Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.........................................................................................................................................................2
DAFTAR ISI............................................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................................................4
1.1. Latar Belakang..............................................................................................................................................4
1.2. Rumusan Permasalahan.................................................................................................................................5
1.3. Tujuan...........................................................................................................................................................5
2.1. Konsep Penyakit............................................................................................................................................6
2.1.1. Definisi...................................................................................................................................................6
2.1.2. Etiologi...................................................................................................................................................6
2.1.3. Patofisiologi...........................................................................................................................................6
2.1.4. Manifestasi Klinis................................................................................................................................10
2.1.5. Pemeriksaan Penunjang.......................................................................................................................11
2.1.6. Penatalaksanaan...................................................................................................................................11
2.2. Proses Keperawatan....................................................................................................................................13
2.2.1. Pengkajian............................................................................................................................................13
2.2.2. Diagnosa Keperawatan.........................................................................................................................17
2.2.3. Perencanaan..........................................................................................................................................19
3.1 Kesimpulan..................................................................................................................................................24
3.2 Saran.............................................................................................................................................................24
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500-4000 gram, cukup bulan, lahir
langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat
(Muhammad,2007).
Menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002, angka
kematian bayi baru lahir sebesar 45/1000 kelahiran hidup dan dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti: asfiksia neonatarum, icterus, pendarahan tali pusat, kejang, BBLR, hipertermi,
dll. (Muslihatun, 2010). Sedangkan tiga penyebab utama dari angka kematian bayi baru lahir
menurut Saifudin (2002) diantaranya adalah: kelahiran prematur, infeksi berat, dan
komplikasi selama kelahiran.
Menurut World Health Organization (WHO) Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar
35 per 1.000 kelahiran hidup untuk tahun 2012. Pada tahun 1990 silam, AKB secara global
sebesar 63 per 1.000 kelahiran hidup. Menurut laporan WHO pada tahun 2000, Angka
Kematian Bayi (AKB) di dunia 54 per 1000 kelahiran hidup kemudian tahun 2006 menjadi
49 per 1000 kelahiran hidup (Wijaya, 2010).
Dari data yang diperoleh dari medical record Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura,
jumlah angka kelahiran bayi baru lahir normal pada bulan Juni – Desember tahun 2015
sebesar 726 jiwa dengan kelahiran Seksiocesaria sebanyak 524 jiwa dan kelahiran Spontan
202 jiwa. Sedangkan tahun 2016 pada bulan Januari – Juni jumlah angka kelahiran bayi baru
lahir normal sebesar 411 jiwa dengan kelahiran Seksiocesaria sebanyak 330 jiwa dan
kelahiran Spontan sebanyak 81 jiwa.
Mengingat masa neonatus/bayi baru lahir adalah masa penentu. Perkembangan dan
Pertumbuhan bayi/anak selanjutnya serta diperlukan perhatian dan penanganan yang terpadu
dan berkesinambungan, penulis sebagai calon tenaga kesehatan ingin berperan penting dalam
upaya meningkatkan perubahan yang terjadi pada bayi paru lahir normal melalui upaya
promotif, yaitu memberikan perawatan yang intensif pada bayi baru lahir, antara lain promosi
penggunaan air susu ibu (ASI) secara ekslusif. Pentingnya menjaga kebersihan diri dan cara
menyusui yang benar pada bayi. Upaya prefentif antara lain dengan melakukan perawatan

2
hipotermi pada bayi baru lahir untuk mencegah kehilangan panas yang lebih lanjut. Upaya
kuratif yang diberikan adalah menganjurkan ibu untuk mengontrolkan kesehatan nya pasca
melahirkan dan dalam masa nifas, serta mengontrol keadaan bayinya sesuai dengan jadwal
agar tidak terjadi komplikasi. Dan upaya rehabilitatifnya adalah menstimulus perkembangan
bayi sejak usia dini.

1.2. Rumusan Permasalahan


Bagaimana tinjauan teori mengenai bayi baru lahir terkait definisi, etiologi, patofisiologi,
manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaannya?
Bagaimana asuhan keperawatan pada bayi baru lahir?

1.3. Tujuan
1. Sebagai bahan pembelajaran tentang perawatan bayi baru lahir.
2. Sebagai dasar untuk memberikan asuhan keperawatan pada bayi baru lahir.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Tinjauan Teoritis

2.1.1. Definisi
Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37-42 minggu dan berat badan
lahir 2500-4000 gram. (Depkes RI, 2007). Menurut Yeyeh (2012) bayi baru lahir adalah
bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada
usia kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan berat badan 2500-4000
gram, nilai apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan. Sedangkan menurut Rahadjo (2014) bayi baru
lahir normal adalah berat lahir antara 2500-4000 gram, cukup bulan, lahir menangis, dan
tidak ada kelainan kongenital (cacat bawaan) yang berat.
.

