Anda di halaman 1dari 163

BUKU AJAR II

MANUSIA, AKHLAK, BUDI PEKERTI


DAN MASYARAKAT

MATA AJAR
PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN TERINTEGRASI (MPKT)
PROGRAM PENDIDIKAN DASAR PERGURUAN TINGGI (PDPT)
UNIVERSITAS INDONESIA

OLEH:

R. ISMALA DEWI, SH.MH


DR. DRS. H. ZAKKY MUBARAK, MA
DRA. HUSMIATY HASYIM, M.Ag
DRS. ARI HARSONO, M.M.

UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2009

1
Mata Ajar Pengembangan Kepribadian
Terintegrasi

Editor :
Dr. Maria Josephine K. Mantik, M.Hum

Depok, 2009

2
KATA PENGANTAR

Dengan bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia dan
rahmat-Nya, Tim Penulis Buku Ajar “Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan
Masyarakat” dapat menyelesaikan tugasnya, sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan. Buku tersebut merupakan bahan bacaan mahasiswa pada Program
Dasar Pendidikan Tinggi (MPK) Terintegrasi Universitas Indonesia, yang
merupakan penyempurnaan dari Modul MPK Terintegrasi yang telah disusun
sejak tahun 2004. Sejak awal tersusunnya, materi buku ini terus-menerus
diadakan perbaikan, berdasarkan komentar, asupan, dan kritik dari kalangan
yang berkompeten. Perbaikan dilakukan dari segi teknik penulisan, bahasa,
dan penyempurnaan materi, sehingga terwujudnya bahan bacaan ini.

Buku Ajar II (Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan Masyarakat) merupakan


lanjutan dari Buku Ajar I (Logika, Filsafat Ilmu, dan Pancasila) dan diteruskan
dengan Buku Ajar III ( Negara Indonesia dan Lingkungan Hidup). Ketiga
buku ajar ini merupakan satu kesatuan yang bersifat saling melengkapi, saling
mengisi antara yang satu dan yang lainnya, serta tidak dapat diceraipisahkan.
Buku Ajar II merupakan pengembangan nilai etika dan nilai Pancasila yang
dijelaskan pada Buku Ajar I, yang harus dimiliki oleh manusia dalam
pengembangan kepribadiannya di masyarakat. Buku Ajar III merupakan
pengembangan lebih lanjut dari Buku Ajar I dan II mengenai Ideologi,
Pancasila, UUD 1945, negara hukum, dan pemerintahan.

Dalam kesempatan ini, Tim Penyusun Buku Ajar II MPKT 2008


mengucapkan terima kasih kepada: (1) Direktur Pendidikan Universitas
Indonesia, Ibu Prof. Dr. Multamia RMT Louder, DEA, (2) Kasubdit
Pengelolaan Matakuliah Universitas, Ibu Miranda D. Zarfiel, M. Psi. yang
telah mendukung dan memfasilitasi penulisan Buku Ajar MPKT 2008, juga
kepada: (3) Ibu Dr. Elsa Krisanti Mulia, (4) Ibu Dr.Susiani Purbaningsih,
DEA., dan (5) Ibu Dr.Uswatun Hasanah, MA., yang sejak awal pembuatan
Modul MPKT telah banyak memberikan kontribusi dalam memprakarsai
penyusunannya dan menyampaikan arahan-arahan yang bermanfaat.

Ucapan terima kasih kami sampaikan juga kepada: Bapak Slamet


Soemiarno, Bapak Suharto, Bapak Zaenal Abidin Anwar, Bapak Ariya
Chandra, Bapak I Wayan Suwira Satria, Bapak Mujilan, tim Sekretariat
PMU/PDPT dan berbagai pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam
penyusunan buku ini.

3
Dalam menyiapkan karya tulis, baik berupa Buku, Modul, maupun
Laporan Ilmiah, biasanya tidak pernah lepas dari kekurangan dan kekhilafan.
Karena itu, dalam kesempatan ini, penulis mengharapkan saran dan kritik
untuk perbaikan Buku Ajar ini dan mohon maaf atas segala kekurangan dan
kekhilafan.

Depok, 11 Mei 2009

Tim Penyusun

4
KATA PENGANTAR .................................................................................. 1
DAFTAR ISI ................................................................................................. 3
PENDAHULUAN ......................................................................................... 5

BAB I MANUSIA MAKHLUK INDIVIDU, SOSIAL, DAN BUDAYA


1.1 Manusia sebagai Makhluk Individu ...................................... 9
1.2 Manusia sebagai Mahluk Sosial ......................................... 13
1.3 Manusia sebagai Mahluk Budaya ......................................... 18

BAB II AKHLAK DAN BUDI PEKERTI


2.1 Pengertian Akhlak dan Budi Pekerti .................................... 24
2.2. Ruang Lingkup Akhlak dan Budi Pekerti ........................... 27
2.3. Sumber Akhlak dan Budi Pekerti ........................................ 33

BAB III NILAI-NILAI AKHLAK DAN BUDI PEKERTI


3.1 Nilai Spiritual .......................................................................49
3.2 Nilai Kemanusiaan ...............................................................49

BAB IV FUNGSI AKHLAK DAN BUDI PEKERTI


4.1 Penanaman Kesadaran tentang Hak dan Kewajiban ............83
4.2 Pemantapan Kehidupan Sosial ..............................................92
4.3 Toleransi dalam Kemajemukan ............................................94
4.4 Filter dalam Interaksi Lintas Budaya ...................................95

BAB V PENERAPAN AKHLAK DAN BUDI PEKERTI


5.1 Kehidupan Pribadi dan Sosial Budaya ..................................96
5.2 Akhlak dalam Masyarakat Majemuk dan Globalisasi .........105
5.3 Akhlak dalam Kehidupan Akademik dan Profesi ...............107
5.4 Akhlak dalam Pelestarian Lingkungan Hidup ....................111

BAB VI NORMA SOSIAL DAN HUKUM


6.1 Norma Sosial dan Norma Hukum ........................................118
6.2 Proses Norma Sosial Menjadi Norma Hukum .....................119
6.3 Pengertian, Tujuan, dan Fungsi Hukum .............................122
6.4 Disiplin Hukum ...................................................................123
6.5 Subjek Hukum, Objek Hukum, dan Peristiwa Hukum ........126

5
BAB VII MASYARAKAT DAN MULTIKULTURALISME
7.1 Pengertian Masyarakat dan Masyarakat Majemuk ..............128
7.2 Multikulturalisme ...............................................................134
7.3 Etika Kemajemukan ............................................................148
7.4 Dampak Kemajemukan ........................................................151
7.5 Masyarakat dan Pembentukan sebuah Bangsa ....................154

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................157

6
PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk individu, sosial, dan budaya memiliki akhlak


dan budi pekerti yang menempatkan dirinya pada kedudukan yang luhur dan
terpuji, sekaligus dapat membedakannya dari makhluk-makhluk lain dalam
kehidupan alam semesta. Akhlak dan budi pekerti memiliki peran yang sangat
penting dalam membentuk karakter manusia Indonesia, termasuk para
mahasiswanya. Sebagai calon sarjana lulusan Universitas Indonesia (UI),
mahasiswa diharapkan dapat memiliki akhlak yang mulia, budi pekerti yang
terpuji, serta memiliki kepedulian terhadap masalah kemasyarakatan, lingkungan,
bangsa, dan negara. Kepedulian yang dimiliki mahasiswa hendaknya dilandasi
dengan iman dan takwa, budi pekerti yang luhur, etika akademik, dan
diaplikasikan melalui keterampilan intelektual yang terus mengikuti
perkembangan paling mutakhir dari sains, teknologi, dan seni.
Akhlak dan budi pekerti berorientasi pada nilai-nilai spiritual, nilai-nilai
kemanusiaan, dan kelestarian lingkungan hidup. Nilai-nilai itu selalu berada dan
tidak pernah terpisahkan dari kehidupan manusia, karena ia merupakan makhluk
yang terdiri atas dua unsur yang menyatu, yaitu fisik dan rohani. Nilai rohani
merupakan nilai individual dan universal yang mengatur hubungan manusia
dengan Tuhannya, sedangkan nilai kemanusiaan merupakan nilai yang berada di
tengah masyarakat sebagai realisasi dari sifat sosial yang ada pada diri manusia.
Kehidupan manusia di tengah masyarakatnya akan lebih bermakna apabila setiap
individu memperhatikan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap
masyarakat lingkungannya yang didasari oleh nilai-nilai akhlak dan budi pekerti.
Perwujudan nilia-nilai itu harus dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari di tengah
masyarakat.
Manusia sebagai makhluk individu, sosial, dan budaya, merupakan satu
kesatuan yang utuh, yang tidak dapat diceraipisahkan. Sebagai individu, manusia
memiliki sikap dan tanggung jawab serta perilaku yang baik terhadap
masyarakatnya. Setiap diri manusia tidak mungkin dapat melakukan aktivitas
tanpa berada dalam komunitas dan lingkungannya. Ketergantungan manusia
terhadap adanya sosialisasi dan aktualisasi diri bersama individu-individu lainnya,
merupakan wujud dari kenyataannya bahwa manusia merupakan makhluk sosial
yang tidak hidup secara terpisah dengan lingkungannya.
Sebagai makhluk sosial, manusia hidup dan berada dalam sistem
kehidupan masyarakat, yang berdasarkan pada aturan dan kesepakatan bersama
dalam suatu lingkungan, tempat, dan ruang lingkup tertentu. Ia menjalankan
kehidupan dengan memanfaatkan potensi dirinya secara optimal, baik berupa
pemanfaatan dan penazaman akal, maupun pengembangan dan penazaman hati
nurani, sehingga terbentuklah karakter yang kokoh dalam kehidupannya dan
berkembang secara baik. Dengan demikian, akan terbentuklah sebuah budaya
yang tinggi. Sebagai makhluk budaya, manusia dapat menciptakan suatu
kebudayaan melalui akal pikiran, kalbu, budi pekerti yang luhur, yang

7
berkembang di lingkungannya. Dengan demikian, terbentuklah kebudayaan yang
lebih berkembang dan lebih maju serta menjelma sebagai sebuah masyarakat.
Kesatuan manusia sebagai makhluk individu, sosial, dan budaya, maka
proses pembelajaran akhlak budi pekerti dan masyarakat tidak lepas dari tujuan
untuk mengembangkan nilai-nilai spiritual, nilai kemanusiaan, dan lingkungan
hidup, sehingga terciptalah apa yang diistilahkan dewasa ini: (1) learning to know;
(2) learning to do; (3) learning to be; dan (4) learning to live together. Melalui
materi akhlak dan budi pekerti dan materi-materi lainnya, lulusan Universitas
Indonesia tidak hanya memiliki kemampuan yang tinggi di bidang sains,
teknologi, dan seni, tetapi juga memiliki kepedulian dalam mengatur hubungan
manusia dengan Tuhan, memiliki kepedulian terhadap masyarakat, bangsa, dan
negara, serta lingkungan hidupnya.
Buku Ajar “Manusia, Akhlak, Budi Pekerti, dan Masyarakat” disiapkan
sebagai buku teks pembelajaran di Universitas Indonesia. Namun demikian tidak
menutup referensi lain yang harus dipelajari yang berkaitan dengan akhlak dan
budi pekerti. Buku Ajar merupakan buku panduan mahasiswa agar mengetahui
arah dan sasaran pembelajaran MPKT pada pokok bahasan tersebut. Oleh karena
itu, buku ini hanya memuat garis-garis besar dan kerangka dasar materi.
Mahasiswa diharapkan mengembangkan materi ini dalam proses pembelajaran
melalui sumber bacaan yang terdapat dalam buku ini, maupun melalui sumber-
sumber lainnya.
Garis-garis besar materi “Manusia, Akhlak, Budi Pekerti, dan Masyarakat”
dalam buku ini terdiri atas:
1. Manusia Makhluk Individu, Sosial, dan Budaya.
Sebagai makhluk individu, manusia memiliki pribadi, sikap,
motivasi, dan perilaku dalam kehidupan yang berkait dan berkelindan
dengan kehidupan masyarakat, serta sebagai makhluk sosial yang
melakukan interaksi antarindividu. Manusia memiliki keterkaitan
antarindividu dan saling membutuhkan dalam menjalani hidup dan
kehidupannya serta memerlukan ruang lingkupnya. Manusia sebagai
makhluk budaya, mempunyai akal dan jiwa yang mengatur atau
menentukan bagaimana seharusnya ia berperilaku. Karena manusia
sebagai makhluk budaya, ia tidak dapat hidup seorang diri, dan aktivitas
yang dilakukannya harus memiliki aturan-aturan yang pasti, yang perlu
ditaati sebagai pedoman hidup bersama. Perilaku manusia sebagai individu
dan anggota masyarakat membudaya dalam kehidupan, sebagai suatu
sistem nilai masyarakat itulah yang disebut suatu kebudayaan.
2. Akhlak dan Budi Pekerti
Pemahaman yang baik terhadap pengertian serta ruang lingkup
akhlak dan budi pekerti diharapkan dapat berfungsi dalam menumbuhkan
kesadaran antara hak dan kewajiban, sehingga kehidupan sosial akan lebih

8
mantap dan terjalin toleransi yang teguh di tengah masyarakat majemuk.
Selain itu, akhlak dan budi pekerti juga berfungsi dalam menyaring budaya
asing atau budaya dari dalam dengan memilih yang baik dan menolak
yang buruk. Semua itu terjadi karena adanya interaksi lintas budaya.

3. Nilai-Nilai Akhlak dan Budi Pekerti

Nilai yang paling fundamental dalam akhlak dan budi pekerti


adalah nilai spiritual dan nilai kemanusiaan, yaitu meliputi nilai
kebersamaan, keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan pandangan hidup
yang melahirkan kestabilan dan kemaslahatan, sedangkan nilai keindahan
cinta kasih, penderitaan, kegelisahan, dan harapan dapat diatur dengan
baik sehingga dapat melahirkan kebahagiaan yang hakiki. Implementasi
nilai-nilai tersebut akan dapat menghindarkan kehidupan manusia dari
kekeringan makna dan kekosongan jiwa. Dengan demikian, hidup dan
kehidupan manusia akan menjadi lebih bermakna. Hubungan antarmanusia
dengan Tuhan, hubungan antarmanusia dengan sesamanya, dan hubungan
manusia dengan makhluk lainnya juga makin harmonis, serasi, dan
seimbang.

4. Fungsi Akhlak dan Budi Pekerti

Pemahaman dan penghayatan terhadap akhlak dan budi pekerti,


diharapkan dapat berfungsi dalam menumbuhkembangkan kesadaran
tentang hak dan kewajiban, sehingga kehidupan sosial akan lebih mantap
dan terjalin toleransi yang baik di tengah masyarakat majemuk. Akhlak
dan budi pekerti juga sangat bermanfaat bagi manusia untuk beradaptasi
dengan budaya asing, sekaligus membedakan antara yang baik dan buruk,
memiliki kemauan dan kemampuan untuk memilih yang baik dan terpuji,
serta dapat menghindari yang buruk dan tercela.

5. Penerapan Akhlak dan Budi Pekerti: Permasalahan dan Solusinya

Akhlak dan budi pekerti diaplikasikan dalam seluruh aspek


kehidupan manusia. Pengaplikasian itu berguna bagi diri seseorang
sebagai kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial, dalam kehidupan
akademik dan profesi. Penerapan akhlak dan budi pekerti sangat penting
dalam pengembangan iptek dan seni. Dalam penerapannya, ternyata
banyak dijumpai permasalahan, seperti yang terjadi dalam kehidupan
sosial budaya, akademik dan profesi, juga dalam pengembangan sains,
teknologi, dan seni. Permasalahan tersebut diharapkan dapat dihindari
secara maksimal atau setidaknya dapat diminimalisir melalui kesadaran
individu terhadap nilai akhlak dan budi pekerti.
Pembahasan mengenai akhlak dan budi pekerti diawali dengan
mengangkat berbagai kasus yang muncul dalam kehidupan masyarakat
dengan menawarkan berbagai alternatif untuk mengatasinya. Materi dalam

9
pembahasan ini bersifat sederhana dan hanya berfungsi sebagai contoh
karena permasalahan penerapan akhlak dan budi pekerti akan didapati
dalam kehidupan sehari-hari dan berkembang terus sepanjang sejarah
kehidupan manusia.

6. Norma Sosial dan Norma Hukum

Dalam pergaulan hidup di masyarakat, baik yang homogen


maupun heterogen, pada masyarakat desa maupun kota, akan dijumpai
norma-norma sosial yang mengatur kehidupan masyarakat agar
menimbulkan keteraturan dalam hidup secara harmonis di tengah
perbedaan masyarakat. Norma sosial akan berproses menjadi norma
hukum sebagai kelembagaan berganda, yaitu nilai-nilai yang hidup dalam
masyarakat, dilembagakan sebagai norma sosial apabila dipatuhi, dan
adanya sanksi sosial. Norma sosial kemudian dilembagakan sebagai norma
hukum apabila memiliki sanksi hukum. Norma sosial sebagai tingkatan
yang paling awal selanjutnya menjadi sistem hukum yang berkembang di
masyarakat. Dalam bab ini dibahas pengertian, tujuan, dan fungsi hukum
agar mudah dipahami, terutama mereka yang baru belajar memahami
norma-norma hukum. Demikian juga dikemukakan tentang disiplin ilmu
hukum dan perbedaan hukum.

7. Masyarakat dan Multikulturalisme

Setelah diperkenalkan norma sosial dan norma hukum, buku ini


membahas tentang pengertian masyarakat dan masyarakat majemuk yang
terdiri atas berbagai macam ras, bangsa, suku, agama, keyakinan, dan
pengalaman hidup yang berbeda-beda. Dengan demikian, kemajemukan
akan disadari oleh setiap anggota mayarakat sebagai suatu keniscayaan
dan kenyataan yang harus diterima dengan lapang dada. Pembahasan
selanjutnya berkisar pada pengertian multikulturalisme, etika
kemajemukan, dampak yang ditimbulkannya dalam kehidupan
masyarakat, dan diakhiri dengan perkembangan suatu masyarakat dalam
pembentukan suatu bangsa dan negara.

Materi Buku Ajar ini telah mengakomodasi muatan liberal arts, yang
terdiri atas critical thinking, academic writing, presentation skill, dan information
literacy, yang tersebar dalam berbagai kajian penting. Buku ini dibuat serba
singkat, sesuai dengan tujuan penyusunannya sebagai panduan dan buku teks bagi
mahasiswa Universitas Indonesia. Terlaksana atau tidaknya sasaran pembelajaran
akan sangat ditentukan oleh kesungguhan mahasiswa mengembangkan sendiri
materi dalam Buku Ajar ini, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-
hari.

10
BAB I
MANUSIA MAKHLUK INDIVIDU, SOSIAL,
DAN BUDAYA

1.1. Manusia sebagai Mahluk Individu


1.1.1 Pengertian individu

Untuk memahami manusia sebagai mahluk individu sebaiknya perlu


dipahami arti kata individu itu sendiri. Kata ‘individu’ berasal dari kata latin,
‘individuum’ artinya ‘yang tidak terbagi’. Jadi, individu merupakan suatu sebutan
yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan
terbatas. Dalam ilmu sosial, paham individu menyangkut tabiat dengan kehidupan
dan jiwa yang majemuk, serta memegang peranan dalam pergaulan hidup
manusia. Individu menekankan penyelidikan kepada kenyataan-kenyataan hidup
yang istimewa, dan seberapa mempengaruhi kehidupan manusia (Abu Ahmadi,
1991: 23). Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak
dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia
perseorangan. Dengan demikian, sering digunakan sebutan ‘orang-seorang’ atau
‘manusia perseorangan’.

Di sini jelas bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya
memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga
mempunyai kepribadian, serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Persepsi
terhadap individu atau hasil pengamatan manusia dengan segala maknanya
merupakan suatu keutuhan ciptaan Tuhan yang mempunyai tiga aspek yang
melekat pada dirinya, yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis rohaniah, dan
aspek sosial. Apabila terjadi kegoncangan pada salah satu aspek, maka akan
membawa akibat pada aspek yang lainnya.

Masih terkait dengan persoalan antara individu satu dengan individu


lainnya, maka manusia menjadi lebih bermakna apabila pola tingkah lakunya
hampir identik dengan tingkah laku massa yang bersangkutan. Proses yang
meningkatkan ciri-ciri individualitas pada seseorang sampai pada dirinya sendiri
disebut proses individualisasi atau aktualisasi diri. Dalam proses ini, individu
dibebani berbagai peranan yang berasal dari kondisi kebersamaan hidup, yang
akhirnya muncul suatu kelompok yang akan menentukan kemantapan satu
masyarakat. Individu dalam tingkah laku menurut pola pribadinya memiliki tiga
kemungkinan: pertama menyimpang dari norma kolektif kehilangan
individualitasnya; kedua takluk terhadap kolektif, dan ketiga mempengaruhi
masyarakat (Hartomo, 2004: 64).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa “manusia merupakan makhluk


individual tidak hanya dalam arti makhluk keseluruhan jiwa-raga, melainkan juga

11
merupakan pribadi yang khas, menurut corak kepribadiannya, dan termasuk
kecakapannya sendiri.”

Individu mempunyai ciri-ciri memiliki suatu pikiran dan diri, tetapi


keduanya dikonsepkan sebagai proses, bukan sebagai kesatuan yang statis. Orang
tidak mempunyai pikiran tetapi harus dalam proses berpikir, memiliki pengertian
pada kesanggupan untuk berbicara dengan dirinya dan kesanggupan memberikan
rangsangan selektif dari lingkungannya. Mampu menetapkan kenyataan,
interpretasi situasi, menetapkan aksi dari luar dan dari dirinya. Manusia
mempunyai banyak diri, masing-masing berhubungan dan berinteraksi, tetap
dalam perubahan proses interaksi.

Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyarakat yang
menjadi latar belakang keberadaannya karena dari sinilah kita baru akan dapat
memahami individu seseorang. Kehadiran individu dalam suatu masyarakat
biasanya ditandai oleh perilaku individu yang berusaha menempatkan dirinya di
hadapan individu-individu lainnya yang telah mempunyai pola-pola perilaku yang
sesuai dengan norma-norma dan kebudayaan di tempat ia berada. Di sini individu
berusaha mengambil jarak dan memproses dirinya untuk membentuk perilakunya
yang selaras dengan keadaan dan kebiasaan yang sesuai dengan perilaku yang
telah ada pada dirinya.

Manusia sebagai individu selalu berada di tengah-tengah kelompok


individu yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi. Proses dari
individu menjadi pribadi memerlukan lingkungan yang dapat membentuk
pribadinya. Namun tidak semua lingkungan menjadi faktor pendukung
pembentukan pribadi, bahkan adakalanya menjadi penghambat dalam proses
pembentukan pribadi. Mengenai pendukung dan penghambat proses pembentukan
individu tidak hanya didukung dan dihambat oleh kelompok sekitarnya, tetapi
didukung dan dihambat juga oleh dirinya sendiri.

1.1.2. Perkembangan individu

Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di antara makhluk


ciptaan Tuhan terdiri atas unsur jasmani dan rohani. Dalam rangka perkembangan
individu, diperlukan suatu keterpaduan antara pertumbuhan jasmani dan rohani.

Individu tidak mampu berdiri sendiri, melainkan hidup dalam hubungan


antarsesama individu. Dengan demikian dalam hidup dan kehidupannya, manusia
selalu mengadakan kontak dengan manusia lain. Karena itu manusia sebagai
individu juga merupakan makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat. Sejak
lahir sampai pada akhir hayatnya, manusia hidup di tengah-tengah kelompok
sosial atau kesatuan sosial juga dalam situasi sosial yang merupakan bagian dari
ruang lingkup suatu kelompok sosial. Kelompok sosial yang merupakan awal
kehidupan manusia individu adalah keluarga. Dalam keluarga ada rasa saling

12
tergantung di antara sesama manusia yang membentuk individu berkembang
untuk beradaptasi dengan kehidupan dalam masyarakat. Hal ini menandakan
bahwa manusia sebagai individu tidak mampu hidup sendiri, tetapi diperlukan
keberadaan dalam suatu kelompok (masyarakat) sehingga individu merupakan
makhluk sosial. Ini berarti antara individu dan kelompok terdapat hubungan
timbal balik dan hubungan yang sangat erat yang merupakan hubungan
fungsional.

Apabila diperhatikan, manusia pada waktu lahir tampaknya sangat lemah.


Keadaan yang tampaknya lemah itu tidak berarti bahwa bayi tidak mempunyai
potensi apa-apa atau tidak mampunyai kemungkinan untuk berkembang. Bayi
mempunyai banyak kemungkinan untuk berkembang menjadi anak-anak,
mempunyai masa muda, mempunyai masa untuk mempersiapkan diri menjadi
dewasa bersama dengan lingkungan yang dekat dengannya. Bayi berproses
menjadi anak, dan anak akan berkembang menjadi dewasa. Dalam fase
perkembangan yang dilalui anak menuju dewasa, potensi diri yang dimiliki anak
juga terus berkembang sesuai dengan tumbuhnya fisik pada anak dan interaksi
sosial yang membentuk kepribadiannya.

Ketika anak telah menjadi dewasa kepribadiannya akan menjadi jelas


terlihat yang tampil bersama perilakunya. Pribadi menjadi ciri penampilan
seseorang di tengah lingkungan sosialnya setelah melalui proses perkembangan
bersama lingkungan sosial lainnya. Pada masa dewasa, manusia lebih banyak
menghadapi masalah hidup yang heterogen di tengah kelompok sosial yang besar.
Manusia mempunyai potensi diri dan kemampuan yang dapat berkembang ke
segala arah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang silih berganti. Manusia
mempunyai berbagai pembawaan, kesadaran, perasaan, cita-cita, pikiran, dan
sebagainya yang kesemuanya sangat berpengaruh terhadap kehidupan dewasa
(Hartomo, 2004: 65).

Prinsip-prinsip perkembangan pada manusia adalah sebagai berikut.


1) Perkembangan mengikuti pola-pola tertentu dan berlangsung secara
teratur. Dalam hal ini perkembangan mulai dari kepala ke kaki, dari pusat
ke bagian-bagian lainnya.
2) Perkembangan menuju diferensiasi dan integrasi. Dari gerakan-gerakan
yang bersifat masal, bekembang menjadi gerakan-gerakan khusus (dapat
makan dengan sendok, memungut benda kecil, dan lain-lain), dan terjadi
koordinasi dan integrasi antara organ yang satu dan organ yang lain.
3) Pertumbuhan dan perkembangan tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi
berlangsung secara berangsur-angsur, secara teratur dan terus menerus.

Sebagai contoh, perkembangan anak normal akan nampak berturut-


turut: memiringkan badan dan telungkup, mengangkat kepala, duduk,
merangkak, berjalan dengan bantuan, kemudian berjalan. Dalam
berbahasa, perkembangan anak akan nampak mulai dari: meraban,

13
kemudian mengucapkan kalimat satu kata, kalimat lebih sempurna, lalu
kalimat sempurna.
4) Suatu tingkat perkembangan dipengaruhi oleh sifat perkembangan
sebelumnya. Terlambatnya suatu tingkat perkembangan akan menghambat
pula perkembangan pada tingkat berikutnya. Sebaliknya, sukses dalam
suatu tingkat perkembangan, akan sukses pula pada perkembangan
berikutnya.
5) Perkembangan antara anak yang satu dan anak lain tentu berbeda, baik
dalam perkembangan masing-masing organ/aspek kejiwaannya, maupun
cepat atau lambatnya perkembangan tersebut (Hartomo, 2004: 69).

Dengan demikian, diyakini bahwa anak mempunyai kemungkinan untuk


berkembang. Pribadi anak berkembang sebagai suatu totalitas (kesatuan). Banyak
faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, dan perkembangan anak
dipelajari berdasarkan pengalaman (empiris). Hal ini tidak akan dibahas lebih
lanjut dalam tulisan ini. Manusia dikatakan menjadi individu apabila pola tingkah
lakunya sudah bersifat spesifik di dalam dirinya dan bukan lagi menuruti pola
tingkah laku umum. Di dalam sebuah massa, manusia cenderung menyingkirkan
individualitasnya karena tingkah lakunya hampir identik dengan tingkah laku
massa yang bersangkutan. Dalam hubungan ini dapat dicirikan, apabila manusia
dalam tindakan-tindakannya menjurus kepada kepentingan pribadi, maka disebut
manusia sebagai makhluk individu. Sebaliknya, apabila tindakan-tindakannya
merupakan hubungan dengan manusia lainnya, maka manusia itu dikatakan
makhluk sosial.

Pengalaman menunjukkan bahwa jika seseorang pengabdiannya kepada


diri sendiri besar, maka pengabdiannya kepada masyarakat akan kecil.
Sebaliknya, jika seseorang pengabdiannya kepada diri sendiri kecil, maka
pengabdian kepada masyarakat akan besar. Dengan demikian, dapatlah dikatakan
bahwa proses yang meningkatkan ciri-ciri individualitas pada seseorang sampai ia
menjadi dirinya sendiri disebut sebagai proses individualitas, atau sering juga
dinamakan proses aktualisasi diri. Selama proses perkembangan manusia menjadi
individu, manusia mengalami dirinya dibebani berbagai peranan. Peranan-peranan
itu terutama berasal dari kondisi kebersamaan hidup dengan sesama manusia yang
disebut sebagai makhluk sosial. Tidak jarang dapat timbul konflik pada diri
individu karena pola tingkah laku yang spesifik dalam dirinya dapat bercorak atau
bertentangan dengan peranan yang dituntut oleh masyarakat. Jika individu tidak
mau mengingkari dirinya sendiri dan tetap bertingkah laku menurut pola
pribadinya, maka ia pun disebut menyimpang dari norma kolektif. Sebaliknya,
jika ia takluk dan menuruti kehendak kolektif dengan cara bertingkah laku seperti
diinginkan oleh lingkungan, maka disebut ia kehilangan individualitasnya.

Dalam kenyataan hidup di tengah-tengah masyarakat, setiap warga


masyarakat wajar untuk menyesuaikan tingkah lakunya menurut situasi aktual
yang ada di hatinya dan mengadaptasikan dengan situasi lingkungan tempat ia

14
berada. Peranan yang paling tepat ialah bilamana ia mampu bertindak multi
peranan, peranan silih berganti, ia harus mampu memerankan diri sebagai
individu dan juga sebagai anggota masyarakat. Keberhasilan seseorang dalam
mempertemukan titik optimum, yakni peran individu dan peran sosial, telah
sampai pada tingkat “matang” atau “dewasa” dalam arti sosial. Matang atau
dewasa dalam arti sosial tidak diukur dari tingkat usia dan tinggi besar fisik, tetapi
dilihat dari “tingkat berpikir”. Pengalaman menunjukkan bahwa ada saja
seseorang yang tingkat usianya sudah tinggi, tetapi cara berpikirnya sangat
kekanak-kanakan. Sebaliknya, ada orang yang relatif muda, tetapi dalam cara
berpikir sudah matang.

Meskipun pengaruh lingkungan masyarakat terhadap individu, dan


khususnya terhadap pembentukan individualitasnya adalah besar, namun
sebaliknya individu pun berkemampuan untuk mempengaruhi masyarakat.
Pengaruh individu yang sangat kuat atau menonjol dalam lingkungan masyarakat
akan membuatnya ia menjadi seorang tokoh, pahlawan, atau bahkan menjadi
seorang pengacau. Keinginan untuk menjadi seseorang yang berpengaruh,
dihormati oleh orang lain, seorang yang dituakan olah rekan lainnya, dan lain-lain
akan melekat di dalam diri individu masing-masing. Berhasil tidaknya mencapai
sasaran tersebut adalah soal kemampuan masing-masing individu. Jadi,
kemampuan individu merupakan hal yang utama dalam hubungannya dengan
manusia. Sebutan baik atau tidak baik, pengaruh individu terhadap masyarakat
merupakan hal yang bersifat relatif. Relativitas ini ditentukan oleh relasi individu
dengan masyarakat lingkungannya. Oleh karena itu, makna individu di dalam
sebuah sistem masyarakat pancasila, liberal, dan komunis adalah berbeda. Begitu
pula makna individu dalam suatu musyawarah adalah lain dengan makna individu
yang tengah diberi pendidikan doktrin atau ajaran-ajaran. Demikianlah akhirnya
bahwa pengertian individu dapat ditinjau dari beberapa aspek atau segi sesuai
dengan kepentingan masing-masing.

1.2. Manusia sebagai Makhluk Sosial

Sebelumnya telah dikemukakan bahwa manusia adalah mahluk individu


dan juga mahluk sosial. Sebagai mahluk individu dan sekaligus sosial, manusia
tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, karena merupakan satu kesatuan utuh
dalam diri manusia. Tidak mungkin manusia secara individu berkembang tanpa
ada lingkungan atau tempat untuk berkembang dan berinteraksi. Manusia sejak
lahir sampai mati selalu hidup dalam masarakat, tidak mungkin manusia hidup di
luar masyarakat. Aristoteles mengatakan bahwa mahluk hidup yang tidak hidup
dalam masyarakat dapat diumpamakan sebagai seorang malaikat atau seorang
hewan (Hartomo, 2004: 75).

Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebagai bahan kajian


mengungkapkan bahwa manusia memang betul merupakan mahluk sosial yang
membutuhkan interaksi dengan lingkungan sekitar. Lingkungan dapat membentuk

15
kepribadian dan perilaku manusia dalam perkembangan dirinya. Hasil penelitian
yang dilakukan pada tahun 1828 mengungkapkan kisah ditemukannya seorang
bayi yang telah tinggal dalam sebuah gua tertutup selama 18 tahun. Setelah gua
dibuka, anak tersebut sangat bingung dan terkejut melihat keadaan kota. Ia
berjalan menggunakan empat kaki dan tidak dapat berbicara. Sifat anak itu tidak
ubahnya seperti rusa masuk kampung. Anak tersebut bernama Casper Hauser,
anak seorang petani.

Di India, Mr.Singh menemukan dua orang anak yang berumur 8 tahun dan
1,5 tahun. Pada waktu bayi, anak-anak tersebut diasuh oleh serigala dalam sebuah
gua. Tidak lama setelah ditemukan, anak yang kecil akhirnya meninggal.
Tinggallah anak yang besar. Tetapi walaupun anak tersebut sudah dilatih hidup
bermasyarakat, sifatnya masih seperti serigala. Terkadang ia meraung-raung di
tengah malam, suka makan daging mentah, dan sebagainya.

Ada pula kejadian di Amerika. Pada tahun 1938 seorang anak berumur 5
tahun ditemukan tinggal di atas loteng. Karena terasing dari lingkungan, meskipun
berusia 5 tahun anak tersebut belum juga dapat berjalan dan bercakap-cakap. Jadi
jelas bahwa manusia, meskipun mempunyai bakat dan kemampuan, namun bakat
tersebut tidak dapat berkembang jika tidak ada lingkungan. Itulah sebabnya
manusia dikatakan sebagai mahluk sosial (Hartomo, 200:77).

Sebenarnya telah banyak penelitian dijalankan untuk mendapatkan


jawaban atas pertanyaan “Mengapa manusia itu selalu hidup bermasyarakat?”
Beberapa kesimpulan yang didapat adalah manusia itu tidak dapat hidup sendiri,
misalnya hidup di gua atau di dalam hutan yang sunyi. Ia selalu tertarik untuk
hidup bersama atau bermasyarakat. Hal ini disebabkan karena pada hakikatnya
manusia adalah mahluk sosial yang memiliki dorongan atau hasrat, dan
mempengaruhi hidup manusia dalam bergaul dengan manusia lainnya di dalam
hidup bermasyarakat. Semua tingkah laku dan perbuatan manusia ditimbulkan
karena ada hasrat-hasrat pada manusia. Hidup bermasyarakat bentuk dan coraknya
banyak dipengaruhi oleh perbuatan dan tingkah laku manusia sebagai realisasi
dari hasrat-hasrat yang ada pada manusia.

Bagaimana hubungan antara hasrat-hasrat itu? Misalnya hasrat harga diri


dengan hasrat hidup dengan manusia lain?
Umpamanya, hasrat harga diri dengan hasrat kemasyarakatan. Kedua
hasrat ini saling mengisi dan tidak dapat dilepaskan satu sama lain, sebab dalam
kenyataan harga diri itu baru dapat diketahui apabila ada orang lain yang memberi
harga diri. Misalnya, seseorang yang hidup sendirian, tidak mungkin harga diri ini
dapat terpenuhi. Kalau dia ingin mendapatkan harga diri pasti harus hidup dengan
orang lain yang dapat memberikan harga diri. Selanjutnya, hubungan antarkedua
hasrat apabila dilihat sepintas nampak adanya pertentangan antara hasrat yang
satu dan hasrat yang lain. Misalnya, ingin hidup dengan manusia lain (hasrat
kemasyarakatan) dengan hasrat berkuasa. Mungkinkah itu? Tetapi apabila

16
direnungkan, sebenarnya semua hasrat-hasrat ini tidak terjadi pertentangan-
pertentangan, melainkan saling mengisi.

Contoh lain, hasrat ingin berkuasa tidak mungkin terjadi apabila tidak
berhubungan dengan manusia lain. Seorang manusia dapat berkuasa pasti karena
ada yang dikuasai, tidak mungkin ia berkuasa sendirian. Oleh sebab itu, orang
yang berada di tengah hutan sendirian, misalnya, maka hasrat kekuasaan ini tak
mungkin dapat terpenuhi. Dengan demikian hasrat-hasrat yang nampaknya dari
luar saling bertentangan, kalau ditinjau dari dalam, sebenarnya saling mengisi dan
melengkapi.

Di samping adanya hasrat-hasrat atau golongan instingtif pada manusia,


masih terdapat faktor-faktor yang lain yang mendorong manusia untuk hidup
bermasyarakat. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut.
1. Adanya dorongan seksual, yaitu dorongan manusia untuk mengembangkan
keturunan atau jenisnya.
2. Adanya kenyataan bahwa manusia itu adalah “serba tidak dapat” atau “sebagai
makhluk lemah”. Oleh karena itu, ia selalu mendesak atau menarik kekuatan
bersama yang terdapat dalam perserikatan dengan orang lain, sehingga mereka
berlindung bersama-sama, dan mengejar kebutuhan hidup sehari-hari,
termasuk pula perlindungan keluarga itu sehari-hari terhadap bahaya dari luar.
3. Terjadinya “habit” pada tiap-tiap diri manusia. Manusia bermasyarakat
karena ia telah biasa mendapat bantuan yang diterimanya sejak kecil dari
lingkungannya. Tegasnya, manusia telah merasakan betapa manisnya hidup
bermasyarakat, sehingga ia tidak mau keluar lagi dari lingkungan masyarakat
yang telah memberikan bantuan yang bermanfaat baginya.
4. Adanya kesamaan keturunan, kesamaan teritorial, kesamaan nasib, kesamaan
keyakinan/cita-cita, kesamaan kebudayaan dan lain-lain.

Selanjutnya manusia sebagai mahluk sosial memperlihatkan sifat-sifat


yang paradoks. Sifat-sifat tersebut, misalnya di satu pihak ia menjadi produk
masyarakat, sedangkan di pihak lain ia juga menjadi produser masyarakat. Di satu
pihak ia menjadi pengendali masyarakat, sedangkan dipihak lain ia juga menjadi
objek yang dikendalikan masyarakat. Di satu pihak ia menjadi pengaman
masyarakat, sedangkan di pihak lain ia juga menjadi perusak masyarakat. Di
pihak yang lain, pada saat yang sama, manusia merupakan anggota dari jenisnya,
menjadi mahluk sosial yang diatur oleh norma sosial yang membatasi cara
berpikir, pengungkapan perasaan, dan tindakannya sesuai dengan peraturan, serta
pola masyarakat. Manusia sebagai individu, bertindak dan bertanggung jawab atas
perbuatannya sendiri, sedangkan sebagai mahluk sosial ia harus bertindak sesuai
dengan pola masyarakat dan bertanggung jawab serta mempertanggung jawabkan
perbuatannya kepada masyarakat.

17
Masyarakat sebagai Tempat antar-Hubungan Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan kenyataan bahwa manusia
sebagai makhluk sosial ada kecenderungan saling membutuhkan dan memiliki
kepentingan. Dari kecenderungan ini manusia seringkali melakukan kesalahan
terhadap sesama manusia. Kecenderungan yang bersifat sosial ini selalu timbul
pada diri manusia. Dari kenyataan ini timbullah suatu struktur antarhubungan
yang beraneka ragam. Keragaman itu berbentuk kolektivitas serta kelompok.
Tiap-tiap kelompok terdiri atas kelompok-kelompok yang lebih kecil. Apabila
kolektivitas-kolektivitas dan kelompok-kelompok mengadakan persekutuan dalam
bentuk yang lebih besar, maka terbentuklah sebuah “masyarakat“.

Pada setiap masyarakat, jumlah kelompok dan kesatuan sosial tidak hanya
satu. Di samping individu, warga masyarakat juga dapat menjadi bagian dari
berbagai kelompok dan kesatuan sosial yang hidup dalam masyarakat. Adanya
penggolongan dalam masyarakat menyebabkan beraneka ragam bentuk dan
kriteria sebuah masyarakat. Hal ini terletak pada peran dan hubungan sosial
manusia di dalamnya.

Dalam hubungannya dengan penggolongan-penggolongan dan tempat


manusia berinteraksi sosial, maka kelompok masyarakat sangat beraneka ragam,
di antaranya adalah sebagai berikut.

1) Kelompok Primer dan Sekunder


Kelompok primer adalah kelompok yang ditandai ciri-ciri saling mengenal
antara anggota-anggotanya, serta kerja sama erat dan bersifat pribadi. Salah satu
hasil yang bersifat pribadi adalah adanya peleburan individu-individu dalam satu
kelompok, sehingga tujuan individu juga menjadi tujuan kelompok. Adanya
kebersamaan yang mempersatukan sifat-sifat perseorangan dan dikomunikasikan
secara simpati dan empati dengan sederhana dinyatakan dalam istilah “kami”
Misalnya kelompok keluarga.

Kelompok sekunder adalah kelompok yang para anggotanya tidak saling


mengenal antarhubungan langsung, hubungan sosial yang tidak akrab, atau hanya
dengan hubungan rasional (Soerjono Soekanto, 1982).

2) Gemeinschaft dan Gesellschaft


Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama. Unsur pengikatnya
berupa hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah. Faktor ikatannya berupa
rasa cinta dan kesatuan batin yang bersifat kodrati. Dalam hal ini Tonnies
membedakan menjadi tiga tipe, yaitu:
Gemeincshaft by blood, merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau
keturunan. Contoh: keluarga, kelompok kekerabatan.

18
Gemeinschaft of place, yaitu kelompok yang terdiri atas orang-orang yang
berdekatan tempat tinggal, sehingga dapat saling tolong-menolong. Contoh:
Rukun Tetangga, Rukun Warga.
Gemeinschaft of mind, kelompok yng tidak mempunyai hubungan darah atau
tempat tinggal tidak berdekatan, tetapi mempunyai jiwa dan pikiran yang sama
karena memiliki kesamaan ideologi.

Gesellschaft diartikan bentuk ikatan bersama berupa ikatan lahir yang


bersifat pokok dalam jangka waktu tertentu, didasarkan pada adanya kebutuhan
timbal balik, seperti ikatan pedagang, serikat buruh, dan sebagainya (Soerjono
Soekanto, 1982 : 86).

3). Formal Group dan Informal Group


Formal Group adalah suatu kelompok sosial yang di dalamnya terdapat
tata aturan yang tegas yang sengaja dibuat dalam rangka mengatur hubungan
antar-anggotanya. Dalam tata aturan itu dicantumkan tentang hak, kewajiban, dan
kedudukan para anggotanya. Contoh kelompok sosial seperti ini adalah ikatan
kelompok professional, seperti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI).
Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), dan sebagainya.

Sementara, kelompok informal (informal group) adalah kelompok sosial


yang mempunyai struktur dan organisasi pasti (permanent). Kelompok semacam
ini didorong oleh suatu pertemuan-pertemuan yang terjadi berulang kali untuk
kepentingan-kepentingan tertentu atas dasar pengalaman yang sama. Misalnya
Clique yang ditandai dengan pertemuan-pertemuan timbal balik antara para
anggotanya. Seperti anggota serikat buruh (kelompok kecil tanpa struktur formal)
mengadakan pertemuan-pertemuan dalam membicarakan kepentingan tertentu
(Kamanto Sunarto, 1993 : 35).

4). Community
Community adalah kelompok yang memperhitungkan keanggotaannya
berdasarkan hubungan anggotanya dengan lingkungan setempat (lokal). Setiap
usaha untuk mendefinisikan community (masyarakat) itu selalu menemui dilemma
yang sama, yaitu hadirnya masyarakat (community) dalam kelompok primer
maupun sekunder, dan masyarakat memiliki kriteria yang bersifat fisik dan
kriteria itulah menentukan masyarakat (community).

Orang hidup itu tidak pernah lepas dari masalah tempat tinggal. Mereka
selalu berdiam dalam suatu tempat yang tertentu. Interaksi di antara para penghuni
tempat itu dipandang lebih mudah dilakukan daripada dengan orang lain. Pada
dasarnya penghuni tempat itu dapat saja berurusan dengan orang lain, tetapi
tidaklah sesering dan semudah dengan penghuni lainnya. Nampaknya hubungan
di antara sesama penghuni itu dapat dipergunakan untuk memperoleh kesenangan,
kunjungan, pekerjaan dan hal-hal lainnya. Dengan mempergunakan alat-alat
komunikasi yang sederhana mereka mengadakan hubungan yang sifatnya primer

19
dalam wilayah yang terbatas. Orang yang masuk ke dalam suatu masyarakat
merasa lebih senang berhubungan dengan sesama anggota kelompok daripada
dengan lain.

Community merupakan kelompok territorial terkecil yang dapat


menampung semua aspek kehidupan sosial yang memiliki aspek yang lengkap.
Adapun rumah tangga merupakan kelompok yang lebih kecil yang memiliki ruang
lingkup yang lebih tebatas. Selanjutnya community adalah kelompok lokal yang
merupakan masyarakat berkat adanya institusi, status, dan minat, sehingga
community itu dapat disebut sebagai sebuah masyarakat yang lengkap.

5). Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota


Salah satu perbedaan yang ada dalam masyarakat modern adalah antara
desa dan kota. Hal ini karena pada umumnya desa atau dusun selalu menerima
pengaruh kota. Sementara itu masyarakat primitif adalah masyarakat yang berada
sepenuhnya bersifat pedesaan, dan masyarakat yang selalu merupakan masyarakat
kekotaan. Selanjutnya perbedaan antara desa dan kota adalah tidak tetap, karena
yang dimaksud dengan desa itu tak akan pernah memiliki sifat pedesaan secara
terus-menerus.

Secara sosial, kota adalah suatu cara hidup (way of life). Kekotaan atau
urban memang menunjukan suatu cara hidup, berkenan dengan pengetahuan
tentang barang dan orang, serta sejumlah tata krama yang timbul dalam
lingkungan kosmopolitan. Orang kota harus mampu bersikap sesuai dengan
lingkungan, hormat, dan sopan, serta mampu menahan suara hati. Mereka harus
belajar tentang bagaimana mengendalikan perbedaan dalam situasi yang berbeda-
beda dan mengambil manfaat dari persahabatan. Dengan demikian, orang
merupakan produk dari berbagai jenis lingkungan khusus yang berlatar belakang
kekotaan (Kamanto Sunarto, 1993 : 72).

1.3. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

1.3.1 Hakikat Keberadaan Manusia

Sebelumnya telah dibahas bahwa manusia sebagai mahluk individu dan


sosial, namun tidak ada salahnya perlu dikemukakan juga mengenai hakikat
manusia itu sendiri. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi
dan paling beradab dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya. Keberadaan
manusia tersebut apabila dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya, yaitu benda
mati, tumbuh-tumbuhan, dan juga binatang. Benda mati tidak dapat berbuat apa-
apa, kecuali ada dorongan atau tindakan dari ciptaan Tuhan lainnya sebagai
makhluk hidup terhadap benda mati itu, sehingga benda mati ini seringkali
dijadikan alat untuk membantu atau menopang kehidupan manusia.

20
Sebagaimana makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan juga tumbuh dan
berkembang, namun ia tidak dapat berpindah, mempunyai emosi, atau berinteraksi
langsung dengan pihak lain yang memberikan suatu aksi atau tindakan pada
dirinya. Misalnya tumbuh-tumbuhan tidak dapat: berjalan, berlari, marah ketika
ditebang, tertawa ketika disiram atau diberi pupuk, meresponss ketika diajak
berinteraksi atau berkomunikasi. Demikian pula dengan binatang, yang walaupun
dapat berpindah-pindah, mempunyai emosi, dan dapat berinteraksi maupun
berkomunikasi, namun apa yang dilakukannya hanya dalam lingkup dan proses
belajar yang terbatas, serta lebih karena adanya dorongan nalurinya saja.

Sementara itu, manusia mempunyai tingkatan lebih tinggi lagi karena


selain mempunyai ciri-ciri sebagaimana makhluk hidup di atas, manusia juga
mempunyai akal yang dapat memperhitungkan tindakannya yang kompleks
melalui proses belajar yang terus menerus. Selain itu manusia dikatakan pula
sebagai makhluk budaya. Budaya diartikan sebagai pikiran atau akal budi (Pusat
Bahasa Diknas, 2001: 169), sehingga makhluk budaya dapat diartikan sebagai
makhluk yang memiliki pikiran atau akal budi.

Aspek yang terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk budaya antara
lain adalah unik dan universal. Secara umum, siapapun dan di manapun manusia
berada ia adalah makhluk budaya yang mempunyai akal pikiran, sehingga dalam
lingkup yang lebih luas sebagai bagian dari kumpulan/kelompok manusia atau
masyarakat akan mempunyai kebudayaan yang beragam karena mereka berpikir
atau mengalami proses belajar dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan dan kebutuhannya masing-masing. Sedangkan dalam konteks
individual, manusia adalah makhluk budaya yang unik. Unik karena antara
makhluk hidup yang satu dan lainnya berbeda, dalam berperilaku, menciptakan
dan mengekspresikan simbol-simbol. Oleh karena itu, manusia juga dikatakan
sebagai animal simbolikum yang mempunyai dorongan untuk mencipta simbol-
simbol tersebut.

Dalam hubungannya dengan manusia dikatakan juga sebagai makhluk


budaya maka manusia diartikan juga sebagai makhluk yang dengan kegiatan
akalnya dapat mengubah dan bahkan dapat menciptakan realitas melalui simbol-
simbol atau sistem perlambangan. Contoh dari sistem perlambangan di sini adalah
bahasa, yang melambangkan sesuatu berdasarkan sistem pola hubungan antara
benda, tindakan, dan sebagainya dengan yang apa yang dilambangkan. Bahasa di
sini tidak hanya yang verbal tapi juga berupa tulisan, lukisan, tanda-tanda, atau
isyarat-isyarat. Selain bahasa, sistem perlambangan digunakan manusia sebagai
makhluk budaya dalam segala bidang dalam berinteraksi dan berkomunikasi
dengan manusia atau makhluk lainnya.

Dengan demikian sebagai animal simbolikum manusia adalah unik karena


tiap manusia mempunyai kebutuhan dan kemampuan menciptakan atau
mengekspresikan segala sesuatu dengan lambang atau simbol-simbol itu secara
berbeda-beda. Sementara sebagai makhluk budaya manusia adalah universal

21
karena setiap manusia dianugerahi Tuhan akal yang dapat berkembang terus
melalui proses belajar kebudayaan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan
hidupnya. Secara universal, perilaku manusia sebagai makhluk budaya merupakan
gabungan dari adanya unsur fisik/raga dan mental/kepribadiannya. Sehingga yang
berkembang dalam diri manusia adalah tidak hanya raganya namun juga ia
berkembang secara emosional dan intelektual.

1.3.2. Manusia Budaya dan Nilai Budaya

Kehidupan manusia dapat dilihat dari sisi dirinya sebagai individu


(pribadi) dan sebagai makhluk sosial. Sebagai individu, ia merupakan makhluk
ciptaan Tuhan yang bagian dirinya terdiri atas tubuh biologis yang secara kasat
mata dapat kita amati. Selain itu, sebagai manusia budaya iapun mempunyai akal
dan jiwa yang mengatur atau menentukan bagaimana berperilaku. Tiap orang
secara individu mempunyai kekhasan perilaku dan pembawaan sifat atau karakter
yang berbeda satu sama lain yang disebut sebagai kepribadian. Keberadaan
keduanya, yaitu tubuh biologis dan kepribadian, merupakan satu kesatuan dalam
diri manusia yang tidak terpisahkan satu sama lain.

Dengan adanya kepribadian, sebagaimana telah dikemukakan di atas,


perilaku manusia satu dengan lainnya secara individual maupun berkelompok
mempunyai pola-pola yang beragam. Hal itu pula yang membedakan perilaku
manusia dengan hewan, karena perilakunya tidak hanya ditentukan oleh sistem
organik biologisnya saja, melainkan dipengaruhi juga oleh akal dan jiwanya atau
yang disebut kepribadian.

Dalam bahasa populer, kepribadian diartikan sebagai ciri-ciri watak


seorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas
sebagai individu yang khusus. Dalam keseharian, kadang kita mendengar istilah
“ia seorang yang berkepribadian”, maka yang dimaksudkan adalah orang tersebut
mempunyai ciri watak yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan
konsekuen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa individu tersebut
memiliki identitas khusus yang berbeda dari individu-individu lainnya.

Isi dari kepribadian manusia terdiri atas 1) pengetahuan ; 2)perasaan, dan;


3) dorongan naluri. Pengetahuan merupakan unsur-unsur atau segala sesuatu yang
mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung
di dalam otak manusia melalui penerimaan pancaindranya serta alat penerima atau
reseptor organismanya yang lain (Koentjaraningrat, 1986: 101-111).

Selain oleh pengetahuan, alam kesadaran manusia juga diisi oleh


perasaannya. Yang dimaksudkan dengan perasaan di sini adalah suatu keadaan
dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai
keadaan positif atau negatif. Misalnya, seorang dari daerah Jawa menyukai tari
Gambyong yang lemah lembut, atau bagi orang dari Bali menyukai tari Kecak
yang dinamis. Semua perasaan suka atau positif itu dipengaruhi oleh

22
pengetahuannya yang sudah disosialisasikan terhadap dirinya melalui proses
belajar kebudayaan. Sebaliknya, seseorang tidak menyukai makanan tertentu atau
bau tertentu, sebagai perasaan negatif, disebabkan oleh pengetahuan atau
pengalaman dirinya melalui proses belajar tadi. Sehingga suatu perasaan selalu
bersifat subjektif karena adanya unsur penilaian tadi. Dari perasaan ini kemudian
dapat berkembang menjadi suatu kehendak untuk mencapainya atau sebaliknya
menghindari sesuatu itu, tergantung dari perasaannya apakah sebagai perasaan
yang positif atau negatif terhadap sesuatu hal.

Kalau unsur perasaan di atas muncul karena dipengaruhi oleh pengetahuan


manusia, maka kesadaran manusia yang tidak ditimbulkan oleh pengaruh
pengetahuan manusia melainkan karena sudah terkandung dalam organismanya
disebut sebagai naluri. Sehubungan dengan naluri tersebut, kemauan yang sudah
merupakan naluri pada tiap manusia disebut sebagai “dorongan” (drive), maka
disebut juga sebagai dorongan naluri.

Macam-macam dorongan naluri manusia, antara lain adalah:


1. dorongan untuk mempertahankan hidup;
2. dorongan seks;
3. dorongan untuk usaha mencari makan;
4. dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia;
5. dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya;
6. dorongan untuk berbakti;
7. dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau
gerak (Koentjaraningrat, 1986 : 109-111).

Dorongan-dorongan naluriah tersebut kemudian berkembang menjadi


kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya yang disesuaikan dengan keadaan lingkungan
maupun status dirinya dalam konteks makhluk sosial. Selain itu tinjauan
kebutuhan hidup inipun berkaitan erat dengan keberadaan manusia yang
mempunyai ragam hubungan, yaitu dengan pencipta alam, manusia lain (sebagai
makhluk sosial), dan dengan diri sendiri.

Dalam pemenuhan kebutuhan hidup tadi, sebagai suatu permasalahan,


manusia memerlukan penyelesaian atau penyaluran. Mengingat manusia tidak
hidup seseorang diri, dan mengingat pula keberadaan dirinya sebagai manusia
budaya yang berakal budi, maka tindakan-tindakan yang dilakukannya harus
memiliki aturan-aturan yang perlu ditaati sebagai acuan atau pedoman hidup
bersama. Aturan-aturan perilaku hidup bersama tadi dijiwai oleh suatu nilai yang
dianggap tinggi, penting dan berharga oleh suatu masyarakat yang dinamakan
sebagai nilai budaya. Nilai-nilai budaya yang mewarnai pola-pola kehidupan
bersama di dalam mayarakat yang satu akan berbeda dengan nilai budaya
masyarakat di wilayah atau negara lain. Perbedaan-perbedaan itu terjadi karena
cara pandang yang berbeda, tergantung bagaimana masyarakat tersebut
memandang suatu acuan hidup itu bernilai atau tidak, yang ditunjukkan dengan
penundukkan diri pada nilai budaya itu.

23
Dengan demikian di tiap masyarakat mempunyai nilai budaya tertentu
yang berbeda-beda. Sebagai contoh, pada masyarakat Indonesia yang agraris
mempunyai nilai budaya kebersamaan atau komunalistik. Wujud dari nilai ini
melahirkan suatu nilai gotong royong, musyawarah untuk mufakat, dan lain-lain.
Nilai budaya ini berbeda dengan masyarakat di Eropa atau Amerika Serikat
sebagai negara industri yang mempunyai nilai kemandirian yang individualistik.
Nilai-nilai budaya ini ada atau berkembang di suatu wilayah atau negara karena
masyarakatnya menganggap hal itulah yang paling bernilai atau sesuai dengan
kondisi atau kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, pada
tahap selanjutnya nilai-nilai budaya yang bersifat abstrak dan berada dalam alam
pikiran warga masyarakat ini akan menjiwai atau menjadi inti dari aturan-aturan
atau norma-norma berperilaku lainnya yang lebih konkret untuk diterapkan. Nilai-
nilai budaya tersebut adalah suatu sistem nilai budaya masyarakat. Dikatakan
sebagai sistem karena merupakan himpunan nilai yang tidak terdiri atas satuan
gagasan yang masing-masing berdiri sendiri, melainkan suatu kesatuan yang
berkaitan erat satu sama lain.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, sistem nilai budaya sebagai inti


yang menjiwai semua pedoman yang mengatur tingkah laku warga masyarakat
yang bersangkutan. Pedoman tingkah laku itu adalah adat istiadatnya, sistem
normanya, aturan etikanya/moralnya, aturan sopan santunnya, pandangan hidup,
ideologi pribadi, ideologi nasionalnya, dan sebagainya.

