Anda di halaman 1dari 9

KAJIAN NILAI-NILAI DASAR KEHIDUPAN PADA SASTRA LISAN

TERNATE

THE STUDY OF FUNDAMENTAL VALUES OF LIFE IN TERNATE ORAL


TRADITION

Masayu Gay
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP Kie Raha Ternate
Jalan Raya STKIP, Sasa, Ternate Selatan
Posel: Masayufm@yahoo.co.id

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai- nilai dasar kehidupan di sastra lisan Ternate (dola
bololo, drum proposisi, dan moro proposisi). Teori yang digunakan sebagai pendekatan untuk
menemukan nilai-nilai yang struktural dan hermeneutika. Kedua teori ini digunakan untuk memaha mi
nilai- nilai yang optimal dalam sastra lisan. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sastra lisan Ternate, dola bololo: mengandung nilai-nilai dasar
kehidupan: (1) kerendahan hati, terutama dalam bahasa; (2) larangan menyakiti orang lain; (3) orang
dan kehidupan dunianya (4) perbedaan (pluralisme). Dalil tifa: tentang pentingnya pengetahua n
(islam); dan dalil moro: tentang kebersamaan dan kasih sayang, serta manusia dan kematiannya.

Kata kunci: nilai-nilai kehidupan, sastra lisan Ternate

Abstract
This is a descriptive analytical research which aims to reveal the basic values of life in Ternate oral
tradition (dola bololo, drums proposition, and Moro proposition). The values are assessed through
structural and hermeneutic approach. The results indicate that dolabololo reflects fundamental
values of (1) generosity; (2) prohibition against hurting others; (3) The man and his world; (4)
pluralism. Dalil tifa reflects Islamism, togetherness, affection, humanity and death.

