Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY.

”D”NIFAS HARI KE-I USIA 25


TAHUN P1001 Ab000 DENGAN PUTTING SUSU DATAR
(FLAT NIPPLE)

Dosen : Sulistiyah, S.SiT

Oleh:
SINTA YUNAWATI
0504.89

AKADEMI KEBIDANAN WIGYAGAMA HUSADA


MALANG
2006
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Payudara dan Fisiologi Laktasi


Setiap manusia pada umumnya mempunyai payudara, tetapi antara laki -
laki dan perempuan berbeda dalam fungsinya. Payudara yang matang adalah
salah satu tanda kelamin sekunder dari seorang gadis dan merupakan salah
satu organ yang indah dan menarik. Lebih dari itu untuk mempertahankan
kelangsungan hidup keturunannya maka organ ini menjadi sumber utama dari
kehidupan, karena Air Susu Ibu ( ASI ) adalah makanan bayi yang paling
penting terutama pada bulan - bulan pertama kehidupan.
1. Kalang Payudara ( Areola Mammae )
Letaknya mengelilingi putting susu dan berwarna kegelapan yang
disebabkan oleh penipisan dan penimbunan pigmen pada kulitnya.
Perubahan warna ini tergantung dari corak kulit dan adanya kehamilan.
Pada wanita yang corak kulitnya kuning langsat akan berwarna jingga
kemerahan, bila kulitnya kehitaman maka warnanya lebih gelap. Selama
kehamilan warna akan menjadi lebih gelap dan wama ini akan menetap
untuk selanjutnya, jadi tidak kembali lagi seperti warna asli semula.
Pada daerah ini akan didapatkan kelenjar keringat, kelenjar lemak
dari montgomery yang membentuk tuberkel dan akan membesar selama
kehamilan. Kelenjar lemak ini akan menghasilkan suatu bahan dan dapat
melicinkan kalang payudara selama menyusui. Di kalang payudara
terdapat duktus laktiferus yang merupakan tempat penampungan air susu.
2. Putting Susu.
Terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya variasi
bentuk dan ukuran payudara maka letaknya akan bervariasi. Pada tempat
ini terdapat lubang - lubang kecil yang merupakan muara dari duktus
laktiferus, ujung - ujung serat saraf, pembuluh darah, pembuluh getah
bening, serat - serat otot polos yang tersusun secara sirkuler sehingga bila
ada kontraksi maka duktus laktiferus akan memadat dan menyebabkan
putting susu ereksi, sedangkan serat - serat otot yang longitudinal akan
menarik kembali putting susu tersebut.
Payudara terdiri dari 15 - 25 lobus. Masing - masing lobulus
terdiri dari 20 - 40 lobulus. Selanjutnya masing - masing lobulus terdiri
dari 10 - 100 alveoli dan masing - masing dihubungkan dengan saluran
air susu ( sistem duktus ) sehingga merupakan suatu pohon.
3. Fisiologi Pengeluaran ASI
Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek
antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam - macam hormon.
Pengaturan hormon terhadap pengeluaran ASI, dapat dibedakan menjadi
3 bagian, yaitu :
a. Pembentukan kelenjar payudara.
b. Pembentukan air susu.
c. Pemeliharaan pengeluaran air susu.

a. Pembentukan kelenjar payudara.


1. Masa Kehamilan.
Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas
dari - duktus yang baru, percabangan - percabangan dan lobulus,
yang dipengaruhi oleh hormon - hormon plasenta dan korpus
luteum. Hormon - hormon yang ikut membantu mempercepat
pertumbuhan adalah prolaktin, laktogen plasenta, karionik
gonadotropin, insulin, kortisol, hormon tiroid, hormon
paratoroid, hormon pertumbuhan.
2. Pada 3 bulan Kehamilan.
Prolaktin dari adenohipofise / hipofise anterior mulai
merangsang kelenjar air susu untuk menghasilkan air susu yang
disebut kolostrom. Pada masa ini pengeluaran kolostrum masih
dihambat oleh estrogen dan progesterone, tetapi jumlah prolaktin
meningkat hanya aktifitas dalam pembuatan kolostrum yang
ditekan.
3. Pada Trimester Kedua Kehamilan.
Laktogen plasenta mulai merangsang untuk pembuatan
kolostrum. Keaktifan dari rangsangan hormon - hormon terhadap
pengeluaran air susu telah didemontrasikan kebenaranya bahwa
seorang Ibu yang melahirkan bayi berumur 4 bulan dimana
bayinya meninggal, tetap keluar kolostrum.

b. Pembentukan Air Susu.


Pada seorang Ibu yang menyusui dikenai 2 reflek yang masing-
masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu
yaitu:
1. Refleks Prolaktin.
Pada akhir kehamilan hormon prolaktin memegang
peranan untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum
terbatas karena aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan
progesteron yang kadarnya memang tinggi. Setelah partus
berhubung lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus
luteum maka estrogen dan progesterone sari-at berkurang,
ditambah dengan adanya isapan bayi yang merangsang puting
susu dan kalang payudara, akan merangsang ujung - ujung saraf
sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.
Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui
medulla spinalis hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor -
faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya
merangsang pengeluaran faktor - faktor yang memacu sekresi
prolaktin. Faktor - faktor yang memacu sekresi prolaktin akan
merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin.
Hormone ini merangsang sel - sel alveoli yang berfungsi untuk
membuat air susu.
Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3
bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat
tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada isapan
bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung.
Pada ibu yang melahirkan anak tetapi tidak menyusui,
kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 - 3. pada
ibu yang menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan
seperti :
o Stress atau pengaruh psikis
o Anastesi
o Operasi
o Rangsangan puting susu

