Anda di halaman 1dari 23

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU PENYAKIT DALAM


Hari / Tanggal Ujian / Presentasi Kasus : ……………….
SMF PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT :

Nama : Tanda Tangan


NIM : 112019
...............................
Dr. Pembimbing / Penguji :
................................

IDENTITAS PASIEN

Nama lengkap : Tn. S Jenis kelamin : Laki-laki


Tempat / tanggal lahir : Jakarta, 02-12- Suku Bangsa : Jawa
Usia : 58 thn Agama : Islam
Status perkawinan : Menikah Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan Tanggal masuk RS : 25-12-2019
Alamat :

A. ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis Tanggal 6 Desember 2020

Keluhan utama:
Kuning seluruh tubuh 2 minggu SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien merupakan pasien rujukan dari RS Sari asih, Pasien datang dengan keluhan utama merasa
seluruh tubuh dan mata kuning, sejak kurang lebih 2 minggu ini, keluhan disertai dengan mual
dan muntah kurang lebih 3x, muntah berwarna kuning berisi makanan, volume setiap muntah
kurang lebih ½ gelas aqua, tidak ada darah dan lendir. Pasien juga mengeluhkan adanya nyeri
pada perut bagian kiri atas yang dirasakan sejak 1 bulan. BAK berwarna kuning keruh, BAB 2x
sehari tidak disertai darah. Pasien juga mengeluhkan nafsu makan yang menurun.

1
Penyakit Dahulu ( Tahun, diisi bila ya ( + ), bila tidak ( - ) )

( - ) Cacar ( - ) Malaria ( - ) Batu ginjal / Saluran kemih


( - ) Cacar air ( - ) Disentri ( - ) Burut (Hernia)
( - ) Difteri ( - ) Hepatitis ( - ) Penyakit prostate
( - ) Batu rejan ( - ) Tifus Abdominalis ( - ) Wasir
( - ) Campak ( - ) Skrofula ( - ) Diabetes
( - ) Influensa ( - ) Sifilis ( - ) Alergi
( - ) Tonsilitis ( - ) Gonore ( - ) Tumor
( - ) Korea ( - ) Hipertensi ( - ) Penyakit Pembuluh
( - ) Demam Rematik Akut ( - ) Ulkus Ventrikuli ( - ) Perdarahan otak
( - ) Pneumonia ( - ) Ulkus Duodeni ( - ) Psikosis
( - ) Pleuritis ( - ) Gastritis ( - ) Neurosis
( - ) Tuberkolosis ( - ) Batu Empedu Lain Lain: ( - ) Operasi
( - ) Kecelakaan

Riwayat Keluarga
Hubungan Umur Jenis Kelamin Keadaan Kesehatan Penyebab
( Tahun ) Meninggal
Kakek (pihak
ayah)
Kakek (Pihak - Laki-laki Meninggal -
Ibu)
Nenek ( Pihak
ayah)
Nenak ( Pihak - Perempuan Meninggal -
ibu )
Ayah - Laki-laki Meninggal -
Ibu - Perempuan Meninggal -
Saudara 50 Perempuan Baik
Anak 25 Perempuan Baik

Adakah kerabat yang menderita :


Penyakit Ya Tidak Hubungan
Alergi √
Asma √
Tuberkolosis √
Artritis √
Rematisme √
Hipertensi √
Jantung √
Ginjal √

2
Lambung √

ANAMNESIS SISTEM
Kulit
( - ) Bisul ( - ) Rambut ( - ) Keringat malam
( - ) Kuku ( + ) Kuning / Ikterus ( - ) Sianosis
( - ) Lain – lain
Kepala
( - ) Trauma ( - ) Sakit kepala
( - ) Sinkop ( - ) Nyeri pada sinus
Mata
( - ) Nyeri ( - ) Radang
( - ) Sekret ( - ) Gangguan penglihatan
( + ) Kuning / Ikterus ( - ) Ketajaman penglihatan

Telinga
( - ) Nyeri ( - ) Gangguan pendengaran
( - ) Sekret ( - ) Kehilangan pendengaran
( - ) Tinitus

Hidung
( - ) Trauma ( - ) Gejala penyumbatan
( - ) Nyeri ( - ) Gangguan penciuman
( - ) Sekret ( - ) Pilek
( - ) Epistaksis

Mulut
( - ) Bibir ( - ) Lidah
( - ) Gusi ( - ) Gangguan pengecap
( - ) Selaput ( - ) Stomatisis
Tenggorokan
( - ) Nyeri tenggorokan ( - ) Perubahan suara
Leher
( - ) Benjolan ( - ) Nyeri leher

Dada ( Jantung / Paru – paru)


( - ) Nyeri dada ( - ) Sesak napas
( - ) Berdebar ( - ) Batuk darah
( - ) Ortopnoe ( - ) Batuk

3
Abdomen (Lambung/ Usus)
( - ) Rasa kembung ( - ) Wasir
( + ) Mual ( - ) Mencret
( + ) Muntah ( - ) Tinja darah
( - ) Muntah darah ( - ) Tinja berwarna dempul
( - ) Sukar menelan ( - ) Tinja berwarna hitam
( - ) Nyeri perut, kolik ( - ) Benjolan
( - ) Perut membesar
Saluran kemih / Alat kelamin
( - ) Disuria ( - ) Kencing nanah
( - ) Stranguri ( - ) Kolik
( - ) Poliuria ( - ) Oliguria
( - ) Polakisuria ( - ) Anuria
( - ) Hematuria ( - ) Retensi urin
( - ) Kencing batu ( - ) Kencing menetes
( - ) Ngompol (tidak disadari) ( - ) Penyakit prostat
Katamenia
( - ) Leukore ( - ) Perdarahan
( - ) Lain – lain
Haid
( - ) Haid terakhir ( - ) Jumlah dan lamanya ( - ) Menarche
( - ) Teratur / tidak ( - ) Nyeri ( - ) Gejala klimakterum
( - ) Gangguan haid ( - ) Pasca menopause

