Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

KONSEP NIFAS, ADAPTASI FISIK-PSIKOLOGI NIFAS

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah: Keperawatan Maternitas

Dosen Pengajar: Catur Prasasti LD, S.Kep. Ns., M.Kes

Disusun Oleh :
Tingkat/Semester: 2/4B

1. Hani’ Atur Rofiqoh (201804047)

2. Asmaul Chusniah (201804066)

3. M. Yusuf Ramadhani (201804082)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO
TAHUN AJARAN 2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan
karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa terimakasih
ucapan kepada dosen Keperawatan Maternitas dan teman-teman yang telah memberikan dukungan
dalam menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun bertujuan agar pembaca dapat memperluas
ilmu tentang Konsep Nifas, Adaptasi Fisik-Psikologi Nifas yang kami sajikan berdasarkan berbagai
sumber.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik an saran yang membangun. Dan semoga dengan
selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca,
Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan
kritiknya.

Terimakasih.

Mojokerto, 03 April 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG.................................................................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH.............................................................................................................2
1.3 TUJUAN.......................................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................................3
2.1 DEFINISI.....................................................................................................................................3
1. Proses Masa Nifas.......................................................................................................................3
2. Tahap Masa Nifas........................................................................................................................5
2.2 PERUBAHAN FISIOLOGIS DALAM MASA NIFAS...........................................................5
1. Berbagai Perubahan Dalam Sistem Reproduksi..........................................................................5
2. Perubahan dalam Sistem Kardiovaskuler..................................................................................10
3. Perubahan Dalam Sistem Kemih dan Saluran Kemih...............................................................11
4. Perubahan Dalam Sistem Endokrin...........................................................................................12
5. Perubahan Sistem Gastrointestinal............................................................................................13
6. Perubahan Berat Badan.............................................................................................................13
7. Perubahan Dinding Abdomen/Perut..........................................................................................14
8. Perubahan Sistem Integumen....................................................................................................15
9. Perubahan Sistem Muskuloskeletal...........................................................................................15
10. Perubahan Sistem Neurologis..................................................................................................15
11. Perubahan Tanda-Tanda Vital.................................................................................................16
2.3 ADAPTASI PSIKOLOGIS DALAM MASA NIFAS............................................................18
1. Ikatan Antara Ibu - Bayi (Bonding)...........................................................................................18
2. Adaptasi Psikologis Normal......................................................................................................18
3. Adaptasi Psikologis Yang Memerlukan Rujukan......................................................................23
BAB III PENUTUP.............................................................................................................................27
3.1 KESIMPULAN...........................................................................................................................27
3.2 SARAN.......................................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................28

ii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Masa nifas merupakan hal penting untuk diperhatikan guna menurunka angka kematian ibu dan
bayi di Indonesia. Dari berbagai pengalaman dala menanggulangi kematian ibu dan bayi di banyak
negara, para pakar kesehatan menganjurkan upaya pertolongan difokuskan pada periode intrapartum
Upaya ini terbukti telah menyelamatkan lebih dari separuh ilbu bersalin dan bayt baru lahir yang
disertai dengan penyulit proses persalinan atau komplikai yang mengancam keselamatan jiwa. Namun,
tidak semua intervensi vane sesuai bagi suatu negara dapat dengan serta merta dijalankan dan memberi
dampak menguntungkan bila diterapkan di negara lain.

Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Biasanya berlangsung selama
lebih kurang 6-8 minggu. Secara psikologi, pascapersalinan ibu akan merasakan gejala-gejala
psikiatrik. Meskipun demikian, adapula ibu yang tidak mengalami hal ini. Agar perubahan psikologi
yang dialami tidak berlebihan, ibu perlu mengetahui tentang hal tentang hal yang lebih lanjut.

Wanita banyak mengalami perubahan emosi selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri
menjadi seorang ibu. Ibu biasanya akan mengalami atau merasakan hal-hal yang baru setelah
melahirkan. Beberapa ibu setelah melahirkan akan mengalami masa–masa sulit, ibu akan terpengaruh
dengan lingkungan sekitarnya. Ibu akan mulai beradaptasi dengan hal yang baru seperti adanya bayi.

Penting sekali sebagian bidan untuk mengetahui tentang penyesuaian psikologis yang normal
sehingga ia dapat menilai apakah seorang ibu memerlukan asuhan khusus dalam masa nifas ini, untuk
suatu variasi atau penyimpangan dari penyesuaian yang normal yang   umum terjadi.

Beberapa penulis berpendapat dalam minggu pertama setelah melahirkan, banyak wanita yang
menunjukan gejala-gejala psikiatrik, terutama gejala depresi diri ringan sampai berat serta gejala-gejala
neonatus traumatic, antara lain rasa takut yang berlebihan dalam masa hamil struktur perorangan yang
tidak normal sebelumnya, riwayat psikiatrik abnormal, riwayat perkawinan abnormal, riwayat obstetrik
(kandungan) abnormal, riwayat kelahiran mati atau kelahiran cacat, dan riwayat penyakit lainya.

Biasanya penderita akan sembuh kembali tanpa ada atau dengan pengobatan. Meskipun
demikian, kadang diperlukan terapi oleh ahli penyakit jiwa. Sering pula kelainan-kelainan psikiatrik ini
iii
berulang setelah persalinan berikutnya. Hal yang perlu diperhatikan yaitu adaptasi psikososial pada
masa pasca persalinan. Bagi keluarga muda, pasca persalinan adalah “awal keluarga baru” sehingga
keluarga perlu beradaptasi dengan peran barunya. Tanggung jawab keluarga bertambah dengan
hadirnya bayi yang baru lahir. Dorongan serta perhatian anggota keluarga lainya merupakan dukungan
positif bagi ibu.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi nifas?


2. Apa saja perubahan fisiologis dalam masa nifas?
3. Bagaimana adaptasi psikologi dalam masa nifas?

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui definisi nifas


2. Untuk mengetahui perubahan fisiologis dalam masa nifas
3. Untuk mengetahui adaptasi psikologi dalam masa nifas

iv
v
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selapot yang
diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang
lebih 6 minggu. Masa nifas (puerperium), berasal dari bahasa Latin, yaitu puier yang artinya bayi dan
parous yang artinya melahirkan atau berarti masa sesudah melahirkan. [ CITATION Sit09 \l 1033 ]

Periode masa nifas (puerperium) adalah periode waktu selama 6-8 minggu setelah persalinan.
Proses ini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat reproduksi kembali
seperti keadaan sebelum hamil/tidak hamil sebagai akibat dari adanya perubahan fisiologi dan
psikologi karena proses persalinan. Involusio adalah perubahan uterus setelah persalinan, yang
berangsur- angsur kembali seperti keadaan semula yang sama dengan kondisi dan ukuran dalam
keadaan tidak hamil. [ CITATION Ani09 \l 1033 ]

Pengertian lainnya, masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah lahir plasenta
dan berakhirnya kompilasi alat-alat isi kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa Nifas
berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Buku Acuan Nasional Yankes Maternal Dan Neonatal, 2006).

Menurut dr. Siti Dhyanti, SpOG dan dr. H. Muki R, SPOG, masa nifas adalah periode 6
minggu setelah persalinan, disebut juga masa involusi (periode dimana sistem reproduksi wanita
postpartim / pasca persa linan kembali ke keadaannya seperti sebelum hamil). Di masyarakat
Indonesia, masa nifas merupakan periode waktu sejak selesainya proses persalinan 40 hari setelalh itu.

Masa nifas adalah Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari menurut hitungan
awam merupakan masa nifas. Masa ini penting sekali untuk terus dipantau. Nifas merupakan masa
pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid. Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah
plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.

1. Proses Masa Nifas


Secara garis besar terdapat tiga proses penting di masa nifas, yaitu sebagai berikut.

1. Pengecilan rahim atau involusi

Rahim adalah organ tubuh yang spesifik dan unik karena dapat mengecil serta
membesar dengan menambah atau mengurangi jumlah selnya. Pada wanita yang tidak hamil,

vi
berat rahim sekitar 30 gram dengan ukuran kurang lebih sebesar telur ayam. Selama kehamilan,
rahim makin lama akan makin membesar.

