Anda di halaman 1dari 28

EFISIENSI ENERGI

ALUR DASAR ALIRAN ENERGI DALAM PROSES CO2 REMOVAL


UNIT DI PT. PEROKIMIA GRESIK PLANT AMONIAK

Dosen Pengampu:

Ir. Wisnu Broto, MSi

Disusun oleh:

Dzikriyah Ikrima Shabria


Aprilia Larasati Dewi
Dwi Kristanto
Donny August Sapdono

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN


TEKNOLOGI REKAYASA INDUSTRI
FAKULTAS SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2019
1
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas Rahmat dan Hidayah-
Nya makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang alur dasar aliran energi dalam proses CO2
removal unit.

Penulis menyadari bahwa  makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Tentunya,


kritik, saran dan masukan sangat penulis butuhkan untuk dijadikan pedoman dalam penulisan
ke arah yang lebih baik lagi. Serta terima kasih penulis ucapkan kepada berbagai pihak yang
telah membantu melengkapi isi dari makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semarang, 18 September 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul.............................................................................................. 1
Kata Pengantar............................................................................................. 2
Daftar Isi...................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................... 4
B. Rumusan Masalah............................................................................ 5
C. Tujuan Penulisan.............................................................................. 5
BAB II ISI
A. Pengertian Energi............................................................................. 6
B. CO2 Removal Plant……………………………………………...... 6
C. Aliran Energi (Panas) CO2 Removal Plant....................................... 16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................... 27
B. Saran……………………………………………………………… 27
Daftar Pustaka.............................................................................................. 28

BAB I
PENDAHULUAN

3
I.1 Latar Belakang

Gas alam merupakan senyawa hidrokarbon yang terdiri dari campuran beberapa
macam gas hidrokarbon yang mudah terbakar dan non hidrokarbon (impuritas) seperti Hg,
CO2, dan H2S (M. Faisol Haq, 2012)[1]. Gas alam menjadi salah satu bahan baku dalam
pembuatan amoniak di Petrokimia Gresik. Untuk menghilangkan kadar CO 2 maka dilakukan
proses pemurnian atau biasa disebut CO2 removal. Proses CO2 removal merupakan tahap
pemurnian gas dari kandungan CO2. Salah satu industri yaitu Pt. Petrokimia Gresik
menggunakan CO2 yang sudah dipisahkan dari gas untuk dijadikan bahan baku pembuatan
urea. Sedangkan gas yang sudah murni akan digunakan sebagai bahan baku sintesa amoniak.
Menurut Irfan Javed dkk (2010) dalam jurnalnya, salah satu proses dalam CO 2 removal
adalah proses absorbsi CO2 dimana gas akan dikondensasi pada suhu rendah dan tekanan
tinggi agar dapat terserap oleh larutan Benfield[2].

Proses CO2 removal tersebut membutuhkan energi panas dengan jumlah yang besar.
Menurut Rochelle G. dan Oyenekan B. (2006), kinerja proses CO2 removal tersebut dapat
dilihat dari spesifikasi produk, kuantitas produk, maupun efisiensi energi [3]. Proses CO2
removal pada kolom absorber menggunakan energi yang cukup banyak karena harus
beroperasi pada suhu rendah. Energi diambil dari pemanasan maupun pendinginan yang
bekerja pada sistem dan energi dari produk atau energi recovery. Energi recovery sangat
bergantung terhadap efisiensi pembakaran pada heat exchanger. Padahal efisiensi heat
exchanger bisa menurun sepanjang waktu operasi. Kondisi operasi menurun disebabkan oleh
kualitas dan kuantitas bahan baku saat plant beroperasi sehingga pemodelan desain awal set
up tidak lagi optimal.

I.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan energi ?

4
2. Bagaimanakah proses CO2 removal di PT. Petrokimia Gresik?
3. Bagaimana dasar aliran energi pada proses CO2 removal di PT. Petrokimia Gresik?
4. Bagaimana cara perhitungan energi pada proses CO 2 removal di PT. Petrokimia
Gresik?