Saraf dan Otot


( - ) Anestesi ( - ) Sukar mengingat
( - ) Parestesi ( - ) Ataksia
( - ) Otot lemah ( - ) Hipo / Hiper-esthesi
( - ) Kejang ( - ) Pingsan
( - ) Afasia ( - ) Kedutan (’tick’)
( - ) Amnesia ( - ) Pusing (Vertigo)
( - ) lain – lain ( - ) Gangguan bicara (Disarti)
Ekstremitas
( - ) Bengkak ( - ) Deformitas
( - ) Nyeri ( - ) Sianosis

BERAT BADAN
Berat badan rata-rata (Kg) :-
Berat tertinggi (Kg) :-
Berat badan sekarang (Kg) : 62

4
RIWAYAT HIDUP

Riwayat Kelahiran
Tempat lahir : ( + ) Di rumah ( ) Rumah Bersalin ( ) R.S. Bersalin
Ditolong oleh : ( ) Dokter ( + ) Bidan ( ) Dukun ( ) lain - lain
Riwayat Imunisasi
( + ) Hepatitis ( + ) BCG ( + ) Campak ( + ) DPT ( + ) Polio ( + ) Tetanus

Riwayat Makanan
Frekuensi / Hari : 2x/hari
Jumlah / Hari : 2 porsi pirim makan/hari
Variasi / Hari : variasi makanan baik ( sayuran dan lauk pauk )
Nafsu makan : baik
Pendidikan
( ) SD ( ) SLTP ( + ) SLTA ( ) Sekolah Kejuruan ( )Akademi
( ) Universitas ( ) Kursus ( ) Tidak sekolah

Kesulitan
Keuangan : tidak ada
Pekerjaan : tidak ada
Keluarga : tidak ada
Lain-lain : tidak ada

B. PEMERIKSAAN JASMANI
Tanggal : 06-01-2020
Pemeriksaan umum
Tinggi badan : 165
Berat badan : 62
IMT : 23,8
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 98x/menit
Suhu : 36,80C
Pernapasan (Frekuensi dan tipe) : 20x/ menit
Keadaan gizi : baik
Sianosis : tidak ada

5
Udema umum : tidak ada
Habitus : Atletikus
Cara berjalan : tegak
Mobilisasi (Aktif / Pasif) : aktif
Umur menurut taksiran pemeriksa : 58
Aspek Kejiwaan
Tingkah laku : wajar
Alam perasaan : biasa
Proses pikir : wajar
Kulit
Warna : Sawo Matang Effloresensi : tidak ada
Jaringan parut : Tidak ada Pigmentasi : tidak ada
Pertumbuhan rambut : Normal Pembuluh darah : batas normal
Suhu raba : Akral Hangat Lembab / kering : kering
Keringat : tidak ada Turgor : baik
Ikterus : ada seluruh tubuh Edema : tidak ada
Lapisan lemak : bersifat merata Lain-lain :-

Kelenjar getah bening


Submandibula : tidak teraba membesar Leher : tidak teraba membesar
Supraklavikula : tidak teraba membesar Ketiak : tidak teraba membesar
Lipat paha : tidak teraba membesar
Kepala
Ekspresi wajah : tenang Simetri muka : simetris
Rambut : hitam merata Pembuluh darah temporal : pulsasi (+)
Mata
Exophthalmus : tidak ada Enopthalmus : tidak ada
Kelopak : edema (-/-) Lensa : jernih
Konjungtiva : anemis (-/-) Visus : normal
Sklera : ikterik (+/+) Gerakan bola mata : normal, aktif (+)
Lapangan penglihatan : normal Tekanan bola mata : normal
Nystagmus : tidak ada

Telinga
Tuli : tidak tuli Selaput pendengaran : intak (+), warna seperti mutiara
Lubang : lapang Penyumbatan : tidak ada
Serumen : tidak ada Perdarahan : tidak ada
Cairan : tidak ada

6
Mulut
Bibir : kering tampak, pecah-pecah
Tonsil : T1-T1, tampak tenang
Langit-langit : terbentuk sempurna
Bau pernapasan : tidak berbau
Gigi geligi : lengkap, caries dentis (-)
Trismus : tidak ada
Faring : tidak hiperemis
Selaput lendir : normal
Lidah : normal
Leher
Tekanan vena Jugularis (JVP) : 5+2 cmH2O
Kelenjar tiroid : tidak membesar
Kelenjar limfe : tidak membesar
Deviasi trachea : tidak ada deviasi
Dada
Bentuk : simetris, retraksi sela iga (-), lesi (-), benjolan (-)
Pembuluh darah : spider nevi (-)
Buah dada : simetris

Paru-paru

Depan Belakang
Inspeksi Kiri Simetris saat statis dan dinamis. Simetris saat statis dan dinamis,
Retraksi (-) Retraksi (-)
Kanan Simetris saat statis dan dinamis. Simetris saat statis dan dinamis.
Retraksi (-) Retraksi (-)
Palpasi Kiri Sela iga normal, benjolan (-) Sela iga normal, benjolan (-)
Nyeri tekan (-), fremitus normal Nyeri tekan (-), fermitus normal
Kanan Sela iga normal, benjolan (-) Sela iga normal, benjolan (-)
Nyeri tekan (-), fremitus normal Nyeri tekan (-), fremitus normal
Perkusi Kiri Sonor diseluruh lapang paru Sonor diseluruh lapang paru
Kanan Sonor diseluruh lapang paru Sonor diseluruh lapang paru
Batas
Paru hati Batas paru hati pada ICS 5
Auskultasi Kiri Vesikuler Vesikuler
Kanan Vesikuler Vesikuler

Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba pada sela iga ke 4 linea midclavicularis kiri ukuran

7
1x1 cm, kuat angkat
Perkusi : Batas kanan : sela iga ke-4 linea sternalis kanan
Batas atas : sela iga ke-2 linea sternalis kiri
Batas pinggang : sela iga ke-3 linea parasternalis kiri
Batas kiri : sela iga ke-5, 2 cm medial linea axilaris anterior kiri
Auskultasi : BJ I-II normal, murni, reguler, murmur (-), gallop (-).