Bentuk otot rahim mirip jala berlapis tiga dengan serat-seratnya yang melintang kanan,
kiri, dan transversal. Di antara otot-otot itu ada pembuluh darah yang mengalirkan darah ke
plasenta. Setelah plasenta lepas, otot rahim akan berkonstraksi atau mengerut, schingga
pembuluh darah terjepit dan perdarahan berhenti. Setelah bayi lahir, umumnya berat rahim
menjadi sekitar 1.000 gram dan dapat diraba kira-kira setinggi 2 jari di bawah umbilikus.
Setelah 1 minggu kemudian beratnya berkurang jadi sekitar 500 gram. Sekitar 2 minggu
beratnya sekitar 300 gram dan tidak dapat diraba lagi.

Jadi, secara alamiah rahim akan kembali mengecil perlahan- lahan ke bentuknya
semula. Setelah 6 minggu beratnya sudah sekitar 40-60 gram. Pada saat ini dianggap bahwa
masa nifas sudah selesai. Namun, sebenarnya rahim akan kembali ke posisinya yang normal
dengan berat 30 gram dalam waktu 3 bulan setelah masa nifas. Selama masa pemulihan 3 bulan
ini, bukan hanya rahim saja yang kembali normal, tapi juga kondisi tubuh ibu secara
keseluruhan.

2. Kekentalan darah (hemokonsentrasi) kembali normal

Selama hamil, darah ibu relatif lebih encer, karena cairan darah ibu banyak, sementara
sel darahnya berkurang. Bila dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobinnya (Hb) akan tampak
sedikit menurun dari angka normalnya sebesar 11-12 gr%. Jika hemoglobinnya terlalu rendah,
maka bisa terjadi anemia atau kekurangan darah.

Oleh karena itu, selama hamil ibu perlu diberi obat-obatan penambah darah, sehingga
sel-sel darahnya bertambah dan konsentrasi darah atau hemoglobinnya normal atau tidak terlalu
rendah. Setelah melahirkan, sistem sirkulasi darah ibu akan kembali seperti semula. Darah
kembali mengental, di mana kadar perbandingan sel darah dan cairan darah kembali normal.
Umumnya hal ini terjadi pada hari ke-3 sampai ke-15 pascapersalinan.

3. Proses laktasi atau menyusui

Proses ini timbul setelah plasenta atau ari-ari lepas. Plasenta mengandung hormon
penghambat prolaktin (hormon plasenta) yang menghambat pembentukan ASI. Setelah plasenta
lepas,hormon plasenta itu tidak dihmilkan lagi, sehingga terjadi produks ASI ASI keluar 2-3
hari setelah melahirkan. Namun, hal yang luar biasa adalah sebelumnya di payudara sudah
terbentuk kolostrum yang sangat baik untuk bayi, karena mengandung zat kaya gizi dan
antibodi pembunuh kuman.
vii
2. Tahap Masa Nifas
Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut.

1. Periode immediate postpartum

Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat
banyak masalah, misalnya pendarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu, bidan dengan teratur
harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokia, tekanan darah, dan suhu.

2. Periode early postpartum (24 jam-1 minggu)

Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada
perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan
cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.

3. Periode late postpartum (1 minggu-5 minggu)

Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksa sehari-hari serta
konseling KB.

2.2 PERUBAHAN FISIOLOGIS DALAM MASA NIFAS


Pada masa nifas, terjadi perubahan-perubahan anatomi dan fisiologis pada ibu. Perubahan
fisiologis yang terjadi sangat jelas, Sementara dianggap normal. di mana proses-proses pada
kehamilan berjalan terbalik. Banyak faktor, termasuk tingkat energi, tingkat kenyamanan, kesehatan
bayi baru lahir dan perawatan serta dorongan semangat yang diberikan oleh tenaga kesehatan, baik
dokter, bidan, maupun perawat ikut serta membuat tanggapan terhadap bayinya selama masa nifas ini.
Untuk memberikan asuhan yang bermanfaat bagi ibu, bayi dan ibu, seorang bidan atau perawat harus
memahami dan memiliki pengetahuan tentang perubahan-perubahan anatomi dan fisiologis dalam
masa nifas ini dengan baik.

1. Berbagai Perubahan Dalam Sistem Reproduksi.


a. Uterus

1). Proses Involusi

Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses kembalinya uterus ke keadaan
sebelum hamil. Proses involusi merupakan salah satu peristiwa penting dalam masa nifas,
disamping proses laktasi (pengeluaran ASI). Uterus ibu yang baru melahirkan masih membesar,
jika diraba dari luar tinggi fundus uteri kira-kira 1 jari di bawah pusat, sedang- kan beratnya lebih
kurang 1 kilogram. Hal ini disebabkan oleh banyaknya darah dalam dinding rahim mengalir
dalam pembuluh- pembuluh darah yang membesar. Sampai hari kedua, uterus masih membesar
viii
dan setelah itu berangsur-angsur menjadi kecil. Kalau diukur tinggi fundus uteri waktu nifas
(sesudah buang air kecil). Pada hari ketiga, kira-kira 2 atau 3 jari dibawah pusat. Hari ke-lima,
pada pertengahan antara pusat dan simphysis. Hari ketujuh, kira-kira 2 atau 3 jari diatas
simphysis. Hari ke sembilan, kira-kira satu jari diatas simphysis. Dan setelah hari kesepuluh,
biasanya uterus tersebut dari luar tidak teraba lagi. Semuanya ini disebabkan karena pemberian
darah didalam dinding rahim jauh berkurang, sehingga otot-otot menjadi kecil (S.A Goelam,
1990)

Tabel: Perubahan-Perubahan Yang Normal Didalam Uterus Selama Masa Nifas.

Bobot Uterus Diameter Uterus Palpasi Serviks


Pada akhir persalinan 900 gram 12,5 cm Lembut/lunak
Pada akhir mingu ke-1 450 gram 7,5 cm 2 cm
Pada akhir minggu ke-2 200 gram 5,0 cm 1 cm
Sesudah akhir 6 minggu 60 gram 2,5 cm Menyempi

Involusi Uterus pada Pasca Persalinan (masa nifas)

Menurut dr. Dhyanti dan dr. Muki (dalam kuliah Obstetri dan Ginekologi), ukuran uterus
mengecil kembali (setelah 2 hari pasca persalinan, yaitu setinggi sekitar umbilikus, setelah 2
minggu masuk panggul, dan setelah 4 minggu kembali pada ukuran sebelum hamil).

Jika sampai 2 minggu setelah melahirkan uterus belum juga masuk panggul, perlu dicurigai
adanya subinvolusi, Subinvolusi adalah kegagalan uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil.
Penyebab subinvolusi yang paling sering adalah tertalhannya frag- men plasenta, infeksi, dan
perdarahan lanjut (late post partum haemorrhage). Jika terjadi subinvolusi, dengan kecurigaan
infeksi, diberikan antibiotika.

2.) Kontraksi

Kontraksi uterus terus meningkat secara bermakna setelah bayi keluar, yang diperkirakan
terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intra uteri yang sangat besar. Kontraksi uterus
ix
yang meningkat setelah bayi keluar, ini menyebabkan iskemia pada lokasi perlekatan plasenta
sehingga jaringan perlekatan antara plasenta dan dinding uterus menjadi nekrosis dan lepas.

Hemostatis setelah persalinan dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah


intrametrium, bukan karena agregasi trombosit dan pembentukan bekuan kelenjar hipofisis ikut
serta mengeluarkan hormon oksigen yang memperkuat dan mengatur kontraksi uterus,
mengompresi pembuluh darah, dan membantu hemostatis yang dapat mengurangi perdarahan.
Upaya untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa awal nifas ini penting sekali, maka
biasanya suntikan oksitosin (pitosin) secara intravena atau intramuskular diberikan segera setelah
plasenta lahir (Bobak, 2005). Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dimana membiarkan bayi di payudara
ibu segera setelah lahir dalam masa ini penting juga dilakukan, karena isapan bayi pada payudara
dapat merangsang pelepasan oksitosin.

