Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KESELAMATAN RADIASI

DISUSUN OLEH :

NAMA :SILVI NOFITA SARI

NIM :011700020

KELOMPOK :

PROGRAM STUDI :D-IV TEKNOKIMIA NUKLIR

JURUSAN :TEKNOKIMIA NUKLIR

ACARA :UJI KEBOCORAN IRRADIATOR


MENGGUNAKAN UJI TES USAP

PEMBIMBING : Andri Saputra S.ST,M.Eng

Tanggal Pengumpulan :20 APRIL 2019

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL

YOGYAKARTA

2019
UJI KEBOCORAN IRRADIATOR GAMMA MELALUI UJI TES USAP

I. TUJUAN

1. Mengetahui batas yang diperbolehkan untuk kebocoran Irradiator

Gamma.

2. Menjelaskan metoda pengujian keebocoran Irradiator Gamma.

3. Melaksanakan pengukuran kebocoran Irradiator Gamma.

II. DASAR TEORI

Penggunaan teknologi nuklir yaitu dengan menggunakan iradiasi sinar gamma

sudah banyak digunakan untuk pengawetan hasil pertanian dan hasil olahannya

dalam hal, membunuh bakteri pembusuk atau mikroba pathogen, membunuh

serangga serta dapat menghambat pertunasan. Kemampuan sinar gamma

berenergi tinggi untuk menerobos masuk ke dalam materi memungkinkan dapat

dimanfaatkan untuk tujuan pengawetan hasil pertanian, pasteurisasi dan sterilisasi

melalui proses ionisasi atomatom materi. Karena itu, radiasi sinar-γ disebut juga

radiasi pengion. Ion-ion bermuatan hasil proses ionisasi dapat merusak molekul-

molekul sel, memutus ikatan DNA, dan membunuh atau membuat

ketidakmampuan bakteri pathogen dan serangga untuk bereplikasi. Pada Irradiator

gammadigunakan sumber radiasi Cobalt 60 (Co-60) karena mempunyai karakter

pancaran energi yang relative besar 1,17 Mev dan 1,33 Mev sehingga daya

tembus pada material yang diiradiasi juga lebih besar


Iradiator adalah perangkat peralatan pemancar radiasi dengan sumber

radionuklida pemancar gamma atau pesawat akselerator pembangkit sinar-X

dan/atau berkas elektron, yang digunakan untuk tujuan penelitian,

sterilisasi/pasteurisasi, polimerisasi maupun untuk pengawetan bahan makanan.

Perka BAPETEN No.4 tahun 2013)

Instalasi iradiator adalah suatu bangunan permanen yang tertutup dimana di

dalamnya terdapat sumber radiasi dan sarana lainnya yang diperlukan untuk

melakukan iradiasi atau suatu perangkat khusus sumber radiasi yang dilengkapi

dengan sarana iradiasi yang diperlukan. (Perka BAPETEN No.4 tahun 2013)

Untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar dan riset STTN-BATAN

memiliki Iradiator Gamma Co-60 dengan aktivitas 12 kilo Curie (kCi) yang

termasuk tipe Ob-servoignis buatan Hungaria, Irradiator ini telah diverifikasi

dokumen serta pengukuran paparan radiasi telah dilakukan oleh Badan Pengawas

Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan dinyatakan bahwa Irradiator Gamma STTN-

BATAN memenuhi syarat untuk diberikan izin operasi (Batan,2017)

Ada beberapa jenis atau tipe irradiator yang dipakai untuk pengawetan produk

berdasarkan sumber radiasi yang digunakan yaitu irradiator gamma, irradiator

sinar-x (bremstrahlung) dan dengan pemercepat electron . Pada instalasi irradiator

gamma juga dikenal 4 kategori iradiator gamma, yaitu kategori I, II, III dan IV

yang dikategorikan berdasarkan batasan volume iradiasi, tipe basah dan atau tipe

kering, besarnya skala


Guna menjamin keselamatan dan kesehatan para pekerja serta anggota

masyarakat lainnya dan sesuai dengan perkembangan teknologi proses radiasi,

maka perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir tentang

Izin Konstruksi dan Operasi Iradiator (Perka BAPETEN No.11 tahun 1999).