Pembuluh darah
Arteri Temporalis : pulsasi (+)
Arteri Karotis : pulsasi (+)
Arteri Brakialis : pulsasi (+)
Arteri Radialis : pulsasi (+)
Arteri Femoralis : pulsasi (+)
Arteri Poplitea : pulsasi (+)
Arteri Tibialis Posterior : pulsasi (+)
Arteri Dorsalis Pedis : pulsasi (+)

Perut
Inspeksi :Asites (-), lesi (-), benjolan (-), pembuluh darah (-), spider nevi (-)
Palpasi :
Dinding perut : Supel, terdapat nyeri tekan pada regio bagian atas, nyeri lepas(-),
defence muscular (-), massa (-)
Hati : Tidak membesar
Limpa : Tidak Membesar
Ginjal : Ballotement (-), nyeri ketok CVA (-)
Lain-lain :-
Perkusi : Timpani, shifting dullness (-), undulasi (-)
Auskultasi : Bising usus normoperistaltik
Refleks dinding perut : Baik.

Alat kelamin (atas indikasi)


Tidak dilakukan karena tidak ada indikasi

Anggota gerak
Lengan Kanan Kiri
Otot
Tonus : Normotonus normotonus
Massa : Eutrofi eutrofi

8
Sendi : Tidak ada kelainan tidak ada kelainan
Gerakan : Aktif aktif
Kekuatan :5 5
Edema : Tidak ada tidak ada
Lain-lain : Tremor (-) tremor (-)
Tungkai dan Kaki
Luka : Tidak ada
Varises : Tidak ada
Otot
Tonus : Normotonus,
Massa : Eutrofi
Sendi : Tidak ada kelainan
Gerakan : Aktif
Kekuatan :5
Edema : Tidak ada
Lain-lain :-

Refleks
Kanan Kiri
 Refleks tendon + +
 Bisep + +
 Trisep + +
 Patela + +
 Achiles + +
 Kremaster Tidak dilakukan Tidak dilakukan
 Refleks patologis - -

Colok dubur (atas indikasi)


Tidak dilakukan karena tidak ada indikasi

C. LABORATORIUM & PEMERIKSAAN PENUNJANG LAINNYA

Laboratorium
Tanggal 25-12-2019
Hemoglobin : 13.2 g/dl Ureum : 29 mg/dl
Hematokrit : 36.5 % Kreatinin : 0.7 mg/dl
Eritrosit : 5.59 10^6/µL GDS : 113 mg/dl
Leukosit : 10.35 10^3/µL Na : 141 mEq/L
Trombosit : 240 10^3/µL K : 4.5 mEq/L
MCV : 65.3 % Cl : 104 mEq/L

9
MCH : 23.6 %
MCHC : 36.2 %
SGOT :142 U/L
SGPT : 294 U/L
Bilirubin Indirek : 3.0 mg/dl
Bilirubin Total : 20.5 mg/dl
Bilirubin Direk : 17.50 mg/dl

Tanggal 26-12-2019
HBSAG non reaktif Anti HCV total non reaktif

Tanggal 27-12-2019
Bilirubin indirek : 7.4 mg/dl
Bilirubin total : 20.8 mg/dl
Bilirubun direk : 13.43 mg/dl

Tanggal 28-12-2019
SGOT (AST) : 77 U/L
SGPT : 187 U/L
Bilirubin Indirek : 6.7 mg/dl
Bilirubin Total : 19.2 mg/dl
Bilirubin direk : 12.50 mg/dl

Tanggal 07-01-2020
Hemoglobin : 11.9 g/dl gula darah sewaktu : 113mg/dl
Hematokrit : 34,5 % natrium : 142 mEq/L
Leukosit : 12.38/ mm3 kalium : 4.4 mEq/L
Trombosit : 313.000 / mm3 klorida : 104 mEq/L
MCV : 67.6 % masa perdarahan : 2.00 menit
MCH : 23.3 pg masa pembekuan : 11.00 menit
MCHC : 34.5 % PT : 10.6 detik
Bilirubin indirek : 5.4 mg/dl APTT : 31.2 detik
Bilirubin total : 19.7 mg/dl SGOT : 77 U/L
Bilirubin direk : 14.26 mg/dl SGPT : 187 U/L

Penanda Tumor
Tanggal 02-01-2020
CA 19-9 18157.00 H

10
USG

Kesan : dilatasi/distensi Gall bladder ec obstruksi ec massa pada caput pancreas

MRCP
Menunggu hasil

D. RINGKASAN (RESUME)
Pasien datang dengan keluhan tubuh dan mata kuning, sejak kurang lebih 2 minggu,
disertai dengan mual dan muntah kurang lebih 3x, muntah berwarna kuning berisi makanan,
volume setiap muntah kurang lebih ½ gelas aqua. Pasien juga mengeluhkan adanya nyeri pada
perut bagian kiri atas yang dirasakan sejak 1 bulan dan adanya penurunan nafsu makan.
Dari pemeriksaan fisik tampak pasien dalam keadaan sakit sedang, kesadaran compos
mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 98x/menit, pernapasan 20x/menit, suhu 36,8 oC, kulit
kering, ikterus pada seluruh tubuh dan mata, Pasien merasakan nyeri ketika di palpasi pada
abdomen bagian atas.
Pada pemeriksaan lab darah, di dapatkan Hb 11.9 g/dl, Ht 34.5, leukosit 12.38, MCV
67.6, MCH 23.3, MCHC 34.5. fungsi hati, SGOT 77, SGPT 187, bilirubin indirek 5.4, bilirubin
total 19.7, bilirubin direk 14.26. CA 19-9 18157.00 H dan USG didapatkan kesan dilatasi/distensi
Gall bladder ec obstruksi ec massa pada caput pancreas .