Keywords: values of life, Ternate oral tradition

1. Pendahuluan prasyarat bagi terciptanya pembanguna n


Kota Ternate, Maluku Utara memiliki peran perdamaian. Menurut Ibrahim (2008:1--2), jika
dalam sejarah dunia dengan jalur sutranya kaya dibaca secara saksama, dola bololo
akan potensi budaya dan karya sastra. Keramahan sesungguhnya mengandung banyak kearifan,
adalah bukti kalau dahulu masyarakat di Kota terutama yang berkaitan dengan bagaima na
Ternate memiliki nilai-nilai dasar fundamenta l masyarakat perlu membina kerjasama, membantu
yang sekarang terdapat pada sastra-sastra lisan. sesama, dan menghargai perbedaan sebagai
Nilai-nilai dasar tersebut menjadi modal dalam bagian penting dari budaya berpikir dan bertindak
kehidupan bermasyarakat. Dinsie dan Taib poisitif.
(2008:62) mengatakan bahwa tanpa disadari para Syah (dalam Ahmad, 2014:vii), mengatakan
leluhur negeri Moloku Kie Raha telah bahwa tradisi lisan (sastra lisan) adalah salah satu
mewariskan semangat kepada kita akan bentuk produk budaya daerah yang diciptakan
pentingnya persatuan dan persaudaraan sebagai oleh masyarakat masa lalu untuk dipraktikkan
40
dalam kehidupan sosial mereka. Hal ini tidak lain lalin; (3) manusia dan kehidupan dunianya (4)
karena sastra lisan itu sendiri mengandung nilai- perbedaan (pluralisme). Dalil tifa: menyangk ut
nilai dasar kehidupan yang sangat bermanfaat dan pentingnya pengetahuan (islam); dan dalil moro:
tentang kebersamaan dan kasih sayang, serta
berarti bagi kehidupan di masa itu, seperti (1)
manusia dan kematiannya. Nilai-nilai dasar
kesantunan, terutama dalam berbahasa; (2) kehidupan ini merupakan produk budaya leluhur
larangan menyakiti orang lalin; (3) manusia dan masyarakat Ternate yang sangat relevan
kehidupan dunianya (4) perbedaan (pluralisme ). diaplikasikan pada kondisi saat ini.
Dalil tifa: menyangkut pentingnya pengetahua n
(islam); dan dalil moro: tentang kebersamaan dan 2. Kerangka Teori
kasih sayang, serta manusia dan kematiannya. Sastra lisan adalah salah satu jenis karya sastra
Nilai-nilai dasar tersebut mengatur kehidupan yang terkadang sulit untuk dipahami. Kesulita n
dunia dan akhirat. muncul dalam memahami nilai atau makna pada
Nilai-nilai ini perlu diketahui masyarakat, bahasa, sehingga bahasa yang digunakan pada
khususnya yang berdomisili di Kota Ternate. karya sastra yang merupakan tanda harus
Sebab belakangan ini sering terjadi masalah ditafsirkan dengan pendekatan teori dan metode
sosial, seperti perkelahian antar pemuda, yang tepat. Dengan demikian, untuk memaha mi
perbedaan politik yang memicu sukuisme dan nilai- nilai dasar kehidupan sastra lisan Ternate
pertikaian, bahkan tindakan yang menyimpa ng digunakan pendekatan teori strukturalisme dan
dari norma dan agama. Masalah-masalah ini hermeneutik. Beberapa teori pendukung lain
mungkin akan tetap terjadi, mengingat Kota digunakan sebagai sumber referensi, kerangka
Ternate masyarakatnya telah pluralitas (pribumi pijak penulisan ini.
dan pendatang). Kondisi ini harus diantisipas i,
salah satunya adalah dengan menghidupka n 2.1 Pengertian Nilai
kembali, serta terus menunjukkan nilai-nila i Berdasarkan KBBI (2008:936), nilai diartikan
dasar kehidupan sastra lisan sebagai produk sebagai sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau
budaya para leluhur yang harmonis dan religius. berguna bagi manusia. Nilai berasal dari bahasa
Mengingat fungsi sastra itu sendiri memberika n Inggris yaitu value atau harga. Menurut Bariqoh
kesadaran tentang kebenaran-kebenaran hidup, (2015:260), nilai akan selalu muncul ketika
kehidupan masa lampau, adat istiadat, sekaligus individu mengadakan hubungan sosial dengan
hiburan. Hiburan ini adalah jenis hiburan masyarakat atau dengan individu lainnya.
intelektual dan spiritual. Sesuatu itu mempunyai nilai karena ia
Merujuk pada dasar pikir di atas, fokus mempunyai harga, atau sesuatu itu mempunya i
masalah penelitian, yakni bentuk-bentuk nila i harga karena ia mempunyai nilai. Nilai yang
dasar kehidupan pada sastra lisan Ternate pada dimaksud dalam hal ini adalah proses menimba ng
