Anda di halaman 1dari 11

VARIASI DAN SPESIASI Variasi memberikan dasar bagi semua studi sistematik.

Variasi
merupakan dasar spesiasi ketika berperan melalui seleksi alam. Variasi dan perubahan pada
organisme secara geologi merupakan hasil evolusi. Jenis merupakan produk dari mekanisme
evolusi dasar yaitu mutasi, rekombinasi, seleksi yang berperan pada lingkungan berbeda
melalui waktu. Kekerabatan populasi berupa fenetik, genetik dan filogenetik. Bukti variasi
sebagai dasar kekerabatan menunjukkan sistem klasifikasi fenetik dan filogenetik.
BATASAN ISTILAH: VARIASI, VARIETAS, DIVERSITAS, VARIAN Variasi merupakan
istilah umum mencakup kegiatan, proses atau peristiwa menyimpang dari kondisi normal atau
standar. Pada istilah biologi, variasi merupakan penyimpangan struktur, fungsi dan
perkembangan ciri organisme dari induknya, dari organisme lain dalam populasi sama, atau
dari populasi lain dalam jenis sama atau kelompok berkerabat. Variasi genotip (genetik)
termasuk perbedaan pada genotip di dalam populasi atau jenis sebagai hasil mutasi,
rekombinasi atau interaksi gen. Variasi fenotip pada struktur dan fungsi hasil dari tingkah
laku perbedaan lingkungan pada satu atau lebih genotip. Varietas dalam dunia tumbuhan
merupakan istilah umum yang dapat digunakan pada keanekaragaman, populasi varian,
variabilitas, variasi ciri dan mungkin istilah lain yang menunjukkan macam atau tipe dari
struktur, organ, organisme dan seterusnya. Diversitas mengacu pada jumlah tipe organisme
atau taksa pada dunia tumbuhan. Hampir 250.000 spesies tumbuhan vaskuler terdapat di
permukaan bumi, yang terdiri dari 10.000 spesies pteridofit, 6.000 spesies gymnosperma dan
235.000 spesies angiosperma. Diversitas jenis marga Carex pada flora Carolina adalah 122;
diversitas marga anggota Cyperaceae di carolina mencakup 17. Jarang istilah diversitas
digunakan pada referensi jumlah macam organ pada takson, contoh Rosaceae di Carolina
dicirikan dengan 9 tipe buah. Varian merupakan individu atau kelompok individu di dalam
populasi yang dapat dibatasi dan dikenal. Ini merupakan istilah netral yang secara umum
digunakan tanpa arti taksonomi. Hal ini sering diterapkan pada individu atau kelompok
individu yang mempunyai satu atau hanya beberapa ciri berbeda. Demikian pula istilah ini
mungkin bisa ekuivalen dengan kategori taksonomi: varietas. APAKAH JENIS ITU? Jenis
merupakan kategori dasar klasifikasi biologi. Jenis merupakan balok penyusun klasifikasi.
Semula dengan adanya anggapan Darwin yang menuntut banyak perhatian biologis karena
kepentingannya dalam klasifikasi dan pengertian spesiasi. Konsep jenis bertahan sebagai
topik hangat saat ini; argumen tentang topik ini terdengar tiap tahun pada pertemuan tahunan
Botanical society di Amerika. Paling tidak beberapa konsep jenis diusulkan selama dua abad
ini. Namun demikian, kebanyakan yang digunakan secara luas adalah konsep jenis morfologi,
jenis genetik, jenis paleobotani dan jenis evolusi. Jenis morfologi Konsep jenis morfologi
berpegang bahwa jenis merupakan kelompok terkecil yang secara konsisten dapat dibedakan
melalui morfologinya. Konsep ini sangat praktis dan secara luas menggunakan konsep jenis
diantara para taksonomis yang berhadapan dengan identifikasi dan klasifikasi organisme.
Taksonomis menggunakan konsep ini karena pada umumnya mereka mengetahui adanya
sebagian besar jenis organisme di dunia ini hanya dari morfologionya saja. Konsep ini sering
disebut konsep jenis klasik, karena konsep ini secara umum digunakan untuk mendiskripsi
jenis sejak manusia pertama kali mulai mengklasifikasi organisme. Jenis baru biasanya
dinamai berdasarkan pada konsep jenis morfologi; deskripsi morfologi merupakan semua
yang kita lihat yang diperlukan untuk membedakan jenis baru dari jenis lainnya yang telah
dikenal. Sebenarnya semua nama jenis tumbuhan yang digunakan dalam buku ini adalah jenis
morfologi. Demikian juga jenis yang didaftar dalam beberapa buku seperti Flora Malaesiana,
Flora of Java, Flora untuk sekolah di Indonesia. Sebagian besar jenis morfologi yang kita
kenal secara intuisi diakui sebagai perbedaan satu sama lain. Sebagai contoh, kita dapat
membedakan jenis lili dari pinus. Melalui studi singkat kita dapat juga mempelajari
perbedaan beberapa jenis diantara 100 jenis lili (Lilium), 93 jenis Pinus, dan 600 jenis
Quercus. Dalam hal ini menyangkut konsep jenis morfologi. Spesiasi tidak selalu membentuk
jenis dengan batasan yang baik; garis antara jenis seringkali kabur. Pada beberapa hal,
taksonomis sering tidak cocok untuk menentukan suatu tumbuhan apakah termasuk jenis
yang sama atau jenis yang berbeda. Sebagai contoh konsep jenis morfologi kaktus, marga
Opuntia terdiri dari 400 sampai dengan 1.000 jenis, tergantung pendapat atau pertimbangan
yang diikuti. Jenis Biologi Kebalikan konsep jenis berdasarkan morfologi adalah konsep jenis
biologi yang menggunakan biologi reproduktif untuk membatasi jenis. Menurut konsep ini,
jenis merupakan kelompok populasi interfertil yang secara reproduktif terisolasi dari
kelompok yang lain. Konsep jenis biologi pertama kali diusulkan oleh Ornithologist, karena
burung umumnya terdapat dalam populasi interfertil yang terisolasi secara reproduktif yang
kuat untuk membedakan secara morfologi. Sebagian besar jenis hewan mungkin cocok
dengan konsep ini. Namun, banyak tumbuhan yang tidak cocok dengan konsep jenis biologi,
sehingga sebagian besar diskusi Botani untuk konsep ini terfokus pada bagaimana kelemahan
konsep ini diterapkan dalam dunia tumbuhan. Sebagai contoh, tumbuhan secara morfologi
merupakan jenis berbeda yang secara geografi terisolasi namun mungkin bisa hibridisasi jika
tumbuhan tersebut tumbuh di area yang sama. Apakah ini dinyatakan sebagai jenis yang
berbeda? Perkecualian pada jenis biologi, umumnya di antara jenis morfologi yang sering
hibridisasi dengan dua induk jenis tumpang tindih. Selanjutnya, tumbuhan dengan reproduksi
secara aseksual atau dengan penyerbukan sendiri yang berarti interfertil atau paling tidak
interbreeding mungkin tidak terjadi. Taraxacum officinale dan Rubus sebagai contoh yang
tidak dapat menggunakan konsep ini karena kedua tumbuhan ini menghasilkan biji tanpa
fertilisasi. Konsep jenis biologi tidak bermanfaat dalam membatasi jenis pertanian tertentu
seperti pisang komersil atau jeruk karena banyak jenis ini yang secara eksklusif reproduksi
aseksual. Konsep jenis biologi juga tidak bermanfaat bagi fosil, karena informasi tentang
biologi reproduksi dari organisme punah biasanya hilang. Konsep jenis biologi
bagaimanapun, secara evolusi penting karena konsep ini membutuhkan isolasi reproduktif.