I.3 Tujuan

1. Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan energi


2. Dapat mengetahui proses CO2 removal di PT. Petrokimia Gresik
3. Dapat mengetahui dasar aliran energi pada proses CO2 removal di PT. Petrokimia
Gresik
4. Dapat mengetahui cara perhitungan energi pada proses CO2 removal di PT.
Petrokimia Gresik

BAB II
ISI
5
A. Pengertian Energi

Neraca energi menunjukan kesetimbangan antara energi yang dibutuhkan dan energi
yang dihasilkan selama berjalannya proses produksi. Selain untuk menegetahui kebutuhan
energi pada suatu proses , perhitungan neraca energi ini juga sangat penting untuk
memperoleh nilai efisiensi sehingga dapat dilakukan evaluasi untuk mencapai efisiensi energi
optimum dan meminimalkan kehilangan energi . Dalam neraca energi terdapat enam bentuk
energi yang diperhitungkan:
- Energy kinetic (Ek) : energy yang dimiliki suatu system yang bergerak
- Energy potensil (Ep) : energy yang dimiliki oleh suatu system posisinya
- Energy dalam (U) : jumlah dari seluruh energy molekkuler , atomatik dan
subatomic yang terdapat dalam suatu materi
- Energy panas/kalor (Q) : energy yang mengalir karena perbedaan temperatur
- Kerja (W) : energy yang ditransfer oleh suatu tenaga penggerak tertentu selain beda
temperature
- Entalpi (H) : Jumlah dari dua energy dimana E = U + PV
-
B. CO2 Removal Plant

CO2 removal plant merupakan salah satu plant pada pabrik amoniak di PT.
Petrokimia Gresik. CO2 removal plant mempunyai fungsi untuk menghilangkan gas-gas
impuritas seperti CO2 agar tidak mengganggu proses sintesa amoniak. Pada plant tersebut
terdapat dua kolom besar yang berfungsi untuk menyerap CO2 yaitu kolom absorber dan
memisahkan CO2 yaitu kolom stripper.

Iqlima Fuqoha (2012) menjelaskan bahwa kolom CO2 absorber merupakan suatu
tabung atau vessel yang bekerja untuk menyerap CO2 dengan mengkontak syngas dengan
larutan Benfield[10]. Larutan Benfield menyerap CO2 dan mengalir ke kolom stripper dimana
kolom stripper bekerja untuk memisahkan CO2 dari larutan Benfield. CO2 yang terpisah dari
larutan Benfield dibuang dan dijadikan produk atau bahan baku pembuatan pupuk urea.

6
Sedangkan larutan Benfield yang telah murni dan tidak mengandung CO 2 dikembalikan ke
dalam kolom absorber untuk melakukan proses penyerapan lagi.

Untuk memurnikan syngas dari kandungan CO2 selain menggunakan larutan Benfield,
juga menggunakan tekanan yang tinggi. Tekanan yang tinggi ini bertujuan untuk mencairkan
CO2 agar cepat larut ke larutan Benfield dengan suhu yang rendah. Setelah itu larutan
Benfield yang menyerap CO2 dialirkan ke kolom stripper. Kolom stripper sendiri akan
bekerja untuk memisahkan CO2 dari larutan Benfield. Dimana larutan Benfield yang telah
terpisah dari CO2 menjadi bottom product dan dikembalikan ke kolom absorber untuk
melakukan penyerapan lagi. Sedangkan CO2 menjadi top product untuk digunakan sebagai
bahan baku pembuatan pupuk urea. Kondisi operasi pada kolom stripper berkebalikan
dengan kolom absorber, dimana untuk memisahkan kandungan CO2 dari gas membutuhkan
tekanan rendah dan suhu tinggi.

2.2.1 CO2 Absorption

7
Proses pemisahan CO2 dari gas proses dilakukan dengan menggunakan proses
absorbsi dimana larutan penyerap yang digunakan adalah potassium carbonate. Larutan
potassium carbonate yang mengandung DEA dan korosi inhibitor tersebut biasa disebut
dengan Benfield. Larutan Benfield terdiri dari komponen – komponen sebagai berikut :

o Potassium Karbonat (K2CO3 25 – 30 % berat)


o Diethanolamine (DEA) 3 – 5 %
o Corrosion inhibitor 0,5 – 0,6 % (Vanadium Pentoxida)

Komponen – komponen utama dalam tahap ini adalah:


1. Lean Solution Benfield
Larutan ini mempunyai kadar potassium carbonate yang paling tinggi. Digunakan
untuk melakukan penyerapan CO2 terakhir yang berada di packing bed 1 kolom absorber.

2. Semi Lean Solution Benfield


Larutan yang sudah teregenerasi dan sebagian masih mengandung potassium
bicarbonate. Larutan ini digunakan untuk menyerap CO2 pada kolom absorber.

3. Rich Solution Benfield

Larutan yang mengandung CO2 tinggi dan merupakan bottom output dari kolom
absorber. Larutan ini akan diregenerasi didalam kolom stripper.
4. CO2 Absorber
Merupakan tower atau kolom yang terdiri dari 3 bed packing metalic yang berfungsi
untuk mengkontak raw synthesis gas dengan larutan lean Benfield maupun semi-lean
Benfield.

