Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA Ny. S DENGAN ARTRITIS GOUT (ASAM URAT)


DI PANTI GRIYA ASIH LAWANG

Di susun oleh :
TIARA ANGGITA PUTRI
P17221174051

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN LAWANG
2020
LAPORAN PENDAHULUAN PADA Ny. S DENGAN ARTRITIS GOUT
(ASAM URAT)

A. KONSEP DASAR LANSIA


1. DEFINISI LANSIA
Lanjut usia (lansia) adalah populasi manusia yang telah mencapai usia 65
tahun. Hal ini serupa dengan yang diemukakan oleh para ahli gerontology yang
mengatakan bahwa seseorang dapat dikatakan lansia apabila telah mencapai usia 65
tahun. Lansia sendiri terbagi dalam beberapa tingkatan yaitu lansia muda dengan
rentang usia 65-74 tahun, lansia pertengahan dengan rentang usia 75-84 tahun, lansia
sangat tua dengan rentang usia 85 tahun ke atas.
Menurut undang-undang No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia
di Indonesia menyatakan bahwa yang dimaksud dengan lansia adalah penduduk yang
telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Sehingga setiap penduduk Indonesia yang telah
berusia 60 tahun atau lebih telah masuk dalam kategori lansia. Lansia di Indonesia
diklasifikasikan menjadi (1) kelompok usia prasenilis yaitu berusia 45-59 tahun (2)
kelompok usia lanjut yaitu berusia 60 tahun ke atas (3) kelompok usia risiko tinggi
yaitu berusia 70 tahun ke atas ataupun berusia 60 tahun ke atas dengan masalah
kesehatan (Departemen Kesehatan RI, 2009).

2. PROSES MENUA
Proses menua adalah peristiwa yang akan terjadi pada laki-laki dan
perempuan, baik muda maupun tua. Hal tersebut dikarenakan proses menua
merupakan bagian dari peristiwa siklus kehidupan manusia. Siklus kehidupan
manusia dimulai dari janin dan berakhir pada tahapan lanjut usia dan kematian. Lanjut
usia merupakan tahap akhir perkembangan manusia. Sehingga lansia adalah manusia
dewasa yang telah mengalami proses menua tahap akhir.

3. KLASIFIKASI
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia.
a. Pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
b. Lansia yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia Resiko Tinggi yaitu seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang
yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan (Depkes RI, 2009).
d. Lansia Potensial yaitu lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau
kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa (Depkes RI, 2009).
e. Lansia Tidak Potensial yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain (Depkes RI, 2009).

4. KARAKTERISTIK
Lansia memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 Ayat (2) UU No. 13 tentang
kesehatan).
b. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari
kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaftif hingga
kondisi maladaptif.
c. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi

5. TIPE LANSIA
Di zaman sekarang (zaman pembangunan), banyak ditemukan bermacam-macam tipe
usia lanjut. Yang menonjol antara lain:
a. Tipe arif bijaksana.
Lanjut usia ini kaya dengan hikmah pengalaman, menyesuaikan diri dengan
perubahan zaman, mempunyai diri dengan perubahan zaman, mempunyai
kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi
undangan, dan menjadi panutan.
b. Tipe mandiri
Lanjut usia ini senang mengganti kegiatan yang hilang dengan kegiatan baru,
selektif dalam mencari pekerjaan dan teman pergaulan, serta memenuhi undangan.
c. Tipe tidak puas
Lanjut usia yang selalu mengalami konflik lahir batin, menentang proses penuaan,
yang menyebabkan kehilangan kecantikan, kehilangan daya tarik jasmani,
kehilangan kekuasaan, status, teman yang disayangi, pemarah, tidak sabar, mudah
tersinggung, menuntut, sulit dilayani dan pengkritik.
d. Tipe pasrah
Lanjut usia yang selalu menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai konsep
habis (“habis gelap datang terang”), mengikuti kegiatan beribadat, ringan kaki,
pekerjaan apa saja dilakukan.
e. Tipe bingung
Lansia yang kagetan, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa minder,
menyesal, pasif, acuh tak acuh (Nugroho, 2008).

