Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS


(PPOK)

NI KADEK DIAH MAHAYANI


NIM. 2014901140

FAKULTAS KESEHATAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
DENPASAR
2021
A. TINJAUAN KASUS
1. Pengertian Penyakit Paru Obstruktif Kronis
Penyakit paru-paru obstruksi kronis (PPOK) merupakan suatu istilah
yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru paru yang
berlangsung lama (Grace& Borlay, 2011) yang ditandai oleh adanya
respons inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang berbahaya (Padila,
2012).
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah klasifikasi luas dari
gangguan yang mencakup bronkitis kronik, bronkiektasis, emfisema dan
asma yang merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea
saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru.
Penyakit Paru Obstruktif Kronik adalah Asuatu penyakit yang
menimbulkan obstruksi saluran termasuk di dalamnya adalah asma,
bronkitis kronis dan emfisema pulmonum (Halim, 2013).

2. Etiologi
Menurut Ikawati (2016), etiologi penyakit paru obstruktif kronis
terdapat faktor paparan lingkungan. Beberapa faktor paparan lingkungan
yaitu:
a. Merokok
Merokok yang merupakan penyebab utama dari PPOK, dengan risiko
30 kali lebih besar pada perokok dibandingkan dengan bukan merokok
dan merupakan penyebab dari 85-95% kasus PPOK. Kurang lebih 15-
20% akan mengalami PPOK. Namun demikian, tidak semua penderita
PPOK adalah perokok.Sekitar 10% orang yang tidak merokok
mungkin menderita PPOK.
b. Pekerjaan
Para pekerja tambang emas atau batu bara dan pekerja yang terpapar
debu katun dan debu gandum mempunyai risiko yang lebih besar
daripada yang bekerja ditempat selain yang sudah disebutkan diatas.
c. Polusi Udara
Pasien PPOK yang mempunyai disfungsi paru akan semakin
memburuk gejalanya dengan adanya polusi udara. Polusi ini bisa
berasal dari luar rumah seperti asap pabrik, asap kendaraan bermotor
maupun polusi yang berasal dari dalam rumah misalkan asap dapur.
d. Infeksi
Kolonisasi pada saluran pernapasan secara kronis merupakan suatu
pemicu imflamasi atau peradangan neutrofilik pada saluran nafas,
terlepas dari paparan rokok. Adanya kolonisasi bakteri menyebabkan
peningkatan kejadian inflamasi yang dapat diukur dari peningkatan
jumlah sputum, peningkatan frekuensi eksaserbasi, dan percepatan
penurunan fungsi paru, yang semua ini meningkatkan risiko kejadian
PPOK
Selain faktor lingkungan, menurut Gold (2014) PPOK dapat
disebabkan oleh faktor genetik. Genetik sebagai faktor risiko yang pernah
di ditemukan adalah defisiensi berat antitripsin alfa-1 yang merupakan
inhibitor dari sirkulasi serin protease, walaupun defisiensi antitripsin alfa-1
relevan hanya pada sedikit populasi di dunia, itu cukup menggambarkan
interaksi antara genetik dan paparan lingkungan dapat menyebabkan
PPOK. Risiko genetik terhadap keterbatasan bernafas telah di observasi
pada saudara atau orang terdekat penderita PPOK berat yang juga
merokok, dengan sugesti dimana genetik dan faktor lingkungan secara
bersamaan dapat mempengaruhi terjadinya PPOK gen tunggal seperti gen
yang memberi kode matriks metalloproteinase 12 (MMP12) berhubungan
dengan menurunnya fungsi paru.