2. Reflek Letdown
Bersama dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise
anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada yang
dilanjutkan ke hipofise posterior ( neurohipofise ) yang kemudian
dikeluarkan oksitosin.
Melalui aliran darah, hormone ini diangkat menuju uterus
yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi
involusi dari organ tersebut. Kontraksi dari sel akan memeras air
susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke system
duktus dan selanjutnya menbalir melalui duktus lactiferus masuk
ke mulut bayi.
Faktor - faktor yang meningkatkan let down adalah :
- Melihat bayi
- Mendengarkan suara bayi
- Mencium bayi
- Memikirkan untuk menyusui bayi
Faktor - faktor yang menghambat reflek let down adalah stress,
seperti:
- Keadaan bingung / pikiran kacau
- Takut
- Cemas
c. Pemeliharaan Pengeluaran Air Susu
Hubungan yang utuh antara hipotalamus dan hipofise akan
mengatur kadar prolaktin dan oksitosin dalam darah. Hormone -
hormone ini sangat perlu untuk pengeluaran permulaan dan
pemeliharaan penyediaan air susu selama menyusui. Bila susu tidak
dikeluarkan akan mengakibatkan berkurangnya sirkulasi darah
kapiler yang menyebabkan terlambatnya proses menyusui.
Berkurangnya rangsangan menyusui oleh bayi misalnya kekuatan
isapan yang kurang, frekuensi isapan yang kurang dan singkatnya
waktu menyusui ini berarti pelepasan prolaktin yang cukup untuk
mempertahankan pengeluaran air susu mulai sejak minggu pertama
kelahiran.

4. Mekanisme Menyusui.
a. Reflek mencari ( Rooting Reflex }
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling
mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan reflek mencari pada
bayi. Ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju putting susu
yang menempel tadi diikuti dengan membuka mulut dan kemudian
putting susu ditarik masuk ke dalam mulut.

b. Reflek menghisap ( Sucking Reflex )


Putting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan
bantuan lidah, putting susu ditarik lebih jauh dan rahang rnenekan
kalang payudara dibelakang putting susu yang pada saat itu sudah
terletak pada langit - langit keras. Dengan tekanan bibir dan gerakan
rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara
dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu,
selanjutnya bagian belakang lidah menekan putting susu pada langit -
langit yang mengakibatkan air susu keluar dari putting susu. Cara
yang dilakukan oleh bayi, tidak akan menimbulkan cedera pada
putting susu.
c. Reflek menelan (swallowing reflek )
Pada saat air susu keluar dari putting susu, akan disusul dengan
gerakan menghisap yang ditimbulkan oleh otot - otot pipi, sehingga
pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan
mekanisme menelan masuk ke lambung. Keadaan akan berbeda bila
bayi diberi susu botol dimana rahang mempunyai peranan sedikit di
dalam menelan dot botol, sebab susu mengalir dengan mudah dari
lubang dot. Dengan adanya gaya berat, yang disebabkan oleh posisi
botol yang dipegang kearah bawah dan selanjutnya dengan adanya
isapan pipi, yang semuanya ini akan membantu aliran susu, sehingga
tenaga yang diperlukan oleh bayi untuk menghisap susu menjadi
minimal.
Kebanyakan bayi - bayi yang masih baru lahir belajar menyusu
pada ibunya, kemudian dicoba pada susu botol yang bergantian, maka
bayi tersebut akan menjadi bingung puting. Sehingga sering bayi
menyusu pada ibunya, cara menyusu seperti menghisap dot botol,
keadaan ini berakibat kurang baik dalam pengeluaran air susu ibu.
Oleh karena itu, jika bayi terpaksa tidak bisa langsung disusui oleh
ibunya pada awal kehidupan, sebaiknya bayi diberi minum melalui
sendok, cangkir, atau pipet, sehingga bayi tidak mengalami bingung
puting.

B. Manajemen Laktasi
Semua keunggulan yang terkandung pada ASI perlu ditunjang oleh cara
pemberian yang benar.
1. Persiapan menyusui
Persiapan menyusui pada masa kehamilan merupakan ha( yang
pentin-, sebab den-an persiapan yang lebih baik maka ibu lebih siap untuk
menyusui bayinya. Bimbingan persiapan menyusui ( BPM ), terdiri atas :
a. Penyuluhan ( audio visual ) tentang :
- Keunggulan AS[ dan kerugian susu botol.
- Mantaat rawat gabung.
- Perawatan bayi.
- Keluarga berencana,dll.
b. Dukungan psikologis pada ibu untuk manghadapi persalinan dan
keyakinan dalam keberhasilan menyusui.
c. Pelayanan meliputi pemeriksaan payudara, perawatan putting susu.

2. Perawatan Psikologis
Langkah - langkah yang harus diambil dalam mempersiapkan ibu secara
kejiwaan untuk menyusui :
- Menjelaskan pada ibu bahwa persalinan dan menyusui adalah proses
alamiah yang hampir semua ibu berhasil menjalaninya.
- Meyakinkan ibu akan keuntungan ASI dan kerugian susu botol.
- Memecahkan masalah yang timbul pada ibu yang mempunyai
pengalaman menyusui sebelumnya.
- Setiap saat ibu diberi kesempatan untuk bertanya dan petugas
kesehatan harus dapat memperlihatkan kemauanya dalam membantu
ibu sehingga hilang ketakutan untuk bertanya tentang masalah yang
dihadapi.

