Anda di halaman 1dari 12

PERA ASAM LEMAK TAK JEUH TUGGAL DA ATIOKSIDA DALAM

MIYAK ZAITU SEBAGAI ZAT ATIATEROGEIK PADA PEMBULUH

DARAH

Eka Prasetya Wati, Sarrah Kusuma Dewi, Wendy Yuhardika

Fakultas Kedokteran, Universitas Jember

Abstrak

Minyak Zaitun disebut sebagai minyak yang berasal dari pohon yang diberkahi dalam Al
Qur’an surat An Nuur ayat 35 dan dianjurkan penggunaannya oleh Rasulullah dalam
hadisnya. Minyak zaitun diisyaratkan dalam Al Qur’an dan hadis sebagai bahan makanan
yang baik. Selain itu, konsumsi minyak zaitun di dataran mediterania sejak berabad-abad lalu
dikaitkan dengan rendahnya kasus aterosklerosis di daerah tersebut. Hal ini menunjukkan
bahwa minyak zaitun mengandung bahan yang berperan dalam mendukung fungsi pembuluh
darah serta mempengaruhi proses di dalamnya. Dengan metode studi pustaka, aspek-aspek
terkait permasalahan tersebut dikaji berdasarkan informasi dari literatur yang ada.
Berdasarkan tinjauan pada literatur, komposisi minyak zaitun didominasi oleh asam lemak tak
jenuh terutama asam lemak tak jenuh tunggal. Asam lemak tak jenuh tunggal relatif lebih sulit
diserap oleh usus dan dapat menurunkan kadar kolesterol total sehingga menurunkan kadar
LDL plasma darah. Selain itu, terdapat pula komposisi yang sekalipun jumlahnya relatif
sedikit tetapi mampu memberikan manfaat yang begitu besar yaitu zat antioksidan. Zat
antioksidan ini mampu mencegah berbagai reaksi oksidasi yang berbahaya bagi tubuh, salah
satunya reaksi oksidasi LDL. Oksidasi LDL oleh bahan oksidan merupakan peristiwa awal
yang memicu proses pembentukan plak aterosklerosis. Antioksidan yang terdapat dalam
minyak zaitun akan mencegah oksidasi LDL dengan menyerang bahan oksidan berbahaya.
Dengan demikian, asam lemak tak jenuh tunggal dan antioksidan yang terkandung dalam
minyak zaitun dapat mencegah pembentukan plak aterosklerosis sehingga didapatkan efek
pengobatan preventif bagi kesehatan pembuluh darah. Oleh karena itu, minyak zaitun dapat
digunakan untuk menjaga kesehatan pembuluh darah.

Kata kunci: minyak zaitun, asam lemak tak jenuh tunggal, antioksidan, pembuluh darah,
LDL, aterosklerosis.

Abstract

Olive oil as an oil that taken from a blessed tree, is explained in Al Qur’an surah An Nuur:35
and suggested to be used by prophet in hadis. In Al Qur’an and Hadis, olive oil is mentioned
as a good food. Beside that, consuming olive oil in Mediterania since many centuries ago
related with the low cases of atherosclerosis there. It indicates that olive oil contain

1
compositions that support the function of blood vessels and influences the process in it. Using
literature methode, many aspects that associate with that problem, is being studied based on
the information from the literature. Based on the literature, the most of composition in olive
oil is unsaturated fatty acid especially monounsaturated fatty acid. Monounsaturated fatty acid
is relative more difficult to be absorbed by the intestine and can decrease the level of total
cholesterol plasma. Therefore, it can decrease the level of LDL in the blood plasma. Beside
that, it has antioxidants, a composition that present in relative small degree, but it can give so
many advantages. Antioxidants can prevent many oxidation reactions that dangerous for our
body, one of them is LDL oxidation reaction. LDL oxidation by oxidant is the initiation
process that can be a trigger of atherosclerosis plaque formation. Antioxidant in olive oil will
prevent the LDL oxidation by attack the dangerous oxidant. These result indicate that
monounsaturated fatty acid and antioxidant in olive oil can prevent the formation of
atherosclerosis plaque so it can be gotten the effect of preventive treatment for blood vessels.
Therefore, olive oil can be used to keep blood vessel’s health.

Keyword: olive oil, monounsaturated fatty acid, antioxidant, blood vessel, LDL,
atherosclerosis.