3. Patofisiologi
Saluran napas dan paru berfungsi untuk proses respirasi yaitu
pengambilan oksigen untuk keperluan metabolisme dan pengeluaran
karbondioksida dan air sebagai hasil metabolisme. Proses ini terdiri dari
tiga tahap, yaitu ventilasi, difusi dan perfusi. Ventilasi adalah proses
masuk dan keluarnya udara dari dalam paru. Difusi adalah peristiwa
pertukaran gas antara alveolus dan pembuluh darah, sedangkan perfusi
adalah distribusi darah yang sudah teroksigenasi. Gangguan ventilasi
terdiri dari gangguan restriksi yaitu gangguan pengembangan paru serta
gangguan obstruksi berupa perlambatan aliran udara di saluran napas.
Parameter yang sering dipakai untuk melihat gangguan restriksi adalah
kapasitas vital (KV), sedangkan untuk gangguan obstruksi digunakan
parameter volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1), dan rasio volume
ekspirasi paksa detik pertama terhadap kapasitas vital paksa (VEP1/KVP).
Asap rokok, polusi udara dan terpapar alergen masuk ke jalan nafas
dan mengiritasi saluran nafas. Karena iritasi yang konstan ini kelenjar-
kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel goblet meningkat jumlahnya,
fungsi silia menurun, dan lebih banyak lendir yang dihasilkan serta terjadi
batuk, batuk dapat menetap selama kurang lebih 3 bulan berturut-turut.
Sebagai akibatnya bronkhiolus menjadi menyempit, berkelok-kelok dan
berobliterasi serta tersumbat karena metaplasia sel goblet dan
berkurangnya elastisitas paru.
Alveoli yang berdekatan dengan bronkhiolus dapat menjadi rusak dan
membentuk fibrosis mengakibatkan fungsi makrofag alveolar yang
berperan penting dalam menghancurkan partikel asing termasuk bakteri,
pasien kemudian menjadi rentan terkena infeksi, Infeksi merusak dinding
bronchial menyebabkan kehilangan struktur pendukungnya dan
menghasilkan sputum kental yang akhirnya dapat menyumbat bronki.
Dinding bronkhial menjadi teregang secara permanen akibat batuk hebat.
Sumbatan pada bronkhi atau obstruksi tersebut menyebabkan alveoli yang
ada di sebelah distal menjadi kolaps.
Pada waktunya pasien mengalami insufisiensi pernafasan dengan
penurunan kapasitas vital, penurunan ventilasi, dan peningkatan rasio
volume residual terhadap kapasitas total paru sehingga terjadi kerusakan
campuran gas yang diinspirasi atau ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
Pertukaran gas yang terhalang biasanya terjadi sebagai akibat dari
berkurangnya permukaan alveoli bagi pertukaran udara.
Ketidakseimbangan ventilasi–perfusi ini menyebabkan hipoksemia atau
menurunnya oksigenasi dalam darah. Keseimbangan normal antara
ventilasi alveolar dan perfusi aliran darah kapiler pulmo menjadi
terganggu.
Dalam kondisi seperti ini, perfusi menurun dan ventilasi tetap sama.
Saluran pernafasan yang terhalang mukus kental atau bronkospasma
menyebabkan penurunan ventilasi, akan tetapi perfusi akan tetap sama
atau berkurang sedikit. Berkurangnya permukaan alveoli bagi pertukaran
udara menyebabkan perubahan pada pertukaran oksigen dan
karbondioksida. Obstruksi jalan nafas yang diakibatkan oleh semua
perubahan patologis yang meningkatkan resisten jalan nafas dapat
merusak kemampuan paru-paru untuk melakukan pertukaran oksigen atau
karbondioksida. Akibatnya kadar oksigen menurun dan kadar
karbondioksida meningkat. Metabolisme menjadi terhambat karena
kurangnya pasokan oksigen ke jaringan tubuh, tubuh melakukan
metabolisme anaerob yang mengakibatkan produksi ATP menurun dan
menyebabkan defisit energi. Akibatnya pasien lemah dan energi yang
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi juga menjadi berkurang
yang dapat menyebabkan anoreksia.
Selain itu, jalan nafas yang terhambat dapat mengurangi daerah
permukaan yang tersedia untuk pernafasan, akibat dari perubahan
patologis ini adalah hiperkapnia, hipoksemia dan asidosis respiratori.
Hiperkapnia dan hipoksemia menyebabkan vasokontriksi vaskular
pulmonari, peningkatan resistensi vaskular pulmonary mengakibatkan
hipertensi pembuluh pulmonary yang meningkatkan tekanan vascular
ventrikel kanan atau dekompensasi ventrikel kanan. Faktor–faktor resiko
di atas mendatangkan proses inflamasi bronkus dan juga menimbulkan
kerusakan pada dinding bronkiolus terminalis. Akibat dari kerusakan akan
terjadi obstruksi bronkus kecil (bronkiolus terminalis), yang mengalami
penutupan atau obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang mudah masuk ke
alveoli pada saat inspirasi, pada saat ekspirasi banyak terjebak dalam
alveolus dan terjadilah penumpukan udara (air trapping). Hal ini lah yang
menyebabkan adanya keluhan sesak nafas dengan segala akibatnya.
Adanya obstruksi pada awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan
ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi. Fungsi–fungsi
paru: ventilasi, distribusi gas, difusi gas, maupun perfusi darah akan
mengalami gangguan. Obstruksi jalan nafas menyebabkan reduksi aliran
udara yang beragam bergantung pada penyakit. Pada bronkhitis kronis dan
bronkhialitis, terjadi penumpukan lendir dan sekresi yang sangat banyak
sehingga meyumbat jalan nafas. Pada emfisiema, obtruksi pada pertukaran
oksigen dan karbondioksida terjadi akibat kerusakan dinding alveoli yang
disebabkan oleh overekstensi ruang udara dalam paru. Protokol
pengobatan tertentu di gunakan dalam semua kelainan ini, meski
patofisiologi dari masing-masing kelainan ini membutuhkan pendekatan
spesifik. Penyakit paru obtruktif kronik di anggap sebagai penyakit yang
berhubungan dengan interaksi genetik dengan lingkungan, merokok,
polusi udara, dan paparan di tempat kerja (terhadap batu bara, kapas, dan
padi) merupakan faktor resiko penting yang menunjang terjadi penyakit
ini. Prosesnya dapat terjadi dalam rentang lebih dari 20-30 tahun.
PPOK juga ditemukan terjadi pada individu yang tidak mempunyai
enzim yang normal untuk mencegah penghancuran jaringan paru oleh
enzim tertentu. PPOK merupakan kelainan dengan kemajuan lambat yang
membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk awitan (onset) gejala klinisnya
seperti kerusakan fungsi paru. PPOK sering menjadi simptomatik selama
tahun-tahun usia baya, tetapi insidennya meningkat sejalan dengan
peningkatan usia.
Meskipun aspek-aspek fungsi paru tertentu seperti kapasitas vital
(VC) dan volume eksparasi paksa (FEV) menurun sejalan dengan
peningkatan usia, PPOK dapat memburuk perubahan fisiologi ang
berkaitan dengan penuaan dan mengakibatkan obtruksi jalan nafas
misalnya pada bronkhitis serta kehilangan daya pengembangan (elastisitas)
paru misalnya pada emfisiema. Oleh karena itu, terdapat perubahan
tambahan dalam rasio ventilasi-perfusi pada klien lansia dengan PPOK.

4. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronis
adalah perkembangan gejala-gejala yang merupakan ciri dari PPOK adalah
malfungsi kronis pada sistem pernafasan yang manifestasi awalnya
ditandai dengan batuk-batuk dan produksi dahak khususnya yang makin
menjadi di saat pagi hari. Nafas pendek sedang yang berkembang menjadi
nafas pendek akut. Batuk dan produksi dahak (pada batuk yang dialami
perokok) memburuk menjadi batuk persisten yang disertai dengan
produksi dahak yang semakin banyak.
Biasanya pasien akan sering mengalami infeksi pernafasan dan
kehilangan berat badan yang cukup drastis, sehingga pada akhirnya pasien
tersebut tidak akan mampu secara maksimal melaksanakan tugas-tugas
rumah tangga atau yang menyangkut tanggung jawab pekerjaannya.
Pasien mudah sekali merasa lelah dan secara fisik banyak yang tidak
mampu melakukan kegiatan sehari-hari.
Selain itu pada pasien PPOK banyak yang mengalami penurunan
berat badan yang cukup drastis, sebagai akibat dari hilangnya nafsu makan
karena produksi dahak yang makin melimpah, penurunan daya kekuatan
tubuh, kehilangan selera makan, penurunan kemampuan pencernaan
sekunder karena tidak cukupnya oksigenasi sel dalam sistem (GI)
gastrointestinal. Pasien dengan PPOK lebih membutuhkan banyak kalori
karena lebih banyak mengeluarkan tenaga dalam melakukan pernafasan.

