Anda di halaman 1dari 24

MAKKIYYAH DAN MADANIYYAH

Dr. M. Djidin, M.Ag1

Abstrak

Kajian ini membuktikan bahwa pengelompokan surah-surah al-Qur’an ke


dalam Makkiyyah dan Madaniyyah dapat mengungkap periodisasi turunnya
al-Qur’an mulai dari periode Makkah sampai ke periode Madinah. Ada tiga
periode untuk surah Makkiyyah dan empat periode pada surah Madaniyyah.

Ketiga periode untuk Makkiyyah adalah permulaan wahyu sampai Nabi


hijrah ke Habasyah, hijrah Nabi ke Habasyah sampai masa Isra’, dan pada
masa Isra’ sampai hijrah ke Madinah. Untuk periode Madaniyyah terdiri atas
hijrah ke Madinah sampai perang Badar, perang Badar sampai perjanjian
Hudaibiyah, perjanjian Hudaibiyah sampai perang Tabuk, dan perang Tabuk
sampai wafatnya Nabi.

Periodisasi Makkiyyah dan Madaniyyah memberi kontribusi untuk


memahami berbagai peristiwa di sekitar turunnya al-Qur’an dan membantu
untuk memahami kandungan al-Qur’an.

Kata Kunci : al-Qur’an, Makkiyyah, Madaniyyah

I. Pendahuluan

Dalam konsep Ulum al-Qur’an (ilmu al-Qur’an), periodisasi turunnya


al-Qur’an dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu pertama, kelompok surah-
surah yang turun pada periode Makkah (makkiyyah) dan kelompok surah-
surah yang turun pada periode Madinah (madaniyyah).

Kajian terhadap makkiyyah dan madaniyyah adalah salah satu kajian


penting dalam ilmu al-Qur’an karena ilmu ini dapat mengungkap berbagai
pengetahuan urgen berkaitan dengan sisi eksternal al-Qur’an.

Tulisan ini membahas berbagai pengetahuan tersebut dengan


pembahasan yang meliputi tempat dan waktu turunnya al-Qur’an, nama-nama
surah makkiyyah dan madaniyyah, jumlah surah makkiyyah dan madaniyyah,
karakteristik dan kandungan surah makkiyyah dan madaniyyah serta urgensi
mengetahui makkiyyah dan madaniyyah dan yang relevan.

Sistimatika pembahasan terdiri atas Pendahuluan, Pembahasan dan


Penutup.

1
Dosen tetap pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate

1
II. Pembahasan

A. Pengertian

Untuk membedakan Makkiyyah dengan Madaniyyah, para ulama


mempunyai tiga macam pandangan yaitu: Pertama, dari segi waktu turunnya,
Makkiyyah adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di
Mekkah. Madaniyyah adalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan
di Madinah. Yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Makkah atau Arafah
adalah Madaniyyah, seperti yang diturunkan pada tahun penaklukan kota
Mekkah. Kedua, dari segi tempat turunnya. Makkiyyah adalah yang turun di
Mekkah dan Madaniyyah adalah yang turun di Madinah. Ketiga: dari segi
sasaran (khitab) nya. Makkiyyah adalah yang seruannya ditujukan kepada
penduduk Mekkah; dan Madaniyyah adalah yang seruannya ditujukan kepada
penduduk Madinah.

Dari pengelompokan surah Makkiyyah dan Madaniyyah sebagaimana


telah dikemukakan, ada kesulitan dalam pengelompokan berdasarkan lokasi
turunnya. Konsekuensi pengelompokan dalam bentuk ini berakibat ada
beberapa ayat al-Qur’an tidak termasuk surah Makkiyyah dan Madaniyyah.2
Pengelompokan ayat dan surah berdasarkan sasaran pembicaraan yakni
kepada masyarakat Makkah tergolong Makkiyyah dan kepada masyarakat
Madinah disebut Madaniyyah. Pendapat ini justeru tidak sesuai dengan al-
Qur’an. Ayat al-Qur’an yang mengandung seruan yaa ayyuhan naas (wahai
manusia) adalah Makkiyyah; sedang ayat yang mengandung seruan yaa
ayyuhal ladziina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman) adalah
madaniyyah. Namun ternyata banyak dari surat al-Qur’an tidak selalu dibuka
dengan salah satu seruan itu. Dalam kenyataannya, al-Qur’an bahkan sampai
hari ini menjadikan seluruh manusia menjadi sasarannya.

2
Ayat-ayat yang masuk dalam kategori ini seperti ayat 42 surah al-Taubah, ayat 45 surah al-
Zukhruf. Kedua ayat ini masing-masing turun di Tabuk dan Baitul Maqdis sehingga tidak
masuk ke dalam kelompok Makkiyyah maupun Madaniyyah.

2
Ada beberapa pendapat ulama yang mendukung argumentasi berkaitan
dengan tiga variable definisi makkiyyah dan madaniyyah sebagaimana telah
dijelaskan, yaitu :

Menurut al-Zarkasyi, al-Makky dan al-Madany yang bekonotasi


tempat, bahwa al-Makky adalah unit wahyu yang diturunkan di Mekah, dan
al-Madany adalah unit wahyu yang diturunkan di Madinah. Para sarjana
Muslim yang mendukung pendapat ini banyak menemukan kesulitan, antara
lain disebabkan: 1). Bahwa tidak semua unit wahyu turun di Mekah atau
Madinah, melainkan ada yang turun di wilayah sekitar kedua kota tersebut,
tetapi tidak termasuk dalam bagian kota. Dalam hal ini, mereka dengan
terpaksa harus memasukkan wilayah sekitar sebagai bagian dari kota. Al-
Suyûtî memasukkan wilayah sekitar Mekah dan Madinah dengan
menyebutkan bahwa termasuk Mekah wilayah sekitarnya, seperti Mina,
Arafah, Hudaybiah. Begitu juga termasuk Madinah wilayah sekitarnya, seperti
Badr, Uhud, dan Sala.3 2). Bagaimana menggolongkan unit wahyu yang turun
di selain kedua kota tersebut dan sekitarnya. Dalam hal ini, para sarjana
Muslim terbentur dengan kesulitan yang lain, sehingga memunculkan istilah
baru dengan sebutan mâ laysa bimakkî wa lâ madanî.4 Suatu tindakan yang
membuat konteks ini sulit diterima. Dari sini tampak kelemahan pengertian al-
Makky dan al-Madany yang hanya terpaku pada konteks tempat.

Kedua, definisi berkonotasi obyek wahyu, atau kepada siapa


khithâbnya ditujukan. Apabila khithâb wahyu ditujukan kepada penduduk
Mekah, maka ia tergolong surah makkiyyah, dan apabila ditujukan kepada
penduduk Madinah, maka ia termasuk surah madaniyyah. Karena penduduk
Mekah pada awal turunnya wahyu, masih belum beriman kepada Allah, maka
para ulama menangkap kesan bahwa biasanya surah atau ayat yang diturunkan
kepada mereka berupa khithâb yang bercirikan “yâ ayyuha al-nâs” atau yâ
banî âdam. Sedangkan penduduk Madinah dianggap sudah beriman, maka
3
Jalaluddin al-Suyûtî, al-Itqân fî `Ulûm al-Qur’ân, Baidar: Mansyûrat al-Ridhâ, 1343
H, Jld. I, hlm. 37-38. Selanjutnya disebut al-Itqân fî `Ulûm al-Qur’ân.
4
Jalaluddin al-Suyûtî, al-Itqân fî `Ulûm al-Qur’ân, hlm. 37.