1. Pendahuluan

Dalam dunia islam, pohon zaitun termasuk pohon yang diistimewakan karena dalam Al-

Qur’an surat An Nuur ayat 35 pohon zaitun merupakan termasuk pohon yang diberkahi.

Pohon zaitun tersebut menghasilkan minyak yang akan memberikan kebaikan pada

manusia1,2. Selain itu, konsumsi minyak zaitun dan penggunaanya sebagai minyak rambut

merupakan sunnah Rasulullah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah3.

Sejak dahulu, minyak zaitun telah banyak digunakan sebagai sumber utama asupan lemak,

misalnya oleh masyarakat mediterania4,5,6,7. Konsumsi minyak zaitun tersebut memiliki

keterkaitan erat dengan rendahnya angka prevalensi dan insidensi kasus aterosklerosis di

negara mediterania sedangkan di negara barat termasuk tinggi karena mereka sering makan

makanan cepat saji dan daging yang banyak mengandung lemak jenuh6.

Proses aterosklerosis yang terjadi pada dinding pembuluh darah dapat terjadi akibat tingginya

kadar LDL plasma. Dalam beberapa penelitian, para ahli menemukan bahwa asam lemak tak

jenuh tunggal dan beberapa jenis fenol yang terkandung dalam minyak zaitun dapat

2
menurunkan kadar LDL plasma dan meningkatkan resistensi LDL terhadap oksidasi sehingga

dapat menurunkan resiko aterosklerosis. Berdasarkan pustaka yang ada, kami ingin mengkaji

pengaruh asam lemak tak jenuh tunggal dan fenol terhadap kualitas dan kuantitas LDL plasma

darah dalam minyak zaitun sehingga mempengaruhi proses pembentukan plak aterosklerosis

pada pembuluh darah.

2. Pembahasan

2.1 Pengaruh Asam Lemak Tak Jenuh Tunggal dan Fenol dalam Minyak Zaitun

terhadap Kualitas dan Kuantitas LDL Plasma Darah

Minyak zaitun mengandung asam lemak tak jenuh tunggal yaitu asam oleat (18:1n-9) sebesar

68%-81,5%2,8,9 dan asam palmitoleat (16:1n-7) sebesar 0,3%-3,5%2. Komposisi asam lemak

tak jenuh tunggal membentuk sebagian besar dari minyak zaitun8,10. Asam lemak tak jenuh

tunggal merupakan asam lemak yang hanya memiliki satu ikatan rangkap dua dalam struktur
7,8,11
molekulnya . Asam oleat merupakan salah satu asam lemak tak jenuh tunggal yang

berorientasi cis dan memiliki bentuk molekul yang bengkok8,12,13. Oleh karena itu, hubungan

antar molekul asam oleat lebih renggang sehingga cenderung berbentuk cair dan lebih mudah

untuk dipecah.

Proses absorpsi asam lemak jenuh di dalam usus, yang pada suhu kamar berbentuk padat

(ikatan vander waals antar molekulnya sangat kuat) kecuali bila diemulsikan13, akan lebih

sulit dari pada absorpsi asam lemak tak jenuh yang cenderung berbentuk cair14. Pada diet

tinggi asam lemak jenuh, absorpsinya lebih lama yang menyebabkan perpanjangan masa

peningkatan konsentrasi triasilgliserol pasca makan dalam plasma sehingga triasilgliserol

akan bertahan di dalam plasma lebih lama. Sedangkan diet tinggi asam lemak tak jenuh

3
tunggal akan menyebabkan triasilgliserolemia segera setelah makan karena proses

absorpsinya yang lebih mudah dan cepat. Namun, hal ini tidak berlangsung lama karena

konsentrasi triasilgliserol tersebut akan kembali dengan cepat ke kadar sebelum makan karena

clearance triasilgliserol lebih cepat pada diet tinggi asam lemak tak jenuh tunggal4,15.

Triasilgliserol itu sendiri berkorelasi positif dengan kadar kolesterol, sedangkan keduanya

merupakan bahan penyusun LDL16. Apabila kedua zat tersebut tidak meningkat, maka

kuantitas LDLpun juga tidak akan melebihi kadar normal.