3. Pemeriksaan Payudara
Tujuan pemeriksaan payudara adalah untuk mengetahui lebih dini
adanya kelainan, sehingga diharapkan dapat dikoreksi sebelum
persalinan, dimulai dari inspeksi dan palpasi, serta dimulai pada
kunjungan pertama.
a. Inspeksi Payudara
1. Payudara
- ukuran dan bentuk
Tidak berpengaruh pada produksi ASI. Perlu diperhatikan
bila ada kelainan, seperti pembesaran masa, gerakan yang
tidak simetris pada perubahan posisi.
- Kontur / Permukaan
Permukaan yang tidak rata, adanya depresi, elevasi, retraksi
atau luka pada kulit payudara harus dipikirkan kearah tumor.
Saluran limfe yang tersumbat dapat menyebabkan kulit
membengkak, dan seperti kulit jeruk.
- Warna Kulit
Pada umumnya warna kulit sama dengan warna kulit perut
atau punggung, yang perlu diperhatikan adalah adanya warna
kemerahan tanda radang, penyakit kulit atau bahkan
keganasan.
2. Kalang Payudara
- Ukuran dan Bentuk
Umumnya akan meluas pada saat pubertas dan selama
kehamilan serta bersifat simetris.
- Permukaan
Dapat licin atau berkerut, bila ada sisik putih perlu dipikirkan
tentang kebersihannya yang kurang.
- Warna
Pigmentasi yang meningkat pada saat kehamilan
menyebabkan warna lebih gelap.

b. Palpasi Payudara
- Konsistensi.
Konsistensi payudara dari waktu ke waktu berbeda karena
pengaruh hormonal.
- Masa
Tujuannya untuk mencari masa secara jelas letak dan ciri-ciri
masa yang teraba, dan harus dievaluasi dengan baik. Pemeriksaan
ini sebaiknya diperluas sampai ke arah ketiak.
- Putting Susu
Pemeriksaan putting susu merupakan hal yang terpenting dalam
mempersiapkan ibu untuk menyusui.
4. Pemeriksaan Putting susu datar
a) Pengertian
Putting susu datar merupakan salah satu kendala dalam proses
menyusui. Macam-macam kelainan anatomi pada putting susu ada
dua, yaitu putting susu datar (flat nipple) dan putting susu terbenam
(inverted nipple).
Gambar bentuk-bentuk putting susu:

b) Etiologi
o Penyebabnya sampai saat ini belum diketahui secara pasti, hal ini
dapat dikarenakan terjadinya gangguan pembentukan atau
kelainan bawaan seperti pada true inverted nipple.
o Karena kelainan otot putting payudara, penanganannya
membutuhkan tindakan pembedahan.
c) Diagnosis
Untuk diagnosis apakah putting susu ada kelainan atau tidak, yaitu
dengan cara menjepit kalang payudara antara ibu jari dan jari telunjuk
di belakang . putting susu. Kalau putting susu menonjol maka putting
tersebut adalah normal, tetapi kalau putting tidak menonjol maka
putting tersebut putting inversi atau datar.
d) Komplikasi .
o Terjadinya putting susu lecet
o Terjadinya sumbatan saluran ASl
o Terjadinya pembengkakan payudara
o Terjadinya mastitis
o Terjadinya abses payudara
e) Penatalaksanaan
Cara Perawatan putting susu datar
a. Dengan Tekhnik Hoffman
1) Cucilah tangan sebelum melakukan perawatan payudara.
2) Kompres putting susu sampai bagian areola mammae dengan kapas
yang telah dibasahi minyak kelapa selama 2-3 menit. Tahap ini
bertujuan untuk memperlunak kotoran/kerak yang menempel pada
putting susu sehingga mudah untuk dibersihkan.
3) Olesi ibu jari dan jari telunjuk dengan minyak kelapa.
4) Kedua putting susu diputar kearah dalam dan keluar (searah dan
berlawanan jarum jam) sebanyak 30 kali putaran. Tahap ini
bertujuan untuk meningkatkan elastisitas otot putting susu.
5) Letakkan kedua jari telunjuk di sebelah kiri dan kanan putting
susu, kemudian secara perlahan tarik kearah luar menjauhi putting
susu. Lakukan sebanyak 20 kali. Gerakan ini membantu
meregangkan kulit areola mammae dan jaringan dibawahnya.
6) Gerakan tersebut diulangi dengan letak kedua jari telunjuk
dipindahkan kearah atas dan bawah.
7) Pijat kedua areola mammae hingga keluar 1-2 tetes ASI.
8) Kedua putting susu dibersihkan dengan handuk kering dan bersih.
9) Pakailah BH yang bersifat menopang payudara.

Gambar gerakan Hoffman

b. Dengan menggunakan pompa putting atau spuit modifikasi


Dapat dibuat dari spuit injeksi 10 cc. Bagian ujung jarum dipotong dan
kemudian pendorong dimasukkan dari arah potongan tersebut.
Gambar pembuatan spuit modifikasi :

Cara penggunaanya:
1) Tempelkan ujung pompa (spuit injeksi) pada payudara, sehingga
putting berada di dalam pompa.
2) Tarik perlahan sehingga terasa ada tahanan dan dipertahankan
selama 30 detik - 1 menit.
3) Bila terasa sakit kendorkan.
4) Prosedur ini diulangi terus hingga beberapa kali dalam sehari.

c. Dengan menggunakan pemijatan untuk menormalkan bentuk


putting
1) Cucilah tangan sebelum memulai pemijatan.
2) Sebelum pemijatan angkat payudara dengan telapak tangan,
kemudian tekan tepat pada putting dengan telunjuk selama 3 menit.
3) Tarik putting dengan ibu jari dan jari telunjuk, selama 3 detik lalu
lepaskan.
4) Selanjutnya, tahan dan angkat payudara dengan salah satu telapak
tangan, dengan posisi payudara antara ibu jari dan telunjuk serta
telapak sedikit menekan dasar payudara.
5) Letakkan putting diantara ibu jari dan telunjuk serta jari tengah.
Arahkan putting kearah atas hingga anda dapat melihat ujung
putting. Bila keluar cairan dari ujung putting maka segera
bersihkan.
6) Pijat sekeliling lingkar putting mernakai ujung jari seolah-olah
membentuk lingkaran selama I-2 menit. Jika lingkar putting sudah
terasa lunak, lakukan pada puting sebelahnya.
7) Tarik ujung putting memakai ujung, jari, serta putar ke kiri atau ke
kanan selama 2-3 menit. Lakukan tarikan atau putaran ini tetapi
jangan sampai terasa sakit.