5. Derajat PPOK
Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease
(GOLD) tahun 2017, PPOK diklasifikasikan berdasarkan derajat, yaitu:
a. Derajat 0 (berisiko)
Gejala klinis: memiliki satu atau lebih gejala batuk kronis, produksi
sputum, dan dispnea, terdapat paparan terhadap faktor resiko.
Spirometri:normal.
b. Derajat I (PPOK ringan)
Gejala klinis: dengan atau tanpa batuk, dengan atau tanpa produksi
sputum, sesak napas derajat sesak 0 sampai derajat sesak 1.
Spirometri: FEV1/FVC < 70%, FEV1 ≥ 80%. Spirometri merupakan
tes fungsi paru yang mengukur persentase dan derajat beratmya
obstruksi aliran udara. Spirometri mengukur volume udara ketika
ekspirasi dari inspirasi maksimal (force vital capacity, FVC) dan
volume udara ketika ekspirasi selama satu detik pertama (forced
expiratory volume in onesecond, FEV1) (A.Wisman et al., 2015).
c. Derajat II (PPOK sedang)
Gejala klinis: dengan atau tanpa batuk, dengan atau tanpa produksi
sputum, sesak napas derajat sesak 2 (sesak timbul pada saat aktivitas).
Spirometri: FEV1 < 70%; 50%<FEV1<80%
d. Derajat III (PPOK berat) Gejala klinis: sesak napas derajat sesak 3 dan
4, eksaserbasi lebih sering terjadi, spirometri : FEV1<70%: 30%
<FEV1 <50%
e. DerajatIV (PPOK sangat berat)
Gejala klinis: pasien derajat III dengan gagal napas kronik, disertai
komplikasi kor pulmonale atau gagal jantung kanan.
Spirometri: FEV1/FVC <30%.
Skala sesak berdasarkan GOLD tahun 2017:
a. 0=Tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat.
b. 1 = Sesak mulai timbul bila berjalan cepat atau naik tangga 1 tingkat.
c. 2 = Berjalan lebih lambat karena merasa sesak.
d. 3 = Sesak timbul bila berjalan 100 m atau setelah beberapa menit.
e. 4 = Sesak bila mandi atau berpakaian (Saftarina et al., 2017).
6. Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik
a. Pengukuran Fungsi Paru
1) Kapasitas inspirasi menurun.
2) Volume residu: meningkat pada emfisema, bronkhitis, dan asma.
3) FEV1 selalu menurun = derajat obstruksi progresif penyakit paru
obstruktif kronik.
4) FVC awal normal: menurun pada bronkhitis dan asma.
5) TLC normal sampai meningkat sedang (predominan pada
emfisema).
b. Analisa Gas Darah
PaO2 menurun, PCO2 meningkat, sering menurun pada asma. Nilai
pH normal, asidosis, alkalosis respiratorik ringan sekunder.
c. Pemeriksaan Laboratorium
1) Hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) meningkat pada polisetimia
sekunder.
2) Jumlah darah merah meningkat.
3) Eosinofil dan total IgE serum meningkat.
4) Pulse oksimetri: SaO2 oksigenasi menurun.
5) Elektrolit menurun karena pemakaian obat diuretik.
d. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan gram kuman/kuktur adanya infeksi campuran. Kuman
pathogen yang bias ditemukan adalah Strepcoccus pneumonia,
Hemaphylus influenza, dan Moraxella catarrhalis.
e. Pemeriksaan Radiologi Thoraks foto (AP dan Lateral)
Menunjukkan adanya hiperinflasi paru, pembesaran jantung, dan
bendungan area paru. Pada emfisema paru didapatkan diafragma
dengan letak yang rendah dan mendatar ruang udara retrosternal >
(foto lateral), jantung tampak bergantung memanjang dan menyempit.
f. Pemeriksaan Bronkhogram
Menunjukkan dilatasi bronkhus kolap bronkhiale pada ekspirasi kuat.
g. EKG
Menurut Wahid & Suprapto (2013), Tekanan darah biasanya normal.
Batas jantung tidak mengalami pergeseran. Vena jugularis mungkin
mengalami distensi selama ekspirasi. Kelainan EKG yang paling awal
terjadi adalah rotasi clock wise jantung. Bila sudah terdapat kor
pulmonal, terdapat deviasi aksis ke kanan dan pulmonal pada hantaran
II,III, dan aVF. Voltase QRS rendah. Di VI rasio R/S lebih dari 1 dan
di V6 V1 rasio R/S kurang dari 1. Sering terdapat RBBB inkomplet.

7. Penatalaksanaan
a. Non Farmakologi
1) Berhenti Merokok
Menurut PDPI (2011) Strategi untuk membantu pasien berhenti
merokok adalah 5A:
a) Ask (Tanyakan)
Mengidentifikasi semua perokok pada setiap kunjungan.
b) Advise (Nasihati)
Dorongan kuat pada semua perokok untuk berhenti merokok.
c) Assess (Nilai)
Keinginan untuk usaha berhenti merokok (misal: dalam 30 hari
ke depan).
d) Assist (Bimbing)
Bantu pasien dengan rencana berhenti merokok, menyediakan
konseling praktis, merekomendasikan penggunaan
farmakoterapi.
e) Arrange (Atur)
Buat jadwal kontak lebih lanjut.
2) Rehabilitasi PPOK
Tujuan program rehabilitasi untuk meningkatkan toleransi
keletihan dan memperbaiki kualitas hidup penderita PPOK.
Penderita yang dimasukkan ke dalam program rehabilitasi adalah
mereka yang telah mendapatkan pengobatan optimal yang disertai:
simptom pernapasan berat, beberapa kali masuk ruang gawat
darurat, kualitas hidup yang menurun. Program rehabilitasi terdiri
dari 3 komponen yaitu: latihan fisik, psikososial dan latihan
pernapasan (PDPI, 2011).
3) Terapi Oksigen
Pemberian terapi oksigen merupakan hal yang sangat penting
untuk mempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah
kerusakan sel baik di otot maupun organ-organ lainnya (PDPI,
2011).
4) Nutrisi
Malnutrisi sering terjadi pada PPOK, kemungkinan karena
bertambahnya kebutuhan energi akibat kerja muskulus respirasi
yang meningkat karena hipoksemia kronik dan hiperkapni
menyebabkan terjadi hipermetabolisme. Kondisi malnutrisi akan
menambah mortaliti PPOK karena berkorelasi dengan derajat
penurunan fungsi paru dan perubahan analisis gas darah (PDPI,
2011).
b. Farmakologis
1) Bronkodilator
Bronkodilator adalah pengobatan yang berguna untuk
meningkatkan FEV1 atau mengubah variabel spirometri dengan
cara mempengaruhi tonus otot polos pada jalan napas.
Bronkodilator dapat diberikan dengan metered-dose inhaler
(MDI), dry powder inhaler (DPI), dengan nebulizer, atau secara
oral (LeMone et al., 2016). Macam-macam bronkodilator:
a) β2 Agonist (short-acting dan long-acting)
Prinsip kerja dari β2 agonis adalah relaksasi otot polos jalan
napas dengan menstimulasi reseptor β2 dengan meningkatkan
C-AMP dan menghasilkan antagonisme fungsional terhadap
bronkokontriksi. Angios β2 adalah obat simtimimetik yang
bekerja pada adrenoreseptor β2 pada otot polos saluran napas
dan menyebabkan bronkodilasi. Obat ini juga membantu
pembersihan mukus dan memperbaiki kekuatan (endurance)
otot pernapasan (Black & Hawks, 2014).
b) Antikolinergik
Obat yang termasuk pada golongan ini adalah ipratropium,
oxitroprium dan tiopropium bromide. Efek utamanya adalah
memblokade efek asetilkolin pada reseptor muskarinik.
2) Methylxanthine
Contoh obat yang tergolong methylxanthine adalah teofilin. Obat
ini dilaporkan berperan dalam perubahan otot-otot inspirasi.
Namun obat ini tidak direkomendasikan jika obat lain tersedia.
3) Kortikosteroid
Inhalasi yang diberikan secara regular dapat memperbaiki gejala,
fungsi paru, kualitas hidup serta mengurangi frekuensi eksaserbasi
pada pasien dengan FEV1 memiliki efek samping seperti mual,
menurunnya nafsu makan, sakit perut, diare, gangguan tidur dan
sakit kepala (Soeroto & Suryadinata, 2014).
c. Terapi farmakologis lain
1) Vaksin:vaksin pneumococcus direkomendasikan untuk pada pasien
PPOK usia > 65 tahun
2) Alpha-1 Augmentation therapy
Terapi ini ditujukan bagi pasien usia muda dengan defisiensi alpha-
1 antitripsin herediter berat. Terapi ini sangat mahal, dan tidak
tersedia di hampir semua negara dan tidak direkomendasikan untuk
pasien PPOK yang tidak ada hubungannya dengan defisiensi alpha-
1 antitripsin.
3) Antibiotik
Penggunaannya untuk mengobati infeksi bakterial yang
mencetuskan eksaserbasi.
4) Mukolitik (mukokinetik, mukoregulator) dan antioksidan:
Ambroksol, erdostein, carbocysteine, ionated glycerol dan N-
acetylcystein dapat mengurangi gejala eksaserbasi.
5) Immunoregulators (immunostimulators, immunomodulator)
6) Antitusif: Golongan obat ini tidak direkomendasikan.
7) Vasodilator
8) Narkotik (morfin) (Soeroto & Suryadinata, 2014)

