Anda di halaman 1dari 7

Zd/< > W E >/d/ E

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN PERAWAT DENGAN


KOMPETENSI APLIKASI EVIDENCE-BASED PRACTICE
&255(/$7,21 %(7:((1 1856(¶6 EDUCATION LEVEL WITH THE COMPETENCY TO
DO EVIDENCE-BASED PRACTICE

Dame Elysabeth¹*, Gita Libranty ² Siska Natalia³


Faculty of Nursing Universitas Pelita Harapan Tangerang
*Email: dame.arna@uph.edu

ABSTRAK
Pendahuluan: Penggunaan Evidence-based Practice (EBP) masih belum terlaksana
dengan baik. Masih ditemukannya intervensi keperawatan yang berdasarkan
³NHELDVDDQ´ 3HUDZDW KDUXV VHFDUD VLVWHPDWLV PHQJJXQDNDQ EXNWL-bukti terbaik yang
aktual dalam membuat keputusan mengenai cara menangani pasien. Tujuan
penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan tingkat pendidikan perawat dengan
kompetensi dalam melakukan EBP. Metode: Penelitian kuantitatif korelasional
dengan pendekatan Cross-sectional pada Desember 2012 dilakukan di Siloam
Hospitals Kebun Jeruk. Sampel pada penelitian ini adalah perawat yang bekerja di
Siloam Hospitals sejumlah 105 yang terjaring melalui proporsional stratified random
sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Evidence Based Practice
Questionnaire (EBPQ) Upton D Upton terdiri dari 24 pertanyaan mencakup aspek
pengetahuan, sikap perawat, perilaku perawat dalam melakukan EBP yang di beri
skala 1- 7. Analisis data menggunakan frekuensi, persentase dan uji chi square. Hasil:
Terdapat 20 perawat (19, 1%) memiliki kompetensi kurang baik, 56 perawat (53,3%)
memiliki kompetensi cukup baik dan 29 perawat (27,6%) memiliki kompetensi baik.
Ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kompetensi perawat dalam
melakukan EBP di Siloam Hospitals Kebon Jeruk yang dibuktikan dengan p Value =
0,006 ( . Diskusi: Diharapkan agar setiap perawat dapat meningkatkan
pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, karena terbukti bahwa pendidikan dapat
menuntun seseorang terampil dalam mencari sumber penelitian, berorganisasi dan
bersikap profesional dalam bekerja, meningkatkan akses-akses untuk meningkatkan
dan menerapkan praktik berdasarkan bukti (EBP).
Kata Kunci: Evidence based Practice (EBP), Kompetensi, Perawat, Tingkat
Pendidikan

ABSTRACT
Introduction: The application of Evidence-Based Practice (EBP) competency has not
been well implemented yet. Nurses still conduct practices and intervention based on
³FXVWRPV´. The nurses should make decisions systematically, in full awareness and
prudence, the best evidence about the actual way of caring patients. The purpose of
this study was to identify the correlation between education level of nurses with EBP
competence. Method: Descriptive correlation study with cross - sectional approach
was conducted in December 2012 in Siloam Hospitals Kebun Jeruk. The sampel of
this research consisted of nurses of Siloam Hospitals Kebun Jeruk taken using
proportional stratified random sampling with a total of 105 nurses. The instrument used
in this research was Evidence-Based Practice Questionnaire (EBPQ) with 24
questions to identify knowledge, skills and nurse attitude towards evidence-based
practice (Scale 1-7). Data was analyzed using frequency and percentage and chi-
square test. Result: There are 20 nurses (19.1 %) with poor competence, 56 nurses JURNAL
(53.3 %) with moderate competence and 29 nurses (27.6 %) with good competence.
The result showed that there was a significant correlation between level of education
ZLWK FRPSHWHQFH WR GR WKH (%3 S YDOXH . Discussion: It is
SKOLASTIK
expected that each nurse can improve their education to a higher level, as it proves
that education can lead one to be skilled in finding the source of research, organize
KEPERAWATAN
Vol. 1, No.1
information, be professional in their work, and improve access to improve and Januari ² Juni 2015
implement EBP.
ISSN: 2443 ² 0935
Keywords: Competence, Evidence -Based Practice ( EBP), Level of Education, E-ISSN: 2443 - 1699
Nurses
14
Hubungan tingkat pendidikan perawat dengan kompetensi aplikasi evidence-based practice

