Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

“ MEMBEBASKAN JALAN NAPAS ”

DISUSUN OLEH :

I Wayan Adi Nugraha Suputra ( P07120218 025 )


Gede Dalem Gilang Mahajaya Putra ( P07120218 026 )

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TK III / SEMESTER VI
2021

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi
Wasa, karena berkat rahmat-Nya serta usaha keras penulis Makalah Membebaskan jalan napas
ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Terselesaikannya Makalah Membebaskan jalan napas ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih yang setulus-
tulusnya kepada:
1. Ns. NI MADE WEDRI, A.Per.Pen., S.Kep., M.Kes. selaku Pembimbing Mata
Kuliah Keperawatan Gerontik yang telah mengijinkan dan memberikan motivasi
dalam penyelesaian makalah ini.
2. Teman – teman mahasiswa / i sejawat, yang telah ikut mendukung pelaksanaan
makalah konsep pemberdayaan masyarakat ini, sehingga selesai.
3. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini, jauh dari sempurna, karena itu penulis sangat
mengharapkan masukan dari berbagai pihak demi kesempurnaan dalam laporan berikutnya,
dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Semoga bantuan dan budi baik yang diberikan kepada penulis mendapat pahala yang
sepantasnya dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karena itu kritik dan saran yang sifatnya
membangun sangat diharapkan dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah ini.

Denpasar, 24 Januari 2021

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... ii


DAFTAR ISI .........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................... 3
2.1 Pembebasan Jalan Nafas dan Control Servikal ......................................................... 3
2.1.1 Pengertian ............................................................................................................. 3
2.1.2 Tujuan .................................................................................................................. 3
2.1.3 Jenis – jenis suara jalan nafas .............................................................................. 3
2.1. 4 Pemeriksaan Jalan Nafas ...................................................................................... 4
2.1.5 Teknik Mempertahankan Jalan Nafas .................................................................... 5
2.1.6 Membersihkan jalan nafas dan Mengatasi sumbatan nafas parsial.......................... 7
2.1.7 Teknik Mempertahankan jalan nafas yang sulit ......................................................9
2.2 Needle Decompression ............................................................................................. 12
2.2.1 Needle Decompression ........................................................................................ 12
BAB III PENUTUP ............................................................................................................ 15
3.1 Kesimpulan............................................................................................................... 15
3.2 Saran ........................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 16

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan pertolongan terhadap penderita gawat darurat sangat
tergantung dari kecepatan dan ketepatan dalam memberikan pertolongan.
Semakin cepat pasien ditemukan maka semakin cepat pula pasien
tersebut mendapat pertolongan sehingga terhindar dari kecacatan atau
kematian. Kondisi kekurangan oksigen merupakan penyebab kematian
yang cepat. Kondisi ini dapat diakibatkan karena masalah sistem
pernafasan ataupun bersifat sekunder akibat dari gangguan sistem tubuh
yang lain. Pasien dengan kekurangan oksigen dapat jatuh dengan cepat ke
dalam kondisi gawat darurat sehingga memerlukan pertolongan segera.
Apabila terjadi kekurangan oksigen 6-8 menit akan menyebabkan
kerusakan otak permanen, lebih dari 10 menit akan menyebabkan
kematian. Data morbiditas dan mortilitas yang telah dipublikasikan
menunjukkan dimana kesulitan dalam menangani jalan napas dan
kesalahan dalam tatalaksananya justru akan memberikan hasil akhir yang
buruk bagi pasien tersebut. Keenan dan Boyan melaporkan bahwa
kelalaian dalam memberikan ventilasi yang adekuat menyebabkan 12
dari 27 pasien yang sedang dioperasi mengalami mati jantung
(cardiac arrest). Salah satu penyebab utama dari hasil akhir tatalaksana
pasien yang buruk yang didata oleh American Society of Anesthesiologist
(ASA) berdasarkan studi tertutup terhadap episode pernapasan yang
buruk, terhitung sebanyak 34% dari 1541 pasien dalam studi tersebut.
Tiga kesalahan mekanis, yang terhitung terjadi sebanyak 75% pada saat
tatalaksanan jalan napas yaitu : ventilasi yang tidak adekuat (38%),
intubasi esofagus (18%), dan kesulitan intubasi trakhea (17%). Sebanyak
85% pasien yang didapatkan dari studi kasus, mengalami kematian dan
kerusakan otak. Sebanyak 300 pasien (dari 15411 pasien di atas),
mengalami masalah sehubungan dengan tatalaksana jalan napas yang
minimal.

