Anda di halaman 1dari 40

BAB II

LANDASAN TEORI

II.1 Umum

Elemen-elemen utama dari sistem tenaga listrik adalah generator,

transformator, saluran transmisi, beban, dan peralatan kontrol serta proteksi.

Elemen-elemen ini saling terinterkoneksi satu sama lain sehingga memungkinkan

pembangkitan tenaga listrik pada lokasi yang paling tepat, dan dengan jumlah

yang cukup untuk memenuhi kebutuhan palanggan, menyalurkannya ke pusat-

pusat beban dan mendistribusikan daya listrik dengan kualitas yang bagus dengan

harga yang bersaing.

Jaringan tenaga listrik dibagi dalam empat bagian, yaitu: pembangkitan,

transmisi, distribusi, dan beban.Tenaga listrik dibangkitkan di pusat-pusat tenaga

listrik (PLT), yang antara lain: tenaga air (PLTA), tenaga gas (PLTG), tenaga uap

(PLTU), tenaga panas bumi (PLTP), tenaga diesel (PLTD), tenaga nuklir (PLTN),

dan lain sebagainya. Pusat-pusat listrik tenaga itu, terutama yang menggunakan

tenaga air (PLTA), umumnya terletak jauh dari tempat-tempat di mana tenaga

listrik itu digunakan atau pusat-pusat beban (load centres). Karena itu tenaga

listrik yang dibangkitkan harus disalurkan melalui kawat-kawat atau saluran

transmisi. Tegangan yang dibangkitkan generator pada umumnya menengah

(TM), antara 6 KV sampai 24 KV, maka tegangan ini dinaikkan melalui

transformator penaik tegangan (step up transformer) ke tingkat tegangan transmisi

yang yang tergolong tegangan tinggi (TT) atau tegangan extra tinggi (TET),

antara 30 KV sampai 500 KV. Tingkat tegangan yang lebih tinggi ini

6
dimaksudkan untuk memperbesar daya hantar dari saluran yang berbanding lurus

dengan kuadrat tegangan, dan untuk memperkecil rugi-rugi daya dan jatuh

tegangan pada saluran. Penurunan tegangan dari tingkat tegangan tarnsmisi

pertama-tama dilakukan pada gardu induk (GI), yaitu tegangan diturunkan ke

tegangan yang lebih rendah, misalnya dari 500 KV menjadi 150 KV atau dari 150

KV ke 70 K melalui transformator penurun tegangan (step down transformer).

Kemudian penurunan kedua dilakukan pada gardu induk distribusi dari 150 KV

ke 20 KV, atau dari 70 KV ke 20 KV. Tegangan 20 KV ini disebut tegangan

distribusi primer. Pada bagian distribusi, daya listrik selanjutnya akan disalurkan

ke pemakai untuk berbagai kebutuhan.

Diagram suatu sistem tenaga listrik ditunjukkan pada Gambar berikut:

PTM
Pembangkit
TM

Transformator
step-up

TT/TET Saluran Transmisi

Transformator
step-down

TM
Saluran Distribusi
Primer

Transformator
Distribusi
GD

TR Saluran Disribusi
Sekunder
Pengukur
kWh

Pemakaian

Instalasi
ke Pemakai TR

Gambar 2.1. Diagram satu garis Sistem Tenaga Listrik

7
II.2 Transmisi Tegangan Tinggi

Ada dua kategori saluran transmisi yakni saluran udara (overhead lines)

dan saluran kabel tanah (underground cable). Saluran udara menyalurkan daya

listrik melalui kawat-kawat yang digantung pada menara atau tiang transmisi

dengan perantaraan isolator-isolator, sedangkan saluran kabel tanah melalui

kabel-kabel yang ditanam di bawah permukaan tanah. Saluran bawah tanah tidak

dipengaruhi oleh cuaca buruk, taufan, hujan, angin, petir, dan sebagainya serta

sesuai diterapkan di tempat yang padat. Namun biaya pembuatannya jauh lebih

mahal dibandingkan saluran udara dan perbaikannya lebih sulit apabila terjadi

gangguan.

Menurut jenis arus yang ditransmisikan dikenal sistem arus bolak-balik

(Alternating Current, AC) dan sistem arus searah (Direct Current, DC). Hampir

semua saluran transmisi saat ini menggunakan sistem AC dibandingkan sistem

DC. Salah satu penyebabnya adalah kemudahan pentransformasian tegangan AC

jauh lebih mudah dan murah dibandingkan transformasi tegangan DC.

Untuk keperluan analisis dan perhitungan, saluran transmisi biasanya

dibagi dalam tiga kelas berdasarkan panjang saluran transmisi(Hutahruk,

1985:59) :

1. Saluran pendek (<80 km )

2. Saluran menengah ( 80-250 km )

3. Saluran panjang ( >250 km )

Namun klafikasi di atas sangat kabur dan sangat relatif. Klasifikasi saluran

transmisi harus didasarkan pada besarnya kapasitansi ke tanah. Bila kapasitansi

8
kecil, dengan demikian arus bocor ketanah jauh lebih kecil daripada arus beban,

dalam hal ini kapasitansi ke tanah dapat diabaikan, dan dinamakan saluran

pendek. Tetapi bila kapasitansi begitu besar sehingga masih dapat dianggap

sebagai kapasitansi terpusat (lumped capasitance), dan ini dinamakan saluran

menengah. Bila kapasitansi besar sekali sehingga tidak memungkinkan lagi

dianggap sebagai kapasitansi terpusat, dan harus dianggap terbagi rata

disepanjang saluran, maka dalam hal ini dinamakan kawat panjang.

Klasifikasi saluran transmisi berdasarkan tegangan kerjanya yakni

berbeda-beda untuk setiap negara tergantung kemajuan dalam bidang transmisi.

Di indonesia standar tegangan tinggi yakni 66, 150, 380, 500 KV, dan kalasifikasi

menurut tegangan ini masih belum nyata. Tetapi di negara-negara maju seperti

USA,Rusia, Canada, tegangan transmisinya telah mencapai 1.000 KV, maka

disana kalasifikasi berdasarkan tegangan kerjanya adalah:

1. Tegangan tinggi (138 KV)

2. Tegangan ekstra tinggi (220-765 KV)

3. Tegangan ultra tinggi (>765 KV) (Hutahuruk, 1985:60)

sedangkan klasifikasi berdasarkan fungsinya dalam beroperasi maka

saluran transmisi sering diberi nama :

1. Transmisi, menyalurkan daya besar dari pusat-pusat pembangkit ke

daerah beban atau antara dua atau lebih sistem. Saluran yang

menghubungkan dua atau lebih sistem disebut juga sebagai saluran

interkoneksi (tie-line).