Setiap orang yang bekerja diinstalasi radiasi baik sumber radioaktif

langsung ataupun sumber radiasi pengion berpotensi menerima dosis radiasi yang

lebih tinggi daripada masyarakat umum, terutama karena mereka sering

berkecingpung dalam daerah radiasi, tidak hanya itu masyarakat yang berada di

sekitar instalasi nuklir berpotensi mendapatkan paparan radiasi yang lebih.

Paparan radiasi adalah penyinaran radiasi terhadap manusia atau materi, baik

disengaja maupun tidak, yang berasal dari radiasi eksterna maupun interna

karenanya diperlukan tindakan keamanan dan keselamatan.

Uji kebocoran zat radioaktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86

Untuk Iradiator dengan Zat Radioaktif Kategori I harus dilakukan sekali

dalam 6 (enam) bulan. Dalam hal hasil evaluasi uji kebocoran zat radioaktif

melebihi 185 Bq (seratus delapanpuluh lima Bacquerel) atau 5 nCi (lima nano

Curie), maka zat radioaktif dilarang digunakan.

III. ALAT DAN BAHAN

A. Alat

1. Pinset
2. Surveymeter

3. Radiometer

4. Alat pencacah GM

5. Sumber Ba-133

6. Pembungkus Irradiator Gamma

B. Bahan

1. Kertas saring

2. Sarung tangan

IV. PROSEDUR KERJA

A. Metode langsung

1. Digunakan alat surveymeter dan radiometer.

2. Pengukuran dilakukan di 4 titik yaitu pada udut 0°, 90°, 180°, dan

270°. Masing masing sudut dilakukan pengukuran sebanyak 3 kali.

Pengukuran dilakukan selama 30 detik.

3. Dicatat hasil yang didapatkan.

B. Metode tak langsung

1. Digunakan alat pelindung diri (APD) seperti jas lab dan sarung

tangan.

2. Dilakukan uji tes usap pada irradiator gamma pada sudut 0°, 90°,

180°, 270°. Masing-masing pada bagian atas, tengah dan bawah.

3. Uji usap dilakukan dengan menggunakan kertas yang telah

disediakan. Pengusapan dilakukan sebanyak 3 kali pada setiap titik.

Tidak lupa kertas ditandai agar tidak tertukar dengan yang lain.
4. Dilakukan pencacahan dengan alat pencacah GM yang sebelumnya

telah dilakuakn pengukuran efisiensi dengan sumber Ba-133.

5. Kertas yang telah diusap dicacah dengan GM selama 100 detik

dengan masing-masing 3 kali pengulangan. Jarak antara kertas yang

akan di cacah dengan detector adalah 2 cm.

6. Dicatat hasil yang didapatkan dan ketika sudah selesai, kertas yang

telah di cacah dibuang di tempat pembuangan limbah kertas yang

telah disediakan di Laboratorium aktif STTN-BATAN.

V. DATA PENGAMATAN

A. Metode langsung

1. Alat : surveymeter

Factor kalibrasi : 0,97 µSv/h

Putaran Atas(µSv/h) Bawah(µSv/h) Tengah(µSv/h)

A B T

0° 0,185 0,528 0,426

90° 0,515 0,488 0,448

180° 0,562 0,703 0,526

270° 0,233 0,580 0,456

Background

0,079

2. Alat : radiometer

Factor kalibrasi :0,01 Bq/cm2/cpm


Putaran Atas (cpm) Bawah (cpm) Tengah(cpm)

0° 10 110 100

90° 30 220 60

180° 10 120 80

270° 40 180 40

Background

B. Metode tak langsung

- Jarak detector dengan sumber : 2 cm

- Tegangan kerja : 720

- Sumber radioaktif : Ba-133

- Aktivitas : 1µCi

- Pembuatan : November 2011

- Waktu : 100 detik

- Hasil cacah sumber radiaoaktif Ba-133 :

No. Hasil pencacahan

(c/100s)

1 12,6

2 12,61

3 12,96

Rata-rata 12,72333

- Hasil cacah dari uji tes usap :


