Anda di halaman 1dari 115

IMPLEMENTASI GOOD GOVERNANCE DALAM BIDANG ADMINISTRASI DESA

STUDI KASUS DANA DESA DI DESA JUBUNG KECAMATAN SUKORAMBI


KABUPATEN JEMBER

SKRIPSI

Oleh :

HERIANSYAH FUTRA
NIM 1210511019

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2016
ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi bahwa desa memiliki otonom yaitu kewenangan untuk
mengatur ruamah tangganya sendiri. Kewenagan tersebut semakin diperkuat dengan adanya
kebijakan implementasi good governance dalam melaksananakan proyek Dana Desa (DD) untuk
membantu desa melaksanakan pembangunan, dan bagaimana desa melaksanakan kebijakan good
governance dalam melaksanakan proyek dana desa tersebut, sesuaikah dengan peraturan
perundang-undangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran pelaksanaan
Dana Desa, serta faktor-faktor yang mempengaruhi Implementasi kebijakan Dana Desa dan
memberikan rekomendasi bagi pemerintah desa dalam pengelolaan Dana Desa. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah mrtode deskriptif kualitatif, dimana instrumen utama dalam
penelitian adalah peneliti sendiri. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan data
sekunder. Dalam penelitian ini, penulis juga menggunakan penelitian survey.
Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi kebijakan Dana Desa (DD) di Desa
Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember sudah terlaksana dan sesuai dengan perinsip
good governance. demikan juga apabila dikaitkan dengan pencapaian tujuan, pelaksanaan tata
kelola Dana Desa (DD) di Desa Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember sudah optimal.
Tujuan adanya peningkatan kemampuan lembaga kemasyarakatan di desa dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian pembangunan sudah berjalan secara optimal. Demikian juga tujuan
peningkatan partisipasi swadaya gotong royong masyarakat sudah berjalan secara optimal.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Implementasi kebiajakan pelaksanaan proyek
Dana Desa (DD) di Desa Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember adalah komunikasi,
kemampuan sumber daya, sikap pelaksana, struktur birokrasi, lingkungan serta ukuran dan tujuan
kebijakan.

Berdasarkan penelitian ini, saran yang bisa saya berikan kepada pihak desa yaitu dihimbau
bagi masyarakat hasil dari kegiatan pembangunan tersebut mengharap kepala desa itu untuk
merawat dan menjaga program pembangunan yang telah dilaksanakan.

Kata kunci : Implementasi, Good Gavernance, Dana Desa (DD)


ABSTRACK

The authority isstrengthened more by the existence of village fund policy for helping the
village to do a development and how the village does management system of it , whether it is
appropriate with the regulaition or not. The purpose of this research is to describe the
implementation of good governance village fund and the factors which influence it and give the
recommendation for the village goverment in managing it. The method which is used in this
research is qualitative-descriptive method, whose the main instrument is the reseachers himself.
The source of data are primary and secondary data. The reseacher also does a survey in this
research
The result of this research indicates that the implementationt of village fund policy in
Jubung village, Sukorambi district, Jember regency has been implemented. If it is related to the
purpors achievement, the implementation of village fund management system has been optimal.
The purpose of increasing the capability of society institution in the vilagge in planning,
implementing, controlling the development has been optimal. The increasing of society mutual
cooprationt of self-supporting has also been optimal. Some factors which influenced the
implementatiton of village fund policy in Jubung village, Sukorambi district, Jember regency are
communication, the ability of energy resource, the attitude of the doer, bureaucracy structure,
environment and measurement and purpose of the policy.
Based on this research, the suggestion which I can give to the village goverment is the
society and stake holder of the village should keep and maintain tje development program which
has been implemented continously

Key Words : Implementationt, Good Gavernance, Village Fund


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Seiring perkembangan jaman dana desa merupakan anggaran untuk membiayai program
pemerintahan desa untuk melaksanakan kegiatan pemerintahan dalam pembangunan di Desa,
pemberian dana desa merupakan wujud dari pemenuhan hak desa untuk menyelengggarakan
otonominya agar tumbuh dan berkembang mengukuti pertumbuhan dari desa itu sendiri
berdasarkan ke anekaragaman, partisipasi dan dmokratisasi.
Lahirnya Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (UU Desa) memberikan
harapan baru pada pembangunan dengan mengangarkan dana di tingkat Desa. UU Desa
memberikan ruang bagi desa untuk menjadi aktor pembangunan dengan mengedepankan bantuan
kepada desa yang keberadaannya sebagai entitas kultural sekaligus pemerintahan. negara
mengakui adanya desa sebagai salah satu entitas sosio-kultural yang secara historis ada sebelum
negara Indonesia dideklarasikan.
UU Desa memperjelas posisi desa sebagai salah satu bagian integeral dari negara yang
diatur secara spesifik mengingat keunikan unit sosio-kulturalnya. Otonomi Desa kini bukan lagi
bagian dari otonomi daerah yang diserahkan ke desa, melainkan pemberian atas hak asal-usul yang
melekat pada desa sebagai bagian dari hak bawaan. Kedudukan desa tidak lagi berada di bawah
dan di dalam pemerintahan daerah; melainkan berkedudukan di Kabupaten atau kota (Pasal 5).
Pasal 4 UU Desa menjabarkan tujuan dari proses yang disebut sebagai pengaturan desa. Tujuan
pokok dari “pengaturan desa” dalam UU Desa mencakup:
1. Memberikan pengakuan dan penghormatan atas Desa yang sudah ada dengan
keberagamannya, sebelum dan sesudah NKRI;
2. Memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas Desa dalam sistem ketatanegaraan
RI;
3. Melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat Desa;
4. Mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat untuk pengembangan potensi
dan Aset Desa guna kesejahteraan bersama;
5. Membentuk Pemerintahan Desa yang profesional, efisien dan efektif, terbuka, serta
bertanggung jawab;
6. Meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat desa;
7. Meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat Desa;
8. Memajukan perekonomian desa dan mengatasi kesenjangan pembangunan;
9. Memperkuat desa sebagai subjek pembangunan.
Pemahaman di atas menempatkan desa sebagai suatu organisasi dan pemerintahan yang
secara politis memiliki kewenangan tertentu untuk mengurus dan mengatur warga atau
komonitasnya. Dengan posisi tersebut desa memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang
kesuksesan pemerintah Nasional secara luas maka desa harus mampu mengelola dana desa untuk
menumbuhkan desa lebih berkembang dan memperkuat desa. Desa menjadi garda terdepan dalam
menggapai keberhasilan dari segala urusan dan program dari pemerintah.
Dengan di undangkanya undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa serta Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber Dari APBN dana
desa tersebut merupakan amanat langsung dari undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 yang baru
saja dilantik untuk mewujudakan program desa berkaitan dengan tata kelola kepemerintahan desa.
Berdasarkan ketentuan ini desa diberi pengertian sebagai kesatuan masyarakat hukum yang
memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati
dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonisia.
Dalam dokumen APBN 2015 yang telah disepakati pasal 2 PP No. 60 Tahun 2014,
disebutkan bahwa Dana Desa dikelola secara tertib, taat kepada peraturan perundang-undangan,
efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan
dan kepatuhan serta mengutamakan kepentingan masyarakat setempat. Dalam regulasi juga
disebutkan bahwa penyelenggaraan pemerintahan Desa menganut asas desentralisasi dan tugas
pembantuan. Asas desentralisasi menimbulkan pendanaan internal Desa (APBD Desa), sementara
asas tugas pembantuan memberikan peluang bagi Desa memperoleh sumber pendanaan dari
pemerintahan yang ada diatasnya (APBN).
Di dalam pasal 4 PP Nomor 60 tahun 2014 menyebutkan bahwa Dana Desa bersumber
dari belanja pemerintah dengan mengefektifkan program yang berbasis desa secara merata dan
berkeadilan, meskipun di dalam pasal 8 ayat 1 dijelaskan bahwa anggaran Dana Desa merupakan
bagian dari Anggaran Belanja Pusat non K/L sebagai pos Cadangan Dana Desa (CDD). Pagu CDD
ini nantinya akan diajukan oleh pemerintah kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan menjadi
pagu Dana Desa. Dalam pasal 72 ayat (2) UU Nomor 6 Tahun 2014 juga disebutkan bahwa Dana
Desa bersumber dari belanja pusat dengan mengefektifkan program yang berbasis desa secara
merata dan berkeadilan.
Sesuai regulasi yang dimaksud dengan keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban
desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang
berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa.
Di dalam penjelasan pasal 72 ayat (2), besaran alokasi anggaran yg peruntukannya langsung ke
desa, ditentukan 10% dari dan diluar dana transfer ke daerah (on top) secara bertahap. Dalam
penyusunannya, anggaran yg bersumber dari APBN untuk desa dihitung berdasarkan jumlah desa
dan dialokasikan dengan memperhatikan jumlah penduduk (JP), angka kemiskinan, luas wilayah
(LW), dan tingkat kesulitan geografis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan
pembangunan desa.
Perwujudan otonomi masyrakat desa adalah suatu peroses peningkatan kemampuan
masyarakat utnuk berpartisipasi menuju kehidupan masyrakat dengan perinsip dari, oleh
masyrakat. Ini berarti otonomi masyarakat desa merupakan demokrasi. Menguatnya fungsi
perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan serta meningkatnya kemampuan
keuangan desa utnuk membiayai kegiatan-kegiatan di desa baik yang bersumber dari swadaya
masyrakat maupun sumber lainya.

Pemerintah desa merupakan ujung tombak penyelenggaraan negara, karena pemerintah


desa merupakan bagian dari kekuasaan pemerintah yang secara langsug berintraksi dengan
masyarakat. Dengan demikian pemrintah desa harus berperan aktif khususnya dalam Implementasi
good gavernance dalam bidang Administrasi desa yang mengatur dana desa utnuk menstabilkan
baik dalam pelayanan publik maupun program lainya yang sudah menjadi tanggung jawab
pemerintah desa dalam pelaksanaan tugas, fungsi, kewenangan, hak, dan kewajiban untuk
tercapainya cita-cita yang diinginkan.
Sebagai kosekuensi logis adanya kewenangan dan tuntunan dari pelaksanaan otonomi desa
adalah tersedianya dana yang cukup, sadu wasistiono (2006;107). Meskipun desa seharusnya
menjadi basis otonomi, kebanyakan desa menanghadapi masalah yang sama. Pertama: desa
memiliki sumber pendanaan yang kecil dan sumber pendapatannya sangat tergantung pada
bantuan yang sangat kecil pula. Kedua: kesejahteraan masyarakat rendah sehingga susah bagi desa
mempunyai pendapatan Asli Desa (PADes) yang tinggi. Ketiga: masalah itu diikuti oleh rendahnya
Dana Operasional Desa untuk menjalankan pelayanan. Keempat: tidak kalah penting bahwa
banyak program pembangunan masuk ke desa.
Pada 2015 pemerintah mengeluarkan kebijakan Anggaran dana desa, yang ditandai dengan
terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2014, yang tujuannya lebih mengarah pada
pemberdayaan desa untuk menciptakan tata kelola pemerinthan yang baik (goood gavernance)
dalam Administrasi desa yang pada pengaturan dana desa untuk mewujudkan pelayanan publik.
Salah satu ciri pelayanan yang baik adalah dapat memberikan kepuasan bagi yang memerlukan
karena cepat, mudah, dan bila ada biaya maka harus ada kepastian dapat terjangkau. Disamping
itu pelayanan harus relatif dekat dengan yang memerlukannya, posisi Pemerintah yang paling
dekat dengan masyarakat adalah pemerintah Desa.
Dikaitkan dengan pemerintahan desa yang keberadaannya adalah berhadapan langsung
dengan masyarakat maka sejalan dengan otonomi daerah yang dimaksud, upaya untuk
memberdayakan (empowering) Pemerintahan desa harus dilaksanakan dan tidak dapat ditunda-
tunda lagi agar memunculkan tata kelola pemerinthan yang baik (goood gavernance) dalam
Administrasi desa yang mengarah pada kesejahteraan masyrakat. Sedangkan dari segi
pengembangan peran serta masyarakat , maka Pemerintah Desa selaku Pembina, pengayom dan
pelayan kepada masyarakat yang sangat berperan dalam menunjang mudahnya digerakkan untuk
berpartisipasi.
Dana Desa sebetulnya memiliki potensi luar biasa dalam upaya mempercepat pertumbuhan
dan pembangunan Desa dalam rangka mengatasi berbagai persoalan yang selama ini ada. Namun
bagaimana menjaga supaya pemanfaatan tersebut tetap di koridor yang diharapkan, menjadi PR
bersama seluruh elemen bangsa di Indonesia. Harapannya, dengan anggaran yang meningkat maka
desa dapat mengembangkan kualitas dan kesejahteraan masyarakatnya. Masyarakat desa yang
berkualitas tentu menjadi input yang bermanfaat baik bagi desa itu sendiri maupun bagi daerah
lainnya. Desa yang maju ditunjang oleh perkembangan kota yang bijak, akan membawa Indonesia
ke arah masa depan yang lebih gemilang. Untuk itu mari kita wujudkan seluruh-mimpi tersebut,
mumpung belum terlambat.
Tujuan pencairan anggaran dana desa meliputi :
1. Meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan desa dalam melaksanakan pembanggunan
sesuai dengan kewenangannya.
2. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyrakatan di desa dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian pembangunan secara partisipatif sesuai dengan potensi yang
dimiliki.
3. Meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha bagi
masyarakat desa serta dalam rangka pengembangan kegiatan sosial ekonomi masyarakat.
4. Mendorong peningkatan partisipasi swadaya gotong royong swadaya masyarakat.
Informasi tentang Anggaran dana desa dalam suatu organisasi dapat digunakan untuk
mengevaluasi apakah proses dana desa dilakukan organisasi selama ini sudah sejalan dengan
tujuan yang diharapkan atau belum, dalam hal ini, pelaksanaan good gavernance di desa jubung
kecamatan jubung kabupaten jember merupakan salah satu cara untuk menstabilakn kesejahteraan
masyarakat melalui dana desa untuk mencapai tujuan reformasi yaitu mewujudkan pemerintahan
yang baik khususnya dalam bidang Administrasi.
Sesuai mimpi dan cita-cita pemerintah lantas menjalankan UU No 6 tahun 2014 atau yang
dikenal dengan UU Desa. Dana Desa, adalah satu ketentuan UU tersebut menjalakan kesiapan
desa utnuk mengerjakan tugas menyusun perencanaan, sesuai dengan kewenangannya. Di iringi
hal tersebut khusunya kepala desa dan perangkatnya masih banyak yang belum siap betul terkait
dengan pengelolaan dana desa dan pertanggung jawabanya rasa takut yang membelit kepala desa
menyebabkan pencairan dana desa bisa tertunda. Banyaknya peraturan bupati dan wali kota yang
memang banyak sekali aturannya sehingga menghabat pencairan dana desa yang langsung dari
daerah dari kabupaten menuju ke desa-desa. Banyak desa yang menerima pencairan dana desa tapi
masih ada yang kesulitan untuk menggunakan dana desa tahun 2015 karena belum mampu
membuat rencana anggaran biaya dan laporan penggunaan dana. belum adanya peraturan menteri
tentang ketentuan tata cara pengalokasian, penyaluaran dana pengalokasian dan penggunaan dana
desa hal tersebut bisa memicu tidak berjalanya program yang baik dalam pemerintahan khususnya
di desa.
Desa jubung kecamatan Sukorambi adalah suatu mitra pemerintahan kabupaten jember
dalam penyelenggaraan atau pelaksanaan asas desentralisasi. Maka dalam rangka menciptakan
good gavernance dalam bidang administrasi desa Jubung khususnya dalam menyambut kesiapan
Adminitrasi desa terkait dengan anggaran dana desa, administrasi desa jubung harus menjadi suatu
organisasi yang mempunyai pelaksanaan program yang baik agar dapat mencapai sasaran yang
diinginkan.
Penelitian ini mengamati pelaksanaan Implementasi good gavernance dalam mutu
administrasi desa jubung kecamatan jubung kabupaten jember. Latar belakang penelitian ini
adalah untuk mengetahui peroses yang dilaksanakan adminitrasi dalam mengelola tata
keperintahan di desa jubung kecamatan jubung kabupaten jember.hal ini penting sebagai acuan
dalam pembenahan pelayanan agar dapat memberikan kepuasan yang optimal kepada pemerintah
dan masyarakat. Kepuasan masyarakat telah menjadi konsep sentral dalam manajemen modren.
Kualitas merupakan inti keberlangsungan hidup sebuah lembaga. Bertitik tolak dari uraian diatas,
maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Good Gavernance
Dalam Bidang Administrasi Desa Studi Kasus Dana Desa di Desa Jubung Kecamaan Sukorambi
Kabupaten Jember”.

1.2 Rumusan Masalah


Untuk memudahkan dalam penelitian ini dan agar penelitian ini memiliki arah yang jelas
dan menginterprestasikan data dan faka kedalam penulisan, maka terlebih dahulu dibuatkan
rumusan masalah. Adapun permasalahan yang diolah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kesiapan Administrasi desa dalam rangka pencairan dana desa di Desa
Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember?
2. Bagaimana kesiapan Administrasi Desa dalam rangka pelaksanaan dana desa di Jubung
Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember?
3. Bagaimana kesiapan Administrasi desa di Jubung Kecamatan Sukorambi kabupaten
Jember dalam rangka pelaporan dana desa

1.3 Tujuan Penelitian


1. Memberikan gambaran kesiapan Administrasi desa tentang dana Desa di desa
Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember.
2. Mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi dana Desa di Desa Jubung
Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Secara Praktis
Diharapkan dengan dilakukan penelitian ini pemerintahan desa mengimplementasikan
manfaat good gavernance dengan sebaik-baiknya semana mestinya.

2. Secara Teoritis
Diharapkan dengan dilakukan penelitian ini dapat kiranya memperkaya pengetahuan
penelitian serta dapat melatih diri dan mengembangkan pemahaman dan kemampuan
berfikir melalui penulisan-penulisan ilmiah tentunya dengan menerapkan pengetahuan
yang diperoleh selama belajar di Fakultas Isipol Jurusan Ilmu Pemerintahan
Universitas Muhammadiyah Jember.
3. Secara Akademis
Diharapkan dengan dilakukanya penelitian ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan
masukan bagi penulis dalam mengembangkan Ilmu Pemeritahan, khususnya pada
pemanfaatan tata kelola pemerintahan yang baik dan teratur (good gavernance).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Implementasi


Implementasi tahap dari proses kebijakan publik dalam sebuah negara. Implementasi
dilaksanakan setelah sebuah kebijakan dirumuskan dengan tujuan yang jelas. Menurut Van Meter
dan Van Horn (Wahab Solicin, 2001, 35) “implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan
baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau suasta
yang diarahkan kepada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan
kebijkan”.
Sedangkan menurut Syaokani, Afan Gafar dan Ryas Rasyid (2002, 295) mengatakan
bahwa : “implementasi merupakan suatu rangkaian aktivitas dalam rangka menghantarkan
kebijkan kepada masyarakat sehingga kebijkan tersebut bisa membawa hasil sebagaimana
diharapkan”. Ini dapat diartikan proses implementasi sebagai pengendalian untuk menjaga agar
tidak terjadi penyimpangan sumber dan penyimpangan dari tujuan implementasi, menjaga suapaya
implementasi benar-benar sampai kepada masyarakat.
Dari pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa implimentasi kebijakan
merupakan seperangkat kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah yang diikuti pertanyaan yang
diharapkan dalam rangka menghantarkan kebijakan pemerintah yang diinginkan. Implementasi
adalah proses untuk memastikan terlaksananya suatu kebijakan dan tercapainya kebijakan kegiatan
tersebut.
Jadi rangkaian kegiatan tersebut mencakup : pertama, persiapan seperangkat peraturan
lanjutan yang merupakan interprestasi dan kebijaksanaan tersebut dari Undang-Undang muncul
sejumlah peraturan pemerintah, keputusan presiden dan lain-lain. Kedua, menyiapkan sumber
daya guna menggerakan kegiatan implementasi termasuk didalamnya sarana dan prasarana,
sumber daya dan keuangan dan tentu saja penetapan siapa yang bertanggung jawab melaksanakan
kebijakan secara kongrit kepada masyarakat.
Secara sederhana menurut Coper implementasi kebijakan merupakan tahapan yang
menhubungkan antara rencana dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain
implementasi merupakan proses penerjemahkan pernyataan sesuatu kebijakan kedalam aksi
kebijakan (dalam Fadilah Putra, 2003, 45). Kompleksitas persoalan dalam imlementasi dapat
terlihat dari pertama, implementasi berkaitan dengan akumulasi dan akuisi sumber daya yang
dibutuhkan untuk mengarahkan program. Sumber daya tersebut meliputi personil, perlengkapan,
material dan anggaran keuangan.
Kedua, interprestasi dan perencanaan. Badan-badan yang dipercayakan untuk
mengimplementasikan suatu kebijakn harus terlebih dahulu menerjemahkan kebijakn tersebut
kedalam arahan-arahan, peraturan-peraturan serta desain dan rencan program yang riil. Proses ini
merupakan proses kritis karena kemungkinan timbulya mis-interprestasi atau interprestasi yang
melebar dimana terjadi ekspansi kepentingan oleh kelompok pemanfaat/sasaran kebijakan.
Ketiga, organisasi pelaksana, badan pelaksana yang diberikan otoritas sebagai implementer
kebijakan harus mengatur perencanaan dan aktivitas dengan membantu unit-unit pelaksana serta
rincian kegiatan rutin sesuai dengan badan kerjanya. Tahap ini juga merupakan tahap kritis karena
banyak faktor-faktor yang akan berusaha masuk kedalam struktur implementasi, baik untuk
sekedar mendapatkan imbalan maupun untuk memperjuangkan kepentingan tertentu.
Keempat, penentuan sasaran kebijakan, yaitu siapa saja yang akan mendapatkan
keuntungan atau pelayanan dari kebijakan dan siapa saja yang tidak termasuk dalam lingkup target
kebijakan tersebut. Jika pemantauan kebijakan tersebut dilakukan dengan angka, maka angka
tersebut mengandung makna inklus sekaligus induksi. Penetuan semacam ini selanjutnya akan
mempengaruhi realisasi aut put sesuatu program kebijakan.

2.2 Kebijakan Publik


Dewasa ini istilah kebijakan lebih sering dan secara luas dipergunakan dalam kaitannya
dengan tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan pemerintah serta perilaku negara pada
umumnya, atau sering kali deberikan makna sebagai tindakan politik. Hal ini semakin jelas
dengan adanya konsep kebijakan dari : Carl Freidrich yang mendefinisikan kebijakan sebagai
serangkaian tindakan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam
lingkungan tertentu dengan menunjukan hambatan-hambatana dan kesempatan.
James E. Anderson mendefinisian kebijakan adalah serangkaian tindakan yang mempunyai
tujuan tertentu yang diikuti seseorang pelaku atau sekelompok pelaku dan dilaksanakan oleh
seseorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu.
Sedangkan Amara Raksasataya menyebutkan bahwa kebijakan adalah suatu taktik dan
strategi yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu suatu kebijakan harus
memuat 3 (tiga) elemen, yaitu :
a. Identifikasi dari tujuan yang ingin dicapai.
b. Taktik atau strategi dari berbagai langkah untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
c. Penyediaan berbagai input untuk memungkinkan pelaksana secara nyata dari taktik atau
strategi.
Dalam pemahaman mengenai kebijakan publik masih terjadi adanya silang pendapat dari para
ahli. Namun dari beberapa pendapat mengenai kebijakan publik terdapat beberapa persamaan,
diantaranya yang disampaikan oleh Dye (Islamy, 2001) yang mendefinisikan kebijakan publik
sebagai apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Apabila
pemerintah memilih untuk melakukan sesuatu, maka harus ada tujuannya (obyektifnya) dan
kebijkan negara itu harus meliputi semua “tindakan” pemerintah, jadi bukan semata-mata
merupakan pernyataan keinginan pemerintah atau pejabat saja.
Disamping itu, “sesuatu yang tidak dilaksanakan” oleh pemerintah termasuk
kebijaksanaan negara. Hal ini disebabkan karena “sesuatu yang tidak dilakukan” oleh pemerintah
akan mempunyai pengaruh (dampak) yang sama besarnya dengan sesuatu yang dilakukan oleh
pemerintah. Kebijakan publik yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi persoalan-
persoalan riil yang muncul ditengah-tengah masyarakat untuk dicarikan jalan keluar baik melalui
peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah, keputusan pejabat birokrasi dan keputusan
lainnya termasuk peraturan daerah, keputusan pejabat politik dan sebagainya.
Dalam konteks ini, maka kebijakn publik yang dilakukan oleh pemerintah adalah untuk
mengatasi peroalan-persoalan riil yang muncul ditengah-tengah masyarakat untuk dicarikan jalan
keluar baik melalui peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah, keputusan pejabat
birokrasi dan keputusan lainnya termasuk peraturan daerah, keputusan pejabat politik dan
sebagainya.

2.3 Implementasi Kebijakan


Kebijakan publik selalu mengandung setidak-tidkanya tiga komponen dasar, yaitu tujuan
yang jelas, sasaran yang spesifik, dan cara mencapai sasaran tersebut. Komponen yang ketiga
biasanya belum dijelaskan secara rinci dan birokrasi yang harus menerjemahkannya sebagai
program aksi dan proyek. Komponen cara berkaitan siapa pelaksanya berapa besar dan darimana
dana diperoleh, siapa kelompok sasarannya, bagaimana program dilaksanakan atau bagaiman
sistem manajemennya dan bagaimana keberhasilan atau kinerja kebijakan diukur. Komponen
inilah yang disebut dengan impelemtasi (Wibawa, dkk., 1994: 15).
Impelementasi kebijakan, sesungguhnya bukanlah sekedar bersangkut paut dengan
mekanisme penjabaran keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin lewat
saluran-saluran birokrasi, melainkan lebih daripada itu, yang menyangkut masalah konflik,
keputusan dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan (Grindle, 1980).

Mengenai hal ini Wahab (2002: 59) menegaskan bahwa implementasi kebijakan
merupakan aspek penting dari keseluruhan proses kebijakan. Oleh sebab itu tidak berlebihan jika
dikatan implementasi kebijakn merupakan aspek yang penting dari keseluruhan proses kebijakan.
Bahkan Udoji (dalam Wahab, 2002: 59) mengatakan bahwa “pelaksanaan kebijakn adalah sesuatu
yang penting, bahkan jauh lebih penting daripada pembuatan kebijakan”.
Kebijkan-kebijakan akan sekedar berupa impian atau rencana bagus yang tersimpan rapi
dalam arsip kalau tidak diimplementasikan menurut Michael Howlett dan Ramesh (1995: 153)
mengenai implementasi kebijakan, menerangkan bahwa setelah masalah publik ditentukan, maka
itu merupakan jalan menuju agenda kebijakan, bermacam pilihan telah ditentukan untuk
memecahkannya, dan pemerintah telah membuat beberapa pilihan dari alternatif tersebut, yang
menempatkan keputusan menjadi pelaksanaan, implementasi kebijakan merupakan proses dari
sebuah program atau kebijakn dilaksanakan yang ditandai dengan terjemahan dari rencana menuju
pelaksanaan.
Senada dengan apa yang dikemukakan para ahli diatas, Winarno (2002: 29) mengemukan
bahwa “sesuatu program kebijakan akan hanya menjadi catatan-catatan elit saja jika program
tersebut tidak diimplementasikan”. Artinya, implementasi kebijakan merupakan tindak lanjut dari
sebuah program atau kebijakan, oleh karena itu suatu program kebijakan yang telah diambil
sebagai alternatif pemecahan masalah harus diimplementasikan, yakni dilaksnakan oleh badan-
badan Administrasi maupun agen-agen pemerintah ditingkat bawah.
Metter dan Horn (1975 : 6) mendefinisikan implementasi kebijakan sebagai tindakan yang
dilakukan oleh publik maupun swasta baik secara individu maupun kelompok yang ditunjukkan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan kebijakan. Definisi ini menyirakan
adanya upaya mentransformasikan keputusan dalam kegiatan operasional, serta mencapai
perubahan seperti yang dirumusukan oleh keputusan kebijakan.

Pandangan lain mengenai implementasi kebijakan dikemukakan oleh William dan Elmora
sebagai mana dikutip Sunggono (1994: 139), didefinisikan sebagai “keseluruhan dari kegiatan
yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan”. Sementara Mazmanian dan Sabatier (Wibawa dkk,
1986: 21) menjelaskan bahwa mempelajari masalah implementasi kebijkan berarti berusaha untuk
memahami apa yang senyata-nyata terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan
yakni peristiwa-peristiwa dan kegiatan-kegiatan yang terjadi setelah proses pengesahan kebijakn
negara, baik itu usaha untuk mengadministrasikannya maupun usaha-usaha untuk meberikan
dampak tertentu pada masyarakat ataupun peristiwa-peristiwa.
Pandangan tersebut diatas menunjukan bahwa peroses implementasi kebijakan tidak hanya
menyangkut perilaku badan-badan administrasif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan
program dan menimbulkan ketaatan pada diri target group, melainkan menyangkut lingkaran
kekuatan-kekutan politik, ekonomi dan sosial yang langsung atau tidak dapat mempengaruhi
perilaku dari semua pihak yang terlibat, dan pada akhirnya membawa konsekuensi logis terhadap
dampak baik yang diharapkan.

