Anda di halaman 1dari 25

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu komoditi hortikultura
yang memiliki prospek dan nilai komersial yang cukup baik. Selada memiliki
berbagai macam jenis, salah satunya yaitu selada merah. Kandungan gizi pada
sayuran terutama vitamin dan mineral tidak dapat disubtitusi melalui makanan
pokok [ CITATION Naz03 \l 1033 ]. Selada memiliki banyak kandungan yang
bermanfaat untuk tubuh. Wasonowati (2012) mengemukakan bahwa kandungan
vitamin yang terdapat dalam daun selada diantaranya vitamin A, C, E,
betakaroten, seng, asam folat, magnesium, kalsium, zat besi, mangan, fosfor dan
natrium. Masyarakat kebanyakan memiliki kecenderungan untuk meningkatkan
kualitas hidup dan sadar akan pentingnya gizi yang berasal dari sayuran, dengan
begitu permintaan sayuran akan terus meningkat dan peluang pemasaran sayuran
semakin tinggi. Banyakanya kandungan vitamin yang ada pada selada menjadikan
sayuran ini banyak diminati masyarakat. Peningkatan kualitas hidup masyarakat
diikuti dengan pemilihan kualitas sayuran yang dikonsumsi. Masyarakat
cenderung memilih sayuran yang berkualitas baik dengan kandungan gizi yang
tinggi dan berpenampilan menarik serta bersih.
Salah satu upaya untuk memenuhi permintaan masyarakat agar
menghasilkan produk sayuran yang berkualitas tinggi secara kontinyu yaitu
dengan budidaya sistem hidroponik. Hidroponik dikenal sebagai soiless culture
atau budidaya tanaman tanpa tanah [ CITATION Set15 \l 1033 ]. Sistem
hidroponik dapat didesain sedemikian rupa sehingga tidak membutuhkan lahan
yang luas untuk berbudidaya serta lingkungan dalam budidaya hidroponik dapat
lebih terkontrol. Setiap sistem hidroponik memiliki kelebihan dan kekurangan,
pada sistem rakit apung nutrisi selalu tersedia, namun memerlukan nutrisi yang
lebih banyak dibanding dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT). Tanaman
yang dibudidayakan dalam sistem hidroponik umumnya disemai terlebih dahulu
di media tanam. Pindah tanam dilakukan ketika tanaman sudah memiliki bentuk
daun yang sempurna yaitu ketika berumur 7-10 hari setelah semai. Perbedaan
umur pindah tanam dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman budidaya.
Pemilihan umur bibit yang tepat penting dilakukan agar perakaran tanaman siap
untuk beradaptasi dengan lingkungan pertanaman, sehingga diperoleh
pertumbuhan tanaman yang optimal. Pindah tanam lebih dini akan mempercepat
tanaman beradaptasi dengan lingkungan sehingga pertumbuhan tanaman tidak
terhambat dan dapat menghasilkan bagian vegetatif yang lebih baik. Tanaman
membutuhkan adaptasi untuk dapat tumbuh, bibit yang masih muda saat pindah
tanam memiliki kemungkinan kecil untuk bertahan hidup. Widodo, Supriyono dan
Irawati (2017) mengemukakan bahwa pemindahan tanaman yang terlalu muda
lambat pertumbuhannya, karena bibit belum mampu mengatasi keadaan
lingkungan yang kurang mendukung dilapang. Umur bibit mempengaruhi sistem
perakaran, sehingga tanaman dapat menyerap air dan unsur hara secara optimal
dan dapat ditranslokasikan ke seluruh bagian tubuh tanaman dan dapat
mendukung pembentukan begian tanaman baru. Perbedaan umur pindah tanam
dapat mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman yang
dipindahkan lebih lama akan terhambat pertumbuhannya karena tidak
mendapatkan pasokan sumber nutrisi saat masa pembentukan akar, batang dan
daun.
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan umur bibit
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Selada Merah (Lactuca sativa L.) pada
sistem hidroponik rakit apung dan Nutrient Film Technique (NFT) serta terhadap
