Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI MEDIK

“Analisis TLD Harshaw (Pemantauan Dosis Perorangan)”

Disusun oleh :
Kelompok 4
Anggota : Lukman Mubarak [ 021700013 ]
Dara Ranum Jati Nugraheni [ 021700022 ]
Prodi : Elektronika Instrumentasi
Jurusan : Teknofisika Nuklir
Pengampu : Rofiq Syaifudin, ST.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
2021
I. TUJUAN
Tujuan dari pelaksanaan praktikum Analisis TLD Harshaw antara lain adalah :
1. Memahami prinsip dasar cara kerja alat TLD Reader buatan Harshaw
2. Melakukan perhitungan dosis dan ketidakpastiannya pada sebuah data hasil bacaan
daripada TLD Reader buatan Harshaw

II. ALAT & BAHAN


1. Satu buah TLD LiF (TLD-700/TLD-600) buatan Harshaw, dengan spesifikasi :
a. Untuk foton energi di atas 5 keV, netron dari energi termal hingga 100 MeV, beta di
atas 70 keV
b. Kemampuan menerima dosis hingga 5 Sv
c. Fading < 5% dalam 3 bulan
d. Penggunaan hingga 200 cycle
2. Satu buah TLD Reader model 6600 buatan Harshaw

III. DASAR TEORI


3.1. Dosimeter
3.1.1. Aplikasi Dosimeter
Radiasi pengion seperti sinar-X, sinar alfa, sinar beta, dan sinar gamma,
tidak terdeteksi oleh indera manusia. Maka dari itu diperlukan alat ukur yang
digunakan untuk mendeteksi, mengukur dan mencatat sinar-sinar tersebut. Dalam
beberapa kasus, alat ini memberikan alarm ketika tingkat presetnya terlampaui.
Ionisasi kerusakan radiasi pada tubuh sifatnya kumulatif dan berhubungan dengan
total dosis yang diterima. Oleh karena itu, pekerja yang terpapar radiasi seperti
radiografer, pekerja pembangkit listrik tenaga nuklir, dokter yang menggunakan
radioterapi, dan yang menggunakan radionuklida di laboratorium.
3.2. Dosimeter Termoluminisensi (TLD)
Dosimeter ini sangat menyerupai dosimeter film badge, hanya detektor yang
digunakan ini adalah kristal anorganik thermoluminisensi, misalnya bahan LiF seperti
pada Gambar 3.1. Proses yang terjadi pada bahan ini bila dikenai radiasi adalah proses
termoluminisensi. Senyawa lain yang sering digunakan untuk TLD adalah CaSO4.
Gambar 3.1. Contoh TLD Berbahan LiF (Hendriyanto, 2006)
Pemrosesan dilakukan dengan memanaskan kristal TLD sampai temperatur
tertentu, kemudian mendeteksi percikan-percikan cahaya yang dipancarkannya. Alat
yang digunakan untuk memproses dosimeter ini adalah TLD reader. Dosimeter TLD
dapat digunakan berulang kali kira-kira 100 kali pemakaian dan setelah itu akan
mengalami penurunan sensitivitas karena adanya efek dari thermal quenching.
Keunggulan TLD dibandingkan dengan film badge adalah terletak pada
ketelitiannya. Selain itu, ukuran kristal TLD relatif lebih kecil dan setelah diproses kristal
TLD tersebut dapat digunakan lagi. (Hendriyanto, 2006). Sedangkan kelemahannya
tidak dapat dibaca secara langsung. Selain itu, informasi dosis akan hilang setelah proses
pembacaan (setelah menerima stimulasi panas).
3.2.1. Standarisasi Thermoluminiscene Dosimeter (TLD)
Tabel 3.1. Persyaratan Dosimetrik Pada Area Aplikasi Utama (Sumber: Bos 2001)