Sebagai inti, sistem nilai budaya berbeda dengan pedoman-pedoman


tingkah laku itu sendiri. Pedoman tingkah laku menyangkut soal-soal yang
terbatas ruang lingkupnya, dapat didefinisikan dengan ketat dan bersifat rasional,
serta dapat diubah apabila perlu, misalnya aturan adat perkawinan, aturan sopan
santun, dan sebagainya. Sedangkan sistem nilai budaya bersifat umum, sangat
luas ruang lingkupnya, bersifat kabur dan sangat sulit didefinisikan, dihinggapi
rasa emosional dan sangat sulit diubah, misalnya nilai gotong royong. Dengan
demikian sistem nilai budaya dikatakan juga sebagai bagian dari suatu
kebudayaan yang paling abstrak, paling “dalam”, dan paling sulit diubah. Oleh
karena itu, mengubah orientasi nilai budaya suatu masyarakat sangat sulit
dilakukan, dan memerlukan waktu relatif lama.

Sistem nilai budaya dan pedoman tingkah laku lainnya merupakan wujud
ideal dari kebudayaan. Secara lebih khusus wujud ideal tersebut dibagi dalam
empat tingkatan, yaitu:
1. tingkat nilai budaya, bersifat paling abstrak yang berfungsi sebagai
pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia, contoh: nilai gotong royong;
2. tingkat norma, bersifat abstrak;
3. tingkat sistem hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis, bersifat agak
konkrit, contoh: undang-undang;
4. tingkat aturan-aturan khusus, bersifat konkrit, contoh: aturan-aturan
pelaksanaan dari suatu undang-undang.

24
1.3.3. Orientasi Nilai Budaya
Nilai-nilai yang hidup dalam suatu kehidupan manusia mempunyai bentuk
yang tergantung pada ragam hubungan dalam keberadaan manusia. Berkaitan
dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, maka nilai-nilai yang ditaati adalah
nilai-nilai yang sesuai dengan keyakinannya atau disebut sebagai nilai agama atau
nilai spiritual. Dalam konteks diri manusia sebagai makhluk sosial, maka nilai
yang dianutnya adalah nilai-nilai yang hidup dan didukung oleh sebagian besar
warga masyarakatnya sebagai nilai budaya. Sebagai suatu sistem nilai, nilai
budaya dari warga masyarakat ini juga dipengaruhi oleh nilai-nilai agama atau
spiritual tadi.

Kemudian telah dikemukakan juga bahwa tiap masyarakat mempunyai


nilai budaya yang berbeda satu sama lain. Perbedaan nilai budaya suatu
masyarakat atau warga masyarakat ini dikarenakan adanya pengaruh dari orientasi
nilai budayanya. Bentuk-bentuk orientasi nilai budaya yang ada dalam berbagai
masyarakat dapat kita lihat dalam bagan berikut ini.

Kerangka Kluckhohn mengenai Lima Masalah Dasar Dalam Hidup yang


Menentukan Orientasi Nilai Budaya Manusia

Masalah Dasar Orientasi Nilai Budaya


Dalam Hidup
Hakikat Hidup Hidup itu buruk Hidup itu baik Hidup itu buruk tetapi
(MH) manusia wajib berikhtiar
supaya hidup itu menjadi
baik
Hakikat karya Karya itu untuk Karya itu untuk Karya itu untuk menambah
(MK) nafkah hidup kedudukan, karya
kehormatan, dan
sebagainya.
Persepsi manusia Orientasi ke masa kini Orientasi ke masa lalu Orientasi ke masa depan
tentang waktu
(MW)
Pandangan Manusia tunduk Manusia berusaha Manusia berhasrat
manusia terhadap kepada alam yang menjaga keselarasan menguasai alam
alam dasyat dengan alam
(MA)
Hakikat hubungan Orientasi kolateral Orientasi vertikal, Individualisme, menilai
antara manusia (horizontal), rasa rasa ketergantungan tinggi usaha atas kekuatan
dengan sesamanya ketergantungan kepada tokoh-tokoh sendiri
(MM) kepada sesamanya atasan dan berpangkat
(berjiwa gotong
royong)
(Sumber: Koentjaraningrat, 1986: 194)

25
BAB II
AKHLAK DAN BUDI PEKERTI

2.1. Pengertian Akhlak dan Budi Pekerti

2.1.1 Pengertian Akhlak


Kata ’akhlak’ merupakan bentuk jamak (plural) dari kata ’khuluk’, berasal
dari bahasa Arab yang berarti ”perangai”, ”tingkah laku”, atau ”tabiat”. Secara
terminologi, ’akhlak’ berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu
keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Tiga pakar di
bidang akhlak, yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan
bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat
memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu
(Rahmat Djatnika, 1992 : 27)

Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral, dan etika
yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika dilihat
dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda. Akhlak bersumber dari agama
wahyu. Moral bersumber dari adat istiadat masyarakat. Sementara etika
bersumber dari filsafat moral dan akal pikiran

Jika dikaji lebih mendalam dan dihubungkan dengan konteks kalimat, kata
moral, etika, dan akhlak memiliki pengertian yang berbeda. Moral artinya ajaran
tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban,
budi pekerti. Moral adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas
suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan
benar, salah, baik, buruk. Yang dimaksud penilaian benar atau salah dalam moral,
adalah masyarakat secara umum. Sedangkan akhlak, tingkah laku baik, buruk,
salah benar adalah penilaian dipandang dari sudut hukum yang ada dalam ajaran
agama. Dalam Ensiklopedi Pendidikan (1976) Sugarda Purbakawatja
menyebutkan, sesuai dengan makna aslinya moral dalam bahasa latin disebut
mos, artinya adalah adat istiadat yang menjadi dasar untuk mengukur apakah
perbuatan seseorang baik atau buruk. Oleh karena itu, apabila untuk mengukur
tingkah laku manusia, baik atau buruk dapat dilihat apakah perbuatan itu sesuai
dengan adat istiadat yang umum diterima kesatuan sosial atau lingkungan
tertentu. Karena itu dapat dikatakan baik buruk suatu perbuatan secara moral,
bersifat lokal (Daud Ali,1998 : 354).

Perbedaannya dengan “etika” dalam Kamus Bahasa Indonesia


(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) edisi ke-3 (2001), etika dimengerti
sebagai ilmu tentang etik. Jadi etika, yaitu ilmu tentang apa yang baik dan apa
yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral. Etika merupakan cabang dari
filsafat yang mempelajari tingkah laku manusia untuk menentukan nilai perbuatan
baik dan buruk, ukuran yang dipergunakannya adalah akal pikiran. Akallah yang

26
menentukan apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. Jika diperbandingkan
ketiga kata tersebut, maka etika adalah ilmu, moral adalah ajaran, akhlak adalah
tingkah laku manusia (sikap etis).
Kata “akhlak” dapat diartikan sebagai perangai. Kata tersebut memiliki
arti yang lebih mendalam karena telah menjadi sifat dan watak yang dimiliki
seseorang. Sifat dan watak yang telah melekat pada diri pribadi akan menjadi
kepribadian. Dapat juga dikatakan bahwa perangai adalah sifat dan watak yang
merupakan bawaan seseorang. Pembentukan perangai ke arah baik atau buruk,
ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu
lingkungannya. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan terdekat bagi
seseorang. Melalui keluarga dapat terbentuk kepribadian. Perangai dalam
penerapannya mungkin menimbulkan penilaian positif atau negatif tergantung
pada perilaku orang yang melakukan.
Kata akhlak apabila diartikan sebagai tingkah laku, maka tingkah laku itu
harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan
perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seperti halnya orang berbuat
sosial dengan memberikan uang pada orang miskin atau memberikan bantuan
pada korban bencana alam, hanya sekali dia melakukan tidak dapat disebut
berakhlak, ia hanya dikatakan sebagai seorang dermawan. Apabila terus menerus
melakukan kebaikan dan memperlihatkan tingkah laku yang baik maka seseorang
disebut berakhlak. Selanjutnya orang dapat dikatakan berakhlak jika timbul
dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa
banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang,
sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Jika perbuatan itu terpaksa
bukanlah pencerminan akhlak (Ensiklopedi Islam, I, 1993, 102).
Dengan demikian, seseorang dikatakan berahklak jika memenuhi empat
hal. Pertama perbuatan yang baik atau buruk; kedua kemampuan melakukan
perbuatan; ketiga kesadaran akan perbuatan itu; dan keempat kondisi jiwa yang
membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk. Dalam Encyclopedia
Brittanica, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak, yaitu studi yang sistematik tentang
tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebagainya
tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat
disebut juga sebagai filsafat moral (Ensyclopaedi of Britannica, “Etics”, jilid VIII:
752)

2.1.2 Pengertian Budi Pekerti


Budi pekerti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kata
majemuk dari kata “budi” dan “pekerti”. Budi berarti yang sadar atau yang
menyadarkan atau alat kesadaran. Pekerti berarti kelakuan. Secara terminologi,
kata ‘budi’ ialah yang ada pada manusia, berhubungan dengan kesadaran, yang
didorong oleh pemikiran, rasio disebut karakter. Pekerti ialah apa yang terlihat
pada manusia, karena didorong oleh perasaan hati, yang disebut behavior. Jadi
budi pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermenifestasi pada
karsa dan tingkah laku manusia (Rahmat Djatnika, 1992 : 25)

27
Kata budi pekerti dalam kamus Bahasa Indonesia ialah tingkah laku,
perangai, akhlak. Budi pekerti mengandung makna perilaku yang baik, bijaksana
dan manusiawi. Di dalam perkataan itu tercermin sifat, watak seseorang dalam
perbuatan sehari hari. Budi pekerti sendiri mengandung pengertian positif. Namun
penggunaan atau pelaksanaannya yang mungkin negatif. Penerapannya tergantung
pada manusia. Karena itu, apabila orang mengatakan budi pekerti si Badu baik
kata-kata itu menunjukkan penilaian positif yang diberikan orang lain pada
pribadi si Badu. Sebaliknya kalau orang mengatakan budi pekerti si Badu buruk,
perkataan itu menunjukkan penilaian negatif terhadap pribadi si Badu. Apabila
dihubungkan dengan akhlak yang berarti perangai adalah sama mengandung
pengertian tingkah laku manusia.

Budi pekerti didorong oleh kekuatan rohani manusia, yaitu rasio, rasa, dan
karsa yang akhirnya muncul menjadi perilaku yang dapat terukur dan menjadi
kenyataan dalam kehidupan. Ratio mempunyai tabiat kecenderungan kepada ingin
tahu dan mau menerima yang logis, yang masuk akal dan sebaliknya tidak mau
menerima yang anlogis, yang tidak masuk akal. Untuk mengisi kebutuhan rasio
dengan memberi pengetahuan dan mengisinya dengan hal yang masuk akal.
Manusia diberi kesempatan berpikir dan mengembangkan, serta membimbing
akal ke arah yang benar. Oleh karena itu, belajar menuntut ilmu merupakan
pemenuhan kebutuhan rasio. Dalam hal ini yang terpenting adalah ilmu
pengetahuan tentang benar dan salah atau tentang baik dan buruk.
Di samping unsur rasio, manusia mempunyai unsur rasa. Perasaan
manusia selalu berhubungan dengan pengalaman, pendidikan, pengetahuan dan
suasana lingkungan. Demikian pula perasaan manusia dipengaruhi oleh keyakinan
yang diyakini tentang kebenaran dan kebaikan.

Rasa mempunyai tabiat kecenderungan pada keindahan. Letak keindahan


adalah pada keharmonisan susunan sesuatu, harmonis antara unsur jasmani
dengan rohani, harmonis antara cipta, rasa, dan karsa, harmonis antara mental dan
tingkah laku, harmonis antara individu dengan masyarakat, harmonis susunan
keluarga, harmonis hubungan antara keluarga. Keharmonisan akan menimbulkan
rasa nyaman dalam kalbu dan tenteram dalam hati. Jika tidak ada keharmonisan
akan timbul gejolak dalam hati, timbul keresahan dan kegelisahan yang
mengganggu ketenteraman dan kenyamanan dalam hati.

Rasa manusia tidak terlepas dari hubungan dengan rasio dan


keyakinannya. Rasa yang berhubungan dengan kesadaran adalah perasan hati
nurani murni yang keluar dari lubuk hati dan merupakan sesuatu kekuatan, pelita
hati, yang menyinari hidupnya. Perasaan hati itu sering disebut “hati kecil” atau
disebut “suara kata hati”, lebih umum lagi disebut hati nurani. Suara hati selalu
mendorong untuk berbuat baik dan yang bersifat keutamaan serta
memperingatkan perbuatan yang buruk dan berusaha mencegah perbuatan yang
bersifat buruk dan hina. Setiap orang mempunyai suara hati, walaupun suara hati

28
masing-masing kadang berbeda. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan
keyakinan, perbedaan pengalaman, perbedaan lingkungan, perbedaan pendidikan
dan sebagainya. Namun suara hati mempunyai kesamaan, yaitu keinginan
mencapai kebahagiaan dan keutamaan kebaikan yang tertinggi sebagai tujuan
hidup.

Manusia memiliki karsa berhubungan dengan rasio dan rasa. Karsa disebut
kemauan atau kehendak. Hal ini berbeda dengan keinginan. Keinginan lebih
mendekati pada senang atau cinta yang kadang-kadang berlawanan antara satu
keinginan dengan keinginan lainnya dari seseorang pada suatu waktu yang sama,
keinginan belum menuju pada pelaksanaan. Kehendak atau kemauan adalah
keinginan yang dipilih di antara keinginan-keinginan yang banyak untuk
dilaksanakan. Dengan kata lain, kehendak adalah keinginan yang dimenangkan di
antara keinginan-keinginan yang banyak setelah mengalami kebimbangan.
Adapun kehendak muncul melalui sebuah proses sebagai berikut.
1) Ada stimulan ke dalam panca indra.
2) Timbul keinginan-keinginan.
3) Timbul kebimbangan, proses memilih.
4) Menentukan pilhan kepada salah satu keinginan.
5) Keinginan yang dipilih menjadi salah satu kemauan, selanjutnya akan
dilaksanakan (Rahmat Djatnika, 1992 : 167).

Dalam kehidupan manusia, ada perbuatan yang dilaksanakan dengan


kehendak dan ada pula perbuatan yang dilaksanakan tanpa kehendak. Perbuatan
yang dilaksanakan dengan kesadaran dan dengan kehendak inilah yang disebut
perbuatan budi pekerti.

2.2 Ruang Lingkup Ahklak dan Budi Pekerti


Sebagaimana telah dikemukakan di atas, akhlak merupakan tingkah laku
manusia yang identik dengan perkataan budi pekerti, maka mempunyai ruang
lingkup yang sesuai dengan aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia sebagai mahluk individu dan sekaligus mahluk sosial ciptaan Tuhan,
dalam kehidupannya senantiasa berhubungan dengan Tuhan dan berhubungan
dengan sesama manusia lain dan alam sekitar. Oleh karena itu, akhlak tidak
semata-mata kelakuan manusia yang nampak, tetapi banyak aspek yang berkaitan
dengan sikap batin maupun pikiran.

Ketika manusia ingin melakukan komunikasi dengan Tuhan, ia


membutuhkan norma-norma yang mengatur bagaimana pola bertingkah laku
kepada Tuhan, agar perbuatannya dinilai baik untuk menghadap kepada
penciptanya. Selanjutnya sebagai mahluk sosial, manusia berperilaku untuk
memelihara diri sendiri, berkomunikasi dengan sesama manusia lain dalam
kehidupan keluarga dalam bertetangga, bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Selain dengan manusia sebagai mahluk hidup, manusia juga hidup dalam
lingkungan alam sekitar, baik hidup maupun mati (benda tak bergerak), meliputi

29
tumbuhan, hewan, batu-batuan, sungai, gunung, hasil seni budaya, peninggalan
peninggalan budaya, hasil temuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan
sebagainya. Semua hal tersebut memerlukan keteraturan yang membuat manusia
dapat berbuat baik dan benar.
Dengan demikian ruang lingkup akhlak meliputi hal-hal berikut ini.
2.2.1 Akhlak terhadap Tuhan Yang Mahaesa
Tuhan adalah pelindung dan memberi makna dalam setiap kehidupan
manusia, terutama bagi manusia yang beragama, karena inti agama adalah Tuhan.
Agama tanpa kepercayaan kepada Tuhan tidak disebut agama. Dalam agama-
agama wahyu, Tuhan dapat dilihat dari aspek eksistensi Tuhan. Agama Yahudi
menekankan pada Tuhan yang hidup (The Living God). Agama Kristen menyebut
Tuhan dengan tripersonal, yaitu Tuhan Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Menurut
agama Kristen, tiga person merupakan satu kesatuan tidak dapat dipisahkan satu
sama lainnya. Dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan istilah Satu dalam
Tiga dan Tiga dalam Satu (Amsal Bahtiar, 1999 : 203). Dalam agama Islam
Tuhan adalah maha pencipta, maha pemberi kehidupan, maha tinggi. Oleh karena
itu, Tuhan berdimensi serba maha jika dibandingkan dengan manusia. Semua
pemeluk agama selalu memberikan penghormatan dan kedudukan yang tertinggi
kepada Tuhan. Sebagai wujud dari penghormatan dan kedudukan yang tinggi,
ummat dari masing-masing agama memanjatkan dan memohon doa kepada Tuhan
untuk memperoleh perlindungan serta mohon keselamatan dalam kehidupannya.
Untuk itu, perilaku terhadap Tuhan perlu diatur berdasarkan pada norma-norma
yang berlaku bagi agama masing-masing. Berakhlak kepada Tuhan merupakan
pengembangan kehidupan kerohanian bagi pribadi manusia. Dengan memelihara
kehidupan rohani manusia akan merasa hidup tenang, tenteram di bawah
lindungan Tuhan.

Akhlak yang baik terhadap Tuhan adalah berkata-kata dan bertingkah laku
yang terpuji, baik melalui penyembahan langsung maupun melalui perilaku-
perilaku tertentu yang mencerminkan komunikasi dengan Tuhan di luar
penyembahan sebagai wujud penghormatan kepada Tuhan.

2.2.2 Akhlak Terhadap Manusia


2.2.2.1 Akhlak terhadap Rasul utusan Allah, karena Rasul adalah manusia
pilihan Allah yang juga memiliki sifat sifat kemanusiaan sebagaimana manusia
pada umumnya. Bedanya Rasul adalah perilakunya senantiasa dijaga agar tidak
berbuat yang salah dan jelek. Adapun akhlak terhadap Rasul adalah meneladani
Rasul dalam setiap perilakunya. Dalam hal ini Rasul sebagai pembawa ajaran
Tuhan agar dapat sampai pada manusia dan dapat dimengerti oleh manusia
sebagai penganut agama Wahyu yang diturunkan oleh Tuhan.

2.2.2.2 Akhlak terhadap diri sendiri. Akhlak kepada diri sendiri adalah
menyayangi diri sendiri dengan menjaga diri dari perbuatan buruk. Berakhlak
pada diri sendiri di antaranya melakukan perbuatan berikut ini.

30
1) Menjaga dan memelihara hati agar memiliki hati yang bersih dan jernih, selalu
berbicara sesuai dengan hati nuraninya sendiri. Membersihkan hati berupa
menahan dan mengendalikan keinginan-keinginan atau dorongan-dorongan hati
yang membawa kearah tidak baik.

Hati yang bersih akan melahirkan ucapan ucapan dan perilaku yang baik yang
merupakan gambaran akhlak yang mulia. Ucapan yang baik digambarkan dalam
tutur kata yang sopan dan dapat menempatkan orang lain lebih tinggi dari dirinya
sendiri. Jika hati bersih dan sehat pikiranpun dapat menjadi cerdas, karena tidak
ada waktu untuk berpikir licik, dengki, atau keingnan untuk menjatuhkan orang
lain. Kebencian terhadap orang lain memakan waktu produktivitas dan
kebahagiaan. Akibat hati dan pikiran bersih akan memilki akses data yang tinggi,
akses informasi yang berlimpah. Akses ilmu yang benar-benar meluas yang
akhirnya akan mampu mengambil ide-ide yang cemerlang dan gagasan yang baru.
Wajah akan memancarkan kecerahan dan penuh keramahan, murah senyum.

2) Menata keikhlasan hati merupakan hakikat diri seseorang, perbuatan apa pun
akan sia-sia tanpa ada keikhlasan hati. Ikhlas berarti bersih dari segala maksud
maksud pribadi yang buruk, bersih dari pamrih, dan riya. Manusia yang ikhlas
berkarakter kuat dan tidak mengenal lelah. Perilakunya sama sekali tidak
dipengaruhi oleh ada atau tidaknya kedudukan maupun penghargaan. Orientasi
hidupnya jelas dan tegas, langkahnya pasti dan penuh harapan, tidak ada kata
frustasi dalam hidupnya, tidak ada putus asa dalam usahanya. Orang yang paling
menikmati hidupnya adalah orang yang bersungguh-sungguh menjaga
keikhlasannya. Orang yang ikhlas hanya memiliki dua kewajiban, yaitu pertama
meluruskan niat dan kedua menyempurnakan ikhtiar

3) Menjadikan diri mau bersyukur (berterima kasih). Terima kasih disampaikan


kepada semua orang yang telah memberikan kenikmatan hidup, baik berupa harta
kedudukan, kesejahteraan, maupun kebahagiaan. Berterima kasih kepada orang
yang lebih tinggi sering dilakukan orang, tetapi berterima kasih pada orang rendah
dan kecil sulit dilakukan, sekalipun telah memberikan kenikmatan hidup. Seperti
kepada orang yang menjadi tukang sapu, membuang sampah, menjadi pembantu
rumah tangga.

4) Melatih diri menjadi penyabar. Sabar dapat diartikan sebagai upaya manusia
secara sungguh-sungguh untuk dapat terus berada di jalan Allah. Salah satu jenis
kesabaran adalah sabar menghadapi rasa sakit. Jadikanlah sabar sebagai
penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Sabar
menghadapi kenyataan-kenyataan hidup, seperti menemui kemacetan, harus antri
panjang berurusan dengan bank, harus menunggu giliran, berobat ke dokter harus
menunggu panggilan, dan sebagainya.

5) Melatih pola hidup bersih. Kesungguhan untuk senantiasa hidup bersih


merupakan salah satu cara untuk meraih kesuksesan dan kemuliaan hidup.

31
Langkah menuju hidup bersih sangat tergantung pada keseriusan dan tekad diri
sendiri. Mulailah berlatih hidup bersih dari hati, lisan, sikap, dan tindakan

6) Memaksa diri mau berbuat taat terhadap peraturan-peraturan. Ucapan mau


berbuat taat biasa dilakukan dengan mengucapkan, “ yah, saya dapat” atau “baik
akan saya lakukan”. Ucapan ini harus disertai tanggung jawab, sebab tanpa
tanggung jawab ketaatan terhadap apa yang pernah diucapkan tidak akan
terlaksana. Perilaku mau berbuat taat adalah berdisiplin terhadap waktu, menepati
janji, mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.2.2.3 Akhlak kepada orang tua. Berakhlak kepada orang tua dengan
meletakkan kedudukan orang tua sebagai orang yang melahirkan, membesarkan,
memberi makan, membimbing, mendidik, menyayangi, melindungi dan menjaga
dari bahaya yang merusak lahir maupun batin. Akhlak melalui ucapan dengan
berkata lemah lembut dengan tutur kata yang sopan santun, tidak keras ataupun
menghardik orang tua, memanggil orang tua dengan panggilan yang
menyenangkan. Akhlak melalui perbuatan dengan cara sebagai berikut.

1) Memelihara orang tua apabila telah lanjut usia dan kembali memiliki sifat
kekanak-kanakan, dengan sabar menghadapai keinginan-keinginan yang
perlu dipenuhi. Memelihara orang tua ketika menderita sakit, baik ringan
maupun berat, setidaknya menjenguknya setiap saat untuk menghibur
hatinya.
2) Mendoakan keselamatan dan ampunan bagi orang tua meskipun telah
meninggal dunia dengan tujuan untuk mengenang jasa-jasanya terhadap
kita.
3) Berkomunikasi dengan menjenguk di tempat kediamannya serta
menggunakan kata-kata yang tidak menyinggung perasaannya dan
senantiasa menghargainya setiap saat.

2.2.2.4 Akhlak terhadap keluarga. Manusia sebagai mahluk individu dan juga
sebagai mahluk sosial membutuhkan adanya ikatan antara individu dengan
individu dan antara individu dengan masyarakat. Dalam hubungan keterikatan itu
manusia membangun sebuah keluarga yang menjalin perbedaan karakter dan
kepribadian menjadi satu kesepakatan bersama untuk saling memberikan
pengertian, saling memberikan perhatian, saling memberikan pengorbanan antara
yang satu dengan yang lainnya sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh.
Oleh karena itu, keluarga disebut sebagai institusi sosial yang di dalamnya
terdapat banyak norma-norma yang mengatur kehidupan bersama. Keberadaan
norma atau aturan yang menjadi kesepakatan bersama menjadi satu keharusan
untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan kehidupan dalam keluarga. Di antara
akhlak terhadap keluarga dengan berperilaku: a) menjaga nama baik keluarga; b)
saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga; c) saling
menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak; d) berbakti kepada ibu bapak; e)

32
mendidik anak-anak dengan kasih sayang; f) memelihara hubungan silaturahmi
dan melanjutkan silaturahmi yang dibina orang tua yang telah meninggal dunia.

2.2.2.5 Akhlak terhadap tetangga. Dalam kajian sosiologi, tetangga adalah


kelompok sosial yang terdiri atas beberapa keluarga, hidup berdampingan antara
keluarga satu dengan keluarga lainnya, memiliki latar belakang kehidupan
keluarga yang berbeda, berada dalam satu wadah yang disebut rukun tetangga.
Untuk menjaga hubungan baik dalam kehidupan warga rukun tetangga, antara lain
ditunjukkan dengan berperilaku: a) saling mengunjungi; b) saling membantu di
waktu senang, terlebih lagi di kala sedang susah; c) saling memberi; d) saling
menghormati; e) saling menghindari permusuhan dan pertengkaran.

2.2.2.6. Akhlak terhadap masyarakat. Masyarakat merupakan suatu komunitas


yang lebih luas dari sebuah keluarga. Dalam masyarakat terdapat keanekaragaman
karakter budaya, ideologi, keyakinan, dan sebagainya. Yang perlu dilakukan
dalam kehidupan di masyarakat adalah bagaimana menjalin kehidupan bersama
yang lebih harmonis dan saling menghormati perbedaan-perbedaan yang ada.
Perilaku yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat adalah saling menghargai,
menahan diri, lapang dada mengingatkan untuk kebaikan, mengedepankan
kebersamaan, membela jika salah satunya teraniaya, berbuat baik untuk bersama,
berniat suci untuk kebaikan, menghormati perbedaan, merasa bersaudara, saling
mencintai, menolong dalam kebaikan, mendukung keputusan bersama, berjuang
menegakkan keputusan bersama, saling memaafkan, dan saling mendoakan.

Dalam masyarakat Indonesia diperlukan kehidupan bersama di tengah


kemajemukan yang ada. Secara spesifik, dalam tataran masyarakat yang
majemuk, perlu dibangun kesadaran bersama bahwa dalam berperilaku sehari-hari
dan sekaligus berinteraksi antaranggota masyarakat harus menunjung tinggi dan
menghormati perbedaan perbedaan yang muncul. Dalam rangka mewujudkan
kesadaran kolektif tersebut, yakni membangun masyarakat untuk menegakkan
etika kemajemukan, ada hal-hal yang harus dilakukan secara bersama-sama, ada
hal-hal yang tidak perlu dilakukan, dan ada pula hal-hal yang harus dihormati.

Adapun hal-hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut. Pertama,


mewujudkan kemauan bersama untuk perdamaian dengan menggalang kesadaran
kolektif. Kedua, merumuskan solusi solusi terbaik untuk menciptakan perdamaian
dengan mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan golongan
atau kelompok. Ketiga, bersama menahan dri untuk terlibat dalam konflik
kepentingan yang mengarah pada konfrontasi fisik secara massal. Keempat,
mengedepankan persaudaraan bersama dalam mencari upaya untuk menciptakan
kesadaran kolektif, tanpa ada kepentingan pribadi.

Tentang hal-hal yang tidak diperlukan bersama adalah melebur kebenaran


masing-masing, memaksa pada pihak lain yang berbeda pandangan dan ideologi,

33
menggeneralisasikan setiap perbedaan dan lain sebagainya dengan dalih ingin
hidup bersama dalam perdamaian.

Di samping itu, hal-hal yang harus dihormati adalah penghargaan terhadap


kebenaran agama, ideologi, perbedaan budaya masing-masing tanpa harus
mengungkapkan kekurangan ataupun kelemahan yang bernada menghina atau
melecehkan. Oleh karena itu, pokok-pokok ajaran agama yang universal, seperti
kejujuran, keadilan, tolong-menolong, saling kasih-mengasihi, dan perlindungan
terhadap hak asasi manusia harus lebih dikedepankan daripada hal-hal yang
parsial, ekslusif, dan pandangan yang sempit (Prayitno, 2003: 290-291).

Selanjutnya yang termasuk dalam akhlak terhadap masyarakat adalah


akhlak terhadap hasil karya manusia, baik berupa Ilmu Pengetahuan, Teknologi,
Seni, dan Budaya. Hasil karya manusia merupakan barang yang paling berharga
bagi manusia itu sendiri. Tidak mudah untuk menghasilkan sebuah karya. Oleh
karena itu, menghargai dan menghormati karya orang lain merupakan wujud dari
sebuah akhlak terhadap sesama manusia.

2.2.3 Akhlak terhadap Negara


Indonesia adalah negara kesatuan yang berdaulat, merdeka, terdiri atas
beberapa kepulauan Nusantara. Kemerdekaan dan kedaulatan berwujud negara
kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 45 tegak sebagai
hasil perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian seluruh rakyat di bawah
kepeloporan dan kepemimpinan para pahlawan bangsa. Dengan modal dasar
kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, rakyat Indonesia sebagai bangsa dan negara
berjuang meraih cita-cita nasional melalui pembangunan nasional dan wawasan
nasional dengan sistem kenegaraannya sebagai negara kesatuan Republik
Indoesia. Sebagai rakyat dan bangsa Indonesia sudah tentu harus berperilaku
sebagai bangsa Indonesia yang mencintai negrinya dengan menjadi warga negara
yang baik taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara ini.
Bersama-sama mempertahankan negara kesatuan yang berdasarkan pancasila
merupakan perwujudan dari akhlak terhadap negara.

2.2.4 Akhlak terhadap Alam


Alam diciptakan untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu, alam harus
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab tanpa
merusaknya. Pemanfaatan alam harus diiringi dengan tanggung jawab, termasuk
di dalamnya pemeliharaan alam dan lingkungannya, agar terjadi kelestarian alam,
sehingga dapat dinikmati oleh semua generasi, dan membantunya untuk
mempercepat pemulihan kembali jika terjadi kerusakan pada alam. Berakhlak
pada alam berarti menyikapi alam dengan cara memelihara kelestariannya, dengan
mengimbau pada manusia untuk mengendalikan dirinya dalam mengeksploitasi
alam, sebab alam yang rusak akan dapat merugikan bahkan menghancurkan
manusia sendiri.

34
Untuk menjaga keutuhan dan keindahan alam sebaiknya hindari hal-hal
yang dapat mencemarkan lingkungan dan alam, seperti membuangan limbah
rumah tangga dan limbah industri ke sungai yang akhirnya bermuara ke laut dan
dapat merusak ekosistem yang ada. Pengambilan pasir dari sungai maupun dari
laut yang melampaui batas, mengambil batu gunung dengan menggunakan bahan-
bahan peledak yang bebas merupakan perbuatan yang tidak berakhlak pada alam
sekitarnya.

2.3 Sumber, Akhlak, dan Budi Pekerti

2.3.1. Agama
Dilihat dari asal katanya, ‘agama’ berasal dari bahasa sanskerta ‘a’ yang
berarti ‘tidak’ dan ‘gam’ berarti ‘kacau’. Jadi, agama = tidak kacau. Ada juga
yang mengartikan a = tidak; gam = pergi, mengandung arti tidak pergi, tetap di
tempat atau diwarisi turun-temurun. Kemudian dalam bahasa Arab agama disebut
ad-Din. Kata ini mengandung arti ‘menguasai, menundukkan, patuh, utang,
balasan, kebiasaan’ (Jalaluddin Rahmat, 2001: 12).

Berdasarkan pengertian dari akar kata tersebut, maka intinya adalah


ikatan yang berasal dari sesuatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai
kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra, namun mempunyai
pengaruh yang sangat besar terhadap kehiduapan manusia sehari-hari.
Secara terminologi, maka agama dapat diungkapkan dalam pengertian:
1) kepercayaan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada
suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan mempengaruhi perbuatan-
perbuatan manusia;
2) kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
3) suatu sistem tingkah laku yang berasal dari sesuatu kekuatan gaib;
4) pengakuan terhadap adanya kewajiban kewajiban yang diyakini bersumber
pada kekuatan gaib;
5) pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan
perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar
manusia;
6) ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.
(Jalaluddin Rahmat, 2001 : 13)

Dalam perspektif sosiologis, agama dapat didefinisikan sebagai suatu


sistem kehidupan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu
kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasikan dan memberi respons
terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. Secara
mendasar dan umum agama sering diartikan sebagai seperangkat aturan dan
peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan mengatur
hubungan manusia dengan manusia lainnya, serta manusia dengan lingkungannya.

35
Agama sebagai suatu sistem keyakinan, berbeda dengan sistem-sistem
keyakinan atau isme-isme lainnya, karena landasan keyakinan keagamaan adalah
pada konsep sakral dan profan atau dibedakan dari supranatural dengan yang
natural. Selain itu ajaran-ajaran agama selalu bersumber pada wahyu yang
berisikan petunjuk-petunjuk Tuhan yang diturunkan kepada Nabi atau Rasul-Nya.
Melalui Nabi ajaran-ajaran tersebut diajarkan kepada sahabat-sahabatnya yang
merupakan kelompok pertama dan utama sebagai penganut agama tersebut dan
kepada orang orang lainnya (Roland Robertson, 1988: vi). Dalam agama-agama
besar atau Samawi, ajaran agama yang diturunkan melalui wahyu tersebut
dibukukan sebagai kitab suci, dan begitu juga ajaran para Nabi, sedangkan agama
lokal atau primitif, ajaran-ajarannya tidak dibukukan dalam bentuk tertulis, tetapi
dalam bentuk lisan sebagaimana terwujud dalam tradisi-tradisi atau upacara
upacara. Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai
kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk
untuk hidup selamat dunia dan akhirat sebagai manusia yang takwa kepada
Tuhan, beradab dan manusiawi, yang berbeda dengan cara cara hidup hewan atau
mahluk mahluk gaib yang jahat dan berdosa.

Agama sebagai sistem keyakinan dapat menjadi bagian dan inti dari
sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang
bersangkutan, dan menjadi pendorong dan penggerak, serta pengontrol bagi
tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut agar tetap berjalan sesuai
dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran ajaran agamanya. Pengaruh ajaran
agama itu sangat kuat terhadap sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan
masyarakat bersangkutan. Sistem-sistem nilai dari kebudayaan tersebut terwujud
sebagai simbol-simbol suci yang maknanya bersumber pada ajaran-ajaran agama
yang menjadi acuannya. Dalam keadaan demikian, secara langsung atau tidak
langsung, etos yang menjadi pedoman dari eksistensi dan kegiatan berbagai
pranata yang ada dalam masyarakat (keluarga, ekonomi, politik, pendidikan dan
sebagainya), dipengaruhi, digerakkan, dan diarahkan oleh berbagai sistem nilai
yang sumbernya adalah pada agama yang dianutnya; dan terwujud dalam
kegiatan-kegiatan para warga masyarakatnya sebagai tindakan-tindakan dan
karya-karya yang diselimuti oleh simbol-simbol suci (Parsudi Suparlan, 1988: 7).

Agama sebagai ajaran dari yang Maha Tinggi merupakan sistem


kehidupan yang berisikan ajaran dan petunjuk bagi para penganutnya supaya
selamat dalam kehidupan dunia dan selamat (dari api neraka) dalam kehidupan
setelah mati. Oleh karena itu, keyakinan keagamaan berorientasi pada masa yang
akan datang. Dengan cara mengikuti kewajiban-kewajiban keagamaan dalam
kehidupan sehari hari, sesuai dengan agama yang dianut dan diyakininya.

Dalam praktik hidup sehari-hari, motivasi yang terpenting dan terkuat bagi
manusia terutama bagi para pelaku moral dan berakhlak adalah agama. Hampir
semua jawaban tertumpu pada agama jika diberikan sebuah pertanyaan “mengapa
perbuatan ini dilakukan atau perbuatan ini tidak boleh dilakukan?” Setiap agama

36
mengandung ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para
penganutnya.

Mengapa ajaran moral dari satu agama dianggap penting? Karena ajaran
itu berasal dari Tuhan yang dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi, yang
lebih dari dirinya. Mengagungkan Tuhan merupakan kewajiban agama. Ajaran
tentang akhlak, moral, maupun budi pekerti itu diterima berdasarkan keimanan
dan keyakinan terhadap agamanya, tanpa memiliki rasionalitas, seperti makan
daging babi haram dalam ajaran Islam. Ada juga yang secara umum memiliki
alasan-alasan yang rasional untuk menerima aturan-aturan agama, seperti jangan
berdusta, jangan membunuh, jangan menyakiti orang (K.Bertens, 2002 : 37).

Apabila agama berbicara tentang topik-topik etis, pada umumnya ia


memberi informasi dan berusaha memberi motivasi agar umatnya mematuhi nilai-
nlai dan norma-norma yang sudah diterimanya berdasarkan iman, sedangkan
filsafat berusaha memperlihatkan perbuatan tertentu dianggap baik atau buruk
dengan menunjukkan alasan-alasan yang rasional. Demikian juga, ada perbedaan
tentang kesalahan moral. Dalam konteks agama, kesalahan moral adalah dosa,
karena melanggar perintahnya. Dari sudut filsafat moral, kesalahan moral
dianggap pelanggaran prinsip etis yang seharusnya dipatuhi. Oleh karena itu,
kesalahan moral pada dasarnya merupakan sebuah inkonsekuensi rasional
(K.Bertens, 2002 : 38).

Meskipun agama dan filsafat berbeda sudut pandang tentang hal-hal etis,
namun tidak berarti bahwa dalam bidang etis tidak ada hubungan erat antara
agama dan filsafat. Hubungan ini dapat didekati dari segi falsafat maupun agama.
Dipandang dari segi filsafat, para filosof yang beragama mau tak mau akan
dipengaruhi oleh keyakinan religiusnya. Keyakinan yang dianutnya sebagai
manusia beragama memberikan corak pemikiran yang mendasari alur pikirnya
seperti yang dikenal dalam filosof Islam Al-Farabi, Al-Kindi, Ibn Sina, dan Ibn
Miskawaih, serta Immanuel Kant dan sebagainya. Tidak mengherankan apabila
seorang beriman, misalnya, percaya bahwa Tuhan telah menciptakan dunia dan
manusia agar kehidupan ini penuh kesucian dan dalam diri manusia terdapat
unsur-unsur suci dan bersih.

Dipandang dari segi agama, agama yang membahas masalah-masalah etis


seringkali akan menggunakan argumentasi-argumentasi yang pada dasarnya
bersifat filosofis, terutama kalau masalah-masalah itu baru dan diakibatkan oleh
perkembangan ilmiah yang modern. Sebab dalam hal ini agama hanya memiliki
pedoman-pedoman prinsip etis secara umum, yang dapat diterima oleh semua
orang pada semua zaman. Dalam menghadapi masalah aktual, agama seringkali
menggunakan argumentasi-argumentari rasional, menerapkan prinsip-prinsip
umum bersangkutan, seperti masalah aborsi, kloning, eutanasia. Bagi orang
beragama, Tuhan merupakan dasar dan jaminan bagi berlakunya tatanan moral
dan tempat pertanggung jawaban manusia atas perbuatannya. Bagi orang yang

37
tidak beragama, rasio menjadi sumber moral yang mempunyai tanggung jawab
pada diri sendiri, tanggung jawab terakhir dianggap kurang penting.

Salah satu ciri yang mencolok dalam agama, yang berbeda dengan isme-
isme lainnya, adalah penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Penyerahan ini
tidak terwujud dalam bentuk ucapan, melainkan dalam tidakan-tindakan
keagamaan sehari-hari.Tidak ada satu agama pun yang tidak menuntut adanya
penyerahan diri secara total dari para penganut atau pemeluknya termasuk juga
agama-agama lokal yang digolongkan sebagai kepercayaan. Dari ciri ini agama
dinilai secara pribadi yang melibatkan emosi dan pemikiran-pemikiran yang
sifatnya pribadi yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan keagamaan (upacara,
ibadat, amal ibadah) yang sifatnya individual, kelompok ataupun sosial yang
melibatkan sebagian atau pun seluruh masyarakat. Walaupun di sisi lain agama
mempunyai sifat-sifat secara umum untuk dimiliki bersama orang banyak atau
kelompok. Dalam kelompok atau kebersamaan yang dilandasi oleh ajaran agama,
keyakinan keagamaan dari anggota-anggota kelompok menjadi kuat dan
mantap.Tidak ada kesimpang-siuran dalam pemahaman mengenai pedoman dan
landasan yang menentukan arah keyakinan keagamaan yang telah ditentukan
dalam kitab suci agamanya.

Dalam kelompok atau kebersamaan itulah keteraturan dimantapkan


berdasarkan atas norma-norma yang berlaku dalam kehidupan kelompok apa pun
dan di mana pun yang bukan kelompok keagamaan. Yang dimaksud dengan
berdasarkan atas norma-norma adalah bagaimana para anggota kelompok
diharapkan bertindak dan berkeyakinan, bagaimana mereka diharapkan
menginterpretasi serta menghasilkan benda-benda dan mewujudkan kegiatan-
kegiatan sesuai keyakinan keagamaan dari kelompok tersebut. Dalam kehidupan
berkelompok dan bermasyarakat inilah tradisi-tradisi keagamaan yang dimiliki
individu menjad bersifat kumulatif dan kohesif, yang menyatukan
keanekaragaman interpretasi-interpretasi dan sistem-sistem keyakinan keagamaan.
Penyatuan keanekaragaman itu terjadi karena pada hakikatnya dalam setiap
kehidupan berkelompok terdapat pola-pola interaksi tertentu yang melibatkan dua
orang atau lebih, dari pola tersebut para anggotanya secara bersama-sama
memiliki satu tujuan utama untuk diwujudkan sebagai tindakan tindakan berpola.
Itu dimungkinkan karena kegiatan-kegiatan kelompok tersebut terarah atau
terpimpin berdasarkan atas norma-norma yang disepakati bersama yang terwujud
dari kehidupan berkelompok (Parsudi Suparlan, 1988:8).

Secara struktural fungsional, agama melayani kebutuhan-kebutuhan


manusia untuk mencari kebenaran dan mengatasi serta menetralkan berbagai hal
buruk dalam kehidupan. Semua agama menyajikan formula-formula tersebut yang
pada hakikatnya bersifat mendasar dan umum berkenaan eksistensi dan perjalanan
hidup manusia, yang masuk akal dan rasional sesuai dengan keyakian
keagamaannya, mendalam serta penuh dengan muatan-muatan emosi dan
perasaan yang manusiawi (Greetz, 1966: 1-46). Hal-hal buruk yang dihadapi

38
manusia selalu membayangi kehidupannya. Agama dapat menyajikan penjelasan-
penjelasan yang dapat masuk akal dan cara-cara yang mendasar dan umum untuk
menetralkan atau mengatasi bayangan-bayangan buruk tersebut. Oleh sebab itu,
agama tetap lestari dalam kehidupan manusia, sepanjang zaman selama manusia
itu ada.

Kelestarian agama dalam struktur kehidupan manusia juga disebabkan


antara lain oleh hakikat kehidupan dan kegiatan-kegiatan kelompok keagamaan.
Setiap kelompok keagaman, kelompok apa pun dan di mana pun serta kapan pun,
selalu menaruh perhatian pada peremajaan atau regenerasi bagi kelangsungan
kelompok keagamaan tersebut, secara langsung ataupun tidak langsung tertarik
melakukan kegiatan-kegiatan untuk melestarikan sistem keyakinan agama pada
anak-anak dan remaja. Kelompok keagamaan menjadikan pendidikan agama bagi
para anggota baru melalui pendidikan formal maupun melalui sosialisasi yang
dilakukan oleh para orang tua (yang menjadi anggota kelompok).

Kelompok-kelompok keagamaan juga tidak hanya melakukan kegiatan-


kegiatan peribadatan dan pendidikan saja, tetapi melaksanakan kegiatan sosial dan
derma bagi masyarakat pada umumnya dan memproduksi benda-benda yang
berguna dalam kehidupan manusia. Juga memberikan jasa-jasa pelayanan
keagamaan yang berguna bagi kebutuhan para anggotanya. Melalui kegiatan
kelompok tersebut ditanamkan semacam keterikatan dan solidaritas sosial dan
kemasyarakatan yang terpusat pada simbol-simbol utama dan suci dari agama
yang dianut, gereja, totem, masjid atau lainnya (Durkheim 1965: 167). Melalui
kegiatan-kegiatan kelompok keagamaan tersebut, maka agama dari zaman ke
zaman tetap ada dalam struktur kehidupan manusia.

Agama tidak mengalami perubahan-perubahan (Greetz 1971), tetapi yang


berubah adalah tradisi-tradisi keagamaan atau sistem-sistem keyakinan
keagamaan, sedangkan teks suci atau doktrin agama itu sendiri, sebagaimana
tertuang dalam kitab suci, tetap tidak berubah. Jadi agama tidak akan hilang dan
digantikan dengan sistem kehidupan sekuler. Roland Robertson mengatakan
perubahan keyakinan keagamaan, antara lain disebabkan oleh adanya perbedaan-
perbedaan interpretasi oleh para penganut agama dan oleh situasi-situasi yang
berubah yang dilihat dari interpretasi-interpretasi oleh para penganut agama
tersebut secara berlainan (Roland Robertson 1988: 3).

Jika agama dikaitkan dengan masyarakat, setidak tidaknya ada empat tipe
tingkat keagamaan, yaitu:
1) tingkat rahasia, yakni seseorang memegang ajaran agama yang dianut dan
diyakininya itu untuk diriya sendiri dan tidak untuk didiskusikan atau
dinyatakan kepada orang lain;
2) tingkat privat atau pribadi, yakni dia mendiskusikan atau menambah dan
menyebarkan pengetahuan dan keyakinan keagamaannya dari dan kepada

39
sejumlah orang tertentu yang digolongkan sebagai orang yang secara pribadi
dekat hubungannya dengan dirinya;
3) tingkat denominasi, yakni individu mempunyai keyakinan keagamaan yang
sama dengan yang dipunyai individu-individu lainnya dalam satu kelompok
besar, karena itu bukan merupakan sesuatu yang rahasia atau privat;
4) tingkat masyarakat, yakni individu memiliki keyakinan keagamaan dari warga
masyarakat tersebut (J.P. Williams, 1962).

Melihat pada tingkat keagamaan yang ada dalam masyarakat tersebut di


atas, maka perilaku keagamaan yang sudah mengakar pada masyarakat tidak
mungkin hilang atau lenyap begitu saja, atau paling tidak membutuhkan waktu
lama untuk melakukan sebuah perubahan pada masyarakat. Pada akhirnya, baik
agama maupun perilaku keagamaan seringkali dijadikan sumber dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan pemaparan agama di atas, dapat dipahami bahwa perilaku


manusia, baik individu, kehidupan dalam kelompok terkecil maupun kelompok
luas masyarakat dan lingkungan, didasari oleh keyakinan agama yang kemudian
membudaya dalam diri dan lahir menjadi tradisi. Keyakinan yang melekat pada
manusia terhadap sesuatu seringkali dijadikan titik tolak untuk berbuat, bahkan
dijadikan sebagai pandangan hidup. Dengan demikian agama dan falsafah hidup
dijadikan sebagai sumber dalam berperilaku.

2.3.2 Falsafah Hidup


Falsafah hidup merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang diyakini
kebenarannya, ketepatan, dan kemanfaatannya yang kemudian menimbulkan
tekad untuk mewujudkannya dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan perbuatan.
Sedangkan nilai merupakan sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu yang kita
cari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan (Hans
Jonas, 1992: 36). Nilai pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat
pada suatu objek, bukan objek itu sendiri. Sesuatu itu dikatakan mengandung
nilai, artinya, ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu itu.

Misalnya alam itu indah dan perbuatan itu susila. Indah dan susila adalah
sifat atau kualitas yang melekat pada alam dan perbuatan. Maka nilai itu ada,
suatu kenyataan yang tersembunyi di balik kenyataan-kenyataan lainnya (Kaelan
2001). Beranjak dari pengertian di atas, maka suatu aliran atau keyakinan yang
dianggap memiliki nilai, apakah nilai itu universal atau praktis, yang diyakini
kebenarannya, maka ia dijadikan sebagai pandangan hidup.

Dalam praktiknya, menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia


untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, kemudian untuk
selanjutnya diambil keputusan. Keputusan ini merupakan keputusan nilai yang
dapat menyatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau
tidak baik. Keputusan nilai yang dilakukan oleh subjek penilai tentu berhubungan

40
dengan unsur-unsur yang ada pada diri manusia sebagai subjek penilai, yakni
unsur-unsur jasmani, akal, rasa dan karsa, serta keyakinan. Dengan demikian
sesuatu dianggap bernilai apabila itu berharga, berguna, benar, indah, baik dan
sebagainya.

Dalam kehidupan masyarakat terdapat banyak nilai yang diyakini


kebenarannya kemudian dijadikan falsafah hidup dipakai sebagai sumber dalam
berperilaku. Misalnya yang terdapat dalam masyarakat Batak yang dianggap
mempunyai nilai kebaikan adalah kekayaan, keturunan dan kehormatan. Nilai ini
esensinya adalah pemilikan status dan kekuasaan. Mereka menolak agama Kristen
hanya apabila agama itu memberikan kehormatan, kekayaan dan kekuasaan yang
lebih tinggi dari yang diberikan oleh agama nenek moyangnya (BA. Simanjuntak,
2002). Dalam kehidupan masyarakat Aceh, besarnya pengaruh Hikayat Perang
Sabil, nilai kepentingan bersama lebih didahulukan dari kepentingan pribadi,
sikap rela mengorbankan harta demi kepentingan negara. Dari nilai ini orang
mempunyai filsafat hidup yang menegaskan bahwa setiap orang harus mau
berkurban harta benda untuk berjuang dijalanTuhan (Alfian, 1977: 36).

Dalam masyarakat Jawa dikenal adanya istilah “kejawen” yang


diidentikkan dengan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa, walaupun tidak
berarti bahwa setiap orang yang tergolong etnik Jawa pasti mempunyai pandangan
hidup demikian. Menurut Sujamto, istilah kejawen mewadahi seluruh pengertian
yang tercakup dalam pandangan hidup Jawa atau wawasan budaya Jawa. Ia juga
tak jauh berbeda dengan istilah falsafah Jawa yang dipergunakan oleh dr.
Abdullah Ciptoprawiro, yang kristalisasi atau inti dasarnya adalah tantularisme
(faham tentang ajaran Empu Tantular yang menegakkan bangunan religiositas
Jawa, yang toleran, nonsektarian, akomodatif, rukun dan universal) (Sujamto,
2000 26). Kejawen bukan merupakan pandangan hidup seluruh etnis Jawa
sebagaimana batasan yang buat oleh Clyde Kluckhohn. Kebudayaan adalah suatu
pola hidup eksplisit dan implisit yang merupakan suatu sistem yang terbentuk
oleh sejarah, yang cenderung diikuti oleh seluruh atau sebagaian khusus dari suatu
kelompok (Clyde Kluckhohn dan William H. Kelly, 1968: 188). Hal ini seperti
yang dikemukakan oleh Clifford Geertz bahwa tidak semua masyarakat Jawa
memiliki pandangan hidup kejawen karena masyarakatnya terdiri tiga golongan,
yaitu Abangan, Santri dan Priyayi.

Dalam falsafat kejawen, persepsi tentang Tuhan dilukiskan dengan kata-


kata Tan kena kinaya ngapa (tak dapat dilukiskan dan tak dapat dibayangkan).
Menyadari kenyataan seperti itu, maka kelompok kejawen tidak suka
memperdebatkan keyakinannya tentang Tuhan dan tidak pernah menganggap
keyakinannya adalah yang paling benar dan yang lain salah. Sikap batin inilah
yang menimbulkan toleransi Jawa yang amat longgar, baik di bidang kehidupan
beragama maupun di bidang-bidang lainnya (Sujamto, 2000: 50).

41
Dalam kehidupan masyarakat, pandangan hidup Jawa banyak didasarkan
pada etika pewayangan Jawa. Dalam etika Jawa, sikap dan tindakan seseorang
dinilai tidak secara hitam-putih. Semua sikap dan tindakan tidak hanya dilihat dari
wujudnya saja tetapi juga yang terutama dari niat yang mendasarinya (Clifford
Geertz, 1973: 127).

Masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan masing
masing bangsa sesuai dengan geografisnya masing-masing memiliki falsafat
hidup tersendiri yang dapat mempengaruhi pola hidup dan perilaku manusianya.
Hal ini membuat perlu diangkatnya nilai-nilai yang bersifat pluralistik, yang
mencerminkan kesatuan Indonesia dalam kemajemukan. Selama ini nilai-nilai
persatuan, kemanusiaan, keadilan, kebersamaan telah menjadi nilai yang diyakini
kebenarannya dan dijadikan sebagai falsafat hidup bangsa dalam bermasyarakat
dan bernegara (Prayitno 2003: 249)

Selain itu masyarakat liberal menganut paham empirisme, yang


mendasarkan pada kebenaran pengalaman. Tokohnya David Hume menegaskan
bahwa pengalaman lebih membuat keyakinan dibanding kesimpulan logika atau
kemestian sebab akibat. Akal tidak dapat bekerja tanpa bantuan pengalaman.
Positivisme adalah lanjutan dari empirisme. Bagi positivisme pengalaman perlu
untuk mengumpulkan data sebanyak mngkin agar akal mendapatkan suatu hukum
yang bersifat uiversal, tetapi menerima pengalaman terbatas pada objektif saja.
Segala uraian yang di luar fakta atau kenyataan dikesampingkan. Karena itu
metafisika ditolak. Materialisme yang mendasarkan atas hakikat materi,
keyakinan kebenarannya terletak pada sesuatu yang mempunyai materi. Tokohnya
adalah Karl Marx yang menganggap bahwa agama adalah hasil proyeksi pikiran
dan keinginan manusia. Gagasan tentang agama adalah hasil suatu bentuk
masyarakat tertentu. Negara dan masyarakat inilah yang menghasilkan agama
(Amsal Bahtiar,1999: 120-18) Dalam paham ini terdapat nilai yang menjadi
falsafat hidupnya dan menjadi dasar untuk berperilaku.

Dengan demikian falsafat atau pandangan hidup bukan timbul seketika


atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama
dan terus menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat teruji kebenarannya. Atas
dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman atau
petunjuk yang disebut falsafat atau pandangan hidup. Apabila pandangan hidup
diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung organisasi, maka ia disebut
ideologi.

2.3.3 Tradisi dan Budaya

2.3.3.1.Tradisi
Dalam kehidupan di masyarakat dikenal adanya tradisi sebagai suatu
gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama
dilaksanakan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi sama

42
dengan adat kebiasaan yang dimunculkan oleh kehendak atau perbuatan sadar
yang telah menjadi kebiasaan sekelompok orang. Ada dua faktor penting yang
melahirkan adat kebiasaan:
1) adanya kecenderungan hati kepada perbuatan itu, dia merasa senang untuk
melakukannya, dengan kata lain dia tertarik oleh sikap dan perbuatan tersebut;
2) diikutinya kecenderungan hati itu dengan praktik yang diulang ulang sehingga
menjadi biasa.

Di antara dua faktor itu yang kedua itulah yang sangat menentukan, sebab
walaupun ada kecenderungan hati untuk melakukannya, tetapi apabila tidak ada
kesempatan untuk memunculkan perbuatan, umpamanya ada pencegahan, ada
halangan maka kecenderungan hati itu tidak terealisir. Sebaliknya mungkin
mulanya tidak ada kecenderungan hati utuk berbuat tetapi selalu dihadapkan pada
keharusan untuk berbuat, maka pertama kali ada unsur keterpaksaan untuk
berbuat, sedikit demi sedikit mengenalnya dan apabila dilakukan terus menerus
kebiasaan itu akan memberi pengaruh juga pada perasaan hatinya karena terbiasa
(Rahmat Djatmika, 1985:50) Membiasakan hal-hal baik dianjurkan dalam agama,
walaupun tadinya kurang rasa tertarik hatinya untuk berbuat, apabila terus-
menerus dibiasakan akan mempengaruhi sikap batinnya juga. Perbuatan terus-
menerus yang memang diawali oleh agama membawa dampak positif karena tidak
ada ajaran agama yang akan menjerumuskan umatnya.

Kadang-kadang tradisi yang terjadi di masyarakat justru berlainan dengan


ajaran agama. Hal ini dilakukan karena menurut kehendak hati perbuatan ini harus
terjadi. Yang menjadi ukuran penilaian baik dan buruk terhadap perbuatan
tersebut adalah kesepakatan bersama masyarakat setempat. Karena itu, tradisi
sangat bervariasi sifatnya. Misalnya tradisi masyarakat Betawi berbeda dengan
tradisi masyarakat Jawa. Begitu juga masyarakat Sunda, Bugis, Minang, Batak
dan sebagainya.

Tradisi yang telah membudaya menjadi sumber dalam berakhlak dan


berbudi pekerti seseorang. Manusia dalam berbuat akan melihat realitas
lingkungan sekitarnya sebagai upaya dari sebuah adaptasi walaupun sebenarnya
dia telah mempunyai motivasi berperilaku yang sesuai dengan tradisi yang ada
pada diriya. Sebagai contoh, perilaku masyarakat Jawa dan Madura di Jakarta,
menunjukkan bahwa tradisi Jawa masih sangat melekat dalam perilakunya dengan
berbagai tata krama dan adat istiadat yang dilakukan, walupun ia telah berada
pada masyarakat metropolitan. Tradisi lain dari masyarakat Madura adalah
semangat kerja keras dan membuat serta mempererat jaringan kesukuannya lebih
menonjol jika dibandingkan dengan masyarakat Jakarta itu sendiri Begitu juga
yang nampak dalam masyarakat Batak, Bugis Bali, Minang, Aceh, masing-masing
tradisinya sangat mendominasi dalam melatar belakangi perilaku kesehariannya.

Oleh karena itu, jika masing-masing suku bangsa mempertahankan tradisi


masing-masing yang begitu ketat sebagai sumber dari perilakunya, maka hal ini

43
sangat rentan terhadap timbulnya konflik-konflik sosial yang disebabkan oleh
masig-masing etnis. Seperti yang dikatakan oleh Cliffod Geertz (1992),
masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam subsistem-
subsistem yang kurang lebih berdiri sendiri sendiri, ketika masing masing
subsistem terikat ke dalam oleh ikatan-ikatan yang bersifat primordial (Prayitno,
2003: 99).