6. TUGAS PERKEMBANGAN LANSIA


a. mengalihkan peran bekerja dengan masa senggang dan persiapan pensiun atau
pensiun penuh
b. memelihara fungsi pasangan dan fungsi individu serta beradaptasi dengan proses
penuaan,
c. mempersiapkan diri untuk menghadapi proses kematian dan kehilangan pasangan
hidup dan/atau saudara kandung maupun teman sebaya. Sedangkan menurut
Erickson tugas perkembangan pada masa lansia adalah integritas ego.
Menerima apa yang telah dilakukan seseorang dengan bijak tanpa
memperhatikan rasa sakit dan proses yang terjadi dalam perjalanannya menjadi
bagian dari tugas ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tugas perkembangan
lansia berinti pada adaptasi dan penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi
pada lansia baik dari fisik, psikologis, dan sosial.
B. KONSEP DASAR ARTRITIS GOUT
1. DEFINISI
Gout adalah gangguan yang menyebabkan kesalahan metabolisme purin yang
menimbulkan hipersemia (kadar asam urat serum > 7,0 mg /100ml). Ini dapat
mempengaruhi sendi (kaki). Secara khas, sendi metatarsafalangeal pertama dari ibu
jari kaki besar adalah sisi primer yang terlibat. Sendi lain yang terlibat dapat meliputi
lutut dan pergelangan kaki.
Artritis Gout adalah suatu sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus
yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria daripada wanita. Pada
pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati
masa menopause.
Artritis Gout adalah suatu sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus,
yaitu artritis akut. Merupakan jenis penyakit reumatik yang penatalaksanaannya
mudah dan efektif. Sebaliknya pada pengobatan yang tidak memadai, gout dapat
menyebabkan destruksi sendi. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetik
asam urat yaitu hiperurisemia.

2. ETIOLOGI
1. Gejala Artritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap
pembentukan kristal monosodium urat monohidrat. Karena itu dilihat dari
penyebabnya penyakit ini termasuk dalam golongan kelainan metabolit.
2. Faktor-faktor yang berperan dalam perkembangan gout adalah :
- Pembedahan
- Trauma
- Obat-obatan
- Alkohol
- Stress emosional
- Diet tinggi purin
3. a) Pembentukan Asam urat yang berlebihan
- Gout primer metabolik disebabkan sintesis langsung yang bertambah.
- Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebihan
karena penyakit.
- Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebihan
karena penyakit.
b) Kurangnya pengeluaran asam urat
- Gout primer renal terjadi karena gangguan ekskresi asam urat ditubuli distal
ginjal
- Gout sekunder renal disebabkan oleh kerusakan ginjal.

3. TANDA DAN GEJALA


Terdapat empat stadium perjalanan klinis gout yang tidak diobati:
1. Stadium pertama adalah hiperurisemia asimtomatik. Pada stadium ini asam urat
serum laki-laki meningkat dan tanpa gejala selain dari peningkatan asam urat
serum.
2. Stadium kedua arthritis gout akut terjadi awitan mendadak pembengkakan dan
nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu jari kaki dan sendi
metatarsophalangeal.
3. Stadium tiga setelah serangan gout akut adalah tahap interkritis. Tidak terdapat
gelaja-gejala pada tahap ini, yang dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai
tahun. Kebanyakan orang mengalami serangan gout berulang dalam waktu kurang
dari 1 tahun jika tidak diobati.
4. Stadium keempat adalah tahap gout kronik, dengan timbunan asam urat yang terus
meluas selama beberapa tahun jika pengobatantidak dimulai. Peradangan kronik
akibat Kristal-kristal asam urat mengakibatkan nyeri, sakit, dan kaku, juga
pembesaran dan penonjolan sendi bengkak.

4. KLASIFIKASI
a. Gout primer
Pada gout primer, 99% penyebabnya belum diketahui (idiopatik).
b. Gout sekunder
Pada gout sekunder disebabkan antara antara lain karena meningkatnya produksi
asam urat karena nutrisi, yaitu mengonsumsi makanan dengan kadar purin tinggi.
5. PATOFISIOLOGI
GOUT

Alkohol, diet tinggi purin Obat-obatan


(Gout primer) (Gout sekunder)