8. Komplikasi
a. Hipoksemia
Hipoksemia adalah kondisi turunya konsentrasi oksigen dalam darah
arteri. Hipoksemia didefinisikan sebagai penurunan nilai PO2<55
mmHg dengan nilai saturasi O2< 85%. Pada awalnya pasien akan
mengalami perubahan mood, penurunan konsentrasi, dan menjadi
pelupa. Pada tahap lanjut timbul sianosis.
b. Asidosis Respiratori
Timbul Akibat dari peningkatan PaCO2 (hiperkapnea). Tanda yang
muncul antara lain nyeri kepala, fatigue, latergi, dizziness, dan
takipnea (Somantri, 2012). Asidosis respiratorik dapat terjadi akibat
depresi pusat pernapasan misalnya (akibat obat, anestesi, penyakit
neurologi) kelainan atau penyakit yang mempengaruhi otot atau
dinding dada, penurunan area pertukaran gas, atau ketidakseimbangan
ventilasi perfusi, dan obstruksi jalan napas (Warsi et al., 2013).
c. Infeksi Respiratori
Infeksi Pernapasan akut disebabkan karena peningkatan produksi
mucus dan rangsangan otot polos bronkial serta edema mukosa.
Terbatasnya aliran udara akan menyebabkan peningkatan kerja napas
dan timbulnya dyspnea.
d. Gagal Jantung
Terutama kor pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru,
harus diobservasi terutama pada klien dengan dyspnea berat).
Komplikasi ini sering kali berhubungan dengan bronchitis kronis,
tetapi dengan emfisema berat juga dapat mengalami masalah ini.
e. Kardiak disritmia
Timbul karena hipoksemia, penyakit jantung lain, efek obat atau
asidosis respiratori.
f. Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asma
bronkial. Penyakit ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan,
dan sering kali tidak berespons terhadap terapi yang biasa diberikan.
Penggunaan otot bantu pernapasan dan disertai vena leher sering kali
terlihat pada klien dengan asma (Somantri, 2012).

B. TINJAUAN ASKEP
1. Pengkajian
a. Indentitas
Sebelumnya jenis kelamin PPOK lebih sering terjadi pada laki-
laki, tetapi karena peningkatan penggunaan tembakau di kalangan
perempuan di negara maju dan risiko yang lebih tinggi dari paparan
polusi udara di dalam ruangan (misalnya bahan bakar yang digunakan
untuk memasak dan pemanas) pada negara-negara miskin, penyakit ini
sekarang mempengaruhi laki-laki dan perempuan hampir sama (Ismail
et al., 2017). Kebanyakan penderita PPOK terjadi pada individu di atas
usia 40 tahun (PDPI, 2011). Hal ini bisa dihubungkan bahwa
penurunan fungsi respirasi pada umur 30-40 tahun (Oemiati, 2013).
b. Keluhan Utama
Keluhan yang sering dikeluhkan oleh orang dengan penyakit paru
obstruktif kronik (PPOK) adalah sesak napas yang bertambah berat
bila aktivitas, kadangkadang disertai mengi, batuk kering atau dengan
dahak yang produktif, rasa berat di dada (PDPI, 2011).
c. Riwayat penyakit sekarang
Terdapat data yang menyertakan adanya faktor predisposisi penyakit
ini, diantaranya yaitu riwayat alergi dan penyakit saluran napas bawah.
Perawat dapat juga menanyakan tentang riwayat penyakit pernafasan
pasien. Riwayat penyakit sekarang yang biasa timbul pada pasien yaitu
pasien mengalami sesak nafas, batuk berdahak, biasanya pasien sudah
menderita penyakit asma.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Terdapat data yang menyertakan adanya faktor predisposisi penyakit
ini, diantaranya yaitu riwayat alergi dan penyakit saluran napas bawah.
Perawat dapat juga menanyakan tentang riwayat penyakit pernafasan
pasien
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien dengan PPOK sering kali ditemukan didapatkan adanya riwayat
penyakit genetik atau keturunan, tetapi pada beberapa klien lainya
tidak ditemukan adanya penyakit yang sama dengan anggota
keluarganya.

f. Pola Kesehatan Sehari-Hari


1) Pola metabolik nutrisi
a) A (Antropometri)
Penurunan berat badan secara bermakna (Somantri, 2012).