3
menurut para ulama, ciri khithâb yang ditujukan kepada mereka biasanya
dengan ungkapan “yâ ayyuha al-lazhîna âmanû. Dari sini kemudian muncul
masalah ketika khithâb tidak ditujukan kepada mereka, melainkan khithâb
kepada Nabi. Dari sini kemudian banyak yang menolak membawa al-Makky
dan al-Madany dalam konteks khithâb. Ibnu Athiyah sebagaimana dikutip al-
Suyûtî, mengatakan, untuk ungkapan yang dimulai dengan “yâ ayyuha al-
lazhîna âmanû” itu bisa diterima, tetapi yang dimulai dengan ungkapan “yâ
ayyuha al-nâs tidak dapat diterima karena ungkapan ini juga terdapat dalam
surah madaniyah.5

Al-Baqillânî dalam Mafâtiĥ al-Ghayb juga menolak dengan


mengatakan bahwa, kalau hal ini berlandaskan nashsh, dapat diterima, tetapi
jika landasannya hanya karena di Madinah lebih banyak orang-orang mukmin
dibanding Mekah, itu sulit diterima. Karena khithâb kepada orang mukmin
boleh jadi dalam bentuk umum, dengan menyebut sifatnya. Ditambah lagi
bahwa perintah beribadah tidak hanya untuk orang-orang kafir, orang-orang
berimanpun diperintahkan untuk beribadah.6 Selain beberapa nama yang telah
disebutkan, Ibn al-Ĥashshâr juga melakukan penolakan yang cukup kuat
terhadap pengidentifikasian al-Makky dan al-Madany dalam konteks khithâb.
Menurutnya, para ulama telah sepakat bahwa surah al-nisâ’ termasuk surah
Madaniyah, tetapi ia dimulai dengan ungkapan yâ ayyuha al-nâs, begitu juga
surah al-Ĥaj disepakati sebagai surah Makkiyyah, sementara di dalam surah
ini terdapat ungkapan yâ ayyuha allazhîna âmanû.7

Surah lainnya seperti surah al-Baqarah. Surah ini termasuk surah awal
8
Madaniyah, tetapi di dalamnya terdapat ungkapan yâ ayyuha al-nâs u`budû

5
Jalaluddin al-Suyûtî, al-Itqân fî `Ulûm al-Qur’ân, hlm. 68.
6
Lihat Fakhr al-Dîn al-Râzî, Mafâtîĥ al-Ghayb, Kairo: Maktabat al-Tawfîqiyyah,
2003, Jld. II, hlm. 91 (selanjutnya disebut Mafâtîĥ al-Ghayb); al-Zarkâsyî, al-Burhân fî `Ûlûm
al-Qur’ân, Jld. I, hlm. 278.
7
Mafâtîĥ al-Gayb, hlm. 68.
8
Ayat ini selengkapnya berbunyi : ya ayyuha al-nasu’ budu: rabbakum alladzy
khalaqakum wa alladzina min qablikum la’allakum tattaqu:n. Artinya: Hai manusia,
sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu semoga
kamu bertakwa, QS. Al-Baqarah: 21.

4
dan yâ ayyuha al-nâs kulû mimmâ fî al-ardh9. Melihat kenyataan ini, Makkî
Ibnu Abi Thalib melakukan justifikasi, bahwa ciri khithâb itu bukan suatu hal
yang paten dan berlaku untuk semua kelompok Makkiyyah atau Madaniyyah,
melainkan mayoritas dari masing-masing surah kedua kelompok tersebut
bercirikan ungkapan itu.10 Tetapi justifikasi semacam ini tetap tidak dapat
menutupi kekurangan yang terkandung dalam konteks khithâb tersebut. Sebab
yang terpenting bagi sebuah kaidah bukan mencari-cari alasan untuk
menjustifikasi suatu kesalahan, melainkan adalah fleksibilitasnya dan
kecakupannya terhadap semua unsur yang harus diikutkan di dalamnya.
Ketiga, definisi berkonotasi periode waktu, bahwa al-Makky adalah unit
wahyu yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad Saw berhijrah ke Madinah,
dan al-Madany adalah unit wahyu yang diturunkan sesudah hijrah Nabi.11
Dibandingkan dengan dua defenisi sebelumnya, makkiyyah dan anmad dalam
konteks waktu ini merupakan pembebasan makkiyyah dan madaniyyah dari
konotasi tempat dan khithâb. Dengan mengambil konteks ini, maka
makkiyyah dan madaniyyah tidak lagi kaku, melainkan menjadi fleksibel dan
mencakup semua unit wahyu yang diturunkan. Oleh sebab itu, penentuan
makkiyyah dan madaniyyah dalam perspektif waktu lebih tepat digunakan
dibandingkan dengan dua perspektif lainnya.

B. Pokok-pokok Kandungan Surah Makkiyyah

Beberapa kekhususan kandungan ayat-ayat Makkiyyah itu adalah:

1. Menekankan seruan kepada Tauhid, beriman kepada risalah Nabi dan hari
kiamat dengan segala kenikmatan surga dan kepedihan neraka, serta

9
Ayat ini selengkapnya berbunyi : yaa ayyuha al-naasu kulu: mimmaa fy al-ardhi
halaalan thayyiban wa laa tattabiu’: khutuwaat al-syaithaan innahu lakum ‘aduwwun
mubiin, artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat
di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah yaitan, karena sesungguhnya syaitan
itu adalah musuh yang nyata bagimu, QS. Al-Baqarah : 168.
10
Mafâtîĥ al-Gayb, hlm. 69.
11
Badr al-Dîn al-Zarkâsyî, al-Burhân fî `Ulûm al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Ma`rifah,
1990, Jld. I, hlm. 273-274.

5
penolakan terhadap akidah sesat kaum kafir, dengan dalil-dalil ayat-ayat
kauniyyah yang sangat rasional.

2. Seruan untuk menegakkan prinsip-prinsip dasar ibadah, muamalat dan


akhlak mulia. Seperti perintah ditegakkannya shalat lima waktu,
diharamkannya memakan harta anak yatim, dilarangnya sikap sombong dan
sebagainya.

3. Banyak menceritakan kisah Nabi-Nabi terdahulu, perjalanan dakwah


mereka serta tantangan yang mereka hadapi. Dialog antara mereka dengan
kaumnya, siksaan yang dialami kaum mereka yang ingkar dan durhaka,
semuanya untuk dijadikan pelajaran agar mereka tidak mengulangi kesalahan
umat terdahulu dan mengikuti petunjuk yang benar dari seorang nabi utusan
Allah.

4. Menggunakan bahasa yang singkat dan tajam, sangat cocok untuk kaum
yang sombong dan tidak mau menerima kebenaran.

C. Pokok-pokok Kandungan Surah Madaniyyah

Adapun kekhususan kandungan ayat-ayat Madaniyyah adalah:

1. Berisi ajaran-ajaran tentang hukum-hukum Islam dalam urusan ibadah,


muamalah, hukum pidana, fara’id, jihad dan sebagainya.

2. Berisi informasi tentang masalah kaum munafik dengan menyingkap segala


kelicikan, penipuan dan langkah-langkah mereka yang membahayakan umat
Islam.

3. Berisi informasi tentang masalah ahli kitab, makar yang mereka lakukan,
kebatilan akidah mereka serta ajakan kepada mereka agar kembali kepada
akidah yang benar.

4. Menggunakan bahasa yang panjang dan detil karena tema pembicaraan


banyak menyangkut syari’at dan aqidah yang butuh keterangan tersendiri.