umur panen tanaman selada merah.
1.3 Hipotesis
Perbedaan umur pindah tanam dan sistem hidroponik dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan hasil tanaman selada merah (Lactuca sativa .L)
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Selada Merah
Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu tanaman sayuran daun
yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Daun selada merah varietas red
rapid memiliki bentuk lebar bergelombang dan berwarna merah di bagian tepi
daun. Duaja (2012) mengemukakan bahwa tanaman selada dapat tumbuh baik
didataran tinggi dan dataran rendah sesuai dengan varietasnya, namun suhu
optimum bagi pertumbuhan selada yaitu 15-25oC. Selada merah optimum tumbuh
pada ketinggian 500-2000 mdpl. Tingkat pH yang ideal untuk pertumbuhan
tanaman selada berkisar antara 5,5-6 atau pada pH netral, pada kisaran tersebut
daya hantaran unsur hara makro dan mikro sangat baik (Haryanto, E. Suhartini, T.
Rahayu, E, 2003). Selada merah dapat tumbuh dengan baik pada curah hujan
antara 1000-1500 mm pertahun dan kelembaban 60-100% (Pracaya, 2002). Nilai
pH yang kurang dari 5,5 atau lebih dari 6,5 menyebabkan daya larut unsur hara
tidak sempurna, bahkan larutan nutrisi sudah mengendap sehingga tidak dapat
dimanfaatkan oleh tanaman (Sutiyoso, 2003). Haryanto, et al (2003)
mengemukakan bahwa tanaman selada diklasifikasikan sebagai berikut kingdom
plantae, divisi spermathophyta, sub divisi angiospermae, kelas dikotyledonae,
ordo asterales, famili asteracceae, genus lactuca sativa dan spesies Lactuca sativa
L.
2.2 Hidroponik
Hidroponik dalam bahasa inggris disebut hydroponic, berasal dari kata
bahasa Yunani yaitu hydro yang merupakan air dan ponos yang merupakan daya
atau kerja. Hidroponik dikenal sebagai soiless culture atau budidaya tanaman
tanpa tanah (Setyoadji, 2015). Sistem hidroponik dapat memberikan suatu
lingkungan pertumbuhan yang lebih terkontrol. Pengembangan teknologi dan
kombinasi sistem hidroponik dengan membran mampu mendayagunakan air,
nutrisi, pestisida secara nyata lebih efisien dibandingkan dengan kultur tanah,
terutama untuk tanaman berumur pendek. Penggunaan sistem hidroponik tidak
mengenal musim dan tidak memerlukan lahan yang luas dibandingkan dengan
kultur tanah untuk menghasilkan satuan produktivitas yang sama (Subandi, Nella
dan Budy, 2015). Budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik memiliki
kelebihan dan kekurangan. Rosliani dan Sumarni (2005) mengemukakan bahwa
kelebihan sistem hidroponik yaitu penggunaan lahan lebih efisien, kuantitas dan
kualitas produksi lebih tinggi dan lebih bersih, penggunaan pupuk dan air lebih
efisien serta tanaman berproduksi tanpa menggunakan tanah, sedangkan
kekurangan dari sistem hidroponik yaitu membutuhkan modal awal yang besar,
pada sistem tertutup (nutrisi disirkulasi), seluruh tanaman mudah terkena serangan
pathogen apabila terdapat salah satu tanaman yang terserang pathogen, pada
kultur substrat kapasitas memegang air media substrat lebih kecil daripada media
tanah sehingga mudah menyebabkan pelayuan tanaman yang cepat. Sistem
hidroponik dibedakan menjadi dua berdasarkan sistem irigasinya yaitu sistem
terbuka dan sistem tertutup. Susila (2013) mengemukakan bahwa larutan nutrisi
pada sistem hidroponik terbuka tidak digunakan kembali, sedangkan sistem
tertutup, larutan nutrisi dimanfaatkan kembali dengan cara resirkulasi. Sistem
hidroponik rakit apung (Gambar 1) merupakan salah satu budidaya tanaman
hidroponik secara tertutup. Suhardiyanto (2010) mengemukakan bahwa
hidroponik rakit apung termasuk hidroponik kultur larutan.