DIAGNOSIS KERJA DAN DASAR DIAGNOSIS

Diagnosis Kerja
Ikterus obstruktif ec tumor pankreas
Dasar Diagnosis Kerja
Pasien kuning sejak 2 minggu SMRS, nyeri perut bagian atas kurang lebih 1 bulan. Pemeriksaan
fisik didapatkan kulit ikterus, mata kanan dan kiri ikterus dan nyeri tekan pada abdomen atas.

11
Pemeriksaan penunjang di dapatkan CA 19-9 18157.00 H dan USG di dapatkan dilatasi/distensi
Gall bladder ec obstruksi ec massa pada caput pancreas .

PENATALAKSANAAN

Medika Mentosa

IVFD Ringer Asetat / 12 jam

Ketorolac inj 2x1 amp

Omeprazol inj 2x1 am

Non Medika Mentosa

- Menghindari makan asam, pedas dan berlemak


- Menghindari rokok dan alkohol

PROGNOSIS

1. Ad vitam : dubia ad malam


2. Ad functionam : dubia ad bonam
3. Ad sanationam : dubia ad malam

Follow up
Tgl S O A P
6/01/202 Mual (+) Muntah KU: sedang,CM ikterik Inf. RL /24 jam
0
(-), nyeri perut TD: 120/60 obstruktif Inj ketorolac 2x1 amp
bagian atas. HR: 96x/m et causa Inj omz 2x1 amp
RR: 20x/m tumor R/ ERCP
T : 36,5oC pankreas
Mata : ca(-/-) si(+/
+)
Pulmo:vesikuler,
suara tambahan
(-)
Cor : S1-S2 reguler
Abdomen : supel,
nyeri tekan (+),
Extremitas hangat
Edema (-)

12
7/01/202 Mual (-), KU: sedang,CM ikterik Inf. RL /24 jam
0
muntah (-), nyeri TD: 120/60 obstruktif Inj ketorolac 2x1 amp
perut (-) HR: 80 x/m et causa Inj omz 2x1 amp
RR: 20x/m tumor R/ ERCP
T : 36,6oC pankreas
Mata : ca(-/-) si(+/
+)
Pulmo:vesikuler,
suara tambahan
(-)
Cor : S1-S2 reguler
Abdomen : supel,
nyeri tekan (-),
Extremitas hangat
Edema (-)

8/01/202 Pasien mengeluh KU: sedang,CM ikterik Inf. RL /24 jam


0 obstruktif
mual (+), muntah TD: 110/60 Inj ketorolac 2x1 amp
et causa
(+) jika makan, HR: 84 x/m tumor Inj omz 2x1 amp
pankreas
Nyeri perut RR: 22 x/m
bagian atas T : 36,7oC
hilang timbul. Mata : ca(-/-) si(+/
+)
Pulmo:vesikuler,
suara tambahan
(-)
Cor : S1-S2 reguler
Abdomen : supel
Extremitas hangat
Edema (-)

13
TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi dan Fisiologi Pankreas

Pankreas merupakan organ yang panjang dan ramping, berbentuk tabung yang seperti
bunga karang atau spons, dengan panjang sekitar 15 hingga 20 cm (6 hingga 8 inci) dan lebarnya
3,8 cm (1,5 inci). Kelenjar pankreas terletak di antara duodenum dan limpa, melintang di
retroperitoneum, setinggi vertebra torakal XII sampai lumbal I, dimana kaput terletak pada
bagian cekung duodenum dan kauda menyentuh limpa.1
Pankreas dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu kaput, kolum, korpus, dan kauda.
Kaput pankreas berbentuk seperti cakram dan terletak di medial duodenum, bagian dalam
cekung duodenum, berdekatan erat dengan pars descenden duodenum. Sebagian kaput meluas
ke kiri di belakang arteria dan vena mesenterika superior serta dinamakan prosesus uncinatus. Di
antara prosesus unsinatus dan kaput pankreas melintas arteri dan vena mesenterium superior. Di
antara kaput dan korpus pankreas terdapat bagian menyempit yaitu kolum, dan di posteriornya
terdapat vena porta. Kolum pankreatis terletak di depan pangkal vena porta hepatis dan tempat
dipercabangkannya arteri mesenterika superior dari aorta. Dari kolum hingga hilum lienis adalah
korpus dan kauda pankreas, dan antara keduanya tidak memiliki batas yang jelas. Korpus
pankreatis berjalan ke atas dan kiri, menyilang garis tengah. Pada potongan melintang sedikit
berbentuk segitiga. Kauda pankreatis berjalan ke depan menuju ligamentum lienorenal dan
mengadakan hubungan dengan hilum lienis.1,2

14
Gambar 1. Letak dan Anatomi Pankreas.3

Gambar 2. Anatomi Pankreas.4


1: Kaput pankreas; 2: Proses unsinasi pankreas; 3: Takik/cekukan pankreas; 4: Korpus pankreas;
5: Permukaan anterior pankreas; 6: Permukaan inferior pankreas; 7: Batas atas pankreas; 8:
Batas depan pankreas; 9: Batas bawah pankreas; 10: Omental tuber; 11: Kauda pankreas; 12:
Duodenum

