Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perhatian terhadap penyakit menular dan tidak menular makin hari


semakin meningkat, karena semakin meningkatnya frekuensi kejadiannya
pada masyarakat. Dari tiga penyebab utama kematian (WHO,2013). Penyakit
jantung, diare dan stroke dua diantaranya adalah penyakit tidak menular.
Selama epidimiologi kebanyakan berkesimpung dalam menangani masalah
penyakit menular, bahkan kebanayakan terasa bahwa epidimiologi hanya
menangani masalah penyakit menular. Karena itu, epidemiologihampir selalu
dikaitkan dan dianggap epidemiologi penyakit menular dan tidak menular.hal
ini tidak dapat disangkal dari sejarah perkembangnya epidemiologi berlatar
belakang penyakit menular. Sejarah epidemiologi memang bermula dengan
penanganan masalah penyakit menular dan yang tidak menular merajalela
dan banyak menelan korban pada waktu itu. Perkembangan sosial ekonomi
dan cultural bangsa dan dunia, kemudian menurut epidemiologi untuk
memberikan perhatian kepada penyakit menular karna sudah mulai
meningkatkan sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Pentuingnya pengetahuan tentang penyakit menular dilatarbelakangi


dengan kecendrungan semakin meningkatnya pevalensi PTM dalam
masyarakat. Khususnya masyarakaat Indonesia. Bangsa Indonesia yang
sementara membangun dirinya dari suatu negara agraaaris yang sedang
berkembang menuju masyarakat industri membawa kecendrungan barudalam
pola penyakit masyarakat. Perubahan pola struktur masyarakat khususnya
masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia yang sementara membangun dirinya
dari suatu negara agraris yang sedang berkembang menuju masyarakat
industry membawa kecendrungan baru dalam pola oenyakit dalam
masyarakat. Perubahan pola struktur masyarakat agraris ke masyarakat
industry banyak member andil terhadap perubahan pola fertilitas gaya hidup.
Sosial ekonomi yang pada gilirannya dapat memacu semakin meningkatnya
PTM. Di Indonesia keadaan yang terkait atau berhubungan dengan nya.

1
Kadang kala istilah ini di gunakan secara umum untuk mnerangkan
kecederaan kecacatan sindrom, symptom, keserongan tinmgkah laku, dan
fariasi biasa sesuatu struktur atau fungsi, sementara dalam kontek lain boleh
di anggap sebagai kategori yang boleh di bedakan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud pengertian penyakit ?


2. Apa yang dimaksud pengertian penyakit menular ?
3. Apa yang dimaksud dengan pemberantasan penyakit menular ?
4. Apa saja macam-macam penyakit menular ?
5. Apa saja penyehatan lingkungan pemukiman dari penyakit menular ?
6. Apa program pemberantasan penyakit menular ?
7. Bagaimana pembinaan kesehatan komunitas program gizi masyarakat ?
8. Bagaimana program pembinaan kesehatan komunitas dan program kota
sehat ?

C. Tujuan

1. Tujuan umum

Untuk memenuhi tugas mata ajar keperawatan komunitas 1 tentang


pemberantasan penyakit menular.

2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui penyakit.
b. Untuk mengetahui penyakit menular.
c. Untuk mengetahui pemberantasan penyakit menular.
d. Untuk mengetahui macam-macam penyakit menular.
e. Untuk mengetahui penyehatan lingkungan pemukiman dari penyakit
menular.
f. Untuk mengetahui program pemberantasan penyakit menular.
g. Untuk mengetahui kesehatan komunitas program gizi masyarakat.
h. Untuk mengetahui program pembinaan kesehatan komunitas dan
program kota sehat.

2
D. Manfaat

1. Untuk mahasiswa
Dapat mengatahui dan menambah wawasan tentang pemberantasan
penyakit menular.
2. Untuk dosen
Sebagai tambahan literature dalam menambahan wawasan tentang
pemberantasan penyakit menular.
3. Untuk kampus
Untuk menjadi audit internal kualitas pengajar Untuk tambahan infomasi
dan bahan keperpustakaan dalam memberi materi pada mahasiswa
mahasiswi instusi pendidikan tentang pemberantasan penyakit menular.
4. Untuk pembaca
Untuk pembaca memahami dan mengetahui tentang pemberantasan
penyakit menular.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyakit

Penyakit adalah suatu keadaan normal dari tubuh atau pikiran yang
menyebabkan ketidak nyamanan disfungsi atau kesukaran terhadap orang
yang dipengaruhinya.

