Anda di halaman 1dari 39

“GEDUNG PERTUNJUKAN SENI TEATER BANDUNG”

Tema :
“ Dinamis Modern Desain”

AR 500– TUGAS AKHIR ARSITEKTUR SEMESTER


GENAP - TAHUN AKADEMIK 2016/2017

LAPORAN PERANCANGAN TUGAS AKHIR ARSITEKTUR


Merupakan sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana
Teknik Arsitektur

Oleh :
Septya Ayu Vatrina
21-2015-208

Pembimbing :
Dr. Nurtati Soewarno, Ir., MT.
Theresia Pynkyawati, Ir., MT.

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS

TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT

TEKNOLOGI NASIONAL

BANDUNG

2017
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Teater

Teater adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran
di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gerakan tubuh,
mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain.

Pengertian dalam arti sempit drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang
diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media percakapan,
gerak dan laku, dengan atau tanpa dekor (layar dan sebagainya), didasarkan pada
naskah tertulis (hasil seni sastra) dengan atau tanpa musik, nyanyian, tarian
(Harymawan, 1988).

2.1.1 Fungsi Gedung Pertunjukan Teater


Gedung pertunjukan teater memiliki fungsi untuk mewadahi aktifitas
seni pertunjukan dari seniman kepada penonton. Gedung teater memiliki
ukuran dan fungsi yang bervariasi. Sebuag gedung teater akan memiliki
bentuk dan ukuran yang berbeda sesuai pertunjukan yang ditampilakn (Strong,
2010).
Gedung teater adalah dengan adanya bentuk tempat duduk dilantai
bawah (yaitu penonton duduk pada bidang besar berbentuk kurva yang
menanjak/naik) dan melalui sebuah depan panggung yang tampak jelas, depan
panggung yang dapat dicontoh (bidang pertunjukan sebelum pintu gerbang di
ruang penonton) (Neufert, 2002).

2.1.2 Ruang – Ruang Pada Gedung Pertunjukan Teater


Setiap aktivitas yang dilakukan oleh pengguna di dalam gedung teater
tentunya membutuhkan ruang untuk mewadahi setiap kegiatan. Dengan
demikian terdapat beberapa ruangan yang harus disediakan pada gedung teater.
Ruang-ruang tersebut tentunya memiliki standart sesuai dengan fungsinya
dibagi menjadi dua jenis yaitu:
A. Ruang Publik
Kedatangan dan Drop Off, sebagai tempat kedatangan dan
turunya pengunjung.
8
Entrance dan lobi, sebagai akses masuk pengunjung
Foyer (Tempat Menunggu), sebagai tempat menunggu bagi
pengunjung sebelum pertunjukan mulai.
Pusat informasi, tempat untuk pelayanan informasi.
Loet tiket, tempat penjualan tiket.
Tenant souvenir, menjual barang-barang souvenir atau
cinderamata.
Penitipan barang, sebagai tempat fasilitas penitipan barang bagi
pengunjung
Toilets
Cafeteria
Ruang khusus pendidikan, sebagai tempat untuk pendidikan
bagi pengunjung atau tempat khursus.
Ruang konfersi
Ruang pameran
B. Ruang pendukung
Kantor pengelola dan keamanan
Ruang teknisi.
Ruang pertolongan pertama
Ruang ganti
Ruang pengarahan
Ruang control
Ruang arsip
Ruang merchandise
Dapur
Janitor

2.1.3 Jenis-jenis Auditorium pada gedung Pertunjukan

Proscenium
Panggung Proscenium biasa disebut juga sebagai panggung
berbingkai karena penonton terhadap panggung dibatasi oleh
bingkai. Bingkai dipasang dengan layar atau tirai yang
memisahkan panggung dengan penonton. Pemisahan ini
dilakukan agar saat pergantian tata panggung dapat dilakukan
langgung tanpa harus terlihat penonton.

Gambar 2.1. Procenium Arch, The Opera House Oslo, Norways


Sumber: Theatre Building A Design guide (Strong,2010)

Forstage
Merupakan adaptasi/aspek dari design teater prosecenim,
dengan bentuk yang hamper sama.
End Stage
End Stage merupakanabstraksi dari proscenium stage.
Orientasi penonton hanya lurus kedepan panggung tanpa
mengelilingi

Gambar 1.2. Netherlands Dance theatre, The hague, the Netherlands


Sumber: Theatre Building A Design guide (Strong,2010)

panggung. Biasanya letak end stage dikelilingi 4 bidang


dinding. Karakterikstik dari desain panggung iniadalah keempat
sudut daerah pertunjukan dapat terlihat.
Corner Stage 90º
Corner Stage 90º arc adalah panggung yang membentuk sudut
90º yang memiliki sayap pada panggung sebelah kiri dan kanan.
Artis pertunjukan dapat memasuki area penonton karena
penonton mengelilingi bagian depan panggung.
Gambar 2.2. corner stage format, The Oliver Auditorium di National Theatre
Sumber: Theatre Building A Design guide (Strong,2010)

The Wide Fan


Wide Fan mirip seperti Corner Stage 90°, namun memperluas
area penonton oleh tempat duduk menjadi sekitar 135 °. Seperti
Corner Stage 90°, dengan menjoroknya panggung terhadap
tempat penonton, dapat meningkatkan rasa kedekatan secara
visual tanpan harus mengurangi keintiman visual dan aural, dan
keuntungannya penonton tidak perlu menoleh untuk melihat
semua adegan.

