Anda di halaman 1dari 8

A.

Resume
Tantangan dan masalah kesehatan masyarakat
Dalam siklus hidup mulai dari janin yang ada pada ibu hamil, kemudian lahir bayi
dan berkembang hingga balita lalu tumbuh menjdi remaja, dan pada akhirnya menjadi
dewasa dan tua memerlukan perlakuan atau intervensi khusus pada setiap periode. Karena
intervensi di suatu periode kehidupan akan menentukan pada periode berikutnya gagal di
ibu hamil maka akan lahir yang berpotensi sutanting tidak berhasil dengan imunisasi
lengkap memiliki balita yang memiliki resiko infeksi saat ini maupun yang akan datang.
Bahkan sampai lansia. Dalam 5 prioritas jarang menyebut masalah lansia. Masalah saat
ini ini besarnya jumlah lansia sama besarnya dengan jumlah balita sudah 9% dari
penduduk Indonesia memasuki masa lanjut usia jika tidak memilih mempersiapkan dari
sekarang akan memiliki masalah besar. Dalam sasaran masalah ini ini ada lingkungan
yang juga menentukan akses kepada air bersih penggunaan sanitasi jamban yang kurang
perilaku membuang sampah sembarangan atau yang tidak tepat dan sebagainya.
Sasaran prioritas:
Jika dilihat dari individu ibu hamil bagi balita itu sangat besar angkatan kerja
sangat besar tetapi jika dilihat dari komunitas dari sekolah sampai kepada UKM itu
adalah channel untuk mengajak masyarakat bekerjasama bersama masyarakat untuk
membangun kesehatan. Untuk rpjmn tahun 2020 mempunyai Perpres nomor 18 tahun
2020 dalam poin nomor 3 meningkatkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya
saing dengan manajer proyek adalah percepatan penurunan kebaya ibu dan stanting.
Goals atau tujuan agenda pembangunan adalah meningkatkan sumber daya manusia
berkualitas dan berdaya saing.
Didukung major project atau proyek utama antara lain
1. Pendidikan dan pelatihan vokasi untuk industri 4.0
2. P embangunan science techno Park (optimalisasi triple helix di 4 mayor universitas)
3. Percepatan penurunan kematian ibu dan stanting
4. Integrasi bantuan sosial menuju skema perlindungan sosial menyeluruh
Dalam RPJMN bidang kesehatan ada 5 prioritas yang pertama peningkatan
kesehatan ibu anak keluarga berencana KB dan kesehatan reproduksi percepatan
perbaikan gizi peningkatan pengendalian penyakit pembudayaan perilaku hidup sehat
melalui germas penguatan sistem kesehatan dan pengawasan obat dan makanan. Tiga
diantaranya merupakan kaitanya dengan kesehatan masyarakat yaitu
1. Peningkatan kesehatan ibu anak keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.
2. Percepatan perbaikan gizi.
3. Pembudayaan perilaku hidup sehat melalui germas. Indikator pembangunan kesehatan
Menurunkan angka kematian ibu menjadi 183/100.000. Menurunkan angka
kematian bayi menjadi 16 per 1000 kelahiran hidup dari 24. Menurunkan prevalensi
stunting balita menjadi 14% dari 27,7%. Menurunkan prevalensi wasting balita menjadi
7% dari 10,2%. Menurunkan insidensi TB dari 319 menjadi 190 per 100.000 penduduk,
Peningkatan kesehatan ibu anak remaja dan keluarga berencana
Intervensi kesehatan meliputi ante natal care sesuai standar keluarga berencana
KB rumah tunggu kelahiran jampersal poned dan ponek regionalisasi sistem rujukan utd
Dan bank darah ketersediaan sumber daya manusia sarana prasarana obat dan vaksin ASI
eksklusif imunisasi dasar lengkap dan jangkauan JKN. Sedangkan untuk intervensi
multisektor meliputi wajib belajar 12 tahun pencegahan pernikahan anak peningkatan
peran perempuan dalam ekonomi Kesehatan reproduksi remaja dan calon pengantin peran
tokoh masyarakat tokoh agama dan publik figur pengasuh anak air bersih udara bersih
dan jamban keluarga. Makanan buat suatu strategi dengan 5 pilar yang terdiri atas:
1. Komitmen dan visi pimpinan digerakkan kembali
2. Konvergensi dan koordinasi program pusat daerah dan masyarakat
3. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan
4. P eningkatan kesehatan gender dan pemberdayaan perempuan
5. Pemantauan dan evaluasi
Konsep penguatan pelayanan kesehatan ibu dan anak berbasis wilayah
Konsep ini memungkinkan untuk setiap kabupaten dan kota harus bisa memetakan
sumber dayanya dari primer hingga rujukan. Apakah mampu untuk melayani emergensi
atau tidak? Kalau tidak apa yang menjadi kekurangannya, mulai dari sarana hingga
SDMnya. Pada tingkat kabupaten hal yang menjadi indikator kesiapannya yaitu saat
assessment menggunakan aplikasi simat Neo pendampingan tata kelola klinis manajemen
training manajemen fasilitas Kesehatan penggunaan tim Puskesmas poned
Yang menjadi indikator tingkat regional hingga pusat harus mampu untuk:
Assessment pendampingan berobat luar negeri, jenis manajemen fasilitas Kesehatan yang
memadai, quality improvement, penguatan tim ponek, audit medik kematian dan
pelaporan kematian. Pemanfaatan aplikasi ASPAK, SIRS, RS Online ,MPDN.