Manusia secara pribadi dalam melakukan tindakannya atau berperilaku


selalu mengidetifikasikan dirinya dengan orang lain. Dalam proses identifikasi
diri ini, yang terdekat dengan dirinya adalah keluarga atau lingkungan tempat ia
berada. Maka gambaran kehidupan yang berlangsung lama secara turun-temurun
dari nenek moyangnya yang telah menjadi tradisi diidentifikasi sehingga menjadi
perilaku diriya. Dari perilaku sendiri lama-kelamaan menjadi perilaku kelompok
atau masyarakat.

2.3.3.2 Budaya
Budaya dapat didefinisikan secara sempit dan secara luas. Definisi secara
sempit mencakup kesenian dengan semua cabang-cabangnya dan definisi budaya
secara luas mencakup semua aspek kehidupan manusia. Menurut Sutan Takdir
Alisyahbana, budaya dalam arti sempit adalah adat istiadat, kepercayaan, seni.
Budaya dalam arti luas, melingkupi segala perbuatan manusia, hasil budi manusia,
kehidupan manusia sehari-hari (Maurits Simatupang, 2002: 139-140).

Budaya berkenaan dengan cara hidup manusia. Manusia belajar berpikir,


merasa, mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya.
Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan
sosial, kegatan-kegiatan ekonomi dan politik, dan teknologi, semua itu
berdasarkan pola-pola budaya. Ada orang-orang yang berbahasa Tagalog,
memakan ular, menghindari minuman keras yang terbuat dari anggur,
menguburkan orang-orang yag mati, berbicara melalui telepon atau meluncurka
roket ke bulan, ini semua karena mereka telah dilahirkan atau sekurang-kurangnya
dibesarkan dalam suatu budaya yang mengadung unsur-unsur tersebut. Apa yang
orang-orang lakukan, bagaimana mereka bertindak, bagaimana mereka hidup
dalam berkomunikasi, merupakan respons-respons dan fungsi-fungsi dari budaya
mereka.

Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal


budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan,
nilai sikap, makna, hierarki agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam
semesta, objek-obek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari
generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. Budaya menampakkan
diri dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang
berfungsi sebagai model-model bagi tindakan tindakan penyesuaian diri yang
memungkinkan orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu lingkungan

44
geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu
sasat tertentu.

Budaya juga berkenaan dengan sifat-sifat dari objek-objek materi yang


memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Objek-objek seperti
rumah, mesin yang digunakan dalam industri dan pertanian, jenis-jenis
transportasi, menyediakan suatu landasan utama bagi kehidupan sosial budaya
berkesinambungan dan hadir di mana-mana.

Budaya meliputi semua peneguhan perilaku yang diterima selama satu


priode kehidupan. Budaya juga berkenaan dengan bentuk dan struktur fisik serta
lingkungan sosial yang mempegaruhi hidup kita. Sebagian besar pengaruh budaya
terhadap kehidupan kita tidak disadari. Mungkin suatu cara untuk memahami
pengaruh budaya adalah dengan membandingkannya dengan komputer elektronik:
kita memprogram komputer agar melakukan sesuatu, budaya kita pun
memprogram kita agar melakukan sesuatu dan menjadikan kita apa adananya.
Budaya secara pasti mempengaruhi kita sejak dalam kandungan hingga mati.
Bahkan setelah mati pun kita dikuburkan dengan cara-cara yang sesuai dengan
budaya kita. Sebenarnya seluruh perbendaharaan perilaku kita sangat bergantung
pada budaya tempat kita dibesarkan. Konsekuensinya, budaya merupakan
landasan perilaku dan komunikasi. Apabila budaya yang ada beraneka ragam,
maka beraneka ragam pula praktik-praktik perilaku dan komunikasi.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks,


abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosiobudaya ini tersebar dan mempengaruhi banyak hal dalam
kegiatan sosial manusia.Unsur budaya ini tidak dapat langsung dilihat, misalnya
norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam budaya. Gagasan-gagasan pun adalah
sesuatu yang tidak mudah dilihat dan dipahami. Makin tinggi perkembangan
kebudayaan, makin kompleks pula gagasan-gagasan maupun wawasan-wawasan
kebudayaan yang bersangkutan. Walaupun budaya-budaya itu berbeda-beda,
namun ia dapat dilihat dari unsur-unsur yang membedakannya. Semua budaya
juga banyak memiliki persamaannya dalam unsur universal.

Kenyataan bahwa bangsa Indonesia suatu bangsa yang pluralistik, terdapat


aneka budaya etnis yang terlihat dalam motto yang tercantum pada lambang
negara Bhinneka Tunggal Ika, perlu diakui dan dihormati. Karena itu, kebudayaan
bangsa Indonesia adalah kebudayaan yang timbul sebagai suatu usaha budi daya
rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayan lama dan asli yang terdapat sebagai
puncak-puncak kebudayaan di daerah seluruh Indonesia terhitung kebudayaan
bangsa. Usaha kebudayan bangsa harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya
persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang
dapat memperkembangkan dan memperkaya kebudayaan sendiri, serta
mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

45
Jika melihat budaya sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya, maka
fungsi budaya sebagai sumber akhlak dan budi pekerti dapat dilihat dari model-
model perilaku dan komunikasi manusia dalam masyarakat pada tempat dan
kurun waktu tertentu. Pengaruh budaya seringkali berproses tanpa disadari oleh
yang dipengaruhinya. Sebagai contoh, bandingkan cara berbicara atau
berkomunikasi antara suku Jawa, Sunda, Batak, Betawi, Bugis, Maluku, Irian,
Eceh, Padang dan Banjar.

2.3.4 Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni

2.3.4.1 Ilmu Pengetahuan


Ilmu Pengetahuan pertama kali muncul dari rasa ingin tahu akan
keterangan mengapa sesuatu hal yang terjadi, yang kemudian dikait-kaitkan dan
digolong-golongkan sehingga hal yang tersendiri itu dianggap sebagai mewakili
suatu peristiwa yang berlaku lebih umum. Itulah akhirnya yang membangkitkan
sains atau ilmu pengetahuan. Sasaran sains adalah mengadakan penataan dan
penggolongan pengetahuan atas dasar azas-azas yang dapat menerangkan
terjadinya pegetahuan itu. Mohr (1977) mendefinisikan sains secara operasional
sebagai suatu usaha akal manusia yang teratur dan taat azas menuju penemuan
keterangan tentang pengetahuan yang benar. Pengetahuan ilmiah yang benar
diucapkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang benar. Data atau fakta yang
ditemukan dengan cara-cara tertentu dengan menggunakan metode ilmiah (Andi
Hakim Nasution, 1988: 25).

Di kalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat bahwa ilmu itu selalu


tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan objek tertentu
dengan sistematis metodis, rasional/logis, empiris umum dan akumulatif. Untuk
membuktikan apakah isi pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori-teori
kebenaran pengetahuan. Teori pertama bertitik tolak pada adanya hubungan dalil,
di mana pengetahuan dianggap benar apabila dalil (proposisi) itu mempunyai
hubungan dengan dalil (propisisi) yang terdahulu. Kedua, pengetahuan itu benar
apabila ada kesesuaian dengan kenyataan. Teori ketiga menyatakan bahwa
pengetahuan itu benar apabila mempunyai konsekuensi praktis dalam diri dan
mempunyai pengetahuan itu.

Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan


sikap yang bersifat ilmiah. Bukan membahas tujuan ilmu, melainkan mendukung
dalam mencapai tujuan ilmu itu sendiri, sehingga benar-benar objektif, terlepas
dari prasangka pribadi yang bersifat subjektif. Sikap yang bersifat ilmiah itu
meliputi empat hal:
1) tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga mencapai
pengetahuan ilmiah yang objektif;
2) selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang
dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan
pemilihan terhadap hipotesis yang ada;

46
3) kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah
mupun terhadap alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai
ilmu;
4) merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupun aksioma terdahulu
telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan
kembali.

Permasalahan ilmu pengetahuan meliputi arti sumber, kebenaran


pengetahuan, serta sikap ilmuwan itu sendiri sebagai dasar untuk tingkah laku
selanjutnya.

Sehubungan dengan proses perolehan ilmu pengetahuan dengan metode


yang benar dan teruji kebenarannya secara ilmiah, maka ilmu pengetahuan
dijadikan sumber yang memberikan motivasi untuk melakukan sebuah perbuatan
baik dan berbudi pekerti luhur. Kebenaran pengetahuan tentang adanya hukum
alam yang pasti membuat orang bertingkah laku taat terhadap hukum-hukum
alam, tidak ada keberanian untuk menentang hukum alam, karena penentangan
terhadap hukum alam merupakan keniscayaan belaka.

Para ilmuwan maupun para profesionalis berbuat berdasarkan pada


pengetahuan yang dimilikinya, seperti seorang dokter bedah syaraf, ia mau
melakukan pembedahan terhadap kepala seseorang karena mempunyai ilmu yang
berkenaan dengan syaraf. Dokter ini tidak bersedia untuk melakukan
pembangunan suatu gedung bertingkat, karena ia tidak memiliki pengetahuan
tentang pembangunan gedung. Begitu juga seorang tukang jahit pakaian menjahit
baju karena pengetahuan yang dimilikinya. Tidak dapat kepandaian menjahit baju
dipakai untuk menjahit kulit kepala atau menjahit kulit manusia bekas luka.

Berbagai contoh lain dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat


sehari-hari, yaitu manusia berbuat sesuai dengan bidang pengetahuan yang
dimilikinya. Pengamalan ilmu yang sesuai dengan disiplin ilmu pengetahuan
maupun teknologi yang dimiliki inilah yang disebut profesional.

2.3.4.2 Teknologi
Dalam konsep yang pragmatis dan berlaku secara akademis dapat
dikatakan bahwa ilmu pengetahuan (body of knowledge) dan teknologi sebagai
suatu seni (state of art) yang mengandung pengertian berhubugan dengan proses
produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal, tenaga
kerja dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi. Secara
konvensional ia mencakup penguasaan dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas
juga meliputi teknologi sosial sehingga teknologi itu adalah metode sistematis
untuk mencapai setiap tujuan insani (Eugene Staley, 1970).

Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul The Technological Society (1964)


tidak menggunakan istilah teknologi, tetapi teknik, meskipun arti atau maksudnya

47
sama. Menurut Ellul, istilah teknik tidak hanya berlaku untuk mesin, teknologi
atau prosedur untuk memperoleh hasilnya, melainkan totalitas metode yang
dicapai secara rasional dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat
perkembangan) dalam setiap bidang aktivitas manusia. Jadi teknik menurut Ellul
adalah berbagai usaha, metode, dan cara untuk memperoleh hasil yang sudah
distandardisasi dan diperhitungkan sebelumnya.

Teknologi yang berkembang dengan pesat meliputi berbagai bidang


kehidupan manusia. Masa sekarang tampaknya sulit memisahkan kehidupan
manusia dengan teknologi, bahkan sudah merupakan kebutuhan manusia. Awal
perkembangan teknik yang sebelumnya bagian dari ilmu atau bergantung dari
ilmu, sekarang ilmu dapat juga bergantung dari teknik. Contohnya dengan
berkembang pesatnya teknologi komputer dan teknologi satelit ruang angkasa,
maka diperoleh pengetahuan baru dari hasil kerja kedua produk teknologi
tersebut.
Luasnya bidang teknik digambarkan oleh Ellul sebagai berikut.
1) Teknik meliputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang
industri. Dengan teknik manusia mampu mengkonsentrasikan kapital sehingga
terjadi sentralisasi ekonomi. Bahkan ilmu ekonomi sendiri terserap oleh teknik
barang.
2) Teknik meliputi bidang organisasional, seperti administrasi, pemerintahan,
manajemen, hukum, dan militer.
3) Teknik meliputi bidang manusiawi, seperti pendidikan, kerja, olah raga,
hiburan, obat-obatan.

Teknik telah menguasai seluruh sektor kehidupan manusia. Manusia


makin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi
manusia yang bebas dari pengaruh teknik. Pada masyarakat teknologi, ada
tendensi bahwa kemajuan adalah suatu proses dehumanisasi secara perlahan-lahan
sampai akhirnya manusia takluk pada teknik. Teknik-teknik manusiawi yang
dirasakan pada masyarakat teknologi, terlihat dari kondisi kehidupan manusia itu
sendiri. Manusia pada saat ini telah begitu jauh dipengaruhi oleh teknik.

Adapun Alvin Tofler (1970) mengupamakan “teknologi” itu sebagai mesin


yang besar atau sebuah akselerator yang dahsyat dan ilmu pengetahuan sebagai
bahan bakarnya. Dengan meningkatkan ilmu pengetahuan secara kuantitatif dan
kualitatif, maka kian meningkat pula proses akselerasi yang ditimbulkan oleh
mesin pengubah, lebih-lebih teknologi mampu menghasilkan teknologi yang lebih
banyak dan lebih baik lagi. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-
bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu
sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional.
Selanjutnya Alvin mengatakan ilmu pengetahuan dan teknologi erat hubungannya
dengan nilai dan moral. Ia menganjurkan agar nilai dan moral dijadikan filter
dalam mengendalikan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebab
kurangnya kendali akan menimbulkan konsekuensi yang jauh lebih buruk.

48
Lain halnya dengan E.F Scumacher (1979). Ia berpendapat bahwa
pandangan sebelumnya terhadap teknologi adalah anarki teknologi yang
memandang teknologi serba baik. Pandangan ini kemudian bergeser menjadi cinta
akan teknologi dengan mengembangkan apa yang disebut “teknologi tepat guna.”
Teknologi tepat guna merupakan pengembangan teknologi yang sesuai dengan
situasi budaya dan geografis masyarakat, penentuan teknologi sendiri sebagai
suatu identitas budaya setempat serta menggunakan teknologi dalam proses
produksi untuk menghasilkan barang-barang kebutuhan dasar dan bukan barang-
barang objek ketamakan.

2.3.4.3 Seni
Seni merupakan persoalan nilai dan penilaian. Karena itu, batasan seni
adalah batasan nilai tentang apa yang disebut seni. Ketika seni diberi batasan
secara deskriptif, yang muncul adalah batasan tanpa nilai. Upaya untuk membuat
sebuah batasan memang diperlukan untuk membedakan seni dengan ilmu, seni
dengan teknologi dan seni dengan filsafat. Terdapat perbedaan-perbedaan
pendapat di antara batasan-batasan yang ada, seperti Jecques Maritain
menyebutkan bahwa seni adalah ekspresi intelektual, sedangkan Santayana
menyebutnya rasa senang seniman, Croce menyebutnya intuisi yang
diekspresikan, Freud menyebutnya hasrat bawah sadar manusia yang
diekspresikan dan Bosanquet menyebutnya jiwa keseluruhan (Jakob Sumardjo,
2000: 51-52).

Jika seni dikaitkan dengan objek, maka seni memberikan informasi


mengenai kenyataan kualitas objek tersebut. Jadi seni bertujuan memberi
pemahamam secara empirik, pengalaman, penghayatan perwujudan kualitas
objek. Contoh: Jika kita melihat lukisan ‘Ibu’ karya Affandi, yang kita lihat bukan
potret ibu yang tua saja, tetapi juga perasaan yang ditimbulkannya melalui garis-
garis mukanya. Garis-garis itu sendiri dibuat dengan begitu terampil sehingga
memberikan kepuasan keindahan tersendiri yang seiring dengan muatan perasaan
yang ingin disampaikan pelukisnya. Pada lukisan yang paling abstrak sekali pun,
semua aneka bentuk, warna, garis, pola penyusunan dan teknik saputan kuas
memberikan kualitas rasa tertentu, meskipun objeknya tak jelas.

Kaitannya dengan ekspresi gagasan dan perasaan dari suatu objek, seperti
ketika kita menyaksikan keindahan matahari terbenam di pantai, atau
menyaksikan bentuk awan senja, derasnya air terjun, gemuruhnya suara ombak di
laut. Seni selalu membawa makna tertentu dalam dirinya dan usaha komunkasi
seni dengan orang lain. Gagasan dan perasaan dari sebuah objek itu
dikomunikasikan dengan orang lain, maka menjadi karya seni.

Kebenaran tidak selamanya timbul dari teori pengetahuan, tetapi ada juga
yang muncul dari perasaan seni, perasaan keindahan dan ekspresi kejiwaan yang
mendalam. Menurut Quraish Shihab, seni adalah keindahan. Ia merupakan

49
ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan
keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan
seniman kepada yang indah, apa pun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut
merupakan naluri manusia, atau fitrah yang dianugerahkan Tuhan kepada hamba-
hambanya. Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan
mahluk lain. Agama mendukung kesenian selama penampilannya lahir dan
mendukung firah manusia yang suci, dan karena itu pula agama bertemu dengan
seni dalam jiwa manusia (M.Quraish Shihab, 2001: 388-390).

Selanjutnya seni dikaitkan dengan keindahan, dan kata keindahan berasal


dari kata ‘indah’, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya.
Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, pemandangan alam,
manusia, rumah, tatanan, perabot rumah tangga, suara, warna. Kawasan
keindahan bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai
pula dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial dan budaya. Karena itu
keindahan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Keindahan identik dengan
kebenaran. Keindahan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Hal ini
bukan kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep seni. Seni berusaha
memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai objek yang diungkapkan.
Keindahan juga bersifat universal. Artinya tidak terikat oleh selera perseorangan,
waktu dan tempat, selera mode kedaerahan atau lokal (Widyo Nugroho, 1996: 84)
Seni atau keindahan termasuk sumber dalam berakhlak dan berbudi
pekerti. Keindahan alam melahirkan para pelukis atau seniman termasuk juga para
musisi. Suara gemercik air, suara gesekan pohon bambu, suara deru ombak, suara
senandung burung berkicau atau ayam berkokok, memberikan inspirasi orang
untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Dalam kenyataan, alam di lingkungan kita banyak yang mengandung seni


seperti apa yang terdapat pada sebuah pohon yang sedang berbuah. Perhatikanlah
buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan perhatikan pulalah kematangannya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)
bagi orang-orang yang beriman. Selanjutnya Imam al-Ghazali menulis dalam Ihya
‘Ulumuddin bahwa: “Siapa yang tidak terkesan hatinya di musim bunga dengan
kembang-kembangnya, atau oleh alat musik dan getaran nadanya, maka fitrahnya
telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati.” (Quraish Shihab, 2001: 288-
289).

50
BAB III

NILAI-NILAI AKHLAK DAN BUDI PEKERTI

3.1. Nilai Spiritual


Setiap orang mempunyai kebutuhan fundamental sesuai dengan fitrahnya
yang memiliki jasmani dan rohani. Apabila dikaitkan dengan berbagai ragam
hubungan manusia dalam kehidupannya, di setiap hubungan tersebut ada
hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan
manusia lain/masyarakat, dan manusia dengan dirinya sendiri. Untuk memenuhi
kebutuhan rohaninya manusia melaksanakan nilai spiritual dalam kehidupannya.

Nilai spiritual memiliki hubungan dengan sesuatu yang dianggap


mempunyai kekuatan sakral suci dan agung, karena itu termasuk nilai kerohanian,
yang terletak dalam hati (bukan arti fisik), hati batiniyah mengatur psikis. Hati
adalah hakikat spiritual batiniyah, inspirasi, kreativitas dan belas kasih. Mata dan
telinga hati merasakan lebih dalam realitas-realitas batiniyah yang tersembunyi di
balik dunia material yang komplek. Itulah pengetahuan spiritual. Pemahaman
spiritual adalah cahaya yang dipancarkan Tuhan ke dalam hati, bagaikan lampu
yang membantu kita untuk melihat (Robert Frager 2002: 70).

Apabila dilihat tinggi rendahnya nilai-nilai yang ada, nilai spiritual


merupakan nilai tertinggi dan bersifat mutlak karena bersumber pada Tuhan Yang
Maha Esa (Notonagoro, 1980). Dalam kehidupan sosial-budaya keterkaitan
seseorang dihubungkan dengan pandangan hidup suatu masyarakat atau
kehidupan beragama. Setiap orang akan selalu memiliki pandangan atau persepsi
akan sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuatan yang melebihi manusia, dalam
pandangan orang beragama disebut sebagai Yang Maha Kuasa, Allah, Sang
Hyang Widi, Tuhan, God, Yang Maha Pencipta, dan sebagainya. Manusia sangat
tergantung dan hormat pada kekuatan yang ada di luar dirinya, bahkan
memujanya untuk melindungi dirinya dan apabila perlu rela mengorbankan
apasaja harta, jiwa sebagai bukti kepatuhan dan ketundukan terhadap yang
mempunyai kekuatan tersebut.

Begitu kuatnya keyakinan terhadap kekuatan spiritual sehingga ia


dianggap sebagai kendali dalam memilih kehidupan yang baik dan buruk. Bahkan
menjadi penuntun bagi seseorang melaksanakan perilaku dalam kehidupan
pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

3.2 Nilai Kemanusiaan

Dalam menjalani kehidupannya, manusia dihadapkan pada berbagai


macam permasalahan yang merupakan hakikat dari kehidupan itu sendiri. Selama
manusia itu hidup, maka permasalahan hidup ini tidak akan pernah lepas dari
kehidupannya.

51
Yang dimaksudkan dengan permasalahan hidup di sini adalah segala
sesuatu yang perlu diatasi ataupun suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Berikut
ini adalah beberapa permasalahan hidup manusia yang bersifat universal, yaitu
dimanapun manusia itu ada maka permasalahan hidup ini akan selalu ada.
Bagaimana cara manusia itu mengatasi permasalahan tersebut, misalnya dengan
mengambil hikmah, atau upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya itu, akan menunjukkan kualitas dari diri manusia sebagai sisi nilai
kemanusiaannya.

3.2.1. Cinta Kasih

Cinta kasih merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam


kehidupan manusia. Setiap orang membutuhkan untuk mencintai dan dicintai,
sebagai kebutuhan yang fundamental. Apabila dikaitkan dengan berbagai ragam
hubungan manusia dalam kehidupannya, disetiap hubungan terdapat aspek cinta.
Ragam hubungan tersebut adalah antara manusia dengan Pencipta (Tuhan),
manusia dengan alam, manusia dengan manusia lain/masyarakat, dan manusia
dengan dirinya sendiri.

Sulit merumuskan cinta kasih secara utuh karena lebih mengandung arti
psikologis yang dalam. Cinta kasih lebih melibatkan perasaan. Beberapa ilmuwan
hanya memberikan unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian cinta kasih.
Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan cinta adalah perasaan simpati yang
melibatkan emosi yang mendalam dan terjadi antara manusia dengan Sang
Pencipta, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan alam dan
manusia dengan dirinya sendiri. Di dalam pengertian simpati terkandung unsur
pengenalan/knowledge, dan di dalam emosi terkandung unsur tanggung jawab,
pengorbanan, perhatian, saling menghormati, dan kasih sayang.

Menurut Erich Fromm, ada empat syarat utama yang harus dipenuhi untuk
mewujudkan cinta kasih, yaitu:
1. knowledge (pengenalan), dengan demikian yang bersangkutan akan
menerima sebagaimana adanya;
2. responssibility (tanggung jawab), yaitu masing-masing pihak mempunyai
tanggung jawab yang sama;
3. care (pengasuhan, perhatian, perlindungan, saling peduli)
4. respect (saling menghormati)
Iapun mengatakan bahwa cinta itu suatu tindakan yang aktif, bukan perasaan yang
pasif. Sifat aktif cinta dapat dilukiskan dengan menekankan bahwa cinta itu
mengutamakan memberi bukan menerima (Widyosiswoyo, 1996: 50-52).

Cinta bukanlah hanya mengutamakan hubungan antara manusia dengan


manusia tertentu. Cinta adalah sikap, suatu orientasi watak yang menentukan
hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan. Jika seseorang hanya mencintai
seseorang namun tidak mempedulikan orang atau hal lainnya, maka cintanya itu
bukanlah cinta kasih yang sesungguhnya/mulia.

52
Sebagaimana telah dikemukakan, cinta kasih merupakan kebutuhan
manusia yang mendasar dan universal, setiap manusia berusaha mendapatkannya.
Cinta kasih yang sudah ada tentunya harus selalu dijaga agar dapat dipertahankan
keindahannya.Segala sesuatu agar mendapatkan hasil yang diharapkan
memerlukan suatu proses. Demikian pula halnya dengan cinta kasih, agar dapat
mencintai/dicintai atau mempertahankan cinta kasih yang sudah ada, kita perlu
melakukan suatu tindakan atau perbuatan-perbuatan baik yang akan menghasilkan
sesuatu yang kita harapkan. Walaupun sebagai manusia seringkali kita juga belum
tentu mendapatkannya, namun proses ihktiar itu yang menunjukkan kualitas kita
sebagai manusia.

Cinta kasih dapat dipahami dari beragam hubungan yang dijalin oleh subjek-
subjek yang mengadakan hubungan tersebut, yaitu:
1. manusia dengan Sang Pencipta, disebut Agape. Bentuknya berupa:
pengabdian, pemujaan disertai kepasrahan.
2. manusia dengan manusia lain, yang disebut:
a. Philia, jika bentuknya cinta persaudaraan atau persahabatan;
b. Eros, jika cintanya menyangkut aspek ragawi;
c. Amor, dalam aspek psikologis dan emosional.
3. manusia dengan alam sekitar/lingkungan. Bentuk cinta kasihnya
diwujudkan dengan menjaga/ melestarikan lingkungan, dengan
menciptakan keserasian, keselarasan, keseimbangan dengan
alam/lingkungan, sehingga dapat diupayakan suatu kehidupan yang
menyenangkan, bahagia, dan sentosa.

Untuk memperjelas uraian tentang cinta kasih, berikut ini adalah bentuk-
bentuk cinta kasih yang antara lain adalah:
1. cinta terhadap Tuhan
2. cinta persaudaraan
3. cinta keibuan
4. cinta erotis
5. cinta diri sendiri (Mustopo, 1989: 77-80)

1. Cinta terhadap Tuhan

Manusia makhluk ciptaan Tuhan. Bagaimana perwujudan rasa cinta yang


ditujukan kepada Tuhan, sebenarnya telah dikemukakan dalam kitab suci yang
memuat ajaran-ajaran yang bersifat religius. Salah satu bentuk yang diajarkan
adalah bagaimana kita menjalankan apa yang Tuhan peritahkan dan menjauhkan
apa yang dilarang-Nya, sebagaimana yang dimuat dalam kitab suci tersebut. Rasa
cinta manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Oleh
karena itu pemujaan kepada Tuhan dalam bentuk ibadah kepada-Nya dengan
suatu ikhtiar yang disertai kepasrahan merupakan inti dari kehidupan manusia.
Mengapa hal itu dikatakan demikian? Karena Tuhan adalah pencipta alam
semesta, manusia adalah bagian dari alam semesta yang tidak ada apa-apanya
dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan.

53
Selain itu kehidupan dunia adalah tidak abadi. Untuk mencapai kehidupan
yang kekal di akhirat dengan bahagia, tentunya manusia harus mempersiapkan
dirinya dahulu di dunia. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, yaitu dengan
menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu yang
diperintahkan Tuhan adalah memberikan cinta kasih terhadap sesama manusia
termasuk dirinya sendiri dan juga terhadap alam semesta. Uraian di bawah ini
antara lain merupakan bentuk-bentuk cinta kasih antara manusia dengan manusia
dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

2. Cinta Persaudaraan
Manusia adalah makhluk sosial, ia tidak dapat hidup sendiri di dunia ini
tanpa bantuan manusia atau makhluk lainnya. Selain itu manusia juga mempunyai
kebutuhan-kebutuhan hidup naluriah yang perlu dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan
mendasar tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Dorongan untuk mempertahankan hidup. Sebagai suatu kekuatan biologi
yang ada pada semua makhluk di dunia dan yang menyebabkan mampu
mempertahankan hidupnya di muka bumi.
2. Dorongan seksual. Dorongan yang timbul pada tiap individu normal tanpa
pengaruh pengetahuan, dan sebagai landasan biologi yang mendorong
manusia meneruskan keturunannya.
3. Dorongan untuk usaha mencari makan. Dorongan ini tidak perlu
dipelajari, dan sejak bayipun manusia sudah menunjukkan dorongan untuk
mencari makan, yaitu dengan mencari susu ibunya atau botol susunya
tanpa dipengaruhi oleh pengetahuan.
4. Dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan manusia lain. Sebagai
landasan biologi dari kehidupan masyarakat manusia sebagai makhluk
kolektif.
5. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya. Dorongan ini merupakan
sumber dari adanya beraneka ragam kebudayaan manusia. Dengan adanya
dorongan ini, manusia mengembangkan adat yang memaksanya membuat
kesepakatan-kesepakatan dengan manusia di sekitarnya.
6. Dorongan untuk berbakti. Dorongan ini ada dalam naluri manusia karena
manusia adalah makhluk yang hidupnya kolektif. Sehingga untuk dapat
hidup bersama dengan manusia lain secara serasi, ia perlu landasan biologi
untuk mengembangkan rasa altruistik, rasa simpati, rasa cinta dan
sebagainya, yang (mendukung) memungkinkannya hidup bersama
tersebut. Kalau dorongan ini diekstensikan dari dorongan untuk berbakti
pada sesama manusia, kepada kekuatan-kekuatan yang oleh perasaannya
dianggap berada di luar kemampuan dirinya, maka akan timbul religi.
7. Dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, warna,
suara, atau gerak. Pada seorang bayi dorongan ini sudah tampak pada
gejala tertariknya seorang bayi kepada bentuk-bentuk dan warna-warna
tertentu. Dorongan naluri ini merupakan landasan dari suatu unsur penting
dalam kebudayaan manusia yaitu kesenian (Koentjaraningrat, 1990: 109-
111).

54
Kebutuhan-kebutuhan tersebut di atas tidak dapat dipenuhi oleh dirinya
sendiri. Oleh karena itu, ia membutuhkan orang lain untuk memenuhinya. Artinya
ia perlu bekerja sama dan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.
Bagaimana agar dapat bekerja sama dan terjalin hubungan yang baik, tentunya
harus ditumbuhkan sikap altruisme yang memperlihatkan rasa cinta kasih antara
sesama manusia yang saling membutuhkan itu, dan bukan sikap yang sebaliknya.
3. Cinta Keibuan
Pada hakikatnya cinta keibuan merupakan cinta antara dua pihak yang
tidak setara, yaitu antara yang memerlukan dan yang memberikan bantuan.
Seorang anak sangat memerlukan bantuan ibu karena ia secara fisik maupun
psikis memerlukan pertolongan agar terpenuhi kebutuhan dasar naluriahnya. Di
sisi lain seorang ibu pada umumnya mempunyai kemampuan secara kodrati untuk
memenuhi kebutuhan itu.
Ciri utama dari cinta keibuan adalah altruistis dan tidak mementingkan
dirinya sendiri dengan rela berkorban demi anaknya. Cinta ini dipandang sebagai
cinta paling suci, melingkupi ikatan emosional yang dalam. Biasanya seseorang
dalam hal ini bersifat “nursisistis”, ingin menguasai, ingin memiliki, berhasil
menjadi ibu yang mencintai/menyayangi selama anak itu masih kecil.
Besar dan tulusnya cinta keibuan, digambarkan dengan peribahasa bahwa
“cinta ibu sepanjang jalan, cinta anak sepanjang penggalan”. Artinya cinta ibu
seperti panjang suatu jalan yang tidak berbatas, sedangkan cita anak adalah
sebaliknya.
Dalam cinta keibuan, seorang ibu berperan sebagai agen sosialisasi yang
primer. Ia mensosialisasi nilai-nilai kehidupan bagi anaknya untuk dapat
mempersiapkan menghadapi kehidupan di dalam masyarakat. Apabila cinta
keibuan yang diberikan berlebih-lebihan atau sebaliknya maka akan berdampak
pada penanaman atau sosialisasi nilai pada dirinya. Tidak tertutup kemungkinan
anak ini akan mengalami masalah sosial di kemudian hari.
4. Cinta Erotis
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa salah satu dorongan naluri
manusia adalah dorongan seksual. Sebagai dorongan yang merupakan landasan
biologi manusia untuk meneruskan keturunannya.
Cinta antara sepasang manusia dikatakan sebagai cinta erotis karena
didasarkan pada dorongan seksual, yang bersifat eksklusif (tidak universal). Cinta
kasih yang ada adalah upaya “meleburkan” diri dari dua orang yang berbeda
secara fisik maupun kepribadiannya. Kualitas cinta ini akan tergantung bagaimana
kedua belah pihak menjaga jalinan hubungan atau komunikasi.
Yang perlu diingat di sini adalah batasan moral dalam melakukan
hubungan atau menyalurkan hasrat seksual tersebut. Mengingat manusia hidup
tidak sendiri, ia dilingkupi oleh nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakatnya.
Sebagai makhluk hidup yang berbudaya, tentunya dalam menyalurkan dorongan

55
seksual tersebut akan memperhatikan dan melaksanakan nilai-nilai yang menjadi
pedoman hidupnya.
Beragam nilai yang yang hidup dalam suatu masyarakat atau dikatakan
juga sebagai norma akan memberikan arahan mengenai berbagai hal termasuk
dalam kaitannya dengan penyaluran hasrat seksual. Contohnya adalah dengan
sebelumnya melakukan perkawinan. Dengan pranata/lembaga perkawinan ini
maka penyaluran hasrat ini akan menjadi sah, terjaga, dan tidak melanggar norma-
norma, baik norma agama, norma hukum maupun norma sosial (berkaitan dengan
kesusilaan), sehingga dapat dihindari suatu pergaulan hidup/seks yang bebas
namun tidak bertanggung jawab dan tidak berbudaya, suatu perbuatan yang tidak
berbeda dengan apa yang dilakukan oleh hewan.

5. Cinta Diri sendiri


Telah dikemukakan bahwa cinta merupakan kebutuhan hidup manusia,
termasuk mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri tidak sama dengan
mementingkan diri sendiri, bahkan keduanya bertolak belakang. Mementingkan
diri sendiri adalah suatu sifat tamak yang hanya memikirkan atau mementingkan
diri sendiri tanpa memikirkan orang lain yang pemenuhannya tidak terpuaskan.
Sedangkan cinta diri sendiri merupakan suatu langkah yang juga harus ada dalam
kita mencintai orang lain, namun dalam konteks tidak menjadi mementingkan diri
sendiri.

Dengan mencintai diri sendiri, kita menyadari keberadaan kita, dan apa
yang seharusnya kita lakukan. Kita memperhatikan diri kita, karena kita juga
merupakan amanah dari Tuhan yang harus dipelihara dengan baik termasuk juga
memelihara dan menjaga harga diri. Mencintai diri sendiri artinya kita menyadari
bahwa hidup tidak dapat sendiri. Konsekuensi logisnya adalah kitapun harus
mencintai sesama manusia dan juga lingkungan di sekitar yang menopang
kehidupan kita.

Bentuk-bentuk cinta kasih di atas merupakan gambaran cinta kasih yang


dilakukan oleh manusia. Rasa cinta antara manusia dengan sesamanya maupun
dengan makhluk hidup lainnya, atau suatu sikap altruisme perlu selalu dijaga.
Perasaan cinta kasih merupakan suatu kebutuhan bagi seluruh umat manusia
selama ia masih memiliki hati atau nurani. Dalam pergaulan hidup dengan sesama
manusia, kita tidak hanya dituntut untuk mempunyai rasa simpati tetapi juga
mempunyai rasa empati terhadap suatu keadaan atau penderitaan yang dialami
orang lain.

Kata ‘simpati’ berasal dari kata Yunani yang berarti ‘merasa dengan’,
sedangkan ‘empati’, yang juga berasal dari kata Yunani mempunyai arti ‘merasa
di dalam’. Sehingga pengertian dari kata simpati menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah sebagai rasa kasih atau keikutsertaan merasakan perasaan orang
lain. Kemudian empati diartikan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang

56
merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang
sama dengan orang atau kelompok lain, termasuk di sini suatu penderitaan yang
dialami orang lain. Hal ini dapat dicontohkan bagaimana seluruh bangsa
Indonesia, bahkan umat di dunia saling bahu-membahu dalam mengatasi bencana
Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, yang telah menelan banyak korban pada
tanggal 26 Desember 2004 yang telah lalu. Tindakan yang telah dilakukan banyak
pihak ini menunjukkan suatu sikap tidak hanya simpati, tetapi juga empati
terhadap para korban musibah ini.

3.2.2. Penderitaan dan Kegelisahan

1. Penderitaan
Ciri kehidupan di dunia ditandai oleh tawa dan tangis yang mencerminkan
keadaan yang fana. Pada suatu saat kita temukan kebahagiaan, yang pada
umumnya diungkapkan dengan tawa ria. Pada saat lain kita mengalami
penderitaan, kesakitan, kesusahan, yang biasanya diungkapkan dengan tangis.
Kata penderitaan yang berkata dasar ‘derita’ berasal dari kata ‘dhra’ dari bahasa
sanskerta yang artinya menahan, menanggung/merasai sesuatu yang tidak
menyenangkan (Pusat Bahasa Depdiknas, 2001: 255.). Penderitaan merupakan
pengalaman pahit yang tidak didambakan oleh setiap manusia.

Hakikat penderitaan adalah: a) dikhotomis, yaitu kita melihat sesuatu


sebagai dua kutub yang berdekatan namun berlawanan, penderitaan dan
kebahagiaan. Tidak ada penderitaan kalau kita tidak mengenal kebahagiaan, dan
sebaliknya. b) universal namun unik/spesifik. Secara universal setiap orang
tahu/mengenal/merasakan arti penderitaan, namun secara unik/spesifik berat
ringannya penderitaan dipersepsikan secara individual yang dipengaruhi oleh latar
belakang sosial budayanya. c) kontradiktif, yaitu ditemukan pola menyimpang,
yang dirasakan aneh bagi orang lain. Pola tersebut antara lain, dalam penderitaan
badaniah terdapat suatu “kebebasan”/kebahagiaan rohaniah; penderitaan
seseorang untuk kebahagiaan orang lain, misalnya: Pahlawan bangsa, seorang ibu
yang berkorban bekerja keras demi kebahagiaan anaknya; Menjalani penderitaan
di dunia untuk kebahagiaan di akhirat.

Sumber penderitaan ada yang berasal dari a) Sang pencipta, melalui alam
misalnya: gunung meletus, gempa bumi, Tsunami, dan sebagainya. b) Lingkungan
hidup manusia sendiri yang berasal dari masyarakat, kelompok atau orang lain
secara individual, bentuknya dapat berupa perang, pengucilan, dan sebagainya. c)
Diri sendiri, misalnya tidak lulus ujian karena tidak belajar, terjatuh karena tidak
hati-hati, dan sebagainya. Ketiga penderitaan yang berasal dari sumber yang
berbeda dapat muncul bersamaan dalam satu waktu.

Bentuk dari penderitaan, dapat berupa penderitaan lahir/fisik maupun


penderitaan bathin/psikis. Dalam kedua penderitaan tersebut dapat saling
mempengaruhi, yaitu suatu penderitaan fisik dapat menyebabkan penderitaan
psikis, misalnya: seseorang yang menderita sakit parah dan sulit untuk

57
disembuhkan dapat menyebabkan gangguan kejiwaan atau mengalami stress.
Sebaliknya, seseorang yang sedang mengalami kesedihan yang mendalam,
misalnya karena ditinggal mati orang yang sangat dicintainya, atau ketakutan
yang sangat, misalnya phobia tertentu, dapat mengalami gangguan kesehatan
fisik. Dalam menerima suatu penderitaan adalah subjektif bagi tiap individu. Hal
ini tergantung pada tinggi rendahnya toleransi individual, sehingga mengandung
gradasi dalam penghayatannya.

Hal-hal yang dapat membuat seseorang menderita antara lain adalah


siksaan dan kekalutan mental. Bentuk-bentuk siksaan secara psikis adalah
kebimbangan, kesepian dan ketakutan. Kebimbangan dialami seseorang apabila ia
pada suatu saat tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil.
Kesepian adalah suatu rasa sepi dalam dirinya atau jiwanya walaupun ia di
lingkungan yang ramai. Ketakutan merupakan bentuk lain yang dapat
menyebabkan seseorang mengalami siksaan bathin. Apabila rasa takut itu dibesar-
besarkan dengan tidak pada tempatnya, disebut sebagai phobia. Bentuk-bentuk
phobia antara lain, claustrophobia (di ruang tertutup), agora phobia (di tempat
terbuka), gamang (di tempat tinggi), kegelapan, kesakitan, kegagalan, dan
sebagainya.

Kekalutan mental merupakan gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan


seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan
bertingkah secara kurang wajar. Hal ini dapat terjadi karena seseorang
mempunyai kepribadian yang lemah, terjadinya konflik sosial budaya, atau cara
pematangan bathin (pendewasaan) yang salah dengan memberikan reaksi yang
berlebihan terhadap kehidupan sosial (a.l. over acting, over compensatie,
emotional, under acting). Penderita kekalutan mental banyak terdapat di kota-kota
besar, anak-anak muda, wanita, orang yang tidak beragama, orang yang terlalu
mengejar materi/kekuasaan (Widyosiswono, 1992: 96-104).

Apabila seseorang mengalami kekalutan mental ada yang memberikan


reaksi secara positif dan ada yang negatif. Untuk yang positif adalah “dijawab”
secara baik untuk dapat tetap survive, sedangkan yang negatif adalah menjadi
frustrasi. Untuk dapat menghindarkan diri dari frustrasi antara lain dapat
dilakukan dengan memelihara kebersihan jiwa, melatih berpikir dan berbuat
wajar, berani mengatasi kesulitan, dan berkomunikasi.

Akhirnya, secara umum manusia ingin bebas dari penderitaan, karena itu
selalu berupaya untuk “melepaskan diri” dari keadaan-keadaan yang memberikan
pengalaman tersebut, dalam bentuk-bentuk:
a. Perilaku nyata, yaitu menghindar atau menjauhkan diri dari
keadaan-keadaan yang disadari dapat memberi pengalaman tersebut
(mengandung antisipasi);
b. “Mencairkan” makna penderitaan, meyakini bahwa setiap
pengalaman yang tidak dikehendaki memuat hikmah tertentu. Yang
dimaksud di sini adalah penderitaan diterima sebagai kenyataan tetapi

58
diperkecil nilai bebannya, atau diterima sebagai kenyataan tetapi
ditafsirkan sebagai sesuatu yang bernilai di kemudian hari.
c. Menolak kenyataan sebagai mekanisme pertahanan diri (defence
mechanism; escape mechanism)

2. Kegelisahan
Kegelisahan adalah suatu rasa tidak tenteram, tidak tenang, tidak sabar,
rasa khawatir/cemas pada manusia. Jadi gelisah merupakan suatu rasa (-) yang
berkembang dalam diri manusia, sifatnya psikologis/kejiwaan. Kegelisahan
merupakan gejala universal yang ada pada manusia manapun. Namun kegelisahan
hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam
situasi tertentu. Jadi merupakan sesuatu yang unik, sebagai manifestasi dari
perasaan tidak tenteram, khawatir/cemas, dan sebagainya.

Mengapa manusia gelisah? Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan


manusia untuk dapat mengetahui hal-hal yang akan datang atau yang belum
terjadi. Hal ini terjadi misalnya karena adanya suatu harapan atau suasana
ketidakpastian, rasa terasing (keterasingan), rasa kesepian, atau adanya ancaman.
Sedangkan sumber dari kegelisahan ada yang berasal dari dalam diri manusia
(internal), misalnya rasa lapar, haus, rasa sepi, dan sebagainya, dan dari luar diri
manusia, misalnya: kegelisahan karena diancam seseorang.

Kegelisahan menunjuk pada suasana negatif, tetapi di sisi lain tetap


mempunyai harapan, sehingga antara kegelisahan dan harapan seolah-olah
merupakan saudara kembar. Muncul ketenangan apabila ada keseimbangan antara
kegelisahan dan harapan.

Menurut Sigmund Freud, ada tiga macam kegelisahan, yaitu sebagai berikut.
a. Kecemasan objektif (tentang kenyataan), yang bersumber dari sesuatu
kekuatan yang ada di luar diri manusia. Hal ini muncul dari antisipasi
seseorang berdasarkan pada pengalaman perasaannya. Misalnya: kegelisahan
masyarakat setelah ada pengumuman kenaikan BBM.
b. Kecemasan neurotik (syaraf), ditimbulkan oleh suatu pengamatan tentang
bahaya dari naluriah. Misalnya: kegelisahan siswa SMP maupun SMU
menunggu hasil Ujian Nasional; kegelisahan seorang suami yang menunggu
istrinya melahirkan anak pertama.
c. Kecemasan moral, muncul dari emosi sendiri yang merupakan perasaan
bersalah atau malu dalam ego, yang ditimbulkan oleh suatu pengamatan
bahaya dari hati nurani (Widyosiswono, 1992: 142-145). Misalnya, setelah
terungkap permasalahan korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum, DPR,
Kejaksaan atau lembaga-lembaga lainnya, banyak pihak terkait yang merasa
gelisah.

Mengingat kegelisahan juga merupakan perasaan negatif atau yang tidak


menyenangkan bagi setiap manusia maka dirasakan perlu suatu upaya untuk
mengatasinya. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain adalah pertama-tama

59
haruslah menyadari adanya kegelisahan diri, kemudian introspeksi diri,
melakukan tindakan nyata, mengambil hikmah/beauty dari suatu pengalaman, dan
tidak lupa untuk berdoa dan pasrah/ikhlas, menyerahkan diri pada Tuhan YME.

3.2.3. Kebersamaan
Secara kodrati, kebersamaan merupakan suatu kata yang tidak dapat
dipisahkan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Konon, manusia
pertama pun, Adam, sejak diciptakan telah memiliki kecenderungan tidak mampu
hidup sendiri, sehingga diciptakan manusia kedua, Hawa, sebagai teman
hidupnya. Demikian pula kehidupan manusia dari generasi lampau sampai
sekarang, ia tidak dapat hidup sendirian. Manusia menghadapi tantangan dari
alam, dari sesama, juga dari dirinya sendiri. Hanya melalui kerja sama dengan
pihak lain, tantangan itu dapat lebih mudah dan lebih ringan dihadapi.

Ketika tantangan hidup manusia makin kompleks, disadari perlunya


pembagian tugas atau kerja yang spesifik. Setiap orang mengambil peranan yang
unik sesuai dengan apa yang dapat dilakukan. Semua bentuk kerja sama itu pada
hakikatnya adalah mengelola sumber daya (alam dan manusia) semaksimal dan
seefisien mungkin sehingga menjadi produk yang bermanfaat. Ketika suatu
produk yang sama telah diproduksi oleh orang yang berbeda dan sumber daya
alam yang tersedia makin menipis, kompetisipun tak terelakkan (Panuju, Redi,
1996: 15).

Apa yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa dalam hidup manusia,


ia mempunyai tantangan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
Beragam kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya
naluri/kodrati maupun kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya merupakan
pengembangan dari kebutuhan kodrati tadi. Kebutuhan tersebut dapat dilihat
secara fisik maupun psikis. Contoh kebutuhan dari segi fisik, antara lain makan,
minum, kebutuhan seksual, dan lain-lain, sedangkan dari segi psikis contohnya
antara lain, kebutuhan akan cinta, kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan lain-
lain. Di sisi lain sebagai manusia, ia mempunyai keterbatasan dalam memenuhi
kebutuhan tersebut, oleh karena itu ia memerlukan kerja sama dengan orang lain
untuk memenuhinya.

Secara Antropologis, manusia adalah makhluk sosial atau sebagai makhluk


kolektif yang mempunyai ciri-ciri yang umum sebagai berikut: 1) pembagian
kerja yang tetap antara berbagai macam sub kesatuan atau golongan individu
dalam kolektif untuk melaksanakan berbagai macam fungsi hidup; 2)
ketergantungan individu kepada individu lain dalam kolektif sebagai akibat dari
pembagian kerja tadi; 3) kerja sama antar individu yang disebabkan
ketergantungan tadi; 4) komunikasi antar individu yang diperlukan guna
melaksanakan kerja sama tadi; 5) diskriminasi yang diadakan antara individu-
individu warga kolektif dan individu-individu dari luarnya (Koentjaraningrat,
1996: 136).

60
Azas-azas yang mengemuka ketika membicarakan pergaulan dalam
kehidupan kolektif tersebut adalah azas egoisme dan azas altruisme. Azas
egoisme atau azas mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan di
atas kepentingan orang lain. Azas egoisme di sini adalah dalam konteks upaya
mempertahankan diri kehidupan kolektifnya terhadap kolektif lainnya di dalam
alam yang kejam (survive). Sikap egois memungkinkan “the survival of the
fittest”. Sebaliknya, azas altruisme adalah hidup berbakti untuk kepentingan yang
lain sebagai lawan dari azas egoisme, yang juga digunakan untuk dapat bertahan
dalam proses seleksi alam yang kejam. Dengan altruisme maka makhluk kolektif
itu mampu mengembangkan suatu hubungan bantu membantu, dan kerja sama
yang serasi sehingga sebagai kolektif mereka menjadi kuat menghadapi tantangan
alam yang keras (Koentjaraningrat, 1996: 137). Bagaimana menyikapi penerapan
azas-azas ini dalam kehidupan kolektif manusia?

Lingkup kehidupan kolektif manusia beragam, dari yang kecil seperti


keluarga, small group, peer group, suku bangsa sampai masyarakat suatu bangsa
atau negara bahkan dunia. Dalam kehidupan kelompoknya itulah terdapat tatanan
nilai yang mengatur bagaimana seseorang itu diharapkan bertingkah laku.
Berbeda dengan kelompok/kolektif hewan, manusia dengan akalnya mempunyai
aturan-aturan yang beragam dalam interaksinya di setiap tempat, itulah sebabnya
manusia disebut makhluk yang berbudaya sebagai pendukung suatu kebudayaan.

Manusia dalam hidupnya dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi dirinya
sebagai individu, yang tingkah lakunya dipengaruhi oleh unsur
genetisnya/fisiologis dan unsur kepribadian yang beretik otonom. Kemudian sisi
dirinya sebagai bagian/anggota dari suatu masyarakat yang beretik heteronom.
Etik otonom pribadi berpusat pada kata hati tiap-tiap orang, sedangkan etik
masyarakat yang heteronom terjelma dalam adat istiadat, kebiasaan maupun
undang-undang. Adat istiadat, kebiasaan dan undang-undang inilah yang
merupakan norma-norma yang menentukan kelakuan individu-individu sebagai
anggota suatu masyarakat (Takdir Alisyahbana, 1982: 8-16).

Sebagai bagian dari suatu kolektif manusia, yaitu masyarakat Indonesia, kita
menyadari bahwa Indonesia adalah masyarakat majemuk yang keheterogenitasnya
dapat dilihat dari jumlah suku bangsa yang beragam, bahasa, agama yang dianut,
demografi, jenis pekerjaan dan sebagainya. Dengan semboyan Bhineka tunggal
ika kita berupaya selalu menjaga persatuan bangsa. Namun dalam perjalanan
hidup kebersamaan bangsa Indonesia, kita mengalami berbagai masalah serius
terutama masalah disintegrasi bangsa yang ekskalasinya meningkat akhir-akhir
ini. Permasalahan disintegrasi bangsa tersebut antara lain berkaitan dengan
masalah hubungan antara aneka warna suku bangsa, hubungan mayoritas
minoritas, hubungan antar umat beragama, daerah-daerah yang masih terbelakang,
separatisme, dan sebagainya.

61
Dalam menyikapi hal ini perlu dilakukan suatu upaya-upaya yang
melibatkan seluruh bangsa Indonesia. Upaya-upaya tersebut antara lain sebagai
berikut.

a. Sosialisasi Nilai-Nilai Kebaikan/Moral


Dalam pola berinteraksi antar sesama manusia, kita melihat ada dua sisi
yang bersebelahan yaitu suatu keharusan untuk bekerja sama dengan orang lain
untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan suatu tuntutan berkompetisi dengan orang
lain karena keterbatasan sumber daya alam yang ada. Untuk itulah sebagai
manusia tentunya kita tidak melakukannya dengan menghalalkan segala cara guna
memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup tersebut. Manusia perlu suatu landasan
moral dalam mengelola sumber daya yang ada (manusia dan alam), yaitu dengan
mengedepankan nilai-nilai dalam berinteraksi dengan sesama manusia, seperti
nilai keadilan, tanggung jawab, cinta kasih, dan lain-lain. Bagaimana nilai-nilai
tersebut dapat dilaksanakan adalah tergantung pada pola asuhan atau sosialisasi
yang diterima oleh seseorang, yaitu dalam sosialisasi primer sebagai penanaman
nilai-nilai yang pertama dan utama di dalam keluarga oleh agen sosialisasi seperti
orang tua atau anggota keluarga lain. Kemudian juga sosialisasi sekunder, yang
berasal dari luar lingkungan keluarga, seperti guru, teman, atau anggota
masyarakat lain. Penanaman nilai-nilai di dalam keluarga adalah yang paling
mendasar karena sosialisasi ini merupakan upaya untuk mempersiapkan anggota
keluarga untuk masuk dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat.

Penanaman nilai yang berkaitan dengan semangat kebersamaan di Indonesia


tentunya harus disesuaikan pula dengan kultur bangsa Indonesia yang pada
hakikatnya merupakan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai budaya yang
bukan individualis melainkan komunal/kolektivisme, seperti gotong royong,
musyawarah untuk mufakat, dan lain-lain. Sehingga munculnya permasalahan-
permasalahan integrasi bangsa yang berkaitan dengan kebersamaan bangsa ini
perlu ditelaah lebih jauh apa penyebabnya. Apakah nilai-nilai budaya
kebersamaan yang disosialisasikan di dalam keluarga atau lingkungan sudah
makin berkurang atau kalah bersaing dengan nilai-nilai luar karena adanya arus
globalisasi? Atau ada penyebab lainnya?

62
Perbedaan karakteristik pada masyarakat yang kolektivisme dan
individualisme menurut Hofstede
Individualisme Kolektivisme

Otonomi individual Kesatuan kelompok dan


harmoni
Orientasi pada diri sendiri Orientasi pada kelompok
Mengutamakan kepentingan Mengutamakan kepentingan
individu kelompok
Unik dan bebas Peduli terhadap ketergantungan
sesama
Mengutamakan kehormatan Pemilikan kelompok
individu
Keluarga inti Keluarga luas

Pemberian ganjaran kepada Distribusi ganjaran


individu mengutamakan ke-
Berdasarkan kesamaan hak seimbangan
(equity)
Persaingan Kerja sama

(Leliweri, 2002: 126)

b. Komunikasi Antar Budaya


Perlunya dilakukan suatu komunikasi antar budaya baik secara teoritis
maupun praktis antara lain adalah untuk 1) membuka diri dan memperluas
pergaulan; 2) meningkatkan kesadaran diri; 3) etika/etis; 4) mendorong
perdamaian dan meredam konflik; 5) demografis; 6) ekonomi; 7) menghadapi
teknologi komunikasi; 8) menghadapi era globalisasi ( Leliweri, 2002: 32-33).
Manfaat dari komunikasi antar budaya tersebut yang paling berkaitan dengan
permasalahan kebersamaan dalam kebhinekaan bangsa Indonesia dan juga
berkaitan dengan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat dunia adalah pada
butir 4) mendorong perdamaian dan meredam konflik; dan 8) menghadapi era
globalisasi.
Lembaga Conflict Research Consortium, University of Colorado, USA, dalam
uraian bertema Peace, Culture and Society (Elise Boulding, Clovis Brigagao, dan
Kevin Clements, 1991) mengemukakan betapa pentingnya peranan komunikasi
untuk membatasi atau mengurangi kesalahpahaman. Komunikasi dapat
mengurangi eskalasi konflik sosial dan pembenaran aspirasi politik dalam proses
perdamaian antar manusia, antar kelompok, antar etnik, antar ras, bahkan antar
bangsa. Kunci untuk perdamaian, kebudayaan, dan masyarakat (menciptakan
budaya perdamaian dalam masyarakat) sangat ditentukan oleh dialog intensif dan

63
terus menerus, dengan kata lain, melaksanakan komunikasi secara lateral,
mengadakan dialog dan memecahkan masalah bersama melalui konsensus
(Leliweri, 2002: 38)
Dalam komunikasi antar budaya kita berusaha untuk membuka diri dengan
menjawab beberapa pertanyaan berikut.
1. Bagaimana saya melihat diri sendiri ? (untuk seterusnya, “saya” di sini
dapat dianalogikan dengan “suku saya” atau “bangsa saya”, dst.)
2. Bagaimana saya melihat anda? (untuk seterusnya, “anda” di sini dapat
dianalogikan dengan “suku anda” atau “ bangsa anda”, dst.)
3. Bagaimana Anda berpikir tatkala Anda melihat saya?
4. Bagaimana Anda melihat diri Anda?
5. Bagaimana Anda melihat diri saya? dan
Bagaimana Anda berpikir tatkala saya melihat Anda (Hybells and Weaver II,
1992 hlm. 26). ( Leliweri, 2002: 32-33)

c. Kebudayaan Nasional Indonesia


Permasalahan kebudayaan nasional Indonesia merupakan masalah
kebudayaan semua orang Indonesia warga satu nasion yang dalam kenyataannya
terdiri atas banyak suku bangsa dengan beraneka ragam kebudayaan, bahasa dan
agama. Perlunya suatu upaya pengembangan dan sosialisasi kebudayaan nasional
Indonesia dalam upaya menjaga integrasi bangsa adalah mengingat adanya dua
fungsi yang pada umumnya ada pada tiap kebudayaan nasional di seluruh dunia,
yaitu 1) fungsi memperkuat jati diri nasional, dan 2) fungsi memperkuat
solidaritas nasional.
Unsur-unsur kebudayaan nasional yang dapat memenuhi fungsi pertama
adalah unsur kebudayaan nasional yang merupakan puncak kebudayaan daerah
yang diakui oleh dunia internasional. Hal ini dapat memberikan perasaan bangga
dalam diri orang Indonesia yang tidak memahami maknanya sekalipun.
Kebanggaan terhadap suatu karya biasanya menimbulkan keinginan seseorang
untuk mengidentifikasikan dirinya dengan karya yang bernilai tinggi itu, dan
dengan demikian ia memperkuat jati dirinya, sedangkan unsur-unsur kebudayaan
nasional yang dapat memenuhi fungsi kedua adalah unsur-unsur kebudayaan
nasional yang dipahami seluruh bangsa, dan dapat dikomunikasikan kepada warga
suku bangsa lainnya sehingga dapat memperkuat solidaritas nasional.

Dengan demikian isi kebudayaan nasional Indonesia adalah karya-karya


kebudayaan putra-putri Indonesia yang dapat dibanggakan untuk memperkuat jati
diri nasionalnya, dan karya-karya kebudayaan yang bersifat komunikatif untuk
memperkuat solidaritas nasionalnya. Unsur-unsur kebudayaan yang paling
berperan dalam menguatkan jati diri dan solidaritas nasional adalah bahasa dan
kesenian. Unsur-unsur itu merupakan unsur-unsur oleh karena menempati urutan
atas dari unsur-unsur yang lain.

