Anda di halaman 1dari 11

win7

PANDUAN PRAKTIKUM
INSTRUMENTASI ANESTESI
Mata Kuliah Instrumentasi
Anestesi Semester II

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN


ANESTESIOLOGI FAKULTAS VOKASI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

Oleh : Dr. Ikhsan Amran SPAN


Ns. Iswenti Novera,M.Kep
Ns. Azwar,S. kep
Amrizal SKM
MODUL PRAKTIKUM INSTRUMENTASI ANESTESI

KAPNOGRAF

Tujuan pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasisiwa Mengenal dan memahami cara kerja
kapnograf

Gambar 1: monitor kapnograf


Kapnometrik atau kapnografi merupakan teknik nonivasif yang memberikan analisis
nafas ke nafas dan mencatat secara kontinu status ventilasi. Monitoring EtCO 2 memberikan
tanda peringatan awal akan adanya gangguan respirasi. Monitoring ini juga mencerminkan
perubahan perfusi kardiak dan telah digunakan untuk mengindentifikasi keefektifitas
kompresi dada pada kondisi henti jantung. Alat ini juga digunakan untuk memastikan letak
pipa endotrakea sudah di tempat yang benar (Bauman dan Cosgrove, 2012).

Kapnograf adalah alat yang memberikan informasi tentang mekanisme fungsi paru
( misalnya ruang mati, obstruksi jalan nafas), pertukaran gas ( ketidak cocokan antara
ventilasi dan perfusi) tapi yang paling utama adalah mengkonfirmasi ketepatan penempatan
endotrkheal tube dan obstruksi jalan nafas dan mengidentifikasi kerusakan sirkuit ventilator

Cara kerja alat

Karbon dioksida menyerap cahaya inframerah pada panjang gelombang spesifik


(4,26 µm). Konsentrasi CO2 pada sampel gas bisa dihitung dengan spektroskopi absorpsi
inframerah. Semakin besar konsentrasi CO2 pada sampel, semakin banyak cahaya diserap,
sehingga menurunkan intensitas cahaya yang mencapai detektor (Becker dan Langhand,
2013).

Fase Normal Kapnograf

Kapnogram normal dibagi menjadi 4 fase.

1. Fase I (A-B) merupakan dasar inspirasi, yang biasanya merupakan nol.

2. Fase Kedua (B-C) merupakan tanjakan ke atas ekspirasi. Ini normalnya berbentuk
curam. Ketika pasien ekspirasi, udara segar di ruang rugi anatomi secara perlahan
diganti oleh gas yang mengandung CO2 dari alveolar.

3. Fase ketiga (C-D) merupakan plateau ekspirasi, yang normalnya memiliki gradien ke
arah atas yang kecil. Hal ini disebabkan tidak ada kesesuaian yang sempurna antara
ventilasi dan perfusi melalui paru paru. Alveolar dengan rasio V/Q yang lebih rendah,
konsentrasi CO2 yang lebih tinggi, cenderung kosong lebih lambat selama ekspirasi
dibandingkan yang memiliki rasio V/Q tinggi. Ketika ekspirasi selesai, plateau berlanjut
yang disebabkan CO2 yang diekshalasi dari alveoli tetap di tempat sampling gas sampai
inspirasi berikut. Konsentrasi end-tidal CO2 (EtCO2) dipertimbangkan sama dengan
konsentrasi CO2 dalam alveoli (PACO2).

4. Fase keempat (D-E) merupakan fase inspirasi dengan arahan diagram ke bawah, suatu
udara segar yang menggantikan gas alveolar pada sisi sampling. Kapnogram normal
mengindikasikan paru telah diventilasi. Ventilasi bisa spontan, dibantu, ataupun
dikontrol. Konsentrasi CO2 saat inspirasi normalnya adalah nol dan nilai normal end-
tidal berkisar antara 34 - 44 mmHg. Penilaian gambaran kapnogram bisa membantu
mendeteksi adanya kelainan tertentu (Becker dan Langhand, 2013).

Gambar2 : kapnofraf normal(Eisenkraft, 2011)

Tabel 2.1 Kelainan Kapnogram (Eisenkraft, 2011)

Kelainan Kemungkinan penyebab

Tidak ada grafik Tidak ada ventilasi, obstruksi sirkuit, intubasi

esofagus, letak pipa endotrakea tidak pada posisi.


End-tidal meningkat Peningkatan produksi: demam, hipertermia
maligna, pelepasan torniquet atau klamp,
bikarbonat, pemberian CO2

Pengurangan pembuangan (hipoventilasi):


rebreathing (absorbent habis, katup satu arah yang
tidak kompeten). Gas CO2 bercampur dengan aliran

gas segar.