ketegori manusia dalam kehidupannya atau menaksir, yaitu kegiatan manusia yang
(hubungan menusia dengan manusia), serta menghubungkan sesuatu dengan sesuatu untuk
kategori manusia dan kehidupan religiusitasnya.
selanjutnya diambil keputusan.
Tujuannya untuk mendeskripsikan bentuk-
bentuk nilai kehidupan yang terkandung dalam
sastra lisan tersebut, baik kehidupan dunia 2.2 Sastra Lisan
maupun akhirat, serta melindungi sastra lisan Sastra adalah sebuah produk budaya, kreasi
tersebut dari ancaman kepunahan akibat pengarang yang hidup dan terkait dengan tata
modernisasi. Penulisan dibatasi hanya pada dola kehidupan masyarakatnya (Noor, 2011:23).
bololo, dalil moro, dan dalil tifa dengan nilai-
Menurut Zulela (2012:20), sastra
nilai dasarnya, seperti: (1) kesantunan, terutama
dalam berbahasa; (2) larangan menyakiti orang mengungkapkan pengalaman manusia agar
41
manusia lain dapat mengambil pelajaran dari menjadi sastra lisan berbentuk bukan cerita dan
pengalaman itu dan hidup manusia akan lebih berbentuk cerita, di antaranya sebagai berikut.
baik.
Pembicaraan mengenai sastra, khususnya Berbentuk bukan Berbentuk Cerita
Cerita atau Jarita
sastra lisan saat ini mulai mengemuka seiring
Dola bololo Mitos (mite)
dengan munculnya konsepsi tentang kearifan
Dalil moro Legenda
lokal (local wisdom) (Ahmadi, 2010:17) yang
Dalil tifa Dongeng
berusaha menggali dunia lokal agar tidak hilang Pandara (pantun) Fabel
dan tergerus oleh arus modernisme yang Mantra Sage
pragmatis. Rorasa
Sastra lisan dianggap sebagai bentuk sastra Cum-cum
pertama. Karya sastra telah tercipta jauh sebelum Moro se saluma
nenek moyang kita mengenal aksara untuk Sumber: Ahmad (2014:7).
menuliskan kembali apa yang telah mereka
ceritakan, sehingga penyebarannya dilakuka n Dola bololo adalah suatu ungkapan
secara lisan atau oral. Sastra lisan pada tradisional masyarakat Ternate yang memilik i
hakikatnya ialah sastra yang diperdengarka n pesan dan ajaran tertentu dan pengungkapannya
(Bartlett, 1965:244-245). tanpa menyinggung perasaan orang yang menjadi
tujuan pengungkapan (Ahmad, 2014:10). Dola
2.3 Sastra Lisan Ternate bololo adalah pantun yang digunaka n
Sastra lisan Ternate adalah jenis sastra yang masyarakat, dan dijadikan sebagai sumber norma
berada di tengah-tengah masyarakat yang yang mengatur tata kehidupan masyarakat.
berbentuk lisan. Syah (dalam Ahmad, 2014:vii) Namun, pantun yang dimaksud bukanlah pantun
mengungkapkan bahwa sastra lisan Ternate, tanpa makna/nilai. Bahkan terdapat nilai-nila i
sebagai produk budaya dan tradisi masyarakat kehidupan yang berfungsi mengatur manus ia
Ternate, sesungguhnya memiliki arti tersendir i dengan manusia, bahkan manusia dengan
untuk kehidupan masa kini, meskipun ruang penciptanya.
penggunaannya tidak seluas masa lalu. Salah satu Dalil moro adalah salah satu bentuk puisi
arti dan manfaat itu adalah sastra lisan yang hampir memiliki kesamaan dengan pantun.
mengungkapkan atau menjadi cermin kehidupan Perbedaan terletak pada hubungan semantisnya.
kultural masyarakat lama dengan norma-nor ma Dalil moro secara umum terdiri dari empat baris,
adat dan tradisi yang kuat dipegang, yang tentu dan memiliki hubungan antar baris tersebut yang
dapat menunjukkan identitas sosial-budaya kita membentuk satu kesatuan nilai/makna. Dalil tifa
yang sesungguhnya. memiliki kesamaan dengan dola bololo dan dalil
Sastra lisan di Ternate berfungsi sebagai moro. Perbedaanya terletak pada banyaknya laris
pembentuk watak manusia yang baik, sebagai alat yang terdapat pada dalil tifa antara lima sampai
kontrol masyarakat, sebagai alat komunikas i enam laris, pengucapannya diiringi dengan musik
untuk menjalin hubungan kekeluargaan atau tifa.
kekerabatan, dan sebagai alat penghibur dan juga
berfungsi sebagai alat untuk mempertahanka n 2.4 Teori Strukturalisme
kecermatan berbahasa. Menurut Ratna (2009:91) (dalam Yulianto,
Ahmad (2014:7) menggolongkan sembilan 2015:77), bahwa secara definitif strukturalis me
sastra lisan yang dimiliki masyarakat Ternate berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu
struktur itu sendiri dengan mekanis me