Selain itu, cara lain yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol adalah

mengganti penggunaan asam lemak jenuh dengan asam lemak tak jenuh tunggal16,17, yang

bisa di dapatkan dari minyak zaitun kaya oleat. Hal ini diduga disebabkan oleh beberapa hal,

yaitu dengan mengstimulasi ekskresi kolesterol di dalam usus dan mempermudah oksidasi

kolesterol menjadi asam empedu. Selain itu, ditemukan pula bahwa konsumsi asam lemak tak

jenuh tunggal menyebabkan terjadinya pergeseran distribusi kolesterol dari plasma ke

jaringan akibat peningkatan laju katabolisme LDL. Hal tersebut disebabkan oleh penambahan

jumlah reseptor LDL karena semakin baiknya fungsi fosfolipid membran yang terbentuk dari

asam oleat16,18. Asam oleat juga cenderung untuk membentuk partikel LDL dengan ukuran

yang lebih besar sehingga kecepatan pemakaiannya meningkat4,16,19. Hal-hal tersebut dapat

menurunkan kadar kolesterol total sehingga dapat menurunkan kuantitas LDL plasma darah.

Diet tinggi asam lemak tak jenuh tunggal dan fenol dalam minyak zaitun juga menyebabkan

perubahan kualitas LDL. LDL yang teroksidasi merupakan bentuk yang siap untuk ditangkap

oleh makrofag turunan-monosit menggunakan scavenger receptor, suatu proses yang

memulai pembentukan sel busa dan merupakan tahap awal dari pembentukan plak

aterosklerosis20,21,22. LDL teroksidasi juga bersifat sitotoksik dan melepaskan molekul yang

4
bersifat kemotaktik sehingga menarik monosit dan limfosit T yang turut berperan dalam

proses selanjutnya21.

23
Proses oksidasi LDL oleh radikal bebas dapat dihambat oleh suatu antioksidan . LDL itu

sendiri mengandung antioksidan alami di dalamnya yaitu α-tokoferol (vitamin E) dan

fenol4,22,24. α-tokoferol merupakan antioksidan utama yang terdapat pada LDL. Hal tersebut
4,22
merupakan pelindung utama LDL terhadap serangan radikal bebas . α-tokoferol mampu

menghambat oksidasi LDL dengan cara menangkap radikal bebas sebelum radikal bebas

tersebut menyerang LDL. Selain itu, fenol hidrofilik sederhana juga mampu berikatan dengan

LDL24, dalam hal ini adalah tirosol4. Tirosol turut berperan bersama α-tokoferol dalam

menonaktifkan radikal bebas sehingga menurunkan kuantitas LDL yang mengalami oksidasi.

Minyak zaitun mengandung beberapa jenis fenol, antara lain α-tokoferol (12-400 mg/kg

minyak zaitun), tirosol, hidroksitirosol dan oleuropein4,5,9. Meskipun jumlahnya relatif sedikit,

α-tokoferol tetap mampu menjalankan tugasnya sebagai zat antioksidan. α-tokoferol akan

mendonorkan sebuah hidrogen pada radikal peroksil yang kemudian menghasilkan radikal

tokoferil. Radikal tokoferil dapat berinteraksi dengan sesamanya ataupun dengan senyawa

lain dan menghasilkan berbagai produk yang tipe dan jumlahnya bergantung pada tingkat

oksidasi, spesies radikal bebas, kadar lipid, dan konsentrasi tokoferol. Pada tingkat oksidasi

rendah, radikal tokoferol terutama akan diubah menjadi tokoferilquinon. Tokoferilquinon

terbentuk dari hasil reaksi dua buah radikal tokoferol yang kemudian membentuk

tokoferilquinon dan α-tokoferol. Tokoferilquinon akan dirubah kembali menjadi tokoferol

apabila terdapat agen pereduksi (contoh: asam askorbat) sedangkan α-tokoferol akan bekerja

kembali sebagai antioksidan 23,25.

Selain itu, fenol seperti hidroksitirosol, oleuropein, dan tirosol juga akan menonaktifkan

radikal bebas yang ada dalam plasma darah dengan mekanisme yang serupa sehingga mampu

5
mencegah radikal bebas menyerang LDL26,27 ataupun merusak endotel8. Hal ini penting

karena disfungsi endotel menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat sehingga

memudahkan LDL memasuki tunika intima28. Dengan masuknya LDL ke dalam tunika intima

akan semakin memperbesar kemungkinan terbentuknya plak aterosklerosis.

2.2 Peran Minyak Zaitun terhadap Proses Pembentukan Plak Aterosklerosis pada

Pembuluh Darah

Aterosklerosis merupakan suatu penyakit yang menyerang tunika intima pembuluh darah.