Teori Operasi
Raw synthesis gas yang mengalir masuk ke kolom absorber mempunyai suhu 70° C
dimana gas tersebut akan menuju keatas melalui internal distributor. Setelah melewati
internal distributor, raw synthesis gas akan terus naik keatas melalui dua bed terbawah.
Dalam bed tersebut raw synthesis gas akan kontak dengan larutan semi-lean Benfield yang
sudah teregenerasi. Gas yang sudah sebagian diserap oleh semi-lean, akan diteruskan keatas

8
menuju top tray dan dikontak dengan lean Benfield. Gas yang dikontak dengan lean Benfield
menjadi murni dari kadar karbondioksida. Setelah gas dikontak dengan lean Benfield dan
sebagian besar kadar karbondioksida telah hilang, selanjutnya diteruskan menuju absorber
knock out drum yang berfungsi untuk memisahkan larutan Benfield yang terikut oleh aliran
uap. Larutan tersebut dikeluarkan secara blowdown dan dikumpulkan ke sewer pengumpul
larutan Benfield.

Berikut merupakan reaksi kimia proses penyerapan CO2 dengan larutan potassium
carbonate:

H2O + K2CO3 + CO2 2KHCO3

Reaksi yang terjadi pada kolom absorber mempunyai kondisi operasi 70 0C dan
tekanan 28 – 32 kg/cm2. Raw synthesis gas keluar LTS sebelum masuk CO2 absorber
mempunyai komposisi sebagai berikut :

- CO2 = 18,87 % - CH4 = 0,29 %


- CO = 0,3% - N2 = 20,54 %
Dan komposisi gas yang
- Ar = 0,26 % - H2 = 59,74 % keluar dari kolom absorber adalah
sebagai berikut :
- CO2 = 0,06 – 0,10 % - CH4 = 0,36 %
- CO = 0,37 % - N2 = 25,30 %
- Ar = 0,32 % - H2 = 73,59 %

2.2.2 CO2 Stripping


Dalam proses stripping larutan CO2 akan dilepaskan dengan suhu yang tinggi agar
fasa vapor bisa naik top column. Dalam prosesnya, CO2 stripper bekerja dengan melakukan
9
pemisahan CO2, penambahan panas dan penurunan tekanan. Hal itu bertujuan agar proses
pelepasan CO2 bekerja cepat.

Proses regenerasi larutan Benfield sangat dibutuhkan karena larutan yang teregenerasi
tersebut digunakan untuk menyerap kembali karbondioksida yang tersisa pada top section
kolom absorber. Berikut merupakan reaksi kimia proses regenerasi:

2 KHCO3 K2CO3 + CO2 + H2O


Stripping CO2 dilakukan pada suhu  100 – 130 0C dan tekanan 0,5 – 1 kg/cm2.

Komponen – komponen utama dalam tahap ini adalah:


1. CO2 Stripper (102-E)
Kolom ini merupakan kolom pelepasan dari karbondioksida. Kolom ini terdiri dari 4
packing bed dimana bahan dari tiap packing bed terdiri dari carbon steel dan stainless
slot ring. Selain itu di setiap tray pada kolom terdapat distributor cairan atau vapor di
bagian atas dan bawahnya.

2. Stripper Feed Flash Drum (133-F)


Vessel yang berfungsi sebagai pemisah gas impuritas dengan rich Benfield. Dimana gas
seperti CH2 dan H2 diikat dan digunakan untuk fuel dari primary reformer

3. Semi Lean Solution Flash Tank (132-F)


Drum yang mempunyai empat internal compartment dan dihubungkan dengan injector
steam pada sisi outlet. Injector steam akan mengembalikan semi-lean Benfield kembali
masuk ke CO2 stripper.

4. Lean Solution/LP BFW Exchanger (109-C)


Exchanger ini mengalirkan lean Benfield solution dari CO2 stripper menuju CO2
absorber. Pada alat ini terjadi proses pertukaran panas dengan aliran demineralized water.

5. CO2 Stripper Condensate Reboiler (111-C)


Alat ini berfungsi untuk melakukan pemanasan kembali kolom stripper dengan
pertukaran panas dari aliran CO2 condensate water di sisi shell dan aliran process gas di
sisi tube.

10
6. CO2 Stripper Reboiler (105-C)
Berfungsi untuk reboiler dari kolom stripper dimana lean solution pada sisi shell akan
bertukar panas dengan process gas dari tube side. Vapor atau steam output dari alat ini
menjadi sumber steam kolom stripper.