1
1. 2 Rumusan Masalah
1. Apa itu pembebasan jalan nafas dan control servical?
2. Apa itu needle decompression ?

1.3 Tujuan
1. Supaya kita dapat mengetahui apa yang di maksud dengan pembebasan
jalan nafas dan control servical
2. Supaya kita dapat mengetahui apa yang di maksud dengan needle
decompression

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pembebasan Jalan Nafas dan Control Servikal

2.1.1 Pengertian
Suatu tindakan yang dilakukan untuk membebaskan jalan napas dengan
tetap memperhatikan kontrol servikal

2.1.2 Tujuan
Membebaskan jalan napas untuk menjamin jalan masuknya udara ke paru
secara normal sehingga menjamin kecukupan oksigenase tubuh.

2.1.3 Jenis – jenis suara jalan nafas


1. Snoring  suara seperti ngorok. Kondisi ini menandakan adanya
kebuntuan jalan napas bagian atas oleh benda padat. Jika terdengar
suara ini segera lakukan pengecekan dengan cross finger untuk
membuka mulut (menggunakan 2 jari, yaitu ibu jari dan jari telunjuk
dimana ibu jari mendorong rahang atas dan jari telunjuk mendorong
rahang bawah). Lihatlah apakah ada benda yang menyangkut di
tenggorokan korban (lepaskan gigi palsu)
2. Gargling  suara seperti berkumur. Kondisi ini menandakan sumbatan
terjadi karena cairan (mis.darah) maka lakukan finger sweep
(menggunakan 2 jari yang sudah dibalut dengan kain untuk menyapu
rongga mulut dari cairan) dengan kepala pasien dimiringkan (bila tidak
ada dugaan fraktur tulang leher) dan melakukan jaw thrust
3. Crowing  suara dengan nada tinggi, biasanya disebabkan karena
pembengkakan (edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama
lakukan maneuver head tilt dan chin lift atau jaw thrust saja. Cara
mengatasi: cricotirotomi atau trakeostomi.

3
2.1. 4 Pemeriksaan Jalan Nafas
Penilaian Masalah pada Jalan Napas Gangguan jalan napas dapat
terjadi secara mendadak dan total, perlahan dan sebagian, serta progresif
dan/atau berulang. Takipnea merupakan tanda awal adanya bahaya
terhadap jalan napas, oleh karena itu harus dilakukan penilaian ulang
terhadap kepatenan jalan napas dan kecukupan ventilasi. Khususnya pada
penderita yang mengalami penurunan tingkat kesadaran mempunyai risiko
terjadinya gangguan jalan napas yang memerlukan pemasangan airway
definitif.
Lidah merupakan penyebab utama tertutupnya jalan napas pada korban
tidak sadar. Pada korban yang tidak sadar, lidah akan kehilangan kekuatan
ototmya sehinga akan terjatuh ke belakang rongga mulut. Hal ini
mengakibatkan tertutupnya trakea sebagai jalan napas.
Pada kasus-kasus tertentu, korban membutuhkan bantuan
pernapasan. Sebelum diberikan bantuan pernapasan, jalan napas korban
harus terbuka. Ada dua manuver yang digunakan untuk membuka jalan
napas yaitu head tilt chin lift dan jaw thrust. Mempertahankan jalan napas
diperlukan untuk pernapasan yang adekuat.,Jika korban sadar dan dapat
berbicara dengan baik, maka dapat disimpulkan bahwa jalan napasnya
paten (tidak ada sumbatan). Jika korban mengalami penurunan kesadaran,
maka perlu diperhatikan lebih lanjut patensi jalan napasnya. Apabila jalan
napas sudah baik dan dipastikan tidak ada sumbatan, maka diteruskan ke
prosedur yaitu pemeriksaan pernapasan (breathing)
Tanda objektif adanya sumbatan jalan napas adalah sebagai berikut:
1. Lihat (Look). Lihat apakah penderita mengalami penurunan tingkat
kesadaran atau agitasi. Agitasi menunjukkan adanya hipoksia dan
penurunan kesadaran memberi kesan adanya hiperkarbia. Sianosis
menunjukkan adanya hipoksemia karena kurangnya oksigenasi yang
dapat dilihat pada kuku dan sekitar mulut. Lihat adanya retraksi dan
penggunaan otot-otot tambahan, apabila ada maka hal ini merupakan
bukti tambahan adanya gangguan jalan napas.