Penyakit tersebut disebabkan oleh penumpukan lemak di dalam tunika intima29,30.

Penumpukan lemak dipicu oleh beberapa hal seperti peningkatan kadar LDL plasma, oksidasi

LDL oleh radikal bebas dan disfungsi endotel akibat gangguan hemodinamik dan

hiperkolesterolemia29,31. Disfungsi endotel akan memudahkan LDL menyelip masuk ke tunika

intima sehingga semakin memperbesar resiko terbentuknya plak aterosklerosis28. Proses

pembentukan plak aterosklerosis diawali dengan terjadinya peristiwa oksidasi LDL oleh

radikal bebas. LDL teroksidasi yang dihasilkan, memiliki strukur berbeda dari LDL yang

belum teroksidasi. Apolipoprotein B pada LDL teroksidasi mengalami fragmentasi selama

peristiwa oksidasi tersebut sehingga tidak dikenali lagi oleh reseptor LDL pada jaringan21,22,31.

Namun, LDL teroksidasi dapat dikenali oleh scavenger reseptor pada makrofag sehingga

dapat berikatan dan kemudian difagositosis. Makrofag yang telah mengfagosit beberapa LDL

teroksidasi akan berubah menjadi sel busa yang kemudian menumpuk di tunika intima

membentuk suatu plak aterosklerosis21,22,30,32. Apabila proses ini terus berlanjut, maka

tumpukan tersebut akan membentuk tonjolan pada dinding pembuluh darah yang semakin

membesar hingga dapat menutup seluruh lumen pembuluh darah. Radikal bebas memiliki

peran penting dalam proses ini. Radikal bebas berperan mengoksidasi LDL 30,33 dan juga turut

6
berperan dalam menyebabkan disfungsi endotel yang memudahkan LDL masuk ke tunika

intima pembuluh darah8.

Komposisi diet untuk menurunkan resiko kasus aterosklerosis merupakan perpaduan yang

meliputi penggantian asam lemak jenuh dengan asam lemak tak jenuh tunggal dan juga

pembatasan terhadap asupan kolesterol eksogen. Diet tinggi asam lemak tak jenuh tunggal

sebagai bahan pengganti untuk asam lemak jenuh akan mempengaruhi profil lipid plasma

darah19, meliputi penurunan kuantitas LDL kolesterol dan kolesterol total17,34,36. Selain itu,

diet ini juga tidak meningkatkan kadar triasilgliserol ataupun menurunkan kadar HDL

kolesterol17,34.

Konsumsi minyak zaitun yang digunakan sebagai sumber utama asupan lemak memberikan

banyak sekali manfaat, diantaranya menurunkan kadar LDL plasma36,37, kadar trigliserida,

total kolesterol10,36,37,38, rasio LDL/HDL kolesterol36, LDL teroksidasi10,24, serta mencegah

kerusakan DNA dan endotel akibat proses oksidasi. Manfaat tersebut berkaitan dengan zat-

zat yang terkandung dalam minyak zaitun17,24,36.

Minyak zaitun mengandung beberapa jenis asam lemak tak jenuh tunggal, salah satunya asam

oleat2,36. Asam oleat, disebut juga ω9-octadecenoic acid, secara kimiawi adalah senyawa
12,36
asam karboksilat rantai sedang dengan sebuah ikatan rangkap pada atom C nomor 9 .

Berdasarkan beberapa penelitian ahli menunjukkan bahwa konsumsi minyak zaitun yang

mengandung asam oleat dapat menurunkan resiko aterosklerosis24. Hal ini disebabkan

konsumsi asam oleat secara berlanjut dapat menurunkan kadar total kolesterol dan LDL

dalam plasma36.