Pankreas mendapat pasokan darah terutama berasal dari arteri pankreatikoduodenalis


superior dan inferior serta arteri lienalis, dan sebagian dari arteri mesenterika superior.
Percabangan tiap arteri di dalam pankreas membentuk arkus vaskular, maka pasca reseksi partial
pankreas tidak mudah timbul defisit pasokan darah ke pankreas yang tersisa. Vena semuanya
masuk ke vena lienalis dan vena mesenterika superior, kemudian bermuara ke vena porta.2,3

Pankreas kaya akan saluran limfatik yang saling berhubungan. Limfatik kaput pankreas
drainase ke kelenjar limfe pankreatikoduodenale anterior dan posterior serta kelenjar limfe dekat
arteri mesenterika superior. Limfe bagian korpus drainase ke kelenjar limfe margo superior,
margo inferior pankreas dan para arteri lienalis, para arteri hepatikus komunis, para arteri seliaka
dan para aorta abdominalis. Limfe bagian kauda pankreas drainase ke kelenjar limfe hilum
lienis.2-4

15
Pankreas dibentuk dari 2 sel dasar yang mempunyai fungsi sangat berbeda yaitu sebagai
eksokrin dan endokrin. Sel-sel eksokrin yang berkelompok-kelompok disebut sebagai asini yang
menghasilkan unsur getah pankreas. Sekret eksokrin, yang disebut getah pankreas, diproduksi
dari sel asinar dan sel epitel dinding duktuli pankreas, mengandung amilase, protease, lipase
pankreas, sodium bikarbonat, dan enzim pencernaan, serta elektrolit lain yang penting. Setiap
hari pankreas memproduksi sekret eksokrin sekitar 800-2000 ml pada orang dewasa. Getah-
getah pankreas, juga disebut enzim-enzim, membantu mencerna makanan dalam usus kecil.
Ketika getah-getah pankreas dibuat, mereka mengalir kedalam saluran utama pankreas. Saluran
ini bergabung dengan saluran empedu (common bile duct), yang menghubungkan pankreas ke
hati dan kantong empedu. Saluran empedu (common bile duct), yang membawa empedu (suatu
cairan yang membantu mencerna lemak), menyambung ke usus kecil dekat lambung.1,3

Sel-sel endokrin atau pulau Langerhans menghasilkan sekret endokrin, yaitu insulin dan
glukagon yang penting untuk metabolisme karbohidrat. Fungsi endokrin pankreas berkaitan
dengan metabolisme dan regulasi zat nutrien tubuh, terutama terletak di pulau Langerhans di
kauda pankreas. Sekretnya adalah insulin, glukagon, gastrin, dan somatostatin. Insulin
mengontrol jumlah gula dalam darah. Kedua enzim-enzim dan hormon-hormon diperlukan
untuk mempertahankan tubuh bekerja dengan benar.3

Karsinoma Pankreas

Karsinoma pankreas merupakan salah satu tumor saluran cerna yang sering ditemukan.
Belakangan ini insidennya cenderung meningkat. Gejala klinis karsinoma pancreas tidak
spesifik, sehingga sulit menegakkan diagnosis dini dan pada waktu diagnosis umumnya sudah
stadium lanjut sehingga dewasa ini termasuk salah satu kanker yang prognosisnya paling buruk.
Sekitar 95% tumor yang bersifat kanker (malignant) pada pankreas adalah adenocarcinoma.
Adenocarcinoma biasanya berasal dari sel kelenjar yang melapisi saluran pankreas. Kebanyakan
adenocarcinoma terjadi di dalam kepala pankreas, bagian yang paling dekat dengan bagian
pertama usus kecil (duodenum). Kanker pankreas tetap merupakan sumber utama mortalitas di
negara maju. Insidennya meningkat, dan kini sebesar 9/100.000. Penyakit ini lebih sering
ditemukan pada pria dibanding wanita (1,3:1) dan Afrika-Karibia (50% lebih tinggi).4

Di Indonesia, karsinoma pankreas tidak jarang ditemukan dan merupakan tumor ganas
ketiga terbanyak pada pria setelah tumor paru dan tumor kolon. Insiden tertinggi pada usia 50-60
tahun. Faktor yang telah terbukti meningkatkan risiko, yaitu merokok berat, diet daging terutama
daging goreng yang tebal dan banyak kalori, diabetes melitus, dan pernah gastrektomi dalam
kurun waktu 20 tahun terakhir, sedangkan faktor minum teh, kopi, dan alkohol, tidak konsisten
terbukti meningkatkan risiko.4

Kanker adalah suatu kelompok penyakit. Lebih dari 100 tipe yang berbeda dari kanker
diketahui, dan beberapa tipe kanker dapat berkembang dalam pankreas. Mereka semua