2.4 Implementasi Goood Governance


Dalam era reformasi sekarang ini mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance)
menjadi sesuatu hal yang tidak dapat ditawar lagi keberadaanya dan mutlak terpenuhi. Goood
governance, yang diterjemahkan menjadi tata kelola pemerintahan yang baik, adalah penggunaan
wewenang guna mengelola urusan-urasan pemerintah pada semua tingkat yang menjadi
kepentingan pemerintah untuk kesejahtraan dan cita-cita negara dalam membangun suatu daerah.
seamangat tata kelola pemerintahan dapat mewujudkan suatu pengelolaan pemerintahan yang
demokratis dan anspiratif dalam pemerintahan. Tata pemerintahan mencakup seluruh mekanisme,
peroses dan lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan
kepentingan khusunya di desa, menggunakan hak hukum.
Menguatnya isu-isu peningkatan perwujudan demokratisasi ditengah kecenderungan
peningkatan penerapan praktik mekanisme pasar dalam manajemen sektor publik tersebut
akhirnya mendorong munculnya kebutuhan dilakukannya reorientasi baru dalam rangka
melakukan reformasi sektor publik. Giddens (1998) menegaskan bahwa reformasi terhadap tata
penyelenggaraan pelayanan publik dan pembangunan hendaknya lebih diarahkan pada upaya
membangun good governance daripada sekedar government (Sobari, 2001: 90).
Konsep good governance diduga pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1991 din dalam
sebuah resolusi yang dikeluarkan oleh The Council of the European Community yang membahas
tentang human Right, Democracy, and Development. Menurut resolusi ini, diperlukan empat
prasyarat lain untuk mewujudkan sustainable development, yaitu mendorong penghormatan atas
hak asasi manusia, mempromosiakn nilai demokrasi, mereduksi budget pengeluaran meliter yang
berlebihan, dan mewujudkan good governance. Saat ini good governance mulai diperbincangkan
dan diakomodasi dalam berbagai konvensi dan resolusi yang beraitan dengan pembangunan, baik
di badan internasional UNDP maupun di Lome Convention, Badan bantuan pembangunan
multilateral dan bilatral.
Bahkan, melalui The Committe Development planning pada tahun 1992 Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan laporan yang mengidentifikasi problem dan tantangan dalam
mewujudkan good governance. Antara lain disebabkan oleh adanya sistem kekuasaan yang
tersentralisasi otakratis dengan birokrasi yang tidak efesien; disubordinasikannya institusi hukum,
birokrasi, dan lembaga pelayanan publik oleh kepentingan elite dan penguasa tertentu sehingga
mendorong munculnya praktik korupsi dan lemahnya akuntabilitas publik; kompetensi
pengetahuan dan keterampilan para pejabat di berbagai jabatan publik dan politik amat rendah;
serta tidak adanya partisipasi dari organisasi masyarakat sipil yang cukup kuat dalam proses
pembangunan.
Word Bank pada dekade 90-an menyatakan salah satu penyebab utama ketidakberhasilan
pembangunan adalah karena crisis of governance. Oleh karena itu, badan ini mulai agresif
mengajukan berbagai gagasan untuk memperomosikan ddan mewujudkan good governance.
Bahkan good governance juga mulai dijadikan sebagai salah satu instrumen kondisionalitas dalam
pemberian bantuan pembangunan oleh lembaga multilatral dan bilatral.
Makna govenance sangat berbeda dengan government. Rodhes (1996) mejelaskan konsep
governance lebih menunjuk pada:
1. Change in the meaning of government (perubahan dalam makna pemerintahan);
2. Referring a new process og governing (mengacu pada sebuah proses baru dalam
pemerintah);
3. A change condition of ordered rule (perubahan kondisi dalam tata pengaturan);

4. The new method by which society is governed (metode baru bagaimana masyarakat
diperintah).
Sementara itu, government seperti ditegaskan stoker (1998) secara spesifik lebih
menunjukan pada :
1. The formal institusions of the state (institusi negara yang resmi);
2. Monopoly of legitimate ceorcive power (monopoli kekuasaan pemaksa yang sah);
3. Its formal and institusional processes which operate at the level of nation state to maintain
public order and facilitate collective action (proses-proses formal dan institusional yang
berlangsung pada level negara nasional untuk menjaga ketertiban masyarakat dan
memfasilitasi tindakan bersama).
Dengan demikian, perbedaan mendasar antara government dan governance lebih terletak
pada aspek prosesnya (styles of governing) bukan pada output-nya. Seperti ditegaskan Sammy
Finner (1970) yang mendefinisikan governance sebgai:
1. Aktivitas atau proses pemerintah
2. Suatu kondisi dari aturan yang dijalankan
3. Orang-orang yang diberi tugas memerintah atau pemerintah.
4. Cara, metode ataur sistem dimana masyarakat tertentu diperintah (Wiharso, 2004;4)
Dengan demikian, esensi fokus governance lebih pada mekanisme atau proses
penyelenggaraan pemerintahan. Oleh karena itu, konsep governance bukan dimaksudkan untuk
mengantikan konsep new public management, namun lebih menekankan pada kesadaran akan
pentingnya pemerintahan yang baik. Maksudnya, pemerintahan yang mampu memenuhi empat
persyaratan utama, yaitu (1) memiliki legistimasi kuat; (2) akuntabel; (3) kompeten; dan (4) respek
terhadap hukum dan hak-hak asai manusia. Dengan demikian, new public management itu lebih
merupakan bagian dari strategi yang lebih luas dari governance itu sediri (Islamy, 2003 : 68).
Stoker (1998) dengan governance as theory mengemukakan adanya lima proposisi penting
dalam mewujudkan governance.
1. Governance refers to a set of instutions and actors that are drawn from but also beyond
government (Governance merujuk pada seperangkat institusi dan aktor yang bersal dari
dalam maupun dari luar birokrasi pemerintah).
2. Governance recognizes the blurring of boundaries and responsibilities for tackling social
and ekonomics issues (Governance mengakui batas dan tanggung jawab yang kabur dalam
menangani masalah sosial ekonomi).
3. Governance identifies the power dependence in volued in colektive action (Governance
mengenal adanya saling ketergantungan diantara institusi-institusi yang terlibat dalam
tindakan bersama).
4. Governance recognizes the capacity to get things done which does not rest on the power
of government to commandor use its authority. It see government as able to use new tools
and techniques to steer and guide. (Governance memahami kapasitas untuk
menyelesaikan semua masalah tidak sepenuhnya tergantung kepada kewenangannya, akan
tetapi governance percaya bahwa pemerintah mampu mengunakan cara-cara dan teknik-
teknik baru untuk mengarahkan dan membimbing).
Sejalan dengan konsepsi Rodhes (1996), Stoker (1998), dan lainnya, World Bank (1992)
mendefinisikan governance sebagai the way state power is used in managing economic and social
resources for development of society (suatu tata cara pengunaan kekuasaan negara dalam
mengelola sumber daya ekonomi dan sosial bagi pembangunan masyarakat). Makna serupa
dikemukakan UNDP (1997) yang mendefinisikan governance sebagai the exercise of political,
ekonomy, and administratif authority to manage a nations affair at all levels (pelaksanaan
kekuasaan politik ekonomi dan administratif untuk mengelola masalah-masalah nasional pada
keseluruhan jenjang pemerinthan) (LAN & BPKP, 2000).
Dari konsep tersebut, dalam konsep governance terdapat tiga kaki utama (three legs) dan
tiga dominan utama (three domains). Ketiga kaki utma dimaksud adalah political governance,
economic governance, dan administratif governance.
Political governance lebih mengacu pada proses pembuatan kebijakan. Ekonomic governance
mengacu pada proses pembuatan keputusan dibidang ekonomi yang berimplikasi pada masalah
pemerataan, penurunan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup. Sementara itu, administrative
governance lebih mengacu pada sistem imlementasi kebijkan.
Tiga dominan utama yang dimaksud mencakup unsur negara (stat), swasta (privatesector),
dan masyarakat sipil (civil society). Negara (state), pada masa mendatang memiliki tugas penting,
yakni mewujudkan pmebangunan manusia yang berkelanjutan dengan mendefinisikan kembali
peran pemerintahan dalam mengitegrasikan kehidupan sosial, ekonomi dan perlindungan
lingkungan, melindungi masyarakat dari kerentanan, menciptakan komitmen politik, menyediakan
infrastruktur, melakukan desentralisasi dan demokratisasi pemerintahan, memperkuat finansial
dan kapasitas administratif pemerintah local, yakni kota dan metropolitan. institusi pemerintah
juga perlu memberdayakan rakyat. Mereka diuntut untuk mampu memberikan layanan untuk
semua dan menjamin kesempatan yang sama baik dalam bidang sosial, ekonomi dan politik.
Semua kondisi ini akan tercapai apabila didukung dengan suatu lingkungan kelembagaan yang
kondusif, baik yang menyakut sistem dan proses legislasi dan yudisial yang tepat, legal, terpercaya,
dan efektif.
Pasar dan sektor swasta (private sector) juga memainkan peran penting dalam
pembangunan dengan mengunakan pendekatan pasar. Pendekatan pasar untuk pembangunan
ekonomi berkaitan dengan penciptaan kondisi yang kondosif sehigga produksi barang dan jasa
berjalan dengan baik. Kondisi membutuhkan adanya dukungan lingkungan yang mapan untuk
melakukan aktivitas sasta dalam bingkai berfungsinya insentif dan reward ekonomi, baik bagi
individu maupun organisasi yang memiliki kinerja baik.
Organisasi masyarakat sipil (civil society) adalah terwujudnya pembangunan manusia yang
berkelanjutan tidak hanya tergantung kepada berfungsinya negara dan sector swasta dengan baik,
namun juga pada kondisi masyarakat sipil yang mampu memfasilitasi intraksi sosial politik dan
mampu memobilisasi berbagai kelompok di dalam masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas
sosial, ekonomi, dan politik. Organisasi masyarakat sipil tidak sekedar melakukan check and
balance terhadap kekuatan negara dan swasta tetapi juga dapat memberikan kontribusi dan
memperkuat kedua unsur utama yang lainya tersebut.
Organisasi masyarakat sipil juga dapat membantu melakukan monitoring lingkungan,
menipisnya sumber daya, polusi, kekerasan sosial, membantu mendistribusikan hasil-hasil
pembangunan ekonomi secara lebih merata, dan menawarkan pada individu untuk memperbaiki
standar hidup mereka. Organisasi masyarakat sipil juga dapat menyalurkan partisipasi publik
dalam aktivitas sosial dan ekonomi dan mengorganisasikan publik untuk memegaruhi proses
kebijakan publik. Mereka juga berperan penting untuk mengurangi dampak potensial dari
ketidakstabian ekonomi, menciptakan mekanisme alokasi manfaat sosial dan menyalurkan suara
kelompok masyarakat miskin dalam pembuatan kebijakan publik dan pemerintahan. Mereka juga
akan sangat membantu untuk melindungi dan memperkuat kultur, keyakinan agama, dan berbagai
nilai-nilai kearifan lokal.
Ketiga komponen (unsur) kepemerintaha tersebut harus berhubungan secara harmonis
untuk mencapai adanya sinergi. Hubungan yang harmonis dan sinergi antar ketiga komponen
kepemerintahan ini akan tercapai apabila ketiganya memiliki kesamaan derajat dan peran serta
mampu melakukan saling kontrol yang efektif satu sama lain. Hubungan yang harmonis (sinergis)
antar ketiga komponen governance tersebut dapat diilustrasikan pada bagan seperti berikut.
Keseimbangan Hubungan Tiga Komponen Governance

state
civil
society
Private
sector

Adapun praktik terbaik dari governance kemudian sering disebut good governance. Good
dalm good governance mengandung dua pengertian. Pertama, mengandung makna tentang
orientasi ideal negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan negara. Berorientasi pada nilai-nilai
yang menjunjung tinggi kehendak rakyat dan nila-nilai yang dapat meningkatkan kemampua
rakyat dalam mencapai kemandirian, pembangunan berkelanjutan, keadilan sosial, demokratisasi
dalam kehidupan bernegara seperti legitimasi, akuntabilitas, perlindungan HAM, otonomi dan
devolusi kekuasaan, pemberdayaan masyarakat sipil, dan sebagainya.
Kedua, mengandung makna tentang aspek-aspek fungsional pemerintahan yang efektif
dan efisien, atau pemerintahan yang berfungsi ideal, yaitu mampu berfungsi secara efektig dan
efisien dalam upaya pencapaian tujuan nasional. Hal ini akan sangat tergantung kepada sejauh
mana pemerintahan mempunyai kompetensi serta sejauh mana strukturdan mekanisme politik dan
administratif mampu berfungsi secara efektif dan efisien.
M. Adil Kahn (1966) menyatakan dari sisi administrasi pembangunan good governance
dapat didefinisikan sebagai berikut.
“...an overal instutional framework, within which its citizens are allowed to interact and
transact freely, at different levels, to fulfill its political, economic and sosial aspiration.
Basically, governance has there aspect : (i) theability of citizens to express views and
access desicion making freely; (ii) the capacity of the government agencies (both political
and bureauctric) to translate these view into realistic plants and to implement them cost
efectively; and (iii) the ability of citizens and instruction to compare what has been asked
for with what has been planed, and to compare what has been planned with what has been
implemented” (Tjokrowinoto, 2001 : 3).
Sementara itu dari sisi teori pembangunan, selanjutnya M. Adil Kahn (1966) menyatakan
good governance dapat didefinisikan sebagai berikut.
“...a political and bureaucratic framework which provides an enabling macro-economic
environment for invesment and growth, which pursues distributional and equity related
policies; which makes entrepreneurial interventions when and where required and which
practices honest and efficient management principles. A committed and imaginative
polotical leadership accompanied by an efficient and accountable bureaucracy does seem
to be the jet to the establisment of good governance in a country” (Tjokrowinoto, 2001:3)
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa good governance pada dasarnya
berkaitan dengan upaya perbaikan kinerja sektor publik yang dilakukan melalui pengembangan
dan penguatan hubungan yang harmonis (adanya sinergi) antara kekuatan negara (state), swasta
(private or market). Dan msyarakat sipil (civil society) yang didukung oleh adanya penataan
kembali keseimbangan kekuasaan dan peran ketiga kekuatan sentral dalam pendayagunaan aneka
sumber daya ekonomi dan sosial bagi pembangunan. Oleh karena itu, seperti dikemukakan oleh
World Bank (1992) good governance dapat didefinisikan sebagai “penyelenggaraan manajemen
pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar
yang efisie, penghindaran salah alokasi dana investasi, dan pencegahan korupsi baik secara politik
maupun administratif, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political
framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha (Mardiasmo, 2002:24)
Selanjutnya, UNDP memformulasikan ciri-ciri sekaligus sebagai prinsip utama untuk
mewujudkan good governance.
1. Participation, keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan, baik secara langsung
maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya.
Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta
berpartisipasi secara konstruktif.
2. Rule of Law, kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
3. Transperecy, adanya keterbukaan yang dibangun atas dasar kebebasan memperoleh
informasi. Informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik dapat diperoleh secara
langsung dan tepat waktu bagi yang membutuhkan.
4. Responsiveness, lembaga-lembaga publik harus cepat dan tanggap dalam melayani
stakeholder.
5. Consensus Orientation, berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.
6. Equity, setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh
kesejahteraan dan keadilan.
7. Efficiency and Effectivenes, pengolahan sumber daya publik dilakukan secara berdaya guna
dan berhasil guna..

8. Accontabillity, pertanggung jawaban kepada publik atas setiap aktivitas yang dilakukan.
9. Strategy vision, penyelenggaraan pemerintahan dan masyarakat harus memiliki visi jauh
ke depan (Mardiasmono: 2002:24)
Dari elaborasi terhadap konsep governance dan good governance tersebut, selanjutnya
dapat ditegaskan adanya tujuh penggunaan istilah yang disinonimkan dengan governance. Istilah
nomor 1 diajukan Minogue, dkk (1998) dan istilah nomor 2-7 disitir dari Rodhes (1996) (Winarso,
2004:4-5). Ketujuh istilah yang sinonim dengan governance yang dimaksud adalah:
1. Sebagai good government
2. Sebagai negara dalam keadaan minimal
3. Sebagai cara menjalankan perusahaan
4. Sebagai manajemen publik baru
5. Sebagai caramemerintah yang baik
6. Sebagai sistem sosio-sibernetik
7. Sebagai jaringan pengorganisasian diri (Wiharso, 2004:5).
Sebagai good government seperti yag ditegaskan Minoge dkk(1998), governance berkaitan
dengan pentingnya pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang dicirikan dengan adanya
empat komponen pokok, yaitu (1) legitimasi (mendapatkan persetujuan dan pengakuan dari yang
diperintah/rakyat); (2) akuntabilitas (adanya mekanisme menjamin para penjabat publik dan
pemimpin politik bertanggung jawab terhadap tindakan yang diambil dan dalam penggunaan
sumber daya publik, terbuka, dan media massa yang bebas); (3) kompeten (mampu membuatvdan
melaksanakan kebijakan publik dengan tepat dan memberikan pelayanan publik yang efisien); dan
(4) menghargai hukum dan perlindungan terhadap HAM sebagai penopang seluruh sistem
pemerintahan yang baik (Wiharso, 2004: 6)
Sebagai negara keadaan minimal, governance berkaitan dengan pengurangan anggaran
publik yang telah begitu membengkak, ukuran pemerintahan dikurangi melalui privatisasi dan
pengurangan dalam penyelenggaraan pelayanan publik secara langsung. Sebagai cara mengelola
perusahaan, governance berkaitan dengan memberikan seluruh arahan dengan mengatur dan
mengawasi tindakan manajemen dan pemenuhan kepuasan kepada seluruh pihak terkait serta
didukung adanya sistem pertanggumgjawaban yang efektif. Sebagai manajemen publik baru,
governance berkaitan dengan persoalan transformasi, peran pemerintah yang lebih menekankan
pada peran pengarahan dan penyelenggaraan pelayanan publik secara langsung (steering than
rowing) serta perwujudan ciri kepemerintahan yang berwirausaha (entrepreneurial goernment).
Sebagai cara mengendalikan pemerintahan yang baik, governance berkaitan dengan
pelaksanaan kekuasaan pemerintahan untuk mengelola masalah-masalah publik melalui penguatan
peran pasar dan pengembangan demokrasi politik. Sebagai sistem sosio-sibenertik, seperti
ditegaskan Kooiman (1993) governance berkaitan dengan cara mengendalikan pemerintahan
sebagai hasil (efek) total dari campuran tangan dan interaksi yang bersifat sosial, politis, dan
administratif. Sebagai jaringan pengorganisasian diri, governance berkaitan dengan sebuah
pengembangan jaringan antar organisasi pemerintah maupun non pemerintah dalam rangka
penyelenggaraan kekuasaan pemerintah maupun pemberia layanan [ublik.
Konsep good governance seperti yang telah dielaborasi, di samping banyak diwarnai dan
dilandasi teori governance (governance theory) seperti yang dilakukan Rodhes (1996) dan Stoker
(1998) dan lain-lain,juga banyak diwarnai dan dilandasi oleh teori dominan publik (public domain
theory) seperti diajukan oleh J.Stewart and S. Ranson (1994).
Seperti ditegaskan oleh Islamy (2003), public dominan dapat digambarkan sebagai arena
atau organisasi untuk mengejar atau memenuhi nilai-nilai kolektif. Public dominan ini diperlukan
untuk mengatasi ketidaksempurnaan pasar, dimana kebutuhan berbagai kebutuhan pelayanan
masyarakat atau redistribusi sumber tidak dapat disediakan oleh pasar. Selain itu, juga diperlukan
untuk memenuhi nilai-nilai khas yang harus ada pada setiap manajemen sektor publik seperti
equety dan equality. Dengan kata lain, manajemen sektor publik tidak hanya ditunjukan untuk
mencapai tujuan sektor publik secara efektif dna efesien tetapi juga secara adil dan mereata. Ada
beberapa alasan mengapa model atau teori publik dominan ini sangat diperlukan dan penting.
1. Ketidaktepatan model-model manajemen sektor private untuk mengkaji manajemen
sektor publik, sehingga diperlukan model khusus.
2. Penyusunan model manajemen sektor publik dapat dimulai dengan menetapkan tujuan-
tujuan, persyaratan-persyaratan, dan tugas-tugas public dominan.
3. Mengatasi dilema yang ada agar dapat tersusun model manajemen sektor publik yang
tepat.
4. Menyusun suatu pendekatan manajemen dominan publik yang khas dan jelas tujuan-
tujuannya, persyaratan-persyaratan, dan tugas-tugas termasuk pula dilema yang
dihadapinya (Islamy, 2003 : 76).
Akhir-akhir ini, banyak sekali model manajemen swasta mendominasi pemikiran
manajemen sektor publik seperti yang diajukan dalam pendekata manajemen publik baru.
Disadari. atau tidak, mengadopsi model sektor swasta ke dalam manajemen sektor publik
mengandung resiko karena banyak aspek manajemen sektor publik yang sangat berbeda dengan
manajemen sktor privat. Meskipun demikian, antar keduanya sesungguhnya dapat saling belajar
pengalamannya satu sama lain.
Berdasarkan teori dominan publik tersebut, ada sejumlah prinsip penting dalam pendekatan
manajemen publik yang perlu diperhatikan.
1. The learning process, dimana sektor publik merupakan setting bagi proses
pembelajaran masyarakat sehingga proses pemerintahan pun harus dapat dipandang
dan diwujudkan sebagai proses pembelajaran itu sendiri.
2. Response and direction in strategy, dimana proses pemerintahan merupakan hubungan
antara yang memerintah dan yang diperintah, antara respons dan direksi/arahan. Proses
politik lewat debat, diskusi publik, dan lain-lain dapat menjadi bimbingan dalam
menentukan respons dan arahan. Oleh karena itu, strategi dalam sektor publik tidak
perlu dibatasi bidang-bidang atau area-area sasarannya mengingat banyak nilai,
kepentingan, dan aspirasi yang harus diseimbangkan. Tugas manajemen sektor publik
lebih mngembangkan proses perencanaan strategis yang didasarkan atas realitas seperti
ini.

3. The budgettary process, dimana alokasi nilai, penyeimbangan kepentingan, dan


penilaian kebutuhan diterapkan lewat proses politik (struktur tawar-menawar), bukan
semata-mata berdasarkan harga pasar.
4. Decision making, dimana keputusan dibuat dengan lebih bersifat sarat nilai yaitu nilai
kolektif. Manajemen publik harus peka terhadap nilai ini sebab bila tidak akan
bertentangan dengan tujuan sektor publik itu sendiri. Untuk itu perlu dikembngkan
pendekatan-pendekatan bagi pembuatan keputusan karena kriteria perlu diubah, nilai
perlu dicari, hasil dari proses politik, biaya seta keuntungan dari keputusan tersebut
jarang sekali dapat ditentukan sebelumnya, dan kepentingan publik banyak yang tidak
jelas.
5. Management control and the management of action, dimana respon masing-masing
individu perlu dikonsiliasikan dengan aturan dan prosedur. Tindakan kolektif tidak
perlu dibatasi karena adanya uniformitas aturan dan prosedur, selain itu penyediaan
atas barang maupun jasa publik tidak perlu harus menghapuskan pilihan individual.
6. The management of interaction, dimana kerjasama dan interaksi harus selalu
diupayakan di tengah konflik dan persaingan yang tidak dapat dihindari dan harus
dihadapi.
7. Perfomance monitoring, dimana monitoring dan penilaian terhadap kinerja disamping
harus dilakukan pada berbagai level dan juga harus menggunakan indikator yang
beragam. Bukan hanya menilai efektif dan efisiensi biaya, tetapi juga banyak dampak
yang dikehendaki, termasuk nilai yang ditolak oleh publik. Oleh karena itu, penilaian
dan pegukuran kinerja sektor publik mencakup kinerja yang berdimendi banyak
menggunakan indikator mutu da menganalisis nilai yang bersifat sembunyi.
8. Staffing policies, dimana pemimpin organisasi harus mampu mengembangkan
kebijakan kepegawaian yang dapat menjembatani antara fungsi kontrol politik dengan
staf, antara hak-hak warga negara dan hak staf, dan antara akuntabilitas publik dengan
inisiatif staf.

9. Revolutions with customer and citizen, dimana manajemen publik justru harus semakin
memperkuat posisi anggota masyarakat sebagai citizen yang memiliki sejumlah hak-
hak dan bukan sekedar memosisikannya untuk bertindak hanya sebagai konsumen
seperti di sektor swasta.
10. Public accountability, dimana setiap anggota organisasi publik harus dapat
mempertanggungjawabkan tindakannya kepada publik dan akuntabilitas ini harus
menjadi kebutuhan bagi organisasi publik itu sendiri. Akuntabilitas publik sangat luas,
baik bentuk dan jenis substansinnya (Islamy, 2003:83-87).
Dari keseluruhan deskripsi tersebut, dalam konteks study administrasi publik dapat
ditegaskan tiga dimensi penting dari governance (Dwiyanto, 2004:21-23). Pertama, dari dimensi
kelembagaan dimana governance adalah sebuah sistem administrasi yang melibatkan banyak
pelaku (multi-stake-holders), baik dalam lingkungan pemerintah maupun non pemerintah.
Kedua, nilai yang menjadi dasar dalam penggunaan kekuasaan. Governance melibatkan
nilai-nilai yang jauh lebih kompleks daripada sekedar efisiensi dan efektifitas ataupun seperti yang
ditawarkan dalam gerakan administrasi negara baru seperti keadila, kebebasan, dan kemanusiaan.
Misalnya, UNDP memformulasika nila-nilai itu mencakup participation, rule of law,
transparency, responsiveness, consensus orientation, equity, effeciency and effectiviness,
accountabillity, strategy vision (Mardiasmo, 2002:24). Atau, governance tidak sekedar berkaitan
dengan nilai Three E (efektivitas, efisiensi, dan ekonomi) dan nilai-nilai Three R (responsivitas =
daya tanggap, representativitas = keterwakilan, dan responsibilitas = pertanggung jawaban atau
akuntabilitas), tetapi berkaitan juga dengan nilai-nilai yang lebih bersifat politis seperti
demokratisasi, kejujuran, keadilan, persamaan gender, perlindungan HAM, dan sebagainya.
Keseluruhan nilai utama ini merupakan sebuah kesatuan integral yang saling terkait dan tidak
dapat dipisahkan dalam rangka perwujudan governance itu sendiri.
Ketiga, dimensi proses dimana governance berkenaan dengan sebuah proses yang
menjelaskan bagaimana berbagai unsur dan lembaga memberikan respons terhadap berbagai
massalah publik yang muncul dalam lingkungannya. Sebuah proses bagaimana para pemimpin dan
inovator kebijakan dari berbagai lembaga yang ada didalam da diluar pemerintahan
megembangkan jaringa untuk mengelola proses kebijakan publik.
Dengan demikian, administrasi publik dalam konteks governance lebih didefinisikan
sebagai proses penggunaan kekuasaan administratif, politik, dan ekonomi untuk menyelesaikan
masalah-masalah publik (Dwiyanto, 2004: 17). Bukan lagi sekedar administrasi publik sebagai
sebuah kegiatan kerjasama dalam lingkungan pemerintahan yang mencangkup cabang legislatif,
eksekutif dan yudikatif seperti banyak dipahami seperti yang telah berkembang selama ini.
Selanjutnya, satu hal penting yang perlu dicatat dalam rangka mewujudkan good
governance bahwa terjadinya pergeseran peran birokrasi pemerintah untuk lebih banyak
memberikan pengarahan daripada memproduksi layanan (steering than rowing) buka berarti peran
birokrasi menjadi tidak penting. Akan tetapi, posisi dan peran birokrasi justru semakin strategis.
Pada satu sisi birokrasi akan dituntut untuk mampu menjembatani antara negara (state) da swasta
atau pasar (market). Pada sisi lain, birokrasi dituntut memiliki kemampuan untuk menjembatani
antara state dan society.
Dalam konteks kecenderungan liberalisasi ekonomi yang terjadi, kualitas entrepeneur
birokrasi diperlukan untuk menginterverensi pasar secara selektif berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan yang bersifat ad hoc untuk menjamin berfungsinya pasar secara sehat dan
menghindari terjadinya the blind force of the market. Untuk itu, kompetensi yang perlu dimiliki
oleh seorang birokrat mencakup beberapa hal sebagai berikut.
1. Sensitif dan responsif terhadap peluang dan tantangan baru yang timbul di dalam pasar.
2. Tidak terpaku dlam kegiatan rutin yang terkait dengan fingsi instrumental birokrasi, akan
tetapi harus mampu melakukan trobosan (breakthrought) melalui pemikiran yang kreatif
dan inovatif.
3. Mempunyai wawasan futuristis dan sistemis.
4. Mempunyai kemampuan untuk mengantisipasi, memperhitungkan, dan meminimalkan
resiko.
5. Mempunyai kemampuan untuk mngeombinasikan sumber menjadi resources mix yang
mempunyai produktivitas tinggi.
6. Mempunyai kemapuan megoptimalkan sumber yang tersedia dengan menggeser sumber
kegiatan yang berproduktivitas rendah menuju kegiatan yang berproduktivitas tinggi.
Bahkan, birokrat yang mempunyai kualitas entrepeneur secara sengaja sering kali
melakukan destabilization force dalam rangka menimbulkan creative destruction
equilibrium yang satu menuju equlibrium lain yang lebih tinggi. Sikap rasionalis,
impartilitas, dan impersional, mendasari kemampuan profesional ini. (Tjokrowinoto,
2001).
Kemudian untuk mampu menjebatani antara state dan sciety, birokrasi paling tidak akan dituntut
memiliki dua kompetensi pokok (Tjokrowinoto,2001). Pertama, birokrasi harus mampu
memberikan pelayanan publik dengan adil dan inklusif sebaik-baiknya. Hal ini menuntut
kemampuan untuk memahami dan mengartikulasikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat
sekaligus merumuskanya dalam kebijakan dan perencanaan serta mengimplementasikannya.
Kedua, birokrasi harus mempunyai kompetensi untuk memberdayakan masyarakat sipil
dengan menciptakan enabling social setting. Pendekatan top down yang selama ini menguasai
birokrasi dan masyarkat harus mengalami perubahan menjadi hubungan horizontal (leveling off)
Kompetensi (profesionalisasi) birokrasi yang dituntut good governance tersebut, tetntu
tidak terbetuk dengan sendirinya. Harus ada upaya sadar untuk mewujudkannya yang sering kali
menempuh proses yang panjang. Beberapa strategi dapat dilakukan di sini, yaitu :
1. Role Modeling. Standar perilaku dan pola perilaku birokrasi terbantuk antara lain melalui
keteladanan. Oleh karena itu, sikap spartan elit politik amat menentukan sosok
profesionalisme birokrasi.
2. Rekrutmen yang objektif, kondisi kerja yang kondusif, dan pelatihan yang tepat
merupakan instrumen pembentuk profesionalisme yang efektif.