9
2. Sub transmisi, saluran atau transmisi percabangan dari saluran yang

tinggi ke saluran yang lebih rendah

3. Distribusi, saluran transmisi yang menyalurkan daya dari gardu induk

ke area beban.

II.3 Parameter-Parameter Saluran Transmisi

Saluran transmisi listrik mempunyai empat parameter yang mempengaruhi

kemampuannya untuk berfungsi sebagai bagian dari suatu sistem tenaga, yaitu:

a. Resistansi (R)

b. Induktansi (L)

c. Kapasitansi (C)

d. Konduktansi (G)

Impedansi seri dibentuk oleh resistansi dan induktansi yang terbagi rata di

sepanjang saluran. Sedang konduktansi dan kapasitansi yang terdapat di antara

penghantar-penghantar dari suatu saluran fasa tunggal atau diantara sebuah

penghantar dan netral dari suatu saluran tiga fasa membetuk admintansi paralel

(shunt admitance). Meskipun resistansi, induktansi, dan kapasitansi tersebut di

atas terbagi rata di sepanjang saluran, rangkaian saluran ekivalen dibentuk dari

parameter-parameter yang dijadikan satu (lumped) sedangkan konduktansi, karena

nilainya sangat kecil pada saluran udara maka pengaruhnya diabaikan.

II.3.1 Resistansi (R)

Resistansi dirumuskan sebagai:

l
R=ρ ................................................................................................(2.1)
A

dimana:

10
ρ = resistivitas penghantar

l = panjang penghantar

A = luas penampang penghantar

Penghantar dengan lilitan terdapat penambahan panjang dari penghantar

itu sendiri karena pembentukan lilitan-lilitannya sehingga resistansinya juga

bertambah besar. Untuk itu diperlukan faktor koreksi sebesar 1% untuk

penghantar dengan tiga serat dan 2% untuk penghantar dengan lilitan konsentris.

Resistansi juga dipengaruhi oleh suhu dimana resistansi akan berubah

linear terhadap berubahnya suhu pada batas pengoperasian normal. Hubungan

resistansi dengan suhu dirumuskan:

R2 T + t 2
= ..........................................................................................(2.2)
R1 T + t1

dimana:

R1 dan R2 = resistansi penghantar pada suhu t1 dan t2

T = konstanta yang tergantung pada jenis penghantar

II.3.2 Induktansi (L)

Ada dua persamaan dasar yang dapat dipakai untuk menjelaskan dan

merumuskan induktansi. Persamaan pertama menghubungkan tegangan imbas

dengan kecepatan perubahan fluks yang meliputi suatu rangkaian. Tegangan

imbas adalah


e= ..................................................................................................(2.3)
dt

dimana:

11
e = tegangan imbas


= kecepatan perubahan fluks
dt

Jika arus pada rangkaian berubah-ubah, medan magnet yang

ditimbulkannya juga berubah-ubah. Jika dimisalkan bahwa media di mana medan

magnet ditimbulkan mempunyai permeabilitas yang konstan, banyaknya fluks

gandeng berbanding lurus dengan arus, sehinngga tegangan imbas sebanding

dengan kecepatan perubahan arus dan dinyatakan dengan persamaan kedua:

di
e =L .................................................................................................(2.4)
dt

dimana:

e = tegangan imbas

L = induktansi rangkaian

di
= kecepatan perubahan arus
dt

Jika persamaan (2.3) dan (2.4) diselesaikan untuk mendapatkan L, maka

diperoleh :


L= ..............................................................................................................(2.5)
di

Sehingga dapat didefinisikan bahwa induktansi sendiri dari suatu rangkaian listrik

adalah fluks gandeng dari rangkaian per satuan arus.

II.3.3 Kapasitansi (C)

Kapasitansi suatu saluran transmisi adalah akibat beda potensial antara penghantar

dan antara penghantar dengan tanah. Kapasitansi menyebabkan penghantar

tersebut bermuatan seperti pelat kapasitor bila terjadi beda potensial di antaranya.

12
Kapasitansi tergantung pada ukuran dan jarak pemisah antara penghantar dan

antara penghantar dengan tanah.

Tegangan bolak balik yang terpasang pada saluran transmisi akan menyebabkan

muatan pada penghantar-penghantar disetiap titik bertambah atau berkurang

sesuai dengan kenaikan dan penurunan nilai sesaat tegangan pada penghantar

pada titik tersebut.

Kapasitansi antara dua penghantar pada saluran dua kawat didefinisikan sebagai

muatan pada penghantar itu perunit beda potensial diantara keduanya dan

dinyatakan dengan rumus:

q
C= (F/m).........................................................................................(2.6)
V

dimana:

C = Kapasitansi(F/m)

Q = Muatan (Coloumb)

V = Tegangan (Volt)

II.4 Daya Aktif, Reaktif, dan Kompleks

Jika suatu sistem dengan beban R+jX dan arus I serta tegangan V, seperti

ditunjukkan pada Gambar berikut

Gambar 2.2. Pembentukan segitiga daya

13
Daya kompleks S dirumuskan sebagai:

S = V .I * = P + jQ ...............................................................................(2.7)

dimana:

P (W) adalah daya aktif

Q (Var) adalah daya reaktif

S (VA) adalah daya kompleks

Jika V dijadikan fasor acuan dan dianggap bebannya adalah induktif, maka

I = Ie − jθ = I cos φ − jI sin φ .................................................................(2.8)

φ = tan −1 ( X / R ) = tan −1 (Q / P) ...........................................................(2.9)

S = V .I * = V .( I cos φ + jI sin φ) .......................................................(2.10)

P =V .I cos φ Q =V .I sin φ ................................................(2.11)

P dan Q bernilai positif. Beban yang mempunyai daya reaktif positif

dikatakan menyerap Var sehingga beban induktif menyerap Var. Sementara untuk

beban kapasitif

I = Ie + jθ = I cos φ + jI sin φ ................................................................(2.12)

Arus mendahului tegangan dan bila diselesaikan diperoleh P bernilai

positif, Q bernilai negatif sehingga dikatakan beban kapasitif membangkitkan atau

menyuplai Var.