6
D. Nama-nama Surah al-Qur’an Berdasarkan Periode Makkah
(Makkiyyah) dan Periode Madinah (Madaniyyah)

Selama kurang lebih 13 tahun masa turunnya al-Qur'an di Makkah,

Surah-surah Makkiyah dapat dijelaskan dalam tiga periode dimulai dari


permulaan wahyu sampai hijrah Nabi ke Madinah. Ketiga periode dimaksud
adalah sebagai berikut12 :

1. Permulaan Wahyu

Periode ini dimulai dari permulaan wahyu sampai hijrah Nabi ke


Habasyah yang terdiri dari 22 surah, yaitu pertama, al-`Alaq, kedua, al-
Qalam, ketiga, al-Muzammil, keempat, al-Muddatstsir. kelima, al-Fâtihah.
keenam, Al-Masad, kietujuh, al-Takwîr kedelapan, al-A'lâ .kesembilan, al-
Layl, Kesepuluh, al-Fajr. Surah keseblas, al-Dhuĥâ. surah keduabelas, al-
Syarĥ, ketiga belas, al -'Ashr, keempatbelas, al-`Âdiyât, kelimabelas, al-
Takâtsur, ketujuh belas, al-Mâ'ûn, kedelapan belas, al-Kâfirûn, kesembilan
belas, al-Fîl, kedua puluh, dan dua puluh satu, al-Falaq dan al-Nâs, kedua
puluh dua, al-Ikhlâs. Hijrah Nabi ke Habasyah

Periode kedua dimulai dari hijrah Nabi ke Habasyah ke Isra' Mi'raj


Nabi terdiri dari 27 surah,13 yaitu Pertama, al-Najm, kedua, 'Abasa ,kitiga, al-
Qadr, keempat, al –Syams, kelima, al-Burûj, keenam, al-Tîn, ketujuh,
Quraisy,kedelapan, al-Qâri'ah, kesembilan, al-Qiyâmah,kesepuluh, al-
Humazah,kesebelas, al-Mursalât,kedua belas, Qâf,ketiga belas, al-
Balad,keempat belas, al-Thâriq,kelima belas, al-Qama, keenam belas, Shâd,
ketujuh belas, al-A'râf, kedelapan belas, al-Jin, kesembilan belas, Yâsîn,
kedua puluh, al-Furqân, kedua puluh satu, Fâthir, kedua puluh dua, Maryam,
kedua puluh tiga, Thaha, kedua puluh empat, al-Wâqi'ah, kedua puluh lima,
al-Syu'arâ, kedua puluh enam, al-Naml, kedua puluh tujuh, al-Qashash.
12
Abd al-Muta`âl al-Sha`îdî, al-Nazhm al-Fannî fi al-Qur’ân, hlm. 22-24;
Mushthafa Zaid, Ihshâ’ât al-Qur’ân, hlm. 28-30.
13
Abd al-Muta`âl al-Sha`îdî, al-Nazhm al-Fannî fi al-Qur’ân,hlm. 33.

7
Periode ketiga dimulai dari peristiwa Isra' Mi'raj Nabi sampai Nabi
hijrah ke Madinah terdiri dari 37 surah,14 yaitu pertama, al-Isra', kedua,
Yûnus, ketiga, Hûd, keempat, Yûsuf, kelima, al-Hijr, keenam, al-An'âm,
ketujuh, al-Shaffât, kedelapan, Luqmân, kesembilan, Saba', kesepuluh, al-
Zumar, kesebelas, Ghâfir, kedua belas, Fushshilat, ketiga belas, al-Syûra,
keempat belas, al-Zukhruf, kelima belas, al-Dukhân, keenam belas, al-
Jâstiyah ,ketujuh belas, al-Ahqâf, kedelapan belas, al-Dzâriyât, kedua puluh,
al-Kahfi, kedua puluh satu, al-Nahl. Kedua puluh dua, Nûh, kdua puluh tiga,
Ibrâhim, kedua puluh empat, al-Anbiyâ', kedua puluh lima, al-Mu'minûn,
kedua puluh enam, al-Sajadah, kedua puluh tujuh, al-Thûr, kedua puluh
delapan, al-Mulk, kedua puluh sembilan, al-Hâqqah, ketiga puluh, al-Ma'ârij,
ketiga puluh satu, al-Naba', ketiga puluh dua, al-Nâzi'ât, ketiga puluh tiga, al-
Infithâr, ketiga puluh empat, al-Insyiqâq, ketiga puluh lima, al-Rûm, ketiga
puluh enam, al-'Ankabût, ketiga puluh tujuh, al-Muthaffifûn.

Periodisasi surah makkiyah di atas yang diurut berdasarkan kronologi


turunnya dapat membantu untuk memahami peristiwa yang melingkupinya
sehingga dapat memberikan petunjuk untuk memahami kandungan al-
Qur'an15.

14
Abd al-Muta`âl al-Sha`îdî, al-Nazhm al-Fannî fi al-Qur’ân,hlm. 33-34.
15
Kandungan ringkas surah-surah al-Qur’an secara kronologis berdasarkan sejarah turunnya
al-Qur’an akan dikemukakan berikut ini. Nama surah tidak disebutkan dan diganti dengan
nomor yang dimulai dari nomor 1 sebagai surah pertama disusul no 2 sebagai surah yang
kedua turun dan seterusnya sampai surah terakhir, 114 yaitu surah al-Nashr. Kandungan
ringkas al-Qur’an tersebut adalah sebagai berikut : 1.Membaca kunci ilmu pengetahuan. 2.
Pena dan tulisan sebagai kunci ilmu pengetahuan. 3. Tugas nabi Saw yang pertama. 4.
Perintah ibadah dan dakwah. 5. Esensi al-Qur’an. 6. Akibat menentang kebenaran. 7.
Menyingkap tabir penyesalan. 8. Jiwa yang suci pangkal sukses. 9. Professionalisme kerja.
10. Kaya dan miskin sebagai cobaan Allah. 11. Kepedulian social. 12. Etos kerja dan
tawakkal. 13. Berpacu dengan waktu. 14. Manusia antara ketaatan dan kekufuran. 15. Kurban
sebagai manifestasi salat. 16. Kehidupan glamor. 17. Memahami esensi salat. 19. Pasukan
bergajah. 20. Permohonan perlindungan. 21. Penangkal kejahatan. 22. Monoteisme murni. 23.
Fungsi bintang sebagai kompas pedoman manusia. 24. Rahasia di balik teguran. 25. Misteri
angka seribu. 26. Dua karakter dasar manusia. 27. Kehancuran para penentang nabi Saw. 28.
Kriteria manusia unggul. 29. Aman dalam kemakmuran. 30. Takaran amal di hari kiamat. 31.
Tanda-tanda hari kiamat dan kejadiannya. 32. Terlena dalam kemewahan. 33. Demi malaikat
yang diutus membawa kebaikan dan rahmat. 34. Penciptaan alam semesta dan nikmat-nikmat
di dalamnya. 35. Perjuangan hidup. 36. Proses pencianptaan manusia. 37. Pemberitaan
tentang kiamat dan umat yang terdahulu yang sesat. 38. A l-Qur’an adalah peringatan dan
rahmat bagi alam semesta. 39. Dasar aqidah, ashhab al-A’ra, kisah para rasul dan sunnatullah
pada alam semesta. 40. Kejayaan untuk jin dan manusia yang taat. 41. Al-Qur’an penuh