Tujuan penyelesaian permasalahan gizi yaitu:.
1. Menurunkan anemia ibu hamil dari 49, 9% menjadi 20% pada tahun 2024. Jika tidak
diturunkan akan berkonsekuensi terhadap perkembangan janin
2. Menurunkan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis dari 17,3% menjadi 10% di
tahun 2024. ibu hamil dengan kekurangan energi kronis memiliki resiko terhadap
berat badan bayi lahir rendah (BBLR)
3. Balita gizi kurang dari 10,2% menjadi 7% pada tahun 2024 balita akan mengalami
gagal tumbuh dan anak cenderung pendek dibanding usianya
4. Mempertahankan angka obesitas dewasa di angka 21,8% balita stunting akan beresiko
lebih berat badan atau obesitas dibanding usia dewasa dan beresiko penyakit tidak
menular (PTM) seperti hipertensi stroke dan lainnya
Kerangka pikir penurunan stunting terintegrasi ada 5 pilar strategi yang dilakukan, yaitu:
1. Komitmen dan visi kepemimpinan
2. Kampanye nasional dan perubahan perilaku
3. Konvergensi program pusat daerah dan desa
4. Ketahanan pangan dan gizi
5. Pemantauan dan evaluasi
Intervensi yang dilakukan yaitu dengan memberi tablet tambah darah untuk bumil
dan remaja, promosi dan konseling menyusui, promosi dan konseling PMBA, suplemen
gizi makro, tata laksana gizi buruk, pemantauan dan promosi pertumbuhan, pemantauan
perkembangan SDIDTK, suplementasi kalsium, suplementasi vitamin A, suplementasi
zinc untuk diare, imunisasi lengkap, pemeriksaan kehamilan, suplementasi gizi mikro
(taburia), pemberian obat cacing, manajemen terpadu balita sakit mtbs, ketersediaan air
bersih dan sanitasi. Sedangkan intervensi yang dilakukan oleh sektor non-kesehatan yaitu:
bantuan pangan non tunai, jaminan kesehatan nasional (JKN), pendidikan anak usia dini
(PAUD), program keluarga harapan (PKH), bina keluarga balita (BKD), kawasan rumah
pangan lestari dan fortifikasi pangan.
Dengan fokus pada pendekatan siklus hidup 1000 hari pertama kelahiran dan
remaja dengan upaya optimalisasi cakupan strategi: Peningkatan kapasitas SDM,
peningkatan kualitas program, penguatan edukasi gizi, penguatan manajemen intervensi
gizi di Puskesmas dan posyandu. Ditambah enabling environment (kebijakan komitmen),
pendampingan dan respon cepat pada situasi darurat.
Kebudayaan perilaku hidup sehat melalui germas.

Germas adalah suatu cara untuk mendukung penurunan PTM dan PM. Jika
perokok usia 18 tahun ke bawah turun, obesitas turun, perilaku sehat naik, aktivitas fisik
rutin maka penyakit tidak menular akan tidak terjadi. Jika insiden TB turun, insiden HIV
turun, malaria dieliminasi, kualitas lingkungan lebih baik maka penyakit menular akan
kecil kemungkinan untuk terjadi.
Harapan terhadap daerah
1. Pemerintah daerah melakukan kegiatan inovatif dan integratif meliputi gerakan
sayang ibu dan bayi untuk mendukung penurunan AKI dan AKB penguatan
konvergensi intervensi sensitif dalam rangka penurunan stunting strategi komunikasi
perubahan perilaku kampanye gerakan masyarakat hidup sehat.