Gambar pemijatan untuk menormalkan putting susu :

Kalau dengan semua cara tersebut di atas putting susu tetap


datar, maka ASI dikeluarkan dengan tangan atau pompa kemudian
diberikan dengan sendok/pipet. Karena tidak semua kelainan putting
susu dapat dikoreksi.
Cara menyusui dengan flat nipple
1) Bila hanya satu putting yang terkena, maka bayi pertama-tama
disusukan pada putting susu yang normal, karena menyusukan
pada putting yang normal maka sebagian kebutuhan bayi akan
terpenuhi dan juga mengurangi kemungkinan terjadinya lecet pada
putting.
2) kompres dingin pada putting susu yang datar sebelum menyusui
akan menambah protaktilitas dari putting.
3) Deng teknik Hoffman dan menggunakan Breast Hield pada waktu
tidak menyusui akan menambah protaktilitas dari putting
4) Kalau dengan semua cara tersebut di atas, tidak dapat dikoreksi
maka ASI dikeluarkan dengan tangan atau pompa kemudian
diberikan dengan sendok atau pipet.
5) Biarkan bayi menghisap dengan kuat pada posisi menyusui yang
benar, karena dengan demikian akan memacu peregangan putting.
Gambar cara memegang putting susu datar pada saat menyusui

Gambar berbagai macam posisi menyusui

Cara pengeluaran ASI Pada putting susu datar


1) Pengeluaran ASI dengan tangan
 Siapkan cangkir, gelas atau mangkuk yang sangat bersih. Cuci
dengan sabun dan keringkan dengan tissue/lap yang bersih.
Tuangkan air mendidih ke dalam cangkir dan biarkan selama
beberapa menit. Bila sudah siap untuk memeras ASI, buang air
dari cangkir.
 Tangan dicuci sampai bersih .
 Letakkan cangkir di meja atau pegang dengan satu tangan lain
untuk menampung ASI.
 Badan condong ke depan dan sangga payudara dengan tangan.
 Letakkan ibu jari disekitar areola di atas puting susu dan jari
telunjuk pada areola di bawah putting susu.
 Pijat ibu jari dan telunjuk ke dalam, menuju dinding dada.
 Sekarang pijat areola di belakang putting susu diantara jari dan
ibu jari.
Ibu harus memijat sinus lactiferus di bawah areola.
 Tekan-lepas-tekan-lepas. Pada mulanya tidak ada ASI yang
keluar, tetapi setelah diperas beberapa kali ASI mulai menetes.
ASI juga memancar bila reflek pengeluaran aktif.
 Jangan memijat atau menekan putting, karena dapat
menyebabkan nyeri.
 Gerakan ini diulangi pada sekitar kalang payudara pada semua
sisi, agar yakin bahwa ASI telah diperas dari semua segmen
payudara.

Gambar pengeluaran ASI dengan tangan

2) Pengeluaran ASI dengan pompa


 Tekan bola karet unutuk mengeluarkan udara.
 Ujung leher tabung diletakkan pada payudara dengan putting
susu tepat ditengah, dan tabung benar-benar melekat pada kulit.
 Bola karet dilepas, sehingga putting susu dan kalang payudara
tertarik ke dalam.
 Tekan-lepas-tekan-lepas, sehingga ASI keluar dan terkumpul
pada lekukan penampung sisi tabung. Setelah dipakai atau akan
dipakai, alat harus dicuci bersih dengan menggunakan air
mendidih. Bola karetnya sukar dibersihkan, oleh karenanya bila
memungkinkan lebih baik pengeluaran ASI dengan
menggunakan tangan.

Gambar pengeluaran ASI dengan pompa

Cara pemberian ASI ke bayi :


1) Dengan menggunakan cangkir
 Ibu atau yang memberi minum bayi duduk dengan
memangku bayi.
 Pegang punggung bayi dengan lengan.
 Letakkan cangkir pada bibir bawah bayi.
 Lidah bayi berada di atas pinggir cangkir dan biarkan bayi
menghisap ASI dari dalam cangkir (saat cangkir
dimringkan).
 Beri sedikit waktu istirahat setiap kali bayi menelan.
Gambar pemberian ASI dengan cangkir :

2) Dengan rnenggunakan sendok


 Ibu atau yang memberi minum pada bayi duduk dengan
memangku bayi.
 Pegang punggung bayi dengan lengan.
 Dekatkan bibir sendok pada mulut bayi.
 Biarkan bayi berusaha menghisap sendiri ASI dalam
sendok
 Berikan ASI sedikit demi sedikit.
 Beri sedikit waktu istirahat setiap kali bayi menelan.
Gambar pemberian ASI dengan sendok :

