Anda di halaman 1dari 4

M.

Johan Sidiq

2019303012

UAS Audit

1.

1. Opini Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)

Opini wajar tanpa pengecualian diberikan oleh auditor jika auditor tidak menemukan kesalahan yang
material secara keseluruhan dari laporan keuangan dan laporan keuangan dibuat sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku (SAK). Dengan kata lain, laporan keuangan akan mendapatkan opini
wajar tanpa pengecualian jika memenuhi kondisi seperti berikut:

 Laporan keuangan lengkap


 Bukti audit yang dibutuhkan lengkap
 Ketiga standar umum telah diikuti sepenuhnya dalam perikatan kerja
 Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku dan konsisten
 Tidak terdapat ketidakpastian yang cukup berarti mengenai perkembangan di masa depan
(going concern)

Opini wajar tanpa pengecualian dapat dimodifikasi menjadi opini wajar tanpa pengecualian dengan
paragraf penjelasan (modified unqualified opinion) ketika auditor harus menambah suatu paragraf
penjelasan dalam laporan auditnya. Keadaan yang membuat modifikasi ini, apabila terjadi seperti:

 Ada keraguan dari auditor atas konsep going concern perusahaan / entitas.
 Kurang konsisten perusahaan dalam menerapkan prinsip atau standar akuntansi yang
digunakan.
 Auditor ingin menekankan suatu hal.

2. Opini Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion)

Opini jenis ini menyatakan bahwa laporan audit dan keuangan telah menyajikan data secara wajar.
Semua hal yang berhubungan dengan material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas
tertentu sudah sesuai dengan prinsip akuntansi yang diberlakukan di Indonesia. Agar bisa
mendapatkan opini seperti ini, pastikan laporan keuangan Anda sudah memenuhi beberapa kriteria

Auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian ketika:

 Auditor setelah memperoleh bukti yang cukup dan tepat menyimpulkan bahwa kesalahan
penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi adalah material tetapi tidak
pervasif terhadap laporan keuangan, atau
 Auditor tidak memperoleh bukti yang cukup dan tepat yang mendasari opini, tetapi auditor
menyimpulkan bahwa pengaruh kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi yang mungkin
timbul terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat menjadi material tetapi tidak pervasif.

3. Opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelasan (Modified Unqualified Opinion)

Jenis opini yang satu ini diberikan oleh auditor atas dasar keadaan tertentu yang tidak memiliki
dampak secara langsung terhadap pendapat wajar. Perbedaan dari kenis opini ini terletak pada
paragraph penjelasan yang diberikan oleh auditor terkait dengan keadaan tertentu yang telah
dinyatakan sebelumnya.
Beberapa jenis keadaan yang dapat memicu modified unqualified opinion adalah:

 Sebagian dari pendapat auditor ditarik dari pendapat auditor independen lainnya
 Tidak tersedianya aturan yang jelas terkait dengan laporan keuangan sehingga berpotensi
dianggap menyimpang dari SAK (Standar Akuntansi Keuangan).
 Adanya pengaruh ketidakpastian peristiwa masa yang akan datang dan hasilnya tidak dapat
diperkirakan.

4. Opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelasan (Modified Unqualified Opinion)

Jenis opini yang satu ini diberikan oleh auditor atas dasar keadaan tertentu yang tidak memiliki
dampak secara langsung terhadap pendapat wajar.

Beberapa jenis keadaan yang dapat memicu modified unqualified opinion adalah:

 Sebagian dari pendapat auditor ditarik dari pendapat auditor independen lainnya
 Tidak tersedianya aturan yang jelas terkait dengan laporan keuangan sehingga berpotensi
dianggap menyimpang dari SAK (Standar Akuntansi Keuangan).
 Adanya pengaruh ketidakpastian peristiwa masa yang akan datang dan hasilnya tidak dapat
diperkirakan.

Audit harus menyatakan opini tidak wajar ketika auditor setelah melakukan pemeriksaan
memperoleh bukti yang cukup dan tepat kemudian menyimpulkan bahwa ada kesalahan
penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi adalah material dan pervasif terhadap
laporan keuangan. Pervasif sendiri diartikan sebagai kesalahan yang akan membawa dampak
kemana-mana atau mendalam.

4. Opini Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer of Opinion)

Opini tidak menyatakan pendapat diberikan auditor ketika auditor tidak memperoleh bukti yang
cukup dan tepat untuk mendasari opini, dan auditor tidak menyimpulkan bahwa pengaruh
kesalahan penyajian material yang tidak terdeteksi yang mungkin timbul terhadap laporan
keuangan, jika ada, dapat bersifat material dan pervasif.

2.

Prosedur Pemeriksaan Kas

 Siapkan schedule utama dari kas dan setara kas.


 Lakukan perhitungan kas (cash count) secara mendadak dan serentak untuk semua jenis
kas yang ada di perusahaan serta dibuatkan berita acara pemeriksaan.
 Yakinkan bahwa buku kas telah ditutup per tanggal pemeriksaan dan semua bukti
pengeluaran dan penerimaan telah dibukukan.
 Bandingkan saldo kas menurut perhitungan kas dengan saldo buku kas.
 Apabila perhitungan kas dilakukan sesudah tanggal neraca, lakukan prosedur penarikan
mundur (trace back) ke tanggal neraca dan bila dilakukan sebelum tanggal neraca
lakukan penarikan maju (trace forward) ke tanggal neraca.
 Bandingkan saldo buku besar dengan saldo perhitungan kas setelah prosedur penarikan
per tanggal neraca.
 Periksa penjumlahan (footing/cross footing) lembaran-lembaran buku kas, perhatikan
pemindahan saldo pada lembaran tersebut ke lembaran berikutnya.
 Jika kas kecil menggunakan sistem dana tetap (imprest fund), teliti apakah sudah ada
pertanggungjawaban dari dana tetap sebelum diadakan pengisian kembali.
 Pastikan bila ada kas yang dalam mata uang asing telah dikonversikan ke dalam kurs
yang benar per tanggal neraca.
 Buat daftar koreksi yang diperlukan.
 Buat kesimpulan dan komentar hasil pemeriksaan kas yang perlu diketahui oleh para
partner serta saran perbaikan kepada pihak manajemen yang juga merupakan salah satu
penilaian terhadap mutu audit.

 Lakukan observasi atas perhitungan fisik (stock Opname) yang dilakukan klien
 Meminta Final Inventory List (inventory compilation) dan lakukan prosedur pemeriksaan
berikut:
 Check mathematical list (penjumlahan dan perkalian)
 Cocokkan “quantity per book” dengan stock card
 Cocokkan “quantity per count” dengan count sheet auditor
 Cocokkan “total value” dengan buku besar persediaan
 Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out
 Periksa unit price dari bahan baku (raw material), barang dalam proses (work in
process), barang jadi (Finished goods), dan bahan pembantu (Supplies).
 Lakukan rekonsiliasi jika Stock Opname dilakukan beberapa waktu sebelum atau
sesudah tanggal laporan posisi keuangan (Neraca)
 Periksa cukup tidaknya barang-barang yang bergerak lambat, barang-barang yang rusak
dan barang-barang yang ketinggalan mode
 Periksa kejadian sesudah tanggal laporan posisi keuangan (Neraca)
 Periksa cut-off penjualan dan cut-off pembelian
 Periksa jawaban konfirmasi dari bank, perjanjian kredit (Ioan Agreement), Notulen rapat.
 Periksa apakah ada sales atau purchase commitment per tanggal laporan posisi
keuangan (Neraca)

Seandainya ada barang dalam perjalanan (Goods in Transit) lakukan prosedur berikut:

 Minta rincian Goods in Transit per tanggal laporan posisi keuangan


 Periksa mathematical accuracy (ketepatan perhitungan)
 Periksa subsequent clearance
 Buat kesimpulan dari hasil pemeriksaan persediaan dan buat usulan adjustment jika
perlu
 Periksa apakah penyajian persediaan di laporan keuangan sudah sesuai dengan standar
akuntasi berlaku umum di Indonesia /SAK/ETAP/IFRS.

Prosedur Pemeriksaan Pembayaran Dimuka


Prosedur Pemeriksaan Substantive Sewa Dibayar di Muka (Prepaid Rent) :

 Minta rincian (schedule) prepaid rent per tanggal neraca


 Check ketelitian perhitungan matematis (mathematical accuracy)
 Cocokkan saldo prepaid rent per tanggal neraca dengan saldo buku besar prepaid rent
 Cocokkan saldo awal prepaid rent dengan kertas kerja pemeriksaan tahun lalu
 Lakukan vouching untuk pembayaran prepaid rent di tahun berjalan dan periksa lease
agreement (jika sudah dilakukan di compliance test, refer ke kertas kerja compliance test)
 Tie-up/tie-in (cocokkan) total yang dibebankan sebagai biaya sewa ke buku besar biaya sewa
 Buat usulan audit adjustment, jika diperlukan

Prosedur Pemeriksaan Substantive Premi Asuransi Dibayar di Muka (Prepaid Insurance) :

 Minta rincian prepaid insurance per tanggal neraca


 Check mathematical accuracy
 Cocokkan saldo prepaid insurance per tanggal neraca dengan saldo buku besar prepaid
insurance
 Cocokkan saldo awal prepaid insurance dengan kertas kerja pemeriksaan tahun lalu
 Lakukan vouching untuk pembayaran premi asuransi di tahun berjalan, perhatikan apakah
ada discount untuk pembayaran tersebut
 Periksa polis asuransi dan cocokkan data dalam polis asuransi dengan rincian prepaid
insurance
 Tie-up total yang dibebankan sebagai biaya asuransi ke buku besar biaya asuransi
 Periksa apakah nilai pertanggungan (insurance coverage) cukup atau tidak (tidak terlalu
besar tidak terlalu kecil)
 Perhatikan apakah di dalam polis asuransi terdapat BANKER’S CLAUSE (pasal dalam polis
asuransi yang menyebutkan tentang kerugian jika ada klaim dibayarkan oleh bank)
 Buat usulan audit adjustment, jika diperlukan