Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

” Standar Pelayanan Minimal Puskesmas”


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Manajemen Mutu
Dosen Pengampu : Dr. Edi Martono, MARS

Disusun oleh :

1. Aat Hartati (CMR0170001)


2. Dian Rahmawati (CMR0170004)
3. Dina Mardiana (CMR0170041)
4. Imelia Septhiani (CMR0170016)
5. Intan Amala (CMR0170050)
6. Nada Edelwis (CMR0170021)
7. Nasiatul Laili Macmudah (CMR0170022)
8. Resti Fauziah Nurul Hikmah (CMR0170058)
9. Rika Novianti (CMR0170090)
10. Sultonnur Rosid (CMR0170062)
11. Yuni Rosalina (CMR0170064)
12. Yusi Almira Fedora (CMR0170065)

Departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan


Program Studi Kesehatan Masyarakat
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam yang telah memberi kami kesempatan
dan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam semoga selalu
tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, beserta
keluarga dan para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia sampai hari kemudian.
Makalah ini kami buat dengan maksud untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen
Mutu. Kami berharap penyusunan dalam bentuk makalah ini akan memberi banyak manfaat
dan memperluas ilmu pengetahuan kita.
Dan kami menyadari di dalam penyusunan ini mungkin masih belum sempurna dan
terdapat kesalahan dalam penyusunannya, kami mohon untuk bimbingan dan kritik serta saran
yang bersifat membangun. Kami ucapkan terimakasih.

Kuningan, 17 Desember 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ i


DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................................................... 1
B. Rumusan masalah ..................................................................................................................... 3
C. Tujuan ........................................................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................................... 4
A. Pengertian Mutu ....................................................... Kesalahan! Bookmark tidak ditentukan.
B. Dimensi Mutu ............................................................ Kesalahan! Bookmark tidak ditentukan.
C. Pengertian Mutu Pelayanan Kesehatan .................. Kesalahan! Bookmark tidak ditentukan.
D. Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan ...................... Kesalahan! Bookmark tidak ditentukan.
E. Indikator Mutu Pelayanan Kesehatan .................... Kesalahan! Bookmark tidak ditentukan.
F. Standar Pelayanan Kesehatan ................................. Kesalahan! Bookmark tidak ditentukan.
G. Mengukur Mutu Pelayanan Kesehatan .............. Kesalahan! Bookmark tidak ditentukan.
BAB III PENUTUP ............................................................................................................................ 13
A. Kesimpulan .............................................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan upaya dalam meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga tercapai derjat kesehatan
masyarakat yang optimal. Dalam mewujudkan hidup sehat bagi masyarakat, banyak hal
yang perlu dilakukan diantaranya dengan menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
Pusat kesehatan Masyarakat adalah unit penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat
pertama bagi wilayah kerjanya, yang merupakan tulang punggung dalam menyelenggarakan
upaya pelayanan kesehatan dasar meliputi Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya
Kesehatan Perseorangan. Puskesmas dalam menjalankan tugasnya lebih mengutakan upaya
promotif dan preventif yang dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan untuk
memperoleh kinerja puskesmas yang efektif dan efisien.
Standar Pelayanan Minimal yang disingkat menjadi SPM merupakan ketentuan dari
pemerintah mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang wajib dan berhak diperoleh
masyarakat secara minimal. Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar tingkat pertama dalam
menjalankan fungsinya, harus menggunakan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas
yang sebagaimana telah ditetapkan oleh Kementeriaan Kesehatan.
Mutu suatu pelayanan tidak terlepas dari adanya suatu standar acuan yang dijadikan
pedoman untuk memberikan pelayanan. Pemerintah dalam mendukung pelayanan yang
bermutu yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2016
tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Pencapaian target SPM dengan
program prioritas lainnya menjadi indikator bagi Pemerintah Daerah untuk menilai baik atau
tidaknya kinerja Kepala Daerah dalam melaksanakan tugas dengan adanya reward dan
punisment.
Standar Pelayanan Minimal merupakan ketentuan dalam memberikan pelayanan
bermutu yang secara minimal harus dilaksanakan oleh Pemerintah daerah dengan target
capaian SPM harus 100% setiap tahunnya. SPM bidang kesehatan mencakup 12 indikator
jenis layanan yaitu pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan ibu bersalin,
pelayanan kesehatan bayi baru lahir, pelayanan kesehatan balita, pelayanan kesehatan pada
usia pendidikan dasar, pelayanan kesehatan pada usia produktif, pelayanan kesehatan pada
usia lanjut, pelayanan kesehatan penderita hipertensi, pelayan kesehatan penderita diabetes
melitus, pelayanan kesehatan orang dengan gangguan jiwa berat, pelayanan kesehatan orang
dengan TB, dan pelayanan kesehatan orang dengan risiko terinfeksi HIV.