Gambar 1. Sistem Hidroponik Rakit Apung


Tanaman dalam budidaya hidroponik rakit apung ditanam dengan posisi
akar terendam didalam larutan nutrisi yang tidak mengalir. Tanaman
dibudidayakan dengan cara menempatkan netpot pada styrofoam yang terletak
diatas permukaan larutan nutrisi dalam suatu bak, sehingga akar-akar tanaman
terendam dan dapat menyerap nutrisi dan air. Budidaya sistem rakit apung relatif
aman jika listrik padam, disamping itu kebersihan air dan nutrisi di bak
penampungan juga terjaga [ CITATION Dur00 \l 1033 ]. Kelemahan sistem
hidroponik rakit apung yaitu terendamnya akar tanaman dalam larutan nutrisi
sehingga mengakibatkan kadar oksigen rendah di zona perakaran (Susila dan
Koerniawati, 2004). Hidroponik rakit apung termasuk kedalam kelompok
hidroponik larutan diam, dikarenakan larutan nutrisi dibiarkan tergenang didalam
wadah tanpa sirkulasi, sehingga akar terapung dan terendam larutan nutrisi
(Subandi et al., 2015). Penggunaan sistem hidroponik rakit apung perlu
memperhatikan faktor- faktor lingkungan di zona perakaran agar proses
penyerapan nutrisi oleh akar dapat berjalan dengan efektif. Sistem hidroponik
NFT (Gambar 2.) tanaman ditanam dalam sirkulasi hara tipis pada talang-talang
yang memanjang. Akar tanaman pada sistem NFT diletakan pada lapisan air yang
dangkal dan diletakan diatas gully panjang, air tersebut merupakan larutan nutrisi
yang tersirkulasi.