B. Pengertian Penyakit Menular

Penyakit menular dapat di definisikan sebagai sebuah penyakit yang dapat


di tularkan (berpindah dari orang satu ke orang lain, baik secara langsung
maupun pelantara) penyakit menular ini di tandai dengan adanya agent atau
penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah serta menyerang host
( penderita)

C. Pemberantasan Penyakit Menular

Penyakit menular ialah penyakit yang disebabkan oleh agent infeksi atau
toksinnya, yang berasal dari sumber penularan atau reservoir, yang
ditularkan/ ditansmisikan kepada pejamu (host) yang rentan. Penyakit
menular (Communicable Desease) adalah penyakit yang disebabkan oleh
adanya agen penyebab yang mengakibatkan perpindahan atau penularan
penyakit dari orang atau hewan yang terinfeksi, kepada orang atau hewan
yang rentan (potential host), baik secara langsung maupun tidak langsung
melalui perantara (vector) atau lingkungan hidup.

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular merupakan program


pelayanan kesehatan untuk mencegah dan mengendalikan penular penyakit
menular/infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta dll). Tujuan dari program
pencegaahan penyakit menular ini yaitu untuk menurunkan angka kesakitan,
kematian, dan kecacatan akibat penyakit menular. Prioritas penyakit menular
yang akan ditanggulangi adalah Malaria, demam berdarah dengue, diare,
polio, filaria, kusta tuberkulosis paru, HIV/AIDS, pneumonia, dan penyakit-
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Uraian tugas umum untuk

4
koordinator unit pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yaitu
menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan di unit pencegahan penyakit
menular, mengkoordinir dan berperan aktif terhadap kegiatan di unitnya, dan
ikut serta aktif mencegah dan mengawasi terjadinya peningkatan kasus
penyakit menular serta menindaklanjuti terjadinya kejadian luar biasa.
Banyak sekali upaya yang dilakukan oleh puskesmas untuk memberantas
penyakit menular, setelah puskemas bekerja, kinerja pemberantasan penyakit
menular puskesmas langsung dilaporkan kepada kepala dinas kesehatan
daerah.

D. Macam-macam Penyakit Menular

1. TB (TUBERCULOSIS)

2. AIDS

3. ISPA

E. Penyehatan lingkungan pemukiman dari penyakit menular


1. TB (TUBERCULOSIS)
Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC,
adalah penyakit menular paru-paru yang disebabkan oleh basil
Mycobacterium tuberculosis. Kompleks ini termasuk M. tuberculosis dan M.
africanum terutama berasal dari manusia dan M. bovis yang berasal dari sapi.
Mycobacteria lain biasanya menimbulkan gejala klinis yang sulit dibedakan
dengan tuberkulosis. Etiologi penyakit dapat di identifikasi dengan kultur.
Penularan terjadi melalui udara yang mengandung basil TB dalam
percikan ludah yang dikeluarkan oleh penderita TB paru atau TB laring pada
waktu mereka batuk, bersin atau pada waktu bernyanyi. Kontak jangka
panjang dengan penderita TB menyebabkan risiko tertulari, infeksi melalui
selaput lendir atau kulit yang lecet bisa terjadi namun sangat jarang. TB
bovinum penularannya dapat tejadi jika orang terpajan dengan sapi yang
menderita TB, bisanya karena minum susu yang tidak dipasteurisasi atau
karena mengkonsumsi produk susu yang tidak diolah dengan sempurna.
Penularan lewat udara juga terjadi kepada petani dan perternakan

5
a. Pencegahan
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah
infeksi mycobacterium tuberkuloisi dengan melakukan penkes adalah
sebagai berikut :

1) Oleh penderita dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk, dan
membuang dahak tidak di sembatang tempat (di dalam larutan disinfektan).

2) Dengan memberikan vaksin BCG pada bayi

3) Disinfeksi, cuci tangan, dan tata rumah tangga dan kebersihan yang ketat,
perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah, memperbaiki
ventilasi, sirkulasi udara, dan penyinaran matahari di rumah.

4) Menghindari faktor predisposisi seperti merokok, udara yang lembab dan


kotor (polusi).

5) Mencegah kontak langsung dengan penderita tuberculosis paru.

b. Pengobatan

Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu intensif (2-3 bulan)


dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama
dan obat tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi
WHO adalah Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedang
jenis obat tambahan adalah Kanamisin, Kuinolon, Makrolide dan Amoksisilin +
Asam Klavulanat, derivat Rifampisin/INH. Cara kerja, potensi dan dosis OAT.

Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu


berdasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil pemeriksaan
bakteriologik, hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Di samping itu
perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai
Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh
WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu:
1) Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam
penanggulangan TB.

6
2) Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung
sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan
kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut.

3) Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan


langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan
pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari.

4) Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup.

2. AIDS
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terjadinya Human
Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan melakukan penkes
menjelaskan tentang:
a. Melakukan abstinensi seks/melakukan hubungan kelamin dengan pasangan
yang terinfeksi
b. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir
yang tidak terlindungi
c. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status
Human Immunodefieciency Virus (HIV) nya
d. Tidak bertukar jarum suntuik, jarum tato, dan sebaginya
e. Mencegah infeksi kejanin/bayi baru lahir

3. ISPA

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluranpernafasan


akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung
kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di ataslaring, tetapi
kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara
stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2013).
a. Cara pencegahan berdasarkan level of prevention:
1) Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Ditujukan pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan
(health promotion) dan pencegahan khusus (spesific protection) terhadap
penyakit tertentu. Termasuk disini adalah :

7
a) Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini
diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap
hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA.
Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA,
penyuluhan ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi
seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan,
penyuluhan bahaya rokok.
b) Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat
mengurangi angka kesakitan ISPA.
c) Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi mal nutrisi.
d) Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan
lahir rendah.
e) Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang
menangani masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.
2) Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan
diagnosis sedini mungkin. Dalam pelaksanaan program P2 ISPA,
seorang balita keadaan penyakitnya termasuk dalam klasifikasi bukan
pneumonia apabila ditandai dengan batuk, serak, pilek, panas atau
demam (suhu tubuh lebih dari 370C), maka dianjurkan untuk segera
diberi pengobatan.
Upaya pengobatan yang dilakukan terhadap klasifikasi ISPA atau bukan
pneumonia adalah tanpa pemberian obat antibiotik dan diberikan
perawatan di rumah. Adapun beberapa hal yang perlu dilakukan ibu
untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA adalah :
a) Mengatasi panas (demam).
b) Untuk balita, demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau
dengan kompres dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada
air (tidak perlu air es).
c) Pemberian makanan dan minuman

8
d) Memberikan makanan yang cukup tinggi gizi sedikit-sedikit tetapi
sering, memberi ASI lebih sering. Usahakan memberikan cairan (air
putih, air buah) lebih banyak dari biasanya.

3) Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)

Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita yang bukan pneumonia


agar tidak menjadi lebih parah (pneumonia) dan mengakibatkan
kecacatan (pneumonia berat) dan berakhir dengan kematian.

Upaya yang dapat dilakukan pada pencegahan Penyakit bukan


pneumonia pada bayi dan balita yaitu perhatikan apabila timbul gejala
pneumonia seperti nafas menjadi sesak, anak tidak mampu minum dan
sakit menjadi bertambah parah, agar tidak bertambah parah bawalah
anak kembali pada petugas kesehatan dan pemberian perawatan yang
spesifik di rumah dengan memperhatikan asupan gizi dan lebih sering
memberikan ASI.

b. Cara Pencegahan Menurut Depkes RI, (2008) pencegahan ISPA antara


lain:
1) Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah kita
atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA.
Misalnya dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna,
banyak minum air putih, olah raga dengan teratur, serta istirahat yang
cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap sehat. Karena
dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin
meningkat, sehingga dapat mencegah virus / bakteri penyakit yang akan
masuk ke tubuh kita.
2) Imunisasi
Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak maupun
orang dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan tubuh kita
supaya tidak mudah terserang berbagai macam penyakit yang disebabkan
oleh virus / bakteri.

9
3) Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan
mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam rumah,
sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut yang bisa
menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik dapat
memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar dan sehat
bagi manusia.
4) Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/ bakteri
yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini melalui
udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh. Bibit penyakit ini
biasanya berupa virus / bakteri di udara yang umumnya berbentuk aerosol
(anatu suspensi yang melayang di udara). Adapun bentuk aerosol yakni
Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan dari
tubuh secara droplet dan melayang di udara), yang kedua duet (campuran
antara bibit penyakit).