Konsep jenis biologi menekankan pada asumsi mendasar tentang spesiasi: populasi hanya
merupakan juenis berbeda tidak bercampur gen dengan populasi lainnya. Spesiasi dapat
terjadi hanya ketika isolasi reproduksi berlangsung dan mungkin dengan beberapa cara,
berkisar dari isolasi geografi hingga genetik atau isolasi behavioral (pada umumnya pada
hewan). Walaupun tumbuhan sering berhibridisasi di alam, hibridnya seringkali lemah dan
kurang cocok. Kelemahan hibrid memberikan beberapa isolasi reproduksi walaupun tidak
lengkap. Takonomi sebagai pengkaji variasi ciri memilih obyek (individu, populasi, takson)
dan ciri yang dianalisa; merkntukan parameter ciri; menentukan fisibilitas dari analisa variasi
ciri; menyimpulkan basil analisa; mengevaluasi hasil dengan tujuan atau hipotesa awal.
Sistematis sebagai peneliti spesiasi memilih kelompok untuk analisa variasi ciri; menentukan
penyebab mekanisme terjadinya variasi dan varian di dalam populasi; memastikan
mekanisme isolasi yang mengontrol penangkaran antar populasi (interbreeding); membuat
analisa kritis tentang habitat untuk menentukan hubungan antara varian dan faktor
lingkungan; dan mengusulkan serta mencoba untuk membuktikan secara eksperimen sifat-
sifat adaptasi varian dengan tekanan lingkungannya dan kompetisi alami. Sistematik biologi
merupakan studi tentang hubungan individu dan takson dengan tujuan klasifikasi. Dalam hal
ini studi sistematik tumbuhan didasarkan pada alasan yang pertama bahwa variasi besar
terdapat didunia tumbuhan yang secara konseptual menunjukkan adanya unit berlainan
(biasanya disebut dengan jenis) yang dapat dikenal, diklasifikasi, digambarkan dan dirtainai.
Alasan yang kedua bahwa terdapat hubungan logis yang berkembang melalui evolusi diantara
unit-unit tersebut. Variasi besar memberikan dasar bagi semua studi sistematik. Variasi
merupakan dasar spesiasi ketika berperan melalui seleksi alam. Variasi dan perubahan pada
organisme melalui sejarah geologi merupakan hasil evolusi. Jenis merupakan produk dari
mekanisme evolusi dasar yaitu mutasi, rekombinasi, seleksi yang berperan pada lingkungan
berbeda melalui waktu . kekerabatan populasi berupa fenetik, genetik dan filogenik. Bukti
variasi sebagai dasar kekerabatan menunjukkan sistem klasifikasi fenetik dan filogenik.
Variasi tumbuhan Variasi merupakan istilah umum mencakup kegiatan, proses atau peristiwa
menyimpang dari kondisi normal atau standar. Pada istilah biologi, variasi merupakan
penyimpangan struktur, fungsi dan perkembangan ciri organisme dari induknya, dari
organisme lain dalam populasi sama, atau dari populasi lain dalam jenis sama atau kelompok
berkerabat. Variasi bisa termasuk perubahan kebakaan dasar melalui seleksi alam yang
bekerja menyebabkan perkembangan evolusi serta fluktuasi individu semata yang kehilangan
signifikansi evolusi. Variasi genotip (genetik) termasuk perbedaan pada genotip di dalam
populasi atau jenis sebagai hasil mutasi, rekombinasi atau interaksi gen yang mungkin adalah
beberapa signifikansi evolusi.Variasi fenotip pada struktur dan fungsi hasil dari tingkah laku
perbedaan lingkungan pada pada 1 atau lebih genotip yang bukan dari signifikansi evolusi.
Varietas dalam dunia tumbuhan merupakan istilah umum yang dapat digunakan pada
keanekaragaman, populasi varian, variabilitas, variasi ciri dan mungkin istilah lain yang
menunjukkan macam atau tipe dari struktur, organ, organisme dan seterusnya. Diversitas
mengacu pada jumlah tipe organisme atau taksa pada dunia tumbuhan. Hampir 250.000 jenis
tumbuhan vaskuler terdapat di permukaan bumi, yang terdiri dari 10.000 jenis pteridofit,
6.000 jenis gymnosperma dan 235.000 jenis angiosperma. Diversitas jenis marga Carex pada
flora Carolina adalah 122; diversitas marga anggota Cyperaceae di Carolina mencakup 17.