PENDAHULUAN pendidikan dan penelitian dan


menyebarluaskan temuan-temuan
Perawat memegang peranan yang penting penelitian kepada perawat lain sedangkan
dalam pelayanan rumah sakit, dimana profesi nursing di Indonesia yang tergolong
perawat berada dengan pasien selama 24 masih muda bila dibandingkan dengan
jam. Perawat tidak hanya berperan sebagai negara Barat dan masih tertinggal jauh,
care giver namun juga sebagai client begitu juga dalam pemahaman EBP. Hal ini
advocate, counsellor, educator, terlihat dari belum adanya pusat EBP untuk
collaborator, coordinator, change agent memahami EBP, mengevaluasi dan
dan consultant (Doheny dalam Kusnanto, menjadi acuan bagi perawat dalam
2003). Perawat juga harus memiliki melaksanakan praktik keperawatan.
kemauan dalam meningkatkan kesadaran
profesional kesehatan dalam belajar, EBP merupakan pendekatan yang dapat
mengetahui dan menerapkan praktik digunakan dalam praktik keperawatan
berbasis bukti dalam keperawatan atau kesehatan, yang berdasarkan evidence
disebut Evidence Based Pratice (EBP) (3rd atau fakta (Evidence-Based Nursing,
International Nursing Conference, 2012). 2008). Jurnal Introduction to Evidence-
based nursing Dicenso; Bostrom, Suter,
Dalam Evidence-Based Nursing Position Luker, Kenrick (2011), mengatakan proses
Statement (2005), mengatakan bahwa menggabungkan temuan kualitas
EBP telah menjadi isu menonjol dalam penelitian yang baik dalam praktik
keperawatan kesehatan internasional, keperawatan adalah tidak mudah. Selama
biaya kesehatan meningkat, prinsip ini seringkali ditemui praktik-praktik atau
manajemen dalam melakukan praktik LQWHUYHQVL \DQJ EHUGDVDUNDQ ³ELDVDQ\D
keperawatan yang tepat dan keinginan MXJD EHJLWX´ VHEDJDL FRQWRK VHZDNWX GL
perbaikan kualitas EBP. Untuk itu pendidikan, cairan yang digunakan dalam
keperawatan menjadi terlibat dalam perawatan luka adalah Povidone-iodine
gerakan untuk mendefenisikan EBP dalam 10%. Praktik ini dipakai ³RYHU DQG RYHU´
setiap praktik keperawatan, yang jelas meskipun yang bersangkutan menjelang
adalah tanggung jawab perawat untuk pensiun bila diberi masukan, kadang-
melaksanakan EBP dalam tindakan kadang jawaban yang ucapkan adalah
keperawatan, dan mengevaluasi, ³ELDVDQ\D MXJD EHJLWX SDVLHQ MXJD VHPEXK
mengintegrasikan dan menggunakan bukti NRN NRN UHSRW ³ SDGDKDO PHQXUXW
terbaik yang telah tersedia untuk penelitian baru air matang juga bisa di
meningkatkan praktik keperawatan gunakan untuk perawatan luka (Evidence-
(Rycroft-Malone, Bucknall, Melnyk, 2004). Based Nursing, 2008).

Grinspun, Vinari & Bajnok dalam Hapsari Gruendemann (2006), mengatakan


(2011) menyatakan tujuan EBP kompetensi merupakan suatu proses yang
memberikan data pada perawat praktisi intens dan berkesinambungan, kompetensi
berdasarkan bukti ilmiah agar dapat adalah pengetahuan, keterampilan dan
memberikan perawatan secara efektif kemampuan yang telah ditetapkan, yang
dengan menggunakan hasil penelitian diperlukan untuk memenuhi peran perawat
yang terbaik, menyelesaikan masalah yang professional sesuai bidang praktiknya. UU
ada di tempat pemberian pelayanan RI No: 20 pasal 35 ayat 1 tahun 2003
terhadap pasien, mencapai kesempurnaan Tentang Sistem Pendidikan Nasional
dalam pemberian asuhan keperawatan dan mengatakan kompetensi merupakan
jaminan standar kualitas dan memicu kualifikasi kemampuan lulusan yang
inovasi. mencakup sikap, pengetahuan dan
keterampilan sesuai standard nasional
Centre Evidence-Based Medicine Toronto, yang telah disepakati.
(2011) melaporkan negara-negara seperti
Inggris, Kanada, Jerman dan lainnya telah Kompetensi dalam aplikasi EBP tidaklah
membuat pusat untuk EBP, untuk mendidik mudah, dibutuhkan pengetahuan yang
perawat melalui lokakarya melalui cukup, sikap yang baik dan perilaku yang