Gambar 2.3. Bayreuth Opera, Germany


Sumber : www.Askergren.com & www.Bavaria.by

2.1.4 Desain Tempat Duduk Pada Gedung Teater

Sususan tempat duduk adalah komponen penting dalam auditorium


yang nanti akan berpengaruh kepada kenyamanan visualisasi dan suara kepada
penonton. Susuan letak tempat duduk ini di tentukan sesuai dengan format
hubungan antara visual penonton dan pettunjukan di panggung. Berikut faktor-
faktor dalam mendesain tempat duduk:
Baris Kursi
Tempat duduk dengan sistem tradisional, memiliki
patokan standar terbatas, dengan 22 kursi dalam 1 baris
apabila memilik 2 gang yang terletak pada sebelah kiri dan
kanan, sedangkan 11 kursi 1 baris apabila hanya terdapat
gang pada samping baris kursi.
Continental Seating mengacu pada baris kursi dengan lebih
dari 22 kursi yang memanjang ke sisi gateway dan lebih
keluar dibandingkan tempat duduk konvensional.
Continental Seating lebih tepat dengan format proscenium
untuk mencapai sisi dinding ke baris dinding samping kursi.

Jarak antara Baris ke Baris kursi


Jarak setiap baris ini menentukan kenyamanan penonton
saat mencapai tempat duduk dan kenyamanan saat sedang
menonton pertunjukan yang ditentukan dari jarak kursi
terdepan dengan dudukan bagian depan kursi belakang.
Dimensi untuk tempat duduk tradisional minimum adalah
300 mm dan untuk Continental Seating jarak antara 400mm
- 500mm.

Gambar 2.4 seat down


Sumber : Building for Performing Arts, 2nd (Appleton, I, 2008)
Gangways
Gang ini merupakan akses sirkulasi yang terbesar dalam
auditorium bagi penonton yang lebarnya ditentukan dengan
jumlah tempat duduk yang disediakan. Lebar minimum
adalah 1100 mm. Perhitungan sightline harus diperhatikan,
agar orang yang melewati gang tidak menggangu penonton.
Sighline ( Jarak Pandang)
Jarak pandang dirancang sebaik mungkin untuk
kenyamanan penonton dari segi visual dan pendengaran.
Berikut standar yang perlu diperhatikan dalam jarak
pandang temapt duduk.
P adalah titik terdekat dan terbawah sudut pandang
penonton untuk melihat panggung agar dapat
melihat pertunjukan dengan jelas. Untuk opera,
musik dan drama, titk P tidak boleh lebih dari
600mm di atas panggung.

HD adalah jarak horizontal antara mata penonton satu


ke penonton dalam satu baris dapat bervariasi dari
760 sampai 1.150 mm.

EH adalah tinggi rata–rata mata saat penonton duduk


dikursi yaitu 1.120 mm.

E adalah jarak dari pusat mata ke atas kepala,


dimensi minimal yaitu 100mm untuk perhitungan
sightlines. Untuk jaminan bahwa ada pandangan
yang jelas diatas kepala orang di barisan depan,
dimensi ini harus minimal 125mm.

D adalah jarak dari titik P ke mata penonton di


barisan terdepan. Semakin dekat baris pertama
dengan panggung, jarak D akan semakin curam.
Untuk musik orkestra dan paduan suara,
membutuhkan orchestra pit sehingga adanya ruang
di depan panggung.
Gambar 2.5 Jarak Pandang penontoon ke panggung
Sumber : Building for Performing Arts, 2 nd (Appleton, I, 2008)

Dimensi Tempat Duduk


Desain dan dimensi tempat duduk ini disesuaikan dengan
berat badan, tinggi dan lebar dari penonton yang beragam-
ragam, sehingga terdapat standar untuk dimensi tempat
duduk ini. Dengan standar ini inilah yang membantu dalam
mendesain letak dan spasi baris dari tempat duduk.

Gambar 2.7 Petunjuk Dimensi Tempat Duduk


Sumber : Adler, D, 2003 : 60
Table 2.1 Standart Dimensi Tempat Duduk

Sumber : Adler, D, 2003 : 60

2.1.5 Sistem Tata Akustis Gedung Pertunjukan Teater

Sebuah sistem akustik dirancang dengan baik adalah salah satu kunci
dalam keberhasilan setiap gedung pertunjukan seni teater. Pendekatan dasar untuk
proses desain adalah untuk menetapkan lokasi pusat untuk sound system peralatan
dan patch, jenis fasilitas yang dibutuhkan seluruh bangunan, dan posisi di mana
fasilitas yang diperlukan.

A. Sistem Pengeras Suara


Pencitraan dari sumber suara dalam teater sangat penting . Para pendengar
harus bias merasakan bahwa suara yang datang adalah dari suara pelaku dan
pengeras suara yang tergantung pada proscenium. Posisi ideal kedua sisi
proscenium adalah ranka tangga tetap atau “booming proscenium” dari dimana
sistem speaker (dan beberapa unit pencahayaan) dapat digantung.