Keterangan : Semakin banyak +, semakin sering digunakan


Melibatkan sterilisasi, pengolahan makanan, pengujian material, dan
lain-lain
Fenomena TL dapat diamati pada banyak bahan. Namun, hanya pada
beberapa bahan menunjukkan sifat yang diperlukan untuk dosimetri . Persyaratan
ini tergantung pada aplikasi dosimetrik. Banyak TLD diterapkan di berbagai bidang
masing-masing berdasarkan tuntutan dan kendala tersendiri (Tabel 3.1).
3.2.2. Fenomena Thermoluminesence
Material yang dapat menunjukan fenomena TL antara lain adalah material
yang memiliki energy band gap. Sehingga, konsep rencana dasar untuk
menjelaskan fenomena TL adalah konsep pita energy electron. Pada model ini
digambarkan model tingkat energy tertentu yang dipisahkan oleh suatu pita
larangan.
Dalam TLD, radiasi ionisasi akan dapat memberikan energy kepada
electron, sehingga elektron akan bergerak dari pita valensi ke pita konduksi (tahap
-1) dan pada pita konduksi elektro akan bergerak dengan bebas. Oleh karena itu,
hole (h) tetap pada pita valensi dengan kondisi tanpa electron yang juga dapat
bergerak didalam Kristal. Karena pengotor dan doping dari Kristal, traps elektron
(e- ) dan h terbentuk di dalam energi band gap antara pita valensi dan pita konduksi.
Elektron dan hole yang yang baik adalah elektron yang bergabung atau
terperangkap dalam kondisi metastabil (tahap-2 dan 2’). Sehingga e- dan h
terperangkap pada pengotor. Jika traps ini berada lebih dalam, elektron dan hole
tidak akan memiliki cukup energi untuk melepaskan diri.
Selama material disimpan pada kondisi temperatur diatas nol maka terdapat
kemungkinan probabilitas bahwa elektron akan mendapatkan energy tambahan
yang cukup untuk kembali ke daerah pita konduksi (tahap-2). Probabilitas ini akan
meningkat seiiring dengan meningkatnya temperatur. Pemanasan material akan
meningkatkan energi yang dimiliki oleh elektron dan hole. Setelah kembali ke pita
konduksi, elektron dapat kembali bergabung dengan hole (tahap-4) dan kembali
lagi ke kondisi alaminya (ground state), yang diiringi dengan pelepasan energi
melalui emisi foton atau cahaya, yang disebut dengan lusen (Cameron et al., 1968)
3.2.3. Prinsip Kerja TLD-600/TLD-700
Ketika radiasi berinteraksi dengan TLD, energi radiasi terdeposit di dalam
material TLD. Sebagian atom menghasilkan electron bebas dari pita valensi dan
meninggalkan hole, yang kekurangan elektron setelah menyerap cukup energi.
Impuritas di dalam kristal dapat menangkap elektron bebas dan menguncinya di
dalam kristal. Struktur kristal akan melepaskan tangkapan elektron setelah
dipanaskan dengan suhu tertentu. Elektron yang terlepas akan kembali ke pita
valensi, melepaskan energi yang diterima dari ionisasi sebagai foton. Hole dapat
juga menghasilkan foton dengan proses yang serupa. Foton dapat dicacah /dihitung
menggunakan PMT (Photo Multiplier Tube). Jumlah total foton yang terdeteksi
sebanding dengan electron dan hole yang terperangkap dan sebanding dengan
radiasi pengion yang mengenai TLD.

Gambar 3.2. Mekanisme Thermoluminisensi (A. Scharmann, 1995)