3.) Afterpains

Dalam minggu pertama sesudah bayi lahir, mungkin ibu mengalami kram/mulas pada
abdomen yang berlangsung sebentar, mirip sekali dengan kram waktu periode menstruasi, keadaan
ini disebut afterpains, yang ditimbulkan oleh karena kontraksi uterus pada waktu mendorong
gumpalan darah dan jaringan yang terkumpul didalam uterus. Kram demikian tadi berlangsung
tidak lama dan tidak penting/bukan dianggap suatu masalah. Kram/mulas akan lebih terasa lagi
pada saat menyusui bayi oleh karena stimulasi/rangsangan puting susu menimbulkan aksi refleks
pada uterus. Pada primipara (ibu yang baru pertama kali melahirkan), tonus uterus meningkat
sehingga fundus pada umumnya tetap kencang.

Sementara itu, kram/mulas dimana terjadi reaksasi dan kontraksi yang periodik lebih sering
dialami oleh multipara (ibu yang melahirkan anak kedua, ketiga, dan seterus- nya) dimana bisa
menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang masa awal nifas. Rasa nyeri/kram setelah melahirkan
ini, lebih nyata setelah ibu melahirkan ditempat uterus yang terlalu teregang (misalnya, pada bayi
besar, kembar).

4). Tempat Plasenta

Dengan involusi uterus ini, maka lapisan luar dari decidua yang mengelilingi tempat/situs
plasenta akan menjadi nekrotik (layu/mati). Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa
cairan, suatu campuran antara darah yang dinamakan lokia yang menyebabkan pelepasan jaringan
nekrotik tadi adalah karena pertumbuhan endometrium.

Endometrium mengadakan regenerasi cepat dimana dalam waktu 2-3 hari sisa lapisan
desidua telah beregerasi (lapisan sisi dinding uterus menjadi jaringan endometrium baru,
x
sementara itu lapisan sisi kovum uteri menjadi nekrotik dan keluar sebagai lokia). Regenerasi
endometrium lengkap kembali sampai pada sekitar minggu ketiga masa pascapartum, kecuali pada
bekas tempat plasenta, karena terjadi trombus sehingga regenerasi agak lebih lama, sampai sekitar
6 minggu setelah melahirkan.

5). Lokia

Lokia adalah darah dan cairan yang keluar dari vagina selama masa nifas. Lokia
mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada
vagina normal. Lokia mempunyai bau amis (anyir), meskipun tidak terlalu menyengat, dan
volumenya berbeda-beda pada setiap ibu. Lokia mengalami perubahan karena proses involusi.
Mula-mula berwarna merah, kemudian berubah menjadi merah tua atau merah kecoklatan sampai
berwarna kekuning-kuningan atau keputih-putihan. Selama dua jam pertama setelah lahir, jumlah
cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama
menstruasi. Setelah waktu tersebut,aliran lokia yang keluar harus semakin berkurang.

Tiga jenis lokia sesuai dengan warnanya adalah sebagai berikut:

1. Lokia Rubra/kruenta (merah)

Merupakan cairan bercampur darah dan sisa-sisa penebalan dinding rahim (desi dua) dan
sisa-sisa penanaman plasenta (selaput ketuban), berbau amis. Lokia rubra berwarna kemerah-
merahan dan keluar sampai hari ke-3 atau ke-4.

2. Lokia Serosa

Lokia ini mengandung cairan darah de ngan jumlah darah yang lebih sedikit dan lebih
banyak mengandung serum dan lekosit. Serta robekan/laserasi plasenta. Lokia serosa berwarna
kecoklatan atau kekuning-kuningan dan keluar dari hari ke-5 sampai ke-9 berikutnya.

3. Lokia Alba (putih)

Lokia alba terdiri dari lekosit, lendir leher rahim (serviks), dan jaringan-jaringan mati
yang lepas dalam proses penyembuhan Lokia alba berwarna lebih pucat, putih kekuning-
kuningan dan keluar selama 23 minggu.

Tabel: Perbedaan Lokia Dan Perdarahan Bukan Lokia

Lokia Perderahan Bukan Lokia


- Lokia biasanya menetas diri muara - Apabila cairan bercampur darah
vagina. Aliran yang tetap keluar dalam menyembur dari vagina, kemungkinan

xi
jumlah lebih besar saat uterus erdapat robekan dari serviks atau
kontraksi vagina selain lokia normal
- Semburan lokia dapat terjadi akibat - Apabila jumlah perdarahan terus
masase pada uterus. berlebihan dan berwarna merah terang,
- Apabila tampak lokia berwarna gelap, kemungkinan terdapat suatu robekan.
maka sebelumnya terdapat lokia yang
terkumpul dalam vagina dan
jumlahnya segera berkurang menjadi
lokia berwarna merah terang.

b. Serviks Uteri

Involusi serviks dan segmen bawah uterus/ eksterna setelah persalinan berbeda dan
tidak kembali pada keadaan sebelum hamil. Muara serviks eksterna/katalis servikalis tidak akan
berbentuk lingkaran seperti sebelum melahirkan (pada multipara), tetapi terlihat memanjang
seperti celah atau garis horisontal agak lebar, sering disebut mulut ikan atau porous serviks.

Serviks akan menjadi lunak segera setelah melahirkan. Dalam waktu sekitar 20 jam
setelah persalinan, serviks memendek dengan konsistensi lebih padat dan kembali ke bentuk
semula dalam masa involusi.

Gambaran bagian-bagian serviks adalah sebagai berikut:

1) Serviks segmen bawah uterus tampak tetap. Edema tipis dan rapuh selama beberapa hari
setelah persalinan

2) Bagian serviks yang menonjol ke vagina (ektoserviks) terlihat memar dan tampak sedikit
laserasi yang memudahkan terjadinya infeksi.

3) Muara serviks berdilatasi 10 cm saat melahir kan, menutup secara bertahap yaitu:

4) Pada hari ke-4 sampai ke-6 setelah persalinan masih dapat dimasukkan 2 jari

5) Akhir minggu ke-2 setelah persalinan, hanya tangkai kuret terkecil yang dapat dimasukkan.

c. Vagina

Pada sekitar minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rudae kembali. Vagina yang
semula sangat teregang akan kembali secara bertahap seperti ukuran sebelum hamil pada
minggu ke-6 sampai ke-8 setelah melahirkan. Rugae akan terlihat kembali pada minggu ke-3

xii
atau ke-4. estrogen setelah melahirkan sangat berperan dalam penebalan mukosa vagina dan
pembentukan rugae kembali.

d. Perineum

Perineum adalah daerah antara vulva dae anus. Biasanya setelah melahirkan, perineu
menjadi agak bengkak/edema/memar dan mungkin ada luka jahitan bekas robekan atau
episiotomi, yaitu sayatan untuk memperluas pengeluaran bayi. proses penyembuhan luka
episiotomi sama seperti luka operasi lain. Perha- tikan tanda-tanda infeksi pada luka episiotomi
seperti nyeri, merah, panas, bengkak, atau keluar cairan tidak lazim. Penyembuhan luka
biasanya berlangsung 2-3 minggu setelah melahirkan.

e. Organ Otot Panggul

Struktur dan penopang otot uterus dan vagina dapat mengalami cedera selama waktu
melahirkan. Hal ini dapat menyebabkan relaksasi panggul, yang berhubungan dengan
pemanjangan dan melemahnya topangan permukaan struktur panggul yang menopang uterus,
dinding vagina, rektum, uretra, dan kandung kemih. Latihan Kegel dapat direkomendasikan
setelah persalinan untuk membantu memperbaiki tonus dan fungsi otot vagina dan panggul.