Gambar 2.8 Tata Letak Sound System


Sumber : Strong, J. 2010 : 132
A. Sistem Pengeras Suara
B. Sistem Pengeras Suara
Gedung pertunjukan teater harus memiliki ruang yang dapat
menyimpan semua peralatan sound system yang dibutuhkan.
Sebuah teater kecil/ruang studio kapasitas 250 kursi keatas
kemungkinan akan membutuhkan 3 atau 4 rak peralatan, yang
berarti ruang peralatan minimal 3m x 4m.
Sebuah teater menengah hingga 750 kursi akan membutuhkan 7 atau
8 rak ,dan membutuhkan ruang 5m x 4.5m.
Sebuah teater besar 1.200 kursi atau lebih, kemungkinan akan
membutuhkan 10 atau lebih rak dan kamar minimal 5m x 6m. Teater
berkapasitas besar ini mungkin juga perlu peralatan lain dekat
dengan ruangan loudspeaker untuk mengakomodasi amplifier.

Gambar 2.9 Ruang Penempatan Sound System


Sumber : Strong, J. 2010 : 129

C. Ruang Kontrol
Sebagai aturan umum ruang kontrol suara terletak di belakang
auditorium (bagi yang tidak menyediakan ruang operasi untuk sebagian
besar acara). Ada juga yang menggunakan ruangan berjendela untuk
ruang control suara /mixer room.
Ruang kontrol suara untuk teater
Ruang kontrol bersama oleh beberapa personel (pencahayaan,
manajemen panggung, otomatisasi, dll) dengan jelas pandangan ke
panggung.
Jendela harus miring beberapa derajat untuk mencegah
operator dapat melihat refleksi mereka sendiri di kaca.
Sebuah bukaan jendela meningkatkan komunikasi selama
set-up dan latihan.
lantai komputer sering digunakan untuk mengelola kabel
untuk dipasang patch dan peralatan rak.

Ruang kontrol terpisah antara lighting, sounds dan video


Sebuah pengaturan yang lebih baik adalah membagi ruang kontrol sesuai
fungsi dengan ruang terpisah untuk pencahayaan, suara dan peralatan
video proyeksi. Efektivitas ruang kontrol untuk mixer sound akan
tergantung pada daerah dari bukaan jendela dan kedalaman balkon setiap
overhang depan.

Gambar 2.10 Pemisahan Ruang Kontrol


Sumber : Strong, J. 2010 : 135

Sistem Penghawaan
Dasar pertimbangan pemilihan sistem penghawaan pada gedung teater,
antara lain :
Analisa suhu rata-rata suatu daerah yang direncanakan.
Volume ruang sangat erat hubungangnnya dengan sistemp
penghawaaan sehingga menjadi penentu besar dan kecilnya
kebutuhan pengahawaan dalam ruang.
Sifat, kebutuhan serta jenis ruang yang diinginkan menjadi salah satu
pertimbangan dalam menentukan system penghawaan. Biasanya
menggunakan AC central pada auditorium.
Standar kenyamanan sebuah ruang (Termal Comfort) berkisar antara
18o--20oC, selisih suhu pada ketinggian 0,5m – 1,5m diatas lantai
kurang dari 2oC.
Sistem penghawaan alami yaitu penggunaan bukaan sebagai sirkulasi
udara dengan cross ventilation.
Sistem penghawaan buatan yaitu penghawaan dengan penggunaan
teknologi yang mampu memberikan kenyamanan suatu ruang hingga
terpenuhinya termal comfort.

Gambar 2.11 Distribusi Udara Dingin Dan Udara Panas


Sumber : Strong, J. 2010 : 35

2.2 Studi Banding


Dalam perancangan gedung pertunjukan seni teater ini membutuhkan studi
banding dengan gedung – gedung sejenis yang sudah ada. Studi banding ini di
lakukan agar dapat menjadi refrensi dalam merancangan gedung pertunjukan seni
teater.

2.2.1 Albi Grand Theatre

Gambar 2.12 Albi Grand Theatre


Sumber : www.galeryarsitektur.com
Architects : Dominique Perrault Architecture
Location : Grand Théâtre, 81000 Albi, France
Area : 34000.0 sqm
Year : 2014

Local Architect : Christian Astruc Architects


Structure : VP GREEN
Mechanical Engineering : ETCO
Economist : RPO
Scenograph : Changement à vue
Acoustics : Jean-Paul Lamoureux