Jarang istilah diversitas digunakan pada referensi jumlah macam organ pada takson, contoh
Rosaceae di Carolina dicirikan dengan 9 tipe buah. Varian merupakan individu atau
kelompok individu di dalam populasi yang dapat dibatasi dan dikenal. Ini merupakan istilah
netral yang secara umum digunakan tanpa arti taksonomik. Hal ini sering diterapkan pada
inidividu atau kelompok individu yang mempunyai satu atau hanya beberapa ciri berbeda.
Demikian pula istilah ini mungkin bisa ekuivalen dengan kategori taksonomi: varietas.
Variabilitas populasi mencakup 3 tipe dasar: variasi perkembangan, variasi yang disebabkan
lingkungan dan variasi genetik. Contoh untuk variasi perkembangan dan variasi yang
disebabkan lingkung sangat jelas ditunjukkan pada tumbuhan berikut ini. Tanaman kacang
buncis mempunyai daun pertama tunggal dan berhadapan, namun daun berikutnya berupa
daun majemuk menyirip. Daun Quercus coccinea yang terdapat pada cabang terlindung
sangat mirip dengan daun terkena cahaya normal pada Q. rubra; daun dari cabang terlindung
dari Q. laevis mirip dengan daun Q. coccinea. Daun pertama dari tumbuhan air Sium suave
yang terendam air tersisip secara menyirip dan lunak sedangkan daun lebih tua muncul di atas
permukaan air berupa daun majemuk menyirip dank eras. Demikian pula dengan ukuran dan
jumlah akar, daun dan buah sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan nutrisi. Adapun sumber
variasi genetik dalam populasi alami disebabkan adanya mutasi dan rekombinasi. Sistematis
menghargai perbedaan tidak tetap dalam variabilitas untuk mengembangkan sirkumskripsi
dan pembatasan taksa yang berarti agar klasifikasi menjadi efektif. Spesiasi Fenomena sentral
evolusi adalah asal jenis baru kelompok organisme yang mampu mengadakan penangkaran
secara berhasil dengan satu sama lain tetapi bukan dengan anggota kelompok lain. Spesiasi
dibedakan dan perubahan evolusi meluas melalui pembentukan kelompok organism yang
berbeda; penangkaran sendiri yang disebut jenis. Pembentukan jenis baru merupakan
peristiwa genetik yang melibatkan isolasi lungkang gen populasi. Isolasi reproduksi,
karakteristik paling kritis dari jenis, dapat melalui isolasi geografi, isolasi temporal, yang
menyebabkan kurang berkembangnya keturunan hibrid atau dengan cara pencegahan
fertilisasi garnet dari jenis berbeda. Walaupun terdapat penghalang reproduksi, tumbuhan
simpatrik yaitu tumbuhan yang secara geografi tumpang tindih seringkali hibridisasi dan
hibrid ini kadang bisa menghasilkan jenis baru. Spesiasi allopatrik merupakan penyimpangan
genetik dan 2 populasi yang secara geografi terpisah.Model spesiasi allopatrik kemungkinan
sekali mengandalkan pada penyimpangan genetik terus menerus yang disebabkan mutasi,
aliran gen dan seleksi alam yang terjadi pada populasi terpisah oleh ruang. Spesiasi simpatrik
sering melibatkan sel tanpa terjadi pemisahan dari kromosom yang menghasilkan poliploidi
(yi bertambahnya jumlah set kromosom). Sekalipun beberapa poliploidi dan beberapa hibrid
mungkin steril, mereka mungkin mewakili jenis baru terisolasi reproduksi akanbereproduksi
aseksual. Dalam beberapa hal, poliploidi memperbaiki fertilitas hibrid. Teori evolusi terfokus
pada spesiasi yaitu asal jenis baru untuk menjelaskan keanekaragaman kehidupan. Jenis baru
merupakan dasar diversitas biologi. Saat ini 2 -3 juta jenis organisme hidup dinamai dan 2
-10 kali yang banyak tersisa banyak diteliti. Seluas diversitas ini biasa muncul, perhitungan
dari rekaman fosil mewakili kurang dari 1% dari semua yang pernah ada, lebih dari 99% dari
semua jenis menjadi punah. Dengan jelas, spesiasi berlangsung dalam waktu tak terhitung
pada semua macam lingkungan; sifat kehidupan seperti tumbuhan, reproduksi dan kematian.
Jenis baru dari jenis yang telah ada seperti populasi beradaptasi dengan kondisi lokal. Ide ini
diusulkan pertamakali oleh Darwin yang saat ini secara umum diterima dalam biologi.
Bagaimanapun, persetujuan secara meluas bahwa spesiasi berlangsung dan kontinu terjadi
dibumbui dengan banyak argumen tentang bagaimana terjadinya spesiasi. Teori seleksi alam
memberikan beberapa jawaban, paling tidak pada cara yang umum. Banyak mekanisme
spesiasi mungkin digambarkan, beberapa berdasarkan bukti ilmiah dan beberapa merupakan
penjelasan rasional tetapi berdasarkan sedikit bukti atau tidak sama sekali. Biologis secara
bergantian terpuaskan atau dikecewakan oleh masalah jenis yaitu kesulitan membatasi jenis.