2.1.2. Etiologi
1. His(Kontraksi otot rahim)
2. Kontraksi otot dinding perut
3. Kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan.
4. Ketegangan dan kontraksi ligamentum retundum.

2.1.3. Patofisiologi
Adaptasi Fisiologis
Bayi Baru lahir terjadi perubahan fungsi organ yang meliputi:
1. Sistem pernapasan
Selama dalam uterus janin mendapat oksigen dari pertukaran melalui
plasenta.Setelah bayi lahir pertukaran gas terjadi pada paru-paru (setelah tali pusat
dipotong).Rangsangan untuk gerakan pernapasan pertama ialah akibat adanya tekanan
mekanis pada toraks sewaktu melalui jalan lahir, penurunan tekanan oksigen dan
peningkatan karbondioksida merangsang kemoreseptor pada sinus karotis.Usaha bayi
pertama kali untuk mempertahankan tekanan alveoli adanya surfaktan adalah menarik
nafas, mengeluarkan dengan menjerit sehingga oksigen tertahan di dalam.Fungsi
surfaktan untuk mempertahankan ketegangan alveoli.
4
Masa alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku. Pernapasan pada neonatus biasanya
pernapasan diafragma dan abdominal.Sedangkan respirasi setelah beberapa saat
kelahiran yaitu 30 – 60 x / menit.
2. Jantung dan Sirkulasi Darah
Di dalam rahim darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi berasal dari plasenta
masuk ke dalam tubuh janin melalui vena umbilikalis, sebagian besar masuk ke vena
kava inferior melalui duktus dan vena sasaranti, darah dari sel-sel tubuh yang miskin
oksigen serta penuh dengan sisa-sisa pembakaran dan sebagian akan dialirkan ke
plasenta melalui umbilikalis, demikian seterusnya.
Ketika janin dilahirkan segera, bayi menghirup dan menangis kuat, dengan
demikian paru-paru akan berkembang, tekanan paru-paru mengecil dan darah mengalir
ke paru-paru, dengan demikian duktus botali tidak berfungsi lagi, foramen ovale akan
tertutup. Penutupan foramen ovale terjadi karena pemotongan tali pusat.
3. Saluran Pencernaan
Pada kehamilan 4 bulan, pencernaan telah cukup terbentuk dan janin telah dapat
menelan air ketuban dalam jumlah yang cukup banyak.Absorpsi air ketuban terjadi
melalui mukosa seluruh saluran pencernaan, janin minum air ketuban dapat dibuktikan
dengan adanya mekonium (zat yang berwarna hitam kehijauan). Mekonium merupakan
tinja pertama yang biasanya dikeluarkan dalam 24 jam pertama.
4. Hepar
Hepar janin pada kehamilan 4 bulan mempunyai peranan dalam metabolisme
hidrat arang, dan glikogen mulai disimpan di dalam hepar, setelah bayi lahir simpanan
glikogen cepat terpakai, vitamin A dan D juga sudah disimpan dalam hepar.
Fungsi hepar janin dalam kandungan segera setelah lahir dalam keadaan imatur
(belum matang).Hal ini dibuktikan dengan ketidakseimbangan hepar untuk meniadakan
bekas penghancuran darah dari peredaran darah. Enzim hepar belum aktif benar pada
neonatus, misalnya enzim UDPGT (Uridin Disfosfat Glukoronide Transferase) dan
enzim GGFD (Glukosa 6 Fosfat Dehidrogerase) yang berfungsi dalam sintesis bilirubin
sering kurang sehingga neonatus memperlihatkan gejala ikterus fisiologis.
5. Metabolisme
Pada jam-jam pertama energi didapat dari pembakaran karbohidrat dan pada hari
kedua energi berasal dari pembakaran lemak. Energi tambahan yang diperlukan
neonatus pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolisme lemak
sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120 mg/100 ml.
5
6. Produksi Panas
Pada neonatus apabila mengalami hipotermi, bayi mengadakan penyesuaian suhu
terutama dengan NST (Non Sheviring Thermogenesis) yaitu dengan pembakaran
“Brown Fat” (lemak coklat) yang memberikan lebih banyak energi daripada lemak
biasa.Cara penghilangan tubuh dapat melalui konveksi aliran panas mengalir dari