′Albi Grand Theatre ‘ telah direalisasikan menyusul Proposal


menangnya kompetisi pada tahun 2009 oleh arsitektur Dominique Perrault.
Terletak di pusat bersejarah kota Perancis selatan, bangunan bujursangkar yang
stabil disandingkan dengan berat jala tembaga yang dinamis dan cahaya yang
membungkus di empat ketinggiannya.
The Albi Grand Theatre muncul sebagai simbol arsitektur yang luar
biasa, di pinggiran pusat bersejarah. Memberikan prioritas terhadap kehadiran
Grand Theatre menjadi ruang publik dan fasilitas budaya sebagai pusatnya.
Bangunan Athanor yang dijaga dimodifikasi menjadi pintu masuk bioskop.
Menawarkan lobi besar, dengan beberapa toko-toko dan kafe. Di ruang bawah
tanah, terdapat ruang skrining. Jadi dasar tempat teater benar-benar untuk
kompleks sinematografi. Penggunaan ruang bawah tanah untuk inset beberapa
taman, mobil, dan bioskop, Kualifikasi di tingkat dasar ruang publik untuk
kebudayaan, Kesederhanaan dan kekompakan, menawarkan efisien, fleksibel dan
ekonomi instrumen teater.
Gambar 2.13 pemukiman sekitar Albi grand theatre
Sumber: www.galeriarsitektur.com

Perhatian khusus itu memberikan dampak di perkotaan, penambahan


fasilitas untuk kota bersejarah. Koridor pejalan kaki batas sebelah utara, dan
langsung mengakses ke berbagai lembaga kebudayaan termasuk museum,
taman, dan sebuah gereja terkemuka. Volume gedung bujursangkar
berorientasi dalam hal jalan yang berdekatan, général de gaulle avenue.
Langkah ini menciptakan dua ruang luar segitiga menghadap ′gang budaya′
dan pintu masuk utama grand Theater. teras atap memungkinkan untuk dilihat
dari konteks kota.

Gambar2.14. Layar tembaga melengkung kontras dan masker volume gedung


bujursangkar sumber : www.galeriarsitektur.com

Bangunan terbuat dari beton, ditutup dengan batu bata. Untuk


menciptakan arsitektur bahan mono.Untuk soliditas batu bata, tidak
menggunakan penutup halus dan ringan, yang berbrntuk prisma teater.
Menggunakan material mesh logam, tembaga berwarna merah, dan tidak
berkarat, seperti pakaian, mengambil vertikalitas bangunan di kedua belah
pihak, dan akan mengambil di sisi lain, akan membuka seperti kain penurunan
besar pada tempat teater dan bioskop. Memanfaatkan refleksi, warna, sehingga
bangunan terlihat terang dengan cahaya alami.

Gambar 2.15. Interior Hal Albi Grand Theatre


sumber : www.galeriarsitektur.com

Gambar 2.16. Interior Albi Grand Theatre


sumber : galeriarsitektur.com

Gambar 2.17.Ruang Auditorium


Sumber: www.galeriarsitektur.com
(sumber : galeriarsitektur.com)

Gambar 2.18 Potongan Albi Grand Theatre


Sumber: www.galeriarsitektur.com

Gambar 2.19 Denah Albi Grand Theatre


Sumber: www.galeriarsitektur.com

2.2.1 Guangzhou Opera House

Gambar 2.20 Guangzhou Opera House


Sumber: www.galeriarsitektur.com
Architects :Zaha Hadid Architects
Location :Guangzhou, Guangdong, China
Project Director :Woody K.T. Yao, Patrik Schumacher
Project Leader :Simon Yu
Project Team :Jason Guo, Yang Jingwen, Long Jiang, Ta-Kang Hsu,
Yi- Ching Liu, Zhi Wang, Christine Chow, Cyril Shing,
Filippo Innocenti, Lourdes Sanchez, Hinki Kwong,
Junkai Jiang
Area :70000.0 sqm
Project Year :2010

Gambar 2.21 Eksterior Guangzhou Opera House


Sumber: www.galeriarsitektur.com

Gambar 2.22 Blokplan Guangzhou Opera House


Sumber: www.galeriarsitektur.com

Konsep yang ada pada bangunan ini yaitu dapat menyatukan alam dengan
lingkungan dalam cukup menarik, tapak yang terletak pada pingiran sungai dapat
memberikan view yang baik bagi pengguna. Desain bangunan yang cukup unik
akan di terapkan pada Gedung Perunjukan Seni Teater Bandung yang memiliki
kesamaan tapak. Penggunakan material pada bangunan ini juga akan di terapkan
pada Gedung Pertunjukan Seni Teater Bandung seperti kaca yang melengkung dan
bahan akustik yaitu gypsum.
2.2.3 Ciputra Artpreneur

Gambar 2.23 Ciputra Artpreneur


Sumber: www.archidaily
Architects :Benoy
Location :Ciputra World, Jalan Professor Doktor Satrio, Setia
Budi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota
Jakarta 12940, Indonesia
Area :14000.0 sqm
Project Year :2014
Photographs :Courtesy of Benoy
Interior Designers :Benoy
Developer :PT Ciputra Adigraha
Theatre Consultant :Phillip Soden

Ciputra Artpreneur adalah salah satu tempat budaya terbaru dan paling
signifikan Jakarta, unik terintegrasi ke tingkat atas Ciputra World Jakarta Mall,
tengara komersial yang terletak di jantung kota Golden Triangle. Sebagai
tambahan besar untuk Seni untuk Indonesia, skema memberikan 14,000m2
fasilitas kinerja dan seni termasuk teater 1.200 kursi, galeri pameran fleksibel
dan permanen, museum, dan kamar multifungsi.