2. Menyusun dan menetapkan regulasi untuk mendukung pelaksanaan program
kesehatan seperti jejaring rujukan dalam batas wilayah dan lintas batas kebijakan
daerah tentang germas reaksi konvergensi stunting reaksi percepatan penurunan AKI
AKB.
3. Sinkronisasi peran dan wewenang untuk pencapaian prioritas nasional dan SPM
4. Menyediakan dan mengembangkan sarana germas seperti ruang terbuka hijau,
aktivitas fisik, KTR, kawasan bersepeda, carfreeday dengan menggunakan berbagai
sumber pendanaan seperti dana Desa CSR, DBH, CHT, BK, dan lain-lain.
5. Mengoptimalkan berbagai sumber daya kesehatan dan sektor lainnya dalam upaya
penurunan AKI, AKB, stunting dan peningkatan gerakan masyarakat hidup sehat.
6. Meningkatkan kapasitas manajemen terutama dalam perencanaan dan teknis program.
B. Latar belakang
Ada beberapa isu atau masalah yang terdapat pada vidio arahan direktorat jendral
Kesehatan Masyarakat yang disampaikan oleh Dr. Kirana Pritasari, MQIH yaitu
mengenai masih tingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB),
tingginya prevalensi stunting balita, tingginya prevalensi wasting balita, tingginya
insidensi TB, tingginya insidensi HIV, tingginya kejadian malaria, rendahnya anak yang
di imunisasi dasar lengkap, tingginya angka merokok di usia 10 - 18 tahun dan
mempertahankan kejadian obesitas..
Informasi yang salah tentang penyebab stunting berhubungan dengan persepsi dan
perilaku yang salah dalam pencegahan terjadinya stunting. Oleh karena itu, diperlukan
kegiatan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
masyarakat tentang penanganan dan pencegahan stunting pada anak (Hall dkk, 2018).
Sasaran program ini terutama adalah anak yang masih berada pada masa 1000
HPK dan atau ibu hamil dan menyusui. Berdasarkan data yang diperoleh dari riskesdas
tahun 2018, angka stunting di Indonesia sebesar 30,8% (Riskesdas, 2018). Dampak
stunting dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada anak. Stunting juga
meningkatkan risiko terjadinya gangguan kognitif dan perkembangan pada anak, serta
menyebabkan obesitas dan penyakit metabolik (Sulistyaningsih, 2018). Dampak tersebut
secara tindak langsung mempengaruhi kualitas suatu bangsa. Maka dari itu saya
mengangkat ISU mengenai tingginya kasus Stunting.
C. Hasil Analisis ISU
Stunting bisa diketahui ketika anak sudah ada pada usia sekolah. Anak yang
mengalami stunting akan memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari teman sebayanya.
Untuk menentukan seorang anak mengalami stunting atau tidak, bisa diukur dengan
membandingkan tinggi badan per umur (TB/U) dengan tabel tumbuh anak (Norcahyati,
2016). Stunting terjadi dihampir seluruh negara di dunia, terutama di negara-negara
miskin dan berkembang. Indonesia sendiri prevalensi stunting mencapai 27.7% pada
tahun 2018 (Riskesdas, 2019). World health organization menmbatasi angka prevalensi
stunting tidak lebih dari 20%.
Pengetahuan gizi yang baik membuat seorang ibu akan lebih menjagamenu
makanan yang dikonsumsi oleh keluarga. Hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan,
sehingga dapat mengurangi atau mencegah gangguan gizi pada anak Selain itu,
pengasuhan kesehatan pada tahun pertama kehidupan sangatlah penting untuk
perkembangan anak. Perbedaan karakteristik ibu yang mengakibatkan berbedanya pola
pengasuhan yang akan berpengaruh terhadap status gizi anak. Ibu yang memiliki
pengetahuan yang baik akan memberikan pengasuhan pada balita sesuai dengan
kebutuhannya dan perkembangannya (Rahayu, 2016)
Kejadian stunting diakibatkan karena pola asuh bayi dan balita yang tidak optimal,
karena kekurangan gizi. Kekurangan gizi kronis tersebut terjadi terutama pada 1000 hari
pertama kehidupan (HPK) dan terlihat setelah anak berusia 2 tahun. Stunting
didefinisikan anak balita dengan nilai z-skor kurang dari -2 standar deviasi/SD (stunted)
dan kurang dari -3 SD (severely stunted).