4
2. Dengar (Listen). Adanya suara napas abnormal seperti suara mendeno
(smoring), berkumur (gurgling), dan bersiul (crowning sound, stridori
memberi gambaran adanya sumbatan parsial pada faring atau laring.
Suara parau (hoarseness, dysphonia) menunjukkan adanya sumbatan di
bagian laring. Penderita yang melawan dan berkata-kata kasar (gaduh-
gelisah kemungkinan mengalami hipoksia
3. Rasa (Feel). Tentukan lokasi trakea dengan cara meraba apakah
posisinya berada di tengah.

2.1.5 Teknik Mempertahankan Jalan Nafas


Bila penderita mengalami penurunan kesadaran, maka lidah kemungkin
akan jatuh ke bagian belakang sehingga menyumbat hipofaring. Untuk
memperbaiki hal tersebut, maka dapat dilakukan dengan cara mengangkat
dagu (chin-lift manuever) atau dengan cara mendorong rahang bawah ke
arah depan (jaw-thrust manuever). Pertahanan jalan napas selanjutnya
dapat dipertahankan dengan oropharyngeal airway atau nasopharyngeal
airway.
1. Teknik mempertahanlan jalan nafas Head Tilt-Chin Lift
Manuver ini merupakan salah satu manuver terbaik untuk mengatasi
obstruksi yang disebabkan oleh lidah karena dapat membuka jalan
napas secara maksimal. Teknik ini mungkin akan memanipulasi
gerakan leher sehingga tidak disarankan pada penderita dengan
kecurigaan patah tulang leher, dan sebagai gantinya bisa digunakan
manuver jaw-thrust.
Teknik head tilt-chin lift adalah sebagai berikut.
1. Pertama, posisikan pasien dalam keadaan telentang, letakkan satu
tangan di dahi dan letakkan ujung jari tangan yang lain di bawah
daerah tulang pada bagian tengah rahang bawah pasien (dagu).
2. Tengadahkan kepala dengan menekan perlahan dahi pasien.
3. Gunakan ujung jari Anda untuk mengangkat dagu dan menyokong
rahang bagian bawah. Jangan menekan jaringan lunak di bawah rahang
karena dapat menimbulkan obstruksi jalan napas.

5
4. Usahakan mulut untuk tidak menutup. Untuk mendapatkan
pembukaan mulut yang adekuat, Anda dapat menggunakan ibu jari
untuk menahan dagu supaya bibir bawah pasien tertarik ke belakang.

2. Teknik mempertahankan jalan nafas Jaw Thrust


Manuver jaw thrust digunakan untuk membuka jalan napas pada
pasien yang tidak sadar dengan kecurigaan trauma pada kepala, leher,
atau spinal Saat teknik ini dilakukan diharapkan jalan napas dapat
terbuka tanpa menyebabkan pergerakan leher dan kepala.
Langkah-langkah teknik jaw thrust adalah sebagai berikut
1. Pertahankan dengan hati-hati agar posisi kepala, leher, dan spinal
pasien berada pada satu garis.
2. Ambil posisi di atas kepala pasien, letakkan lengan sejajar dengan
permukaan pasien berbaring.
3. Perlahan letakkan tangan pada masing-masing sisi rahang bawah
pasien, pada sudut rahang di bawah telinga.
4. Stabilkan kepala pasien dengan lengan bawah Anda.
5. Dengan menggunakan jari telunjuk, dorong sudut rahang bawah
pasier ke arah atas dan depan.
6. Anda mungkin membutuhkan mendorong ke depan bibir bagian
bawah pasien dengan menggunakan ibu jari untuk mempertahankan
mulut tetap terbuka.
7. Jangan mendongakkan atau memutar kepala pasien.