Gambar 2. Sistem Hidroponik Nutrient Film Technique


Sistem hidroponik NFT memiliki kelebihan dan kekurangan, Nadiah
(2007) mengemukakan bahwa keuntungan dalam pemakaian sistem hidroponik
NFT antara lain, mempermudah pengendalian daerah perakaran tanaman,
kebutuhan air dapat terpenuhi dengan baik dan mudah, keseragaman nutrisi dan
tingkat konsentrasi larutan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dapat
disesuaikan dengan umur dan jenis tanaman. Sistem hidroponik NFT memiliki
beberapa kelemahan seperti sangat tergntung terhadap energy listrik dan penyakit
dapat mudah menular ke tanaman lain.
2.3 Nutrisi Tanaman
Nutrisi merupakan satu-satunya sumber makanan bagi tanaman dalam
sistem hidroponik, oleh sebab itu nutrisi memiliki peranan yang sangat penting
dalam budidaya sistem hidroponik. Larutan nutrisi harus mengandung unsur hara
yang dibutuhkan tanaman. Nutrisi dibuat dari campuran garam-garam makro dan
mikro yang dilarutkan dengan kepekatan tertentu, lalu disiramkan dengan
frekuensi yang tertentu pula (Lingga, 2002). Dalam pembuatan larutan nutrisi
perlu diperhatikan pH, suhu serta kepekatannya agar unsur-unsur di dalamnya
dapat terserap oleh tanaman. Kebanyakan unsur-unsur hara lebih mudah larut dan
tersedia bagi tanaman pada kisaran pH 6,0-7,0 (Muliawati, 2003).
Rosliani dan Sumarni (2005) mengemukakan bahwa tanaman
membutuhkan 16 macam unsur yang diserap oleh tanaman untuk menunjang
hidupnya yang diserap melalui air, udara dan nutrisi. Karbon(C), oksigen(O) dan
hidrogen(H) diserap tanaman dari air dan udara. Unsur yang diserap tanaman dari
larutan nutrisi adalah N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, B, Zn, Cu, Mo, dan Cl.
Unsur-unsur ini terdiri dari unsur makro dan unsur mikro. Tanpa unsur hara
makro dan mikro yang cukup, dapat mengakibatkan hambatan bagi
pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitas tanaman.
2.4 Pengaruh Umur Bibit terhadap Tanaman Budidaya
Budidaya tanaman dalam sistem hidroponik dilakukan dengan cara
menyemai benih menggunakan rockwool, umur pindah tanam yang ideal untuk
budidaya tanaman sayuran secara hidroponik yaitu ketika berumur 7-10 hari
setelah semai atau telah memiliki 3 – 4 helai daun, pemindahan tanaman ke
sistem hidroponik dilakukan agar tanaman mendaptkan nutrisi yang cukup untuk
menunjang pertumbuhan. Perbedaan pindah tanam bibit akan mempengaruhi
pertumbuhan tanaman. Pindah tanam bibit berkaitan dengan panjang akar dan
jumlah daun, apabila bibit tanaman sudah memiliki akar yang cukup panjang dan
jumlah daun yang cukup banyak maka bibit tanaman akan mudah beradaptasi
dengan lingkungan sehingga peluang untuk tumbuh akan besar. Widodo (2017)
mengemukakan bahwa umur bibit mempengaruhi sistem perakaran sehingga
tanaman dapat menyerap air dan unsur hara secara optimal dan dapat
ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga dapat mendukung
pembentukan bagian tanaman baru termasuk jumlah daun.
Sistem perakaran yang terbentuk akibat dari pindah tanam bibit akan
berpengaruh terhadap laju penyerapan air dan unsur hara sehingga berpengaruh
terhadap pembentukan jumlah daun. Pindah tanam bibit tanaman akan
menghasilkan tanaman yang kuat apabila pemulihan akar berlangsung dengan
baik. Tanaman selada merah dipanen pada umur berkisar 35 – 60 hari setelah
semai dengan ciri tanaman yang siap dipindah tanam yaitu perbedaan pindah
tanaman bibit tanaman budidaya dapat mempengaruhi proses fisiologi serta
pertumbuhan tanaman. Umumnya bibit tanaman yang dipindah tanam pada umur
yang sedikit tua memiliki daya adaptasi yang tinggi karena memiliki perakaran
yang cukup kuat untuk beradaptasi dilingkungan yang baru. Wasonowati (2009)
mengemukakan bahwa pemindahahan bibit tanaman pada umur yang tepat dapat
menghasilkan hasil tanaman yang baik, jika dilakukan pada waktu yang kurang
tepat dapat menyebabkan stagnansi permanen sehingga dapat menghambat
pertumbuhan tanaman.
III. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2018.