Sebuah TLD dapat dikatakan sebagai detector integrasi, ketika jumlah edan
h, yang terperangkap, adalah jumlah pasangan e- /h yang dihasilkan selama proses
paparan. Setiap pasangan e- /h yang terperangkap akan memancarkan satu foton.
Jumlah foton yang dipancarkan akan sebanding dengan jumlah pasangan muatan
yang bergabung, yang juga sebanding dengan dosis yang diserap material
3.2.4. Prinsip Kerja TLD-Reader Harshaw
Pada proses pembacaan Dosimeter dengan menggunakan Thermo Scientific
Harshaw Model 6600 TLD Reader. Di dalam proses pembacaan terjadi proses
termoluminisensi, cahaya yang diemisikan dan kemudian melewati filter optic dan
light filter, setelah itu ditangkap oleh PMT melalui pandu cahaya dan akhirnya
cahaya tersebut diukur. Berikut adalah skema dari TLD-Reader
Gambar 3.3. Mekanisme TLD-Reader (Ariono Verdianto, 2012)
Pemanasan pada dosimeter menyebabkan dosimeter memancarkan cahaya
tampak yang kemudian di tangkap fotokatoda, setelah melewati filter cahaya
inframerah dan filter cahaya luminesiense PMT terdiri dari Fotokatoda yang akan
mengubah cahaya yang diserap menjadi arus listrik. Kemudian didalam PMT arus
listrik telah diperkuat sehingga memudahkan saat pengukuran. Diperlukan
material fosfor yang tepat untuk sensitifitas yang pada fotokatoda. Keluaran dari
PMT sebanding dengan jumlah foton yang dihasilkan. Hasil keluaran dari PMT
dikonversi menjadi pulsa yang akan dicacah, sehingga diperoleh data hasil cacahan
radiasi dari TLD dalam bentuk intensitas thermoluminisensi (intensitas TL). Hasil
cacahan radiasi dinyatakan dalam satuan arus listrik nanocoloumb (nC) (Ariono
Verdianto, 2012 ).
3.2.5. Sensitivitas Bahan
Sensitivitas dari bahan TLD tertentu didefinisikan sebagai sinyal TL (tinggi
puncak atau intensitas TL terintegrasi melalui daerah suhu tertentu) unit dosis serap
dan per satuan massa. Sensitivitas (S) sebagai perbandingan antara intensitas TL
yang dihasilkan (ITL) dan dosis radiasi (D) yang diterima sebelumnya, atau secara
perhitungan dapat digambarkan melalui persamaan (3.1).
……………………………………….(3.1)
Masing-masing sensitivitas dari suatu material sangat bervariasi, meskipun
semua dosimeter tersebut memiliki spesifikasi bantuk dan bahan yang sama (M.
Thoyib Thamrin, dkk., 1999). Variasi akan semakin bertambah besar seiiring
bertambahnya waktu pemakaian dosimeter, hal ini terjadi akibat berkurangnya
fosfor dan perubahan sifat optik bahan dosimeter. Variasi sensitivitas ini
merupakan salah satu sumber penyebab terjadinya kesalahan dalam evaluasi dosis.
Tinggi rendahnya kesalahan bergantung pada tinggi-rendahnya variasi sensitivitas
tersebut
3.2.6. Pemakaian Kembali (Cycle Life)
Salah satu poin menarik dari TLD adalah kemungkinan untuk digunakannya
kembali bahan TL setelah berkali-kali dipakai. Untuk memastikan bahwa pada
pemakaian kembali bahan TL yaitu tepat memiliki sifat yang sama sebelum
prosedur pemanasan anil. Prosedur anil dimaksudkan untuk beberapa tujuan, yaitu
untuk mengosongkan semua perangkap yang sejauh ini belum terjadi selama
pembacaan pada TLD Reader. Tidak lain yakni me-reset sinyal TL ke angka nol.
Kedua, membangun kembali keseimbangan cacat termodinamika yang ada di
bahan sebelum iradiasi dan pembacaan (Bos., 2001).
3.2.7. Residual TL pada Bahan
Sinyal TL residu terutama tergantung pada bahan TL, besarnya paparan
sebelumnya dan sejarah iradiasi detektor individu. Untuk mengetahui pengaruh
iradiasi sebelumnya pada sinyal TL sisa, bahan yang diiradisi dengan dosis tertentu
akan dianalisis dengan TLD Reader. Pada bahan yang sama segera dianalisa ulang
setelah pembacaan pertama. Residu setidaknya diperoleh sekecilsekecilnya,
misalnya sebesar 6% dari pembacaan pertama (Espinosa dkk 2008
3.2.8. Reproduksibilitas bahan pada Data TL
Pada bahan TL seharusnya memiliki ukuran yang hampir mendekati sama
dari pembacaan setelah diiradiasi dengan dosis tertentu. Bahan yang digunakan
dan perlakuan pada bahan juga sama. Tujuannya untuk mendapatkan ukuran yang
lebih tepat dalam reproduksibilitas dalam respon. Nilai standar deviasi dibagi
ratarata pengukuran dalam presentase pada bahan setidaknya tidak kurang dari 8%
(Teixeira 2011). Pada detektor jenis apapun sangat penting untuk mengetahui
apakah pembacaan detector berbanding lurus dengan dosis yang diukur, yaitu dosis
untuk bahan detektor tersebut. Artinya semakin tinggi dosis yang diberikan pada
bahan maka pembacaan akan semakin meningkat dan kenaikan digambarkan
dalam garis lurus (linier).
3.3. Layanan pemantauan dosis tara perorangan eksternal di lingkungan BATAN
LKKL PTKMR – BATAN, menggunakan TLD kartu buatan Harshaw untuk
layanan pemantauan dosis tara perorangan eksternal di lingkungan BATAN.
Selanjutnya untuk kemudahan layanan dan persyaratan teknis, Laboratorium
menyamakan jenis TLD badgenya yaitu TLD kartu Harshaw tipe 8814, dimana bahan
fosfornya (material TLD) adalah litium flourida, yang terdiri atas 4 elemen (chips) TLD,
elemen 1, 2 dan 3 merupakan TLD-700 (bahan LiF dengan pengkayaan isotop Li),
sedangkan elemen 4 merupakan TLD-600 (bahan LiF dengan pengkayaan isotop Li).
TLD badge ini mampu mendeteksi radiasi foton (gamma dan sinar-X), beta dan neutron
sekaligus dan mengukur Hp(10) dan Hp (0,07) (Gambar 3.3). Selain kelompok TLD
kartu Harshaw 8814, juga dikenal TLD kartu kelompok 8810/8815, 8805/8802
(beta/gamma/neutron), dan 8806 (neutron, gamma). Sedangkan alat baca TLDnya (TLD
Reader) adalah model 6600 buatan Harshaw yang dapat menampung antrian 200 TLD
kartu untuk satu rangkaian pembacaan.