1
Puskesmas dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya harus melaksanakan indikator SPM bidang kesehatan. Dari 12 indikator SPM
bidang kesehatan, terdapat 5 indikator diantaranya yang menunjang upaya kesehatan Ibu
dan Anak meliputi: 1.Pelayanan kesehatan ibu hamil (K4), 2.Pelayanan kesehatan ibu
bersalin (persalinan oleh nakes) dan Pelayanan Ibu Nifas, 3.Pelayanan kesehatan bayi baru
lahir (usia 0-28 hari), 4.Pelayanan kesehatan balita (usia 0-59 bulan), 5.Pelayanan kesehatan
pada usia pendidikan dasar (penjaringan).
Namun demikian tantangan pembangunan kesehatan di masa mendatang akan
semakin kompleks dengan hadirnya berbagai masalah kesehatan. Berbagai masalah ini juga
dihadapi oleh puskesmas sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan nasional.
Puskesmas menghadapi berbagai masalah antara lain masalah sumber daya, rendahnya
kinerja, adanya pandangan sebelah mata terhadap peran puskesmas, keterbatasan obat dan
alat kesehatan, kesulitan geografis dan keterbatasan biaya operasional termasuk lemahnya
pembinaan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Beberapa pemerintah daerah mampu mencukupi kebutuhan biaya operasional
kesehatan puskesmas di daerahnya namun tidak sedikit pula yang masih sangat terbatas
kemampuannya, padahal puskesmas sangat berperan penting dalam melaksanakan
pembangunan kesehatan dengan paradigma sehat yang menekankan pada upaya promotif
dan preventif. Ditambah lagi dengan masalah disparitas antar berbagai determinan sosial di
masyarakat meliputi perbedaan antar wilayah, antar pendidikan masyarakat, antar sosial
ekonomi masyarakat dan determinan sosial lainnya.
Untuk menjawab segala tantangan, mempercepat pencapaian sasaran-sasaran
pembangunan kesehatan di Indonesia dan menyelesaikan permasalahan yang dialami
puskesmas, maka Kementerian Kesehatan telah melakukan terobosan melalui berbagai
upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Satu diantaranya adalah Bantuan
Operasional Kesehatan (BOK). Sesuai dengan Petunjuk Teknis Bantuan Operasional
Kesehatan Tahun 2011 maka BOK diharapkan dapat berkontribusi meningkatkan akses dan
pemerataan pelayanan.
Kesehatan masyarakat terutama melalui kegiatan promotif dan preventif, sesuai
dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan dengan fokus pencapaian
Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015 (Petunjuk Teknis Bantuan
Operasional Kesehatan, 2011).

2
Dana BOK yang telah diberikan Pemerintah Pusat selayaknya dapat membantu
menyelesaikan berbagai masalah kesehatan di daerah termasuk di Kota Sibolga sehingga
dapat mencapai target SPM Bidang Kesehatan dan MDG’s pada tahun 2015.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk menganalisa lebih lanjut
tentang implementasi kebijakan dan evaluasi program Bantuan Operasional Kesehatan di
Kota Sibolga Sumatera Utara serta meneliti faktor-faktor yang memengaruhi
implementasinya.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan standar minimal mutu di puskesmas?
2. Bagaimana Standar Pelayanan Minimal di Puskesmas?
3. Mengapa Standar pelayanan minimal puskesmas itu penting?
4. Siapa yang bertanggungjawab atas standar minimal mutu di puskesmas?
5. Kapan standar minimal mutu diterapkan dan berlakunya?
C. Tujuan
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Mutu
2. Untuk mengetahui dan memahami tentang Perencanaan Manajemen Pelayanan
Kesehatan