3. Pendekatan proses belajar (learning process aproach) merupakan wacana yang efektif bagi
pembentukan profesionalisme ini. Pendekatan ini memberi margin tolerasi yang besar bagi
birokrasi untuk berbuat kesalahan (embracing error) dalam proses pembentukan dan
penyempurnaan profesionalisme karena kesalahan akan menjadi input untuk perbaikan
diri. Melalui kesalahan tadi, birokrat akan belajar efektif (learning efective) dan dari sana
akan melangkah menuju belajar efesien (learning to beexpand).
4. Pembentukan profesionalisme tadi harus dilakukan secara bersama-sama dengan
penguatan organisasi (organizational stenghening) yang memfokuskan diri pada sistem
manajemen untuk meningkatkan kinerja pada struktur mikro dan reformasi kelembagaan
(institutional reform) yang memfokuskan diri pada struktur makro kelembagaan.
5. Profesionalisme birokrasi menuntut kemampuan empowering masyarakat sipil melalui
pembentukan enabling social setting namun pembentukan profesionalisme juga
memerlukan kontrol sosial dari masyarakat sipil terhadap birokrasi. Untuk itu akan
menuntut adanya pengembangan mutal learning process antara birokrat dan masyarakat
sipil (Tjokrowinoto, 2001).
Dengan demikian, perwujudan good governance tidak cukup jika hanya didukung adanya
reformasi (perubahan) yang bersifat paradigmatis. Akan tetapi, juga membutuhkan adanya
institusional reform sekaligus manajemen reform (Mardiasmo, 2002: 26). Reformasi
kelembagaan (institusional reform) menyangkut pembenahan seluruh alat-alat pemerintahan, baik
struktur maupun infrastrukturnya. Kunci reformasi kelembagaan tersebut adalah pemberdayaan
masing-masing elemen kepemerintahan, yaitu masyarakat dan swasta sebagai stakeholder-nya dan
pemerintah sendiri (eksekutif, legeslatif dan yudikatf) sebagai stakeholder-nya. Good governance,
terutama hubungan yang harmonis atau sinergi antara mereka akan tercapai apabila antara unsur
negara, swasta, dan masyarakat memiliki kesamaan derajat atau kesemimbangan posisi dan peran,
serta mampu melakukan saling kontrol yang efektif di antara mereka. Apabila keseimbangan dan
saling kontrol ini tidak terwujud maka akan terjadi penyimpangan terhadap good governance itu
sendiri.
Sementara itu, reformasi menejemen (management reform) lebih terkait dengan perlunya
digunakan model manajemen pemerintah yang baru yang lebih sesuia dengan tuntutan
perkembangan zaman. Seperti penerapan sistem manajemen parsitipatif dan berorientasi kinerja
(participative and permormance management) melalui perencanaan strategis (strategic palnning),
perencanaan, dan penganggaran partisipatif (participative planning and budgeting), pegukuran
kerja, evaluasi dan penilaian kinerja, sistem akuntabilitas kinerja, maupun melalui privatisasi dan
aneka bentuk kontrak kerja atau kemitraan dengan pihak nonpemerintah. Melalui penerapan
manajemen publik yang lebih modern ini diharapkan akan mampu meningkatkan nilai-nilai,
terutama efektifitas, efesiensi, dan ekonomi dalam penggunaan aneka sumber daya publik bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
14 (empat belas) prinsip “good governance” versi BAPPENAS, yaitu :
1. Wawasan kedepan (visionary);
2. Keterbukaan dan Transparansi (openness and transparency);
3. Partisipasi Masyarakat (participation);
4. Tanggung Gugat (accountabillity);
5. Supremasi Hukum (rule of law);
6. Demokrasi (demokracy);
7. Profesionalisme dan kompetensi (profesionelism and competensy);
8. Daya tanggap (responsiveness);
9. Keefesienan dan keefektifan (efficiency and effectiveness);
10. Desentralisasi (decentralization);
11. Kemitraan dengan Dunia Usaha Swasta dan Masyarakat (private sector and civil
siciety partnership);
12. Komitmen pada Pengurangan Kesenjangan (commitment to reduce inequality);
13. Komitmen pada Lingkungan Hidup (commitment to environmental protection);
14. Komitmen Pasar yang Fair (commitment to fair market)

Ada tiga pilar utama yang mendukung kemapuan suatu bangsa dalam melaksanakan good
governance, yakni :
Negara atau pemerintah (the state), masyarakat adab, masyarakat sipil (civil society) dan
pasar atau dunia usaha penyelenggaraan pamerintahan yang baik dan bertanggung jawab baru
tercapai bila dalam penerapan otoritas politik, ekonomi dan administrasi ketiga unsur tersebut
memiliki jaringan dan intraksi yang setara dan sinerjik. Intraksi dan kemitraan itu biasanya baru
dapat berlkembang subur bila ada kepercayaan, transparansi, partisipasi, serta tata aturan yang
jelas dan pasti. Good governance yang sehat juga akan berkembang sehat dibawah kepemimpinan
yang berwibawa dan memiliki visi yang jelas.
Menurut UNDP ada 14 prinsip good governance, penulis memilih yang lebih lengkap
karena sudah menyangkut banyak unsur dan prinsip dalam menjalankan good governance dengan
masing-masing penjelasan terdapat 14 prinsip yang dapat terhimpun dari telusuran wacana good
governance, yaitu :
1. Wawasan kedepan (visionary);
2. Keterbukaan dan Transparansi (openness and transparency);
3. Partisipasi Masyarakat (participation);
4. Tanggung Gugat (accountabillity);
5. Supremasi Hukum (rule of law);
6. Demokrasi (demokracy);
7. Profesionalisme dan kompetensi (profesionelism and competensy);
8. Daya tanggap (responsiveness);
9. Keefesienan dan keefektifan (efficiency and effectiveness);
10. Desentralisasi (decentralization);
11. Kemitraan dengan Dunia Usaha Swasta dan Masyarakat (private sector and civil siciety
partnership);
12. Komitmen pada Pengurangan Kesenjangan (commitment to reduce inequality);
13. Komitmen pada Lingkungan Hidup (commitment to environmental protection);
14. Komitmen Pasar yang Fair (commitment to fair market)
Ke-empat belas prinsip good governance secara singkat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tata pemerintahan yang berwawasan kedepan (visi strategis), semua kegiatan
pemerintah diberbagai bidang dan tingkatan seharusnya didasarkan pada visi dan misi
yang jelas dan jangka waktu pencapainnya serta dilengkapi strategi implementasi yang
tepat sasaran, manfaat dan berkesinambungan.
2. Tata pemerintahan yang bersifat terbuka (transparan), wujud nyata prinsip tersebut
antara lain dapat dilihat apabila masyarakat mempunyai kemudahan untuk mengetahui
serta memperoleh data dan informasi tentang kebijakan, program, dan kegiatan
aparatur pemerintah, baik yang dilaksanakan ditingkat pusat maupun daerah.
3. Tata pemerintahan yang mendorong partisipasi masyarakat, masyarakat yang
berkepentingan ikut serta dalam proses perumusan dan/atau pengambilan keputusan
atas kebijakan publik yang diperuntukan bagi masyarakat, sehingga keterlibatan
masyarakat sangat diperlukan pada setiap pengambilan kebijakan yang menyangkut
masyarakat luas.
4. Tata pemerintahan yang bertanggug jawab/bertanggung gugat (akuntabel), instansi
pemerintah dan para aparaturnya harus dapat mempertanggungjawabkan pelaksanaan
kewenagan yang diberikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Demikian halnya
dengan kebijakan, program, dan kegiatan yang dilakukan dapat
dipertanggungjawabkan.
5. Tata pemerintahan yang menjungjung supermasi hukum, wujud nyata prinsip ini
mencakup upaya penuntasan kasus KKN dan pelanggaran HAM, peningkatan
kesadaran HAM, peningkatan kesadaran hukum, serta pemngembangan budaya
hukum. Upaya-upaya tersebebut dilakukan dengan menggunakan aturan dan prosedur
yang terbuka dan jelas, serta tidak tunduk pada manipulasi politik.
6. Tata pemerintahan yang demokratis dan berorientasi pada konsensus, perumusan
kebijakan pembangunan baik di pusat maupun daerah dilakukan melalui mekanisme
demokrasi, dan tidak ditentukan sendiri oleh eksekutif. Keputusan-keputusan yang
diambil antara lembaga eksekutif dan legislatif harus didasarkan pada konsensus agar
setiap kebijakan publik yang diambil benar-benar merupakan keputusan bersama.
7. Tata pemerintahan yang berdasarkan profesionalitas dan kompetensi, wujud nyata dari
prinsip profesionalisme dan kompetensi dapat dilihat dari upaya penilaian kebutuhan
dan evaluasi yang dilakukan terhadap tingkat kemampuan dan profesionalisme sumber
daya manusia yang ada, dan dari upaya perbaikan atau peningkatan kualitas sumber
daya manusia.
8. Tata pemerintahan yang cepat tanggap (respnsif), aparat pemerintah harus cepat
tanggap terhadap perubahan situasi/kondisi mengakomodasi aspirasi masyarakat, serta
mengambil prakara untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.
9. Tata pemerintahan yang menggunakan struktur dan sumber daya secara efisien dan
efektif, pemerintah baik pusat maupun daerah dari waktu ke waktu harus selalu menilai
dukungan struktur yang ada, melakukan perbaikan struktural sesuai dengan tuntutan
perubahan seperti menyusun kembali struktur kelembagaan seacara keseluruhan,
menyususn jabatan dan fungsi yang lebih tepat, serta selalu berupaya mencapai hasil
yang optimal dengan memanfaatkan dana dan sumber daya lainnya yang tersedia secara
efesien dan efektif.
10. Tata pemerintahan yang berdesentralisasi, pendegelasian tugas dan kewenangan pusat
kepada semua tingkatan aparat sehingga dapat mempercepat proses pengambilan
keputusan, serta memberikan keleluasaan yang mencangkup untuk mengelola
pelayanan publik dan menyukseskan pembangunan di pusat maupun daerah.
11. Tata pemerintahan yang mendorong kemitraan dengan dunia usaha swasta dan
masyarakat, pembangunan masyarakat madani melalui peningkatan peran serta
masyarakat dan sektor swasta harus diberdayakan melalui pembentukan kerjasama atau
kemitraan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Hambatan birokrasi yang
menjadi rintangan terbentuknya kemitraan yang setara harus segera diatasi dengan
perbaikan sistem pelayanan kepada masyarakat dan sektor swasta serta
penyelenggaraan pelayanan terpadu.
12. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada pengurangan kesenjangan,
pengurangan kesenjangan dalam berbagai bidang baik antara pusat dan daerah maupun
antar daerah secara adil dan proposional merupakan wujud nyata prinsip pengurangan
kesenjangan. Hal ini juga mencakup upaya menciptakan kesetaraan dalam hukum
(equity of the law) serta mereduksi berbagai perlakuan diskrimiatif yang menciptakan
kesenjangan antara laki-laik dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.
13. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada lingkungan hidup, daya dukung
lingkungan semakin menurun akibat pemanfaatan yang tidak terkendali. Kewajiban
penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan secara konsekuen, penegakan
hukum lingkungan secara konsisten, pengaktifan lembaga-lembaga pengendali dampak
lingkungan, serta pengelolaan sumber daya alam secara lestari merupakan contoh
perwujudan komitmen pada lingkungan hidup.
14. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada pasar, pengalaman telah
membuktikan bahwa campur tangan peerintah dalam kegiatan ekonomi seringkali
berlebihan sehingga akhirnya membebani anggaran belanja dan bahkan merusak pasar.
Upaya pengaitan kegiatan ekonomi masyarakat dengan pasar baik dalam daerah
maupun antar daerah merupakan contoh wujud nyata komitmen pada pasar.
Pelakanaan Good Governance yang baik adalah bertumpu pada tiga pilar yaitu
pemerintahan, swasta dan masyarakat, ketiga pilar tersebut harus bekerja secara sinergis, yang
berarti setiap pilar diharapkan mampu menjalankan perannya dengan optimal agar pencapaian
tujuan berhasil dengan efektif. Pemerintah berfungsi menciptakan lingkungan politik dan hukum
yang kondusif; swasta menciptakan pekerjaan dan pendapatan sedangkan masyarakat berperan
positif dalam intraksi sosial, ekonomi, politik termasuk mengajak kelompok-kelompok dalam
masyarakat untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi, sosial dan politik.
Spirit dari good governance adalah meminimalkan peran negara dan mengedepankan
pasar. Melalui regulasi sejak tahun 1999 setelah reformasi dilaksanakan terbitlah banyak UU yang
mengatur dan menjadi bagian dalam implementasi good governance di indonesia, diantarnya UU
tentang Hak Asasi manusia, UU penyelengaraan Negara hingga akuntabilitas penyelenggaraan
Negara.
Penerapan Good Governance akan berjalan baik jika didukung oleh tiga pilar yang saling
berhubungan, yaitu Negara/Pemerintah dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebgai
pelaku pasar, dan masyarakat sebagai pengguna produk dan dunia usaha. Sehingga menjalankan
good governance seyogyanya dilakukan bersama-sama pada tiga pilar/elemen. Bila pelaksanaan
hanya dibebankan pada pemerintah saja maka keberhasilannya kurang optimal dan bahkan
memerlukan waktu yang panjang. Prisnsip dasar yang harus dilaksanakan oleh tiga pilar dalam
menjalankan Good Governance adalah:
1. Negara/Pemerintah dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang
menunjang iklim usaha yang sehat, efesien dan transparan, melaksanakan peraturan
perundang-undagan dan penegakan Hukum secara konsisten. Antara lainn yang harus
dilakukan:
a. Menjaga stabilitas politik, ekonomi, hankam dan social budaya secara
berkesinambungan.
b. Melaksanakan koordinasi secara efektif antar penyelenggara negara dalam penyusunan
regulasi berdasarkan sistem hukum nasional dengan memperioritaskan kebijakan yang
sesuai dengan kepentingan publik, dunia usaha dan masyarakat.
c. Mengikut sertakan stakeholder dan dunia usaha serta masyarakat secara bertanggung
jawab dalam penyusunan regulasi.
d. Menciptakan sistem politik yang sehat dengan penyelenggaraan negara yang memiliki
integritas dan profesionalitas yang tinggi.
e. Melaksanakan peraturan perundang-udangan dan penegakan hukum secara konsisten.
f. Mencegah terjadinya korufsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
g. Mengatur kewenagan dan desentralisasi pemerintahan yang jelas dalam meningkatkan
pelayanan masyarakat dengan integritas yang tinggi mendukung terciptanya iklim
usaha yang sehat, efesien dan transparan.
h. Membuat peraturan yang efektif dan berkeadilan.
i. Menyediakan publik service yang efektif dan accountable.
j. Menegakan HAM.
k. Melindungi lingkungan hidup.
l. Mengurus standar kesehatan dan standar keselamatan publik.
m. Membuka ruang publik yang transparan terhadap informasi.
n. Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan good coroprate governance sebagai
pedoman dasar pelaksanaan usaha.
o. Menerapkan etika bisnis secara konsisten sehingga dapat terwujud iklim usaha yang
sehat, efesien dan transparan.
p. Bersikap dan berperilaku yang memperlihatkan kepatuhan dunia usaha dalam
melaksanakan peraturan perundang-undangan.
q. Mencegah terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dalam mengelola
perusahaan.
r. Meningkatkan kualitas struktur pengelolaan dan pola kerja perusahaan yang didasarkan
pada asas GCG secara berkesinambungan.
s. Menciptakan lapangan kerja.
t. Menyediakan insentif bagi kariawan.
u. Meningkatkan standar dan kesejahtraan hidup kariawan dan lingkungan
(CSR).
v. Memelihara lingkungan hidup dan ikut melestarikan.
w. Teransfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyaraka.
x. Menyediakan kredit bagi pengembangan UMKM dilingkungannya maupun yang
mendukung usahanya.
2. Masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha serta pihak yang terkena
dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukan kepedulian dan melakukan kontrol
sosial secara aktif dan objektif serta ikut bertanggung jawab.
a. Melakukan kontrol sosial dengan memberikan perhatian dan kepedulian terhadap
pelayanan masyarakat yang dilakukan penyelenggara negara serta terhadap kegiatan
dna produk atau jasa yang dihaslikan oleh dunia usaha, melalui penyampaian pendapat
secara objektif dan bertanggung jawab.
b. Melakukan komunikasi dengan penyelenggara negara dan dunia usaha dalam
mengekspresikan pendapat dan keberatan masyarakat.
c. Mematuhi peraturan perundang-undagan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
d. Menjaga agar hak-hak masyarakat terlindungi bersama.
e. Mempengaruhi kebijakan publik yang dibuat dan dijalankan oleh pemerintah.
f. Sebagai sarana cheks and balances terhadap pemerintah.
g. Mengawasi penyalahgunaan kewenagan sosial pemerintah.
h. Menegembangkan sumber daya manusia secara bersama-sama.
i. Sarana berkomunikasi, diaolog dan gotongroyong sesama anggota masyarakat.
Pemerintah atau Government dalam bahasa Inggris diartikan sebagai:”the authoritative
direction and administration of the affairs men/women in nation, state, sity, etc. Atau dalam bahasa
Indonesia bearti: “pengarahan dan administrasi yang berwenang atas kegiatan orang-orang dalam
sebuah negara, negara bagian, atau kota dan sebagainya.” Sedangkan istilah “kepemerintahan”
atau dalam bahasa Inggris. “Governance” yaitu ”the act, fact, manner of governing, “ berarti:
“tindakan, fakta, pola, dan kegiatan atau penyelenggaraan pemerintah.” Dengan demikian
“governance” adalah

suatu kegiatan (proses), sebagaimana dikemukakan oleh Kooiman (1993) bahwa


governance lebih merupakan,serangkaian proses interaksi sosial politik antara pemerintahan
dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan
intervensi pemerintah atas kepentingan-kepentingan tersebut.”
Lembaga Administrasi Negara (2000) menyimpulkan bahwa wujud Good Governance
sebagai penyelenggaraan pemerintahan negara yang solid dan bertanggung jawab, serta efektif dan
efisien, dengan menjaga “kesinergisan” interaksi yang konstruktif di antara domain-domain
negara, dan masyarakat. Dalam buku Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(SANKRI) menyatakan bahwa tata kepemrintahan yang baik secara tersurat maupun tersirat
tertuang dalam tata nilai penyelenggaraan pemerintah negara berdasarkan pancasila dan UUD
1945, yang meliputi prinsip-prinsip: supermasi, hukum, keadilan, kesetaraan, transparansi,
partisipasi, desentralisasi, kebersamaan, profesional, cepat tanggap, efektif dan efisien, berdaya
saing, dan akuntabel (LANRI, 2003).
Arti Good Governance dalam kepemerintahan yang baik mengandung pemahaman:
1. Nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak rakyat, dan nilai yang dapat
meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan (nasional), kemandirian,
pembangunan berkelanjutan, dan keadilan soial.
2. Aspek fungsional dari pemerintahan yang efektif, efisien dalam pelaksanaan tugas untuk
mencapai tujuan.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah awal gagasan tata pemerintahan yang baik di
antaranya:
1. Menurut Nurcholis Madjid, gagasan pemerintahan yang baik tidak baru, karena konsep-
konsep penting seperti partisipasi, konsensus, keadilan, supremasi hukum telah
diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau membangun Madinah sewaktu
hijrah dari Makkah tahun 622 M. Kata Madinah sendiri bermakna sebuah tempat yang
didiami orang-orang yang taat peraturan dan saling memenuhi perjanjian yang diciptakan
(al-uqud).
2. Supremasi hukum merupakan salah satu pilar penting dalam Islam, karena tanpa supremasi
hukum keadilan tak akan pernah terwujud. Selain itu, dalam tata pemerintahan di Madinah
tiap individu berhak berpartisipasi pengambilan keputusan yang memengaruhi hidup
mereka melalui pertimbangan dan konsultasi bersama (syura dan musyawarah).
3. Ada faktor-faktor penting yang perlu diupayakan untuk mencapai tata pemerintahan yang
baik, yaitu masing-masing yang pelaku mentaati kesepakatan yang telah disetujui bersama.
Tiap manusia mempunyai hak mendasar seperti yang diuraikan Nabi Muhammad SAW
dalam khutbah al-Wada (Pidato Perpisahan Nabi Muhammad SAW), yaitu hak atas hidup,
hak atas milik, dan kehormatan. Ditekankan juga bahwa manusia dianugerahi Tuhan
kebebasan yang hanya akan bertahan apabila ada sistem hukum, dimana pemimpin dan
masyarakat saling menghormati dan saling bertanggung jawab. Hal ini dapat diwujudkan
di Indonesia bila ada konsensus mengenai tata pemerintahan yang baik.
4. Dengan demikian peranan, pemimpin menjadi sangat penting. Tata pemerintahan yang
baik hanya akan tercapai bila ada pemimpin yang mempunyai visi, mampu melihat jauh ke
depan. Pemimpin tersebut harus mampu mengembangkan potensi anggota masyarakatnya
dan menciptakan konsensus di antara semua pihak yang berkepentingan, seperti
diteladankan Nabi Muhammad SAW.
Karakteristik kepemerintahan yang baik sebagai suatu prinsip dikemukakan dalam
Rencana Strategis LAN 2000-2004, di mana disebutkan perlunya pendekatan baru dalam
penyelenggaraan Negara dan pembangunan yang terarah pada terwujudnya kepemerintahan yang
baik (good governance) yakni: “…proses hukum dan HAM, desentralistik, panisipatif, transparan,
berkeadilan, bersih dan akuntabel: selain berdayaguna ber-hasil guna dan berorientasi pada
peningkatan daya saing bangsa”.

Gambir Bhatta (1996: 7)mengungkapkan bahwa “unsur-unsur utama governance” (bukan


prinsip), Yaitu: akuntabilitas, (accountability), transparansi (transparency), keterbukaan
(openness), dan aturan hukum (rule of low) ditambah dengan kompetensi manajemen/management
competence) dan hak-hak asasi manusia (human right).
Dalam peraturan pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Prinsip-perinsip kepemerintahan
yang baik terdiri dari:
1. Profesionalitas, meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggara pemerinthan agar
mampu memberi pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya yang terjangkau.
2. Akuntabilitas, meningkatkan Akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala bidang
yang menyangkut kepentingan masyarakat.
3. Transparansi menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat
melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi
yang akurat dan memadai.
4. Penyelenggaraan pelayanan publik yang mencakup prosedur yang baik, kejelasan tarif,
kepastian waktu, kemudahan akses, kelengkapan sarana dan prasarana serta pelayanan
yang ramah dan disiplin.
5. Demokrasi dan Partisipasi, mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam
menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan, yang menyangkut
kepentingan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.
6. Efisiensi dan Efektifitas, menjamin terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat dengan
menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab.
7. Supremasi hukum dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat, mewujudkan adanya
penegakkan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa pengecualian, menjunjung tinggi
HAM dan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.
Karakteristik atau prinsip-prinsip yang harus dianut dalam Administrasi pelayanan publik
dan dikembangkan dalam praktek penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good governance)
khusunya di desa meliputi :
1. akuntabilitas (accountability) yang di artikan sebagai kewajiban untuk mempertanggung
jawabkan kinerjanya, kapasitas suatu institusi pemerintahan desa untuk bertanggung jawab
atas keberhasilan maupun kegagalannya dalam melaksanakan misinya dalam mencapai
tujuan dan sasaran yang ditetapkan secara periodik. Dalam konteks pemerintahan desa,
setiap institusi pemerintahan desa (Pemerintah Desa dan BPD) mempunyai kewajiban
untuk mempertanggung jawabkan pencapaian organisasinya dalam pengelolaan
sumberdaya yang dipercayakan kepadanya, mulai dari tahap perencanaan, implementasi,
sampai pada pemantauan dan evaluasi. Akuntabilitas merupakan kunci untuk memastikan
bahwa kekuasaan itu dijalankan dengan baik dan sesuai dengan kepentingan publik. Untuk
itu, akuntabilitas mensyaratkan kejelasan tentang siapa yang bertanggung jawab, kepada
siapa, dan apa yang dipertanggung jawabkan. Karenanya, akuntabilitas bisa berarti pula
penetapan sejumlah kriteria dan indikator untuk mengukur kinerja institusi pemerintahan ,
serta mekanisme yang dapat mengontrol dan memastikan tercapainya berbagai standar
tersebut.
2. keterbukaan dan transparansi (openness and transparency) dalam arti masyarakat tidak
hanya dapat mengakses suatu kebijakan tetepi juga ikut berperan dalam proses
perumusannya terbukanya akses bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap setiap
informasi terkait seperti berbagai peraturan desa, peraturan kepala desa, serta kebijakan
pemerintahan desa dengan biaya yang minimal. Informasi yang handal ( reliable) dan
berkala haruslah tersedia dan dapat diakses oleh publik (untuk konteks desa biasanya
melalui rapat BPD yang besifat terbuka untuk masyarakat dan penyebaran secara luas atas
rencana pembangunan, APB Desa, laporan dll). Artinya, transparansi dibangun atas pijakan
kebebasan arus informasi yang memadai disediakan untuk dipahami dan (untuk kemudian)
dapat dipantau. Transparansi jelas mengurangi tingkat ketidakpastian dalam proses
pengambilan keputusan dan implementasi kebijakan publik. Sebab, penyebarluasan
berbagai informasi yang selama ini aksesnya hanya dimiliki pemerintahan desa dapat
memberikan kesempatan kepada berbagai komponen masyarakat untuk turut mengambil
keputusan. Oleh karenanya, perlu dicatat bahwa informasi ini bukan sekedar tersedia, tapi
juga relevan dan bisa dipahami publik (masyarakat desa). Selain itu, transparansi ini dapat
membantu untuk mempersempit peluang korupsi di kalangan pemerintahan desa (BPD,
Kepala Desa dan perangkat desa lainnya) dengan “terlihatnya” segala proses pengambilan
keputusan oleh masyarakat luas.
3. ketaatan pada hukum, dalam arti seluruh kegiatan di dasarkan pada aturan hukum yang
berlaku dan aturan hukum yang jelas, tegas, diketahui masyarakat desa di satu pihak, serta
upaya penegakan hukum yang efektif , konsisten, dan tanpa pandang bulu di pihak lain.
Kepastian hukum juga merupakan indikator penting dalam menimbang tingkat
kewibawaan suatu pemerintahan desa, legitimasinya di hadapan rakyatnya, serta pemangku
kepentingan lainnya dilaksanakan secara adil dan konsisten.
4. partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan pemerintahan umum dan pembangunan
perwujudan dari berubahnya paradigma mengenai peran masyarakat dalam pembangunan.
Masyarakat bukanlah sekedar penerima manfaat (beneficiaries) atau objek belaka,
melainkan agen pembangunan (subjek) yang mempunyai porsi yang penting. Dengan
prinsip “dari dan untuk rakyat”, mereka harus memiliki akses pada pelbagai institusi yang
mempromosikan pembangunan. Karenanya, kualitas hubungan antara pemerintahan desa
dengan warga yang dilayani dan dilindunginya menjadi suatu hal yang sangat penting
merupakan Hubungan yang pertama mewujud lewat proses suatu pemerintahan desa
dipilih. Pemilihan anggota BPD dan Kepala Desa yang bebas dan jujur merupakan kondisi
inisial yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa hubungan antara pemerintahan desa
yang diberi mandat untuk menjadi “dirigen” tata pemerintahan ini dengan masyarakat
(yang diwakili oleh BPD) dapat berlangsung dengan baik. keterlibatan masyarakat dalam
proses pengambilan keputusan. Kehadiran tiga domain (pemerintahan desa dan masyarakat
desa) dalam proses ini amat penting untuk memastikan bahwa proses “pembangunan”
tersebut dapat memberikan manfaat yang terbesar bagi masyarakatnya. Pemerintahan desa
menciptakan lingkungan politik, ekonomi, dan hukum yang kondusif. Sektor swasta
menciptakan kesempatan kerja yang implikasinya meningkatkan peluang untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat.
Dalam konteks desa, definisi umum tata pemerintahan desa adalah tradisi dan institusi
yang menjalankan kekuasaan di dalam suatu Administrasi pemerintahan desa (Pemerintah Desa
dan BPD), proses pemerintahan desa dipilih, dipantau, dan digantikan. kapasitas pemerintahan
desa untuk memformulasikan dan melaksanakan kebijakan secara efektif. pengakuan masyarakat
dan seluruh pemangku kepentingan terhadap institusi yang mengatur interaksi antara masyarkat.
Pengelolaan administrasi Desa merupakan suatu tuntutan yang sangat diperlukan, karena dengan
terbentuknya administasi yang baik di bidang pemerintahan, pembangunan maupun
kemasyarakatan dengan kata lain bahwa suatu kegiatan pemerintahan pada tingkat Desa akan
berhasil dengan baik apabila didukung oleh suatu sistem adminitrasi yang tertib dan teratur.