b) B (Biochemical)
Jumlah sel leukosit lebih dari 15.000/mm3 terjadi karena
adanya infeksi. SGOT dan SGPT meningkat (Muttaqin, 2012).
Pemeriksaan Arteri Blood Gas PaO2, hipoksia, paCO2, elevasi,
pH alkalosis (Somantri, 2012).
c) C (Clinical)
Pengkajian tentang status nutrisi klien meliputi jumlah,
frekwensi, dan kesulitan-kesulitan dalam memenuhi
kebutuhannya, pada klien sesak nafas, sangat potensial terjadi
kekurangan pemenuhan nutrisi, hal ini karena dipnea saat
makan, laju metabolisme, serta kecemasan yang dialami oleh
klien (Muttaqin, 2012).
d) D (Diet)
Makanan (bahan penyedap, pengawet, pewarna makanan,
kacang, makanan laut, susu sapi, telur.
2) Pola eliminasi
Penderita asma dilarang menahan buang air besar dan buang air
kecil. Kebiasan ini akan menyebabkan feses menghasilkan radikal
bebas yang bersifat meracuni tubuh, menyebabkan sembelit, dan
semakin mempersulit pernafasan (Mumpuni & Wulandari, 2013).
3) Pola istirahat tidur
Perlu dikaji pula tentang bagaimana tidur dan istirahat klien yang
meliputi berapa lama klien tidur dan istirahat, serta berapa besar
akibat kelelahan yang dialami oleh klien. Adanya wheezing, sesak,
dan ortopnea dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat klien
(Muttaqin, 2012). Biasanya pasien asma susah tidur karena sering
batuk atau terbangun akibat sesak nafas (Mumpuni & Wulandari,
2013).
4) Pola aktivitas
a) ADL
Perlu dikaji juga tentang aktifitas keseharian klien seperti
olahraga, bekerja, dan aktifitas lainya. Aktifitas fisik juga dapat
menjadi faktor pencetus asma yang disebut exercise indiced
asma.
b) Pemeriksaan ekstremitas (atas dan bawah)
Dikaji adanya edema ekstermitas, remor, dan adanya tanda-
tanda infeksi pada ekstermitas karena dapat merangsang
serangan asma. Pada integumen perlu dikaji adanya permukaan
yang kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit,
kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan, pruritus,
eksim dan adanya tanda urtikaria atau dermatitis.
c) Pola persepsi diri-konsep diri
Cemas, takut, dan mudah tersinggung, kurangnya pengetahuan
pada klien terhadap situasi penyakit (Somantri, 2012).

g. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum klien
Keadaan umum pada klien PPOK yaitu composmentis, lemah, dan
sesak nafas.
2) Tanda-tanda vital
a. Suhu pada klien Penyakit Paru Obstruktif Kronis yaitu hipotermi
b. Nadi pada klien Penyakit Paru Obstruktif Kronis yaitu takipnea
c. Tekanan darah pada klien Penyakit Paru Obstruktif Kronis yaitu
hipertensi d. Pernafasan biasanya mengalami peningkatan
3) Pemeriksaan kepala dan muka
Wajah dan kulit kepala, bentuk muka , ekspresi wajah gelisah dan
pucat, rambut, bersih/tidak dan rontok/tidak, ada/tidak nyeri tekan.
4) Pemeriksaan telinga
Canalis bersih/kotor, pendengaran baik/menurun, ada/tidak
benjolan pada daun telinga, ada/ tidak memakai alat bantu
pendengaran
5) Pemeriksaan mata
Mata kanan dan kiri simetris / tidak , mata cekung/tidak,
konjungtiva anemis/ tidak, selera ikterit/tidak, ada/tidak sektet,
gerakan bola mata normal/tidak, ada benjolan/tidak, ada/tidak nyeri
tekan, fungsi penglihatan menurun/tidak
6) Pemeriksaan hidung
Ada/ tidak polip, ada/tidak sekret, ada/ tidak radang, ada/tidak
benjolan, fungsi pembau baik/buruk.
7) Pemeriksaan mulut
Gigi bersih/kotor, ada/tidak karies gigi, ada/tidak memakai gigi
palsu, gusi ada/ tidak peradangan, lidah bersih/kotor, bibir
kering/lembab
8) Pemeriksaan leher
Leher ada/tidak pembesaran kelenjar thyroid, ada/tidak nyeri tekan,
ada/tidak bendungan vena jugularis dan ada/tidak pembesaran
kelenjar limpa
9) Pemeriksaan payudara dan ketiak
Ada/tidal lesi, payudata simetris, tidak ada benjolan, tidak ada
nyeri tekan pada payudara.
10) Pemeriksaan thoraks
a) Inspeksi
Pada klien dengan PPOK, terlihat adanya peningkatan usaha
dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot bantu napas
(sternokleidomastoid). Pada saat inspeksi, biasanya dapat
terlihat klien mempunyai bentuk dada barrel chest akibat udara
yang terperangkap, bernapas dengan bibir yang dirapatkan, dan
pernapasan abnormal yang tidak efektif. Pernafasan cuping
hidung, penggunaan oksigen, sulit bicara karena sesak
nafas.Pada tahap lanjut, dispnea terjadi pada saat beraktivitas
bahkan pada aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan dan
mandi. Pengkajian batuk produktif dengan sputum purulen
disertai dengan demam mengindikasikan adanya tanda pertama
infeksi pernafasan.
b) Palpasi
Pada palpasi ekspansi meningkat dan taktil fremitus biasanya
menurun.
c) Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor
sedangkan diafragma mendatar/menurun.
d) Auskultasi
Sering didapatkan adanya bunyi napas ronchi dan wheezing
sesuai tingkat keparahan obstruktif pada bronkiolus.