8
hikmah, nabi Saw panutan utama dan bukti-bukti kekuasaan Allah Swt. 42. Obor penuntun
umat nabi Saw dan nabi Saw sebagai rasul penutup. 43. Berbagai nikmat untuk manusia yang
harus dipertanggungjawabkan. 44. Kisah nabi Zakariah, Yahya, Maryam dan .kelahiran nabi
Isa as. 45. Perjuangan nabi Musa dan nabi Harun menghadapi Firaun. 46. Kepastian
terjadinya kiamat dan manusia tebagi atas tiga kelompok. 47. Al-Qur’an kompilasi kitab-kitab
suci terdahulu, nabi Saw bukan penyair. 48. Diplomasi antar Negara, tamsil kerajaan nabi
Sulaiman dan putrid Balqis. N 49. Biografi nabi Musa, nabi Harun, harta kekayaan Qarun,
posisi pelaku kebaikan. 50. Peristiwa Isra’ Mi’raj, kisah Bani Israil, nabi Musa dan
keistimewaan nabi Saw. 51. Risalah para rasul, dasar-dasar tauhid, dan posisi al-Qur’an. 52.
Ketauhidan, kerasulan, dan mukjizat al-Qur’an. 53. Perjalanan rasul yang sukses,
mengendalikan pemerintahan yang bijaksana, adil, dan makmur. 54. Fenomena alam,
manifestasi keagungan Allah. 55. Penetapan hukum halal dan haram hanya dari Allah. 56.
Ketaatan malaikat dan Allah maha kuasa. 57. Pola pendidikan dan nasehat orang tua kepada
anaknya. 58. Kisah nabi Sulaiman, negeri Saba’ dan banjir akibat bobolnya bendungan. 59.
Penciptaan manusia dan makhluk lain dan bukti kekuasaan Allah. 60. Nikmat-nikmat yang
dilupakan manusia dan Allah maha pengampun. 61. Perincian tentang hukum, keimanan,
janji, dan ancaman. 62. Keimanan kepada wahyu dan dasar-dasar musyawarah. 63. Perhiasan
dan harta benda. 64. Penjelasan tentang Lailatul Qadr dan keagungan isi al-Qur’an. 65.
Bertekuk lutut di hadapan Allah menerima keputusan. 66. Kaum Hud yang dihancurkan di
bukit Ahqaf. 67. Kepastian adanya hari pembalasan. 68. Motivasi penelitian alam raya. 69.
Kisah Ashabul Kahfi, Khidr, nabi Musa, dan Dzulqarnain. 70. Nikmat-nikmat Allah,
kepastian datangnya kiamat, dan pesan-pesan nabi Saw. 71. Dakwah nabi Nuh kepada
kaumnya. 72. Hikmah turunnya al-Qur’an, misi, dan ajaran nabi Ibrahim. 73. Kisah 14 orang
nabi dan rasul, bantahan al-Qur’an kepada orang-orang musyrik. 74. Tanda-tanda mukmin
sejati ’an kepada orang-orang musyrik. 74. Tanda-tanda mukmin sejati dan proses penciptaan
manusia. 75. Bersyukur dan berdzikir kepada Allah. 76. Peringatan Allah kepada
makhluknya. 77. Kekuasaan Allah dalam berbagai aspek kehidupan. 78. Peristiwa kiamat dan
tanda-tandanya. 79. Ancaman kepada kaum kafir dan tabiat manusia. 80. Informasi hari
kiamat. 81. Pesan malaikat dan relevansinya dengan kiamat. 82. Janji-janji Allah. 83. Tipe-
tipe manusia pada hari kiamat. 84. Aspek-aspek kekuasaan Allah dan kewajiban berjuang dan
berjihad. 85. Padanan para penyembah berhala dengan sarang laba-laba. 86. Menegakkan
etika bisnis yang sehat. 87. Hukum-hukum ibadah dan muamalah. 88. Asas-asas masyarakat
Islam (Taat kepada Allah dan Rasul). 89. Kisah Isa as dan dasar-dasar hokum antar agama.
90. Status hokum anak angkat, pergaulan keluarga dan kemenangan kaum muslimin. 91.
Waspada terhadap spion musuh. 92. Hukum keluarga, waris, dan peran wanita. 93.
Kedahsyatan menjelang kiamat. 94. Pernyataan tentang kekuasaan Allah dan manfaat besi.
95. Posisi orang mukmin dan kafir di dunia dan akhirat. 96. Kekuasaan Allah dan kedudukan
rasul. 97. Berbagai karunia dan nikmat Allah yang luar biasa. 98. Beban tugas hidup manusia.
99. Hukum talak, rujuk, iddah, dan nafkah. 100. Tipologi manusia. 101. Pengusiran bani
Nadhir dan hokum rampasan perang. 102. Aturan pergaulan rumah tangga Islami. 103.
Manasik haji, Masjidil Haram, dan penyembelihan kurban. 104. Perilaku munafik dan anjuran
beramal saleh. 105. Adab sopan santun dalam pergaulan dan hokum dzihar. 106. Hukum
dasar pergaulan dan muamalah dalam Islam. 107. Tuntunan pembinaan keluarga dan rumah
tangga. 108. Kecurangan yang tersingkap. 109. Satu kata dalam perkataan dan perbuatan. 110.
Kewajiban salat jumat. 111. Kedamaian dan kemenangan kunci kesuksesan mukmin. 112.
Penyempurnaan dan kelengkapan syariat Islam. 113. Sejarah perjuangan nabi Saw,
memakmurkan mesjid, dan kemuliaan jihad. 114. Menanti bantuan dari langit. Selanjutnya
lihat M.Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Al-Kirmânî, Mahmûd bin Hamzah, Asrâr al-
Tikrâr Fî al-Qur'ân ditahqiq Abd al-Qâdir Ahmad 'Athâ, (Kairo: Dâr al-Fadhîlah, 1977).

9
E. Nama-nama Surah al-Qur’an Berdasarkan Periode Madinah
(Madaniyyah)

Surah-surah Madaniyyah dapat dijelaskan dalam empat periode


dimulai dari hijrah Nabi ke Madinah sampai beliau wafat.16 Keempat periode
tersebut adalah sebagai berikut:

1. Hijrah Nabi ke Madinah sampai Perang Badar

Periode ini dimulai dari hijrah Nabi ke Madinah sampai perang Badar.
Hanya satu surah yang turun pada periode ini yaitu surah al-Baqarah. Tema
surah ini adalah penolakan terhadap yahudi, tentang puasa, haji, thalaq, shalat,
warisan.17

2. Perang Badar sampai ke Perjanjian Hudaibiyah

Ada tiga surah yang turun pada periode ini yaitu, Pertama, al-Anfâl
bertema harta rampasan. Kedua, Âli Imrân bertema penolakan terhadap orang-
orang nasrani, ketetapan hati orang-orang mukmin Ketiga, al-Ahzâb bertema
perihal kemenangan kaum Muslimin.18

3. Perjanjian Hudaibiyah sampai ke Perang Tabuk

Periode ini dimulai dari perjanjian Hudaibiyah sampai ke perang


Tabuk terdiri dari 22 surah19 yaitu Pertama, al-Mumtahanah bertema larangan
menjadikan pemimpin orang-orang musyrik. Kedua, al-Nisâ' bertema hukum-
hukm yang bersifat umum. Ketiga, al-Zalzalah bertema anjuran dalam berbuat
baik dan peringatan akan perbuatan yang tidak baik. Keempat, al-Hadîd

16
Abd al-Muta`âl al-Sha`îdî, al-Nazhm al-Fannî fi al-Qur’ân, hlmn . 34-36;
Mushthafa Zaid, Ihshâ’ât al-Qur’ân, hlm. 27-31.
17
Mushthafa Zaid, Ihshâ’ât al-Qur’ân, hlm. 39.
18
Menurut Mushthafa Zaid, tema utama surah ini berkaitan dengan Zaid bin
Haritsah, lihat Mushthafa Zaid, Ihshâ’ât al-Qur’ân, hlm. 40.
19
Abd al-Muta`âl al-Sha`îdî, al-Nazhm al-Fannî fi al-Qur’ân, hlm. 35; Mushthafa
Zaid, Ihshâ’ât al-Qur’ân, hlm. 30.

10
bertema dakwah tentang iman dan dan berinfak pada jalan Allah. Kelima,
Muhammad bertema anjuran berjuang (berperang) Keenam, al-Ra'du
penolakan adanya syubhat dalam al-Qur'an Ketujuh, al-Rahmân bertema
berbilangnya nikmat Allah bagi hamba-Nya. Kedelapan, al-Insân bertema
pengaruh syariat bagi manusia Kesembilan, al-Thalaq bertema hukum talaq
dan iddah Kesepuluh, al-Bayyinah bertema penjelasan tetang kemuliaan al-
Qur'an. Kesebelas, al-Hasyr bertema pembicaraan tentang perang Bani Nadhr.
Kedua belas, al-Nûr bertema hukum-hukum yang bersifat umum tentang zina
dan wudhu. Ketiga belas, al-Hajj bertema penjelasan tentang hari kiamat dan
izin berperang. Keempat belas, al-Munâfiqûn bertema tentang orang-orang
munafiq dan kaum muhajirin. Kelima belas, al-Mujâdalah bertema hukum
dzihar. Keenam belas, al-Hujurât bertema adab orang-orang mukmin terhadap
Allah. Ketujuh belas, al-Tahrîm bertema kisah tentang larangan. Kedelapan
belas, al-Taghâbun bertema peringatan tentang adzab dunia dan akhirat.
Kesembilan belas, al-Shâf bertema dorongan untuk berjihad. Kedua puluh, al-
Jumuah bertema dorongan beramal dengan ilmu. Kedua puluh satu, al-Fath
bertema perjanjian hudaibiyah. Kedua puluh dua, al-Mâ'idah bertema
hukum-hukum yang bersifat umum dan keritikan orang-orang munafik dan
orang-orang yahudi.