16
mempunyai satu hal umum yang sama, yaitu pertumbuhan sel-sel yang abnormal dan merusak
jaringan tubuh.
Sel-sel sehat yang membentuk jaringan tubuh tumbuh, membelah, dan menggantikan diri
mereka sendiri dalam suatu cara yang teratur. Proses ini mempertahankan tubuh dalam suatu
perbaikan yang baik. Adakalanya, bagaimanapun, beberapa sel kehilangan kemampuan untuk
mengontrol pertumbuhan mereka. Mereka tumbuh terlalu cepat dan tanpa segala aturan. Terlalu
banyak jaringan yang dibuat, dan tumor-tumor terbentuk. Tumor-tumor dapat menjadi jinak atau
ganas.3,4
Tumor-tumor jinak bukan termasuk kanker. Mereka tidak menyebar ke bagian-bagian
lain tubuh dan jarang merupakan suatu ancaman pada nyawa. Seringkali, tumor-tumor jinak
dapat diangkat dengan operasi, dan mereka tidak mungkin kembali.
Tumor-tumor ganas adalah kanker. Mereka dapat menyerang dan menghancurkan
jaringan-jaringan sehat dan organ-organ sehat yang berdekatan. Sel-sel kanker dapat juga pecah
keluar dari tumor dan menyebar ke bagian-bagian lain tubuh. Penyebaran kanker disebut
metastasis.5
Kanker yang mulai pada pankreas disebut kanker pankreas. Ketika kanker pankreas
menyebar, ia biasanya berjalan melalui sistim limpatik. Sistim limpatik mencakup suatu jaringan
dari saluran-saluran halus yang bercabang, seperti pembuluh-pembuluh darah, ke dalam
jaringan-jaringan di seluruh tubuh. Sel-sel kanker dibawa melalui pembuluh-pembuluh oleh
getah bening, suatu cairan air yang tidak berwarna yang membawa sel-sel yang melawan infeksi.
Sepanjang jaringan pembuluh-pembuluh limpatik ada kelompok-kelompok dari organ-organ
kecil yang berbentuk seperti kacang yang disebut simpul-simpul (nodul) getah bening. Para ahli
bedah seringkali mengangkat nodul-nodul getah bening dekat pankreas untuk mempelajari
apakah mereka mengandung sel-sel kanker.4,5
Sel-sel kanker dapat juga dibawa melalui aliran darah ke hati, paru-paru, tulang, atau
organ-organ lain. Kanker pankreas yang menyebar ke organ-organ lain disebut kanker pankreas
metastatik.5

Epidemiologi

Insiden kanker pankreas di dunia cenderung meningkat, dewasa ini telah menjadi salah
satu tumor ganas sistem pencernaan yang sering ditemukan. Tapi berbeda dari kanker lain, di
dunia belum ditemukan adanya area insiden tinggi kanker pankreas, insiden di berbagai area
sekitar 12,8/100.000 hingga 3/100.000. Walaupun kanker pankreas tidak termasuk kanker sistem
pencernaan berinsiden tinggi, tapi peningkatan insidennya belakangan ini cepat sekali, sehingga
perlu menjadi perhatian kita.3,4
Pada usia 30-40 tahun, insiden kanker pankreas relatif rendah, setelah 50 tahun
meningkat pesat, dan terutama pada 65-80 tahun sering ditemukan. Ratio pria dan wanita dalam

17
laporan literatur sebelumnya adalah 1,7:1, sedangkan dalam literatur belakangan adalah 1,3:1.
Ratio insiden pria dan wanita menurun sejalan dengan pertambahan usia.4,5
Mortalitas kanker pankreas memiliki variasi etnis yang menonjol. Mortalitas di kalangan
kulit hitam Amerika Serikat lebih tinggi dari etnis lainnya, juga lebih tinggi dari orang kulit
hitam di Afrika, yang berarti faktor lingkungan tertentu berperanan dalam variasi etnis tersebut.
Walaupun terdapat banyak faktor epidemiologis, tapi tidak banyak membantu dalam
menentukan kelompok risiko tinggi.5,6

Etiologi
Etiologi kanker pankreas hingga kini belum sepenuhnya jelas. Data survei epidemiologi
menunjukkan insiden meningkat berhubungan dengan merokok, lemak dan protein berlebih
dalam diet, dan kekacauan hormonal metabolisme, serta faktor genetik, dll.7
Patologi
Lokasi timbulnya kanker pankreas tersering adalah di daerah kaput pankreas, yaitu 60%,
kemudian disusul kanker kauda sebanyak 30%, dan kanker seluruh pankreas yang jarang terjadi,
yaitu sekitar 10%.6
1. Makroskopik
Secara visual ukuran kanker barvariasi, bentuk tak beraturan, batas tidak jelas dengan jaringan
sekitarnya, dan konsistensi agak keras; tapi kanker asinar lebih lembut, potongan penampang
berwarna putih kelabu atau kuning kelabu, menyerupai jaringan penunjang.6
2. Klasifikasi Histologis
Klasifikasi histologis kanker pankreas belum ada kesepakatan baku. Tapi klasifikasi histologis
berikut ini dapat menjadi rujukan. Karsinoma sel duktus berasal dari epitel duktus pankreatik,
meliputi adenokarsinomapapilar, adenokarsinomatubular. Kistadenokarsinoma, karsinoma epitel
skuamosa, adenokarsinoma skuamosa, karsinoma musinosa. Karsinoma asinar dari asinus
glandula. Karsinoma sel pulau Langerhans dari sel pulau Langerhans. Diantaranya yang berasal
dari sel epitel duktus pankreatik menempati 90% lebih angka kejadian kanker pankreas.7
3. Jalur Metastasis dan Perluasan
Pankreas terletak retroperitoneal, sekitarnya terdapat organ vital, terdapat banyak kelenjar limfe
regional dan jaringan saluran limfatik, pembuluh darah, dan saraf, sehingga mudah
bermetastasis. Secara klinis sering ditemukan lesi kecil pada pankreas sudah memiliki metastasis
limfogen dan hematogen, bahkan implantasi intraperitoneal. Selain itu, perluasan menelusuri
jaras saraf merupakan pola penyebaran relatif khas dari karsinoma pankreas.6,7
4. Onkogen
Penelitian mutakhir menemukan sekitar 75-90% spesimen karsinoma pankreas memiliki mutasi
gen K-ras, dan sekitar 70% karsinoma pankreas memiliki mutasi gen p53. Walaupun peranan
mereka dalam insiden dan propagasi karsinoma pankreas belum jelas, tapi penelitian terhadap

18
mereka dapat memberikan modalitas terapi baru secara klinis, juga memperdalam pemahaman
kita tentang peranan berbagai faktor terkait dalam proses timbulnya karsinoma pankreas.6,7