Langkah-langkah Menyusui Yang Benar


a) Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian
dioleskan pada putting dan sekitar areola. Cara ini
mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga
kelembapan pada putting susu.
b) Bayi diletakkan menghadap perut ibu/payudara.
 Ibu duduk/berbaring dengan santai, bila duduk lebih
baik menggunakan kursi yang rendah, agar kaki ibu
tidak menggantung dan punggung ibu bersandar pada
sandaran kursi.
 Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu
lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu
(kepala tidak boleh menengadah, dan bokong bayi
ditahan dengan telapak tangan).
 Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu, dan
yang satu di depan.
 Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi
menghadap payudara (tidak hanya kepala bayi yang
membelok).
 Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
 Ibu menatap bayi dengan penuh kasih sayang.
c) Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari lain
menopang di bawah, jangan menekan putting susu atau
areola saja.
d) Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut dengan cara
menyentuh pipi dengan putting susu atau menyentuh mulut
bayi.
e) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi
didekatkan ke payudara ibu dan putting serta areola
dimasukkan ke mulut bayi.
f) Melepas isapan bayi dengan cara kelingking dimasukkan ke
mulut bayi melalui sudut mulut atau dagu bayi ditekan ke
bawah.
g) Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit
kemudian dioleskan pada putting susu dan di sekitar areola,
biarkan kering dengan sendirinya.
h) Menyendawakan bayi dengan tujuan mengeluarkan udara
dari lambung supaya hayi tidak muntah/gumoh setelah
menyusu.
Gambar posisi untuk membuat bayi bersendawa:

Cara Pengamatan Teknik Menyusui Yang Benar


a) Bayi tampak tenang.
b) Badan bayi menempel pada perut ibu.
c) Mulut bayi terbuka lebar, dagu menempel pada payudara
ibu.
d) Sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi.
e) Bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan.
f) Putting susu ibu tidak terasa nyeri.
g) Telinga dan tangan bayi terletak pada satu garis lurus.
h) Kepala tidak menengadah.
Lama dan Frekuensi Menyusui
Sebaiknya menyusui bayi tanpa dijadwal, karena bayi
akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui
bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,
dsb) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang
sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan
ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam.
Pada awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tidak
teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu
kemudian.
Untuk menjaga keseimbangan besarnya payudara, maka
sebaiknya tiap kali menyusui harus digunakan kedua payudara
dan diusahakan sampai payudara terasa kosong, agar produksi
ASI tetap baik. Setiap menyusui dimulai dengan payudara yang
terakhir disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu
menggunakan BH yang dapat menyangga payudara, tetapi
tidak terlalu ketat.
Gambar BH yang baik untuk ibu menyusui :

Penyimpanan ASl bagi Ibu Bekerja


ASI yang telah dikeluarkan dapat disimpan untuk beberapa saat
dengan syarat, bila disimpan :
1) Di udara terbuka/bcbas : 6-8 jam
2) Di lemari es (4ºC) : 24 jam
3) Di lemari pendingin/beku (-18ºC) : 6 bulan
Sebaiknya ASI disimpan dalam wadah kecil dari besi nirkarat
(stainless, steel). Tetapi jika tidak ada, bisa memakai kantong
plastik. Botol harus diberi tanggal dan jam agar ASI yang
pertama kali disimpan bisa dipakai lebih dulu. Jika akan
dipakai, ASI dihangatkan dulu dengan merendamnya dengan
air panas. ASI yang tersisa setelah diberikan pada bayi
sebaiknya dibuang. Pemberian ASI jangan menggunakan botol
susu, tetapi gunakan sendok.

C. Aspek Gizi Air Susu Ibu


1. Faktor - faktor yang mempengaruhi penggunaan ASI
a. Perubahan sosial budaya
- Ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.
- Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan
susu botol.
- Merasa ketinggalan jaman jika menyusui bayinya.
b. Faktor Psikologis
- Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
- Tekanan batin.
c. Faktor Fisik Ibu
- Ibu sakit, misalnya mastitis, hepatitis dsb.
d. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang
mendapat dorongan tentang manfaat pemberian ASI.

2. Kebaikan Air Susu Ibu.


ASI merupakan susu terbaik untuk bayi kita, tidaklah perlu
disangsikan lagi. Disamping zat- zat yang tergantung didalamnya,
pemberian ASI juga mempunyai beberapa keuntungan yaitu:
a. Steril dan aman dari pencemaran kuman.
b. Tidak ada bahaya alergi.
c. Selalu tersedia dengan susu yang optimal.
d. Produksi disesuaikan dengan kebutuhan bayi.
e. Mengandung anti body yang dapat menghambat pertumbuhan atau
membunuh kuman atau virus.

Selain kebaikan ASI sendiri, menyusui juga mempunyai keuntungan lain,.


yaitu :
a. Dengan menyusui terjalin hubungan yang lebih baik antara bayi dan
ibunya karena secara umum dengan adanya kontak kulit, bayi merasa
aman. Hal ini sangat penting bagi perkembangan psikis dan emosi dari
bayi.
b. Dengan menyusui menyebabkan uterus berkontraksi sehingga
pengembalian uterus keadaan fisiologis ( sebelum hamil ) lebih cepat.
c. Dengan menyusui akan mengurangi kemungkinan menderita kanker
payudara pada masa mendatang.
d. Dengan menyusui kesuburan ibu akan berkurang untuk beberapa bulan
mendatang.

3. Bahaya Pemberian Susu Botol.


a. Meningkatnya morbiditas diare karena kuman dan moniliasis mulut
yang meningkat, sebagai akibat dari pengadaan air dan sterilisasi yang
kurang baik.
b. Meningkatnya kejadian marasmus yang disebabkan kerena
penyapihan . yang terlalu dini.
c. Kurangnya kalori dan protein pada bayi sangat berbahaya karena
jumlah sel otak dan juga luas permukaan otak yang sebenarnya masih
dalam taraf perkembangan yang cepat sampai akhir tahun kedua,
perkembangan akan terganggu l terhenti sehingga menyebabkan
penurunan kapasitas mental, intelektual dan juga fisik di masa
mendatang.