Teradapat perbedaan untuk analisis sisi pengirim dan sisi penerima. Persamaan

V .I cos φ secara tepat diartikan sebagai daya aktif yang diserap pada sisi

penerima. Tapi pada sisi pengirim daya aktif disalurkan ke sistem bukan diserap

dari sistem. Perbedaannya adalah bahwa sisi pengirim sebagai sumber dari daya

sementara sisi penerima sebagai penyerap dari daya.

14
a. Sistem Simetris b. Diagram Fasor Sistem

Simetris

Gambar 2.3. Sistem simetris

Pada Gambar 2.3 , daya Ps dan Pr bernilai positif yang berarti disalurkan ke

sistem pada sisi pengirim dan diserap oleh sisi penerima.

Hal yang sama juga berlaku untuk daya reaktif. Sisi penerima pada Gambar 2.3

mempunyai faktor daya tertinggal dan menyerap Var. Sisi pengirim mempunyai

faktor daya mendahului dan menyerap Var. Pada Gambar 2.4 generator dan beban

keduanya mempunyai faktor daya yang mendahului, tapi beban menyerap Var

sedangkan generator membangkitkan Var. Ketetapan ini disimpulkan pada Tabel

2.1.

Gambar 2.4. Diagram fasor beban induktif

Tabel 2.1. Konvensi untuk pembangkitan dan penyerapan daya reaktif

15
Sumber: Power Electronic Control In Electrical System, 2002

Beberapa peralatan dalam sistem tenaga dapat bertindak sebagai penyerap

dan penghasil daya reaktif. Generator dan motor sinkron, motor induksi,

transformataor, saluran transmisi udara maupun bawah tanah merupakan

komponen sistem tenaga yang sangat berpengaruh pada kuantitas daya reaktif

dalam suatu sistem tenaga listrik.

Ada beberapa komponen dalam sistem tenaga listrik yang berperan

membangkitkan daya reaktif, yaitu:

a. Mesin Sinkron

Mesin sinkron dapat digunakan untuk membangkitkan atau menyerap

daya reaktif. Generator adalah sumber utama suplai VAr positif ke sistem.

Mesin sinkron yang diberi penguatan berlebih dari penguatan normalnya

(over-excited) akan membankitkan daya reaktif, sebaliknya jika diberi

penguatan berkurang (Under-excited) akan menyerap daya reaktif.

Motor sinkron yang diputar tanpa beban dan diberi penguatan berlebih

akan bertidak seperti kapasitor dan mempunyai kemampuan untuk

menghasilkan daya reaktif dan memperbaiki faktor daya sistem. Motor

sinkron dalam kondisi demikian biasa disebut kompensator sinkron atau

kondensator sinkron.

b. Saluran Transmisi Udara

16
Kapasitansi suatu saluran transmisi adalah akibat beda potensial antara

penghantar (conductor), kapasistansi menyebabkan penghantar tersebut

bermuatan seperti yang terjadi beda potensial diantaranya. Kapasistansi antara

penghantar sejajar adalah suatu yang konstan yang tergantung pada ukuran

dan jarak pemisah antara penghantar. Untuk saluran daya yang panjangnya

kurang dari 80 Km, pengaruh kapasitansinya kecil dan biasanya dapat

diabaikan. Untuk saluran-saluran yang lebih panjang dengan tegangan yang

lebih tinggi, kapasitansinya harus diperhitungkan.

c. Kabel Bawah Tanah

Kabel dapat dikatakan sebagai penghasil daya reaktif disebabkan

karena kapasitansinya yang tinggi. Kemampuannya menghasilkan daya reaktif

sebanding dengan panjangnya kabel tersebut. Sebuah kabel 275 KV, 240

MVA menghasilkan 6,25 sampai 7,5 MVAr per km; kabel 132 KV

menghasilkan kira-kira 1,9 MVAr per km dan kabel 33 menghasilkan 0,125

MVAr per km.

II.5 Kompensasi dan Pengaturan Tegangan

Gambar 2.5 menunjukkan diagram segaris sistem tenaga AC yang

merupakan representasi dari sistem satu fasa atau satu fasa dari sistem 3 fasa.

Gambar 2.6 menunjukkan diagram fasor untuk beban induktif.

17
Gambar 2.5. Rangkaian ekivalen sumber dan beban

Gambar 2.6. Diagram fasor sistem tidak terkompensasi

Ketika beban menarik arus dari sumber, tegangan terminal (V) turun

dibawah ggl (E). Hubungan antara arus I dan tegangan beban V disebut system

load line ditunjukkan pada Gambar 2.7.

18
Gambar 2.7. System Load Line

Dari Gambar 2.5 dan 2.6 diperoleh:

∆V = E −V = Z s I ..............................................................................(2.13)

Daya kompleks per fasa beban dirumuskan:

S = V ⋅ I x .............................................................................................(2.14)

P − jQ
I = .........................................................................................(2.15)
V

 P − jQ  Rs P + X s Q X P − Rs Q
∆V = ( Rs + jX s ) = +j s = ∆V R + j∆V X .(2.16)
 V  V V

2 2
2  R P + X s Qs   X P − Rs Qs 
E = V + s  + s  ....................................(2.17)
 V   V 

Besar dan arah V relatif terhadap E merupakan fungsi dari besar dan arah

arus beban serta impedansi sumber. Dengan demikian tegangan tergantung pada

daya aktif dan reaktif beban.

Penambahan impedansi kompensator secara paralel dengan beban dapat

menjaga agar V =E . Gambar 2.5 memperlihatkan penggunaan kompensator

reaktif murni. Daya reaktif beban berubah sesuai dengan persamaan:

19
Qs = Q + Qγ ........................................................................................(2.18)

dimana Qγ adalah reaktansi kompensator yang dapat diatur sama halnya dengan

memutar fasor ∆V sampai V =E . Nilai Qγ diatur untuk mencapai tegangan

konstan dengan menyelesaikan persamaan (2.17) untuk Qγ dengan V =E ,

sehingga daya reaktif kompensator diperoleh Qγ = QS − Q . Secara praktek nilai

ini bisa ditentukan secara otomatis dengan kontrol loop tertutup untuk menjaga

nilai tegangan V konstan.

Gambar 2.8. Diagram fasor, dikompensasi untuk tegangan konstan

Kompensator reaktif murni dapat mengurangi variasi tegangan yang disebabkan

oleh perubahan daya aktif dan reaktif beban.