64
Unsur bahasa misalnya adalah bahasa daerah atau bahasa suku bangsa, dan
unsur-unsur kesenian adalah semua unsur kesenian tradisional yang berasal dari
kebudayaan daerah. Oleh karena itu oleh konsepsi Ki Hajar Dewantara unsur-
unsur itu disebut sebagai “puncak-puncak” kebudayaan daerah. Di samping itu
masih ada sejumlah unsur yang kiranya perlu diperhatikan sebagai unsur-unsur
kebudayaan nasional yaitu sains dan teknologi. Unsur-unsur itu umumnya berasal
dari peradaban dunia masa kini, dan perlu kita jadikan bagian integral dari
kebudayaan nasional kita
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam upaya mengembangkan
kebudayaan nasional Indonesia adalah unsur-unsur kebudayaan yang akan
menjadi kebudayaan nasional Indonesia harus memiliki watak khas atau
kepribadian sebagai kebudayan nasional Indonesia. Watak itu dalam ilmu-ilmu
sosial disebut sistem atau orientasi nilai budaya. Nilai budaya adalah suatu
gagasan, suatu hasrat, atau suatu perilaku yang dinilai tinggi dan sudah
dibudayakan sejak usia dini dalam jiwa warga suatu kebudayaan. Oleh karenanya
nilai ini sulit diubah dalam hanya satu generasi saja. Sebagai contoh misalnya adat
gotong royong dalam kebudayaan berbagai suku bangsa di seluruh Nusantara,
adat merantau dalam kebudayaan Minangkabau, hasrat untuk bersaing dalam
kebudayaan Batak (diambil hanya dalam konteks yang positif), dan sebagainya.
Jiwa kebudayaan nasional Indonesia pada hakikatnya memang terdiri atas
nilai-nilai budaya yang memberi watak dari kepribadiannya dari kebudayaan suku
bangsa. Untuk itu perlu dilakukan seleksi dan pengembangan terhadap nilai-nilai
budaya tersebut dengan cara antara lain:
1. mengembangkan sikap hidup yang positif dan mengurangi sikap
menggantungkan diri pada nasib;
2. mengembangkan sikap yang menilai tinggi disiplin, kesinambungan,
dan mutu hasil kerja;
3. mengukuhkan kembali sikap hidup selaras dengan alam;
4. lebih banyak mengembangkan orientasi hidup ke masa depan daripada
mengagungkan masa kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu,
mengembangkan sikap tepat waktu dalam aktivitas sehari-hari, suatu orientasi
hidup yang erat kaitannya dengan orientasi ke masa depan, dan kebiasaan
hidup berhemat;
5. mengukuhkan nilai gotong royong dengan mengurangi aspek-aspek
negatifnya seperti sikap kurang mandiri, kurang bertanggung jawab;
mengurangi sikap ketergantungan kepada orang-orang yang lebih “tinggi”;
dan meningkatkan disiplin nasional sesuai dengan aturan-aturan yang ada
(Koentjaraningrat, Kompas, 14 Januari 1991) .

d. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang Berkeadilan


Masalah yang berkaitan dengan rasa keadilan dari pembagian dan
pemanfaatan sumber daya alam dari masyarakat Indonesia di berbagai daerah ini
begitu mengemuka akhir-akhir ini sehingga memunculkan berbagai gejolak di
beberapa daerah yang sangat berpotensi pada disintegrasi bangsa. Untuk

65
mengatasi hal ini antara lain telah dikeluarkan Ketetapan MPR-Republik
Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah.
Dengan ketentuan ini maka diberikan kewenangan yang luas, nyata dan
bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan
pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan,
serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. Di samping itu, penyelenggaraan
Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta
masyarakat, pemerataan, dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan
keanekaragaman Daerah (Indonesia, Penjelasan Undang-Undang RI No. 22 Th
1999 tentang Pemerintahan Daerah yang telah digantikan oleh Undang-Undang
No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah).

3.2.4. Keadilan
Begitu sering kita mendengar kata keadilan dikemukakan orang, namun
apakah sebenarnya yang dimaksud dengan keadilan yang begitu kita dambakan
ini. Keadilan yang berasal dari kata adil, dapat diartikan sebagai suatu keadaan
seimbang, tidak berat sebelah atau tidak memihak. Sehingga keadilan lebih jauh
dapat diartikan sebagai suatu tuntutan sikap yang seimbang antara hak dan
kewajiban.
Pemberian hak dimaksud adalah kepada siapa saja yang memang menjadi
haknya. Dengan demikian kewajiban adalah kita memberikan apa yang menjadi
kewajiban kita kepada orang yang seharusnya mendapatkannya. Selain itu kata
keadilanpun dapat diartikan sebagai memberikan perlakuan yang sama kepada
setiap orang dalam situasi yang sama. Hal ini karena pada hakikatnya setiap
manusia itu mempunyai nilai yang sama sebagai manusia. Namun pada kasus-
kasus atau situasi tertentu perlu suatu perlakukan yang tidak sama untuk mencapai
apa yang dikatakan sebagai keadilan, jadi harus ada alasan khusus yang dapat
membenarkan sikap/perlakuan tersebut. Sebagai contoh, ketentuan membunuh
adalah suatu tindakan atau perbuatan jahat yang melawan hukum yang akan
mendapat hukuman yang berat menurut KUHP. Ketentuan ini menurut azas
keadilan adalah diperlakukan sama pada setiap orang yang melakukannya. Namun
ketika proses di pengadilan, seorang hakim akan menelaah lebih jauh perbuatan
membunuh dari seseorang tersebut. Hal ini karena dapat saja seseorang itu
membunuh karena ia membela diri karena ia akan diperkosa misalnya. Di lain
kasus, dapat saja membunuhnya seseorang itu karena tuntutan pekerjaan seperti
seorang polisi yang membunuh penjahat yang melarikan diri atau membahayakan
masyarakat lain, jadi tindakannya itu ada alasan pembenarnya.
Mengingat keadilan merupakan suatu hak yang asasi dari manusia
dimanapun dan dimasa manapun ia berada, sehingga merupakan hak yang bersifat
universal maka banyak pendapat yang mengemukakan hakikat dari keadilan ini
disesuaikan dengan zamannya. Ungkapan-ungkapan keadilan tersebut antara lain
yaitu pada zaman Romawi Kuno ada ungkapan Tribuere Suun Cuiqe yang artinya
betapa pentingnya memberikan hak-hak apa yang ada pada setiap orang, apa yang
dimilikinya harus diberikan kepadanya tanpa kecuali. Pada zaman Yunani purba,

66
Dewa Zeus dianggap sebagai penegak hukum dan keadilan yang menguasai jagad
raya.
Selain itu beberapa pendapat para ilmuwan/filsuf berkaitan dengan
keadilan antara lain adalah pendapat dari Socrates yang menitikberatkan keadilan
pada pemerintahan yaitu bilamana pemerintah dengan rakyatnya terdapat saling
pengertian yang baik. Kemudian apabila penguasa mematuhi dan mempraktikkan
ketentuan hukum serta pimpinan negara bersikap bijaksana. Aristoteles
mengemukakan bahwa keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia
(Faierner in human action). Plato pada zaman Yunani Kuno memberi nilai
keadilan sebagai “Kebajikan Tertinggi dalam Kehidupan Negara Yang Baik” (The
Supreme Virtue of The Good State) dan orang yang adil adalah “orang yang
mengendalikan diri, yang perasaannya dikendalikan oleh akal” (the discipline
man whose passion are controlled by reason). John Lock mengaitkan keadilan
dengan beberapa hak asasi manusia yaitu hak untuk hidup, hak untuk berkeluarga,
hak untuk memperoleh pendidikan, hak untuk berpendapat dan hak untuk tidak
boleh dihukum sebelum ada petunjuk atau bukti sah (Mustopo, 1992: 157-159).
Sebagaimana dikemukakan di atas sebagian dari pandangan-pandangan
manusia tentang keadilan yang beragam. Sebagaimana manusia yang mempunyai
berbagai pendapat, seringkali menimbulkan bias dalam menilai suatu keadilan
menurut cara pandangnya yang disesuaikan dengan keadaan dirinya. Itulah
sebabnya keadilan manusia dalam praktiknya seolah-olah menjadi variatif.
Misalnya menurut pengusaha, keadilan adalah apabila keuntungan terbesar jatuh
pada pihak pedagang. Menurut buruh, adil apabila upah dibayar pada waktunya
dan keuntungan perusahaan dibagi secara wajar.
Begitulah keadilan manusia yang nampak relatif, yang berbeda dengan
keadilan Tuhan. Relatifnya keadilan manusia karena cenderung subjektif.
Sedangkan keadilan Tuhan adalah keadilan mutlak yang terkadang manusia
melihatnya sebagai ketidakadilan dengan ukuran manusia yang serba terbatas.
Setiap manusia pasti pernah mengalami perlakuan adil dan tidak adil. Hal
ini berhubungan erat dengan hak-hak alamiah (hak asasi manusia) yang antara
lain adalah: 1) hak untuk hidup; 2) hak untuk kemerdekaan hidup; 3) hak untuk
memiliki sesuatu; 4) hak untuk mendapatkan perlindungan hukum; 5) hak untuk
memperoleh nama baik; 6) hak untuk berpikir dan mengeluarkan pendapat; 7)
hak untuk menganut agama dan kepercayaan; 8) hak untuk mendapat pendidikan
dan pengajaran; 9) hak untuk memperoleh pekerjaan. Yang dimaksudkan dengan
hak di sini antara lain adalah suatu kekuasaan yang secara sah dimiliki seseorang,
baik atas diri pribadi, atas orang lain maupun atas harta atau benda yang berada di
luar dirinya.
Sehubungan dengan hak-hak tersebut, orang merasa diperlakukan adil
apabila dapat mempertahankan/membela hak-haknya, sedangkan jika
dihubungkan antara hak dan kewajiban, dalam masalah keadilan seringkali
dibicarakan mengenai sejauh mana individu dapat memperoleh hak-haknya sesuai
dengan kewajiban yang telah dipenuhinya. Kewajiban di sini meliputi dalam arti
yang subjektif yaitu keharusan moral untuk melakukan sesuatu atau

67
meninggalkannya, dan kewajiban dalam arti objektif yaitu sesuatu yang harus
dilakukan atau ditinggalkan. Jadi mendapatkan suatu hak harus diimbangi pula
oleh suatu kewajiban. Dalam kenyataan seringkali sulit untuk dilaksanakan,
sehingga rasa ketidakadilan menjadi sering mengemuka.
Bagaikan dua sisi mata uang yang saling bersebelahan demikianlah
gambaran antara keadilan dan ketidakadilan. Kita dapat mengatakan sesuatu itu
tidak adil karena kita mempunyai suatu acuan yang mana keadilan itu, demikian
pula sebaliknya. Banyak rasa ketidakadilan yang kita rasakan dalam kehidupan
ini.
Dari apa yang diuraikan di atas, nampak bahwa keadilan bersifat universal
dan unik. Universal artinya, rasa keadilan itu adalah kebutuhan atau bagian hidup
manusia dimanapun dan pada masa apapun manusia berada. Keadilan merupakan
kebutuhan mutlak bagi manusia. Ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia karena keadilan merupakan proses kejiwaan yang dibawa semenjak
manusia lahir. Sedangkan yang dimaksudkan dengan unik adalah tiap manusia
atau manusia pada tiap zamannya mempunyai ukuran keadilan yang relatif. Suatu
sifat keadilan yang berbeda dengan keadilan Tuhan yang bersifat mutlak.
Secara teoritis, azas untuk menentukan apakah sesuatu hal itu adil atau
tidak adalah:
1. azas persamaan, yaitu setiap orang mendapatkan bagian secara merata;
2. azas kebutuhan, yaitu setiap orang mendapat bagian sesuai dengan
kebutuhan/keperluannya;
3. azas kualifikasi, yaitu keadilan yang didasarkan pada kenyataan bahwa
yang bersangkutan akan dapat mengerjakan tugas yang diberikan padanya;
4. azas prestasi objektif, yaitu apa yang menjadi bagian seseorang
didasarkan pada syarat-syarat objektif , misalnya: kemampuan/keahlian
seseorang;
5. azas subjektif, yaitu keadilan yang didasarkan pada syarat-syarat subjektif
misalnya ketekunan, kerajinan, dan sebagainya.

Dalam bidang hukum beberapa azas keadilan antara lain adalah:


1. azas equality before the law, yaitu azas yang menyatakan adanya
persamaan hak dan derajat di muka hukum bagi setiap orang;
2. azas equal protection on the law, yaitu azas yang menyatakan bahwa
setiap orang berhak mendapat perlindungan yang sama oleh hukum;
3. azas equal Justice under the law, yaitu azas yang menyatakan bahwa
setiap orang berhak mendapat perlakuan yang sama di bawah hukum.

Di dalam penegakkan hukum, suatu keadilan dilambangkan sebagai


seorang perempuan yang memegang timbangan dan sebilah pedang dengan mata
yang tertutup. Hal ini melambangkan suatu penegakkan hukum yang diharapkan
dilakukan dengan seadil-adilnya dilambangkan dengan timbangan, penuh
ketegasan bagi yang melanggar dilambangkan dengan sebilah pedang dan tidak

68
pandang bulu/pilih kasih dalam penerapannya dilambangkan dengan mata yang
tertutup.
Bagaimana seseorang itu bertingkah laku tergantung pada bagaimana
norma-norma yang mengatur berbagai interaksi yang berkaitan dengan keadilan
tersebut dipatuhi. Berbagai norma-norma yang menjadi prinsip dasar keadilan
adalah norma yang mengatur bagaimana hubungan/interaksi antara manusia
dengan manusia lainnya, norma hubungan antara manusia dengan
benda/lingkungan, dan norma yang terkait dengan hubungan antara manusia
dengan Tuhannya.
Bentuk-bentuk keadilan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat antara
lain adalah:
1. keadilan seharga atau timbal balik dalam pertukaran (Justitia
Commutativa)
2. keadilan pembagian/penyebaran (Justitia Distributiva)
3. keadilan berdasarkan undang-undang (Justitia Legalis)
4. keadilan sosial (Justitia Socialis)

Penggolongan secara umum dari bentuk keadilan ini adalah keadilan


formal dan keadilan material. Keadilan formal dapat diartikan sebagai keadilan
yang mengacu pada ketentuan-ketentuan formal, seperti undang-undang atau
peraturan-peraturan lainnya, sedangkan keadilan materil adalah keadilan yang
tidak hanya mengacu pada ketentuan-ketentuan formal tetapi melihat secara
keseluruhan terjadinya suatu kasus atau permasalahan, seperti hal-hal yang
melatarbelakanginya. Sebagai contoh, suatu kasus penganiayaan, jika hanya
mengacu pada ketentuan undang-undang (formal) maka akan langsung dikenakan
hukuman pasal tentang penganiayaan tersebut di pengadilan. Sedangkan jika
dilihat secara material maka akan dilihat secara keseluruhan, mungkin saja
penganiayaan dilakukan karena membela diri, yang dapat dijadikan sebagai hal
yang akan meringankan hukuman bahkan dapat membebaskannya. Jadi yang
harus dilihat juga itikad dari si pelaku.
Dalam konteks yang lebih luas, tinjauan keadilan secara material terhadap
pelanggaran-pelanggaran atas ketidakpatuhan masyarakat terhadap suatu
ketentuan formal, harus dilihat secara keseluruhan, antara lain dengan tinjauan
sosiologis, antropologis bahkan psikologis mengenai suatu permasalahan.
Misalnya, mengapa banyak warga yang tidak menggunakan jembatan
penyebrangan, ada kemungkinan hal ini disebabkan karena lokasinya yang tidak
strategis, masalah keamanan, dan sebagainya.
Berbicara mengenai keadilan, tidak akan pernah ada habisnya sebagai
suatu hal yang sangat diidamkan oleh semua orang. Namun hendaknya dalam
mencapai keadilan harus selalu diingat bahwa kita tidak hidup sendiri, pencapaian
rasa keadilan kita tidak harus dengan menghalalkan segala cara yang malah akan
menimbulkan ketidakadilan baru bagi orang lain, sehingga tiap “langkah” kita
harus kita lakukan dengan memperhatikan nilai-nilai lainnya. Berikut ini adalah
uraian mengenai nilai kejujuran yang sangat terkait erat, bahkan merupakan

69
bagian dari nilai keadilan, yang meliputi kejujuran terhadap diri sendiri maupun
dengan orang lain. Jika nilai kejujuran tidak dapat ditegakkan, maka dapat
dikatakan sama dengan kita tidak melakukan tindakan yang adil.

3.2.5. Kejujuran
Ada pepatah mengatakan bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku
dimana-mana, yang artinya antara lain bahwa kejujuran itu adalah nilai kebaikan
sebagai sifat positif yang akan diterima oleh semua orang dimanapun dan
kapanpun ia berada. Jadi nilai kejujuran ini adalah nilai kebaikan yang bersifat
universal. Pengertian kejujuran itu sendiri yang akar katanya jujur, dalam Kamus
Bahasa Indonesia berarti lurus hati; tidak berbohong; tidak curang; tulus; ikhlas.
Sehingga kejujuran diartikan sebagai sifat (keadaan) jujur; ketulusan hati atau
kelurusan hati (Pusat Bahasa Depdiknas, 2001: 479).
Berbicara mengenai kejujuran berarti kita berbicara mengenai sikap moral.
Sikap moral yang sebenarnya diistilahkan sebagai moralitas. Yang dimaksudkan
dengan moralitas di sini adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul
dilakukan tanpa pamrih. Suatu perbuatan baik yang dilakukan dengan kesadaran
bahwa perbuatan itu memang baik yang berasal dari hati nurani.
Mengapa kita perlu mengedepankan masalah kejujuran? Banyak
permasalahan kita dimanapun dan pada masa apapun , baik di Indonesia maupun
negara-negara lain, yang sesungguhnya berpangkal dari masalah kejujuran.
Ironisnya justru dalam kenyataannya kini seringkali kejujuran menjadi “barang”
yang makin langka. Majalah Time (25 Mei 1987) memaparkan pengumpulan
pendapat pada bulan Pebruari 1987 oleh US News dan CNN, yang
memperlihatkan bahwa lebih dari setengah peserta survei yakin bahwa orang-
orang sekarang lebih kurang jujur dibandingkan sepuluh tahun lalu. Time
melaporkan bahwa lebih dari 100 anggota pemerintahan Reagen pernah
mendapatkan tuduhan atas pelanggaran etika dan hukum yang diajukan terhadap
mereka. Jumlah itu belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut Time banyak
bagian etis nasional yang telah sangat merosot, dari Gedung Putih hingga gereja-
gereja,sekolah-sekolah, industri, pusat-pusat kesehatan, lembaga hukum, dan
pasar saham (Leliweri, 2002: 35-36). Bagaimana dengan di Indonesia? Kita dapat
merasakan seberapa parahnya kondisi moral bangsa ini dengan melihat
permasalahan yang sangat terkait dengan masalah kejujuran, misalnya korupsi.
Sumber daya alam yang melimpah di bumi Indonesia seakan tidak ada artinya
melihat sebagian besar masyarakat kita yang masih berada di bawah garis
kemiskinan. Pendapatan negara tidak dapat menutupi kemiskinan atau
meningkatkan taraf hidup rakyat karena sudah begitu banyak terjadi kebocoran
pada anggaran negara akibat korupsi, yang akan dikemukakan lebih lanjut pada
uraian mengenai korupsi.
Jika kita telaah lebih jauh nilai kejujuran maka dari nilai kebaikan ini
dapat kita lihat dari beberapa bentuk, yaitu antara lain: a) kejujuran terhadap diri
sendiri, dan b) kejujuran terhadap orang lain. Bentuk ini hanya merupakan telaah
tentang kejujuran yang dikaitkan dengan interaksi seseorang, dalam arti sikap

70
jujur atau tidak jujurnya seseorang dalam kondisi ada atau tidaknya interaksi
dengan orang lain.
Kejujuran terhadap diri sendiri adalah suatu sikap yang lurus dari
seseorang ketika dia dihadapkan pada beberapa pilihan sikap yang baik dan tidak
baik, yang orang lain tidak mengetahuinya. Dengan kata lain sikap ini merupakan
sikap dari seseorang yang berusaha menjadi dirinya sendiri. Sebagai contoh,
Seorang mahasiswa yang ditugaskan membuat karya tulis. Walaupun tugas itu
dirasakan sulit untuk ia lakukan karena keterbatasan kemampuannya, walaupun
ia mempunyai kesempatan untuk mencontek karya orang lain atau temannya dan
kalaupun ia mencontek tidak ada yang mengetahuinya, namun ia tetap tidak
melakukannya dan melakukannya tugasnya itu sendiri sebatas kemampuannya.
Sedangkan kejujuran terhadap orang lain sebagaimana telah dikemukakan
di atas adalah suatu sikap lurus seseorang dalam hal ia berinteraksi/berkomunikasi
dengan orang lain. Contohnya, seorang developer/pengembang yang
mempromosikan perumahan di suatu kawasan. Diiklankan bahwa daerah itu bebas
banjir dan tersedia fasilitas umum. Apabila ia pengembang yang jujur maka apa
yang dipromosikan akan sesuai dengan kenyataannya. Sebaliknya apabila ia
adalah pengembang yang tidak jujur maka hal yang dijanjikannya itu hanya ada di
iklan saja agar perumahannya banyak diminati orang. Hal ini sebagai contoh
kasus yang banyak ditemui dalam praktik belakangan ini.
Lebih jauh, bersikap jujur terhadap orang lain berarti dua, yaitu:
1. Sikap terbuka
Yang dimaksudkan dengan sikap terbuka di sini bukan berarti terbuka
dalam segala-galanya sehingga kita tidak mempunyai rahasia pribadi/privacy
lagi. Yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana kita dapat bersikap sebagai
apa adanya kita. Kita tidak menipu diri atau orang lain dengan bersikap
seolah-olah menjadi orang lain. Melainkan berusaha menampilkan diri kita
yang sesungguhnya dengan apa adanya.
2. Sikap wajar
Bersikap objektif, dengan memperlakukan orang berdasarkan ukuran-
ukuran standar bagaimana seseorang itu menghargai hak orang lain
sebagaimana mestinya dan tidak bertentangan dengan hati nurani (Frans
Magnis Suseno, 1987: 131-132).
Dalam kehidupan sehari-hari nilai kejujuran banyak dikaitkan dengan
beberapa permasalahan yang ada di dalam masyarakat. Berikut ini adalah
beberapa contoh permasalahan dalam masyarakat yang berkaitan dengan masalah
kejujuran.

a. Masalah Korupsi
Masalah korupsi merupakan masalah besar yang dihadapi oleh bangsa ini,
yang menyebabkan rusaknya kehidupan sosial ekonomi maupun tatanan nilai
budaya masyarakat. Menjelang tutup tahun 2003, Indonesia tercatat sebagai
negara terkorup ke-6 di dunia. Data korupsi tahun 2003 yang diungkapkan

71
Transparency International (TI) ini juga menempatkan Indonesia sebagai negara
terkorup di kawasan Asia Tenggara dengan Indeks Persepsi Korupsi (IPK)
mencapai 1,9 dari rentang angka 0-10. Lima negara tetangga seperti malaysia
mendapat IPK 5,2, Philipina 2,5, Vietnam 2,4, dan papua Nugini 2,1. IPK
Indonesia tahun ini sama persis dengan posisi dua tahun sebelumnya. Artinya,
selama tiga tahun terakhir, pemerintah atau masyarakat Indonesia tidak mampu
memerangi atau sekurang-kurangnya menurunkan tingkat korupsi yang ada.
Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Bangladesh, Myanmar, Nigeria, dan
Kamerun. Negara Asia yang dinilai paling rendah IPK-nya adalah Singapura
dengan nilai 9,4. Sedangkan negara paling bersih dari 133 negara yang disurvei TI
adalah Finlandia dengan IPK 9,7.( Suara Publik edisi Oktober 2003)

Begitu seriusnya masalah ini sehingga banyak wacana atau pendapat yang
mengulas masalah korupsi ini sebagai masalah yang menyebabkan bangsa
Indonesia yang mempunyai kekayaan alam yang melimpah dapat terpuruk
sedemikian memprihatinkan. Tingkat korupsi sudah demikian tinggi dan meluas,
dalam arti pelaku adalah meliputi hampir semua kalangan, dari korupsi tingkat
tinggi seperti kasus-kasus dana perbankan, reboisasi, bulog sampai kasus-kasus
penyalahgunaan jabatan di level-level bawah seperti di kelurahan dalam
pembuatan KTP, PBB, IMB dan sebagainya.

Ada juga sebagian masyarakat mengartikan istilah “korupsi” dalam arti


luas, yaitu melihat nilai kejujuran tidak hanya dikaitkan dengan penyalahgunaan
jabatan. Sebagai contoh di sini adalah korupsi waktu, artinya adalah suatu
tindakan dimana seseorang tidak amanah dalam menjalankan tugas sebagaimana
waktu dan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Sebagai contoh,
seseorang yang pulang kerja sebelum waktunya atau mencari “objekan” di tempat
lain dalam waktu kerja atau di kantor hanya membuang-buang waktu dengan
kegiatan yang tidak produktif, seperti mengobrol/menggosip atau bermain game
komputer.

b. Masalah Plagiat
Hakikat dari Ilmu pengetahuan adalah kejujuran. Hal ini terlihat dari
bagaimana proses terjadinya suatu ilmu pengetahuan, yang berasal dari kumpulan
pengetahuan yang disusun secara sistematis yang dapat diuji kebenarannya. Oleh
karena dapat diuji kebenarannya ini dengan suatu pembuktian, maka kejujuran
menjadi suatu hal mendasar dalam ilmu pengetahuan. Jika tidak ada kejujuran
dalam diri seorang ilmuwan dalam mendalami suatu ilmu pengetahuan maka ia
tidak dapat dikatakan sebagai seorang ilmuwan sejati. Oleh karena itu, di
kalangan akademisi, masalah plagiat merupakan masalah yang perlu mendapat
perhatian karena merupakan pelanggaran terhadap kejujuran ilmiah.

Kata ’plagiat’ yang dalam bahasa Belanda disebut plagiaat dan dalam
bahasa Inggris yaitu plagiarism/plagiary, menurut kamus bahasa Indonesia
’plagiat’ diartikan sebagai ’pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya)
orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya)

72
sendiri’. Sebagai contoh, menerbitkan karya tulis orang lain atas namanya sendiri
atau jiplakan.

Masalah plagiat yang sudah sangat memprihatinkan ini, di samping


dikarenakan kurangnya pengawasan, yang lebih penting lagi adalah kesadaran
akan kejujuran untuk menjadi diri sendiri yang makin kurang. Hal lain yang ikut
memperparah permasalahan ini adalah penyalahguanaan teknologi komunikasi
dan informasi yang makin maju dan adanya “budaya instan”. Banyak orang yang
ingin cepat menyelesaikan tugas atau mendapatkan gelar sehingga ia tidak ingin
repot-repot membuat karya ilmiah melainkan menjiplak dari karya orang lain
sebagai karyanya sendiri tanpa menyebutkan sumbernya. Masalah sanksi bagi
pelanggar lebih banyak pada sanksi administrasi, misalnya dibatalkan gelar
akademis seseorang yang sudah diraih, apabila terbukti ia telah melakukan plagiat
pada karya-karya ilmiahnya.

Dalam hal yang lebih luas, dengan mengamalkan nilai kejujuran maka
artinya kita dapat menempatkan sesuatu hak dan kewajiban dengan semestinya
sesuai dengan kedudukan dan peranannya masing-masing. Sebagai contoh
seorang aparat pemerintah yang bersikap jujur akan melaksanakan kewajibannya
sebagaimana peranan yang menjadi kewe-nangannya. Kemudian ia akan
mendapatkan/mengambil haknya sesuai dengan hak sebagai seorang aparat
pemerintah. Sebaliknya ia misalnya tidak sering-sering meninggalkan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya, atau menyalahgunakan jabatannya dengan
mengambil/mengutip uang yang bukan menjadi miliknya.

Jika kita renungkan, banyak permasalahan besar bangsa ini sebenarnya


berpangkal dari masalah kejujuran. Semestinya diri kita masing-masing bertanya
“apakah hati nurani kita yang masih dapat “tersentuh” dengan yang namanya
kejujuran sebagai salah satu diantara nilai-nilai kebaikan lain yang selalu harus
kita junjung tinggi dan diamalkan oleh setiap lapisan masyarakat Indonesia?”
Sehingga berbicara mengenai nilai kejujuran ini pada akhirnya akan sangat terkait
dengan nilai kebaikan yang lainnya seperti nilai tanggung jawab yang akan
diuraikan berikut ini.

3.2.6. Tanggung Jawab


Tanggung jawab mempunyai beberapa pengertian yang antara lain adalah:
a. kewajiban dalam melakukan tugas tertentu. Tanggung jawab
timbul karena telah diterimanya suatu wewenang, sehingga membentuk
hubungan tertentu antara pemberi wewenang dan penerima wewenang.
b. sesuatu yang menjadikan kewajiban (keharusan) untuk
dilaksanakan, dibalas dan sebagainya. Jika terjadi sesuatu maka orang yang
dibebani bertanggung jawab menanggung segala sesuatunya.
c. kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya, berbuat sebagai
perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

73
Dalam menjalani kehidupannya, manusia mempunyai berbagai tanggung
jawab yang tergantung pada status dan peranannya. Status atau kedudukan dapat
diartikan sebagai suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok,
atau posisi suatu kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lainnya. Status
berkaitan erat dengan hak dan kewajiban yang melekat pada seseorang, sehingga
sifatnya adalah statis. Seseorang yang mempunyai status tertentu diharapkan
melakukan pemeranan dari perangkat hak dan kewajibannya. Di sini peran (role)
dapat didefinisikan sebagai perilaku yang diharapkan dari seseorang yang
mempunyai status, atau dapat pula dikatakan sebagai aspek dinamis dari status.
Koentjaraningrat mengartikan peranan sosial sebagai tingkah laku individu yang
mementaskan suatu kedudukan tertentu (Koentjaraningrat, 1986: 169). Setiap
orang mempunyai berbagai status sehingga melahirkan peranan-peranan yang
berbeda, sebagai tingkah laku yang diharapkan menjadi tanggung jawabnya.
Sebagai contoh, seseorang di rumah mempunyai status sebagai anak, adik, kakak
dan sebagainya dengan peranannya yang tertentu, kemudian ketika ke luar rumah
ia mungkin mempunyai status sebagai mahasiswa, teman, penumpang bus, pejalan
kaki, warga masyarakat komunitas tertentu dan sebagainya yang mempunyai
peranan tertentu pula.

Dengan berbagai status yang disandangnya itu, manusia mempunyai


berbagai macam tanggung jawab yang yang dapat dikelompokkan dalam:

1. Tanggung jawab terhadap diri sendiri


Masing-masing individu dituntut adanya tanggung jawab sebagai pengisi
rentang waktu kehidupannya. Intinya adalah dengan bertanggung jawab terhadap
diri sendiri maka ia menunjukkan keberadaannya sebagai manusia,
melangsungkan kehidupannya agar mempunyai arti sebagai makhluk ciptaan
Tuhan. Contoh: manusia makan, minum, belajar, bekerja dan sebagainya karena
bertanggung jawab untuk melangsungkan hidupnya.

2. Tanggung jawab terhadap keluarga


Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang merupakan suatu
lembaga dimana berbagai kebutuhan manusia dapat dipenuhi, seperti
mendapatkan kasih sayang, meneruskan keturunan, keamanan, ekonomi, dan
sebagainya. Oleh sebab itu setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawab
tertentu terhadap keluarganya sebagaimana statusnya di dalam keluarga. Contoh:
seseorang mencari nafkah, belajar, bersikap baik, dan sebagainya sebagai
pemebuhan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga, agar keluarganya dapat
bertahan hidup bahkan meningkat taraf kehidupannya secara ekonomi maupun
sosial.

3. Tanggung jawab terhadap masyarakat


Manusia sebagai makhluk sosial, hidup dalam suatu masyarakat yang
diantara para anggotanya saling mempunyai ketergantungan satu sama lain.
Sehingga interaksi yang terjadi diantara para anggota masyarakat tersebut
melahirkan suatu hak dan kewajiban, yang artinya setiap manusia akan

74
mempunyai tanggung jawab-tanggung jawab tertentu dalam kehidupan
bermasyarakatnya. Contoh: menjaga lingkungan tetap bersih merupakan salah
satu wujud tanggung jawab manusia terhadap masyarakat.

4. Tanggung jawab terhadap Tuhan YME


Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia mempunyai kebutuhan akan
adanya aturan-aturan yang berasal dari Sang Pencipta untuk menjalani
kehidupannya. Dengan demikian manusia bertanggung jawab untuk mematuhi
ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan Tuhan. Manusia ingin hidupnya di
dunia berarti dan mempunyai kehidupan yang lebih baik di akhirat yang kekal,
oleh karena itu setiap tindakannya berkaitan dengan tanggung jawab manusia
sebagai upaya pencapaian tujuan tersebut.(Mustopo, 1989: 192-194)

Beberapa hal yang terkait erat dengan pengertian tanggung jawab


diantaranya adalah hak dan kewajiban, pengabdian, pengorbanan, dan norma
sosial. Menurut Austin Fagothey yang dimaksudkan dengan hak adalah
wewenang moral untuk mengerjakan, meninggalkan, memiliki, mempergunakan
atau menuntut sesuatu. Hak ini dapat dilihat dari segi hak objektif dan hak
subjektif. Hak objektif adalah jika seseorang memiliki hak atas sesuatu, maka
yang menjadi tumpuan/pangkal tolaknya adalah sesuatunya itu, misalnya materi
yang menjadi hak kita. Hak subjektif adalah wewenang moralnya sendiri, yaitu
sehubungan contoh tersebut adalah kewenangan untuk memiliki materi tersebut.
Unsur-unsur penting dalam meninjau keadaan hak adalah sebagai berikut.
a. Subjek hukum bukan hanya seorang tapi golongan-golongan yang dapat
merupakan badan hukum seperti perseroan, perkumpulan, masyarakat, dan
sebagainya.
c. Yang bersangkutan dengan hak timbul karena tiap manusia akan
menimbulkan kewajiban orang lain untuk memenuhinya, sehingga orang itu
akan terkait dengan hak tersebut.
d. Materi hak adalah yang menjadi tujuan atau objek hak manusia.
e. Asas hak atau alasan untuk hak konkrit adalah suatu hak yang terbawa sejak
lahir secara kodrati atau suatu hak yang diperoleh karena suatu peristiwa
tertentu.

Hak-hak yang didapat manusia berasal dari beberapa sumber, antara lain:
negara, kontrak atau perjanjian, kebebasan, dan kebiasaan.

3.2.7. Pandangan Hidup


Dalam hidup ini seringkali manusia merenung berkaitan dengan
kehidupan yang dijalaninya. Sehingga muncul berbagai pertanyaan seperti: Siapa
aku? Apa arti hidup ini bagiku? Apa yang telah aku lakukan untuk mengisi dan
memberi arti bagi hidupku? Untuk apa aku berusaha menjadi sesuatu atau
mencapai posisi tertentu? Apa sebenarnya yang aku dambakan dalam hidup ini?
Bagaimana cara untuk mendapatkannya?

75
Di sisi lain, perjalanan hidup manusia ditandai oleh beragam pengalaman
yang berkisar sekitar dimensi-dimensi: penderitaan-kebahagiaan, kegelisahan-
harapan, kebencian/prasangka-cinta kasih, ketidakadilan-keadilan, dan lain-lain.
Sehingga hal ini menumbuhkan kesadaran akan keberadaannya yang berhadapan
dengan kenyataan-kenyataan yang tidak terelakan, suatu dikhotomi asasi
kehidupan manusia dalam setiap ragam hubungan yang terbentuk, serta berbagai
kemungkinan untuk dipilih dalam menetapkan arah dalam melangkah dan
menjadi landasan untuk berpijak.
Pengalaman dan pengetahuan manusia tentang pengenalan alam yang
mengitari dirinya, kehidupan budaya yang melingkupi diri, serta dirinya sendiri,
melahirkan suatu pemikiran, gambaran dan gagasan tentang kesemestaan dunia
dan kedudukan manusia di dalamnya. Inti dari pemikiran/gambaran/gagasan
tersebut adalah membentuk pendirian dan keyakinan manusia tentang arti hidup
ini, tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia. Hal ini terwujud dalam suatu
sikap atau pandangan hidup yang menuntunnya ke arah perbuatan-perbuatan
tertentu dalam hubungannya dengan Tuhan, alam sekitar, masyarakat, sesama
manusia, dan dengan dirinya sendiri.
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan pandangan hidup di
sini adalah bagaimana manusia memandang kehidupannya, atau bagaimana
manusia memiliki konsepsi tentang kehidupan ini. Sehingga pandangan hidup
dapat dijadikan pedoman yang digunakan oleh manusia untuk dapat mencapai
kehidupan yang diharapkan/didambakan di dunia maupun di akhirat.
Dalam suatu tinjauan kehidupan manusia, ia adalah makhluk yg dpt
ditinjau secara biologis, sosiologi, psikologis maupun budaya. Berkaitan dengan
pandangan hidup manusia, maka tinjauannya tidak terlepas dari masalah nilai
(budaya) manusia. Sebagai gambaran dapat kita lihat lima masalah pokok
orientasi nilai budaya manusia yang dikemukakan oleh C. Kluckhohn yaitu:
1. Masalah hakikat dari hidup manusia(MH)
2. Masalah hakikat dari karya manusia(MK)
3. Masalah hakikat manusia dengan waktu (MW)
4. Masalah hakikat manusia dengan alam (MA)
5. Masalah hakikat manusia dengan sesama (MM)
(Koentjaraningrat, 1985: 28- 31)
Suatu orientasi nilai budaya adalah berbeda-beda pada tiap
manusia/kelompok manusia sesuai dengan kebudayaannya. Selanjutnya ini akan
memberi arah atau orientasi pada karakter/ mentalitas manusia yang terkait
dengan pandangan hidupnya.
Hakikat dari pandangan hidup adalah:
a. Inti pemikiran, gambaran, gagasan manusia tentang kesemestaan
dunia/alam dan kedudukan manusia di dalamnya (mengandung makna
filosofis).

76
b. Dikhotomi, yaitu di satu sisi universal, jika dilihat dari segi kebudayaan
(ad. orientasi nilai budaya dari Kluckhonn). Kemudian di sisi lain adalah
sesuatu yang unik jika di lihat secara subjektif, seperti adanya perbedaan-
perbedaan antar bangsa, masyarakat, kelompok maupun individual (sosial-
psikologis).
c. Merupakan perpaduan antara cita-cita dan kebajikan. Kedua aspek ini
seyogyanya tidak dilepaskan satu dengan lainnya. Cita-cita tanpa kebajikan
dapat menimbulkan penderitaan, ketidakadilan, dan sebagainya.
d. Menunjukkan “kematangan”/ “kedewasaan” diri manusia. Pandangan
hidup memberi arah dan landasan dalam kehidupan manusia, sehingga tanpa
pandangan hidup yang jelas dan mantap, manusia akan terombang-ambing,
tidak memiliki daya menghadapi “cobaan”/ tantangan hidupnya.
e. Merupakan kristalisasi nilai-nilai yg luhur yang diyakini kebenarannya, dapat
menumbuhkan sikap/semangat dalam menjalani kehidupan dan diwujudkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Klasifikasi pandangan hidup berdasarkan asalnya, terdiri atas 3 macam:
1. Yang berasal dari agama, yang mutlak kebenarannya;
2. Berupa ideologi, yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang
terdapat pada suatu negara tertentu;
3. Hasil renungan, yang relatif kebenarannya.

Pentingnya suatu pandangan hidup adalah karena:


1. Pandangan hidup merupakan wawasan tentang hidup dan kehidupan dalam
arti luas, mengandung makna tujuan hidup manusia (sense of purpose).
2. Memberi arah dan sekaligus landasan berpijak dalam menempuh
perjalanan hidup.
3. Mencerminkan tatanan nilai yang integral pada diri manusia (kristalisasi
nilai-nilai, sikap-sikap, dan keyakinan-keyakinan).
4. Bagi suatu bangsa memiliki pandangan hidup sendiri adalah sebagai:
identitas/kepribadian bangsa, tolok ukur “pemecahan masalah”;
pemersatu bangsa; tidak mudah terombang- ambing.

Pandangan hidup suatu bangsa adalah sebagai ideologi, apabila


sistimatis/logis, merupakan cita-cita bangsa; ada upaya pencapaian atau
operasionalnya, berusaha diwujudkan dalam kehidupan nyata. (idea= cita-cita
/gagasan/nilai, logos=ilmu). Bagi bangsa Indonesia, kita memahami pandangan
hidup bangsa yang sangat terkait dengan kondisi budaya bangsa Indonesia yang
masyarakatnya pluralistik dengan aneka perbedaan, yang terdiri atas bermacam
suku bangsa, bahasa daerah, adat istiadat, agama, dan sebagainya.
Sebagai catatan akhir, pada tingkat individu dalam kehidupan sehari-hari
manusia, pandangan hidupnya akan tercermin sebagai kepribadian diri.
Kemudian, suatu pandangan hidup yang berbeda dan dipertentangkan dapat
menimbulkan dampak yang negatif bahkan destruktif. Oleh karena itu menyadari

77
bahwa pandangan hidup adalah sesuatu yang positif, sehingga akan mencapai
tujuan yang positif pula.

3.2.8. Keindahan
Berbagai sebutan dikenakan pada manusia, selain ia dikatakan sebagai
makhluk yang berpikir (homo sapiens), makhluk sosial, makhluk budaya, dan
sebagainya., manusia secara kodrati juga diberikan indera untuk
menangkap/merasakan berbagai hal di luar dirinya. Dari berbagai hal yang ia
rasakan tersebut diantaranya adalah suatu rasa terhadap keindahan, sebagai rasa
yang pada umumnya disukai dan dibutuhkan orang karena keindahan merupakan
rasa yang menyenangkan/menggembirakan, menimbulkan rasa puas dan bernilai
positif.

Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok,
molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah adalah segala hasil
seni (meskipun tidak semua hasil seni indah), pemandangan alam/lingkungan
manusia, manusia itu sendiri, dan sebagainya. Kawasan keindahan bagi manusia
sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan
perkembangan peradaban teknologi, sosial dan budaya. Karena itu dapat
dikatakan bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia. Keindahan tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimanapun, kapanpun, dan siapa saja
dapat menikmati keindahan (Widagdo, 1994: 60).

Mengenai definisi keindahan sampai sekarang belum ada kata sepakat tentang
pengertian keindahan yang objektif, karena keindahan terkait dengan perasaan
seseorang. Pada umumnya definisi keindahan dibagi dalam dua kelompok, yaitu:
a) definisi-definisi yang bertumpu pada objek (keindahan yang objektif);
b) definisi-definisi yang bertumpu pada subjek (keindahan yang subjektif).

Keindahan objektif adalah keindahan yang memang ada pada objeknya, yang
harus diterima sebagaimana mestinya. Sedangkan yang dimaksud dengan
keindahan subjektif adalah keindahan yang ditinjau dari subjek yang
menghayatinya. Dalam hal ini keindahan adalah segala sesuatu yang dapat
menimbulkan rasa senang pada diri si penghayat tanpa diiringi keinginan-
keinginan terhadap segala sesuatu yang praktis untuk kebutuhan-kebutuhan
pribadi (Mustopo, 1989: 98-99).

Berdasarkan pengelompokan tersebut melahirkan berbagai definisi tentang


keindahan, yang antara lain dikemukakan oleh:
1. Hebert Read
Keindahan adalah suatu kesatuan hubungan-hubungan formal dari
pengamatan yang dapat menimbulkan rasa senang (Beauty is unity of formal
relation among our sence perceptions). Keindahan itu merangsang timbulnya
rasa senang tanpa pamrih pada subjek yang melihatnya, dan bertumpu pada ciri-
ciri yang terdapat pada objek yang sesuai dengan rasa senang itu.

78
2. Leo Tolstoy (Rusia)
Keindahan adalah sesuatu yang mendatangkan rasa yang menyenangkan
bagi yang melihat.
3. Alexander Baumgarten (Jerman)
Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur dari
bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain, atau dengan keseluruhan
itu sendiri.
4. Sulzer
Yang indah itu hanyalah yang baik. Jika belum baik, ciptaan itu belum
indah. Keindahan harus dapat memupuk perasaan moral. Jadi ciptaan amoral
adalah tidak indah karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral.
5. Shaftesbury (Jerman)
Yang indah adalah yang memiliki proporsi yang harmonis.
6. Hume (Inggris)
Keindahan adalah sesuatu yang mendatangkan rasa senang.
7. Hemsterhuis (Belanda)
Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang, dan itu
adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan
pengamatan-pengamatan yang menyenangkan itu.
8. Emmanuel Kant
Meninjau keindahan dari 2 (dua) segi. Pertama dari segi arti yang
subjektif, dan kedua dan kedua dari segi yang objektif. Yang subjektif adalah
sesuatu yang tanpa direnungkan dan tanpa sangkut paut dengan kegunaan praktis,
tetapi mendatangkan rasa senang pada si penghayat. Yang objektif adalah
keserasian dari suatu abjek terhadap tujuan yang dikandungnya, sejauh objek ini
tidak ditinjau dari segi gunanya.
9. Al- Ghazzali
Keindahan suatu benda terletak di dalam perwujudannya yang sempurna,
yang dapat dikenali kembali dan sesuai dengan sifat benda itu. Ia menambahkan
bahwa yang dapat merasakan keindahan dalam dunia yang lebih dalam (inner
world) adalah nilai-nilai spiritual, moral dan agama.
Menurut luasnya, pengertian keindahan dapat dibedakan dalam:
1. Keindahan dalam arti luas;
2. Keindahan dalam arti estetik murni;
3. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan.

Ad.1) Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan.


Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan
Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga
menyenangkan. Plotinus mengatakan tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang
indah. Orang Yunani berbicara pula mengenai buah pikiran yang indah dan adat
kebiasaan yang indah,di samping keindahan dalam arti estetik yang disebutnya
“symmetria” yaitu keindahan berdasarkan penglihatan (misalnya pada seni pahat
dan arsitektur) dan “harmonia” untuk keindahan berdasarkan pendengaran
(musik). Jadi pengertian yang seluas-luasnya meliputi: a) keindahan seni; b)
keindahan alam; c) keindahan moral; dan d) keindahan intelektual.

79
Ad.2) Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik
seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.
Ad.3) Keindahan dalam arti yang terbatas, mempunyai arti yang lebih
disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan
penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.

Prinsip keindahan atau cirri-ciri keindahan, berkaitan dengan kualitas hakiki


dari segala benda yang mengandung:
a) Keseimbangan(balance): menyangkut unsur-unsur yang berbeda, yang ditata
sedemikian rupa sehingga seimbang;
b) Keselarasan (harmoni): menyangkut unsur-unsur yang sama/mirip, ditata
menjadi selaras (misalnya keselarasan warna).
c) Kepaduan/kesatuan (unity): menyangkut keterkaitan unsur-unsur karya seni
yang membentuk suatu sistem yang utuh.
d) Kesetangkupan (symetry); dan
e) Pertentangan (contrast)
Kelima prinsip keindahan tersebut dalam hubungannya dengan garis, warna,
bentuk, nada dan kata-kata. (Widagdo, 1994: 65)

Keindahan ada di sekitar kita namun ada orang yang sulit menangkap atau
tidak merasa ada keindahan. Hal ini dikarenakan nilai keindahan dapat kita
peroleh melalui proses belajar atau proses sosialisasi. Indah atau tidak indahnya
sesuatu itu tergantung pada: a) kepedulian/kepekaan individu terhadap suatu
objek; b) tata nilai individu yang bersangkutan. Oleh karena itu hakikat dari
keindahan adalah relatif dan unik pada setiap orang karena mempunyai sudut
pandang yang berbeda tiap orangnya. Di samping itu hakikat dari keindahan
adalah juga universal, yaitu rasa keindahan adalah suatu kebutuhan/perasaan yang
ada pada semua orang dimanapun ia berada.

Keindahan yang ditangkap manusia, dapat merupakan keindahan yang


bukan ciptaan manusia dan keindahan sebagai ciptaan manusia. Keindahan yang
bukan merupakan ciptaan manusia adalah keindahan alam sebagai ciptaan Tuhan
Y.M.E. Sedangkan keindahan yang diciptakan manusia dikatakan sebagai
keindahan seni (keindahan artistik). Namun seni tidak terbatas pada keindahan
saja, tetapi meliputi juga hal-hal yang “tidak indah”, karena seni merupakan
sarana pengungkapan perasaan manusia, yaitu perasaan yang bernilai. Misalnya
dalam bidang seni sering kita jumpai seni yang sublim (agung), seni tragis
(menyedihkan), seni komis (lucu), seni magis (gaib), seni religius (seni yang
terkait dengan kepercayaan) dan sebagainya. Jadi, seni merupakan pengutaraan
dari isi kesadaran jiwa atau kehidupan perasaan penciptanya dalam segala aspek.
Isi kesadaran jiwa dan perasaan manusia itu diliputi berbagai perasaan yang
kesemuanya mempunyai hak untuk diungkapkan melalui manifestasi seni.
(Mustopo, 1989: 105).

Ada pula yang mengartikan seni sebagai produk daya inspirasi dan daya
cipta manusia yang bebas dari cengraman atau belenggu berbagai ikatan. Seni

80
mendekripsikan sebuah gejala (objek) dengan sepenuh-penuhnya makna melalui
berbagai kemampuan: pikiran, emosi dan panca indra. Seni mempunyai sifat yang
individual dan personal. Pada umumnya karya seni merupakan ciptaan yang
komunikatif agar pesan yang ingin disampaikan dapat ditangkap. Sifat pesan
tersebut antara lain berisi pesan moral atau estetik, sebagai suatu gagasan
pemikiran, imbauan kepada manusia yang diharapkan dapat mempengaruhi sikap
dan perilaku.

Teori tentang keindahan dan seni dikembangkan dari pengertian estetika.


Pada mulanya estetika diartikan sebagai “teori tentang ilmu pengindraan,” yang
sesuai dengan pengertian etimologisnya, tetapi kemudian diberi pengertian yang
diterima lebih luas yaitu “teori tentang keindahan dan seni.” Dahulu estetika
dianggap sebagai suatu cabang filsafat, sehingga memiliki atau diberi pengertian
sebagai sinonim dari “filsafat seni.” Tetapi sejak abad 19, terlebih akhir-akhir ini
ada suatu gejala yang menekankan sifat-sifat empiris, dengan menganggap
sebagai “ilmu pengetahuan tentang seni.”

Dalam sejarah peradaban manusia di berbagai bangsa, perhatian pada


estetika demikian menonjol dan berpengaruh, langsung atau tidak langsung
kepada berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Yang mana pada bangsa
Indonesia hal ini telah diperlihatkan sejak sebelum kedatangan orang-orang Hindu
di Indonesia. Menurut Prof. H. Muhammad Yamin dalam bukunya “6000 Tahun
Sang merah Putih,” yang dikutip dari pendapat Kern bahwa bangsa Indonesia
sebelum datangnya orang-orang Hindu di Indonesia telah memiliki tujuh
kepandaian Austronesia, yaitu: a) pandai bersawah berladang; b) pandai berternak
dan menyalurkan air; c) pandai berlayar dan melihat bintang; d) berkepercayaan
sakti yang teratur; e) berkesenian rupa, pahat dan logam; f) persatuan masyarakat
dan tata negara; dan g) berpenghormatan sang Merah Putih. Bukti yang
menunjukkan hal itu pada masa sekarang antara lain adalah adanya Warugu.
Warugu adalah kuburan batu yang terdapat di Gunung Kidul di sebelah selatan
Yogyakarta, yang usianya diperkirakan lebih tua dari zaman perunggu di
Indonesia. Di antara Warugu itu ada yang menyimpan lukisan berwarna-warna.
Satu diantaranya melukiskan bendera merah putih yang berkibar di belakang
seorang perwira yang menunggang kerbau, seperti yang berasal dari kaki gunung
Dompu.(Mustopo, 1989: 102-103).

Mengapa manusia menciptakan dan membutuhkan karya seni? Keindahan


pada dasarnya adalah sesuatu yang alamiah, sama alamiahnya dengan manusia
yang merupakan ciptaan Tuhan YME. Manusia mempunyai sifat dan kebutuhan-
kebutuhan yang sifatnya naluriah. Dihubungkan dengan sifatnya yang alamiah
untuk mencipta, maka manusia dikatakan sebagai “animal simbolikum” yaitu
makhluk yang menciptakan atau mengekspresikan segala sesuatunya dengan
lambang-lambang. Dari sini kita akan dapat menelaah lebih jauh hubungan-
hubungan antara karya seni dengan manusia, atau keindahan dalam arti luas
dengan manusia sebagai hal yang kodrati.

81
3.2.9. Harapan
Dalam hidup manusia ia mempunyai berbagai kebutuhan, baik yang
bersifat kodrati maupun yang tidak. Untuk dapat melangsungkan hidupnya,
kebutuhan-kebutuhan tersebut harus atau diupayakan untuk dipenuhi, hal inilah
yang menyebabkan manusia mempunyai harapan-harapan. Harapan yang berasal
dari kata harap ini adalah suatu keinginan supaya sesuatu itu terjadi. Jadi dua hal
yang mendorong manusia mempunyai harapan adalah dorongan kodrat dan
dorongan kebutuhan hidup. Hal ini mengingat selain manusia merupakan makhluk
yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan naluriah, ia juga adalah makhluk sosial
yang dalam hidupnya terdapat banyak tuntutan hidup untuk dapat dipenuhi.

Dorongan kodrat merupakan sifat, keadaan atau pembawaan alamiah yang


sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan YME,
misalnya: menangis, gembira, berpikir, bercinta, mempunyai keturunan, dan
sebagainya. Sedangkan dorongan kebutuhan hidup adalah perkembangan lebih
lanjut dari dorongan kodrat akibat dari interaksi sosial manusia dalam
kehidupannya sebagai makhluk sosial. Kebutuhan hidup ini secara garis besar
dibedakan dalam kebutuhan jasmaniah dan rohaniah, dan juga dapat dibedakan
dalam kebutuhan primer dan sekunder.

Abraham Maslow membagi kebutuhan manusia sebagaimana kodratnya,


yaitu:
a. kelangsungan hidup (survival);
b. keamanan (safety);
c. mencintai dan dicintai (beloving and love);
d. aktualisasi diri (self actualization);
e. diakui lingkungan (status).

Ada pepatah yang mengatakan “bagai pungguk merindukan bulan”,


“bayang-bayang setinggi badan” atau “katak ingin menjadi kerbau” yang
mengajarkan pada kita bahwa dalam mempunyai suatu harapan juga harus
realistis untuk dapat dicapai. Sehingga suatu harapan biasanya akan sesuai antara
lain dengan: pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan.
Tercapai atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha, kepercayaan
(pada pertolongan Tuhan, kemampuan diri sendiri, maupun pertolongan orang
lain), dan faktor lainnya (faktor X). Bagaimanapun suatu harapan tidaklah selalu
akan tercapai, adakalanya kita akan mengalami kegagalan. Reaksi atas kegagalan
ini akan beragam, apabila ditanggapi secara negatif maka akan menjadikan
keadaan diri kita juga negatif seperti frustrasi, stress, apatis, dan sebagainya.
Sedangkan apabila ditanggapi secara positif, maka hal ini akan menjadi
pengalaman yang berharga (sebagai acuan evaluasi diri), menganggap sebagai
keberhasilan yang tertunda, ada hikmah di balik kegagalan, akan mendapatkan
sesuatu yang lebih baik di kemudian hari, atau sebagai proses untuk pendewasaan
diri.

82
BAB IV

FUNGSI AKHLAK DAN BUDI PEKERTI

Menyambut abad post modern, yang merupakan kelanjutan dari abad


modern, dibarengi dengan abad globalisasi dan informasi teknologi dalam segala
lini kehidupan, menimbulkan perubahan-perubahan yang sangat signifikan dalam
perkembangan masyarakat. Perubahan-perubahan tersebut dapat mengarah pada
kehidupan yang lebih baik dan bersifat positif, dapat juga mengarah pada
kehidupan yang bersifat negatif. Semua berjalan begitu cepat, sehingga berbagai
efek yang ditimbulkannyapun langsung berimbas ke seluruh lapisan dari tatanan
masyarakat. Kita telah menyadari bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh
globalisasi dan informasi teknologi, tentu tidak seluruhnya baik dan bermanfaat,
tetapi ada pengaruh-pengaruh yang bersifat tidak terpuji dan tercela, yang harus
ditepis dan dijauhkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita selalu
berprinsip bahwa segala sesuatu yang terpuji, dari manapun datangnya, dari Barat
atau Timur, kita terima. Sebaliknya segala yang bersifat buruk, dari manapun
datangnya harus ditolak, termasuk yang datang dari dalam lingkungan masyarakat
kita sendiri.

Sebagian dampak negatif dari era globalisasi dan era teknologi informasi
adalah kemerosotan akhlak dan budi pekerti yang terus menggerogoti sebagian
besar anggota masyarakat kita, dari kalangan anak-anak muda sampai kalangan
orang dewasa, bahkan di kalangan manula. Kemerosotan akhlak dan budi pekerti
merupakan gejala yang terus berkembang dalam kehidupan masyarakat, bagaikan
berputarnya bola salju (snow ball) yang terus-menerus makin membesar. Berbagai
tindakan amoral dan tindakan tidak terpuji terkuak dalam berbagai kalangan, baik
yang terungkap secara fakta ataupun yang tidak terungkap. Bahkan menurut
pengamatan yang kritis, perbuatan amoral dan perbuatan tidak terpuji itu, dapat
dikategorikan sebagai suatu gejala yang nampaknya kecil dipermukaan,
sebetulnya yang tersembunyi, yang belum terungkap atau yang tidak mungkin
dapat diungkapkan lebih besar, seperti gumpalan es yang terapung di atas
permukaan air laut.

Sungguh banyak anggota masyarakat kita yang telah tercampakkan dalam


kehidupan yang tidak bermakna, nyaris kering dari nilai-nilai luhur ajaran agama
dan nilai luhur dalam kehidupan yang dikembangkan oleh masyarakat, bangsa
dan negara. Mereka telah jauh terpisah dari nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan
beradab. Sebagian dari anggota masyarakat telah menukar nilai-nilai yang luhur
dan terpuji itu dengan nilai-nilai rendah yang seakan-akan indah dalam
pandangan mata, nikmat dan dirasakan menyenangkan, namun sesungguhnya
telah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang terpuji dan sesungguhnya telah
tercampakkan dalam kehidupan yang hina. Sebagian umat manusia telah
mengalami degradasi dari nilai kemanusiaan yang luhur dan terjerumus dalam
lumpur kehinaan dan kenistaan. Mereka berkubang dengan kesadaran atau tidak
disadarinya, dalam lumpur kenistaan yang mungkin akan mengantarkan mereka

83
pada derajat yang lebih rendah, menuju pada perilaku hewan atau bahkan lebih
rendah lagi.