End-tidal menurun Hiperventilasi, penurunan produksi CO2/


pengantaran ke paru paru, curah jantung
menurun,

V/Q mismatch, peningkatan ruang rugi alveolar,


emboli paru-paru, kondisi tertentu (pernafasan
cepat dangkal, kecepatan sampling gas melebihi
kecepatan aliran ekspirasi, kalibrasi analiser yang
salah, gas

bocor ke dalam sistem sampling).

Jenis kapnograf

Terdapat 2 jenis kapnometri dengan perbedaan kedua jenis tersebut terletak pada
lokasi sensor.

1. sidestream,

volume gas yang tetap secara kontinu diambil dari sirkuit. Gas sampel diaspirasi melalui
selang nylon atau teflon ke dalam sel pengukuran dan kemudian dilepas ke atmosfer
atau dikembalikan ke sirkuit melalui selang kedua. Pengambilan sampel harus diambil
sedekat mungkin dengan pasien untuk mengurangi efek ruang rugi sirkuit, dan
kecepatan biasanya diatur mendekati antara 50 dan 500 ml/menit (Kirby, 2011).

2. Sedangkan kapnometri mainstream

memasukkan sensor inframerah ke dalam sirkuit yang sangat dekat dengan selang
endotrakea. Dengan kapnometri mainstream masalah-masalah yang ada pada
kapnometri sidestream bisa dihilangkan
Modul Praktikum Instrumentasi Aneatesi
BISPECTRAL INDEX ( BIS)

Tujuan pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasisiwa Mengenal dan memahami cara kerja
Bispectral indeks

Bispectral index adalah alat yang digunakan untuk memantau kedalam anestesi/sedasi
saat pemberian obat penenang,hipnotik selama prosedur bedah .
Anestesi yang terlalu dalam dapat menyebapkan perubahan haemodinamik sedangkan
anestesi yang terlalu dangkal mengakibatkan resiko kesadaran selama anestesi yang
menimbulkan gejala sisa psikologis jangka panjang seperti kecemasan dan trauma post operasi
Kedalam anestesi diukur dengan mengukur aktivitas listrik otak melalui encephalogram
(EEG). Algoritma BIS memproses EEG frontal dan mengubah sinyal menjadi bentuk gelombang
pada monitor BIS
Perangkat BiS terdiri dari transduser yang terhubung ke monitor di satu ujung dan dahi
pasien melalui strip sensor elektroda perekat di ujung lainya dua sampai empat sensor pada
strip masing – masing memiliki yang menunjukkan di bagian dahi mereka harus di tempatkan
untuk analisis sinyal EEG yang optimal. Strip sensor elektroda perekat harus diganti setiap 24
jam untuk memastikanya tetap menempel dengan kuat pada kulit dan meminimalkan risiko
infeksi.
Monitor menghitung data yang diterima oleh dua hingga empat sensor dan menampilkan
ini sebagian numeric dari 0 hingga 100 dengan penundaan 10 hingga 30 detik. Setiap rentang
numerik berkorelasi dangan derajat sedasi :

Gambar 2: penilaian kedalaman anestesi dengan BIS index

Nilai Bispectral Index


1. 100 hingga 90- bangun dan merespon rangsangan verbal dengan tepat ( terjaga)
2.80 hingga 70 responsif terhadap perintah keras atau getaran ringan
3. 70 hingga 60 stimulasi sentuhan yang intens diperlukan untuk respons
 4. 60 sampai 40-tidak responsif terhadap rangsangan verbal ( anestesi yang memadai)
 5. Dibawah 40 hipnosis yang dalam
4. tidak ada aktivitas otak

Gambar 3 : Skala Bispectral indek

Jika pasien mencapai level sedasi yang lebih dalam dari yang diinginkan,obat obatan
dapat dikurangi, Jika nilai numeric di bawah 70 bisa dilakukan ventilasi mekanik
Bis tidak di sarankan untuk pasien dengan trauma wajah yang luas dan pada pasien yang sangat
gelisah karena peningkatan aktivitas oto akan menganggu pembacaan EEG
Ketamin dan nitrous oksida dapat membuat nilai BIS tidak berubah atau meningkat karena nilai
BIS berkorelasi dengan dengan laju metabolism otak sedangkan obat ini meningkatkan laju
metabolism otak
Manfaat BIS

Overdosisi dapat mengakibatkan:

1. memperpanjang masa rawatan di ruang post anestesi

2. menunda ekstubasi dan penyembuhan luka

3. menurunkan motilitas gastrointestin

4. meningkatkan biaya pengobatan

5 sindrom perawatan pasca anestei berupa masalah fisik dankognitif pada pasien keluarganya