6
2.1.6 Membersihkan jalan nafas dan Mengatasi sumbatan nafas parsial

Sapuan jari (finger sweep)


Dilakukan bila jalan nafas tersumbat karena adanya benda asing pada
rongga mulut belakang atau hipofaring seperti gumpalan darah, muntahan,
benda asing lainnya sehingga hembusan nafas hilang.
Cara melakukannya :
Miringkan kepala pasien (kecuali pada dugaan fraktur tulang leher)
kemudian buka mulut dengan jaw thrust dan tekan dagu ke bawah bila otot
rahang lemas (maneuver emaresi)
Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau dibungkus
dengan sarung tangan/kassa/kain untuk membersihkan rongga mulut
dengan gerakan menyapu.
Mengatasi sumbatan nafas parsial Dapat digunakan teknik
 manual thrust
 Abdominal thrust
 Chest thrust
Abdominal Thrust (Manuver Heimlich)
Dapat dilakukan dalam posisi berdiri dan terlentang.
Caranya berikan hentakan mendadak pada ulu hati (daerah subdiafragma –
abdomen).
Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi berdiri atau duduk
Caranya : penolong harus berdiri di belakang korban, lingkari pinggang
korban dengan kedua lengan penolong, kemudian kepalkan satu tangan
dan letakkan sisi jempol tangan kepalan pada perut korban, sedikit di atas
pusar dan di bawah ujung tulang sternum. Pegang erat kepalan tangan

7
dengan tangan lainnya. Tekan kepalan tangan ke perut dengan hentakan
yang cepat ke atas. Setiap hentakan harus terpisah dan gerakan yang jelas.
Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada posisi tergeletak (tidak sadar)
Caranya : korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka ke
atas. Penolong berlutut di sisi paha korban. Letakkan salah satu tangan
pada perut korban di garis tengah sedikit di atas pusar dan jauh di bawah
ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan di atas tangan pertama.
Penolong menekan ke arah perut dengan hentakan yang cepat ke arah atas.
Berdasarkan ILCOR yang terbaru, cara abdominal thrust pada posisi
terbaring tidak dianjurkan, yang dianjurkan adalah langsung melakukan
Resusitasi Jantung Paru (RJP).
Abdominal Thrust (Manuver Heimlich) pada yang dilakukan sendiri
Pertolongan terhadap diri sendiri jika mengalami obstruksi jalan napas.
Caranya : kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada perut di atas
pusar dan di bawah ujung tulang sternum, genggam kepala itu dengan
kuat, beri tekanan ke atas kea rah diafragma dengan gerakan yang cepat,
jika tidk berhasil dapat dilakukan tindakan dengan menekan perut pada
tepi meja atau belakang kursi
Jika sumbatan tidak teratasi, maka penderita akan :
 Gelisah oleh karena hipoksia
 Gerak otot nafas tambahan (retraksi sela iga, tracheal tug)
 Gerak dada dan perut paradoksal
 Sianosis
 Kelelahan dan meninggal
Prioritas utama dalam manajemen jalan nafas adalah JALAN NAFAS
BEBAS!
Pasien sadar, ajak bicara. Bicara jelas dan lancar berarti jalan nafas bebas
Beri oksigen bila ada 6 liter/menit, Jaga tulang leher : baringkan penderita
di tempat datar, wajah ke depan, posisi leher netral, Nilai apakah ada suara
nafas tambahan.

Chin Lift
Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke depan

8
Caranya : gunakan jari tengah dan telunjuk untuk memegang tulang dagu
pasien kemudian angkat.
Head Tilt
Dlilakukan bila jalan nafas tertutup oleh lidah pasien, Ingat! Tidak boleh
dilakukan pada pasien dugaan fraktur servikal.
Caranya : letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah
sehingga kepala menjadi tengadah dan penyangga leher tegang dan
lidahpun terangkat ke depan.