II.6 Thyristor Controlled Reactor (TCR)

Thyristor Controlled Reactor (TCR) didefinisikan sebagai induktor yang

dikontrol oleh thyristor yang terhubung parallel dan mempunyai reaktansi efektif

20
yang berfariasi secara kontinu oleh pengaturan keran thyristor. Skema TCR

ditunjukkan pada gambar berikut

Gambar 2.9. Skema TCR

Elemen pengontrol adalah thyristor pengontrol, ditunjukkan pada gambar

sebagai dua thyristor bolak-balik yang menghantar secara bolak-balik untuk tiap

periode setengah siklus dari frekuensi suplainya. Jika thyristor dipicu menjadi

menghantar pada puncak dari suplai tegangan, dihasilkan konduksi penuh pada

reactor, arus yang mengalir sama besarnya jika thyristor terhubung singkat.

Arusnya reaktif dan tertinggal dari tegangan hampir 90o. Arus ini mengandung

komponen arus sefasa yang kecil karena rugi-rugi daya pada reactor, yakni sekitar

0.5-2% dari daya reaktif. Konduksi penuh ditunjukkan oleh bentuk gelombang

arus pada Gambar 2.10.a.

Jika pemicuan ditunda dengan nilai yang sama pada kedua thyristor,

jumlah seri dari bentuk gelombang arus diperoleh sesuai pada Gambar 2.10.a

sampai d. Setiap gambar-gambar ini menunjukkan hubungan terhadap nilai sudut

pemicuan (α) yang diukur dari nol sumbu tegangan. Konduksi penuh diperoleh

21
pada sudut pemicuan 90o. Konduksi sebagian diperoleh dengan sudut pemicuan

antara 90o sampai 180o.

Peningkatan sudut pemicuan akan mengurangi komponen harmonisa dasar

dari arus. Hal ini sama dengan peningkatan induktansi dari reactor yang juga

berarti pengurangan daya reaktifnya sebagaimana arusnya. Jadi sebagai

komponen dasar dari arus diperhitungkan, TCR adalah suseptansi terkontrol

sehingga bisa diaplikasikan sebagai kompensator statis.

22
Sumber: Power Electronic Control In Electrical System, 2002

Gambar 210. Bentuk gelombang tegangan dan arus line dari dasar TCR 1 fasa
untuk beragam sudut penyalaan.
(a) α = 90o, σ = 180o, (b) α = 100o, σ = 160o (c) α = 130o, σ = 100o

(b) (d) α = 150o, σ = 60o

23
Sumber: Power Electronic Control In Electrical System, 2002

Gambar 2.11. Prinsip Pengontrolan TCR


Dimana σ adalah sudut hantaran, dan arus yang mengalir dirumuskan dengan:

I = BL .V ............................................................................................(2.19)

BL adalah suseptansi terkontrol yang dikontrol oleh sudut penyalaan menurut

prinsip pengontrolan TCR yang ditunjukkan pada Gambar 2.10. Nilai maksimum

BL adalah 1/XL yang diperoleh pada σ = π = 180o, yakni saat konduksi penuh pada
thyristor pengontrol. Nilai minimum adalah nol diperoleh pada σ = 0 (α = 180o).

Prinsip control ini disebut control fasa.

TCR harus mempunyai sistem pengontrolan yang menentukan pemicuan

sesaat (demikian juga σ), dan memberikan pulsa pemicuan pada thyristor. Alur

pengontrolan TCR ditunjukkan pada Gambar 2.12 dimana selisih tegangan antara

tegangan bus yang dikontrol dengan tegangan referensi (1 p.u) membangkitkan

sinyal pemicuan (α) untuk thyristor melalui pulse generator.

+
-

Vref
bus yg dikontrol
a

24
Gambar 2.12. Skema pengontrolan TCR

Karakteristik arus/tegangan ditunjukkan pada Gambar 2.13. Operasi

steady state terjadi pada titik pertemuan dengan System Load Line. Misalnya

diberikan sudut hantaran sebesar 130o maka diperoleh tegangan sedikit di atas

1p.u, tapi ini satu dari tak hingga jumlah dari kombinasi kemungkinan yang bisa

diperoleh karena karakteristik ini tergantung dari System Load Line, settingan

pengontrolan, dan rating dari kompensator. Karakteristik pengontrolan pada

Gambar 2.13 bisa dirumuskan melalui persamaan:

V =Vk + jX S I 0 I I max ......................................................(2.20)

Dimana I max adalah arus rating dari reactor dan diberikan sebagai 1p.u

25
Current I (p.u)

Sumber: Power Electronic Control In Electrical System, 2002

Gambar 2.13. Karakteristik arus/tegangan dari TCR

II.7 Studi Aliran Daya

Studi aliran daya digunakan untuk menganalisa suatu sistem penyaluran

daya listrik dari pusat-pusat pembangkit yang disalurkan melalui saluran trasmisi

sampai ke pusat-pusat beban dengan memperhatikan kapasitas daya yang

disalurkan dan losses. Studi aliran daya (Power Flow) disebut juga Load Flow

adalah bagian penting dalam analisis sistem tenaga. Penyelesaian masalah aliran

daya, sistem diasumsikan dalam operasi seimbang dan menggunakan model satu

phasa. Jaringan terdiri dari beberapa node/bus dan cabang yang mempunyai

impedansi yang dinyatakan dalam per-unit (pu) pada base MVA. Ada empat

parameter yang digunakan pada setiap bus yaitu tegangan, sudut phasa, daya aktif,

dan daya.reaktif.

Dengan analisis aliran daya akan diperoleh informasi yang penting dalam

merencanakan atau mendesain pengembangan sistem tenaga maupun untuk

menentukan kondisi operasi terbaik dari suatu sistem tenaga listrik yang sudah

ada.

26
Kondisi operasi sistem sangat dipengaruhi oleh perilaku beban dan

keadaan komponen-komponen yang membentuk sistem, seperti kesiapan unit

pembangkit, transformator, jaringan transmisi dan peralatan lainnya. Keadaan

tersebut dari waktu ke waktu selalu berubah, sehingga pada saat-saat tertentu bisa

jadi sistem tidak dalam kondisi aman atau tidak memenuhi kriteria mutu

pelayanan tenaga listrik. Periode yang perlu mendapat perhatian adalah ketika

sistem mengalami pembebanan berat akibat sebagian elemen sistem tidak bisa

beroperasi atau ketika sistem sangat ringan.