Jurnal Skolastik Keperawatan _ Vol.1, No. 1 _ Jan t Jun 2015 _ 15


Dame Elysabeth, Gita Libranty, Siska Natalia

profesional. Faktor- faktor diatas juga tidak dalam penggunaan EBP untuk mengambil
luput dari pengaruh karakteristik seseorang keputusan dalam perawatan pasien.
yang dapat mendukung kemampuan
pengetahuan, sikap dan perilakunya Proses Evidence Based Nursing Practice
terhadap EBP yakni pendidikan. menurut Eizenberg (2010) ada lima tahap:
1. Merumuskan pertanyaan, 2.
Bastable (2002) mengatakan pendidikan Mengumpulkan informasi yang paling
merupakan bagian terpenting dari relevan, 3. Melakukan evaluasi kritis
keberhasilan pemberian perawatan. terhadap bukti dan validitas, relevan dan
Senada dengan pernyataan tersebut kelayakan, 4. Mengintegrasikan bukti
Nursalam (2008) mengungkapkan bahwa penelitian dengan pengalaman klinis,
pendidikan merupakan bagian paling pasien, nilai-nilai dan 5. Menilai hasil.
mendasar dalam pengembangan Sumber Menurut Stout & Hayes (2005) dalam
Daya Manusia. Aryani (2008), EBP bertujuan untuk
memberi alat, berdasarkan bukti-bukti
Siagian (1995) yang dikutip Maryani (2006) terbaik, untuk mencegah, mendeteksi dan
menyatakan bahwa tingkat pendidikan menangani gangguan kesehatan artinya
seseorang akan mempengaruhi motivasi dalam memilih suatu pendekatan
kerjanya, hal ini didukung dengan pengobatan kita hendaknya secara empiris
pendapat Gillies (1994) dalam Maryani melihat kajian penelitian yang
(2006) mengemukakan bahwa perawat menunjukkan keefektifan suatu
yang mempunyai pendidikan tinggi akan pendekatan terapi tertentu pada diri
memiliki kemampuan kerja yang tinggi. individu tertentu.

Menurut Bastable (2002), pendidikan Siloam hospitals Kebun Jeruk merupakan


berperan sebagai proses untuk salah satu rumah sakit swasta yang sedang
mempengaruhi perilaku perawat dengan berkembang dan concern akan
melakukan perubahan pada pengetahuan, pelaksanaan EBP. Hal ini tampak dari
sikap, nilai dan keterampilan yang inovasi-inovasi dan kegiatan yang
diperlukan untuk mempertahankan dan diarahkan untuk mendukung EBP seperti
meningkatkan kompetensi mereka agar seminar-seminar yang mengangkat issue
dapat memberikan perawatan yang terkait EBP.
bermutu terhadap klien. Cook (2001) dalam
AIPNI (2011), mengatakan perawat dalam Berdasarkan studi awal pada 10 perawat
penggunaan EBP dapat menilai Evidence Siloam Hospitals Kebun jeruk didapatkan
dan merumuskan solusi berdasarkan 40% perawat mengetahui EBP, 15 % tidak
bukti-bukti terbaik yang tersedia, untuk itu mengetahui EBP dan 45% perawat pernah
perawat perlu diperkenalkan kurikulum mendengar EBP. Data diatas cukup
pendidikan seperti pelatihan-pelatihan menarik, dimana proporsi perawat yang
yang membangun kompetensi perawat mengetahui EBP jumlahnya kurang dari
untuk mempersiapkan mereka untuk 50%. Sehingga fenomena ini mendorong
memiliki pemahaman yang lebih besar dan perlunya adanya pengkajian lanjut, faktor-
pengendalian peristiwa yang mungkin faktor apa saja yang berhubungan dengan
terjadi selama situasi. hal tersebut.