2.5 Implementasi Administrasi Desa


Secara etimologis, administrasi berasal dari bahasa latin ad+ministrare, suatu kata kerja
yang berarti melayani, membantu, menunjang, atau memenuhi. Istilah ini berasal dari kata benda
administratio dan kata sifat administratifus. Untuk Indonesia yang tepat digunakan istilah
administrasi. Administrasi adalah usaha dan kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan
kebijaksanaan untuk mencapai tujuan. Pengertian administrasi juga dibedakan menjadi dua yaitu
pengertian administrasi dalam arti sempit dan pengertian administrasi dalam arti luas. Administrasi
dalam arti sempit adalah kegiatan yang meliputi dari catat-mencatat, surat-menyurat, pembukuan
ringan, ketik-mengetik, agenda, dan sebagainya yang memiliki sifat teknis ketata usahaan.
Sedangkan pengertian administrasi bersifat luas adalah seluruh proses kerja sama dari dua orang
atau lebih dalam mencapai tujuan dengan pemanfaatan sarana dan prasarana tertentu secara
berdaya guna dan berhasil guna.
Rangkaian kegiatan yang digolongkan sebagai administrasi mencakup: (1) dilakukan oleh
sekelompok orang (2 orang atau lebih); (2) berlangsung dalam suatu kerjasama; (3) dimaksudkan
untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Ketiga faktor inilah yang merupakan tanda
pengenal atau ciri khas dari administrasi yang apabila faktor-faktor tersebut disingkat adalah
sekelompok orang, kerjasama, dan tujuan tertentu. Administrasi diartikan sebagai suatu proses
tata kerja penyelenggaraan atau dengan perkataan lain sebagai suatu proses kegiatan yang
dilakukan secara teknis.
Administrasi adalah segenap rangkaian perbuatan sekelompok orang dalam suatu usaha
kerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Administrasi adalah proses penyelenggaraan kegiatan untuk mewujudkan
rencana/keputusan yang telah dibuat agar menjadi kenyataan, dengan cara mengatur kerja dan
mengarahkan orang-orang yang melaksanakannya.
Dari uraian di atas Administrasi juga dapat diartikan sebagai :
1. Suatu aktivitas yang terutama bersangkutan dengan cara untuk menyelenggarakan tujuan
yang telah ditentukan semula;
2. Suatu proses lazim terdapat dalam segenap usaha bersama, baik usaha berskala besar
maupun kecil-kecilan;
3. Suatu proses pengorganisasian dan bimbingan orang-orang agar dapat melaksanakan suatu
tujuan khusus;
4. Suatu proses penyelenggaraan dalam setiap usaha kerjasama sekelompok manusia untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu. (Syafiie, Tanjung, Modeong, 1999:17)
Ada dua persepektif umum mengenai ruang lingkup dari administrasi. Perspektif yang
pertama adalah perspektif makro yang meliputi proses penentuan tujuan, alokasi sumber daya, dan
koordinasi kegiatan untuk pencapaian tujuan organisasi. Penekanan dari perspektif ini terutama
pada aspek filosofis tentang apa tujuan dan makna kehidupan, apa tujuan yang kita inginkan dan
bagaimana mencapainya, serta bagaimana seharusnya orang berperilaku. Perspektif selanjutnya
adalah perspektif mikro, yang menerangkan perilaku administrasi sebagai sikap, pendekatan,
persepsi, dan nilai-nilai yang dianut oleh para administrator. Stephen P. Robbins (1976)
mengatakan bahwa perilaku administrasi dipengaruhi oleh sejarah organisasi, norma-norma
pendidikan, dan pengalaman.
Sementara itu Desa menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2006
adalah keseluruhan proses kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai penyelenggaraan
Pemerintahan Desa pada Buku Administrasi Desa.
Jenis dan bentuk Administrasi Desa menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32
Tahun 2006:
Administrasi Umum adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai kegiatan
Pemerintahan Desa pada Buku Administrasi Umum, terdiri dari:
1. Buku Data Peraturan Desa;
2. Buku Data Keputusan Kepala Desa;
3. Buku Data Inventaris Desa;
4. Buku Data Aparat Pemerintah Desa;
5. Buku Data Tanah Milik Desa/Tanah Kas Desa;
6. Buku Data Tanah di Desa;
7. Buku Agenda; dan
8. Buku Ekspedisi.
Administrasi Penduduk adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai
penduduk dan mutasi penduduk pada Buku Administrasi Penduduk, terdiri dari:
1. Buku Data Induk Penduduk Desa;
2. Buku Data Mutasi Penduduk Desa;
3. Buku Data Rekapitulasi Jumlah Penduduk Akhir Bulan; dan
4. Buku Data Penduduk Sementara.
Administrasi Keuangan adalah kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai
pengelolaan keuangan desa pada Buku Administrasi Keuangan, terdiri dari:
1. Buku Anggaran Penerimaan;
2. Buku Anggaran Pengeluaran Rutin;
3. Buku Anggaran Pengeluaran Pembangunan;
4. Buku Kas Umum;
5. Buku Kas Pembantu Penerimaan;
6. Buku Kas Pembantu Pengeluaran Rutin; dan
7. Buku Kas Pembantu Pengeluaran Pembangunan.
Administrasi Pembangunan adalah kegiatan pencatatan data dan informasi pembangunan
yang akan, sedang, dan telah dilaksanakan pada Buku Administrasi Pembangunan, terdiri dari:
1. Buku Rencana Pembangunan;
2. Buku Kegiatan Pembangunan;
3. Buku Inventaris Proyek; dan
4. Buku Kader-Kader Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat.
Administrasi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) atau yang disebut dengan BPD adalah
kegiatan pencatatan data dan informasi mengenai BPD, terdiri dari:
1. Buku Data Anggota BPD;
2. Buku Data Keputusan BPD;
3. Buku Data Kegiatan BPD;
4. Buku Agenda BPD; dan
5. Buku Ekspedisi BPD.
Rangkaian kegiatan yang digolongkan sebagai administrasi mencakup: (1) dilakukan oleh
sekelompok orang (2 orang atau lebih); (2) berlangsung dalam suatu kerjasama; (3) dimaksudkan
untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Ketiga faktor inilah yang merupakan tanda
pengenal atau ciri khas dari administrasi yang apabila faktor-faktor tersebut disingkat adalah
sekelompok orang, kerjasama, dan tujuan tertentu. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa kerjasama
adalah rangkaian perbuatan yang dilakukan bersama-sama secara teratur. seorang yang
menimbulkan akibat yang sebenarnya tidak akan terjadi apabila dilakukan oleh masing-masing
seorang diri.
Administrasi adalah proses penyelenggaraan kegiatan untuk mewujudkan
rencana/keputusan yang telah dibuat agar menjadi kenyataan, dengan cara mengatur kerja dan
mengarahkan orang-orang yang melaksanakannya.
Administrasi juga dapat diartikan sebagai :
1. Suatu aktivitas yang terutama bersangkutan dengan cara untuk menyelenggarakan tujuan
yang telah ditentukan semula;
2. Suatu proses lazim terdapat dalam segenap usaha bersama, baik usaha berskala besar
maupun kecil-kecilan;
3. Suatu proses pengorganisasian dan bimbingan orang-orang agar dapat melaksanakan suatu
tujuan khusus;
4. Suatu proses penyelenggaraan dalam setiap usaha kerjasama sekelompok manusia untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu. (Syafiie, Tanjung, Modeong, 1999:17).
Berdasarkan pengertian tersebut dan apabila dikaitkan dengan aktifitas ditingkat desa, maka
berbicara tentang administrasi desa berarti yang dimaksud dengan "administrasi adalah rangkaian
kegiatan yang dilakukan oleh penyelanggara pemerintahan desa untuk mencapai tujuan
pemerintahan, seperti antara lain, baik dalam menggerakkan partisipasi dalam pembangunan dan
terwujudnya demokrasi Pancasila secara nyata guna meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Mengacu pada pengertian diatas berarti konsep administrasi terbagi dalam dua pengertian
yaitu administrasi dalam arti sempit dan administrasi dalam arti luas. Administrasi dalam arti luas
berarti segenap proses kegiatan untuk mencapai tujuan sedangkan administrasi dalam arti sempit
adalah segenap penyelenggaraan kegiatan tulis menulis, Surat menyurat, beserta penyimpanan,
pengurusan masalah-masalah dan segala pencatatannya dilaksanakan oleh aparat dalam arti
pencapaian tujuan (Widjaya,1992:88).
Selanjutnya konsep/pengertian pemerintah dan pemerintahan dalam kajian sistem
pemerintahan Indonesia, pemerintah dibedakan dengan istilah pemerintahan. Menurut Saparin
(1996:21) untuk membedakan pengertian kedua konsep tersebut, maka perlu diterangkan secara
etimologis, yaitu :
a. Pemerintah adalah kata nama subjek yang berdiri sendiri, contoh Pemerintah Daerah.
b. Pemerintah adalah kata jadian yang disebabkan karena subjeknya mendapat akhiran "an"
yang artinya pemerintah sebagai subjek melakukan tugas-tugas atau kegiatan, dimana cara
melakukan kegiatan itu disebut pemerintahan.
Ada dua persepektif umum mengenai ruang lingkup dari administrasi. Perspektif yang
pertama adalah perspektif makro yang meliputi proses penentuan tujuan, alokasi sumber daya, dan
koordinasi kegiatan untuk pencapaian tujuan organisasi. Penekanan dari perspektif ini terutama
pada aspek filosofis tentang apa tujuan dan makna kehidupan, apa tujuan yang kita inginkan dan
bagaimana mencapainya, serta bagaimana seharusnya orang berperilaku. Perspektif selanjutnya
adalah perspektif mikro, yang menerangkan perilaku administrasi sebagai sikap, pendekatan,
persepsi, dan nilai-nilai yang dianut oleh para administrator. Stephen P. Robbins (1976)
mengatakan bahwa perilaku administrasi dipengaruhi oleh sejarah organisasi, norma-norma
pendidikan, dan pengalaman.
Dari uraian diatas nampak istilah pemerintah menunjuk kepada aparat yaitu para pelaksana
pemerintahan, sedang istilah pemerintahan menunjuk pada aktifitas atau kegiatan yang dilakukan
oleh pemerintah. Hal ini berarti "Pemerintahan" adalah keseluruhan tindakan atau kegiatan aparat
pemerintah dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

2.6 Kebijakan Dana Desa


Dana desa adalah dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi desa, yang
ditransfer melalui anggaran belanja daerah kabupaten/kota. Dana ini digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan pelaksanaan pembangunan di desa. Dana desa di alokasikan dari APBN
berdasarkan Pasal 72 Ayat 1 Huruf b UU No 6/2014 tentang Desa.
APBN 2015 memiliki posisi yang penting dan unik. Ia disusun pada tahun transisi
pemerintahan dan bersifat baseline budget, yaitu disusun hanya berdasarkan kebutuhan pokok
penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan kepada masyarakat. Hal itu dimaksudkan untuk
memberikan ruang gerak pemerintahan hasil Pemilu 2014 untuk melaksanakan program sesuai
platform, visi, dan misi yang direncanakan. Tidak kalah pentingnya, Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) 2015 ini adalah tahun pertama dialokasikannya dana desa.
Memasuki tahun 2015, kita telah berada dalam fase pelaksanaan anggaran untuk APBN
2015. Pelaksanaan anggaran adalah fase ketika segala sumber pendanaan APBN di
implementasikan sesuai dengan arah kebijakan, termasuk kebijakan transfer kedaerah lalu ke
desa.Mengingat APBN 2015 merupakan tahun pertama dialokasikannya dana desa, penting bagi
kita untuk bersama-sama mengawasi pelaksanaan anggaran tersebut.
Menurut Salvatore Schiavo-Campo dan Daniel Tommasi dalam Managing Government
Expenditure (Asian Development Bank, 1999) sasaran kunci manajemen keuangan publik terbagi
menjadi empat kategori (categories of public expenditure management objectives), yakni dimensi
ekonomi/finansial, dimensi manajemen, dimensi kepentingan publik, dan dimensi politik.
Pengawasan dana desa yang mulai dialokasikan dalam APBN 2015 ini dapat kita pandang dari
dimensi kepentingan publik. Sasaran kunci manajemen keuangan publik dari dimensi kepentingan
publik berupa transparansi, akuntabilitas, dan orientasi pada kepentingan masyarakat.
Sisi transparansi menghendaki bahwa dana APBN dialokasikan secara jujur dan terbuka.
Transparansi anggaran dilakukan antara lain dengan meningkatkan kualitas dokumentasi anggaran
yang menggambarkan tujuan dana desa dan bagaimana dana tersebut digunakan.
Sisi akuntabilitas mengandung pengertian bagaimana dana desa ini disalurkan dalam
bentuk barang dan jasa untuk kepentingan umum. Akuntabilitas dana desa tidak semata-mata
bagaimana dana ini tersalurkan kemasyarakat desa, tetapi lebih jauh lagi adalah bagaimana dana
desa bermanfaat bagi masyarakat desa.
Salah satu pilar dari tatakelola pemerintahan yang baik adalah keterlibatan para pemangku
kepentingan. Dalam konteks pengelolaan dana desa ini, dalam memenuhi prinsip tata kelola
pemerintahan yang baik, masyarakat desa perlu terlibat dalam pelaksanaan anggaran dana desa.
Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dana desa dapat dilakukan melalui musyawarah desa
yang merupakan forum permusyawaratan yang diikut oleh Badan Permusyawaratan Desa,
pemerintah desa, dan unsur masyarakat desa untuk memusyawaratkan hal yang bersifat strategis
dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
Undang-Undang No 6 tahun 2014 tentang Desa merupakan instrumen baru yang
dikeluarkan oleh pemerintah pada awal tahun 2014 yang diikuti dengan PP No 43 tahun 2014
tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 6 tahun 2014 tentang Desa dan PP No 60 tahun 2014 tentang
Dana Desa yang Bersumber dari APBN.
Tujuan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah
dengan harapan menggabungkan konstruksi yaitu fungsi self goverment community dengan local
self goverment, diharapkan kesatuan masyarakat hukum adat yang selama ini merupakan bagian
dari wilayah Desa, ditata sedemikian rupa menjadi Desa dan Desa Adat. Aspek kewenangan
tersebut terdapat dalam pilar yang disebut adalah asas rekognisi dan asas subsidiaritas. Asas
rekognisi adalah asas yang terkait soal hak asal usul atas kehadiran desa. Asas rekognisi
memberikan pengakuan dan penghormatan kepada desa terhadap identitas desa, adat istiadat yang
berlaku, kebiasaan pengelolaan desa, sistem pranata sosial dan kearifan lokal yang berkembang
dan tumbuh di desa. Sebuah jaminan atas keragaman desa, kedudukan dan kewenangan desa dalam
mengatur jalanya pemerintahan desa. Karena itu, asas rekognisi terkait erat dengan keadilan,
kewargaan dan kebangsaan, serta selaras dengan isu desentralisasi yang telah berkembang.
Desa bukanlagi sebagaimana dikonstruksikan seperti masa orde baru yang hidup dalam
keseragaman dan hidup dalam bayang-bayang patronase politik negara (Hans Anthlov, 2002).
Desa atau yang disebut dengan nama lain berhak atas kedaulatan dan sejarah mereka masing-
masing. Tentunya, asas rekognisi yang berkembang dan dikembangkan bersifat kontekstual dan
konstitusional. Asas rekognisi juga tak bisa dipisahkan dengan asas subsidiaritas. Asas
subsidiaritas berarti pemberian kewenangan kepada desa untuk mengatur, mengelola dan
memanajemeni permasalahan desa secara lokal. Dengan asas ini desa bisa tentukan arah dan
kebijakan pembangunan dengan perencanaan sendiri. Satu desa, satu rencana, satu anggaran.
Berangkat dari kedua asas tersebut, pembangunan berbasis desa menemukan momentum
yang paling krusial. Desa kini bukan lagi sekedar kepanjangan tangan negara secara otoriter dalam
mengatur pembangunan, bukan lagi katalisator proyek-proyek pemerintah baik dari
Kementerian/Lembaga, Pemda atau bahkan bantuan asing. Desa ini menjadi entitas yang dapat
mengatur dirinya sendiri. Pilar bagi bangsa untuk bangkit dan berdaya mandiri. Pengakuan atas
desa dan pemberian kewenangan yang sedemikian luas kepada desa menjadi tonggak penting bagi
pembaharuan pembangunan berbasis desa.
Didalam peraturan pemerintah Nomor 6 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber
dari APBN, pasal, ayat 2: Dana Desa adalah Dana yang bersumber dari Anggaran pendapatan dan
belanja Negara yang diperuntukkan bagi desa ditransfer melalui Anggaran Anggaran pendapatan
dan belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan
pemerintah, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan
masyarakat selanjutnya dalam pasal 6 disebutkan bahwa Dana Desa tersebut ditransfer melalui
APBD Kabupaten/Kota untuk selanjutnya ditransfer ke APBD Desa.
Tujuan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah
dengan harapan menggabungkan konstruksi yaitu fungsi self goverment community dengan local
self goverment, diharapkan kesatuan masyarakat hukum adat yang selama ini merupakan bagian
dari wilayah Desa, ditata sedemikian rupa menjadi Desa dan Desa Adat. Desa dan Desa Adat pada
dasarnya melakukan tugas yang hampir sama. Sedangkan perbedaannya hanyalah dalam
pelaksanaan hak asal-usul, terutama menyangkut pelestarian sosial Desa Adat, pengaturan dan
pengurusan wilayah adat, sidang perdamaian adat, pemeliharaan ketenteraman dan ketertiban bagi
masyarakat hukum adat, serta pengaturan pelaksanaan pemerintahan berdasarkan susunan asli.
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, memberikan
gairah baru bagi masyarakat yang selama ini kadang kala menjadi penonton dalam pembangunan
di daerah. Masyarakat diberikan kewenangan pengakuan terhadap hak asal usul (rekognisi),
penetapan kewenangan berskala lokal dan pengambilan keputusan secara lokal untuk kepentingan
masyarakat Desa (subsidiaritas), keberagaman, kebersamaan, kegotongroyongan, kekeluargaan,
musyawarah, demokrasi, kemandirian, partisipasi, kesetaraan, pemberdayaan dan keberlanjutan.
Dalam pelaksanaannya, terutama antara lain menyangkut kedudukan masyarakat hukum adat,
demokratisasi, keberagaman, partisipasi masyarakat, serta kemajuan dan pemerataan
pembangunan masih terdapat kekurangan sehingga menimbulkan kesenjangan antar wilayah,
kemiskinan, dan masalah sosial budaya yang dapat mengganggu keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia menjadi issue yang menarik.
Mengatasi permasalahan tersebut harus didukung dengan sumber pembiayaan yang
memadai sehingga kewenangan Desa dapat terpenuhi sesuai dengan karakteristik dari Desa itu
sendiri. Untuk itu, dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,
memberikan sinyal yang positif dalam pemerataan pembangunan. Di dalam Pasal 71 sampai
dengan 75 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa mengatur sumber-sumber
pembiayaan di Desa, sumber-sumber pendapatatan di Desa seperti Pendapatan Asli Desa, Alokasi
dari APBN, Bagi Hasil dari Pajak dan Retribusi Kabupaten/Kota, Bantuan Keuangan dari Provinsi
dan Kabupaten/Kota, Hibah atau sumbangan Pihak Ketiga yang tidak mengikat serta Lain-lain
Pendapatan Desa yang sah. Pendapatan Desa yang tersebut diatas ada beberapa rincian yang
menjadi kewajiban dari Pemerintah di transfer dari Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) ke
Rekening Kas Desa.
Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 dan di Perubahannya yaitu
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2015 pada Pasal 11 ayat (2) Dana Desa dailokasikan
dengan menghitunga alokasi dasar dan alokasi yang dihitungan dengan mempertimbangkan
jumlah penduduk, luas wilayah, angka kemiskinan dan tingkat kesulitan geografis.
Hal ini juga dijelaskan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.07/2015
Dengan kepastian pembiayaan tentu ini menjadikan rangsangan bagi Desa untuk membangun dan
menjadikan Desa lebih mandiri. Tentu semuanya tergantung dari sumber daya manusia di Desa
apakah sanggup melaksanakannya ataupun tidak. Diperlukan kerjasama yang harus bersinergi dari
seluruh komponen baik itu Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten,
Pemerintah Desa dan seluruh masyarakat agar dana ke Desa yang besar tidak diselewengkan
sehingga dapat digunakan sepenuhnya untuk pembangunan di Desa. Hal penting yang harus
diperhatikan adalah kemampuan para aparatur di Desa dan seluruh stekholder menginterpretasikan
regulasi dan mengimplementasikan maksud dari regulasi yang dibentuk. Kekhawatiran terjadi
penyelewengan Dana Desa juga disoroti oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam
beberapa kesempatan dan juga hal ini menjadi konsentrasi bagi aparat hukum seperti Kejaksaan
dan Kepolisian.
Sebenarnya kita harus berbangga dengan perhatian yang begitu besar terhadap berlakunya
Undang-Undang Desa, seharusnya ini menjadi motivasi bagi Pemerintah Desa, masyarakat dan
Pemerintah Daerah itu sendiri lebih intensif dalam mengawal penggunaan dana tersebut sesuai
dengan peruntukkannya. Pemerintah Daerah sendiri harus memberikan pembinaan yang kontinue
sehingga Aparatur di Desa benar-benar dapat menggunakan dana tersebut secara akuntabel.
Pemerintah Daerah harus berani memberikan terobosan diantaranya pelatihan-pelatihan dan
membuat suatu sistem secara komputerisasi dan dibuat secara terpusat baik dari proses
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pertanggungjawaban dan pelaporan tanpa
mengesampingkan fleksibelitas dan kemampuan dari Aparatus Desa itu sendiri. Jika ini bisa
berjalan dengan baik, maka tidak ada suatu hal yang dikhawatirkan tentang berlakunya Undang-
Undang Desa sehingga cita-cita Bangsa Indonesia yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar
1945 yaitu terciptanya kesejahteraan umum dan berkeadilan sosial.
Peningkatan Dana Desa untuk tahun 2016 hingga mencapai 6% dari dan diluar dana
transfer ke daerah merupakan road map Dana Desa 2015-2019 sesuai dengan amanat Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 2014. Arah kebijakan transfer Dana Desa 2016 mencerminkan
Pemerintah Pusat melakukan percepatan pembangunan infrastruktur dengan prinsif berkeadilan
dan pemerataan di setiap desa, hal ini dibuktikan dengan dalam rancangan alokasi tahun 2016 ada
kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 126,57% atau sebesar 46,9 T dari tahun 2015 yang hanya
sebesar 20,7 T. Meningkatnya transfer dana ke Desa harus diiringi dengan keberhasilan sesuai
dengan yang diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan dan mengedepankan azas
transparansi, partisipatif, akuntabel, efisiensi, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.
Agar dana desa tetap harum dan bisa jadi herba guna dalam pembangunan desa maka UU
No. 06 Tahun 2014 menerapkan Dasar Hukum sebagai berikut :
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 55 disebutkan :
1. Badan Permusyawaratan Desa mempunyai fungsi:
a. membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa;
b. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa; dan
c. melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa.

Ketentuan pasal 55 huruf c yang mengatakan bahwa BPD mempunyai fungsi


Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang
Desa :
Pasal 48 : Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajibannya, Kepala Desa wajib:
a. menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa setiap akhir tahun anggaran
kepada bupati/walikota;
b. menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa pada akhir masa jabatan
kepada bupati/walikota;
c. menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada
Badan Permusyawaratan Desa setiap akhir tahun anggaran;
Lebih lanjut dalam Pasal 51 PP yang sama disebutkan :
1. Kepala Desa menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf c setiap akhir tahun anggaran kepada Badan
Permusyawaratan Desa secara tertulis paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun
anggaran.
2. Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) paling sedikit memuat pelaksanaan peraturan Desa.
3. Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) digunakan oleh Badan Permusyawaratan Desa dalam melaksanakan fungsi pengawasan
kinerja kepala Desa.
Dari uraian diatas sudah jelas bahwa Badan Permusyawaratan Masyarakat Desa mempunyai
peran yang strategis dalam ikut mengawal penggunaan dana desa tersebut agar tidak
diselewengkan. Mari kita cermati ketentuan pasal 48 dan 51 PP Nomor 43 Tahun 2014.
Dalam Peraturan Pemerintah tersebut setikdanya ada 3 poin yang sangat krusial yaitu :
1. Pasal 48 huruf c yang menyebutkan bahwa Kepala Desa wajib menyampaikan laporan
keterangan penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada Badan Permusyawaratan
Desa setiap akhir tahun anggaran.
2. Pasal 51 ayat 2 bahwa Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pelaksanaan peraturan Desa.
Mari kita garis bawahi mengenai kata-kata paling sedikit memuat pelaksanaan peraturan
Desa. Kita tentu masih ingat bahwa APBDes adalah merupakan salah satu contoh Peraturan
Desa. Ini artinya bahwa kalau Kepala Desa wajib membuat laporan keterangan tertulis
tentang pelaksanaan peraturan desa berarti kepala desa wajib membuat laporan tentang
pelaksanaan APBDes.
3. Lebih lanjut dalam Pasal 51 ayat (3) dijelaskan bahwa laporan keterangan penyelenggaraan
Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh Badan
Permusyawaratan Desa dalam melaksanakan fungsi pengawasan kinerja kepala Desa.
Inilah ketentuan yang selama ini saya tunggu-tunggu. Sebagai salah satu pimpinan BPD
selama ini saya sangat kesulitan meng-akses mengenai pelaksanaan APBDes karena sesuai
ketentuan undang-undang bahwa kepala desa hanya wajib melaporkan pelaksanaan APBDes
kepada Bupati/Walikota sedangkan masyarakat menuntut BPD ikut mengawasi jalannya
pemerintahan Desa. Dengan payung hukum yang jelas ini maka akan mempermudah tugas BPD
untuk ikut mengawasi kinerja kepala desa termasuk didalamnya adalah penggunaan Dana Desa
yang ter-integrasi dalam APBDes.

Walaupun laporan keterangan ini bukan suatu laporan pertanggungjawaban tetapi karena ini
adalah laporan keterangan tertulis tentang pelaksanaan peraturan desa tentu kalau ada indikasi
ketidaksesuaian BPD bisa menindaklanjuti sesuai peraturan atau undang-undang yang berlaku di
Indonesia.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 Dana Desa yang bersumber dari APBN
disebutkan :
Pasal 5 menjelaskan sebagai berikut:
1. Dana Desa dialokasikan oleh Pemerintah Untuk Desa.
2. Pengalokasian Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan jumlah
Desa dan dialokasikan dengan memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas
wilayah dan tingkat kesulitan geografis.
Pasal 6 menjelaskan sebagai berikut:
Dana Desa sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ditransfer melalui APBD kabupaten/kota
untuk selanjutnya ditransfer ke APB Desa.
Kalau kita baca ketentuan pasal 5 dan pasal 6 PP No. 60 Tahun 2014 ini jelas sekali bahwa
dana desa akan ditransfer dari APBD kabupaten/kota ke APBDes.
Dana Desa yang bersumber dari APBN jumlahnya cukup besar maka diperlukan mekanisme
kontrol dari masyarakat untuk mengawasi penggunaan dana desa tersebut agar dana tersebut
dipergunakan sesuai dengan peruntukannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintahan Desa dituntut menyelenggarakan pemerintahan secara transparan dan akuntabel.

Badan Permusyawaratan Desa yang merupakan lembaga yang mempunyai fungsi


pengawasan diharapkan bisa menjalankan perannya secara sungguh-sungguh terutama dalam hal
penggunaan anggaran. Undang-undang dan Peraturan Pemerintah sudah memberikan payung
hukum yang jelas sehingga BPD tidak perlu ragu dalam menjalankan fungsinya untuk melakukan
pengawasan terhadap kinerja kepala desa. Adanya mekanisme ‘check and balance’ ini akan
meminimalisir penyalahgunaan keuangan desa. Semoga niat baik dari para pemimpin negeri ini
untuk memajukan desa bisa segera terwujud agar desa tidak lagi dipandang sebelah mata malah
sebaliknya desa akan menjadi pusat kegiatan ekonomi sehingga warga desa tidak perlu pergi ke
kota untuk mencari pekerjaan.

Dari urayan-urayan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan pembangunan


mengapai kesejahtraan dalam suatu daerah khsusnya tingkat desa memerlukan kesiapan dalam
mewujudkan cita-cita ke arah lebih baik seperti yang diamanatkan UU No 06 tahun 2015 mengenai
kesejahtraan masyrakat dalam suatu negara. Membimbing proses kegiatan pembangunan kearah
perubahan yang direncanakan dengan pendayagunaan segala potensi yang dimiliki sekolompok
masyarakat di Desa guna mewujudkan kesejahtraan masyarakat desa tersebut.