Memperhatikan kenyataan di atas, maka dapat ditarik suatu konklusi yang


sangat mudah bahwa peranan akhlak dan budi pekerti menjadi sangat penting dan
amat menentukan dalam pembentukan masyarakat beradab dan berkebudayaan
tinggi, masyarakat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, masyarakat yang
adil dan bermartabat. Penghayatan dan pengamalan akhlak dan budi pekerti
bahkan menjadi sangat mendesak, pada saat masyarakat kita mengalami
kegalauan yang dahsyat tentang carut marutnya nilai-nilai moral di tengah-tengah
kehidupan sehari-hari. Selain mereka menjumpai dan selalu berpedoman pada
nilai-nilai yang telah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga
dihadapkan dengan nilai-nilai baru yang datang dari berbagai penjuru dunia,
melalui informasi yang sangat cepat dan terbuka. Suasana keraguan dan
kebibimbangan dengan cepat melanda mereka, mana yang harus dipakai, mana
yang harus jadi pedoman. Apakah tetap berpedoman pada nilai lama atau segera
berganti dengan nilai yang baru dan meninggalkan nilai yang selama ini mendarah
daging dalam kehidupan mereka. Nilai-nilai lama yang berkembang pada
masyarakat, sering hanya menyebutkan baik dan buruk, sopan dan tidak sopan,
tanpa menjelaskan alasan dan argumen yang memuaskan, apalagi apabila
ditanyakan darimana sumbernya?

Seiring dengan perjalanan waktu, maka pergeseran nilaipun terjadi, nilai


yang sudah mendarah daging sedikit demi sedikit digantikan oleh nilai-nilai baru
yang ditunjang oleh kekuatan akal dan logika. Nilai-nilai lama sering dianggap
sebagai takhayul atau tradisi nenek moyang yang tidak perlu dilestarikan, bahkan
dianggap sebagai suatu kebiasaan yang tidak dapat dicerna oleh nalar. Muncullah
berbagai macam teori tentang nilai-nilai kehidupan yang beraneka macam, satu
nilai dengan nilai lainya saling mempengaruhi, ada yang dapat beradaptasi, ada
juga yang menimbulkan pertentangan-pertentangan yang sangat tajam, yang tidak
mungkin dapat dikompromikan, ada juga yang menimbulkan kekacauan di
tengah masyarakat..

Dalam rangka mengantisipasi permasalahan di atas dengan penuh


kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi, kita berupaya mengembalikan
dan menetapkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, kemanusiaan yang
adil dan beradab. Masyarakat harus kembali menjalankan nilai-nilai luhur yang
berlandaskan agama dan tradisi yang baik yang telah melembaga dalam
kehidupan sehari-hari. Untuk itu semua perlu penalaran yang baik terhadap nilai-
nilai luhur yang kita kembangkan dengan menjelaskannya secara filosofis dan
berpegang pada argumen yang rasional. Konsep-konsep yang luhur itu perlu
dilakukan aktualisasi pemahaman, dari pemahaman tekstual, kontekstual,
konseptual dan sampai ke operasional. Hal ini dapat dilakukan dengan metode
aktualisasi pemahaman terhadap ajaran agama dan nilai luhur yang berkembang
pada masyarakat. Demikian juga dengan mengadakan pendekatan yang simpatik
dengan pola suri tauladan dalam masyarakat, bukan hanya diungkapkan dalam
perkataan atau tulisan. Kita harus mengembangkan pandangan yang universal

84
tentang nilai-nilai kemanusiaan yang baik dan terpuji, secara terbuka. Kita
menerima nilai-nilai yang baik itu, dari manapun datangnya termasuk yang datang
dari masyarakat kita, dan menolak perilaku tercela, baik yang datangnya dari
dalam ataupun dari luar. Dengan demikian, akhlak dan budi pekerti sangat
dominan dalam pembetukan masyarakat beradab yang menjunjung tinggi nilai-
nilai kemanusiaan yang luhur.

4.1. Penanaman Kesadaran tentang Hak dan Kewajiban

Sebagai makhluk sosial manusia tidak mungkin hidup dengan dirinya


sendiri, tetapi terkait dan berkelindan dengan kehidupan manusia lain. Makin
tinggi kedudukan dan peranan sesorang dalam masyarakat, makin banyak
bergantung pada orang lain di luar dirinya. Mengenai hal ini dapat dikemukakan
contoh yang sederhana. Seorang yang menjabat menjadi kepala sekolah, tidak
mungkin terjadi tanpa adanya murid, guru-guru, pegawai sekolah, masyarakat dan
sebagainya. Dapat dibayangkan bagaimana besarnya ketergantungan seorang
bupati, gubernur, kepala negara dan sebagainya pada orang lain di luar dirinya.
Ketergantungan dan keterkaitan antara sesama umat manusia, akan makin
dirasakan manfaatnya, apabila masing-masing perseorangan atau kelompok saling
memamahami kelebihan dan kekurangannya. Manusia diciptakan dalam berbagai
perbedaan, dan perbedaan itu apabila di manage dengan baik akan mendatangkan
kebahagiaan dan kebaikan serta persaudaraan yang sangat kokoh.

Menghadapi kenyataan ini maka setiap diri manusia harus menyadari


secara utuh, dengan penuh keinsyafan tentang hak dan kewajiban yang harus
dilakukan dengan anggota masyarakat lain. Manusia hanya sering memperhatikan
haknya yang dapat diperoleh dari masyarakat, sebaliknya kewajiban sering
diabaikan. Orang sering mempertanyakan pada dirinya, apa yang dapat diperoleh
dari orang lain atau masyarakat pada umumnya, hanya sedikit dari mereka yang
mempertanyakan apa yang dapat diberikan pada orang lain atau pada
masyarakatnya. Dalam ajaran akhlak dan budi pekerti, setiap diri manusia harus
dapat mengatur keseimbangan yang sangat tajam antara hak dan kewajibannya,
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Setiap anggota
masyarakat harus mampu menjalin hubungan yang harmonis dan saling
menguntungkan serta memberi manfaat terhadap sesama anggotanya.

4.1.1. Pengertian Hak dan Kewajiban

Istilah hak, berasal dari bahasa Arab al-Haqq yang artinya menurut bahasa
adalah sesuatu yang dimiliki seseorang secara layak, pantas dan patut. (al-
Munawir, 1984 : 305). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hak diartikan milik,
kepunyaan, kewenangan, kebenaran dan sebagainya, (KBBI:335), pengertian
selanjutnya tergantung pada susunan kalimat. Pengertiannya secara terminologis,
hak adalah merupakan klaim yang dibuat oleh orang atau kelompok yang satu
terhadap yang lain atau terhadap masyarakat. Orang yang mempunyai hak dapat
menuntut, bukan hanya mengharap atau menganjurkan bahwa orang lain akan

85
memenuhi dan menghormati hak itu. Pengertian seperti ini terjadi sebagai suatu
klaim, atau hak yang sah atau klaim yang dapat dibenarkan. (Bertens : 178)

Kata kewajiban juga berasal dari bahasa Arab, dari kata al-wajib, yang
artinya sesuatu yang mesti, yang tidak dapat dielakkan. (al-Munawir, 1984 :
1641). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, wajib adalah harus melakukan,
tidak boleh tidak dilaksanakan. (KBBI:1123). Misalnya dicontohkan dalam suatu
kalimat: “Setiap pemeluk agama, wajib mentaati ajaran agamanya”. Dengan
demikian, pengertian kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan
seseorang, yang biasanya selalu berkaitan dengan hak yang dimilikinya.
Pengertian diatas, mengantarkan pada suatu pemahaman yang bersifat pasti bahwa
setiap ada hak pasti dibarengi dengan kewajiban. Sebaliknya, setiap ada
kewajiban pasti dibarengi dengan hak, baik terjadi antar individu, maupun
masyarakat.

1.1.2. Keseimbangan Antara Hak dan Kewajiban

Dalam sejarah peradaban manusia, dijumpai perbedaan-perbedaan yang


beraneka ragam mengenai hak dan kewajiban. Ada sebagian masyarakat yang
sering menonjolkan hak, sementara kewajiban-kewajibannya disembunyikan.
Sebaliknya ada diantara mereka, yang lebih banyak menonjolkan kewajiban-
kewajiban sedangkan hak-haknya tidak diberikan secara wajar dan memadai.
Sesungguhnya sikap yang terbaik, adalah menjaga keseimbangan yang harmonis
antara hak dan kewajiban baik secara individu maupun masyarakat. Manusia
diarahkan agar melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diberikan kepada
mereka, dan hak-hak merekapun harus diberikan secara sempurna.

Mengenai hak dan kewajiban yang berkaitan dengan kepentingan individu


dan masyarakat, juga harus diberikan porsi secara seimbang. Dalam
perkembangan peradaban umat manusia, dijumpai ada tiga kelompok besar yang
berbeda menanggapi hal ini. Kelompok pertama adalah pola ideologi liberal
kapitalisme yang sangat kuat membela kebebasan, membela hak-hak dan
kehormatan pribadi, sehingga sering terjadi tindakan-tindakan yang melewati
batas, dilakukan individu-individu dengan mengabaikan kepentingan masyarakat.
Kelompok kedua adalah ideologi sosialisme, yang memusatkan usahanya untuk
kepentingan masyarakat, dengan mengabaikan kepentingan individu dan tidak
mengakui kebebasan perorangan untuk menikmati hasil jerih payahnya sendiri.
Hak-hak perorangan dilucuti, demikian juga hak-hak asasinya. Kedua pola
pemikiran tersebut menimbulkan disharmony (ketidakseimbangan) dalam tata
kehidupan manusia. Pola pemikiran liberalisme terlalu mementingkan pribadi
manusia sehingga mengabaikan kepentingan masyarakat. Sedangkan pola
pemikiran sosialisme terlalu mementingkan aspek sosial ekonomi masyarakat dan
mengabaikan hak-hak asasi manusia (M. Daud Ali, 1986 :292)

Kelompok yang ketiga (yang menjadi pilihan kita) adalah pola pemikiran
yang mengambil jalan tengah diantara kedua pemikiran diatas, yaitu pemikiran
yang menempatkan kepentingan perorangan dan kepentingan masyarakat secara

86
berkaitan satu dengan lainnya, timbal balik dan berimbang. Kelompok ini
mendahulukan dan mengutamakan kewajiban-kewajiban perorangan dan
kewajiban masyarakat. Setiap individu, sebagai anggota masyarakat berkewajiban
melayani kepentingan masyarakat, sesuai dengan bakat dan keahliannya dan
sekaligus menjadi kewajiban masyarakat untuk mengarahkan setiap orang tidak
mengabaikan tugasnya masing-masing terhadap masyarakat. (M. Daud Ali, 1986 :
293).

1.1.3. Mengaplikasikan Kewajiban

Mengaplikasikan kewajiban setiap individu, dapat dilakukan sebagai


berikut: (1) kewajiban kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan jalan mentaati dan
mematuhi peraturan-peraturan-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya
(2) Kewajiban terhadap diri sendiri, (3) kewajiban terhadap keluarga. (4)
Kewajiban terhadap tetangga (5) kewajiban terhadap masyarakat. (6) kewajiban
terhadap pegawai (7) Kewajiban terhadap harta (8) kewajiban terhadap negara (9)
Kewajiban terhadap lingkungan hidup. Dengan melaksanakan kewajiban-
kewajiban tersebut, dengan sendirinya setiap anggota masyarakat akan
memperoleh hak-haknya secara seimbang.

Kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dilakukan dengan jalan


beribadah secara berkesinambungan, dengan ketulusan dan keikhlasan.
Dilanjutkan dengan melakukan perbuatan baik dan terpuji, melaksanakan segala
perintah-Nya dan menghindari segala larangan-Nya. Sebagai makhluk yang
paling sempurna, manusia ditugasi amanah agar mewujudkan kesejahteraan bagi
semua makhluk. Kewajiban pada diri sendiri, misalnya setiap diri manusia harus
menjaga kesucian diri dan tidak mengotori jiwanya, senantiasa berbuat baik dan
menghindari perbuatan yang tercela. Ia harus pandai menjaga diri agar tidak
melanggar hukum, perundang-undangan, kesusilaan dan ketertiban umum.

Kewajiban terhadap keluarga, dilakukan dengan melaksanakan hal-hal


yang patut dan layak bagi keluarga. Seorang suami berkewajiban memenuhi
kebutuhan sandang, pangan dan perumahan bagi istri dan anak-anaknya. Masing-
masing anggota keluarga harus menjaga kesopanan dan budipekerti yang luhur,
bersikap adil dan seimbang. Seorang istri berkewajiban mengurus rumah tangga
suaminya, mendidik anak-anaknya dan mengantarkan mereka menjadi generasi
penerus yang berkualitas. Kewajiban terhadap tetangga diwujudkan dengan saling
menghormati, bergotong royong, saling memberikan pertolongan, saling
berwasiat tentang ketabahan dan kesabaran dan saling mengunjungi.

Kewajiban terhadap masyarakat dibuktikan dengan adanya kerja sama


yang baik dan saling berpartisipasi dalam mewujudkan kebaikan, menjaga
keamanan dan ketertiban lingkungan, mewujudkan keperdulian sosial dan
menyampaikan kritik yang membangun apabila dijumpai beberapa hal yang
dianggap tidak baik. Kritik merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi dan
mengontrol perkembagan yang terjadi di masyarakat. Kewajiban terhadap
pegawai, maksudnya adalah kewajiban timbal balik, antara pemilik perusahaan

87
dan karyawannya. Pimpinan perusahaan wajib memberikan upah yang layak,
sebaliknya para karyawan harus bekerja dengan baik untuk mengkelola
perusahaan tempat mereka bekerja.

Kewajiban terhadap harta, misalnya setiap orang harus memelihara dan


menjaga harta kekayaannya sebagai amanah Tuhan yang disampaikan kepadanya.
Karena itu ia wajib menggunakan hartanya sesuai dengan aturan-aturan yang
berlaku, dilarang menghambur-hamburkan kekayaan dan harus melakukan
penghematan sebaik mungkin, demi mendatangkan manfaat yang lebih besar.
Pemilik harta akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang mengamanahkan
harta tersebut yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu manusia diarahkan agar
mencari rizki yang halal dan memanfaatkannya untuk kebaikan. Selain yang telah
disebutkan diatas, pemilik harta diharuskan untuk menyiapkan dana sosial, baik
berupa zakat, pemberian, infaq, ataupun sedekah kepada fakir miskin yang
membutuhkannya, termasuk kewajiban membayar pajak.

Kewajiban seorang warga negara terhadap negaranya ada kaitannya


dengan kewajiban terhadap penyelenggara negara. Seorang warga negara harus
mentaati aturan-aturan yang ditetapkan oleh konstitusi negara, Undang-Undang
dan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sebaliknya
penyelenggara negara berkewajiban melindungi, menjunjung martabat warga
negara dan berlaku adil terhadap mereka. Terhadap lingkungan hidup, manusia
diwajibkan agar menjaga kelestariannya dan tidak berbuat kerusakan. Manusia
harus mewujudkan, kedamaian dan keamanan serta memanfaatkan alam semesta,
bukan hanya bagi kesejahteraan umat manusia tetapi juga bagi kesejahteraan dan
kelestarian makhluk-makhluk lainnya.

Pada saat seseorang atau kelompok melaksanakan kewajiban-


kewajibannya dengan beberapa contoh yang disebutkan di atas, orang itu akan
memperoleh hak-haknya secara sempurna. Seseorang yang melaksanakan
kewajiban terhadap Tuhan, ia akan memperoleh hak-haknya, seperti memperoleh
keridhaan Tuhan, memperoleh kehidupan yang bahagia secara lahir dan batin,
baik di dunia maupun di akhirat. Seorang suami yang melaksanakan kewajiban-
kewajibannya terhadap keluarga, sekaligus akan memperoleh hak-haknya juga,
seperti penghormatan dan kasih sayang dari istrinya, anak-anaknya dan anggota
keluarga yang lain. Seterusnya dapat dikembangkan seperti uraian di atas tentang
hak dan kewajiban.

1.1.4. Dimulai dari Niat Yang Suci

Menanamkan kesadaran akan hak dan kewajiban dimulai dari dalam diri
kita. Dimulai dari niat yang suci yang kemudian diwujudkan dalam aktivitas yang
baik dan terpuji. Berdasarkan niat yang ditanamkan dalam batinnya, perbuatan
manusia akan dinilai apakah ia berbuat kebaikan atau berbuat buruk.(Al-Jaziri,
2003: 15). Selanjutnya terpuji atau tercelanya perilaku seseorang ditentukan oleh
pekerjaan atau amal yang dilakukannya. Apabila ia melakukan kebaikan dan

88
menghindari kejahatan, ia menjadi manusia yang terpuji, sebaliknya apabila ia
bergelimang dalam perbuatan buruk, menjadi manusia yang tercela.

Niat yang ditanamkan dalam batin seseorang, dapat menentukan perbuatan


baik atau buruk. Sesungguhnya amal perbuatan seseorang itu tergantung pada
niatnya dan setiap orang bergantung pada apa yang ia niatkan. Dalam keterangan
yang bersumber dari ajaran agama disebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak
melihat apa yang ada pada bentuk lahiriyah dari manusia, seperti kekayaan,
kedudukan atau bentuk rupa yang dimilikinya, tetapi melihat pada motivasi dan
perilakunya.

Tuhan Yang Maha Esa melihat batin manusia, berarti menilai niat
seseorang, sebagai penggerak dan pendorong terjadinya suatu perbutan. Karena
itu orang yang sungguh-sungguh berniat akan melakukan suatu perbuatan yang
baik, namun ia belum dapat melaksanakannya karena suatu halangan, maka
dicatat sebagai suatu kebajikan baginya. Dengan kesungguhan niat yang ia
tetapkan dalam dirinya dan mempertimbangkan bahwa setiap perbuatan baik
harus dilakukan dengan cara yang baik pula, maka iapun memperoleh balasan
kebajikan yang serupa.

Dijelaskan bahwa manusia pada umumnya dapat dibagi menjadi empat


golongan : (1) manusia yang diberi oleh Tuhan berupa ilmu dan kekayaan, dan ia
menggunakan kekayaannya sesuai dengan ilmunya. (2) manusia yang berkata :
“Seandainya Tuhan memberinya hal yang sama seperti manusia pertama, maka ia
akan melakukan hal yang sama pula”. Maka balasan bagi keduanyapun sama. (3)
manusia yang diberi oleh Tuhan dengan kekayaan tetapi tidak diberi pengetahuan,
maka ia menghabiskan kekayaannya untuk mengikuti hawa nafsunya. (4) manusia
yang diberikan hal yang sama seperti orang ketiga dan iapun melakukan
perbuatan yang sama, maka keduanya akan memperoleh dosa yang sama. (Al-
Jaziri, 2003:17)

Pada peristiwa peperangan dalam rangka membela kebenaran,


diinformasikan. Sesungguhnya, di dalam kota (tinggal di rumah masing-masing)
ada sekelompok orang yang tidak ikut dalam rombongan ini (tidak ikut
berperang), tidak ikut melakukan sesuatu, tidak ikut naik dan turun gunung, tapi
mereka ada beserta orang-orang yang berjuang di medan peperangan. Sebagian
dari mereka bertanya: Mana mungkin orang yang tidak ikut beserta kami
dinyatakan ada diantara kami. Pertanyaan itu dijawab : Mereka memang tidak ada
beserta kami disebabkan karena ada halangan. Mereka disebutkan bersama kami
karena mereka mempunyai niat baik yang sama dengan niat yang kami tetapkan.

Masih mengenai niat yang baik ataupun buruk dapat mempengaruhi baik
atau buruknya amal perbuatan seseorang, dijelaskan dalam pesan-pesan yang
suci : “Jika ada dua orang bertemu dan berkelahi masing-masing dengan
pedangnya, maka orang yang membunuh ataupun yang terbunuh, keduanya
masuk neraka. Seorang bertanya : “Adalah wajar orang yang membunuh itu

89
masuk neraka, bagaimana dengan orang yang terbunuh”. Pertanyaan itu dijawab:
“Karena orang itu juga ingin membunuh lawannya” (Al-Jaziri, 2003: 18).

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa setiap diri manusia harus
memperhatikan dengan sungguh-sungguh mengenai sangat penting dan seriusnya
makna niat. Seluruh perbuatan yang dilakukannya harus disesuaikan dengan niat
yang suci. Niat merupakan spirit dari amal perbuatan yang mempunyai nilai.
Amal perbuatan akan menjadi baik jika disertai dengan niat yang baik dan amal
perbuatan akan menjadi buruk jika disertai niat yang buruk. Barang siapa yang
berbuat suatu amal tanpa disertai dengan niat yang suci maka perbuatannya
menjadi sia-sia.

Lebih halus dan mendalam pada pandangan kaum sufi, akhlak dan
budipekerti tidak saja dikembangkan antar umat manusia, tetapi juga menyangkut
hubungan dengan makhluk-makhluk lain seperti benda mati, flora dan fauna.
Sebagian ahli sufi membagi makhluk kedalam beberapa jiwa, dengan tingkatan-
tingkatan yang berbeda, seperti jiwa mineral, jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa hewan,
jiwa pribadi, jiwa insani dan sebagainya (Robert Freger, dkk, 1999: 139).
Terhadap jiwa-jiwa itu ada akhlak dan budipekerti yang harus ditegakkan, sesuai
dengan tingkatannya masing-masing. Terhadap jiwa mineral misalnya, tidak
diperbolehkan merusak, demikian juga terhadap jiwa tumbuh-tumbuhan, tidak
boleh menyiksa dan menyakiti hewan dan juga tidak diperkenankan merusak
lingkungan.

Mengenai kewajiban terhadap Tuhan, selain yang disebutkan diatas,


manusia hendaknya mensyukuri nikmat dan karunia Tuhan, menerima dengan
tulus segala kepastian dan ketetapan Tuhan yang diberikan kepada kita dengan
berusaha semaksimal mungkin, agar dapat beramal yang terpuji. Setiap diri
manusia hendaknya menyadari betapa banyaknya nikmat dan karunia Tuhan yang
disampaikan kepadanya. Nikmat diciptakannya menjadi makhluk yang terbaik,
nikmat keimanan, nikmat kesehatan, nikmat memiliki fisik yang sempurna,
nikmat memiliki akal pikiran yang sehat dan berbagai nikmat lain yang tidak
mungkin dapat dihitung jumlahnya. Segala kenikmatan yang ada pada kita, baik
lahir maupun batin adalah berasal dari karunia Tuhan Y.M.E. Barang siapa yang
ingat pada Tuhan, maka Tuhan akan mengingatnya, karena itu bersyukurlah pada-
Nya dan jangan mengingkari-Nya.

1.1.5. Perwujudan Akhlak dan Budi Pekerti

Setiap orang yang berakhlak dan berbudi pekerti, pasti berpikir tentang
ilmu-ilmu Tuhan yang maha luas dan dalam, ia selalu menyadari bahwa Tuhan
senantiasa memperhatikan gerak-geriknya pada setiap keadaan. Hati setiap orang
yang beriman pasti akan dipenuhi dengan perasaan kagum, hormat dan
mensucikan Tuhannya. Sesungguhnya tidaklah layak jika seorang manusia tidak
mentaati Tuhannya, dengan cara mengingkari, berbuat jahat dan membangkang,
sementara Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyaksikan dan
memperhatikannya. Mengapa kita semua tidak meletakkan harapan dan keinginan

90
kita untuk kebajikan dan kesabaran pada-Nya, padahal Dia telah menciptakan
semua makhluk dalam berbagai tingkatan.

Manusia beriman, senantiasa menyadari akan kekuasaan dan pengawasan


Tuhan atas dirinya, ia tidak mungkin lari dan menghindari hal itu, maka setiap
orang yang sadar, pasti akan kembali menuju jalan Tuhannya. Tinggalkan segala
keraguan dan tetapkan segala keyakinan dan kepercayaan hanya kepada-Nya
semata. Kita tidak berada dalam suatu keadaan apapun dan tidak membaca suatu
bacaan apapun dan tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Tuhan menjadi
saksi atas semua makhluknya di waktu kita mengerjakannya. Tidak luput dari
pengetahuan Tuhan meskipun sekecil dzarrah (atom), di bumi ataupun di langit.
Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) lebih besar dari semua itu, melainkan
tercatat dalam pengetahuan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Seorang yang beragama akan menyadari dengan sesungguhnya segala


kasih sayang dan kemurahan Tuhan yang dikaruniakan kepadanya dalam segala
keadaan. Ia berupaya untuk memperoleh karunia dan ridha-Nya, dengan jalan
merendahkan diri dan bersikap rendah hati serta berdoa dengan ikhlas. Ia akan
terus berusaha untuk mendekatkan diri kepadanya dengan melakukan amal
perbuatan yang baik. Demikianlah akhlak dan budipekerti manusia terhadap
Tuhannya. Rahmat Tuhan meliputi segala sesuatu, Ia Maha Lembut dan Halus
terhadap semua makhluk-Nya. Karena itu manusia tidak boleh berputus asa dari
rahmat dan karunia-Nya.

Sebagai kelanjutan melaksanakan kewajiban kepada Tuhan, manusia


diharuskan melaksanakan kewajiban kepada Nabi dan Rasul. Ketentuan di atas,
diantaranya berpedoman pada uraian-uraian berikut ini. Tuhan Yang Maha
Memberi Karunia telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, baik
laki-laki maupun perempuan, agar bersikap baik dan menghormati para Nabi dan
Rasul serta mengikuti perintah dan menjauhi larangannya. Manusia beriman
hendaklah menghormati Nabi dan Rasul dengan jalan merendahkan suaranya
apabila menyebutkan nama beliau. Orang-orang yang beriman, tidaklah
mengeraskan suaranya melebihi suara nabi, dan janganlah kita berkata kepada
orang-orang yang dihormati dengan suara keras, sebagaimana kerasnya (suara)
sebagian dari diri kita terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala
amal kebajikan, sedangkan kita semua tidak menyadarinya.

Dalam menyebutkan nama Nabi dan Rasul hendaklah dilakukan dengan


sopan, jangan disamakan dengan menyebut nama seorang yang biasa kita kenal.
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantaramu seperti panggilan sebagian
kamu kepada sebagian yang lain dengan tanpa sopan santun yang terpuji. Sebagai
manusia beriman, diarahkan selalu bekerja sama menghadapi berbagai
permasalahan dan mengambil contoh dari penyelesaian yang dilakukan oleh para
Nabi dan Rasul. Dalam hal ini kita dapat melakukan aktualisasi pemahaman dari
contoh-contoh tersebut sehingga menjadi relevan dengan kehidupan kita.
Sesungguhnya yang sebenar-benar orang yang beriman ialah orang-orang yang
beriman kepada Tuhan dan para Rasulnya, dan apabila mereka berada bersama-

91
sama dalam sesuatu urusan yang memerlukan penyelesaian, mereka tidak
meninggalkan bimbingan mereka, dengan penuh ketaatan. Sesungguhnya orang-
orang yang mengikuti petunjuk para nabi, mereka itulah orang-orang yang
beriman kepada Tuhan dengan iman yang sempurna.

Tuhan Yang Maha Memberi Karunia mengarahkan umat manusia agar


mentaati dan mematuhi terhadap Nabi dan Rasul, serta mencintainya dengan
penuh kasih sayang. Orang-orang yang beriman, diperintahkan agar mentaati
Tuhan, mentaati Rasul-Nya dan para pemimpin ditengah-tengah masyarakat kita.
Apabila kita berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia untuk
mencari petunjuk Tuhan dan Rasul-Nya, jika kita ingin dikelompokkan bersama
orang yang benar-benar beriman kepada Tuhan dan hari kemudian. Mereka yang
menyalahi perintah para Nabi atau yang membangkang padanya akan ditimpa
oleh ujian-ujian yang berat atau dikenai azab yang menyakitkan. Oleh karena itu,
semua perintah para Nabi dan Rasul hendaknya dilaksanakan dengan keinsafan
dan kesadaran dan sebaliknya segala yang dilarangnya harus dijauhi dan
ditinggalkan dengan penuh kesungguhan.

Barang siapa yang mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, pasti ia


akan mengikuti bimbingan para Nabi dan Rasul dalam meniti jalan kehidupannya
di dunia dan di akhirat. Tuhan sebagai pembimbing, pemimpin dan menghukumi
manusia secara adil. Sebagai Tuhan yang membimbing semua makhluk-Nya
dengan penuh kasih sayang, Ia juga menjadi hakim yang adil bagi semua umat
manusia. Manusia beriman diperintahkan agar menghakimi atau menetapkan
keadilan berdasarkan petunjuk dari Tuhan dan menghindarkan diri dari hawa
nafsu yang senantiasa menjerumuskan umat manusia. Kita hendaklah
memutuskan perkara diantara mereka menurut ketentuan Tuhan, dan janganlah
mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak berada dalam jalan yang benar,
agar mereka tidak menyesatkan kaum beriman dari jalan Tuhan yang benar dan
lurus.

1.1.6. Kedisiplinan dalam Ketaatan

Merupakan kewajiban terhadap diri sendiri, setiap orang beragama


meyakini bahwa ketenangan dan kebahagiaannya baik di dunia maupun di akhirat
ditentukan oleh kemampuannya dalam melatih dan mendisiplinkan dirinya.
Menjaga dirinya supaya tetap baik serta menyempurnakan dan mensucikan
jiwanya. Sebaliknya kerugian yang besar dan penyesalan yang dialami manusia,
adalah disebabkan kejahatan dan ketidakpatuhan terhadap ajaran agamanya,
dengan cara mengotori jiwanya sendiri. Sungguh berbahagia dan beruntung
orang-orang yang mensucikan jiwanya dan celakalah orang-orang yang mengotori
jiwanya sendiri, sehingga menjadi kotor dan ternoda.

Orang-orang yang mengotori jiwanya, mendustakan ayat-ayat Tuhan dan


bersikap angkuh terhadap-Nya, akan ditimpa kesulitan dalam kehidupan di dunia
dan memperoleh azab yang menyakitkan di akhirat. Sesungguhnya orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Tuhan dan menyombongkan diri terhadap-Nya,

92
sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu kebahagiaan baik di
dunia maupun akhirat, sehingga mereka akan menjumpai kesulitan dalam
berbagai kehidupannya.

Manusia beragama yang tidak lagi mampu menjaga dirinya dari perbuatan
yang tercela, maka jiwanya menjadi kotor, titik-titik noda akan menutup kalbunya
sehingga menjadi hitam pekat. Kalbu itu yang diumpamakan sebagai cermin tidak
lagi mampu menyerap cahaya kebenaran dari Tuhan Yang Maha Memberi
Petunjuk. Hatinya menjadi gelap dan mati. Sesungguhnya seorang manusia
apabila berbuat dosa maka akan menimbulkan titik hitam dalam hatinya. Apabila
ia meninggalkan perbuatan dosanya dan tidak mengulanginya lagi, maka hatinya
akan bersih dari noda tersebut. Namun jika dia terus-menerus berbuat dosa, maka
seluruh hatinya akan tertutup kegelapan.

Apabila manusia terlanjur berbuat dosa dan kesalahan, hendaklah ia cepat


bertaubat, dengan cara menyesali perbuatan tersebut dan tidak mengulanginya di
masa yang akan datang. Kemudian perbuatan yang tidak baik itu hendaklah
diikuti dengan perbuatan-perbuatan yang baik, karena perbuatan baik itu akan
menghapuskan kesalahan dan dosa. Bertakwalah kamu kepada Tuhan, dimana
saja kamu berada dan susullah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik,
karena perbuatan yang baik itu akan menghapuskan keburukan serta bergaulah
sesama manusia dengan akhlak yang baik.

Salah satu kewajiban yang sangat penting terhadap keluarga adalah


berbakti terhadap orang tua. Setiap orang pasti merasakan dan menyadari betapa
besarnya kasih sayang ayah dan ibunya. Orang tuanya memelihara dan
mendidiknya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, kesulitan demi kesulitan
dihadapinya dengan tabah, dan semua orang tua selalu berharap dan berusaha agar
anak-anaknya lebih mulia dari dirinya sendiri. Berdasarkan kenyataan inilah,
maka berbakti kepada kedua orang tua merupakan bakti kedua, setelah kita
berbakti kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tuhan Yang
Maha Esa telah memerintahkan supaya umat manusia jangan menyembah kecuali
pada-Nya dan hendaklah berbakti pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut
dalam pemeliharaan anaknya, maka sekali-kali janganlah anak-anaknya
mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan jangan pula membentak
mereka sebaliknya harus mengucapkan kepada mereka perkataan yang mulia.
Rendahkanlah diri kita terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan
hendaknya kita bedoa : “Wahai Tuhanku kasihanilah mereka berdua, sebagaimana
mereka telah mengasihani aku di waktu kecil”.

Rasul, pernah ditanya salah seorang sahabatnya yang masih muda


mengenai siapakah orang yang paling berhak dikasihi, nabi menjawab ibumu.
Anak muda itu bertanya kembali, kemudian siapa, nabi menjawab ibumu. Hal itu
terus berlangsung sampai tiga kali kemudian nabi menjawab : ayahmu. Dari
keterangan ini terlihat dengan jelas betapa besarnya bakti anak kepada kedua
orang tuanya, apalagi kepada ibunya yang mengandung, melahirkan, menyusui

93
dan memeliharanya dengan penuh kasih sayang, sampai seorang anak memasuki
usia dewasa (Fathurrahman, 1996:158).

Durhaka kepada kedua orang tua merupakan perbuatan dosa yang sangat
berat yang harus ditanggung dalam kehidupan dunia maupun di akhirat. Anak
yang durhaka kepada kedua orang tuanya akan tercampakkan dalam lembah
kehinaan dan kenistaan. Dosa seperti itu digolongkan dalam dosa-dosa terbesar
dari segala dosa. Maukah di beritakan kepadamu tentang dosa yang paling besar
dari dosa yang terbesar? “Pertama menyekutukan (syirik) kepada Tuhan, kedua
durhaka kepada kedua orang tua, bersumpah palsu dan bersaksi palsu
(Fathurrahman, 1966: 171).

Secara umum berbakti kepada kedua orang tua dapat dilakukan dengan
mentaati dan mengasihinya, mendoakan dan memohonkan ampunan kepada
Allah, memenuhi dan melaksanakan rencana-rencananya yang baik, menghormati
teman-teman dekat mereka dan melanjutkan hubungan silaturahim. Seorang anak
harus patuh kepada kedua orang tuanya dalam segala hal yang sesuai dengan
tuntunan agama, baik berupa mentaati perintah-perintahnya ataupun menghindari
larangan-larangannya. Anak harus menghormati dan memuliakan kedua orang tua
mereka dalam berbagai keadaan, baik dalam tutur kata maupun tindakannya.
Jangan membuat mereka kesal dan marah, jangan bersuara lebih keras dari suara
mereka, jangan melebihkan perhatian kepada suami atau istri dan anak-anak
melebihi mereka. Tidak memanggil keduanya dengan sebutan nama yang tidak
terpuji dan selalu menyapanya dengan penuh hormat dan kasih. Anak-anak harus
melakukan tugas yang terbaik bagi mereka dan memberikan sesuatu yang terpuji
bagi kedua orang tua mereka, termasuk menyantuni mereka untuk kebutuhan
makanan, pakaian, perawatan, perlindungan, dan kasih sayang.

Setelah kewajiban terhadap negara, dilanjutkan dengan kewajiban


terhadap hubungan antar bangsa, antara lain : mengembangkan politik luar negeri
yang bebas dan aktif, menegakkan perdamaian dunia, menjunjung tinggi
persaudaraan antar bangsa, tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-
masing dan memanfaatkan kekayaan alam dunia untuk kesejahteraan secara
umum.

4.2. Pemantapan Kehidupan Sosial

Interaksi sosial atau proses-proses sosial berkembang dalam kehidupan


masyarakat secara alamiah. Ia merupakan kuci semua kehidupan sosial, tanpa
interaksi sosial, tidak mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya orang-
perorang secara fisik saja, tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu
kelompok sosial. Pergaulan hidup baru akan terjadi apabila orang-perorang, atau
kelompok perkelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, saling bergaul
dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan
yang positif, mengantisipasi pertikaian dan sebagainya. Karena itu, interaksi sosial
adalah merupakan dasar-dasar dari proses sosial yang mengantarkan pada
berbagai hubungan sosial yang dinamis. Bentuk umum dari proses-proses sosial,

94
atau disebut juga dengan interaksi sosial adalah merupakan syarat utama
terjadinya berbagai aktivitas kemasyarakatan. Selanjutnya bentuk lain dari proses
sosial hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial. Ia merupakan
hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antar orang-perorang,
antar kelompok-perkelompok manusia, maupun antar orang dengan perkelompok.

Apabila dua orang saling bertemu, maka interaksi sosial telah dimulai;
pada saat itu mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau
bahkan saling bermusuhan. Kegiatan seperti itu merupakan perwujudan dari
bentuk-bentuk interaksi sosial. Sungguhpun mereka yang bertemu muka itu tidak
saling berbicara, atau tidak saling menukar simbol-simbol, interaksi sosial
sebenarnya telah terjadi. Masing-masing dari mereka telah menyadari adanya
pihak lain yang menyebakan perubahan-perubahan dalam perasaan ataupun image
dari mereka yang bersangkutan, disebabkan karena interaksi tersebut. Peristiwa
itu pasti menimbulkan kesan dalam pikiran seseorang yang kemudian menentukan
tindakan apa yang akan dilakukannya (Soerjono Soekanto, 1986:51).

Interaksi sosial dalam kelompok-kelompok manusia terjadi antara


kelompok-kelompok tersebut sebagai satu kesatuan dan biasanya tidak
menyangkut pribadi anggota-anggotanya, sebagai contoh dapat dikemukakan,
ketika terjadi tawuran antara dua desa, sehingga menimbulkan kerusuhan dan
korban yang amat merugikan kedua belah pihak, ternyata salah satu anggotanya
bernama Tono dari suatu desa dan salah seorang dari anggota lain bernama Toni
dari desa yang lain, sebenarnya mereka berdua adalah teman satu kelas di sebuah
SMA di kotanya. Keduanya sebenarnya tidak saling bermusuhan, mereka berdua
merupakan sahabat dalam satu kelas. Pada saat mereka berdua bertemu di kantor
Kecamatan, mereka saling memeluk. Ternyata Tono dan Toni sebenarnya tidak
bermusuhan, yang bermusuhan adalah kelompok, yaitu dua desa tersebut di atas.
Dengan demikian interaksi sosial antara kelompok-kelompok sosial, seperti dua
desa tersebut di atas tidak bersifat pribadi. Interaksi sosial antara kelompok-
kelompok manusia terjadi antara kelompok lazim, juga terjadi dalam masyarakat.
Interaksi tersebut terjadi secara lebih mencolok, apabila terjadi pertentangan
antara kepentingan-kepentingan orang-perorang dengan kepentingan-kepentingan
kelompok.

Interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat, terjadi saling


mempengaruhi antar orang-perorang, antar orang perkelompok, dan antar
kelompok perkelompok. Dari interaksi itu, dapat menimbulkan suatu kompromi
yang saling menguntungkan, menguntungkan sebagian kelompok dan merugikan
kelompok yang lain, atau sama-sama terjadi kerugian antara kelompok-kelompok
tersebut. Dalam kehidupan masyarakat awam, interaksi yang terjadi tersebut
sering membingungkan dan menyulitkan mereka. Kehidupan sosial yang selalu
berkembang dan berubah pada setiap saat, akan menjadi kendala yang
menyulitkan bagi hidup dan kehidupan mereka. Karena itu diperlukan adanya
stabilisator yang dapat menetralisir berbagai perkembangan dan perubahan, yang
serba cepat dan terus menerus mengusik ketenangan serta ketenteraman

95
masyarakat. Ajaran tentang akhlak dan budipekerti serta aplikasinya dalam amal
perbuatan dapat berfungsi sebagai stabilisator dalam kehidupan sosial dan budaya.

Dengan berpedoman pada nilai-nilai luhur yang tercermin dalam akhlak


dan budipekerti yang terpuji, setiap orang akan dapat menjalani kehidupannya
dengan petunjuk yang jelas dan pedoman yang kokoh. Perumpamaan mereka,
seperti seorang yang menempuh jalan untuk suatu tujuan yang mulia, dilengkapi
dengan petunjuk jalan yang komplit dan sarana yang memadai. Dengan demikian
ia tidak akan ditimpa keraguan dan kebimbangan, serta terhindar dari kegalauan.
Selanjutnya kehidupan sosial menjadi stabil dan dapat membentuk masyarakat
yang diharapkan, terhindar dari kehancuran dan perasaan chaos, yang sering
melanda masyarakat, yang dikacaukan oleh kegoncangan dan ketidakpastian.

4.3. Toleransi dalam Kemajemukan

Toleransi dipahami secara sederhana berarti bersikap atau bersifat


menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat,
pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya) yang berbeda atau
bertentangan dengan pendiriannya sendiri (Depdiknas, 1999). Secara ringkas,
toleransi berarti sikap seseorang yang tidak merasa keberatan dengan perbedaan-
perbedaan orang lain yang tidak sesuai dengan keyakinan atau pendapatnya
sendiri. Istilah toleransi dalam bahasa Indonesia sering juga disebut dengan kata
tasamuh, berasal dari bahasa Arab yang artinya sikap yang baik dan berlapang
dada terhadap perbedaan-perbedaan dengan orang lain yang tidak sesuai dengan
pendirian dan keyakinannya. Ibn Manzhur (1992: 489)

Secara realitas, manusia diciptakan dalam berbagai golongan bangsa, ras,


suku, bahasa, warna kulit, adat, kebudayaan dan agama yang berbeda.
Menghadapi kenyataan ini, hendaklah manusia bersikap toleran atau tasamuh,
sebagai salah satu bukti dari pengamalan akhlak dan budi pekerti. Setiap diri
manusia harus berlapang dada dan memahami secara baik terhadap segala
perbedaan yang dijumpai. Dengan demikian setiap orang meyakini agama,
falsafah hidup, adat istiadatnya sendiri dan tidak merasa keberatan sedikitpun
terhadap agama, adat istiadat dan filsafat hidup orang lain. Masing-masing
anggota masyarakat harus saling memahami, mengenal dan bertenggang rasa
terhadap agama, keyakinan dan filsafat hidup orang lain.

Dengan sikap toleransi dan tasamuh yang luas dan terbuka, maka akan
terbentuk suatu masyarakat yang saling menghargai, saling tenggang rasa, dan
terjalinlah kehidupan yang harmonis antar anggota masyarakat, bangsa maupun
negara. Kehidupan yang harmonis yang dapat ditumbuh kembangkan dalam
kehidupan suatu masyarakat atau suatu bangsa, akan menimbulkan kemampuan
dan kemajuan yang luar biasa. Kemuliaan dan kehebatan suatu bangsa atau
masyarakat hanya dapat diwujudkan dengan ketenangan, keamanan, keserasian
yang dirajut dalam suasana yang harmonis. Karya-karya besar yang spektakuler
yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan, akan terwujud dari masyarakat
yang memiliki kriteria tersebut di atas.

96
4.4. Filter dalam Interaksi Lintas Budaya

Perkembangan yang sangat bebas dan tanpa batas, sebagai akibat dari
interaksi lintas budaya, mengakibatkan tercampuraduknya berbagai macam nilai-
nilai kehidupan, antara yang baik atau buruk, antara yang terpuji atau tercela. Hal
seperti ini pasti akan membingungkan umat manusia. Akhlak dan budipekerti
yang baik, yang telah menyatu dan mendarah daging dalam kehidupan
masyarakat, akan berfungsi sebagai filter yang dapat menyaring dan sekaligus
membedakan antara nilai-nilai yang baik dan luhur dari nilai-nilai buruk dan
tercela. Manusia yang baik dan berkualitas, adalah mereka yang mampu meyerap
informasi sebanyak-banyaknya, kemudian ia memiliki kemampuan untuk
memilah dan memilih yang terbaik daripadanya serta meninggalkan yang buruk
dan tercela. Kita tidak mungkin membendung arus informasi yang sangat kuat itu
dan mengisolasi masyarakat dari interaksi lintas budaya. Cara yang terbaik adalah
membekali masyarakat agar memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik
dari yang buruk. Sekaligus membentuk mereka agar memiliki kemampuan dan
kemauan untuk melaksanakan kebaikan itu, serta memiliki kemampuan untuk
menghindari berbagai macam keburukan dan sifat tercela lainnya.

Memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk atau
yang terpuji dan tercela, merupakan kemampuan yang sangat potensial untuk
memfilter berbagai macam informasi dalam interaksi lintas budaya. Dalam
kehidupan masyarakat, banyak dijumpai orang-orang yang terjerumus dalam
perbuatan yang tercela, disebabkan mereka belum memahami secara baik bahwa
perbuatan itu dapat mencelakakan dirinya dan orang lain. Setelah mereka
memahami dengan baik, mereka pasti akan menghindari perbuatan tercela
tersebut, kecuali mereka yang dengan sengaja akan mendzalimi dirinya sendiri.
Kita dapat mengambil pelajaran dari da’wah yang dilakukan oleh para Nabi dan
Rasul, pada awal mulanya, sebelum umatnya memahami ajaran Nabi tersebut
mereka menolak dengan keras, bahkan sebagian dari mereka ada yang berencana
untuk membunuh dan membinasakan Nabi tersebut. Setelah mereka mengetahui
bahwa yang dibawa oleh Nabi itu adalah suatu kebenaran yang akan
mengantarkan mereka kepada kebahagiaan masa kini dan masa depan, secara
beramai-ramai mereka menerimanya.

Dalam suatu peristiwa, ketika seorang Rasul berda’wah dengan penuh


kasih sayang dan kebijaksanaan yang sangat mendalam, karena ketidakmengertian
kaumnya. Dalam arti mereka tidak memiliki kemampuan membedakan yang baik
dan yang buruk, yang terpuji dan tercela, mereka melempari Nabi itu dengan batu-
batu dan kerikil yang tajam, sehingga darah mengucur dari kakinya. Menhadapi
kenyataan ini, justru Rasul itu berdoa: “Wahai Tuhanku, tunjukilah kaumku,
karena sesungguhnya mereka belum mengerti dan memahami”. Dari kenyataan ini
dapat ditarik pengertian yang sangat mudah bahwa kemampuan memahami mana
yang baik dan mana yang buruk merupakan sesuatu yang sangat penting sebagai
filter dalam interaksi lintas budaya.

97
BAB V

PENERAPAN AKHLAK DAN BUDI PEKERTI

Kehidupan Pribadi dan Sosial Budaya


Sebagai makhluk pribadi dan sosial, manusia memiliki peran yang bersifat
multidimensional. Ia merupakan makhluk budaya, makhluk berperadaban, dan
sekaligus sebagai makhluk beragama, serta berbagai dimensi lainnya. Sebagai
makhluk pribadi, manusia terikat dengan aturan-aturan yang diterapkan dalam diri
pribadinya, termasuk penerapan nilai akhlak dan budi pekerti. Aturan-aturan yang
menyangkut diri manusia, seperti juga berkaitan dengan kehidupan sosialnya,
memiliki hak dan kewajiban. Aplikasi nilai akhlak dan budi pekerti dalam diri
manusia sama pentingnya pasa saat ia berinteraksi dengan masyarakat di luar
dirinya. Aplikasi nilai akhlak dan budi pekerti dalam diri manusia berupa hak dan
kewajiban yang diterapkan dalam diri pribadinya. Misalnya, badan kita memiliki
hak untuk beristirahat, karena itu, kita tidak boleh melanggar hak tubuh kita untuk
beristirahat tersebut. Mata yang ada pada kita memiliki hak untuk tidur, karena itu
kita tidak boleh melanggar hak tersebut. Kita mempunyai kewajiban untuk
memenuhi hak-hak yang dimiliki oleh tubuh kita.

Selain dua contoh tersebut di atas, dapat dikembangkan dengan contoh-


contoh lain yang lebih luas, yang terjadi dalam diri kita. Sebagian dari penerapan
akhlak dan budi pekerti dalam diri sendiri, kita tidak boleh menganiaya diri
sendiri, dengan mogok makan misalnya, atau menolak untuk berobat, berputus
asa, bersikap pengecut, angkuh, melakukan perbuatan yang tercela dan merusak
diri sendiri, misalnya meminum-minuman keras, mengkonsumsi obat-obat
terlarang, dan berbagai perbuatan buruk lainnya. Secara ringkas hak dan
kewajiban pada diri pribadi manusia harus dilaksanakan, norma-norma kehidupan
pribadi harus dihormati, menyia-nyiakan hak dan kewajiban serta melanggar
norma-norma tersebut, merupakan suatu kesalahan yang akan merugikan diri
sendiri.
Penerapan nilai akhlak dan budi pekerti dalam kehidupan pribadi, antara
lain terdiri atas:

5.1.1. Pengembangan Kehidupan Kerohanian


Sebagi makhluk sempurna yang dilengkapi dengan akal, pikiran, dan
kalbu, manusia pasti akan menyadari status dirinya sebagai makhluk yang diberi
amanah oleh Yang Maha Pencipta, yang menciptakan alam semesta dengan segala
isinya dan peristiwa-peristiwanya yang menakjubkan, yaitu Tuhan Yang Maha
Esa. Manusia yang merupakan bagian dari alam semesta adalah makhluk ciptaan
Allah yang paling luhur apabila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya.
Wajarlah, apabila manusia diberi amanah untuk mengelola alam semesta ini bagi
kesejahteraan semua makhluk-Nya. Kesadaran terhadap wujud Tuhan Yang Maha
Esa, yang menciptakan dan memelihara alam semesta, menimbulkan keyakinan
kepada manusia dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Keyakinan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa disebut juga dengan iman, yang menjadi landasan

98
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, dan segala firman-Nya yang
terangkum dalam kitab suci.

Pengejawantahan iman dalam kehidupan sehari-hari, dengan


mengamalkan perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangan-larangan-Nya akan
mengantarkan seseorang menjadi manusia yang bertakwa. Manusia yang beriman
dan bertakwa merupakan perwujudan dari manusia paripurna, yang memiliki
keseimbangan dalam kehidupan lahir dan batin, dunia dan akhirat. Kehidupan
manusia yang dilandasi dengan kehidupan iman dan takwa, merupakan kehidupan
bersifat religius atau bersifat spiritual. Dalam perkembangan selanjutnya,
kehidupan yang bersifat religius dan spiritual itu akan berkembang di tengah
masyarakat menurut keyakinan agama dan kepercayaan yang berbeda-beda.
Masing-masing pemeluk agama, mengembangkan kehidupan spiritualnya
menurut ajaran agama yang dipeluknya dan sesuai dengan bimbingan dari kitab
suci yang diyakininya.

Keyakinan dan kepercayaan yang dimiliki manusia, pasti terdapat


persamaan-persamaan di samping perbedaan antara satu kelompok dengan
kelompok lain, bahkan antara pribadi dengan pribadi lainnya. Perbedaan diantara
mereka tidak saja terjadi di kalangan mereka yang berbeda agama, tetapi juga
terjadi perbedaan-perbedaan itu meskipun dalam satu agama, bahkan dalam satu
madzhab agama. Keadaan seperti itu, merupakan suatu kenyataan yang tidak
dapat dihindari. Karena itu, dengan akhlak dan budi pekerti, manusia akan
diarahkan untuk mengambil persamaan-persamaan dan memahami terhadap
perbedaan-perbedaan yang dijumpainya, satu dengan lainnya bersifat toleran,
saling mengerti dan saling bertenggang rasa. Dengan sikap demikian, maka akan
terjalinlah suatu masyarakat yang saling menghormati, saling mengasihi dan
mengembangkan kehidupan spritual, sesuai dengan agama dan keyakinannya
masing-masing.

5.1.2. Menghargai Kehidupan


Kehidupan dan kematian merupakan dua peristiwa yang pasti dialami oleh
semua makhluk hidup, berdasarkan ketentuan hukum alam yang ditakdirkan oleh
Tuhan Yang Maha Esa. Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Dia-pulalah
yang melindungi dan memberikan rizki kepada semua makhluk-Nya. Kehidupan
yang dikaruniakan Tuhan kepada kita, merupakan suatu anugerah yang sangat
luhur, karena itu, harus memperoleh penghargaan yang tinggi dari setiap diri
manusia. Menghargai kehidupan, dilakukan dengan memanfaatkan hidup atau
usia yang kita miliki untuk melahirkan karya-karya besar yang spektakuler yang
bermanfaat bagi manusia secara umum dan bermanfaat bagi alam semesta. Setiap
diri manusia harus memanfaatkan waktu-waktu yang dimilikinya untuk beribadah,
menuntut ilmu, bekerja keras secara terprogram dan melakukan berbagai aktifitas
yang berguna.

Sebagian dari langkah yang sangat baik dalam menghargai kehidupan


dapat diwujudkan dalam hal berikut ini: (1) mensyukuri karunia Tuhan, yang

99
dianugerahkan kepada kita, kedua orang tua, para pendahulu kita, dan kepada
bangsa dan negara. Karunia dan nikmat Tuhan yang diberikan kepda makhluk-
Nya amat banyak tidak mungkin dapat dihitung secara matematis. Bahkan apabila
Anda mencoba menghitung nikmat itu, pasti tidak mampu menghitungnya,
meskipun menggunakan mesin-mesin hitung yang sangat canggih. Karunia dan
nikmat Tuhan selalu dirasakan dalam segala aspek dari kehidupan manusia, sejak
ia lahir, dibesarkan oleh orang tuanya dengan penuh kasih sayang, kemudian
memasuki masa balita, kanak-kanak, remaja, sampai usia dewasa. Sampai nanti
pada saat manusia kembali menghadap Khaliknya ia memperoleh karunia yang
tidak henti-hentinya. Karunia dan nikmat Tuhan, dirasakan oleh manusia secara
lahir dan batin, nikmat yang besar dan agung, demikian juga nikmat-Nya yang
lembut dan halus.

Langkah berikutnya, (2) bekerja keras secara baik dan terprogram, agar
dapat melahirkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi sesama umat manusia
dan makhluk lain. Kerja keras itu, terdiri atas terus menerus mencari ilmu dan
menambah pengetahuan sehingga terwujud life long education atau pendidikan
seumur hidup, karena dengan ilmu pengetahuan itulah manusia akan menuju
langkah yang benar dalam melaksanakan aktifitasnya. Bekerja secara profesional,
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, sehingga
pekerjaan yang ditekuninya akan dapat ditangani dengan baik, sesuai dengan
profesinya. Harus dihindari sistem bekerja yang amburadul, seperti digambarkan
seorang nenek tua yang siang harinya bekerja menenun kain, setelah tenunan itu
teguh, malam harinya diuraikan kembali, benangnya satu persatu, sehingga
pekerjaannya tidak pernah selesai.

Agar meraih kesuksesan yang maksimal dalam bekerja keras yang terpola
itu, hendaknya dibarengi dengan rasa tanggung jawab yang kuat, sehingga dapat
melahirkan hasil yang diharapkan. Pekerjaan yang tidak disertai dengan tanggung
jawab akan mengalami kegagalan bahkan kerusakan. Pekerjaan harus dilakukan
dengan tidak mengenal menyerah atau putus asa, meskipun menghadapi berbagai
rintangan yang amat menyulitkan, atau bahkan menjumpai kegagalan. Kegagalan
jangan diangap sebagai suatu yang menghalangi usaha kita, justru harus
diterapkan bahwa kegagalan itu sesungguhnya merupakan awal kesuksesan
apabila dikelola dengan cara yang baik. Tantangan dan rintangan disadari sebagai
suatu hal yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena itu, harus disikapi
sebagai suatu pendorong untuk bekerja lebih keras dan sungguh-sungguh,
sehingga mencapai hasil yang maksimal.

Menjalin komunikasi dengan relasi dan para nasabahnya dengan akhlak


yang luhur dan pendekatan yang simpatik akan mengantarkan seseorang pada
kesuksesan dalam mengembangkan usaha dan profesinya. Termasuk dalam hal ini
adalah bagaimana kemampuan seseorang untuk memperkenalkan hasil
produksinya, memasyarakatkan company profile dari perusahaannya dan
keuntungan-keuntungan yang diperoleh oleh karyawan dan nasabahnya. Dengan
mengembangkan citra perusahaan yang professional dan mendatangkan manfaat

100
bagi sesama, akan memperoleh dukungan yang besar dan perhatian yang simpatik
dari masyarakat.

5.1.3. Membangun Citra Diri


Citra diri seseorang ditegakkan dan ditentukan oleh kualitas pribadinya,
sikapnya, kepribadiannya, seperti kejujuran, keadilan, rajin, tanggung jawab,
disiplin, dan sikap santun, serta toleran. Setiap orang perlu juga melihat kapasitas,
kemampuan dan bakat dirinya, sehingga ia dapat memilih profesi yang tepat
dengan bakat dan kemampuannya. Bekerja di luar bakat dan kemampuannya akan
mengalami kesulitan, bahkan kegagalan. Karena itu, manusia terlebih dahulu
harus mengenali dirinya secara baik, apa kelebihan-kelebihan yang dimilikinya,
apapula kekurangannya. Setelah pengenalan diri dikuasai dengan baik, maka ia
melanjutkan aktifitasnya dengan memilih profesi yang tepat dengan kapasitas,
kemampuan dan bakatnya. Sebagai seorang professional, ia harus meneliti dan
mengamati secara tajam, dalam kehidupan masyarakatnya, betapa banyaknya
kegagalan yang dialami seseorang, disebabkan ia tidak mengenali dirinya sendiri
secara baik.

Nilai citra diri seseorang memiliki pengaruh yang signifikan dalam


kehidupan sosial dan aktifitas masyarakat. Relasi dan mitra usahanya akan
menilai secara teliti terhadap citra yang dimiliki oleh rekannya. Apabila citranya
baik, maka mitra usahanya akan memberikan kepercayaan yang penuh dan akan
selalu berusaha untuk bekerja sama dengannya. Sebaliknya apabila citra dirinya
buruk, maka akan dipandang oleh mitranya dengan sebelah mata, sehingga
usahanya tidak akan meraih kesuksesan.

5.1.4. Kehidupan Sosial Budaya


Selain berfungsi sebagai makhluk pribadi, manusia juga berfungsi sebagai
makhluk sosial dan budaya, hal ini ditandai dengan suatu kenyataan bahwa
manusia selalu membutuhkan orang lain untuk melakukan interaksi dalam hidup
dan kehidupannya. Keadaan seperti ini merupakan fitrah manusia yang
dianugerahkan oleh Tuhan, yang telah disiapkan dalam kehidupan alam semesta.

Dalam berinteraksi dengan sesamanya, terjadi antara dua orang atau lebih,
masing-masing pihak memiliki kepentingan, ada yang sama, ada pula yang
berbeda. Interaksi sosial akan terjalin secara baik dan seimbang, serta saling
menguntungkan, apabila masing-masing pihak saling mengerti dan memahami
serta bertenggang rasa di antara sesama mereka. Akhlak dan budi pekerti memiliki
peran yang sangat penting dalam mengatur kehidupan sosial budaya yang terjalin
di tengah masyarakat, akhlak dan budi pekerti berisi nilai-nilai yang harus
menjadi pedoman bagi setiap anggota masyarakat, seperti nilai kebersamaan,
tolong-menolong, keadilan, kejujuran, keindahan, dan sebagainya. Secara naluri
yang murni, setiap orang mencintai nilai-nilai kebaikan, keindahan, dan nilai-nilai
lain yang terpuji, sebagaimana disebutkan di atas. Bagaimana bersikap terhadap
orang lain, ukurannya adalah diri kita sendiri. Apabila kita merasa senang

101
terhadap kebaikan orang lain, maka orang lainpun merasa senang terhadap
kebaikan yang kita lakukan. Sesuatu yang tidak menyenangkan bagi kita, pasti
tidak menyenangkan juga bagi orang lain. Nilai-nilai kebaikan itu, dalam
kehidupan sosial budaya, direalisasikan dalam kehidupan yang nyata.