3
BAB II
PEMBAHASAN
BAB II
PEMBAHASAN
A. Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Standar Pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan
tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak
diperoleh setiap warga secara minimal. Standar pelayanan minimal SPM disusun sebagai
alat Pemerintah dan Pemerintahan Daerah untuk menjamin akses dan mutu pelayanan dasar
kepada masyarakat secara merata dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib (Azwar,
1996).
Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan adalah merupakan ketentuan
mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar minimal bidang kesehatan yang merupakan
urusan pemerintahan wajib yang berhak diperoleh setiap warga negara (Muyasaroh, 2016).
Standar Teknis SPM bidang kesehatan adalah ketentuan standar jumlah dan kualitas
barang dan/atau jasa, personal/sumber daya manusia kesehatan dan petunjuk teknis atau
tata cara pemenuhan standar dari masing-masing jenis dan mutu pelayanan dasar SPM
Bidang Kesehatan.
Pelayanan Dasar Minimal Bidang Kesehatan adalah pelayanan publik untuk
memenuhi kebutuhan dasar kesehatan warga Negara. Jenis Pelayanan dasar SPM Bidang
Kesehatan adalah jenis pelayanan dalam rangka penyediaan barang dan/atau jasa
kebutuhan dasar minimal kesehatan yang berhak diperoleh setiap warga Negara. Mutu
Pelayanan dasar minimal Bidang Kesehatan adalah ukuran kuantitas dan kualitas barang
dan/atau jasa kebutuhan dasar kesehatan serta pemenuhan sesuai standar teknis agar hidup
secara layak.
Standar pelayanan minimal memiliki nilai yang sangat strategis bagi pemerintah
(daerah) maupun bagi masyarakat (konsumen), adapun nilai strategis itu adalah sebagai
berikut :
1. Bagi pemerintah daerah
Standar pelayanan minimal dapat dijadikan sebagai tolak ukur (benchmark) dalam
penentuan biaya yang diperlukan untuk membiayai penyediaan pelayanan.
2. Bagi masyarakat
Standar pelayanan minimal dapat dijadikan sebagai acuan mengenai kualitas dan
kuantitas suatu pelayanan public yang disediakan oleh pemerintah (daerah).

4
Manfaat standar pelayanan bagi masyarakat adalah agar warga masyarakat di
daerah memiliki jaminan untuk memperoleh pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan
minimalnya maka pemerintah pusat perlu membuat kebijakan dan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) yang harus dipenuhi oleh daerah.
Melalui SPM pemerintah dapat menjamin warga dimanapun mereka bertempat
tinggal untuk memperoleh jenis dan mutu pelayanan yang minimal sama seperti yang
dirumuskan dalam standar pelayanan minimal (SPM). Menurut Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik, Standar pelayanan adalah tolok
ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian
kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam
rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. 65 Tahun 2005, Standar
pelayanan mengatur aspek input (masukan), process (proses), output (hasil) dan/atau
manfaat. Input penting untuk distandarisasi karena kuantitas dan kualitas dari input
pelayanan berbeda-beda antar daerah. Hal ini sering menyebabkan ketimpangan antar
daerah. Standar proses pelayanan juga penting untuk diatur.
Standar proses dirumuskan untuk menjamin pelayanan publik di daerah memenuhi
prinsip-prinsip penyelenggaraan, prinsip-prinsip penyelenggaraan layanan meliputi
transparan, non-partisipan, efisien dan akuntabel. Standar output pelayanan sangat penting
diatur. Standar output dapat digunakan untuk menilai apakah sudah memenuhi standar yang
telah ditetapkan atau belum. Penentuan standar output harus memperhatikan tujuan dan
nilai yang ingin diwujudkan dalam penyelenggaraan layanan dan juga kapasitas yang
dimiliki setiap daerah.
Berdasarkani uraian di atas, dapat dikatakan bahwa Standar Pelayanan Minimal
adalah patokan pelayanan secara minimal yang dapat digunakan sebagai acuan dan harus
dipenuhi oleh penyelenggara baik aspek input, process dan output.
B. Peraturan Menteri Kesehatan Ri Nomor 741/Menkes/Per/Vii/2008 Tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di Kabupaten/Kota Menteri Kesehatan
Republik Indonesia

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :

5
1. Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan selanjutnya disebut SPM Kesehatan
adalah tolok ukur kinerja pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Daerah
Kabupaten/ Kota.
2. Pelayanan dasar kepada masyarakat adalah fungsi Pemerintah dalam memberikan dan
mengurus keperluan kebutuhan dasar masyarakat untuk meningkatkan taraf
kesejahteraan rakyat.
3. Pemerintah Pusat selanjutnya disebut Pemerintah adalah Menteri Kesehatan.
4. Daerah Otonom selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah
daerah Kabupaten/Kota dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan
dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
6. Pemerintah Daerah adalah Bupati atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
7. Pengembangan kapasitas adalah upaya meningkatkan kemampuan sistem atau sarana
dan prasarana, kelembagaan, personil, dan keuangan untuk melaksanakan fungsi-
fungsi pemerintahan dalam rangka mencapai tujuan pelayanan dasar dan/atau SPM
Kesehatan secara efektif dan efisien dengan menggunakan prinsip-prinsip tata
pemerintahan yang baik.
8. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah
rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama
oleh pemerintah daerah dan DPRD dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
BAB II
STANDAR PELAYANAN MINIMAL
BIDANG KESEHATAN
Pasal 2
(1) Kabupaten/Kota menyelenggarakan pelayanan kesehatan sesuai SPM Kesehatan.
(2) SPM Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkaitan dengan pelayanan
kesehatan yang meliputi jenis pelayanan beserta indikator kinerja dan target Tahun
2010 – Tahun 2015:
a. Pelayanan Kesehatan Dasar :

6
1. Cakupan kunjungan Ibu hamil K4 95 % pada Tahun 2015;
2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 80 % pada Tahun 2015;
3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan 90% pada Tahun 2015;
4. Cakupan pelayanan nifas 90% pada Tahun 2015;
5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 80% pada Tahun 2010;
6. Cakupan kunjungan bayi 90%, pada Tahun 2010;
7. Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 100% pada
Tahun 2010;
8. Cakupan pelayanan anak balita 90% pada Tahun 2010;
9. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 - 24 bulan
keluarga miskin 100 % pada Tahun 2010;
10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100% pada Tahun 2010;
11. Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 100 % pada Tahun
2010;
12. Cakupan peserta KB aktif 70% pada Tahun 2010;
13. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit 100% pada Tahun
2010;
14. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 100% pada Tahun
2015.
b. Pelayanan Kesehatan Rujukan
2.1 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 100% pada
Tahun 2015;
2.2 Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan
(RS) di Kabupaten/Kota 100 % pada Tahun 2015.
c. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa /KLB
Cakupan Desa/ Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan
epidemiologi < 24 jam 100% pada Tahun 2015.
d. Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Cakupan Desa Siaga Aktif
80% pada Tahun 2015.
Pasal 3
Di luar jenis pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Kabupaten/Kota
tertentu wajib menyelenggarakan jenis pelayanan sesuai kebutuhan, karakteristik, dan
potensi daerah.

7
Pasal 4
SPM Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 diberlakukan juga bagi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
BAB III
PENGORGANISASIAN
Pasal 5
(1) Bupati/Walikota bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan
sesuai SPM Kesehatan yang dilaksanakan oleh Perangkat Daerah Kabupaten/Kota
dan masyarakat;
(2) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan sesuai SPM Kesehatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) secara operasional dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/
Kota;
(3) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan sesuai SPM Kesehatan dilakukan oleh tenaga
kesehatan sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan.
BAB IV
PELAKSANAAN
Pasal 6
(1) SPM Kesehatan yang ditetapkan merupakan acuan dalam perencanaan program
pencapaian target masing-masing Daerah Kabupaten/Kota.
(2) Standar Pelayanan Minimal sebagaimana dimaksud dalam perencanaan program pada
ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan Pedoman/Standar Teknis yang ditetapkan.

BAB V
PELAPORAN
Pasal 7
(1) Bupati/Walikota menyampaikan laporan teknis tahunan kinerja penerapan dan
pencapaian SPM Kesehatan kepada Menteri Kesehatan.
(2) Berdasarkan laporan teknis tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri
Kesehatan melakukan pembinaan dan pengawasan teknis penerapan SPM Kesehatan.