Bertempat di Greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
Suhu rata-rata harian kota Malang berkisar 23.7℃ dengan curah hujan rata-
rata 2088 mm.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk budidaya yaitu nettpot sebagai tempat bibit
tanaman, rockwool sebagai media tanam, gully, Styrofoam dan tray semai.
Alat yang digunakan untuk pengamatan tanaman budidaya yaitu TDS meter
untuk mengukur kepekatan larutan nutrisi, meteran untuk mengukur
pertumbuhan tanaman, timbangan analitik untuk mengukur berat tanaman,
oven, alat tulis untuk mengukur data dilapang dan kamera untuk dokumentasi
kegiatan. Bahan yang digunakan antara lain yaitu benih selada merah varietas
red rapid.
3.3 Metodologi Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan yaitu metode Rancangan Acak
Kelompok yang disusun secara tersarang, terdiri atas dua faktor yaitu sistem
hidroponik dan umur bibit. Perlakuan yang digunakan yaitu sebagai beirkut:
Faktor pertama yaitu sistem hidroponik:
S1: Sistem Hidroponik Rakit Apung
S2: Sistem Hidroponik Nutrient Film Technique (NFT)
Umur bibit diletakkan sebagai faktor kedua yang tersarang pada faktor
pertama, yang terdiri dari 4 perbedaan umur bibit:
Faktor Kedua yaitu umur bibit tanaman budidaya
B1: 1 minggu
B2: 2 minggu
B3: 3 minggu
B4: 4 minggu
Dari dua faktor tersebut diperoleh 8 kombinasi perlakuan dan dilakukan 4
kali pengulangan sehingga didapatkan 32 petak satuan kombinasi percobaan.
Setiap petak percobaan dibutuhkan 8 tanaman, sehingga dibutuhkan bibit
tanaman sebanyak 256 bibit selada merah. Perlakuan yang didapat dari dua
faktor tersebut adalah sebagai berikut:
S1B1: Sistem Hidroponik Rakit Apung dengan umur bibit 1 minggu
S1B2: Sistem Hidroponik Rakit Apung dengan umur bibit 2 minggu
S1B3: Sistem Hidroponik Rakit Apung dengan umur bibit 3 minggu
S1B4: Sistem Hidroponik Rakit Apung dengan umur bibit 4 minggu
S2B1: Sistem Hidroponik NFT dengan umur bibit 1 minggu
S2B2: Sistem Hidroponik NFT dengan umur bibit 2 minggu
S2B3: Sistem Hidroponik NFT dengan umur bibit 3 minggu
S3B4: Sistem Hidroponik NFT dengan umur bibit 4 minggu
3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Penyemaian Benih
Benih selada merah disemai dengan menggunakan media tanam rockwool
yang telah di potong dadu dengan ukuran 2,5 cm x 2,5 cm dan dilubangi dengan
menggunakan tusuk gigi sedalam ± 1 cm. Media semai benih disimpan didalam
greenhouse untuk mencegah terjadinya kerusakan dari lingkungan luar.
Pemeliharaan benih hanya dilakukan penyiraman setiap hari untuk menjaga
kelembaban media tanam serta benih selada merah.
3.4.2 Persiapan Sistem Hidroponik
Sistem hidroponik yang digunakan dalam penelitian yaitu sistem
hidroponik NFT dan sistem hidroponik rakit apung. Sistem hidroponik yang telah
ada kemudian dibersihkan hingga tidak terdapat lumut atau kotoran yang
tertinggal.
3.4.3 Persiapan Larutan Nutrisi
Nutrisi yang digunakan yaitu nutrisi hidroponik AB mix yang berbentuk
serbukan. Nutrisi A dan B masing-masing memiliki kandungan yang berbeda
sehingga dalam pelarutannya dilakukan secara terpisah agar tidak terjadi
pengkristalan. Nutrisi A memiliki kandungan kalsium nitrat, besi dan kalium
nitrat sedangkan nutrisi B memiliki kandungan mono kalium fosfat, mono
ammonium fosfat, kalium sulfat, magnesium sulfat, manganium sulfat, cupro
sulfat, zinc sulfat, asam borat, ammonium hepta molybdat atau natroum molybdat.
3.4.4 Penanaman
Penanaman dilakukan saat umur yang telah ditentukan dalam perlakuan
yaitu 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu dan 4 minggu setelah semai. Bibit selada
merah dipindahkan kedalam netpot yang telah dibuat pada sistem hidroponik rakit
apung dan NFT (Nutrient Film Techinque). Masing- masing netpot berisi satu
bibit selada merah.
3.4.5 Pemeliharaan
a. Pengukuran tingkat kepekatan larutan nutrisi
Pengukuran tingkat kepekatan larutan nutrisi dilakukan selama 2 hari sekali
dengan menggunakan TDS meter. Pengukuran kepekatan larutan nutrisi
dilakukan dari awal bibit diletakan dalam netpot hingga pemanenan.