2.7 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementaisi Kebijakan


Menururt hogwood dan Gunn (Wahab, 19-97:71-81), untuk dapat mengimplementasikan
kebijakan tata kelola pemerintahan secara sempurna maka diperlukan beberapa persyaratan, antara
lain:
a. Kondisi eksternal yang dihadapi oleh badan/instansi pelaksana;
b. Tersedia waktu dan sumber daya;
c. Keterpaduan sumber daya yang diperlukan;
d. Impelementasi didasaran pada hubungan yang kausalitas yang handal;
e. Hubungan kausalitas bersifat langsung dan hanya sedikit mata rantai penghubung;
f. Hubungan ketergantungan harus dapat diminimalkan;
g. Kesamaan persepsi dan kesepakatan terhadapat tujuan;
h. Tugas-tugas terperinci dan diurutkan secara sistematis;
i. Komunikasi dan koordinasi yang baik;
j. Pihak-pihak yang berwenang dapat menuntut kepatuhan pihak lain.
Menurut grindle (wibawa,dkk.,1994) implementasi kebijkan (penerapan) ditentukan isi
kebijakan dan konteks implementasinya. Isi kebijakan bekraitan dengan kepentingan yang
dipengaruhi oleh kebijakan, jenis manfaat yang akan dihasilkan, derajat perubahan yang
diinginkan, kedudukan pembuat kebijkan, siapa pelaksana program, dan sumber daya yang
diarahkan. Sementara implementasi berkaitan dengan kekuasaan, kepentingan dan strategi yang
terlibat, karakteristik lembaga dan penguasaan, kepatuhan serta daya tanggap pelaksana untuk
menata suatu organisasi yang ( baik good gavernance ).
Sedangkan George C Edward III dalam Subarsono (2005;90) memberikan pandangan
bahwa implementasi kebijakan ditentukan oleh lima variabel yakni:
1. Komunikasi;
2. Sumber daya;
3. Sikap
4. Struktur birokrasi;
5. Lingkungan;
Dari tiga variabel diatas, dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berukut:
a. Variabel komunikasi yaitu peroses informasi mengenai kebijakan dari pelaksanaan tingkat
atas kepada aparat pelaksana ditingkat di bawahnya;
b. Variabel sumber-sumbernya manusia, informasi dan sarana prasarana yang tersedia dalam
pelaksanaan kebijak (peneapan);
c. Variabel kecenderungan atau dapat dikatakan sikap atau disposisi aparat pelaksana;
d. variabel struktur birokrasi mencakup bagaimana struktur pemerintah bagian tugas yang
ada dan koordinasi yang dilakukan;
e. variabel lingkungan Lingkungan organisasi itu sendiri terdiri dari lembaga-lembaga atau
kekuatan-kekuatan yang berada di luar organisasi dan berpotensi mempengaruhi kinerja
organisasi itu. Lazimnya lingkungan ini mencakup pemasuk, pelanggan, pesaing, badan
pengaturan pemerintah, kelompok publik penekan dan semacamnya
Adapun Van Matter dan Van Horn (AG.Subarsono,2005:99) menyebutkan ada lima
variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi,yaitu:
a. standar dan sasaran kebijakan;
b. sumberdaya;
c. komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas
d. karakteristik agen pelaksana;
e. kondisi-kondisi sosial,ekonomi,dan politik
Berdsarkan taksonomi yang berpengaruh terhadap implementasi program maka dapat di
simpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program, yaitu sikap pelaksana,
sumberdaya, komunikasi, struktur organisasi, lingkungan dan standard serta sasaran.
2.7.1 Komunikasi
Menurut wiratno dkk (1996:220), komunikasi adalah proses berbagi informsi dengan
individu-individu lainnya.informasi merupakan suatu pikiran atau gagasan yang hendak diberikan
kepada individu-individu lainnya. komunikasi merupakan keterampilan menejemen yang sering
digunakan dan sering di sebut sebagai satu kemampuan yang sangat bertanggung jawab bagi
keberhasilan seseorang, Komunikasi sangat penting sehingga orang-orang sepenuhnya tahu
bagaimana mereka bekomunikasi.
Selanjutnya Kenneth dan Gary (dalam umar, 2001 : 25) mengemukakan bahwa
komunikasi dapat didefinisikan sebagai penyampaian informasi antara dua orang atau lebih yang
juga meliputi pertukaran informasi antara manusia dan mesin .komunikasi dalam organisasi dapat
dilihat dari sisi komunikasi antara pribadi dan komunikasi organisasi.
sedangkan cangara (2001 : 18) menyatakan komuniksi adalah “suatu interaksi,proses
simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur limkungannya yaitu dengan:
1. membangun hubungan antar sesama manusia
2. melalui pertukaran informasi
3. untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain
4. serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.

Sejalan dengan itu menurut Widjaja (2000 : 88) menngatakan bahwa kommunikasi adalah :”proses
penyampaian gagasan, harapan dan pesan yang di sampaikan melalui lambang tertentu yang
mengandung arti dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan.dalam proses
kominikasi kebersamaan tersebut diusahakan melalui tukar menukar pendapat,penyampain
informasi, serta perubahan sikap dan perilaku.

Pada hakekatnya setiap prose komunikasi terdapat unsur-unsur sebagai


berikut(Widjaja 2000:30)
a. sumber pesan, adalah dasar yang di gunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan
dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri.
b. komunikator oranng lain, yang meliputi penampilan,penguasaan masalah,penguasaan
bahasa
c. komunikan, adalah orang menerima pesan.
d. pesan,adlah keseluruhan dari apa yang di sampaikan oleh kominikator,di mana pesan
ini mempunyai pesan yang sebenarnya menjadi pengarah dalam usaha mencoba
mengubah sikap dan tingkah laku komuikan.adapun unsur-unsur yang terdapat dalam
pesan meliputi :cara penyampaian pesan,bentuk pesan (informatif, persuasif, koersif)
merumuskan pesan yang mengena(umum, jelas dan gamblang, bhasa jelas, positif,
seimbang, sesuai dengan keinginan komunikan.
e. Media adalah saran yang digunakan komunikator dalam penyampaian pesan agar dapat
sampai pada komunikan, meliputi media umum,media masa.
f. Efek adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yakni sikap dan tingkah laku orang,sesui
atau tidak sesuai dengan yang kita harapkan, apabila sikap dan tingkah laku orang lain
itu sesuai maka komunikasi berhasil, demikian sebabaliknya.
Komunikasi menjalankan empat fungsi utama di dalam kelompok atau organisasi:
pengendalian,motivasi,pengungkapan emosi,dan informasi.

Sedangkan arah komunikasi di dalam suatu organisasi antara lain(Umar,2001:27-28).


a. komunikasi kebawah,yaitu dari atasan ke bawahan, yang dapt berupa
pengarahan,perintah,indoktrinasi,inspirasi maupun evaliasi.medianya bermacam-
macam,seperti memo, telepon,surat,daan sebgainya.
b. komunikasi ke atas, yaitu komunikasi dari bawahan ke atasan.fungsi utamanya adalah
untuk mencari dan mendapatkan informasi tentang aktivitas-aktivitas dan keputusan-
keputusan yang meliputi laporan pelaksanaan kerja, saran serta rekomendasi, usulan
anggaran,pendapat-pendapat, keluhan-keluhan, serta permintaan bantuan.mediannya
biasanya adalah laporan baik secara lisan maupun tulisan atau nota dinas.
c. komunikasi ke samping, yaitu komunikasi antara anggota organisasi yang setingkat
.fungsi utamanya adalah untuk melakukan kerja sama dan proaktif pada tingkat mereka
sendiri,di dalam bagian atau antar bagian lain yang bertujuan untuk memecahkan
berbagi masalah maupun menceritakan pengalaman mereka dalam melaksanakan
pekerjaannya.
d. komunikasi keluar, yaitu komunikasi antara organisasi dengan pihak luar,misalnya
dengan pelanggan dan masyarakat pada umumnya.
Menurut Cummings (dalam Umar,2001:30-31) mengkomunikasikan hal pokok yang
perlu dikuasai oleh atasan adalah:
a. Memberikan perhatian penuh pada bawahan
b. menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka
c. Mendengarkan dengan umpan balik.
d. memberiakan waktu yang cukup.
e. menghindari kesan memberiakan persetujuan mapun penolakan.
Untuk komunikasi ke atas, bawahan dapat melakukan cara-cara berkomunikasi berikut
ini:
a. melaporkan dengan segera setiap perubahan yang di hadapi;
b. menyusun informasi sebelum di laporkan;
c. memberikan keterangan selengkapnya jika atasan memiliki waktu;
d. mengajukan fakta bukan pikiran
e. melaporkan juga perihal siakp,produktivitas,moral kerja,atau persoalan.
f. khusus yang di hadapi bawahan;
g. menghindari penyebaran informasi yang salah;
George C.Edward (Winarno,2002:126) yang menyatakan bahwa ada tiga hal penting
dalam proses komunikasi kebijakan, yakni transmisi, kosistensi dan kejelasan (clarity). factor
utama yang berpengaruh terhadap komunikasi kebijakan transmisi. Sebelum pejabat dapat
meimplementasikan suatu keputusan,ia harus menyadari bahwa suatu keputusan telah di buat dan
yang timbul dalam mentransmisikan perintah-perintah implementasi.pertama bertentangan
pendapat antara para pelaksana dengan perintah yng di keluarkan oleh pengambil
kebijakan.kedua,informasi melewati berlapis-lapis hirarki birokrasi.
Faktor ke dua yang mempengaruhi komunikasi menurut Edward III adalah kejelasan. Jika
kebijakan-kebijakan di implementasikan maka petunjuk-petunjuk pelaksana tidak hanya harus
diterima para pelaksana kebijakan, tetapi juga komunikasi kebijakan tersebut harus jelas. Ketidak
jelasan pesan komunikasi yang disampaikan berkenaan dengan implementasi kebijakan akan
mendorong terjadinya interprestasi yang salah bahkan mungkin bertantangan dengan makna pesan
awal. Oleh karena itu untuk menumbuhkan tata kelola pemrintahan yang baik maka yang harus di
mulai dari komunikasi untuk memudahkan kejelasan dalam pelaksanaan.
Factor ketiga yang berpengaruh terhdap komunikasi kebijkan tata kelola pemerintahan
adalah konsistensi. jika implementasi kebijakan ingin berlangsung efektif, maka perintah-perintah
pelaksana harus konsisten dan jelas. Walupun perintah-perintah yang di sampaikan kepada para
pelaksana kebijakan mempunyai unsur kejelasan, Tetapi bila pemerintah tersebut tidak akan
memudahkan para pelaksana kebijakan menjalankan tugasnya dengan baik.

Dikaitkan dengan penelitian implementasi kebijakan Dana Desa (DD) ini, maka fenomena
yang digunakan untuk mengukur Komunikasi adalah :
1. Intensiitas sosialisasi Dana Desa
2. kejelasan komunikasi penerapan Dana Desa
2.7.2 Sumberdaya
Perintah-perintah implementasi mungkin diteruskan secara cermat, jelas dan konsisten ,
tetapi jika para pelaksana kekurangan sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksakan
kebijakan-kebijakan, maka implementasi ini pun cenderung efektif. Dengan demikian sumber-
sumber dapat merupakan faktor yang penting dalam melaksanakan kebijakan publik (winarno,
2002 : 132).

Pendapat yang hampir sama juga disampaikan oleh Gomes (1997 : 24) yang menyatakan
bahwa suatu organisasi tidak terlepas dari pengaruh lingkungan yang ada disekitarnya.
Lingkungan merupakan sumber pemasuk inpot bagi organisasi, dan juga sebagai penerima output
dari organisasi itu sendiri. Dari lingkungan suatu organisasi memperoleh bahan-bahan (materials)
yang diperlukan, baik fisik maupun non fisi, dan dari lingkungan juga organisasi menangkap cita-
cita, tujuan, kebutuhan, dan harapan hubungan antar organisasi dalam suatu lingkungan.
Unsur manusia dalam organisasi mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena
manusialah yang bisa mengetahui input-input apa yang perlu diambil dari lingkungan, dan
bagaimana caranya untuk mengolah dan mentransportasikan input-input tersebut menjadi outpu-
output yang memenuhi keinginan lingkungan. Dengan demikian, dalam organisasi yang dapat
mempengaruhi organisasi, yaitu manusia, dan lingkungan, yang saling berintraksi menurut pola
tertentu, dan masing-masing memiliki karakteristik atau nilai-nilai tertentu.
Winarno (2002 : 138) juga menyebutkan bahwa sumber-sumber yang akan mendukung tata
kelola yang efektif terdiri dari keterampilan dan jumlah yang cukup, kewenangan, informasi dan
fasilitas.
Dikaitkan dalam penelitian ini, maka fenomena yang akan dilihat dalam sumber-sumber
yang akan mempengaruhi Implementasi kebijakan Dana Desa adalah :
1. Kemampuan sumber daya manusia pelaksana DD.
2. Penyediaan fasilitas-fasilitas yang mendukung dana desa.

2.7.3 Sikap
Sikap merupakan seperangkat pendapat, minat, atau tujuan, yang menyangkut harapan
akan suatu jenis pengalaman tertentu, dan kesedian dengan suatu jenis pengalaman tertentu, dan
kesedian dengan suatu reaksi yang wajar (Mas’ud, 1991:31). Adam (2000:36) menyebutkan bahwa
sikap adalah merupakan reaksi yang timbul atas suatu rangsangan dari situasi atau seseorang,
sedangkan Gibson (1993:57) mendefinisikan sikap sebagai berikut: sikap adalah kesiapan mental,
yang dipelajari dalam organisasi melalui pengalaman dan mempunyai pengaruh tertentu atas cara
tanggap seseorang terhadap orang lain, obyek dan situasi yang berhubungan dengannya”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa siakap adalah reaksi atas pasangan suatu
obyek tertentu yang diikuti dengan kecenderungan utnuk bertindak atau bertingkah lauku, baik
berupa seikap mendukung atau menolak. Ada tiga tiga komponen dalam sikap seseorang yaitu:
(Ma’rat, 1982: 13): komponen kognitif yang hubungannya dengan kepercayaan, ide dan konsep:
komponen afektif yang menyankut kehidupan emosional seseorang dan komponen konasi yang
merupakan kecenderungan bertingkah laku.
Sedangkan menurut Widjaja (2000:111), ada tiga tahapan yang harus dilalui seseorang agar
dapat meningkatkan kesadarannya dalam memenuhi kewajiban:
1. Aspek kognetif, yang berhubungan dengan gejala pikiran.
2. Aspek afektif, yang berkaitan dengan proses yang menyangkut perasaan tertentu.
3. Aspek psikomotor, yang berkaitan dengan kecendurnag untuk bertindak terhadap suatu
obyek.
Sikap merupakan kumpulan dari berpikir, keyakinan dan pengetahuan. Namun disamping
itu evaluasi negatif maupun positif yang bersifat emosional yang disebabkan oleh komponen
afeksi. Semua hal ini dengan sendirinya berhungan dengan obyek. Pengetahuan dan perasaan
merupakan kluster dalam sikap akan menghasilkan tingkah laku tertentu. Obyek yang dihadapi
pertama-tama berhubungan langsung dengan pemikirna dan penalaran seseorang. Sehingga
komponen kognisi melukiskan obyek tersebut. Dan sekaligus dikaitkan dengan obyek-obyek lain
di sekitarnya. Hal ini berarti adanya penalaran pada seseorang terhadap obyek mengenai
karakteristik (Ma’rat, 1992:13-14).
Berdasarkan evaluasi tersebut maka komponen afeksi memilki penilaian emosional yang
terdapat bersifat positis atau negatif. Berdasarkan penilaian ini maka terjadilah kecenderungan
untuk bertingkah laku hati-hati komponen afeksi yang memiliki sestem evaluasi mengakibatkan
timbulnya perasaan senang/tidak senang atau takut/tidak takut. Dengan sendirinya pada peroses
evaluasi ini terdapat suatu valensi positif atau negatif.
Oeleh karena itu pada seseornag yang tingkat kecerdasannya rendah, kurang memiliki
aspek penalaran yang baik, dan dalam evaluasi emasionalnya pun kurang ada kehalusan sehingga
mengakibatkan kecenderungan tingkah laku yang kurang serasi (kasar). Dikaitkan dengan
penelitianini maka fenomena yang digunakan untuk mengukur sikap adalah:
1. persepsi pelaksana terhadap kebijakan Dana Desa
2. respon pelaksana kebijakan Dana Desa
3. tindakan pelaksana kebijakan Dana Desa

2.7.4 Struktur Birokrasi


Pengertian birokrasi menunjuk pada suatu organisasi yang dimaksudkan untuk
mengarahkan tenaga dengan teratur dan terus menerus, untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Dengan lain perkataan birokrasi adalah organisasi yang bersifat hierarkhis, yan ditetapkan secara
rasional untuk mengkoordinir pekerjaan orang-orang untuk kepentingan pelaksanaan tugas-tugas
administratif (lewis A. Coser dan Benard Rosenberg, dalam soekanto,293) ciri-ciri birokrasi dan
cara terlaksananya adalah sebagai berikut:
a. adanya ketentuan-ketentuan yang tegas dan resmi mengenai kewenangan yang didasarkan
pada peraturan-peraturan umum yaitu ketentuan-ketentuan hukum dan Administrasi:
1. kegiatan-kegiatan organisasi sehari-hari untuk kepentingan birokrasi dibagi-bagi
secara tegas sebagai tugas-tugas yang resmi.
2. Wewenang untuk memberi perintah atas dasar tugas resmi diberikan secara langsung
dan terdapat pembatasan-pembatasan oleh peraturan-peraturan mengenai cara-cara
yang bersifat paksaan, fisik, dan keagamaan dan sebaliknya, yang boleh dipergunakan
oleh petugas.
3. Peraturan-peraturan yang sistematis disusun untuk kelangsungan pemenuhan tugas-
tugas tersebut dan pelaksanaan hak-hak. Hannya orang-orang yang memenuhi
persyaratan umum yang dapat dipekerjakan.
b. Prinsip pertingkatan dan derajat wewenang merupakan sistem yang tegas perihal hubungan
atasan dengan bawahan dimana terdapat pengawasan terhadap bawahan oeleh atasannya.
Hal ini memungkinkan pula adannya suatu jalan bagi warga masyarakat untuk meminta
agar supaya keputusan-keputusan lembaga-lembaga rendahan ditinjau kembali oleh
lembaga-lembaga yang lebih tinggi.
c. Ketatalaksanaan suatu birokrasi didasarkan pada dokumen-dokumen tertulis yang disusun
dan dipelihara aslinya atau salinanya. Untuk keperluan ini harus ada tata usaha yang
menyelenggarakan secara khusus.
d. Pelaksanaan birokrasi dalam bidang-bidang tertentu memerlukan latihan dan keahlian ynag
khusus dari para petugas.
e. Bila birokrsi telah berkembang dengan penuh, maka kegiatan-kegiatan meminta
kemampuan bekerja yang maksimal dari pelaksana-pelaksanaanya, terlepas dari kenyataan
bahwa waktu bekerja pada organisasi secara tegas dan dibatasi.
f. Pelaksanaan birokrasi didasarkan pada ketentuan-ketentuan umum yang bersifat langgeng,
sempurna atau kurang sempurna, yang kesemuanya dapat dipelajari. Pengetahuan akan
peraturan-peraturan memerlukan cara yang khusus yang meliputi hukum, ketatalaksanaan
administratif yang baik.
Dengan memperhatikan ciri-ciri yang telah diuraikan oleh Max Weber, maka dapat
dikatakan bahwa birokrasi paling sedikit mencakup 5 (lima) unsur, yaitu (Soekanto, 1982:293-
294):
1. Organisasi
2. Pengerahan tenaga
3. Sifatnya yang teratur
4. Bersifat terus menerus
5. Mempunyai tujuan
Menurut sutarto (1995:40) organisasi adalah sistem paling pengaruh antar orang dalam
kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian dapat ditemukan
adanya berbagai faktor yang dapat menimbulkan organisasi, yaitu orang-orang, kerjasama, dan
tujuan tertentu. Bberbagai faktor tersebut saling kait merupakan suatu kebutuhan.
Setiap organisasi harus membentuk struktur organisasi sehingga jelas organisasi yang
dimaksud. Struktur organisasi akan nampak lebih tegas apabila dituangkan dalam bagan
organisasi. Yang dimaksud dengan struktur organsisasi adalah kerangka atau hubungan satuan-
satuan organsisasi yang didalamnya terdapat pejabatm tugas serta wewenang yang masing-masing
mempunyai peranan tertentu dalam kesatuan yang utuh (sutarto, 1995:41).
Struktur organisasi yang baik harus memenuhi syarat sehat dan efesien. Struktur organisasi
yang sehat berarti tiap-tiap satuan organisasi yang ada dapat menjalankan peranannya dengan
tertib. Struktur organisasi yang efesien berarti dalam menjalankan peranannya tersebut masing-
masing satuan organisasi dapat mencapai perbandingan antara usaha dan hasil kerja. Agar dapat
diperoleh struktur organisasi yang sehat dan efesien, pada waktu membentuk harus memperhatikan
berbagai asas organisasi (Sutarto, 1995:43).

Menurut Streers (1998:70) sekurang-kurangnya ada enam faktor struktur yang dapat
dikenali, yang ternyata mempengaruhi beberapa segi implementasi tatakelola organisasi di
antarannya adalah:
1. Tingkat desentralisasi
2. Spesialisasi fungsi
3. Formalisasi
4. Tentang kendali
5. Ukuran organisasi, dan
6. Ukuran unit kerja
Sedangkan Roobins (2006:585) menyebutkan unsur unuk merancang struktur organisasi,
yaitu: spesialisasi pekerjaan, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi dan
desentralisasi, serta formalisasi.
Desentraliasi adalah batas perluasan berbagai jenis kekuasan dan wewenang dari atas ke
bawah dalam hierarki organisasi. Dengan demikian pengertian desentralisasi berhubungan erat
dengan konsep partisipasi dalam pengambilan keputusan. Makin luas desentralisasi makin luas
ruang lingkup bawahan dapat turut serta dalam dan memikul tanggung jawab atas keputusan-
keputusan mengenai pekerjaan mereka dan kegiatan mendatang dari organisasinya (Steers,
1985:71).
Spesialisasi adalah pembagian fungsi-fungsi organisasi menjadi kegiatan-kegiatan yang
sangat khusus. Spesialisasi dapat diukur dengan berbagai cara, mencakup jumlah divisi dalam
sebuah organisasi dan jumlah bagian dalam setiap divisi, jumlah posisi yang berlainan dan jumlah
sub unit yang berbeda dalam sebuah organisasi, dan jumlah pekerjaan dan jabatan yang terdapat
dalam sebuah organisasi. Spesialisasi memungkinkan setiap pekerja mencapai keahlian di bidang
tertentu sehingga dapat memberikan secara maksimal pada kegiatan arah dan tujuan (Steers,
1985:74).
Formalisasi menunjukan batas penentuan atau pengaturan kegiatan kerja para pegawai
melalui prosedur dan peraturan yang resmi. Semakin besar pengaruh dan peraturan mengatur
tingkah laku pekerja, semakin besar tingkat formalisasinya (Steers, 1985:75).

Rentang kendali (rentang kontrol) adlah jumlah terbanyak bawahan langsung yang dapat
dipimpin dengan baik oleh seseorang atasan tertentu. Bawahan langsung adalah sejumlah pejabat
yang langsung berkedudukan di bawah seseorang atasan tertentu. Atasan langsung adalah seorang
pejabat yang memimpin langsung sejumlah bawahan tertentu (Sutarto, 1995:172).
Menurut Sutarto (1995, 174), ada dua faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan
beberapa sebaiknya jumlah pejabat bawahan yang langsung dapat dipimpin dengan baik oleh
seseorang pejabat atasan tertentu, yaitu:
1. Faktor subyektif, yaitu faktor yang melekat pada pejabatnya, misalnya: kepandaian,
pengalaman, kesehatan, umur, kejujuran, keahlian, kecakapan, dan laun-lain.
2. Faktor obyektif, yaitu faktor yang ada diluar pejabatnya, minsalnya: corak pekerjaan, jarak
antar pejabat bawahan, letak para pejabat bawahan, stabilnya organisasi, jumlah tugas
pejabat waktu tugas penyelesaian.
Besarnya ukuran organisasi dapat mempengaruhi berbagai aspek keberhasilan organisasi.
Bertambah bersarnya ukuran organisasi tampaknya mempunyai hubungan positif dengan
peningkatan efesiensi. Faktor-faktor seperti pergantian pemimpin yang teratur, berkurnagnya
tenaga kerja, dan pengendalian lingkungan semua ini dapat di anggap sebagai beberapa aspek yang
mengatur pelaksanaan pekerjaan secara tertib dan efesien (Steers, 1985: 80).
Pengaruh ukuran unit kerja terhadap sikap dan tingkah laku para pekerja dan pengaruhnya
terhadap organisasi tampak berlainan dengan ukuran organisasi. bagi para pekerja semakin
besarnya unit kerja selalu dihubungkan dengan berkurangnya kepuasan bekerja, tingkat kehadiran,
merosotnya tingkat kebetahan, dan meningkatkan perselisihan perburuhan (Steers, 1985: 80).
Berkaitan dengan penelitian ini, maka fenomena yang dipergunakan untuk mengatur
struktur birokrasi adalah:
1. Pembentukan struktur organisasi
2. Pembagian tugas
3. Koordinasi dari para pelaksana kebijakan.
2.7.5 Lingkungan
Roobins (2003:603) menyatakan bahwa lingkungan tidak kekurangan definisi. Benang
merah yang menghubungkanya adalah pertimbangan atas faktor diluar organisais itu sendiri.
Benang merah yang menghubungkanya adalah pertimbangan atas faktor diluar organisasi itu
sendiri. Minsalnya, definisi yang paling populer, mengidentifikasikan lingkungan sebagai segala
sesuatu yang berada diluar batas organisasi.
Lingkungan organisasi itu sendiri terdiri dari lembaga-lembaga atau kekuatan-kekuatan
yang berada di luar organisasi dan berpotensi mempengaruhi kinerja organisasi itu. Lazimnya
lingkungan ini mencakup pemasuk, pelanggan, pesaing, badan pengaturan pemerintah, kelompok
publik penekan dan semacamnya. Selanjutnya juga dikatakan bahwa terdapat tiga dimensi utama
lingkungan organisasi, yaitu kapasitas, volatilitas dan kompeleksitas.
Kapasitas lingkunagn mengacu sampai tingkat mana lingkungan itu mendukung adanya
pertumbuhan. Lingkungan yang kaya dan bertumbuh akan menimbulkan sumber daya yang
berlebihan, sehngga dapat menyangga organisasi pada saat kelakaan relatif. Kapasitas yang
berlebihan dapat memberi kesempatan bagi sebuah organisasi membuat kesalahan, sedangkan
kapasitas yang langka tidak mentolerir adanya kesalahan.
Tingkat ketidak setabilan lingkungan dimasukan dalam dimensi volatility. Jika terdapat
tingkat perubahan yang tidak dapat diprediksi, lingkungan tersebut adalah dinamis. Hal ini
menyukarkan pelaksanaan tata kelola untuk meramalkan secara tepat kemungkinan yang terkait
dengan berbagai alternatif keputusan. Pada sisi lain terdapat lingkungan yang stabil.
Pada akhirnya lingkungan harus dinilai dalam hubungannya dengan kompleksitas, artinya
tingkat dari heterogenitas dan konsentrasi di antara elemen lingkungan. Suatu lingkungan tang
sederhana adalah homogen dan terkonsentrasi.sebaliknya lingkungan yang heterogenitas dan
penyebaran disebut lingkungan yang kompleks.
Berkaitn dengan penelitian ini, maka fenomena yang dipergunakan untuk mengukur
lingkungan dari kebijakan dana desa adalah : kapasitas lingkungan, yaitu kemampuan badan
permusyawaratan desa dan lembaga-lembaga kemasyarakatan desa dalam mendukung kebijakan
dana desa. Kesetabilan peran badan permusyawaratan desa dan lembaga-lembaga kemasyarakatan
desa dalam mendukung kebijakan dana desa. Kompleksitas, yaitu banyaknya campur tangan
lembaga-lembaga diluar organisasi pelaksana dana desa yang mempengaruhi kebijakan.
2.7.6 Ukuran Dan tujuan kebijakan
Menurut Van Matter dan Van Horn (Winarno,2002:110) identikasi indikator-indikator
pencapaian merupakan tahap yang krusial dalam analisis implementasi kebijakan. indikator-
indikator pencapaian ini menilai sejauh mana ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan
yang telah direalisasikan. Ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan berguna didalam menguraikan
tujuan-tujuan keputusan kebijakan secara menyeluruh.
Namun demikian, dalam banyak kasus ditemukan beberapa kesulitan untuk
menindentifikasi dan mengukur pencapain.
Van metter dan Van Horn mengemukakan bahwa ada dua penyebab untuk menjawab hal
ini,yaitu pertama, disebabkan oleh bidang program yang terlalu luas dan sifat tujuan yang
kompleks. Kedua, akibat dari kekaburan-kekaburan dan kontradiksi dalam pernyataan ukuran-
ukuran dasar dan tujuan.
Sejalan dengan pendapat di atas, Mazmanian dan Sabatier (subarsono 2001:102),
menyatakan bahwa standar dan tujuan tata kelola yang di rumuskan dengan cermat dan di susun
dengan jelas dengan urutan kepentingannya memainkan peran yang amat penting sebagai alat
bantu dalam mengevaluasi program, sebagai pedoman yang kongkrit bagi pejabat pelaksana dan
sebagai sumber dukugan bagi tujuan itu sendiri.
Berdasarkan para ahli diatas, fenomena yang dipergunakan untuk mengukur ukuran dan
tujuan kebijakan Dana Desa dalam penelitian ini adalah :
1. Kesesuaian program dengan tata kelola yang telah di tetapkan
2. Ketetapan sasaran sesuai dengan tata kelola yang ditentukan.