Majid et al. (2011), mengatakan bahwa Demikian halnya dengan pendidikan,


EBP adalah salah satu tehnik yang cepat pendidikan merupakan salah satu
untuk perkembangan keperawatan karena karakteristik seorang individu. Hal yang
EBP efektif dalam penanganan masalah- sama juga pada perawat, dimana
masalah klinis dan memberikan pendidikan keperawatan yang masih
perawatan-perawatan yang lebih baik bervariasi. Pengetahuan seorang perawat
melalui hasil-hasil penelitian. Sackett etal di dapat dipengaruhi oleh pendidikan yang
dalam Gerrish et al. (2006), EBP adalah ditempuh oleh perawat tersebut.
segala tindakan yang berbasis bukti, baik Kompetensi yang ditetapkan pada setiap
dalam pengobatan, eksplisit dan bijaksana jenjang pendidikan pun berbeda.

16 | Jurnal Skolastik Keperawatan _ Vol.1, No. 1 _ Jan t Jun 2015


Hubungan tingkat pendidikan perawat dengan kompetensi aplikasi evidence-based practice

Adapun karakteristik jenjang pendidikan presentase dan bivariat menggunakan uji


perawat di SHKJ bervariasi mulai dari SPK, chi-square.
D3 Keperawatan, dan S1 Keperawatan
(Divisi Keperawatan SHKJ, 2012). Jenjang HASIL PENELITIAN
pendidikan yang bervariasi ini dapat
menyebabkan perbedaan cara pandang Berikut ini dijabarkan frekuensi perawat
dalam menilai dan perbedaan kemampuan berdasarkan karakteristik pendidikan dan
dalam menghadapi sesuatu. juga kompetensi perawat melakukan EBP.

Atas dasar fenomena dan pandangan Tabel 1. Karakteristik Tingkat Pendidikan,


tersebut diatas, perlu dilakukan identifikasi Individu Perawat Siloam Hospitals Kebon
lanjut adakah hubungan antara tingkat Jeruk Desember 2012 (N=105)
pendidikan dengan kompetensi perawat
Pendidikan Frekuensi (n) Persentase
dalam aplikasi EBP. (%)
SPK 4 3,8
METODE PENELITIAN
D-III 60 57,2
Penelitian kuantitatif korelasional dengan S-1 41 39,0
pendekatan cross-sectional dilakukan pada
Total 105 100
bulan Desember 2012 di Siloam Hospitals
Kebun Jeruk. Populasi dalam penelitian ini Dari tabel 1 menggambarkan dari 105
adalah perawat Siloam Hospitals Kebon perawat SHKJ, jenjang pendidikan D-III
Jeruk berjumlah 265 perawat, dengan Keperawatan mendominasi dengan
jenjang pendidikan SPK, D-3 Keperawatan, persentase 57,2%, sedangkan responden
dan S-1 Keperawatan, (Divisi Keperawatan dengan pendidikan Sarjana Keperawatan
SHKJ, 2012). Pengambilan sampel 41 responden (39%) dan pendidikan SPK
dilakukan dengan teknik proportional terdapat 4 responden (3,8%).
stratified random sampling. Dari sebanyak Tabel 2. Kompetensi Perawat Siloam
210 perawat, diambil sebanyak 50% secara Hospitals Kebon Jeruk Dalam Melakukan
acak sebanyak 50% dari masing-masing EBP, Desember 2012 (N=105)
kategori. Sehingga sampel terkumpul
sebanyak 105 perawat, yang terdiri dari
SPK 4 orang, D-3 Keperawatan 60 orang Variabel Kategori Frekuensi Persentase
(n) (%)
dan S-1 Keperawatan 41 orang.
Kurang 20 19,1
Instrumen yang digunakan yakni Evidence Kompetensi Cukup 56 53,3
Based Practice Questionnaire (EBPQ) EBP
Baik 29 27,6
Upton (2006) terdiri dari 24 pertanyaan
Total 105 100
yang mencakup aspek pengetahuan, sikap
dan perilaku perawat dalam melakukan
EBP yang di beri skala dari tidak pernah Berdasarkan tabel 2 diatas, dapat dilihat
melakukan dimulai angka 1 - 7 hingga kompetensi responden dalam melakukan
sering. EBP di SHKJ terdapat 29 (27.6%) perawat
memiliki kompetensi yang baik, 56 (53.3%)
Data dianalisis secara univariat dan kompetensi EBP cukup dan 20 (19.1%)
bivariat. Untuk data univariat, perawat memiliki kompetensi EBP yang
menggunakan nilai frekuensi dan kurang.