11) Pemeriksaan jantung


a) Inspeksi : ictus cordis tidaktampak
b) Palpasi : ictus cordis terletak di ICSV mid clavicula
sinistra
c) Perkusi : suarapekak
d) Auskultasi : BJ 1 dan BJ 2 terdengar tunggal, tidak ada suara
tambahan
12) Pemeriksaan abdomen
a) Inspeksi : Tidak ada lesi, warna kulit merata.
b) Auskultasi : Terdengar bising usus12x/menit.
c) Palpasi : Tidak ada pembesaran abnormal, tidakadanyeri
tekan.
d) Perkusi :tympani
13) Pemeriksaan genetalia
Genetalia meliputi disuria (nyeri saat berkemih), frekuensi,
kencing menetes, hematuria, poliuria, oliguria, nokturia,
inkontinensia, batu, infeksi saluran kemih. Pengkajian pada
genetalia pria antara lain: lesi, rabas, nyeri testikuler, massa
testikuler, masalah prostat, penyakit kelamin, perubahan hasrat
sexual, impotensi, masalah aktivitas social. Sedangkan pengkajian
pada genetalia wanita antara lain: lesi, rabas, dispareunia,
perdarahan pasca senggama, nyeri pelvis, sistokel/rektokel/prolaps,
penyakit kelamin.
14) Ekstremitas atas dan bawah
a) Ekstresmitas atas: simetris/tidak, ada/tidak odema atau lesi,
ada/tidak nyeri tekan.
b) Ekstremitas bawah: kaki kanan dan kaki kiri simetris ada /tidak
kelainan. Ada atau tidak luka
2. Diagnosa keperawatan
Kemungkinan diagnosa yang muncul pada klien penyakit paru obstruktif
kronis adalah:
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
sekret bronkial sekunder akibat inflamasi paru yang berulang.
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadequatan
ventilasi udara.
c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi perfusi
d. Defisit nutrisi berhubungan dengan anoreksia, produksi sputum, efek
samping obat, kelemahan, dispnea
e. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai O2 dengan kebutuhan aktivitas
f. Gangguan pola tidur
g. Defisit pengetahuan tentang kondisi/tindakan berhubungan dengan
kurang informasi tentang penyakitnya
3. Perencanaan

No Diagnosa Tujuan & Kriteria Intervensi Rasional


Keperawatan Hasil
1. Bersihan Setelah dilakukan 1. Observasi TTV terutama 1. Untuk mengetahui perkembangan pasien
jalan napas tindakan keperawatan respirasi
tidak efektif selama…..x 24 jam 2. Kaji bunyi nafas seperti adanya 2. penurunan fungsi pernafasan dapat menunjukkan
diharapkan bersihan ronchi, wheezing akumulasi secret akibat ketidakmampuan
jalan napas efektif membersihkan jalan nafas
kriteria hasil : 3. Kaji frekuensi pernapasan 3. Takipneu biasanya ada pada beberapa derajat dan
1. Pasien dapat ditemukan pada penerimaan atau selama
mengatakan stres/adanya proses infeksi akut.
sesaknya 4. Kaji adanya dispnea, gelisah, 4. Disfungsi pernapasan adalah variabel yang
berkurang dengan ansietas, distres pernapasan dan bergantung pada tahap proses kronis selain
respirasi normal penggunaan otot bantu proses akut yang menimbulkan perawatan di
(16– 20x/menit) pernapasan rumah sakit
2. Pasien mampu 5. Berikan posisi yang nyaman 5. Peninggian kepala tempat tidur mempermudah
mengeluarkan pada pasien : peninggian kepala fungsi pernapasan dengan mempergunakan
secret dengan tempat tidur, duduk pada gravitasi
batuk efektif sandaran tempat tidur
3. Ronchi -/-. 6. Hindarkan dari polusi 6. Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat
4. Pasien tidak lingkungan misal : asap, debu, mentriger episode akut
kesulitan bernafas bulu bantal
saat inspirasi dan 7. Dorong latihan napas abdomen 7. Memberikan pasien beberapa cara untuk
ekspirasi atau bibir mengatasi dan mengontrol dispneu
8. Observasi karakteristik batuk 8. Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif,
misalnya : menetap, batuk khususnya bila pasien lansia, sakit akut atau
pendek, basah kelemahan. Batuk paling efektif pada posisi
duduk tinggi atau kepala dibawah setelah perkusi
dada
9. Tingkatkan masukan cairan 9. Hidrasi membantu menurunkan kekentalan
sampai 3000 ml/hari sesuai sekret, mempermudah pengeluaran
toleransi jantung
10. Berikan air hangat 10. Penggunaan cairan hangat dapat menurunkan
spasme bronkus
11. Kolaborasi pemberian obat 11. Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti
sesuai indikasi : bronkodilator, lokal, menurunkan spasme jalan napas, mengi,
Xantin, Kromolin, Steroid dan produksi mukosa
oral/IV dan inhalasi,
antimikrobial, analgesic
12. Kolaborasi pemberian 12. Kelembaban menurunkan kekentalan sekret,
humidifikasi tambahan : misal mempermudah pengeluaran dan dapat membantu
nebuliser ultranik menurunkan/mencegah pembentukan mukosa
tebal pada bronkus
2. Pola nafas Setelah diberikan 1. Obervasi KU dan TTV pasien 1. Mengobservasi KU pasien dapat dilakukan agar
tidak efektif asuhan keperawatan mengetahui perubahan yang ada pada kondisi
selama……x 24 jam pasien setiap diobervasi
diharapkan pola nafas 2. Auskultasi bunyi nafas 2. Mengetahui bunyi nafas, seperti ronkhi,
pasien kembali wheezing yang menunjukkan tertahannya secret
efektif dengan obstruksi jalan nafas
kriteria hasil: 3. Observasi frekuensi, kedalaman 3. Disfungsi pernafasan adalah variable
1. Sesak nafas pernafasan dan gerakan dada ketidaknyamanan gerakan dinding dada
berkurang 4. Observasi warna kulit, 4. Hipoksia menunjukkan hipoksemia sistemik
2. Tidak tampak membrane mukosa kuku yang dapat membahayakan nyawa
retraksi otot dada 5. Beri posisi semi fowler untuk 5. Dengan posisi semi fowler dapat memudahkan
3. Tidak ada memaksimalkan ventilasi ekspansi paru sehingga memaksimalkan O2
pernafasan masuk ke paru-paru dan memudahkan
cuping hidung pernafasan
4. RR : 16 – 6. Kolaborasi: 6. Memaksimalkan pemberian O2 dan membantu
20x/mnt a. Pemberian O2 sesuai pemenuhan suplai O2 dalam tubuh
kebutuhan 2-4 lpm
b. Memberikan terapi
salbutamol
3. Gangguan Setelah diberikan 1. Kaji fekuensi, kedalaman 1. Berguna dalam evaluasi derajat distres
pertukaran asuhan keperawatan pernapasan pernapasan dan atau kronisnya proses penyakit.
gas selama……x 24 jam 2. Tinggikan kepala tempat tidur, 2. Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan
diharapkan gangguan bantu pasien untuk memilih posisi duduk tinggi dan latihan napas untuk
pertukaran gas dapat posisi yang nyaman untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea, dan
teatasi dengan bernapas kerja napas.
kriteria hasil: 3. Kaji atau awasi secara rutin 3. Sianosis perifer (terlihat pada kuku) atau sentral
1. Tidak ada kulit dan warna membran (terlihat sekitar bibir atau daun telinga). Keabu-
dyspnea mukosa abuan dan dianosis sentral mengindikasikan
2. Penapasan nomal beratnya hipoksemia.
4. Dorong pengeluaran sputum: 4. Kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah
penghisapan bila diindikasikan sumber utama gangguan pertukaran gas pada
jalan napas kecil. Penghisapan dibutuhkan jika
batuk tidak efektif.
5. Auskultasi bunyi napas 5. Bunyi napas mungkin redup karena penurunan
aliran udara atau area konsolidasi.
6. Palpasi Fremirus 6. Penurunan getaran vibrasi diduga ada
pengumpulan cairan atau udara terjebak.
7. Evaluasi tingkat toleransi 7. Selama distress pernapasan berat atau akut atau
aktivitas refraktori pasien secara total tidak mampu
melakukan aktivitas sehari-hari karena
hipoksemia dan dispnea.
8. Kolaborasi : Berikan oksigen 8. Dapat memperbaiki buruknya hipoksia
tambahan sesuai indikasi
4. Defisit Setelah diberikan 1. Kaji kebiasaan diet, masukan 1. Pasien distres pernapasan akut sering anoreksia
nutrisi asuhan keperawatan makanan saat ini. karena dispnea, produksi sputum dan obat. Selain
selama x 24 jam itu banyak pasien PPOK mempunyai kebiasaan
diharapkan makan yang buruk meskipun kegagalan
pemenuhan nutrisi pernapasan membuat status hipermetabolik
dapat teratasi dengan dengan peningkatan kebutuhan kalori.
keriteria hasil : 2. Penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan
1. Nafsu makan 2. Auskultasi bunyi usus penurunan motilitas gaster dan konstipasi yang
meningkat secara berhubungan dengan pembatasan pemasukan
bertahap cairan, pilihan makanan buruk, penurunan
2. Makan habis 1 aktivitas dan hipoksemia
porsi yang telah 3. Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah
di sediakan 3. Berikan perawatan oral pencegah utama terhadap napsu makan dan dapat
3. Tidak mual dan membuat mual dan muntah dengan peningkatan
muntah kesulitan napas
4. Menunjukkan 4. Meningkatkan masukan kalori total
peningkatan berat 4. Berikan porsi makan kecil tapi
badan 0,5-1 kg sering 5. Dapat menyebabkan distensi abdomen yang
dalam 3 hari 5. Hindari makanan penghasil mengganggu napas abdomen dan gerakan
gas dan minuman berkarbonat diafragma, dan dapat meningkatkan dyspnea
6. Hindari makanan yang sangat 6. Suhu ekstrim dapat meningkatkan/mencetuskan
panas dan sangat dingin spasme batuk
7. Timbang BB sesuai indikasi
7. Berguna untuk mentukan kebutuhan kalori,
menyusun tujuan berat badan dan evaluasi
keadekuatan rencana nutrisi
5. Intoleransi Setelah diberikan 1. Observasi tanda keletihan, 1. Merencanakan istirahat yang tepat
aktivitas asuhan keperawatan tidak dapat mentoleransi
selama x 24 jam aktivitas tambahan
diharapkan dapat 2. Observasi tingkat kelemahan 2. Kelemahan pasien dalam beraktivitas dapat
meningkatkan pasien membantu memberi gambaran untuk intervensi
aktivitas dengan selanjutnya
kriteria hasil: 3. Bantu dalam pemenuhan ADL 3. Agar ADL pasien terpenuhi
1. ADL pasien yang belum terpenuhi
mandiri dan tidak 4. Anjurkan istirahat apabila 4. Menghindari hal yang dapat mempengaruhi
dibantu keluarga pasien sesk saat beraktivitas keadaan
2. Pasien tidak
lemah
3. Pasien dapat
bangun dan
duduk di tempat
tidur