permukaan tubuh ke udara sekeliling yang lebih dingin.Radiasi yaitu kehilangan panas
dari permukaan tubuh ke permukaan benda yang lebih dingin tanpa kontak secara
langsung.Evaporasi yaitu perubahan cairan menjadi uap seperti yang terjadi jika air
keluar dari paru-paru dan kulit sebagai uap dan konduksi yaitu kehilangan panas dari
permukaan tubuh ke permukaan benda yang lebih dingin dengan kontak secara
langsung.
7. Kelenjar Endoktrin
Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu, pada waktu bayi baru
lahir kadang-kadang hormon tersebut masih berfungsi misalkan pengeluaran darah dari
vagina yang menyerupai haid perempuan.Kelenjar tiroid sudah terbentuk sempurna
sewaktu lahir dan mulai berfungsi sejak beberapa bulan sebelum lahir.
8. Keseimbangan Air dan Ginjal
Tubuh bayi baru lahir mengandung relatif banyak air dan kadar natrium relatif
lebih besar daripada kalium. Hal ini menandakan bahwa ruangan ekstraseluler
luas.Fungsi ginjal belum sempurna karena jumlah nefron matur belum sebanyak orang
dewasa dan ada ketidakseimbangan antara luas permukaan glomerulus dan volume
tubulus proksimal, renal blood flow (aliran darah ginjal) pada neonatus relatif kurang
bila dibandingkan dengan orang dewasa.
9. Susunan Saraf
Jika janin pada kehamilan sepuluh minggu dilahirkan hidup maka dapat dilihat
bahwa janin tersebut dapat mengadakan gerakan spontan.Gerakan menelan pada janin
baru terjadi pada kehamilan empat bulan.Sedangkan gerakan menghisap baru terjadi
pada kehamilan enam bulan.
Pada triwulan terakhir hubungan antara saraf dan fungsi otot-otot menjadi lebih
sempurna.Sehingga janin yang dilahirkan diatas 32 minggu dapat hidup diluar
kandungan.Pada kehamilan 7 bulan maka janin amat sensitif terhadap cahaya.
10. Imunologi
Pada sistem imunologi Ig gamma A telah dapat dibentuk pada kehamilan 2 bulan
dan baru banyak ditemukan segera sesudah bayi dilahirkan. Khususnya pada traktus
6
respiratoris kelenjar liur sesuai dengan bakteri dapat alat pencernaan, imunoglobolin G
dibentuk banyak dalam bulan kedua setelah bayi dilahirkan. Ig A, Ig D dan Ig E
diproduksi secara lebih bertahap dan kadar maksimum tidak dicapai sampai pada masa
kanak-kanak dini. Bayi yang menyusui mendapat kekebalan pasif dari kolostrum dan
ASI.
11. Sistem Integumen
Kulit bayi baru lahir sangat sensitif dan mudah mengelupas, semua struktur kulit
ada pada saat lahir tetapi tidak matur.Epidermis dan dermis tidak terikat dengan erat dan
sangat tipis, vernik keseosa juga bersatu dengan epidermis dan bertindak sebagai tutup
pelindung dan warna kulit bayi berwarna merah muda.
12. Sistem Hematopoiesis.
Saat bayi lahir nilai rata-rata Hb, Ht, SDM dan Leukosit lebih tinggi dari nilai
normal orang dewasa. Hb bayi baru lahir 14,5 – 22,5 gr/dl, Ht 44 – 72%, SDM 5 – 7,5
juta/mm3 dan Leukosit sekitar 18000/mm3. Darah bayi baru lahir mengandung sekitar
80% Hb janin.Presentasi Hb janin menurun sampai 55% pada minggu kelima dan 5%
pada minggu ke 20.
13. Sistem Skelet
Arah pertumbuhan sefalokaudal terbukti pada pertumbuhan tubuh secara
keseluruhan.Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempat panjang tubuh.Lengan
sedikit lebih panjang daripada tungkai.Wajah relatif kecil terhadap ukuran tengkorak
yang jika dibandingkan lebih besar dan berat.Ukuran dan bentuk kranium dapat
mengalami distorsi akibat molase.
Pada bayi baru lahir lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan tumit disatukan
sehingga tungkai bawah terlihat agak melengkung.Saat baru lahir tidak terlihat
lengkungan pada telapak kaki.Ekstremitas harys simetris, terdapat kuku jari tangan dan
kaki, garis-garis telapak tangan dan sudah terlihat pada bayi cukup bulan.