Teori Operasi

Setelah mengikat kandungan gas-gas impuritas yang masuk ke kolom absorber,


selanjutnya larutan Benfield akan dialirkan menuju stripper flash drum dengan menurunkan
tekanan menggunakan expander. Aliran larutan yang kaya akan CO2 tersebut akan
dihilangkan gas impuritasnya seperti metana, hidrogen dan hidrokarbon lainnya di stripper
flash drum 133-F

Gas-gas seperti metana, hidrogen dan hidrokarbon lainnya tersebut akan digunakan
untuk fuel di primary reformer. Sedangkan Benfield yang masih kaya akan CO2 diteruskan ke
kolom stripper bagian flash zone diatas middle bed . Aliran tersebut akan mengalir kebawah
menuju dua top bed dan bertemu uap panas dari bottom section. Cairan yang sudah
teregenerasi sebagian oleh uap panas, terkumpul di intermediate liquid trap out pan .
Sejumlah 90% dari cairan tersebut ditarik dari pan dan dikirim ke semi lean solution flash
tank.

Sebagian larutan yang melalui intermediate pan akan disitribusikan kembali melalui
bed bottom yang naik dari bottom section tower. Uap panas akan melepaskan CO2 (stripping)
dari larutan. Lean solution akan terkumpul pada bagian lower trap out dan akan mengalir
secara gravitasi ke sisi shell dari CO2 stripper reboiler. Dari reboiler tersebut, sebagian lean
solution akan diuapkan oleh panas dari aliran LTS effluent dan kemudian masuk kembali ke
kolom stripper. Larutan yang masuk melalui lower trap out tersebut ditarik melalui sisi shell
lean solution atau LP BFW exchanger oleh pompa 108-J.

Lean solution dari pompa 108-J akan masuk ke kolom absorber. Sebagian larutan
semi-lean Benfield akan masuk ke 132-F dan akan dipisahkan dari liquid ke fase vapor dan
dikirim ke ejector. Ejector tersebut akan menarik uap hasil flashing dari tiap compartment
dan mengembalikannya ke kolom stripper bagian intermediate draw off pan. Sedangkan sisi
11
lain dari 132-F akan ditarik oleh pompa 107-J untuk dialirkan masuk kembali ke kolom
absorber.

Produk CO2 Stripper :


- CO2 = 99,71 % - CH4 = 0 %
- CO =0% - N2 = 0,02 %
- Ar =0% - H2 = 0,27 %
Secara ringkas, reaksi yang terjadi baik pada CO2 absorber maupun CO2 stripper
adalah:

 Absorbsi: K2CO3 + CO2 + H2O 2 KHCO3


T = 70 0C, P = 33 kg/cm2 (kadar CO2 dalam gas 0,06%)

 Stripper: 2 KHCO3 K2CO3 + CO2 + H2O


T = 135 0C, P = 1,9 kg/cm2 (kadar CO2 yang dihasilkan kemurniannya 99,71 %)

2.2.3 Heat Exchanger

Menurut Incropera dan Dewitt (1981), efektivitas suatu heat exchanger didefinisikan
sebagai perbandingan antara perpindahan panas yang diharapkan (nyata) dengan perpindahan
panas maksimum yang mungkin terjadi dalam heat exchanger tersebut[12]. Secara umum
pengertian alat penukar panas atau heat exchanger (HE), adalah suatu alat yang digunakan
untuk pemanas atau pendingin dengan menggunakan prinsip perpindahan panas. Medium
pemanas yang dipakai adalah uap lewat panas (super heated steam) dan air biasa sebagai air
pendingin ( cooling water). Heat exchanger dirancang sedemikian rupa agar tingkat
perpindahan panas berlangsung dengan optimal dan efisien. Pertukaran panas pada heat
exchanger tersebut terjadi karena adanya kontak antar fluida panas dan dingin, baik dengan
dinding pemisah maupun dengan bercampur langsung begitu saja. Pada industri Petrokimia
maupun industri minyak dan gas, heat exchanger digunakan hampir pada setiap proses baik
itu proses pemanasan maupun pendinginan.

Dean A. Barlett (1996) dalam jurnalnya menyatakan bahwa penukar panas dapat
diklasifikasikan menjadi 3 tipe, berdasarkan jenis dan ukuran yaitu coil heat exchanger, plate
12
heat exchanger, dan shell-and-tube heat exchanger. Dari beberapa tipe penukar panas
tersebut, setiap jenisnya mempunyai kelebihan dan kekurangan serta penggunaannya
tergantung metode perpindahan panas yang ditentukan. Dari ketiga tipe penukar panas
tersebut, tipe shell-and-tube memiliki kemampuan tekanan yang lebih baik dari penukar
panas plate dan memiliki kemampuan tekanan lebih rendah dari coil heat exchanger[13].