Gambar 3.4. TLD kartu Model 8814


3.3.1. Alur Layanan Evaluasi TLD pada PTKMR-BATAN
a. Penerimaan TLD di Admin / front desk
 Menerina TLD dari pelanggan
 Memeriksa dan menghitung jumlah TLD yang dikirim
 Mendata informasi yang diperlukan (Institusi, alamat, jumlah TLD, peiode
pemakaian, batas waktu penyelesaian)
b. Pendataan TLD di Lab KKPR
 Memeriksa dan menghitung jumlah TLD kembali
 Mendata informasi yang diperlukan (Institusi, alamat, jumlah TLD, peiode
pemakaian, menetapkan batas waktu penyelesaian maks 14 hari) dalam file
aplikasi pendataan
 Cetak lembar data evaluasi
 Kirim TLD ke Lab Dosimetri untuk pembacaan
c. Pembacaan TLD
 Pembacaan TLD, sesuai dengan urutan pendataan
 Data cacahan tersimpan dalam data akuisisi
 Data bacaan dicetak (bisa berupa cacahan respon dengan satuan muatan
listrik nC atau bisa juga sudah berupa dosis dalam satuan mSv) yang akan
digunakan dalam evaluasi dosis
d. Evaluasi /perhitungan dosis
 Data bacaan respon yang dicetak, diserahkan ke pelaksana evaluasi
 Pelaksana mencocokkan data bacaan dengan lembar data yang akan diolah
(kode pemakai)
 Jika data cocok pelaksana akan melanjutkan proses evaluasinya
 Jika data bacaa yang diperoleh berupa respon nC maka dosis akan dihitung
menggunakan Faktor Kalibrasi luar yang sudah dibuat, jika databacaan
sudah dalam satuan dosis mSv maka proses selanjutnya tinggal
menuliskan dalam laporan uji.
e. Pelaporan hasil
 Laporan Hasil Uji yang sudah dibuat diperiksa oleh Penyelian untuk
memeriksa kembali kesesuaian data dari pemohon terhadap LHU yang
sudah dibuat
 LHU yang sudah diselia ditandatangani penandatangan LHU
 LHU yang sudah ditandatangani dan cap stemple diserahkan ke Admin
untuk selanjutnya diinformasikan ke pemohon (pelanggan) jika evaluasi
dosis sudah selesai
 Untuk pemenuhan regulasi maka data dosis pekerja radiasi ini dikirimkan
ke Bapeten melalui pelaporan online balis Pendora.

IV. TUGAS PRAKTIKUM


4.1. Tugas
Praktikan (dalam hal ini adalah mahasiswa) diberikan beberapa data hasil bacaan TLD
(terlampir), kemudian praktikan diharapkan bisa menghitung dosis radiasi pada bacaan
TLD tersebut beserta dengan ketidakpastiannya. Praktikan menggunakan hitungan
ketidakpastian dari factor yang ada.
Catatan : Perhitungan dosis radiasi gamma digunakan nilai pada elemen ke 2 (ii) (data
asli di bagian lampiran).
4.2. Rumus Perhitungan Dosis dan Ketidakpastiannya pada TLD Harshaw
Nilai Dosis (dalam mSv) yang diperoleh dari bacaan TLD Harshaw berasal tiga
komponen utama yaitu banyaknya electron yang dikeluarkan saat proses baca berupa
nilai tanggapan atau respon (R), nilai koefisien koreksi elemen TLD (ECC), dan nilai
factor kalibrasi Reader (RCF, nC/satuan exposure). Persamaannya adalah:

…………………….………..(4.1)
Dalam perhitungannya di lapangan (dosis pekerja radiasi) nilai R yang dimasukkan
dalam persamaan adalah respon TLD yang digunakan pekerja dikurangi dengan
bacaan TLD control kemudian dikalikan dengan nilai factor kalibrasinnya (FK),
karena nilai dosis yang diterima merupakan dosis radiasi akibat kerja (occupational
dose). FK dalam perhitungan diperoleh dari perbandingan ECC/RCF, sehingga:
…………………………………(4.2)
Dalam pelaporan dosis pekerja radiasi harus mencantumkan nilai ketidakpastian
(uexp) dan untuk mendapatkan nilai ketidakpastian ini harus memasukkan factor lain
selain ketiga factor utama tadi yang berpengaruh terhadap nilai dosis yang diperoleh
diantaranya ketidakpastian dari:
resolusi respon elemen TLD (Ures). Diperoleh dengan,

…………….………..(4.3)
irradiasi/foton (Uirr). Diperoleh dari Lab kalibrasi sdh dlm % dengan pembagi 2, maka,

…………………………………..(4.4)
fading (Ufad). Diperoleh dari spesifikasi TLD sdh dlm % dengan pembagi √3, maka,

…………………………………(4.5)
hitung statistic (UA). Digunakan jika ada bacaan berulang TLD, maka,

………………………….(4.6)
cacah latar (UBG). Digunakan jika ada bacaan berulang background, maka,

…………………………(4.7)
ECC (UECC). Diperoleh dari bacaan kalibrasi TLD, maka

………....……………….(4.8)
RCF (URCF). Diperoleh dari bacaan kalibrasi reader, maka,

…………...…………….(4.9)
Untuk mendapatkan nilai ketidakpastian maka gabungkan semua nilai ketidakpastian
dari beberapa factor di atas yang dipangkatkan menjadi ketidakpastian gabungan uC
yang diakarkan, yaitu:

…………………..(4.10)
Satuan ketidakpastian pengukuran TLD dalam %, karenanya pada setiap hitungan
factor penyumbang ketidakpastian selalu dikalikan 100% (yang awalnya bukan dalam
%). Pada akhirnya ketidakpastian dinyatakan dalam ketidakpastian gabungan (uexp)
dengan nilai:

…….………………………(4.11)