Secara umum tujuan dari analisis aliran daya dimaksudkan untuk

mendapatkan:

1. Besar dan sudut tegangan masing-masing bus sehingga dapat diketahui

tingkat pemenuhan batas-batas operasi yang diperbolehkan.

2. Besar arus (daya) yang disalurkan lewat jaringan, sehingga bisa

diidentifikasi tingkat pembebanannya.

3. Kondisi awal bagi studi-studi selanjutnya, seperti, analisis rugi-rugi

transmisi, studi stabilitas tegangan dan sebagainya.

Perhitungan aliran daya biasanya memakai mode adimitansi bus dan

reperesentasi saluran transmisi panjang menengah nominal π . Rangkaian

ekivalen saluran transmisi panjang menengah nominal π per fasa ditunjukkan

pada Gambar 2.14. Impedansi antara node i dan j terdiri dari impedansi seri Z dan

admitansi paralel Ysh. Admitansi paralel Ysh ini disebut dengan admitansi

pemuatan saluran (line charging). Sesuai dengan arah arus I, node i dianggap

sebagai ujung pengirim (sending end) dan node j dianggap sebagai ujung

27
penerima ( receiving end) dan admitansi paralel terbagi dua antara node i dan

node j seperti tampak pada Gambar 2.14. Besar impedansi total antara kedua node

adalah :

Zij = Z + Zsh ........................................................................................(2.21)

dengan

1
Z sh = ..........................................................................................(2.22)
Y sh

Admitansi total antara kedua node adalah:

1
Y ij = ............................................................................................(2.23)
Z ij

atau:

Y ij = Y ij ∠θij = Y ij cos θij + j Y ij sin θij =G ij +B ij ...........................(2.24)

dimana Gij dan Bij masing-masing menyatakan konduktansi total dan

suseptansi total antara node i dan j dan θ ij menyatakan sudut yang dibentuk oleh

vektor tegangan antara node i dan j, Vij dan arus I.

, =
L M

Ysh Ysh 9M
9L
2 2

Gambar 2.14. Rangkaian ekivalen nominal π dari saluran transmisi

Tegangan pada bus i atau node i dari sistem dalam koordinat polar adalah

sebagai berikut :

28
V i = V i ∠θ = V i ( cosδ i + j sinδ i ) ....................................................(2.25)

dan tegangan pada bus j ditulis serupa dengan merubah subkrip i dengan j.

Arus bersih yang diinjeksikan ke jaringan pada bus i adalah penjumlahan dari

N
I i = Yi1V1 + Yi 2V2 +  + YiN V N = ∑Yin Vn ..................................(2.26)
n =1

Biasanya dalam perhitungan aliran daya, terdapat empat kuantitas yang

penting dan berhubungan pada tiap bus antara lain, daya aktif, daya reaktif, sudut

tegangan dan magnitude tegangan. Dua dari empat kuantitas δ i,  V , Pi, dan Qi

ditentukan dan dua yang lain dihitung, sehingga ada beberapa macam jenis bus :

1. Bus Beban (Bus PQ). Pada bus ini daya aktif dan daya reaktif diketahui,

dan biasanya nilai yang digunakan berdasarkan pencatatan dalam operasi

sistem atau dengan pengukuran. Sedangkan magnituda tegangan bus dan

sudut fasa tegangan dihitung.

2. Bus Generator (Bus PV). Setiap bus pada sistem yang tegangannya

dijaga konstan disebut bus dengan tegangan terkontrol. Setiap bus dimana

terdapat generator, daya aktif yang dibangkitkan dikontrol dengan

pengaturan penggerak mula dan magnituda tegangannya dapat dikontrol

dengan mengatur eksitasi generator dan mengontrol daya reaktifnya.

Disebut juga bus PV karena nilai Pgi dan  V sudah diketahui.

3. Bus Berayun (Slack Bus). Biasanya bus 1 yang didefinisikan sebagai

slack bus, namun sebaiknya bus dengan kapasitas pembangkitan daya

terbesar dipilih sebagai slack bus, sebab pada bus ini berfungsi untuk

mencatu rugi-rugi dan kekurangan daya pada jaringan. Sudut tegangan

29
dari slack bus merupakan referensi untuk sudut tegangan semua bus

lainnya. Kuantitas yang diketahui adalah magnituda teganganVdan sudut

tegangan .

II.8 Metode Newton-Raphson dalam Penyelesaian Aliran Daya

Metode Newton-Raphson adalah metode penyelesaian suatu persamaan

non linier. Ekspansi deret Taylor pada fungsi dengan dua atau lebih variabel

adalah dasar metode ini untuk menyelesaikan masalah aliran daya. Misalkan suatu

persamaan fungsi h1 dengan variabel x1 dan x2 yang sama dengan konstanta b1

dinyatakan dengan

g1(x1, x2, u) = h1 (x1, x2, u) – b1 = 0.......................................................(2.27)

dan persamaan kedua yang mengandung variabel x1 dan x2 yang sama

dengan konstanta b2, yaitu:

g2(x1, x2, u) = h2(x1, x2, u) – b2 = 0 (2.28)

Faktor koreksi dibutuhkan untuk memperoleh penyelesaian x1 dan x2 yang

dapat ditulis sebagai,

( ) ( )
g 1 x 1* , x *2 , u = g 1 x 1( 0 ) + ∆ x 1( 0 ) , x (20 ) + ∆ x (20 ) , u − b1 = 0 ..........................(2.29)

( ) ( )
g 2 x 1* , x *2 , u = g 2 x 1( 0 ) + ∆ x 1( 0 ) , x (20 ) + ∆ x (20 ) , u − b 2 = 0 .........................(2.30)

dengan: x 1* dan x*2 adalah penyelesaian yang benar untuk x1 dan x2, x 1( 0 )

dan x (20 ) adalah nilai x1 dan x2 pada kondisi awal dan ∆x 1( 0 ) dan ∆x (20 ) adalah

faktor koreksi nilai x1 dan x2 pada kondisi awal. Jika ekspansi deret Taylor

digunakan pada persamaan (2.29) dan (2.30) menghasilkan:

30
(0) ( 0)
∂g 1 ∂g 1
g 1 (x1* , x 2* , u ) = g (x 1
( 0)
1 , x 2( 0 ) , u ) +∆x (0)
1 + ∆x 2( 0 ) +... =0
∂x1 ∂x 2

(2.31)
( 0) (0)
∂g 2 ∂g 2
g 2 ( x1* , x 2* , u ) = g (x 2
( 0)
1 , x 2( 0 ) , u ) +∆x (0)
1 + ∆x 2( 0 ) +... =0
∂x1 ∂x 2