7
2.1.4. Manifestasi Klinis
1. Lahir aterm antara 37-42 minggu
2. Berat badan 2500 – 4000 gram
3. Panjang lahir 48 – 52 cm
4. Lingkar dada 30 – 38 cm
5. Lingkar kepala 33 – 35 cm
6. Lingkar lengan 11-12
7. Frekuensi denyut jantung 120-160x/menit
8. Kulit kemerah- merahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup.
9. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna
10. Kuku agak panjang dan lemas
11. Nilai APGAR >7
12. Gerakan aktif
13. Bayi lahir langsung menangis kuat
14. Genetalia :
a. Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada pada skrotum
dan penis yang berlubang.
b. Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uterus yang
berlubang ,serta labia mayora menutupi labia minora.

8
15. Refleks rooting ( mencari putting susu dengan rangsangan taktil pada pipi dan daerah
mulut)sudah terbentuk dengan baik.
16. Refleks sucking sudah terbentuk dengan baik.
17. Refleks grasping sudah baik
18. Refleks morro
19. Eliminasi baik, urine dan mekonium keluar dalam 24 jam pertama

2.1.5. Pemeriksaan Penunjang


a) pH tali pusat, tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status praasidosis, tingkat
rendah menunjukkan gangguan asfiksia bermakna.
b) Hemoglobin mencapai 15 sampai 20 g. hematokrit berkisar antara 43% sampai
61%.
c) Tes Coombs langsung pada daerah tali pusat menentukan adanya kompleks
antigen-antibodi pada membran sel darah merah yang menunjukkan kondisi
hemolitik.
d) Bilirubin Total sebanyak 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1 sampai
2 hari dan 12 mg/dl pada 3 sampai 5 hari.

2.1.6. Penatalaksanaan
Menurut Prawirohardjo, (2005) tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir,
adalah:
1. Membersihkan jalan nafas Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir,
apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas
dengan cara sebagai berikut :
a. Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
b. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang Bersihkan hidung, rongga
mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus kassa steril.
c. Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan
kain.
2. Memotong dan Merawat Tali Pusat Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta
lahir tidak begitu menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang
bulan. Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting steril dan diikat
dengan pengikat steril. Apabila masih terjadi perdarahan dapat dibuat ikatan baru. Luka tali pusat
dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70% atau povidon iodin 10% serta dibalut kasa
9
steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari dan atau setiap tali basah / kotor. Sebelum memotong
tali pusat, pastikan bahwa tali pusat telah diklem dengan baik, untuk mencegah terjadinya perdarahan.
3. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap
suhu badannya dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat.
Bayi baru lahir harus dibungkus hangat.
4. Memberi Vitamin K Untuk mencegah terjadinya perdarahan, semua bayi baru lahir normal dan
cukup bulan perlu diberi vitamin K peroral 1 mg/hari selama 3 hari, sedangkan bayi
resiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 1 mg I.M
5. Memberi Obat Tetes / Salep Mata Di beberapa negara perawatan mata bayi baru lahir secara
hukum diharuskan untuk mencegah terjadinya oplitalmic neonatorum. Di daerah
dimana prevalensi gonorhoe tinggi, setiap bayi baru lahir perlu diberi salep mata sesudah 5 jam
bayi lahir. Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk
pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual).
6. Identifikasi Bayi
a. Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempat penerimaan pasien, di kamar
bersalin dan di ruang rawat bayi.
b. Alat yang digunakan hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak mudah melukai, tidak
mudah sobek dan tidak mudah lepas.
c. Pada alat/gelang identifikasi harus tercantum : nama (bayi, nyonya) tanggal lahir,
nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama lengkap ibu. d. Di setiap tempat tidur harus
diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal lahir, nomor identifikasi.
7. Pemantauan Bayi Baru Lahir Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas
bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang
memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas
kesehatan. Pemantauan 2 jam pertama sesudah lahir meliputi :
a. Kemampuan menghisap kuat atau lemah
b. Bayi tampak aktif atau lunglai
c. Bayi kemerahan atau biru

10
2.2. Proses Keperawatan

2.2.1. Pengkajian

a. Pengkajian pada bayi baru lahir menurut Doenges (2001) adalah sebagai berikut:
1. Sirkulasi
Nadi apical dapat berfluktuasi dari 110 sampai dengan 180x/menit. Tekanan
darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (distolik). Bunyi
jantung: lokasi di mediastinum dengan titik intensitas maksimal tepat dikiri
dari midsternum pada ruang intercostal ketiga atau empat. Murmur bias terjadi
selama beberapa jam pertama kehidupan, tali pusat putih dan bergelatin,
mengandung dua arteri, dan satu vena.
2. Eliminasi
a. Dapat berkemih saat lahir, urin tidak berwarna atau kuning pucat,
dengan 6 sampai 10 popok basah per 24 jam.
b. Abdomen lunak tanpa distensi, bising usu aktif ada beberapa jam
setelah kelahiran.
c. Pergerakan feses meconium dalam 24-48 jam kelahiran.
3. Aktivitas/istirahat
Status sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama, bayi tampak semikoma,
saat tidur dalam: meringis atau tersenyum, tidur sehari rata-rata 20 jam.
4. Makanan/cairan
a. Berat badan 2500-4000 gram
b. Panjang badan 44-55 cm
c. Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai usia gestatis)
d. Penurunan berat badan di awal 5% sampai 10%
e. Mulut: saliva banyak
5. Neurosensori
Tonus otot: fleksi hipertonik dari semua ekstermitas sadar dan aktif.
Mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah
kelahiran (periode pertama reaktifitas). Penampilan simetris (molding, edema,
hematoma). Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi
menunjukan abnormalitas gerak, hipoglikemia, atau efek narkotik yang
memanjang).
6. Pernafasan
Skor APGAR, Menit pertama: ____ Menit kelima: _____. Skor optimal
harusantara 7 sampai 10. Pernafasan pada bayi baru lahir normal biasanya 30
sampai 60 x/menit. Pola periodic dapat terlihat. Bunyi napas bilateral, kadang-

