Anda di halaman 1dari 3

Pengertian Demam Bardarah Dengue

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang
ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty. Penyakit DBD masih merupakan salah satu penyakit
yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia.
Kasus DBD Kota Banda Aceh
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Banda Aceh bila dibandingkan pada
tahun sebelumnya, sedikit mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2015 kasus DBD
sebanyak 127 kasus sedangkan pada tahun 2016 terdapat 152 kasus yang terlaporkan. Hal ini
bisa disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya tingginya curah hujan sehingga banyak
terjadi genangan air pada wadah atau tempat yang dapat menampung air hujan sebagai
tempat perindukan nyamuk DBD di lingkungan luar sekitar rumah, faktor yang lainnya juga
dapat dilihat dari tingkat pengetahuan, pemahaman dan kepedulian serta Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat di masyarakat yang masih rendah, bisa dikarenakan tidak mengetahui
ataupun tidak mempunyai kesempatan untuk memantau tempat-tempat perindukan nyamuk
DBD yang ada di dalam rumah, seperti ditempat penampungan air dispenser, kulkas, bak
mandi, vas bunga, talang air yang tersumbat dan lain lain. Hal ini menjadi salah satu faktor
berkembang biaknya nyamuk DBD secara cepat.
Kecamatan 2012 2013 2014 2015 2016
Kuta Alam 38 36 41 19 31
Lueng Bata 64 14 23 17 14
Meuraxa 32 13 13 4 5
Syiah Kuala 67 55 29 11 24
Ulee Kareng 35 21 32 24 15
Banda Raya 35 25 48 8 13
Jaya Baru 93 21 32 27 22
Kuta Raja 27 9 20 0 12
Baiturrahman 81 64 47 17 16
Total 472 258 285 127 152
Data Sebaran Kasus DBD tahun 2012 s/d 2016
506

258 299

127 152
0 3 0 1 0
2012 2013 2014 2015 2016
Data Kasus dan Kematian akibat DBD tahun 2012 s/d 2016

Kasus kematian terjadi pada tahun 2013 sebanyak 3 kasus, masing-masing di


kecamatan Kuta Alam, Kuta Raja dan Lueng Bata. Tahun 2015 terjadi satu kasus kematian di
Kecamatan Kuta Alam.
Indikator
Dalam program pemberantasan DBD dikenal beberapa indikator yang diperoleh dari
hasil analisis data yaitu:
    IR (Insidence Rate) merupakan  jumlah  kasus  DBD  disuatu 
wilayah tertentu selama 1 tahun tiap 100 ribu penduduk. Berdasarkan IR suatu daerah dapat
dikategorikan termasuk dalam risiko tinggi, sedang dan rendah yaitu :
 risiko tinggi bila IR > 55per 100.000 penduduk,
 risiko sedang bila IR 20-55 per 100.000 penduduk dan
 risiko rendah bila IR <20 per 100.000 penduduk.
 CFR (Case Fatality Rate) merupakan Angka kefatalan kasus yaitu perbandingan antara
jumlah kematian terhadap penyakit tertentu yang terjadi dalam 1 tahun dengan jumlah
penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama
 ABJ (Angka Bebas Jentik)/  Case fatality rate didefinisikan sebagai prosentase rumah
yang bebas dari jentik dari seluruh rumah yang diperiksa.

JUMLAH

TOTAL KASU
N PDDK KASU
PUSKESMAS CFR IR S
O 2016 S DI ABJ
DIFOG
PE
GING
Penderita Mati
79,
1 Meuraxa 5 0 0
27,2
18.389 5 5
25
2 Jaya Baru 21 0 0 85,4 24.578 21 19 81
3 Banda Raya 13 0 0 55,8 23.307 13 13 50
Baiturrahma
4 17 0 0 33.889 17 17 77
n 50,2
5 Bathoh 14 0 0 53,2 26.320 14 14 74
6 Kuta Alam 13 0 0 49,5 26.267 13 13 79
  Lampulo 17 0 0 81,6 20.831 17 17 70
103,
7 Lampaseh 12 0 0 11.640 12 12 86
1
8 Kopelma 13 0 0 59,2 21.974 13 13 69
  Jeulingke 12 0 0 71,0 16.906 12 11 46
9 Ulee Kareng 15 0 0 59,6 25.181 15 7 74
249.28
JUMLAH 152 0 0 61,0 152 141 71,4
2

Capaian Kegiatan Program Dbd Kota Banda Aceh 2016


Penanganan
Kejadian Luar Biasa DBD ditetapkan bila ditemukan satu atau lebih kondisi berikut:
 Timbulnya suatu penyakit menular tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
Permenkes No.1501/2010, yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu
daerah.
 Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan
dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun
sebelumnya
 Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun
waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau lebih
dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya
dalam kurun waktu yang sama.
Kejadian Luar Biasa DBD dapat dihindari bila Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan
pengendalian vektor dilakukan dengan baik, terpadu dan berkesinambungan. Pengendalian
vektor melalui surveilans vektor diatur dalam Kepmenkes No.581 tahun 1992, bahwa
kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dilakukan secara periodik oleh masyarakat
yang dikoordinir oleh RT/RW dalam bentuk PSN dengan pesan inti 3M plus. Keberhasilan
kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih
atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.
Penanggulangan DBD yang masih sangat efektif adalah dengan melakukan Gerakan
3M Plus, yaitu Menguras, Menutup dan Mengubur serta Menghindari Gigitan Nyamuk.
Pengasapan atau fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saja, sedangkan jentik nyamuk
DBD masih tetap bertahan hidup dan menjadi nyamuk dewasa setelah beberapa hari
kemudian. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan dan pemberantasan tempat-tempat
perindukan nyamuk DBD dengan cara Pemberdayaan Masyarakat melalui Kader
JUMANTIK = Juru Pemantau Jentik.