Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN RUBELLA

DOSEN PEMBIMBING : Ns. Azhari Baedlawi, M. Kep

DISUSUN OLEH :

M. WAHID ICSANNUDIN CHANIAGO ADLAO

20186513021

SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN NERS PONTIANAK

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN PONTIANAK

TAHUN AKADEMIK 2020/2021


A. PENGERTIAN
Rubela merupakan suatu penyakit virus yang umum pada anak dan dewasa
muda, yang ditandai oleh masa prodromal yang pendek, pembesaran kelenjar getah
bening servikal, suboksipital dan postaurikular, disertai erupsi yang berlangsung 2-3
hari. Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat terjadi infeksi berat
disertai kelainan sendi dan paru-paru. (sumarno,2002).

Rubela juga dapat terjadi pada ibu hamil dan dapat menimbulkan infeksi pada
janin dengan kelainan teratogenesis yang bergantungdari umur kehamilan. Pada
sebagian besar ibu yang mengalami infeksi rubella tidak menunjukkan gejala atau
tanda klinis tetapi virus dapat menimbulkan infeksi pada plasenta yang diteruskan ke
janin, kemungkinan yang ditimbulkan dijanin yaitu :

a. Non-infeksi
b. Infeksi tanpa kelainan apapun
c. Infeksi dengan kelainan congenital
d. Resorpsi embrio
e. Abrotus atau
f. Kelahiran mati

Berdasarkan WHO (2012) rubela adalah penyakit infeksi virus RNA yang
menular dan belum ada pengobatan khusus untuk infeksi rubela. Virus rubela
bersifat teratogen terhadap janin jika menginfeksi wanita hamil terutama wanita yang
tidak memiliki proteksi immunologi spesifik (Santis et al.,2005).

Wanita hamil yang terinfeksi rubela pada awal trimester pertama kehamilan,
dapat meningkatkan risiko terinfeksinya fetus lebih dari 80% (Reddy et al.,2006).

Infeksi rubela kongenital pada fetus dapat mengakibatkan sel tubuh janin
tidak berkembang atau rusak sehingga terjadi abortus, bayi lahir mati, serta defek
permanen yang disebut dengan Sindrom Rubela Kongenital (Burg and Janis.,2007).

Sindrom rubela kongenital merupakan salah satu kasus terbanyak yang


menyebabkan terjadinya kecacatan pada bayi dan anak di negara berkembang.
Saat ini diperkirakan sekitar 110.000 infant mengalami sindrom rubela kongenital
(SRK) setiap tahunnya (Robertson et al.,2003). Berdasarkan data model statistik
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2010, mengestimasikan
46.621 bayi yang baru lahir menderita SRK setiap tahun pada tahun 2000-2009 di
South East Asian Region (SEAR), akan tetapi masih banyak data yang belum
tercatat mengenai angka kejadian kasus SRK di negara berkembang.

B. ETIOLOGI
Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus Rubivirus, famiily
Togaviridae. Secara fisikokimiawi virus ini sama dengan anggota virus lain dari famili
tersebut, tetapi secara serologic virus rubella berbeda. Sindrom rubella kongenital
merupakan penyakit yang sangat menular yang penularannya melalui oral droplet,
dari nasofaring, atau rute pernafasan dan selanjutnya memasuki aliran darah.
Namun terjadi erupsi dikulit dan belum diketahui patogenesisnya. Virus rubela hanya
menjangkiti manusia saja dan penularan dapat terjadi biasanya sejak 7 hari sebelum
hingga 5 hari sesudah timbulnya erupsi, daya tular tertinggi terjadi pada akhir masa
erupsi, kemudian menurun hingga 5 hari sesuda timbulnya erupsi, daya tular
tertinggi terjadi pada akhir massa erupsi, kemudian menurun hingga cepat dan
berlangsung hingga hilangnya erupsi. (Sumarmo, 2002).

C. PATOFISIOLOGI
Virus RNA masuk kedalam tubuh manusia melalui oral droplet kemudian di
tangkap oleh makrofag dan menyebar ke kelenjar limfe regional dan terjadi replikasi
virus dan masuk pada sel-sel jaringan limfa lokal sehingganya virus di lepas ke
aliran darah dan menyebar ke berbagai organ. Pertama terjadi poliferasi endotel
kapiler dalam korium. Eksudasi serum/eritos dalam epidermis sehingganya terjadi
ruam-ruam kemerahan. Kedua terjadi replikasi virus dan viremia sekunder sehingga
terjadi reaksi radang dan terjadilah pengeluaran mediator kimia sehingganya sel
point meningkat yang menyebabkan suhu tubuh meningkat. Ketiga virus menempel
dan berkembang pada epitel nasofaring sehingga terjadi invasi dan hiperemia
dinding posterior faring oleh palut lendir yang menyebabkan nyeri tenggorokan dan
terjadi infeksi mukosa faring.
D. PATHWAY

Virus Viremia
RNA sekunde
r
Oral Reak
Droplet si
rada
ng
Ditangkap Pengeluaran
oleh mikrofag mediator
kimia