Hipersaturasi dari urat  produksi asam urat  Kadar laktat


plasma dan cairan tubuh

Pengendapan asam urat Hambatan ekskresi asam urat oleh ginjal


Penimbunan di dalam dan sekeliling sendi
Kristalisasi asam urat

Peradangan (inflamasi) Serangan Gout Hiperurisemia

Serangan berulang-ulang Nefrolitiasis

- Atritis Gangguan citra tubuh b.d  ekskresi asam urat oleh ginjal
akut adanya trofi
- Tofi
Membentuk kristal asam urat - Proteinuria
Gangguan mobilitas fisik - Hipertensi
Destruksi sendi dan jaringan lunak b.d disfungsi persendian ringan
Batu ginjal asam urat
Kurangnya pengetahuan
Disfungsi persendian mengenai penyakit b.d tidak
terpaparnya informasi

Resiko cidera
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Laboratorium
Ditemukan kadar asam urat meningkat dalam darah (> 6 mg %)
b. Pemeriksaan kadar asam urat yang enzimatik.
c. Didapatkan leukositosis ringan
d. LED meninggi sedikit
e. Pemeriksaan urin
Ditemukan kadar asam urat tinggi (500 mg % / liter per 24 jam)
f. Pemeriksaan cairan tofi
g. Melihat respon dari gejala-gejala pada sendi terhadap pemberian Cholasin.
Cholasin adalah obat yang menghambat aktifitas fagositik dari leukosit sehingga
memberikan perubahan sehingga memberikan perubahan yang dramatis dan cepat
meredakan gejala-gejala.

7. PENATALAKSANAAN
Penanganan gout biasanya dibagi menjadi penanganan serangan akut dan kronik. Ada
3 tahapan dalam terapi penyakit ini:
1. Mengatasi serangan akut
2. Mengurangi kadar asam urat untuk mnecegah penimbunan kristal urat pada
jaringan, terutama persendian
3. Terapi pencegahan menggunakan terapi hipouresemik
Terapi non farmakologi
Terapi non farmakologi merupakan strategi esensial dalam penanganan gout.
Intervensi seperti istirahat yang cukup, penggunaan kompres dingin, modifikasi diet,
mengurangi asupan alkohol dan menurunkan berat badan pada pasien yang kelebihan
berat badan terbukti efektif.
Terapi farmakologi
Serangan akut
Istirahat dan terapi cepat dnegan pemberian NSAID, misalnya indometasin 200
mg/hari atau diklofenak 159 mg/hari, merupakan terapi lini pertama dalam menangani
serangan akut gout, asalkan tidak ada kontraindikasi terhadap NSAID. Aspirin harus
dihindari karena ekskresi aspirin berkompetesi dengan asam urat dan dapat
memperparah serangan gout akut. Obat yang menurunkan kadar asam urat serum
(allopurinol dan obat urikosurik seperti probenesid dan sulfinpirazon) tidak boleh
digunakan pada serangan akut.
Penanganan NSAID, inhibitor cyclooxigenase-2 (COX 2), kolkisin dan kortikosteroid
untuk serangan akut dibicarakan berikut ini :
1. NSAID merupakan terapi lini pertama yang efektif untuk pasien yang mengalami
serangan gout akut. NSAID harus diberikan dengan dosis sepenuhnya pada 24-48
jam pertama atau sampai rasa nyeri hilang. NSAID yang umum digunakan untuk
mengatasi episode gout akut adalah :
 Naproxen- awal 750 mg, kemudian 250 mg 3 kali/hari
 Piroxicam- awal 40 mg, kemudian 10-20 mg/hari
 Diclofenac- awal 100 ,g, kemudian 50 mg 3x/hari
2. COX-2 inhibitor; Etoricoxib merupakan satu-satunya COX-2 yang dilisensikan
untuk mengatasi serangan akut gout. Obat ini efektif tapi cukup mahal, dan
bermanfaat terutama bagi pasien yang tidak tahan terhadap efek gastrointestinal
NSAID non selektif. COX-2 inhibitor mempunyai resiko efek samping
gastrointestinal bagian atas lebih rendah dibanding NSAID non selektif.
3. Colchicine merupaka terapi spesifik dan efektif untuk serangan gout akut. Namun
dibanding NSAID kurang populer karena kerjanya lebih lambat dan efek samping
lebih sering dijumpai.
4. Steroid adalah strategi alternatif selain NSAID dan kolkisin. Cara ini dapat
meredakan serangan dengan cepat ketika hanya 1 atau 2 sendi yang terkena.
Namun, harus dipertimbangkan dengan cermat diferensial diagnosis antara atrithis
sepsis dan gout akut.