2.8 Kerangka pikir


Berdasarkan berbagai uraian tersebut maka kerangka pikir penelitian ini dapat digambarkan
dalam sebuah model berikut:

Kebijakan Dana Desa


Tujuan Dana Desa

1. Peningkatan
pemerintahan desa
2. Peningkatan
pembangunan di
Tingkat Desa

IMPLEMENTASI

1. Komunikasi
2. Kemampuan
3. Sikap
4. Struktur birokrasi
5. Lingkungan
6. Ukuran dan tujuan
dan tujuana
kebijakn
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Jenis penelitian


Dalam studi penelitian, pengguanaan metodelogi merupakan suatu langkah yang harus
ditempuh, agar hasil-hasil yang sudah terseleksi dapat terjawab secara valid, reliabel dan obyektif,
dengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan dan dikembangkan suatu pengetahuan, sehingga dapat
digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam bidang
administrasi publik.
Metode murapakan prosedur atau cara dalam mengetahui sesuatu, yang mempunyai
langkah-langkah yang sistematis. Penelitian ini mengunakan metode penelitian deskriptif
kualitatif. Menurut Usman dan Akbar (2004 : 81) penelitian diskriptif bermaksud membuat
penggambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi
tertentu. Dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan sifat sesuatu yang tengah
berlangsung pada saat studi.
Metode kualitatif ini lebih mendasarkan pada filsafat fenomenologis yang mengutamakan
penghayatan (verstehen) dengan berusaha menghayati dan menafsirkan makna suatu peristiwa
intraksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspketif peneliti sendiri (Usaman
dan Akbar 2004 : 81).

3.2 Fokus Penelitian


Ada dua maksud yang ingin dicapai peneliti melalui penetapan fokur, pertama, penetapan
fokus untuk membatasi studi, dalam hal ini membatasi bidang inkur, minsalnya, membatasi
dariapada pengunaan teori-teori tertentu yang sesuai dengan masalah yang diteliti, sedang teori-
teori yang tidak sesuai sedapat mingkin dihindari pengunaannya, kedua, penetapan fokus
penelitian berfungsi untuk memenuhi kretria inkluisi-inkluisi seperti persoalan data yang baru
dilapangan.
Dengan bimbingan dan arahan suatu fokus penelitian, maka peneliti tahu persis data mana
yang perlu dikumpulkan dan data mana pula yang tidak perlu dimasukan kedalam sejumlah data
yang sedang dikumlkan (Moleong 2001 : 63 ). Jadi penetapan fokus yang jelas dan mantap,
seorang peneliti dapat membuat keputusan yang tepat tentang data mana yang akan dikumpulkan
dan mana yang perlu d ijamah ataupun mana yang akan di buang.
Permasalahan dan fokus penelitian sangat terkait, oleh karena itu permasalahan penelitian
dijadikan sebagai acuan didalam fokus, walaupun fokus dapat berubah dan berkembang
dilapangan sesuai dengan perkembangan permasalahan penelitian ini, maka fokus penelitian
42
diarahkan pada faktor faktor yang mempengaruhi Implementasi Good Gvernance Dalam Bidang
Administrasi Desa dengan Studi Kasus Dana Desa.

3.3 Lokasi Penelitian


lokasi penelitian adalah daeerah atau tempat yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan
penelitian dan memproleh data yang diperlukan dalam penyelesaian penelitian. Lokasi penelitian
ini dilaksanakan di Desa Jupung Kecamatan Jupung Kabupaten Jember.

3.4 Jenis Dan Sumber Data


yang dimaksud dengan sumber data yaitu sumber dimana data itu diperoleh. Maka untuk
mendapatkan data yang relavan dengan permasalahan ini data yang di ambil meliputi data primer
dan data skunder.
1. Data Perimer
Data perimer yaitu data yang diperoleh secara langsung pada sumber data yaitu dari
informan untuk mendapatkan jawaban yang berkaitan dengan implementasi good
gavernance dalam bidang administrasi desa. Informan yang digunkan sebagai sumber
dalam penelitian ini adalah Bapak Drs. H. Sukirman Mpd selaku Sekretariat kecamatan
Sukorambi Kabupaten Jember, Bapak Bhisma Perdana SH selaku Kepala Desa Jubung,
Bapak Fathullah selaku Sekretaris Desa Jubung, Bapak Imam Ansori selaku Bendahara
Desa Jubung, Bapak Edy selaku Ketua LPMD Desa Jubung, bapak Suryanto selaku Ketua
BPD desa Jubung, Bapak Sutono selaku UPT desa Jubung dan Ibu Seriwahyuningsih
selaku masyarakat Desa Jubung .
2. Data Skunder
Data sekunder adalah sebagai data pendukung dari data primer dari literatur dan dokumen
serta data yang diambil dari suatu organisasi dengan permasalahan dil apangan yang
terdapat pada lokasi penelitian berupa bahan bacaan, bahan pustaka, dan laporan-laporan
penelitian yaitu : Peraturan Desa Jubung, Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa
Jubung, Penyusunan Laporan Hasil MUSRENBANG Desa Tahun 2015, Laporan Hasil
MUSRENBANG Desa Jubung dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJMDDes) dan Sambutan Bupati pada acara Musyawarah Perencanaan
Pembangunan (MUSRENBANG)

3.5 Pendekatan Penelitian


pendekatan penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang
membutuhkan kedalaman penghayatan terhadap intraksi antara konsep atau analisis secara
mendalam tentang hubungan-hubungan konsep yang dikaji secara empirik. Bogdan dan taylor
sebagaimana dikutip oleh maleong menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan prilaku yang diamati. (meleong, 2007: 185)
dalam penelitian ini, penulis juga menggunakan penelitian survey guna memperoleh data
primer mengenai Implementasi Good Gavernance Dalam Bidang Administrasi Desa Jubung (Studi
Kasus Dana Desa di Desa Jubung Kabupaten Jember). Dengan berdasarkan data yang ada, penulis
berupaya mendeskrifsikan/mengambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-
fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang ada.

3.6 Pemilihan Informan


Teknik penentuan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
purposive, yaitu teknik penentuan sumber data secara langsung dengan asumsi banhwa seorang
atau beberapa orang yang dipilih tersebut dianggap telah mengetahui tentang pokok permasalahan
yang diteliti. Teknik penentuan sumber data purposive tersebut dikombinasikan dengan teknik
bola salju (snow ball) dengan harapan dapat memperoleh data penelitian yang diperoleh secara
terus menerus yang kemudian berkembang menjadi hasil penelitian yang luas sehingga mampu
menjadi penunjang data dalam penelitian. Para informan yang dipilih adalah Bapak Bhisma Perdan
Kepala Selaku Kepala Desa Jubung, Bapak Fathullah selaku Sekretaris Desa Jubung dan Bapak
Imam Ansori selaku Bendahara Desa Jubung.

3.7 Teknik Pengumpulan Data


Sesuai dengan objek dan tujuan penelitian ini, maka dalam pengumulan data, peneliti akan
mengunakan metode sebagai berikut:
1. Metode observasi
Metode ilmiah observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan
sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas sebenarnya tidak
hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan peneliti., baik secara langsung tetapi juga
bisa dilakukan secara tidak langsung. Berpijak dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa
observasi adalah suatu tehnik pengamatan untuk mendapatkan data dari fenomena-fenomena
yang diamati baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam melaksanakan observasi
atau pengamatan. Peran peneliti sebagai pengamat dalam hal ini tidak sepenuhnya sebagai
pemeran serta tetapi melakukan fungsi pengamatan. Dengan kata lainpengamat hanya
melakukan suatu fungsi yang dalam hal ini hanya mengadakan pengamatan saja.
2. Interview/Wawancara
Metode interview yang dikenal dengan tehnik wawancara adalah percakapan dengan maksud
tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewanwancara yang mengajukan pertanyaan
dan yang diwawancarai, yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Dari pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa metode interview adalah suatu cara untuk memperoleh
mengumpulkan data dengan melakukan tanya jawab. Bentuk dari interview dapat dibedakan
menjadi tiga macam yaitu: interview bebas, interview terpimpin dan interview bebas
terpimpin. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode interview bebas terpimpin
artinya dalam melakukan interview peneliti akan membawa pedoman yang berisi hal-hal
yang akan ditanyakan sehingga wawancara tersebut tidak menyimpang dari tujuan semula
dan data yang diinginkan oleh peneliti bisa diperoleh. Interview/Wawancara dilakukan
dengan Bapak Bhisma Perdan Kepala Selaku Kepala Desa Jubung, Bapak Fathullah selaku
Sekretaris Desa Jubung dan Bapak Imam Ansori selaku Bendahara Desa Jubung.
3. Dokumentasi
Menurut suharsimi arikunto (2001:36) yang meberikan definisi tenang dokumenter yaitu
dari asal kata “dokumen” yang artinya barang-barang tertulis, artinya didalam melaksanakan
metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis. Dengan pendapat dari
suharsimi arikunto tersebut bahwa dokumentasi yang dipakai dalam penelitian adalah
mempelajari dan mencatat data-data yang sudah didokumentasikan seperti laporan, arsip,
laporan kegiatan atau dokumen-dokumen yang diperlukan dalam pengumpulan data.

3.8 Teknik Analisis Data


Menurut pendapat potton seperti yang dikutip oleh moleong (2000:108) bahwa analisis data
adalah proses mengatur urutan data mengorganisasikan kedalam suatu pola, kata gori dan satuan
uraian data. Sedangkan analisis data kualitatif menurut bogdan dan biklen, seperti yang dikutip
oleh meleong adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan
data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensitensiskanya mencari dan
menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa
yang dapat diberikan kepada orang lain.
Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan Deskriptif Thinking dalam menganalisa
data kualitatif yang diperoleh penulis dalam meneliti. Metode deskriptif menurut suahrsimi
arikunto merupakan penelitian non hipotesis sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu
merumuskan hipotesis artinya, metode ini digunkan dalam rangka menganalisa data dari hasil
pengumpulan data yang berhubugan dengan pembahasan atau fenomena yang menjadi fokus
masalah .(Muhajjjir,2002:27)
Dalam kerangka ini, peneliti mengambarkan peristiwa atau kejadian yang muncul pada
saat meneliti sesuai dengan pembahasan yang diambil guna mendapatkan hasil yang faktual dan
akurat. Oleh sebab itu, tujuan penggunaan dari metode deskriptif ini adalah untuk membuat
diskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, serta
hubungan antara fenomena yang diselidiki. Sesuai dengan tipe penelitian kualitatif, maka data
yang terkumpul dianalisis secara kualitatif. Dalam arti gejala yang muncul secara berkaitan
diungkapkan secara lebih mendalam dan terperinci dengan menggunakan deskriptif kualitatif
secara sistematis. Pemahaman realitas sosial yang diteliti. Berikutnya dilakukan interprestasi yaitu
dengan meberikan analisis terhadap realitas sosial hasil penelitian berdasarkan kerangka teoritis
tersebut, sehingga akan diperoleh pemahaman
Menurut moleong (2001:1990) proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan
menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara pribadi, dokumen
resmi, gambar, foto, arsip-arsip dan sebagainya.
Dalam penelitian ini penulis memakai metode analisis data deskriptif kualitatif dengan cara
mengambarkan, memgkatagorikan, serta menafsirkan data-data yang diperoleh. Analisa ini
mengandalkan kemampuan interprestasi penulis dalam menafsirkan data lapangan.
Data yang didapatkan dari wawancara dan pengamatan serta dokumen dikelompokan dan
dipilih sesuai denagan sub-sub yang diperlukan. Kemudian dibuat abstraksinya untuk mengetahui
garis besarnya atau benang merah permasalahan sehingga mudah untuk menarik kesimpulan.
Teknik analisa data dalam penelitian, melalui tiga tahapan yaitu:

1. Reduksi Data
Yaitu data atau informasi hasil dari pengumpulan di lapangan ditulis dalam bentuk uraian
atau laporan terinci. Uraian-uraian dan laporan tersebut kemudian direduksi, dirangkum,
dipilih hal-hal pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema atau polanya
kemudian disusun yang lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan.
2. Display Data
Setelah data direduksi, tersusun secara sistematis dan terkelompok berdasakan jenis dan
polanya selanjutnya disususn dalam bentuk bagan-bagan atau narasi-narasi sehingga
membentuk rangkaian informasi yang bermakna sesuai dengan permasalahan.
3. Pengambilan kesimpulan dan verivikasi
Setelah melewati tahap pertama dan kedua, selanjutnya langkah yang harus diambil adalah
mengambil kesimpulan. Kesimpulan diambil berdasarkan hasil reduksi dan display data.
Verifikasi dilakukan dengan cara mencari data baru yang lebih mendalam untuk
mendukung kesimpulan yang sudah didapatkannya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Wilayah penelitian merupakan hal yang diperlukan untuk memberikan pendalaman
pemahaman mengenai permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut. Berikut ini akan diberikan
gambaran mengenai wilayah Desa Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember.
4.1.1 Letak dan Batas Wilayah
Secara umum letak geografis Desa Jubung terletak pada wilayah dataran sedang yang luas
dan merupakan lembah yang subur. Secara umum batas-batas wilayah Desa Jubung meliputi :
Utara : Desa Dukuhmencek
Timur : Kelurahan Mangli dan Desa Jubung
Selatan : Desaa Pencakarya dan Desa Kaliwining
Barat : Desa Kaliwining Desa Rambigundam dan Desa Glagahwero
Desa Jubung memiliki luas wilayah 374,128 Ha, dari segi topografi, Desa Jubung berada
pada bagian utara wilayah Kabupaten Jember yang merupakan daerah pertanian yang subur untuk
pengembangan tanaman pangan
dari luas wilayah tersebut diatas terbagi menjadi beberapa kawasan :
 Perkampungan : 75,500 Ha
 Sawah : 260,028 Ha
 Tanah Kuburan : 2,721 Ha
 Tanah Lapangan : 1,000 Ha
 Tanah Desa : 0,800 Ha
 Tanah RVE, RVO, GG : 4,000 Ha
 Tanah Perhutani : 3,000 Ha
 Tanah Pekarangan : 15,700 Ha
 Tanah Kas Desa : 11,379 Ha
Jumlah : 374,128 Ha
Selain itu Desa Jubung memiliki wilayah berupa Dusun yakni :
1. Dusun Jubunglor : 3 RW 13 RT
2. Dusun Krajan : 4 RW 22 RW
3. Dusun Darungan : 2 RW 8 RT
Jumlah Keseluruhan : 9 RW 43 RT

4.1.2 Kondisi Demografis


Secara umum Desa Jubung mayoritas penduduknya merupakan penduduk asli Desa dan
sisanya sebagian kecil merupakan penduduk pendatang. Dilihat dari penyebaran suku bangsa
penduduk Desa Jubung terdapat dua suku jawa dan madura juga sebagian kecil suku lain.
Berdasarkan mobilisasi jumlah penduduk lahir mati, datang dan pindah penduduk Desa
Jubung selama kurun waktu 1 (satu) tahun sebanyak

Laki-laki : 2.477 Jiwa


Perempuan : 3.094 Jiwa
Jumlah Jiwa : 5.571 Jiwa
Jumlah KK : 1.385 KK

Sdangkan jika diklarifikasikan menurut usia dapat digambarkan sebagai berikut:


Tabel 4.1. Jumlah Penduduk lahir mati, datang dan pindah di Desa Jubung Tahun 2015
Laki-Laki Perempuan

Kelompok Umur (L) (P) L+P


00-44 111 125 236

05-09 142 228 370

10-14 189 211 400

15-19 123 255 378

20-24 156 221 377

25-29 179 199 378

30-34 221 224 445

30-39 237 247 484

40-44 182 208 390

45-49 178 184 362

50-54 155 197 352

55-59 139 204 343

60-64 168 196 364

65-69 103 132 235

70-74 118 172 245

75+ 99 113 212

Total 2500 3071 5571


Dari segi pendidikan dapat dilaporkan hal-hal sesuai dengan table berikut :
Tabel 4.2 dari segi pendidikan di Desa Jubung
PENDIDIKAN YANG JUMLAH

No DITAMATKAN PENDUDUK

1 Tidak Tamat SD 262

2 SD Sederajat 1892

3 SLTP Sederajat 792

4 SLTA Sederajat 632

5 Diploma 91

6 Sarjana (S1) 87

7 Pasca Sarjana 19

JUMLAH 3775

4.1.3 Kondisi Ekonomi


Desa Jubung dikenal sebagai desa agraris, memiliki potensi alam yang cukup prospektif
bagi pegembangan perekonomian wilayah ditingkat Desa. Sesuai dengan potensi ekonomi desa
yang ada, perekonomian di Desa Karangpring masih mengandalkan pada sektor pertanian sebagai
basis dan pengerak roda perekonomian wilayah.
Pertanian sebagai sektor unggulan sampai saat ini masih memiliki peran yang dominan dan
strategis bagi pembangunan perekonomian baik sebagai : penyedia bahan pangan, bahan baku
produk oalahan, peningkatan pendapatan desa dan masyarakat serta penyerapan tenaga kerja
dalam jumlah yang signifikan.
Sumber daya pada saat ini merupakan tolak ukur bagi desa untuk dilestarikan, sehingga
menjadi potensi ekonomi yang unggul khusunya dibidang pertanian dengan beberapa produk yang
dihasilkan meliputi : Padi, Jagung, Rambutan dan tanaman palawija lainya.

Secara umum mata pencaharian penduduk Desa Jubung dapat diklarifikasikan dalam
beberapa bidang yaitu sesuai dengan table sebagai berikut :
Tabel 4.3 mata pencaharian penduduk Desa Jubung
No URAIAN JUMLAH

PENDUDUK

1 Pertanian 847 Orang

2 Industri Pengolahan 169 Orang

3 Kontruksi / Bangunan dan Perbengkelan 199 Orang

4 Perdagangan, Rumah Makan, Jasa 98 Orang

5 Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi 74 Orang

6 PNS, TNI, POLRI 273 Orang

7 Buruh Tani dan lain-lain 2184 Orang

Jumlah 4844 Orang

4.2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa Jubung Tahun 2011-2015
Dalam rangka melaksanakan roda pemerintahan desa agar memiliki kejelasan tujuan, maka
perlu untuk menetapkan arah pembangunan yang akan membawa kepada terwujudnya
kesejahtraan rakyat melalui peningkatan pelayanan dan pemberdayaan pembangunan.
Desa dalam sistem pemerintahan merupakan salah satu subsistem yang tidak terpisahkan
dari sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 5 (1) peraturan Daerah
Nomor 9 Tahun 2007 tentang perencanaan pembangunan Desa.
Diera serkarang ini dengan semakin luasnya kewenangan desa utnuk mengatur dan
mengurus kepentingan Desa, mengharuskan desa lebih kereatif dan inovatif dalam hal pelayanan,
pemberdayaan dan peran serta masyarakat guna untuk mewujudkan kesejahtraan masyarakat
seperti relatie rendahnya kondisi social ekonomi masyarakat, antara lain: angka kemiskinan,
jumlah pengangguran, derajat kesehatan yang rendah serta daya beli masyarakat yang rendah.
Dari uraian singkat tentang permasalahan diatas, dan guna mengatasi permasalahan
tersebut diatas kami tetapkan Visi dan Misi Desa Jubung sesuai dengan peraturan Desa Jubung
Nomor 1 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah, Tahun 2011-2015,
sebagai berikut :
1. Visi
Terciptanya pelayanan dibidang pemerintahan ysng kreatif, inovatif, guna mewujudkan
masyarakat Desa Jubung yang sejahtra lahir batin.
2. Misi
Misi yang diemban dalam dalam mewujudkan visi diatas adalah:
1. Meningkatkan kualitas pelayanan pemerintahan;
2. Ikut serta mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat;
3. Menggali unggulan potensi Desa;
4. Menekan angka kemiskinan dan pengangguran;
5. Pembangunan sarana dan prasarana yang memadai;

4.3 Setrategi dan Arah Kebijakan Desa


Strategi pembangunan Desa dalam rangka mewujudkan Visi dan menjalankan Misi
ditempuh dengan tiga strategi yaitu :

4.3.1 Penyelenggaraan pemerintahan yang kreatif, Inovatif dan berkualitas


Penyelenggaraan di arahkan pada pemenuhan pelayanan umum dan pelayanan dasar
kepada masyarakat agar terjadi kondisin masyarakat yang aman, nyaman, tertib serta adanya
kepastian hukum, strategi ini dimaksudkan untuk mewujudakan pelayanan prima dengan
mengedepankan aparatur yang propesional, jujur, kreatif dan inovatif serta memaksimalkan fungsi
sebagai fasilitator dan regulator.
4.3.2 Pemberdayaan Masyarakat dan Dunia Usaha
Pemberdayaan ini di arahkan pada peningkatan mutu pengetahuan umum dan agama,
kesadaran hukum, kesehatan dan daya beli masyarakat serta menumbuh kembangkan dunia usaha
khususnya yang berbasis potensi lokal. Strategi ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan dasar
masyrakat yang meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan, disamping
itu meningkatkan kondisi sosial masyarakat dan ekonomi serta partisipasi masyarakat dalam
pembangunan.

4.3.3 Pengelolaan sumber daya alam dan buatan secara optimal


Pengelolaan ini diarahkan pada peningkatan pemanfaatan sumber daya alam dan buatan
secara optimal dengan tetap menjaga kelestarinya guna mendorong percepatan pertumbuhan
ekonomi dan terbukanya lapangan

4.4 Arah Kebijakan Desa


Berdasarkan misi sebagaimana diatas tersebut, maka arah kebijakan pembangunan
ditunjukan pada :

4.4.1 Peningkatan Kualitas Pelayanan Pemerintahan


dalam rangka pencapaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa yang berkualitas,
maka kebijakan pembangunan pada tahun 2014 diarahkan pada :
1. Koordinasi dan komunikasi antara Pemerintahan Desa dan Badan Permusyawaratan
Desa dalam hal penyelenggaraan pemerintahan desa;
2. Pengembangan kualitas pelayanan Administrasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan
dunia usaha;
3. Peningkatan kualitas aparatur melalui pendidikan dan pelatihan aparatur;
4. Peningkatan kesejahtraan aparatur, dan
5. Koordinasi dengan semua lembaga terkait yang ada di Desa dengan keterbukaan dalam
semua bentuk dan saling mengisi demi kepentingan masyarakat Desa pada umumnya.
4.4.2 Ikut Serta Mendukung Peningkatan Kualitas Pendidikan Dan Kesehatan Masyarakat
dalam rangka pencapaian kinerja dalam rangka ikut serta mendukung peningkatan kualitas
pendidikan dan kesejahtraan masyarakat tahun 2014 diarahkan pada :
1. Peningkatan kesadaran wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun;
2. Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan;
3. Pemberian beasiswa pada pelajar berprestasi dan bantuan kepada pelajar kurang
mampu;
4. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan;
5. Fasilitas kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan
menggunakan Askeskin/jamkesmas dari tingkat puskesmas sampai dengan RSUD;
6. Peningkatan sistem sanitasi umum yang ada di Desa;
7. Fasilitasi pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui posyandu, dan
8. Meningkatkan kemauan masyarakat dibidang pendidikan anak usia dini.

4.4.3 Penggalian Potensi Unggulan Desa


dalam rangka pencapaian kinerja penggalian potensi unggulan Desa, maka kebijakan
pembangunan pada tahun 2014 diarahkan pada :
1. Pemenuhan saran dan prasarana pertanian ( penggadaan handtracktor dan diesel atau
pompa air dengan swadaya masyarakat);
2. Fasilitas terhadap upaya petani dalam rangka peningkatan produktivitas dan mutu
produk pertanian dan;
3. Penggalangan terhadap petani dalam rangka pentingnya penanganan penyakit pada
tanaman atau pemberantasan hama pada tanam;

4.4.4 Penanggulangan Kemiskinan Dan Pengangguran


dalam rangka pencapaian kinerja penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, maka
kebijakan pembangunan pada tahun 2014 diarahkan pada :
1. Fasilitas terhadap program kerja satuan kerja Perangkat Daerah dalam rangka
peningkatan kemiskinan dna pengangguran;
2. Penigkatan kualitas lingkungan dan pemukiman keluarga miskin;
3. Pemberdayaan perempuan;
Pembangunan sarana dan prasarana yang memadai dalam rangka pencapaian kinerja
pembangunan sarana dan prasarana yang memadai, maka kebijakan pembangunan pada tahun
2014 diarahkan pada :
1. Peningkatan infrastruktur jalan Dusun;
2. Pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi;
3. Peningkatan pelayanan fasilitas yang menunjang pendidikan dan kesehatan.

4.5 Proritas Desa


Dalam rangka mewujudkan masyarakat Desa Jubung makmur dan sejahtra lahir dan batin,
maka arah kebijakan umum Desa tahun 2014 di perioriataskan pada 4 bidang pembangunan yaitu
:
1. Bidang Pendidikan;
2. Bidang Kesehatan;
3. Bidang Pertanian;
4. Bidang Sarana dan Prasarana.

4.6 Kewenangan Desa


Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tantang Pemerintahan Desa Pasal 7
disebutkan bahwa salah satu urusan pemerintah yang menjadi kewenangan Desa adalah urusan
Pemerintah yang sudah ada berdasarkan hak asal usul desa. Dalam rangka pelaksanaan hak asal
usul Desa yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Jubung yang
termuat dalam Peraturan Desa Jubung Nomor 1 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Desa Jubung tahun 2011-2015 telah dilaksanakan Musyawarah Perencanaan
Pembangunan Desa (Musrenbangdes).
Dalam pelaksanaan kegiatan di Desa, maka diperlukan sumber dana pembiayaan kegiatan
Desa. Adapun sumber pendanaan kegiatan Desa Jubung meliputi :
1. Pendapatan Asli Desa;
2. Hasil Kekayaan Desa;
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Desa yang dipisahkan;
4. Hasil swadaya dan partisipasi masyarakat;
5. Dana Perimbangan; dan
6. Lain-lain pendapatan Desa yang sah.

4.7 Pelaksanaan Kegiatan


Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pemerintah Desa pada
penjelasan Pasal 4 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan hak untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku dan tidak bertentangan
dengan Peraturan Perundang-Undangan seperti : Jogoboyo, Jogotirto dan lain-lain.
Dari penjelasan diatas mencerminkan bahwa terdapat banyak kewenangan hak asal-usul
Desa yang sangat luas yang berbeda-beda antar wilayah. Khusus Desa Jubung, agar pelaporan
lebih sistematis dan efisien, maka kewenangan tentang hak asal-usul Desa Jubung digolongkan
kedalam beberapa kelompok.
a. Tata Pemerintahan Desa
Sebelum melangkah lebih jauh kedalam pemerintahan desa, hal yang paling substansial
adalah penataan kelembangaan Desa. Dalam tata pemerintahan Desa selalu mengikuti pedoman
yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Jember melalui Peraturan Daera Nomor 6 Tahun
2006 tentang Pemerintahan Desa.
Menururt Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tentang penyelenggaraan Pemerintahan
Desa secara utuh dilaksanakan oleh Pemerintah Desa dalam hal ini Kepala Desa dan Perangkat
Desa serta Badan Permusyawaratan Desa. Bahwa untuk mewujudkan visi dan misi sesuai dengan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa yang dijabarkan dalam Rencana Kerja
Pemerintahan Desa, maka harus tercipta hubungan yang setara dan harmonis antara Pemerintahan
Desa dan Badan Permusyawaratan Desa. Sehingga melihat tuntutan tersebut kami senang tiasa
melaksanakan koordinasi pada setiap pelaksaan Pemrintahan Desa agar terjalin keharmonisan dan
hubungan kerja kemitraan yang baik.
b. Administrasi Desa
Dibidang Administrasi Desa, dalam hal ini Pemerintahan Desa maupun Badan
Permusyawaratan Desa telah menyesuaikan dengan pedoman yang diberikan Pemerintah
Kabupaten Jember, berupa pemberian Buku Administrasi Desa sebanyak 50% dari kebutuhan
yang ada dan sisanya di anggarkan oleh Pemrintah Desa melalui APBDes Tahun 2014.
Menyadari akan semakin pentingnya peran Administrasi Desa yang baik, maka kami
berupaya semaksimal mungkin agar setiap peroses penyelenggaraan Pemerintahan terekam dalam
sistem Administrasi Desa. Mengingat selama ini yang menjadi titik lemah Desa yang paling utama
adalah lemahnya Administrasi Desa, yang pada akhirnya berujung pada ketidak akuratan data dan
informasi.
c. Perangkat Desa
Mengenal perangkat Desa kami selalu berupaya berpedoman pada Peraturan Bupati Jember
Nomor 36 Tahun 2007 tentang Perangkat Desa. Pada tahun ini dilaporkan bahwa tidak ada
kekosongan Perangkat Desa Jubung.
d. Pengelolahan Tanah Kas Desa
Berkaitan dengan tanah kas Desa melaporkan bahwa luas Tanah Kas Desa Jubung seluas
± 11.379 hektar, sedangkan sisanya sekitar 1.179 hektar adalah tanah tegalan dan tanah tersebut
saat ini berfungsi sebagai lahan kebun seluas 0,379 Ha dan ± seluas 0,800 hektar saat ini
dipergunakan sebagai lahan perkantoran dan sarana umum lainya.
Dalam rangka pengelolaan Tanah Kas Desa kami berpedoman pada Peraturan Daerah
Nomor 3 Tahun 2007 tentang Keuangan Desa. Secara khusus pengelolaan Tanah Kas Desa Jubung
dilakukan dengan sistem persewaan, sesuai dengan Peraturan Desa Nomor 02 Tahun 2008 tentang
Persewaan Tanah Kas Desa.
Adapun susunan Kepanitiaan yang terlibat dalam Persewaan Tanah Kas Desa adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.7 susunan Kepanitiaan yang terlibat dalam Persewaan Tanah Kas Desa Jubung
No Nama Jabatan Unsur

1. Edy Harsono Ketua Lelang LPMD

2. Fathullah, SH Sekretaris Sekdes

3. Imam Ansori Anggota Perangkat Desa

4. Mulyono Anggota Perangkat Desa

5. Agung Budiharto Efendi Anggota Ketua BPD


Dari kegiatan tersebut Tanah Kas Desa dikelola oleh beberapa orang penyewa antara lain
:
1. H. Sofiyan
2. Sidik P. Budi
3. Wagiman
4. Suparji P. Nip
e. Pelayanan Umum
Dibidang pelayanan umum kepada masyarakat, Desa merupakan subsistem Pemerintahan
yang melakukan pelayanan langsung kepada masyarakat baik dan buruknya citra kerja
Pemerintahan Desa melalui pelayanan yang baik, jujur, cepat dan efisien sehingga semua
kebutuhan yang diperlukan terselesaikan dengan sempurna.
Menyadari pentingnya peranan Desa dibidang pelayanan umum kepada masyarakat, maka
di upayakan semaksimal mungkin memberikan pelayanan secara cepat, efisien dan bahkan jika
perlu Pemerintah Desa membuka pintu selama 24 jam terhadap masyarakat yang memerlukan
pelayanan dari Pemerintah Desa.