Menyebar
ke kelenjar limfe Sel point
regional meningkat

Suhu tubuh
Replikasi
meningkat
virus
Dx. Hipertermi
Virus di lepas ke aliran Sel-sel jaringan limfa
darah local

Menempel & Ruam


Menyebar ke berbagai berkembang pada menyebar
organ epitel nasofaring sampai ke oral

Poliferasi endotel
Perubahan mukosa
kapiler dalam Invasi
oral
korium

Penurunan intake
Eksudasi Hiperemia makanan
serum/eritos dalam dinding
epidermis posterior faring
Anoreksia

Ruam berbintik-bintik Infeksi mukosa


kemerahan faring Dx. ketidak seimbanangan
nutrsisi kurang dari kebutuhan
Nyeri tubuh
tenggorokan
Dx. Kerusakan
integritas kulit Dx. Ketidakefetifan
bersihan jalan nafas
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Masa inkubasi 14-21 hari. Pada anak erupsi timbul tanpa keluhan jarang
disertai gaejala dan tanda pada masa prodromal.
2. Pada remaja masa prodromal berlangsung 1-5 hari dan terdiri dari
demam ringan, sakit kepala, nyeri tenggorokkan, kemerahan pada
konjungtiva, rhinitis, batuk dan limfadenopati.
3. Hari pertama erupsi timbul suatu enantema, forschheimer sport, yaitu
macula atau petekia pada pallatum molle, bisa saling merengkuh sampai
seluruh permukaan faucia.
4. Pembesaran kelenjar limfe timbul 5-7 hari sebelum timbul eksantema,
khas mengenai kelenjar suboksipital, postauikular dan servikal, dan
disertai nyeri tekan.
5. Gejala prodromal menghilang saat erupsi timbul
6. Bayi yang lahir dari ibu hamil yang menderita rubella pada trimester
pertama bisa terkena sindrom rubella congenital, yaitu trias anomaly
kognital pada mata (katarak, mikroftalmia, glaucoma, retinopati), telinga
(ketulian) dan defek jantung. Kerusakan jantung dan mata terjadi karena
infeksi embrio yang berumur 6 minggu, sedangkan ketulian dan
defekmental terjadi pada semua embrio yang berumur sampai kira-kira
16 minggu.(sumarmo,2002).

F. KOMPLIKASI
Rubella adalah infeksi ringan. Sekali saja seseorang terkena rubella,
maka ia akan kebal seumur hidup. Sebagian wanita yang terkena rubella mengalami
arthritis pada jari-jari, pergelangan tangan dan lutut, yang umumnya berlangsung
selama 1 bulan. Dalam kasus yang cukup jarang terjadi, rubella dapat menyebabkan
infeksi telinga (otitis media) atau radang otak (ensefalitis).Yang berbahaya adalah
ketika seorang wanita hamil dan terkena rubella, konsekuensinya berat pada bayi
yang dikandungnya. Sekitar 90 persen bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengidap
rubella selama trimester pertama kehamilan mengembangkan sindrom rubella
bawaan. Hal ini akan mengakibatkan satu atau beberapa gangguan, antara lain:

a. Retardasi pertumbuhan
b. Katarak
c. Ketulian
d. Cacat jantung bawaan
e. Cacat pada organ lain
f. Keterbelakangan mental.

Risiko tertinggi janin akan berada selama trimester pertama kehamilan,


namun trimester selanjutnya juga berbahaya.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes darah serologi antigen rubella

Pemeriksaan serologis digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus rubella


bawaan dan pascanatal (sering dikerjakan di anak-anak dan orang dewasa muda)
dan untuk menentukan keadaan (status) imunologik terhadap rubella. Metode yang
tersedia antara lain:

a. Hemaglutinasi pasif
b. Uji hemolisis radial
c. Uji aglutinasi lateks
d. Uji inhibisi hemaglutinasi
e. Imunoasai fluoresens
f. Imunoasai enzim.

Pemeriksaan terhadap wanita hamil yang pernah bersentuhan dengan


penderita rubella, memerlukan upaya diagnosis serologis secara tepat dan teliti
(akurat). Jika penderita memperlihatkan gejala klinis yang semakin memberat, maka
harus segera dikerjakan pemeriksaan imunoasai enzim terhadap serum penderita
untuk menetukan adanya IgM spesifik-rubella, yang dapat dipastikan (konfirmasi)
dengan memeriksa dengan cara yang sama setelah 5 hari kemudian. Penderita
tanpa gejala klinis tetapi terdiagnosis secara serologis merupakan sebuah masalah
khusus.Mereka mungkin sedang mengalami infeksi pratama (primer) atau re-infeksi
karena telahmendapatkan vaksinasi dan memiliki antibodi. Pengukuran kadar IgG
rubella dengan imunoasai enzim juga dapat membantu membedakan infeksi
pratama (primer) dan re-infeksi.
Pemeriksaan serologis pada kasus yang dicurigai menderita CRS
memerlukan tiga pendekatan.Pendekatan pertama untuk mengetahui adanya
antibodi IgM spesifik-rubella pada serum bayi.Pendekatan kedua dengan melakukan
titrasi serial antibodi serum selama 6 bulan pertama kehidupannya.Kadar titer yang
tetap atau meningkatselama pemeriksaan ini menunjukkan bahwa telah terjadi
infeksi rubella bawaan.Pendekatan ketiga adalah dengan melakukan immunoblotting
dan imunoasai enzim peptide serum yang dikumpulkan selama masa neonatus
untuk mencari adanya penurunan pita protein E1 dan E2.