Tidak ada batasan yang cocok bagi semua jenis. Akan tetapi, ini bukan berarti menjauhkan
biologis dan penggunaan istilah jenis atau dari penggunaan nama jenis. Apakah Jenis ? Jenis
merupakan kategori dasar klasifikasi biologi.Jenis merupakan balok penyusun
klasifikasi.Awalnya oleh adanya anggapan Darwin yang menuntut banyak perhatian biologis
karena kepentingannya dalam klasifikasi dan pengertian spesiasi. Konsep jenis bertahan
sebagai topik hangat saat ini; argumen tentang topik ini terdengar tiap tahun pada pertemuan
tahunan Botanical Society Amerika. Paling tidak beberapa konsep jenis diusulkan selama 2
abad ini. Namun demikian, kebanyakan yang digunakan secara luas adalah konsep jenis
morfologi, jenis genetik, jenis paleobotani dan jenis evolusi. 1. Jenis morfologi Konsep jenis
morfologi berpegang bahwa jenis merupakan kelompok terkecil yang dapat secara konsisten
dibedakan melalui morfologinya. Konsep ini sangat praktis dan secara luas menggunakan
konsep jenis di antara para taksonomis yang berhadapan dengan identifikasi dan klasifikasi
organisme. Taksonomis menggunakan konsep ini Karena pada umumnya mereka mengetahui
adanya sebagian besar jenis organisme di dunia ini hanya dari morfologi saja. Konsep ini
sering disebut konsep jenis klasik, karena konsep ini secara umum digunakan untuk
mendeskripsi jenis sejak manusia pertamakali mulai mengklasifikasi organisme. Jenis baru
biasanya dinamai berdasarkan pada konsep jenis morfologi; deskripsi morfologi merupakan
semua yang kita lihat yang diperlukan untuk membedakan jenis barn dari jenis lainnya yang
telah dikenal. Sebenarnya semua nama jenis tumbuhan yang digunakan dalam buku ini
adalah jenis morfologi. Demikian juga jenis yang didaftar dalam beberapa buku seperti Flora
Malaesiana, Flora of Java, Flora untuk sekolah di Indonesia. Sebagian besar jenis morfologi
yang kita kenal secara intuisi diakui sebagai perbedaan satu sama lain. Sebagai contoh, kita
dapat membedakan jenis lili dan pinus. Melalui studi singkat kita dapat juga mempelajari
perbedaan beberapa jenis di antara 100 jenis lili (Lilium), 93 jenis Pinus dan 600 jenis
Quercus.Dalam hal ini menyangkut konsep jenis morfologi. Spesiasi tidak selalu membentuk
jenis dengan batasan yang baik; garis antara jenis seringkali kabur. Pada beberapa hal,
taksonomis sering tidak cocok untuk menentukan suatu tumbuhan apakah termasuk jenis
yang sama atau jenis yang berbeda. Sebagai contoh konsep jenis morfologi kaktus, marga
Opuntia terdiri dari 400 sampai dengan 1000 jenis, tergantung pendapat atau pertimbangan
yang diikuti. 2. Jenis biologi Kebalikan konsep jenis berdasarkan morfologi adalah konsep
jenis biologi yangmenggunakan biologi reproduktif untuk membatasi jenis. Menurut konsep
ini, jenis merupakan kelompok populasi interfertil yang secara reproduktif terisolasi dan
kelompok yang lain. Konsep jenis biologi pertama diusulkan oleh ornithologist, karena
burung umumnya terdapat dalam populasi interfertil yang terisolasi secara reproduktif yang
kuat untuk membedakan secara morfologi. Sebagian besar jenis hewan mungkin cocok
dengan konsep ini. Namun, banyak tumbuhan yang tidak cocok dengan konsep jenis biologi,
sehingga sebagian besar diskusi botani untuk konsep ini terfokus pada bagaimana kelemahan
konsep ini diterapkan dalam dunia tumbuhan. Sebagai contoh, tumbuhan secara morfologi
merupakan jenis berbeda yang secara geografi terisolasi namun mungkin bisa hibridisasi jika
tumbuhan tersebut tumbuh di area yang sama. Apakah ini dinyatakan sebagai jenis yang
berbeda? Perkecualian pada jenis biologi, umumnya di antara jenis morfologi yang sering
hibridasi dimana 2 induk jenis tumpang tindih. Selanjutnya, tumbuh dengan reproduksi
secara aseksual atau dengan penyerbukan sendiri yang berarti infertil atau paling tidak
interbreeding mungkin tidak terjadi. Taraxacum officinale dan Rubus sebagai contoh yang
tidak dapat menggunakan konsep ini karena kedua tumbuhan ini menghasilkan biji tanpa
fertilisasi. Konsep jenis biologi tidak bermanfaat dalam membatasi jenis pertanian tertentu
seperti pisang komersil atau jeruk karena banyak jenis ini yang secara eksklusif reproduksi
aseksual. Konsep jenis biologi juga tidak bermanfaat bagi fosil, karena informasi tentang
biologi reproduksi dari organisme punah biasanya hilang.Konsep jenis biologi
bagaimanapun, secara evolusi penting karena konsep ini membutuhkan isolasi reproduktif.
Konsep jenis biologi menekankan asumsi mendasar tentang spesiasi: populasi hanya
merupakan jenis berbeda tidak bercampur gen dengan populasi lainnya. Spesiasi dapat terjadi
hanya ketika isolasi reproduksi berlangsung dan mungkin dengan beberapa cara, berkisar dari
isolasi geografi hingga genetik atau isolasi behavioral (pada umumnya pada hewan).
Walaupun tumbuhan sering berhibridisasi di alam, hibridnya seringkali lemah dan kurang
cocok. Kelemahan hibrid memberikan beberapa isolasi reproduksi walaupun tidak lengkap. 3.