Salah satu pemicu perkembangan plak aterosklerosis adalah proses teroksidasinya LDL. Oleh

karena itu, LDL membutuhkan suatu zat antioksidan untuk melindunginya dari radikal bebas

7
yang akan mengoksidasinya. Salah satu jenis antioksidan yang terdapat di dalam partikel LDL

adalah fenol yang bersifat lipofilik dan mampu menonaktifkan radikal bebas. Sebagi zat

antioksidan, fenol mampu mencegah reaksi oksidasi yang akan terjadi dan juga mampu

menghentikan reaksi oksidasi yang sedang berlangsung karena fenol memenuhi kriteria

sebagai zat antioksidan sebagai berikut:

1. Memiliki proton berlebih sehingga mampu mendonorkannya pada radikal bebas,

2. Memiliki afinitas terhadap radikal bebas lebih tinggi dari pada senyawa lain,

3. Dibutuhkan dalam jumlah sedikit saja untuk memberikan efek yang maksimal.

Minyak zaitun mengandung beberapa jenis fenol, antara lain α-tokoferol, tirosol,

hidroksitirosol, dan oleuropein5,27,39. α-tokoferol secara kimiawi merupakan isomer fenol23

yang bersifat lipofilik39,40 sehingga bisa terdapat di dalam partikel LDL4. Sedangkan tirosol

merupakan suatu fenol sederhana yang bersifat hidrofilik. Meskipun demikian, tirosol mampu

berikatan dengan partikel LDL4. Kedua senyawa tersebut, α-tokoferol dan tirosol, merupakan

suatu antioksidan karena telah memenuhi kriteria diatas.

Oleh karena itu, baik α-tokoferol maupun tirosol dalam minyak zaitun akan menangkap

radikal bebas yang hendak menyerang LDL. Penggunaan α-tokoferol dan tirosol akan

menurunkan jumlah LDL teroksidasi sehingga dapat menghambat inisiasi awal pembentukan

plak aterosklerosis dan menghambat perkembangan lebih lanjut dari plak yang sudah

terbentuk.

Dengan demikian, penggunaan minyak zaitun yang mengandung asam oleat dan fenol (α-

tokoferol, tirosol, hidroksitirosol dan oleuropein) mampu menurunkan kuantitas LDL dan

meningkatkan kualitas LDL berupa peningkatan resistensi LDL terhadap reaksi oksidasi. Di

sisi lain peningkatan kadar LDL dan LDL teroksidasi dapat meningkatkan resiko

pembentukan dan perkembangan plak aterosklerosis. Berdasarkan komposisi dan efeknya

8
terhadap LDL, maka dapat disimpulkan bahwa minyak zaitun merupakan suatu agen

antiaterogenik.

3. Kesimpulan

1. Asam lemak tak jenuh tunggal dan fenol berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas

LDL plasma darah. Asam lemak tak jenuh tunggal dapat menurunkan kadar LDL,

sedangkan fenol dapat mmelindungi LDL terhadap oksidasi oleh radikal bebas.

2. Asam lemak tak jenuh tunggal dan fenol dalam minyak zaitun berpengaruh terhadap

proses pembentukan plak aterosklerosis. Asam lemak tak jenuh tunggal yang paling

banyak terdapat dalam minyak zaitun adalah asam oleat sedangkan fenol yang terdapat

dalam minyak zaitun, meliputi α-tokoferol, tirosol, hidroksitirosol dan oleuropein.

3. Asam oleat dapat menurunkan kadar LDL plasma darah sedangkan senyawa fenol

berperan sebagai zat antioksidan yang mencegah terjadinya oksidasi LDL dan

disfungsi endotel. Zat-zat tersebut kemudian akan saling bekerja sama dalam

mencegah proses pembentukan dan perkembangan plak aterosklerosis pada tunika

intima pembuluh darah.

4. Saran

1. Minyak zaitun yang mengandung asam oleat dalam jumlah besar dapat digunakan

sebagai alternatif sumber asupan lemak untuk mengurangi resiko penimbunan lemak

pada dinding pembuluh darah sesuai dengan hadis dan petunjuk Al Qur’an.

2. Perlu diteliti lebih lanjut kegunaan komposisi minyak zaitun bagi kesehatan sesuai

dengan posisi minyak zaitun sebagai produk dari pohon yang diberkahi dan

menghasilkan buah yang minyaknya membawa kebaikan yang bersifat umum bagi

kesehatan sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an.

Daftar Rujukan

9
1. Al-Quran – Departeman Agama RI. 2005. Al-Hikmah – Al-Quran dan
Terjemahannya. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.

2. Ramirez-Tortosa, M. Carmen., Granados, Sergio., dan Quiles, Jose L. 2006.


“Chemical Composition, Types and Characteristics of Olive Oil.” Disadur Quiles,
Tortosa dan Yaqoob. Olive Oil and Health. Trowbridge: Cornwell Press.

3. Qindil, Syekh Abdul Mun’im. 2001. Isyarat-Isyarat Kedokteran dalam Al-Qur’an dan
As-Sunnah. Jakarta : Akademika Pressindo.