F. Program Pemberantasan Penyakit Menular

Program pemberantasan penyakit menular bertujuan untuk menurunkan


angka kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat penyakit menular dan tidak
menular. Penyakit menular yang diprioritaskan dalam program ini adalah:
malaria, demam berdarah dengue, tuberkulosis paru, HIV/ AIDS, diare, polio,
filaria, kusta, pneumonia, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi, termasuk penyakit karantina dan risiko masalah kesehatan
masyarakat yang memperoleh perhatian dunia internasional (public health risk
of international concern).

Adapun Kebijakan Pelaksanaannya yaitu:


1. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mendorong
peran, membangun komitmen, dan menjadi bagian integral pembangunan
kesehatan dalam mewujudkan manusia Indonesia yang sehat dan produktif
terutama bagi masyarakat rentan dan miskin hingga ke desa.

10
2. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diselenggarakan melalui
penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat, imunisasi, peningkatan
perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengendalian faktor risiko baik di
perkotaan dan di perdesaan.
3. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan
fokus pemantauan wilayah setempat dan kewaspadaan dini, guna
mengantisipasi ancaman penyebaran penyakit antar daerah maupun antar
negara yang melibatkan masyarakat hingga ke desa.
4. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan sentra rujukan penyakit, sentra pelatihan penanggulangan
penyakit, sentra regional untuk kesiapsiagaan penanggulangan KLB/
wabah.
5. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk memantapkan
jejaring lintas program, lintas sektor, serta kemitraan dengan masyarakat
termasuk swasta untuk percepatan program pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular melalui pertukaran informasi, pelatihan,
pemanfaatan teknologi tepat guna, dan pemanfaatan sumberdaya lainnya.
6. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk dilakukan
melalui penyusunan, review, sosialisasi, dan advokasi produk hukum
penyelenggaraan program pencegahan dan pemberantasan penyakit di
tingkat pusat hingga desa.
7. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk meningkatkan
profesionalisme sumberdaya manusia di bidang pencegahan dan
pemberantasan penyakit sehingga mampu menggerakkan dan
meningkatkan partisipasi masyarakat secara berjenjang hingga ke desa.
8. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk meningkatkan
cakupan, jangkauan, dan pemerataan pelayanan penatalaksanaan kasus
penyakit secara berkualitas hingga ke desa.
Adapun langkah-langkah pemberantasan penyakit menular yaitu :
a) Mengumpulkan dan menganalisa data tentang penyakit.
b) Melaporkan penyakit menular.

11
c) Menyelidiki di lapangan untuk mengetahui benar atau tidaknya
laporan yang masuk untuk menemukan kasus-kasus lagi dan untuk
mengetahui sumber penularan.
d) Menyembuhkan penderita hingga ia tidak lagi menjadi sumber infeksi.
e) Pemberantasan vektor (pembawa penyakit)
f) Pendidikan kesehatan.
Cara-cara pencegahan penyakit menular secara umum, yaitu :
1) Mempertinggi nilai kesehatan.
Ditempuh dengan cara usaha kesehatan (hygiene) perorangan dan usaha
kesehatan lingkungan (sanitasi).
2) Memberi vaksinasi/imunisasi
Merupakan usaha untuk pengebalan tubuh. Ada dua macam, yaitu :
a) Pengebalan aktif, yaitu dengan cara memasukkan vaksin ( bibit
penyakit yang telah dilemahkan), sehingga tubuh akan dipaksa
membuat antibodi. Contohnya pemberian vaksin BCG, DPT, campak,
dan hepatitis.
b) Pengebalan pasif, yaitu memasukkan serum yang mengandung
antibodi. Contohnya pemberian ATS (Anti Tetanus Serum).
3) Pemeriksaan kesehatan berkala
Merupakan upaya mencegah munculnya atau menyebarnya suatu penyakit,
sehingga munculnya wabah dapat dideteksi sedini mungkin. Dengan cara
ini juga, masyarakat bisa mendapatkan pengarahan rutin tentang perawatan
kesehatan, penanganan suatu penyakit, usaha mempertinggi nilai
kesehatan, dan mendapat vaksinasi.