Angka 2 adalah nilai cakupan K, untuk lab dosimetry PTKMR menerapkan nilai
cakupan K= 2 yaitu 2σ dengan tingkat kepercayaan 95%.
Sehingga penulisan akhir perhitungan dosis adalah

………………...……………..(4.12)

V. ANALISIS DATA
Diketahui bahwa :
Nilai RCF = 0,00594 nC/mSv
Nilai ECC = 0,04573
𝐸𝐶𝐶
FK (Faktor Kalibrasi) = 𝑅𝐶𝐹 = 0,024 mSv/nC

Nilai bacaan background (RBG) = 6,3871 nC

Tabel 5.1. Data hasil bacaan TLD pada elemen ke-2 (ii)

No. Date Time Dosimeter ID Nilai bacaan kolom (ii)


1 1/12/21 09:06:07 2012358 13,414 nC
2 1/12/21 09:06:47 2013663 12,487 nC
3 1/12/21 09:07:26 2007923 12,378 nC
4 1/12/21 09:08:06 2007924 12,751 nC
5 1/12/21 09:10:15 2007925 12,591 nC
6 1/12/21 09:10:53 2007926 12,229 nC
7 1/12/21 09:11:32 2013670 13,713 nC
8 1/12/21 09:12:12 2007930 11,073 nC
9 1/12/21 09:12:51 2013664 17,807 nC
10 1/12/21 09:13:30 2008664 12,006 nC
11 1/12/21 09:14:10 2013667 14,435 nC
12 1/12/21 09:14:50 2007929 11,535 nC
13 1/12/21 09:15:29 2036105 12,059 nC
14 1/12/21 09:16:09 2036106 12,813 nC
15 1/12/21 09:18:19 2036104 12,587 nC
16 1/12/21 09:18:57 2036108 14,154 nC
17 1/12/21 09:19:36 2036107 12,63 nC
18 1/12/21 09:20:15 2000702 27,234 nC

Contoh perhitungan dosis dan ketidakpastiannya (pada data bacaan baris pertama) :
a. Perhitungan Dosis (D)
Nilai respon (R) = 13,414 nC
Nilai background (RBG) = 6,3871 nC
D = Rnetto x FK
= (R-RBG) x FK
= (13,414 – 6,3871)nC x 0,024mSv/nC
= 0,1686 mSv

b. Perhitungan ketidakpastian
 Resolusi respon elemen TLD (Ures)
0,0001/𝑅
Ures = ( ) x 100%
√3
0,0001
13,414
=( ) x 100%
√3
= 0,00043 %

 Irradiasi/foton (Uirr)
Diperoleh dari Lab kalibrasi bahwa pada saat melakukan kalibrasi di PTKMR
menggunakan sumber cesium 137, nilai irr = 4%
𝑖𝑟𝑟
Uirr =
2
4%
= = 2%
2

 Fading (Ufad)
Diketahui dari spesifikasi TLD, nilai fad = 5%
𝑓𝑎𝑑
Ufad =
√3
5%
= = 2,887 %
√3

 Nilai ketidakpastian koefisien koreksi elemen TLD (UECC)


Diketahui Nilai ECC = 0,04573
ECC
UECC = x 100%
√3
0,04573
= x 100%
√3

= 2,64 %

 Nilai ketidakpastian factor kalibrasi Reader (URCF)


Diketahui Nilai RCF = 0,00594
RCF
URCF = x 100%
√3
0,00594
= x 100%
√3

= 0,343 %

 Ketidakpastian Gabungan (uC)


uC = √𝑈𝑟𝑒𝑠 2 + 𝑈𝑖𝑟𝑟 2 + 𝑈𝑓𝑎𝑑 2 + 𝑈𝐸𝐶𝐶 2 + 𝑈𝑅𝐶𝐹 2

= √(0,00043%)2 + (2%)2 + (2,887%)2 + (2,64%)2 + (0,343%)2


= 4,407 %
c. Penulisan Akhir Perhitungan Dosis
ketidakpastian dinyatakan dalam ketidakpastian gabungan (uexp) dengan nilai:
uexp = 2 x uC
uexp = 2 x 4,407 %
= 8,814 %
Angka 2 adalah nilai cakupan K, untuk lab dosimetry PTKMR menerapkan nilai
cakupan K= 2 yaitu 2σ dengan tingkat kepercayaan 95%.