4. Perang Tabuk sampai Nabi Wafat

Ada dua surah yang turun pada periode perang Tabuk sampai Nabi
wafat yang terdiri dari Pertama, al-Tawbah bertema pembicaraan tentang
orang-orang musyrik, orang-orang munafik dan Ahl al-Kitab. Kedua, al-
Nashr bertema janji pertolongan Allah dan penyiaran agama.

F. Urgensi Kajian tentang Makkiyyah dan Madaniyyah

Urgensi kajian tentang Makkiyyah dan Madaniyyah dapat diketahui


dari berbagai manfaat yang diperoleh dari kajian ini. Beberapa manfaat dari
kajian dan pemahaman terhadap Makkiyyah-Madaniyyah itu di antaranya
adalah sebagai berikut:

11
1. Semakin memperkuat keyakinan bahwa al-Qur’an itu kalam Allah yang
mengandung mukjizat. Proses demi proses turunnya al-Qur’an dalam berbagai
peristiwa, situasi dan kondisi, siang dan malam, dalam kondisi perang dan
damai, dan setiap kali wahyu turun Rasulullah memerintahkan untuk
menempatkan wahyu tersebut di tempatnya sehingga tersusun rapi sedemikian
rupa, saling berkaitan, tanpa adanya kontradiksi antar satu bagian dengan
lainnya. Seandainya al-Qur’an itu karangan manusia pasti banyak perbedaan
dan kontradiksi di dalamnya. Di sini terlihat bahwa al-Qur’an itu berasal dari
Allah yang tidak terpengaruh oleh situasi dan proses waktu. Sampai
penyusunannya pun dari Allah, sehingga ia tidak mengikuti penyusunan
kronologis.

2. Mempermudah memahami kandungan al-Qur’an, karena dengan


mengetahui di mana, kapan, dan dalam peristiwa apa wahyu itu diturunkan,
akan nampak maksudnya, kandungan hukum dan maknanya, sehingga bisa
membantu memahami/menafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun
yang menjadi pegangan adalah pengertian umumnya lafazh, bukan sebab yang
khusus.

3. Bisa membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh bila di
antara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Ayat yang turun lebih
dulu bisa di-naskh ayat yang turun kemudian.

4. Bisa mengetahui proses penurunan syari’at secara berangsur-angsur


sehingga mudah diamalkan.

5. Bisa memahami sejarah perjalanan dan manhaj dakwah Nabi.

6. Meresapi gaya bahasa al-Qur’an20 dan memanfaatkannya dalam metode


berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa

20
Untuk mengetahui adanya gaya bahasa al-Qur’an dapat dilihat dari elemen teks-teks
bersajak (rhyme) dalam al-Qur'an. Untuk mengetahui hal ini dapat menggunakan sebuah teori
yang dalam 'Ulûm al-Qur'ân dikenal dengan konsep al-fawâshil yaitu konsep yang
mebicarakan tentang akhir ayat. Ibrâhim Muhammad al-Jarimî membagi fawashil al-Qur'an

12
tersendiri. Ini bsa dilihat dari perbedaan gaya bahasa antara ayat-ayat
Makkiyyah dan ayat Madaniyyah.

III. Penutup

Dari uraian terdahulu dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :


1.Surah Makkiyyah menekankan seruan kepada Tauhid, beriman kepada
risalah Nabi dan hari kiamat dengan segala kenikmatan surga dan kepedihan
neraka, serta penolakan terhadap akidah sesat kaum kafir, dengan dalil-dalil
ayat-ayat kauniyyah yang sangat rasional.

2. Seruan untuk menegakkan prinsip-prinsip dasar ibadah, muamalat dan


akhlak mulia. Seperti perintah ditegakkannya shalat lima waktu,
diharamkannya memakan harta anak yatim, dilarangnya sikap sombong dan
sebagainya.

3. Surah Madaniyyah berisi ajaran-ajaran tentang hukum-hukum Islam dalam


urusan ibadah, muamalah, hukum pidana, fara’id, jihad dan sebagainya.

kepada empat macam, yaitu: Pertama, Fawâshil Mutawaziyah yaitu persesuaian antara akhir
ayat dan huruf al-rawî dan wazan, misalnya :Wa al-najmi idzâ hawâ; Mâ dhalla shâhibukum
wa mâ ghawâ; Wa mâ yanthiqu 'an al-hawâ, Surat al-Naba', Wa ja'alnâ sirâjan wahhâjâ;
Wa anzalnâ min al-mu'shirâti mâan tsajjâjâ Yawma tarjfu al-râjifah, Tatb'uha al-râdifah,
Qulûbun yawmaidzin wâjifah Tsumma amâtahû faaqbarah, tsumma idzâ syâa ansyarah
Kedua, Fawashil Mutawâzinah yaitu persesuaian akhir ayat hanya dalam wazan, tetapi tidak
dengan huruf al-rawî, misalnya, Wa ataynâhumâ al-kitâba al-mustabîna, Wa hadaynâhumâ
al-shshirâtha al-mustaqîm Annâ shababnâ almâ'a shabbâ, Tsumma syaqaqnâ al-'ardha
syaqqâ Wa idzâ al-bihâru sujjirat, Wa idzâ al-nufûsu zuwwijat Wa mâ adrâka mâ al-thâriq,
Al-Najmu al-tstsâqib, In kullu nafsin lammâ 'alyhâ hâfidz Wanamâriqu mashfûfah,
Wazarâbiyyu mabtsûtsah Ketiga, Fawâshil Muthrifah yaitu persesuaian akhir ayat hanya
dalam huruf al-rawî, tetapi tidak dengan wazan, misalnya, Iqtarabati al-sâ'atu wansyaqqa al-
qamar, Wa in yaraw 'âyatan yu'ridhû wa yaqûlû sihrun mustamir Illâ hamimam wa ghassâqâ,
Jazâ'an wifâqâ, Innahum kânû Lâ yarjûna hisâbâ, Wa kadzdzabû bi'âyâtinâ kidzdzâbâ.
Kempat, Fawâshil Mursilah, yaitu tidak ada kesesuaian akhir ayat baik dalam wazan maupun
dengan huruf al-rawî, misalnya, Wa ammâ al-sâ'ila falâ tanhar, Wa ammâ bini'mati rabbika
fahaddits Lâ ilâha illâ Huwa ilayhi al-mashîr, Mâ yujâdilu fî 'âyâti Allâh 'illâ al-ladzîna
kafarû falâ yaghrurka taqallubuhum fî al-bilâd Ayat-ayat yang dicontohkan tersebut
menunjukkan keserasian bait dan rima. Ayat-ayat tersebut, misalnya, yang masuk dalam
kategori fawâshil mutawâzinah dan muthrifah banyak ditemukan pada surat-surat makkiyah.
Ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan al-Qur'an dengan gaya puitisnya relevan
dengan kondisi sosial komunitas Makkah yaitu masyarakat yang sudah akrab dengan bahasa
puitis.

13
4. Periodisasi surah Makkiyyah ada tiga periode dan periodisasi surah
Madaniyyah ada empat periode.