b. Penyulaman
Penyulaman dilakukan dengan mengganti tanaman yang rusak dan mati
dengan menggunakan tanaman yang baru. Tanaman yang digunakan untuk
penyulaman berasal dari sisa pembibitan dengan kondisi bibit yang baik.
Kegiatan penyulaman dilakukan apabila terlihat bibit yang telah rusak dan
mati.
c. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara manual yaitu dengan
membuang bagian tanaman yang terserang hama dan penyakit.
3.4.6 Pemanenan
Panen dilakukan dengan cara mencabut tanaman beserta akarnya dari
netpot ketika tanaman telah berumur 60 hari. Selada yang siap untuk dipanen
memiliki kriteria daun tanaman terlihat segar, memiliki tekstur daun yang renyah
dan daun telah membuka sempurna serta jika dimakan tidak terasa pahit. Kriteria
lain dari selada yang siap dipanen yaitu daun selada yang berwarna merah, bagian
tepi warna merah lebih nyata dibandingkan dibagian dalam dekat batang.
3.5 Pengamatan dan Pengumpulan Data
Pengamtan yang dilakukan yaitu pengamatan pertumbuhan secara non
destruktif dan pengamatan saat panen yaitu pengamatan secara destruktif.
Pengamatan destruktif dilakukan pada saat awal pemanenan, kemudian
pengamatan non destruktif dilanjutkan saat berumur 7, 14 , 21, 28, 35, 42, 49 dan
56 hari setelah pindah tanam pada masing-masing tanaman yang dipindahkan
secara berbeda. Pengamatan non destruktif yaitu jumlah daun pertanaman dan
panjang tanaman sedangkan pengamatan destruktif yaitu berat segar total
tanaman, berat segar ekonomis tanaman, berat kering tanaman, luas daun tanaman
dan kandungan unsur hara tanaman.
Pengamatan non destruktif meliputi:
1. Jumlah daun pertanaman
Jumlah daun pertanaman didapatkan dengan cara menghitung jumlah daun
yang telah membuka sempurna dan dalam kondisi yang baik dari sampel
tanaman.
2. Panjang tanaman (cm/tanaman)
Panjang tanaman didapatkan dengan cara mengukur dari pangkal terbawah
sampai dengan daun termuda dengan menggunakan meteran. Pengamatan
dilakukan terhadap 6 sampel tanaman.
Pengamatan Destruktif meliputi:
1. Berat Segar Total Tanaman
Berat segar total tanaman didapatkan dengan menimbang seluruh bagian
tanaman yaitu akar, batang dan daun tanaman. Akar yang ditimbang
dipisahkan dari media tanam.
2. Berat Ekonomis Tanaman
Berat ekonomis tamaman didapatkan dengan cara menimbang bagian
tanaman yang dikonsumsi yaitu batang dan daun segar.
3. Luas Daun
Luas daun didapatkan dengan menggunakan alat Leaf Area Meter (LAM)
pada sampel pengamatan. Pengamatan luas daun dilakukan dengan
mengambil seluruh daun yang telah membuka sempurna.
4. Berat Kering Tanaman
Berat Kering Tanaman didapatkan dengan cara mengeringkan sampel
tanaman dalam oven selama 3 hari. Pengamatan berat kering tanaman
dilakukan dengan mengambil seluruh sampel tanaman yang telah dipanen.
Berat kering tanaman digunakan untuk mengetahui laju pertumbuhan
tanaman.
5. Serapan Kandungan Unsur Hara Tanaman
Analisis serapan kandungan unsur hara tanaman dilakukan di
Laboratorium Kimia Fakultas Pertanian Universitas Brawjiaya.
6. Laju Pertumbuhan Tanaman
Laju Pertumbuhan Tanaman didapatkan dengan cara menghitung laju
pertumbuha tanaman relatif yang didapatkan dari data berat kering
tanaman. Sitompul (2015) mengemukakan bahwan rumus Laju
Pertumbuhan Relatif tanaman yaitu
ln W 2−ln W 1
RGR=
T 2−T 1
Keterangan:
W2: Berat Kering Total Tanaman pada saat panen
W1: Berat Kering Total Tanaman satu minggu sebelum panen
T2: Umur Panen Tanaman saat akhir penelitian
T1: Umur Panen Tanaman saat satu minggu sebelum panen
3.6 Analisis Data
Data yang telah didapat dari hasil pengamatan kemudian dilakukan analisis
dengan menggunakan analisis ragam total (ANOVA) dan dilakukan uji F pada
taraf 0.05 yang bertujuan untuk mengetahui nyata tidaknya pengaruh dari
perlakuan yang diberikan, jika terdapat pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan
uji BNJ pada taraf 0.05 untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.
Lampiran 1. Deskripsi Varietas New Red Fire