5.1.5. Kehidupan Keluarga


Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang saling terikat
dengan perkawinan dan keturunan, ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
masyarakat. Wujud masyarakat, baik kecil maupun besar terdiri atas kumpulan
antara keluarga satu dengan keluarga lainnya. Karena itu, peranan keluarga sangat
menentukan dalam pembentukan suatu masyarakat yang berperadaban. Apabila
keluarga-keluarga dalam masyarakat itu baik, maka otomatis masyarakat itupun
akan menjadi baik. Interaksi dalam kehidupan keluarga sangat intensif, apabila
dibandingkan dengan interaksi sosial budaya secara umum. Hal ini adalah wajar,
karena keluarga lingkungannya sangat terbatas, waktu beradaptasi dalam
mengatur hubungan keluarga juga berlangsung cukup lama, dan masing-masing
anggota keluarga memiliki hubungan yang sangat erat, karena disatukan oleh
hubungan pernikahan dan pertalian darah. Ayah dan ibu sebagai kepala keluarga
memiliki hak dan kewajiban serta pertanggungan jawab untuk membentuk
keluarga yang sejahtera. Orang tua merupakan nara sumber bagi pengetahuan
untuk anak-anaknya dan sekaligus sebagai memberikan pendidikan yang pertama
kali kepada anak mereka. Kehidupan orang tua dalam berinteraksi dengan anak-
anaknya maupun dengan keluarga yang lain, membentuk budaya komunikasi yang
intensif dalam suatu keluarga. Berjalan secara baik atau mugkin terjadi
kemandekan dalam berkomunikasi, akan sangat ditentukan oleh contoh dan
teladan dari kedua orang tua tersebut.

Dalam perkembangan lebih jauh, anak dari keluarga itu akan berinteraksi
dengan pihak luar, baik melalui pergaulan dengan teman-temannya, melalui
media komunikasi baik cetak maupun elektronik, sehingga mereka memperoleh
pengalaman dan pengetahuan baru yang lebih luas. Pengetahuan dan pengalam
yang baru yang telah dimiliki anak-anak itu akan beradaptasi dengan pengalaman
dan pengetahuan yang mereka peroleh dari kehidupan keluarga. Tentu mereka
akan menjumpai persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antara
kehidupan keluarga dan kehidupan maysrakat di luar keluarganya sendiri. Di sini,
peran orang tua sangat menentukan untuk dapat membimbing mereka dengan
baik, berlaku bijaksana, berlatih untuk dapat membedakan yang baik dan yang
buruk sekaligus diarahkan agar anak-anak itu dapat mewujudkan kebaikan
tersebut dan menghindari perbuatan yang buruk dan tercela.

Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat, menjadi media yang sangat
signifikan dalam membudayakan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang terpuji.
Perilaku orang tua yang bersikap jujur, adil terhadap anak-anaknya, amanah,
bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, dan berusaha
menciptakan keharmonisan, akan sangat berpengaruh dalam pembentukan
perilaku anak dan keteladanan dalam berkeluarga. Anggota keluarga akan selalu

102
menjadikan orang tuanya sebagai panutan dan contoh dalam hidup dan
kehidupannya. Dalam kehidupan keluarga tentu tidak selamanya mulus, mungkin
ada kekeliruan dan kesalahan, baik yang dilakukan oleh orang tua maupun anak-
anaknya. Dalam menghadapi hal ini, orang tua harus bersifat fair, demikian juga
anak-anaknya dilanjutkan dengan suatu kebiasaan untuk saling mengingatkan,
agar tidak terjerumus dalam kesalahan-kesalahan di masa yang akan datang.

5.1.6. Kehidupan Masyarakat


Masyarakat baik besar maupun kecil, merupakan kumpulan keluarga-
keluarga yang satu dengan yang lainnya saling terikat. Intensif atau tidaknya
hubungan dalam suatu masyarakat, sangat bergantung pada masing-masing
kepentingan dari anggotanya. Masyarakat perkotaan memiliki hubungan yang
berbeda dengan masyarakat pedesaan, karena kepentingan masing-masing mereka
berbeda. Ada sebagian masyarakat yang nampak kehidupannya lebih bersifat
individualistik, padahal sebetulnya tidak demikian, mereka tidak individualistik,
itu dibuktikan dengan kepedulian mereka teradap masyarakat pada umumnya.
Terlihat individualistik hanya karena mereka memiliki kesibukan yang lebih padat
dari masyarakat yang tinggal di pedesaan ataupun masyarakat kota yang tidak
memiliki banyak kesibukan. Baik masyarakat perkotaan, masyarakat elit maupun
masyarakat pedesaan, pada dasarnya memiliki kepentingan untuk melakukan
interaksi dengan sesamanya, karena satu sama lain saling membutuhkan. Karena
itu, betapapun sibuknya anggota masyarakat, hendaklah ia menyediakan sebagian
waktunya untuk dapat bergaul dengan lingkungan masyarakatnya dan mengambil
bagian-bagian tertentu untuk mengembangkan solidaritas sosial dan kemanusiaan.

Hubungan dan solidaritas sosial merupakan sarana untuk menjalin


hubungan yang harmonis antara sesama anggota masyarakat. Saling mengerti dan
memahami tentang perbedaan kesibukan, perbedaan profesi dan perbedaan
pendidikan dan kemampuan, merupakan hal yang sangat penting untuk menjalin
kehidupan bermasyarakat. Dengan saling memahami dan mengerti tentang status
dan kedudukan masing-masing pribadi, akan berdampak pada timbulnya tenggang
rasa yang tinggi, sehingga persatuan dan persaudaraan akan terujud secara alami
dalam kehidupan mereka.

5.1.6.1. Hubungan Baik antarTetangga


Hubungan baik antar tetangga sering disebut dengan istilah silaturrahim.
Istilah ini berasal dari dua suku kata, yaitu shilah yang artinya hubungan dan
rahim, yang artinya kasih sayang. Dengan demikian, silaturrahim mengandung
makna hubungan kasih sayang yang terjalin berkelindan, antar tetangga dan antar
anggota masyarakat. Tetangga merupakan kelompok yang paling penting dalam
kehidupan masyarakat, karena merekalah yang paling dekat dengan lingkungan
kita. Segala hal yang terjadi dalam lingkungan kita, baik yang menyenangkan
ataupun yang menyedihkan, selalu meminta bantuan kepada tetangga. Kita
mungkin punya saudara yang tinggal di tempat yang jauh, saudara kita itu tidak
mungkin dapat dimintai bantuan secara cepat dan mendadak. Melihat kenyataan

103
ini, maka hubungan kasih sayang sesama tetangga dalam suatu msyarakat menjadi
sangat penting.

Dalam kehidupan modern yang disebut tetangga, tidak saja orang-orang


yang tinggal dekat dengan rumah kita, seperti konsep tetangga pada masa lalu,
tetapi konsep tetangga sekarang menjadi makin luas. Hal ini disebabkan terjadi
kemajuan yang luar biasa di bidang teknolgi informasi, transportasi, hubungan
profesi dan sebagainya. Tetangga kita dapat juga berupa teman-teman kantor kita,
meskipun tinggalnya berjauhan. Termasuk dalam kategori tetangga ini adalah
teman-teman seprofesi, teman dalam suatu organisasi, teman dalam berolah raga,
dan teman sejawat. Silaturrahmi antar tetangga tidak hanya dilakukan dengan
saling berkunjung, tetapi juga dilakukan dengan sikap yang ramah dan simpati,
memberi perhatian dan bantuan kepada tetangga pada saat mereka menghadapi
kesulitan, saling berpesan tentang kebaikan dan kesabaran, saling ingat
mengingatkan agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang tercela.

5.1.6.2. Kepedulian Sosial


Setiap diri manusia pada dasarnya memiliki kelebihan-kelebihan dan
kekurangan-kekurangannya. Ada diantara mereka yang memiliki kelebihan di
bidang materi, tetapi memiliki kekurangan di bidang lainnya. Ada diantara mereka
yang tidak memilki kelebihan materi, tetapi memiliki kelebihan dalam mental dan
spiritual. Berdasarkan kenyataan ini, sesama umat manusia harus memiliki
kepedulian sosial yang tinggi dalam rangka memberikan sesuatu yang dimiliknya
kepada orang lain dan sekaligus ia pun memperoleh sesuatu yang tidak
dimilikinya dari orang lain yang memilikinya. Orang-orang fakir miskin tidak
memiliki kekuatan ekonomi, tetapi ia memiliki banyak waktu dan tenaga yang
dapat diberikan kepada orang lain yang membutuhkannya.

Dengan kepedulian sosial, akan terjalin suatu masyarakat yang penuh


rahmat dan berkah, ditandai dengan hilangnya atau makin mengecilnya jurang
pemisah antara kaum kaya (the have), dan kaum miskin (the have not).
Terbentuklah suatu masyarakat yang sangat harmonis, mereka yang kuat dan kaya
melindungi yang lemah dan miskin, mereka yang miskin dan lemah menghormati
yang kuat dan kaya, saling mewujudkan kebaikan dan kemashlahatan, saling
mencegah segala macam perbuatan keji dan tercela. Kepedulian sosial merupakan
aktifitas yang bersifat suka rela, yang tidak dapat dipaksakan, akan tetapi tumbuh
dan berkembang dari kesadaran yang tulus untuk memberikan sebagian yang
dimilikinya kepada orang lain yang amat membutuhkan. Wujud kepedulian itu
dapat berupa bantuan ekonomi, keuangan, berbagi ilmu dan pengetahuan, berbagi
pengalaman dan memberikan nasehat-nasehat yang diperlukan oleh masyarakat.

5.1.6.3. Kehidupan Berbangsa dan Bernegara


Dalam perkembangan selanjutnya, masyarkat yang terdiri atas kumpulan-
kumpulan keluarga, tumbuh makin luas menjadi suatu bangsa. Bangsa merupakan
kumpulan dari masyarkat yang bersatu dalam rangka melindungi kepentingan-
kepentingannya yang tidak mungkin dapat di atasi oleh suatu kelompok saja.

104
Manusia yang merupakan bagian dari masyarakat, tidak dapat terlepas dari
kondisi wilayah yang didiaminya. Tata cara kehidupan manusia, seperti cara
berpikir, cara bergaul dan cara hidupnya, akan selalu dipengauruhi oleh konstalasi
eilayah, seperti bentuk, letak, iklim, dan sumber daya alam yang ada. Bangsa dan
negara melindungi warga dengan berbagai budaya, adat, kebiasaan, agama,
karakter dan sebagainya.

Selain untuk mewujudkan kepentingan bersama dari warga negara, bangsa


juga menetapkan suatu identitas nasional yang mempersatukan perbedaan-
perbedaan yang terjadi diantara warganya. Setiap warga negara harus memperoleh
keadilan dan persamaan hak untuk memerankan dirinya dalam komunitas
nasional. Perbedaan-perbedaan dengan segala macam dan coraknya yang berada
dalam Negara Indonesia, yang dihuni oleh ratusan juta penduduk, ribuan pulau
dan suku memiliki potensi, baik potensi yang menguntungkan ataupun potensi
yang merugikan. Potensi yang menguntungkan, misalnya apabila kemampuan-
kemampuan yang dimiliki rakyat dapat dipersatukan dan digalang sedemikian
rupa, sehingga menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi warga
negara dan bangsa-bangsa lain. Potensi yang tidak menguntungkan dapat terjadi
dengan perbedaan suku bangsa wilayah, ras, adat, agama, apabila tidak dapat
dimanage dengan baik, dapat menimbulkan konflik kepentingan yang dapat
menjurus pada kerusuhan sosial.

Spirit persaudaraan dan persatuan merupakan modal dasar yang sangat


potensial bagi bangsa dan Negara Indonesia agar terjamin eksistensi dan keutuhan
wilayahnya. Semangat itu telah dirintis sejak masa perjuangan sebelum Indonesia
mencapai masa kemerdekaan sampai menjelang kemerdekaan dan sesudahnya.
The Founding Father atau para pendiri negara kita, yang telah berjuang dengan
penuh semangat dan ketulusan yang maksimal dan kemampuan yang luar biasa,
mereka telah merumuskan bentuk negara, dasar negara, serta arah dan tujuan yang
harus dicapai. Rumusan itu tel;ah disipakan selama ratusan tahun dengan melalui
berbagai pertemuan, permusyawaratan, konggres, muktamar, sampai menjelang
detik-detik waktu datangnya kemerdekaan bangsa kita. Berdasarkan perjuangan
yang sungguh-sungguh dan kegiatan yang sangat tabah, dengan mengakomodasi
kearifan lokal dan kearifan internasional, terbentuklah Negara kesatuan Indonesia
dengan dasar Negara Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Pondasi untuk mewujudkan Negara Indonesia modern yang akan meraih


kemajuan di mas yang akan datang, telah ditegakkan oleh para petinggi negara.
Namun demikian, nasib bangsa kita di masa depan akan ditentukan oleh generasi
penerusnya. Apabila generasi penerus itu merupakan generasi berkualitas,
memahami dan memperjuangkan apa yang telah dicetuskan oleh para pendiri
negara, maka negara yang tercinta ini akan mencapai kemajuan yang gemilang,
sejajar dengan negara-negara lain telah meraih kemajuan. Sebaliknya, apabila
generasi penerus kita, menjadi generasi yang lemah dan tidak berkualitas, dan
hanya menjadi generasi hasil generasi sebelumnya, maka bangsa negara kita

105
memiliki masa depan yang suram yang akan menjadi makanan negara-negara lain
dan menjadi bahan tertawaan mereka.

Agar mencapai kesatuan dan persatuan bangsa dan Negara Indonesia,


diperlukan kesadaran bagi setiap warga negara untuk berpikir dan melihat masa
depan, dengan memenage perbedaan-perbedaan yang ada sebagai suatu kekuatan,
dan memanfaatkan potensi yang dimiliki negara untuk kejayaan dan kesejahteraan
rakyat. Negara telah memfasilitasi seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai
sarana seperti dasar negara Pancasila, bahasa nasional (Bahasa Indonesia), dan
hukum nasional yang memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada warga
negara. Pancasila sebagai dasar negara, sekaligus sebagai ideologi dan falsafah
hidup Bangsa Indonesia mengandung ajaran yang sangat luhur, yang dapat
menciptakan kehidupan sosial yang harmonis. Kesadaran dan kesungguhan setiap
warga negara dalam mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang digali dari budaya kita
tersebut, merupakan modal dasar bagi terbentuknya bangsa dan negara yang
dicita-citakan.

Sebagai bangsa dan negara yang terbuka, serta terletak di posisi yang
strategis di tengah percaturan dunia, maka tantangan yang dihadapi tidak hanya
datang dari dalam, tetapi juga datang dari luar. Arus informasi dan komunikasi
global yang berkembang melalui media cetak dan elektronik, terus menyerbu
segala aspek dari kehidupan bangsa dan negara. Telah disadari secara seksama
bahwa pengaruh dari luar itu tidak semuanya baik, tetapi juga banyak
pengaruhnya yang tidak baik. Untuk menghadapi kenyataan ini, setiap diri Bangsa
Indonesia harus dapat membekali dirinya dengan suatu kemampuan yang sangat
cerdas untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana
yang terpuji dan mana yang tercela, sekaligus dapat mengaplikasikannya dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.

Budaya dan peradaban terus berkembang dengan pesat baik perkembangan


dari dalam maupun dari luar, termasuk yang menimbulkan ekses negative, karena
itu diperlukan upaya secara sadar dan terpola dengan baik agar perkembangan
kebudayaan dan peradaban bangsa tetap menjunjung tinggi nilai etika dan estetika
yang diajarkan oleh akhlak yang terpuji. Meningkatnya kasus-kasus kejahatan di
tengah masyarakat dengan berbagai jenisnya hendaknya dijadikan pelajaran untuk
melakukan antisipasi yang tepat bagi perkembangan masa depan, dengan
demikian kejahatan-kejahatan itu tidak terulang kembali.

Masyarakat umum dan rakyat kecil, pada umumnya selalu mengambil


contoh dari perilaku para elit politik dan para pemimpinnya. Apa yang dilakukan
mereka, secara cepat langsung ditiru oleh rakyatnya. Pada saat pemimpin-
pemimpin mereka mengenakan baju batik atau mengendarai sepeda, penggunaan
baju batik dan bersepeda langsung berkembang di masyarakat kecil. Demikian
juga, apabila para pemimpinnya memamerkan kehidupan yang serba glamour dan
mengarah kepada hedonisme dan konsumtivisme, maka pasti akan ditiru oleh
rakyatnya. Memperhatikan kenyataan itu, maka para elit politik dan para

106
pemimpin memiliki peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi dan
membentuk perkembangan dan peradaban bangsa. Keteladanan para pemimpin
merupakan wujud yang nyata bagi pembentukan masyarakat yang baik dan
berperadaban yang tinggi.

5.2. Akhlak dalam Masyarakat Majemuk dan Global

5.2.1. Menggalang Potensi dan Memanage Perbedaan


Masyarakat di Indonesia seperti juga masyarakat lain di seluruh dunia,
merupakan masyarakat majemuk dan global, terdiri atas berbagai macam ras,
suku, agama, golongan, adat istiadat yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan dari sumber kepercayaan,
keyakinan, ajaran, adat istiadat, etika, dan moral. Perbedaan itu seharusnya
diarahkan untuk mendatangkan manfaat yang besar, misalnya: (1) berlomba untuk
mewujudkan kebaikan, (2) mengembangkan saling pengertian, (3)
mengembangkan pemahaman terhadap kelompok lain, (4) mengembangkan
toleransi, (5) mengembangkan kelapangan dada dalam menghadapi perbedaan-
perbedaan yang terjadi.

Setiap kelompok dan golongan serta para pemeluk agama hendaknya tidak
mempersoalkan perbedaan diantara mereka, tetapi justru diarahkan agar saling
belomba untuk berbuat kebajikan antara sesama. Misalnya, membantu para fakir
miskin, mengusahakan tempat-tempat pendidikan bagi rakyat miskin, menyantuni
dan mengelola anak-anak yatim-piatu, melakukan pengelolaan pendidikan suku
terasing, dan berbagai kebajikan lain. Mengembangkan saling pengertian,
dilakukan dengan memahami secara baik terhadap filsafat kehidupan dari
kelompok atau sukunya, memahami agamanya dengan baik, dan mengerti
keyakinan yang dimiliki orang lain. Hal ini dikembangkan juga untuk
menumbuhkan saling pengertian di dalam kelompok dan agamanya masing-
masing. Karena, konflik yang sering terjadi bukan saja disebabkan oleh antar suku
atau antar agama tetapi juga terjadi dalam suku dan agama yang sama. Misalnya,
permusuhan antar golongan dan sekte dalam satu agama.

Mengembangkan pemahaman terhadap kelompok lain maksudnya, kita


saling menyadari bahwa kita memiliki kepercayaan yang kita yakini dan orang
lain pun memiliki kepercayaan yang diyakininya juga. Apabila keyakinan kita
tidak mau diusik orang lain maka kita pun tidak boleh mengusik keyakinan orang
lain, biarkan keyakinan itu berkembang secara alami dan berkembang menurut
tuntunan yang diyakininya. Mengembangakan toleransi (tasamuh), hendaknya
kita tidak merasa keberatan dengan pandangan orang lain yang berbeda dengan
kita. Dengan demikian, tidak terjadi saling memaksa antara satu kelompok dengan
kelompok yang lain, dalam hal keyakinan dan kepercayaan. Mengembangkan
kelapangan dada, dilakukan dengan sikap toleransi yang sangat luas sehingga
dada kita selalu lapang dan tidak sempit dalam menyikapi berbagai perbedaan,
baik berupa keyakinan, kepercayaan, adat istiadat dan filsafat hidup.

107
Sesungguhnya dalam perbedaan-perbedaan yang disebutkan di atas
banyak dijumpai persamaan-persamaan, bahkan perbedaannya amat sangat
sedikit. Akhlak dan budi pekerti terpuji, misalnya bersifat universal dan banyak
persamaan-persamaan bukan saja dalam suatu bangsa, bahkan persamaan itu
banyak dijumpai juga dalam bangsa-bangsa lain. Berbakti kepada orang tua
misalnya, berbuat baik kepada sesama, menegakkan sopan santun, pergaulan yang
ramah, penerimaan yang simpatik, dan lain sebagainya merupakan suatu contoh
akhlak yang bersifat universal yang diakui oleh berbagai lapisan masyarakat.
Secara umum, akhlak yang harus diterapkan dan diaplikasikan dalam masyarakat
global adalah selalu memperhatikan sikap terhadap orang lain sebagaiman sikap
terhadap kita sendiri. Tidaklah beriman salah satu diantara kita, sehingga kita
mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri kita sendiri.

Yang amat perlu diwaspadai dalam kehidupan masyarakat adalah


menonjolnya kepentingan politik pribadi, kepentingan ekonomi dan
memperebutkan kedudukan dengan mengatasnamakan agama atau suku tertentu.
Hal ini sering dilakukan oleh oknum-oknum tertentu dengan tujuan supaya
mendapat dukungan yang luas. Dengan demikian, oknum itu telah
menyalahgunakan agama atau suku tertentu untuk kepentingan dirinya, dalam
rangka memperoleh kedudukan, meraih kehidupan ekonomi dan kemewahan
duniawi. Berbagai pertikaian terjadi di tanah air kita dan di seluruh dunia, yang
mengatasnamakan agama, sebenarnya adalah berdasarkan pada kepentingan
pribadi. Tidak ada konflik dan kerusuhan yang disebabkan secara murni oleh
ajaran agama. Yang ada oknum-oknum tertentu atau kelompok tertentu yang
menggunakan sentimen agama untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya.
Semua agama mengajarkan pemeluknya agar berbuat baik antar sesama,
menegakkan keadilan, dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Mengapa orang-orang dan kelompok tertentu sering


mengkambinghitamkan agama untuk melakukan tindakan makar, hal ini
dilakukan dengan tujuan supaya perjuangannya yang di dasarkan pada
kepentingan pribadi dan golongan supaya mendapat dukungan yang luas. Apabila
ia berjuang, si A misalnya, dengan mengatasnamakan dirinya sendiri siapa yang
akan mendukungnya. Tetapi begitu mengatasnamakan agama, dengan segera
mendapat dukungan yang luas dan bersifat fanatik. Masyarakat dunia harus cepat
disadarkan mengenai perilaku menyimpang ini, agar tidak tertipu oleh orang-
orang yang berkecenderungan merusak peradaban yang luhur. Penerapan akhlak
dan budi pekerti dalam masyarakat majemuk dan global merupakan tanggung
jawab yang harus ditegakkan oleh setiap diri manusia yang menghendaki
kedamaian dan kemuliaan dalam masyarakat global.

108
5.3. Akhlak dalam Kehidupan Akademik dan Profesi

5.3.1. Akhlak dalam Kehidupan Akademik


Akademik menurut pengertian sederhana adalah suatu yang berhubungan
dengan kegiatan ilmiah; bersifat ilmu pengetahuan; bersifat teori. (KBBI, 2002:
16). Dengan demikian, kehidupan akademik menunjukkan ciri-ciri kehidupan
tertentu dalam berpikir dan bersikap. Ciri pemikiran tersebut bersifat kritis,
sistematis, kreatif, dan objektif yang didasarkan pada sikap rasional dan filosofis.
Dalam kehidupan akademik akhlak dan budi pekerti mewarnai nuansa keilmuan
dan istilah yang biasa dipergunakan adalah etika keilmuan. Etika keilmuan
menurut Irmayanti M. Budiyanto, etika keilmuan memiliki prinsip etis yang
berlandaskan pada apa yang harus dilakukan dalam ilmu pengetahuan dan apa
yang secara normatif harus dilakukan seorang ilmuwan. Dalam etika keilmuan
tersebut, keharusan moral merupakan persoalan pokok yang mengacu pada
elemen kaidah moral, yaitu (1) hati nurani, (2) kebebasan dan tanggung jawab, (3)
nilai dan norma yang bersifat kegunaan. (Munjilan, 2007: 107).

Perilaku manusia baik yang nampak maupun yang tersembunyi semuanya


bersumber pada hati nuraninya. Apabila hati nuraninya baik dan jernih akan
memancarkan kebaikan dan perilaku yang terpuji, sebaliknya apabila hati
nuraninya ternoda akan memancarkan perbuatan yang buruk dan tercela. Karena
itu, hati nurani merupakan penentu bagi perilaku seseorang. Hati nurani
diibaratkan seperti cermin, sebagai cermin ia dapat menjadi sangat kotor sehingga
orang yang bercermin padanya tidak dapat melihat raut mukanya dengan jelas.
Sebaliknya apabila cermin itu sangat bersih, hingga orang yang bercemin
kepadanya sangat jelas. Jernih atau keruhnya cermin tersebut sangat ditentukan
oleh pemiliknya (manusia), apakah ia rajin membersihkannya atau
membiarkannya kotor dan ternoda. Hati nurani selalu berkaitan dengan kesadara
manusia dan terkait dengan perilakunya. Dengan hati nurani manusia dapat
mengenali dirinya dan mengenali orang lain dengan baik. Seorang ilmuwan dalam
melakukan aktifitas ilmiahnya harus dapat menghayati dan sekaligus
membedakan antara yang baik dan terpuji atau yang buruk dan tercela,
merealisasikan yang terpuji itu, serta menolak yang buruk atau tercela.

Seorang ilmuwan memiliki kebebasan dalam menggunakan paradigma


yang diingininya, bebas melakukan objek penelitian, demikian juga
metodologinya. Namun demikian, kebebasan itu selalu terbatas karena ditentukan
oleh beberapa faktor, misalnya aturan-aturan dalam suatu institusi, sumber dana,
dan kemampuan intelektual yang terbatas. Ilmuwan harus pandai memilah dan
memilih agar kebebasan yang dimilikinya menjadi sangat bermakna.
Kebebasannya juga akan dikaitkan dengan tanggung jawabnya, kebebasan dan
tanggung jawab merupakan dua hal yang tidak dapat diceraipisahkan. Kaidah
berikutnya yang dimiliki para ilmuwan adalah nilai dan norma moral, nilai moral
akan muncul dan beradaptasi dalam perilaku seseorang dengan nilai-nilai lain,
seperti nilai agama, hukum, dan nilai budaya. Nilai moral selalu berkaitan dengan
tanggunjawab seseorang dan sangat menentukan apakah seorang ilmuwan berlaku

109
baik atau buruk dari segi etis. Ilmu pengetahuan yang baik adalah ilmu yang dapat
diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat dan dapat mendatangkan
kemaslahatan secara menyeluruh.

5.3.2. Kehidupan Profesi


Pengembangan profesi yang dimiliki seseorang, merupakan suatu kegiatan
yang terus menerus dilakukan dan berkesinambungan. Dalam pengembangan
profesi yang dimiliki seseorang ditentukan juga oleh etika profesi. Etika ini akan
sangat menentukan hasil dari profesi yang di kembangkan seseorang, apakah akan
mendatangkan hasil yang baik atau kurang baik. Di samping ditentukan oleh SDM
yang berkualitas, terampil dalam mengolah dan menguasai teknologi, tetap
memerlukan pijakan dalam mengarahkan dan mengembangkan profesinya yang
berkaitan dengan pengembangan moral dan sikap yang tepat serta bijaksana. Etika
profesi merupakan bagian etika secara umum yang membahas secara khusus
tentang etika yang berkaitan dengan profesi tertentu, misalnya profesi wartawan,
insinyur, dokter, ahli sastra, ahli hukum, dan sebagainya. Dari profesi tersebut,
sebagai suatu pekerjaan yang tetap, akan menghasilkan keuangan yang digunakan
untuk kepentingannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tenaga professional selalu terkait dengan pemakai jasa dari aktifitas


professionalitasnya, karena itu, ia layak memperoleh honor atau pembayaran yang
seimbang dengan pekerjaannya. Keterkaitan seseorang professional dengan
pemakai jasa atau klien, berdasarkan Surat Perjanjian Kerja (SPK) atau kontrak
kerja yang telah disepakati bersama. Karena itu, tenaga professional harus
melindungi kepentingan pemakai jasa atau kliennya. Selain terkait dengan kontrak
kerja kedua belah pihak juga harus mempertimbangkan aspek-aspek moral dan
perkembangan etis yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Kegiatan professional harus berdasarkan kepada kepentingan umum dan


kepentingan pribadi. Kepentingan umum maksudnya bahwa aktifitas profesional
itu tidaklah semata-mata sebatas sesuai dengan pembayaran, tetapi juga memiliki
misi luhur yang bersifat pengabdian kepada masyarakat. Kepentingan pribadi
maksudnya bahwa para pelaku profesional itu berhak memperoleh upah atau
bayaran yang layak untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Pemenuhan
kepentingan pribadi dan keluarga harus selalu diimbangi dengan kepentingan
masyarakat yang lebih luas. Karena itu, seorang professional harus bersifat peka
terhadap perkembangan dan kebutuhan yang tumbuh dalam masyarakat.

Pengembangan selanjutnya, dari etika profesi adalah dirumuskanya


mengenai kode etik profesi, sebagai kelanjutan etika profesi yang berlaku pada
komunitas tertentu yang memiliki keahlian yang sama. Misalnya: kode etik
kedokteran, kode etik jurnalistik, kode etik guru dan dosen, dan sebagainya. Kode
etik profesi merupakan aturan-aturan yang jelas dan detail yang berkaitan dengan
nilai dan norma yang diterapkan dalam profesi itu, termasuk persyaratan dan
keterikatan yang bersifaat etis, yang harus ditaati oleh anggotanya. Apabila terjadi
pelanggaran terhadap kode etik profesi, maka pelanggarnya dikenakan sanksi

110
sesuai dengan apa yang ditetapkan dalam kode etik itu. Pengenaan sanksi terhadap
para pelanggar kode etik, merupakan penegakkan disiplin dan pertanggung
jawaban moral dalam dunia profesinya.

Etika profesi menetapkan beberapa tujuan, diantaranya: (1) memberikan


bimbingan pada anggota dalam suatu profesi tentang hal-hal yang baik, yang
harus dilakukan dan hal-hal buruk yang harus ditinggalkan. (2) mengarahkan
tumbuhnya kepedulian etis yang mendalam dan luas tentang perkembangan
manusia yang terus berhadapan dengaan kemajuan ilmu dan teknologi. (3)
memperluas wawasan para tenaga professional yang terikat pada profesi itu
dalam pengambilan keputusan dan memperluas layanan umum, sesuai dengan
profesi yang dikembangkannya.

5.3.3. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Tidak dapat disangkal bahwa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi, telah memberikan manfaat yang besar dalam hidup dan kehidupan
manusia. Manfaat itu berupa kemajuan dalam berbagai bidang seperti ekonomi,
transportsi, akomodasi, informasi, komunikasi dan sebagainya. Sesuatu yang
dulunya dianggap sulit, dengan sentuhan ilmu dan teknologi menjadi makin
mudah. Jarak perjalanan yang mestinya ditempuh dengan waktu yang lama dapat
ditempuh dengan waktu yang sangat singkat. Ketersediaan tempat tinggal yang
mewah, kendaraan yang memadai, bahan makanan dan pakaian yang melebihi
kecukupan, merupakan wujud dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun demikian, kemajaun sains dan teknologi juga mendatangkan efek samping
yang merugikan manusia, seperti pencemaran udara, penggundulan hutan,
kerusakan di darat dan laut, meningkatnya kemerosotan akhlak dan tingginya
angka kriminalitas, serta berbagai efek samping lainnya. Untuk mengantisipasi
dampak negatif dari ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dilakukan secara
simultan dan bekesinambungan oleh seluruh kalangan secara bersungguh-
sungguh, dan harus selalu melakukan upaya untuk menegakkan akhlak dan budi
pekerti yang luhur. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dan diterapkan secara
bersungguh-sungguh adalah:

5.3.4.1 Kejujuran dalam Berbagai Aspek


Kejujuran merupakan sikap terpuji yang harus dimiliki oleh setiap orang
yang ingin meraih kesuksesan, baik pada masa kini maupun masa depan,
termasuk para pelaku professional. Dengan demikian tidak akan terjadi hal-hal
yang merugikan antara satu dengan yang lainnya. Antara para profesional dan
kliennya, antara sesama anggota organisasinya dan berbagai pihak yang
bersentuhan langsung dengan profesionalitas yang dikembangkan. Dengan sikap
itu, tidak akan terjadi manipulasi data, pelanggaran hak intelektual, plagiat,
komersialisasi kedudukan, penekanan terhadap para pekerja secara berlebihan dan
tidak mungkin terjadi adanya pemaksaan dari pihak yang kuat kepada pihak yang
lemah. Kejujuran amat dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan manusia,
apalagi yang bersentuhan dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Ilmu
pengetahuanm, teknologi dan seni apabila tidak dikelola dengan kejujuran maka

111
akan menimbulkan dampak negatif dan bahaya yang sangat besar dalam
kehidupan masyarakat. Misalnya, penyalahgunaan zat kimia untuk pemusnahan
manusia secara masal (genosida), ekploitasi tenaga kerja secara berlebihan untuk
kepentingan pemilik perusahaan, pemanfaatan kekayaan alam secara berlebihan
dan tidak dibarengi dengan usaha pelestariannya kembali.

5.3.4.2. Kemashlahatan Umum


Salah satu tujuan dari pengembangan sains, teknologi, dan seni adalah
untuk mendatangkan kemashlahatan bersama dan kelestarian kehidupan alam
semesta. Dengan cara ini, maka sains, teknologi, dan seni dapat meningkatkan
harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan yang diberi amanat untuk
mengkelola alam semesta bagi semua makhluk. Peradaban yang luhur, akan dapat
dilahirkan dari masyarakat yang menjunjung tinggi kemashlahatan umum serta
melestarikan nilai-nilai luhur manusia. Kemaslahatan umum dapat terwujud dari
ketaatan pada nilai-nilai etika dan kode etik profesi. Kepentingan berbagai pihak,
termasuk kepentingan antara pelaku dan pengguna jasa harus diletakkan secara
professional dan komprehensif, sehingga tidak bersifat setengah-setengah, yang
baik untuk sebagian kelompok tetapi buruk untuk kelompok lain. Karena tujuan
dari pengembangan sains, teknologi, dan seni adalah kemaslahatan umum, maka
segala hal yang mengarah pada sesuatu yang membahayakan harus dihilangkan
dan dihindari.

5.3.4.3. Berpikir Rasional dan Filosofis


Salah satu cirri berpikir filosofis adalah berpikir secara kritis dan
argumentatif. Berpikir kritis adalah suatu usaha berpikir yang sengaja dilakukan
secara aktif, sistematis, argumentatif, mengikuti prinsip-prinsip logika serta
mempertimbangkan sudut pandang untuk dapat memahami apakah sesuatu itu
dapat diterima atau ditolak. Dengan berpikir rasional dan filosofis, akan
mengantarkan seseorang bersikap arif, dan memiliki wawasan yang luas terhadap
berbagai permasalahan yang dihadapi manusia. Seseorang diharapkan mampu
memecahkan permasalahan tersebut dengan cara mengidentifikasinya agar
memperoleh jawaban-jawaban yang diusahakannya secara mudah. Selanjutnya
berpikir filosofis juga dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang secara
lebih kritis atas pandangan hidup, ide-ide yang muncul karena keinginannya.
Berpikir rasional dan filosofis sangat diperlukan agar produk-produk
pemikirannya benar-benar tepat, dapat dipertanggung jawabkan dan memberikan
manfaat yang luas.

5.3.4.4. Bersikap Objektif


Sikap objektif merupakan salah satu ciri dari sikap kalangan professional,
karena itu pengembangan sains, teknologi dan seni harus diarahkan kepada
kondisi yang objektif secara maksimal. Setiap kegiatan para professional itu harus
dilakukan seobjektif mungkin, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih
menyelururh. Seorang dosen harus menilai mahasiswanya dengan objektif sesuai
dengan kemampuaan mereka, tidak boleh mempertimbangkan karena kedekatan

112
mahasiswa dengna dosennya, karena hubungan kedaerahan atau (karena sikap
subjektif lainnya). Seorang dokter, pada saat ia menuliskan resep untuk pasiennya
harus bersikap objektif dalam menentukan obat, sesuai dengan kegunaannya,
jangan mempertimbangkan tawaran dari peerusahaan-perusahaan obat tertentu
yang menawarkan imbalan materi. Seorang Hakim harus menetapkan hukum
secara objektif tidak boleh menetapkan hukum dengan cara subjektif sehingga
keputusannya tidak adil, dan tidak diperkenankan juga untuk mengambil imbalan
materi yang tidak halal dari aktifitas profesinya.

5.4. Akhlak dalam Pelestarian Lingkungan Hidup


Akhlak dan budi pekerti mengantarkan manusia agar memahami secara
sungguh-sungguh terhadap alam semesta dengan segala peristiwanya yang
menakjubkan. Semua benda-benda alam tidak terpisah secara sendiri-sendiri,
tetapi saling terkait dan berkelindan serta memiliki hubungan yang sangat erat.
Pergerakan dan perkembangan alam terjadi secara beraturan dan bersifat
seimbang. Melalui pendekatan akhlak dan budi pekerti alam dapat dibagi secara
garis besarnya dalam lima tingkatan, yaitu: (1) alam mineral, (2) alam tumbuh-
tumbuhan (flora), (3) alam hewani (fauna), (4) alam insani (manusia), (5) alam
ruhani. Masing-masing bagian dari alam tersebut memiliki kedinamisan,
kebutuhan, dan kekuatan sendiri-sendiri dalam suatu tatanan yang sangat
harmonis, satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Sebagai gambaran dari
keharmonisan hubungan antara benda-benda alam tersebut, dilukiskan oleh Rumi
dalam suatu puisinya.

Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuh-tumbuhan


Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir hewan
Aku mati sebagai hewan dan kini menjadi manusia
Suatu hari nanti, aku akan mati sebagai manusia,
dan melambung bersama para malaikat....
(Robert Freger, 2003: 137)

Dari puisi di atas, terungkap dengan jelas mengapa dan bagaimana


hubungan antara benda-benda alam yang bersifat serasi dan seimbang. Kerena itu,
dalam bimbingan akhlak, manusia diarahkan agar menjaga kelestarian alam secara
sungguh-sungguh dan selalu berusaha untuk menghindari kerusakan dan
pencemarannya. Akhlak dan budi pekerti diterapakan secara sungguh-sungguh
terhadap lima kelompok alam tersebut. Dengan penerpan akhlak dan budi pekerti
maka kelestarian alam dan lingkungan itu akan terjaga dengan baik. Manusia
harus memiliki akhlak yang luhur terhadap alam tersebut dengan sikap yang
santun serta melindungi, termasuk terhadap alam mineral sekalipun. Hindari suatu
pandangan yang menganggap alam hanya semata-mata sebagai objek dari ambisi
manusia modern melalui sains dan teknologinya. Mereka mendominasi dan
mengeksploitasi alam secara tidak beradab untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu
yang terus meningkat dan tidak pernah merasa puas. Pandangan seperti itu akan
merusak kelestarian alam, yang mengakibatkan dan menimbulkan keganasan

113
alamiah, dan alam itu sendiri menjadi hilang kemampuannya untuk memberikan
sumber dayanya yang dermawan dan kaya dalam rangka mempertahankan
keseimbangan ekologisnya.

Demikian tingginya perhatian dan penghormatan orang yang memiliki


akhlak yang luhur dan budi pekerti yang terpuji, yang sering disebut sebagai kaum
sufi, mereka menempatkan alam dengan segala tingkatannya seperti dikemukakan
di atas dengan sebutan jiwa (al-nafs). Mereka menyebutnya dengan jiwa mineral,
jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa hewani, jiwa insani atau manusia dan jiwa ruhani.

5.4.1. Alam Mineral


Semua alam mineral, baik padat, cair maupun gas, merupakan tingkatan
alam yang lebih sederhana apabila dibandingkan dengan alam-alam lain yang
memiliki daya yang lebih banyak seperti flora atau fauna. Alam mineral atau alam
jamadi terdiri atas benda-benda mati dalam berbagai bentuk dan jenisnya, seperti
benda padat, benda cair, dan gas. Sikap akhlak terhadap alam ini, hendaklah
manusia memanfaatkannya dengan baik dan tidak merusak. Termasuk sikap
akhlak kita terhadap benda mati hendaklah menempatkan benda itu pada proporsi
yang sebenarnya, sesuai dengan fungsinya masing-masing. Manusia tidak boleh
mengeksploitasi benda alam tersebut secara berlebihan dan menyimpang dari
keserasian dan keteraturannya. Sikap manusia terhadap alam ini akan
menimbulkan dampak yang baik atau buruk, tergantung perlakuan manusia
terhadapnya. Apabila manusia berlaku baik, maka alam tersebut akan
mendatangkan kebaikan. Sebaliknya apabila manusia melakukan kerusakan
terhadapnya, maka akan membahayakan manusia itu sendiri. Ketidak seimbangan
dalam alam mineral dapat membentuk dan menimbulkan keganasan secara
alamiah.

5.4.2. Alam Nabati


Alam nabati atau jiwa tumbuh-tumbuhan memiliki daya setingkat di atas
alam mineral, yaitu daya makan, tumbuh, dan berkembang biak. Alam ini
menjaga keseimbangan benda-benda alam lain secara keseluruhan. Manusia
memanfaatkan alam ini untuk nutrisi, seperti makanan pokok, sayuran, buah
dengan aneka macam jenis dan ragamnya. Kayunya dimanfaatkan untuk bahan
bakar, bahan bangunan, mebeler, bahan untuk kapal laut dan pesawat terbang,
serbuk kayu jenis tertentu dijadikan sebagai makanan pokok, seperti sagu dan
aren. Sebagian jenis kayunya dapat menghasilkan minyak, seperti minyak kayu
putih, minyak wangi yang diambil dari kayu cendana dan gaharu. Sebagian
buahnya dapat dijadikan bahan energi, seperti jarak, dan tumbuhan lainya yang
menghasilkan biodiesel, dijadikan minyak goreng (palem oil) seperti, kelapa dan
kelapa sawit, serta aneka macam tumbuhan lain dari berbagai jenis tumbuh-
tumbuhan yang ada pada alam semesta.

Penerapan akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan, diarahkan agar manusia


bersikap ramah terhadap alam tersebut, boleh memanfaatkannya dengan baik dan
menjaga kelestariannya, seperti pelestarian hutan, pengembangan hutan bakau,

114
reboisasi, dan berbagai aktifitas lain yang dapat menjaga kelestarian alam dan
lingkungan. Bersikap ramah dan bersahabat bersama alam, termasuk alam
tumbuh-tumbuhan dan alam mineral adalah dengan pemahaman yang baik,
seolah-olah kita bersikap terhadap makhluk yang bernyawa. Manusia dituntut
untuk menghormati proses-proses yang sedang tumbuh dan terhadap segala apa
saja yang ada dalam alam. Akhlak kepada alam, mengantarkan manusia untuk
memiliki tanggung jawab yang tinggi sehingga ia tidak melakukan perusakan
terhadap alam. Atau dengan istilah lain "setiap perusakan terhadap lingkungan
harus dinilai sebagai perusakan terhadapan dirinya sendiri". Dengan demikian
manusia yang berakhlak pasti tidak sejalan dengan pandangan sementara
kelompok yang menganggap alam hanya semata-mata sebagai alat untuk
kepentingan manusia belaka. Manusia harus membatasi diri dalam pemanfaatan
alam dan tumbuh-tumbuhan dan tidak terjerumus dalam pemborosan yang
berlebihan. Tidak ada kebaikan dalam pemborosan dan tidak ada pemborosan
dalam kebaikan, gunakan segala sesuatu secukupnya.

Salah satu bagian dari sikap akhlak terhadap alam tumbuh-tumbuhan


adalah menghilangkan praktik penebangan hutan secara liar, yang lazim disebut
illegal loging, menggalakkaan reboisasi dan pemeliharaan tumbuh-tumbuhan
dengan baik. Karena itu, setiap orang yang menanam pohon merupakan sesuatu
perbuatan yang terpuji dan mulia, karena pohon itu bermanfaat untuk oran lain,
juga termasuk untuk hewan ternak dan bangsa burung. Betapa pentingnya
pelestarian terhadap tumbuh-tumbuhan, sehingga agamapun sangat
memperhatikannya. Dalam suatu riwayat dikisahkan ada seorang pengikut Nabi
yang sangat setia, yang sangat rajin melakukan reboisasi dan menanam berbagai
jenis tanaman. Di tengah-tengah kesibukan melakukan reboisasi, ia ditegur oleh
beberapa orang dengan nada yang sinis: "Andakan seorang sahabat Nabi,
mengapa Anda bersikap rakus dengan menanam berbagai tanaman, padahal
seharusnya bersikap sederhana". Sahabat itu menjawab: "Janganlah kalian
terburu-buru menyalahkan aku. Aku melakukan hal ini hanya mengikuti tuntunan
Nabi: " Barangsiapa yang menanam tanaman lalu buahnya dimakan oleh manusia
dan oleh makhluk lain, maka hal itu merupakan sedekah baginya". (al-Qardlawi,
1997: 178).

Uraian di atas menginformasikan mengenai seorang yang salah memahami


suatu kegiatan reboisasi dan bercocok tanam yang dilakukan oleh seorang sahabat
Nabi, seolah-olah sahabat itu bersikap rakus terhadap kehidupan dunia, hingga ia
mengatakan: "Mengapa kamu lakukan kegiatan rebosasi, padahal engkau seorang
sahabat Nabi, seharusnya tidak bersifat rakus terhadap kekayaan dunia". Padahal
sahabat yang melakukan kegiatan itu adalah seorang sahabat Nabi yang sangat
sederhana tidak rakus terhadap kehidupan dunia. Menjawab pertanyaan yang
disebutkan di atas, sahabat itu berusaha meluruskan pemahaman yang sangat
keliru dari beberapa orang yang menegurnya. Bahwa sesungguhnya, ia melakukan
kegiatan itu, tidak ada hubungannya dengan kerakusan terhadap kehidupan dunia,
akan tetapi hanya melaksanakan suatu tuntunan agar setiap orang berusaha

115
melakukan reboisasi dan bercocok tanam, yang manfaatnya akan dirasakan oleh
manusia dan makhluk lain.
Merubah tanah yang tandus menjadi tanah yang subur, menghutankan
gunung-gunung dan tanah gersang yang gundul, memperbaiki tatanan kehidupan
dalam alam lingkungannya, merupakan suatu usaha yang sangat terpuji yang
dapat mendatangkan manfaat yang besar bagi sesama makhluk. Masih berkaitan
dengan akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan dan alam mineral, adalah menjaga
lingkungan dan kebersihan, dengan tidak membuang kotoran, buang air besar atau
kecil dalam air yang tergenang atu air yang mengalir. Larangan membuang
kotoran air seni dan sampah di jalan-jalan umum, atau di bawah pohon tempat
peristirahatan di tempat-tempat berteduh dan di sumber-sumber air yang bersih.
Hubungan antara manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan
sesamanya bukanlah merupakan hubungan antara seoranga penakluk dan yang
ditaklukkan, atau seorang majikan dengan budaknya, akan tetapi merupakan
hubungan kebersamaan dan kemitraan. Karena itu, manusia yang bertugas untuk
mengelola alam semesta harus melakukan interaksi dengan sesamanya dan
dengan alam lingkungannya harus bersikap harmonis dan serasi. Inilah prinsip
dasar yang harus dijadikan landasan dalam berinteraksi antarsesama manusia dan
keharmonisan hubungan itu pulalah yang menjadi tujuan dari akhlak dan budi
pekerti.

5.4.3. Alam Hewani


Dalam tinjauan akhlak, alam hewani memiliki potensi yang lebih lengkap
dari alam mineral maupun alam nabati. Selain memiliki potensi yang ada pada
kedua alam tersebut, alam hewani melengkapi dirinya dengan daya penggerak dan
daya pengindera. Potensi penggerak dibagi dua, yaitu pendorong dan pelaku
gerakan. Pelaku gerakan adalah potensi yang dikerahkan melalui urat saraf dan
otot, melalui urat nadi dan jaringan yang berhubungan dengan urat saraf. Proses
ini digunakan untuk melakukan suatu gerakan. Adapun yang dimaksud dengan
pendorong adalah potensi yang menimbulkan suatu gerakan, baik dengan cara
memunculkan gambaran sesuatu yang diinginkan di dalam khayal maupun tanpa
hal tersebut. Potensi pendorong ini dibagi menjadi dua, pertama dinamakan nafsu,
yang menimbulkan gerakan ke arah syahwat. Kedua, dinamai amarah, yang
merupakan potensi yang menimbulkan gerakan untuk menolak sesuatu yang
dianggap membahayakan dan merusak, sehingga berusaha menguasainya. Daya
pengindera yang ada dalam alam hewani terdapat dua bagian; (1) yang tampak
(lahir); (2) yang tidak tampak (batin). Indera yang bersifat lahir berupa
pancaindera (indera peraba, penciuman, perasa, penglihatan, dan pendengaran).
Sedangkan indera yang tidak nampak diantaranya adalah kemampuan
berimajinasi dan menyimpannya. Meskipun alam hewani memiliki potensi-
potensi yang disebutkan di atas, namun kemampuan dan kadarnya berbeda antara
satu jenis hewan dengan jenis lainnya.

Apabila penerapan akhlak manusia terhadap alam nabati saja harus


dianggap seolah-olah sebagai makhluk hidup, maka terhadap alam hewani harus
lebih meningkat lagi. Karena, alam hewani telah memiliki berbagai daya yang

116
mendekati daya manusia, seperti: panca indera, daya khayal, daya menyimpan
khlayalan dan sebagainya. Manusia boleh memanfaatkan alam hewani untuk
kepentingan yang bermanfaat, seperti memanfaatkan dagingnya, kulitnya, lemak,
tulang, dan berbagai hal yang dapat dimanfaatkan. Selain itu, hewan dapat juga
dimanfaatkan sebagai hiasan, sebagai hewan peliharaaan dan dipelihara sebagai
hobi dan kesenangan. Semua hal yang diperlakukan terhadap hewan tersebut tidak
boleh bersifat menyiksa atau menyakiti, misalnya dalam hal memotong hewan
disyaratkan menggunakan pisua atau alat potong yang tajam, sehingga tidak
menyiksa. Apabila memelihara harus dilakukan dengan baik, memberi makanan
yang cukup dan mengurusnya sesuai dengan yang dibutuhkan oleh hewan
peliharaannya. Dalam kajian agama misalnya, kita jumpai betapa tingginya
perhatiannya, agar manusia mengakkann akahlaknya yang baik terhadap alam
hewani, tergambar dalam uraian beikut.

Disebutkan dalam sabda Nabi, terdapat dua hal yang sangat kontras; (1)
disebutkan ada seorang wanita yang memasuki alam akhiratnya sangat menderita,
masuk dalam neraka, karena pada waktu hidup di dunia ia pernah mengurung
seekor kucing dalam kamarnya, sehingga kucing itu mati kelaparan, karena tidak
diberi makan dan tidak dilepas (Bukhari: 3223, Muslim: 4160). (2) dikisahkan ada
seorang wanita jalang yang sering berbuat keji, pada suatu saat ia mengadakan
perjalanan di tengah padang pasir. Pada saat ia kehausan, ia berusaha mencari
perigi atau oase untuk segera ia meminum airnya, agar menghilangkan dahaganya
yang sangat mencekam. Setelah ia berusaha dengan susah payah untuk mencari
air itu, ia jumpai sebuah oase yang di keliling bukit-bukit berbatu berada di dalam
tanah yang cukup jauh dan menyulitkan. Akhirnya dengan sangat berhati-hati ia
menuruni oase itu kemudian ia meminum airnya sepuas-puasnya. Setelah itu, ia
pun naik kembali ke atas. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ia jumpai
seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan mengibas-ibaskan ekornya. Wanita
jalang itu menyadari dan memahami bahwa anjing tersebut sedang ditimpa
kehausan yang dahsyat.

Memperhatikan kenyataan seperti itu timbul pada dirinya belas kasihan,


maka iapun kembali ke oase itu dan menuruninya untuk mengambil air bagi
anjing tersebut. Waktu ia mengambil air itu tidak ada alat untuk membawanya,
maka ia gunakan sepatunya untuk membawa air itu, karena naiknya susah,sepatu
itu ia bawa digigit dengan mulutnya. Sampai di atas, air tersebut diberikan pada
anjing yang kehausan tadi. Wanita jalang yang banyak melakukan perbuatan keji
itu, karena ia mengasihani hewan, meskipun wujudnya anjing, di akhirat ia
memperoleh balasan yang baik dan masuk surga (Bukhari: 2190, Muslim: 4162).
Dalam versi lain disebutkan bahwa waktu Nabi menginformasikan hal itu, banyak
sahabat bertanya, apakah dengan mengasihi seekor hewan akan mendapat balasan
kebaikan. Nabi menjawab: "pada setiap makhluk hidup (sekecil apapun), terdapat
kesempatan untuk berbuat baik" (Bukhari: 3268, Muslim: 4164).

Dari uraian di atas, kita dapat mengambil pemahaman yang sangat jelas
bahwa penerapan akhlak terhadap alam hewani merupakan suatu keharusan dan

117
sikap seseorang terhadap alam hewani akan menentukan kualitas akhlak dan budi
pekerti dari orang tersebut.

5.4.4. Alam Insani


Alam insani atau manusia memiliki daya-daya yang ada pada alam
mineral, alam nabati, dan alam hewani serta dilengkapi dengan daya-daya lain
yang mengantarkan dirinya pada kesempurnaan yang maksimal. Daya-daya yang
dimiliki manusia dan tidak dimiliki oleh makhluk nyata lainnya, adalah tiga
potensi yang sangat signifikan yaitu; (1) akal, (2) pikiran dan (3) kalbu. Sebagai
makhluk yang paling sempurna, manusia memiliki keistimewaan-keistimewaan
dan kelebihan-kelebihan yang luar biasa, apabila dibandingkan dengan makhluk-
makhluk lain. Keistimewaan yang dimilikinya bukan saja terletak pada kejadian
fisiknya (jasmaniah), tetapi juga pada kejadian ruhaniahnya. Kesempurnaan dan
kelebihan manusia pada bentuk fisik telah banyak dikaji dan dijelaskan oleh
disiplin ilmu, dalam berbagai uraian yang membandingkannya dengan makhluk
lain. Psikologi dan akhlak (tasawuf) adalah dua disiplin ilmu yang biasa
digunakan untuk membaca struktur kerohanian manusia. Khusus pada kejadian
ruhaniahnya, manusia juga memiliki kelebihan-kelebihan yang luar biasa yang
tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya.

Salah satu kesempurnaan manusia adalah sebagai makhluk yang berakal.


Akal merupakan substansi dan esensi untuk memahami segala sesuatu secara
rasional. Sedangkan kalbu merupakan penentu kualitas manusia. Ia memiliki
kedudukan yang sangat menentukan dalam sistem-sistem kehidupan manusia.
Kalbu menentukan diri seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau
meninggalkannya. Oleh karenannya, kalbu diberi beban pertanggung jawaban
terhadap apa yang diputuskannya. Dalam prespektif akhlak dan budi pekerti, akal
dan kalbu merupakan anugerah yang agung dan luhur, yang dapat membedakan
manusia dengan makhluk lain. Oleh karena kepemilikan akal dan kalbu, maka
manusia diberi amanah untuk mengelola alam semesta bagi kesejahteraan semua
makhluk. Manusia dijadikan sebagai pemimpin dari seluruh alam, dan ditugaskan
untuk mengelola alam semesta dengan menjaga keutuhan dan kelestariaannya.
Dengan amanah yang agung itu mengantarkan manusia menjadi makhluk yang
bertanggung jawab atas segala aktifitas dan perbuatannya.

Mengenai akhlak terhadap manusia secara garis besar, tergambar dalam


ungkapan berikut ini; tidaklah beriman salah seorang diantaramu sehingga ia
mengasihi orang lain sebagaimana mengasihi dirinya sendiri. Para nabi dan rasul,
serta pembawa agama-agama besar dunia dibangkitkan untuk melengkapi
kesempurnaan akhlak. Akhlak terhadap alam insani dapat digambarkan secara
singkat bahwa kehidupan manusia dunia ini bagaikan keluarga besar. Semua
orang tua yang ada diantara kita adalah orang tua kita sendiri, orang-orang yang
sebaya dengan kita adalah saudara kita, mereka yang sebaya dengan adik-adik kita
adalah adik kita sendiri. Semua orang yang sebaya dengan anak-anak kita, mereka
adalah anak-anak kita juga. Kesimpulan ringkasnya, kita bersikap kepada orang

118
lain, sebagaimana kita bersikap terhadap diri kita sendiri. Mengenai uraian
terperinci dari akhlak terhadap alam insani telah diuraikan pada kajian yang lalu.

5.4.5. Alam Rohani


Akhlak terhadap alam ruhani berkaitan dengan pendekatan spritual bahwa
dalam pandangan akhlak dan budi pekerti selain makhluk-makhluk nyata terdapat
makhluk ghaib yang tidak dapat diinderai dengan indera manusia. Terhadap
makhluk ghaibpun kita memiliki sikap akhlak, misalnya akhlak terhadap malaikat.
Informasi mengenai ini kita terima berdasarkan wahyu Tuhan Pencipta alam
semesta melalui para nabi dan rasul-Nya yang tercantum dalam kitab suci.

119
BAB VI

NORMA SOSIAL DAN NORMA HUKUM


Sebagai makhluk budaya dan sosial, manusia memerlukan pedoman atau
acuan dalam bertingkah laku. Oleh karena itu di dalam melakukan tindakan-
tindakan atau berperilaku dalam kehidupannya, manusia dilingkupi oleh sistem
nilai atau himpunan nilai-nilai. Sistem nilai ini merupakan wujud ideal dari
kebudayaan yang memberikan acuan bagi manusia dalam berperilaku. Apabila
dikaji lebih jauh maka nilai-nilai tersebut seolah mempunyai tingkatan atau
gradasi dalam kedudukannya. Sistem nilai budaya yang telah dibahas sebelumnya,
merupakan inti yang menjiwai semua pedoman yang mengatur tingkah laku warga
masyarakat yang bersangkutan. Pedoman tingkah laku yang dimaksudkan tersebut
di antaranya adalah norma-norma yang hidup di masyarakat atau dikatakan juga
sebagai norma sosial.

Secara umum pengertian norma adalah segala aturan-aturan atau pola-pola


tindakan, yang normatif, yang menjadi pedoman hidup bagi orang untuk bersikap
tindak di dalam kehidupannya, baik dalam hidupnya sendiri maupun dalam
pergaulan hidup bersama. Norma-norma tersebut diyakini oleh warga masyarakat
yang bersangkutan sebagai milik bersama. Bagaimana suatu masyarakat meyakini
suatu norma sebagai milik bersama nampak dalam tingkah lakunya, bagaimana
mereka menundukkan diri atau mematuhi norma-norma tersebut.

Beraneka ragamnya norma yang hidup di masyarakat dikarenakan norma-


norma tersebut sudah mengacu pada peranan-peranan manusia dalam
kedudukannya di masyarakat. Selain itu apabila dilihat dari sudut daya paksa atau
sanksi untuk kepatuhan terhadap suatu norma terdapat perbedaan-perbedaan pula.
Ada norma yang lemah atau tidak keras dengan sanksinya, atau dikatakan sebagai
sanksi sosial saja. Sebaliknya ada pula yang mempunyai sanksi kuat yang
dinamakan sebagai sanksi hukum, sehingga norma tersebut dinamakan sebagai
norma hukum.