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis kanker pankreas terutama ditentukan lokasi tumbuhnya kanker, apakah
organ sekitar terkena, dan apakah terdapat komplikasi. Secara umum, karsinoma kaput pankreas
relatif sering menimbulkan gejala lebih awal, sedangkan karsinoma korpus kauda sangat jarang
menimbulkan gejala pada stadium awal.
Nyeri abdomen, merupakan keluhan tersering kanker pankreas. Sekitar 60% lebih pasien datang
dengan keluhan pertama sakit perut. Kekhasan dari nyeri perut kanker pankreas adalah lokasinya
lebih dalam, areanya tidak begitu tegas, dan tersering di abdomen atas. Menurut lokasi tumor,
sakit perut kanker kaput pankreas umumnya condong ke abdomen kanan atas, sementara kanker
kauda pankreas condong ke abdomen kiri atas. Pada stadium awal, karena obstruksi tidak total
dari duktus koledokus atau duktus pankreatikus, sehabis makan aliran empedu tidak lancar,
sehingga pasien sering merasa tidak enak atau nyeri samar di abdomen atas. Ketika obstruksi
total, nyeri tumpul abdomen atas menjadi jelas, lebih hebat sehabis makan. Pada pasien stadium
sedang dan lanjut, sering terdapat nyeri punggung dan pinggang, dan berkaitan dengan postur
tubuh, bertambah hebat bila berbaring terlentang. Bila tubuh membungkuk atau miring ke
depan, atau tidur miring, nyeri berkurang. Pada malam hari pasien sering tidak berani tidur
terlentang sehingga tidur telungkup atau dalam posisi duduk miring ke depan.8
Ikterus, terutama ditemukan pada kanker kaput pankreas. Walaupun ikterus dapat menjadi
gejala pertama kanker pankreas tapi bukanlah manifestasi stadium dini. Dahulu banyak
ditekankan kekhasan ikterus kanker pankreas berupa ikterus progresif bertahap memberat, tapi
belakangan observasi menemukan sebagian pasien mengalami ikterus yang fluktuatif, ketika
tumor dengan peradangan diberikan terapi obat anti radang atau terapi hormonal dapat
mengalami pengurangan sementara. Selain itu kebanyakan pasien disertai nyeri abdomen
dengan intensitas bervariasi, dan hanya sekitar 25% pasien dengan ikterus tanpa nyeri.8
Hepatomegali. Sekitar 50% pasien dapat mengalami hepatomegali, sebabnya terutama karena
kolestasis, dan kadang kala karena hipertensi portal atau metastasis kanker.
Pembesaran Kandung Empedu. Ketika kanker pankreas menimbulkan ikterus obstruktif
ekstrahepatik, kadang kala dapat diraba pembesaran kandung empedu. Berdasarkan hukum
Courvoisier (ikterus tanpa nyeri – pembesaran kandung empedu), diagnosis banding dari
kolelitiasis memiliki makna penting. Tapi pada kenyataannya, pasien kanker pankreas dengan
ikterus yang teraba pembesaran kandung empedunya tidak sampai setengah. Mungkin ini
berkaitan dengan tertutup pembesaran hati dan tidak membesarnya kandung empedu dengan
kolesistitis kronis.7,8

19
Pengurusan. Penurunan berat badan merupakan gejala yang sering ditemukan pada kanker
pankreas (65-90%). Kekhasan pengurusan pada pasien kanker pankreas adalah progresinya
cepat.
Massa Abdominal. Lokasi pankreas dalam, pada pasien kanker pankreas umumnya tidak mudah
teraba massa abdominal. Begitu teraba massa abdominal, terlepas dari lesi primer atau
metastasisnya, umumnya menunjukkan penyakitnya sudah lanjut.5,6

Diagnosis

Karsinoma pankreas merupakan tumor ganas sistem pencernaan yang sering ditemukan.
Namun dibandingkan tumor ganas sistem pencernaan lain, efek terapi dan prognosisnya belum
memuaskan, terutama karena lokasi pankreas yang dalam di retroperitoneal tidak mudah
dideteksi dini. Selain itu, karsinoma pankreas sangat ganas dan progresinya cepat. Maka banyak
ahli tengah berupaya menemukan teknologi diagnosis karsinoma pankreas yang lebih peka dan
spesifik, agar karsinoma pankreas dapat dideteksi dini, didiagnosis dini, sehingga dapat
ditentukan metode terapi yang lebih baik untuk meningkatkan survival pasien. Dewasa ini
kebanyakan diagnosis kanker pankreas adalah berdasarkan gejala klinisnya, yaitu nyeri
abdomen, ikterus, penurunan berat badan, massa abdominal, dll; pemeriksaan laboratorium;
pengukuran CA 19-9 serum; USG; CT; dll.1,4
Pada pemeriksaan laboratorium, ketika kanker kaput pankreas menimbulkan ikterus
obstruktif, dapat ditemukan kadar bilirubin serum meninggi. Pasien juga dapat mengalami
hiperglikemia puasa, dan uji toleransi glukosa positif. Pemeriksaan CEA pada stadium awal
angka positif rendah (sekitar 30%), dan tidak spesifik, secara klinis umumnya digunakan untuk
menilai hasil operasi dan memonitor tindak lanjut. Antigen terkait saluran cerna (CA 19-9)
dianggap sebagai parameter diagnostik kanker pankreas, angka positif pada serum kanker
pankreas mendekati 85%, spesifisitas sekitar 70%.5,6

Diagnosis Banding
1. Kolelitiasis
2. Pankreatitis kronis
3. Hepatitis
Keluhan utama berupa rasa tak enak abdomen atas ataupun nyeri abdomen dari kanker
pankreas perlu dibedakan dari kelainan kronis lambung, kolelitiasis, pancreatitis kronis, dan
hepatitis. Kanker pankreas berprogresi cepat, efek sistemik relatif besar, dan dalam jangka
pendek pasien jelas mengurus. Dengan pemeriksaan laboratorium penunjang dan pencitraan,
sebagian besar dapat dibedakan. Tapi dengan penkreatitis kronis pembedaan sulit, bahkan bila
perlu harus dilakukan biopsi jarum halus perkutan atau biopsi jarum halus intraoperatif untuk
memastikannya.7,8