Gambar 2.3 Shell-and-Tube Heat Exchanger[14]

Kinerja dari penukar panas dapat ditentukan oleh laju perpindahan panas dari penukar
panas tersebut. Untuk menentukan tingkat perpindahan panas dapat dihitung menggunakan
persamaan 2.1. Tingkat perpindahan panas penukar panas dipengaruhi oleh koefisien
perpindahan panas keseluruhan, luas area perpindahan panas, dan Log Mean Temperature
Difference (LMTD).

Q = U A ΔTLM ………………..…………(2.1)

Keterangan:
Q = Heat Duty (kcal/hr)
U = Koefisien perpindahan panas keseluruhan (kcal/hr m2 °C) A = Heat Transfer Area
2
(m )
ΔTLM = Log Mean Temperature Difference (oC)

13
Menurut Totok Ruki (2012), koefisien perpindahan panas keseluruhan (U) ditentukan
dengan menggunakan hubungan empiris dari koefisien perpindahan panas film masing-
masing sisi dan resistansi fouling[18]. Persamaan sebagai berikut:

Dimana:
Rfi = Resistansi fouling dalam
Rfo = Resistansi fouling luar
hi = Koefisien perpindahan panas film sisi tube
ho = Koefisien perpindahan panas film sisi shell
U = Koefisien perpindahan panas keseluruhan
kw = Konduktivitas termal pada dinding tube
do = Diameter luar dari tube
di = Diameter dalam dari tube

Totok Ruki (2012) menjelaskan bahwa pada umumnya analisis kinerja alat penukar
panas dilakukan berdasarkan kesetimbangan energi steady-state[18]. Jika koefisien
perpindahan panas keseluruhan konstan, perubahan energi kinetik diabaikan, dan permukaan
penukar panas diisolasi, maka persamaan 2.1 mudah diintegrasikan untuk aliran co-current
atau counter current. Sehingga didapatkan kesetimbangan dengan persamaan berikut:
Qc = Qh…………………………………………..(2.5)
Dimana :

Qc = Jumlah panas yang diterima dari fluida dingin

Qh = Jumlah panas yang diterima dari fluida panas


14
Jumlah panas yang diterima dari fluida dingin Qc, dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut:

Qc = mc Cpc ΔTc ……………..…………………....(2.6)


Keterangan :
Q = Heat Duty (kcal/hr)
mc = Laju aliran massa fluida dingin (kg/hr)
Cpc = Panas spesifik dari fluida dingin (kcal/kg-oC)
ΔTc = Perbedaan suhu fluida dingin inlet dan outlet (oC)

Jumlah panas yang diterima dari fluida panas Qh, diberikan sebagai berikut:

Qh = mh Cph ΔTh ……………..…………………....(2.7)


Keterangan :
Q = Heat Duty (kcal/hr)

mh = Laju aliran massa fluida panas (kg/hr)


Cph = Panas spesifik dari fluida panas (kcal/kg-oC)

ΔTh = Perbedaan suhu fluida panas inlet dan outlet (oC)

C. Aliran Energi (Panas) CO2 Removal

CO2 Stripper CO2 Absorber

15
LP/ BFW
Exchanger

1. CO2 Absorber

N O1

CO2 Absorber
M Q

16
P
Keterangan :

M = Aliran dari Raw Gas Separator

N = Aliran larutan benfield dari 132 oF

O1 = Aliran larutan lean solution dari 109 oC

P = Aliran rich benfield

Q = Aliran produk

a. Aliran Dari Raw Gas Separator (Aliran M)

TA 1430 PV = 76,60C + 273 = 349,6oK


T Referensi = 25OC + 273 = 298 K
QM = 3.976.693,071 kkal

b. Aliran Larutan Benfield dari 132-F (Aliran N)


TI 1410 PV = 107,5oC + 273 = 380,5 K
T referensi = 25oC + 273 K = 298 K
380,5

H2O = ∫ 33,933 - 8,4186.10-3T + 2,9906. 10-5 T2 -1,7825. 10-8 T3 + 3,6934 10-12 T4


298

8,4186 x 10−3 2,9906 x 10−5


= 33,933 (380,5 – 298) - (380,52 – 2982) +
2 3

1,7825 x 10−8 3,6934 x 10−12


(380,53 – 2983) - (380,54 – 2984) + (380,55 –
4 5
2985)

