Anda di halaman 1dari 5

MATERI PENTINGNYA PERTAMBANGAN BAGI MANUSIA UNTUK WARGA DI

DESA NILULAT

Mengapa Tambang Sangat Berperan Penting dalam Kehidupan Manusia ?


Mengapa tambang sangat berperan penting dalam kehidupan manusia ? Sebelum menjawab
pertanyaan tersebut mari kita dalami dulu apa itu tambang? Jika kita menyebut kata tambang,
maka bisa terjadi yang ada dalam pikiran kita, tambang merupakan suatu kegiatan yang merusak
lingkungan. Menurut UU No 4 Tahun 2009, pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan
kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang
meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan
dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pesca tambang.

Pertambangan adalah :

1. Kegiatan, teknologi, dan bisnis yang berkaitan dengan industri pertambangan mulai dari
prospeksi, eksplorasi, evaluasi, penambangan, pengolahan, pemurnian, pengangkutan,
sampai pemasaran.
2. Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan
(penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara,
panas bumi, migas).

Pertambangan adalah salah satu jenis kegiatan yang melakukan ekstraksi mineral dan bahan
tambang lainnya dari dalam bumi. Penambangan adalah proses pengambilan material yang dapat
diekstraksi dari dalam bumi. Tambang adalah tempat terjadinya kegiatan penambangan.
Pertambangan adalah nama benda (dalam hal ini nama kegiatannya), tambang adalah nama
tempat, dan penambangan adalah prosesnya.

Pengertian Pertambangan Sesuai UU Minerba No.4 Tahun 2009

Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1. Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,


pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
2. Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan
kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan,
baik dalam bentuk lepas atau padu.
3. Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah dari
sisa tumbuh-tumbuhan.
4. Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau
batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta air tanah.
5. Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam
bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal.
6. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara
yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan,
konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta
pascatambang.
7. Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan.
8. IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan.
9. IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan IUP
Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi.
10. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas
wilayah dan investasi terbatas.
11. Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut dengan IUPK, adalah izin
untuk melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan khusus.
12. IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan di wilayah izin usaha pertambangan
khusus.
13. IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan
IUPK Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi di wilayah izin
usaha pertambangan khusus.
14. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi
geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi.
15. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi
secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumber
daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan
lingkungan hidup.
16. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh
informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan
ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak
lingkungan serta perencanaan pasca tambang.
17. Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi
konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan
penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi
kelayakan.
18. Konstruksi adalah kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan pembangunan seluruh
fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian dampak lingkungan.
19. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi mineral
dan/atau batubara dan mineral ikutannya.
20. Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk meningkatkan
mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral
ikutan.
21. Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan mineral
dan/atau batubara dari daerah tambang dan atau tempat pengolahan dan pemurnian
sampai tempat penyerahan.
22. Penjualan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil pertambangan
mineral atau batubara.
23. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang selanjutnya disebut amdal, adalah
kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 
24. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk
menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat
berfungsi kembali sesuai peruntukannya. 
25. Kegiatan pascatambang, yang selanjutnya disebut pascatambang, adalah kegiatan
terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha
pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut
kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan. 
26. Pemberdayaan Masyarakat adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan masyarakat,
baik secara individual maupun kolektif, agar menjadi lebih baik tingkat kehidupannya. 
27. Wilayah Pertambangan, yang selanjutnya disebut WP, adalah wilayah yang memiliki
potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi
pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional.

Peran penting tambang dalam kehidupan manusia Indonesia sudah lama terkenal sebagai
negara yang kaya raya akan bahan atau barang tambang. Bahan atau barang tambang di
Indonesia ditemukan di darat dan di laut. Untuk mendapatkan dan mengolah bahan tambang
tersebut diperlukan banyak sekali modal, tenaga ahli, dan teknologi tinggi. Pemerintah
menghimpun kesemuanya ini dari dalam maupun luar negeri. Barang tambang memiliki peranan
penting dalam kehidupan manusia dan pembangunan. Peranan barang tambang dan bahan galian
dalam pembangunan Indonesia sebagai berikut. Menambah pendapatan negara. Memperluas
lapangan kerja. Memajukan bidang transportasi dan komunikasi. Memajukan industri dalam
negeri. Sebagai pemasok kebutuhan barang tambang dan galian dalam negeri. Minyak bumi dan
gas alam sebagai bahan bakar atau sumber energi. Pasir atau batu sebagai bahan bangunan,
Emas, intan, dan perak, sebagai perhiasan. Bahan industri dalam negeri.

