Anda di halaman 1dari 2

SURAT PERJANJIAN KERJASAMA

PENANAMAN UBI JEPANG


Kami yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Nama Lengkap Petani Sesuai KTP


Tempat, Tanggal Lahir :
Alamat :
NIK :
Selanjutnya disebut sebagai Pihak Pertama

Nama :
Tempat, tanggal lahir :
Alamat :
NIK :
Selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua

Pasal 1
Maksud Dan Tujuan
Maksud dan tujuan kerjasama ini adalah kegiatan penanaman Ubi Jepang sampai dengan pemanenan pada
lahan yang di miliki oleh pihak Kedua sampai jangka waktu yang telah di tentukan.

Pasal 2
Jangka Waktu
 Perjanjian kerjasama ini berlangsung sejak tanggal 02 November 2020 sampai dengan Ubi Jepang
mencapai usia 90 hari atau cukup dipanen.
 Apabila sampai jangka waktu pemanenan dan hasil sesuai atau melebihi yang di rencanakan maka
perjanjian dapat di teruskan berdasarkan persetujuan kedua belah pihak .

Pasal 3
Lokasi Dan Obyek
Lokasi dan obyek kerjasama ialah pada lahan ( Tanah ) milik Pihak Kedua seluas _____m2 (
………………………..meter persegi ) yang terletak di __________________________ Desa Sirnajaya
Kec.Gununghalu Kab.Bandung Barat yang telah di tanami bibit Ubi Jepang sebanyak ___________ batang,
dengan Nomor Obyek Pajak ( NOP ) SPPT PBB : ____________________(Jika Ada).

Pasal 4
Kewajiban

1. Pihak Pertama adalah pemilik modal,yakni pihak yang menyediakan bibit, pupuk dan Obat-obatan yang
akan digunakan yang besaran dan jumlahnya disesuaikan kesepakatan kedua belah pihak atau sesuai
ketentuan penanaman Ubi Jepang.
2. Pihak Kedua sebagai pemilik lahan,pengelola tanaman yang berkewajiban menanam,merawat dan
memelihara Ubi Jepang dimaksud hingga menghasilkan umbi Ubi Jepang dan dapat dipanen sesuai waktu
yang telah disepakati bersama.
3. Pihak Pertama wajb menyediakan bibit Ubi Jepang dimaksud (sebanyak 45.000 batang per HA atau sesuai
jumlah lahan yang dimiliki Pihak Kedua, dimana Pihak Kedua wajib menyediakan dan menyiapkan lahan
serta siap menanam,merawat tanaman .
4. Pihak Pertama sebagai pemilik modal berkewajiban dan memiliki hak diutamakan untuk memasarkan dan
menjual hasil Ubi Jepang ke pihak Ketiga atau manapun. Bahwa Pihak Pertama tidak memiliki kewajiban
untuk memberitahukan harga berikut pemasarannya kepada Pihak Kedua prihal penjualan Ubi Jepang
dimaksud.
5. Pihak Kedua berkewajiban untuk melaporkan perkembangan tanaman yang ditanamnya kepada Pihak
Pertama atau yang dikuasakannya untuk itu, setidak-tidaknya untuk tiap 1 (satu) bulan sekali.
6. Pihak Kedua wajib memberitahukan kepada Pihak Pertama kapan Ubi Jepang akan dipanen, dan Pihak
Kedua tidak berhak memanen Ubi Jepang tanpa seijin dan sepengetahuan Pihak Pertama. Bahwa Pihak
Kedua tidak bertanggungjawab atas jenis Ubi Jepang yang ditanamnya, dan Pihak Pertama bertanggung
jawab sepenuhnya atas jenis Ubi Jepang yang ditanam Pihak Kedua.

1
7. Bahwa, apabila Pihak Pertama mengetahui Pihak Kedua telah memanen sendiri hasil Ubi Jepang dan
menjualnya sendiri kepada Pihak Ketiga, maka Pihak Pertama berhak atas kompensasi pengalihan hasil
panen sepenuhnya atas panen berikutnya secara penuh dengan tidak membagi hasil panen Ubi Jepang
dimaksud kepada Pihak Kedua, atau mendapat sanksi berupa Denda Uang Rp.25.000.000 per HA atau
Rp.1.000.000.- per Gawang (400m2).

Pasal 5
Force Majeur

 Yang di maksud force majeur ( keadaan memaksa ) adalah keadaan yang di sebabkan terjadinya huru
hara,perang,bencana alam dan lain lain kejadian di luar kemampuan manusia yang langsung
mempengaruhi jalanya pekerjaan.
 Apabila terjadi keadaan memaksa ( force majeur ) maka pihak pertama harus memberitahukan kepada
pihak kedua selambat lambatnya 7 ( tujuh ) hari setelah tanggal terjadinya keadaan tersebut untuk
mendapatkan persetujuan.
 Bahwa kerusakan ataupun gagal panen yang disebabkan karena hal tersebut diatas maka kedua belah
pihak terbebas dari segala resiko dan kesalahan dan atau segala bentuk penggantian kerugian.

Pasal 6
 Bahwa perjanjian kerja sama ini berlaku/berlangsung selama 1 (satu) tahun atau sepanjang Ubi Jepang
ditanam masih produktif dan menghasilkan buah dan apabila Ubi Jepang yang ditanam dimaksud tidak lagi
produktif, maka perjanjian ini berakhir dengan sendirinya.
 Bahwa perjanjian kerjasama ini juga dapat berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak yang
dinyatakan dan diperbuat diatas kertas bermaterai yang cukup dan apabila didalam pelaksanaan perjanjian
kerjasama ini terdapat perselisihan dan silang sengketa, maka upaya musyawarah dan mufakat ditempuh
terlebih dahulu.

Demikian surat perjanjian kerjasama usaha ini disusun secara sadar dan sebenar-benarnya. Selanjutnya, surat
perjanjian ini dibuat dalam dua rangkap dan punya kekuatan hukum setara.

Gununghalu, 04 November 2020

Pihak Pertama Pihak Kedua

(materai Rp6.000)

[Nama] [Nama]