Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN

“Manajemen Pelayanan Kesehatan”

Disusun oleh :
Muhammad Haritsah NIM : 131911009

PRODI SARJANA ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH TANJUNGPINANG
T.A.2020
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang masih
memberikan kita kesehatan, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan
makalah ini dengan judul “Manajemen Pelayanan Kesehatan”

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah SISTEM
INFORMASI KEPERAWATAN . saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyusun
makalah ini. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca.

Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran yang konstruktif sangatsaya
harapkan dari para pembaca guna untuk meningkatkan dan memperbaiki
pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

Tanjungpinang, 21 Desember 2020

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Rumusan masalah
C. Tujuan
BAB II. PEMBAHASAN
A. Definisi manajemen pelayanan Kesehatan
B. Jenis-jenis manajemen pelayanan Kesehatan
C. Fungsi manajemen pelayanan Kesehatan
D. Penerapan manajemen pelayanan Kesehatan di rumah sakit maupun
puskesmas
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan proses adaptif yang merupakan
kombinasi antara konteks atau kondisi sosial budaya dengan sistem
pengaturan perilaku yang dapat mempengaruhi individu. Untuk mewujudkan
status kesehatan yang optimal maka diperlukan penguatan sistem kesehatan
yang merupakan kolaborasi antara pedekatan vertikal dan horizontal untuk
mencapai hasil yang diinginkan.1 Kesehatan merupakan hak asasi manusia
dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan
cita-cita bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan kesehatan secara
menyeluruh diselenggarakan berdasarkan kondisi lokal yang umum dan
spesifik, sesuai dengan determinan sosial budaya, dengan tata kelola yang
efektif dan produktif dengan melibatkan seluruh komponen yang
bertanggungjawab terhadap terselenggaranya kesehatan.
Sistem kesehatan merupakan suatu instrumen kunci yang diciptakan
untuk mendorong dan membantu mencapai tujuan. Sistem kesehatan
merupakan kolaborasi dari alur sumber daya, pengalokasian sumber daya,
mekanisme dan manajemen pemberian pelayanan melalui penggunaan
teknologi terkini bagi mereka yang membutuhkan
Penguatan sistem kesehatan dilakukan untuk meningkatkan sekaligus
mendukung dalam menghasilkan outcome kesehatan yang optimal melalui
berbagai strategi. Dalam konteks ini lingkungan politis (leadership)
merupakan aspek krusial yang memfasilitasi penguatan sistem. Konsep
penguatan sistem kesehatan didasari pada upaya dukungan penguatan
terhadap pelayanan kesehatan yang komprehensif, pemberdayaan
masyarakat, dan intergrasi advokasi untuk pencapaian target program.

B. Rumusan masalah
1. Apa itu manajemen pelayanan Kesehatan ?
2. Apa saja jenis pelayanan kesehatan ?
3. Apa fungsi manajemen pelayanan kesehatan ?
4. Bagaimana penerapam manajemen pelayanan Kesehatan di rumah sakit
maupun puskesmas ?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah pelayanan Kesehatan ini yaitu agar dapat
memberikan gambaran pelayan Kesehatan yang sesuia dengan keinginan
masyarakat dan dapat memberikan dampak outcome yang baik bagi instansi
pekerjaan.
BAB II
PRMBAHASAN

A. Definisi manajemen pelayanan Kesehatan


manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu atau lebih
individu untuk mengorganisasikan berbagai aktifitas lain untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan menggunakan kegiatan
orang lain, untuk mencapai hasil-hasil yang tidak bisa dicapai apabila satu
individu berpindah sendiri
Manajemen kesehatan mencakup fungsi-fungsi manajemen seperti
perencanaan kesehatan, pengorganisasian, pengaturan staf, penggerakan
pelaksanaan dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan,
penganggaran kesehatan (buggetting), pengendalian pengawasan dan
penilaian pembangunan kesehatan (Wijono, 1997).
Pengertian Pelayanan kesehatan, merupakan suatu aktifitas atau
serangkaian aktifitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba)
yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara kosumen dengan
karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi
pelayanan yang dimaksud.
Jadi manajemen pelayanan Kesehatan merupakan suatu proses yang
dilakukan agar dapat meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan,
dan pemulihan, baik pelayanan kesehatan konvensional maupun
pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer melalui
pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan keamanan,
kualitas, dan bermanfaat