2. Perubahan dalam Sistem Kardiovaskuler


Pada kehamilan terjadi peningkatan sirkulasi volume darah yang mencapai 50%. Mentoleransi
kehilangan darah pada saat melahirkan perdarahan pervaginam normalnya 400-500 cc. Sedangkan
melalui seksio caesaria kurang lebih 700-1000cc. Bradikardia (dianggap normal), jika terjadi takikardia
dapat merefleksikan adanya kesulitan atau persalinan lama dan darah yang keluar lebih dari normal
atau perubahan setelah melahirkan.

a. Komponen Darah

Nilai kadar darah seharusnya kembali ke keadaan sebelum hamil pada akhir periode pasca
persalinan. Aktivasi faktor kongulasi terkait dengan kehamilan bisa berlanjut selama masa
nifas/puerperium. Hal ini bisa berkaitan dengan adanya trauma, imobilisasi, atau sepsis, yang
dapat mengakibatkan peningkatan resiko tromboembolisme pada ibu.

Lekositosis normal selama kehamilan rata- rata sekitar 12.000/mm3. selama 10 sampai 12
hari pertama setelah bayi lahir, nilai leukosit antara 15.000 dan 20.000/mm3 adalah hal umum.
Kadar hemoglobin dan hematoksit dalam 2 hari pertama setelah melahirkan agak mengalami
perubahan karena adanya perubahan volume darah. Pada umumnya, penurunan nilai 2% dan nilai
hematokrit pada saat masuk sampai saat melahirkan mengindikasikan kehilangan darah 500ml

xiii
(Varney, 1997). Kadar hemoglobin dan hemotokrit akan kembali ke keadaan sebelum melahirkan
atau ke konsentrasi normal dalam 2 sampai 6 minggu.

b. Curah Jantung/Cardiac Output

Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat selama masa hamil.
Segera setelah melahirkan, keadaan tersebut akan meningkat lebih tinggi lagi selama 30 sampai 60
menit karena darah yang biasanya melintasi sirkuit utero/plasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi
umum. Nilai curah jantung mencapai puncak selama awal puerperium 2-3 minggu setelah
melahirkan nilai curah jantung berada pada tingkat sebelum hamil.

c. Berkeringat Banyak atau Berlebihan

Berkeringat dingin merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mereduksi cairan yang
bertahan selama kehamilan. Pengeluaran cairan berlebihan dan sisa-sisa produk tubuh melalui
kulit selama masa nifas menimbulkan banyak keringat. Pada periode "early postpartum/masa awal
pra-nifas", ibu mengalami suatu keadaan berkeringat banyak (diaphoresis) pada malam hari, jika
tidak disertai demam, bukan merupakan kelainan.

d. Menggigil

Seringkali ibu mengalami menggigil segera setelah melahirkan, yang berhubungan dengan
respon persyarafan atau perubahan vasomotor. Jika tidak diikuti dengan demam, menggigil, bukan
merupakan masalah klinis, tetapi sering- kali menimbulkan ketidaknyamanan pada ibu.
Bidan/perawat dapat memberikan kenyamanan pada ibu dengan menyelimutinya dan
menganjurkan ibu untuk rileks. Minuman hangat juga dapat membantu ibu untuk mengurangi
keadaan menggigil. Dalam masa nifas/puerperium lanjut bila ibu masih ditemukan dalam keadaan
menggigil dan demam mengindikasikan adanya infeksi dan memerlukan evaluasi lebih lanjut.

3. Perubahan Dalam Sistem Kemih dan Saluran Kemih


Wanita yang pasca persalinan mengalami suatu peningkatan kapasitas kandung kemih,
pembengkakan dan trauma jaringan sekitar uretra yang terjadi selama proses melahirkan. Dinding
dapat mengalami hiperemesis dan edema yang disertai dengan hemorhagi pada daerah-daerah Uretra
dan meatus urinarius juga bisa mengalam edema.

Peningkatan kapasitas kandung kemih setelah bayi lahir, trauma akibat kelahiran, dan efek
konduksi anestesi yang menghambat fungsi neural pada kandung kemih menyebabkan keinginan
berkemih menurun dan lebih rentan untuk menimbulkan distensi kandung kemih, kesulitan buang air
kecil dan terjadinya infeksi kandung kemih. Distensi kandung kemih yang timbul segera setelah ibu

xiv
melahirkan dapat menyebabkan perdarahan berlebihan karena keadaan ini bisa menghambat uterus
berkontraksi dengan baik. Stasis urinaria juga meningkatkan terjadinya infeksi pada saluran kemih.
Kandung kemih yang penuh bisa juga meningkatkan kecenderungan ke arah relaksasi uterus dengan
memindahkan/ mempengaruhi letak uterus dan mengganggu kontraktilitas, yang semua itu bisa
menimbulkan perdarahan.

Apabila terjadi distensi yang berlebihan pada kandung kemih dapat mengalami kerusakan lebih
lanjut (atoni), maka pengosongan kandung kemih yang adekuat harus menjadi perhatian oleh bidan/
perawat dan ibu yang melahirkan. Dengan cara demikian, tonus kandung kemih biasanya akan pulih
kembali dalam waktu 5 sampai 7 hari setelah melahirkan. Saluran kemih kembali normal dalam waktu
2 sampai 8 minggu, tergantung pada:

1) Keadaan/status sebelum persalinan

2) Lamanya partus kala II dilalui

3) Besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan

(dr. Dhyanti, SPOG, kuliah Obsgin)

4. Perubahan Dalam Sistem Endokrin


Sistem endokrin mengalami perubahan secara tiba-tiba selama kala IV persalinan dan mengikuti
lahirnya plasenta

Perubahan Payudara

Selama kehamilan, payudara disiapkan untuk laktasi (hormon estrogen dan progesteron)
kolostrum, cairan payudara yang keluar sebelum produksi susu terjadi pada trimester III dan minggu
pertama postpartum. Pembesaran mammae/payudara terjadi dengan adanya penambahan sistem
vaskuler dan limpatik sekitar mammae. Mammae menjadi besar, mengeras dan sakit bila disentuh.
Sementara itu, konsentrasi hormon (estrogen, progesteron, human chorionic, gonadotropin, prolaktin,
krotisol, dan insulin) yang menstimulasi perkembangan payudara selama ibu hamil menurun dengan
cepat setelah bayi lahir. Waktu yang dibutuhkan hormon- hormon ini untuk kembali ke kadar sebelum
hamil sebagian ditentukan oleh apakah ibu menyusui atau tidak (Bobak, 1995).

Cairan menstruasi pertama setelah melahirkan biasanya lebih banyak dari normal, dalam 3 sampai
4 siklus, seperti sebelum hamil.

5. Perubahan Sistem Gastrointestinal


Penggunaan tenaga pada kala persalinan, menurunkan tonus otot-otot abdomen yang juga
merupakan faktor predisposisi terjadinya konstipasi pada ibu pasca melahirkan. Fungsi besar akan
xv
kembali normal pada akhir minggu pertama dimana nafsu makan mulai bertambah dan rasa tidak
nyaman pada perineum sudah menurun. Hal ini dapat diperjelas sebagai berikut:

Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan merupakan hal yang umum, sehingga ibu boleh
mengkonsumsi makanan ringan. Setelah benar- benar pulih dari efek keletihan, analgesia dan anestesia,
kebanyakan ibu merasa sangat lapar, maka ibu biasanya meminta makan lebih dari jumlah yang
biasanya dikonsumsi. Ibu juga biasanya merasa sangat haus dalam 2 sampai 3 hari pertama melahirkan,
kemungkinan karena pertukaran cairan dalam tubuh berkaitan dengan diuresis. Dengan minum banyak,
dapat membantu mengganti cairan yang hilang pada saat persalinan dalam urine, dan melalui perspirasi
(keringat).

Usus besar cenderung seret/tidak lancar setelah melahirkan karena masih adanya efek
progesterone yang tertinggal dan penurunan tonus otot abdimen. Ibu yang mengalami episiotonu
cenderung untuk menunda eliminasi karena takut terhadap peningkatan nyeri atau takut akkan
kemungkinan jahitan episiotomi terlepas. Dengan menolak atau menunda untuk buang air besar, hal ini
bisa menyebabkan konstipasi dan bahkan akan menimbulkan nyeri yang berlebihan bilamana ibu
buang air besar. Ibu yang menderita hemoroid biasanya juga mengalami gangguan defekasi. Untuk ibu-
ibu seperti ini biasanya dapat diberikan pelunak feses (stool softeness) atau laxative untuk membantu
eliminasi.