Asal : Takii & Co. Ltd, Jepang


Golongan Varietas : silang terbuka
Umur Panen : 45 – 60 hari setelah tanam
Tipe Selada : selada daun, tidak membentuk krop
Bentuk Daun : keriting
Ukuran Daun : panjang 15 – 25 cm, lebar 10 – 14 cm
Warna Daun : merah tua kecoklatan
Jumlah daun per tanaman : 24 – 27
Bentuk Tajuk : menyamping
Diameter Tajuk : 40 – 45 cm
Tinggi batang sampai tajuk : 17 – 20 cm
Diameter Batang : 1 – 2 cm
Berat per tanaman : 300 – 450 gram
Rasa : tidak pahit
Daya simpan suhu kamar : 10 – 14 hari
Hasil : 7 – 10 ton/ha
Keterangan : beradaptasi dengan baik di dataran sedang sampai
tinggi
Pengusul/peneliti : Jupeno Sihanlaut : PT. Winon Intercontinental/
Denichi Takii:Taki&Co.Ltd
Lampiran 2. Denah Percobaan Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

1.2 m U

U1 U2 U3 U4

B1 B3
B2 B3

B3
B4 B3 B2

B2 5.8 m
B1 B1 B4

B4 B1
B2 B4
U
Lampiran 3. Denah Percobaan SistemApung

3.3 m

U1 U2 U3 U4

B2 B1 B3 B4 B1 B4 B2 B3 B3 B4 B1 B2 B1 B3 B2 B4
3.9 m
Lampiran 4. Denah Pengambilan Contoh Tanaman Selada Merah
U

15 cm Ketereangan:
Jumlah tanaman selada merah: 6 tanaman

= Contoh Tanaman Selada Merah

5.8 m
Lampiran 5. Hasil Analisis Ragam Jumlah Daun Selada pada umur tanaman 7,
14, 21, 28, 35, 42, 49 dan 56 HST

Jumlah Daun Umur Pengamatan 7 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 1.76 1.76 45.69 4.26 * 6.84
B (S) 6 5.70 0.95 24.68 2.53 *  
GALAT 24 0.92 0.04        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Jumlah Daun Umur Pengamatan 14 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 0.15 0.15 1.60 4.26 tn 7.70
B (S) 6 4.14 0.69 7.53 2.53 *  
GALAT 24 2.20 0.09        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata, tn:
tidak nyata

Jumlah Daun Umur Pengamatan 21 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 0.04 0.04 0.27 4.26 tn 8.66
B (S) 6 5.81 0.97 6.16 2.53 *  
GALAT 24 3.77 0.16        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata, tn:
tidak nyata

Jumlah Daun Umur Pengamatan 28 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 1.19 1.19 11.54 4.26 * 5.76
B (S) 6 0.68 0.11 1.10 2.53 tn  
GALAT 24 2.47 0.10        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata, tn:
tidak nyata

Jumlah Daun Umur Pengamatan 35 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 3.12 3.12 13.40 4.26 * 6.56
B (S) 6 1.48 0.25 1.06 2.53 tn  
GALAT 24 5.58 0.23        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata, tn=
tidak nyata

Jumlah Daun Umur Pengamatan 42 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 17.26 17.26 30.81 4.26 * 7.71
B (S) 6 11.05 1.84 3.29 2.53 *  
GALAT 24 13.45 0.56        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata
Jumlah Daun Umur Pengamatan 49 HST
F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 84.54 84.54 86.51 4.26 * 7.47
B (S) 6 17.10 2.85 2.92 2.53 *  
GALAT 24 23.45 0.98        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Jumlah Daun Umur Pengamatan 56 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 89.99 89.99 82.40 4.26 * 6.09
B (S) 6 32.04 5.34 4.89 2.53 *  
GALAT 24 26.21 1.09        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Lampiran 6. Hasil Analisis Ragam Panjang Tanaman Selada pada umur tanaman
7, 14, 21, 28, 35, 42, 49 dan 56 HST

Panjang Tanaman Selada pada Umur Pengamatan 7 HST


SK dB JK KT F hit F tab Ket KK
0.05 Galat
SISTEM 1 9.47 9.47 111.56 4.26 * 10.02
B (S) 6 4.89 0.82 9.60 2.53 *  
GALAT 24 2.04 0.08        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Panjang Tanaman Selada pada Umur Pengamatan 14 HST


SK dB JK KT F hit F tab Ket KK
0.05 Galat
SISTEM 1 86.57 86.57 270.71 4.26 * 11.83
B (S) 6 5.10 0.85 2.66 2.53 *  
GALAT 24 7.68 0.32        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Panjang Tanaman Selada pada Umur Tanaman 21 HST