Putaran Atas Bawah Tengah

0° 57,3 66,67 64,67

90° 54,6 61,67 57,67

180° 53,6 61 59,6

270° 61,6 59 62

Cacah Background

51,3

VI. PERHITUNGAN

A. Metode langsung

a. Alat : surveymeter

- Laju dosis di titik (A) = 0,185µSv/jam

- Factor kalibrasi = 0,97µSv/jam

- Laju dosis sebenarnya di titik (A)= 0,185µSv/jam x0,97µSv/jam

=0,179 µSv/jam

0,179+ 0,564 + 0,413


- Laju dosis rata-rata = = 0,385 µSv/jam
3

- Laju dosis rata-rata sebenarnya =

laju doisis rata-rata – laju dosis background

Sv Sv
(0,385 µ jam − 0,079 µ jam) = 0,306 µSv/jam

Dengan perhitungan yang sama diperoleh hasil :

Putaran Sv Laju dosis


Laju dosis (µ jam)
Laju dosisi Laju dosis
rata-rata
Atas Tengah Bawah rata-rata background
sebenarnya
Sv Sv Sv
(µ jam) (µ jam) (µ jam)

0° 0,179 0,564 0,413 0,385 0,079 0,306

90° 0,499 0,473 0,473 0,481 0,079 0,402

180° 0,545 0,681 0,510 0,578 0,079 0,499

270° 0,226 0,562 0,442 0,410 0,079 0,331

b. Alat : Radiameter

- Laju cacah sebenarnya

=(laju cacah terukur - laju cacah background) x fk

𝐵𝑞/𝑐𝑚2 𝐵𝑞
= (10 cpm– 0 cpm) x 0,01 = 0,1
𝑐𝑝𝑚 𝑐𝑚2

Dengan perhitungan yang sma diperoleh hasil :

Laju dosis sebenarnya Laju dosis


Laju dosis (cpm) Laju dosis
𝐵𝑞 sebenarnya
(𝑐𝑚2)
Putaran background
rata-rata
𝐵𝑞/𝑐𝑚2
Atas Tengah Bawah 𝑐𝑝𝑚 Atas Tengah Bawah 𝐵𝑞
(𝑐𝑚2)

0° 10 110 100 0,01 0,1 1,1 1 0,733

90° 30 220 60 0,01 0,3 2,2 0,6 1,033

180° 10 120 80 0,01 0,1 1,2 0,8 0,7

270° 40 180 40 0,01 0,4 1,8 0,4 0,866

B. Metode tak langsung

a. Uji tes usap


1. Menghitung efisiensi alat

- Cacah sumber Ba-133 rata-rata( 𝑅̅ ) = 12,72333 cps

0,52+0,53+0,49
- Background rata-rata (Rb) = = 0,513 𝑐𝑝𝑠
3

- Cacah sumber Ba-133 rata-rata sebenarnya =

(12,72333-0,513) cps = 12,210 cps

- A0 = 1µCi = 10−6 𝐶𝑖 = 10−6 𝑥 (3,7 𝑥 1010 𝐵𝑞) =

37000 𝐵𝑞

- T 1/2 = 10,5 tahun

- T = 7,4 tahun
0,693 𝑡

- 𝐴𝑡 = 𝐴0 𝑥 𝑒 𝑇 1/2

0,693 𝑥 7,4 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛



𝐴𝑡 = 37000 𝐵𝑞 𝑥 𝑒 10,5 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 = 60.299,144 𝐵𝑞

𝑅̅ 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 12,210 cps


- 𝜂= = = 2,024 𝑥10−4
𝐴𝑡 60.299,144 𝐵𝑞

2. Menghitung laju cacah sebenarnya

- Waktu cacah = 100 detik

57,3 𝑐𝑎𝑐𝑎ℎ𝑎𝑛
- Laju cacah rata-rata titik A(Ri) = = 0,573 𝑐𝑝𝑠
100 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

51,3 𝑐𝑎𝑐𝑎ℎ𝑎𝑛
- Background rata-rata (Rb) = = 0,513 𝑐𝑝𝑠
100 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

Laju cacah rata-rata sebenarnya (R) = 0,573 cps – 0,513 cps

= 0,06 cps

Dengan cara yang sama diperoleh hasil :

putaran Aktivitas rata-rata Background Aktivitas rata-rata sebenarnya


cps
cps
Atas Tengah Bawah Atas Tengah Bawah (B)

(A) cps (T) cps (B) cps (A) cps (T) cps cps

0° 0,573 0,6667 0,6467 0,513 0,06 0,153 0,133

90° 0,546 0,6167 0,5767 0,513 0,033 0,103 0,063

180° 0,536 0,61 0,596 0,513 0,023 0,097 0,083

270° 0,616 0,59 0,62 0,513 0,103 0,077 0,107

VII. PEMBAHASAN

Pada praktikum uji kebocoran Iradiator Gamma STTN-BATAN bertujuan

untuk mengetahui metode yang digunakan dalam pengujian kebocoran

Irradiator Gamma , mengetahui batas yang diperbolehkan untuk kebocoran

Irradiator Gamma serta melaksanakan pengukuran kebocoran pada Irradiator

Gamma.