Ibu dengan persalinan seksio caesaria biasanya boleh minum sedikit setelah operasi; jika bising
ususnya telah terdengar, ibu diberikan diet lunak atau bertahap. Ibu mungkin mengalami sedikit
ketidaknyamanan dengan flatus. Hal ini dapat dibantu diatasi dengan ibu mulai melakukan mobilisasi
dini setelah rasa penat ibu telah hilang.

6. Perubahan Berat Badan


Kehilangan / penurunan berat badan pada ibu stelah melahirkan terjadi akibat kelahiran/ keluarnya
bayi, plasenta dan keluarnya bayi, plasenta dan cairan amnion/ketuban. Diuresis puerperalis juga
menyebabkan kehilangan berat badan selama masa puerperium awal. Pada minggu ke-7 sampai ke-8,
kebanyakan ibu telah kembali ke berat badan sebelum hamil, sebagian lagi mungkin membutuhkan
waktu yang lebih lama lagi untuk kembali ke berat badan semula.

Tabel: Sumber Dan Jumlah Kehilangan Berat Badan Selama Masa Pasca
Melahirkan/Postpartum

No Jumlah Kehilangan Berat


Sumber Kehilangan Berat Badan
. Badan (Kg)
1. Janin dan plasenta, cairan ketuban dan darah pada saat
5,6 – 6,0 kg
persalinan.
xvi
2. Persipasi (keringat) dan Diversis (Urine) selama minggu
2,5 – 4,0 kg
pertama persalinan.
3. Involusi uerus dan lokia 1 kg
Jumlah Total Kehilangan Berat Badan 9,0 – 10,0 kg

7. Perubahan Dinding Abdomen/Perut


Abdomen tampak menonjol keluar pada hari pertama sesudah melahirkan, 2 minggu pertama
melahirkan dinding abdomen mengalami relaksasi dan kurang lebih 6 minggu setelah melahirkan,
keadaan abdeinen seperti sebelum hamil. Kembalinya tonus otot ini tergantung pada tonus otot
sebelumnya (senam dan jumlah jaringan lemak). Hal ini dapat diperjelas sebagai berikut:

Pada hari pertama setelah melahirkan, abdomen ibu akan tampak menonjol dan seperti masih
hamil. Dalam 2 minggu setelah melahirkan, dinding abdomen ibu akan rileks. Dinding abdomen ibu
kembali ke keadaan sebelum hamil perlu waktu sekitar 6 minggu. Pengembalian tonus bergantung
pada kondisi tonus sebelum hamil, latihan fisik yang tepat (senam) dan jumlah jaringan lemak ibu.

Setelah melahirkan, dinding abdomen yang melentur/meregang akan tampak longgar dan kendur.
Pada ibu yang multipara, ibu yang mengalami overdistensi abdomen, atau ibu dengan tonus otot buruk.
Sebelum hamil, abdomen bisa mengalami kesulitan untuk memperoleh tonus otot yang baik.

Diastesis rektus abdominis, suatu pemisahan otot-otot dinding-dinding abdomen, bisa terjadi
selama kehamilan, terutama pada ibu dengan tonus otot abdomen yang buruk. Jika terjadi diastesis,
bagian dinding abdomen tidak memiliki penopang yang berotot tetapi hanya terbentuk oleh kulit,
lemak subkutan, fascia, dan peritoneum. Jika tonus otot rektus ini tidak terbentuk kembali, maka
topangan otot untuk kehamilan selanjutnya menjadi tidak adekuat. Dengan topangan otot yang tidak
adekuat, bisa. menyebabkan abdomen ibu menggantung dan peningkatan sakit punggung pada ibu.
Namun, diastasis ini dapat diatasi bila ibu melakukan latihan/peregangan senam dengan baik dan otot-
otot abdomen dapat membaik.

Garis-garis striae/gurat-guratan pada perut (stretch marks), yang disebabkan oleh meregang-
nya/melenturnya dan pecahnya serabut-serabut elastis pada kulit, yang tampak berwarna merah atau
ungu pada saat melairkan. Garis-garis ini secara bertahap warnanya akan memudar tetapi masih
tampak.

8. Perubahan Sistem Integumen


Peningkatan aktivitas melanin pada kehamilan yang menyebabkan hiperpigmentasi pada puting
susu, areola, dan linea nigra secara berangsur-angsur menurun setelah melahirkan. Meskipus perubahan
warna menjadi lebih gelap pada area-area ini menurun, namun warna tidak bisa kembal total seperti
xvii
sebelum hamil. Kloasma gravidarum yang timbul pada masa hamil biasanya tidak akan terlihat pada
kehamilan, namun hiperpigmentasi nada areola dan linea nigra mungkin belum menghilang sempurna
sesudah melahirkan. Rambut halus yang yang tumbuh lebat pada wakt hamil pada sebagian ibu
biasanya akan menghilang setelah ibu melahirkan, namun rambut kasar yang timbul selama hamil akan
menetap.

Kelainan pembuluh darah vaskuler selama kehamilan yang menyebabkan spider angioma (nevi),
eritema palmar dan epulis biasanya akan berkurang sebagai respon terhadap penurunan kadar estrogen
yang cepat setelah melahirkan. Pada beberapa wanita, spider angioma (nevi) akan tampak menetap
meskipun dengan ukuran kecil.

9. Perubahan Sistem Muskuloskeletal


Perubahan sistem muskuloskeletal pada ibu selama masa nifas berlangsung terbalik dengan
selama masa kehamilannya. Perubahan ini meliputi hal-hal yang dapat membantu relaksasi dan
hipermobilitas sendi serta perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. Untuk menstabilkan
sendi dengan lengkap diperlukan waktu sampa minggu ke-8 setelah ibu melahirkan. Namun, kaki ibu
belum mengalami perubahan yang berarti yans seringkali masih membutuhkan sandal/sepatu yang
lebih besar (Bobak, 1995).

10. Perubahan Sistem Neurologis


Setelah melahirkan, terdapat perubahan neurologis yang merupakan kebalikan dari perubahan
neurologis yang terjadi selama hamil. Rasa tidak nyaman neurologis yang disebabkan karena kompresi/
tekanan syaraf menghilang setelah tekanan mekanik dari uterus yang membesar dan tekanan dari
retensi cairan menghilang. Rasa baal pada paha yang disebabkan karena kompresi persyarafan terdapat
dinding-dinding panggul atau ligamen inguinalis selama hamil menghilang. Rasa baal dan kesemutan
(fingling) secara periodik pada jari yang dialami 5% ibu hamil sebagai akibat dari traksi pleksus
trakhialis biasanya juga menghilang setelah bayi lahir. Eliminasi edema fisiologis dan perubahan-
perubahan fisiologis yang kebalikan selama masa hamil pada fascia, tenden dan jaringan penyambung
mengurangi tekanan pada syaraf median dan menghilangkan sindroma carpal tunnel (nyeri, baal dan
kesemutan pada tangan dan jari-jari).

Tergantung pada penyebabnya, kram pada kaki juga akan menghilang setelah melahirkan. Nyeri
kepala pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh berbagai keadaan, seperti hipertensi akibat kehamilan,
stress dan kebocoran cairan serebro spinal saat anestesi. Maka nyeri kepala pada ibu pasca melahirkan
memerlukan pemeriksaan lebih cermat.