G. Pembinaan kesehatan komunitas program gizi masyarakat

Gizi salah ( malnutrition )yg ditemukan oleh dokter merupakan tk


terakhir masalah yg sebenarnya, krn gejala klinis yg ditemukan merupakan
kumulasi dari akar permasalahan yg kompleks.
Gizi salah dpt dibagi dlm 2 katagori : kekurangan gizi dan kelebihan
gizi.Umumnya yg menjadi perhatian adl kekurangan gizi yg diderita oleh

12
masy gol menengah bawah. Sedangkan kelebihan gizi umunya terjadi di
daerah perkotaan pd gol masyarakat ekonomi menengah atas.
1. Masalah pangan dan gizi masyarakat
a. Kurang kalori dan protein ( KKP ) / “protein calorie malnutrion”
(PCM) bentuknya kwashiorkor dan marasmus atau marasmic-
kwashiorkor
b. Kekurangan vitamin A disebut xerophthalmia
c. Kekurangan garam besi dan anemia gizi
d. Gondok endemik akibat kekurangan iodium ( GAKI )
2. Faktor-faktor penyebab kurang gizi
a. Kemiskinan : faktor ekonomi krn kekurangan daya beli
b. Faktor ekologi : kesuburan tanah, struktur tanah, iklim dll
c. Sosial budaya : adat / tabu ( culture )spt makanan lebih diutamakan pd
bapak )
d. Pengetahuan dan pengertian : cara memasak, nilai gizi ( 4 sehat 5
sempurna )
e. Pengadaan dan distribusi pangan : spt pada saat paceklik ( food supply )
f. Bencana alam.
3. Masalah malnutrition utama di Indonesia :
a. Kekurangan energi dan protein (KEP)
1) Balita
2) Wanita hamil gol ekonomi menengah bawah
b. Kekurangan vitamin A
1) Anak balita : 0.7%
c. Gondok endemik ( endemic goitre ) krn kekurangan iodium
1) Masyarakat umum : 23.2%
d. Anemia gizi krn kekurangan zat besi
1) Wanita hamil : 50 – 70%
2) Wanita hamil : 30 – 40%
3) Laki laki dewasa : 20 – 30%
4) Anak balita : 30 – 40%
5) Anak sekolah : 25 – 35%

13
H. Program pembinaan kesehatan komunitas dan pengembangan kota sehat

Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi


dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha
pengorganisasian masyarakat.Ilmu kesehatan masyarakat merupakan ilmu
yang multidisiplin, karena memang pada dasarnya Masalah Kesehatan
Masyarakat bersifat multikausal, maka pemecahanya harus secara
multidisiplin.

pengertian kota sehat adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan


kesehatan masyarakat dengan mendorong terciptanya kualitas lingkungan
fisik, sosial, budaya dan produktivitas serta perekonomian yang sesuai dengan
kebutuhan wilayah perkotaan. Konsep kota sehat merupakan pola pendekatan
untuk mencapai kondisi kota/kabupaten yang aman, nyaman dan sehat bagi
warganya melalui upaya peningkatan kualitas lingkungan fisik, sosial dan
budaya secara optimal sehingga dapat mendukung peningkatan produktivitas
dan perekonomian wilayah. Kota sehat merupakan gerakan untuk mendorong
inisiatif masyarakat (capacity building) menuju hidup sehat.
Pemerintah berperan menyusun kebijakan, strategi dan pedoman umum.
Sektor-sektor di propinsi berperan didalam mengembangkan petunjuk teknis
dan standar yang sesuai dengan daerah. Pelaksanaan kegiatan diserahkan oleh
pemerintah daerah kepada masyarakat melalui Forum dan Kelompok Kerja
(Pokja) Kota Sehat, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi
masyarakat di kota tersebut (Sumijatun, 2005).
Program pendukung Kota Sehat, yaitu :
1. Program Bangun Praja
Dalam rangka peningkatan kapasitas pengelolaan lingkungan hidup
di daerah, Kementrian Lingkungan Hidup berupaya merumuskan dan
melaksanakan program yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja
dalam pengelolaan lingkungan hidup yang baik (Good Environmental
Governance-GEG). Sasaran dari program Bangun Praja adalah
terwujudnya pemerintahan yang baik (GG) dan lingkungan yang baik
(good environment).