20
Terapi Simptomatik
Pasien karsinoma pankreas umumnya menderita nyeri yang hebat dan sering disertai gizi
buruk berat, kekacauan metabolik, dan komplikasi gangguan fungsi system organ lainnya. Maka
terapi tertuju pada keluhan (terapi simptomatik) dan suportif dalam terapi karsinoma pankreas
khususnya stadium lanjut sangatlah penting. Obat analgesik dapat secara efektif mengatasi nyeri
pasien karsinoma pankreas. Dengan mengendalikan nyeri dapat memperbaiki kondisi umum dan
kualitas hidup, sehingga memperpanjang masa survival. Selain itu, dukungan gizi yang tepat,
mengoreksi kekacauan metabolik, dan menjaga fungsi faal organ vital memiliki efek terapetik
tertentu. Sejalan perkembangan ilmu terapi tumor, semakin banyak metode terapi dihasilkan,
seperti terapi biologis dan terapi hormonal dimanfaatkan dalam terapi karsinoma pankreas.
Walaupun berbagai metode terapi itu masih dalam taraf penelitian dan eksperimen, tapi dapat
diestimasikan bahwa strategi terapi kombinasi multidisipliner akan menjadi arah utama
perkembangan terapi terhadap karsinoma pankreas ke depan.5,8

Prognosis
Prognosis karsinoma pankreas buruk, dan survival 5 tahun keseluruhan tak sampai 10%.
Karsinoma terlokalisasi kaput pankreas tanpa metastasis pasca reseksi memiliki angka survival
jangka panjang hanya 20%, dengan masa survival median berkisar 13-20 bulan. Walaupun
dilakukan operasi radikal pankreatikoduodenektomi, rekurensi tetap tinggi. Pasien yang hanya
dioperasi memiliki rekurensi lokal mencapai 85%, sedangkan dari yang mendapatkan radioterapi
dan kemoterapi selain operasi, terdapat 50-70% menderita rekurensi lokal serta metastasis
terutama ke hati. Karsinoma invasif lokal tapi tanpa metastasis paska operasi memiliki masa
survival median 6-10 bulan, tetapi bila dengan metastasis masa survival lebih pendek, hanya 3-6
bulan, ditentukan dari kondisi umum dan keparahan penyakitnya.2,3

21
Analisa Kasus

Pada pasien ini, pasien mempunyai keluhan seluruh tubuh, sklera mata yang ikterik. Dan juga
adanya nyeri perut abdomen atas yang sering muncul. Ini dapat menerangkan bahwa telah
terdapat gejala yang mengarahkan terhadap adanya masalah pada pankreas, vesica fellea,
ataupun hepar. Namun setelah dilakukan pemeriksaan USG abdomen didapatkan kesan
dilatasi/distensi Gall bladder ec obstruksi ec massa pada caput pancreas .
Pada kasus ini terdapat ikterik dan peningkatan kadar bilirubin, menandakan adanya
gangguan pada prooduksi, transportasi,sekresi maupun ekskresi. Namun karena pada pasien ini
peninkatan cenderung pada bilirubin indirek dan direk, dimungkinkan pada transportasi yang
tidak adekuat pada transportasi post hepatal. Pada karsinoma daerah kaput pankreas dapat
menyebabkan obstruksi pada saluran empedu dan ductus pankreatikus daerah distal, hal ini
dapat menyebabkan manifestasi klinik berupa ikterus, disebut juga ikterus
obstruktivus.Kemudian pada kasus terdapat nya peningkatan enzim hati, yakni SGOT dan SGPT
menandakan adanya kerusakan hati.

22
TINJAUAN PUSTAKA

1. Mayer, J Robert. Pancreatic Cancer. In: Kasper L, Denis et all. Harrison’s Principles of

Internal Medicine .16th Edition. United States of America: McGraww Hill Companies, Inc.

2005; Chapter 79

2. Padmomarono, F Soemanto. Kanker Pankreas. In: Sudoyo, Aru W dkk. Buku Ajar Ilmu

Penyakit Dalam. Edisi Keempat. Jakarta: Interna Publishing.2006; hal 492-6

3. Lindseth, N Glenda . Gangguan hati, Kandung Empedu, dan Pankreas. In: Price, Sylvia A.,

Wilson, Lorraine M. Patofisiologi Edisi 6 Volume 1. Jakarta. Penerbit EGC. 2003; hal 507-8

4. Boer, Aswar. Ultrasonografi Pankreas. In: Ekayuda, Iwan. Radiologi Diagnostik. Edisi

Kedua. Jakarta. Balai Penerbit FK UI. 2009: hal 483-8

5. Hariharan, D; Saied, A.; Kocher, H. Analysis of mortality rates for pancreatic cancer across

the world. The Official Journal of the International Hepato Pancreato Biliary Association.

Blackwell Publishing. Available from www.ncbi.nlm.nih.gov, updated december 20, 2007

6. Varadarajulu, Shyam; Wallace ,Michael B. Application of endoscopic Ultrasonography in

Pancreatic Cancer. Cancer control: Journal of the Moffitt Cancer center. Available from

www.medscape.com updated September, 2004

7. Iljas, Mohammad. Ultrasonografi Traktus Biliaris dan Hati. Dalam: Ekayuda, Iwan.

Radiologi Diagnostik. Edisi Kedua. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2009: hal 458-72

8. Sanityoso, Andri. Hepatitis virus akut. In: Sudoyo, Aru W dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit

Dalam. Edisi Keempat. Jakarta: Interna Publishing. 2006.

23