2. Berisi informasi tentang masalah kaum munafik dengan menyingkap segala


kelicikan, penipuan dan langkah-langkah mereka yang membahayakan umat
Islam.

3. Berisi informasi tentang masalah ahli kitab, makar yang mereka lakukan,
kebatilan akidah mereka serta ajakan kepada mereka agar kembali kepada
akidah yang benar.

Daftar Pustaka

Abu Rabiyah, Abd al-Khâliq, al-Qur’ân al-Karîm, (Kairo: Dâr al-Sya`bi,


1982).

`Athâ, Abd al-Qâdir, `Azhamat al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Kutub al-


`Islâmiyyah, Cet. I, 1984.

Al-Baqi, Muhammad Fuad, Mu’jam al-Mufahras Li Alfazh al-Qur’an al


Karim, (Indonesia: Maktabat Dahlan, t.th)

Darwazah, Izzah, al-Tafsîr al-Ĥadîts, Tartîb al-Suwar Ĥasba al-Nuzûl,


(Beirut: Dâr al-Gharb al-Islâmî, Cet. II, 2000).
……………, al-Qur'ân al-Majîd, (Beirut: al-Maktabah al-'Ashriyyah).

Fadhilah, Akhmad Mushthafa, Hashad Qalam, (Kwait: Dar al-Qalam, 2004)

Hasanuddin AF, Anatomi al-Qur'an, Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya


Terhadap Istinbath Hukum dalam al-Qur'an, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1995, Cet. I

Ibrâhîm 'Abd al-Rahmân Khalîfah, Bahtsâni Haula Suwar al-Qur'ân, Ism al-
Sûrah Yumatstsilu Rûhaha al-'Âm Tartîb Nuzûli al-Suwa al-
Qur'âniyyah, (Kairo: Dâr al-Bashâir, 2004), Cet. I

Ismâ'îl, Sya'ban Muhammad, Rasm al-Mushhaf Wa Dhabtuhu Baina al-


Taufîqi Wa al-Ishthilâhât al-Haditsah, (Kairo: Dâr al-Salâm,
2001), Cet. II.

Ismâ'îl, Muhammad Bikr, Dirâsât Fî 'Ulûm al-Qur'ân, (Kairo: Dâr al-Manâr,

14
1411 H)

Al-Jarimî, Ibrâhîm Muhammad, Mu'jam 'Ulûm al-Qur'ân, (Damsyiq: Dâral-


Qalam, 2001) Cet. I.

Al-Kirmânî, Mahmûd bin Hamzah, Asrâr al-Tikrâr Fî al-Qur'ân ditahqiq Abd


al-Qâdir Ahmad 'Athâ, (Kairo: Dâr al-Fadhîlah, 1977).

Muhîsân, Muhammad Sâlim, Târîkh al-Qurân al-Karîm, (Iskandariah:


Muassasah Syabâb al-Jâmi'ah, 1393 H).

Mushthafa Ahmad 'Abd al-Rahîm Zâyid, Ihshâ'ât al-Qur'ân, (Kairo: Muthâbi'


Dâr al-Handasiyyah, 2006), Cet. I.

Al-Qaththân, Manna’,Mabâhits Fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Riyadh; Mansyurat al-


‘Ashr al-Hadîts, t.th.

Rahman, Fazlur, Tema Pokok al-Qur'an, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1983).

Al-Rûmî, Fahad, Dirâsat fî `Ulûm al-Qur’ân, (Riyadh: Maktabat al-Tawbah,


1994)

Al-Shabuny, Shafwat al-Tafasir, (Mekah: Dar al-Shabuny, 1976)

Al-Sha'îdî, 'Abd al-Muta'âl, al-Nadzm al-Fannî Fî al-Qur'ân, (Kairo:


Maktabah al-Âdâb, 1992).

Shalih, Subhi, Mabâhits Fî ‘Ulûm al-Qurân, (Beirut : Dâr al-‘Ilm li al-


Malayin, 2005), Cet. VI.
……………., Dirâsat Adabiyyah Lisuwar Min al-Qur'ân al-Karîm, Fî Dhaw'
Khshâ'ish al-Makky Wa al-Madany, (Mesir: Maktabah al-Nûr,
t.th.).
Sherif, Faruq, A Guide to the Contents of the Qur’an, (England: Garnet
Publishing Ltd, 1995).
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbâh, Pesan Kesan dan Keserasian al-
Qur'an, Jakarta: Lentera Hati, 2005), Cet. V.
Syâhîn, 'Abd al-Shabûr, Târikh al-Qur'ân, (Kairo: Nahdhah Misr, 2005).

Al-Suyûthy, Jalâluddin, al-Itqân Fî ‘Ulûm al-Qurân, Damaskus: Dâr al-Fikr,


1979.
…………. , Asbâb al-Nuzûl, (Kairo, Dâr al-Fajri li al-Turâts, 2002), Cet.I
…………. , al-Takhbîh Fî 'Ilm al-Tafsîr, (Kairo: Dâr al-Manâr, 1986).

15
……………, Asrâr Tartîb al-Qur’ân, ditahqiq Abd al-Qadir Ahmad`Athâ,
(Kairo:
Dâr al-Ĥadîts, 2006).

Al-Zanjani, Abu Abd Allah, Târîkh al-Qur’ân, (Beirut, Muassasah al-A’lamy


li al-Mathbû’ât, 1969).
Al-Zarkasyi, Badruddin Muhammad bin Abdullah, al-Burhân Fî ‘Ulûm al-
Qur’ân, Kairo: Isa al-Bâby al-Halaby, 1957.
Al-Zarqâni, Muhammad Abd. ‘Adzîm, Manâhil al-‘Irfân Fî ‘Ulûm al-Qur’ân,
(Kairo: Dâr al-Salâm, 2003), Cet.

16
MAKKIYYAH AND madaniyya

Dr. M. Djidin, M.Ag

Abstract

This study proves that the grouping suras of the Koran into Makkiyyah and
Madaniyyah periodization can reveal the decline of the Koran from period to period
Makkah to Madinah. There are three periods to sura Makkiyyah and four periods in
surah Madaniyyah.

The third period to Makkiyyah is the beginning of a revelation to the Prophet


migrated to Habasyah, the Prophet migrated to Habasyah until the Isra ', and during
the Isra' to migrate to Madinah. For the period consisting of Madaniyyah migrate to
Madinah until the battle of Badr, Badr until Hudaybiyah agreement, the agreement
Hudaybiyah until the battle of Tabuk, and the battle of Tabuk until the Prophet's
death.

Periodization Makkiyyah and Madaniyyah contribute to understanding the events


surrounding the decline of the Qur'an and helps to understand the content of the
Qur'an.

Keywords: Qur'an, Makkiyyah, Madaniyyah

I. Introduction

In the concept Ulum al-Qur'an (the science of the Koran), the periodization of the
decline of the Koran is divided into two groups: the first group of verses which fell in
the period Makkah (makkiyyah) and groups of surahs which fell on the Medina
period (madaniyya).

The study on makkiyyah and madaniyya is one of the important study in the science
of the Koran because of this science can reveal various urgent knowledge related to
the external side of the Koran.

This paper discusses a wide range of knowledge to the discussion which includes the
place and the day of the Qur'an, the names and madaniyya makkiyyah sura, sura
number makkiyyah and madaniyya, characteristics and content of surah makkiyyah
and madaniyya well as the urgency to know makkiyyah and madaniyya and relevant

Systematize the discussion consists of Introduction, Discussion and Conclusion.