Secara spesifik, ada 5 tujuan pemeriksaan serologis rubella, yaitu:

a. membantu menetapkan diagnosisrubella bawaan. Dalam hal ini


dilakukan imunoasaiIgM terhadap rubella
b. membantu menetapkandiagnosis rubella akut pada penderita yang
dicurigai.Untuk itu perlu dilakukan imunoasai IgM terhadap penderita
c. memeriksa ibu dengan anamnesis ruam“rubellaform” di masa lalu,
sebelum dan pada awalkehamilan. Sebab ruam kulit semacam ini,
dapatdisebabkan oleh berbagai macam virus yang lain.
d. memantau ibu hamil yang dicurigai terinfeksirubella selama kehamilan
sebab seringkali ibu tersebutpada awal kehamilannya terpajan virus
rubella(misalnya di BKIA dan Puskesmas)
e. mengetahuiderajat imunitas seseorang pascavaksinasi.Adanya antibodi
IgG rubella dalam serumpenderita menunjukkan bahwa penderita
tersebutpernah terinfeksi virus dan mungkin memilikikekebalan terhadap
virus rubella.

Penafsiran hasilIgM dan IgG ELISA untuk rubella sebagai uji saring untuk
kehamilan adalah sebagai berikut sebelum kehamilan, bila positif ada perlindungan
(proteksi) dan bila negatif berarti tidak diberikan, kehamilanmuda (trimester
pertama).

2. Pemeriksaan ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbentassay)

Tes ELISA dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi maupun antigen.


Pemeriksaan ELISA dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi dalam tubuh
manusia ataupun hewan. Ada berbagai teknik pemeriksaan ELISA.Tes ini dapat
dilakukan dengan kit yang sudah jadi atau dapat juga dilakukan dengan
menggunakan antigen yang diracik sendri.Dalam mendeteksi antibodi, tes ELISA
dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi IgM, dan kadang-kadang juga
digunakan untuk mendeteksi IgG. Adanya antibodi IgM merupakan tanda aanya
infeksi Leptospira baru, atau infeksi yang terjadi beberapa hari atau beberapa mingg
yang telah lewat.

Prinsip teknik ELISA secara umum aalah antibodi yang terdapat di dalam
serum dimasukkan ke dalam antigen yang sudah difiksasi pada penyangga padat.
(plat mikrotiter), kemudian diikubasi selama waktu tertentu, dan dicuci untuk
menghilangkan antibodi yang berlebihan.Selanjunya, ditambahkan antibodi anti
spesies yang dikonjugasi dengan enzim. Aktifitas enzim ditentukan setelah di
tambahkan substrat chromogenic spesifik intensitas reaksi warna yang tidak sesuai
anti-bakteri monokial, kemudian di tambahkan sistem defektor substar chromogen
yang di pakai sebagai indikator ada tau tidak adanya antibodi IgM pada sampel yang
di tes.

H. PENATALAKSANAAN
Untuk tahap penyembuhan sebenarnya tidak ada obat yang spesifik. Berikut
beberapa penanganan yang dilakukan jika terinfeksi :

1. Farmakologi : aceteminophen atau ibuprofen dapat mengurangi demam


dan nyeri.
2. Pengobatan rawat jalan (di rumah)
3. Pengobatan untuk wanita yang hamil

Ada wanita hamil jika terserang virus ini maka sebaiknya periksa ke dokter
dan kemungkinannya dokter memberikan suntikan imunoglobin (IG). Ig tdak dapat
menghilangkan virus rubella tetapi ig dapat membantu dalam meringankan gejala
yang diberikan oleh virus ini dan dapat dalam meringankan gejala yang diberikan
oleh virus ini dan dapat mengurangi resiko-resiko pada janin.

Walalupun tidak ada obat yang spesifik untuk virus ini, namun dapat diberikan
pencegahan yaitu dengan vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus
digunakan untuk mencegah inveksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin
MMR (Mumps, Measles, Rubella).
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria.M, dkk.2016.Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi


Bahasa Indonesia. Singapore:ELSEVIER

Hinchliff, sue.2013.Kamus Keperawatan Edisi 17.Jakarta:EGC

Heather Herdman, S. K. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017.


Jakarta: ECG

https://id.scribd.com/document/359922351/Askep-Rubella.Diakses pada 14 January


2021 11.26 WIB