Cp.dT = 2.776,22 kJ/mol = 666,293 kkal/mol


Q = n x Cp x dT
= 57.433,2 mol x 666,293 kkal/mol
= 38.267.327,64 kkal

380,5
K2CO3 = ∫ 26,523 - 4,4242.10-2T + 3,415. 10-6 T2
298

17
4,4242 x 10−2 3,415 x 10−6
= 26,523 (380,5 – 298) - (380,52 – 2982) + (380,53
2 3
– 2983)

Cp.dT = 2.338,07 kJ/mol = 561,137 kkal/mol


Q = n x Cp x dT
= 1.595,669 mol x 561,137 kkal/mol
= 895.388,597 kkal
Q larutan Benfield dari 132 F = 39.162.716,24 kkal

c. Aliran larutan lean solution dari 109-C (aliran O1)


TI 1408 PV = 74,9oC + 273 K = 347,9 K
T referensi = 25oC + 273 K = 298 K

380,5

H2O = ∫ 33,933 - 8,4186.10-3T + 2,9906. 10-5 T2 – 1,7825. 10-8 T3 + 3,6934. 10-12 T4


298

8,4186 x 10−3 2,990 x 10−5


= 33,933 (347,9 – 298) - (347,92 – 2982) + (347,93
2 3

1,7825 x 10−3 3,6934 x 10−12


– 2983) - (347,94 – 2984) + (347,95 – 2985)
4 5

CpdT = 1.683,987 KJ/mol = 404,157 Kkal/mol


Q = n x Cp x dT
= 9.686,478 mol x 404,157 kkal/mol
= 3.914.856,727 kkal

340,889
K2CO3 = ∫ 26,523 - 4,4242.10-2T + 3,415. 10-6 T2
298

18
4,4242 x 10−2
= 26,523 (340,889 – 298) - (340,8892 – 2982) +
2

3,415 x 10−6
(340,53 – 2983)
3

CpdT = 1.378,439 Kj/mol = 330,825 kkal/mol

Q = n x Cp x dT

= 370,604 kgmol x 330,825 kkal/mol

= 122.605,202 kkal

Q Aliran larutan lean solution dari 109-C = 4.037.461,929 kkal

d. Perhitungan ∆ H 298
CO2(g) + K2CO3(l) +H2O(l) 2KHCO3(g)
ΔH298 = ΔH produk – ΔH reaktan
= 2 (ΔHf KHCO3) – ΔHf CO2 + ΔHf K2CO3 + ΔHf H2O
ΔHf CO2 = -94.442,4 kJ/mol x 658,378 mol = -62.178.798,43 kkal
ΔHf K2CO3 = -274.010 kcal/gmol = -1.146.485,356 kJ/kgmol
= -275.156,485 kkal/mol x 658,378 mol = -181.156.976,6 kkal
ΔHf H2O = -58.036,8 kkal/mol x 658,378 mol = -38.210.152,31 kkal
ΔHf KHCO3 = -229.800 kcal/gmol = -961.506,276 kJ/kgmol
= 2 x -230.761,506 kkal/mol x 1.316,756 mol = -607.713.195,2
kkal
ΔH298 = (-607.713.195,2) – ((-62.178.798,43) + (-181.156.976,6) +
(-38.210.152,31))
Panas reaksi 298 K = -326.167.267,9 kkal

e. Aliran Rich BenField (aliran P)


TI 1354 PV = 113,5oC + 273 = 386,5 K
T referensi = 25oC + 273 = 298 K

19
386,5

H2O = ∫ 33,933 - 8,4186.10-3T + 2,9906. 10-5 T2 – 1,7825. 10-8 T3 + 3,6934. 10-12


298

T4
8,4186 x 10−3 2,990 x 10−5
= 33,933 (386,5 – 298) - (386,52 – 2982) + (386,53
2 3

1,7825 x 10−3 3,6934 x 10−12


– 2983) - (386,54 – 2984) + (386,55 – 2985)
4 5

CpdT = 2.976,744 kJ/mol = 714,419 kkal/mol


Q = n x Cp x dT
= 66.461,3 mol x 714,419 kkal/mol
= 47.481.186,24 kkal

Tabel Perhitungan Q pada Aliran Rich Bienfield-

Mol Cp.dT QP
Komponen
(kkal/mol) (kkal)
K2CO3 1.307,895 622,021 813.538,103
H 2O 66.461,3 714,419 47.481.186,24
KHCO3 1.316,756 622,021 819.049,831
Total 69.085,951 1.958,41 49.114.374,17

f. Aliran Produk (aliran Q)