Jenis genetik Konsep jenis genetik membatasi jenis dengan keunikan genetiknya yaitu
dengan bagaimana perbedaan jenis secara genetik dari kerabat dekatnya.Jadi, konsep ini
mirip jenis morfologi, kecuali pada anggapan jenis didasarkan pada data genetik bukan
didasarkan pada data morfologi. Keunikan jenis genetik diekspresikan khas sebagai jarak
genetik dari jenis lain. Kekurangutamaan dalam mengukur jarak genetik yaitu jarak hanya
didasarkan pada bagian kecil dari genom. Sebagai contoh frekuensi alel dapat diperoleh
melalui elektroporesis hanya untuk 30 enzim yang berbeda; beberapa ribu enzim lain tidak
dapat digunakan untuk mengukur jarak genetik karena kita tidak dapat mengetahui
bagaimana mendeteksinya. Akhir-akhir ini, jarak genetik diukur dengan membandingkan
fragmen DNA dan rangkaian gen. Mirip frekuensi alel, pengukuran inipun hanya terbatas
pada fraksi dari genom. Konsep jenis genetik mengukur batasan konsep, dengan cara
mengukur perbedaan antara jenis dengan kerabat dekatnya. Informasi ini menjadi semakin
bertambah berguna untuk mengevaluasi jenis terancam yaitu untuk menentukan apakah jenis
yang terancam sangat berbeda atau tidak dari kerabat dekatnya. 4. Jenis paleontologi
Paleobotanis tidak dapat berhadapan secara langsung dengan konsep jenis yang melibatkan
jarak genetik atau isolasi reproduksi. Jenis dalam rekaman fosil sering berupa fragmen dan
diwakili dari beberapa tempat saja. Fosil sangat cocok dengan konsep jenis morfologi dengan
dimensi waktu, karena tumbuhan ini muncul dan menghilang dalamrekaman fosil. Beberapa
jenis suatu waktu disebut paleospesies.Paleospesies mempunyai keunikan morfologi dan
terdapat selama waktu geologi tertentu. 5. Jenis evolusi Tidak ada konsep jenis yang sejauh
ini mengacu secara langsung dengan evolusi.Berdasarkan alasan ini, biologi-evolusi
mengusulkan bahwa rangkaian nenek-moyangketurunan dari suatu populasi disebut jenis
evolusi.Sebagai contoh, paleospesies yang mendahului jenis yang masih hidup saat ini
menggambarkan rangkaian nenek moyang dengan keturunan. Kedua tumbuhan ini disebut
sebagai jenis evolusi tunggal Cara Spesiasi Terdapat 3 cara spesiasi, masing-masing
didasarkan pada hubungan geografik jenis baru dengan jenis induknya yaitu 1. Spesiasi
allopatrik; 2.Spesiasi simpatrik; 3.Spesiasi parapatrik. 1. Spesiasi allopatrik Satu rentangan
untuk interbreeding di antara organisme adalah isolasi geografi.Populasi yang terpisah secara
geografik adalah allopatrik (berarti "berbeda tanah air"); demikian pula spesiasi allopatrik
merupakan perbedaan genetik dari 2 populasi yang secara geografik terpisah. Pemisahan
populasi menempati lingkungan berbeda sama dengan adanya akumulasi perbedaan genetik
dan fenotipnya akan menjadi berbeda. Perbedaan ini memulai spesiasi dan dikembangkan
oleh adanya tekanan selektif yang berbeda pada ling,kungan yang berbeda. Populasi terisolasi
berbeda seperti mereka mengakumulasi karakteristik genetik berbeda dan mungkin menjadi
jenis berbeda. Proses geologi dapat memotong populasi. Sebagai contoh kisaran gunung,
danau, sungai, tebing dapat memisahkan organisme. Pembentukan daratan dan padang pasir
menciptakan penghalang geografik. Keefektivan penghalang tergantung pada kemampuan
organisme atau sporanya, serbuk sarinya atau bijinya melintasi penghalang tersebut. Populas.i
terisolasi kecil sering menjadi punah, tetapi populasi ini bertahan dengan perbedaann ciri dari
nenek moyangnya. Lebih cepat daripada populasi besar.Hal ini mengingat bahwa aliran
genetik dan mutasi lebih signifikan pada populasi kecil; populasi besar mempunyai daya
gerak genetik besar dan berubah lebih pelan.Aliran gennya tidak signifikan dan seleksi alam
mungkin membutuhkan banyak generasi untuk mengganti alel dan mengubah fenotipnya clari
populasi besar. Sebagai contoh, populasi besar di Amerika Utara dan Eropa, pohon Sycamare
allopatrik selama 30 juta tahun tetapi mereka tetap dapat interbreed; mereka tidak
berkembang menjadi jenis yang terpisah. Sebaliknya, lungkang gen dari populai kecil dapat
berubah secara relatif pada beberapa generasi.Beberapa keberhasilan individual secara
reproduksi dengan kombinasi gen sangat mempengaruhi evolusi dari populasi kecil dan
mungkin menuju spesiasi beberapa ratus atau ribuan generasi. Populasi kecil menjadi jenis
baru lebih cepat karena mereka secara genetik lebih transient dan tak menentu. Spesiasi
allopatrik tidak mudah mendeteksinya. Di alam, isolasi reproduksi tidak teruji karena
organisme dipisahkan tidak mempunyai kesempatan reproduksi secara seksual. Penelitian
menggunakan kondisi buatan untuk menguji kompatibilitas bukan karena ukuran pasti dari
spesiasi. Namun demikian, jika hibrid tidak dihasilkan, biologis biasanya menunjuk sebagai
jenis benar ("true species").Ukuran terbaik dan penyimpangan genetik dalam populasi
allopatrik berlangsung ketika penghalang geografi secara alami dipindahkan dan populasi ini
menjadi bersama. Interbreeding dengan mudah akan terjadi jika perbedaan hanya sedikit.
Sangat mengherankan, produksi beberapa hibrid mungkin menguatkan perbedaan genetik,
karena fertilitas hibrid biasanya rendah. Dalam hal ini, seleksi terhadap induk yang mungkin
untuk hibridisasi dan untuk menghasilkan keturunan lemah dan tidak layak. Dengan kata lain,
induk dengan ciri-ciri yang mencegah hibridisasi (biasanya penghalang prezigotik) khas
mempunyai keturunan lebih aktif daripada induk yang kadang-kadang menghasilkan hibrid.
Ini menguatkan penghalang prezigot dan menambah penyimpangan. Populasi menyimpang
seperti karakteristik yang meningkatkan hibridisasi secara perlahan dilenyapkan.
Pertambahan isolasi reproduksi oleh seleksi terhadap hibrid sulit ditunjukkan dalam populasi
alami. 2. Spesiasi parapatrik Populasi parapatrik (berarti daratan asal paralel) mempunyai
kisaran terpisah yang bertemu sepanjang batas bersama. Sering perbatasan ini terdapat
dikontinuitas pada ciri-ciri lingkungannya. Contoh, zona dimana tanah berubah bisa
menandai batas bersama bagi 2 populasi parapatrik yang beradaptasi pada tanah yang
berbeda. Terdapat lungkang gen populasi yang sedikit berbeda karena adaptasi tumbuhan
pada tanah yang berbeda. Karena sebagian besar tumbuhan bereproduksi dengan tetangganya,
aliran gen antar populasi jarang jauh mencapai area dimana populasi tumbuhan bertemu.