2.1.7 Teknik Mempertahankan Jalan Nafas yang Sulit


Kesulitan dalam mempertahankan jalan napas dapat mengakibatkan
trauma pada jalan napas secara langsung dan morbiditas karena hipoksia
dan hiperkarbia. Berikut ini akan dijelaskan tiga teknik yang dapat
digunakan untuk mempertahankan jalan napas
1. Laryngeal Mask Airway
Saluran pernapasan Laryngeal Mask (LMA) adalah alat yang secara
fungsi dan desain berada di antara kombinasi bag-valve-mask dan
saluran trakea. LMA mempertahankan jalan napas secara aman dan
cepat dengan menyekat bagian luar dari laryngeal inlet dengan balon
yang dapat dikembangkan. Dalam proses pemasangan LMA melihat
posisi laring bukan hal yang penting sehingga tindakan pemasangan
LMA dapat dengan mudah dilakukan pada pasien yang tidak bisa
dilakukan pemasangan endotrakeal tube. Proses memasukkan LMA
adalah proses yang sederhana, tetapi tidak direkomendasikan bagi
seseorang yang tidak memiliki kemampuan dan pengalaman karena
posisi LMA yang salah akan menyebabkan obstruksi jalan napas.
LMA tersedia dalam berbagai jenis ukuran, mulai dari anak-anak
sampai ukuran dewasa dan juga tersedia LMA disposable dan
reusable.

9
2. Percutaneous Transtracheal Ventilation
Percutaneous transtracheal ventilation, atau dikenal sebagai needle
cricothyrotomy yaitu penempatan kateter berdiameter besar melalui
intravena (ukuran 10-16 gauge) melalui jaringan cricothyroid ke
dalam trakea di bawah pita suara. Penghubung antara endotrakeal tube
yang berukuran 3.0 dimasukkan ke ujung kateter pembuluh darah dan
digantungkan pada sebuah manual resuscitation bag. Teknik ini
sederhana dan relatif aman untuk dilakukan dan merupakan tindakan
yang dapat membebaskan jalan napas secara cepat ketika pasien tidak
dapat dilakukan tindakan intubasi, misalnya pada pasien yang
mengalami obstruksi jalan napas total. Akan tetapi, karena ukuran
kateter yang sempit, proses ventilasi terutama ekspirasi menjadi tidak
efektif dengan menggunakan metode ini dan sebaiknya tidak
digunakan lebih dari 30 menit. Sebagai alternatif tindakan bagging,
kateter dapat dihubungkan pada alat jet ventilator yang terhubung
dengan sumber oksigen bertekanan tinggi. Alat ini dapat memberikan
oksigen dalam jumlah yang besar, tetapi tempat yang memiliki
peralatan siap pakai jumlahnya sedikit.

10
3. Surgical Cricothyrotomy
Tindakan surgical cricothyrotomy dilakukan untuk mempertahankan
jalan napas agar tetap terbuka pada obstruksi jalan napas dengan cara
melakukan insisi pada membran cricothyroid. Cricothyrotomy adalah
prosedur yang dipilih untuk penatalaksanaan jalan napas pada kondisi
darurat yang memungkinkan udara dapat masuk secara cepat.
Sementara itu, tindakan tracheostomy merupakan proses yang lebih
sulit, memerlukan waktu yang lama dan tidak sesuai untuk kondisi
darurat sehingga pada kondisi pasien gawat darurat tindakan surgical
cricothyrotomy merupakan pilihan untuk mempertahankan jalan napas.

11
2.2 Needle Decompression

2.2.1 Needle Decompression


1. Pengertian

Suatu prosedur toraksosentesis jarum untuk tindakan penyelamatan


pada tension pneumotoraks.
Suatu tindakan untuk menghubungkan langsung pernafasan pasien
dengan 100% oksigen.