Berikut ini merupakan uraian tentang: norma-norma yang hidup dalam


masyarakat yaitu norma hukum dan norma sosial lainnya, kemudian mengenai
proses terjadinya norma hukum yang berasal dari norma sosial, dan pembahasan
mengenai hal-hal pokok tentang hukum sebagai suatu norma yang penting dalam
mengatur kehidupan manusia.

6.1. Norma Hukum dan Norma Sosial Lainnya


Norma-norma yang ada dalam masyarakat bermacam-macam, atau disebut
juga sebagai kaedah atau norma sosial. Macam kaedah atau norma tersebut
tergantung dari dua macam aspek hidup manusia yaitu 1) aspek hidup pribadi, dan
2) aspek hidup antar pribadi. Yang termasuk kelompok aspek hidup pribadi
meliputi:

120
a. kaedah-kaedah atau norma-norma kepercayaan, untuk mencapai kesucian
hidup pribadi atau kehidupan beriman;
b. kaedah-kaedah kesusilaan (sittlichkeit atau moral/etika dalam arti sempit)
yang tertuju pada kebaikan hidup pribadi atau kebersihan hati nurani dan
akhlak (kehidupan dengan geweten)

Dengan kaedah-kaedah atau norma-norma dalam aspek pribadi itu akan


menjadi pedoman hidup pribadi sehingga menjadikan kepribadian (personality)
seseorang menjadi kuat dan seimbang. Sedangkan yang termasuk kelompok aspek
hidup antar pribadi meliputi:
a. Kaedah-kaedah atau norma-norma sopan santun (sitte) yang bertujuan agar
tercapai kenyamanan hidup bersama (pleasant living together).
b. Kaedah-kaedah atau norma-norma hukum yang bertujuan agar tercapai
kedamaian hidup bersama (peacefull living together)
(Purbacaraka, 1982: 11-16)

Mengingat dalam masyarakat ada beraneka norma yang dihayati oleh


warga masyarakat yang bersangkutan sebagai pedoman berlaku, dan tatanan sosial
terwujud berkat pedoman-pedoman tersebut. Selain itu hukum perundang-
undangan tidak dapat mengatur semua segi kehidupan manusia. Sehingga
kehidupan manusia perlu dilengkapi oleh pedoman hidup yaitu norma-norma
sosial lainnya.

Telaah terhadap hukum dari segi kaedahnya atau normanya tidak terlepas
dari norma-norma lain yang hidup dalam masyarakat. Terbentuknya norma
hukum, ada yang berasal dari norma-norma sosial tersebut dan ada yang karena
kebutuhan-kebutuhan hidup manusia yang memerlukan aturan-aturan hukum
sebagaimana uraian berikut ini.

6.2. Proses Norma Sosial menjadi Norma Hukum


Dalam bab. terdahulu telah dikemukakan bahwa kehidupan manusia dapat
dilihat dari sisi dirinya sebagai individu (pribadi) dan sebagai makhluk sosial.
Sebagai individu, ia merupakan makhluk ciptaan tuhan yang bagian dirinya terdiri
atas tubuh biologisnya yang secara kasat mata dapat kita amati. Selain itu,
manusiapun mempunyai akal dan jiwa yang disebut sebagai kepribadian.
Keduanya berada merupakan satu kesatuan dalam diri manusia yang tidak
terpisahkan satu sama lain.

Dalam konteks diri manusia sebagai makhluk sosial, maka tujuan hidup
bersama yang ingin dicapai adalah kedamaian dan keteraturan hidup antar
manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu patokan atau pedoman
yang mengatur bagaimana manusia dapat berperilaku pantas dan semestinya di
dalam masyarakat. Patokan atau pedoman berperilaku pantas tersebut adalah
dalam ukuran yang sesuai dengan masyarakat yang bersangkutan. Mengingat
setiap manusia tentu mempunyai ukuran pantas atau semestinya yang berbeda-
beda dengan manusia lainnya, sehingga sebagai makluk sosial kehidupan

121
sosialnyapun perlu diatur oleh suatu pedoman, patokan atau standard yang
disepakati bersama, yang disebut dengan kaedah atau norma.

Proses bagaimana terjadinya kaedah atau norma itu dapat dijelaskan


berkaitan dengan manusia sebagai makhluk budaya. Sebagai makhluk budaya,
manusia diberikan kemampuan berpikir, ia diberi Tuhan akal untuk menjalani
kehidupannya. Perilaku yang ia lakukan setiap hari adalah hasil dari proses belajar
dari generasi sebelumnya dan juga lingkungan hidupnya. Pola hidup dengan
norma-norma yang ada sebagai pedoman atau patokan hidup itu muncul karena
adanya suatu kebutuhan hidup manusia yang harus dipenuhi.
Menurut A.H. Maslow, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar
dalam menjalani hidupnya yaitu:
1. food, shelter, clothing,
2. safety of self and property
3. self-esteem;
4. self-actualization;
5. love
(Purbacaraka, 1982: 13)

Sebagai kebutuhan dasar maka hal tersebut harus dipenuhi, namun


pemenuhan kebutuhan itu tidak serta merta begitu saja dapat dilakukan. Seseorang
memerlukan makanan, tapi tidak dapat ia begitu saja mengambil atau memakan
makanan milik orang lain. Contoh lainnya, manusia memerlukan pemenuhan
kebutuhan seksual, selain sebagai kebutuhan biologis hal ini juga untuk
meneruskan keturunannya, namun tidak begitu saja dapat dilakukannya. Sebagai
makhluk budaya ia memerlukan suatu lembaga perkawinan dulu untuk memenuhi
hasratnya itu. Di samping itu dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut,
sebagai makhluk sosial manusia berinteraksi dan membutuhkan orang lain untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tersebut.

Di dalam lembaga-lembaga atau istilah lainnya pranata-pranata yang ada


dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut, diperlukan suatu
aturan-aturan atau pedoman sebagai suatu norma. Dengan demikian kebutuhan
manusia dapat terpenuhi namun tetap tercipta kehidupan antar manusia yang
berada dalam koridor keteraturan dan kedamaian. Di sisi lain, norma-norma yang
ada dalam masyarakat juga diciptakan apabila dalam pola kehidupan masyarakat
yang ada pada suatu waktu dirasakan perlu dirubah dalam pola perilaku yang
dianggap lebih baik atau lebih sesuai dengan keadaan pada waktu itu sebagai
norma-norma sosial.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa norma sosial merupakan suatu
peraturan yang memuat rincian pedoman untuk rentang kelakuan yang pantas dan
dapat diterapkan pada situasi-situasi sosial tertentu. Selain itu norma sosial juga
dikatakan sebagai suatu aturan atau ukuran baku mengenai perilaku yang
dianggap dapat diterima secara sosial. Hal mana ditentukan oleh harapan-harapan
orang tentang perilaku yang bersangkutan. Apabila dikaitkan dengan nilai-nilai

122
budaya, maka norma adalah nilai-nilai budaya yang sudah terkait dengan peranan-
peranan tertentu dari status atau kedudukan manusia, sehingga perumusannya
menjadi lebih jelas, tegas dan lebih terinci.

Sehubungan dengan norma di atas, antara Peranan dan status saling terkait
satu sama lain. Status ((status) merupakan suatu peringkat atau posisi seseorang
dalam kelompok atau masyarakat, atau posisi suatu kelompok dalam
hubungannya dengan kelompok lain. Status berkaitan juga dengan hak dan
kewajiban yang melekat pada seseorang, jadi sifatnya statis. Sedangkan peranan
(role) adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai status,
atau peranan merupakan aspek dinamis dari status. Koentjaraningrat mengartikan
peranan sosial sebagai tingkah laku individu yang mementaskan suatu kedudukan
tertentu. (Koentjaraningrat, 1986, hal. 169). Jadi terkait dengan kewajiban-
kewajiban seseorang berkenaan dengan peranan-peranan yang harus
dijalankannya, dirumuskan dalam norma-norma sosial tertentu.

Dalam penerapan norma-norma yang “disepakati” bersama tersebut,


apabila terjadi pelanggaran atas suatu norma sosial maka akan ada sanksi sosial,
misalnya dikucilkan, dicemooh, dan lain-lain. Apabila suatu norma sosial
diberlakukan dengan paksaan suatu sanksi maka norma sosial tersebut menjadi
norma hukum. Menurut E. Adamson Hoebel, suatu norma sosial adalah hukum
apabila pelanggarannya atau tindakan tidak mengindahkannya secara teratur
ditindak, yaitu tindakan fisik, secara ancaman atau secara nyata-nyata, oleh
seseorang atau suatu kelompok orang, yang mempunyai wewenang bertindak
yang secara sosial diakui (T.O.Ihromi, 1986: 5). Jadi perbedaan norma hukum dan
norma sosial adalah dalam norma hukum, hukum dapat menerapkan penggunaan
kekuatan yang ada pada masyarakat yang terorganisasi untuk menghindari atau
menghukum pelanggaran terhadap norma sosial.

Jadi dalam suatu masyarakat terdapat gagasan yang berisi nilai-nilai


sebagai norma sosial untuk mengatur pola tingkah laku masyarakatnya. Gagasan
dari norma itu tercermin dalam sebagian pola berlaku sebagai norma hukum.
Dalam arti sebagian dari norma sosial tadi diperkuat menjadi norma hukum
sebagai pelembagaan berganda, contohnya: hukum waris.

Yang dimaksudkan dengan pelembagaan berganda di sini adalah nilai-nilai


yang hidup dalam masyarakat dilembagakan sebagai norma sosial apabila
dipatuhi dan ada sanksi sosial, ini sebagai pelembagaan pertama. Kemudian,
sebagian dari norma-norma sosial di masyarakat tadi dilembagakan kembali
sebagai norma hukum apabila mempunyai sanksi hukum, sebagai pelembagaan
kedua. Dua kali pelembagaan inilah yang menyebabkan dikatakan bahwa suatu
norma dapat berubah menjadi norma hukum melalui suatu pelembagaan berganda.

Dengan demikian nampak setelah tingkat norma, yaitu norma pada situasi
sosial tertentu sebagai norma sosial, tingkat selanjutnya adalah tingkat sistem
hukum, baik hukum tertulis sebagai perundang-undangan maupun tidak tertulis

123
sebagai hukum adat. Jadi sistem hukum tersebut bersandar pada norma-norma
yang hidup dalam masyarakat.

Sebagai negara hukum, maka penyelenggaraan organisasi negara yang


berkaitan dengan pemerintahan maupun seluruh rakyatnya diatur oleh hukum,
baik hukum tertulis dan tidak tertulis (hukum Adat). Hukum yang tertulis yang
dibuat oleh lembaga legislatif atas usulan Pemerintah, mempunyai kedudukan
yang penting dalam pengaturan penyelenggaraan Negara. Di sisi lain norma-
norma sosial lainnya atau norma-norma bukan hukum tidak dapat diabaikan
peranannya dalam usaha mewujudkan kenyamanan, kedamaian dan ketertiban
hidup manusia dalam suatu masyarakat.

6.3. Pengertian, Tujuan dan Fungsi Hukum


Hukum mempunyai pengertian yang beraneka, dari segi macam, aspek dan
ruang lingkup yang luas sekali cakupannya. Kebanyakan para ahli hukum
mengatakan tidak mungkin membuat suatu definisi tentang apa sebenarnya
hukum itu. Pendapat ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh van
apeldoorn yang mengatakan bahwa hukum itu banyak seginya dan demikian
luasnya sehingga tidak mungkin menyatakannya dalam satu rumusan yang
memuaskan. (Apeldoorn, 1982: 13) Oleh sebab itu menurut Purnadi Purbacaraka,
pengertian hukum antara lain dapat dilihat dari cara-cara merealisasikan hukum
tersebut dan bagaimana pengertian masyarakat terhadap hukum, yang antara lain
adalah sebagai berikut.

1. Hukum sebagai ilmu pengetahuan


2. Hukum sebagai disiplin
3. Hukum sebagai kaedah
4. Hukum sebagai tata hukum
5. Hukum sebagai petugas (hukum)
6. Hukum sebagai keputusan penguasa
7. Hukum sebagai proses pemerintahan
8. Hukum sebagai perikelakuan yang ajeg atau sikap tindak yang teratur
9. Hukum sebagai jalinan nilai nilai (Purbacaraka,1982: 12)

Dikemukakannya pengertian dari hukum sangat penting agar tidak terjadi


kesimpangsiuran atau kesalahpahaman dalam melakukan telaah terhadap hukum
tersebut.
Sebagai bagian dari kebudayaan, dan manusia atau masyarakat adalah
pendukung dari kebudayaan tersebut, maka hukum selalu ada dimana masyarakat
itu berada (ubi societas ibi ius). Keberadaan hukum tersebut, baik pada
masyarakat yang modern atau masyarakat primitif atau yang masih sederhana
menunjukkan bahwa hukum mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi
kehidupan manusia.

Tujuan dari adanya hukum itu sendiri, sebagaimana definisi dari hukum
yang beraneka, para ahli hukum mempunyai pendapat yang berbeda-beda pula.

124
Menurut pendapat yang mengacu pada teori etis (etische theorie), hukum hanya
semata-mata bertujuan mewujudkan keadilan. Teori ini pertama kali dikemukakan
oleh filsuf Yunani, Aristoteles, dalam karyanya Ethica Nicomachea dan
Rhetorika, yang menyatakan bahwa hukum mempunyai tugas yang suci, yaitu
memberi kepada setiap orang sesuatu yang ia berhak menerimanya.(Ridwan
Syahrani, 1988: 23-27) Namun dalam kenyataannya kebutuhan manusia akan
hukum tidak hanya untuk mencapai keadilan tetapi juga untuk mengatur dirinya,
misalnya aturan tentang berlalu lintas, yang bertujuan agar lalu lintas di jalan
menjadi lancar, tertib, dan menghindari seminimal mungkin terjadinya
kecelakaan.

Beberapa pendapat ahli hukum kemudian lebih melengkapi pendapat


bahwa tujuan dari hukum adalah keadilan semata, melainkan menempatkan
hukum untuk mengatur kehidupan manusia mewujudkan hal-hal yang bermanfaat.
Sehingga tujuan hukum adalah untuk mencapai pergaulan hidup secara damai.
Kedamaian yang dimaksudkan di sini meliputi dua hal yaitu ketertiban/keamanan
dan ketenteraman/ ketenangan. Ketertiban tertuju pada hubungan lahiriah antar
pribadi dalam masyarakat. Sedangkan ketenteraman tertuju pada keadaan batin
masing-masing pribadi dalam masyarakat.

Beberapa istilah kemudian juga dikemukakan untuk menjelaskan tujuan


hukum di atas. Salah satunya adalah dari Utrecht yang mengatakan bahwa hukum
bertugas menjamin adanya kepastian hukum dalam pergaulan hidup manusia.
Kepastian hukum di sini diartikan sebagai harus menjamin keadilan serta hukum
tetap berguna, yang kemudian tersirat tugas lainnya yaitu agar hukum dapat
menjaga agar dalam masyarakat tidak terjadi main hakim sendiri.

Di samping tujuan hukum, fungsi hukum dalam kehidupan manusia terus


berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat dimana hukum itu berada.
Namun secara garis besar, fungsi hukum dapat dilihat sebagai sarana
pengendalian sosial yaitu fungsi hukum yang menjalankan tugas untuk
mempertahankan ketertiban atau pola kehidupan yang ada. Di sini hukum
menjaga agar setiap orang menjalankan peranannya sebagaimana yang telah
ditentukan. Fungsi hukum lainnya adalah melakukan social engineering, yaitu
hukum digunakan sebagai sarana untuk melakukan perubahan-perubahan atau
rekayasa sosial di dalam masyarakat. Sebagai contoh, dengan dibentuknya
undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang diantaranya mengatur
mengenai batas usia perkawinan, maka warga masyarakat yang banyak
melakukan perkawinan dalam usia yang sangat muda diarahkan untuk melakukan
perkawinan sebagaimana batas usia yang telah ditentukan. Walaupun dalam
praktik di lapangan masih banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan.

6.4. Disiplin Hukum


Disiplin hukum atau yang disebut juga sistem ajaran tentang hukum,
merupakan disiplin yang preskriptif yaitu sistem ajaran yang menentukan apakah
yang seyogianya atau yang seharusnya dilakukan di dalam menghadapi

125
kenyataan-kenyataan tertentu. Sebagaimana disiplin hukum, filsafat juga
merupakan disiplin yang preskriptif. Hal ini berbeda misalnya dengan bidang-
bidang sosiologi, antropologi, psikhologi, ekonomi yang merupakan disiplin
analitis, yaitu sistem ajaran yang menganalisa, memahami serta menjelaskan
gejala-gejala yang dihadapi.

Sebagai suatu disiplin, hukum mempunyai lingkup kajian yang salah


satunya adalah ilmu hukum. Di samping ilmu hukum, termasuk cakupan di
dalamnya juga politik hukum dan filsafat hukum. Jadi disiplin hukum berisi: 1.
ilmu-ilmu tentang hukum; 2. politik hukum; dan 3. filsafat hukum.

Yang dimaksudkan dengan ilmu hukum adalah ilmu pengetahuan yang


khusus megajarkan pada kita hal-hal mengenai hukum dan segala seluk beluk
yang berkaitan di dalamnya, seperti sumber-sumbernya, wujudnya, pembagian
macamnya, sifatnya, sistemnya, faktor-faktor yang mempengaruhinya secara
langsung maupun tidak langsung, dan sebagainya. Ilmu-ilmu hukum ini
merupakan kumpulan dari berbagai cabang ilmu pengetahuan yang antara lain
meliputi: 1) ilmu tentang kaedah; 2) ilmu pengertian; dan 3) ilmu tentang
kenyataan (Purbacarka,1982: 10-11).

Ilmu tentang kaedah atau normwissenchaft atau sollenwissenchaft


merupakan ilmu yang menelaah hukum sebagai kaedah/norma atau sistem
kaedah-kaedah/norma-norma. Yang dimaksudkan dengan ilmu pengertian adalah
ilmu tentang pengertian-pengertian pokok dalam hukum, misalnya subjek hukum,
objek hukum, hak dan kewajiban, peristiwa hukum, dan hubungan hukum.
Sedangkan ilmu tentang kenyataan atau tatsachenwissenschaft atau
seinwissenschaft adalah ilmu yang menyoroti hukum sebagai perilaku atau sikap
tindak yang antara lain mencakup: Sosiologi hukum, Antropologi hukum,
Psikhologi hukum, Perbandingan hukum, dan Sejarah hukum (Purbacaraka,
1982: 10-11) dengan uraian sebagai berikut.

a. Sosiologi hukum, merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang secara


empiris dan analitis mempelajari hubungan timbal balik antara hukum sebagai
gejala sosial dengan gejala-gejala sosial lainnya.
b. Antropologi hukum, merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan, ilmu hukum
dan antropologi budaya, yang hendak memahami bagaimana masyarakat
mempertahankan nilai-nilai yang berlaku, yang dijunjung tinggi, melalui proses
pengendalian sosial dan dalam hal itu hukum diperhatikan sebagai salah satu
metode dari pengendalian sosial. Wawasan antropologi hukum tidak hanya
memperhatikan hukum di Indonesia saja melainkan bersifat komparatif,
sehingga hukum ditinjau sebagai gejala yang bersifat lintas budaya (T.O.Ihromi,
2000: 24).
c. Psikhologi hukum, suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari hukum
sebagai suatu perwujudan dari perkembangan jiwa manusia.
d. Perbandingan hukum, cabang ilmu pengetahuan yang memperbandingkan
sistem-

126
sistem hukum yang berlaku di dalam satu atau beberapa masyarakat.
e. Sejarah hukum, mempelajari perkembangan dan asal usul dari sistem hukum
dalam suatu masyarakat tertentu.

Demikian lingkup muatan dari ilmu-ilmu hukum. Selanjutnya sebagai


bagian dari disiplin hukum yang lain, cakupan politik hukum meliputi kegiatan-
kegiatan memilih nilai-nilai dan menerapkan nilai-nilai. Dalam filsafat hukum
dilakukan perenungan dan perumusan nilai-nilai. Selain itu, filsafat hukum juga
mencakup penyerasian nilai-nilai, misalnya: penyerasian antara ketertiban dengan
ketenteraman, antara kebendaan dengan keakhlakan, dan antara kelanggengan
dengan pembaharuan.

6.5. Pembedaan Hukum


Pembedaan hukum menjadikan hukum terlihat bermacam-macam
tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Sebagaimana misalnya kita
melihat seekor gajah, apabila dilihat dari sisi muka akan berbeda bentuknya
dibandingkan dengan misalnya dilihat dari belakang atau samping, dan walaupun
yang terlihat itu berbeda namun sesungguhnya gajah tersebut tetap satu gajah
yang sama. Demikian pula dengan hukum, apabila dilihat dari sudut yang
berbeda-beda, maka akan terlihat bentuk yang berbeda-beda pula sebagaimana
uraian berikut ini, yaitu jika dilihat dari:

1. Sumber tempat acuan hukum berada, hukum dibedakan atas:


a. Hukum undang-undang, yaitu hukum yang tercantum dalam
peraturan perundang-undangan;
b. Hukum kebiasaan/hukum adat, yaitu hukum yang terdapat dalam
kebiasaan atau adat istiadat;
c. Hukum Traktat, yaitu hukum yang ditetapkan oleh dua atau
beberapa negara yang mengadakan perjanjian bilateral atau multilateral;
d. Hukum Yurisprudensi, yaitu hukum yang terbentuk karena putusan
pengadilan;
e. Hukum ilmu (doktrin), yaitu hukum yang terdapat dalam
pandangan ahli-ahli hukum yang terkenal dan sangat berpengaruh

2. Isinya, hukum dibedakan atas:


a. Hukum publik, yaitu hukum yang mengatur hubungan-hubungan hukum
yang menyangkut kepentingan umum, misalnya hukum tata negara,
hukum administrasi negara, hukum pidana, hukum acara pidana.
b. Hukum privat, yaitu hukum yang mengatur hubungan-hubungan hukum
yang menyangkut kepentingan pribadi, misalnya hukum perdata, hukum
dagang.

3. Kekuatan mengikatnya atau sifatnya, hukum dibedakan atas:


a. Hukum pelengkap atau hukum yang mengatur (hukum fakultatif,
aanvullend recht), yaitu peraturan hukum yang boleh dikesampingkan
oleh orang-orang yang berkepentingan. Peraturan ini digunakan apabila

127
orang-orang yang berkepentingan tidak mengatur sendiri kepentingannya
tersebut.
b. Hukum memaksa (hukum imperatif, dwingend recht), yaitu
peraturan hukum yang tidak boleh dikesampingkan oleh orang-orang yang
berkepentingan. Peraturan ini harus ditaati oleh orang-orang yang
berkepentingan.

4. Dasar pemeliharaan atau cara mempertahankannya, hukum dibedakan atas:


a. Hukum material, yaitu hukum yang mengatur isi hubungan-hubungan
hukum (rechtsverhouding, rechtsbetrekking) dalam masyarakat.
b. Hukum formal, yaitu hukum yang megatur tentang bagaimana caranya
mempertahankan atau menegakkan hukum material. Hukum formal ini
dapat juga disebut sebagai hukum acara, yaitu hukum acara perdata,
hukum acara pidana, dan hukum acara tata usaha negara.

5. Wujudnya, hukum dibedakan atas:


a. Hukum objektif, yaitu segala macam hukum yang ada dalam suatu negara
yang berlaku umum, tanpa mengistimewakan orang tertentu atau golongan
tertentu.
b. Hukum subjektif, yaitu peraturan hukum (hukum objektif) yang berlaku
terhadap seseorang atau beberapa orang tertentu saja, yang menimbulkan
hak dan kewajiban.

6. Tempat berlakunya, hukum dibedakan atas:


a. Hukum nasional, yaitu hukum yang berlaku di wilayah satu negara saja.
b. Hukum internasional, yaitu hukum yang berlaku di wilayah berbagai
negara.

7. Waktu berlakunya, hukum dibedakan atas:


a. Ius constitutum (hukum positif), yaitu hukum yang berlaku dalam suatu
negara pada saat sekarang.
b. Ius constituendum, yaitu hukum yang diharapkan atau dicita-citakan
berlaku pada waktu yang akan datang.

8. Bentuknya, hukum dibedakan atas:


a. Hukum tertulis (geschreven recht), yaitu hukum yang tercantum dalam
peraturan perundang-undangan.
b. Hukum tidak tertulis (ongeschreven recht), yaitu hukum yang hidup dalam
masyarakat, meskipun tidak tertulis tetapi ditaati dalam pergaulan hukum
di masyarakat. (Syahrani , 1988: 64-68).

6.6. Subjek, Objek, dan Peristiwa Hukum


Dalam suatu permasalahan hukum terdapat tiga hal yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain yaitu subjek hukum (subject van een recht), objek
hukum dan peristiwa hukum. Yang dimaksud dengan subjek hukum adalah
manusia (person) dan badan hukum (rechtperson) yang berhak, berkehendak dan

128
melakukan perbuatan hukum. Badan hukum adalah perkumpulan atau organisasi
yang didirikan dan dapat bertindak sebagai subjek hukum, misalnya dalam
pengalihan hak, perjanjian, dan sebagainya. Sedangkan perbuatan hukum adalah
perbuatan yang dapat menimbulkan akibat hukum, misalnya jual beli, perkawinan,
dan sebagainya. (Sudarsono, 2004: 275-279)

Dengan adanya subjek hukum dalam suatu hubungan hukum, maka tentu
ada objek hukumnya. Yang dimaksud dengan objek hukum adalah segala sesuatu
yang berguna bagi subjek hukum dan yang dapat menjadi pokok (objek) suatu
hubungan hukum, yang dapat juga disebut sebagai hak, karena merupakan sesuatu
yang dapat dikuasai oleh subjek hukum. Jadi yang dimaksudkan sebagai objek
hukum di sini tidak hanya benda dalam pengertian yang umum melainkan juga
benda dalam arti yang luas.

Bedasarkan Pasal 503 KUHPerdata yang dimaksudkan dengan benda


adalah benda yang berwujud dan tidak berwujud. Benda yang berwujud adalah
segala sesuatu yang dapat diraba oleh pancaindra, misalnya rumah, mobil, tanah,
kursi, dan sebagainya. Sedangkan benda yang tidak berwujud adalah segala hak.

Kemudian dalam Pasal 504 KUHPerdata dikemukakan pula pembagian


benda yang bergerak dan tidak bergerak. Dikatakan sebagai benda yang bergerak
maupun tidak bergerak, menurut Pasal 506, 507 dan 508 KUHPerdata, apabila
sifatnya sendiri menempatkannya ke dalam golongan itu, misalnya tanah, rumah,
pohon adalah benda tidak bergerak. Sedangkan mobil atau perabotan rumah
tangga misalnya, merupakan benda bergerak.

Selanjutnya mengenai peristiwa hukum perlu dikemukakan mengingat


sebagai makhluk sosial, interaksi yang terjadi antarsesama manusia tidak dapat
dihindarkan. Hubungan-hubungan ini merupakan suatu peristiwa, yang apabila
menimbulkan pengaturan hukum atau akibat hukum maka dikatakan sebagai
peristiwa hukum. Sebagaimana juga yang dikemukakan oleh Soedjono D bahwa
peristiwa hukum adalah semua peristiwa atau kejadian yang dapat menimbulkan
akibat hukum antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan hukum (Sudarsono,
2004: 275-279). Beberapa contoh dari peristiwa hukum adalah perkawinan, jual
beli, sewa rumah, kematian, dan sebagainya yang karena dilakukannya pebuatan
itu menimbulkan akibat hukum.

129
BAB VII

MASYARAKAT DAN MULTIKULTURALISME

7.1. Pengertian Masyarakat dan Masyarakat Majemuk


Masyarkat merupakan, sekelompok orang yang hidup bersama dalam
suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan yang tertentu, atau sejumlah
manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka
anggap sama (KBBI, 2002: 720). Dalam masyarakat tempat manusia bergaul
kesehariannya akan menemukan berbagai karakter manusia dari kelompok-
kelompok yang awalnya tidak saling mengenal, bukan karena adanya ikatan
darah, tetapi juga mungkin hanya karena adanya batasan geografi atau teritorial
saja. Hal ini membuat manusia harus tunduk pada aturan-aturan yang disepakati
bersama. Tunduk pada aturan-aturan yang disepakati bersama itulah yang
dinamakan berakhlak dan berbudi pekerti.

Untuk memahami labih jauh tentang masyarakat dan karakteristiknya, ada


baiknya pengertian masyarakat juga dikemukakan disini, sebagaimana yang telah
ditulis oleh para ahli sosiologi maupun antropologi, seperti :
1. Linton, mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia, yang
telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga mereka dapat
mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan
sosial dengan batas-batas tertentu.
2. M.J. Heskovits menulis bahwa masyarakat adalah kelompok individu yang
mengorganisasikan dan mengikuti satu cara hidup tertentu.
3. J.L Gillin J.P. Gillin mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok
manusia yang terbesar mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan
persatuan yang sama. Masyarakat yang terbesar disebut diatas, meliputi
pengelompokan-pengelompokan yang kecil.
4. S.R. Steinmetz memberikan batasan tentang masyarakat sebagai kelompok
manusia yang terbesar meliputi pengelompokan-pengelompokan manusia
yang lebih kecil yang mempunyai perhubungan erat dan teratur.
5. Agak lebih terperinci adalah definisi Mack Ever yang berbunyi, masyarakat
adalah suatu sistem dari cara kerja dan prosedur, otoritas dan saling bantu-
membantu yang meliputi kelompok-kelompok dan pembagian-pembagian
sosial, sistem pengawasan tingkah laku manusia dan kebebasan. Sistem yang
kompleks dan selalu berubah dari relasi sosial (Munandar Sulaiman,1995)

Dalam arti luas yang dimaksud masyarakat adalah keseluruhan dari semua
hubungan dalam hidup bersama dengan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa
dan lain-lain. Dalam arti sempit masyarakat merupakan sekelompok manusia yang
dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, umpamanya : teritorial, bangsa, golongan dan
sebagainya, maka ada masyarakat Jawa, masyarakat Sunda, masyarakat Minang
dan lain-lain.

130
Berdasar arti tersebut diatas dapat kita tarik satu kesimpulan sebagai
berikut. Masyarakat adalah kelompok manusia yang telah lama bertempat tinggal
disuatu daerah yang tertentu dan mempunyai aturan (undang-undang) yang
mengatur tata hidup mereka, untuk mencapai tujuan yang sama.

Jadi yang menjadi unsur masyarakat adalah:


1. harus ada kelompok (pengumpulan) manusia, dan harus banyak jumlahnya;
2. telah berjalan dalam waktu yang lama dan bertempat tinggal dalam daerah
yang tertentu;
3. adanya aturan (undang-undang) yang mengatur mereka bersama, untuk maju
kepada satu cita-cita yang sama (Hartomo, 2004).

Dari sudut pandang antropologi, masyarakat didefinisikan sebagai berikut.


“Masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang
terikat oleh suatu sistem adat istiadat tertentu“ Seperti yang kita jumpai pada
masyarakat yang terikat oleh geografi dan teritorial dikenal dengan istilah suku
tertentu yaitu masyarakat Sunda, Jawa, Bugis, Aceh, Betawi, Madura dan
sebagainya

Dalam hal ini ahli antropologi berpendapat Masyarakat, merupakan


kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat
tertentu yang bersifat kontinyu, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama
(Koentjaraningrat 1980).

Masyarakat adalah kelompok orang yang memiliki kebudayaan yang


sama, dan merasa pada diri mereka sebagai suatu kesatuan dan entitas yang
berbeda dengan kelompok lainnya (Marshall 1996).
Dengan demikian masyarakat mempunyai dua tipe karakteristik masyarakat.
1. Pertama, suatu masyarakat kecil yang belum begitu kompleks yang belum
mengenal pembagian kerja, belum mengenal tulisan, dan teknologinya relatif
sederhana; satu masyarakat yang struktur dan aspek-aspek yang masih dapat
dipelajari sebagai satu kesatuan berdasarkan adat istiadat.
2. Kedua, masyarakat yang sudah kompleks, yang sudah jauh menjalankan
spesialisasai dalam segala bidang, karena ilmu pengetahuan, teknologi, sudah
maju, sudah mengenal tulisan; satu masyarakat yang sukar dilihat sekaligus
segi-segi kegiatannya, sehingga dapat diselidiki dengan baik dan didekati
hanya sebagian saja.

Dari kedua tipe ini memberikan kemungkinan masyarakat dapat diteliti


melalui kajian antropologi untuk masyarakat kecil dan kajian sosiologi bagi
masyarakat yang komplek.

131
Pada dasarnya pengertian tentang masyarakat mengacu pada kumpulan
orang, namun tidak semua kumpulan orang dengan sendirinya merupakan
masyarakat. Terdapat empat kriteria yang harus dipenuhi agar suatu kumpulan
atau kelompok orang dapat disebut masyarakat, yaitu (1) memiliki kemampuan
bertahan melebihi masa hidup (seorang) individu; (2) rekrutmen seluruh
anggotanya melalui reproduksi; (3) kesetiaan pada suatu sistem tindakan utama
bersama; dan (4) adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada
(Marion Levy). Konsekuensi dari kriteria tersebut ialah bahwa suatu kelompok
dapat disebut masyarakat apabila kelompok itu memenuhi keempat kriteria
tersebut; atau apabila kelompok itu dapat bertahan stabil untuk beberapa generasi
walaupun sama sekali tidak ada orang atau kelompok lain di luar kelompok
tersebut. (Sunarto 1993)

Berdasarkan kriteria tersebut, kumpulan orang yang sedang menonton


sepak bola, misalnya, tidak dapat disebut sebagai masyarakat karena kumpulan
itu bersifat sementara yang bubar ketika permainan bola usai; kumpulan itu
tidak melakukan reproduksi untuk menambah jumlah anggotanya; tidak ada
suatu kesetiaan pada sistem tindakan utama bersama; dan tidak melakukan
tindakan untuk menghasilkan kebutuhan sendiri seperti sandang dan pangan.
Kumpulan penonton sepak bola itu lebih tepat disebut kerumunan atau crowd
(Park 1972).

Untuk lebih memperjelas perbedaan masyarakat dengan kerumunan,


patut diperhatikan ciri-ciri yang membuat suatu kesatuan manusia menjadi
masyarakat. Pertama, adanya pola tingkah laku yang khas mengenai semua
faktor kehidupannya dalam batas kesatuan itu. Pola tingkah laku itu harus
bersifat mantap dan kontinyu, atau dengan kata lain sudah menjadi adat istiadat
yang khas. Kedua, adanya rasa identitas di antara warga atau anggotanya bahwa
mereka memang merupakan suatu kesatuan khusus yang berbeda dengan
kesatuan manusia lain-nya (Koentjaraningrat 1980).

Dalam kenyataannya, pemahaman orang mengenai “masyarakat


Indonesia” bersifat terbatas, yakni meliputi manusia di sekitarnya, atau manusia
Indonesia di suatu lokasi tertentu, atau dalam suatu ikatan tertentu.
Demikianlah, misalnya, masyarakat Indonesia dibayangkan sebagai warga suatu
kelompok kekerabatan seperti marga atau suku. Di sini, pengertian tentang
masyarakat menjadi sempit dan konkret, yang lazim disebut komunitas.
Komunitas meliputi seluruh kesatuan manusia yang menempati suatu wilayah
tertentu yang nyata, dan yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat
serta terikat oleh identitas komunitas (Koentjaraningrat 1980; juga Jha 2003).

Dengan demikian, seakan-akan terjadi tumpang tindih pengertian antara


masyarakat dan komunitas. Agar tidak terjadi kerancuan, ditegaskan di sini
bahwa apabila masyarakat mengacu pada pengertian yang luas mengenai
kesatuan hidup manusia, abstrak dan umum, maka komunitas menunjuk pada

132
arti khusus dari kesatuan tersebut. Menurut MacIver (dalam Jha 2003), terdapat
dua dasar untuk menetapkan komunitas, yaitu (a) lokalitas (geografi, bahasa,
pakaian, kebiasaan makanan, dan sebagainya.), dan (b) sentimen-sentimen
komunitas (cara berpikir, alam pikir-an, ideologi, aktivitas bersama, dan
sebagainya.)

Sebelumnya kita pahami bahwa masyarakat dalam arti luas dipahami


sebagai kesatuan hidup manusia, sehingga kesatuan atau kelompok manusia yang
hidup dalam ruang lingkup Indonesia disebut masyarakat Indonesia. Masyarakat
Indonesia merupakan masyarakat majemuk. Masyarakat majemuk adalah
masyarakat yang terbagi dalam kelompok persatuan yang sering memiliki budaya
yang berbeda (Depdiknas, 2002) Dalam kamus sosiologi modern masyarakat
majemuk yaitu kemajemukan budaya, dengan kelompok etnik dan minoritas serta
terpelihara idetitasnya dalam suatu masyarakat (Soekanto, 2001).

Dalam ilmu sosial masyarakat majemuk adalah suatu keadaan di mana


setiap kelompok kebudayaan mempunyai lembaga-lembaga yang berkaitan
dengan setiap bidang kehidupan kecuali bidang politik, dimana lembaga-lembaga
dari suatu kelompok kebudayaan tertentu memegang kekuasaan dalam masyarakat
yang bersangkutan.

Selanjutanya atas dasar faktor-faktor tersebut, dibedakan bentuk


masyarakat majemuk kedalam katagori sebagai berikut.
1. Bentuk masyarakat majemuk dimana dominasi politik dipegang oleh suatu
kelompok tertentu. Tingkat kemajemukannya adalah kemajemukan
struktural yang mencakup kemajemukan budaya sosial.
2. Bentuk masyarakat majemuk ketika dijumpai suatu keadaan terdapat di
dalamnya hak dan kewajiban-kewajiban tersaebar secara merata diantara
kelompok sosial yang ada, walau pun dijumpai pula keanaka ragaman
lembaga-lembaga sosial. Tingkat kemajemukannya adalah tingakat
kemajemukan sosial, karena pembagian masyarakat kedalam kelompok-
kelompok sosial bersifat tertutup dan tajam.
3. Untuk masyarakat majemuk, warga masyarakat dimasukan ke dalam suatu
wadah yang bersifat publik tetapi tanpa memperhatikan pola identifikasi
yang ideal maupun yang nyata. Taraf kemajemukannya adalah
kemajemukan budaya

Dalam kontek politik, kemajemukan adalah suatu sistem yang


memungkinkan semua kepentingan dalam masyarakat bersaing secara bebas
untuk mempengaruhi proses politik, sehingga terhindar dari terjadinya suatu
kelompok mendominasi kelompok lain. Sistem ini senantiasa beranggapan bahwa
keputusan politik yang penting lebih dapat dipengaruhi secara efektif melalui
kelompok yang teroganisasi secara baik.

133
Dalam konteks ilmu politik, kemajemukan mengharuskan adanya berbagai
asosiasi yang bersaing yang tidak disponsori atau dimanipulasikan oleh
pemerintah. Pemerintah harus tanggap terhadap berbagai kepentingan yang
berbeda-beda dalam masyarakat. Karena politik pada dasarnya merupakan
persaingan kelompok-kelompok kepentingan untuk memperjuangkan agar
kebijakan yang mereka kehendaki dapat dijadikan sebagai keputusan politik oleh
pemerintah.

Dilihat dari sudut kepentingan masyarakat majemuk memiliki beberapa


karakteristik
1. Setiap kelompok masyarakat memiliki kepentingan yang sama karena
kesamaan suku, ras, agama maupun kesamaan profesi, okupasi dan
kegemaran berhak membentuk asosiasi yang dikehendaki tanpa campur
tangan pemerintah atau kelompok lain. Suatu jenis kepentingan dapat saja
diperjuangkan oleh lebih dari asosiasi.
2 Keaggotaan asosiasi bersifat sukarela dan seseorang dapat saja menjadi
anggota dari berbagai asosiasi kepentingan.
3 Pemerintah tidak berhak mencampuri urusan kelompok kepentingan,
melainkan bertindak sebagi wasit untuk memelihara permainan yang sehat
bagi persaingan di antara kelompok kepentingan dan bersikap tanggap
terhadapnya.
4 Para anggota asosiasi berwenang menentukan pemimpinnya dan
merumuskan kepentingan yang hendak diperjuangkan kepada pemerintah.
5 Keputusan di dalam organisasi dan dalam berinteraksi dengan organisasi
lain dicapai dengan perundingan, tawar-menawar dan kompromi (Ramlan
surbakti,1992)

Dalam hal ini Indonesia sebagai sebuah wilayah, dimana hidup berbagai
suku bangsa dan bahasa, maka apabila dilihat dari keragamannya termasuk
masyarakat majemuk. Di Indonesia telah teridentifikasi sekitar 500 suku bangsa
(Suparlan 2001). Masing-masing suku bangsa menempati wilayah geografis
tertentu sebagai wilayah budayanya. Kelompok suku-suku bangsa itu merasa
memilliki kebudayaan yang sama sebagai acuan identitasnya untuk membedakan
diri masing-masing. Di dalam satu kesatuan suku bangsa juga sering ditemukan
sub-sub suku bangsa yang memiliki sub-sub kebudayaan yang berbeda pula.
Demikian pula apabila dilihat dari segi ras (yang mengacu pada kesamaan fisik)
ditemukan keragaman yang cukup banyak.

Selain keragaman dalam suku bangsa juga keragaman dalam agama di


Indonesia tampak pada berkembangnya agama-agama besar, yakni Islam, Kristen,
Katolik, Hindu-Budha, dan Konghuchu. Dari asal-usulnya, agama-agama besar itu
datang dari luar seiring masuknya kebudayaan asing di Indonesia dalam kurun
waktu yang berbeda-beda. Di samping itu, jelas pula bahwa di Indonesia
berkembang berbagai kepercayaan setempat yang lazim dikaitkan dengan paham
animisme. Betapapun, berbagai kepercayaan tersebut merupakan bentuk-bentuk

134
religi lama yang telah hidup dan berkembang jauh sebe-lum datangnya agama-
agama besar. Bahkan ketika agama-agama baru bermunculan, berbagai
kepercayaan itu tidak hilang begitu saja melainkan berinteraksi dengan agama-
agama penda-tang tersebut.

Unsur lain yang juga membentuk sifat majemuk masyarakat Indonesia


adalah kondisi geografis. Secara geografis, wilayah Indonesia bukanlah wilayah
yang berbentuk terpadu (compact) seperti Kamboja misalnya, melainkan
kepulauan terpisah-pisah (besar dan kecil) yang membentang ribuan mil ataupun
kilometer. Wilayah perairan (selat dan laut) berfungsi menyatukan kepulauan
yang tersebar itu. Sebaran wilayah itu diperumit oleh keragaman topografi yang
berbeda-beda; ada wilayah yang bergunung-gunung, dataran, padang tandus, per-
airan (sungai, rawa), dan pantai. Perbedaan topografi itu secara alamiah berkaitan
dengan berbagai kekayaan sumber daya alam yang apabila dieksploitasi akan
berakibat pada pendapatan ekonomi daerah yang berbeda-beda pula. Perbedaan
wilayah geografis juga menjadi faktor penting dalam pembentukan kesatuan
masyarakat di Indonesia; ada yang “hanya” menjadi masyarakat pedesaan, dan
ada yang berkembang menjadi masyarakat perkotaan. Dengan demikian terjadi
polarisasi masyarakat desa dan masyarakat kota.

Dari hasil penelitian ahli antropologi, Hildred Geertz (1963), diketahui


bahwa ada tiga tipe umum dan satu tipe khusus masyarakat Indonesia. Pertama,
masyarakat petani yang menanam padi sebagai mata pencarian utamanya. Sistem
pertanian yang mereka kembangkan merupakan cara produksi pertanian yang
intensif pada lahan basah atau sawah. Kaum tani ini bermukim di desa-desa
pedalaman di sebagian besar wilayah Pulau Jawa, Madura bagian barat, Bali
bagian selatan, Lombok Barat, sekitar Danau Toba, dataran tinggi bagian barat
Sumatera, bagian barat daya Sulawesi dan Sulawesi Selatan. Kelompok
masyarakat itu mendapat pengaruh kebudayaan luar dari Hindu (terutama di Bali
dan sebagian Jawa) dan Islam. Umumnya masyarakat petani sawah ini mewarisi
kebudayaan besar kerajaan-kerajaan tempo dulu, dan melalui sistem kolonial
mereka mulai mengenal dan menjadi bagian dari sistem pemerintahan negara
modern.

Tipe kedua, masyarakat pantai yang kuat keislamannya seperti orang-


orang Melayu di Sumatera dan Kalimantan, Bugis, Makassar, dan Aceh. Mereka
terlibat dalam perdagangan rem-pah-rempah dan komoditi internasional sejak
berabad-abad lam-pau. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila kelompok
masyarakat itu sangat beragam dan banyak berinteraksi dengan pedagang asing
seperti orang-orang India Islam, Arab, Portugis, Inggris, Belanda, Cina, dan lain-
lain. Kombinasi kelompok ma-syarakat pedagang di pantai ini adalah nelayan,
perajin, petani kelapa dan petani sawah yang tinggal di pedalaman atau kota-kota
kecil dekat pantai.

135
Kelompok kesukuan merupakan tipe ketiga masyarakat Indonesia.
Mereka antara lain sebagian penduduk Halmahera, orang-orang Toraja, Dayak,
Seram dan pulau-pulau Nusa Teng-gara Timur, orang Gayo, Rejang, dan
Lampung. Sebagian di antaranya masih terpencil dan mengembangkan pola
hidup yang khas. Tidak terkena pengaruh kebudayaan Hindu ataupun Islam tetapi
mendapatkan sentuhan budaya dari misi Kristen sejak zaman kolonial.
Kebanyakan kelompok masyarakat kesukuan ini merupakan petani ladang yang
berpindah-pindah. Sebagian hasil ladangnya dijual.

Selain ketiga tipe umum masyarakat Indonesia tersebut, Geertz


menjelaskan adanya jaringan kota dan masyarakat nasional. Secara struktural,
kota dibedakan atas kota besar kosmopolitan dan kota pusat perdagangan yang
lebih kecil, yakni kota metropolitan dan kota provinsi. Kedua jenis kota ini
memiliki fungsi yang sama sebagai mata rantai yang menghubungkan masyarakat
Indonesia dengan masyarakat lain di dunia; juga sebagai pusat yang
mengintegrasikan kehidupan ekonomi, politik dan intelektual. .

Beberapa kota provinsi, terutama di luar Jawa, kadang-kadang


menunjukkan perkembangan “kurang maju” apabila dibanding kota metropolitan.
Masyarakatnya juga menunjukkan keragaman meskipun intensitasnya berbeda
dengan kota yang lebih besar. Makin kecil status kota, seperti kota kabupaten
yang lebih kecil dari kota provinsi, makin kurang pula kompleksitas struktur
masyarakatnya.

7.2. Multikulturalisme

Di dalam kamus, “multi” berarti banyak, lebih dari satu, dan berbeda-beda
(heterogen), sedangkan “kultur” berarti kebudayaan dan kulturalisme adalah
pandangan atau faham tentang kebudayaan. Pengertian awal yang segera timbul
dari gabungan dua kata ini adalah pandangan atau pemikiran mendalam tentang
perihal kebudayaan-yang-banyak. Bukan pandangan tentang satu kebudayaan saja
(monokultural) yang homogen ataupun monokulturalisme yang majemuk.
Namun, banyak dalam multikulturalisme tidak seperti plural (majemuk). Di
dalamnya terdapat pengertian banyak dan berbeda tetapi sekaligus dengan
pengakuan yang sama.
Secara geografis, tempat beradanya kebudayaan pada umumnya berwujud
negara, dapat pula menyebar di sejumlah negara. Sedangkan secara sosiologis,
satu atau beberapa kebudayaan hidup dan berkembang di dalam suatu masyarakat

136
atau bangsa maupun antarbangsa. Dalam masyarakat atau bangsa yang beragam
suku bangsa (multietnik) seperti Indonesia– yang juga makin tak terhindar dari
fenomena dan pengaruh eksternal global– interaksi dan hubungan antarbudaya
yang berbeda-beda itu merupakan keniscayaan. Interaksi masing-masing
kebudayaan, dengan intensitas dan arah tertentu, membentuk pola-pola hubungan
antarbudaya.
Pola hubungan antarbudaya tersebut dapat positif atau negatif,
menguntungkan atau merugikan, bagi salah satu, beberapa atau seluruh
kebudayaan dan masyarakat pemiliknya di suatu negara. Di dalam interaksi sering
terjadi kebudayaan tertentu lebih kuat dan dominan atas kebudayaan lainnya.
Dominasi budaya sering kali muncul bersama diskriminasi budaya atau ras
tertentu, atau berkembang menjadi bias budaya, hegemoni budaya dan
imperialisme budaya. Masyarakat pemilik kebudayaan yang lemah dan
“terkorbankan” merasakan adanya ketidakadilan budaya. Di sinilah interaksi atau
hubungan antarbudaya, dalam situasi masyarakat plural/majemuk, menjadi
bermasalah.
Untuk mengatasi masalah tersebut digagas suatu pandangan atau aliran
pemikiran (“isme” ataupun ideologi) yang dapat menyerasikan atau
mengharmoniskan interaksi dari seluruh kebudayaan yang berbeda-beda, yakni
“multikulturalisme”. Multikulturalisme dipandang sebagai konsep tentang
hubungan antarbudaya yang positif (pada umumnya) yang dapat mengatasi
masalah dalam masyarakat plural tersebut. Oleh karena itu, multikulturalisme
dianggap perlu disosialisasikan dan lalu dikaji secara kritis dalam proses
pendidikan, yang juga diupayakan “berkurikulum” multikulturalisme. Kajian
kritis memungkinkan modifikasi, pengembangan, dan penerapan jenis
multikulturalisme yang paling tepat dan kontekstual bagi suatu masyarakat.
Melalui sosialiasi dan kajian tersebut diharapkan terjadi internalisasi nilai
dan sikap multikultural dalam diri para pembelajar. Selanjutnya kelak hal ini akan
terwujud dalam perilaku dan tatanan harmonis yang membentuk masyarakat
multikultural. Dalam situasi multibudaya ini, interaksi antarbudaya ditandai
dengan usaha mencapai saling pengertian, saling penerimaan keberagaman,

137
suasana inklusif, suasana dialogis, kepentingn bersama, hidup berdampingan,
kesetaraan atau kesederajatan, pengayaan, harmoni, saling keterkaitan, dan saling
hormat di antara para pemangku atau pendukung masing-masing budaya.

7.2.1 Definisi dan Pengertian Multikulturalisme


Seperti istilah maupun konsep lainnya dalam ilmu sosial dan kemanusiaan,
multikulturalisme juga mempunyai definisi yang ‘multi’. Multikulturalisme
merupakan istilah yang isi konsep atau pengertiannya sangat luas, kompleks, dan
tinggi tingkat abstraksinya; tidak seperti “pensil”, “handphone”, “urbanisasi”,
“sosialisasi”, dan sebagainya. Lebih dari itu, karena berhubungan dengan
kebudayaan-kebudayaan, di dalam pengertian (konsep) multikulturalisme
terkandung beragam nilai maupun sistem nilai. Maka, dapat dimengerti apabila
batasan atau definisi tentang multikulturalisme juga beragam dan bermuatan nilai
atau memiliki kepentingan tertentu (value laden).
Sebuah definisi pada umumnya dibuat dengan tujuan atau kepentingan
tertentu. Ada definisi yang dibuat dengan maksud dapat digunakan secara luas
atau umum. Ada pula yang sebaliknya, definisi dibuat untuk tujuan yang khusus.
Berikut ini beberapa definisi tentang multikulturalisme.
1. “Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia –yang
kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan–
yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman,
pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang
kemudian diwujudkan dalam “politics of recognition” (Azyumardi Azra,
2007).
2. “A multicultural society, then, is one that includes several cultural
communities with their overlapping but none the less distinct conceptions
of the world, systems of meaning, values, forms of social organization,
histories, customs and practices” (Parekh, 1997:167 yang dikutip Azra,
2007).

138
3. Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan dan
penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan
keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip
Lubis, 2006: 174).
4. Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam
kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan”
(Suparlan, 2002, merangkum Fay 1996, Jary dan Jary 1991, Watson 2000).
5. Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan,
penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi
etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk
mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggaan
untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A.Rivai Harahap, 2007,
mengutip M. Atho’ Muzhar).

Dengan pengertian yang beragam dan kecenderungan perkembangan


konsep dan praktik multikulturalisme, Bhikhu Parekh (1997:183-185)
membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian
Parekh). Perbedaan masing-masing, perlu dicamkan, bukanlah perbedaan yang
terpisah sama sekali.

Pertama, “multikulturalisme isolasionis” yang mengacu kepada


masyarakat di mana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara
otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
Contoh-contoh kelompok ini adalah seperti masyarakat yang ada pada
sistem “millet” di Turki Usmani atau masyarakat Amish di AS. Kelompok
ini menerima keragaman, tetapi pada saat yang sama berusaha
mempertahankan budaya mereka secara terpisah dari masyarakat lain
umumnya.

Kedua, “multikulturalisme akomodatif”, yakni masyarakat plural yang


memiliki kultur dominan, yang membuat penyesuaian dan akomodasi-
akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultural kaum minoritas. Masyarakat
multikultural akomodatif merumuskan dan menerapkan undang-undang,
hukum dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan
memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan
dan mengembangkan kebudayaan mereka; sebaliknya kaum minoritas

139
tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme akomodatif ini dapat
ditemukan di Inggris, Prancis, dan beberapa negara Eropa lain.

Ketiga, “multikulturalisme otonomis”, yakni masyarakat plural di mana


kelompok-kelompok kultural utama berusaha mewujudkan kesetaraan
(equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom
dalam kerangka politik yang secara kolektif dapat diterima. Concern
pokok kelompok-kelompok kultural terakhir ini adalah untuk
mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama
dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok kultural
dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat di mana semua
kelompok dapat eksis sebagai mitra sejajar. Jenis multikulturalisme ini
didukung misalnya oleh kelompok Quebecois di Kanada, dan kelompok-
kelompok Muslim imigran di Eropa, yang menuntut untuk dapat
menerapkan syari`ah, mendidik anak-anak mereka pada sekolah Islam, dan
sebagainya.

Keempat, “multikulturalisme kritikal” atau “interaktif”, yakni masyarakat


plural di mana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu concern dengan
kehidupan kultural otonom; tetapi lebih menuntut penciptaan kultur
kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif
distingtif mereka. Kelompok budaya dominan tentu saja cenderung
menolak tuntutan ini, dan bahkan berusaha secara paksa untuk
menerapkan budaya dominan mereka dengan mengorbankan budaya
kelompok-kelompok minoritas. Karena itulah kelompok-kelompok
minoritas menantang kelompok kultur dominan, baik secara intelektual
maupun politis, dengan tujuan menciptakan iklim yang kondusif bagi
penciptaan secara bersama-sama sebuah kultur kolektif baru yang egaliter
secara genuine. Jenis multikulturalisme ini, sebagai contoh, diperjuangkan
masyarakat Hitam di Amerika Serikat, Inggris dan lain-lain.

Kelima, “multikulturalisme kosmopolitan”, yang berusaha menghapuskan


batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di
mana setiap individu tidak lagi terikat dan committed kepada budaya
tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam eksperimen-
eksperimen interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan
kultural masing-masing. Para pendukung multikulturalisme jenis ini—
yang sebagian besar adalah intelektual diasporik dan kelompok-kelompok
liberal yang memiliki kecenderungan postmodernist—memandang seluruh
budaya sebagai resources yang dapat mereka pilih dan ambil secara bebas.

Azra (2007) juga menambahkan apa yang disebutnya “multikulturalisme


demokratis”, yang menekankan “kepercayaan” pada normalitas keberagaman dan
penerimaan atas keberagaman itu. Konsep seperti ini, menurut Azra, dapat
dipandang sebagai titik tolak dan fondasi bagi kewarganegaraan yang

140
berkeadaban maupun sebagai landasan budaya (cultural basis) bagi kewargaan,
kewarganegaraan, dan pendidikan. “Multi-kulturalisme demokratis sebagai
landasan budaya, lebih jauh lagi, terkait erat dengan pencapaian civility
(keadaban) yang sangat esensial bagi demokrasi yang berkeadaban dan keadaban
yang demokratis (democratic civility).”

Konsep tentang multikulturalisme, sebagaimana konsep ilmu-ilmu sosial


dan kemanusiaan yang tidak (pernah) bebas nilai (value free), tidak luput dari
pengayaan maupun penyesuaian ketika dikaji untuk diterapkan. Demikian pula
ketika konsep ini masuk ke Indonesia, yang dikenal dengan sosok positif
keberagamaannya. Muncul konsep multikulturalisme yang dikaitkan dengan
agama, yakni “multikulturalisme religius” yang menekankan tidak terpisahnya
agama dari negara, tidak mentolerir adanya faham, budaya, dan orang-orang
yang atheis (anti-agama/anti-Tuhan) (Harahap, 2008). Dalam konsteks ini,
multikulturalisme dipandang sebagai pengayaan terhadap konsep kerukunan
umat beragama yang dikembangkan secara nasional.

7.2.2 Beberapa Isu dalam Multikulturalisme

Dalam tataran konseptual, perbedaan definisi dan pengertian tentang


multikulturalisme tidak terhindarkan akan memunculkan problem jika dijabarkan
dalam kebijakan publik di suatu masyarakat majemuk. Dalam masyarakat
majemuk, perbedaan kebudayaan muncul dalam beraneka wujud dan aspeknya
sementara itu multikulturalisme menghendaki adanya pengakuan (recognition)
yang sama atas keberagaman. Tuntutan akan pengakuan (juga perlakuan dan
penerimaan) yang sama inilah, di tengah-tengah adanya keanekaragaman budaya,
yang memunculkan banyak isu multikulturalisme. Tuntutan ini sesungguhnya
tidak dapat diberlakukan secara mutlak sebab kehidupan selalu memilki batas-
batas, atau paling tidak ada kekecualian. Batas itu antara lain berupa kaidah atau
prinsip tidak merugikan pihak lain maupun kepentingan umum.
Secara faktual beberapa isu besar multikulturalisme antara lain berupa
kemajemukan (vs ketunggalan) identitas/afiliasi/asosiasi individu dan kelompok,

141
kebebasan dalam berbudaya (gaya hidup), salah paham dan kekerasan
antarbudaya serta perbedaan perwujudan nilai dalam kebudayaan dan agama.
Seiring perkembangan psikologis dan sosialnya setiap diri individu dalam
masyarakat memiliki berbagai macam identitas, afiliasi, asosiasi, atau kategori
keanggotaan sehingga menjadi makhluk multidimensi. Selain sebagai manusia
ciptaan Tuhan, makhluk sosial, makhluk individual, seseorang misalnya dapat
dilekati berbagai identitas sekaligus seperti seorang keturunan Jawa-Toraja,
lulusan UI, seseorang yang meminati filsafat, musik jazz, klasik, keroncong,
gamelan, seorang feminis yang heteroseksual, seorang yang religius, humanis dan
puritan, seorang yang bebas dan aktif dalam berpikir dan berilmu, seorang yang
olah raganya senam di rumah, seorang yang tidak merokok dan jarang minum
kopi, seorang yang berpolitik di luar partai politik dan LSM, seorang yang
mengekang diri dalam kebutuhan harta, tahta maupun wanita, seorang yang
mengindahkan homo homini socius.
Semua keragaman identitas yang dimiliki sekaligus oleh seseorang atau
kelompok tersebut dapat saja tinggal satu yakni bilamana terjadi konflik
antarbudaya (antar-subbudaya), antarperadaban, atau antaretnis. Terjadinya
konflik seringkali berpangkal pada rasa iri atau perebutan akan harta, tahta
(pengaruh, reputasi), dan cinta asmara (sesekali) di antara individu maupun
kelompok. Penyebab lainnya adalah ketiadaan pengetahuan yang memadai (utuh-
menyeluruh-mewujud) pada diri individu, kelompok, maupun sistem yang lebih
besar tempat mereka hidup.
Untuk mendapatkan dukungan dalam menghadapi konflik, untuk unggul
atau memulihkan ketertinggalan harta dan tahta), senjata yang paling mudah
digunakan adalah mereduksi keragaman identitas lawan atau musuh menjadi
identitas tunggal. Identitas tunggal ini tentu saja sengaja dipilih yang berbeda atau
bahkan bertentangan dari identitas kelompok sendiri serta yang diberi arti buruk
dan bersalah. Dengan menunggalkan identitas seperti ini pada pihak ‘lawan’ yang
berkonflik, hasutan mengobarkan permusuhan serta tipu daya untuk memperoleh
dukungan menjadi lebih mudah dilakukan. Kekerasan fisik pun mudah merebak
menyusulnya.