Namun demikian, pembatasan aliran gen antar populasi melalui interbreeding pada zona
kontak.Spesiasi parapatrik berlangsung jika, walaupun berhubungan, mekanisme isolasi
reproduksi kuat berkembang sebagai populasi secara perlahan memisah ke dalam unit
ekologi. 3. Spesiasi simpatrik Populasi yang secara geografi saling tumpang tindih (berarti
tanah air sama). Spesiasi smpatrik merupakan produksi jenis baru dalam populasi tunggal
atau populasi tumpang tindih. Spesiasi populasi simpatrik mungkin tidak mirip, tetapi
terdapat mekanisme yang secara reproduksi mengisolasi kelompok di dalam lingkungan yang
sama. Contoh, sedikit perubahan pada warna, bentuk kimiawi bunga mengalami mutasi yang
menyebabkan penyerbuk tidak menjadi tertarik. Beberapa mutasi mencegah individu
diserbuki oleh penyerbuk yang sama hinggap di sekitar tumbuhan dan mungkin secara efektif
mengisolasi mereka secara reproduksi dari populasi induk. Tumbuhan terisolasi mungkin
terbatas dari diri mereka sendiri atau hibridisasi dengan populasi dekat dari jenis berbeda.
Sekali subpopulasi kecil terisolasi berbeda dan membentuk jenis baru. Selain mutasi, spesiasi
simpatrik bisa juga hasil dari kesalahan misalignment kromosom selama miosis, membentuk
keturunan poliploidi dan dari hibridisasi yang berhasil melalui individu di dalam populasi
simpatrik dengan jenis lain. Spesiasi tumbuhan mencakup komponen integral dari populasi,
sistem reproduksi penangkaran dan aseksual, mekanisme isolasi, stabilasi dan seleksi.
Mekanisme Isolasi Reproduksi Isolasi reproduksi merupakan dasar konsep jenis. Isolasi
reproduksi melindungi integritas jenis dengan mencegah lungkang gen terkontaminasi dari
jenis lain. Mekanisme yang mencegah produksi keturunan fertil dari jenis berbeda (hibrid)
adalah penghalang reproduksi yang mengembangkan isolasi reproduksi. Penghalang paling
jelas adalah pemisahan geografik: jika 2 jenis dipisahkan oleh jarak yang jauh, jenis ini tidak
saling kawin. Bagaimanapun, penghalang terbesar hibridisasi tidak absolut penghalang
biologi menyelenggarakan derajat bervariasi pada jenis berbeda terutama jika kisaran jenis
tumpang tindih. Penghalang reproduksi yang mengisolasi lungkang gen jenis mungkin
prezigot atau postzigot. Mekanisme prezigot berfungsi sebelum pembentukan zigot (yaitu
mencegah keberhasilan fertilisasi).Sebagai contoh, penghalang prezigot mungkin merintangi
penyerbukan atau secara kimiawi menghalangi fertilisasi sel telur.Mekanisme postzigot
beroperasi setelah pembentukan zigot dengan menghalangi perkembangan zigot hibrid
menjadi tumbuhan dewasa fertil. Perkembangan penghalang reproduksi kritis bagi spesiasi
dan seleksi alam memajukan penghalang pre dan postzigot. Induk yang mengelakkan
penghalang sering menghasilkan keturunan yang tidak layak.Tentu saja, keturunan hibrid
hasil dan induk yang bagaimanapun juga mempunyai gen tidak cocok dari kedua induk. Gen
ini menyebabkan pertumbuhan embrio dengan sifat campuran, perkembangan
membingungkan dan mungkin mematikan embrio. Bahkan jika embrio bertahan, organisme
dewasa sering lemah dan steril.Sebaliknya, induk tidak dapat mengatasi penghalang
reproduksi yang menghasilkan keturunan yang sehat dan dapat hidup terus Berta mewariskan
gennya pada keturunan selanjutnya. Dalam cara ini, seleksi alam menyebabkan organisme
yang tidak kawin atau reproduksi di luar jenisnya. Penghalang prezigot dan postzigot
disimpulkan pada tabel di bawah ini. Macam Mekanisme Isolasi Renroduksi 1. Mekanisme
prezigot mencegah perkawinan dan keberhasilan fertil. a. Penghalang geografik: populasi
hidup di area geografi yang jauh. b. Isolasi mikrohabitat: populasi hidup pada mikrohabitat
berbeda dan tidak bertemu. c. Isolasi temporal: individu mau menerima untuk kawin atau
perbungaan pada waktu berbeda. d. Isolasi mekanik: bunga secara struktur berbeda dan
penyerbukan terhalang. e. Isolasi garnet: garnet jantan dan betina dari 2 jenis yang tidak
cocok. 2. Mekanisme postzigot mencegah produksi dewasa fertil. a. Hibrid
ketidaklangsungan hidup: zigot hibrid tidak mengembangkan seksual dewasa b. Hibrid steril:
hibrid tidak menghasilkan garnet yang aktif c. Hibrid rusak: progeni dan hibrid fertil lemah
atau infertil. 1. Penghalang Prezigotik a. Isolasi geografik Garnet individu tidak akan bertemu
jika organisme terpisah oleh jarak yang signifikan. Sebagai contoh, jenis berkerabat dekat
dari pohon kecil yang disebut redbuds tampak sangat mirip jika hibridisasi secara buatan.
Bagaimanapun redbuds di sebelah timur tumbuh pada batas aliran sungai timur di sungai
Missisipi. Sungai secara geografi jauh dari jenis di sebelah barat di California, Nevada dan
Arizona. Jarak ini mengisolasi 2 jenis. b. Isolasi mikrohabitat Jenis hidup pada mikrohabitat
berbeda di dalam area sama tidak mungkin bertemu sama lain walaupun keduanya tidak
terisolasi secara geografi; mereka secara signifikan terpisah oleh ruang. Sebagai contoh,
Quercus cocinnea di timur US tumbuh dengan kisaran luas yang sama seperti Q. veluteria.