II. Discussion

17
A. Definition

To distinguish Makkiyyah with Madaniyyah, the scholars have three kinds of views,
namely: First, in terms of time and fall, Makkiyyah is derived before moving though
not in Mecca. Madaniyyah was revealed after the Hijra though not in the medina.
Revealed after the Hijra even in Makkah or Arafat is Madaniyyah, as revealed in the
conquest of Mecca. Secondly, in terms of place and fall. Makkiyyah is down in
Mecca and Madaniyyah is being down in the medina. Third: in terms of the target
(khitab) it. Makkiyyah was the call addressed to the residents of Mecca; and
Madaniyyah was the call addressed to the people of Medina.,

Grouping of surah Makkiyyah and Madaniyyah as has been stated, there is difficulty
in grouping based on the location of the decline. The consequences of this grouping
in the form of result there are several verses of the Koran are not included surah
Makkiyyah and Madaniyyah. Grouping verses and sura by objectives talks to the
community that is relatively Makkiyyah Makkah and Madinah called Madaniyyah to
society. This opinion does not precisely correspond to the al-Qur'an. Qur'anic verses
that contain the fateful call yaa ayyuhan (O man) is Makkiyyah; was paragraph
containing the call yaa Ayyuhal ladziina aamanuu (O those who believe) is
madaniyya. But it turns out many of the letters of the Koran are not always opened
with one of the appeal. In fact, the Qur'an even today make the whole human in
scope.

There are some opinions of scholars who support the argument relating to the three
variable definitions and madaniyya makkiyyah as already described, namely:

According to al-Zarkasyi, al-Makky and al-Madany that bekonotasi place, that al-
Makky is a unit revelation in Mecca, and al-Madany is a unit revelation in Medina.
Muslim scholars who support this many find it difficult, partly because: 1). That not
all units revelation down in Mecca or Medina, but there are down in the area
around the two cities, but not included in that part of town. In this case, they were
forced to enter the territory around as part of the city. Al-Suyuti enter the area
around Mecca and Medina to mention that the surrounding area, including Mecca,
Mina, Arafat, Hudaybiah. Likewise included medina surrounding area, such as Badr,
Uhud, and Sala. 2). How to classify units revelation down in addition to both the city
and surrounding areas. In this case, the Muslim scholars collided with another
difficulty, giving rise to a new term as laysa bimakkî wa ma lâ civil. An action that
makes this context it is difficult to accept. It is evident from the weakness of the
notion of al-Makky and al-Madany are just fixated on the context of the place.

18
Second, the definition connotes the object of revelation, or to whom khithâbnya
addressed. If khithâb revelation addressed to residents of Mecca, then he classified
makkiyyah sura, and if it is addressed to the people of Medina, so he included surah
madaniyya. Because the inhabitants of Mecca at the beginning of the revelation,
they do not believe in God, then the scholars got the impression that usually sura or
verse that was revealed to them in the form of khithâb characterized by "yes ayyuha
al-Nas" or yes all children of Adam. While the people of Medina is considered to
have faith, then according to the scholars, khithâb traits directed toward them
usually with the phrase "Yes ayyuha al-lazhîna amanu. From here then the problem
arises when khithâb not aimed at them, but khithâb to the Prophet. From then
many have refused to bring al-Makky and al-Madany in the context khithâb. Ibn
Athiyah as quoted by al-Suyuti, say, for a phrase that starts with "yes ayyuha al-
lazhîna amanu" was acceptable, but that starts with the phrase "Yes ayyuha al-Nas
can not be accepted because this phrase is also found in sura madaniyah.

Al-Baqillani in Mafatih al-ghayb also refused to say that, if it is based on nass, is


acceptable, but if the runway is only because in Madinah more believers than
Mecca, it was difficult to accept. Because khithâb to the believers may be in the
form of a general, citing its nature. Plus that worship orders not only for
unbelievers, those berimanpun instructed to worship. In addition to some of the
names that have been mentioned, Ibn al-Ĥashshâr also did fairly strong rejection of
the identification of al-Makky and al-Madany in the context khithâb. According to
him, the scholars have agreed that Sura al-Nisa 'including surah Madaniyah, but it
starts with the words yes ayyuha al-Nas, as well as Surah al-Haj was agreed as sura
Makkiyyah, while in this chapter are the expression Yes ayyuha allazhîna amanu. Al-
Baqillani in Mafatih al-ghayb also refused to say that, if it is based on nass, is
acceptable, but if the runway is only because in Madinah more believers than
Mecca, it was difficult to accept. Because khithâb to the believers may be in the
form of a general, citing its nature. Plus that worship orders not only for
unbelievers, those berimanpun instructed to worship. In addition to some of the
names that have been mentioned, Ibn al-Ĥashshâr also did fairly strong rejection of
the identification of al-Makky and al-Madany in the context khithâb. According to
him, the scholars have agreed that Sura al-Nisa 'including surah Madaniyah, but it
starts with the words yes ayyuha al-Nas, as well as Surah al-Haj was agreed as sura
Makkiyyah, while in this chapter are the expression Yes ayyuha allazhîna amanu.

19
Such as surah surah al-Baqarah. This includes early surah surah Madaniyah, but in it
there is the phrase al-Nas ayyuha yes and yes u`budû ayyuha al-Nas Kulu Mimma fi
al-ard. Given this reality, Makki Ibn Abi Talib justification, that characterize khithâb it
is not a matter of the patent and applies to all groups Makkiyyah or Madaniyyah,
but the majority of each of the second chapter of the group is characterized by the
phrase. But this kind of justification still can not cover the deficiencies contained in
the khithâb context. Because the most important thing for a rule is not looking for
excuses to justify an error, but is its flexibility and kecakupannya against all
elements that should be included in it. Third, the definition connotes a period of
time, that al-Makky is a unit revelation before Prophet Muhammad emigrated to
Medina, and al-Madany is a unit revelation after the Hijra of the Prophet. Compared
with the two previous definitions, makkiyyah and anmad this time in the context of
an exemption makkiyyah and madaniyya of connotations and khithâb place. By
taking this context, the makkiyyah and madaniyya no longer rigid, but being flexible
and covers all units revelation. Therefore, the determination makkiyyah and
madaniyya in a time perspective is more appropriate than the other two
perspectives.

B. Principles Content of Surah Makkiyyah

Some peculiarities of the content of the verses Makkiyyah it is:

1. Stresses the call to Tawheed, faith in the Prophet's message and doomsday with
all the pleasures of heaven and hell pain, as well as the rejection of the misguided
faith infidels, with the arguments of passages kauniyyah very rational.

2. Appeal to uphold the basic principles of worship, Muamalat and noble character.
As orders enforcement of the five daily prayers, Prohibition eat up the property of
orphans, the banning of a cocky attitude and so on.

3. Many tell stories of the Prophets History, their mission trip and the challenges
they face. Dialogue between them with his people, the torture experienced by those
apostates and ungodly, all of them to be used as a lesson so that they do not repeat
the mistakes of the previous race and follow the correct instructions of a prophet
messenger of God.

4. Using the language of a short and sharp, very suitable for the arrogant and
unwilling to accept the truth.

C. Principles Content of Surah Madaniyyah

20
The specificity of the content of the verses Madaniyyah are:

1. It contains the teachings of Islamic law in matters of worship, muamalah, criminal


law, fara'id, jihad and so on.

2. Contains information on issues of the hypocrites to reveal all the cunning, fraud
and the steps they are harmful to Muslims.

3. Contains information on issues scribes, treason which they did, evil their faith as
well as an invitation for them to return to the true faith.

4. Using the language of a long and detailed because of the theme many talks
regarding the Shari'ah and aqidah need a separate statement.