B. Jenis-jenis pelayanan Kesehatan


Menurut Muninjaya (2004) jenis pelayanan kesehatan adalah
merupakan sub sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang bertujuan
untuk pencegahan atau preventif dan peningkatan kesehatan atau
promotif, pelayanan pengobatan atau kuratif dan pemulihan kesehatan
atau rehabilitatif dengan sasaran masyarakat.
Menurut WHO (1999), terdapat beberapa jenis pelayanan kesehatan
antara lain :
1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan ini
merupakan jenis pelayanan yang primary health care dimana
pelayanan ini sangat dibutuhkan oleh sebagian besar
masyarakat dan mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan
derajad kesehatan masyarakat. Pada umumnya pelayanan
kesehatan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat jalan
(ambulatory/out patient services) dan posyandu merupakan
bagian pelayanan kesehatan ini,
2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua. Ruang lingkup pelayanan
kesehatan masyarakat menyangkut kepentingan rakyat
banyak, maka peranan pemerintah dalam pelayanan
kesehatan mempunyai porsi yang besar, namun demikian
karena keterbatasan sumberdaya pemerintahan, maka potensi
masyarakat perlu digali atau diikutsertakan dalam upaya
pelayanan kesehatan masyarakat tersebut .

Departemen Kesehatan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab


dalam menggali dan membina potensi masyarakat dalam upaya
pelayanan kesehatan masyarakat ini. Menggalang potensi masyarakat di
sini mencakup 3 dimensi, yakni:
1. Potensi masyarakat dalam arti komunitas misalnya masyarakat
rumah tangga, rukun warga dan kelurahan. Misal: iuran dana
sehat untuk pengadaan pemberian makanan tambahan balita,
kader kesehatan,
2. Menggalang potensi masyarakat melalui organisasi-organisasi
masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat.
Penyelenggaraan pelayanan-pelayanan kesehatan masyarakat
pada hakikatnya merupakan bentuk partisipasi masyarakat
dalam system pelayanan kesehatan masyarakat,
3. Mengalang potensi masyarakat melalui pihak swasta yang ikut
membantu meringankan beban penyelenggara pelayanan
kesehatan masyarakat juga merupakan bentuk partisipasi
masyarakat dalam sitem pelayanan masyarakat
System pelayanan kesehatan masyarakat dalam kegiatan pelaksanaan
merupakan gabungan dari elemen-elemen (sub-sistem) suatu proses
struktur, berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi. Antara satu sub
sistem dengan sub sistem lain berterkaitan. Secara garis besar elemen-
elemen dalam sistem itu adalah:
1. Masukan input sub¬elemen yang diperlukan sebagai masukan
untuk berfungsinya suatu system,
2. Proses process adalah suatu kegiatan yang berfungsi untuk
mengubah masukan sehingga menghasilkan suatu keluaran
yang direncanakan,
3. Keluaran output adalah sesuatu yang dihasilkan oleh proses
(Robbins, 1994).

C. Fungsi manajemen pelayanan Kesehatan


Fungsi-fungsi dalam manajemen kesehatan sama dengan fungsi-fungsi
dalam manajemen perusahaan, yaitu (Herlambang & Murwani, 2012) :
1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan fungsi terpenting dalam manajemen.
Perencanaan kesehatan adalah sebuah proses untuk
merumuskan masalah-masalah kesehatan yang berkembang di
masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang
tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok, dan
menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan tersebut.
Dengan perencanaan dapat mengetahui : tujuan yang ingin
dicapai; jenis dan struktur organisasi yang dibutuhkan; jenis dan
jumlah staf yang diinginkan dan uraian tugasnya; sejauh mana
efektivitas kepemimpinan dan pengarahan yang diperlukan;
bentuk dan standar pengawasan yang akan dilakukan.
Terdapat lima langkah yang perlu dilakukan pada proses
penyusunan sebuah perencanaan dalam manajemen kesehatan,
yaitu: (a) analisa situasi; (b) mengidentifikasi masalah dan
prioritasnya; (c) menentukan tujuan program; (d) mengkaji
hambatan dan kelemahan program; (e) menyusun rencana kerja
operasional.

2. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)


Dengan adanya pengorganisasian, maka seluruh sumber daya
yang dimiliki oleh organisasi akan diatur penggunaannya secara
efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan.
Dengan pengorganisasian, seorang pemimpin akan mengetahui:
pembagian tugas secara jelas, tugas pokok dan prosedur kerja
staf, hubungan organisatoris dalam struktur organisasi,
pendelegasian wewenang, dan pemanfaatan staf dan fasilitas
fisik yang dimiliki organisasi.
Ada enam langkah penting dalam membuat pengorganisasian,
yaitu: (a) tujuan organisasi harus sudah dipahami oleh staf; (b)
membagi habis pekerjaan dalam bentuk kegiatan-kegiatan pokok
untuk mencapai tujuan; (c) menggolongkan kegiatan pokok ke
dalam suatu kegiatan yang praktis; (d) menetapkan kewajiban
yang harus dilakukan oleh staf dan menyediakan fasilitas
pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya; (e)
penugasan personal yang terampil.

3. Fungsi Pelaksanaan dan Pembimbingan (Actuating)


Pada fungsi ini lebih mengarahkan dan menggerakkan semua
sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.
Beberapa hal yang dapat menggerakkan dan mengarahkan
sumber daya manusia dalam organisasi yaitu : peran
kepemimpinan (leadership), motivasi staf, kerja sama antar staf,
dan komunikasi yang lancer antar staf.
Adapun tujuan fungsi pelaksanaan dan pembimbingan adalah:
(1) menciptakan kerjasama yang lebih efisien; (2)
mengembangkan kemampuan dan keterampilan staf; (3)
menumbuhkan rasa menyukai dan memiliki pekerjaan; (4)
mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan
motivasi prestasi kerja staf; (5) membuat organisasi berkembang
secara dinamis.

4. Fungsi Pengawasan (Controlling)


Melalui fungsi pengawasan, standar keberhasilan program yang
telah dibuat dalam bentuk target, prosedur kerja, dan sebagainya
harus selalu dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai atau
yang mampu dikerjakan oleh staf.
Jenis standar pengawasan ada dua, yaitu : (1) standar norma,
standar yang dibuat berdasarkan pengalaman staf melaksanakan
program yang sejenis atau yang pernah dilaksanakan dalam
situasi yang sama di masa lalu; (2) standar kriteria, standar yang
diterapkan untuk kegiatan-kegiatan pelayanan oleh petugas yang
sudah mendapatkan pelatihan.
Pemimpin bisa mendapatkan data pada saat melakukan
pengawasan dengan tiga cara: pengamatan langsung, laporan
lisan dari staf atau pengaduan masyarakat, dan laporan tertulis
dari staf.

5. Fungsi Evaluasi (Evaluation)


Tujuannya yaitu untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas
pelaksanaan program dengan memperbaiki fungsi manajemen.
Evaluasi ada beberapa macam, yaitu: (a) evaluasi terhadap
input, dilaksanakan sebelum program dilaksanakan;(b) evaluasi
terhadap proses, dilaksanakan pada saat kegiatan berlangsung;
(c) evaluasi terhadap output, dilaksanakan setelah pekerjaan
selesai.
Fungsi-fungsi manajemen diatas dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Meskipun keempat fungsi manajemen tersebut terpisah satu
sama lain, teteapi sebagai sebuah proses, keempatnya
merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berhubungan satu
sama lain. Jika tujuan organisasi belum tercapai, pimpinan
organisasi harus menganalisis kelemahan pelaksanaan salah
satu atau beberapa fungsi manajemen tersebut (Muninjaya,
2012).

Gambar 2.1 Siklus Fungsi Manajemen


Sumber: Muninjaya, 2012

D. Penerapan manajemen pelayanan Kesehatan di rumyh sakit maupun


puskesmas
1. Penerapan manajemen pelayan Kesehatan ndi puskesmas
Untuk dapat melaksanakan usaha pokok puskesmas secara
efisien, efektif, produktif, dan berkualitas, pimpinan puskesmas
harus memahami dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen.
Penerapan manajemen kesehatan di puskesmas terdiri dari :
a. Micro Planning (MP)
Merupakan perencanaan tingkat puskesmas.
Pengembangan program puskesmas selama 5 tahun
disusun dalam MP.
b. Lokakarya Mini Puskesmas (LKMP)
Merupakan bentuk penjabaran MP kedalam paket-paket
kegiatan program yang dilaksanakan oleh staf, baik secara
individu maupun berkelompok. LKMP dilaksanakan setiap
tahun.
c. Local Area Monitoring (LAM) atau PIAS-PWS
(Pemantauan Ibu dan Anak Setempat-Pemantauan
Wilayah Setempat)