Gambar 2.24 Interior Ciputra theatre


Sumber: www.archidaily.com
Puncak Desain Interior Benoy untuk Arts Centre adalah keadaan seni
Ciputra Theatre. Sebagai yang pertama venue berstandar internasional di
Indonesia, ia mampu hosting produksi tur besar dari seluruh dunia termasuk
opera, simfoni dan balet.

Gambar 2.25. Ruang auditorium


Sumber: www.archidaily.com
Sebuah auditorium gaya proscenium dengan tempat duduk lebih dari dua
tingkat, ruang menampung 865 kursi di tingkat kios dan 365 di balkon. Bentuk
oval teater memungkinkan untuk sudut pandang yang sempurna, memberikan
pengalaman visual terbaik bagi para penonton

Gambar 2.26 Denah ciputra Theatre


Sumber: www.archidaily.com

Jakarta adalah kota global yang muncul dan Benoy telah menangkap
esensi ini dengan menciptakan visual yang benar-benar unik untuk ruang.
Dirancang dengan interior geometris mencolok, Teater dibawa ke kehidupan
dengan dinding faceted dan langit-langit merinci. Bentuk khas dibuat dengan
panel sel lembut ditutupi oleh kain peregangan dan lebih ditekankan dengan
strip diterangi. Tirai akustik duduk di belakang panel soft-sel memastikan
isolasi suara penuh untuk tempat kinerja.
Gambar 2.27. Potongan Auditorium
Sumber: www.archidaily.com

Benoy juga balik Desain Interior Galeri Utama. Fleksibel dinding


interchanging memungkinkan ruang untuk mengakomodasi baik pameran
besar atau serangkaian pameran yang lebih kecil secara bersamaan.
Mengambil keuntungan dari pemandangan Jakarta, segelas dinding tiga lantai
berjalan sepanjang satu sisi korban sekilas dari pusat kota. Pada setiap akhir
ruang galeri, dua tangga spiral yang mencolok membantu tamu mengarah ke
Theatre di atas, memungkinkan Galeri Utama untuk menjadi tuan rumah pra
dan pasca-acara resepsi.

Gambar 2.28. Denah Plafond Ciputra theatre


Sumber: www.archidaily.com

Pengembang Ciputra telah lama dipromosikan seni lokal dan, khususnya,


bahwa dari artis terkenal Indonesia Hendra Gunawan. Sepanjang interior dan
desain Benoy, gaya yang sangat ekspresif dan kaya warna-warni Gunawan
telah serius terintegrasi, lanjut memastikan tempat menjadi bagian yang benar-
benar terpisahkan dari lanskap budaya Jakarta
BAB III
PROGRAM PERENCANAAN DAN ANALISIS

3.1 Studi Perencanaan


Studi kualitati terdiri dari program perencanaan aktivitas dan ruang berdasarkan
perkiraan kebutuhan dan aktivitas dalam tapak.

3.1.1 Struktur Gedung Pertunjukan Teater

DIREKTUR

Divisi Artistik Divisi Pemasaran Divisi Administrasi Divisi sarana prasarana

Sub Sub Sub Sub Sub Sub


Sub Divisi Divisi Sub Divisi
Divisi Divisi Divisi Divisi Divisi
Pagelarann Keuanga Perlengkapan
Program Promosi Humas Umum Gedung

Staff Stage Staff Staff Staff ME


Staff Staff
Manager Supervis

Cleaning
Lighting Supervis
Operator

Sound Security
Operator

Crew

Bagan 3.1. Struktur Organisasi Gedung Kesenian Jakarta


Sumber: http://library.binus.ac.id/

Pengelola Gedung Kesenian ini dipimpin oleh seorang direktur dan 4 orang
pembantu direktur yang mengepalai divisinya masing-masing. Berikut ini adalah
penjelasan mengenai tugas yang dimiliki para pegawai:

A. Divisi Artistik - berhubungan dengan kegiatan pemantasan dan pihak penampil


yang akan melakukan pertunjukan
Subdivisi Program mengurus perogram-program yang akan
diselenggarakan, dan berhubungn langsung dengan pihak penampil yang akan
melakukan pertunjukan.
Subdivisi Pergelaran mengurus jalannya pertunjukan terdiri dari seorang
stage manager, seorang lighting operator, seorang sound operator, dan
orang crew panggung.
B. Divisi Pemasaran - berhubungan dengan pihak-pihak di luar Gedung Pagelaran ini
Subdivisi Promosi menangani kegiatan promosi program –program.
Subdivisi Humas menjadi pihak yang berhubungan dengan pihak luar seperti
media, kedutaan besar, pusat kebudayaan asing, dan sponsor.
C. Divisi Administrasi - mengurus bagian administrasi.
Subdivisi Umum mengurus kepentingan karyawan.
Subdivisi Keuangan mengurus keuangan manajemen.
D. Divisi Sarana Prasarana - mengurus berbagai keperluan gedung
Subdivisi Perlengkapan - menyediakan semua kebutuhan operasional gedung
dan kebutuhan pertunjukan.
Subdivisi Gedung - melkukan pemeliharaan terhadap gedung.