42
antarhubungannya. Disatu pihak, hubunga n tersebut berupa manusia dan kehidupannya, serta
antarunsur yang satu dan unsur lainnya, di lain manusia dan religiusitasnya.
pihak hubungan antarunsur dengan totalitasnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif
Berdasarkan Kamus Istilah Sastra analisis. Alfarisi (2015:127), metode deskriptif
(2007:194), strukturalisme adalah metode yang analisis merupakan metode penguraian. Ratna,
menganggap objek studinya bukan hanya 2007:53, hal ini disesuaikan cara
sekumpulan unsur yang terpisah-pisa h, mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudia n
melainkan sebagai suatu gabungan unsur yang disusul dengan analisis. Fakta-fakta berupa
berhubungan satu sama lain, sehingga yang satu ungkapan-ungkapan pada sastra lisan
bergantung pada yang lain. Kajian struktura l dideskripsikan, kemudian disusulkan dengan
diikuti pula dengan kajian semiotik. analisis nilai- nilai kehidupannya.
Selden (1986:6) (dalam Ratna, 2007:97), Tahap-tahap analisis data mengik uti
menganggap strukturalisme dan semiotik prosedur berikut: (1) pengumpulan data, baik data
termasuk ke dalam ilmu yang sama. Untuk ungkapan langsung informan maupun hasil
menemukan makna suatu karya, analisis tinjauan pustaka, (2) menafsirkan atau
strukturalisme mesti dilanjutkan dengan analisis menginterpretasi, (3) mengklasifikasikan bentuk
semiotik. Dalam pengertian yang lebih luas, nilai- nilai dasar sastra lisan, dan (4) merumuska n
sebagai teori, semiotika berarti studi sistematis hasil penelitian dan penarikan kesimpulan.
mengenai produksi dan interpretasi tanda.
4. Pembahasan
Kajian struktural melihat teks sastra sebagai suatu
]