142
Dalam tataran yang lebih terbatas, keragaman identitas seseorang dapat
saja lebih sederhana. Misalnya sekelompok orang memiliki identitas warga RT,
mempunyai ‘gaya hidup’ (sebagai wujud budaya atau subbudaya) penyuka musik
dangdut dengan volume suara yang terdengar sampai di ujung gang, suka main
gaple, merokok, dan keramaian malam hari. Kelompok ini dapat saja berkonflik
dengan seseorang atau sekelompok orang lainnya yang masih satu RT tetapi
berseberangan gang oleh karena memiliki subbudaya atau kebiasaan yang
berbeda. Misalnya mereka lebih menyukai ketenangan, memiliki kegiatan rohani,
tidak merokok sehingga dapat menyisihkan untuk berkorban, mendengarkan
musik dengan volume suara yang cukup terdengar di dalam rumah sendiri saja.
Kelompok ini boleh jadi akan merasa terganggu ketenangannya sementara
kelompok lainnya merasa berhak melakukan apa saja dengan alasan apa pun dapat
dilakukan sepanjang di rumahnya sendiri.
Isu yang muncul menyangkut pengakuan yang sama, misalnya, terjadi pada
kelompok yang memiliki orientasi seksual pada jenis kelamin yang sama. Dalam
hal tertentu seperti pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal, pengakuan dan
perlakuan yang sama untuk mereka mudah diberikan. Namun, untuk pengakuan
yang sama dalam hal perkawinan kontroversi amat mudah timbul, bahkan banyak
pihak menolaknya. Salah satu alasan yang mendasar adalah perkawinan sejenis
bukanlah kelakuan spesies yang alamiah, bukan kelakuan yang sesuai dengan
sunatullah. Perkawinan yang alamiah antara lain berfungsi menjamin
keberlanjutan spesies (perkawinan sejenis tidak menghasilkan keturunan, jika ini
dilakukan secara konsisten manusia pelakunya akan punah). Dalam hal ini alasan
kebebasan, bebas memilih gaya hidup, berhadapan dengan alasan yang
eksistensial. Belum lagi adanya alasan “tidak ada kebebasan yang sebebas-
bebasnya”.
Isu serupa terjadi pada seseorang atau sekelompok orang yang
membiasakan diri hidup (dapat mapan menjadi gaya hidup) dengan materi-materi
porno atau cenderung pornografis. Berhadapan dengan orang lain, yang
menjauhkan diri dari materi seperti itu karena alasan agama maupun etika, tidak
terhindarkan muncul polemik yang dapat mengarah ke konflik. Persoalan ini

143
tampaknya berakar pada pengetahuan yang tidak memadai lagi berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan dasar cinta-asmara (khususnya antara pria-wanita);
pengetahuan yang dimaksud yakni definisi pornografi. Tentang definisi ini sudah
terdapat tawaran alternatif baru pendefinisian pornografi (Harsono P, 2008) yang
berbasis pada persepsi dan reaksi anak-anak dan remaja (dipilih yang relatif
sedikit terpapar materi pornografi) tentang apa yang porno (membangkitkan
gairah berahi atau nafsu seksual).
Isu multikulturalisme yang melibatkan hubungan antaragama di Indonesia
sempat muncul (dan masih dimunculkan oleh segelintir pihak) yakni menyangkut
UU Sisdiknas yang ketika itu masih merupakan RUU. Yang menjadi bahan
polemik saat itu adalah pasal 13 ayat 1a dan penjelasannya yang isinya yakni
“setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan
agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang
seagama”. Isu seperti ini, yang sempat menjadi polemik panjang, agar tidak
terulang membutuhkan saling pemahaman tentang pengertian agama, khususnya
dimensi horisontal (hubungan sesama makhluk) dan vertikalnya (hubungan
makhluk dan penciptanya). Tampaknya muncul pemahaman yang kurang
memperhitungkan dimensi horisontal agama; sebaliknya agama hanya dipahami
sebagai kepercayaan kepada hubungan Tuhan dan manusia.
Isu lain adalah budaya kepemimpinan, wujud kelakuan berpola dalam
organisasi. Memang saat ini budaya kepemimpinan yang berlaku di manapun dan
sangat dominan adalah gaya model, atau paradigma kepemimpinan ketua. Akan
tetapi, sudah lama muncul percik-percik ketidakpuasan di antara mereka yang
dipimpin maupun “pemimpin” di tingkat bawah. Sebuah kesimpulan penelitian
tentang hubungan karyawan dan para pemimpinnya yakni bahwa dua dari tiga
pekerja mengharapkan bos-nya keluar sebab merupakan sumber malapetaka
(Tempo, 2002). Ketidakpuasan seperti ini berkembang menjadi tuntutan
perubahan pola atau gaya manajemen (dan kepemimpinan) ke arah yang lebih
partisipatif untuk menghindari mismanagement dan misleadership yang lebih
parah. Ini berarti juga berarti sebagai tuntutan yang lebih tinggi atas budaya
berdemokrasi kepada pihak-pihak yang masih mempraktikkan gaya hidup (baca:

144
wujud budaya kelakuan berpola) otoriter (membuat keputusan dengan
mengandalkan otoritas/jabatan) dan feodalistis dalam kepemimpinan.
Untuk mengatasi problem multikulturalisme perlu kembali disadari bahwa
budaya baik atau buruk adalah hasil daya dari budi, kekuatan dan kecerdasan akal
budi manusia. Maka akal budilah yang harus diasah dan ditingkatkan
penggunaannya. Salah satu cara utamanya adalah berlatih menerapkan kaidah-
kaidah logika secara nyata dalam membuat keputusan, besar maupun kecil.
Kaidah-kaidah logika harus nyata-nyata dipelajari. Banyak orang, apalagi kalau
sarjana dan diberi jabatan, yang menganggap dirinya telah berpikir logis tetapi
tidak pernah membuktikannya dengan mengujinya secara rinci berdasarkan
kaidah-kaidah logika seperti hukum mengenai term dan hukum mengenai
proposisi misalnya (Hayon, 2005:140-149). Akibatnya, alih-alih berpikir logis,
mereka hanya merasa sudah berpikir logis dan malah melakukan sesat pikir
(logical fallacy).

7.2.3. Perkembangan Multikulturalisme di Berbagai Negara

Awal perkembangan multikulturalisme di mulai dari negara-negara Eropa,


antaralain adalah Negeri Belanda. Memasuki abad ke-20, Negeri Belanda yang
dikenal sebagai negeri bunga Tulip ini, banyak dikunjungi imigran dari berbagai
negara Eropa. Negeri ini memang tidak hanya memiliki satu bahasa, tetapi terdiri
atas beberapa bahasa, namun demikian setiap warga negara dapat berbahasa
Belanda dengan baik, sehingga orang Belanda merasa memiliki budaya yang
sama. Mereka juga memiliki identitas yang sama, mengenal mitos-mitos dan
pahlawan yang sama. Pada tahun 1960 mulai terjadi migrasi tenaga kerja, dan hal
itu berkembang terus sampai pada tahun 1970 mencapai puncaknya dengan
kedatangan para pekerja, terutama dari Maroko dan Turki.

Sejak perkembangan itu, multikulturalisme menjadi konsensus ideologi di


antara “kelas politik” yang resmi dari pemerintah. Prinsip mereka terlukis dalam
kalimat “integratie met behound van eigen taal en cultuur.” (Okke KS Zaimar,
2007: 7). Hal ini menandakan bahwa integrasi sosial dilaksanakan, tetapi para
pendatang masih boleh menggunakan bahasa dan memegang budaya mereka
sendiri. Di negeri ini, dilakukan kombinasi terhadap pluralisme budaya dan
konsep tentang integrasi nasional yang berlandaskan keanggotaaan sebuah
komunitas. Model ini, merupakan karakteristik integrasi nasional Belanda.
Sebenarnya, naiknya multikulturalisme di negeri ini, merupakan kelanjutan dari
tradisi Belanda dalam hal pluralisme agama dan budaya. Setiap komunitas agama

145
diperkenankan untuk mengembangkan institusinya sendiri misalnya sekolah,
organisasi, peribadatan dan lain sebagainya.

Pada sekitar tahun 1980, dilakukan politik “minoritas etnis yang tujuan
resminya adalah mengizinkan kaum imigran untuk memelihara identitas kultural
dan tradisi mereka. Hal ini ditopang oleh berbagai tindakan, antara lain
pengajaran bahasa imigran di sekolah pemerintah, dibangunnya sekolah-sekolah
swasta yang disubsidi oleh pemerintah, dukungan pada asosiasi etnis dan lain-
lain. Tindakan ini, sejalan dengan usaha untuk menyetarakan orang asing dan
warga nasional dan merupakan karakteristik-karakteristik tahun 1970-1980.
Kaum imigran sering kali diperlakukan sebagai anggota blok kultural yang
monolitik, dengan landasan kebangsaan. Komunitas ini berkomunikasi dengan
pemerintah Belanda dalam bahasa yang dianggap sebagai bahasa mereka, bahasa
Arab bagi orang Maroko. Oposisi terhadap konsensus ini secara politis bersifat
marjinal. (Okke KS Zaimar, 2007: 8).

Betapapun baiknya suatu teori atau gagasan, mesti terdapat kekurangan-


kekurangannya, di samping kelebihan-kelebihan yang ada, termasuk gagasan
multikulturalisme tidak dapat dilepaskan dari kekurangan-kekurangannya, karena
itu konsensus kaum elit di Negeri Belanda terhadap multikulturalisme mulai
diperdebatkan dan bersamaan dengan itu, kebencian terhadap kaum imigran
makin meluas. Demikian juga definisi etnik tentang bangsa (nation) Belanda juga
dipermasalahkan. Nasionalisme Belanda dan dukungan terhadap identitas
nasional yang tradisional tak pernah memudar, hanya tidak nampak dipermukaan.
Ketika faktor ini kembali diperdebatkan pada tahun 1990, hal ini turut membantu
runtuhnya konsensus tersebut. Tidak aneh, apabila perkembangan di negeri
Belanda ini menarik perhatian dunia internasional, karena negeri ini mulai
berputar haluan dari politik multikultural yang dianut sebelumnya, menjadi
politik asimilasi budaya. Kebijakan yang dianutnya ini, dikenal sebagai yang
paling ekstrim di Eropa. Pada praktiknya proposi imigrasi ditentukan oleh
permintaan akan tenaga kerja yang tidak memiliki keahlian dan kemudian oleh
imigrasi anggota keluarga para pekerja.

Dengan perkembangan ini, jumlah imigran di negeri Belanda yang bukan


orang Eropa makin banyak, jumlahnya mencapai tiga juta orang. Kondisi ini
merubah perbandingan jumlah penduduk Belanda antara penduduk asli dan
pendatang. Jumlah imigran dan proporsi kelahiran pada komunitas mereka telah
mengubah negeri Belanda sejak tahun 1950. Meskipun penduduk mayoritas
masih dipegang etnis Belanda, namun pada tahun 1926, seperlima penduduk
Belanda bukan lagi pribumi, tetapi para imigran, dan separuh imigran itu datang
dari luar Eropa. Imigrasi telah mengubah wajah kota-kota di negeri Belanda
terutama di Amsterdam. Di kota itu 55% dari anak muda bukan orang Eropa,
melainkan imigran dari luar Eropa, terutama orang Turki dan Maroko.

Bagi kelompok yang menentang multikulturalisme dan imigrasi,


kenyataan seperti ini tidak dapat diterima. Bangsa Belanda seolah-olah

146
menghadapi masalah yang sangat mendasar, yaitu hilangnya identitas Belanda.
Para pendatang ini mempersoalkan nasionalisme terhadap identitas nasional.
Perdebatan terus makin tajam dan sekitar 1990 berakhir dan runtuhlah konsensus
tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, di Negeri Belanda terus terjadi
perdebatan antara dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama mendukung
multikulturalisme, sedangkan kelompok kedua menolaknya, pada perkembangan
terakhir kelompok-kelompok yang menentang multikulturalisme makin keras dan
dilakukan secara terang-terangan. Perdebatan mengenai hal ini dan perselisihan
paham yang berkaitan dengan imigrasi, monokulturalisme, atau
multikulturalisme, selalu diselesaikan secara final oleh pemerintah.

Multikulturalisme di Inggris. Sebagai salahsatu negara Eropa yang terus


menerus didaangi para imigran, Inggris tergolong sebagai negara yang tertinggi
dalam menerima imigran, apabila dibanding dengan negara-negara lain di Eropa.
Para imigran di Inggris datang dari India, Karibia, dan negara-negara bekas
jajahannya. Pada perkembangan terakhir, datang pula para imigran dari Eropa
Timur, terutama yang berasal dari Polandia. Inggris melaksanakan cara yang
berbeda dalam menangani keragaman etnis dan budaya. Konsep Inggris tentang
integrasi memberikan prioritas pada individu dan bukan tidak pada organisasi
institusional komunitas. Tugas integrasi juga tidak dibebankan kepada negara,
melainkan dibebankan pada masyarakat sipil dan pada pasar kerja.

Negeri Inggris tidak pernah menghadapi asimilasi rakyat bekas


jajahannya, yang melanjutkan pemerintahan sesuai dengan aturan hukum mereka
sendiri. Multikulturalisme di Inggris mulai berkembang sekitar tahun 1968,
ketika pemimpin buruh Roy Jankins menyampaikan pidato yang menyampaikan
pandangan mengenai imigrasi yang bukan dalam bentuk fusi, tempat imigran
menjadi orang Inggris, tetapi dalam bentuk kesetaraan kesempatan dengan
keragaman budaya dan dalam suasana toleransi. Di Inggris para pendukung
pemerintahan partai buruh, menganggap bahwa menolong golongan minoritas
untuk memelihara budaya mereka, merupakan bantuan untuk menjaga hak
mereka, juga membantu partispasi mereka sebagai warga negara. Ini berarti
melakukan integrasi tanpa asimilasi (Okke KS Zaimar, 2007: 12).

Multikulturalisme memperoleh dukungan di Inggris, karena Inggris masih


ingin melindungi bekas jajahannya, selain itu Inggris membutuhkan tenaga kerja
untuk menjalankan roda ekonominya yang terus berkembang dengan pesat.
Tenaga kerja berdatangan dari India, Karibia, dan negara-negara Eropa Timur.
Sementara itu keadaan di negara-negara bekas jajahannya, belum mencapai
kemajuan yang memadai sehingga banyak tenaga kerja yang menganggur.
Program ini, masih banyak menghadapi halangan dan tantangan-tantangan,
misalnya masalah rasisme masih belum dapat dihilangkan, dan tenaga kerja bekas
negara jajahan yang tidak mempunyai keahlian memberikan andil bagi kegagalan
program tersebut.

147
Setelah itu terjadilah perdebatan antara pihak yang menjunjung
multikulturalisme dan yang menolaknya, masing-masing mengemukakan alasan
yang cukup kuat. Pihak pemerintah yang mendukung multikulturalisme
mengemukakan bahwa multikulturalisme berarti mengakui keberadaan budaya
pendatang. Dengan demikian, pemerintah membantu golongan minoritas untuk
memelihara budaya mereka, pengakuan ini juga merupakan bantuan untuk
menjaga hak mereka, selain membantu partisipasi mereka membantu negara.
Dalam perkembangan terakhir, multikulturalisme di Inggris tidak jauh berbeda
dengan di Negeri Belanda, yaitu terus berkembang perbedaan antara yang pro
dan yang kontra. Perbedaannya, di Negeri Belanda kelompok yang menentang
multikulturalisme bersikap lebih keras, sedangkan di Inggris berjalan lebih lunak.

Multikulturalisme di Prancis, keadaannya sama dengan Inggris. Prancis


telah lama menerima para pendatang, bahkan sejak satu abad yang lalu. Banyak
alasan yang dikemukakan imigran untuk memasuki Prancis, diantaranya untuk
mencari pekerjaan, mencari suaka politik, sedangkan bagi para imigran dari
bekas negara jajahan merupakan suatu usaha untuk meningkatkan taraf hidup
mereka. Selain alasan di atas, letak geografis negeri ini yang amat strategis yang
merupakan jalan persimpangan, menambah banyak jumlah imigran yang ingin
menetap di Prancis. Pada saat ini, statistik menunjukkan bahwa imigran mencapai
3,6 juta. 1,5 juta berasal dari negara-negara Eropa, 1,4 juta dari Afrika Utara,
425.000 dari Asia Tenggara, dan 240.000 dari sub Sahara Afrika, padahal jumlah
penduduk Prancis secara keseluruhan 59 juta orang (Wiarda, Howard J., 2001:
107, sebagaimana dikutip KS Zaimar).

Dalam menghadapi keragaman etnis dan keragaman budaya pendatang,


pada awal abad ke-20 ditetapkan kebijakan publik terhadap kaum imigran dengan
istilah yang disebut asimilasi. Strategi ini berdasarkan pada suatu keyakinan
bahwa budaya Prancis yang dominan,lebih tinggi daripada budaya lain, dan
budaya para imigran harus berasimilasi dengan budaya yang superior itu. Namun
demikian, dalam perkembangan berikutnya, tradisi yang menekankan pada
asimilasi itu mulai ditinggalkan, hal ini disebabkan: pertama, di awal tahun 1960-
an para imigran yang datang bukan dari Eropa saja (seperti dari Italia, Spanyol,
atau Portugis), melainkan dari negara-negara bekas jajahan Prancis, dari sub
Sahara dan Afrika Utara, di antara mereka berbeda agama dan berkulit hitam.
Maka “cultural shock” pun tidak dapat dihindari. Kedua, faktor yang juga telah
membuka perdebatan terhadap asimilasi ini adalah serangan terhadap mitos-mitos
Prancis yang menampilkan identitas nasional. Gerakan kedaerahan meminta agar
bahasa dan budaya mereka diakui (Wiarda, Howard J., 2001: 107, sebagaimana
dikutip KS Zaimar).

Pada tahun 1998, Prancis menempatkan dirinya sebagai negeri yang dihuni
oleh banyak ragam sosial, budaya, dan etnis. Mungkin tidak bijaksana apabila
memperdebatkan masyarakat mana yang lebih pluralis. Usaha untuk menuju
masyarakat pluraslis terus diusahakan dari waktu ke waktu, namun demikian
jalan ke arah itu tidak selalu rata, banyak pertentangan dan halangan yang

148
menghadang. Hal itu dapat disaksikan bahwa tantangan dari bawah hanya akan
bersifat sementara dan hal itu akan segera hilang, ketika pemerintah menyetujui
gerakan pluralisme kultural. Prancis ingin menjadi negeri yang terbuka,
reputasinya sebagai negeri kebebasan sejak munculnya revolusi Prancis,
menyebabkan banyak yang mencari suaka politik yang datang ke sana, selain
mereka yang mencari kerja. Masalahnya menjadi makin rumit ketika datang juga
ke sana para imigran yang datang, tidak memiliki pendidikan yang memadai dan
tidak memiliki ketrampilan, sehingga menyulitkan keadaan. Kaum politisi
konservatif banyak yang menentang kebijakan pemerintah dalam politik “pintu
terbuka.”

Menghadapi kenyataan yang serba menyulitkan itu, diantaranya karena


para imigran menyandang budaya yang sangat jauh berbeda, asimilasi tidak
mungkin dilakukan. Usaha untuk menjalankan integrasi juga kurang berhasil.
Akhirnya Prancis menganut pluralisme budaya saja, yang memberikan ruang
gerak cukup leluasa, baik para pendatang maupun “tuan rumah”. Dalam
kebijakan ini, para imigran dapat dengan bebas melaksanakan tradisi budayanya
hanya sebatas tempat tinggalnya. Apabila mereka keluar, misalnya belajar di
sekolah Prancis, mereka harus memakai budaya Prancis yaitu bahasa dan tradisi
Prancis. Oleh karena itu, sekarang di Paris banyak dijumpai ghetto masing-
masing menurut asal pendatang. Misalnya, komunitas Cina tinggal di ghettonya,
demikian pula komunitas Arab, Afrika dan sebagainya. (Okke KS Zaimar, 2007:
17).
Demikian, latar belakang tumbuhnya multikulturalisme dan
perkembangannya pada beberapa negara, sebagai contoh untuk melihat latar
belakang tumbuhnya multikulturalisme di negara-negara lain. Contoh tersebut
merupakan pola-pola yang mendasari paham itu di negara-negara lain.

7.2.4 Multikulturalisme di Indonesia


Indonesia adalah salahsatu negara multikultural terbesar di dunia, hal ini
dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam
dan luas. Sekarang ini, jumlah pulau yang ada di Indonesia mencapai sekitar
13.000 pulau, besar dan kecil. Populasi penduduknya berjumlah lebih dari 210
juta jiwa, terdiri atas 300 suku yang menggunakan lebih kurang 200 bahasa yang
berbeda. Penduduk Indonesia juga menganut agama dan kepercayaan yang
berbeda-beda, seperti Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Konghucu, serta
berbagai macam aliran kepercayaan yang bersifat lokal. (‘Ainul Yaqin, 2007: 4).
Yang disebutkan di atas hanya merupakan salahsatu dari sekian banyak wajah
multikultural, lebih detail lagi apabila dilihat dari cara pandang, tindakan dan
wawasan setiap individu atau kelompok yang ada, terhadap berbagai macam
fenomena sosial, budaya, ekonomi, politik, dan berbagai hal lainnya, tidak dapat
disangkal, mereka mempunyai pandangan yang beraneka ragam. Latar belakang
yang berbeda itu misalnya dapat dilihat dari segi pendidikan, etnis, agama, kelas
sosial, ekonomi, kedudukan, tindakan dan pandangan yang berbeda, tentang
fenomena sosial seperti, kesetaraan jender, demokrasi, hak asasi manusia, dan
terhadap hal-hal lainnya.

149
Keragaman yang demikian banyak, seperti yang disebutkan di atas, diakui
atau tidak, akan dapat menimbulkan berbagai persoalan seperti yang sekarang
dihadapi bangsa kita korupsi, kolusi, nepotisme, premanisme, perseteruan
antarpolitk, kekerasan, separatisme, perusakan lingkungan, pelanggaran terhadap
hak asasi adalah merupakan bentuk nyata sebagai dampak yang buruk dari
masyarakat multikultural, di samping dampak yang baik dan mengutungkan.
Seperti juga bangsa-bangsa di Eropa dan Amerika, bangsa Indonesia juga
mengalami masa-masa pahit dan mengerikan, yang terjadi dari masa ke masa,
sejak zaman Kerajaan Singosari, Sriwijaya, Majapahit, Mataram, zaman
penjajahan, sampai zaman setelah merdeka. Pengalaman pahit itu dialami bangsa
kita, dengan terjadinya peperangan antarkerajaan, perebutan kekuasaan
antarkeluarga raja, pemerasan dan penganiayaan di zaman penjajahan dan
peristiwa-peristiwa lain sebagaimana disebutkan di atas. Pengalaman pahit yang
dialami bangsa kita, terasa lebih berat apabila dibandingkan dengan bangsa-
bangsa lain, karena peristiwa seperti itu terjadi selama berabad-abad.

Mengambil pelajaran dari kenyataan pahit yang memilukan sebagaimana


disebutkan di atas, perlu dicari strategi yang tepat dalam rangka memecahkan
persoalan tersebut, melalui berbagai bidang; sosial, politik, budaya, ekonomi,
pendidikan, dan pengajaran. Berkaitan dengan hal itu, perlu ditawarkan suatu
alternatif melalui penerapan pendidikan multikulturalisme (diambil yang
positifnya) yang berbasis pada pemanfaatan peotensi keragaman yang ada pada
masyarakat. Berbagai keragaman dengan aneka macamnya yang terjadi pada
bangsa kita agar dimanage untuk mendatangkan hal-hal yang bermanfaat dan
menguntungkan. Pendidikan multikulturalisme ini tidak hanya diberikan di
sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga diterapkan dalam semua
aktifitas kemasyarakatan. Dengan cara ini, kesadaran mengenai pentingnya
toleransi, pluralisme, dan demokrasi akan makin tumbuh dalam kehidupan
masyarakat, sehingga dapat menghindari konflik. Perbedaan-perbedaan yang ada
apabila dikelola secara baik justru akan mendatangkan manfaat, bukan saja bagi
umat manusia tetapi juga bagi alam semesta secara keseluruhan. Kita dapat
mengambil pelajaran dari perbedaan-perbedaan keahlian yang ada pada kita,
masing-masing kita memiliki kemampuan dan keahlian yang berbeda. Justru
perbedaan-perbedaan itu menguntungkan kita semua, ada di antara kita yang
mempunyai keahlian sebagai seorang dokter, insinyur, ahli hukum, ilmuwan,
agamawan, dan sebagainya. Bayangkan jika setiap manusia hanya memiliki
keahlian yang sama semua, misalnya dokter semua atau insinyur semua, tentu
hubungan sosial kita tidak akan berjalan dengan baik.

7.3. Etika Kemajemukan

Etika dalam hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh K.Bertens sebagai
norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok
orang dalam mengatur perilakunya. Bagaimana kita merencanakan perilaku

150
ditengah masyarakat yang majemuk dari sudut budaya, etnis dan agama. Dengan
melihat potret kehidupan sosial dalam masyarakat Indonesia masa yang akan
datang perlu dirangkai kehidupan bersama yang lebih harmonis. Secara spesifik,
dalam tataran masyarakat yang majemuk, perlu dibangun kesadaran bersama
bahwa dalam berperilaku sehari-hari dan sekaligus berinteraksi antara
menghormati perbedaan-perbedaan yang muncul. Dalam rangka mewujudkan
kesadaran kolektif tersebut yakni membangun kesadaran masayarakat untuk
mingkatkan etika kemajemukan, ada hal-hal yang harus dilakukan secara bersama
sama. Ada hal-hal yang tidak perlu dilakukan dan adap ula hal-hal yang perlu
dihormati.
Adapun hal-hal yang harus dilakukan sebagai berikut :
1. mewujudkan kemauan bersama untuk mewujudkan perdamaian dengan
menggalang kesadaran kolektif.
2. duduk bersama merumuskan solusi-solusi terbaik untuk menciptakan
perdamaian dengan mengedepankan kepentingan bersama dari pada
kepentingan golongan atau kelompok.
3. bersama menahan diri untuk terlibat dalam konflik kepentingan yang
mengareah kepada konfrontasi fisik secra masal
4. mengedapankan kesaudaraan bersama dalam mencari upaya untuk
menciptakan kesadaran kolektif, tanpa asa kepentingan pribadi (vested
interest)

Hal-hal yang tidak perlu dilakukan bersama adalah melebur kebenaran


masing-masing, memaksa pada pihak lain yang berbeda pandangan dan ideologi,
menggeneralisasi setiap perbedaan dan lain sebagainya ingin hidup bersama
dalam perdamaian.Hal-hal yang harus dihormati adalah penghargaan terhadap
kebenaran agama, ideologi, perbedaaan budaya masing-masing tanpa harus
mengungkapkan kekurangan ataupun kekurangan yang bernada melecehkan.

Jika hal tersebut dapat diwujudkan dan dilaksanakan, maka selanjutnya


bagaimana menyebarluaskan dalam masyarakat luas. Artinya masyarakat luas
harus diajak bersama untuk mewujudkan kesadaran kolektif tersebut yang dinilai
dari kelompok-kelompok kecil sampai komunitas-komunitas besar seperti beda
agama. Katakanlah ajakan untuk mewujudkan kesadaran kolektif itu dimulai dari
keluarga, pergaulan dengan tetangga sampai kepada masyarakat. Ketika pada
masyarakat diperlukan etika kemajemukan yang solid yaitu lebih mengedepankan
kebersamaan daripada mempermasalahkan perbedaan-perbedaan.

Sehubungan dengan ini, nilai moral universal seperti kejujuran, keadilan,


tolong-menolong, saling kasih mengasihi dan perlindungan terhadap hak asasi
manusia harus lebih dikedepankan daripada hal-hal yang parsial dan ekslusif. Juga
kesamaan-kesamaan budaya bahwa kita satu nenek moyang dan mengalami sikap
yang sama dan tergantung dan membutuhkan satu dengan yang lainnya harus
menjadi pedoman dalam menjalin hubungan dengan etis lain. Untuk itu kita perlu
memiliki komitmen bersama terhadap hal-hal sebagai berikut :

151
1. Saling menghargai, menahan diri, lapang dada, mengingatkan
untuk kebaikan, berniat suci untuk kebaikan menolong dalam kebaikan
memaafkan dan mendoakan
2. Saling mengedepankan kebersamaan, saling berbuat baik untuk
bersama, membela jika salah satunya teraniaya, merasa bersaudara,
mendukung keputusan bersama, berjuang menegakkan keputusan bersama,
mengalah apabila tidak mencapai sepakat.
3. Berperilaku saling beradab (beretika) tidak terprovokasi saling
mencintai, saling bersahabat secara akrab, saling menolong dalam
kebaikan.

Komitmen-komitmen diatas mengingatkan kita untuk tidak berbuat bebas


dari aturan yang telah disepakati bersama. Karena itu membangun (menciptakan)
kesadaran kolektif pasti mendapat tantangan maka komitmen dapat membuat kita
lebih solid untuk melangkah dan menatap hari esok yang lebih cemerlang dan
beretika.Agar semua dapat terlaksana maka kita semua perlu berperilaku : jujur,
adil, kerja sama, tanggung jawab, sopan, disiplin dan peduli.
Etik pergaulan penting yang harus dijaga dalam bergaul dengan saling mengenal
dan kerja sama pada masyarakat majemuk.
1. Bergaulah dengan siapa saja tanpa memandang agama, suku bangsa,
pandangan politik dengan saling menghargai sifat masing-masing.
2. Hiasilah pergaulan dengan berperilaku sopan (berakhlak dan budi pekerti),
pergunakan bahasa yang sopan raut wajah yang sopan dan sebagainya
sungguhpun anda berbeda pendapat dan ideologi dengan mereka.
3. Jangan menjadikan pertemuan itu sebagai ajang membuat strategi untuk
merusak kebenaran dan melesatarikan permusuhan.
4. Materi pembicaraan dalam pertemuan jangan sampai mengarah pada sikap
caci maki, membicarakan aib, dan merencanakan langkah-langkah untuk
menjatuhkan orang, agama, atau etnis lain.
5. Kerja sama dalam pergaulan supaya diarahkan untuk kebaikan bersama
(konstruktif) bukan untuk lkepentingan kelompok atau golongan yang
bersifat destruktif.
6. Jangan memanfaatkan kerja sama yang sudah terbina hanya untuk mencari
kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan lain.
7. Akhirilah setiap pertemuan dan dialog dengan saling minta maaf dan
membuat janji serta membangun komitmen untu meneruskan persahabatan
yang sudah terjalin.
8. Berilah teladan dan contoh perilaku dan ucapan yang baik, terutama dalam
pergaulan bersama supaya teman bergaul menjadi simpati dan jangan
mengobral janji yang belum tentu ditepati apalagi tidak ditepati.

Dengan melaksanakan kedelapan pedoman tersebut berarti telah


dilaksanakan prinsip-prinsip pergaulan dalam etika kemajemukan dan telah

152
menangkap filosofi bergaul serta mengimplementasikannya dalam kehidupan
sehari-hari.

7. 4. Dampak Kemajemukan

Indonesia penduduknya terdiri atas berbagai suku bangsa, bahasa dan


budaya yang sangat majemuk. Implikasi dari kemajemukan masyarakat dan
kebudayaan di Indonesia ialah beragamnya pula sistem budaya dalam masyarakat,
dan munculnya masalah kritikal. Yang dimaksud dengan sistem budaya adalah
kepercayaan, nilai-nilai, dan norma-norma untuk mengatur hubungan sosial dalam
masyarakat. Sistem budaya itu hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari
warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap amat bernilai dalam
hidup. Oleh karena itu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman
bagi tingkah laku manusia dalam kehidupan sosialnya.

Secara garis besar terdapat empat macam sistem budaya di Indonesia yang
jelas berbeda satu sama lain (Bachtiar 1987). Masing-masing sistem budaya ini
praktis mengatur seluruh aspek kehidupan orang-orang yang dianggap penting,
atau yang lebih penting lagi menganggap dirinya sendiri, sebagai pemilik sistem
itu.
Pertama adalah sistem budaya dari berbagai kelompok etnik di Indonesia.
Masing-masing kelompok etnik itu beranggapan bahwa kebudayaan mereka
diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang yang hidup di “zaman
dongeng.” Masing-masing budaya kelompok etnik itu mempunyai tanah asal,
wilayah tempat para nenek moyang pertama kali menetap, asal dari masyarakat
etnik yang kemudian makin meluas. Sistem budaya ini biasanya disebut sebagai
sistem adat.

Pada mulanya, inti dari sistem budaya etnik adalah kepercayaan religi
yang masuk ke dalam keseluruhan sistem budaya. Termasuk di dalamnya mitos-
mitos mengenai asal-usul nenek moyang dan biasanya merupakan suatu
kosmologi yang rumit. Kepercayaan itu memberi batasan tentang apa itu
masyarakat yang baik. Pada kebanyakan masyarakat pedesaan, kehidupan
sosialnya terutama dikendalikan oleh suatu sistem budaya etnik. Sedangkan di
kota-kota besar mungkin dijumpai aneka ragam kelompok etnik yang berbeda-
beda. Oleh karena itu kota-kota besar biasanya menampakkan aneka ragam
sistem budaya etnik.

Kedua, sistem budaya yang terdiri atas sistem-sistem budaya agama besar
yang tanpa kecuali, berasal dari luar kepualuan Indonesia. Tidak satu pun dari
sistem budaya yang berdasarkan agama ini mempunyai tanah asal di Indonesia,
dan semua sistem budaya ini mempunyai banyak pengikut di luar Indonesia. Hal
itulah yang merupakan pembeda terpenting antara sistem budaya yang berdasar
agama dengan sistem budaya yang berdasar pada kelompok etnik. Seiring dengan

153
perkembangan waktu, berbagai kelompok etnik (yang semula animistik) beralih
atau menyesuaikan diri kepada agama-agama pendatang itu.

Masing-masing agama di dunia menyatakan dirinya mempunyai


kewajiban moral untuk mengatur semua aspek kehidupan, setidak-tidaknya
kehidupan masyarakat penganut agama itu. Pada kenyataannya, tidak semua
penganut suatu agama benar-benar menjalankan perintah agama yang dianut-nya.
Bahkan yang paling fanatik pun cenderung untuk memilih apa yang sebaiknya
diterima dan apa yang sebaiknya ditolak. Lebih lanjut, kebanyakan orang tetap
beranggapan diri mereka sebagai anggota masyarakat etniknya masing-masing,
dan karena itu merasa bertanggung jawab atas sistem budaya masyarakat sendiri.

Ketiga, sistem budaya Indonesia, yang merupakan sistem termuda di


antara semua sistem budaya yang ada di Indonesia. Dilihat dari fungsinya dalam
pengintegrasian masyarakat Indonesia secara total, kedudukan sistem budaya baru
itu sangatlah penting. Semua penduduk pribumi dan nonpribumi dapat dianggap
sebagai anggota sistem budaya ini. Unsur-unsur sistem budaya ini telah
terbentuknya setidaknya sejak sekitar awal abad XX yang kemudian secara
bertahap tumbuh menjadi suatu sistem yang mandiri. Bahasa Indonesia,
misalnya, mengalami “pemisahan” dari bahasa Melayu, dan berkembang sebagai
alat komunikasi baru yang menggantikan bahasa penguasa kolonial Belanda.

Sistem budaya Indonesia juga mengembangkan sistem normatif dan nilai-


nilai dasarnya sendiri, yang tidak berakar secara utuh pada salah satu budaya
masyarakat etnik atau tradisi keagamaan melainkan berakar pada semua sistem
budaya yang ada. Nilai-nilai dasarnya telah dirumuskan menjadi ideologi negara
yakni Pancasila. Unsur pokok sistem normatif bangsa Indonesia adalah Undang-
Undang Dasar Negara. Sedangkan unsur-unsur penting lainnya dari sistem
normatif itu adalah semua norma hukum resmi yang diharapkan diterapkan dan
dipatuhi seluruh anggota masyarakat dalam kegiatan mereka sebagai warga
negara Republik Indonesia. Norma-norma itu mengatur hak dan kewajiban semua
warga negara Indonesia dan siapa saja selama mereka tinggal di wilayah ini.

Keempat, adalah sistem budaya yang terdiri atas sistem-sistem budaya


asing. Masuknya sistem-sistem budaya asing itu pada awalnya dapat dilihat
bersamaan masuknya agama-agama besar ke kepulauan Indonesia sejak berabad-
abad yang lalu. Sistem-sistem budaya agama besar itu berhasil mengakar secara
kuat di kalangan penduduk sehingga sedikit-banyak mempengaruhi pikiran, sikap
dan tindakan sebagian warga masyarakat di Indonesia. Sebaliknya pula, sistem-
sistem budaya agama itu dalam tingkat tertentu telah kehilangan identifikasinya
sebagai sistem budaya asing meskipun tidak hilang sama sekali. Misalnya dalam
sistem budaya agama Islam masih digunakan bahasa Arab sebagai ungkapan
komunikasi keagamaan; demikian juga sistem budaya agama Katolik masih
berkaitan dengan Roma, sistem budaya agama Protestan masih berhubungan

154
dengan negara-negara Protestan di Barat, dan sistem budaya Hindu dan Budha
masih berasosiasi dengan India.

Sementara itu, sebagian sistem budaya keduniawian asing juga berhasil


masuk ke Indonesia, baik dari Eropa, Ame-rika maupun dari Asia seperti India,
Cina dan Jepang. Bagaimanapun, sistem-sistem budaya itu tetap dikenal sebagai
sistem-sistem budaya asing dan kemungkinan besar akan tetap begitu. Demikian
pula sebagian besar unsur-unsurnya akan tetap dianggap asing sehingga ada yang
mengalami kesulitan untuk berkembang. Namun ada pula unsur sistem budaya itu
yang telah menjadi bagian dari sistem budaya nasional Indonesia, misalnya
pengetahuan ilmiah, teknologi, sistem ekonomi dan sistem politik. Meskipun
berasal dari sistem budaya asing, unsur-unsur budaya tersebut telah dimasukkan
menjadi bagian dari sistem budaya nasional atau setidak-tidaknya dianggap
begitu.

Sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman nilai-nilai


budaya sebagai dasar dalam berperilaku, dan telah menjadi sistim budaya, maka
telah menjadi keharusan dalam kehidupan masyarakatnya terdapat norma-norma
yang mengatur gerak langkah manusianya sebagi anggota masyarakat.

Sebagai makhluk budaya, perilaku manusia memerlukan pedoman atau


acuan dalam bertingkah laku. Oleh karena itu, di dalam melakukan tindakan-
tindakan atau perilaku dalam kehidupannya, manusia dilingkupi oleh sistem nilai
atau himpunan nilai-nilai. Sebagai wujud ideal kebudayaan yang memberi acuan
manusia dalam berperilaku, nilai-nilai tersebut seolah-olah mempunyai tingkatan-
tingkatan atau gradasi dalam kedudukannya. Pembahasan mengenai sistem nilai
budaya terdahulu, merupakan inti yang menjiwai semua pedoman yang mengatur
tingkah laku warga masyarakat yang bersangkutan. Pedoman tingkah laku yang
dimaksudkan itu di antaranya adalah norma-norma yang hidup di masyarakat atau
dikatakan juga sebagai norma sosial.

Secara umum pengertian norma adalah segala aturan-aturan atau pola-pola


tindakan, yang normatif, yang menjadi pedoman hidup bagi orang untuk bersikap
tindak di dalam kehidupannya, baik dalam hidupnya sendiri maupun dalam
pergaulan hidup bersama. Norma-norma tersebut diyakini oleh warga masyarakat
yang bersangkutan sebagai milik bersama. Bagaimana suatu masyarakat meyakini
suatu norma sebagai milik bersama nampak dalam tingkah lakunya, bagaimana
mereka menundukkan diri atau mematuhi norma-norma tersebut.

Beraneka ragamnya norma-norma yang hidup di masyarakat dikarenakan


norma-norma tersebut sudah mengacu pada peranan-peranan manusia dalam
kedudukannya di masyarakat. Selain itu apabila di lihat dari sudut daya paksa atau
sanksi untuk kepatuhan terhadap suatu norma terdapat perbedaan-perbedaan pula.
Ada norma yang lemah atau tidak keras dengan sanksinya, atau dikatakan sebagai
sanksi sosial saja. Sebaliknya ada pula yang mempunyai sanksi kuat yang

155
dinamakan sebagai sanksi hukum, sehingga norma tersebut dinamakan sebagai
norma hukum. Dalam bab sebelumnya telah diuraikan tentang: norma-norma yang
hidup dalam masyarakat yaitu norma hukum dan norma sosial lainnya, kemudian
mengenai proses terjadinya norma hukum yang berasal dari norma sosial, dan
pembahasan mengenai hal-hal pokok tentang hukum sebagai suatu norma yang
penting dalam mengatur kehidupan manusia.

7. 5. Masyarakat dan Terbentuknya Sebuah Bangsa


Masyarakat pada dasarnya adalah kumpulan orang, namun tidak semua
kumpulan orang dengan sendirinya merupakan masyarakat. Terdapat empat
kriteria yang harus dipenuhi agar suatu kumpulan atau kelompok orang dapat
disebut masyarakat, yaitu (1) memiliki kemampuan bertahan melebihi masa hidup
(seorang) individu; (2) rekrutmen seluruh anggotanya melalui reproduksi; (3)
kesetiaan pada suatu sistem tindakan utama bersama; dan (4) adanya sistem
tindakan utama yang bersifat swasembada (Marion Levy). Konsekuensi dari
kriteria tersebut ialah bahwa suatu kelompok dapat disebut masyarakat apabila
kelompok itu memenuhi keempat kriteria tersebut; atau apabila kelompok itu
dapat bertahan stabil untuk beberapa generasi walaupun sama sekali tidak ada
orang atau kelompok lain di luar kelompok tersebut (Sunarto 1993).

Berdasarkan kriteria tersebut, kumpulan orang yang berada di malla tau


pasar, misalnya, tidak dapat disebut sebagai masyarakat karena kumpulan itu
bersifat sementara yang bubar ketika tujuannya selesai; kumpulan itu tidak
melakukan reproduksi untuk menambah jumlah anggotanya; tidak ada suatu
kesetiaan pada sistem tindakan utama bersama; dan tidak melakukan tindakan
untuk menghasilkan kebutuhan sendiri seperti sandang dan pangan. Kumpulan
orang dipasar lebih tepat disebut kerumunan atau crowd (Park 1972).

Memahami pengertian masyarakat tersebut, sudah barang tentu


terbentuknya masyarakat diawali dengan individu. Individu berinteraksi dengan
individu menjadi keluarga, dan keluarga berinteraksi dengan keluarga lain
menjadi sebuah masyarakat. Dalam masyarakat yang terjadi bukan satu keluarga
berinteraksi dengan satu keluarga tetapi persatuan beberapa keluarga yang
jumlahnya besar berinteraksi, komunulasi dan sepakat membuat satu
kepentingan bersama menjadi sebuah masyarakat. Setelah manusia membentuk
masyarakat dengan ragam budayanya dan agar tetap eksis dan sejahtera,
manusia membentuk masyarakat yang lebih besar dan menamainya dengan
bangsa. Timbul beberapa pengertian bangsa dan kebangsaan yang berkembang
sejak akhir abad XIX dan kini menjadi bahan acuan dalam pembahasan tentang
bangsa dan kebangsaan.

Dua pengertian tentang bangsa (nation) dan kebangsaan yang


berkembang. Menurut Hans Kohn (Kaelan, 2002: 213): bangsa terbentuk
persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, negara dan kewarganegaraan.
Teori Kohn ini nampaknya berdasarkan perkembangan pengertian bangsa (nation)

156
di Eropa kontinental. Bangsa di Eropa kontinental bangkit karena revolusi
leksikografi bahwa bahasa milik pribadi-pribadi kelompok khas (Anderson, 2001:
126). Eropah daratan dikuasai oleh Dinasti Habsburg di sebagian Eropa tengah
dan Timur, dinasti Romanov di Eropa, Rusia dan Asia Barat hingga Siberia dan
dinasti Usmania (Ottoman) di Balkan, sedangkan di wilayah Eropah Barat lebih
indevenden setelah jatuhnya dinasti Bourbon. Bangsawan (penguasa lokal
diharuskan mampu berbahasa latin sebagai bahasa resmi. Persoalan timbul bahwa
yang mampu menguasai bahasa resmi hanya sedikit. Ini berdampak bahwa
percetakan tidak hanya menerbitkan karya tulis secara luas sehingga akan
menimbulkan kerugian. Sebagai tindak lanjutnya, para penerbit lebih banyak
menggunakan bahasa lokal agar masyarakat yang mampu baca tulis lebih banyak.
Akibat lanjutnya adalah tumbuhnya faham egalitarisme di kalangan masyarakat.
Faham egalitarisme merupakan awal pertumbuhan demokrasi dan nasionalisme.
Rupanya faktor inilah menjadikan Hans Kohn membuat definisi seperti ini. Bagi
Negara yang dikuasai ras lain, nasinalisme tumbuh seperti dari Ernes Renan, yang
pada hakikatnya juga merupakan pemberontakan terhadap penguasa yang ingin
memaksakan penggunaan bahasa dan budaya penguasa. Oleh karena itu, Ernes
Renan (kini menjadi suatu acuan oleh para pemimpin nasional di dunia
ketiga/Negara sedang berkembang) masyarakat : bahwa bangsa adalah, bukan
suatu ras, bukan orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama, bukan
pula dibatasi oleh batas-batas geografis atau batas alamiah. Nation (bangsa)
adalah suatu solidaritas, suatu jiwa, suatu asas spiritual, suatu asas solidaritas yang
dapat tercipta oleh perasaan pengorbanan yang telah lampau dan bersedia dibuat
dimasa yang akan dating. Nation tidak terkait oleh negara, karena berdasarkan
hukum. Menurutnya wilayah dan ras bukan penyebab timbulnya bangsa.

Berbeda bangsa dalam konsep Pancasila, (Kaelan, 2002:213) Dikatakan


bangsa karena adanya unsur masyarakat yang membentuk bangsa, yaitu : berbagai
suku, adat istiadat, kebudayaan, agama serta berdiam suatu wilayah yang terdiri
atas beribu-ribu pulau. Bangsa juga mempunyai kepentingan yang sama dengan
individu, keluarga maupun masyarakat yaitu tetap eksis dan sejahtera. Salah satu
persoalan yang timbul dari bangsa adalah ancaman disintegrasi, dan yang menjadi
penyebab utama biasanya perbedaan persepsi pada upaya masyarakat yang ingin
“merekatkan diri lebih ke dalam”, yaitu ingin mempertahankan pola. Oleh karena
itu, pada bangsa yang baru merdeka atau berdiri diupayakan memiliki alat perekat
yang beasal dari budaya masyarakat. Pada perkembangannya alat perekat itu
dikenal sebagai ideologi yang hendak dipahami oleh bangsa itu sendiri.
Kebangkitan bangsa pada masyarakat terjajah sebenarnya tidak saja dimulai
dengan upaya membangkitkan semangat egaliter oleh para pemimpin pergerakan
tetapi oleh para pemimpin dinasti yang memaksakan masyarakat menggunakan
budaya para penguasa.

Menyadari hal tersebut para pemimpin pergerakan mengupayakan


perlawanan terhadap dominasi ras Eropa dengan membangun sekolah agar
masyarakat nusantara mampu membaca dan menulis huruf Latin. Para raja di
nusantara ikut membantu pasif. Kemampuan membaca dan menulis, ditindak

157
lanjuti dengan cukup memadai penerbitan kita dan penggalian filsafat masyarakat
nusantara maupun Eropa. Masyarakat nusantara mulai gemar membaca dan
menulis serta berusaha menerjemahkan kata asing ke dalamm bahasa Melayu dan
Jawa. Karya-karya itu akhirnya membangkitkan semangat egaliter dan selanjutnya
membangkitkan semangat kebangsaan. Kebangsaan diartikan sebagai ciri-ciri
yang menandai bangsa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002: 102).

Sebagian orang Belanda yakin bahwa terbentuknya bangsa Indonesia


sebagai hasil rekayasa J.P. Coen, yang telah berhasil mendirikan dan membangun
benteng Batavia (Simbolon, 1995:372). Namun yang jelas kebangkitan ras
Melayu menjadi bangsa Indonesia didahului dengan kebangkitan semangat
egaliter, yang diwujudkan melalui tiga jalur, yaitu: kebudayaan, ekonomi dan
administrasi politik. Sumpah Pemuda yang menyatakan Satu Nusa, satu bangsa
dan satu bahasa, yaitu bahasa Indonesia, pada tanggal 28 Oktober 1928
merupakan gambaran terbentuknya bangsa Indonesia sebagai bagian dari “nation
state” dengan bahsa Indonesia sebagai bahasa kesatuan. Tujuh belas tahun
kemudian terwujud Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu unsur negara
yang harus ada rakyat atau penduduk yang mendiami wilayah dan penduduk itu
hendaknya mayoritasnya adalah warganegara, sedangkan pendududuk negara
Indonesia (sebelum merdeka) terdiri atas tiga golongan, yang tentunya tidak setiap
golongan akan setia pada negara baru. Dari ketiga penduduk ini kemudian
ditetapkan siapa-siapa yang menjadi warga negara Indonesia.

158
DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Alisjahbana, Sutan Takdir, Sejarah dan Kebudayaan Indonesia: Di lihat dari Segi
Nilai-nilai. Jakarta: PT. Dian Rakyat, 1982.

Apeldoorn, Van, 1982, Pengantar Ilmu Hukum, terjemahan Inleiding tot de


studie van het Nederlandse Recht oleh Mr. Oestarid Sadino. Jakarta:
Noordhoff-halff N.V., 1982.

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Agama. Jakarta: Logos, 1987.

Ball, Gran T., Civics, New Revisied Edition. Chicago III: Follet Publishing Co.,
1973.

Bertens, K, Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Cassese, Antonio, Hak Asasi Manusia di Dunia yang Berubah, Yayasan Obor,
Jakarta, 1994.

Deddy Mulyana, et.al, Komunikasi Antarbudaya, Bandung: PT Rosda Karya,


2006.

Departemen Agama RI, Pedoman Dasar Kerukunan Hidup Beragama, Jakarta:


Depag RI, 1980.

Departemen Luar Negeri, Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Hukum


Laut, Jakarta: Direktorat Perjanian Internasional Deparlu, 1983.

Djatmika, Rahmat, Sistem Etika Islam, Surabaya: Pustaka Islam, 1985.

Finoza, Lamuddin, Komposisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Diksi Insan Mulia,


2008.

Freger, Robert, Hati, Diri, dan Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi. Jakarta:
Serambi, 2002.

Hayon, Y.P. Logika, Prinsip-prinsip Bernalar Tepat, Lurus, dan Teratur. Jakarta:
ISTN, 2005.

159
Hirts, Paul, War and Power I The 21 Century (terjemahan), Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2004.

Huntington, Samuel, P.,The Class Of the Civilazation and The Remarking of The
Word Order. United Kingdom: Cox and Wyman, 1996.

Ihromi, TO, Antropologi dan Hukum. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000.

______, Biang Lala Hukum Indonesia. Bandung: Tarsito, 1986.

Jalaluddin, Rahmat, Psikologi Agama, Jakarta: ,1996.

Jurnal Kajian Wilayah Eropa, Jakarta: Pascasarjana, Universitas Indonesia, 2008.

Kaelan, M. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma

Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT.


Gramedia, 1985.

Koentjaraningrat, Kendala Sosial Budaya Dalam Pengamalan Pancasila, Kompas,


14 Januari 1991

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 1990.

Liliweri, Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta:


LkiS, 2002.

Lubis, Akhyar Yusuf, Dekonstruksi Epistemologi Modern. Jakarta: Pustaka


Indonesia Satu, 2006.

Mubarak, Zakky, Menjadi Cendekiawan Muslim. Jakarta: Yayasan Ukhuwah


Insaniah, 2007.

Mustopo, M Habib. Ilmu Budaya Dasar, Kumpulan Essay- Manusia dan Budaya.
Surabaya: Usaha Nasional, 1989.

Panuju, Redi, Ilmu Budaya Dasar dan Kebudayaan. Jakarta: P.T. Gramedia
Pustaka Utama, 1996.

Purbacaraka, Perihal Kaedah Hukum. Bandung: Alumni, 1982.

Sen, Amartya, Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas. Serpong: Marjin Kiri, 2007.

Shihab, Quraish, Membumikan Al-Qur'an. Bandung: Mizan,1992.

160
Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

Suseno, Franz Magnis, Etika Dasar, Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral.


Yogyakarta: Kanisius, 1987.

Syahrani, Riduan, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Banjarmasin: Pustaka


Kartini, 1988.

Widagdho, Djoko, Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara, 1994.

Yaqin, M. Ainul, Pendidikan Multikultural, Yogyakarta: Pilar Media, 2007.

Koran:

Harsono P, Ari. “Duri Definisi dalam UU Pornografi”, Media Indonesia, 19


November 2008

Tempo, rubrik Klik TEMPO Interaktif, 18-24 Februari 2002: 6

Peraturan-Peraturan:

Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Tahun 2004 No. 125. Tambahan Lembaran Negara No.4437 )

________, Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Kamus dan Ensiklopedia:

Hagoo, John APeace of Westphalia, Encyclopedia Americana vol 28). New York,
NY: American Corp, 1977.

Holborn, Hajo, William II, Encyclopedia Americana vol 28). New York, NY:
Americana Corp, 1977.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia,


Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka, 2001.

Rujukan Internet:

Azra, Azyumardi, 2007 “Identitas dan Krisis Budaya, Membangun


Multikulturalisme Indonesia”,
http://www.kongresbud.budpar.go.id/58%20azyumardi%20azra.htm, 18
November 2007

161
Harahap, Ahmad Rivai, “Multikulturalisme dan Penerapannya dalam
Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama”, http://lpkub.org/Jurnal
%20KUB/edisi2/teori%20multikulturalisme.htm , 2004

Suara Publik, http://www.suarapublik.org/Cetak/ Edisi_16 /Page _13.htm, Edisi


Oktober 2003.

Suparlan, Parsudi, “Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural”,


Simposium Internasional Bali ke-3, Jurnal Antropologi Indonesia,
Denpasar Bali, 16-21 Juli 2002,
http://www.duniaesai.com/antro/antro3.html

162
TENTANG PENULIS

R. Ismala dewi, adalah tenaga pengajar tetap di Fakultas Hukum Universitas


Indonesia untuk Mata Kuliah Antropologi Budaya, Antropologi Hukum dan Ilmu
Budaya Dasar. Kemudian sebagai Koordinator Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian Terintegrasi (MPKT) - PDPT UI di FHUI, serta fasilitator MPKT di
lingkungan Universitas Indonesia. Latar belakang pendidikan adalah S1 Fakultas
Hukum UI, S2 Program Pascasarjana UI Fakultas Hukum, dan Kandidat Doktor
pada Program S3 Studi Hukum di Universitas Indonesia. Selain sebagai tenaga
pengajar di UI, aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan disiplin ilmu
hukum, dan kegiatan pengabdian pada masyarakat, antara lain Pembimbing
Mahasiswa dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (K2N) Mahasiswa Universitas
Indonesia.

Zakky Mubarak, adalah tenaga pengajar tetap Universitas Indonesia, fasilitator


PDPT UI – MPKT, MPK Agama dan dosen di pascasarjana KTTI di lingkungan
Universitas Indonesia. Latar belakang pendidikannya adalah S1 Fakultas
Ushuluddin (Theologi) UIN Jakarta, S2 Program Pascasarjana UIN Jakarta
bekerja sama dengan UI, dengan Tesis "Pemikiran al-Ghazali tentang Pendidikan
dan Manfaatnya bagi Pendidikan Agama di Perguran Tinggi Umum", Program S3
Studi Pemikiran Islam di UIN Jakarta lulus awal tahun 2006 dengan Disertasi
"Akal dan Kalbu dalam Pandangan al-Ghazali." Selain tenaga pengajar di UI
aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan studi Hadis, Filsafat,
dan Tasawuf.

Husmiaty Hasyim, adalah tenaga pengajar tetap Universitas Indonesia, fasilitator


PDPT UI – MPKT, dan MPK Agama, dosen Ekonomi Syari'ah di FE, Pasca
sarjana KTTI di lingkungan Universitas Indonesia. Latar belakang pendidikannya
adalah S1 Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta, S2 Program Kajian Islam Pascasarjana
UIN Jakarta. Selain sebagai tenaga pengajar, juga aktif dalam berbagai kegiatan
ilmiah, seperti penulisan jurnal ilmiah, Entry Encyclopedi Islam, kegiatan
kemasyarakatan dan kegiatan dalam berbagai organisasi keagamaan, serta
organisasi kewanitaan.

Ari Harsono, adalah Dosen tetap Departemen Ilmu Komunikasi FISIP


Universitas Indonesia, fasilitator PDPT UI – MPKT di Universitas Indonesia.
Memberikan kuliah Etika dan Filsafat Komunikasi, Psikologi, Komunikasi, Ilmu
Sosial Dasar, dan Seminar Masalah Komunikasi. Latar belakang pendidikan S1
FISIP UI. S2 STIE IPWIJA, dengan Tesis "Paradigma Kepemimpinan Pendapat"
Selain sebagai tenaga pengajar, ia menaruh perhatian pada kajian tentang
kepemimpinan berbasis uji kejujuran dan uji logika dalam masyarakat
komunikatif; juga metode pembelajaran analisis, akar masalah dan solusinya.

163