Reklamasi Lahan Tambang

Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan penambangan dapat menimbulkan kerusakan dan
pencemaran yang bersifat tidak dapat balik (irreversible damages), karena sekali suatu daerah
dibuka untuk operasi pertambangan, maka daerah tersebut akan berpotensi menjadi rusak
selamanya. Dalam rangka mengembalikan kondisi tanah sedemikian rupa sehingga dapat
berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya, maka terhadap lahan bekas pertambangan,
selain dilakukan penutupan tambang, juga harus dilakukan pemulihan kawasan bekas
pertambangan.
Reklamasi tambang pada dasarnya adalah usaha untuk memperbaiki kondisi lahan setelah
aktivitas penambangan selesai. Seperti yang sudah dimahfumi bahwa sifat dasar dari industri
tambang adalah destruktif karena aktivitasnya yang melakukan penggalian dan merubah bentang
lahan, perubahan iklim mikro hingga ke kondisi fisik lingkungan. Selain itu, industri
pertambangan juga menimbulkan dampak positif sebagai sumber devisa negara, pendapatan asli
daerah, penciptaan lahan kerja, perubahan ekonomi hingga bertindak sebagai development agen
bagi daerahnya.  Setelah aktivitas penambangan selesai, lahan harus segera direklamasi.
Tujuanya untuk menghindari kemungkinan timbulnya potensi kerusakan lain. Potensi tersebut
seperti timbulnya air asam tambang, penurunan daya dukung tanah bahkan terjadinya kerusakan
lahan lebih luas. Tujuan kegiatan reklamasi lahan tambang bertujuan untuk memperbaiki
ekosistem lahan eks tambang melalui perbaikan kesuburan tanah dan penanaman lahan di
permukaan. Tujuan lainya adalah agar mampu menjaga agar lahan tidak labil, lebih produktif
dan meningkatkan produktivitas lahan eks tambang tersebut. Akhirnya reklamasi dapat
menghasilkan nilai tambah bagi lingkungan dan menciptakan keadaan yang jauh lebih baik
dibandingkan dengan keadaan sebelumnya pertambangan, kerusakan lingkungan hidup, dan
sebagainya.
Untuk meningkatkan kemampuan daya dukung tanah atau lebih baik lagi jika mampu
menjadikan seperti kondisi awal, ada teknologi sederhana pemberian nutrisi tanah. Nutrisi in
berupa bahan organik, serasah, amelioran, penanaman tumbuhan keras seperti jengjeng, sengon,
rasamala dan lainya.
Kemudian untuk minimisasi dampak negatif dari aktivitas pertambangan, pada Undang-
Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan Pasal 30
dituliskan bahwa setiap pemegang kuasa pertambangan diwajibkan untuk mengembalikan tanah
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya penyakit atau bahaya lainnya, antara lain
melalui kegiatan ‘reklamasi’.

Perusahaan pertambangan wajib untuk melakukan pemulihan kawasan bekas pertambangan dan
telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, yaitu:
1.      Pasal 30 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan:
Apabila selesai melakukan penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan, pemegang
Kuasa Pertambangan diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan bahaya bagi masyarakat sekitarnya.
2.      Pasal 46 ayat (4) dan (5) Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 tentang Perubahan
Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969t:
Sebelum meninggalkan bekas wilayah Kuasa Pertambangannya, baik karena pembatalan
maupun karena hal yang lain, pemegang Kuasa Pertambangan harus terlebih dahulu melakukan
usaha-usaha pengamanan terhadap benda-benda maupun bangunan-bangunan dan keadaan
tanah di sekitarnya yang dapat membahayakan keamanan umum.

Regulasi diatas menjadi pijakan untuk melakukan perbaikan lingkungan pasca tambang
sehingga dampak kerusakan lingkungan bahkan sosial dapat diminimisasi. Prosedur teknis
reklamasi tambang hingga penutupan tambang juga telah disiapkan secara jernih oleh
pemerintah. Ketentuan reklamasi diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 18 Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang.
Hal-hal yang mesti diperhatikan selama pengerjaan reklamasi adalah sebagai berikut:
1. Reklamasi wajib dilakukan paling lambat 1 (satu) bulan setelah tidak ada kegiatan usaha
pertambangan pada lahan terganggu, yang meliputi:
a.     Lahan bekas tambang
b.     Lahan di luar bekas tambang. Lahan bekas tambang seperti timbunan tanah penutup
(overburden), timbunan bahan baku/produksi, jalur transportasi, pabrik/instalasi
pengolahan/pemurnian, kantor dan perumahan, pelabuhan/dermaga.
Reporting pelaksanaan reklamasi itu dilaporkan ada Menteri, Gubernur hingga Walikota atau
Bupati. Penilaian keberhasilan ditentukan oleh pemerintah. Apabila dari hasil penilaian
menunjukkan fakta terbalik maka pemerintah dapat menunjuk pihak ketigas untuk melaksanakan
reklamasi. Pelaksanaan reklamasi oleh pihak lain ini dilakukan dengan memanfaatkan Jaminan
Reklamasi.
2. Reklamasi dilakukan oleh perusahaan pertambangan sesuai dengan Rencana Reklamasi,
termasuk perubahan Rencana Reklamasi, yang telah disetujui oleh Menteri, Gubernur, atau
Bupati/Walikota, sesuai dengan kewenangannya. Reklamasi yang akan dilasanakan harus sudah
tersusun dari tahap awal hingga akhir. Untuk itu diperlukan Rencana Reklamasi yang dibuat
selama 5 (lima) tahunan. Dalam laporan rencana reklamasi ini akan tertulis tata guna lahan
sebelum dan sesudah ditambang, rencana pembukaan lahan, program reklamasi, dan rencana
biaya reklamasi. Apabila lifetime tambang ternyata kurang dari 5 (lima) tahun, maka Rencana
Reklamasi wajib disusun disesuaikan sesuai dengan umur tambang tersebut. Rencana reklamasi
ini harus sudah tersusun sebelum dilakukanya kegiatan produksi. Secara eksplisit, dapat
disimpulkan bahwa upaya reklamasi yang telah tersusun secara detail melalui Rencana
Reklamasi bahkan tertuang dalam Kajian AMDAL dan Studi Kelayakan adalah tanggung jawab
banyak pihak, bukan semata perusahaan tambang saja. Pemerintah sebagai regulator juga
berperan vital, begitupun Pemda melalui Pejabat Tingkat I dan II yang melakukan penilaian
rencana reklamasi tersebut termasuk juga monitoringnya.