2.5 Teori Hermeneutik


Hermeneutik merupakan metode yang paling komponen atau unsur-unsur yang berhubunga n
sering digunakan dalam penelitian karya sastra. atau saling terkait antar satu dengan yang lain,
Hermeneutik modern berkembang pada abad ke- serta kesemestaannya yang melingkupinya.
19 melalui gagasan Schleiermacher. Dalam sastra Selanjutnya, sesuai metode hermeneutik maka
hermeneutik disejajarkan dengan interprertas i, simbol-simbol bahasa dalam karya sastra harus
pemahaman, verstehen, dan retroaktif (Ratna, diinterpretasi atau ditafsirkan untuk mendapatkan
2007:45). makna tersesurat dan tersiratnya.
Secara etimologis hermeneutika berasal dari
kata hermeneuein, bahasa Yunani yang berarti 4.1 Nilai-nilai Dasar Kehidupan pada Dola
menafsirkan atau menginterpretasikan. Karya Bololo
sastra perlu ditafsirkan sebab di satu pihak karya 4.1.1 Kesantunan Berbahasa
sastra terdiri atas bahasa, dipihak lain, di dalam Bahasa adalah sarana penghubung antar manus ia
bahasa sangat banyak makna yang tersembunyi, yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain,
atau dengan sengaja disembunyikan. Metode bahasa merupakan media atau alat
hermeneutik tidak mencari nilai atau makna yang berkomunikasi. Manusia berbahasa
benar, melainkan makna yang paling optimal. menggunakan kata-kata. Oleh karena itu,
pemilihan kata yang tepat dan sesuai konteks
3. Metode sangat dianjurkan. Hal ini mengarah pada dua hal,
Pendekatan yang digunakan untuk menemuka n yakni agar berhasa dapat dipahami dan berbahasa
nilai- nilai kehidupan pada sastra lisan Ternate tidak menyinggung perasaan pendengar.
adalah struktural dan hermeneutik. Kedua teori Menurut Ahmad dan Henri (2015:23),
ini digunakan untuk menemukan nilai-nilai yang pemilihan kata bukan sekedar kegiatan memilih
optimal pada sastra lisan Ternate. Nilai-nila i kata yang tepat, melainkan juga memilih kata
43
yang cocok. Cocok dalam hal ini berarti sesuai Dunya ne doka nga soya, waktu wange dahe
dengan konteks di mana kita berada, dengan siapa bungan muraha ma bou sai.
kita berbicara, dan maknanya tidak bertentanga n (dunia ini ibarat kembang, waktu diterpa
dengan nilai rasa masyarakat pemakainya. panas kembangnya layu, wanginya pun
Kategori penggunaan bahasa yang tepat melayang).
(santun atau halus) dianjurkan pada satra lisan
Secara umum kata “bunga” sering
Ternate. Anjuran pemakaian kata halus terdapat
dikonotasikan sebagai sesuatu yang indah,
pada dola bololo yang merupakan sepotong
harum. Konotasi ini sudah menjadi konvensi
ungkapan yang terdiri atas dua bait.
umum. Ketegori ini dunia yang merupakan
Eli-eli susunyinga demo ma dero afa, tempat kehidupan menusia disimbolkan dengan
mara cobo sala demo kanang. kembang. Dalam KBBI (2008:222), “kembang”
Ingat-ingatlah kata yang tepat, berhubungan dengan bunga (bagian tumbuha n
jangan sampai salah memilih kata. yang akan menjadi buah), biasanya elok
warnanya dan harum baunya; kembang.
Kajian struktural dan hermeneutik terhadap Makna dunya ne doka nga soya “dunia ini
makna dola bololo diketahui bahwa jenis sastra sangatlah indah”. Hal yang menyebabkan “dunia
lisan ini berisi pernyataan perasaan dan pendapat indah”, misalnya hidup bergelimang harta atau
seseorang dalam bentuk sindiran dan tamsila n keindahan lain yang dapat dilihat, dirasa, dan
dan merupakan ciri kebijakan seseorang melalui didengar. Simbol “kembang” dihubungka n
peribahasa, sehingga tidak menyinggung dengan kata wange (panas). Simbol wange
perasaan. Sindiran dan peribahasa tergolong (panas) dimaknai sebagai masalah yang
tuturan tak langsung, yang dianggap memilik i ditimbulkan oleh perbuatan manusia sebagai
kesantunan yang tinggi dibandingkan tuturan penyebab tak berguna (layu) atau hilang tak
langsung. berarah (melayang) dunia dan keindahan itu.
Anjuran menggunakan kata yang tepat pada Teks sastra lisan di atas, menyiratka n