Jenis Q. coccinea tumbuh pada mikrohabitat dengan kondisi lembab dan aliran pelan,
sedangkan Q. veluteria pada mikrohabitat dengan kondisi kering dan aliran deras. Pemisahan
2 habitat ini dalam area luas yang sama secara memuaskan mencegah pembentukan hibrid.
Walaupun kedua jenis diserbukkan oleh angin dan akan berlangsung hibridisasi jika dibawa
bersama secara buatan, namun hibrid alami jarang ada. Beberapa hibrid sering berhasil hanya
pada area terganggu. c. Isolasi temporal Dua jenis tidak akan saling kawin jika keduanya
reproduksi selama waktu berbeda hari, musim atau tahun. Sebagai contoh jenis Dendrobium
hidup di hutan tropis sama tetapi menghasilkan bunga pada waktu yang berbeda. Perbungaan
pada 3 jenis tumbuhan berkerabat dekat dipacu untuk kejadian sama yaitu hujan angin; untuk
jenis ke 1 mekar 8 hari setelah angin topan, jenis ke 2 bunganya mekar 9 hari setelah angin
topan dan bunga ke 3 mekar 10 hari setelah angin topan. Adapun penyerbukan hanya
berlangsung selama 1 hari karena bunga mekar pada pagi hari dan menutup sore berikutnya,
akibatnya ketiga jenis tersebut terisolasi secara reproduksi. d. Isolasi mekanik Perkawinan
atau penyerbukan sering gagal karena tumbuhan secara anatomi tidak cocok.Contoh, 4 jenis
berkerabat dekat, anggrek Catasetum dengan agihan tumpang tindih mempunyai bunga
dengan penghalang mekanik beradaptasi pada anatomi 1 jenis lebah.Anggrek ini secara
buatan dapat dihibridisasi, tetapi tidak pernah ada hibrid alami. Antara bunga anggrek dan
lebah menunjukkan bunga jenis ke 1 akan memberi dan menerima serbuk sari hanya dan
kepala insekta, bunga jenis ke 2 memberikan serbuk sari pada punggung insekta, yang jenis
ke 3 pada perut insekta dan jenis ke 4 hanya ada lengan kaki depan. Serbuk sari dipindah
hanya di antara tumbuhan dari jeins sama dengan anatomi bunga yang sama. e.Isolasi
gametik Bunga dapat berbeda di antara serbuk sari dari jenisnya dan serbuk sari dari jenis
berbeda. Bahkan jika harus berlangsung, perkecualian serbuk sari mungkin diperlambat
komponen kepala putik dan tangkai putik.Permukaan sel telur dan sperma mungkin
mempunyai faktor kecocokan yang menyebabkan atau mencegah fertilisasi. Tipe isolasi
gametik lainnya melibatkan malfungsi dari sistem pengendalian yang mengarahkan buluh
serbuk sari pada bakal biji. Tentu saja sistem malfungsi hanya terjadi ketika kedua gen tidak
sempurna pada serbuk sari dan putik. 2. Penghalang postzigotik a. Hibrid ketidaklangsungan
hidup Jika zigot hibrid dibentuk, perkembangan embrio mungkin gagal karena kombinasi
instruksi genetik tidak dapat dilaksanakan (yaitu kesalahan produk gen yang dihasilkan) atau
karena kontrol mekanisme tidak dapat dibedah. b. Hibrid steril Jika 2 jenis menghasilkan
keturunan hibrid sehat seringkali keturunannya steril. Pada sebagian besar hibrid miosis
menghasilkan garnet abnormal karena set kromosom diperbesar oleh induk berbeda pada
jumlah atau struktur. c. Hibrid rusak Kadang generasi pertama hibrid sehat dan fertil tetapi
jika mereka, kembali kawin satu sama lain atau dengan anggota populasi induk, keturunannya
lemah atau steril. Contoh beberapa jenis kapas menghasilkan hibrid fertil, tetapi progeni pada
generasi berikutnya mati sebagai embrio atau tumbuh dewasa tetapi lemah dan mudah
terserang penyakit. Perbedaan/Penyimpangan Populasi dan Spesiasi Untuk membentuk jenis
baru, lungkang gen harus berbeda dari lungkang gen populasi induknya (nenek
moyang).Individu pada populasi yang menyimpang menjadi berbeda - juga berbeda yang
biasanya mereka nampak berbeda dari populasi nenek moyangnya memanfaatkan habitat
berbeda dan merespon lingkungan secara berbeda.Mekanisme yang mengontrol perbedaan ini
tidak dapat diprediksi dan secara mudah diobservasi, karena beberapa kekuatan homogen,
campuran dan meminimalkan variasi sedangkan kekuatan yang lain meningkatkan dan
mengembangkan penyimpangan. Tahap pertama dalam spesiasi, bagaimanapun berupa isolasi
reproduksi spasial (berhubungan dengan ruang) yang memulai penyimpangan genetik, sekali
lungkang gen dari populasi terisolasi yang talc terelakkan mengembangkan frekuensi gennya
berubah karena seleksi, aliran gen dan mutasi pada generasi berikutnya. Contoh mutasi terjadi
secara acak dan populasi terisolasi dari jenis sama akan secara acak mengakumulasi mutasi
berbeda, bahkan jika lingkungan identik. Mutasi mungkin akan mengakumulasi bahwa 2
populasi berbeda dan interbreed tidak lebih lama. Demikian pula, aliran gen dan variasi
lingkungan dapat meningkatkan perbedaan dari populasi terisolasi.Reproduksi seksual
biasanya tidak mengembangkan penyimpangan secara langsung, karena percampuran
informasi genetik di dalam populasi dan dapat isolasi perlahan; bagaimanapun, reproduksi
seksual menyuplai kombinasi gen. Beberapa kombinasi baru memunculkan jenis terpisah
mungkin memperkenankan beberpa individu mengeksploatasi potongan lingkungan baru atau
berbeda.Sekali mantab pada lingkungan barn, morfologi populasi, daya kompetisi, siklus
hidup reproduksi bisa berubah dan meningkatkan isolasi populasi induk. Pemisahan lungkang
gen dari populasi lain dari jenis induk merupakan peritiwa krusial pada asal jenis. Respon
Tumbuhan Terhadap Gradien Lingkungan Lingkungan kompleks dan Batas tajam seperti
danau, sungai dan tipe tanah menghasilkan potongan agihan jenis tumbuhan.Pada potongan
.tumbuhan ini diam dan terutama sensitif terhadap tekanan lokal selektif.Gerakan terbatas
dari alelnya menekankan pentingnya seleksi dan perbedaan tajam dari lingkungan bahkan
mencapai jarak pendek. Bahkan walaupun pemencaran serbuk sari sangat bervariasi
perantaranya (angin, serangga dsb) dan oleh jenis, seperti umumnya kurang dari 1 % serbuk
sari dilepaskan akan mencapai individu lebih dari 300 meter jauhnya. Anggapan semua
ketidakleluasaan lain pada aliran gen, isolasi sering tidak efektif melebihi 100 meter. Ini
berarti bahwa lingkungan lokal mungkin mengalihkan aliran gen dan pemencaran serbuk sari.