4. Komposisi Air Susu Ibu. .


ASI. adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktase dan
garam - garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara
ibu, sebagai makanan utama bayi. Komposisi ASI ternyata tidak konstan
dan tidak sama dari waktu ke waktu.
Faktor - faktor yang mempengaruhi komposis Air Susu IN adalah:
a. Stadium laktasi.
b. Ras.
c. Keadaan nutrisi
d. Diit ibu.

5. Air Susu lbu Menurut Stadium Laktasi.


 Kolostrum
- Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar
payudara.
- Disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari
ketiga atau ke empat.
- Merupakan cairan kental dengan warna ke kuning - kuningan,
lebih kuning dibandingkan dengan susu yang matur
- Lebih banyak mengandung anti body dibandingkan dengan ASI
yang matur.
- Bila dipanaskan akan menggumpal, sedangkan ASI matur tidak.
- Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekoneum
dari usus bayi baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan
makanan bayi bagi makanan yang akan datang.

 Air Susu Masa Peralihan


- Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI
yang matur.
- Disekresi hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi.
- Kadar protein, makin merendah sedangkan kadar karbohidrat dan
lemak makin tinggi.

 Air Susu Matur


- Merupakan Asi yang disekresi pada hari ke-4 dan seterusnya.
- Merupakan suatu cairan berwarna putih kekuning - kuningan.
- Tidak menggumpal jika dipanaskan.
BAB II
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN

I. Pengkajian Data
Tanggal : 20 Januari 2007
Jam : 10.00
Tempat : RB Widyagama Husada

A. DATA SUBYEKTIF
1. Biodata
Nama ibu : Ny. Desti Wahyuni Nama ayah : Tn. Budiono
Umur : 25 tahun Umur : 30 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMU Pendidikan : D III
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Penghasilan : - Penghasilan : Rp. 800.000
Alamat : Jl. Sudimoro no. 6 Alamat : Jl. Sudimoro
No. Reg : 0504 8587

2. Riwayat Perkawinan
Menikah : 1 kali
Usia menikah : 20 tahun
Lama menikah : 5 tahun
3. Riwayat Haid
o Menarche umur : 13 tahun
o Siklus haid : 2 hari
o Lama haid : 7 hari
o Banyaknya : 2 softex/hari
o Konsistensi : cair
o Keluhan : Disminore (+)
4. Keluhan Utama
Ibu mengatakan sulit menyusui bayinya karena putting susunya tidak
menonjol.
5. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas sekarang
o Kehamilan
Trimester I ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya ke bidan
1 x. Ibu mengeluh mual muntah dan pusing. Ibu mendapat obat
(vitamin, Fe dan asam folat).
Trimester II ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya ke
bidan 2 kali. Ibu tidak memiliki keluhan apa-apa dan mendapat
obat (vitamin, Fe dan asam folat)
Trimester III
Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya ke bidan sekali
seminggu. Ibu mengeluh kram pada tungkai kakai. Ibu mendapat
obat (vitamin, Fe dan asam folat).
o Persalinan
Ibu melahirkan bayi pada tanggal 19 Januari 2007 jam 08.00 di
Bidan. Berat badan 3000 gram, PB 50 cm. jenis kelamin
perempuan. As 7-8 plasenta lahir spontan lengkap.
o Nifas
Kondisi ibu baik, keadaan umum baik. BAB dan BAK sudah
lancar. Ibu masih berbaring di tempat tidur. Lochea keluar dengan
normal.ibu terlihat sulit menyusui bayinya karena putting susunya
datar.
6. Riwayat Kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak menderita penyakit menular, menurun dan
menahun seperti ,hipertensi, jantung, diabetes, asma.
7. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan di dalam keluarganya tidak ada yang menderita
penyakit menular, menurun, maupun menahun seperti hipertensi,
jantung, diabetes, asma dan juga di keluarganya tidak memiliki
keturunan kembar.
8. Riwayat KB
Ibu mengatakan selama menikah belum pernah mengikuti KB dan Ibu
dianjurkan mengikuti KB MAL.
9. Riwayat Psikososial, budaya dan spiritual
o Riwayat Psikologis
Ibu merasa cemas dengan kondisinya karena tidak bisa menyusui
bayi dengan baik.
o Riwayat Sosial
Hubungan ibu dengan suami dan keluarga baik.
o Budaya
Ibu mengatakan di dalam keluarganya selalu mengadakan
selamatan setiap ada anggota keluarga baru.
o Spiritual
Ibu taat beribadah dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama
dan kepercayaannya.

10. Pola Kebiasaan sehari-hari


o Pola Nutrisi
Ibu makan 3 x sehari minum 6-7 gelas/hari dengan menu 1 piring
nasi, lauk 1 potong tempe dan daging. 1 mangkuk sayur setiap kali
makan dan minum vitamin A dan C tidak lupa ibu juga minum
segelas susu tiap hari.
o Pola Istirahat
Ibu tidur siang 2 jam dan tidur malam 6-8 jam
o Pola Aktivitas
Ibu belum melakukan aktivitas karena ibu baru melahirkan 1 hari
o Pola Eliminasi
Tidak ada gangguan, ibu BAB 1 x sehari dan BAK 3-4 kali sehari
o Pola Kebersihan
Ibu mandi 2 x sehari dan ganti pakaian tiap selesai mandi. Ibu
tidak pernah melakukan perawatan payudara selama hamil dan
nifas.
B. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : Composmentis.
Tekanan Darah : 120/80 mmHg.
Suhu : 36,3°C
Nadi : 90 x / menit
RR : 20 x/menit

2. Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi
Kepala : Simetris , warna rambut hitam , tidak rontok ,
bersih, tidak ada benjolan.
Muka : Simetris , agak pucat , tidak oedema , tidak ada
Kloasma
Mata : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak
icterus.
Hidung : Simetris, tidak ada pernafasan cuping hidung,
bersih, tidak ada pengeluaran secret
Mulut dan Gigi : Bibir tidak pucat , tidak ada stomatitis , tidak ada
caries gigi , tidak ada pembesaran tonsil dan
getah bening
Telinga : Bersih, simetris , tidak ada pengeluran secret,
tidak ada gangguan pendengaran
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid , kelenjar
limfe, dan tidak ada bendungan vena jugularis.
Dada : Simetris , tidak ada retraksi dada , frekuensi
normal.
Payudara : Simetris , terlihat kotor, terjadi penbesaran
payudara , terjadi Hiperpygmentasi dan
hipervaskularisasi pada areola mammae ,
putting susu datar
Perut : terdapat strie albican, tidak ada luka bekas
operasi, terdapat pembesaran perut sesuai usia
nifas.
Genetalia : Tidak oedema, tidak ada varises, terdapat
pengeluaran lochea rubra.

b) Palpasi
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,
bendungan vena jugularis , dan pembesaran
limfe
Perut : TFU 2 jari bawah pusat, UC baik, tidak ada
benjolan abnormal, kandung kemih tidak tegang
dan tidak terasa sakit.
Payudara : Adanya pengeluaran kolostrom, tidak ada
benjolan yang abnormal.
Ekstremitas : Tidak ada oedema, turgor kulit baik.

c) Auskultasi
Dada : Tidak ada ronkhi dan wheezing
Abdomen : Bising usus (-)

d) Perkusi
Abdomen : Meteorismus (-)
Reflek patella : (+) / (+)

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH


Dx : Ny. “D” P1001 Ab000 Postpartum hari ke-I dengan putting susu datar
Ds : - Ibu mengatakan telah melahirkan anak yang ke-I pada tanggal
19 januari 2007 jam 08.00 dengan jenis kelamin perempuan di
RB WIDYAGAMA HUSADA.
- Ibu mengatakan selama kehamilan tidak pernah melakukan
perawatan payudara.
Do : Pemeriksaan Fisik
Payudara : kolostrum (+), hiperpigmentasi areola mammae, putting
susu datar
Masalah
Tidak dapat menyusui dengan benar karena putting susu datar.
DS : Ibu mengatakan mengalami kesulitan bila menyusui karena
putting susunya datar dan ketidaktahuan tentang perawatan
payudara
DO : Ibu terlihat cemas.

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL


Pada Ibu : - Potensial terjadi putting susu lecet
- Potensial terjadi saluran ASI tersumbat sehingga produksi
ASI kurang optimal.
- Potensial terjadi pembengkakan payudara
- Potensial terjadi mastitis

Pada Bayi : - Potensial terjadi kurang gizi


- Potensial terjadi ikterus

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA


 KIE tentang cara menyusui dengan putting susu yang datar
 KIE tentang perawatan payudara dengan putting susu yang datar

V. INTERVENSI
Tanggal : 20 Januari 2007 jam 11.00
Dx : Ny.”D” P1001 Ab000 postpartum hari ke-1 dengan putting susu
datar
Tujuan : - Putting susu yang datar dapat sedikit menonjol
- Ibu dan bayi dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani
- Ibu dapat mengerti dan memahami tentang perawatan
payudara
- Bayi segera mendapat nutrisi dengan baik.
Kriteria Hasil :
o Keadaan Urnum Baik
o TTV normal
o Tidak ada perdarahan
o Tidak terjadi komplikasi
o Involusi uterus sesuai hari postpartum
o Laktasi lancar
o Bayi dapat menyusu sedikit demi sedikit.
.
Intervensi
1. Lakukan pendekatan pada ibu dan keluarga
R / Ibu dan keluarga lebih kooperatif dalam tindakan dan menambah
pengetahuan ibu dan keluarga.
2. Lakukan pemeriksaan TTV
R / Deteksi dini adanya komplikasi
3. Lakukan obsevasi kontraksi uterus dan TFU
R/ Kontraksi yang adekuat dapt mempercepat proses involusi uterus
4. Lakukan observasi pengeluaran pervaginam
R / Deteksi dini adanya kelainan
5. Anjurkan ibu mengkonsumsi makanan yang bergizi dan banyak minum
air putih
R/ Mengkonsumsi makanan yang bergizi membantu meningkatkan
regenerasi jaringan.
6. Ajarkan ibu cara perawatan payudara khususnya perawatan putting datar
R / Payudara menjadi bersih , lancar, dan putting dapat menonjol.
7. Ajarkan ibu cara menyusui yang benar
R / Pemberian ASI akan maksimal pada bayi
8. Anjurkan pada ibu untuk memberi ASI sesering mungkin
R / Bayi terpenuhi nutrisinya.
9. Jelaskan pada ibu akibat dari menyusui yang tidak benar
R / Menambah pengetahuan ibu
10. Jelaskan pada ibu cara perawatan putting payudara datar
R / Menambah pengetahuan ibu
11. Anjurkan pada ibu untuk kompres dingin / hangat sebelum / sesudah
menyusui
R/ untuk menouranoi benAak dan nyeri juoa untuk memperlancar
peredaran darah.
12. Jelaskan pada ibu tentang manfaat ASI
R / Menambah penoetahuan ibu.
13. Anjurkan pada ibu untuk memberikan ASI eksklusif
R/ Agar nutrisi terpenuhi