SK dB JK KT F hit F tab Ket KK
0.05 Galat
SISTEM 1 194.13 194.13 384.19 4.26 * 10.63
B (S) 6 6.62 1.10 2.18 2.53 tn  
GALAT 24 12.13 0.51        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata, tn=
tidak nyata

Panjang Tanaman Selada pada Umur Pengamatan Tanaman 28 HST


SK dB JK KT F hit F tab Ket KK
0.05 Galat
SISTEM 1 228.27 228.27 224.56 4.26 * 11.87
B (S) 6 16.03 2.67 2.63 2.53 *  
GALAT 24 24.40 1.02        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Panjang Tanaman Selada pada Umur Pengamatan Tanaman 35 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 145.48 145.48 129.13 4.26 * 10.17
B (S) 6 60.38 10.06 8.93 2.53 *  
GALAT 24 27.04 1.13        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Panjang Tanaman Selada pada Umur Pengamatan Tanaman 42 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 49.35 49.35 32.98 4.26 * 9.47
B (S) 6 176.51 29.42 19.66 2.53 *  
GALAT 24 35.92 1.50        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata
Panjang Tanaman Selada pada Umur Pengamatan Tanaman 49 HST
F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 8.75 8.75 6.58 4.26 * 7.45
B (S) 6 243.05 40.51 30.47 2.53 *  
GALAT 24 31.91 1.33        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Panjang Tanaman Selada pada Umur Pengamatan Tanaman 56 HST


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 6.05 6.05 2.33 4.26 tn 8.60
B (S) 6 212.39 35.40 13.65 2.53 *  
GALAT 24 62.24 2.59        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata, tn=
tidak nyata

Lampiran 7. Hasil Analisis Ragam Hasil Tanaman Selada

Berat Segar Total Tanaman (g per tanaman)


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 1036.26 1036.26 306.77 4.26 * 2.78
B (S) 6 1376.01 229.33 67.89 2.53 *  
GALAT 24 81.07 3.38        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Berat Segar Ekonomis Tanaman (g per tanaman)


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 1004.64 1004.64 257.14 4.26 * 3.55
B (S) 6 1536.38 256.06 65.54 2.53 *  
GALAT 24 93.77 3.91        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Berat Kering Total Tanaman pada Umur 53 HST (g per tanaman)


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 0.78 0.78 21.41 4.26 * 10.33
B (S) 6 2.29 0.38 10.49 2.53 *  
GALAT 24 0.87 0.04        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Berat Kering Total Tanaman pada Umur 60 HST (g per tanaman)


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 0.62 0.62 10.49 4.26 * 9.01
B (S) 6 12.83 2.14 36.17 2.53 *  
GALAT 24 1.42 0.06        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Luas Daun Tanaman


F tab KK
SK dB JK KT F hit Ket
0.05 Galat
SISTEM 1 3663554.33 3663554.33 349.74 4.26 * 7.41
B (S) 6 9815229.04 1635871.51 156.17 2.53 *  
GALAT 24 251403.65 10475.15        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata

Laju Pertumbuhan Relatif Tanaman


SK dB JK KT F hit F tab Ket KK
0.05 Galat
SISTEM 1 0.05 0.05 6.21 4.26 * 9.80
B (S) 6 1.55 0.26 34.94 2.53 *  
GALAT 24 0.18 0.01        
TOTAL 23            
Keterangan: HST= Hari Setelah Tanam, dB= derajat bebas, JK= jumlah kuadrat,
KT= Kuadrat Tengah, KK= Koefisien Keragaman, *= nyata
Lampiran 8. Hasil Uji Serapan Unsur Hara N, P dan K dalam Tanaman Selada

1. Hasil Uji Unsur Hara N, P dan K pada perlakuan umur bibit 1 minggu
2. Hasil Uji Unsur Hara N, P dan K pada perlakuan umur bibit 2 minggu
3. Hasil Uji Unsur Hara N, P dan K pada perlakuan umur bibit 3 minggu
4. Hasil Uji Unsur Hara N, P dan K pada perlakuan umur bibit 4 minggu