3.1.2 Studi Kelayakan


Tabel 3.1. Jumlah Penduduk Jawa Barat
Jumlah Penduduk 2014-2016
Wilayah Jawa Barat
2016 2015 2014

Provinsi Jawa Barat 47.379.389 46.709.569 46.029.668

Kota Bandung 2.490.622 2.481.469 2.470.802

Sumber: Badan Statistik Provinsi Jawa Barat

Tahun 2016 total penduduk Kota Bandung berdasarkan hasil proyeksi


penduduk (BPS) mencapai 2.490.622 jiwa. Jika dibandingkan dengan
penduduk tahun 2015, maka tahun 2016 jumlah penduduk Kota Bandung
mengalami peningkatan sebersar 1%.
47.500.000
2.495.000

2014 2.490.000
47.000.000 2015
2016 2.485.000
46.500.000 2.480.000

2.475.000
46.000.000
2.470.000
45.500.000 2.465.000

2.460.000
45.000.000
Jumlah Penduduk Jawa Barat
Jumlah Penduduk Kota Bandung

2014 2015 2016

Bagan 3.2. Pertumbuhan Penduduk Jawa Barat dan Bandung


Sumber: Jawa Barat dalam angka

Untuk mnegetahui prediksi jumlah kapasitas penonton pertunjukan bisa


melakukan studi banding, untuk membandingkan data penonton pagelaran seni pada
bangunan yang memliki fungsi sebagai gedung pagelaran seni. Sebagai pembanding
untuk sebuah gedung pagelaran yang sejenis di Jawa Barat dipilihlah gedung Taman
Budaya Jawa Barat yang sering menggelar acara pagelaran seni budaya sunda yang
bertaraf provinsi di Jawa Barat. Gedung Taman Budaya memiliki kapasitas 640
penonton dengan asumsi semua tiket terjual habis .Selama 3 terakhir dari tahun 2016
terdapat 18 event pagelaran yang diselengarakan di gedung Taman Budaya.

Tabel 3.2. Data Even Gedung Taman Budaya 2016

No Tahun Nama Event Jumlah


Penonton

1 Feb, 2016 Pagelaran Seni Wayang Golek 640

2 Mar, 2016 Pagelaran Seni “Wayang Modern” 640

3 Mar, 2016 Gelar Seni Prigganhing 640

4 Apr. 2016 Pagelaran Seni Pencak Silat 640

5 Apr, 2016 Wayang Kulit “Hanoman Duta” 640

6 Mei, 2016 Gelar Seni Jabar “ Tari Wayang” 640

7 Jun, 2016 Pagelaran seni silat Tradisional 640

8 Jul, 2016 Festival Permainan Tradisional Jawa 640


Barat
9 Jul, 2016 Pekan Budaya Pariwisata Jabar 640

10 Jul, 2016 Pagelaran Seni Wayang Bekasi 640

11 Ags, 2016 Gelar An eka Ragam Seni Jabar 640


“Wayang Ringkang”

12 Ags, 2016 Pagelaran Seni “Konser Wayang 640


Tekno”

13 Sept, 2016 Gelar Aneka Ragam Seni Jabar di 640


Taman Budaya

14 Okt, 2016 Eksperimentasi Seni “Revolusi Musik 640


Bambu”

15 Okt, 2016 Gelar Aneka Ragam Seni Jabar “Kuda 640


Lumping”

16 Okt, 2016 Pagelaran Seni “Pencak Silat Inovasi” 640

17 Nov, 2016 Pagelaran Hasil Revitalisasi Seni 640


“Tayub”

18 Des, 2016 Gelar An eka Ragam Seni Jabar 640


“Bajidoran”

Sumber: Data Pribadi (diolah)

Calon pengguna berasal dari sekitar kawasan Gedung Pertunjukan. Gedung


Pertunjukan juga untuk menampung organisasi atau kelompok teatetr yang ada di kota
Bandung. berikut merupakan daftar dari organisasi yang ada di kota Bandung baik
dari kalangan pelajar , mahasiswa, dan umum

a. Kelompok Teater/Organisasi kota Bandung

Gambar 3.1 Peta Kelompok/Organisasi Tetare kota Bandung


Sumber: Googlemaps.com (diolah)
Tabel 3.3 Tabel Kelompok/Organisasi teater kota Bandung

Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

b. Kelompok Teater/ Organisasi mahasiswa kota Bandung

Gambar 3.2 Peta Kelompok/Organisasi Tetare mahasiswa kota Bandung


Sumber: Googlemaps.com (diolah)

Forum teater kapus bandung merupakan salah satu perkumpulan seluruh


organisasi teater mahasiswa yangada di kota Bandung. Forum ini juga
mengadakan perlombaan teater yang dapat meningkatkan daya tarik masyarakat
terhadap seni pertunjukan teater.
Tabel 3.4 Tabel Kelompok/Organisasi teater mahasiswa kota Bandung

Sumber: Forum teater kampus Bandung

c. Kelompok Teater/ Organisasi Pelajar kota Bandung


Tabel 3.5 Tabel Kelompok/Organisasi teater pelajar kota Bandung

Sumber: Festival teater bahasa sunda


d. Gedung Pertunjukan di kota Bandung

Gambar 3.3 Peta Gedung Pertunjukan di kota Bandung


Sumber: Googlemaps.com (diolah)
Tabel 3.6 Tabel Gedung pertunjukan di Kota Bandung