TI 1353 PV = 82oC + 273 K = 355 K
T referensi = 25oC + 273 K = 298 K

355

N2 =∫ 29,342 – 3,5395.10-3T + 1,0076.10-5 T2 – 4,3116. 10-9 T3 + 2,5935. 10-


298

13
T4
3,5395 x 10−3 1,0076 x 10−5
= 29,342 (355 – 298) - (3552 – 2982) + (3553 –
2 3

4,3116 x 10−9 2,5935 x 10−13


2983) - (3554 – 2984) + (3555 – 2985)
4 5

20
CpdT = 1.667,355 kJ/mol = 400,165 kkal/mol
Q = n x Cp x dT
= 2.884,432 mol x 400,165 kkal/mol
= 1.154.249,308 kkal

Tabel Perhitungan Q pada Aliran Produk

Mol Cp.dT QQ
Komponen
(kkal/mol) (kkal)
N2 2.884,432 400,165 1.154.249,308
CH4 160,757 465,174 74.780,054
CO2 6,65 389,219 2.588,303
Ar 40,84 284,352 11.612,955
H2 7.414,71 354,774 2.630.546,326
CO 662,82 402,051 266.487,523
Total 11.170,209 2.295,735 4.140.264,469

Tabel Neraca Massa Pada CO2 Absorber

Panas Masuk QQ
Kode Komponen
(KKal) (kkal)
M Dari Raw Gas Separator 3.976.693,071 -
N Larutan Benfield dari 132-F 39.162.176,24 -
O1 Larutan Lean Solution dari 109-C 4.037.461,929 -
P Rich Benfield - 49.114.374,17
Q Produk - 4.140.264,469
Panas 298 K - 326.167.267,9
Panas Reaksi 332.245.035,3 -
Total 379.421.906,5 379.421.906,5

1. CO2 Striper
2.

CO2 Striper
21
P R

N O2

Keterangan :

N = Larutan Benfield menuju 109-C

O2 = Larutan Lean Solution menuju 109-C

P = Larutan Rich Benfields dari CO2 absorber

R= Aliran CO2 Produk

a. Larutan Rich Benfields dari CO2 Absorber (Aliran P)


TA = 113,5o C + 273 = 386,5 k
T referensi = 25o C + 273 k = 298 K
RP = 49.114.374,17
b. Perhitungan Perhitungan ∆ H 298
2KHCO3(l) CO2 + K2CO3(l) + H2O(l)
ΔH298 = ΔH produk – ΔH reaktan
= (ΔHf CO2) – ΔHf K2CO3 + ΔHf H2O + 2(ΔHf KHCO3)
ΔHf CO2 = -94.442,4 kJ/mol x 658,378 mol = -62.178.798,43 kkal
ΔHf K2CO3 = -274.010 kcal/gmol = -1.146.485,356 kJ/kgmol
= -275.156,485 kkal/mol x 658,378 mol = -181.156.976,6 kkal
ΔHf H2O = -58.036,8 kkal/mol x 658,378 mol = -38.210.152,31 kkal
ΔHf KHCO3 = -229.800 kcal/gmol = -961.506,276 kJ/kgmol
= 2 x -230.761,506 kkal/mol x 1.316,756 mol = -607.713.195,2
kkal
ΔH298 = (-62.178.798,43) + ((-181.156.976,6) + (-38.210.152,31) +
(-607.713.195,2))
Panas reaksi 298 K = 326.167.267,9 kkal

c. Larutan Benfield Menuju 132-F (aliran N)

22
TI 1409 PV = 119,4 °C + 273 = 392,4 K
T referensi = 25 °C + 273 K = 298 K

392,4

H2O = ∫ 33,933 - 8,4186.10-3T + 2,9906. 10-5 T2 – 1,7825. 10-8 T3 +


298

3,6934. 10-12 T4

8,4186 x 10−3 2,990 x 10−5


= 33,933 (392,4 – 298) - (392,42 – 2982) +
2 3

1,7825 x 10−3 3,6934 x 10−12


(392,43 – 298 3) - (392,44 – 2984) +
4 5
(392,45 – 2985)

CpdT (H2O) = 3.173,802 Kj/mol = 761,712 kKal/mol


Q = n × Cp × dT
= 57.433,2 mol × 761,712 kKal/mol

392,4

K2CO3 = ∫ 26,523 - 4,4242.10-2T + 3,415. 10-6 T2


298

4,4242 x 10−2 3,415 x 10−6


= 26,523 (392,4 – 298) - (392,42 – 2982) +
2 3
(392,43 – 2983)

CpdT (K2CO3) = 2.699,941 kJ/mol = 647,986 kKal/mol


Q = n × Cp × dT
= 1.595,669 mol × 647,986 kKal/mol
= 1.033.970,917 kKal
Q Larutan Benfield Menuju 132-F = 44.781.556,13 kKal

d. Larutan Lean Solution Menuju 109-C (aliran O2)


TI 1407 PV = 124,3 °C + 273 = 397,3 K
T referensi = 25 °C + 273 K = 298 K

23
397,3

H2O = ∫ 33,933 - 8,4186.10-3T + 2,9906. 10-5 T2 – 1,7825. 10-8 T3 + 3,6934.