Pada praktikum kali ini digunakan 2 metode yaitu metode langsung dan

metode tidak langsung. Metode langsung yaitu melakukan pengukuran secara

langsung dengan surveymeter dan radiometer, sehingga nilai laju dosis

langsung ditunjukan pada layar. Sedangkan metode tidak langsung digunakan

metode uji tes usap.

Pada metode langsung digunakan surveymeter dan radiometer.

Pengukuran dilakukan pada 4 titik dan masing-masing titik diulang sebanyak

3 kali. Dari hasil pengukuran surveymeter diperoleh hasil laju cacah rata-rata
sebenarnya pada sudut 0。,90。,180。 dan 270。 berturut turut adalah 0,306

Sv Sv Sv Sv
(µ jam); 0,402 (µ jam); 0,499 (µ jam); 0,331 (µ jam) dengan hasil pengukuran

Sv
background sebesar 0,079 (µ jam). Sedangkan dari hasil pengukuran

𝐵𝑞
radiometer diperoleh hasil bervariasi dengan rentang hasil 0,7 𝑐𝑚2 hingga

𝐵𝑞
1,03𝑐𝑚2 dengan background yang di dapat adalah 0 cpm.

Pada metode tak langsung dilakukan dengan mengusapkan kertas saring

pada Irradiator Gamma. Pengusapan dilakukan pada 4 itik dengan masing-

masing titik diulang sebanyak 3 kali. Setelah diusap kertas saring dicacah

dengan alat GM (Geiger Muller) baru kemudian hasil dapat diketahui. Dari

hasil peritungan diperoleh laju cacah di setiap putaran yang sangat bervariasi

antara 0,06 cps – 0,153 dengan cacah background sebesar 0,513 cps.

Dari hasil pengukuran dengan menggunakan metode langsung maupun

tidak langsung di dapatkan hasil yang relative kecil dari pada 185 Bq. Dimana

batas maksimal yang diizinkan untuk kebocoran Irradiator Gamma adalah

tidak lebih dari 185 Bq. Dalam hal ini Irradiator Gamma masih dapat

dikategorikan aman karena dari hasil yang di hasilkan tidak melebihi 185 Bq

atau 5 nCi.

VIII. KESIMPULAN

1. Batas yang diperbolehkan untuk kebocoran Irradiator Gamma tidak

boleh melebihi 185 Bq atau 5nCi

2. Metoda pengujian keebocoran Irradiator Gamma dilakuakan secara

langsung dan tidak langsung. Metode langsung dilakukan dengan


menggunakan surveymeter dan radiometer. Sedangkan metode tidak

langsung digunakan uji tes usap.

3. Dari hasil percobaan dan perhitungan dapat diketahui bahwa hasil

yang di dapatkan tidak melebihi 185 Bq atau 5 nCi. Hal ini berarti

bahwa Irradiator Gamma masih dikategorikan aman.

DAFTAR PUSTAKA

- https://jdih.bapeten.go.id/files/1_000025_1.pdf (diakses pada 14 april 2019

pukul 13.35)

- http://www2.sttn-batan.ac.id/berita-371-kepala-batan-resmikan-3-fasilitas-

pendidikan-di-sttn.html (diakses pada 17 april 2019 pukul 01.10)

- Peraturan Kepala BAPETEN No. 11 tahun 1999.

- Budiarjo, S dkk, “Disain Konsep Rancang Bang Un Iradiator Gamma (Isg-

500) Untuk Pengawetan Hasil Pertanian” 2010.


Yogyakarta, 20 April 2019

Dosen pembimbing, Praktikan,

Andri Saputra S.ST,M.Eng Silvi Nofita Sari