ungkapan di atas dapat ditafsirkan atau keindahan dunia dan masalah yang ditimbulka n
dinterpretasikan sebagai kata-kata yang tepat atau manusia. Makna ini dipertegas pula dengan
kata-kata halus dan sopan (tidak mengand ung ungkapan sastra di bawah.
makian). Kata-kata halus dan tidak makian akan
menimbulkan keharmonisan dan kasih sayang Dunia i ira ua, ngone fo ma gulaha.
antar pembicara dan pendengar. Nilai kesantunan (Dunia ini tidak buruk, kecuali disebabkan
berbahasa pada dola bololo merupakan gambaran perilaku manusia).
atau cerminan nilai kehidupan masyarakat leluhur Dunia tidaklah buruk, dunia ini indah atau
Ternate sebagai kualitas totalitas dan fakta bagus dan selamanya akan tetap indah.
antarhubungan nilai- nilai tersebut dengan prilaku Keindahan dunia dijelaskan Allah SWT dalam
kehidupannya melalui medium bahasa. (Qur’an: Ar-rum:41) “Telah nampak kerusakan
di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
4.1.2 Manusia dan Kehidupan Dunia tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada
Dunia tempat menusia berpijak dengan segala mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
keindahannya hanyalah sementara. Keindahan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
pada dunia ini akan hilang atau musnah jika telah benar)”.
datangnya masalah. Nilai kehidupan dunia dan Prilaku atau perbuatan manusia yang buruk
segala keindahannya dijelaskan secara gambla ng dapat interpretasikan perbuatan melanggar ajaran
pada ungkapan di bawah.
44
agama berupa pengrusakan, baik di darat Gogola nyinga afa, nyinga ma bubang
(kerusakan ekologi, kerusakan tatanan nyinga.
kehidupan) maupun di laut (kerusakan pantai dan (Janganlah sakiti hati, karena hati terbayar
hati).
biota laut). Dengan demikian, sastra lisan tersebut
mengandung anjuran dan mengatur secara tegas Frasa nyinga ma bubang nyinga
bagaimana seharusnya manusia hidup di alam mengandung metafor, sehingga untuk melacak
semesta ini. maknanya peneliti menafsirkan simbol nyinga
Makna universal, termasuk pada kategori ma bubang nyinga. Secara harfiah hati tidak
manusia dan kehidupannya tersirat juga pada teks dapat dibayar. Makna penggalan di atas dimakna i
di bawah. Simbol cahaya secara harfiah dapat dalam bentuk kalimat, sehingga makna
diinterpretasikan sebagai sinar atau terang. optimalnya adalah menyakiti hati orang lain sama
halnya dengan menyakiti diri sendiri. Simbol ini
Ure fo mara ai laha kara sum si kado ngo menginterpretasikan bahwa menyakiti hati orang
Ure fo mara ai ira sung si gado ngo ua lain pasti akan dibalas orang lain. Perilaku tidak
(Benda yang berwarna selain putih, menyakiti bahkan melukai hati dan perasaan
mengenai cahaya akan pudar) orang lain dianjurkan, diwariskan secara temurun
(Tapi kalau warna putih tidak akan pudar) oleh nenek moyang orang Ternate sebagai nilai-
nilai dasar kehidupan bagi generasi hari ini,
Kata cahaya disandingkan dengan kata
besok, dan akan datang.
pudar yang menunjukkan adanya keterkaitan
sebab akibat. Interpretasi makna universa l
4.1.4 Perbedaan (pluralisme)
muncul dari teks ini adalah tentang sikap dan
Perbedaan terjadi dalam berbagai aspek, baik
prilaku manusia. Warna putih dikonotasika n
agama, suku, maupun kebutuhan. Hal ini
sebagai ‘kesucian, bersih’ bebas dari kotoran
disebabkan pandangan hidup, keyakinan, cara
yang merupakan konvensi masyarakat umum.
pikir, dan tujuan hidup yang berbeda antara
Makna optimal yang dapat diinterpretasika n
individu satu dengan yang lain, tetapi perbedaan
adalah jika dalam kehidupannya manusia dapat
itu merupakan hal lumrah. Kategori perbedaan
menjaga prilakunya dengan baik maka akan
pada sastra lisan tersebut melahirka n
berdampak baik pada dirinya. Sebaliknya, jika ia
keuniversalan makna perbedaan, yang secara
tidak dapat menjaga prilaku dan perbuatannya
gamblang didalilkan pada sastra lisan Ternate
maka berakibat buruk padanya (pudar).
berikut.