11
kadang krekels umum pada awalnya. Silindrik torak: kartilago xifoid
menonjol, umum terjadi.
APGAR SCORE
Skor 0 1 2
Appearance Pucat Bedan merah, Seluruh tubuh
ekstermitas biru kemerahan
Pulse Tidak ada <100x/menit >100x/menit
Grimace Tidak ada Sedikit gerakan Menangis,
mimic batuk/bersin
Activity Lumpuh Beberapa fleksi Pergerakan aktif
ekstensi
Respiration Tidak ada Lemah tidak Menangis kuat
teratur

7. Keamanan
o o
Suhu terterang dari 36,5 C sampai 37,5 C. ada verniks (jumlah dan
distribusi tergantung pada usia gestasi). Kulit: lembut, fleksibel,
pengelupasan tangan atau kaki dapat terlihat, warna merah muda atau
kemerahan, mungkin belang-belang menunjukan memar minor (misalnya
kelahiran dengan forcep), peteckie pada kepala atau wajah (dapat
menunjukan peningkatan tekanan berkenan dengan kelahiran). Bercak nevi
telangiktatis (kelopak mata antara alis mata, atau pada oksipital, atau bercak
Mongolia (terutama punggu bawah dan bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit
kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal).
8. Seksualitas
a. Genetalia wanita: lania vagina agak kemerahan atau edema, tanda
vagina/hymen dapat terlihat.
b. Genetalia pria: testis turun, skrotum tertutup dengan rugae, fimosis
biasa terjadi (lubang prepusium sempit).

b. Pengkajian Fisik menurut Babok (2005) adalah sebagai berikut:


1. Postur
Bokong sempurna (frank branch). Kaki lebih lurus dan kaku, bayi baru lahir
akan memperlihatkan posisi didalam Rahim selama beberapa hari. Tekanan