4. 8 Satuan Kegiatan Desa Jubung


Sebagai landasan penyelenggaraan Pemerintahan Desa adalah Peraturan Daerah
Kabupaten Jember Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pemerintah Desa. Sebagai unsur Pemerintah
Desa adalah Perintah Desa (Kepala Desa dan Perangkat Desa) dan Badan Permusyawaratan Desa
(BPD), dalam rangka mencapai kinerja Pemerintah Desa yang efektif dan efesien, dalam
mengembangkan komunikasi dan kemitraan kepada semua pihak.
Selain unsur dari Pemerintah Desa, dalam rangka pelaksanaan kegiatan pembangunan dan
pemberdayaan masyarakat di Desa Jubung, maka juga melibatkan Lembaga Kemasyarakatan Desa
yang terdiri dari unsur : Rukun Tetangga, Rukun Warga, Pemberdayaan Kesejahtraan Keluarga,
Karang Taruna, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa.
Selama tahun 2014 semua lembaga yang ada di Desa dapat melaksanakan tugas secara baik
tepat waktu, sehingga program kerja Pemerintahan Desa yang sudah direncanakan dapat
diselesaikan dengan baik.
Adapun Personil yang terlibat dalam Pemerintah Desa adalah sebagai berikut :
Tabel 4.8 Data Kepala Desa dan Perangkat Desa Januari s/d 5 Desember 2014
No Nama Jabatan

1. Bhisma Perdana, SH Kepala Desa

2. Fathulla, SH Sekretaris Desa

3. Imam Anshori Kaur Ekbang

4. Mulyono Kaur Kersa

5. Bambang Agus Periyanto Kaur Pemerintahan

6. Djuma’inah Kaur Keuangan

7. Abdur Rohim Kaur Umum

8. Imam Syafi’i Pamong Tani

9. Suparman Kaur Keamanan

10. Suryadi Kasun Kerajan

11. Tohari Kasun Jubunglor

12 Sunarto Kasun Darungan

Data Anggota Permusyawaratan Desa (BPD)


Tabel 4.8 Data Anggota Permusyawaratan Desa (BPD)
No Nama Jabatan

1. Drs. Mochammad Irfan Ketua

2. Agung Budiarto Efendi Wakit Ketua

3. Sucipto Sekretaris
4. Watiman, SH Anggota

5. Budi Harianto Anggota

6. Imam Ghozali Anggota

7. Sholihin Anggota

8. Taufiqurrohman Anggota

9. Adibil muchtar Anggota

10. Mohammad Safi’i Anggota

11. Sutrisno Anggota

Data Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa


Tabel 4.8 Data Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Jubugn
No Nama Jabatan

1. Edy Harsono Ketua

2. Wahidin Sofiyan Hakim Sekretaris

3. Nasrul Abas Bendahara

4. Zainul Iksan Seksi Agama

5. Luky Indri Hapsari Seksi Pendidikan

6. Hernaning. PN Seksi Kesehatan dan Kependudukan

7. Kusaeri Seksi Pemuda dan Olah Raga

8. Mulyadi Seksi Ekbang

9. Nurila Seksi Pemberdayaan PKK


Data Pengurus Pemberdayaan Kesejahtraan Keluarga
Tabel 4.8 Data Pengurus Pemberdayaan Kesejahtraan Keluarga Desa Jubung
No Nama Jabatan

1. Ny. Fathulla Ketua

2. Ny. Lutfiah Wakil Ketua II

3. Ny. Endang Sri Indahhati Sekretaris

4. Ny. Suparmi Sucipto Wakil Sekretaris

5. Ny. Yusup Sofian Bendahara

6. Kader Posyandu/pukja 1,2,3,4 Anggota

Ringkasan Pendapatan Desa Tahun 2014


Tabel 4.8 Ringkasan Pendapatan Desa Jubung Tahun 2014
Target Realisasi Prosentas

No Uraian (Rp) (Rp) E

(%)

1. Pendapatan Asli Desa Rp.128.450.000,00 Rp.128.450.000,00 100%

2. Dana Perimbangan Rp.178.457.135.00 Rp.178.457.135.00 100%

3. Lain-lain Pendapatan Desa Rp.304.642.865.00 Rp.304.642.865.00 100%


yang sah

Jumlah Total Rp.611,550,000,00 Rp.611,550,000,00 100%

4.9 Tugas Pembantuan Yang Diterima


Terkait dengan tugas pembantuan, Pasal 4 Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2007
disebutkan bahwa tugas pembantuan dapat diserahkan kepada Desa dengan wajib disertai dengan
dukungan pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia.
Tugas pembantuan yang diterima pada Tahun 2014 adalah : Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP), sebagai berikut :

Tabel 4.10 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP).


Dasar Instansi Pelaksana Realisasi Sumber & Jumlah Kegiatan
Hukum Pemberi Kegiatan Kegiatan Anggaran
Dana APBN Polindes di Dusun
PNPM-MP TPK 100% Rp. 230.335.700,00 Jubung Lor RT.001
RW 06

Dinas OMS 100% Dinas Hibah Dinas Pembangunan


Pengairan Pengairan Jawa Drainasen Dusun
Timur Jubung Lor RT.
Rp.178,000.000.00 04/05 RW. 07
Anggaran 2011
Dinas PU OMS 100% Dana APBD Jalan Aspal Hotmik
Cipta Karya Kabupaten Jember Dusun Krajan
RT.002 RW 02 s/d
RT . 01 RW. 05
Dusun Jubung Lor

DINAS OMS 100% Dana Hibah Dinas Pembangunan


Pengairan Pengairan Drainase Dusun
Kabupaten Jember Jubung Krajan
RT.02 RW.02

Dinas PU OMS 100% Dana APBD Pembangunan Jalan


Cipta Karya Kabupaten Jember Aspal Hot Mit
Perum Kodim
RT.06 RW 04 s/d
RT 06 RW 07
Jubung Lor

4.10 Gambaran Kebijakan Dana Desa di Desa Jubung


Bantuan langsug Dana Desa yang selanjutnya disebut DD adalah dana bantuan langsusng
kepada Desa yang digunakan untuk meningkatkan pembangunan di Desa dan prasarana desa yang
diperlukan serta diperioritaskan oleh masyarakat, yang pemanfaatan dan Administrasi
pengelolaannya dilakukan dan dipertanggung jawabkan oleh Pak Kepala Desa.
Bantuan langsung Dana Desa (DD) dimaksud sebagai bantuan stimulant atau dana
perangsang untuk mendorong dalam membiayayi program Pemerintah Desa yang ditunjang
dengan partisipasi swadaya gotong royong masyarakat dalam melaksanakan kegiatan Pemrintahan
dalam pembangunan di Desa Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember.
Tujuan diberikannya bantuan langsung Dana Desa (DD) antara lain meliputi:
1. Meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan desa dalam melaksanakan pelayanan
pemerintahan dalam pembangunan di Desa sesuai dengan aturan yang telah ditentukan.
2. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di Desa dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian pembangunan serta partisipatif sesuai dengan potensi
yang dimiliki.
3. Meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha
bagi masyarakat desa dalam rangka pembangunan di desa.
4. Mendorong peningkatan swadaya gotong royong masyarakat dalam melaksanakan
pembangunan di desa.
4.11 Penyajian dan Analisis Data
Berdasarkan fokus penelitian yang telah diuraikan, maka pada sub bab ini akan disajikan
hasil penelitian melalui wawancara langsung dengan informan yang telah dipilih. Adapun hasil
penelitian dapat diuraikan sebagai berikut :

4.11.1 Implementasi Pelaksanaan Dana Desa (DD)

Kepala Desa

Sekretaris Desa Bendahara Desa

Lembaga Kemasyarakatan Desa

(PKK,KD,RT,RW, Lembaga lain yang dibutuhkan)

Secara umum pelaksanaan Dana Desa (DD) tahun 2015 telah terlaksana. Namun demikian
pelaksanaan kebijakan Dana Desa di Desa Jubung Kecamatan Sukorambi berjalan dengan lancar
tanpa ada kendala apapun. Hal tersebut dapat diketahui melalui berbagai fenomena yang penulis
temukan selama melaksanakan penelitian.

4.11.2 Proses Pencairan Dana Desa


Hasil wawancara dengan Bendahara Desa Jubung terhadap Syarat Pencairan Dana Desa
menyatakan : “syarat-syarat pencairan dana desa pertama harus menyelesaikan SPJ tahun
sebelumnya yaitu seumpama kita mencairkan tahun 2015 harus SPJ tahun 2014, persyaratan yang
kedua itu harus ada fakta integritas dari Kepala Desa yang menyangkut kelengkapan SK semua
unsur mulai dari Kepala Desa dan Perangkat Desa , APBDes Tahun 2015 yang sudah diundangkan
dan setelah diundangkan APBDes lalu dikirim ke Kecamatan kemudian diperoses untuk diajukan
kepusat. Bagi Desa Jubung di Kecamatan Sukorambi, syarat Pencairan Dana Desa sudah berjalan
dengan baik terbukti dari diundangkanya APBDes, hal ini dikarenakan APBDes menjadi Syarat
Pencairan Dana Desa (DD) (wawancar tanggal 15 Desember 2015).
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Sekretaris Desa Jubung yang menyatakan: “ di
Desa kami APBDes sudah tersusun dengan baik yang dilaksanakan pada hari senin 22 Juni 2015
dengan melibatkan BPD dan Kepala desa beserta Perangkat Desa (wawancara tanggal 15
Desember 2015).
Demikian juga Sekretaris Desa Jubung membenarakan pernyataan diatas karena
bedasarkan wawancara dengan peneliti menyampaikan: “ memang benar Desa Jubung telah
menyusun syarat pencairan Dana Desa melalui diundangkanya APBDes yang telah menjadi syarat
pencairan Dana Desa tahap pertama yang dihadiri oleh kepala desa beserta perangkatnya, ketua
Badan Permusyawaratan Desa beserta anggota (wawancara tanggal 15 Desember 2015).
Berkaitan dengan besarnya pencairan dana desa, Bendahara Desa Jubung menyampaikan
pernyataan : “Desa kami telah mendapatkan dana desa sebesar Rp. 303.895.528 hal itu juga
disampaikan oleh Sekretaris Desa Jubung yang membenarkan pernyataan di atas karena
berdasarkan wawancara dengan peneliti menyampaikan : “memang benar Desa Jubung telah
mendapatkan pencairan dana desa sebesar Rp 303.895.528 bahkan dana tersebut telah
diperuntukan untuk infra struktur, pembangunan paping atau gang-gang Dusun dan pembangunan
derenase atau saluran irigasi tidak untuk yang lain dan tidak boleh membangun kepentingan kantor
itu khusus buat pembangunan masyaraka ( wawancara tanggal 15 Desember 2015).
Hasil wawancara diatas menunjukan bahwa dalam syarat pencairan Dana Desa berjalan
dengan baik dengan terbentuknya APBDes yang merupakan persyaratan pencairan Dana Desa
yang juga dihadiri oleh Kepala Desa beserta perangkat, ketua Badan Permusyawaratan Desa
beserta anggota bahkan fungsi dana desa sudah terlaksana dengan aturan yang telah ditentukan
(wawancara tanggal 18 Desember 2015)
4.11.3 Pelaksanaan Proyek Dana Desa
Berkaitan dengan pelaksanaan Dana Desa, para informan memberikan pernyataan yang
senada yaitu bahwa semua pelaksanaan Dana Desa telah diselesaikan semuanya. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Bendahara Desa Jubung sebagai berikut : “menurut pengamatan kami
pelaksanaan Dana Desa Jubung telah terselesaikan (wawancara tanggal 18 Desember 2015).
Sedangkan Sekretaris Desa juga memberikan pernyataan sebagai berikut pernyataannya : “
pelaksanaan Dana Desa di Desa Jubung telah terlaksana dengan baik sesuai dengan rencana yang
telah disepakati dan tidak ada kendala semuanya lancer” (wawancara tanggal 18 Desember 2015).
Demikian juga Kepala Desa Jubung memberikan pernyataan yang senada sebagai berikut
: “sudah semua mas, dan bisa dicek hasilnya untuk membuktikan bahwa semua kegiatan DD yang
sudah disepakati itu sudah kami laksanakan yaitu pembangunan paping atau pembangunan jalan
di gang-gang Dusun dan pembangunan krenase atau saluran irigasi” (wawancara tanggal 18
Desember 2015)
Demikian juga PU Jubung sebagai tim monitoring pelaksanaan dana desa memberikan
pernyataan sebagai berikut “ kami salaku tim monitoring sudah melakukan survey serta
memberikan petunjuk secara teknis terkait pembangunan secara fisik yang ada di Desa Jubung”
(wawancara tanggal 19 2015).
Demikian juga Ketua LPMD Jubung sebagai Tim pelaksana kegiatan (TPK) memberikan
pernyatan yang senda dengan bendahara dan kepala desa Jubung yaitu, bahwa semua proyek-
proyek dari Dana Desa telah terlesaikan semuanya dengan baik dan tidak ada hambatan”.
Berkaitan dengan pelaksanaan dana desa, bapak Budiman Sudjat Miko M.Se.M.PHi
(Anggota Komisi II DPR RI) memberikan pernyataan bahwa desa dalam undang-undang desa
harus diperlakukan sebagai manusia dewasa yang mempunyai hak dan kewajiban hukum. Dalam
undang-undang desa, dewasa harus sudah menghitung asetnya dan semua aset tersebut sudah harus
berdasarkan intruksi (wawancara tanggal 19 Desember 2015)

Berdasarkan hasil wawancara diatas terdapat penyelesaian pelaksanaan dana Desa yang
sudah direncanakan dalam APBDes. Yaitu membangun paping atau perbaikan gang-gang Dusun
dan membangun krenase atau saluran irigasi, karena pembangunan paping dalam kawasan
perdesaan memudahkan masyarakat dalam akses menuju tempat yang dituju dan membangun
iragasi agar air mengalir sesuai jalan yang telah ditentukan sehingga tidak menganggu
kenyamanan masyarakat, maka prioritas utama dalam pelaksanaan dana desa (DD) tahun 2015
yaitu membangun paping dan saluran irigasi di Desa Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten
Jember bukti nyata tentang pelaksanaan dana pembangunan paping krenase saluran irigasi hal
tersebut sudah di buktikan dengan pembuatan jalan kecil di gang-gang setiap dusun dan sudah
mengikuti intruksi sesuai amanat Undang-Undang Desa adalah menempatkan Desa jubung sebagai
subyek pembangunan yang ditandai oleh adanya kewenangan Desa yang mengatur urusan
masyarakat secara mandiri. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Desa
Jubung mampu meberikan harapan dan peluang bagi desa untuk membangun dan menata Desa.
Selain itu pelaksanaan rutin seperti gotong royong membersihkan lingkungan, mendukung
upaya kesehatan lingkungan secara antusias, masyarakat membantu untuk program ini. Karena ini
merupakan kegiatan untuk kepentingan bersama. Berdasarkan hasil wawamcara di atas dapat
disimpulkan bahwa terdapat penyelsaian pelaksanaan dana Desa yang sudah direncanakan dalam
APBDes.

4.11.4 Pertanggung Jawaban Kegiatan DD


Pertanggung jawaban kegiatan DD terdapat kesamaan dari informan, antara lain
disampaikan oleh Bendahara, sebagaimana penyataannya sebagai berikut : maslah SPJ Desa
jubung sendiri sudah menyelsaikan seperti aturan yang telah ditentukan mas (wawancara tanggal
21 Desember 2015)
Kepala Desa Jubung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember saat ditemui oleh peneliti
juga memberikan pernyataan yang senada dengan sekretaris Bendahara Desa Jubung, : “pasti
kami buat mas karena SPJ dari dana desa tersebut dipakai sebagai persyaratan unntuk pencairan
berikutnya (wawancara tanggal 21 Desember 2015).
Berdasarkan wawancara di atas dapat dikatakan bahwa terdapat pertanggung jawaban
kegiatan DD. Memperhatikan data pada proses Implementasi tata kelola kebijakan diatas, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa peroses tata kelola kebijakan DD di Desa Jubung Kecamatan
Sukorambi telah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dengan telah disusunya rencana
Kegiatan DD serta telah disusunya pertanggung jawaban DD.

4.11.5 Pencapaian Tujuan Kebijakan Tata Kelola Dana Desa


Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pemberian Dana Desa adalah :
1. Meningkatkan Pembangunan desa dalam melaksanakan pelayanan pemerintahan
dalam pembangunan di Desa sesuai dengan aturan yang ada.
2. Meningkatkan pembangunan untuk melancarkan jalannya perekonomian masyarakat.
3. Meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha
bagi masyarakat desa dalam rangka pembangunan di desa.
4. Mendorong peningkatan swadaya gotong royong masyarakat dalam melaksanakan
pembangunan di desa.
5. Meningkatkan dan kenyamanan roda prekonomian masyarakat.
Dari tujuan pemberian Dana Desa di atas dapat dipisahkan antara tujuan yang diharapkan
langsung dapat tercapai, yaitu meningkatkan pelaksanaan pembangunan di desa dan
kemasyarakatan, meningkatkan kemampuan kemasyarakatan di desa dalam pengendalian
pembangunan serta mendorong peningkatan pasrtisipasi swadaya gotong royong masyarakat.
Sedangkan tujuan secara tidak langsung adalah meningkatkan pemerataan pendapatan,
kesempatan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat desa dalam rangka pengembangan di
desa, dari hasil penelitian terhadap pencapian tujuan tata kelola Pemerintahan Desa yaitu
meningkatkan pembangunan di Desa dalam tata kelola pelaksanaan, perencanaan dan
pengendalian serta mendorong peningatan partisipasi swadaya gotong royong masyarakat, dapat
diuraikan sebagai berikut :
1. Meningkatkan pembangunan dan swadaya gotong rorong masyarakat dalam pencapaian tujuan
terkait dengan pelaksanaan dana Desa untuk kepentingan masyarakat di Desa. Terdapat
beberapa pernyataan yang senada antara informan satu dengan yang lain.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bendahara Desa Jubung dapat diperoleh informasi bahwa
DD telah membantu peningkatan penyelenggaraan Pemerintahan, Pembangunan dan Swadaya
masyarakat, berikut penuturannya
“kondisi di Desa Jubung sangat terbantu dengan adanya DD sehingga dibandingkan sebelum
adannya DD sangat membantu kebutuhan pembangunan di Desa (wawancara tanggal 21
Desember 2015)
Demikian juga Kepala Desa Jubung memberikan pernyataan yang senada sebagai berikut
:
“saya senang dengan adanya DD karena kebutuhan desa bisa terbantu dan
pembangunannya bisa maksimal walaupun belum sepenuhnya maksimal selain itu juga membantu
meningkatkan swadaya gotongroyong masyarakat untuk bekerja sama dalam pelaksanaan
pembangunan di Desa Jubung dan dengan adanya dana Desa pembangunan di Desa Jubung lebih
optimal dari sebelumnya (wawancara tanggal 21 Desember 2015).
Demikian juga pendapat yang senada dari masyarakat mengenai peningkatkan Dana Desa
:
“sekarang fasilitas dijalan gang-gang dusun di Desa kami sudah nyaman dilewati serta
saluran irigasi sudah sangat optimal untuk digunakan sehingga dengan adanaya saluran irigasi
ketika hujan turun tidak menimbulkan banjir” (wawancara tanggal 21 Desember 2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan diatas dapat
diketahui bahwa salah satu tujuan DD yaitu meningkatkan pembangunan desa yang telah dapat
dicapai. Jadi proses kepuasan masyarakat terhadap pelayananan Pemerintahan Desa sudah cukup
memuaskan.
Kepala Desa setelah mendapatkan sosialisasi DD segera mengadakan musyawarah
bersama dengan Badan Permusyawaratan Desa , Perangkat Desa, pengurus LPMD, pengurus
TP.PKK, RT dan RW untuk membahas rencana penggunaan DD
Rencana penggunaan DD dituangkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Desa serta
disahkan oleh Camat. Seperti yang tercermin dari hasil wawancara dengan SekCam Sukorambi
sebagai berikut : “Desa Jubung telah menyusun APBDes dan telah kami sahkan sesuai usulan Desa
(Wawancara tanggal 22 Desember 2015).
Pendapat diatas menunjukkan bahwa Desa Jubung di Kecamatan Sukorambi telah
menyusun APBDes guna memenuhi administrasi pencairan Dana Desa (DD). Pernyataan
disampaikan oleh kepala Desa Jubung sebagai berikut : “Desa Jubung mampu untuk menyusun
APBDes dan SPJ” (Wawancara tanggal 22 Desember 2015). Sedangkan dalam proses
pelaksanaanya lembaga-lembaga Desa dilibatkan sesuai tugas dan fungsinya. LPMD mempunyai
tugas membantu Kepala Desa dalam pelaksaan pembangunan yang bersifat fisik. Hal tersebut
sesuai dengan peraturan anggota LPMD Desa Jubung sebagai berikut : “kami selaku anggota
LPMD dilibatka dalam pelaksanaan dimana penggunaan uang DD kami sebagai pelaksana
kegiatan (Wawancara tanggal 22 Desenber 2015).
Sementara lembaga lain seperti PU sebagai monitoring kegiatan yang diselenggarakan oleh
pemerintahan desa juga ikut andil dalam pelaksanaan yang ada di Desa membantu pemikiran dan
juga tenaga, ikut serta dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintahan Desa sesuai
dengan fungsinya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
diketahui bahwa lembaga-lembaga Desa sangat berperan dalam kegiatan yang diselenggarakan
oleh pemerintah Desa. Kemampuan terbukti bahwa peran lembaga yang ada di desa Jubung betul-
betul berfungsi sesuai dengan tupoksi lembaga itu sendiri dan berjalan dengan lancar tanpa ada
kendala.
Partisipasi swadaya Gotong royong masyarakat. Kurang optimalnya partisipasi masyarakat
dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintahan desa dalam pelaksaan , hal itu
dikarenakan masyarakat juga punya kegiatan sendiri Pernyataan yang disampaikan oleh BPD yaitu
“ kita mengakui bahwa partisipasi masyarakat dalam kegiatan Dana Desa (DD) masih kurang
optimal rendahnya kesadaran masyarakat itu sendiri (wawancar tanggal 22 Desbember ).
Sedangkan menurut pendapat dari masyarakat sendiri mengenai gotong royong dalam
pelaksanaan kegiatan di desa
“Dana Desa sangat membantu jalan kegiatan perekonomian karena sebelum ada kegiatan
pembanguan yang di danai oleh dana desa dalam jalan perekonomian kami sangat terganggu
apalagi dalam musim hujan jalan sangat becek sulit terkadang dilewati dan dengan dibangunnya
saluran irigasi jalannya air bisa terarah dan tidak menganggu jalan desa dan air tidak meluber ke
rumah-rumah penduduk. Oleh karena itu kami sangat berpartisipasi dalam bergotong royong
melancarkan program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah desa (wawancara tanggal
22 Desember 2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
diketahui bahwa partisipasi swadaya gotong royong masyarakat pada tahun ini dalam pelaksanaan
DD desa cukup baik maka dapat disimpulkan bahwa pencapaian tujuan DD berjalan.
Maka dapat diketahui bahwa pelaksanaan DD ini dapat terpenuhi, yaitu Desa Jubung dapat
melaksanakan tata kelola DD dengan baik dan lancar. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian tujuan
DD yang telah dilaksanakan sesuai aturan yang telah ditentukan yang mengacu pada APBDes.

4.12 Faktor-Faktor Yang Memperngaruhi Implementasi Kebijakan Pencapaian Tata Kelola


Dana Desa
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi implementasu tata kelola dana desa dapat
disampaikan pada hasil penelitian sebagai berikut :
4.12.1 Komunikasi
Komunikasi proses terjadinya intraksi pencapaian pesan melalui mediator pengaruh faktor
komunikasi terhadap tata kelola implementasi adalah pada kejelasan dan isi pesan untuk dapat
dipahami secara menyeluruh oleh penerima pesan atau program. Dalam faktor komunikasi ini,
akan dilihat dari berbagai fenomena yang diamati penulis dilapangan terkait dengan proses
implementasin tata kelola dana Desa.

1. Intensitas Sosialisasi kebijakan dana desa


Pernyataan (pak Sukirman) SekCam Berkaitan dengan sosialisasi dana desa bahwa: “ Tim
Kabupaten mengundang dari unsur Kepala Desa, BPD dan LPMD guna untuk
penyelenggaraan Dana Desa itu sendiri”.(wawancara tanggal 22 Desember 2015)
Keterangan tersebut diperkuat oleh Kepala Desa Jubung bahwa : “pihak Kabupaten telah
memberikan sosialisasi kepada kita tentang Dana Desa yang akan diterima dan juga petunjuk
teknis pengunaannya (wawancara tanggal 22 Desember 2015). Pernyataan Sekdes Desa
Jubung : “kita melaksanakan sosialiasai kepada seluruh masyarakat terkait dengan program
DD tahun 2015 (wawancara tanggal 22 Desember 2015)
Pernyataan ketua LPMD berkaitan dengan sosialisai tersebut di atas juga memberikan
keterangan yang sama yaitu, “ memang ada sosialisasi dari tim kabupaten terkait pengelolaan
dana desa dan pelaksanaan teksnis dana desa” (wawancara tanggal 24 Desember 2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
diketahui bahwa adanya instansi sosialisasi tata kelola dana desa yang dilakukan oleh tim
kabupaten kepada camat, Kepala desa, BPD dan LPMD. Setelah Kepala Desa mengikuti sosialisasi
dari kabupaten maka kepala desa mengundang dari semua unsur kelembagaan yang ada di desa
juga tokoh masyarakat serta masyarakat untuk mengadakan musyawarah utuk menentukan
kegiatan yang akan diselenggarakan oleh pemerintah desa yang didanai oleh dana desa. Sehingga
masyarakat mengetahui program yang akan dilaksanakan oleh pemerintahan desa.
2. Kejelasan Komunikasi
Mengenai kejelasan pesan yang disampaikan oleh komunikator atau penyampai pesan,
berikut akan dijelaskan oleh Sekretaris Desa Jubung, yaitu: “ masalah pengunaan dana
desa, saya sebagai sekretris desa tidak mengalami berbagai kesulitan (wawancara tanggal
22 Desember 2015). Pernyataan yang senada juga disampaikan oleh Kepala Desa Jubung
berikut ini pernyataannya: “apanya lagi yang tidak jelas, semua sudah ada dalam juknis,
kalau lupa tinggal baca ya hto mas (wawancara tanggal 22 Desember 2015).
Sedangkan keterangan lain dari ketua BPD desa Jubung menyatakan :
“ menurut saya pernyataan kepala desa tersebut sudah sesuai dengan pernyataan penjelasan
pak camat maka saya tidak perlu menjelaskan kedua kalinya karena semuanya sudah jelas
(wawancara tanggal 22 Desember 2015)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan informan di atas dapat
diketahui bahwa terdapat adannya kejelasan pesan dari para pelaksanaan tata kelola DD
karena tidak ada kesulitan bagi penyelenggara DD untuk menyelesaikan programnya.
3. Konsisten Pesen
Sementara itu ketika ditanyakan tentang konsisten penyampaian pesan, Kepala Desa
Jubung memberikan pernyataan sebagai berikut :
“kami merasa tidak ada tumpang tindih dari penjelasan tim kabupaten dan penjelasan pak
camat dan kami melaksanakan prioritas desa kami dengan ketentuan yang ada. Hal-hal
yang tidak diperkenankan dalam pelaksanaan DD sudah kami patuhi semua , hal itu
karenakan sosialisasi sangat jelas dan juga sesuai penjelasan bapak camat. Saya telah
melaksanakan musyawarah desa, buat SPJ dan hasilnya dapat dilihat (wawancara tanggal
23 Desember 2015)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
dikatan bahwa telah ada konsistensinan pesan, artinya adanya pesan yang saling berhubungan.
Dari hasil peneliti fenomena komunikasi di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
intensitas sosialiasasi tata kelola DD sudah dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Adapun kejelasan informasi, hasil peneliti terungkap bahwa ketentuan dalam petunjuk
teknis DD telah jelas diterima oleh para pelaksana dan sudah dilaksanakan .

Keberhasilan implementasi salah satu faktor yang menentukannya adalah komunikasi.


Menurut George Edward III (1980) . dari hasil penelitian dalam hubungan komunikasi terdapat
faktor pendorong, yaitu :
1. Adanya sosialisasi yang dilakukan oleh tim Kabupaten
2. Pencampaian informasi dari tim kabupaten kepada pelaksana di tingkat desa.