Satu respon terhadap kondisi lokal adalah modifikasi morfologi. Plastisitas morfologi berarti
bahwa tumbuhan menunjukkan bentuk pertumbuhan berbeda bahkan tanpa perubahan
genetik. Sebagai hasil, organisme dengan gen sama sering sama tampak berbeda sesuai
dengan lingkungan. Contoh, tinggi tanaman atau ukuran daunnya mungkin refleksi
ketersediaan air.Genom sebagian besar tumbuhan memungkinkan variabilitas morfologi bagi
lingkungan untuk mengembangkan cukup variasi. Beberapa populasi/ jenis berkisar mencapai
area geografi besar dengan ciri-ciri gradient iklim yang menyebabkan organisme pada
keadaan ekstrim untuk berubah secara morfologi dan berbeda secara genetik.Gradien utara ke
selatan mungkin bisa termasuk kisaran suhu dan mungkin gradien tumbuhan semakin tinggi
pada bagian selatan berakhir dengan rendah menuju bagian utara.Ciri kontinu ini merupakan
cline morfologi.Anggota cline sejati adalah secara reproduksi cocok dan aliran gen terjadi
pada seluruh cline. Perbedaan morfologi sepanjang cline mungkin disebabkan genetik juga
morfologi plastis. Tumbuhan utara pendek ditransplantasikan di daerah selatan mungkin tidak
tumbuh setinggi tumbuhan daerah selatan menunjukkan perbedaan genetik. Pembentukan
cline merupakan bentuk sederhana perbedaan genetik dan derajat perbedaan sebanding
dengan panjang cline. Beberapa jenis membentuk halus. Mikrohabitat sepanjang cline
mengisolasi potongan cline menuju subpopulasi.Subpopulasi diskontinu ini selanjutnya
mungkin menyimpang karena mereka menyesuaikan diri dengan tekanan seleksi lokal dan
mengembangkan kombinasi alel yang cocok untuk lingkungan lokal. Perbedaan antara
subpopulasi akan didasarkan secara genetik. Subpopulasi terpotong yang secara genetik
menyimpang dalam hubungannya dengan lingkungannya disebut ekotipe. Ekotipe mungkin
nampak berbeda secara mencolok, walaupun mereka secara reproduksi cocok dan
menghasilkam keturunan yang viabel. Ekotipe yang berbeda secara fisiologi (yaitu toleran
dengan kondisi beku, waktu berbunga, kecepatan fotosintesis) mungkin tidak nampak
berbeda, tetapi mereka bereaksi secara berbeda terhadap lingkungannya. Ekotipe dibatasi
dengan baik pada saat microhabitat memiliki batas yang baik. Deskripsi yang dikenal baik
tentang variasi ekotipe disajikan oleh Jens Clausen, David Keck, dan Wiliam Hiesey, yang
mempelajari adaptasi genetik dari populasi terisolasi sepanjang varitas dan zona iklim
California. Zona ini termasuk stasiun permukaanlaut dekat pantai pasifik, stasiun ketinggian
cukup di gunung Sierra Nevada, dan stasiun batas pertumbuhan pohon pada 3.000 meter
tingginya Salah satu tumbuhan yang diteliti Potentilla glandulosa, anggota dari famili mawar,
tumbuh pada ketiga lokasi dan menunjukkan adaptasi genetik dengan masing-masing habitat.
Karena tumbuhan ini berreproduksi secara aseksual dengan geragih serta secara seksual, klon
dapatdigunakan untk mengontrol variasi genetik dan menekankn habitat penyebab variasi.
Individu tumbuhan dikumpulkan dari varitas habitat sepanjang gradient dan tumbuh
berdampingan pada bidang stasiun di masing-masing zona iklim. Paling sedikit muncul 3
ekotip berbeda. Masing-masing mempryai sifat morfologi berbeda yang adaptasi ingkungan
aslinya; yaitu subpopulasi ini (ekotipe) menyimpang secara genetik Disamping perbedaan
sifat morfologi, masing-masing ekotipe berbunga pada waktu berbeda dari tiap tahun sebagai
respon terhadap panjang musim pertumbuhan. Ekotipe pantai berbunga pada pertengahan
April, ekotipe kaki gunung berbunga pada bulan Mei-Juni dan ekotipe alpin berbunga pada
akhir Agustus. Populasi aspen (Populus tremuloides) besar digunung Utah secara genetik
didasarkan ekotipe menghasilkan daun pada awal musim panas dan reproduksi hanya secara
vegetatif. Sebagian besar aspen dapat menghasilkan biji terkecambahkan , tetapi mereka juga
reproduksi secara aseksual melalui tunas dari akar. Di gunung Utah, biji aspen jarang
berkecambah, karena iklim curah hujan pada musim panas; terdapat aspen reproduksi hanya
secara vegetatif. Pada kondisi tersebut, ekotipe menghasilkau daun lebih awal pada musim
pertumbuhan dan reproduksi secara aseksual dielalckan musim kering dan berhasil
berkolonisasi lebih besar di gunung Utah. Anggapan bahwa iklim