14
Strategi yang diterpakan dalam pelaksanaan program Bangun Praja
adalah:
a. menciptakan motivasi bagi Pemda melalui pemberian insentif, antara
lain berupa penghargaan maupun bantuan lainnya.
b. menciptakan kompetisi antar daerah/kota.
c. menerapkan pendekatan "Local Specific" karena setiap daerah
memiliki kekhasan masing-masing.
2. Program ADIPURA
Program ADIPURA bertujuan untuk mengukur kinerja pemerintah
daerah (kabupaten dan kota) dalam pengelolaan lingkungan, khususnya
lingkungan perkotaan, guna mewujudkan kota yang bersih dan teduh
(Clean and Green Cities). Dengan menggunakan pedoman, kriteria, dan
indikator yang disusun, Kementrian Lingkungan Hidup bersama dengan
Pemerintah propinsi melakukan monitoring dan evaluasi kondisi fisik
lingkungan perkotaan sekurang-kurangnya 2 kali dalam setahun.
Sementara, evaluasi non fisik dilakukan 1 kali dalam setahun.
3. Program Inovasi Manajemen Perkotaan (IMP) Award
Tujuan dari Program IMP Award ini lebih mengarah kepada
peningkatan kapasitas dan manajemen Pemerintah Daerah dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat, yaitu untuk mendorong adanya
perubahan kebijakan publik dan institusi pemerintah. (Sumijatun, 2005).
Dalam membuat suatu penyelenggaraan progam Kota Sehat, ada beberapa
Tahapan yang diperlukan, yaitu ;
a. Komitmen terhadap kesehatan
1) Kesehatan bersifat holistik dengan unsur fisik, kejiwaan, sosial, dan
agama.
2) Kesehatan bisa ditingkatkan lewat kerjasama individu dan
kelompok asal peyuluhan kesehatan serta pencegahan penyakit
menjadi prioritas.
b. Proses pengmabilan keputusan untuk kesehatan masyarakat

15
1) Lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas perumahan,
lingkungan, pendidikan, dan pelayanan umum sangat penting
dalam menunjang kesehatan.
2) Keputusan yang diambil di tingkat daerah hendaknya menunjang
kesehatan.
c. Kegiatan intersektoral
1) Program yang melibatkan semua unsur yang mempengaruhi faktor
penentu kesehatan (determinants of health), termasuk sektor usaha,
pemerintah daerah, lembaga lain;
2) Tingkah laku/kegiatan individu dan lembaga di luar sektor
kesehatan diubah supaya menyumbang terhadap lingkungan kota
yang sehat.
d. Masyarakat umum memainkan peranan aktif
1) Masyarakat dapat mempengaruhi keputusan/kegiatan pemerintah
daerah.
2) Penyuluhan kesehatan yang mengubah pandangan, sikap, dan
pilihan masyarakat dalam hal yang menyangkut kesehatan, cara
hidup, dan penggunaan pelayanan kesehatan.
e. Cara baru dalam pemikiran dan metode
1) Berhasilnya sebuah program Kota Sehat tergantung pada adanya
kesempatan untuk berinovasi.
2) Menyebarkan pengetahuan tentang metode baru, mendorong
pemikiran baru, dan menghargai keberhasilan kebijakan dan
program yang inovatif.

BAB III

PENUTUP

16
A. Kesimpulan

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular merupakan program


pelayanan kesehatan untuk mencegah dan mengendalikan penular penyakit
menular/infeksi (misalnya TB, AIDS, ISPA dll). Tujuan dari program
pencegaahan penyakit menular ini yaitu untuk menurunkan angka kesakitan,
kematian, dan kecacatan akibat penyakit menular. Prioritas penyakit menular
yang akan ditanggulangi adalah Malaria, demam berdarah dengue, diare,
polio, filaria, kusta tuberkulosis paru, HIV/AIDS, pneumonia, dan penyakit-
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Kota Sehat merupakan gerakan untuk mendorong inisiatif masyarakat


(capacity building) menuju hidup sehat. Memperhatikan konsepsi gerakan
kota sehat tersebut, tampak bahwa gerakan kota sehat merupakan pendekatan
‘multi stakeholders’, dimana sektor kehutanan (pemerintah dan swasta) yang
merupakan bagian dari stakeholders dapat ikut aktif/ berpartisipasi sesuai
dengan bidang tugasnya.  
B. Saran
1. Bagi institusi pendidikan :
Bagi institusi pendidikan di harapkan untuk mendalami tentang
asuhan keperawatan tentang pencegahan penyakit menular sehingga yang
bersangkutan dapat memberikan pengarahan yang lebih intensif.
2. Bagi mahasiswa :
Bagi mahasiswa mengenai makalah dapat dijadikan wawasan
tambahan mengenai asuhan keperawatan tentang pencegahan penyakit
menular.

DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif. 2013. Asuhan Keperawatan Klien dengan gangguan
sistem immun. Jakarta : Salemba medika.

17
Muttaqin, Arif. 2013. Asuhan Keperawatan Klien dengan gangguan
sistem pernafasan. Jakarta : Salemba medika.

Sumijatun. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas. Jakarta : EGC


Stanhope, Marcia. 2007. Buku Keperawatan Komunitas. Jakarta : EGC

18