Pendidikan yang baik akan membuat orang tua lebih mudah dalam menerima
segala informasi dari luar terutama cara pengasuhan anak yang baik dan bagaimana
menjaga kesehatan anak. Berdasarkan penelitian Aisyah dan Rahfiludin (2019),
menunjukkan prevalensi stunting dan wasting meningkat dengan rendahnya pendidikan
ibu. Tingkat pendidikan seseorang akan berkaitan de- ngan wawasan pengetahuan
mengenai sumber gizi dan jenis makanan yang baik untuk dikonsumsi keluarga. Ibu
rumah tangga yang berpendidikan cenderung me- milih makanan yang lebih baik dalam
mutu dan jumlahnya, dibanding dengan ibu yang pendidikannya rendah. Rendahnya
pendidikan ibu merupakan salah satu penyebab terjadinya stunting karena ibu yang
berpendidikan lebih mungkin untuk membuat keputusan yang akan meningkatkan gizi
dan kesehatan anak-anaknya. Selain itu, akan ada berbagai macam strategi yang yang
akan dilakukan untuk kelangsungan hidup anaknya, seperti ASI, imunisasi, terapi
dehidrasi oral, keluarga berencana.
Gambar 1. Kerangka masalah.

D. Evaluasi Program
Program yang sudah dilakukan yaitu Promosi kesehatan kepada calon ibu/calon
pengantin tentang pola asuh dan pola konsumsi melalui berbagai media, pencanangan dan
penggalakan gerakan masyarakat “sadar gizi”. Penanganan dan pencegahan stunting
menjadi program prioritas kesehatan global. Upaya tersebut menjadi indikator kunci
kedua pada target Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu tidak ada kelaparan
(Aisyah & Rahfiludin, 2019). Pemerintah Indonesia telah menerapkan program yang
bersifat komprehensif dengan melibatkan lintas sektor dan program dalam rangka stop
generasi stunting. Program tersebut antara lain pelaksanaan program sanitasi total
berbasis masyarakat (STBM) stunting dan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan
Keluarga (PIS-PK). Jumlah keluarga yang terdata lengkap dalam PIS-PK per September
2018 sebanyak 12.691.725 keluarga, dengan Indeks Keluarga Sehat (IKS) nasional 16,25
%..
Selain meningkatkan program STBM dan PIS-PK, pemerintah juga harus
berupaya untuk meningkatkan program Germas. Program Germas merupakan program
yang dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat. Program germas tidak berhasil jika
hanya dilakukan oleh orang dengan strata bawah.
Upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi
perseorangan dan masyarakat melalui perbaikan pola konsumsi. Makanan yang sesuai
dengan gizi seimbang, perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan;
peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan
teknologi, dan peningkatan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) (Sulung &
Amalia, 2018; Zulfianto & Rachmat, 2017). Status gizi kurang dapat menjadi faktor
resiko untuk terjadinya Stunting, karena pertumbuhan dan perkembangan anak tidak lepas
dari pola makannya.
Peran serta kader posyandu dan orang tua diperlukan dalam melakukan skrining
terjadinya stunting pada anak. Skrining pertumbuhan dan perkembangan dapat mencegah
terjadinya stunting pada anak di bawah usia lima tahun. Karena perilaku kesehatan
masyarakat dipengaruhi oleh persepsi masyarakat dalam memandang masalah kesehatan
khususnya terjadinya stunting pada anak

E. Kesimpulan

F. Daftar Pustaka
Aisyah, S., & Rahfiludin, M. Z. (2019). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
DENGAN STUNTING PADA ANAK KELAS SATU DI SDI TAQWIYATUL
WATHON, DAERAH PESISIR KOTA SEMARANG. JURNAL KESEHATAN
MASYARAKAT, 7(1).
Riskesdas, K. (2018). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). Hasil Utama Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS), 44.
Riskesdas, K. (2019). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). Hasil Utama Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS), 44.
Sulung, N., & Amalia, N. G. (2018). Status Gizi, Ventilasi, Kebiasaan Merokok Dan Peran
Tenaga Kesehatan Dengan Kejadian Tb Paru Relationship Between Nutritional Status ,
Ventilation , Smoking Habits And The Role Of Health Workers With Pulmonary
Tuberculosis. Jurnal Pembangunan Nagari, 3(2), 65–73.
Zulfianto, nils aria, & Rachmat, M. (2017). surveilans Gizi.