Serangan kronik
Kontrol jangka panjang hiperuriesmia merupakan faktor penting untuk mencegah
terjadinya serangan akut gout, keterlibatan ginjal dan pembentukan batu asam urat.
Penggunaan allopurinol, urikourik dan feboxsotat untuk terapi gout kronik dijelaskan
berikut ini:
1. Allopurinol ; obat hipouresemik pilihan untu gout kronik adalah alluporinol, selain
mengontrol gejala, obat ini juga melindungi fungsi ginjal. Allopurinol menurunkan
produksi asam urat dengan cara menghambat enzim xantin oksidase.
2. Obat urikosurik; kebanyakan pasien dengan hiperuresmia yang sedikit
mengekskresikan asam urat dapat terapi dengan obat urikosurik. Urikosurik seperti
probenesid (500 mg-1 g 2x/hari).

8. MASALAH KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d adanya proses inflamasi
2. Resiko cidera b.d
3. Defisiensi penetahuan b.d minimnya informasi penyakit.
9. ASUHAN KEPERAWATAN
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Nyeri b.d adanya proses Tujuan: NIC
inflamasi Setelah diberikan tindakan - Gunakan teknik komunikasi terapeutik
keperawatan 3x 24 jam, diharapkan untuk mengetahui pengalaman nyeri
pertahanan tubuh klien menjadi lebih - Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
kuat - Kontrol lingkungan yang dapat
Kriteria Hasil: mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
Mampu mengontrol nyeri pencahayaan, dan kebisingan.
Melaporkan nyeri berkurang - Kurangi factor predisposisi nyeri
dengan menggunakan manajemen - Bantu klien dan keluarga untuk mencari
nyeri dan menemukan dukungan
Mampu mengenali nyeri - Tingkatkan istirahat
Menyatakan nyaman rasa nyaman
setelah nyeri berkurang
2. Resiko Cidera Tujuan: NIC
Mengontrol resiko - Sediakan lingkungan yang aman dan
Kriteria Hasil : nyaman
Klien terbebas dari cidera - Menghindarkan lingkungan yang
Klien mampu menjelaskan cara berbahaya
untuk mencegah cidera - Memasang side rail tempat tidur
Klien mampu menjelaskan factor - Menepatkan saklar lampu ditempat yang
resiko dari lingkungan mudah dijangkau
Mampu memodifikasi gaya hidup - Menyediakan tempat tidur yang nyaman
untuk mencegah injury dan bersih
- Menganjurkan keluarga untuk menemani
pasien.
3. Defisiensi penetahuan b.d Tujuan : NIC
minimnya informasi Setelah dilakukan penyuluhan, - Jelaskan patologi dari penyakit dan
penyakit. diharapkan klien dapat mengerti bagaimana hal ini berhubungan dengan
informasi tentang penyakitnya antomi dan fisiologi.
Kriteria hasil: - Gambarkan tanda dan gejala, proses
Klien dan keluarga menyatakan penyakit yang biasa muncul pada penyakit.
pemahaman tentang penyakit, - Identifikasi penyebab
kondisi, prognosis dan progam - Sediakan informasi pada klien dan keluarga
pengobatan. tentang kondisi.
Klien dan keluarga mampu - Diskusikan perubahan gaya hidup yang
menjelaskan kembali apa yang mungkin diperlukan untuk mencegah
dijelaskan secara benar. komplikasi dimasa yang akan dating dan
Klien dan keluarga mampu atau proses pengontrolan.
menjelaskan kembali apa yang - Diskusikan pilihan terapi atau penanganan.
dijelaskan tenaga kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2009. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.


Doengoes, Marilynn E , dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Fakultas Kedokteran UI. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. edisi 3, Jilid I. Jakarta: Media
Aescul.
Kertia, Nyoman. 2009. Asam Urat Benarkah hanya Menyerang Laki-Laki. Yogyakarta : Pete
bentang pustaka.
Noorkasihan, & Tamher. 2009. Kesehatan Usia Lanjut Dengan Pendekatan Asuhan
Keperawatan. Jakarta: Salembah Medika.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Nugroho, Wahyudi. 2009. Komunikasi Dalam Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.
Sholihah Fatwa Maeatus. 2014. Diagnosis And Treatment Gout Arthritis. Journal of
Majority. No 7. Volume 3.