11. Perubahan Tanda-Tanda Vital


Pada ibu pasca persalinan, terdapat beberapa peru- bahan tanda-tanda vital sebagai berikut:

xviii
a. Suhu

Selama 24 jam pertama, suhu mungkin meningkat menjadi 38°C, sebagai akibat meningkatnya
kerja otot, dehidrasi dan perubahan hormonal. Jika terjadi peningkatan suhu 38°C yang menetap 2 hari
setelah 24 jam melahirkan, maka perlu dipikirkan adanya infeksi seperti sepsis puerperalis (infeksi
selama postpartum), infeksi saluran kemih, endometritis (peradangan endometrium), pembengkakan
payudara, dan lain-lain.

b. Nadi

Dalam periode waktu 6-7 jam sesudah melahirkan, sering ditemukan adanya bradikardia 50-70
kali permenit (normalnya 80-100 kali permenit) dan dapat berlangsung sampai 6-10 hari setelah
melahirkan. Keadaan ini bisa berhubungan dengan penurunan usaha jantung, penurunan volume darah
yang mengikuti pemisahan plasenta dan kontraksi uterus dan peningkatan stroke volume. Takhikardia
kurang serin terjadi, bila terjadi berhubungan dengan peningkatan kehilangan darah dan proses
persalinan yang lama.

c. Tekanan Darah

Selama beberapa jam setelah melahirkan, ibu dapat mengalami hipotensi orthostatik (penerunan
20 mmHg) yang ditandai dengan adanya pusing segera setelah berdiri, yang dapat terjadi hingga 46
jam pertama. Hasil pengukuran tekanan darah seharusnya tetap stabil setelah melahirkan. Penurunan
tekanan darah bisa mengindikasikan penyesuaian fisiologis terhadap penurunan tekanan intrapeutik
atau adanya hipovolemia sekunder hemorhagi uterus. Peningkatan tekanan sistolik 30 mmHg dan
penambahan diastolik 15 mmHg yang disertai dengan sakit kepala dan gangguan penglihatan, bisa
menandakan ibu mengalami preeklamsia dan ibu perlu dievaluasi lebih lanjut.

d. Pernafasan

Fungsi pernafasan ibu kembali ke fungsi sepertí saat sebelum hamil pada bulan ke enam setelah
melahirkan.

Tabel Tanda – Tanda Vital Selama Masa Nifas

Penyimpangan dari nilai normal dan kemungkinan


Normal
penyebabnya
a. Suhu Jika 24 jam setelah melahirkan suhu ibu menetap lebih
Selama 24 jam pertama, suhu 38⁰C selama 2 hari perlu dipikirkan adanya sepsis
dapat meningkatkan sampai 38⁰C puerperalis, mastitis, endometritis, infeksi saluran kemih
sebagai respon terhadap efek dan infeksi sistemik.

xix
dehidrasi persalinan setelah 24
jam, ibu seharusnya tidak
mengalami demam
b. Denyut Nadi Frekuensi denyut nadi yang cepat dan semakin meningkat
Denyut nadi dan curah jantung perlu dipikirkan terjadinya hipovolemia sebagai akibat
sedikit meningkat selama jam-jam dari perdarahan
pertama melahirkan. Denyut nadi
kembali ke frekuensi sebelum
hamil pada sekitar minggu ke-8
sampai ke-10 setelah melahirkan.
c. Tekanan Darah Hipovolemia akibat perdarahan dapat ditunjukkan dengan
Tekanan darah menetap atau tekanan darah yang menurun/rendah. Untuk itu perlu
terjadi sedikit perubahan. Dapat kewaspadaan penuh.
terjadi hipotensi ortholistatik Tekanan darah yang meningkat perlu kewaspadaan
dalam 48 jam pertama ditunjukkan karena kemungkinan dapat disebabkan oleh:
dengan rasa pusing seperti mau - Pemakaian vasopresor atau obat oksitoksik yang
pingsan segera setelah berdiri. berlebihan
Hipotensi orthostatik ini terjadi - Hipertensi akibat kehamilan atau preeclampsia
akibat pembengkakan limpa pada menetap atau baru pertama kali ditemukan saat
wanita yang terjadi setelah setelah melahirkan.
melahirkan.
d. Pernafasan Hipoventilasi
Pernafasan seharusnya berada
dalam rentang normal seperti
sebelum melahirkan
2.3 ADAPTASI PSIKOLOGIS DALAM MASA NIFAS
1. Ikatan Antara Ibu - Bayi (Bonding)
Telah banyak penelitian/literatur yang membahas tentang attachment (kasih sayang) atau bonding
(ikatan) untuk membuka tabir mengenai proses orangtua bisa mengatasi dan menerima seorang anak
dan sebaliknya, seorang anak bisa mengasihi dan menerima orang tuanya.

Istilah attachment (kasih sayang) dan bonding (ikatan) merupakan istilah yang pemakaiannya
sering dapat dipertukarkan untuk menjelaskan pertalian/persatuan antara orang tua - anak ini.

Menurut Brazetton (1978), bonding (ikatan) didefinisikan sebagai suatu ketertarikan satu sama
(mutual) yang pertama kali antar individu, seperti antara orang tua dan anak pada waktu pertama kali

xx
bertemu. Proses kasih sayang dapat berlangsung secara terus menerus, dimulai pada saat ibu hamil dan
semakin menguat pada awal masa pasca melahirkan.

Lima kondisi yang dapat mempengaruhi ikatan, menurut Mercer (1982) adalah sebagai berikut:

a. Kesehatan emosional orang tua (termasuk kemampuan untuk mempercayai orang lain)

b. Sistem dukungan sosial yang meliputi pasangan hidup, teman dan keluarga

c. Suatu tingkat ketrampilan dalam berkomunikasi dan dalam memberi asulhan yang kompeten

d. Kedekatan orang tua dengan bayi

e. Kecocokan orang tua - bayi (termasuk keadaan temperamen dan jenis kelamin bayi)

Apabila salah satu kondisi tersebut diatas tidat terpenuhi atau terganggu, maka diperlukan
intervensi ahli lebih lanjut (rujukan) untuk memastikan proses ikatan (Boback, 1995).

2. Adaptasi Psikologis Normal


Perubahan psikologis pada masa nifas terjadi karena:

a. Pengalaman selama persalinan


b. Tanggung jawab peran sebagai ibu
c. Adanya anggota keluarga baru (bayi)
d. Peran baru sebagai ibu bagi bayi

Ibu yang baru melahirkan membutuhkan mekanisme penanggulangan (coping) untuk mengatasi:

1. Perubahan fisik dan ketidak nyamanan selama masa nifas termasuk kebutuhan untuk
mengembalikan figur seperti sebelum hamil
2. Perubahan hubungan dengan keluarga
Dalam adaptasi psikologis setelah melahirkan terjadi 3 penyesuaian yaitu:

a. Penyesuaian Ibu (Maternal Adjustment)

Menurut Reva Rubin (1963), seorang ibu yang baru melahirkan mengalami adaptasi
psikologis pada masa nifas dengan melalui tiga fase penyesuaian ibu (perilaku ibu) terhadap
perannya sebagai ibu.

Bagi keluarga muda, masa nifas atau masa pasca melahirkan merupakan "awal keluarga
baru" sehingga keluarga perlu beradaptasi dengan peran barunya. Tanggung jawab keluarga
bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir. Dorongan serta perhatian anggota keluarga
lainnya merupakan dukungan positif untuk ibu.
xxi
Dalam menjalani adaptasi psikologis setelah melahirkan, Reva Rubin (1963) mengatakan
bahwa ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut:

1) Fase Taking In (Perilaku Dependen)

a. Fase inimerupakan perode ketergantungan dimana ibu mengharapkan segala


kebutuhannya terpenuhi orang lain.
b. Berlangsung selama 1-2 hari setelah melahirkan, dimana fokus perhatian ibu terutama
pada dirinya sendiri (ibu lebih berfokus pada dirinya).
c. Beberapa hari setelah melahirkan akan menangguhkan keterlibatannya dalam tanggung
jawabnya.
d. Disebut fase Taking In (fase menerima) selama 1- 2 hari pertama ini, karena selama
waktu ini, ibu yang baru melahirkan memerlukan perlindungan dan perawatan.
e. Sedangkan dikatakan sebagai fase depen- den selama 1-2 hari pertama ini karena pada
waktu ini, ibu menunjukkan kebahagiaan/kegembiraan yang sangat dan sangat senang
untuk menceritakan tentang pengalamannya melahirkan.
f. Pada fase ini, ibu lebih mudah tersinggung dan cenderung pasif terhadap
lingkungannya disebabkan karena faktor kelelahan. Oleh karena itu, ibu perlu cukup
istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur. Disamping itu, kondisi terscbut perlu
dipahami dengan menjaga komunikasi yang baik.
g. Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan untuk proses pemulihan ibu
dan nafsu makan ibu juga sedang meningkat.