Sehingga penulisan akhir perhitungan dosis pada data bacaan baris pertama adalah :
D ± uexp = 0,1686 mSv ± 8,814 %

NB : Perhitungan dosis dan ketidakpastiannya untuk semua data bacaan yang ada,
dilakukan secara formulasi melalui microsoft excel

Tabel 5.2. Data Hasil Perhitungan Dosis dan Ketidakpastiannya


Resolusi Ketidak-
Nilai Irradiasi
respon Fading Pastian
No. bacaan Dosis (D) /foton (UECC) (URCF)
elemen TLD (Ufad) Gabungan
kolom (ii) (Uirr)
(Ures) (uC)
1 13,414 nC 0.168646 mSv 0.00043041 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
2 12,487 nC 0.146398 mSv 0.00046236 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
3 12,378 nC 0.143782 mSv 0.00046643 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
4 12,751 nC 0.152734 mSv 0.00045279 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
5 12,591 nC 0.148894 mSv 0.00045854 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
6 12,229 nC 0.140206 mSv 0.00047212 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
7 13,713 nC 0.175822 mSv 0.00042102 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
8 11,073 nC 0.112462 mSv 0.0005214 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
9 17,807 nC 0.274078 mSv 0.00032423 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
10 12,006 nC 0.134854 mSv 0.00048088 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
11 14,435 nC 0.19315 mSv 0.00039997 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
12 11,535 nC 0.12355 mSv 0.00050052 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
13 12,059 nC 0.136126 mSv 0.00047877 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
14 12,813 nC 0.154222 mSv 0.0004506 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
15 12,587 nC 0.148798 mSv 0.00045869 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
16 14,154 nC 0.186406 mSv 0.00040791 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
17 12,63 nC 0.14983 mSv 0.00045713 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %
18 27,234 nC 0.500326 mSv 0.000212 % 2% 2,887 % 2,64 % 0,343 % 4.407042 %

