidaksadaran sehingga control beralih dari ego ke id.
SOAL-SOAL

1. Nama pelopor teori ini adalah……


a. Freud c. Erikson
b. Adler d. Jung
Jawaban : C
2. Salah satu hal yang menonjol dalam konseling ego adalah…
a. Ego integrity
b. Ego strength
c. Ego ability
d. Ego superiority
Jawaban : B
3. Yang termasuk ke dalam fungsi ego yaitu, kecuali….
a. Dorngan ekonomis
b. Motivator
c. Kognitif
d. Pengawasan
Jawab : B
4. Fase pada rentangan usia 0 – 18 bulan disebut dengan…
a. Trust vs mistrust
b. Autonomy vs shame and doubt
c. Initiative vs guilt
d. Industry vs inferiority
Jawaban : A
5. Sedangkan, fase pada rentangan usia 3 – 5 tahun disebut dengan….
a. Autonomy vs shame and doubt
b. Industry vs inferiority
c. Trust vs mistrust
d. Initiative vs guilt
Jawaban : D
KEPUSTAKAAN

Prayitno. 1998. Konseling Pancawaskita. Padang: FIP UNP.

Taufik. 2002. Model-model Konseling. Padang: FIP UNP

Anda mungkin juga menyukai