BAB VI
MONITORING DAN EVALUASI
Pasal 8

8
(1) Menteri Kesehatan melaksanakan monitoring dan evaluasi atas penerapan SPM
Kesehatan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka menjamin akses dan mutu
pelayanan dasar kepada masyarakat.
(2) Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundangundangan.
(3) Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Daerah untuk Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota.
Pasal 9
Hasil monitoring dan evaluasi penerapan dan pencapaian SPM Kesehatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 dipergunakan sebagai :
a. Bahan masukan bagi pengembangan kapasitas pemerintah daerah dalam pencapaian
SPM Kesehatan;
b. Bahan pertimbangan dalam pembinaan dan pengawasan penerapan SPM Kesehatan,
termasuk pemberian penghargaan bagi pemerintah daerah yang berprestasi sangat
baik; dan
c. Bahan pertimbangan dalam memberikan sanksi kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota yang tidak berhasil mencapai SPM Kesehatan dengan baik dalam
batas waktu yang ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi khusus Daerah yang
bersangkutan sesuai peraturan perundang-undangan.

BAB VII
PENGEMBANGAN KAPASITAS
Pasal 10
(1) Menteri Kesehatan memfasilitasi pengembangan kapasitas melalui peningkatan
kemampuan sistem, kelembagaan, personal dan keuangan, baik di tingkat pemerintah
maupun Kabupaten/Kota.
(2) Fasilitasi pengembangan kapasitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
pemberian orientasi umum, petunjuk teknis, bimbingan teknis, pendidikan dan
pelatihan, dan/atau bantuan lainnya meliputi :
a. Perhitungan sumber daya dan dana yang dibutuhkan untuk mencapai SPM
Kesehatan, termasuk kesenjangan pembiayaan;
b. Penyusunan rencana pencapaian SPM Kesehatan dan penetapan target tahunan
pencapaian SPM Kesehatan;

9
c. Penilaian prestasi kerja pencapaian SPM Kesehatan; dan
d. Pelaporan prestasi kerja pencapaian SPM Kesehatan.
(3) Fasilitasi, pemberian orientasi umum, petunjuk teknis, bimbingan teknis, pendidikan
dan pelatihan, dan/atau bantuan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
mempertimbangkan kemampuan kelembagaan, personal dan keuangan negara serta
keuangan daerah.
BAB VIII
PENDANAAN
Pasal 11
(1) Pendanaan yang berkaitan dengan kegiatan penyusunan, penetapan, pelaporan,
monitoring dan evaluasi, pembinaan dan pengawasan, pembangunan sistem dan/atau
sub sistem informasi manajemen, serta pengembangan kapasitas untuk mendukung
penyelenggaraan SPM Kesehatan yang merupakan tugas dan tanggung jawab
pemerintah, dibebankan kepada APBN Departemen Kesehatan.
(2) Pendanaan yang berkaitan dengan penerapan, pencapaian kinerja/target, pelaporan,
monitoring dan evaluasi, pembinaan dan pengawasan, pembangunan sub sistem
informasi manajemen, serta pengembangan kapasitas, yang merupakan tugas dan
tanggung jawab pemerintahan daerah dibebankan kepada APBD.

BAB IX
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 12
(1) Menteri Kesehatan melakukan pembinaan teknis atas penerapan dan pencapaian SPM
Kesehatan.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan menyusun
Petunjuk Teknis yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan.
(3) Menteri Kesehatan setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, dapat
mendelegasikan pembinaan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada
Gubernur selaku wakil pemerintah di daerah.
Pasal 13
(1) Menteri Kesehatan dalam melakukan pengawasan teknis atas penerapan dan
pencapaian SPM Kesehatan, dibantu oleh Inspektorat Jenderal Departemen
Kesehatan.

10
(2) Gubernur selaku wakil pemerintah di daerah dalam melakukan pengawasan teknis
atas penerapan dan pencapaian SPM Kesehatan, dibantu oleh Inspektorat Provinsi
berkoordinasi dengan Inspektorat Kabupaten/ Kota.
(3) Bupati/ Walikota melaksanakan pengawasan dalam penyelenggaraan pelayanan
kesehatan sesuai SPM Kesehatan di daerah masing-masing.

BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 14
(1) Pada saat peraturan ini mulai berlaku semua peraturan yang berkaitan dengan SPM
Kesehatan dinyatakan tidak berlaku.
(2) Dengan berlakunya peraturan ini, maka keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1457/Menkes/SK/X/2003 tentang Pedoman Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan di Kabupaten/Kota dinyatakan tidak berlaku lagi.
Pasal 15
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

C. Prinsip Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Puskesmas


1. Konsensus, berdasarkan kesepakatan bersama berbagai komponen atau sektor terkait
dari unsur-unsur kesehatan dan departemen terkait yang secara rinci terlampir dalam
daftar tim penyusun;
2. Sederhana, SPM disusun dengan kalimat yang mudah dimengerti dan dipahami;
3. Nyata, SPM disusun dengan memperhatikan dimensi ruang, waktu dan persyaratan
atau prosedur teknis:
4. Terukur, seluruh indikator dan standar di dalam SPM dapat diukur baik kualitatif
ataupun kuantitatif;
5. Terbuka, SPM dapat diakses oleh seluruh warga atau lapisan masyarakat:
6. Terjangkau, SPM dapat dicapai dengan menggunakan sumber daya dan dana yang
tersedia;
7. Akuntabel, SPM dapat dipertanggung gugatkan kepada publik;
8. Bertahap, SPM mengikuti perkembangan kebutuhan dan kemampun keuangan,
kelembagaan dan personil dalam pencapaian SPM (Handini, 2018)

11
D. Komponen Standar Pelayanan Minimal
Komponen sebuah standar pelayanan minimal (spm), juga nantinya akan ada
komponen lainnya yang akan memperlancar dan menjadi standar pelayanan minimal
tertentu. komponen tersebut meliputi (Azwar, 1996):
1. Indikator pencapaian Standar Pelayanan Minimal.
2. Melihat dari sisi lain seperti standar pelayanan yang sudah dicapai.
3. Penghitungan standar kebutuhan pelayanan dimana di sesuaikan dengan jenis
Standar Pelayanan Minimal.
4. Penyusunan sebuah rencana pencapaian target Standar Pelayanan Minimal.
5. Penanggung jawab kinerja Standar Pelayanan Minimal, dimana akan disesuaikan
dengan jenis layanan.(Mutakir, 2019)
E. Standar Pelayanan Minimal Di Puskesmas
Standar Pelayanan di Puskesmas dibagi menjadi dua yaitu :
1. Pelayanan Kesehatan Wajib
a. Pelayana Kesehatan Dasar
b. Pelayanan Kesehatan Rujukan
c. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)
d. Pelayanan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
2. Pelayanan Kesehatan Pengembangan
Pelayanan kesehatan pengembangan disesuiakan dengan kebutuhan sfesifik lokal
daerah masing-masing.(Mardiawan, 2016)
F. Program Kesehatan Wajib
1. Kesehatan ibu dan anak termasuk kb
2. Pencegahan dan pemberantasan penyakit
3. Perbaikan gizi masyarakat
4. Pengobatan dasar
5. Promosi kesehatan
6. Kesehatan lingkungan
G. Program Kesehatan Pengembangan
1. Kesehatan Kerja
2. Kesehatan gigi dan mulut
3. Upaya kesehatan sekolah
4. Upaya kesehatan jiwa (Mardiawan, 2016)

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Standar Pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan
tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak
diperoleh setiap warga secara minimal. Standar pelayanan minimal SPM disusun sebagai
alat Pemerintah dan Pemerintahan Daerah untuk menjamin akses dan mutu pelayanan dasar
kepada masyarakat secara merata dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib. SPM
dinilai dalam setiap akreditasi, yaitu setiap 4-5 tahun sekali. Standar Pelayanan Minimum
(SPM) di Puskesmas diatur permenkes no. 75 tahun 2014 tentang Puskesmas. SPM
dipuskesmas sangatlah penting, terlebih pada pelayanan promotif dan preventifnya. Karena
Puskesmas adalah sebagai pusat kesehatan yang mengurusi berbagai masalah yang ada di
masyarakat.
Maka dari itu Standar pelayanan minimal mutu perlu dikaji lebih lanjut agar dapat
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A. (1996). Menjaga mutu pelayanan kesehatan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1496.

Handini, I. P. (2018). Standar Pelayanan Minimal Puskesmas.

\Mardiawan, D. (2016). Standard Pelayanan Minimal (SPM) Pelayanan Bidang Kesehatan.

Mutakir. (2019). Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Terbaru 2020.

Muyasaroh, D. (2016). Fungsi Manajemen pada Kegiatan Pengelolaan Sistem Rekam Medis
Pasien di Puskemas Kedungmundu Semarang [UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG].
https://lib.unnes.ac.id/28145/

14