Merupakan sistem pencatatan dan pelaporan untuk pemantauan


penyakit pada ibu dan anak atau untuk penyakit menular yang
dapat dicegah dengan imunisasi. LAM merupakan penjabaran
fungsi pengawasan dan pengendalian program. LAM yang
dijabarkan khusus untuk memantau kegiatan program KIA
disebut dengan PIAS. Sistem pencatatan dan pelaporan terpadu
puskesmas (SP2TP) adalah kompilasi pencatatan program yang
dilakukan secara terpadu setiap bulan.
Stratifikasi puskesmas merupakan kegiatan evaluasi program
yang dilakukan setiap tahun untuk mengetahui pelaksanaan
manajemen program puskesmas secara menyeluruh. Penilaian
dilakukan oleh tim dari Dinas Kesehatan Provinsi dan
Kabupaten/Kota. Data SP2TP dimanfaatkan oleh puskesmas
untuk penilaian stratifikasi (Muninjaya, 2004).
Supervisi rutin oleh pimpinan puskesmas dan rapat-rapat rutin
untuk koordinasi dan memantau kegiatan program. Supervisi
oleh pimpinan, monitoring, dan evaluasi merupakan penjabaran
fungsi manajemen (pengawasan dan pengendalian) di
puskesmas (Tabel 2.1) (Muninjaya, 2004).
planning Mikro planning, perencanaan
tingkat puskesmas
Organizing Struktur organisasi, pembagian
tugas, pembagian wilayah
kerja, pengembangan program
puskesmas
Actuating Lokakarya mini puskesmas,
kepemimpinan, motivasi kerja,
koordinasi, komunikasi melalui
rapat rutin bulanan untuk
membahas aktivitas harian dan
kegiatan program
controlling PIAS, LAM, PWS KIA,
supervise, monitoring,
evaluasi, audit internal
keuangan di puskesmas

2. Penerapanan manajemen pelayanan di rumah sakit


Penerapan konsep manajemen umum dalam sistem pelayanan
rumah sakit
Koordinasi antara berbagai sumber daya di RS melalui
serangkaian proses untuk mencapai tujuan rumah sakit
Meliputi;
pelayanan kesehatan (klinik)
Pelayanan manajerial (administrasi)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menurut Muninjaya (2004) jenis pelayanan kesehatan adalah
merupakan sub sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang
bertujuan untuk pencegahan atau preventif dan peningkatan kesehatan
atau promotif, pelayanan pengobatan atau kuratif dan pemulihan
kesehatan atau rehabilitatif dengan sasaran masyarakat.
manajemen pelayanan Kesehatan merupakan suatu proses
yang dilakukan agar dapat meliputi peningkatan, pencegahan,
pengobatan, dan pemulihan, baik pelayanan kesehatan konvensional
maupun pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer
melalui pendidikan dan pelatihan dengan selalu mengutamakan
keamanan, kualitas, dan bermanfaat
DAFTAR PUSTAKA

 Muninjaya, A. 2004. Manajemen Kesehatan Edisi 2. Jakarta : EGC. Hal 44-


49, 129-164
 Herlambang, S., Murwani, A. 2012. Cara Mudah Memahami Manajemen
Kesehatan dan Rumah sakit. Gosyen publishing: Yogyakarta.
 Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2001. Keputusan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 02002/SK/KBPOM
Tentang Tata Laksana Uji Klinik.
 Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2014. Good Clinical Practice. Diambil
dari: http://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/berita/6043/Good-Clinical-
Practice-Inspection-Training-Course-Tahun-2014.html [Diakses tanggal 18
Maret 2015]
 ICH Expert Working Group. 1996. International Conference On Harmonization
of Technical Requirements For Registration Of Pharmaceuticals For Human
Use. Guideline For Good Clinical Practice E6 (R1).
 Sastroasmoro, S. dan Ismael, S. 2011. Uji Klinis. Dalam: Dasar-Dasar
Metodologi Penelitian Klinis. Edisi Keempat. Sagung Seto. Jakarta: 187-217.
 Vijayananthan, A. 2008. The Importance of Good Clinical Practice Guidelines
and itsrole inclinical trials. Biomedical Imaging and Intervention Journal