4.1.3 Larangan Menyakiti Orang Lain Hele fo nyonyomo-nyonyomo, ma nyonyohi


Kategori ini memusatkan perhatian pada manus ia ena bato.
yang menyangkut sifat keadaan yang abstrak. (Meskipun berbeda arah, tujuan kita satu).
Sesuatu yang tidak dapat langsung dihayati oleh
indra manusia, tetapi sangat dianjurkan untuk Nilai dasar kehidupan pada ungkapan
tidak tersakiti. tersebut adalah bahwa masyarakat leluhur
Nilai dasar sastra lisan Ternate pada kategori menghargai dan menerima perbedaan dalam
ini berupa kalimat yang terdiri dari dua frasa. kehidupan. Saling menghargai perbedaan-
Frasa pertama gogola nyinga afa mengand ung perbedaan yang ada. Perbedaan pada hakikatnya
makna lugas, sedangkan frasa kedua bermakna hanya pada tujuan hidup maisng- mas ing
metafor nyinga ma bubang nyinga. Berikut di individu. Makna sastra lisan di atas, kurang lebih
bawah transkripsinya.
45
sama dengan dasar negara kita dengan simbolnya dengan islam, lautan dikonsepkan dengan Ilahi
Bhinneka Tunggal Ika ‘berbeda-beda tetap satu’. (Ilahi: bersifat ketuhanan).
Perahu dapat diinterpretasikan sebagai
4.2 Nilai Dasar Kehidupan Dalil Tifa dan benda yang sering dinaiki untuk bepergian di
Dalil Moro suatu tempat, kemudi adalah alat pengatur
Dalil Tifa: Pentingnya Ilmu (Islam) pelayaran, iman adalah keyakinan, dan lautan
Dalil tifa mengandung nilai-nilai dasar adalah laut yang luas sekali; samudra yang
kehidupan tentang pentingnya ilmu bagi sifatnya tidak selalu tenang (bergelombang).
penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat. Sastra
lisan ini menganjurkan agar setiap orang harus Fo wito nga oti iman
berilmu (agama) yang cukup. Untuk memerole h (Kita dorong perahu iman)
Nga ngungudi islam
ilmu, setiap orang harus memaksimalkan akal dan
(Dengan kemudi islam)
pikirannya. Hal ini dapat dilihat pada dalil
Fo tola ngolo kadim
berikut. (Seberangi lautan ilahi)
Matubu kie graha Kadim ma ati ruma
(Puncaknya empat gunung) (Perahu ilahi hancur di laut hamba)
Lobi yo fati sio gamam Toma bahari ma ngolo
(Kabut menutup aduhai gelap) (Bukan milik hambanya)
Ahu moju fo madike Bahari nga due ua kadim nga dua
(Selagi hidup kita mencari) (Kepunyaan ilahi jua)
Guru-guru yo nga demo
(Guru-guru punya ucapan) Namun, di sisi lain ada kalimat yang
Bala wasu marari pada menyatakan perahu Ilahi hancur di laut hamba.
(Untuk menjadi pelitaku) Hal tersebut dapat diinterpretasikan bahwa untuk
Ngama ri moi kari nonako mengetahui kebesaran dan kekuasaan Ilahi harus
(Sebuah bintang menjadi tanda)
pengetahuan tentang iman dan islam yang cukup,
Simbol kabut ditafsirkan sebagai awan tebal agar pencaharian membawa manusia pada
yang menyelimuti suatu benda (gunung). Simbol pemahaman yang tidak menyalahi atau salah
tersebut dihubungkan dengan gelap (gamam) memahami (hancur di laut hamba) tentang ke-
yang dalam bahasa Ternate “sangat gelap, gelap Ilahi-an itu sendiri. Sesesuatu (iman dan islam)
sekali’, sehingga tidak terlihat. Guru adalah untuk menyeberangi lautan Ilahi bukan milik
orang yang memiliki banyak pengetahuan. Jadi, manusia, melainkan Ilahi.
ucapan guru akan menjadi petunjuk. Hal ini dapat
dilihat pada simbol ucapan yang dikonsepkan 4.2.1 Dalil Moro
dengan pelita (benda yang dapat memberika n 4.2.1.1 Kebersamaan dan Kasih Sayang
penerangan) dan bintang benda angkasa yang Simbol pala (gosora) dan cengkeh (bualawa)
juga bercahaya. Makna optimal sebagai nila i dipergunakan dalam ungkapan dalil moro.
kehidupan pada sastra tersebut adalah bahwa Diketahui bahwa kedua tumbuhan ini sangat
manusia hidup harus mencari ilmu agar dapat berbeda dan sulit untuk disamakan ciri dan
membekali dirinya. Ilmu tersebut akan menjadi bentuknya. Kalau secara harfiah kedua pohon ini
penerang baginya sebab ilmu adalah cahaya. adalah jenis pohon yang menghasilkan buah.
Beberapa simbol yang berkaitan dengan Berikut adalah ungkapan dalil moro.
kategori nilai- nilai dasar tersebut, yakni (1)
Ino foma katinyinga
perahu, (2) kemudi, dan (3) lautan. Perahu
(Mari kita menyatukan hati)
dikonsepkan dengan iman, kemudi dikonsepkan
46
Doka gosora se bualawa 5. Kesimpulan
(Seperti pala dengan cengkeh) Berdasarkan pembahasan disimpulkan bahwa
Om doro foma kumote ungkapan-ungkapan sindiran (tak langsung) tidak
(Matang dan gugur bersama-sama) dapat dilepaskan dalam penciptaan sastra yang
Fokau gogoru fomako udara
(Saling mengasihi dan saling menyayangi) dapat mewakili ruang persepsi manusia. Sastra
lisan Ternate, dola bololo mengandung nila i,
Simbol pala (gosora) dengan fulinya, yakni (1) kesantunan, terutama dalam berbahasa;
cengkeh (bualawa) dengan bunganya. Kedua buah (2) larangan menyakiti orang lalin; (3) manus ia
ini matang dan jatuh sama-sama. dan kehidupan dunianya (4) perbedaan
Diinterpretasikan bahwa perbedaan harus (pluralisme). Dalil tifa: menyangkut pentingnya
disatukan, saling mengasihi, dan menyayangi. pengetahuan (islam); dan dalil moro: tentang
kebersamaan dan kasih sayang, serta manusia dan
4.2.1.2 Manusia dan Kematiannya kematiannya. Nilai-nilai sastra lisan tersebut
Jika ungkapan tersebut di atas mengandung nilai- diungkapan secara metaforis untuk
nilai dasar kehidupan manusia dengan manus ia, menggambarkan sesuatu yang konkrit untuk
maka ungkapan di bawah mengandung nilai dasar tujuan yang abstrak atau sebaliknya dengan
kehidupan antara manusia dengan manusia dan lambang- lambang yang konkret.
manusia dengan sang penciptanya.
Daftar Pustaka
Ahmad dan Hendri. 2015. Mudah Menguasai
Sone daka rika-rika fodumaha mabubudo Bahasa Indonesia. Yrama Widya: Bandung.
Sone daka rika-rika fodumaha ma rukun koa
Sone daka rika-rika fadumaha ma ake raha Ahmad, Mahdi. 2014. Sastra Lisan Ternate.
Sone daka rika-rika sala ngone manusia Depok: Yayasan Danau Indonesia.
(Orang yang sudah meninggal harus Alfarisi, A. B. T. 2015. Ekpresi Metaforis dalam
secepatnya dikuburkan) Puisi Mardi Luhung. Jurnal Bebasan. Vol. 2
(Orang yang sudah meninggal mengapa (2): 127.
harus ditunda pemakamannya) Bartlet, F.C. (1965). “Some Experiment on the
(Air empat piring untuk dimandikan sudah Introduction of the
siap) Folklore”. Dalam: A Dundes (ed). The
(Kubur terlambat mayat tersiksa, salahnya Study of Folklore. Englewood,
manusia) N.J.: Prentice Hall. 243—258.

Makna secara harfiah dan lugas, tetapi Bariqoh, A. 2015. Ekranasi Film Biopic:
Penanaman Nilai Semboyan “Jas Merah”
membutuhkan interpretasi di luar bangun tesk
sebagai Usaha Pembentukan Karakter
dapat dilihat pada ungkapan di atas. Ungkapan Mahasiswa STKIP PGRI Sampang.
yang mengandung nilai- nilai kehidupan dunia Prosiding Seminar International Riksa
dan akhirat bagi masyarakat yang sakral dan kuat. Bahasa IX. 26 November 2015, Bandung,
Jika dikaji secara struktural maupun hermenutik, Indonesia. Hal. 260.
ungkapan di atas dapat diketahui bahwa orang Dinsie, Amas dan Thaib, Rinto. 2008. Ternate:
(manusia) yang telah meninggal harus secepatnya Sejarah, Kebudayaan, dan Pembangunan
dikuburkan, jika kain kafannya sudah siap dan Perdamaian. LeKRa-MKR: Maloku Kie
sudah dimandikan. Semakin lama mayat Raha.
dibiarkan, maka jasadnya tersiksa rika-rika sala Ibrahim, Gufran A. 2009. Dolabololo: Budaya
ngone manusia dan itu kesalahan manusia. Berpikir Positif Masyarakat Ternate.
Makalah dalam bentuk Pdf.

47
Tim Penyusun. 2007. Kamus Istilah Sastra. Balai
Pustaka: Jakarta.
Tim Penyusun. 2008. Kamus Besar Bahasa
Indonesia: Edisi Ke-IV. PT Gramedia:
Jakarta.
Majid, Bakhtiar. 2009. “Revitalisasi Tradisi
Sastra Lisan Dola Bololo dalam Masyarakat
Kesultanan Ternate: Sebuah Kajian
Budaya”. Tesis Program Studi Kajian
Budaya, Universitas Udayana, Bali.
Noor, M. Rohinah. 2011. Pendidikan Karakter
Berbasis Sastra. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Ratna N. Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik
Penelitian Sastra: Cetakan I. Pustaka
Pelajar: Yigyakarta.
. 2007. Teori, Metode, dan Teknik
Penelitian Sastra: Cetakan III. Pustaka
Pelajar: Yogyakarta.
Yulianto, A. 2015. Analisis Intertekstual Puisi
“Tangisan Batu” dan “Air Mata Legenda”
Karya Abdurrahman El Husainy. Jurnal
Sirok Bastra. Vol. 3 (1): 75—81.
Zulela. 2012. Pembelajaran Bahasa
Indonesia:Apresiasi Sastra di Sekolah
Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

48