298

10 T4 -12

8,4186 x 10−3 2,990 x 10−5


= 33,933 (397,3 – 298) - (397,32 – 2982) +
2 3

1,7825 x 10−3 3,6934 x 10−12


(397,33 – 298 3) - (397,34 – 2984) +
4 5
(397,35 – 2985)

CpdT (H2O) = 3.337,376 Kj/mol = 800,970 kKal/mol


Q = n × Cp × dT
= 9.686,478 mol × 800,970 kKal/mol
= 7.758.550,608 kKal

397,3

K2CO3 = ∫ 26,523 - 4,4242.10-2T + 3,415. 10-6 T2


298

4,4242 x 10−2 2 2 3,415 x 10−6


= 26,523 (397,3 – 298) - (397,3 – 298 ) +
2 3
(397,33 – 2983)

CpdT (K2CO3) = 2.850,743 Kj/mol = 684,178 kKal/mol


Q = n × Cp × dT
= 370,604 mol × 684,178 kKal/mol
= 253.559,222 kKal
Q Larutan Lean Solution menuju 109-C = 8.012.139,83 kKal

e. Aliran CO2 Produk (aliran R)


TI 1407 PV = 32,4 °C + 273 = 305,4 K
T referensi = 25 °C + 273 K = 298 K

305,4
CO2 = ∫ 27,437 - 4,2315.10-2T – 1,9555.10-9 T 3 + 3,9968. 10-9 T3 – 2,9872.10-13 T4
298

24
4,2315 x 10−2 1,9555 x 10−5
= 27,437 (305,4 – 298) - (305,42 – 2982) +
2 3

3 33,9968 x 10−9 4 4 2,9872 x 10−13


(305,4 – 298 ) + (305,4 – 298 ) - (305,45
2 2
– 2985)

CpdT (CO2) = 204,190 Kj/mol = 49,005 kKal/mol


Q = n × Cp × dT
= 658,378 mol × 49,005 kKal/mol
= 32.264,209 kKal

Tabel Neraca Massa Pada CO2 Stripper

Panas Masuk QQ
Kode Komponen
(KKal) (kkal)
Larutan rich Benfield dari O2 49.114.374,17 -
P
Absorber
Larutan Lean solution menuju - 8.012.139,83
O2
109-F
N Larutan Benfield menuju 132-F - 44.781.556,13
R Aliran CO2 Produk - 32.264,209
Panas 298 K 326.167.267,9 -
Panas Reaksi - 322.455.681,9
Total 375.281.642,1 375.281.642,1

3. Lean Solution / LP BWF Exchanger (109-C)

O2 O1
Lean Solution/LP BWF Exchanger
(109-C)

Keterangan :
Q2 = Larutan Lean Solution dari CO2 stripper
Q1 = Larutan Lean Solution menuju ke CO2 Absorber

a. Larutan lean solution dari CO2 stripper (aliran O2)

25
TI 1407 PV = 124,3 0C + 273 = 397,3 K
T Referensi = 25 0C + 273 = 298 K
Q O2 = 8.012.139,83 Kkal

b. Larutan lean solution menuju ke CO2 absorber (aliran O1)

TI 1408 PV = 74,9 0C + 273 = 347,9 K


T Referensi = 25 0C + 273 = 298 K
Q O1 = 4.037.461,929 Kkal

Tabel Neraca panas pada lean solution / LP BFW Exchanger

Kode Komponen Panas masuk Panas Keluar


(kKal) (kKal)
O2 Larutan lean 8.012.139,83 -
solution dari CO2
stripper
O1 Larutan lean - 4.037.461,929
solution menuju
ke CO2 Absorber
Panas - 3.974.677.901
Total 8.012.139,83 8.012.139,83

26
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat membantu semua kalangan dalam
mempelajari kinetika pertumbuhan mikroba serta perhitungan dalam kinetika
tersebut.

27
DAFTAR PUSTAKA

28