Sumber: Data Pribadi (diolah)

3.2 Program Ruang

3.2.1 Flow Activity

Bagan 3.3. Flow Activity Pengelola


Sumber: Data Pribadi (diolah)

33
Bagan 3.4 Flow Activity Pengelola
Sumber: Data Pribadi (diolah)
Bagan 3.5 Flow Activity Artis dan Crew
Sumber: Data Pribadi (diolah)

Bagan 3.6 Flow Activity Pengunjung


Sumber: Data Pribadi (diolah)

Bagan 3.7 Flow Activity Makro


Sumber: Data Pribadi (diolah)
3.2.2 Besaran Ruang
mber: Data
Pribadi

T
a
b
e
l Tabel 3. 8 Besaran Ruang Zona
Pengelola
3 Sumber: Data
. Pribadi
7

B
e
s
a
r
a
n

R
u
a
n
g

Z
o
n
a

U
t
a
m
a
S
u
Tabel 3. 9 Besaran Ruang Fasilitas Pendukung
Sumber: Data Pribadi

Tabel 3. 10 Besaran Ruang Area Servis


Sumber: Data Pribadi

PERITUNGAN REGULASI BANGUNAN


KDB = 70 % X 19.800 m2 = 13.860 m2 KDH = 30 % X 19.800 m2 = 5940 m2
KLB = 3,5 X 19.800 m2 = 69.300 m2
Jumlah lantai maksimal :
KLB / KDB = 69.300 m2 / 13.860 m2
= 5 lantai
3.3 Analisis Site
Indonesia Jawa

Bandung Jawa Barat

Gedebage

Gambar 3.4 Peta Lokasi


Sumber: Googlemaps.com (diolah)

3.3.1 Deskripsi Proyek


Nama Proyek : Gedung Pertunjukan Seni Teater Bandung
Sifat Proyek : Fiktif
Owner : Pemerintah
Sumber Dana : Pemerintah
Lokasi : Jalan Gedebage, kota Bandung
Batas Wilayah
Utara : Fasilitas Publik
Timur : Mix Use Building
Barat : Danau Retensi
Selatan : Taman terbuka hijau
KDB : 70%
KLB : 3,5
KDH : 20%
GSB : 1/2 lebar jalan
Luas : 19.800m2

Letak site yang strategis yang berada di kawasan pengembangan kota baru
teknopolis, lokasi site bangunan ini pun memberikan kesan kehidupan yang
modern dan yang indah karena berkonsep Green and Blue dengan view danau
retensi dan vegetasi tumbuhan. Akses langsung ke jalan raya terbesar di kota
Bandung yaitu jalan Soekarno Hatta, Akses ke jalan tol Padalarang-Cileunyi
(Padaleunyi) KM 149 yang gerbangnya berada didalam kawasan Summarecon
Bandung.
POTENSI KAWASAN / SITE
Lokasi tapak berada di perencanaan kawasan yang berbasis IT
Tapak dapat diakses langsung dari jalan Soekarno Hatta
Mempunyai Akses jalan tol Padalarang-Cileunyi (Padaleunyi)
Akses langsung ke rencana jalur dan stasiun kereta api Gedebage
Akses langsung ke rencana jalur monorel di stasiun Gedebage kota
Bandung
Akses langsung ke rencana jalur High Speed Train Jakarta-Bandung di
stasiun Gedebage
Akses langsung ke rencana stasiun terpadu

1 2

3 4

Gambar 3.5 Potensi di sekitar site


Sumber: Profil Summarrecon Bandung
1. Taman yang terletak bagian selatan site sebagai area hiburan dan berkumpul.
2. Stasiun kereta cepat Jakarta – Bandung
3. Area perbeanjaan dan perkantoran yang ada di sebelah timur site
4. Danau retensi/buatan yang ada di sekitar site.

3.3.2 Batasan Site

FASILITAS PUBLIK

PERKANTORAN

CONVENTION CENTRE

Gambar 3.6 Batasan Site


Sumber: Profil Summarrecon Bandung (diolah)
3.3.3 Tata Guna Lahan

Kawasan Komersil Gambar 3.7 Tata Guna Lahan


Kawasan Perkantoran Sumber: Profil Summarrecon Bandung (diolah)

Lokasi Site
Keterangan:

1. Bandung Intra Urban Rood


2. Bandung Creative Centre
3. Bandung Great Street
4. Plaza Summarecon Bandung
5. Summarecon Mall Bandung

Potensi
Berada di sekitar kawasan Komersial, juga terdapat kawsan pemukiman dan
perkantoran.
Kemudahan akses menuju site
Kendala
Bersampingan langsung dengan Fasilitas Publik
Site berada di bagian depan seingga terlihat jelas dari semua sisi.
Solusi
Dengan menyikapi tata gunalahan di sekitar lokasi site maka perancangan
zoning harus disesuaikan dan menampilan fasade yang memiliki empat muka.
3.3.4 Analisis Sirkulasi Kendaraan