(2.32)

Jika persamaan (2.31) dan (2.32) ditulis dalam bentuk matriks akan

diperoleh:

( 0)
 ∂ g1 ∂g 1 
∂x
 1
∂x 2 

( ) (
 ∆x1( 0 )   0 − g1 x1( 0 ) , x 2( 0 ) , u   b1 − h1 x1( 0) , x 2( 0 ) , u  )
 (0)  =  =
∂ g2 ∂ g2  ( )
 ∆x 2  0 − g 2 x1 , x 2 , u  b2 − h2 x1 , x 2 , u 
(0) (0) (0) (0)
(  . . .(2.33)
)
 ∂ x1 ∂x 
  2 
J (0)

dan J(0) adalah Jacobian dari turunan parsial fungsi g1 dan g2 terhadap x1

dan x2 pada kondisi awal. Persamaan (2.33) dapat ditulis sebagai ;

∆x ( 0)  ∆g ( 0) 
J ( 0)  1( 0)  =  1( 0)  .......................................................................(2.34)
∆x 2  ∆g 2 

yang merupakan persamaan faktor koreksi. Nilai akhir x1 dan x2 diperoleh bila

(0) (0)
nilai ∆x 1 dan ∆x 2 lebih kecil dari toleransi yang diberikan. Bila melebihi

toleransi yang diberikan, maka estimasi baru dari x1 dan x2, yakni x 1(1) dan x (21)

dimasukkan pada fungsi g1 dan g2 pada persamaan (2.31) dan (2.32), yang

nilainya adalah;

x 1( 1) = x 1( 0 ) + ∆x 1( 0 ) ; x (21) = x (20 ) + ∆x (20 ) ...........................................(2.35)

31
Penyelesaian aliran daya dengan metode Newton-Raphson memakai

persamaan hubungan daya aktif dan daya reaktif dengan magnituda tegangan dan

sudut tegangan dalam bentuk sebagai berikut :

n
Pi = ∑ Vi Vj Yij cos (θij +δ j −δ i ) ...................................(2.36)
j =1

n
Qi = − ∑ Vi V j Yi js (θ ii +jnδ j − δ i )................................................................................................(2.37)
j= 1

atau:

[
Vi V j Gij cos (θ ij + δ j − δ i ) + β ij sin ( θ ij + δ j − δ i ) .......(2.38) ]
n

Pi = ∑j =1

[
Vi V j Gij sin (θ ij + δ j − δ i ) − β ij cos ( θ ij + δ j − δ i ) ......(2.39) ]
n

Qi = ∑j =1

∆ Pi = Pi,spec - Pi,calc.....................................................................................................................................(2.40)

∆ Qi = Qi,spec - Qi,calc................................................................................................................................(2.41)

Estimasi untuk tegangan bus baru adalah :

δ I
(k+1)
=δ i
(k)
+∆ δ i
(k)
....................................................................(2.42)

 Vi (k+1)  =  Vi (k)  + ∆  Vi (k)  ...........................................(2.43)

Elemen-elemen matriks Jacobian terdiri dari turunan-turunan parsial P dan

Q terhadap masing-masing variabel pada persamaan (2.38) dan (2.39), dan untuk

penyederhanaannya dibuat dalam bentuk matriks seperti tampak pada persamaan

(2.44) bila sistem mempunyai n bus dengan asumsi bus 1 sebagai slack bus. Bus 1

diabaikan dalam penyelesaian iterasi untuk penentuan tegangan-tegangan, karena

baik besar tegangan maupun sudut tegangan pada bus tersebut sudah diketahui.

32
Dengan demikian P dan Q pada semua bus kecuali slack bus bisa ditentukan, dan

memperkirakan besar dan sudut tegangan pada tiap bus kecuali slack bus.

 ∂ P2 ∂ P2 ∂P ∂P 
∂δ   V2 2  Vn 2 
∂δ n ∂ V2 ∂ Vn
 2   ∆δ2
  J1 1    J1 2      ∆ P2 
    
 ∂ Pn ∂P ∂P ∂P
 n  Vn n  Vn n   ∆ δ n   
∂δ 2 ∂δ n ∂ V2 ∂ Vn      ∆ Pn 
      ........................(2.44)
         ∆ V2  =
 
 ∂Q ∂ Q2 ∂ Q2 ∂ Q2   V 2   ∆ Q2 
 2   V2  Vn      
∂δ 2 ∂δ n ∂ V2 ∂ Vn     
   ∆ Vn   ∆ Qn 
 J2 1    J2 2  
 Vn 
 ∂ Qn ∂Q ∂Q ∂Q 
  n  V2 n  Vn n 
 ∂ δ 2 ∂δ n ∂ V2 ∂ Vn 

Matriks Jacobian memberikan hubungan yang linier antara perubahan

kecil dalam sudut tegangan ∆ δ i


(k)
dan magnituda tegangan ∆  Vi (k)  dengan

perubahan kecil dalam daya aktif ∆ Pi (k)


dan daya reaktif ∆ Qi (k)
. Persamaan

(2.44) dinyatakan dalam bentuk singkat :

33
 ∆ P   J1 J 2   ∆ δ 
=      .............................................................................................. (2.45)

∆ Q  J3 J4  ∆ V
J1, J2, J3, J4, adalah elemen-elemen matriks Jacobian.

II.9 Menghitung Power Flow Dengan Menggunakan Psat

PSAT adalah salah satu toolbox Matlab yang berfungsi untuk analisis dan

kontrol sistem tenaga listrik. Pada toolboks PSAT ini tedapat di dalamnya power

flow, power flow yang berkesinambungan, optimalisasi power flow, analisis

gelombang kecil dan simulasi time domain, yang mana kesemuanya dapat

dijalankan dengan garfik antar muka (GUI) sehingga memudahkan dalam

penggunaanya serta tersedianya simulink yang memudahkan kita dalam

mendesain jaringan.untuk akurasi analisis sistem tenaga, PSAT menyediakan

berbagai jenis model komponen statis dan dinamik sebagai berikut :

a. Data power flow : Bus bar, saluran transmisi, trafo,slack bus, PV

generator, beban daya yang tetap, admintansi shunt

b. CPF dan OPF data : Power suplay dengan bids dan limits, generator

daya,

c. Switcing Operation : Circui breakers (CB), transmission line faults

d. Measurement : bus frequency dan phasor measurement unit (PMU)

34
e. Loads : voltage dependent loads, frequency dependent loads, ZIP

loads, exponential recovery loads

f. Machines : synchronous machine, an induction motors

g. Controls: turbine governors, automatic voltage regulator, power sistem

stabilizer, Over-exitation limitters, dan secondary Voltage regulation

h. Regulating Transformers: Load tap changer with voltage or reactive

power regulator dan phase shifting transformator.

i. FACTS : Static Var Compensator, Thyristor Controlled Series

Capasitor, Static Synchronous source Series Compesator, Unifed

Power Flow Controllers dan High Voltage DC transmission system.

j. Wind Turbines: Wind models, Constan Speed wind turbine with

squirrel cage induction motor, variabel speed.