6. Gangguan Setelah diberikan 1. Kaji pola tidur setiap hari 1. Mengetahui perubahan pola tidur yang terjadi
pola tidur asuhan keperawatan 2. Beri posisi yang nyaman 2. Memudahkan dalam beristirahat
selama x 24 jam 3. Berikan lingkungan yang 3. Menciptakan suasana yang tenang
diharapkangangguan nyaman
pola tidur dapat 4. Anjurkan kepada keluarga dan 4. Menciptakan suasana yang tenang
teratasi dengan pengunjung untuk tidak ramai
keriteria hasil: 5. Menjelaskan pada pasien 5. Menambah pengetahuan
1. Pola tidur 6-7 pentingnya keseimbangan
jam per hari istirahat dan tidur untuk
2. Tidur tidak penyembuhan
terganggu karena
batuk
7. Defisit Setelah diberikan 1. Jelaskan proses penyakit 1. Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan
pengetahuan asuhan keperawatan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan
selama x 24 jam 2. Jelaskan pentingnya latihan 2. Napas bibir dan napas abdominal menguatkan
diharapkandefisit nafas, batuk efektif otot pernapasan, membantu meminimalkan
pengetahuan dapat kolaps jalan napas kecil dan memberikan
teratasi dengan individu arti untuk mengontrol dyspnea
keriteria hasil : 3. Diskusikan efek samping dan 3. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara
1. Menyatakan reaksi obat efek samping mengganggu dan efek samping
pemahaman merugikan
kondisi/proses 4. Tunjukkan teknik penggunaan 4. Pemberian obat yang tepat dapat meningkatkan
penyakit dan dosis inhaler penggunaan keefektifan obat
tindakan 5. Diskusikan pentingya 5. Menurunkan pemajanan dan insiden
2. Melakukan menghindari orang yang sedang mendapatkan infeksi saluran napas atas
perubahan pola infeksi pernapasan aktif
hidup dan 6. Diskusikan faktor lingkungan 6. Faktor lingkungan ini dapat meningkatkan iritasi
berpartisipasi yang meningkakan kondisi bronkial menimbulkan peningkatan produksi
dalam program seperti udara terlalu kering, sekret dan hambatan jalan napas
pengobatan asap, polusi udara. Cari cara
untuk modifikasi lingkungan
7. Jelaskan efek, bahaya merokok 7. Penghentian merokok dapat menghambat
kemajuan PPOK
4. Implementasi
Menurut Wartonah (2015), implementasi merupakan tahap ketika
perawat melakukan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana
perawatan. Implementasi yang dikategorikan serangkaian perilaku perawat
yang berkoordinasi bersama pasien, keluarga dan anggota tim kesehatan
lain untuk membantu mengatasi masalah kesehatan pasien sesuai
perencanaan dan kriteria hasil yang sudah ditetapkan. Seorang perawat
melakukan hubungan interpersonal dengan pendekatan terapeutik kepada
pasien guna untuk mempercepat kesembuhan pasien. Menurut Debora
(2013), aktivitas yang dilakukan pada tahap implementasi dimulai dari
pengkajian lanjutan, membuat prioritas, menghitung alokasi tenaga,
memulai intervensi keperawatan, dan mendokumentasikan tindakan dan
respon klien terhadap tindakan yang telah dilakukan