VI. IMPLEMENTASI
Tanggal : 20 Januari 2007 jam 11.30
Dx : Ny.”D” P1001 Ab000 postpartum hari ke-1 dengan putting susu datar
1. Melakukan pendekatan pada ibu dan keluarga dan menjelaskan hal-hal
yang belum dimengerti sehingga ibu dan keluarga lebih kooperatif
2. Mengukur TTV
KU : baik
Kesadaran : composmentis
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 90 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36ºC
TFU : 2 jari bawah pusat
3. Melakukan observasi lochea, banyak, dan warna
Lochea yang keluar adalah lochea rubra, warnanya merah dan banyaknya
2 softex/hari.
4. Melakukan observasi kontraksi uterus dan mengukur TFU. Memeriksa
kontraksi uterus dengan cara meraba uterus yaitu ibu disuruh tidur
terlentang, terlihat kontraksi uterusnya bagus.
5. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi untuk
mempercepat regenerasi jaringan sehingga luka jaringan maupun proses
involusi berjalan dengan nomal makanan bergizi dan banyak minum air
putih dapat mengembalikan tenaga ibu yang hilang sewaktu mengedan
pada proses persalinan. Contoh makanan yang bergizi yang mengandung
protein, carbohidrat, dan vitamin. Contoh : nasi, sagu, tahu, tempe, sayur-
sayuran, buah-buahan dan minuman segelas susu.
6. Menganjurkan ibu untuk melakukan perawatan payudara khususnya
perawatan pada putting susu datar , caranya :
- Ibu mencuci tangan terlebih dahulu.
- Membersihkan putting susu dengan kapas yang telah dibasahi dengan
baby oil.
- Memijat-mijat putting dengan cara menggunakan 2 jari dengan cara
arah berlawanan atau dengan cara memencet putting kemudian
putting diputar-putar. Dilakukan secara bergantian antara putting kiri
dan kanan.
7. Mengajarkan pada ibu cara menyusui yang benar agar bayi dapat
meminum ASI dengan nyaman dan tidak mudah tersedak.
8. Menganjurkan ibu untuk menyusukan sesering mungkin yaitu 2 jam
sekali.
9. Menjelaskan pada ibu akibat cara menyusui yang tidak benar :
1) Putting susu menjadi lecet dan luka
2) ASI tidak mencukupi , produksi ASI semakin berkurang akibat reflek
menghisap yang salah.
3) Bayi menolak menyusun
4) Bayi bingung putting
10. Menganjurkan pada ibu tentang perawatan putting datar ;
1) Bila hanya satu putting yang terkena , maka bayi pertama-tama
disusukan pada putting susu yang normal , karena menyusukan pada
putting yang normal maka sebagian kebutuhan bayi akan terpenuhi
dan juga mengurangi kemungkinan lecetnya putting.
2) Kompres dingin pada putting yang mendatar sebelum menyusui akan
menambah prolaktivitas dari putting.
3) Dengan teknik Hoffmen dan menggunakan Breastshild pada waktu
tidak menyusui akan menambah prolaktifitas.
4) Kalau dengan semua cara tersebut di atas tidak dapat dikoreksi , maka
ASI dikeluarkan dengan tangan / pompa kemudian diberikan dengan
sendok atau pipet.
5) Biarkan bayi menghisap dengan kuat dengan posisi menyusui yang
benar , karena dengan demikian akan memacu peregangan putting

11. Menjelaskan pada ibu tentang manfaat ASI, yaitu :


 ASI mengandung antibody dapat menghambat pertumbuhan kuman.
 Dengan menyusui akan terjalin ikatan yang erat antara ibu dan bayi.
 Dengan menyusui menyebabkan pengembalian uterus lebih cepat.
 Dengan menyusui kesuburan ibu akan berkurang untuk beberapa
bulan

12. Menganjurkan pada ibu tentang pemberian ASI eksklusif agar kebutuhan
nutrisi bayi terpenuhi.

VII. EVALUASI
Tanggal : 20 Januari 2007 jam 12.00
Dx : Ny. “D” P1001 Ab000 postpartum hari ke-1 dengan putting susu
datar
S : -Ibu mengatakan baru melahirkan anak ke-1 pada tanggal 19
Januari 2007 jam 08.00 dengan jenis kelamin perempuan di BPS.
-Ibu telah mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh
petugas kesehatan tentang cara perawatan payudara dan putting
susu datar.
O : KU : baik
Kesadaran : composmentis
TD : 120/80 mmHg
RR : 20 x/menit
Nadi : 90 x/menit
Suhu : 36,3ºC.
-Ibu dapat menjelaskan kembali tentang cara perawatan payudara
pada putting susu datar.
A : Sebagian masalah teratasi
P : Lanjutkan rencana tindakan :
- Anjurkan ibu untuk menggunakan putting susu palsu / kop
- Anjurkan ibu untuk melakukan perawatan putting susu setiap
kali akan mandi
- Menyusukan bayi sesering mungkin pada payudara kanan dan
kiri - Anjurkan pada ibu untuk memeras ASI nya apabila ibu
bekerja di luar rumah.
DAFTAR PUSTAKA

Soetjiningsih, ASi : Petunjuk untuk tenaga kesehatan. 1997. Jakarta : EGC

Haulina, Mellyna. Panduan Menjalani Kehamilan Sehat. 2001. Jakarta : Puspa


Swara.

www.google.com : Kapan ASI Basi

www.google.com : Manajemen ASI Bagi Ibu Bekerja

www.google.com : Perawatan Payudara Selama Hamil

www.google.com : Semua Ibu Pasti Bisa Menyusui.