Jurnal Skolastik Keperawatan _ Vol.1, No. 1 _ Jan t Jun 2015 _ 17


Dame Elysabeth, Gita Libranty, Siska Natalia

Tabel 3. Hubungan tingkat pendidikan perawat dengan kompetensi dalam


melakukan EBP Siloam Hospitals Kebon Jeruk Desember 2012 (N=105)

Kompetensi EBP
Pendidikan Kurang Cukup Baik Total P value

n % n % n %
SPK 0 0 4 100 0 0 4
DIII 9 15 39 65 12 20 60 0.006
S1 11 26.8 13 31.7 17 41.5 41
Total 20 21 56 58.8 29 29.2 105

Tabel 3 menunjukkan korelasi antara tingkat pendidikan dengan kompetensi


perawat dalam melakukan EBP di Siloam Hospitals Kebon Jeruk didapatkan hasil
GHQJDQ S YDOXH .

Menurut Eizenberg (2010) hal ini


PEMBAHASAN menunjukkan bahwa pendidikan
mampu menuntun seseorang terampil
Pada hasil korelasi antara pendidikan dalam mencari sumber penelitian,
dengan kompetensi perawat dalam berorganisasi dan bersikap profesional
melakukan EBP di Siloam Hospitals dalam bekerja, meningkatkan akses-
Kebon Jeruk didapatkan hasil dengan akses untuk meningkatkan dan
S YDOXH . 'DUL KDVLO menerapkan praktik berdasarkan bukti
ini ini menunjukkan adanya hubungan (EBP).
yang signifikan antara pendidikan
dengan kompetensi dalam melakukan Hal ini juga didukung dengan
EBP. Dimana semakin tinggi tingkat penelitian Maryani (2006), yang
pendidikan seseorang maka semakin menunjukkan terdapat hubungan yang
baik pula kompetensinya dalam signifikan antara tingkat pendidikan
melakukan EBP. dengan motivasi kerja. Perawat
dengan pendidikan tinggi mempunyai
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil kecenderungan 3,912 kali mempunyai
penelitian Eizenberg (2010), tentang motivasi kerja tinggi dibanding dengan
Implementation of Evidence-Based perawat yang berpendidikan rendah.
Nursing Practice didapatkan
hubungan yang signifikan antara Pendapat Gibson 1985 yang dikutip
pendidikan dengan praktik Maryani (2006), juga menyatakan
keperawatan. Bila ditelusuri lebih lanjut bahwa tingkat pendidikan yang lebih
mengenai karakteristik pendidikan tinggi umumnya akan menyebabkan
perawat, kategori tertinggi dalam seseorang lebih mampu dan bersedia
aplikasi EBP didominasi oleh perawat menerima posisi dan tanggung jawab.
yang memiliki latar belakang Penulis berpendapat bahwa perawat
pendidikan S1 Keperawatan, yang mempunyai pendidikan tinggi
sementara perawat dengan latar akan mempunyai kompetensi yang
belakang pendidikan D-3 lebih tinggi dalam bidang
Keperawatan dan SPK mayoritas keperawatan, lebih mudah memahami
memiliki kompetensi sedang. tentang penilaian angka kredit
sehingga perawat termotivasi dan
berusaha untuk menampilkan kinerja
lebih baik.

18 | Jurnal Skolastik Keperawatan _ Vol.1, No. 1 _ Jan t Jun 2015


Hubungan tingkat pendidikan perawat dengan kompetensi aplikasi evidence-based practice

Selain kompetensi berdasarkan september 2012, Universitas


pendidikan, terdapat karakteristik lain Negeri Makasar.
yang juga berpotensi menentukan
kompetensi perawat dalam melakukan Bastable, S. B. (2002). Perawat
EBP seperti lamanya bekerja dan Sebagai Pendidik. Jakarta: EGC.
pelatihan. Berdasarkan karakteristik
lama bekerja perawat dalam penelitian Bostrom J, Suter WN, Luker KA,
ini ditemukan bahwa sebanyak 58% Kenrick M dalam Introduction to
perawat memiliki masa kerja 1-5 Evidence-based nursing. (2011).
tahun, dan masa kerja 6-10 tahun dan Diakses Tanggal 8 agustus 2012
diatas 10 tahun masing-masing hanya dari
sebanyak 21%. ktclearinghouse.ca/cebm/syllabi/n
ursing/intro.