12
parental pada anggota gerak atau bahu bias menyebabkan ketidaksimetrisan
wajah untuk sementara untuk menimbulkan tahanan saat ekstermitas eksternal.
2. Tanda-tanda vital
Denyut jantung dan denyut nadi 100x/menit saat tidur sampai 160x/menit saat
menangis, bida tidak teratur untuk periode singkat terutama setelah menangis.
o o
Suhu 36,5 C sampai 37,5 C, frekuensi napas 30 sampai 50x/menit, tekanan
darah bervariasi sering perubahan tingkat aktivitas terjaga, menangis, dan
teratur.
3. Berat
Berat badan 2500 sampai 400 gram. Panjang badan 45 sampai 55 cm. Lingkar
kepala 32 sampai 36,5 cm. Lingkar dada 2 cm lebih kecil dari pada lingkar
kepala rata-rata sekitar 30 sampai 33 cm. Lingkar abdomen membesar setelah
bayi diberi makan karena otot abdomen meregang, ukuran sama dengan
lingkar dada.
4. Intergumen
Biasanya merah muda bervariasi pada setiap etnik, eritema toksium atau
neonatorum (ruam pada bayi baru lahir) milia, tanda lahir bintik Mongolia
bayi kulit hitam, keturunan Asia, dan Amerika asli 70% bayi kulit putih 90%
kondisi agak tebal kerak dipermukaan mengelupas terutama ditangan dan kaki.
Hidrasi dan konsistensi kehilangan berat badan normal setelah lahir sampai
mencapai 10% berat lahir. Pada pengeluaran urin berkemih dalam 24 jam
setelah lahir berkemih 6 sampai 10 kali sehari, verniks kaseosa jumlahnya
bervariasi biasanya lebih banyak terdapat pada lipatan kulit lanugo jumlah
bervariasi.
5. Kepala
Kaput suksedanum biasanya memperlihatkan adanya ekstermitas, palpasi
suture: sutura teraba dan tidak menyatu, inspeksi pola, distribusi, jumlah
rambut, raba tekstur keperakan helai rambut satu-satu menempel datar pada
kulit kepala pola pertumbuhan adalah menuju muka dan leher.
6. Mata
Kedua mata dan jarak antar mata masing-masing 1/3 jarak dari bagian luar
kantus ke bagian luar kantus lain, bentuk dan ukuran simetris refleks
mengedip. Kelopak mata lipatan epikantus merupakan karakteristik ras yang
normal. Bola mata kadang-kadang ada airmata perdarahaan subkonjungtiva.
13
Pupil ada, ukuran sama, bereaksi terhadap cahaya. Gerak bola mata strabismus
(dimana kondisi mata yang tidak sejajar atau mistagmu, dimana kondisi mata
yang berguncang secara bersama berirama tanpa disengaja) sementara sampai
bulan ketiga atau keempay, alis mata terpisah (tidak berhubungan digaris
tengah). Hidung terdapat sedikit deformitas akibat tekanan jalan lahir.
7. Telinga
Ukuran kecil, besar, lentur tuberkel Darwin (nodul pada belika posterior).
Pendengaran berespon terhadap suara dan bunyi lain.
8. Wajah
Bayi tampak normal raut wajah sesuai letak proposional terhadap wajah
simetris.
9. Mulut
Gerakan bibir simetris, gusi berwarna merah muda, lidah tidak menonjol
bergerak bebas bentuk dan gerakan simetris, palatum (lunak, keras) palatum
lunak utuh palatum keras utuh, uvula digaris tengah, dagu, celah dagu, reflex
rooting, menghisap respons refleks tergantung pada tingkat kesadaran dan rasa
lapar.
10. Leher
Inspeksi dan palpasi pendek, tebal dikelilingi lipatan kulit tidak ada selaput (no
webbing).
11. Dada
Inspeksi dan palpasi bentuk hamper bulat tebentuk seperti tong, gerak
pernafasan dada simetris, gerak dada dan perut secara sinkron dengan
pernapasan. Putting susu menonjol sudah terbentuk dengan baik letak simetris,
jaringan payudara 3 sampai 10 mm, sekresi suara palsu.
12. Abdomen
Tali pusat mongering dan tidak berbau, tali pusat tetap berada ditempatnya
selama 24 jam. Bising usus terdengar suara satu sampai dua jam setelah lahir.
Meconium keluar 24 sampai 48 jam setelah lahir.
13. Genetalia
Wanita: biasanya edema menutupi labia minora pada bayi cukup bulan labia
minora keluar dari balia mayora.

14
Laki-laki: kelamin pria meatus diujung penis, ukuran besar edematosa
pendulosa pada bayi cukup bulan, testis tebaba pada setiap sisi, berkemih
dalam waktu 24 jam aliran adekuat jumlah adekuat.
14. Ekstermitas
Memepertahankan posisi di dalam Rahim sikap semuanya fleksi.
15. Punggung
Tulang punggung lurus dan mudah fleksi. Bayi dapat mengangkat dan
menahan kepala sebentar saat tengkurap.
16. Anus
Pengeluaran meconium dalam 24 jam setelah bayi lahir refleks berkedut
sfingter ani yang baru.

2.2.1.3 Pemeriksaan penunjang


1. pH tali pusat, tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status praasidosis, tingkat
rendah menunjukkan gangguan asfiksia bermakna.
2. Hemoglobin mencapai 15 sampai 20 g. hematokrit berkisar antara 43% sampai 61%.
3. Tes Coombs langsung pada daerah tali pusat menentukan adanya kompleks antigen-
antibodi pada membran sel darah merah yang menunjukkan kondisi hemolitik.
4. Bilirubin Total sebanyak 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1 sampai 2
hari dan 12 mg/dl pada 3 sampai 5 hari.

2.2.2. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan pada bayi baru lahir menurut Doenges (2001) adalah
sebagai berikut:
a. Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan eperdemis
tipis dengan pembuluh darah dekat pada kulit.
b. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan stress
akibat dingin, perubahan temperature tubuh
c. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan kebutuhan kalori tinggi, intake tidak adekuat.
d. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kulit rusak, jaringan
trauma, ketidakadekuatan imunitas yang didapat.
e. Resiko tinggi tehadap cedera berhubungan dengan trauma lahir.

15
f. Resiko tinggi terhadapp kekurangan volume cairan berhubungan dengan
pemberian makan lambat, keterbatasan masukan oral.
g. Resiko tinggi terhadap kosntipasi berhubungan dengan ketidakadekuatan
masukan cairan, obstruksi intestinal.
h. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penambahan anggota
keluarga.

16
2.2.3. Perencanaan
Perencanaan pada bati baru lahir menurut Doenges (2001) adalah sebagai beikut
a. Resiko tinggi terhadap perubahan suhu tubuh berhubungan dengan eperdemis
tipis dengan pembuluh darah dekat pada kulit.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan perubahasuhu tidak
terjadi. Kriteria hasil:
1) Mempertahaan kan suhu dalam batas normal (36,5o C – 37,5 o C).
2) Bebas dari tanda-tanda stress dingis/hipotermi.
3) Tidak ada letargi.
4) Membrane mukosa mulut lembab.
5) Badan/akral teraba hangat.
6) Ekstremitas bayi tidak sianosis

Rencana tindakan:
1) Kaji keadaan lingkungan terhadap kehilangan termal melalui konduksi,
konveksi, radiasi dan evaporasi.
2) Kaji suhu aksila neonatus, pantau suhu kulit secara continue dengan alat
periksa kulit dengan tepat.
3) Ajarkan atau anjurkan keluarga untuk tetap menjaga kehangatan bayi
(membedong, menutup kaepala dengan kain, menutup tangan dan kaki
bayi dengan sarung tangan dan sarung kaki, mendekap bayinya menempel
dengan kulit ibu).
4) Keringkan kepala bayi dan tubuh bayi baru lahir, balut bayi dengan selimut
hangat.
5) Tempelkan bayi baru lahir dalam lingkungan hangat.
6) Pertahankan suhu lingkungan (25o C).
7) Perhatikan tanda-tanda dehidrasi (misalnya tugor kulit buruk, membrane
mukosa kering, peningkatan suhu, dan fontanel cekung).
8) Hindarkan menempatkan/ meletakan bayi dekat dengan sumber panas atau
dingin.
9) Mandikan bayi pada 6 jam setelah lahir dengan suhu aksila bayi normal
(36,5o C – 37,5 o C)

17
b. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan stress
akibat dingin, perubahan temperature tubuh.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko kerusakan
pertukaran gas tidak terjadi
Kriteria hasi:
1) Jalan nafas normal.
2) Frekuensi pernafasan dalam batas normal (30-60x/menit).
3) Tidak ada sianosis
4) Tidak ada tanda-tanda distress pernafasan.

Rencana tindakan:
1) Kaji apgar score pada menit ke-1 dan menit ke-5 setelah kelahiran.
2) Kaji frekuensi pernafasan.
3) Kaji hubungan antara suhu bayi dan suhu udara sekitar.
4) Perhatikan adanya pernafasan cuping hidung, retraksi dada, pernafasan
mendengkur, krekles.
5) Bersihkan jalan nafas, hisaf nasofaring dengan perlahan sesuai kebutuhan.
6) Keringkan bayi dengan selimut hangat.
7) Posisikan bayi miring dengan gulungan handuk untuk menyongkong
pungung.
8) Auskultasi bunyi nafas dan bunyi jantung.
9) Observasi dan catat tanda-tanda distress pernapasan (misalnya ngorok,
pernapasan cuping hidung dan tacpinue.
10) Pantau tanda-tanda hipotermi/hipertermia pada bayi.
11) Berikan oksigen sesuai indikasi.

c. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan


dengan kebutuhan kalori tinggi, intake tidak adekuat.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko tinggi terhadap
perubahan nutrisi tidak terjadi.
Kriteria hasil :

18
1) Tidak ada tanda-tanda hipoglikemi.
2) Penurunan BB kurang dari 5-10% BB lahir.
3) ASI keluar banyak. Sekitar 350 cc/24jam.
4) Tidak ada bengkak dan nyeri dipayudara ibu.
5) Ibu bayi dapat memberikan ASI/ menyusui dengan benar.

Rencana tindakan :
1) Kaji payudara ibu.
2) Anjurkan kepada ibu bayi untuk memberikan ASI nya sesuka bayi jangan
dibatasi.
3) Anjurkan ibu untuk banyak mengkonsumsi sayur-sayuran hijau dan buah-
buahan.
4) Anjurkan ibu bayi untuk menyusui secara bergantian antara payudara yang
kiri dan kanan.
5) Observasi cara menyusui dan produksi ASI ibu bayi.
6) Observasi bayi terhadap adanya indikasi masalah pemberian makan
(misalnya produksi mukus berlebih terdesak atau menolak makan).
7) Perhatikan reflek menghisap bayi (rooting, sucking, swallowing).
8) Auskultasi bising usus, perhatikan adanya distensi abdomen.
9) Lakukan pemberian makan oral awal dengan 5 – 15 ml air steril.
10) Timbang BB bayi saat menerima dalam ruang perawatan dan setelah itu
setiap hari.
11) Berikan penkes tentang cara menyusui yang benar.

d. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kulit rusak, jaringan


trauma, ketidakadekuatan imunitas yang didapat, luka insisi tali pusat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko terhadap
infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil :
1) Tidak ada tanda-tanda infeksi.
2) Pemulihan tali pusat tepat waktu.
3) Tidak ada drainase atau eritema.