4. Gimeno, E. 2002. Effect of Ingestion of Virgin Olive Oil on Human Low-Density


Lipoprotein Composition. European Journal of Clinical Nutrition (2002) 56, 114-120.
DOI: 10.1038/sj/ejcn/1601293.

5. Waterman, Emily dan Lockwood, Brian. 2007. Active Components and Clinical
Applications of Olive Oil. Altern Med Rev 2007; 12(4): 331-342.

6. Young, Zachary. 2009. Maditerranean Diet Offers Lifelong Health, Research


Reconfirms the many Health Benefits of Olives and the Traditional Mediterranean
Diet. [serial online] http://www.usana.com/media/File/dotCom/bin/olive.pdf [1
Agustus 2009].

7. Wu, Qiong. 2009. Unsaturated Fatty Acid: Metabolism, Synthesis and Gene
Regulation. Afr. J. Biotechnol. Vol. 8 (9), pp. 1782-1785, 4 May 2009.

8. Alonso, Ruiz-Gutierrez dan Martinez-Gonzales, Alvaro., Ruiz-Gutierrez, Valentina.,


dan Martinez-Gonzales, Miguel Angel. 2005. Monounsaturated Fatty Acids, Olive Oil
and Blood Pressure: Epidemiological, Clinical and Experimental Evidence. Public
Health Nutrition: 9(2), 251-257, DOI: 10.1079/PHN2005836.

9. Visioli, Francesco., Borsani, Luisa., dan Galli, Claudio. 2000. Diet and Prevention of
Coronary Heart Disease: The Potential Role of Phytochemicals. Cardiovascular
Research 47 (2000) 419-425. Elsevier.

10. Rawashdeh, Abdullah Y. A. 2002. Influences of Olive Oil and Ghe (Samaen Balady)
on Serum Cholesterol of Jordanians. Pakistan Journal of nutrition 1 (6): 270-275,
2002.

11. deMan, John M. 2007. “Chemical and Physical Properties of Fatty Acids.” Disadur
Chow, Ching Kuang. Fatty Acids in Foods and their Health Implication, Third
Edition. Boca Raton-USA: CRC Press.

12. Lobb, Kelly dan Chow, Ching Kuang. 2007. “Fatty Acid Classification and
Nomenclature.” Disadur Chow, Ching Kuang. Fatty Acids in Foods and their Health
Implication, Third Edition. Boca Raton-USA: CRC Press.

13. Solomons, T. W. Graham. 1994. Fundamentals of Organic Chemistry, 4th edition.


USA: John Wiley & Son.

10
14. Gurr, Michael I., Harwood, John L., dan Frayn, Keith N. 2002. Lipid Biochemistry,
5th Edition. Malden: Blackwell Science.

15. Thomsen, Claus. 1999. Differential Effects of Saturated and Monounsaturated Fatty
Acids on Postprandial Lipemia and Incretin Responses in Healthy Subjects. Am J Clin
Nutr 1999;69:1135–43.

16. Murray, Robert K., Granner, Daryl K., Mayes, Peter A., & Rodwell, Victor W. 2003.
Biokimia Harper. Jakarta: EGC.

17. Kris-Etherton, Penny M., dkk. 1999a. High-Monounsaturated Fatty Acid Diets Lower
Both Plasma Cjolesterol and triacylglycerol Concentration. Am. J. Clin. Nutr.
1999;70:1009-15.

18. Welch, Vernon A. and Borlak, Jürgen T. 2007.“Absorption and Transport of Dietary
Lipid.” Disadur Chow, Ching Kuang. Fatty Acids in Foods and their Health
Implication, Third Edition. Boca Raton-USA: CRC Press.

19. Pedersen, Anette. 2000. An Olive Oil-Rich Diet Results in Higher Concentrations of
LDL Cholesterol and a Higher 8umber of LDL Subfraction Particles than Rapeseed
Oil and Sunflower Oil Diets. J. Lipid Res. 2000. 41: 1901-1911.

20. de Lorgeril, M. dan Salen, P. 2005. Dietary Prevention of Coronary Heart Disease.
Curr. Med. Chem-Immun., Endoc. & Metab. Agents, 2005, 5, 3-12.

21. Kris-Etherton, Penny M. 1999b. Monounsaturated Fatty Acids and Risk of


Cardiovascular Disease. J. AHA Circulation, 1999;100: 1253-1258.