KESIMPULAN Dicenso, A. et al dalam Introduction to


Evidence-based nursing. (2011).
Pada aspek pelatihan dan training, Diakses Tanggal 8 agustus 2012
berdasarkan informasi dari responden, dari
95% mengungkapkan bahwa ktclearinghouse.ca/cebm/syllabi/n
pelatihan khusus mengenai spesifik ursing/intro.
aplikasi EBP belum pernah didapatkan
kecuali seminar-seminar yang Eizenberg., M., M. (September, 2010).
mengangkat tema tentang EBP. Implementation of Evidence ±
Sehingga kedua hal diatas baik EDVHG QXUVLQJ SUDFWLFH QXUVHV¶
pelatihan dan masa kerja masih belum personal and professional
dapat dijadikan sebagai alat evaluasi factors? Diakses Tanggal 8
lebih jauh hubungan nya dengan agustus 2012 dari Department of
kompetensi melakukan EBP. Health System Management
Yezreel Valley College, Israel.
Hasil penelitian ini juga mendorong
agar institusi kesehatan seperti rumah Gerrish, K., Ashworth, P. , Lacey, A. &
sakit, klinik, dan praktek mandiri Bailey, J . (2008) Developing
perawat mendukung pengembangan evidence-based practice:
jenjang karir perawat dimana salah experiences of senior and junior
satunya lewat peningkatan tingkat clinical nurses. Journal of
pendidikan, yang dimana telah terbukti Advanced Nursing 62(1), 62±
mendukung perawat dalam 73doi:
mengaplikasikan praktek keperawatan 10.1111/j.13652648.2007.04579.
professional yang berkualitas dan x
teruji.
Gruendemann. J. B., Ernsebner. B.
Demikian juga halnya pada institusi± (2006). Buku Ajar Keperawatan
institusi pendidikan keperawatan Perioperatif, Vol. 1 Prinsip.
sebagai wahana pembelajaran calon Jakarta : EGC.
perawat juga diharapkan dapat Hapsari, E. D. (2011). Evidence based
mempersiapkan mahasiswa perawat practice science: Unique,
dalam hal penguasaan akan EBP. diversity, and innovation. Diakses
Tanggal 8 agustus 2012 dari
Fakultas Kedokteran Universitas
DAFTAR PUSTAKA Gadjah Mada. Indonesia.
Aryani, F. (2008). Pendekatan Kusnanto. (2003). Pengantar Profesi
Evidence-based Practice (EBP) dan Praktik Keperawatan
Bagi Helping Professionals. Profesional. Jakarta: EGC
Diunduh pada tanggal 3

Jurnal Skolastik Keperawatan _ Vol.1, No. 1 _ Jan t Jun 2015 _ 19


Dame Elysabeth, Gita Libranty, Siska Natalia

Majid, S. etal. (2011). Adopting


evidence-based practice in clinical
GHFLVLRQ PDNLQJ QXUVHV¶
perceptions, knowledge, and
barriers. Journal of The Medical
Library Association, 99(3), 229-
236. Doi: 10.3163/1536-
5050.99.3.010

Maryani, S., Sumartini, M., Raenah, E.


(2006). Jurnal Hubungan
Penilaian Angka Kredit Jabatan
Fungsional Perawat, Karakteristik
Karakteristik dengan Motivasi
Kerja Perawat di RS
Persahabatan dan RS Fatmawati
Jakarta tahun 2006. Diakses
Tanggal 12 agustus 2012, dari
situs:
isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/210
62538.pdf.

Nursalam. (2008). Pendidikan dalam


Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.

Rycroft-Malone, J., Bucknall, T.,


Melnyk, BM, (2004). Editorial.
Worldviews on Evidence-Based
Nursing. 1(1), 1-2.
www.blackwellpublishing.com/wv
n.

Upton, D. (2006). Methodological


Issues In Nursing Reasearch
Development of an evidence-
based practice questionnaire for
nurses. Diakses Tanggal 8
agustus 2012 dari Head of
psychology Division, University of
Worcester, Worcester UK.
Yeni, C., K. (2008). Evidence-Based
Nursing. Diakses Tanggal 9 juli
2012, dari:
yenibeth.wordpress.com/2008/03
/05/evidence-based

20 | Jurnal Skolastik Keperawatan _ Vol.1, No. 1 _ Jan t Jun 2015