19
Rencana tindakan :
1) Kaji ulang tanda-tanda vital bayi, dan tanda-tanda infeksi.
2) Kaji tali pusat dan area kulit pada dasar tali pusat setiap hari dari adanya
tanda infeksi dan ajarkan cara perawatan tali pusat yang benar.
3) Batasi kontak langsung dengan bayi.
4) Anjurkan orang tau atau keluarga untuk mencuci tangan sebelum
memasuki ruang perawatan bayi, dan sesudah memegang bayi.
5) Ganti kassa tali pusat setiap hari setelah mandi atau bila kotor.

e. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan trauma lahir.


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko cidera tidak
terjadi. Kriteria hasil :
1) Tidak ada cidera
2) Kadar bilirubin dibawah 18 mg/dl

Rencana tindakan :
1) Kaji bayi secara keseluruhan.
2) Posisikan bayi baru lahir pada abdomen/miring dengan gulungan selimut
dipunggung.
3) Jangan meninggalkan bayi tidak diperhatikan didalam ruangan atau pada
tempat datar yang tidak ada penghalang.
4) Berikan vitamin K secara IM

f. Resiko tinggi terhadapp kekurangan volume cairan berhubungan dengan


pemberian makan lambat, keterbatasan masukan oral.

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko tinggi
kekurangan volume cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil :
1) Berkemih 2-6 kali dengan haluaran 15-60 ml/kgBB/hari
2) Menghasilkan urine bebas Kristal asam urat.
3) Tidak ada hipertermi.

20
Rencana tindakan :
1) Catat pengeluaran berkemih pertama dan selanjutnya.
2) Lakukan pemberian makan oral, perhatikan jumlah yang ditelan, dimakan
dan dimuntahkan.
3) Perhatikan adanya edema, kaji tingkat hidrasi bayi.
4) Kurangi stressor dingin.
5) Palpasi adanya distensi kandung kemih.

g. Resiko tinggi terhadap kosntipasi berhubungan dengan ketidakadekuatan


masukan cairan, obstruksi intestinal.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko tinggi
terhadap konstipasi tidak terjadi.
Kriteria hasil :
Dapat mengeluarkan feses meconium dalam 48 jam setelah
kelahiran.

Rencana tindakan :
1) Kaji abdomen terhadapt adanya infeksi.
2) Tinjau ulang catatan terhadap indikasi-indikasi pasase meconium.
3) Auskultasi bising usus.
5) Pantau frekuensi dan jumlah atau lamanya pemberian makan, frekuensi
berkemih, tugor kulit dan BB Observasi adanya gangguan mortilitas yang
dihubungkan dengan konstipasi.
6) Observasi adanya gangguan mortilitas yang dihubungkan dengan
konstipasi.
7) Bantu dengan pemeriksaan diagnostic (misalnya sinar-x abdomen).

21
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37-42 minggu dan berat badan lahir
2500-4000 gram. (Depkes RI, 2007).
Nilai Normal Bayi Baru lahir
1. Lahir aterm antara 37-42 minggu
2. Berat badan 2500 – 4000 gram
3. Panjang lahir 48 – 52 cm
4. Lingkar dada 30 – 38 cm
5. Lingkar kepala 33 – 35 cm
6. Lingkar lengan 11-12
7. Frekuensi denyut jantung 120-160x/menit
8. Kulit kemerah- merahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup.
9. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna
10. Nilai APGAR >7
11. Gerakan aktif
12. Bayi lahir langsung menangis kuat
13. Genetalia :
a. Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada pada skrotum
dan penis yang berlubang.
b. Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uterus yang
berlubang ,serta labia mayora menutupi labia minora.
14. Refleks rooting sudah terbentuk dengan baik.
15. Refleks sucking sudah terbentuk dengan baik.
16. Refleks grasping sudah baik
17. Refleks morro
18. Eliminasi baik, urine dan mekonium keluar dalam 24 jam pertama

3.2 Saran

22
Daftar Pustaka

Bobak, Lowdermilk, & jensen, 2006, Maternity Health Women Care, 7th edition,
Mosby, Philadelphia.

Carpenito, L.J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta : EGC.

Doenges, M.E. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal Edisi 3. Jakarta : EGC

Mochtar R, Prof. dr. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif,dkk. 2001.Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3.Jakarta: FKUI

Prawirohardjo, S. 2000. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal


dan neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

23