2) Fase Taking Hold (Perilaku Dependen-Independen)

> Pada Fase Taking Hold atau dependen mandiri ini, secara bergantian timbul kebutuhan ibu
untuk mendapatkan perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa
melakukan segala sesuatu secara mandiri.

> Fase ini berlangsung antara 3 - 10 hari setelah melahirkan

> Pada fase ini, ibu sudah mulai menunjukkan kepuasan (terfokus pada bayinya)

> Ibu mulai tertarik melakukan pemeliharaan pada bayinya

> Ibu mulai terbuka untuk menerima pendidikan kesehatan bagi dirinya dan juga pada bayinya

> Ibu mudah sekali didorong untuk melakukan perawatan bayinya

xxii
> Pada fase ini, ibu berespon dengan penuh semangat untuk memperoleh kesempatan belajar
dan berlatih tentang cara perawatan bayi dan ibu memiliki keinginan untuk merawat bayinya
secara langsung

> Untuk itu, pada fase ini sangatlah tepat bagi bidan atau perawat untuk memberikan
pendidikan kesehatan tentang hal-hal yang diperlukan bagi ibu yang baru melahirkan dan bagi
bayinya.

> Bidan/perawat perlu memberikan dukungan tambahan bagi ibu-ibu melahirkan berikut ini:

a. Ibu primipora yang man mengasuh anak


b. Ibu yang merupakan wanita karier
c. Ibu yang tidak mempunyai keluarga untuk dapat berbagi rasa
d. Ibu belum berpengala- yang berusia remaja
e. Ibu yang tidak bersuami

Karena ibu-ibu tersebut seringkali mengalami kesulitan menyesuaikan diri terhadap isolasi
yang dialaminya dan tidak menyukai terhadap tanggung jawabnya di rumah dan merawat
bayi

3) Fase Letting Go (Perilaku Interdependen)

> Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang
berlangsung setelah 10 hari pasca melahirkan

> Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya

> Keinginan ibu untuk merawat diri dan bayinya sangat meningkat pada fase ini

> Terjadi penyesuaian dalam hubungan keluarga untuk mengobservasi bayi

> Hubungan antar pasangan memerlukan penyesuainn dengan kehadiran anggota baru
(bayi)

b. Penyesuaian Ayah (Paterual Adjustment)

Bayi baru lahir memberikan dampak yang besar terhadap ayah. Greenberg & Morris (1976)
menyebutkan absorbsi, keasyikan dan kesenangan ayah dengan bayinya sebagai engrossment,
yaitu:

1) Sebagai ayalhı menunjukkan keterlibatannya yang dalam dengan bayinya

xxiii
2) Ayah terpikat dengan bayinya

3) Ayah scring merasakan kontak dengan rabaan atau kontak dari mata ke mata dengan bayinya

4) Ayahsering merasakan bahwa harga dirinya/ rasa percaya dirinya meningkat yaitu merasa lebih
besar, lebih dewasa dan lebih tua pada saat melilat bayinya pertama kali

5) Ayah mengalami 3 tahap proses selama 3 minggu pertama bayi baru lahir yaitu:

> Tahap I: Pengalaman bagaimana rasanya bila nanti membawa bayinya kerumah

>Tahap II: Realitas yang tidak menyangka menjadi ayah baru, karena mungkin menjadi
anggota keluarga yang terlupakan

> Tahap III: Keputusan yang dilakukan dengan sadar untuk mengontrol dan menjadi lebilh
aktif terlibat dalam kehidupan bayinya

6) Untuk itu, bidan/perawat juga harus dapat membantu para ayah dalam melewati nmasa transisi
ini, dengan:

> Membantu ayah untuk meninjau kembali harapan pada saat menjadi ayah

> Memberi informasi yang realistis dan konsisten tentang tingkah laku bayi

> Melibatkan ayah yang ingin mengetahui cara perawatan bayi

> Menganjurkan ayah untuk berbagi perasaan tentang pengalaman baru memiliki bayi
dengan istrinya.

c. Penyesuaian Orang Tua - Bayi (Infant- Parent Adjustment)

Interaksi orang tua bayi dikarakteristikkan dengan suatu rangkaian irama (ritme), perilaku
repertoar/repertoires, dan pola tanggung jawab (responsivity)

1) Ritme (irama kehidupan)

> Baik orang tua maupun bayi harus mampu untuk saling berinteraksi

> Orang tua harus bekerja keras untuk membantu bayi mempertahankan keadaan siap
untuk berinteraksi

2) Perilaku Repertoires

xxiv
Ayah dan ibu menggunakan perilaku ini tergantung pada kontak atau pemberian perawatan
pada bayi

> Repertoires pada bayi meliputi perilaku mamandang, bersuara dan ekspresi wajah yaitu:

• Perilaku menatap

Bayi dapat memfokuskan tatapan dan mengikuti muka/wajah orang sejak lahir (kontrol
sadar)

• Bersuara dan ada ekspresi muka

Bahasa tubuh adalah bahasa awal bayi

> Repertoires pada orang tua mencakup berbagai perilaku orang tua dalam berinteraksi
dengan bayinya, yaitu:

• Secara konstan melihat bayi dan mencatat perilaku bayi

• Berusaha berbicara dengan gaya bayi (infantilizing), lambat halus, ritmik dan berusaha
agar bayi mendengar pembicaraan

• Menggunakan ekspresi wajah sebagai media dalam berinteraksi dengan ekspresi halus
dan menonjolkan ekspresi untuk menunjukkan ekspresi kejutan, kebahagiaan dan
sebagainya dalam berkomunikasi dengan bayinya

• Bermain dengan bayi seperti "ciluk baa"

•Menirukan perilaku bayi, seperti bila bayi tersenyum, orangtua ikut tersenyum. Bila
bayi mengerutkan dahi, orangtua ikut mengerutkan dahi

3) Responsivity

> Resposivity terjadi pada waktu khusus dan sama dalam suatu stimulasi perilaku
mendapatkan suatu perasaan dalam perilaku yang mempengaruhi interaksi untuk berbuat
positif (feedback)

> Dengan kata lain, resposivity merupakan respon yang terjadi pada waktu tertentu dan
bentuknya sama dengan perilaku stimulus

> Respon-respon tersebut merupakan imbalan bagi orang yang memberi stimulus,
misalnya bila orang dewasa meniru bayi, baru tampak menikmati respon tersebut.

xxv
3. Adaptasi Psikologis Yang Memerlukan Rujukan
Beberapa ahli berpendapat bahwa dalam minggu-minggu pertama setelah melahirkan, banyak ibu
menunjukkan gejala-gejala depresi dari yang ringan sampai yang berat disertai dengan gejala- gejala
neurosis traumatik.

Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam gejala-gejala psikiatrik pada ibu yang baru
melahirkan yaitu:

a. Ketakutan yang berlebihan dalam masa hamil

b. Struktur peorangan yang tidak normal sebelumnya

c. Riwayat psikiatrik abnormal

d. Riwayat obstetrik (kandungan) abnormal

e. Riwayat kelahiran mati atau kelahiran cacat

f. Riwayat penyakit lain

Pada umumnya, penderita dapat sembuh kembali tanpa atau dengan pengobatan. Namun
demikian, kadang-kadang diperlukan terapi oleh ahli penyakit jiwa (psikiater). Seringkali, kelainan-
kelainan psikiatrik ini dapat timbul berulang setelah persalinan-persalinan berikutnya (Huliana M,
2003).