Tabel 5.3. Data Hasil Akhir Penulisan Dosis dan Ketidakpastiannya

Dosimeter Nilai bacaan


No.
ID kolom (ii)
Dosis (D) (uexp) D ± uexp

1 2012358 13,414 nC 0.168646 mSv 8.814084 % 0.168646 mSv ± 8.814084 %

2 2013663 12,487 nC 0.146398 mSv 8.814084 % 0.146398 mSv ± 8.814084 %

3 2007923 12,378 nC 0.143782 mSv 8.814084 % 0.143782 mSv ± 8.814084 %

4 2007924 12,751 nC 0.152734 mSv 8.814084 % 0.152734 mSv ± 8.814084 %

5 2007925 12,591 nC 0.148894 mSv 8.814084 % 0.148894 mSv ± 8.814084 %

6 2007926 12,229 nC 0.140206 mSv 8.814084 % 0.140206 mSv ± 8.814084 %

7 2013670 13,713 nC 0.175822 mSv 8.814084 % 0.175822 mSv ± 8.814084 %

8 2007930 11,073 nC 0.112462 mSv 8.814084 % 0.112462 mSv ± 8.814084 %

9 2013664 17,807 nC 0.274078 mSv 8.814084 % 0.274078 mSv ± 8.814084 %

10 2008664 12,006 nC 0.134854 mSv 8.814084 % 0.134854 mSv ± 8.814084 %

11 2013667 14,435 nC 0.19315 mSv 8.814084 % 0.19315 mSv ± 8.814084 %

12 2007929 11,535 nC 0.12355 mSv 8.814084 % 0.12355 mSv ± 8.814084 %

13 2036105 12,059 nC 0.136126 mSv 8.814084 % 0.136126 mSv ± 8.814084 %

14 2036106 12,813 nC 0.154222 mSv 8.814084 % 0.154222 mSv ± 8.814084 %


15 2036104 12,587 nC 0.148798 mSv 8.814084 % 0.148798 mSv ± 8.814084 %

16 2036108 14,154 nC 0.186406 mSv 8.814084 % 0.186406 mSv ± 8.814084 %

17 2036107 12,63 nC 0.14983 mSv 8.814084 % 0.14983 mSv ± 8.814084 %

18 2000702 27,234 nC 0.500326 mSv 8.814084 % 0.500326 mSv ± 8.814084 %

VI. PEMBAHASAN
Telah terlaksana praktikum Instrumentasi Medik dengan judul topik praktikum adalah
Analisis TLD Harshaw (Pemantauan Dosis Perorangan) yang dilaksanakan secara daring
(dalam jaringan) terbimbimbing oleh pengampu praktikum dari PTKMR-BATAN Jakarta.
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah agar mahasiswa (praktikan) dapat
memahami prinsip dasar cara kerja alat TLD Reader buatan Harshaw serta agar praktikan
dapat melakukan perhitungan dosis dan ketidakpastiannya pada TLD Harshaw.
Dalam pelaksanaannya, praktikan melakukan pemahaman secara mandiri terbimbing
terkait sistem kerja dari suatu TLD Harshaw, kemudian melakukan pemahaman terkait
prosedur Alur Layanan Evaluasi TLD pada PTKMR-BATAN yang telah dijelaskan oleh
pengampu praktikum (tertera pada bagian dasar teori Sub-Bab 3.3.1). Selanjutnya, tugas
utama dari praktikan dalam pelaksanaan praktikum ini adalah praktikan diminta untuk dapat
menghitung dosis radiasi beserta dengan ketidakpastiannya pada sebuah data bacaan TLD
yang diberikan oleh pengampu praktikum (terlampir). Lalu, praktikan menggunakan
hitungan ketidakpastian dari factor yang ada.
Adapun pada pemahaman pertama, TLD atau Dosimeter Termoluminisensi yang
digunakan pada praktikum ini adalah tipe TLD-700 buatan Harshaw yang mana berprinsip
kerja sebagai berikut :
Thermoluminescent dosimeter (TLD) : pengukuran dosis radiasi (primer / sekunder) dengan
memanfaatkan pencahayaan dari bahan / material yang dipanaskan (setelah menerima
radiasi). Ketika radiasi berinteraksi dengan TLD, energi radiasi terdeposit di dalam material
TLD. Sebagian atom menghasilkan elektron bebas dari pita valensi dan meninggalkan hole,
yang kekurangan elektron setelah menyerap cukup energi. Impuritas di dalam kristal dapat
menangkap elektron bebas dan menguncinya di dalam kristal. Struktur kristal akan
melepaskan tangkapan elektron setelah dipanaskan dengan suhu tertentu. Elektron yang
terlepas akan kembali ke pita valensi, melepaskan energi yang diterima dari ionisasi sebagai
foton. Hole dapat juga menghasilkan foton dengan proses yang serupa. Foton dapat dicacah
/dihitung menggunakan PMT (Photo Multiplier Tube). Jumlah total foton yang terdeteksi
sebanding dengan electron dan hole yang terperangkap dan sebanding dengan radiasi
pengion yang mengenai TLD. Mekanisme ini dapat dilihat seperti Gambar 3.2 di atas.
Kemudian cara pembacaan TLD dapat dipahami bahwa dengan cara menggunakan alat
TLD Reader model 6600 buatan Harshaw. Adapun untuk prinsip kerja dari TLD-Reader
adalah sebagai berikut :
Di dalam proses pembacaan terjadi proses termoluminisensi, cahaya yang diemisikan dan
kemudian melewati filter optic dan light filter, setelah itu ditangkap oleh PMT melalui pandu
cahaya dan akhirnya cahaya tersebut diukur. Berikut adalah skema dari TLD-Reader
Pemanasan pada dosimeter menyebabkan dosimeter memancarkan cahaya tampak yang
kemudian di tangkap fotokatoda, setelah melewati filter cahaya inframerah dan filter cahaya
luminesiense PMT terdiri dari Fotokatoda yang akan mengubah cahaya yang diserap
menjadi arus listrik. Kemudian didalam PMT arus listrik telah diperkuat sehingga
memudahkan saat pengukuran. Diperlukan material fosfor yang tepat untuk sensitifitas yang
pada fotokatoda. Keluaran dari PMT sebanding dengan jumlah foton yang dihasilkan. Hasil
keluaran dari PMT dikonversi menjadi pulsa yang akan dicacah, sehingga diperoleh data
hasil cacahan radiasi dari TLD dalam bentuk intensitas thermoluminisensi (intensitas TL).
Hasil cacahan radiasi dinyatakan dalam satuan arus listrik nanocoloumb (nC). Mekanisme
ini dapat dilihat pada Gambar 3.3 di atas.
Pembahasan mengenai perhitungan dosis dan ketidakpastiannya :
Dari praktikum ini, diberikan sebuah lembar data hasil bacaan TLD-Reader (terlampir)
yang mana data bacaan tersebut merupakan hasil PTKMR pada 12/01/202. Lebih lanjut dari
data yang diberikan tersebut, praktikan (mahasiswa) hanya berfokus pada perhitungan dosis
radiasi gamma yang menggunakan data pada alemen ke-2 (ii). Data elemen (ii) ini terdiri
dari 18 data bacaan yang setiap datanya tidak dilakukan perulangan seperti dapat dilihat pada
Tabel 5.1 di atas.
Pada tahap perhitungan dosis dan ketidakpastiannya dilakukan menggunakan
persamaan 4.1 hingga persamaan 4.12 dimana untuk ketidakpastian gabungan (uC)
merupakan hasil penjumlahan akar-akar kuadrat dari Resolusi respon elemen TLD (Ures),
Irradiasi/foton (Uirr), Fading (Ufad), Nilai ketidakpastian koefisien koreksi elemen TLD
(UECC) serta Nilai ketidakpastian factor kalibrasi Reader (URCF). Sedangkan untuk nilai
hitung statistic (UA) dan nilai cacah latar (UBG) tidak dilakukan perhitungan sebab dalam
data bacaan yang ada, tidak terdapat pengulangan. Sementara itu, dijelaskan pula oleh
pengampu praktikum bahwa
1. Untuk perhitungan Uirr, nilai irr diperoleh pada saat laboran melakukan kalibrasi di
PTKMR menggunakan sumber cesium-137, yaitu sekitar 4%.
2. Untuk perhitungan Ufad, diketahui dari laboran nilai fad adalah sebesar 5%.
3. Untuk Nilai background bacaan TLD-Reader adalah sebesar 6,3871 nC.
4. Untuk nilai koefisien koreksi elemen TLD (ECC), dan nilai factor kalibrasi Reader
(RCF) yang ada pada TLD Harshaw yang digunakan untuk praktikum secara berturut-
turut adalah sebesar 0,04573 dan 0,00594.
Adapun hasil perhitungan dosis di tiap bacaan (dalam satuan mSv) diperoleh berbeda-
beda seperti tertulis pada Tabel 5.2. Akan tetapi untuk nilai ketidakpastian gabungan (uC)
yang telah dihitung diperoleh nilai yang sama untuk tiap data bacaan yaitu sebesar 4.407042
%. Sehingga selanjutnya diperhitungkan nilai ketidakpastian gabungan (uexp) yang sesuai
dengan lab dosimetry PTKMR menerapkan nilai cakupan K= 2 yaitu 2σ dengan tingkat
kepercayaan 95% yang mana didapat nilai uexp adalah sebesar 8.814084 %. Dengan
demikian praktikan telah dapat melakukan perhtungan besar dosis serta ketidakpastiannya
dari sebuah data bacaan TLD-Reader yang dapat dilihat pada Tabel 5.3 di atas.