Untuk mengetahui aliran daya pada sistem sulawesi selatan pada

penelitian ini digunakan tollbox PSAT yang mana memeliki langkah kerja sebagai

berikut:

1. Menggambar single line diagram sistem transmisi sulawesi selatan, dengan

menggunakan simulink yang ada pada Simulink-bassed libbrary seperti

berikut:

35
Gambar 2.15. Single line diagram sistem Sulseltrabar pada PSAT Simulink

2. Menginput data link-link tadi sesuai dengan data sistem yang digunakan..

Sebagai contoh berikut:

36
Gambar 2.16. Window input link untuk menginput block parameter dari tiap
komponen.

3. Menghitung load flow dengan cara membuka toolboks PSAT sehingga

muncul windows seperti dibawah dan memasukkan data file

Gambar 2.17. Tampilan menu PSAT

37
4. Mensetting Power Flow yang digunakan dengan menekan Ctrl+K sehingga

muncul window general setting seperti gambar dibawah, pada show iteration

status kita pilih jenis iterasi power flow lalu tekan ok

Gambar 2.18. Tampilan window general setting Power Flow

5. Untuk melihat hasil perhitungannya klik statik report sehingga muncul

window static report seperti berikut dan untuk melihat hasilnya klik report.

Gambar 2.19. Window static report

38
6. Untuk melihat profil tegangan klik gambar grafik batang untuk memunculkan

grafik yang diinginkan sehingga muncul grafik seperti berikut :

Gambar 2.20. Tampilan profil tegangan tiap bus

7. Klik report untuk melihat hasil analisis yang lebih lengkap. Jika kita klik

report akan muncul hasil yang berupa file notepad seperti berikut :

NETWORK STATISTICS
Buses: 36
Lines: 37
Transformers: 5
Generators: 9
Loads: 30
SOLUTION STATISTICS
Number of Iterations: 6
Maximum P mismatch [p.u.] 0
Maximum Q mismatch [p.u.] 0
Power rate [MVA] 100
POWER FLOW RESULTS

39
Tabel 2.2 Hasil Analisis Aliran Daya

Phase P gen Q gen P load Q load


No.Bus V (p.u.)
(rad) (p.u.) (p.u.) (p.u.) (p.u.)
1 1.033 0 3.2105 -0.33257 0.013 0.002
2 1.0043 -0.1216 0 0 0.053 0.02
3 1.0019 -0.12875 0 0 0.077 0.007
4 1.0267 -0.20214 0.008 0.9649 0.059 0.022
5 0.98866 -0.28071 0 0 0.078 0.032
6 0.9933 -0.27381 0.53 0.18004 0 0
7 0.96771 -0.31648 0 0 0.021 0.01
8 0.9343 -0.73094 0 0 0.092 0.047
9 0.94084 -0.78459 0 0 0.316 0
10 0.96 -0.84393 0.35 3.0649 0.06 0.05
11 0.93336 -0.87243 0 0 0.324 -0.025
12 0.95788 -0.84737 0 0 0.408 0.126
13 0.95707 -0.83395 0 0 0.101 -0.012
14 0.95583 -0.83613 0 0 0.1 0.039
15 0.95214 -0.80136 0 0 0.053 0.015
Lanjutan tabel 2.2

16 0.99243 -0.29598 0 0 0.072 0.05


17 0.98258 -0.32912 0 0 0.039 0.009
18 0.97815 -0.33853 0 0 0.135 0.026
19 1.0165 -0.31456 0 0 0.044 0.024
20 1.04 -0.24101 1.345 0.21278 0.082 0.035
21 0.99896 -0.42186 0 0 0.087 0.037
22 0.98564 -0.51412 0 0 0.06 0.002
23 0.97725 -0.57818 0 0 0.072 0
24 0.96147 -0.67324 0 0 0.038 0.011
25 0.93508 -0.78128 0 0 0 0
26 0.92987 -0.78524 0 0 0.156 0.076
27 0.93307 -0.80067 0 0 0.035 0.011
28 0.93822 -0.82446 0 0 0.094 0.018
29 0.93943 -0.83143 0 0 0.222 0.042
30 0.94756 -0.82616 0 0 0 0