22. Mehrabi, Mohammad Reza, dkk. 2000. Accumulation of Oxidazed LDL in Human
Semilunar Valves Correlates with Coronary Atherosclerosis. Cardiovascula Research,
45 (2000) 874-882. Elsevier.

23. Decker, Eric A. 2002. “Antioxidant Mechanisms.” Disadur Akoh, Casimir C. dan
Min, David B. Foods Lipids. Chemistry, 8utrition, and Biotechnology, Second
Edition. New York: Marcel Dekker.

24. Fito, Montserrat. 2007. Bioavailability and Antioxidant Effects of Olive Oil Phenolic
Compounds in Human: a Review. Ann Ist Super Sanita 2007, Vol. 43 No. 4: 375-381.

25. Reische, David W., Lillard, Dorris A. dan Eitenmiller, Ronald R. 2002.
“Antioxidants.” Disadur Akoh, Casimir C. dan Min, David B. Foods Lipids.
Chemistry, 8utrition, and Biotechnology, Second Edition. New York: Marcel Dekker

26. D’Angelo, Stefania. 2001. Pharmacokinetics and Metabolism of Hydroxytyrosol, a


8atural Antioxidant from olive Oil. Drug Metabolism and Disposition DMD
29,11:1492-1498, 2001.

27. Vasilopoulou, E. 2005. The Antioxidant Properties of Greek Foods And the Flavonoid
Content of the Mediteranean Menu. Curr. Med. Chem. − Immun., Endoc. & Metab.
Agents, 2005, 5, 33-45.

11
28. Silbernagl, Stefan dan Lang, Florian. 2000. Color Atlas of Pathophysiology. New
York: Thieme.

29. Mesa, M. Dolores. 2006. “Effect of Olive Oil on Cardiovascular Risk Factor, LDL
Oxidation and Atherosclerosis Development.” Disadur Quiles, Tortosa dan Yaqoob.
Olive Oil and Health. Trowbridge: Cornwell Press.

30. Price, Sylvia A. dan Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-
proses Penyakit. Ed 6 Vol 1. Jakarta: EGC.

31. Grundy, Scott M. 1995. Role of Low-Density Lipoproteins in Atherogenesis and


Development of Coronary Heart Disease. Clin. Chem. 41/1, 139-146 (1995).

32. Parthasarathy, Sampath. 1990. Low Density Lipoprotein Rich in Oleic Acid is
Protected Against Oxidative Modification: Implication for Dietary Prevention of
Atherosclerosis. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 87 (1990), 3894-3898.

33. Porth, Carol M. dan Gaspard, Kathryn J. 2003. Essential of Pathophysiology.


Lippincott Williams dan Wilkins.

34. Feldman, Elaine B. 1999. Assorted Monounsaturated Fatty acids Promote Healthy
Hearts. Am J Clin Nutr 1999; 70: 953-4.

35. Vemuri, Madhuri dan Kelley, Darshan S. 2007. “The Effects of Dietary Fatty Acids
on Lipid Metabolism.” Disadur Chow, Ching Kuang. Fatty Acids in Foods and their
Health Implication, Third Edition. Boca Raton-USA: CRC Press.

36. Dorland, W.A. Neman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC.

37. Perona, Javier S. 2003. Plasma Lipid Modifications in Elderly People after
Administration of Two Virgin Olive Oils of the Same Variety (Olea Europaea var.
Hojiblanca) with Different Triacylglycerol Composition. British Journal of Nutrition
(2003), 89, 819-826.

38. Hargrove, Rebecca L. 2001. Low Fat and high Monounsaturated FatDiets Decrease
Human Low Density Lipoprotein Oxidative Susceptibility In Vitro. J.Nutr. 131: 1758-
1763, 2001.

39. Ramirez-Tortosa, M. Carmen. 1999. Extra-Virgin Olive Oil Increases the Resistence
of LDL to Oxidation More than Refined Olive Oil in Free-Living Men with Peripheral
Vascular Disease. J. Nutr. 129: 2177-2183, 1999.

40. Oliveras-Lopez, Maria-Jesus. 2008. An Extra Virgin Olive Oil Rich in Polyphenolic
Compounds Has Antioxidant Effects in Of1 Mice. J. Nutr. 138: 1074-1078, 2008

12

Anda mungkin juga menyukai