Banyak tipe masalah psikiatrik yang terjadi pada masa nifas. Tlhe Dingnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, 4th edition (DSM-IV) telah menambahkan serangan pascapartum lebih
spesifik ke kategori diagnostik gangguan alam perasaan pada gangguan psikiatrik pascapartum dibagi
menjadi 3 yaitu:

a) Reaksi Penyesuaian Dengan Perasaan Depresi (Baby Blues)

Reaksi penyesuaian dengan perasaan depresi yang juga dikenal dengan istilah "Postpartum
Blues atau Baby Blues" merupakan periode sementara terjadinya depresi yang seringkali terjadi
selama beberapa hari pertama pada masa nifas.

Baby blues ini dapat disebabkan oleh:

> Perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran
bayinya, yang merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan.

> Perubahan fisik selama beberapa bulan kehamilan, dimana terjadi perubahan kadar hormon
estrogen, progesteron dan prolaktin yang cepat setelah melahirkan. Setelah melahirkan dan
xxvi
lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah
hormon tersebut sehingga membutuhkan waktu untuk penyesuaian diri.

> Perubahan emosional, dimana kehadiran seorang bayi dapat membuat perbedaan besar
dalam kehidupan ibu dalam hubungannya dengan suami, orangtua, maupun anggota keluarga
lain.

Gejala-gejala postpartum blues atau baby blues antara lain, ibu mengalami perubahan
perasaan, menangis, cemas, kesepian, khawatir mengenai bayinya, tidak mampu beradaptasi,
sensitif, tidak nafsu makan, sulit tidur, penu-runan gairah seks dan kurang percaya diri terhadap
kemampuan menjadi seorang ibu.

Baby blues ini seringkali terjadi pada saat ibu masih dirawat di rumah sakit atau klinik
bersalin, tetapi juga bisa berlangsung setelah ibu di rumah. Baby blues lebih berat dialami oleh ibu
primipara dari multipara. Baby blues dapat sembuh kembali tanpa pengobatan, namun bila gejala-
gejala baby blues terjadi menetap atau memburuk, ibu membutuhkan evaluasi lebih ibu. lanjut
terhadap depresi pascapartum.

Bidan/perawat dapat membantu ibu mengalami gejala-gejala baby blues ini, dengan:

> Membantu perawatan diri ibu dan bayinya

> Memberikan informasi yang tepat

> Menyarankan pada ibu untuk:

• Meminta bantuan suami atau keluarga jika ibu membutuhkan istirahat untuk
menghilangkan kelelahan

• Memberi tahu suami mengenai apa yang sedang ibu rasakan, karena dengan bantuan
suami dan keluarga dapat membantu mengatasi gejala-gejala ini.

• Membuang rasa cemas dan kekhawatiran akan kemampuan merawat bayi karena
semakin sering merawat bayi, ibu akan semakin trampil dan percaya diri

• Mencari hiburan dan meluangkan waktu untuk diri sendiri

b) Psikosis Pascapartum

Angka kejadian terjadinya psikosis post- partum ini adalah 1 - 2 per 1000 dari ibu yang baru
melahirkan, biasanya terjadi dalam 3 bulan pertama postpartum. Gejala-gejalanya meliputi agitasi,
hiperaktivitas, insomnia, alam perasaan yang labil, kebingungan, berfikir tidak rasional, kesulitan
xxvii
mengingat atau berkonsentrasi, tidak bisa membuat keputusan, delusi dan halusinasi. Gejala
tampak terdapat perbaikan 95% dari ibu dalam 2 sampai 3 bulan. Tindakan yang dapat diberikan
adalah dengan ibu dilakukan rawat inap (hospitalisasi), pemberian obat antipsikotik,sedatif, terapi
anti kejang, perawatan bayinya, dukungan sosial dan psikoterapi.

c) Gangguan alam perasaan mayor pascapartum (Depresi Pascapartum)

Depresi pasca melahirkan (depresi postpar- tum) terjadi bilamana ibu merasakan kesedihan
yang berlebihan karena kebebasan, otonomi, interaksi sosial, dan kemandiriannya berkurang.

Faktor-faktor resiko terjadinya depresi postpartum meliputi sebagai berikut:

a. Primipara
b. Perasaan ambivalensi (kemenduaan) dalam mempertahankan kehamilan
c. Riwayat depresi postpartum sebelumnya
d. Kurangnya dukungan sosial
e. Kurangnya hubungan yang stabil dan yang mendukung dengan pasangan atau orang-
tuanya
f. Ketidak puasan ibu terhadap dirinya sendiri, seperti masalah body image (gambaran tubuh)
dan masalah makan

Bidan/perawat mempunyai peran sebagai berikut:

1. Dalam memberikan perawatan sehari-hari:

• Bidan/perawat mengobservasi ibu yang baru melahirkan mengenai tanda-tanda


obyektif adanya depresi, yaitu kecemasan, iritabel, daya konsentrasi buruk, sulit tidur,
nafsu makan kurang, keletihan, mudah menangis.

• Bidan/perawat mendengarkan pernyataan-pernyataan ibu yang menunjukkan


perasaan kegagalan dan menyalahkan dirinya sendiri.

• Bidan/perawat mencatat berat dan la manya gejala tersebut serta mencatat perilaku
dan ucapan ibu yang aneh yang menunjukkan suatu potensial terjadinya kekerasan terhadap
dirinya sendiri, orang lain, maupun bayinya, harus segera dilaporkan untuk dievaluasi lebih
lanjut.

• Ibu dengan riwayat depresi postpartum dirujuk ke ahli jiwa untuk konseling dan
pemberian terapi.

2. Bidan/perawat yang bekerja di lingkungan poliklinik/rawat jalan memiliki peran dalam:


xxviii
• Membantu calon orangtua untuk memahami perubahan pola hidup dan tuntunan
peran berhubungan dengan masa menjadi orangtua

• Memberikan informasi yang realistik dan panduan-panduan yang baik yang dapat
membantu mencegah depresi postpartum

• Memberikan penjelasan pada ibu, pasang- an dan anggota keluarga, kemungkinan


adanya baby blues setelah melahirkan dan merupakan gejala normal bila tidak berlangsung
lama

• Bila perlu menjelaskan gejala-gejala depresi postpartum dan segera minta bantuan
petugas kesehatan bila timbul gejala-gejala tersebut.

• Mendorong ibu untuk merencanakan bagaimana ia akan mengatur rumahnya nanti dan
memberikan saran-saran yang konkrit bagaimana beradaptasi dalam penyesuaiannya
menjadi ibu.

BAB III

PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Masa nifas adalah Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari menurut hitungan
awam merupakan masa nifas. Masa ini penting sekali untuk terus dipantau. Nifas merupakan masa
pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid. Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah
plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.

Pada perubahan fisiologis dalam masa nifas yaitu berbagai perubahan dalam sistem reproduksi,
Perubahan dalam sistem kardiovaskuler, perubahan dalam sistem kemih dan saluran kemih, perubahan

xxix
dalam sistem endokrin, perubahan sistem gastrointestinal, perubahan berat badan, perubahan dinding
abdomen/perut, perubahan sistem integumen, perubahan sistem muskuloskeletal, perubahan sistem
neurologis, perubahan tanda-tanda vital. Sedangkan pada adaptasi psikologis dalam masa nifas antara
lain ikatan antara ibu - bayi (bonding), adaptasi psikologis normal, adaptasi psikologis yang
memerlukan rujukan

3.2 SARAN
Diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang Konsep Nifas, Adaptasi Fisik - Psikologi
Nifas. Dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan oleh karena itu kami mohon
saran yang membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

xxx
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, I. M. Lowdermilk, D. L., Jensen, M. D. & Perry S. E. (2005). Buku Ajar Keperawatan
Maternitas. Edisi 4. Alih Bahasa: Maria A. W. & Peter I. N. Jakarta: EGC

Huliana, M. (2003). Perawatan Ibu Pasca Melahirkan. Jakarta: Puspa Swara.

Muryani, A. (2009). Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas (Postpartum). Jakarta: CV. Trans Info
Media.

Saifuddin, A.B. (2006). Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka.

Saleha, S. (2009). Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas . Jakarta: Salemba Medika.

xxxi

Anda mungkin juga menyukai