Jalan Arteri

Jalan Utama

Gambar 3.8 Analis Kendaraan


Sumber: Profil Summarrecon Bandung (diolah)

Potensi
Lokasi site terdapat pada jalan utama yang dilalui kendaraan secara dua
aarah dengan lebar jalan 30 m.
Ada tiga jalur sirkulasi untuk menuju kawasa summarecon. Jalur pertama
melaluli jalan Soekarno-Hatta yang merupakan salah satu jalan terbesar
serta gerbang kota Bandung. Jalur kedua melalui tol dari arah Jakarta.
Jalur ketiga melalui jalan tol dari arah cileunyi
Setiap jalan memiliki 2 jalur berlawanan yang akan memudahkan sirkulasi
berkendara
Solusi
Penentuan main entrance sangat perlu ditentukan karena akan
mempenaruhi kondisi lalu lintas sekitar site
Sirkulasi kendaraan dalam site didesain dengan mudah dan tidak
menimbulkan kemacetan pada area luar site.
Sirkulasi pejalan kaki dibuat nyaman dan aman.
3.3.5 Analisis Arah Matahari

Gambar 3.9 Analis Arah Matahari


Sumber: Profil Summarrecon Bandung (diolah)

Potensi
Lokasi site berorientasi timur barat, sehingga bagian timur mendapat
sinar matahari secara langsung yang dapat dimanfaatkan cahayanya
Kendala
Kulit bangunan pda bagian barat akan mendapatkan sorotan cahaya
matahari sore sehingga akan mengakibatkan suhu ruangan meningkat
dan mengganggu kenyamanan visual maupun termal didalamnya.
Kendala
Kulit bangunan pada bagian barat akan mendapatkan sorotan cahaya
matahari sore sehingga akan mengakibatkan suhu ruangan meningkat
dan mengganggu kenyamanan visual maupun termal didalamnya
Solusi
Konfigurasi masa bangunan diolah agar cahaya matahari dapat
diolah secara maksimal sebagai encahayaan alami
Pada kulitbangunan yang menerima sorotan cahaya matahari langsung
(terutama bagian barat) didesain dengan memperhatikan
kenyamanan termal dan visual.
3.3.6 Analisis Arah Angin

Gambar 3.10 Analis Arah Angin


Sumber: Profil Summarrecon Bandung (diolah)

Potensi
Arah angin terbesar ada di bagian barat site menuju sebelah timur.
Solusi
Menggunakan jalusi untuk distribusi angin dari luar kedalam
bangunan tetapi tidak membiarkan cahaya matahari sore masuk.

3.3.7 Analisis Kebisingan

Gambar 3.11 Analis Kebisingan


Sumber: Profil Summarrecon Bandung (diolah)
Bagian utara dan selatan site memiliki tingkat kebisingan yang sedang
Eksisting sekitar site juga merupkan bangunan dengan tingkat kebisinga
rendah Kendala
Pada bagian timur site bersebelahan dengan Rumah Sakit, sehingga
harus menghindarai kebisingan di sekitar kawasan tersebut
Tingkat kebisingantinggi berada di jalan utama (primer) yaitu pada Jl.
Pahlawan Seribu, karena sebagai jalan utama yang dilalui banyak
kendaraan baik kendaraan pribadi, kendaraan umum.
Sumber kebisingan pada jam-jam tertentu (siang hari) akan mencapai
titik tertinggi dan akan mengganggu kenyamanan pengguna bangunan
pada site. Solusi
konfigurasi masa bangunan dapat diolah sebagai reflektor maupun
buffer dari sumber kebisingan
penanaman vegetasi disekitar tapak dapat difungsikan sebagai buffer
kebisingan
3.3.8 Analisis Orientasi View

Gambar 3.12 Analis Orientasi View


Sumber: Profil Summarrecon Bandung (diolah)

Potensi
view ke dalam bangunan yang berpotensi adalah dari semua arah,
karena site terletak pada bagian utama kawasan summarecon.
View ke dalam bagian Utara juga berpotensi karena bagian utara site
merupakan daerah transit untuk kereta cepat Jakarta-Bandung.
Solusi
Mendesain bukaan yang cukup luas pada bagia main entrance agar
secara visual bangunan dapat dinikmati.
Mendesain visual yang baik terhdap semua arah bangunan
Menempatkan side entrance pada bagian utara site, dimaksudkan
agar memberikan reponsif pada eksisting lingkungan sekitar.

3.3.9 Analisis Vegetasi

Gambar 3.13 Analis Vegetasi


Sumber: Profil Summarrecon Bandung (diolah)

Potensi
Kuantitas vegetasi dalam site sudah cukup banyak dan terletak
mengelilingi site, sehingga sudah cukup tertata dengan rapih.
Pada barat tapak terdapat eksisting vegetasi yang membatasi ke
arah danau retensi
Solusi
Vegetasi yang sudah ada di site dapat bisa di manfaatkan tanpa
harus ditebang dengan merelokasi vegetasi disesuaikan dengan
fungsinya pada saat merencanakan desain landscape.
Misalnya sebagai:
- sebagai peneduh - sebagai orientasi ruang
- sebagai estetika - sebagai pencegah erosi
- sebagai pengarah jalan - sebagai buffer