D. The names of Surah al-Qur'an Based Makkah Period

(Makkiyyah) and Medina Period (Madaniyyah)

For more than 13 years of decline in the Qur'an in Makkah,

Meccan surah verses can be explained in three periods starting from the beginning
of the revelation to the Prophet migrated to Medina. The third period are as
follows:

1. The beginning of Revelation

This period starts from the beginning of the revelation to the Prophet migrated to
Habasyah consisting of sura 22, the first, al-`Alaq, second, al-Qalam, third, al-
Muzammil, fourth, al-Muddatstsir. Fifth, al-Fatihah. sixth, Al-Masad, kietujuh, al-
takwir eighth, al-A'la .kesembilan, al-Layl, Tenth, al-Fajr. Keseblas Surah, al-Duha.
twelfth surah, al-Syarh, thirteenth, al -'Ashr, fourteenth, al-`Âdiyât, fifteenth, al-
Takâtsur, seventeenth, al-Ma'un, eighteenth, non-believers, nineteenth, al-Fil ,
twentieth, and twenty-one, al-Falaq and al-Nas, the twenty-second, al-Ikhlas. Hijrah
of the Prophet to Habasyah

The second period starts from the Prophet migrated to Habasyah to Isra 'Mi'raj
consists of 27 surah, namely First, al-Najm, second,' Abasa, kitiga, al-Qadr, the
fourth, al -Syams, fifth, al-Buruj, sixth, al-Tin, seventh, Quraysh, eighth, al-Qaria,
ninth, al-Qiyamah, tenth, al-Humazah, eleventh, al-Mursalat, twelfth, QAF,
thirteenth, al-Balad, the fourteenth , al-Tariq, fifteenth, al-Qama, sixteenth, shad,
seventeenth, al-Araf, eighteenth, al-Jin, nineteenth, Yasin, twentieth, al-Furqan,

21
twenty one, sef , twenty two, Maryam, twenty three, Taha, the twenty-four, al-
Waqi'ah, twenty five, al-Syu'ara, twenty six, al-Naml, twenty-seventh, al-Qasas.

The third period started from Isra 'Mi'raj to the Prophet emigrated to Medina
consists of 37 sura, the first, al-Isra', second, Jonah, third, Hud, fourth, Joseph, fifth,
al-Hijr, sixth, al -An'âm, seventh, al-Saffat, eighth, Luqman, ninth, Saba ', the tenth,
al-Zumar, eleventh, Ghafir, twelfth, Fushshilat, thirteenth, al-shura, fourteenth, al-
Zukhruf, fifth twelve, al-Dukhan, sixteenth, al-Jâstiyah, seventeenth, al-Ahqaf,
eighteenth, al-Dzâriyât, twenty, al-Kahf, twenty one, al-Nahl. Twenty-second, Noah,
kdua-three, Ibrahim, the twenty-four, al-Anbiya ', twenty five, al-Mu'minun, twenty
six, al-rug, the twenty-seventh, al-Thur, twenty eight , al-Mulk, the twenty-ninth, al-
Hâqqah, thirtieth, al-Ma'arij, thirty one, al-Naba ', thirty two, al-Nâzi'ât, thirty-third,
al-Infithâr, third twenty-four, al-Insyiqâq, thirty five, al-Rum, thirty six, al-'Ankabut,
thirty seven, al-Muthaffifûn. Periodization Meccan surah surah above are sorted by
chronology and fall can help to understand the events that surrounded that may
provide clues to understanding the content of the Qur'an.

E. The names of Surah al-Qur'an Based Medina Period

(Madaniyyah)

Madaniyyah verses can be explained in four periods starting from the Prophet
migrated to Madinah until he died. The four periods are as follows:

1. The Hijrah of the Prophet to Medina until the Battle of Badr

This period starts from the Prophet migrated to Madinah until the battle of Badr.
Only one sura that fell in this period, namely surah al-Baqarah. The theme of this
surah is the rejection of the Jews, about fasting, Hajj, talaq, prayer, heritage.

2. Badr to the Treaty Hudaybiya

There are three suras that fell in this period, namely, first, al-Anfal themed spoils.
Second, Imran themed rejection of the Christian, the resolve of the believers Third,
al-Ahzab themed about the victory of the Muslims.

3. Agreement Hudaybiya to the battle of Tabuk

22
This period starts from the agreement Hudaybiyah to Tabuk war consisted of 22
surah namely First, al-Mumtahanah theme prohibition makes leaders idolaters.
Second, al-Nisa 'themed hukm laws of a general nature. Third, al-Zalzalah themed
suggestions in doing good and warning that no good deed. Fourth, al-Hadid themed
preaching about faith and God and berinfak on the road. Fifth, Muhammad themed
suggestion struggle (fight) Sixth, al-Ra'du rejection of their doubtful Seventh in the
Qur'an, al-Rahman berbilangnya themed favors of Allah for His servants. Eighth, al-
Insan themed effect for humans Ninth law, al-Thalaq themed talaq law and the
waiting Tenth, al-Bayyinah themed explanation neighbor glory of the Koran.
Eleventh, al-Hashr themed talk of war Bani Nadhr. Twelfth, al-Nur themed laws of a
general nature about adultery and ablutions. Thirteenth, al-Hajj themed explanation
of doomsday and permits war. Fourteenth, al-Munafiqun theme of the hypocrites
and the muhajirin. Fifteenth, al-Mujadalah themed dzihar law. Sixteenth, themed
adab al-Hujurat believers to God. Seventeenth, al-Tahrim themed stories about the
ban. Eighteenth, al-Taghabun themed adzab warning about the world and the
hereafter. Nineteenth, al-Shaf themed urge for jihad. Twentieth, al-Jumuah themed
charity impetus to science. The twenty-first, al-Fath themed Hudaybiyah agreement.
Twenty-second, al-Ma'idah themed laws of a general nature and keritikan
hypocrites and Jews.

4. War of Tabuk to the Prophet Dies

There are two sura down in Tabuk war period until the Prophet's death consisting of
First, al-Tawbah themed talk of the polytheists, hypocrites and the Ahl al-Kitab.
Second, al-Nasr themed promised help of God and religious broadcasting.

F. Urgency Study on Makkiyyah and Madaniyyah

Urgency study of Makkiyyah and Madaniyyah can be seen from the various benefits
derived from this study. Some of the benefits of the study and understanding of the
Makkiyyah-Madaniyyah it in them are as follows:

1. More and reinforces the belief that the Qur'an is the word of God that
contain miracle. The process for the sake of the fall of al-Qur'an in various events,
situations and conditions, day and night, in a state of war and peace, and whenever
a revelation down the Prophet ordered to put a revelation in place so neatly
arranged in such a way, related to each other, without the contradiction between
one part to another. Had the Qur'an that human arrangements are certainly many
differences and contradictions in it. Here we see that the Koran is from God that is
not affected by the situation and process time. Until the preparation was of God, so
that he does not follow a chronological compilation.

2. Make it easier to understand the content of the Qur'an, because by knowing


where, when, and in what events that revelation was revealed, would seem to say,

23
the content of the law and its interpretation, so that it can help to understand /
interpret the correct interpretation, even if that be the handle is a general
understanding wording, not a special reason.

3. Can distinguish between verses nasikh with the mansukh when in between the
two verses are contradictory meanings. Which fell first paragraph can be naskh
verses down later.

4. You can find out the process of shari'ah decline gradually so easily practiced.

5. Can understand the history and methodology of the Prophet preaching.

6. Soaking up the style of the language of the Koran and used in methods of
preaching to the way of God, because every situation has its own language. It coud
be seen from differences in style between the verses and verses Madaniyyah
Makkiyyah.

III. Cover

From the foregoing description can be summed up some of the following: 1.Surah
Makkiyyah emphasize a call to Tawheed, faith in the Prophet's message and
doomsday with all the pleasures of heaven and hell pain, as well as the rejection of
the misguided faith infidels, with the arguments of passages kauniyyah very
rational.

2. Appeal to uphold the basic principles of worship, Muamalat and noble character.
As orders enforcement of the five daily prayers, Prohibition eat up the property of
orphans, the banning of a cocky attitude and so on.

3. Madaniyyah chapter contains the teachings of Islamic law in matters of worship,


muamalah, criminal law, fara'id, jihad and so on.

4. periodization Makkiyyah sura there are three periods and periodization surah
Madaniyyah four periods.

2. Contains information on issues of the hypocrites to reveal all the cunning, fraud
and the steps they are harmful to Muslims.

3. Contains information on issues scribes, treason which they did, evil their faith as
well as an invitation for them to return to the true faith.

24