LINE FLOWS
Tabel 2.3 Aliran daya

40
From P Flow Q Flow P Loss Q Loss
To Bus Line
Bus [p.u.] [p.u.] [p.u.] [p.u.]

Bus21 Bus22 1 1.7012 -0.35872 0.16975 0.60131

Bus17 Bus16 2 0.01394 0.1334 0.00067 -0.01957

Bus5 Bus7 3 0.98697 1.2499 0.06043 0.21563

Bus18 Bus17 4 0.02349 0.12981 0.00035 -0.00439

Bus16 Bus19 5 1.1196 0.06713 0.03729 0.12513

Bus1 Bus2 6 0.72728 0.0508 0.0131 0.03929

Bus29 Bus28 7 -0.03117 0.03006 7e-005 -6e-005

Bus20 Bus19 8 2.8722 1.3396 0.0979 0.58104

Bus28 Bus27 9 -0.03595 0.02663 0.00029 -0.00018

Bus19 Bus21 10 3.8403 0.69099 0.39207 1.39

Bus22 Bus23 11 1.5092 -0.96002 0.12747 0.45024

Bus23 Bus24 12 2.7571 0.43961 0.19738 0.70296

Bus34 Bus36 13 0 -2e-005 0 -2e-005

Bus8 Bus9 14 0.35257 -0.43329 0.00392 0.00978

Bus8 Bus10 15 0.35152 -0.50606 0.01035 0.02676

Bus4 Bus5 16 0.97382 0.44503 0.01534 0.04822

Bus2 Bus5 17 0.67615 0.03044 0.01642 0.04085

Bus27 Bus25 18 -0.04084 0.02542 0.0002 -6e-005

Bus3 Bus2 19 -0.01761 0.01938 2e-005 -0.00755

Bus31 Bus30 20 0.06898 0.02066 0.00032 0.00027

Bus1 Bus4 21 1.0223 -0.11082 0.03045 0.09845

Bus6 Bus5 22 0.5348 0.86014 0.00404 0.01341

Bus24 Bus15 23 2.5421 -0.26814 0.26691 0.95111

Bus7 Bus8 24 0.92467 1.0335 0.06332 2.2595

41
Bus25 Bus26 25 0.03242 0.01435 2e-005 -5e-005

Bus10 Bus12 26 0.24918 0.08881 0.00018 1e-005

Bus15 Bus13 27 2.2478 -1.2275 0.03814 0.25597

Bus28 Bus25 28 -0.04528 0.03161 0.00059 0.00013

Bus30 Bus28 29 0.00168 0.03517 8e-005 -0.00017

Bus30 Bus29 30 0.04853 0.04252 0.0001 7e-005

Bus21 Bus23 31 1.6913 -0.36207 0.29723 1.0508

Bus10 Bus13 32 -2.108 1.5988 0.01439 0.09649

Bus13 Bus14 33 0.03571 0.01319 1e-005 -0.00241

Bus5 Bus16 34 1.1457 -0.02393 0.01354 0.04591

Bus32 Bus33 35 0.23131 0.00174 0.00101 0.00174

Bus10 Bus11 36 0.41554 -0.21382 0.00085 0.0014

Lanjutan tabel 2.3

Bus9 Bus10 37 0.26315 -0.44307 0.00497 0.01093

Bus11 Bus32 38 0.23289 -0.19781 0.00158 0.03288

Bus8 Bus25 39 0.12065 -0.30464 0.00132 0.01734

Bus10 Bus30 40 -0.0034 -0.03711 2e-005 0.00049

Bus10 Bus34 41 0 -2e-005 0 0

Bus30 Bus35 42 0.01501 0.00678 1e-005 0.00078

LINE FLOWS
Tabel 2.4 Aliran daya

From Line P Flow Q Flow P Loss Q Loss


To Bus
Bus [p.u.] [p.u.] [p.u.] [p.u.] [p.u.]

Bus22 Bus21 1 -1.5314 0.96002 0.16975 0.60131

Bus16 Bus17 2 -0.01328 -0.15297 0.00067 -0.01957

42
Bus7 Bus5 3 -0.92654 -1.0342 0.06043 0.21563

Bus17 Bus18 4 -0.02314 -0.1342 0.00035 -0.00439

Bus19 Bus16 5 -1.0823 0.058 0.03729 0.12513

Bus2 Bus1 6 -0.71418 -0.01151 0.0131 0.03929

Bus28 Bus29 7 0.03124 -0.03011 7e-005 -6e-005

Bus19 Bus20 8 -2.7743 -0.75859 0.0979 0.58104

Bus27 Bus28 9 0.03624 -0.02682 0.00029 -0.00018

Bus21 Bus19 10 -3.4482 0.69901 0.39207 1.39

Bus23 Bus22 11 -1.3817 1.4103 0.12747 0.45024

Bus24 Bus23 12 -2.5597 0.26334 0.19738 0.70296

Bus36 Bus34 13 0 0 0 -2e-005

Bus9 Bus8 14 -0.34865 0.44307 0.00392 0.00978

Lanjutan tabel 2.4

Bus10 Bus8 15 -0.34117 0.53282 0.01035 0.02676

Bus5 Bus4 16 -0.95849 -0.39682 0.01534 0.04822

Bus5 Bus2 17 -0.65973 0.01041 0.01642 0.04085

Bus25 Bus27 18 0.04104 -0.02547 0.0002 -6e-005

Bus2 Bus3 19 0.01763 -0.02693 2e-005 -0.00755

Bus30 Bus31 20 -0.06865 -0.02039 0.00032 0.00027

Bus4 Bus1 21 -0.99187 0.20926 0.03045 0.09845

Bus5 Bus6 22 -0.53076 -0.84672 0.00404 0.01341

Bus15 Bus24 23 -2.2752 1.2193 0.26691 0.95111

Bus8 Bus7 24 -0.86135 1.226 0.06332 2.2595

Bus26 Bus25 25 -0.0324 -0.0144 2e-005 -5e-005

Bus12 Bus10 26 -0.249 -0.0888 0.00018 1e-005

Bus13 Bus15 27 -2.2097 1.4834 0.03814 0.25597

43
Bus25 Bus28 28 0.04587 -0.03148 0.00059 0.00013

Bus28 Bus30 29 -0.00161 -0.03533 8e-005 -0.00017

Bus29 Bus30 30 -0.04843 -0.04246 0.0001 7e-005

Bus23 Bus21 31 -1.3941 1.4129 0.29723 1.0508

Bus13 Bus10 32 2.1224 -1.5023 0.01439 0.09649

Bus14 Bus13 33 -0.0357 -0.0156 1e-005 -0.00241

Bus16 Bus5 34 -1.1322 0.06984 0.01354 0.04591

Bus33 Bus32 35 -0.2303 0 0.00101 0.00174

Bus11 Bus10 36 -0.41469 0.21521 0.00085 0.0014

Bus10 Bus9 37 -0.25818 0.454 0.00497 0.01093

Bus32 Bus11 38 -0.23131 0.23069 0.00158 0.03288

Bus25 Bus8 39 -0.11933 0.32198 0.00132 0.01734

Lanjutan tabel 2.4

Bus30 Bus10 40 0.00342 0.0376 2e-005 0.00049

Bus34 Bus10 41 0 2e-005 0 0

Bus35 Bus30 42 -0.015 -0.006 1e-005 0.00078

GLOBAL SUMMARY REPORT


TOTAL GENERATION
REAL POWER [p.u.] 3.2656
REACTIVE POWER [p.u.] 8.6814
TOTAL LOAD
REAL POWER [p.u.] 1.3836
REACTIVE POWER [p.u.] 0.26053
TOTAL SHUNT
REAL POWER [p.u.] 0

44
REACTIVE POWER (IND) [p.u.] 0
REACTIVE POWER (CAP) [p.u.] 0.61349
TOTAL LOSSES
REAL POWER [p.u.] 1.8821
REACTIVE POWER [p.u.] 9.0344

45