VII. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum Analisis TLD Harshaw (Pemantauan Dosis Perorangan) yang telah
dilakukan, maka dapat disampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Praktikan (dalam hal ini mahasiswa) telah mampu memahami prinsip kerja dari TLD-
Reader.
2. Praktikan telah mampu melakukan perhitungan nilai dosis dan ketidakpastiannya pada
sebuah data hasil bacaan daripada TLD Reader buatan Harshaw (data terlampir) sehingga
diperoleh hasil perhitungan seperti pada tabel berikut :

Dosimeter Nilai bacaan


No.
ID kolom (ii)
Dosis (D) (uexp) D ± uexp

1 2012358 13,414 nC 0.168646 mSv 8.814084 % 0.168646 mSv ± 8.814084 %

2 2013663 12,487 nC 0.146398 mSv 8.814084 % 0.146398 mSv ± 8.814084 %

3 2007923 12,378 nC 0.143782 mSv 8.814084 % 0.143782 mSv ± 8.814084 %

4 2007924 12,751 nC 0.152734 mSv 8.814084 % 0.152734 mSv ± 8.814084 %

5 2007925 12,591 nC 0.148894 mSv 8.814084 % 0.148894 mSv ± 8.814084 %

6 2007926 12,229 nC 0.140206 mSv 8.814084 % 0.140206 mSv ± 8.814084 %

7 2013670 13,713 nC 0.175822 mSv 8.814084 % 0.175822 mSv ± 8.814084 %

8 2007930 11,073 nC 0.112462 mSv 8.814084 % 0.112462 mSv ± 8.814084 %

9 2013664 17,807 nC 0.274078 mSv 8.814084 % 0.274078 mSv ± 8.814084 %

10 2008664 12,006 nC 0.134854 mSv 8.814084 % 0.134854 mSv ± 8.814084 %

11 2013667 14,435 nC 0.19315 mSv 8.814084 % 0.19315 mSv ± 8.814084 %

12 2007929 11,535 nC 0.12355 mSv 8.814084 % 0.12355 mSv ± 8.814084 %

13 2036105 12,059 nC 0.136126 mSv 8.814084 % 0.136126 mSv ± 8.814084 %

14 2036106 12,813 nC 0.154222 mSv 8.814084 % 0.154222 mSv ± 8.814084 %

15 2036104 12,587 nC 0.148798 mSv 8.814084 % 0.148798 mSv ± 8.814084 %

16 2036108 14,154 nC 0.186406 mSv 8.814084 % 0.186406 mSv ± 8.814084 %

17 2036107 12,63 nC 0.14983 mSv 8.814084 % 0.14983 mSv ± 8.814084 %

18 2000702 27,234 nC 0.500326 mSv 8.814084 % 0.500326 mSv ± 8.814084 %


DAFTAR PUSTAKA

HALIQ, R. (2015). TESIS : TL142501 KARAKTERISASI DOSIMETER DARI BATU AGATE SEBAGAI DOSIMETER
DOSIS TINGGI. Surabaya: PROGRAM STUDI MAGISTER, TEKNIK MATERIAL DAN METALURGI,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Nazaroh, Pardi, & Budiantari, C. T. (2018). STUDI RESPON TLD-700 [LiF:Mg, Ti] TERHADAP GAMMA
(137Cs) DAN BETA [147Pm, 85Kr dan 90Sr]. Prosiding Seminar Nasional APISORA 2018 (pp. 117-
185). Jakarta: Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi, Badan Tenaga Nuklir
Nasional.

Rohmah, N., Tuyono, Herlina, N., & Syaifudin, R. (2006). LAYANAN PEMANTAUAN DOSIS TARA
PERORANGAN EKSTERNAL DI LABORATORIUM KESELAMATAN KESEHATAN, DAN LINGKUNGAN
PTKMR – BATAN. In R. PTKMR, Buletin Alara (pp. 28–36). Jakarta: Pusat Teknologi Keselamatan
dan Metrologi Radiasi – BATAN.

Rofiq Syaifudin, S. (2021). LAYANAN EVALUASI DOSIMETER PERORANGAN TLD LiF DI PTKMR-BATAN.
Jakarta: Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR).
LAMPIRAN