4.12.2 Sumber Daya Manusia


1. kemampuan sumber daya manusia.
Terkait dengan kemampuan sumber daya manusia Sekcam Sukorambi menyatakan
:“memang pendidikan dari para pelaksana DD sangat mempengaruhi kualitas pelaksaan
DD seperti membuat SPJ itu perlu kemampuan untuk menyelesaikannya namun kita selalu
membimbingnya agar Aparat Desa mudah untuk mempelajarinya dalam pelaksanaannya
dan menyampaikan sosialisasi ke desa-desa mulai dari pembuatan syrat-sayarat pencairan
dana desa, pembuatan APBDes, PERDes dan RPJMDes. Pada DD tahun 2015 ini
pelaksanaan cukup lancar. Tepat mutu dan Administrasi mereka sudah bisa mengikutinya
(wawancara tanggal 23 Desember 2015)
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Kepala Desa Jubung, sebagai berikut : “dalam
penyusunan Rencana Kerja Program DD maupun penyelesaian SPJ sudah terlaksan tanpa
ada kendala atau kesulitan kita mampu mandiri dalam menyelesaikannya dan itu sudah
menjadi kwajiban kami sebagai pemerintah desa (wawancara tanggal 22 Desember 2015)
Demikian juga BPD Desa Jubung menyampaikan : “para pelaksana DD memang bisa
dalam menyelesaikan SPJ dan mampu mengajak masyarakat dalam swadaya gotong
royong untuk melakasanakan kegiatan yang di biayai oleh Dana Desa (DD)(wawancara
tanggal 23 Desember 2015)
Berdasarkan hasil wawancar yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
diketahui bahwa kemampuan sumber daya manusia sebagai pelaksana tata kelola DD mampu
mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah dengan cepat.

2. Fasilitas pendukung kebijkan dana desa (DD)


Berkaitan dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung kegiatan kebijakan tata kelola DD
adalah adanya dukungan dari APBN untuk pembangunan di desa agar lebih mandiri ,
sebagaimana pernyataan Sekcam Sukorambi sebagai berikut : “Desa Jubung telah
menerima dana desa yang di biayai oleh APBN tahun 2015” (wawancara tanggal 23
Desember 2015)
Demikian juga Kepala Desa Jubung menyatakan : “ Dana Desa dari APBN telah kami
terima dan telah kami peruntukan sesuai aturan yang telah ditentukan ” (wawancara tanggal
23 Desember 2015)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan informan di atas dapat
dikatakan bahwa fasilitas pendukung kebijkan tata kelola DD berupa Anggaran Pendapatan
Belanja Negara.
Maka dapat disimpulkan sebagai berikut, hasil peneliti terhadap sumber daya manusia
terungkap tingkat kemampuan pelaksanaan DD berjalan dengan lancar, artinya secara pendidikan
para pelaksana kegiatan DD cukup baik sehingga mampu mengidentifikasikan masalah dengan
cepat.
Dari hasil penelitian dalam hubungan sumber daya dengan pelaksanaan DD, terdapat
beberapa faktor pendorong yaitu sebagai berikut :
a. Kelengkapan sarana dalam mendukung pelaksanaan tata kelola DD
b. Adanya kemampuan pelaksanaan DD dalam melakukan identifikasi dan menyelesaikan
masalah dalam pelaksanaan DD.

4.12.4 Sikap Pelaksana


Dalam hal ini sikap pelaksana, para informan mempunyai tangapan yang senada, yaitu
terdapat sikap pelaksana yang mendukung pelaksanaan DD. Lebih lanjut tentang sikap pelaksana
ini disampaikan oleh para informan sebagai berikut :
1. Persepsi Pelaksan
Terkait dengan persepsi pelaksana terhadap kebijakan DD disampaikan oleh Kepala Desa
Jubung sebagai berikut :
“ kebijakan DD ini sangat membantu karena sangat dibutuhkan bagi Desa kami, jika hanya
mengandalkan Alokasi Dana Desa ADD saja yang notabenya bantuan keuangan dari
pemerintah daerah khusunya kabupaten maka pembangunan yang diprogramkan oleh
pemerintah desa kurang maksimal karena keterbatasan dana tersebut saya berharap DD
tahun 2015 ini bisa bermanfaat bagi masyarakat dan mempercepat pembangunan yang ada
di Desa” (wawancar tanggal 28 Desember 2015)
Demikian sekdes Jubung memberikan pernyataan yang senada sebagai berikut :
“persepsi kami tentang tata kelola DD jelas baik tho mas, karena demi kemajuan Desa”
(wawancara tanggal 28 Desember 2015)
Pernyataan senada lainya juga disampaikan oleh sekcam Sukorambi sebagai berikut :
“saya yakin Kepala Desa Jubung akan memiliki persepsi yang sama terhadap tata kelo DD
yaitu mendukung sepenuhnya kegiatan DD” (wawancara tanggal 24 Desember 2015).
Sedangkan BPD menyatakan :
“saya sangat mendukung kegiatan tata kelola DD agar pembangunan di Desa semakin
berkembang dan maju” (wawancara tanggal 28 Desember 2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan diatas dapat
disimpulkan bahwa para pelaksana kegiatan DD mempunyai persepsi yang sangat mendukung.
2. Respon Pelaksana
Hasil penelitian terhadapa respon pelaksana DD. Adapun pernyataan BPD Desa Jubung
terhadap pelaksanaan DD sebgai berikut :
“Pak Kepala Desa sangat respon terhadap DD, setelah menerima dana desa pak kepala desa
langsung memusyawarahkan untuk melaksanakan program yang akan dibangun, buktinya
mampu membangun paping dan saluran irigasi (wawancara tanggal 28 Desember 2015)
Adapun Kepala Desa Jubung juga mempunyai pernyataan yang senanda sebagai berikut :
“memang benar dana desa sudah kami programkan dan sudah kami peruntukan sebagai
mana fungsinya” (wawancara tanggal 24 Desember 2015).
Berdasarkan wawan cara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
disimpulkan bahwa pelaksaan DD tahun 2015 sangat banyak respon, karena menganggap
DD sudah menjadi kewajiban untuk membantu pembangunan di Desa.
3. Tindakan Pelaksana
Semua informan menyatakan bahwa pelaksanaan DD telah membuat kegiatan dan
langkah-langkah, sabagai mana pernyataan Kepala Desa sebagai berikut :
“dana desa kami manfaatkan untuk membangun pembangunan di Desa, antara lain untuk
membangun paving dan saluran irigasi” (wawancar tanggal 28 Desember 2015)
Demikian juga sekdes Jubung memberikan pernyataan yang senada, sebagai berikut : “ada
banyak mas, antara lain untuk membangun paving dan saluran irigasi” (wawancara tanggal
28 Desember 2015). Sekcam Sukorambi juga memberikan pernyataan yang senada, berikut
pernyataanya :
“kalau bicara kegiatan semua desa telah membuat kgiatan dan melaksanakanya”
(wawancara tanggal 28 Desember 2015).
Demikian juga ada pernyataan yang senada dari Bendahara Desa Jubung sebgai berikut :
“semua kegiatan DD sudah berjalan sebagaimana mestinya dan membangun swadaya
gotong royong masyarakat” (wawancara tanggal 28 Desember 2015).
Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
disimpulkan bahwa para pelaksana telah memiliki tindakan dan langkah-langkah berupa kegiatan
yang akan sudah diselesaikan.

Berdasarkan pada hasil penelitian fenomena sikap pelaksana di atas, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut : hasil penelitian terungkap bahwa para pelaksana melaksanakan
kegiatan DD dan mendukung pembangunan di desa.
Beberapa faktor pendorong tersebut adalah :
1. Adanya persepsi yang mendukung tata kelola DD
2. Adanya tindakan dan langkah-langkah nyata dari pelaksanaan DD.

4.12.4 Struktur Organisasi Pelaksana


Dalam hal struktur organisasi pelaksana tata kelola DD, para informan mempunyai
tanggapan yang senada, yaitu telah adanya struktur organisasi pelaksana DD. Lebih lanjut hasil
penelitian tentang struktur organisasi pelaksanaan kegiatan DD ini disampaikan oleh para
informan sebagai berikut :
1. Pembentukan struktur organisasi
Hasil penelitian penulis terhadap pembentukan struktur organisasi pelaksanaan DD
sebagaimana disampaikan oleh Kepala Desa Jubung sebagai beriku : “sudah ada struktur
organisasi dalam pelaksanaan DD dan hal itu diatur dalam juknis bupati” (wawancara tanggal 28
Desember 2015). Pernyataan senda juga disampaikan oleh Sekcam Sukorambi sebagai berikut : “
semua desa telah membentuk organisasi pelaksana kegiatan DD untuk menyukseskan pelaksanaan
kegiatan DD tersebut “ (wawancara tanggal 28 Desember 2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
disimpulkan bahwa pembentukan struktur organisasi pelaksana DD telah dilakukan sesuai dengan
petunjuk teknis DD yang dikeluarkan oleh Bupati.
2. Pembagian Tugas
Hasil penelitian terhadap pembagian tugas dalam organisasi pelaksana para informan
memberikan pernyataan yang senada. Adapun Ketua LPMD desa Jubung sebagai berikut : “ dalam
juknis Bupati pelaksana DD ditangani oleh Lembaga Kemasyarakatan maka kami mengikuti
sesuai petunjuk teknisnya” (wawancara tanggal 28 Desember 2015). Sekretaris Desa Jubung
memberikan pernyataan yang senada, sebagai berikut pernyataannya : “menurut saya sudah ada
pembagian tugas yang jelas, sehingga kegiatan DD tahun 2015 ini berjalan dengan baik sampai
penyelesaian SPJnya” (wawancara tanggal 28 Desember 2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan DD sudah melakukan pembagian tugas, sehingga LPMD dan
Sekretaris Desa sudah mengetahui tugas dan aturan tentang DD.
3. Koordinasi Para Pelaksana Kegiatan DD
Hasil penelitian penulis terhadap koordinasi para pelaksana DD disampaikan dalam
pernyataan Sekretaris Desa Jubung sabagaimana pernyataan sebagai berikut : “setiap ada kegiatan
harus diselesaikan bersama karena itu sudah menjadi hak dan kewajiban bersama, yaitu sesuai
dengan tugas yang telah ditentukan” saya berkoordinasi dengan pelaksana DD, karena dana desa
itu keluar dari sepengetahuan saya dan tanda tangan Pak Kepala Desa, dan saya yang bertugas
untuk menyelesaikan SPJ pelaksanaan DD (wawancara tanggal 29 Desember 2015).
Menurut Ketua LPMD Desa Jubung :
“Iya saya sebagai pelaksana DD jadi jika membutuhkan matrial, saya yang melaksanakan
seperti mencari perlengkapan yang diperlukan seperti kebutuhan tukang,kebutuhan pasir,batu bata
dan kebutuhan lainnya,nah itu sebelum ke Kepala Desa ke Sekdes terlebih dahulu, apakah
anggaran itu wajar atau tidak setelah Sekdes mengetahui reng-rengannya langsung diajukan ke
Kepala Desa dan di tanda tangani lalu dicairkan oeleh bendahara sesuai dengan reng-rengan
kebutuhan yang ditanda tangani Kepala Desa dan diketahui oleh Sekdes.
Adapun Ketua BPD Jubung memberikan pernyataan yang senada, berikut pernyataannya :
“Kepala Desa sangat berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan DD dan meninjau
kegiatan tersebut secara langsung dan mengecek pengeluaran DD kemudian menanda tangani
laporan tersebut” (wawancara tanggal 29 Desember 2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan informan diatas dapat
disimpulkan bahwa koordinasi dilakukan dengan baik diantara pelaksana DD yaitu dilihat dari
tugas masing-masing pelaksana yang terkoordinir dengan baik, berdasarkan pada hasil penelitian
fenomena struktur organisasi pelaksana di atas, maka dapat disimpulkan bahwa telah ada
pembentukan struktur organisasi pelaksana kegiatan DD sesuai dengan petunjuk teknis DD yang
dikeluarkan oleh Bupati. Dan hasil penelitian terungkap bahwa pelaksanaan DD sudah ada
pembagian tugas dengan jelas . demikian juga peneliti menyimpulkan bahwa koordinasi dilakukan
dengan baik diantara pelaksana DD.
Faktor pendorong tersebut adalah sudah terbentuknya struktur organisasi berupa Tim
pelaksana DD disemua desa, yaitu Kepala Desa sebagai penanggung jawab selaku kegiatan DD,
Sekretaris Desa selaku penanggung jawab Administrasi kegiatan DD. Bendahara selaku
penanggung jawab pengaturan keuangan DD.

4.12.5 Lingkungan
Hasil peneliti terhadap fenomena lingkungan pelaksana organisasi DD, para informan
mempunyai pernyataan yang senada sebagai berikut :
1. Kapasitas Lingkungan
Kapasitas yang penulis lakukan dalam penelitian adalah terkaid dengan kemampuan BPD
dan lembaga kemasyarakatan desa dalam mempengaruhi pelaksanaan DD.
Berkaitan dengan hal di atas disampaikan pernyataan Sekcam Sukorambi sebagai berikut :
“dalam pelaksanaan DD, BPD memiliki peran dalam perencanaan kegiatan DD. Tim Kecamatan
dan PU bina warga memonitoring lembaga kemasyarakatan desa seperti LPMD dan lain-lain yang
berkaitan dengan pelaksanaan DD” (wawancara tanggal 29 Desember 2015).
Demikian juga salah satu anggota LPMD Desa Jubung juga menyatakan sebagai berikut :
“kami selaku anggota LPMD dalam juknis bupati mempunyai tugas membantu Kepala
Desa dalam melaksanakan pelaksanaan DD” (wawancara tanggal 29 Desember 2015)

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
disimpulkan bahwa BPD dan Lembaga Kemasyarakatan Desa mempunyai kapasitas, yaitu
kewenangan berupa perencanaan oleh BPD sedangkan lembaga kemasyarakatan akan membantu
Kepala Desa dalam melaksanaka kegiatan DD.
2. Kestabilan Peran
Hasil penelitian terhadap kestabilan peran BPD dan Lembaga kemasyarakatan desa dalam
mendukung pelaksana kegiatan DD, Sekcam Sukorambi menyatakan sebagai berikut :
“BPD telah ikut mendukung pelaksanaan tata kelola DD dengan ikut memonitoring
pelaksanaan DD dan LPMD sudah menjalankan tugasnya membantu Kepala Desa dalam
pelaksanaan DD yang bersifat fisik” (wawancara tanggal 29 Desember 2015).
Sedangkan Ketua BPD jubung menyatakan sebagai berikut : “ saya beserta dengan anggota
BPD yang lain telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan DD dengan memberikan
persetujuan APBDes guna mempercepat pencairan DD” (wawancara tanggal 29 Desember
2015)
. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
disimpulkan bahwa BPD telah menjalankan fungsinya untuk melaksanakan monitoring dan
perencanaan pelaksanaan DD dan Lembaga Kemasyarakatan Desa lainya berperan dalam
mendukung pelaksanaan DD.
3. Kompleksitas Lingkungan
Ketika para informan ditanya yang terkait dengan kompleksitas lingkungan yaitu seberapa
banyak campur tangan masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan terhadap pelaksanaan
DD, para informan memberikan pernyataan yang senada. Adapun pernyataan Ketua LPMD desa
Jubung sebgai berikut : “ LPMD dilibatkan untuk pembanguan fisik dan mengikuti intruksi dari
Pak Kepala Desa” (wawancara tanggal 29 Desember 2015).
Sekretaris Desa Jubung memberikan pernyataan sebagai berikut :
“dalam pelaksanaan DD melibatkan swadaya gotong royong masyarakat dalam pembangunan di
desa” (wawancara tanggal 29 Desember 2015)

Sedangkan Kepala Desa Jubung memberikan pernyataan yang senada, sebagaimana


pernyataan berikut :
“campur tangan masyarakat dalam pelaksanaan DD meningkatkan swadaya gotong royong
masyarakat dalam pembagunan di desa seperti membangun paving dan saluran irigasi”
(wawancara tanggal 29 Desember 2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
disimpulkan bahwa banyak partisipasi masyarakat untuk melaksanakan tata kelola pelaksanaan
DD, masyarakat menyumbangkan tenaga dalam gotong royong pembangunan di desa. Selanjutnya
berdasarkan pada hasil penelitian fenomena lingkungan pelaksana di atas, maka terungkap bahwa
BPD dan Lembaga Kemasyarakatan Desa mempunyai kapasitas, yaitu kewengan berupa
memonitoring oleh BPD dan perna Lembaga Kemasyarakatan desa mempuyai kapasitas, yaitu
kewenagan berupa membantu Kepala Desa dalam melaksanakan kegiatan DD. Demikian juga
terungkap bahwa BPD telah menjalankan fungsinya untuk melaksanakan memonitoring
pelaksanaan DD. Sedangkan terkait dengan kompleksitas lingkingan hasil penelitia terungkan
bahwa banyak campur tangan masyarakat dalam pelaksaan DD.
Lingkungan diartikan sebagai semua faktor yang berada diluar organisasi, atau semua yang
berada diluar batas organisasi. Lingkungan ini mencakup lingkunga umum
(general environment) yang mempengaruhi organisasi secara tidak langsug atau kurang begitu
dirasakan secara langsung seperti kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hukum dan
lingkungan khusus (specifik environment) yang memiliki pengaruh yang terasa secara langsung
seperti pelanggan, pemasok, pesaing, pemerintah, serikat pekerja, asosiasi perdagangan, dan
kelompok penekan. (Robbins, dalam Keban, 2004. 163).
Pengaruh lingkungan lebih lanjut disampaikan oleh Ian Mitroff (Keban 2004 : 140) yang
menyatakan bahwa suatu organisasi adalah suatu sistem sosial yang antara lain merupakan (1)
kumpulan stakeholders internal dan eksternal; (2) setiap stakeholders bersifat khas, berbeda satu
dangan yang lain; (3) yagn memiliki network antara satu dengan yang lain ; (4) perubahan strategi
akan mengeser hubungan stakeholders; (5) hubungan antara setiap stakeholders dapat bersifat
komando, persuasif, tawar menawar, negosiasi, sharing atau debat, dsb; dan (6) kondisi suatu
organisasi terahir merupakan gambaran dari hubungan terahir dengan stakeholders.
Dari hasil penelitian dalam hubungan lingkungan dengan pelaksanan DD, terdapat
beberapa faktor pedorong. Faktor pendorong tersebut adalah :
a. Adanya kapasitas BPD dan Lembaga Kemasyarakatan Desa dalam ikut mendukung
pelaksanaan DD berupa kewenagan memonitoring atas pelaksanaan DD oleh BPD serta
peran Lembaga Kemasyarakan Desa dalam ikut membantu pelaksanaan DD.
b. Sudah berperannya BPD dalam ikut mengawasi pelaksanaan DD.

4.12.6 Ukuran dan Tujuan Tata Kelola Pelaksanaan DD


Berdasarkan petunjuk teknis dana desa diperuntukan, antara lain :
1. Pembangunan paving atau pembangunan jalan di gang-gang dusun dan
2. Pembanguanan saluran irigasi di sepanjang aliran sungai.
Terkait dengan Ukuran dan tujuan pelaksanaan petunjuk teknis di atas para informan
mempunyai tanggapan yang sama.
Namun pada prinsipnya telah dapat kesesuaian program terkait pelaksanaan DD serta
adanya ketepatan pelaksanaan DD yang telah ditentukan, sebagaimana hasil penelitian
sebagai berikut :
3. Kesesuaian program terkait pelaksanaan DD, disampaikan pernyataan Kepala Desa Jubung
sebagai berikut :
“dana desa sudah kami pergunaka mas dengan jumlah sekian kami peruntukan untuk
pembangunan di desa sesuai aturan yang ada” (wawancara taggal 30 Desember 2015)
Sedangkan pernyataan dari Sekdes Jubung memberikan dukungan atas peryataan di atas ,
berikut pernyataannya :
“dana desa sudah dipergunakan dan sudah diperuntkan untuk program pembanguanan di
desa mas sesuai dengan aturan yang telah di tetapkan “ (wawancara tanggal 30 Desember
2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas
terdapat persamaan persepsi dalam pelaksanaan program yang akan dibangun dilapangan
dan dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan DD sesuai dengan juknis yang telah ditentukan.
1. Ketepatan Sasaran
Hasil penelitian terhadap ketepatan sasaran apabila dibandingkan dengan Rencana DD,
Sekcam Sukorambi memberikan peryataan sebagai berikut :
“ketepatan sasaran itu dipengaruhi kesiapan desa dalam menyesuaikan rencana kegiata yag
akan dilaksanakan” (wawancara tanggal 30 Desember 2015).
Ketika pernyataan bapak Sekcam di atas disampaikan kepada informan yang lain terdapat
pernyataan yang senada. Adapun pernyataan Kepala Desa Jubung adalah sebagai berikut :
“untuk kegiatan yang sifatnya fisik kami sudah puya RPJMDes yang sudah dibakukan”
(wawancara tanggal 30 Desember 2015).
“adapun peryataan dari anggota BPD Desa Jubung adalah sebagai berikut :
“penggunaan DD sudah berjalan dengan baik sesuai program yang telah ditentukan dan
saya sebagai memonitoring pelaksanaan kegiatan tidak menemui adanya kendala semua
berjalan dengan lancar” (wawancara tanggal 30 Desember 2015).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan para informan di atas dapat
disimpulkan sudah tepat sasaran penelitian terungkap bahwa sudah melaksanakan kegiatan yang
sudah diatur dan direncanakan sebelumnya.
Selanjutkan berdasarkan pada hasil penelitian fenomena ukuran dan tujuan kebijakan di
atas, maka terungkap bahwa pelaksanaan DD sesuai dengan petunjuk teknis yang telah di tetukan
mengenai pelaksanaan tata kelola DD good governance dalam pembangunan di Desa Jubung
Kecmatan Sukorambi Kabupaten Jember.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab
sebelumnya, maka dalam penulisan skrifsi ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Implementasi good governance dalam Bidang Administrasi Desa Jubung Kecamatan


Sukorambi dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan Dana Desa (DD) telah diterapkan yaitu
dengan melibatkan Participation masyarakat Desa Jubung dalam pembuatan kebijakan, baik
secara langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan
aspirasinya. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta
berpartisipasi secara konstruktif. adanya Rule of Law, kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan
tanpa pandang bulu dalam menyukseskan program Dana Desa di Desa Jubung Kecamatan
Sukorambi Kabupaten Jember. Adanya Transperecy, keterbukaan yang dibangun atas dasar
kebebasan memperoleh informasi. Informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik dapat
diperoleh secara langsung dan tepat waktu bagi yang membutuhkan. Adanya Responsiveness,
lembaga-lembaga publik yang tanggap dalam melayani stakeholder. Adanya Consensus
Orientation yang berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas. Adanya Equity yaitu
setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan dan keadilan.
Adanya Efficiency and Effectivenes, pengolahan sumber daya publik dilakukan secara berdaya
guna dan berhasil guna. adanya Accontabillity, pertanggung jawaban Kepala Desa Dan
Perangkatnya kepada publik atas setiap aktivitas yang dilakukan dalam penyelenggaraan Dana
Desa di Desa Jubung. Dan adanaya Strategy vision, penyelenggaraan pemerintahan dan
masyarakat Desa Jubung yang memiliki tujuan yang akan dilaksanakan kedepannya.

5.2 SARAN
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
diberikan saran-saran yang nantinya diharapkan dapat memperbaiki ataupun menyempurnakan
pelaksanaan DD di Desa Jubung Kecamatan Sukorambi di masa yang akan datang, saran-saran
dimaksud adalah :
1. Dana Desa (DD) untuk tahun berikutnya lebih ditingkatkan lagi dari tahun sebelumnya
demi percepatan pembangunan yang ada di desa
2. Laporan SPJ dipublikasikan agar masyarakat bisa mengetahui dan ikut mengawasi sesuai
dengan ketentuan yang ada.
3. Dihimbau bagi masyarakat hasil dari kegiatan pembangunan tersebut mengarap kepala
desa itu untuk merawat dan menjaga program pembangunan yang telah dilaksanakan.

Harapan penulis dan semua pihak, tata kelola dana desa akan berdampak positif dan
menjadikan desa menjadi ujung tombak pemabngunan. Majunya dan kuatnya desa akan
berdampak pada majunya dan kuatnya Negara.
DAFTAR FUSTAKA

Abdul Wahab, Solichin. 1999. Reformasi Pelayanan Publik : Kajian dari Perspektif
Teori Governance. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu
Kebijakan Publik pada FIA. Malang: Universitas Brawijaya.

Awang, Azam. 2010. Implementasi Pemberdayaan Pemerintah Desa.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bailey, S.J. 1999. Local Government Economics: Priciples and Practice. London:
Macmillan Press Ltd.

Cangara, Hafied. 1998. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada

Gibson, dkk. 1990. Organisasi dan Manajemen. Jakarta: Erlangga

Hassel, Nogis s. Tangkilisan. 2003. Implementasi Kebijakan Publik, Transformasi


Pikiran George Edward. Yogyakarta: Lukman Offset dan Yayasan Pembaruan
Administrasi Publik Indonesia.

Hasanuddin. 2011. “Kemampuan Aparatur Pemerintahan Desa Dalam Perencanaan


Pelaksanan Otonomi Daerah.” Juranl Transformasi Administrasi.

Hughes, O.E. 1994. Public Management and Administrasion, An Introcdution. London:


The Macmillan Press Ltd.

Islamy, M Irfan. 1997. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta:


Bumi Aksara.

Islamy, M. Irfan. 1998. Agenda Kebijakan Reformasi Administrasi Negara. Pidato


Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Kebijakan Publik pada Fakultas
Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang.

Kettl, Donald F. 2000. The Transformation of Governance: Globalization, Devolution


and the Role of Government, Journal of Public Administration Review, Vol. 60,
No. 6, p:488-497.

Mas’oed, Mohtar. 1989. Politik Birokrasi dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Mindarti, Lely Indah. 2005. Transfer Dana Pusat, Mobilisasi PAD dan Demokrasi
Lokal, Jurnal Ilmiah Administrasi Publik, Vol. 5, No. 2.

Moloeng, Lexy. J. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurcholis, Hanif. 2001. Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintah Desa. Jakarta:


Erlangga.

Osborne D. & Gaebler, T. 1993. Reinventing Government: How the Enterpreneural


Spirit is Transforming the Public sector. Addison-Wesley: Reading MA.

Osborne, D. & Plastrik, P. 1997. Banishing Bureaucracy: The Five Strategies for
Reinventing Government. Massachusetts: Adision-Wesley Publishing Company,
Inc.

Peraturan Pemerintah Nomor 06 Tahun 2014 tentang Desa.

Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa.

Petters, Tom. 1993. Creating A Government that Better & Costs Less. New York: A
Plume Book.
Rhodes, R.A.W. 1996. The New Governance: Governing Without Government, Political
Studies, XLIV, 652-657.

Robins, Stephen P, 2006. Perilaku Organisasi : Edisi Kesepuluh, Jakarta : PT. Indeks

Rosenbaum, Allan. 2003. Good Governance, Accountabillity and the Public Servant.
Florida – USA: Working Paper..

Saleh, Sirajuddin H., and Iqbal, Aslam. 1995. Accountabillity: The Endells Prophecy.
Kuala Lumpur – Malaysia: The Asian and Pacific Development Centre.

Sedarmayanti. 2003. Good Governance Dalam Rangka Otonomi Daerah. Bandung:


Mandar Maju.

Simmons, Robert H. And Dvorin, Eugene P. 1977. Public Administration: Value,


Policy, and Change. Washington, DC: Alfred Publishing Co. Inc.

Soeprapto, Riyadi HR. 2003. Pengembangan Kapasitas Pemerintah Daerah Menuju


Good Governance, Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Administrasi
Pembangunan : FIA – Unibraw Malang.

Stoker, G. 1998. Governance as Theory: Five Propositions. UNESCO.

Subarsono. 2005. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Subarsono. 2005. Analisis Kebijakan Publik Konsep, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.

Sugiono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.


Sunggono, Bambang. 1994. Hukum dan Kebijaksanaan Publik. Jakarta. Sinar Grafika.

Sumarto, Hetifah Sj. 2004. Inovasi, Partisipasi dan Good Governance. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.

Sutarto. 1989. Dasar-Dasar Organisasi : Cetakan Ke – 18 Yogyakarta : Gadjah Mada


University Press.

Syaukani, dkk. 2002. Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.

Tangkiliasan, Nogi S Hesel. 2003. Kebijakan Publik Yang Membumi. Yogyakarta :


Yayasan Pembaruan Administrasi Publik Indonesia dan Lukman Offiest,
Yogyakarta.

Taschererau, Suzanne and Campos, Jose Edgardo L. 1997. Building Government,


Citizen and Business. Philippine: Institute on Governance.

Thoha, Miftah. 2003. Birokrasi dan Politik di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.

Thomson, James R. 2000. Reinventing as Reform: Assessing the National Performance


Review, Journal of Public Administration Review, Vol. 60, No. 6, p:508-521.

Tjokroamidjojo, B. 2002. Good Governance: Paradigma Baru Manajemen


Pembangunan. Jurnal Administrasi Negara Vo. II, No.1.

. 2003. Prospek dan Tantangan Ilmu Administrasi di era Global, Jurnal


Administrasi Negara, Vol. II, No. 2.

Weber, Edward P. 1999. The Question of Accountability in Historical Perspective,


Journal of Administration and Society, Vol. 31, No. 4, p:451-494.

Winarso, Heru Pudji. 2004. Akuntabilitas Pelayanan Publik. Malang: Kominet Press.

Usman dan Akbar. 2009. Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara.

Widjaja. HAW. 2004. Otonomi Desa Merupakan Otonomi Yang Asli,Bulat, dan Utuh.
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Wibowo, Eddi dkk, 2004. Hukum dan Kebijakan Publik. Yogyakarta : yayasan
Pembaruan Administrasi Publik Indonesia (YPAPI).

Wiryanto. 2004. Pengantar Komunikasi. Jakarta : Grasindo.

. 2005. Birokrasi, Birokratisai dan Post Bureaucracy, Jurnal Ilmiah Ilmu


Administrasi Publik Vol. V No. 1.