Anda di halaman 1dari 4

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian


Kerja Praktek dilakukan pada daerah IUP PT. BunYan Hassanah, Desa
Oetalus, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi
Nusa Tenggara Timur dengan lama waktu 2 bulan terhitung sejak 16 Februari
2015 sampai dengan 16 April 2015

3.2 Sumber Data


a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari hasil pengamatan secara
langsung di lapangan.
b. Data Sekunder, berupa data-data geologi daerah pemboran eksplorasi.

3.3 Teknik Pengumpulan Data


a. Study Literatur
Dilakukan dengan mengumpulkan data, referensi dan informasi-informasi
lain yang  terkait dengan analisa core hasil pemboran eksplorasi.
b. Metode Observasi
Metode Observasi ini dilakukan secara langsung di lapangan untuk
mengambil data-data yang diperlukan. Langkah pertama, peneliti
melakukan pengukuran dan perhitungan core recovery. Untuk perhitungan
Core Recovery,menggunakan prinsip :
 = Total PanjangCore yang didapat x 100%
Dalam Lubang bor
Selanjutnya peneliti akan mengamati dan mendeskripsi core yang
diperoleh, baik itu mengenai mineralisasi, tekstur, lithologi dan ketebalan
lapisan.
1. Deskripsi Mineralisasi

19
20

Untuk mineralisasi/batuan, akan diamati dan diidentifikasi sifat-sifat


fisik mineral yang meliputi warna, kilap, perawakan, gores, daya tahan
(Tenacity), kekerasan (hardness), belahan dan pecahan mineral, derajat
ketransparanan, berat jenis, kemagnetan, dan sifat khas dari tiap
mineral.
Untuk warna, dapat dilihat secara langsung dengan mata. Sedangkan
untuk perawakan, diamati menggunakan loupe, apakah perawakan
mineral tersebut meniang/berserabut, berupa lembaran tipis atau
berbentuk butiran (membutir). Untuk mengidentifikasi daya tahan,
dapat menggunakan palu geologi. Untuk gores, mineral digores pada
keramik berwarna putih untuk mengetahui warna goresan mineral.
Warna goresan mineral dapat berbeda dari warna mineral.
Untuk mengetahui kekerasan dari suatu mineral, digunakan scratcher
dengan cara menggores scratcher pada mineral. Scratcher yang
digunakan memiliki terbuat dari besi tungsten yang memiliki
kekerasan ± 6 Skala Mohs, sehingga jika ada mineral yang tergores
oleh scratcher, maka kekerasannya di bawah 6. Namun jika tidak
tergores, maka mineral tersebut memiliki kekekrasan di atas 6. Derajat
ketransparanan diidentifikasi dengan melihatnya secara langsung.
Untuk kemagnetan, menggunaan magneticpen. Magnetic pentersebut
didekatkan pada mineral. Jika terasa ada gaya tarik, maka mineral
tersebut memiliki sifat kemagnetan. Sifat khas tiap mineral dapat
diamati secara langsung. Tiap mineral memiliki sifat khas yang
membedakan mineral tersebut dengan mineral lainnya walaupun ada
sifat fisik lainnya yang sama. Berat jenis tiap mineral pun berbeda.
Dengan mengidentifikasi sifat-sifat mineral tersebut, akan diketahui
mineral-mineral apa saja yang terkandung dalam core.

2. Deskripsi Tekstur
Untuk tekstur, karena di daerah lokasi pemboran didominasi oleh
batuan sedimen, maka perlu pengetahuan yang banyak mengenai
21

tekstur batuan sedimen. Batuan sedimen klastik, diidentifikasi matriks,


fragmen dan semen. Identifikasi ini dapat diamati secara langsung
tanpa alat bantu. Untuk batuan sedimen non klastik, perlu bantuan
loupe karena butirannya relatif kecil dan tidak dapat diamati dengan
mata telanjang. Untuk semen,baik itu sedimen klastik maupun non
klastik, perlu ditetesi HCl untuk mengetahui apakah semen batuan
tersebut termasuk karbonat atau silika. Untuk mengidentifikasi tekstur
batuan karbonat, dilihat dari ukuran butir batuan tersebut yang diamati
menggunakan loupe.
3. Deskripsi Lithologi
Untuk lithologi, dapat identifikasi setelah mengetahui batuan-batuan
yang ada pada core. Lithologi pun dapat diidentifikasi secara langsung.
4. Ketebalan Lapisan
Ketebalan lapisan tiap mineral/batuan diukur menggunakan alat
pengukur, misalnya rollmeter, penggaris atau alat ukur lainnya.

3.4 Analisis Data


Adapun untuk analisa data, dilakukan dengan mendeskripsi core hasil
pemboran, meliputi deskripsi mineralisasi, lithologi, tekstur batuan dan ketebalan
tiap lapisan pada core.

3.5 Alat dan Fasilitas Pendukung Kerja


Untuk mendukung kegiatan penelitian maka dibutuhkan beberapa alat dan
bahan pendukung, meliputi :

1. Peta titik pemboran


2. Data-data perusahaan yang diperlukan
3. Fasilitas di lapangan, seperti kamera digital, Palu Geologi, Kompas
Geologi, Scratcher, Magnetik Pen dan Loupe 60x zoom, rollmeter, larutan
HCl 0,1 M.

Fasilitas:
22

1. Akses printing
2. Akses untuk penggandaan data
3. Akomodasi, transportasi dan konsumsi

3.6 Diagram Alir Penelitian