2. Tujuan

Needle thoracocebtesis adalah tindakan merubah tension


pneumothorax menjadi simple pneumothorax dengan cara
mengeluarkan udara dalam cavum pleura agar paru-paru dapat
mengembang kembali. Penatalaksanaan pada kasus tension
pneumotoraks tergantung pada beberapa faktor, dan mungkin berbeda
dari penatalaksanaan awal hingga dekompresi jarum atau pemasukan
dari selang dada. Penanganan kasus ini ditentukan dari derajat
keparahan dari gejala dan indikasi dari gangguan akut, adanya
gambaran penyakit paru yang mendasari, ukuran tension pneumotoraks
yang terlihat pada foto toraks, dan pada kasus tertentu perlu
diperhatikan dari karakteristik individu yang terlibat. Pada kasus
tension pneumotoraks, tidak ada pengobatan non-invasif yangdapat
dilakukan untuk menangani kondisi yang mengancam nyawa ini.
Pneumotoraks adalah kondisi yang mengancam jiwa yang
membutuhkan penanganan segera. Jika diagnosis tension
pneumotoraks sudah dicurigai, jangan menunda penanganan meskipun
diagnosis belum ditegakkan. Pada kasus tension pneumotoraks,
langsung hubungkan pernafasan pasien dengan 100% oksigen.
Lakukan dekompresi jarum tanpa ragu. Hal-hal tersebut seharusnya
sudah dilakukan sebelum pasien mencapai rumah sakit untuk
pengobatan lebih lanjut. Setelah melakukan dekompresi jarum,
mulailah persiapan untuk melakukan chest tube. Kemudian lakukan

12
penilaian ulang pada pasien, perhatikan ABC (Airway, breathing,
cirvulation) pasien. Lakukan penilaian ulang foto toraks untuk menilai
ekspansi paru, posisi dari torakostomi dan untuk memperbaiki adanya
deviasi mediastinum. Selanjutnya, pemeriksaan analisis gas darah
dapat dilakukan.

3. PROSEDUR DEKOMPRESI JARUM

Indikasi :
a. Pneumotoraks tension.
b. Pasien Trauma RJP mungkin perlu dekompresi dada bilateral.

13
Prosedur :
1. Nilai dada dan kondisi pernafasan.
2. Oksigen 100% via sungkup non-rebreather atau BVM (Ambu bag).
3. Cari ruang interkosta kedua, garis midklavikula sisi terkena.
4. Prep area.
5. Anestesi lokal area bila pasien sadar atau waktu mengizinkan
6. Pasang angiocath no. 14 / 16 pada siring 10 ml atau gunakan kit arrow.
7. Insersikan jarum pada kulit dan diatas iga keruang interkosta kedua
atau digaris midklavikuler.
8. Tusuk pleura parietal
9. Aspirasi udara bila perlu untuk mengurangi gejala
10. Tinggalkan kateter plastik tapi lepaskan stilet.
11. Amankan kateter pada dada
12. Hubungkan kateter ke katup satu arah seperti misal Heimlich Valve
13. Nilai ulang status ventilasi, vena Juguler, posisi trakhea, nadi dan
tekanan da
14. Catat prosedur dan respons.
Komplikasi :
Pneumothorax (tension)

14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembebasan jalan nafas dan control servikal Suatu tindakan yang
dilakukan untuk membebaskan jalan napas dengan tetap memperhatikan
kontrol servikal. Penilaian Masalah pada Jalan Napas Gangguan jalan
napas dapat terjadi secara mendadak dan total, perlahan dan sebagian,
serta progresif dan/atau berulang. Takipnea merupakan tanda awal adanya
bahaya terhadap jalan napas, oleh karena itu harus dilakukan penilaian
ulang terhadap kepatenan jalan napas dan kecukupan ventilasi. Ada dua
manuver yang digunakan untuk membuka jalan napas yaitu head tilt chin
lift dan jaw thrust.

3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami
dan mengerti tentang penanganan jalan nafas dan control servical,needle
decompression. Kritik dan saran dari pembaca dapat kami terima untuk
penyempurnaan makalah ini.

15
DAFTAR PUSTAKA

https://jurnal.stikesmuhla.ac.id/wp-content/uploads/2018/04/BCLS.pdf DIMUAT
TGL 9 MARET 2019 JAM 22.32

N kartikawati, dewi.2011.dasar-dasar keperawatan gawat garurat.salemba


medika:jakarta

Hutauruk, S. M., Fardizza, F. and Aristya, S. (2018) ‘Tonsilitis difteri dengan


sumbatan jalan napas atas’, Oto Rhino Laryngologica Indonesiana, 48(1), p. 95.
doi: 10.32637/orli.v48i1.260.

Faisal, A. M. and Najihah, N. (2019) ‘Clapping dan Vibration Meningkatkan


Bersihan Jalan Napas pada Pasien ISPA’, Jurnal Penelitian Kesehatan ‘SUARA
FORIKES’ (Journal of Health Research ‘Forikes Voice’), 11(1), p. 77. doi:
10.33846/sf11116.

16