5. Evaluasi
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari proses
keperawatan, tahap penilaian atau perbandingan yang sistematis, dan
terencana tentang kesehatan pasien, dengan tujuan yang telah ditetapkan
yang dilakukan secara berkesinambungan (Debora, 2013). Pada tahap
evaluasi perawat membandingkan status kesehatan pasien dengan tujuan
atau kriteria hasil yang telah ditetapkan. Menurut Alimul & Hidayat,
(2012), evaluasi terdiri dari dua kegiatan yaitu evaluasi proses dan evaluasi
hasil. Evaluasi proses dilakukan selama proses perawatan berlangsung atau
menilai respon pasien, sedangkan evaluasi hasil dilakukan atas target
tujuan yang diharapkan.
Dalam proses keperawatan berdasarkan permasalahan yang muncul
maka hal-hal yang diharapkan pada evaluasi adalah sebagai berikut:
1. Bersihan jalan efektif
2. Pola nafas efektif
3. Pertukaran gas efektif
4. Nutrisi pasien adekuat
5. Peningkatan terhadap intoleransi aktivitas
6. Pola tidur tepenuhi
7. Suhu tubuh dalam batas normal (36,50 – 37,50 C)
8. Peningkatan pengetahuan
9. Infeksi tidak terjadi
C. WOC
Merokok
Genetik: Defisiensi
antitrypsin alfa-1

Penurunan Mengandung zat- Mengandung


netralisasi elastase zat berbahaya radikal bebas
Faktor lingkungan

Induksi aktivasi Peningkatan stress


Polusi udara makrofag dan oksidatif
leukosit

Peningkatan apoptosis
dan nekrosis dari sel
Peningkatan Pelepasan faktor Peningkatan yang terpapar
pelepasan elastase kemotaktik neutrofil pelepasan oksidan

Peningkatan jumlah Cedera sel


Cedera sel neutrofil didaerah yang
terpapar

Respon inflamasi

Hipersekresi mukus Lisis dinding alveoli Fibrosa paru


Bonkitis Kerusakan alveolar Obstruksi paru

Kuang informasi
Penumpukan lender Kolaps saluran napas PPOK terkait proses
dan sekresi berlebih kecil saat inspirasi penyakit

Mengantuk, lesu
Emfisema Defisit
Merangsang Obstruksi jalan
refleks batuk napas Kelelahan pengetahuan
Gangguan pertukaran
O2 dan CO2 dari dan
Ketidakefektifan ke paru Kompensasi tubuh dengan
bersihan jalan
peningkatan RR
naps

Penurunan asupan O2
Sesak napas Ketidakefektifan
pola napas
Hipoksemia
Penurunan Timbul refleks
Gangguan nafsu makan batuk
pertukaran gas
Penurunan perfusi O2 Penurunan berat Tidur tidak
ke jaringan badan nyenyak

Intoleransi aktivitas Ketidakseimbangan Gangguan pola


nutrisi: kurang dari tidur
kebutuhan tubuh
DAFTAR PUSTAKA

A.Wisman, B., Mardhiyah, R. & Tenda, E.D., 2015. Pendekatan Diagnostik dan
Tatalaksana Penyakit Paru Obstruktif Kronik GOLD D: Sebuah Laporan
Kasus. Ina J CHEST Crit and Emerg Med, Vol. 2, No. 4, p.182.

Alimul, A., & Hidayat. (2012). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi
Konsep dan Proses Keperawatan. (D. Sjabana, Ed.) (1st ed.). Jakarta:
Salemba Medika.

Black, J.M. & Hawks, J.H., 2014.Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen


Klinis untuk Hasil yang Diharapkan, Edisi 8-Buku 3. Indonesia: Elsevier.

Debora, O. (2013). Proses Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Salemba


Medika.

Global Iniative for Chrocic Obstruktive Lung Disease. Pocket Guide to COPD
Diagnosis, Management, and prevention. 2014.

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). 2017. Global
Strategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic
Obstructive Pulmonary Disease. Barcelona: Medical Communications
Resources. Available from: http://www.goldcopd.org

Grace A. Pierce, Borley R. Nier. (2011). Ata Glace Ilmu Bedah Edisi 3.Pt Gelora
Aksara Pratama.

Halim, Nurul A.B.A. (2013). Faktor-faktor Psikologis yang Menentukan Perilaku


Merokok pada Mahasiswi Kedokteran Di Universitas Hasanuddin Tahun
2013. Jurnal Universitas Hasanuddin.

Ikawati, Z. 2016. Penatalaksanaan Terapi Penyakit Sistem Pernapasan.


Yogyakarta: Bursa Ilmu.

LeMone, P., Burke, K.M. & Bauldoff, G. 2016.Buku Ajar Keperawatan Medikal
bedah, Ed. 5, Vol. 4. Jakarta: EGC.
Mumpuni, Y & Wulandari,A. (2013). Cara Jitu Mengatasi Asma. Yogyakarta:
Rapha Publishing.

Muttaqin, A. (2012) Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem


Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

Oemiati, R. 2013. Kajian Epidemiologis Penyakit Paru Obstruksi Kronik


(PPOK). Media Litbangkes Vol.23 No.2: 82-88.

Padila. 2012. Buku ajar: Keperawatan Medical Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika

PDPI, 2011.PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) Diagnosis dan


Penatalaksanaan. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Saftarina, F., Anggraini, D.I. & Ridho, M., 2017. Penatalaksanaan Penyakit Paru
Obstruktif Kronis pada Pasien Laki-Laki Usia 66 Tahun Riwayat Perokok
Aktif dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga di Kecamatan Tanjung
Sari Natar. J AgromedUnila.Volume 4, p.143.

Soeroto, A.Y. & Suryadinata, H., 2014. Penyakit Paru Obstruktif Kronik. Ina J
Chest adn Emerg Med. Vol.1, No.2.

Somantri, I., 2012. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Wahid, A. & Suprapto, I., 2013.Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan


Keperawatan Pada Gangguan Respirasi. Jakarta: CV. Trans Info Media.

Warsi, A., Ganda, I.J. & Angriani, H., 2013.Gambaran Gas Darah pada Anak
dengan Kesadaran Menurun.JST Kesehatan, p.194.

Wartonah. (2015). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta.