Anda di halaman 1dari 226

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN AUGMENTATIVE AND


ALTERNATIVE COMMUNICATION (AAC) TERHADAP
KEMAMPUAN FUNGSIONAL KOMUNIKASI
DAN DEPRESI PASIEN STROKE DENGAN
AFASIA MOTORIK DI RSUD GARUT,
TASIKMALAYA DAN BANJAR

TESIS

AMILA
0906505086

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PASCA SARJANA ILMU KEPERAWATAN
KEKHUSUSAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
JANUARI 2012

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN AUGMENTATIVE AND


ALTERNATIVE COMMUNICATION (AAC) TERHADAP
KEMAMPUAN FUNGSIONAL KOMUNIKASI
DAN DEPRESI PASIEN STROKE DENGAN
AFASIA MOTORIK DI RSUD GARUT,
TASIKMALAYA DAN BANJAR

TESIS

AMILA
0906505086

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PASCA SARJANA ILMU KEPERAWATAN
KEKHUSUSAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
JANUARI 2012
]

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012
PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar

Nama : Amila

NPM : 0906505086

Tanda Tangan :

Tanggal : 20 Januari 2012

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan
dalam rangka memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan tahap akademik
pada program Pasca Sarjana Kekhususan Keperawatan Medikal Bedah dengan
judul “Pengaruh Pemberian Augmentative and Alternative Communication (AAC)
terhadap Kemampuan Fungsional Komunikasi dan Depresi Pasien Stroke Dengan
Afasia Motorik di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar”.
Dalam penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan serta arahan
dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima
kasih yang tidak terhingga kepada :
1. Ibu DR. Ratna Sitorus, S.Kp., M.App.Sc selaku pembimbing utama yang
telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam
penyusunan tesis ini;
2. Ibu Tuti Herawati, S.Kp., MN selaku pembimbing pendamping yang telah
menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam
penyusunan tesis ini;
3. Ibu Dewi Irawaty, MA., PhD, selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia;
4. Ibu Astuti Yuni Nursasi, MN selaku Ketua Program Studi Pascasarjana
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia;
5. Kedua orang tua, mertua dan teristimewa buat suami (Teguh Pribadi) dan
kedua anakku (Habibah Dian Khalifah dan Faisal Azmi) yang selalu
memberikan doa serta dukungan dengan penuh kesabaran ;
6. Seluruh sahabat yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan tesis
ini.

Selanjutnya peneliti sangat mengharapkan masukan, saran serta kritik demi


perbaikan tesis ini sehingga dapat digunakan untuk pengembangan ilmu dan
pelayanan keperawatan.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala
kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga tesis ini membawa manfaat
bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan.

Depok, 20 Januari 2012

Penulis

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini :

Nama : Amila
NPM : 0906505086
Program Studi : Pasca Sarjana Ilmu keperawatan
Peminatan : Keperawatan Medikal Bedah
Fakultas : Ilmu Keperawatan
Jenis Karya : Tesis

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneklusif (Non-exclusive Royalty
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Pengaruh Pemberian Augmentative and Alternative Communication (AAC)
Terhadap Kemampuan Fungsional Komunikasi dan Depresi Pasien Stroke Dengan
Afasia Motorik di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar.

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan,
mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),
merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan
nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 20 Januari 2012
Yang menyatakan

( Amila)

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


ABSTRAK

Nama : Amila
Program : Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan
Studi Universitas Indonesia
Judul : Pengaruh Pemberian Augmentative and Augmentative and
Alternative Comunication (AAC) terhadap Kemampuan
Fungsional Komunikasi dan Depresi pada Pasien Stroke
dengan Afasia Motorik di RSUD Garut, Tasikmalaya dan
Banjar

Afasia motorik adalah kesulitan dalam mengkoordinasikan pikiran, perasaan dan


kemauan menjadi simbol bermakna dan dimengerti oleh orang lain dalam bentuk
ekspresi verbal dan tulisan. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh
pemberian komunikasi dengan AAC terhadap kemampuan fungsional komunikasi
dan depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik. Desain penelitian yang
digunakan adalah quasi experiment dengan pendekatan post test non equivalent
control group pada 21 responden yang terbagi menjadi 11 orang kelompok
kontrol dan 10 orang kelompok intervensi. Hasil penelitian menunjukkan tidak
terdapat perbedaan yang bermakna rata-rata kemampuan fungsional komunikasi
antara kelompok kontrol dengan intervensi dengan nilai p > 0.05 (p = 0.542 pada
α = 0.05), tetapi terdapat perbedaan yang bermakna rata-rata depresi antara
kelompok kontrol dan intervensi dengan nilai p< 0.05 ( p = 0.022 pada α = 0.05).
Berdasarkan gambaran hasil penelitian ini, maka pemberian komunikasi dengan
AAC dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi keperawatan untuk
memfasilitasi komunikasi sehingga dapat menurunkan depresi pada pasien stroke
dengan afasia motorik.

Kata kunci : Augmentative and alternative communication, stroke, afasia Broca,


afasia motorik, depresi

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


ABSTRACT

Name : Amila
Study Program : Post Graduate Nursing Faculty of Nursing University of
Indonesia
Title : The Influence of Conducting Augmentative and Alternative
Communication (AAC) to the Communication Functional
Ability and Depression for Stroke Patients with Motor
Aphasia in Garut, Tasikmalaya and Banjar Hospital

Motor aphasia is difficulty in coordinating the thoughts, feelings and desires into
meaningful symbols and understand in form of verbal expression and writing. The
purpose of this study was to know the influence of conducting communication by
AAC to the communication functional ability and depression for stroke patients
with motor aphasia. The study design used is quasi experiment by approaching
post test non equivalent control group for 21 respondents consist of 11 people of
control group and 10 people of the intervention group. The results showed that no
significant difference in the average communication functional ability between the
control group and intervention group with p values > 0.05 (p = 0.542 at α = 0.05),
but there were significant differences between the average depression of control
and intervention group with p values < 0.05 (p = 0.022 at α = 0.05). Based on the
results of study, the giving of communication by AAC could be one of the nursing
intervention for facilitating communication that will decrease depression to the
stroke patient with motor aphasia.

Key words : Augmentative and alternative communication, stroke, Broca’s


aphasia, motor aphasia, depression

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………… i
HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………… ii
PERNYATAAN ORISINALITAS ………………………………………….. iii
KATA PENGANTAR ……………………………………………………….. ivi
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS…………………………. vi
ABSTRAK …………………………………………………………………… vii
ABSTRACT …………………………………………………………………. viii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………… ix
DAFTAR TABEL ……………………………………………........................ xi
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………… xii
DAFTAR SKEMA …………………………………………………………... xiii
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………….... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………………………………………………... 1
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………….. 13
1.3 Tujuan Penelitian …………………………………………….... 14
1.4 Manfaat Penelitian …………………………………………….. 14

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Stroke ………………………………………………... 16
2.2 Konsep Afasia ………………………………………………... 29
2.3 Komunikasi Pasien Afasia …………………………………… 39
2.4 Konsep AAC …………………………………………………. 42
2.5 Konsep Depresi Pada Afasia …………………………………. 52
2.6 Asuhan Keperawatan Pada Afasia …………………………... 61
2.7 Kerangka Teori ……………………………………………….. 70

BAB 3 KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI


OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep Penelitian …………………………………. 71
3.2 Hipotesis Penelitian …………………………………………... 73
3.3 Definisi Operasional ………………………………………….. 74

BAB 4 METODE PENELITIAN


4.1 Desain Penelitian ……………………………………………... 77
4.2 Populasi dan Sampel …………………………………………. 78
4.3 Teknik Pengambilan Sampel …………………………………. 82
4.4 Tempat Penelitian …………………………………………….. 83
4.5 Waktu Penelitian ……………………………………………... 83

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


4.6 Etika Penelitian ………………………………………………. 83
4.7 Informed consent …………………………………………….. 85
4.8 Alat Pengumpul Data ………………………………………… 85
4.9 Prosedur Pengumpulan Data …………………………………. 92
4.10 Pengolahan dan Analisis Data ……………………………….. 105

BAB 5 HASIL PENELITIAN


5.1 Hasil Analisis Univariat ……………………………………… 110
5.2 Hasil Analisis Bivariat ……………………………………….. 115

BAB 6 PEMBAHASAN
6.1 Interpretasi dan Diskusi Hasil Penelitian …………………….. 122
6.2 Keterbatasan Penelitian ………………………………………. 150
6.3 Implikasi Hasil Penelitian ……………………………………. 151

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN


7.1 Kesimpulan …………………………………………………… 150
7.2 Saran ………………………………………………………….. 151

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN - LAMPIRAN

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


DAFTAR TABEL

Hal

3.1 Definisi Operasional, Cara Ukur, Hasil Ukur dan Skala Ukur 74
4.1 Analisis Univariat Variabel Independen, Variabel Dependen dan 108
Karakteristik Responden
4.2 Analisis Homogenitas Kelompok Kontrol, Intervensi dan Variabel 109
Konfounding
4.3 Analisis Bivariat antara Kelompok Intervensi dan kelompok Kontrol 109
4.4 Analisis Bivariat Variabel Perancu dengan Variabel Dependen 109
5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Usia, Ketidakmampuan Fisik, 111
Dukungan Keluarga, Kemampuan Fungsional Komunikasi dan
Depresi pada Pasien Afasia Motorik di RSUD Tasikmalaya, Garut
dan Banjar November – Desember 2011
5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan Frekuensi 114
Serangan Stroke pada Pasien Afasia Motorik di RSUD Tasikmalaya,
Garut dan Banjar November – Desember 2011
5.3 Hasil Analisis Kesetaraan Umur, Ketidakmampuan Fisik, Dukungan 116
Keluarga Antara kelompok Kontrol dan Intervensi pada Pasien
Afasia Motorik di RSUD Tasikmalaya, Garut dan Banjar November
– Desember 2011
5.4 Hasil Analisis Kesetaraan Berdasarkan Jenis Kelamin dan Frekuensi 116
Serangan Stroke Antara kelompok Kontrol dan Intervensi pada
Pasien Afasia Motorik di RSUD Tasikmalaya, Garut dan Banjar
November – Desember 2011
5.5 Hasil Analisis Perbedaan Kemampuan Fungsional Komunikasi 117
Antara kelompok Kontrol dan Intervensi pada Pasien Afasia Motorik
di RSUD Tasikmalaya, Garut dan Banjar November – Desember
2011
5.6 Hasil Analisis Perbedaan Depresi Antara kelompok Kontrol dan 118
Intervensi pada Pasien Afasia Motorik di RSUD Tasikmalaya, Garut
dan Banjar November – Desember 2011
5.7 Hasil Analisis Pengaruh Umur, Ketidakmampuan Fisik dan 118
Dukungan Keluarga terhadap Kemampuan Fungsional Komunikasi
pada Kelompok Intervensi pada Pasien Afasia Motorik di RSUD
Tasikmalaya, Garut dan Banjar November – Desember 2011
5.8 Hasil Analisis Pengaruh Jenis Kelamin dan Frekuensi Serangan 119
Stroke terhadap Kemampuan Fungsional Komunikasi Pada
Kelompok Intervensi pada Pasien Afasia Motorik di RSUD
Tasikmalaya, Garut dan Banjar November – Desember 2011
5.9 Hasil Analisis Pengaruh Umur, Ketidakmampuan Fisik dan 120
Dukungan Keluarga terhadap Depresi pada Kelompok Intervensi
pada Pasien Afasia Motorik di RSUD Tasikmalaya, Garut dan
Banjar November – Desember 2011
5.10 Hasil Analisis Pengaruh Jenis Kelamin dan Frekuensi Serangan 121

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Stroke Terhadap Depresi Pada Kelompok Intervensi pada Pasien
Afasia Motorik di RSUD Tasikmalaya, Garut dan Banjar November
– Desember 2011

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


DAFTAR GAMBAR

Hal
2.1 Anatomi Wicara – Bahasa 20
2.2 Anatomi Arteri Otak 26
2.3 Low Technology & High Technology 46

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


DAFTAR SKEMA

Halaman
2.2 Kerangka Teori Penelitian 70
3.1 Kerangka Konsep Penelitian 73
4.1 Rancangan Penelitian 77
4.2 Prosedur Pelaksanaan Penelitian 106

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Jadual Kegiatan Penelitian


Lampiran 2 : Penjelasan Peneliti
Lampiran 3 : Lembar Persetujuan Penelitian
Lampiran 4 : Kuesioner karakteristik responden
Lampiran 5 : Format skrining afasia (FAST)
Lampiran 6 : Lembar penilaian kemampuan fungsional komunikasi (DFCS)
Lampiran 7 : Lembar observasi penilaian depresi (ADRS)
Lampiran 8 : Lembar penilaian ketidakmampuan fisik (Barthel Index)
Lampiran 9 : Kuesioner penelitian dukungan keluarga
Lampiran 10 : Lembar observasi pelaksanaan AAC oleh perawat
Lampiran 11 : Checklist pelaksanaan komunikasi dengan AAC
Lampiran 12 : Lembar oservasi pelaksanaan AAC oleh keluarga
Lampiran 13 : Gambar untuk mendukung skrining afasia
Lampiran 14 : Gambar augmentative and alternative communication
Lampiran 15 : Keterangan Lolos Kaji Etik
Lampiran 16 : Surat Izin Penelitian
Lampiran 17 : Surat Keterangan Penelitian
Lampiran 18 : Daftar Riwayat Hidup

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Stroke merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan


neurologis yang terjadi akibat gangguan aliran darah pada otak. Perubahan
neurologis ini dapat terjadi secara mendadak dan harus ditangani secara cepat dan
tepat (Black & Hawks, 2009). Stroke dibagi dalam dua kategori mayor yaitu
stroke iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik disebabkan oleh trombus atau
embolus, dengan jumlah pasien stroke iskemik adalah 87%, sedangkan stroke
hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang menyebabkan
perdarahan intraserebral atau ruang subarachnoid, dengan jumlah 13% yang terdiri
dari 10% perdarahan intraserebral dan 3% perdarahan subarakhnoid (AHA, 2010;
Black & Hawks, 2009). Data ini menunjukkan insiden stroke iskhemik lebih
banyak dibandingkan dengan stroke hemoragik.

Stroke merupakan gangguan serebrovaskular utama di Amerika Serikat dan


berbagai negara di dunia. Upaya pencegahan telah membawa penurunan dalam
angka kejadian selama beberapa tahun terakhir, stroke masih merupakan penyebab
utama kematian ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Menurut WHO pada
tahun 2007, sekitar 15 juta orang menderita stroke di seluruh dunia setiap
tahunnya. Dari jumlah tersebut, 5 juta meninggal dan 5 juta lagi mengalami cacat
permanen. Kematian stroke di Eropa rata-rata sekitar 650.000 terjadi setiap
tahunnya (World Health Report, 2007), sedangkan di Amerika Serikat
menyebabkan kematian nomor tiga dengan jumlah kematian sekitar 150.000 orang
setiap tahun. Total pasien stroke di Amerika Serikat tahun 2008 sekitar 65,5 juta
orang (Bornstein, 2009), dengan peningkatan 700.000 pasien stroke baru setiap
tahunnya (Black & Hawks, 2009).

Stroke tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga terjadi di negara
berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia prevalensi stroke dari tahun ke

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


tahun meningkat tajam. Setiap tahun di Indonesia diperkirakan sekitar 500.000
penduduk terkena serangan stroke dan sekitar 25% atau 125.000 orang meninggal
dan sisanya mengalami cacat ringan atau berat. (Yastroki, 2011).

Jawa Barat sebagai salah satu provinsi di Indonesia, merupakan salah satu
provinsi yang mempunyai prevalensi stroke diatas prevalensi nasional, selain
Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Nusa
Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah,
Gorontalo, dan Papua Barat. Prevalensi stroke di Jawa Barat adalah 9,3 per 1000
penduduk (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2008).

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tasikmalaya, Banjar dan Kabupaten
Garut merupakan beberapa rumah sakit pemerintah yang terdapat di Jawa Barat.
Kasus stroke di RSUD Kota Tasikmalaya dari tahun ke tahun jumlahnya terus
meningkat dan menempati urutan pertama dari seluruh kasus sistem persyarafan
yang ada di RSUD Kota Tasikmalaya. Pada tahun 2010 jumlah penderita stroke
sebanyak 754 orang (Rekam Medis RSUD Kota Tasikmalaya, 2010). Sedangkan
dalam 6 bulan terakhir (Maret – Agustus) tahun 2011 di temukan sebanyak 425
orang pasien stroke. Kasus stroke di RSUD kota Banjar pun selalu menempati
urutan pertama dari seluruh kasus system persyarafan yang ada dengan jumlah
405 orang. Sedangkan kasus stroke di RSUD Kabupaten Garut sebanyak 533
orang dalam 6 bulan terakhir.

Masalah kesehatan yang timbul akibat stroke sangat bervariasi tergantung kepada
luasnya daerah otak yang mengalami infark dan lokasi yang terkena. Hal ini
sejalan dengan pendapat Silbernagl & Lang (2007) yang menyebutkan bahwa
manifestasi klinis stroke ditentukan berdasarkan tempat perfusi yang terganggu,
yakni daerah yang disuplai oleh pembuluh darah tersebut, seperti arteri serebri
media, arteri serebri posterior, arteri serebri anterior, arteri karotis atau basillar.
Arteri yang palimg sering terkena adalah arteri serebri media. Bila stroke
mengenai arteri serebri media, maka pasien dapat mengalami afasia.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Afasia merupakan kehilangan atau gangguan interpretasi dan formulasi simbol
bahasa yang disebabkan oleh kerusakan otak yang dapat mempengaruhi distribusi
kerja struktur sub kortikal dan kortikal pada hemisfer (Berthier, 2005).
Diperkirakan sekitar 21% - 38% pasien stroke akut dapat mengalami afasia
(Salter, Jutai, Foley, Hellings & Teasell, 2006). Afasia terjadi akibat cedera otak
atau proses patologik stroke, perdarahan otak dan dapat muncul perlahan seperti
pada kasus tumor otak pada lobus frontal, temporal atau parietal yang mengatur
kemampuan berbahasa yaitu area Broca, area Wernicke dan jalur yang
menghubungkan antara keduanya. Kedua area ini biasanya terletak dihemisfer kiri
otak dan pada umumnya bagian hemisfer kiri merupakan tempat kemampuan
berbahasa (Kirshner, 2009; Price & Wilson, 2006).

Beberapa bentuk afasia mayor menurut Smeltzer & Bare (2008); Lumbantobing
(2011) adalah afasia sensoris (Wernicke) motorik (Broca) dan Global. Afasia
sensoris terjadi akibat gangguan yang melibatkan pada girus temporal superior,
yang ditandai oleh ketidakmampuan memahami bahasa lisan dan bila ia menjawab
iapun tidak mampu mengetahui apakah jawabannya salah. Pada afasia motorik
terjadi akibat lesi pada area Broca pada lobus frontal yang ditandai dengan
kesulitan dalam mengkoordinasikan pikiran, perasaan dan kemauan menjadi
simbol bermakna dan dimengerti oleh orang lain dalam bentuk ekspresi verbal dan
tulisan. Sedangkan afasia Global disebabkan oleh lesi yang luas yang merusak
sebagian besar atau semua daerah bahasa yang ditandai dengan tidak adanya lagi
bahasa spontan dan menjadi beberapa patah kata yang berulang – ulang (itu – itu
saja) disertai ketidakmampuan memahami yang diucapkan.

Di Amerika Serikat lebih dari 700.000 stroke terjadi setiap tahun dan kira – kira
170.000 kasus baru dari afasia setiap tahun berhubungan dengan stroke.
Diperkirakan sekitar 1 sampai 1,5 juta orang dewasa di Amerika mengalami
afasia. (Kirshner, 2009; Smeltzer & Bare, 2002). Jumlah pasien afasia akan terus
bertambah karena lebih banyak pasien stroke yang dapat bertahan hidup (Smeltzer
& Bare, 2002).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Data tentang afasia akibat stroke di berbagai rumah sakit di Indonesia melalui
rekam medik, jurnal dan situs sangat terbatas. Hal ini dapat disebabkan karena
dalam rekam medik hanya mengklasifikasikan data berdasarkan diagnosa medis
dan adanya keterbatasan dalam mendeteksi/ mengidentifikasi afasia, sehingga
jumlah afasia tidak diketahui dengan pasti. Walaupun data afasia tidak diketahui
dengan pasti, tetapi afasia mempunyai dampak negatif terhadap pasien dan orang
disekitar pasien.

Afasia memiliki dampak negatif terhadap kesejahteraan pasien, kemandirian,


partisipasi sosial dan kualitas hidup karena komunikasi yang tidak adekuat
(Kirshner, 2009). Selain itu pasien afasia mempunyai mortalitas yang lebih tinggi
dan kemampuan fungsional yang lebih rendah dibandingkan pasien tanpa afasia
(Kirshner, 2009). Kondisi ini dapat terjadi karena pasien tidak mampu
mengungkapkan apa yang mereka inginkan, tidak mampu menjawab pertanyaan
atau berpartisipasi dalam percakapan, sehingga pasien menjadi frustasi, marah,
kehilangan harga diri dan emosi pasien menjadi labil. Keadaan ini akhirnya
menyebabkan pasien menjadi depresi (Mulyatsih & Ahmad, 2010). Selain itu
pasien afasia mempunyai mortalitas yang lebih tinggi dan kemampuan fungsional
yang rendah daripada pasien tanpa afasia (Kirshner, 2009).

Depresi paska stroke (DPS) merupakan gangguan mood yang dapat terjadi setiap
waktu pada fase akut atau satu tahun paska stroke dengan puncaknya terjadi pada
bulan pertama (Dahlin et al, 2008). Sedangkan menurut Sit et al (2007) dalam
penelitiannya terhadap 95 pasien stroke menemukan kejadian depresi pada 48 jam
setelah masuk rumah sakit sebesar 69% dan 6 bulan setelahnya sebesar 48%.
Depresi paska stroke mempengaruhi sekitar 20 – 50% pasien stroke dalam tahun
pertama paska stroke dan puncaknya diperkirakan pada 6 bulan paska stroke
(Schub & Caple, 2010).

Afasia merupakan masalah fungsional akibat stroke yang dapat menyebabkan


depresi dan sekitar 53% pasien afasia mengalami depresi (Thomas & Lincoln,
2008). Afasia dan depresi merupakan dua gejala yang terjadi pada stroke (Dahlin

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


et al, 2007). Menurut Amir (2005), frekuensi depresi lebih tinggi pada pasien
afasia motorik daripada afasia global (71%:44%). Tingginya frekuensi depresi
pada pasien afasia motorik disebabkan oleh tingginya kesadaran pasien akan
ketidakmampuan yang dialami pasien dan selain itu, lesi yang menimbulkan
afasia motorik juga menimbulkan depresi.

Meskipun penyebab pasti DPS belum diketahui, sejumlah peneliti menyatakan


bahwa lokasi lesi di otak memegang peranan penting. Berdasarkan review oleh
Singh (1998) dan hasil metaanalisis oleh Carson (2000), tidak menemukan bukti
yang konsisten antara karakteristik lesi dengan terjadinya depresi (Caeiro, Ferro,
Santos & Luis, 2006). Adanya lesi otak yang bertambah karena stroke yang
berulang akan melipatgandakan jenis serta beratnya defisit neurologis (Lee, Tang,
Tsoi, Fong & Yu, 2009). Sedangkan menurut Schub & Caple (2010) peningkatan
keparahan afasia, keparahan stroke, penurunan intelektual, riwayat pribadi atau
keluarga depresi atau tinggal sendirian menjadi faktor penyebab terjadinya depresi
paska stroke.

Lebih lanjut, berdasarkan penelitian epidemiologi, faktor – faktor yang


mempengaruhi prevalensi depresi adalah jenis kelamin, usia, tingkat dukungan
sosial, hidup sendiri dan riwayat gangguan mood (Laska, 2007; Thomas &
Lincoln, 2008). Gangguan aktivitas sehari – hari pada pasien stroke juga
berkorelasi terhadap terjadinya depresi. Hal ini diperkuat oleh penelitian oleh
Dahlin et al (2006) menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
tingkat depresi dengan gangguan aktivitas sehari – hari (p : 0.04). Penelitian
Fatoye (2009) juga menyatakan ada hubungan gangguan fungsi motorik berupa
paresis dengan depresi paska stroke (p : 0.002). Dukungan keluarga juga
merupakan faktor yang mempengaruhi depresi dan pemulihan bicara pada afasia.
Peningkatan dukungan keluarga yang tersedia dapat menjadi strategi penting
dalam mengurangi atau mencegah tekanan jiwa dan depresi paska stroke (Salter,
Foley & Teasell, 2010).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Depresi paska stroke memiliki efek negatif terhadap pemulihan fungsi kognitif,
aktivitas hidup sehari – hari dan dapat meningkatkan kematian (Caiero, Ferro,
Santos & Luis, 2006). Pasien akan menarik diri dari kegiatan sosial, menjadi
rendah diri dan rehabilitasi yang tidak optimal. Selain itu depresi dapat berdampak
pada orang yang merawat pasien dan menghambat komunikasi diantara perawat
dan pasien (Meifi & Agus, 2009; Finke, Light & Kitko, 2008).

Peran seorang perawat sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan, diharapkan
mampu memberikan asuhan keperawatan kepada pasien stroke secara
komprehensif dan terorganisir sejak fase hiperakut hingga fase pemulihan agar
dapat mempengaruhi outcome pasien paska stroke (Rasyid & Soertidewi, 2007).
Henderson (dalam Tomey & Aligood, 2006) mendefinisikan keperawatan sebagai
upaya membantu individu untuk mendapatkan kebebasan dalam beraktivitas dan
berkontribusi dalam mencapai aktivitas yang mandiri. Salah satu kebutuhan dasar
manusia menurut Henderson adalah berkomunikasi dengan orang lain untuk
mengekspresikan emosi, kebutuhan rasa takut dan mengemukakan pendapat.

Peranan perawat pada pasien stroke setelah melewati fase akut adalah memenuhi
kebutuhan sehari – hari, mengkaji fungsi bicara dan berbahasa, menyesuaikan
teknik berkomunikasi dengan kemampuan pasien : bicara pelan dengan suara yang
normal, menjadi pendengar yang baik, menjelaskan setiap prosedur yang akan
dilakukan (Mulyatsih, dalam Rasyid & Soertidewi, 2007). Selain itu, perawat
dapat berperan menjadi role model untuk berkomunikasi dengan pasien yang
mengalami afasia (Lewis, Heitkemper, Dirkesen, O’Brien & Bucher, 2007).

Sebelum dilakukan latihan komunikasi, perawat perlu melakukan pengkajian atau


deteksi afasia untuk menegakkan masalah keperawatan dan intervensi
keperawatan pada afasia (Poslawsky, Schuurmans, Lindeman & Hafstensdottir,
2010). Deteksi dini dan latihan wicara pada pasien afasia tidak hanya dapat
mempengaruhi pola penyembuhan otak, tetapi juga dapat meningkatkan
keterampilan berkomunikasi, sehingga dapat mengurangi isolasi pada pasien dan
meningkatkan partisipasi dalam rehabilitasi (Salter, Jutai, Foley, Hellings &

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Teasell, 2006). Sekitar 79% pasien stroke afasia dari ringan – berat tidak dapat
terdeteksi, karena tidak adanya deteksi afasia. Deteksi dini afasia ditemukan
relevan dalam mendukung program rehabilitasi pasien stroke (Enderby et al, 1987
dalam Lightbody et al, 2007). Dua instrumen untuk mendeteksi afasia yang dapat
digunakan oleh perawat adalah Frenchay Aphasia Screening Test/FAST dan
Ullevaal Aphasia Screening/ UAS (Enderby & Crow, 1996).

Menurut Salter, Jutai, Foley, Hellings & Teasell (2006) dalam literatur penelitian
stroke, FAST merupakan instrumen yang lebih sering digunakan karena
sederhana, membutuhkan waktu 3 – 10 menit untuk pasien afasia fase akut dan
paska akut stroke serta memiliki sensitivitas 87% dan spesifitas 80% dalam
mendeteksi afasia. Skrining perawat dan hasil observasi dapat mendukung
langsung pemeriksaan lebih lanjut dan diagnosa oleh neuropsychologist dan
speech therapy (Clarkson, 2010). Selain itu dengan deteksi dini afasia, latihan
wicara – bahasa dapat dimulai sesegera mungkin (Poslawsky, Schuurmans,
Lindeman & Hafstensdottir, 2010). Hasil pengkajian yang ditemukan juga dapat
menentukan diagnosa dan intervensi keperawatan pada pasien dengan gangguan
komunikasi (McCloskey & Bulechek, 2000, dalam Powlasky, Schuurmans,
Lindeman & Hafstensdottir, 2010).

Diagnosa keperawatan dan masalah kolaboratif pada fase akut stroke yang dapat
ditemukan pasien afasia dalam NANDA (2011) adalah gangguan komunikasi
verbal; menurun, tertunda atau tidak ada kemampuan untuk menerima,
memproses dan menggunakan simbol – simbol. Walaupun intervensi afasia tidak
sepenuhnya terintegrasi ke dalam aktivitas keperawatan, tetapi hasil temuan
merupakan langkah awal untuk melakukan intervensi wicara – bahasa dalam
keperawatan (Poslawsky, Schuurmans, Lindeman & Hafstensdottir, 2010).

Intervensi keperawatan menurut NIC yang dapat diberikan pada pasien gangguan
komunikasi adalah mengkaji gangguan komunikasi yang ada dan
mengembangkan metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan
berkomunikasi, seperti menganjurkan pasien untuk mengulangi suara alfabet dan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


berbicara yang jelas dalam kalimat yang pendek, berikan waktu untuk memahami
pertanyaan, menggunakan papan gambar atau alat bantu bila perlu (Ackley &
Ladwig, 2011; Bulecheck & McCloskey, 2002). Selain itu upaya untuk
meningkatkan kemampuan berkomunikasi pasien afasia dapat dilakukan dengan
latihan komunikasi.

Hasil sistematik review oleh Poslawsky Schuurmans, Lindeman & Hafstensdottir


(2010), menjelaskan tentang kontribusi perawat dalam latihan komunikasi/wicara
secara intensif yang dimulai pada fase akut paska stroke menunjukkan hasil
rehabilitasi yang terbaik terhadap fungsi berbahasa pasien afasia, sehingga
perawat mempunyai implikasi klinis untuk melakukan latihan ini. Hal ini karena
dalam fase akut, afasia sering ditemukan oleh anggota keluarga terdekat dan
perawat. Menurut Burton (2000, dalam Rowat, Lawrencen, Horsburgh, Legg &
Smith (2009), dalam rehabilitasi stroke, perawat dapat berperan sebagai caregiver,
fasilitator dalam penyembuhan pasien dan manajer perawatan. Selain perawat,
keterlibatan keluarga juga merupakan salah satu bentuk dukungan yang
diperlukan dalam pelaksanaan latihan komunikasi, baik selama di rumah sakit
ataupun di rumah.

Pemulihan bahasa pasien sangat terbantu, jika keluarga memainkan perannya


tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Prins dan Maas (1993 dalam
Kusumoputro, 1992), bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi pemulihan
wicara – bahasa pada afasia adalah luas cedera, letak cedera, keparahan afasia,
inteligensi dan pendidikan dan keterlibatan keluarga. Keluarga merupakan
lingkungan yang cocok untuk menstimulasi kemampuan berbahasa afasia, karena
stimulasi tersebut dapat dilakukan secara tidak formal, dapat memilih waktu yang
tepat, saat pasien dalam keadaan bermotivasi dan anggota keluarga cukup tahu
mengenal hal ikhwal keadaan pasien. Selain itu menurut Bullan, Chiki and Stern
(2007), bahwa keterlibatan anggota keluarga dan teman dalam latihan dapat
meningkatkan efektifitas rehabilitasi. Dukungan keluarga yang dapat diberikan
pada pasien stroke dengan afasia adalah dalam bentuk empat dimensi seperti
dimensi informasi, emosional, instrumental dan penghargaan.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Fase rehabilitasi dapat dimulai pada hari pertama pasien mengalami stroke, namun
proses ini ditekankan selama fase pemulihan dan memerlukan upaya dan
kerjasama dari berbagai tim kesehatan, termasuk keluarga. Menurut Lewis,
Heitkemper & Dirksen (2000) setelah pasien stroke stabil selama 12 -24 jam
perawatan kolaboratif dilakukan untuk mengurangi kecacatan dan meningkatkan
fungsi optimal. Sasaran utama program rehabilitasi adalah perbaikan mobilitas,
menghindari nyeri, pencapaian perawatan diri, pencapaian beberapa bentuk
komunikasi dan tidak adanya komplikasi (Smeltzer, Bare, Hinke, Cheeve, 2010)
Latihan komunikasi merupakan tindakan yang diberikan kepada individu yang
mengalami gangguan komunikasi, gangguan berbahasa, bicara dan gangguan
menelan (hsdc, 2005). Didalamnya meliputi bagaimana membuat suara dan
bahasa, termasuk pengertian dan pemilihan kata yang digunakan. Tujuannya
secara spesifik adalah meliputi kejelasan dalam ucapan, kemampuan untuk
mengerti kata – kata sederhana, kemampuan membuat pengertian, kemampuan
mengeluarkan kata- kata yang solid/jelas dan dapat dimengerti (Aini, 2006).

Berbagai cara digunakan untuk memfasilitasi komunikasi pada pasien afasia serta
mendorong pasien berkomunikasi, bahkan yang kecil sekalipun untuk mengurangi
frustasi, depresi dan isolasi sosial (Mulyatsih & Ahmad, 2010). Pendapat ini
sesuai dengan pendapat Happ, Roesch & Kagan (2005 dalam Ackley & Ladwig,
2011), bahwa penggunaan alat bantu komunikasi diperlukan ketika pasien tidak
mampu berkomunikasi secara verbal. Beberapa alat bantu komunikasi yang dapat
dilakukan pada pasien afasia menurut NIC adalah penggunaan perangkat
elektronik, papan alfabet, papan gambar/ flash card yang berisi gambar kebutuhan
dasar, stimulus visual, alat tulis, kata – kata yang sederhana, bahan yang berisi
tulisan atau gambar yang dapat ditunjuk oleh pasien (Ackley & Ladwig (2011);
Ackley & Swan (2008); Dochterman & Bulecheck (2004); Smeltzer, Bare, Hinkle
& Cheever (2010). Bila dilihat intervensi keperawatan masalah komunikasi di
atas, intervensi tersebut merupakan bagian dari AAC.

Menurut Mustonen et al (1991, dalam Johnson, Hough, King Vos Paul & Jeffs,
2008), AAC merupakan penggunaan perangkat pendukung atau pengganti

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


kemampuan komunikasi verbal seseorang. Beberapa kondisi dengan gangguan
komunikasi verbal yang memerlukan AAC adalah cerebral palsy, gangguan
intelektual, autisme, dyspraxia, afasia, stroke batang otak, amyotropic lateral
sclerosis, penyakit parkinsosn, multiple sclerosis, dimensia, traumatic brain injury
(Wikipedia, 2011).
AAC terdiri dari alat bantu komunikasi low technology, yaitu tanpa menggunakan
elektronik, seperti papan komunikasi yang berisi gambar/ simbol dan tulisan
berisi gambar. Sedangkan AAC yang menggunakan elektronik adalah high
technology, seperti penggunan komputer dengan kemampuan multimedia,
misalnya laptop yang menyatu dengan hasil bicara/ speech output.

Walaupun keduanya efektif digunakan dalam memfasilitasi komunikasi verbal,


namun pada aplikasinya selama ini di beberapa rumah sakit Indonesia penggunaan
AAC low technology lebih sering digunakan pada pasien dengan masalah
komunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Fried – Oken et al (1991 dalam
Finke, Light & Kitko, 2008), bahwa AAC low technology tanpa
perangkat/menggunakan perangkat, seperti papan gambar, papan alfabet, alat tulis
merupakan AAC yang paling sering digunakan dirumah sakit pada pasien dengan
masalah komunikasi. Hal ini dapat disebabkan karena penggunaan low technology
lebih familiar, mudah didapat dan dilakukan untuk memfasilitasi/mendukung
komunikasi dibandingkan dengan high technology pada pasien dengan masalah
komunikasi. Penggunaan AAC high technology perlu mempertimbangkan
kemampuan pasien dan perawat. Kondisi masyarakat Indonesia yang tidak
seluruhnya dapat menggunakan komputer, tidak mengenal dengan menu – menu
yang ada dikomputer sehingga dapat menghambat untuk melakukan tugas – tugas
yang diberikan melalui komputer. Kemampuan dan kondisi pasien merupakan
komponen utama efektifnya dilakukan latihan wicara (Greener & Grant dalam
Powlasky, Schuurmans, Lindeman & Hafsteinsdottir, 2010).

Berbagai hasil penelitian telah sukses menggunakan AAC dalam berkomunikasi


pada pasien afasia, ketika komunikasi verbal bukan merupakan suatu pilihan.
Karakteristik pasien afasia yang memiliki keterbatasan kognitif, motivasi dan
situasi sosial, sehingga AAC dapat memberikan keuntungan terhadap kemampuan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


bahasa dan kemampuan berkomunikasi (Van de Standt – Koenderman, 2004
dalam Clarkson, 2010). Hal ini didukung oleh penelitian Johston et al (2004 dalam
Clarkson, 2010), bahwa AAC dapat meningkatkan kemampuan komunikasi
pasien, memperbaiki kehidupan seseorang dengan meningkatkan kemandirian dan
perkembangan hubungan sosial, sehingga akan mempengaruhi kualitas hidup.
Keadaan ini dapat terjadi karena pasien yang menggunakan AAC pada umumnya
memiliki kepuasan dalam hubungan dengan keluarga, teman dan aktivitas hidup
yang menyenangkan (Wikipedia, 2011). Selain itu komunikasi dengan AAC juga
dapat membantu perawat berkomunikasi pada pasien yang mengalami
keterbatasan komunikasi verbal (Finke, Light & Kitko, 2008). Hasil penelitian ini
didukung oleh sistematik review Poslawsky Schuurmans, Lindeman &
Hafstensdottir (2010) yang menjelaskan bahwa AAC merupakan intervensi wicara
- bahasa yang dapat digunakan oleh perawat dalam praktis klinis.

Berbagai hasil penelitian bervariasi menjelaskan tentang durasi dan intensitas


latihan wicara. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bakheit et al (2007)
membandingkan 2 kelompok yang menggunakan media gambar sebagai latihan
wicara (orientasi tugas menyeleksi gambar, penamaan objek, menjelaskan dan
mengenalkan hubungan antara kedua item) dengan durasi yang berbeda
(kelompok intensif = 5 jam dan kelompok standar = 2 jam) yang dimulai sedini
mungkin selama 12 minggu, menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap
kemampuan berbahasa pada kelompok standar dengan waktu 2 jam (p = 0.002
dibandingkan dengan kelompok intensif dengan waktu 5 jam (p > 0.05).

Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Bhogal, Teasell, Foley & Speechley
(2003) yang menggunakan constraint induced therapy (menggunakan kartu
bergambar) dalam latihan wicara, terdapat perbedaan yang signifikan antara
kelompok yang menerima latihan 3 jam selama 10 hari dibandingkan kelompok
standar yang menerima latihan 1 jam selama 4 minggu menunjukkan kemampuan
penamaan dan pemahaman berbahasa yang dievaluasi dengan tes wicara, seperti
Token Test. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rappaport et al (1999 dalam
Powlasky, Schuurmans, Lindeman & Hafsteindottir, 2010) melakukan penelitian

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


dengan memberikan latihan wicara menggunakan media gambar yang dilakukan
setiap hari selama 5 tahun dengan lama terapi 3 jam/minggu, sebagian
menunjukkan kemampuan berbahasa, sedangkan sebagian lagi menunjukkan
sedikit atau tidak ada perbaikan.

Dari beberapa hasil penelitian tersebut, menunjukkan berbagai variasi tentang


intensitas dan durasi latihan komunikasi, tetapi yang terpenting latihan harus
dimulai sedini mungkin setelah melewati fase akut dan dalam kondisi stabil.
Berdasarkan hasil penelitian Robey (1998) dengan melakukan metanalisis pada 55
artikel tentang latihan wicara, bahwa dengan latihan dapat meningkatkan hasil
positif kira – kira 1.83 kali pada individu yang menerima intervensi daripada yang
tidak menerima intervensi (Clarkson, 2010). Penelitian ini didukung oleh
penelitian Bakheit et al (2007), latihan secara intensif dapat meningkatkan
neuroplastisitas, reorganisasi peta kortikal dan meningkatkan fungsi motorik.

Studi pendahuluan yang telah dilakukan selama 4 minggu di Ruang Neurologi


(Ruang V) RSUD Kota Tasikmalaya ditemukan 9 orang mengalami afasia,
diantaranya 7 orang mengalami afasia motorik dan 2 orang mengalami afasia
sensorik. Ruang Neurologi yang terdapat di RSUD kota Tasikmalaya adalah ruang
V,VIP dan Batik. Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat ruangan, selama
ini penanganan pasien stroke yang mengalami afasia hanya berfokus pada
penanganan fisik saja. Pemberian alat bantu komunikasi pada pasien afasia hanya
diberikan isyarat atau alat tulis tanpa diberikan stimulasi latihan, sehingga tidak
sepenuhnya mendukung pasien untuk memfasilitasi komunikasi dan
meningkatkan komunikasi pasien selama di rumah sakit. Bahkan perawat tidak
mengetahui kalau pasien mengalami afasia, karena tidak mendeteksi adanya
afasia, sehingga latihan komunikasi terlambat/tidak dilakukan. Keadaan ini
tentunya akan menimbulkan berbagai dampak negatif seperti memperlambat pola
penyembuhan dan pasien akan mengalami depresi karena ketidakmampuan dalam
berkomunikasi.

Melihat berbagai dampak pada pasien afasia akibat stroke dan keuntungan yang
diperoleh dengan penggunaan AAC berdasarkan fenomena dan hasil penelitian

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


yang ada, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh
pemberian komunikasi dengan AAC terhadap kemampuan fungsional komunikasi
dan depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik.

1.2 Rumusan Masalah

Stroke merupakan penyebab umum afasia dan diperkirakan sekitar 25% - 40%
pasien stroke berkembang menjadi afasia. Afasia merupakan kehilangan fungsi
kemampuan berbicara, meliputi gangguan dalam menulis, berbicara, membaca,
mendengar dan mengerti bahasa. Dampak negatif yang dapat terjadi akibat afasia
adalah kesejahteraan klien, kemandirian, partisipasi sosial dan kualitas hidup.
Kondisi ini akhirnya dapat menimbulkan dampak psikologis, seperti depresi
sehingga akan mempengaruhi masa pemulihan dan hubungan sosial dengan
lingkungan sekitarnya, bahkan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

Perawat adalah seseorang yang memberikan pelayanan secara langsung kepada


pasien dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. Komunikasi merupakan suatu
kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Pada pasien dengan stroke yang
mengalami afasia dapat mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan komunikasi
oleh karena proses penyakitnya. Proses deteksi yang akurat dalam mengkaji afasia
maupun depresi akan menunjukkan pilihan intervensi keperawatan yang tepat
terkait dengan gangguan komunikasi verbal untuk mengurangi frustasi, depresi
dan isolasi sosial pada afasia. Salah satu intervensi yang bisa dilakukan untuk
mengatasi masalah gangguan komunikasi adalah pemberian komunikasi dengan
AAC yang merupakan salah satu intervensi yang dapat digunakan oleh perawat
dalam praktis klinis. AAC merupakan pengganti kemampuan komunikasi verbal
seseorang pada pasien yang mengalami keterbatasan komunikasi verbal, seperti
afasia. Berbagai keuntungan yang dapat diperoleh melalui AAC, seperti
meningkatkan kemampuan bahasa dan kekuatan komunikasi, meningkatkan
kemandirian dan perkembangan hubungan sosial. Berdasarkan fakta tersebut,
perlu diteliti apakah ada pengaruh pemberian AAC terhadap kemampuan
fungsional komunikasi dan depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik ?

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum


Tujuan umum dalam penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh pemberian
AAC terhadap kemampuan fungsional komunikasi dan depresi pada pasien stroke
dengan afasia motorik di RSUD Kabupaten Garut, Kota Tasikmalaya dan Banjar.

1.3.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :
a. Mengidentifikasi gambaran karakteristik responden yang terdiri dari: usia,
jenis kelamin, jumlah serangan stroke, ketidakmampuan fisik dan dukungan
keluarga pada pasien stroke dengan afasia motorik antara kelompok kontrol
dan intervensi.
b. Mengidentifikasi perbedaan rata-rata kemampuan fungsional komunikasi
sesudah diberikan AAC pada pasien stroke dengan afasia motorik antara
kelompok kontrol dan kelompok intervensi.
c. Mengidentifikasi perbedaan rata-rata depresi sesudah diberikan AAC pada
pasien stroke dengan afasia motorik antara kelompok kontrol dan kelompok
intervensi.
d. Mengidentifikasi hubungan variabel perancu umur, jenis kelamin, jumlah
serangan stroke, ketidakmampuan fisik dan dukungan keluarga terhadap
kemampuan fungsional komunikasi pada pasien stroke dengan afasia motorik
pada kelompok intervensi.
e. Mengidentifikasi hubungan variabel perancu umur, jenis kelamin, jumlah
serangan stroke, ketidakmampuan fisik dan dukungan keluarga terhadap
depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik pada kelompok intervensi.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi pelayanan keperawatan


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap intervensi
keperawatan pada pasien afasia, seperti deteksi dini afasia, sehingga dapat
segera diberikan alat bantu komunikasi untuk memfasilitasi komunikasi
pasien afasia, seperti papan gambar/buku komunikasi, majalah, foto,
musik/lagu dan alat tulis untuk menurunkan depresi.

1.4.2 Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah dan memperkaya
khasanah keilmuan keperawatan, serta dapat digunakan sebagai dasar bagi
penelitian selanjutnya yang berfokus pada penelitian kualitatif atau
membandingkan pemberian AAC antara metode sederhana (low
technology) dan modern (high technology) terhadap kemampuan fungsional
komunikasi pasien stroke dengan afasia motorik.

1.4.3 Pendidikan dan ilmu keperawatan


Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman bagi
pendidikan keperawatan untuk memberikan pembelajaran terutama yang
berkaitan dengan pemberian AAC sebagai penatalaksanaan asuhan
keperawatan pasien stroke dengan afasia dalam mencegah terjadinya
depresi karena tidak mampu dalam berkomunikasi verbal.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Stroke

2.1.1 Definisi
Stroke atau cedera serebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplay darah ke bagian otak. Seringkali ini adalah
kulminasi penyakit serebrovaskuler selama bertahun-tahun (Smeltzer, Bare,
Hinkle & Cheever, 2008). Menurut Lewis, Heitkemper, Dirksen, O’Brien &
Bucher (2007), stroke adalah gangguan yang mempengaruhi aliran darah ke otak
dan mengakibatkan defisit neurologik. Sedangkan Black and Hawks (2009),
mendefinisikan bahwa stroke adalah suatu kondisi yang digunakan untuk
menjelaskan perubahan neurologik yang disebabkan oleh gangguan dalam
sirkulasi darah ke bagian otak.

Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa stroke adalah suatu


gangguan pembuluh darah otak yang disebabkan oleh terhentinya suplai darah ke
bagian otak, sehingga mengakibatkan defisit neurologis.

2.1.2 Jenis Stroke


Jenis stroke dibagi menjadi dua yaitu stroke iskemik dan hemoragik (Ignatavicius
& Workman, 2010). Hal tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
a. Stroke Iskemik
Stroke iskemik disebabkan oleh oklusi arteri serebral oleh trombus atau
embolus. Trombus menyebabkan stroke trombotik oleh karena aterosklerosis
yang terjadi sebagai proses yang kompleks termasuk merubah fungsi lapisan
dalam pembuluh darah arteri, inflamasi dan peningkatan pertumbuhan sel otot
polos pembuluh darah (Ignatavicius & Workman, 2010).
b. Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik terjadi karena ruptur pembuluh darah yang menyebabkan
perdarahan ke dalam jaringan otak yang disebut stroke intraserebral atau

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


perdarahan ke ruang subarakhnoid yang disebut stroke hemoragik
subarakhnoid atau disingkat subarachnoid hemorrhage (SAH). Umumnya
perdarahan terjadi akibat ruptur aneurisma atau arteriovenous malformation
oleh karena hipertensi berat (Hickey, 2003). Kejadian stroke dapat didahului
oleh banyak faktor dan seringkali berhubungan dengan penyakit kronis seperti
diabetes melitus, hipertensi dan penyakit cardiovaskular, stress, serta gaya
hidup yang dapat menyebabkan masalah vaskular.

2.1.3 Etiologi
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan stroke (Black & Hawks, 2009; Price
& Wilson, 2006) adalah :
a. Trombosis
Trombosis merupakan proses pembentukan trombus dimulai dengan kerusakan
dinding endotelial pembuluh darah, paling sering karena aterosklerosis.
Aterosklerosis menyebabkan penumpukan lemak dan membentuk plak di
dinding pembuluh darah. Pembentukan plak yang terus menerus akan
menyebabkan obstruksi yang dapat terbentuk di dalam suatu pembuluh darah
otak atau pembuluh organ distal. Pada trombus vaskular distal, bekuan dapat
terlepas dan dibawa melalui sistem arteri otak sebagai suatu embolus (Black &
Hawks, 2009).
b. Embolisme
Embolus yang terlepas akan ikut dalam sirkulasi dan terjadi sumbatan pada
arteri serebral menyebabkan stroke embolik, lebih sering terjadi pada atrial
fibrilasi kronik (Price & Wilson, 2006). Emboli dapat berasal dari tumor,
lemak, bakteri, udara, endokarditis bakterial dan nonbakterial atau keduanya
(Black & Hawks, 2009), atrium fibrilasi dan infark miokard yang baru terjadi
(Ginsberg, 2007).
c. Hemoragik
Sebagian besar hemoragik intraserebral disebabkan oleh ruptur karena
arteriosklerosis. Hemoragik intraserebral lebih sering terjadi pada usia > 50
tahun karena hipertensi. Penyebab lain karena aneurisma. Meskipun aneurisma
biasanya kecil dengan diameter 2-6 mm, tetapi dapat mengalami ruptur dan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


diperkirakan 6% dari seluruh stroke disebabkan oleh ruptur aneurisma (Black
& Hawks, 2009). Kematian karena hemoragik intraserebral dalam 30 hari
pertama antara 35-50%, lebih dari setengah kematian terjadi dalam 2 hari
pertama setelah serangan dan 6% pasien meninggal sebelum tiba di rumah sakit
(Hickey, 2003).
d. Penyebab lain
Stroke dapat disebabkan oleh hiperkoagulasi termasuk defisiensi protein C dan
S serta gangguan pembekuan yang menyebabkan trombosis dan stroke iskemik.
Penyebab tersering stroke adalah penyakit degeneratif arterial, baik
aterosklerosis pada pembuluh darah besar (dengan tromboemboli) maupun
penyakit pembuluh darah kecil (lipohialinosis). Penyebab lain yang jarang
terjadi diantaranya penekanan pembuluh darah serebral karena tumor, bekuan
darah yang besar, edema jaringan otak dan abses otak (Black & Hawks, 2009;
Ginsberg, 2007).

2.1.4 Anatomi Fisiologi berbahasa


Semua stimulus auditif (pendengaran) dihantar dari perifer melalui sistem auditif
ke area auditif primer di girus Hisch, pada kedua lobus temporalis. Di hemisfer
dominan, informasi diteruskan dari area auditif primer langsung ke area asosiasi
auditif di bagian posterior lobus temporalis superior. Informasi dari hemisfer yang
non dominan dihantar melalui korpus kollosum ke area asosiasi auditif dihemisfer
yang dominan. Area asosiasi auditif ini dapat dianggap sebagai pusat identifikasi
kata dan dikenal sebagai area Wernicke.

Setelah suara identifikasi sebagai simbol bahasa, informasi ini diteruskan ke area
pengenalan kata yang mungkin terletak dibagian inferior lobus parietal dihemisfer
yang dominan. Pengenalan simbol bahasa didasarkan atas pengalaman masa
silam. Fungsi area pengenalan bahasa bukan saja mengenali simbol bahasa,
namun mengenai hubungan satu simbol dengan yang lainnya. Bila fungsi ini telah
dilaksanakan, informasi ini disampaikan kembali ke atau melalui area Wernicke
ke area – area diotak yang berkaitan dengan enkoding atau berespon pada bahasa.
Memproduksi bahasa mungkin dimediasi melalui area pengenalan bahasa, diikuti

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


oleh penyampaian informasi ke area identifikasi kata. Komunikasi ditegakkan
antara area identifikasi kata dengan area enkoding motor melalui serabut asosiasi
yang menghubungkan bagian posterior girus temporal superior dengan area
operkuler pada lobus frontal.

Area enkoding motorik (area Broca) bertanggung jawab untuk konversi


preeliminer simbol bahasa ke aktivitas motor. Informasi dari area enkoding motor
disampaikan ke area motor primer pada hemisfer untuk dikonversi menjadi
gerakan motorik yang dibutuhkan yang memproduksi bicara (speech). Pada waktu
yang bersamaan, terdapat komunikasi antara area broca dengan area motorik
suplementer yang terletak dibagian medial girus frontal superior. Selanjutnya
terjadi komunikasi dari area motorik suplementer ke area motorik primer.
Lengkung reflek dari area Broca melalui area motorik suplementer ke area
motorik primer tampaknya bertanggung jawab terhadap kemulusan konversi
informasi di area motorik primer menjadi impuls yang memproduksi bicara
(speech). Simbol bahasa visual diterima sebagai impuls visual dipusat visual
primer dilobus oksipital kedua hemisfer. Informasi kemudian diteruskan ke area
asosiasi visual, tempat terjadinya pengenalan dan identifikasi simbol bahasa. Dari
area asosiasi visual yang menangani bahasa, terdapat dua jalur. Pada jalur
pertama, informasi dari area asosiasi visual yang dominan berjalan langsung ke
area identifikasi kata. Pada jalur kedua, informasi dari area asosiasi visual yang
non dominan menyilang ke hemisfer yang dominan melalui korpus kolosum.
Informasi yang berhubungan dengan penamaan objek datang dari kedua area
asosiasi visual ke area pengenalan kata hemisfer yang dominan. Pada waktu ini
area pengenalan impuls yang berhubungan dengan penamaan objek memasuki
sistem bahasa dan ditransmisi ke area Wernicke (Lumbantobing, 2011).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Gambar 2.1 Anatomi wicara – bahasa
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Otak

2.1.5 Patofisiologi Gangguan Berbicara pada Stroke


Gangguan pembuluh darah otak (stroke) merupakan suatu gangguan neurologik
fokal yang dapat timbul sekunder dari adanya trombosis, embolus, ruptur dinding
pembuluh darah. Akibat adanya sumbatan tersebut mengakibatkan pecahnya
pembuluh darah, sehingga aliran darah ke daerah distal mengalami gangguan, sel
mengalami kekurangan oksigen sehingga mengakibatkan terjadinya infark. Bila
lesi tersebut terjadi pada daerah hemisfer dominan tepatnya lobus frontalis,
dimana dilobus ini terdapat area Broca, maka akan mengakibatkan seseorang
tidak mungkin mampu mengucapkan seluruh kata-kata (hanya mampu
mengucapkan kata-kata sederhana) atau dengan kata lain mampu memahami
bahasa, tetapi kemampuannya mengekspresikan kata-kata bermakna dalam bentuk
tulisan atau bahasa lisan akan terganggu, hal ini disebut afasia ekspresif.
Bila lesi terjadi di lobus temporalis kiri, dimana terdapat area Wernicke,
maka klien mampu mengekspresikan bahasa secara utuh, tetapi pemahaman
terhadap kata-kata yang diucapkan atau tertulis terganggu hal ini disebut afasia
reseptif. Hal ini bisa terjadi karena didalam girus temporalis superior di hemisfer
dominan yang dinamakan area Wernicke berfungsi untuk pendengaran dan
penglihatan. Informasi dari area Wernicke tersebut akan disampaikan ke area

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Broca melalui fasikulus arkuatus, kemudia diproses menjadi gambaran yang
mendetail dan tersusun untuk bicara, kemudian berproyeksi ke kortek motorik
yang menimbulkan gerakan lidah, bibir dan larinx yang sesuai untuk
menghasilkan suara. Girus angularis dibelakang area Wernicke akan memproses
informasi dari kata-kata yang dibaca sehingga menjadi kata-kata bentuk auditorik
pada area Wernicke (Ganong, 1998 ; Price & Wilson, 2006).

2.1.6 Faktor Risiko


Faktor risiko adalah kelainan atau kondisi yang membuat seseorang rentan
terhadap serangan stroke. Penggolongan faktor risiko stroke didasarkan pada
dapat atau tidaknya risiko tersebut ditanggulangi atau diubah.
a. Faktor risiko yang tidak dapat diubah (AHA/ASA, 2006; Price & Wilson,
2006) adalah :
1) Umur
Penurunan fungsi sistem pembuluh darah akan meningkat seiring dengan
bertambahnya usia, sehingga makin bertambah usia makin tinggi
kemungkinan mendapat stroke. Dalam statistik, faktor ini menjadi 2 kali lipat
setelah usia ≥ 55 tahun.
2) Jenis Kelamin
Stroke diketahui lebih banyak diderita laki‐laki dibanding perempuan. Kecuali
umur 35 – 44 tahun dan diatas 85 tahun, lebih banyak diderita perempuan. Hal
ini diperkirakan karena pemakaian obat kontrasepsi oral dan usia harapan
hidup perempuan yang lebih tinggi dibanding laki‐laki. Perempuan Indonesia
mempunyai usia harapan hidup tiga sampai empat tahun lebih tinggi dari usia
harapan hidup laki-laki.
3) Ras
Penduduk Afrika ‐ Amerika dan Hispanic ‐ Amerika berpotensi stroke lebih
tinggi dibanding Eropa ‐ Amerika. Pada penelitian penyakit arterosklerosis
terlihat bahwa penduduk kulit hitam mendapat serangan stroke 38% lebih
tinggi dibanding kulit putih. Setiap tahun di Indonesia diperkirakan sekitar
500.000 penduduk terkena serangan stroke dan sekitar 25% atau 125.000
orang meninggal dan sisanya mengalami cacat ringan atau berat (Yastroki,

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2011). Jika pada tahun 1990 stroke masih di urutan ketiga setelah penyakit
jantung dan kanker, tahun 2010 menjadi urutan pertama penyebab kematian di
Indonesia (Pdpersi, 2010).
4) Faktor Keturunan
Adanya riwayat stroke pada orang tua, meningkatkan faktor risiko terjadinya
stroke. Hal ini diperkirakan melalui beberapa mekanisme antara lain a) faktor
genetik; b) faktor kultur atau lingkungan dan life style; c) interaksi antara
faktor genetik dan lingkungan.

b. Faktor risiko yang dapat diubah


Stroke pada prinsipnya dapat dicegah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa
50% kematian akibat stroke pada pasien yang berusia di bawah 70 tahun dapat
dicegah dengan menerapkan pengetahuan yang ada (Hudak & Gallo, 1996).
Faktor risiko yang dapat diubah antara lain :
1) Hipertensi
Makin tinggi tekanan darah, makin tinggi kemungkinan terjadinya stroke, baik
perdarahan maupun iskemik. Faktor risiko stroke terbanyak adalah hipertensi
dengan 71% dari 3723 kasus (Misbach, 1999). Pengendalian tekanan darah
dapat mengurangi 38% insiden stroke (Black & Hawks, 2005).
2) Merokok
Merokok merupakan masalah kesehatan yang utama di banyak negara
berkembang termasuk Indonesia. Rokok mengandung lebih dari 4000 jenis
bahan kimia yang di antaranya bersifat karsinogenik atau mempengaruhi
sistem vaskular. Penelitian menunjukkan bahwa merokok merupakan faktor
risiko terjadinya stroke, terutama dalam kombinasi dengan faktor risiko yang
lain misalnya pada kombinasi merokok dan pemakaian obat kontrasepsi oral.
Hal ini juga ditunjukkan pada perokok pasif. Merokok meningkatkan
terjadinya trombus, karena terjadinya arterosklerosis. Merokok berkontribusi
12% - 14% kematian akibat stroke (AHA/ASA, 2006). Menurut WHO dalam
World Health Statistics (2007), total jumlah kematian akibat tembakau
(merokok) diproyeksikan naik dari 5,4 juta pada tahun 2005 menjadi 6,4 juta
pada tahun 2015 dan 8,3 juta pada tahun 2030.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


3) Diabetes Melitus (DM)
DM merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang
terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Faktor
risiko stroke akibat DM sebanyak 17,3% (Misbach, 1999). Pasien DM
cenderung menderita arterosklerosis dan meningkatkan terjadinya hipertensi,
kegemukan dan kenaikan kadar kolesterol. Kombinasi hipertensi dan diabetes
sangat menaikkan komplikasi diabetes termasuk stroke (AHA/ASA, 2006).
4) Kelainan Jantung
Kelainan jantung merupakan sumber emboli untuk terjadinya stroke. Yang
tersering adalah atrium fibrilasi. Setiap tahun, 4% dari pasien atrium fibrilasi
mengalami stroke (AHA/ASA, 2006).
5) Dislipidemia
Meningkatnya kadar kolesterol total dan Low Density Lipoprotein (LDL)
berkaitan erat dengan terjadinya aterosklerosis. Kolesterol LDL yang tinggi
merupakan risiko terjadinya stroke iskemik. Kejadian stroke meningkat pada
pasien dengan kadar kolesterol total di atas 240 mg/dL. Setiap kenaikan kadar
kolesterol total 38,7 mg/dL meningkatkan risiko stroke sebanyak 25%
(AHA/ASA, 2006).
6) Latihan fisik
Pasien stroke direkomendasikan melakukan latihan fisik (olah raga) secara
teratur 3 – 7 hari per minggu dengan durasi 20 – 60 menit per hari
(AHA/ASA, 2006). Ahli bedah umum Amerika merekomendasikan untuk
melakukan latihan fisik secara teratur setiap hari selama 30 menit. Latihan
fisik secara teratur membantu mengurangi timbulnya penyakit jantung dan
stroke. Ketidakaktifan, kegemukan atau keduanya berisiko meningkatkan
tekanan darah, kolesterol darah, diabetes, penyakit jantung dan stroke
(AHA/ASA, 2006).
7) Kegemukan
Kegemukan biasanya berhubungan dengan pola makan, DM tipe 2,
peningkatan kadar kolesterol dan peningkatan tekanan darah. Penghitungan
kegemukan berdasarkan BMI (Body Mass Index) yaitu underweight < 18,5,
normal 18,5 – 24,9, overweight 25 – 29,9, obesitas I 30 – 34,5, obesitas II 35

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


– 39,9 dan extreme obesity > 40. Central obesitas/gemuk perut dihitung jika
lingkar pinggang (waist circumference) pada laki-laki > 102 cm dan
perempuan > 88 cm (National Heart Lung and Blood Institute/NHLBI, 2007).
8) Pola diit
Aspek diit yang dihubungkan dengan risiko terjadinya stroke adalah intake
sodium yang tinggi dan nutrisi tinggi lemak. Efek potensial sodium dan lemak
terhadap kejadian stroke dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah
(AHA/ASA, 2006).
9) Konsumsi alkohol
Konsumsi alkohol berlebihan merupakan faktor utama terjadinya hipertensi
dan penyakit yang berhubungan dengan hipertensi adalah stroke (AHA/ASA,
2006). Penelitian yang dilakukan di Cina pada 1991 dan dilakukan follow up
tahun 1999 dan 2000 menunjukkan pemakaian alkohol yang berlebihan (lebih
dari 1750 mL per minggu) secara signifikan meningkatkan insiden stroke
sebesar 22% dan risiko kematian 30% lebih tinggi dari non pemakai alkohol
(Bazzano, 2000).
10) Drug Abuse/narkoba
Pemakaian obat-obatan seperti cocain, amphetamine, heroin dan sebagainya
meningkatkan terjadinya stroke. Obat-obat ini dapat mempengaruhi tekanan
darah secara tiba-tiba dan menyebabkan terjadinya emboli (AHA/ASA, 2006).
11) Pemakaian obat kontrasepsi oral
Risiko stroke meningkat jika memakai obat kontrasepsi oral dengan dosis
tinggi. Umumnya risiko stroke terjadi jika pemakaian ini dikombinasi dengan
adanya usia lebih dari 35 tahun, perokok, hipertensi, dan diabetes (Hershey,
1999 dalam Black & Hawks, 2005).
12) Gangguan Pola Tidur
Gangguan pola tidur ini dikenal dengan istilah sleep disordered breathing
(SDB). Penelitian membuktikan bahwa tidur mendengkur meningkatkan
terjadinya stroke. Pola tidur mendengkur sering disertai apneu (henti nafas),
tidak hanya berpotensi menyebabkan stroke tapi juga gangguan jantung. Hal
ini disebabkan penurunan aliran darah ke otak. SDB lebih sering terjadi pada

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


laki-laki dari pada perempuan dengan perbandingan 2 : 1, dan terjadi mulai
usia pertengahan (AHA/ASA, 2006).
13) Kenaikan lipoprotein (a)/ Lp (a)
Lipid protein kompleks yang meningkat merupakan risiko terjadinya penyakit
jantung dan stroke. Lp (a) merupakan partikel dari LDL dan peningkatannya
akan meningkatkan terjadinya trombosis dengan mekanisme menghambat
plasminogen aktivator. Dibanding dengan faktor risiko stroke yang lain
(hipertensi, hiperkolesterolemia, hipertrigliserid, penyakit jantung, DM)
(AHA/ASA, 2006).

2.1.7 Manifestasi
Silbernagl & Lang (2007) menyebutkan, manifestasi klinis stroke ditentukan oleh
tempat perfusi yang terganggu, yakni daerah yang disuplai oleh pembuluh darah
tersebut. Arteri yang paling sering mengalami gangguan adalah arteri serebri
media. Berikut ini tanda dan gejala stroke berdasarkan arteri yang terkena :
a. Arteri Serebri Media
Oklusi pada arteri serebri media yang sering terjadi menyebabkan kelemahan
otot dan spastisitas kontralateral, serta defisit sensorik akibat kerusakan girus
lateral presentralis dan postsentralis. Akibat selanjutnya adalah deviasi okular
akibat kerusakan area motorik penglihatan, hemianopsia, gangguan bicara
motorik dan sensorik (area bicara Broca dan Wernicke dari hemisfer dominan),
gangguan persepsi spasial, apraksia dan hemineglect jika mengenai lobus
parietalis (Silbernagl & Lang, 2007).
b. Arteri Serebri Anterior
Oklusi arteri serebri anterior menyebabkan hemiparesis dan defisit sensorik
kontralateral akibat kehilangan girus presentralis dan postsentralis bagian
medial, kesulitan bicara serta apraksia pada lengan kiri jika korpus kalosum
anterior dan hubungan dari hemisfer dominan ke korteks motorik kanan
terganggu (Silbernagl & Lang, 2007), gangguan kognitif dan inkontinensia
urine (Hickey, 2003). Penyumbatan bilateral pada arteri serebri anterior
menyebabkan apatis karena kerusakan dari sistem limbik (Silbernagl & Lang,
2007).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


c. Arteri Serebri Posterior
Oklusi arteri serebri posterior menyebabkan hemianopsia kontralateral parsial
(korteks visual primer). Manifestasi klinis bervariasi tergantung area oklusi.
Oklusi pada area perifer menyebabkan hemianopsia homonimus, defisit
memori dan gangguan penglihatan berat. Oklusi pada area sentral, khususnya
pada talamus menyebabkan kehilangan sensorik, nyeri spontan, tremor dan
hemiparesis ringan. Jika oklusi terjadi di batang otak menyebabkan nistagmus,
abnormalitas pupil, ataksia dan tremor postural (Hickey, 2003).
d. Arteri Karotis atau Basilaris
Penyumbatan arteri karotis atau basilaris dapat menyebabkan defisit di daerah
yang disuplai oleh arteri serebri media dan anterior. Jika arteri koroid anterior
tersumbat menyebabkan hipokinesia, hemiparesis, hemianopsia. Oklusi pada
cabang arteri komunikans posterior di talamus terutama akan menyebabkan
defisit sensorik. Oklusi total arteri basilaris menyebabkan tetraparese, paralisis
otot-otot mata serta koma. Oklusi pada cabang arteri basilaris dapat
menyebabkan infark pada serebelum, mesensefalon, pons dan medula
oblongata (Silbernagl & Lang, 2007).

Gambar 2.2 Anatomi Arteri Otak


(Sumber : Smeltzer, Bare, Hinkle & Cheever, 2008)

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2.1.8 Penatalaksanaan
Menurut Black & Hawks (2009) manajemen medik pada pasien stroke adalah
sebagai berikut :
a. Identifikasi stroke secara dini
Faktor utama dalam intervensi dan tindakan awal pada pasien stroke adalah
ketepatan dalam mengidentifikasi manifestasi klinis yang bervariasi
berdasarkan lokasi dan ukuran infark. Pengkajian awal dan riwayat yang
lengkap dari pasien merupakan data penting yang harus di dapatkan pada klien
untuk memberikan intervensi yang tepat.
b. Mempertahankan oksigenasi serebral
Tindakan utama yang dilakukan adalah mempertahankan kepatenan jalan nafas
dengan cara memiringkan kepala pasien untuk mencegah terjadinya aspirasi
dari air liur pasien yang keluar tanpa bisa dikontrol. Elevasi kepala dilakukan,
hindari posisi hiperekstensi, dan pertahankan pemberian oksigen yang adekuat.
c. Memperbaiki aliran darah serebral
Pemberian tromboembolik dilakukan untuk rekanalisasi pembuluh darah dan
reperfusi jaringan otak yang mengalami iskemik. Agen trombolotik yang
diberikan biasanya berupa exogenous plasminogen activators yang dapat
mencegah trombus atau embolus yang menutupi aliran darah.
d. Pencegahan komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul bisa berupa perdarahan, edema serebral,
aspirasi dan komplikasi lainnya. Perdarahan bisa terjadi pada pasien stroke
setelah pemberian rt-PA (Recombinant Tissue Plasminogen Activator), oleh
karena itu pasien harus dimonitor ketat terhadap tanda-tanda adanya
perdarahan. Edema serebral biasanya terjadi pada pasien yang mengalami
peningkatan tekanan intra cranial. Pasien perlu diberikan posisi yang benar
yaitu dengan elevasi kepala 30° untuk meningkatkan perfusi serebral dan aliran
balik vena. Resiko aspirasi pneumonia merupakan resiko komplikasi yang
cukup tinggi pada pasien stroke. Aspirasi lebih sering terjadi di awal dan
dikaitkan dengan hilangnya sensasi faringeal, hilangnya kontrol orofaringeal
dan penurunan kesadaran. Pada klien stroke untuk mencegah terjadinya aspirasi

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


pneumonia, maka pemberian cairan oral ditunda dulu dalam 24-48 jam
pertama.

Fase rehabilitasi dapat dimulai sesegera mungkin pada pasien yang mengalami
stroke, namun proses ini ditekankan selama fase konvalesen dan memerlukan
upaya tim koordinasi. Menurut Lewis, Heitkemper & Dirksen (2000) setelah
pasien stroke stabil selama 12 -24 jam perawatan kolaboratif dilakukan untuk
mengurangi kecacatan dan meningkatkan fungsi optimal. Sasaran utama program
rehabilitasi adalah perbaikan mobilitas, menghindari nyeri bahu, pencapaian
perawatan diri, mendapatkan kontrol kandung kemih, perbaikan proses fikir,
pencapaian beberapa bentuk komunikasi, pemeliharaan integritas kulit, perbaikan
fungsi keluarga dan tidak adanya komplikasi (Smeltzer, Bare, Hinkle & Cheever,
2008). Rehabilitasi secara dini akan mempercepat proses penyembuhan,
rehabilitasi ini harus rutin sehingga otak mampu untuk mengingatnya. Adapun
tujuan dari rehabilitasi ini adalah untuk melatih sel-sel yang tidak rusak
mengantikan sel-sel yang telah rusak.

Pentingnya intervensi dini pada stroke akut sangat menentukan kualitas hidup
pasien dan bahkan mencegah kematian, sehingga motto penatalaksanaan stroke
adalah Time is Brain. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif oleh
multidisiplin – unit stroke, yang tim strokenya terdiri dari dokter spesialis syaraf,
perawat mahir stroke, dokter spesialis terkait dengan faktor risiko stroke,
fisioterapi, terapi okupasi, terapi bicara, pekerja sosial, ahli gizi yang dilakukan di
unit stroke. Komponen utama perawatannya adalah penyelamatan jiwa (1-4
minggu setelah stroke) dan menurunkan ketergantungan (Rasyid & Soertidewi,
2007).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2.2 Konsep Afasia

2.2.1 Definisi
Afasia merupakan kehilangan atau gangguan interpretasi dan formulasi simbol
bahasa yang disebabkan oleh kerusakan otak yang didapat yang mempengaruhi
distribusi kerja struktur sub kortikal dan kortikal pada hemisfer (Berthier, 2005).
Sedangkan menurut Lumbantobing (2011) afasia merupakan gangguan berbahasa.
Dalam hal ini pasien menunjukkan gangguan dalam bicara spontan, pemahaman,
menamai, repetisi (mengulang), membaca dan menulis.

2.2.2 Etiologi
Afasia adalah suatu tanda klinis dan bukan penyakit. Afasia dapat timbul akibat
cedera otak atau proses patologik pada area lobus frontal, temporal atau parietal
yang mengatur kemampuan berbahasa yaitu area Broca, area Wernicke dan jalur
yang menghubungkan antara keduanya. Kedua area ini biasanya terletak
dihemisfer kiri otak dan pada kebanyakan orang bagian hemisfer kiri merupakan
tempat kemampuan berbahasa diatur (Kirshner, 2009; Aini, 2006). Pada dasarnya
kerusakan otak yang menimbulkan afasia disebabkan oleh stroke, cedera otak
traumatik, perdarahan otak dan sebagainya. Sekitar 80% afasia disebabkan oleh
infark iskemik, sedangkan hemoragik frekuensinya jarang terjadi dan lokasinya
tidak dibatasi oleh kerusakan vaskularisasi (Barthier, 2005). Afasia dapat muncul
perlahan seperti pada kasus tumor otak (Kirshner, 2009). Afasia juga terdaftar
sebagai efek samping yang langka dari fentanyl, yiatu suatu opioid untuk
penanganan nyeri kronis ( Aini, 2006).

2.2.3 Klasifikasi dan Gejala Klinik


Menurut Lumbantobing (2011) ada banyak klasifikasi afasia yang dibuat oleh para
peneliti atau pakar yang masing – masing membuat untuk keperluan disiplin ilmu
mereka. Dasar untuk mengklasifikasikan afasia beragam, diantaranya ada yang
mendasarkan kepada manifestasi klinis, distribusi anatomi dari lesi yang
bertanggung jawab bagi defek dan berdasarkan kasifikasi yang merujuk pada
linguistik.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Beberapa bentuk afasia menurut Smeltzer & Bare (2008); Rasyid (2007),
Lumbantobing (2011) adalah :
a. Afasia sensoris (Wernicke/reseptive)
Afasia Wernicke’s dapat terjadi gangguan yang melibatkan pada girus temporal
superior. Di klinik, pasien afasia Wernicke ditandai oleh ketidakmampuan
memahami bahasa lisan dan bila ia menjawab iapun tidak mampu mengetahui
apakah jawabannya salah. Ia tidak mampu memahami kata yang diucapkannya,
dan tidak mampu mengetahui kata yang diucapkannya, apakah benar atau
salah. Maka terjadilah kalimat yang isinya kosong, berisi parafasia dan
neologisme. Misalnya menjawab pertanyaan : bagaimana keadaan ibu
sekarang? Pasien mengkin menjawab : “Anal saya lalu sana sakit tanding tak
berabir”. Seorang aphasia dewasa akan kesulitan untuk menyebutkan kata buku
walau di hadapannya ditunjukan benda buku. Klien dengan susah menyebut
busa....bulu......... bubu. (klien nampak susah dan putus asa. Pengulangan
(repetisi) terganggu berat. Menamai (naming) umumnya parafasik. Membaca
dan menulis juga terganggu berat.

b. Afasia Motorik
Lesi yang menyebabkan afasia Broca mencakup daerah Brodman 44 dan
sekitarnya. Lesi yang mengakibatkan afasia Broca biasanya melibatkan
operkulum frontal (area Brodman 45 dan 44) dan massa alba frontal dalam
(tidak melibatkan korteks motorik bawah dan massa alba paraventrikular
(tengah). Kelainan ini ditandai dengan kesulitan dalam mengkoordinasikan atau
menyusun fikiran, perasaan dan kemauan menjadi simbol yang bermakna dan
dimengerti oleh orang lain. Bicara lisan tidak lancar, terputus-putus dan sering
ucapannya tidak dimengerti orang lain. Apabila bertutur kalimatnya pendek-
pendek dan monoton. Pasien sering atau paling banyak mengucapkan kata –
kata benda dan kata kerja. Bicaranya bergaya telegram atau tanpa tata bahasa
(tanpa grammar). Contoh : “Saya … sembuh … rumah … kontrol… ya .. kon
..trol”. “Periksa …lagi …makan …banyak”.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Seorang dengan kelainan ini mengerti dan dapat menginterpretasikan
rangsangan yang diterimanya, hanya untuk mengekspresikannya mengalami
kesulitan. Seorang afasia dewasa berumur 59 tahun, kesulitan menjawab,
rumah bapak dimana?, maka dengan menunjuk ke arah barat, dan dengan kesal
karena tidak ada kemampuan dalam ucapannya. Jenis afasia ini juga dialami
dalam menuangkan ke bentuk tulisan. Jenis ini disebut dengan disgraphia
(agraphia).
Mengulang (repetisi) dan membaca kuat – kuat sama terganggunya seperti
berbicara spontan. Pemahaman auditif dari pemahaman membaca tampak tidak
terganggu, namun pemahaman kalimat dengan tatabahasa yang kompleks
sering terganggu (misalnya memahami kalimat. “Seandainya anda berupaya
untuk tidak gagal, bagaimana rencana anda untuk maksud ini”.

c. Afasia global
Merupakan bentuk afasia yang paling berat. Afasia global disebabkan oleh luas
yang merusak sebagian besar atau semua daerah bahasa. Penyebab lesi yang
paling sering ialah oklusi arteri karotis interna atau arteri serebri media pada
pangkalnya. Kemungkinan pulihnya ialah buruk. Keadaan ini ditandai oleh
tidak adanya lagi bahasa spontan atau berkurang sekali dan menjadi beberapa
patah kata yang diucapkan secara stereotip ( itu – itu saja, berulang), misalnya :
“iiya, iiya, iiya”, atau : baaah, baaaah, baaah”, atau : “amaaang, amaaang,
amaaaang”. Komprehensi menghilang atau sangat terbatas, misalnya hanya
mengenal namanya saja atau satu atau dua patah kata. Repetisi juga sama berat
gangguannya seperti bicara spontan. Membaca dan menulis juga terganggu
berat. Afasia global hampir selalu disertai hemiparese atau hemiplegia yang
menyebabkan invaliditas kronis yang parah.

2.2.4 Pemeriksaan Afasia


Menurut Lezak (1983 dalam Browndyke, 2002), untuk melihat fungsi berbahasa
dan wicara pada pasien afasia dapat dilakukan pemeriksaan aspek perilaku verbal,
seperti bicara spontan, pengulangan kata, frase, kalimat, pemahaman bicara,
penamaan, membaca dan menulis.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2.2.5 Pengkajian/Tes Afasia

Berbagai macam tes afasia dapat dipergunakan sebagai pengkajian. Penggunaan


macam tes ini tergantung pada kebutuhan. Observasi klinis tanpa penggunaan alat
pengkajian ditemukan tidak adekuat untuk mengidentifikasi afasia selama fase
akut. Penggunaan instrumen skrining dilakukan untuk mengidentifikasi afasia
secara signifikan (Edwards et al, 2006).

Perawat merupakan salah satu profesional kesehatan yang bertanggung jawab


terhadap afasia, karena perawat setiap hari kontak dengan klien. Dalam fase akut,
afasia sering ditemukan oleh anggota keluarga terdekat dan perawat. Dalam
rehabilitasi keperawatan, observasi, pengkajian dan interpretasi diidentifikasi
sebagai pusat aktivitas. Menurut Bulechek & McClockey (2000), hasil pengkajian
dan identifikasi yang ditemukan dapat digunakan dalam klasifikasi intervensi
keperawatan pada defisit komunikasi (Poslawsky, Schuurmans, Lindeman &
Hafsteindottir, 2010). Skrining perawat dan hasil observasi dapat mendukung
langsung pemeriksaan lebih lanjut dan diagnosa oleh profesional khusus, seperti
neuropsychologist dan speech therapy (Clarkson, 2010).

Berdasarkan hasil review yang dilakukan Salter, Jutai, Foley, Hellings & Teasell
(2006), terdapat dua instrumen untuk menskrining afasia yang digunakan oleh
perawat adalah Frenchay Aphasia Screening Test/FAST dan Ullevaal Screening
Test/ UAS. Dalam literatur penelitian stroke, FAST lebih sering dipakai dan
merupakan instrumen skrining pada afasia. FAST lebih sering digunakan
dibandingkan dengan instrumen pengkajian afasia lainnya (Salter, Jutai, Foley,
Hellings & Teasell, 2006, Enderby & Crowby, 1996).

FAST terdiri 18 item yang mengkaji empat aspek bahasa (pemahaman, ekspresi
verbal, membaca dan menulis) dengan skor 0 – 30 (Enderby et al, 1987 dalam
Lightbody et al, 2007). Dikatakan afasia ialah bila skor < 27 pada usia diatas 60
tahun atau bila skor <25 pada usia dibawah 60 tahun.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Menurut Salter (2006), FAST mempunyai kelebihan dan kekurangan, seperti :
a. Kelebihan
1. FAST dikembangkan dan digunakan oleh non spesialis, seperti staf
medical junior, perawat, terapi okupasi dan lainnya untuk mengidentifikasi
gangguan bahasa.
2. Tes ini sederhana, metodenya singkat dan cepat hanya memerlukan waktu
3 – 10 menit, sehingga dapat digunakan pada pasien yang tidak toleransi
dalam waktu yang lama dalam mengkaji pasien afasia.
3. Instrumen ini dapat dipakai selama fase akut dan paska akut stroke.
4. FAST mengkaji aspek bahasa ke dalam empat area, seperti pemahaman,
ekspresi verbal, membaca dan menulis.
5. Instrumen ini dapat dipakai diruangan yang sibuk dan situasi rumah,
mempunyai validitas yang baik ketika dipakai oleh non spesialis.
6. FAST menunjukkan validitas yang baik (r <`0.73 – 0.91), memiliki
sensitivitas yang tertinggi 87% dan spesifitas 80% dibandingkan dengan
instrumen UAS. UAS dikembangkan berdasarkan FAST. Validitas FAST
terhadap Functional Communication Profile (FCP) adalah baik dengan
korelasi koefisien 0.87 (P<0.001), dan reliabilitas dengan koefisien
Kendall’s adalah 0.97.

b. Kekurangan :
Penilaian FAST menjadi kurang baik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
seperti gangguan lapang pandang, gangguan visual, tidak ada perhatian,
konsentrasi yang menurun atau pasien bingung.

Sedangkan beberapa instrumen yang dipakai dan waktu yang digunakan dalam tes
afasia diklinik, seperti Token Test /TT dengan 21 tugas (20 – 30 menit), Boston
Diagnostic Aphasia Examination/BDAE dengan 27 sub tes (1 – 3 jam), Minnesota
Test for Differential Diagnosis of Aphasia/MTTDDA (3 jam), Functional
Communication Profile/FCP dengan 45 fungsi (20 – 30 menit), Communicative
Abilities in Daily Living/CADL dengan 10 kategori perilaku (2- 3 jam)
(Browndyke, 2002; Kusumoputro, 1992). Dari hasil beberapa penelitian tentang

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


instrumen tersebut, tidak ada satupun evaluasi pengukuran yang membahas seperti
validitas dan relibilitas sebagai dasar dalam mengkaji afasia (Poslawsky,
Schuurmans, Lindeman & Hafsteindottir, 2010). Rata – rata tes tersebut
memerlukan waktu paling cepat sekitar 20 menit dan paling lama sekitar 3 jam,
tentunya dapat sulit dilakukan pada pasien yang tidak toleransi dengan waktu
yang lama.

2.2.6 Penatalaksanaan Afasia


Rehabilitasi afasia saat ini berfokus pada status fungsional pasien afasia dalam
melaksanakan aktivitas sehari – hari (Sundin & Jansson, 2003). Rehabilitasi afasia
dapat memperbaiki pasien dengan gangguan berbahasa agar menjadi produktif
atau memperbaiki kualitas hidupnya (Goldstein, 1987, dalam Kusumoputro,
1992). Penanganan yang paling efektif saat ini untuk mengobati afasia adalah
dengan melakukan latihan wicara (Kirshner, 2009, Media Indonesia, 2010).
Menurut Aini (2006), tujuan utama dari latihan wicara adalah mengembalikan
kemampuan dalam berkomunikasi yang akurat. Dalam hal ini meliputi
percakapan, membaca atau menulis, mengkoreksi angka/kata lebih baik.
Didalamnya meliputi bagaimana membuat suara dan bahasa, termasuk pengertian
dan pemilihan kata yang digunakan. Tujuan spesifik meliputi : kejelasan dalam
ucapan, kemampuan dalam mengerti kata – kata sederhana, kemampuan membuat
perhatian dan kemampuan mengeluarkan kata – kata yang solid/jelas dan dapat
dimengerti.

Dalam memberikan latihan wicara perlu memperhatikan prinsip – prinsip, seperti:


a. Terlepas dari jenis terapi afasia yang digunakan, hasilnya akan lebih baik jika
intensitas terapi ditingkatkan.
b. Efektifitas terapi afasia akan meningkat jika terapi menggunakan bentuk
stimulus audio dalam bentuk musik dan stimulus visual dalam bentuk gambar
– gambar serta lukisan. Jenis stimulus ini sebaiknya digunakan secara rutin
selama mengikuti sesi terapi afasia.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


c. Terapi dengan pendekatan strategi komunikasi. Upaya pendekatan ini adalah
mengembangkan kemampuan komunikasi meskipun pasien masih tetap
mengalami afasia (Holland, 1982 dalam Kusumoputro, 1992).

Menurut Smeltzer & Bare (2002), pada dasarnya terdapat minimal empat hal yang
harus dilakukan perawat pada klien afasia yaitu : a) meningkatkan harga diri
positif b) meningkatkan kemampuan komunikasi c) meningkatkan stimulasi
pendengaran d) membantu koping keluarga.

Menurut Tarigan (2009), beberapa bentuk terapi afasia yang paling sering
digunakan, adalah :
a. Terapi kognitif linguistik
Bentuk terapi menekankan pada komponen emosional bahasa. Sebagai contoh,
beberapa latihan akan mengharuskan pasien untuk menginterpretasikan
karakteristik dari suara dengan nada emosi yang berbeda – beda. Ada juga
yang meminta pasien mendeskripsikan arti kata seperti kata – kata “gembira”.
Latihan seperti ini akan membantu pasien mempraktekkan kemampuan
komprehensif sementara tetap fokus pada pemahaman komponen emosi dari
berbahasa.
b. Program Stimulus
Jenis terapi ini menggunakan berbagai modalitas sensori, Termasuk gambar –
gambar dan musik. Program ini diperkenalkan dengan tingkat kesukaran yang
meningkat dari tingkat yang mudah ke tingkat yang sulit.
c. Stimulation – Fascilitaion Therapy
Jenis terapi afasia ini lebih fokus pada semantik (arti) dan sintaksis (susunan
kalimat) dari bahasa. Stimulus utama yang digunakan selama terapi adalah
stimulus audio. Prinsip terapi ini yaitu peningkatan kemampuan berbahasa
akan lebih baik jika dilakukan dengan pengulangan.
d. Terapi kelompok (group therapy)
Dalam terapi ini pasien disediakan konteks sosiak untuk mempraktekkan
kemampuan komunikasi yang telah mereka pelajari selama sesi pribadi. Selain
itu mereka juga akan mendapatkan umpan balik dari para terapis dan pasien

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


lainnya. Hal ini bisa juga dilakukan dengan anggota keluarga. Efeknya akan
sama sekaligus juga mempererat komunikasi pasien dengan orang – orang
tercinta mereka.
e. PACE (Promoting Aphasic’s Communicative Effectiveness)
Ini merupakan bentuk terapi pragmatik yang paling terkenal. Jenis terapi ini
bertujuan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan
percakapan sebagai alatnya. Dalam terapi pasien akan terlibat percakapan
dengan terapis. Untuk menstimulasi komunikasi spontan, jenis terapi ini
menggunakan lukisan – lukisan, gambar serta benda – benda visual.
f. Terapi Intonasi Melodi
Metode ini terutama dipergunakan untuk pasien dengan curah verbal yang
sangat kurang yang disebabkan oleh kelainan dihemisfer kiri, sedangkan
hemisfer kanan masih utuh. Dasar metode ini adalah menyalurkan stimulus
melodik dari hemisfer kiri ke arah hemisfer kanan. Hemisfer kanan diketahui
mempunyai fungsi untuk membuat interpretasi proses non verbal seperti
musik atau melodi dan diketahui ada hubungan transkalosal antara korteks
auditorik asosiasi pada hemisfer kiri dan kanan, sehingga diharapkan terjadi
curah verbal yang bersifat melodik.

2.2.7 Pemulihan Wicara-Bahasa Pada Afasia


Menurut Prins dan Maas (1993 dalam Kusumoputro, 1992), bahwa faktor – faktor
yang mempengaruhi pemulihan wicara – bahasa pada afasia adalah :
a. Luas cedera
Pada hakekatnya luasnya kerusakan berhubungan erat dengan kemungkinan
adanya gangguan tambahan. Gangguan visual, gangguan motoris (terutama bila
berkaitan dengan proses berbicara), gangguan auditif lain, gangguan daya ingat
dan gangguan emosional akibat kerusakan otak dapat sangat menghambat
pemulihan.
b. Letak cedera
Afasia akibat kerusakan transkortikal mempunyai prognosis yang lebih baik
daripada afasia akibat kerusakan perisilvis. Tersumbatnya arteria cerebri
posterior pada mulanya dapat mengakibatkan afasia, tetapi ini hanya bersifat

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


sementara. Sebaliknya afasia thalamis ternyata tidak pulih secepat dan
menyeluruh seperti yang dulu diperkirakan.
c. Keparahan Afasia
Parahnya afasia pada periode awal biasanya bukan merupakan faktor peramal
yang baik mengenai pemulihan karena pembentukan edema dan berkurangnya
persediaan darah dapat membuat afasia tambah lebih parah daripada yang
ternyata kemudian. Semakin parah afasia yang diderita semakin kurang
kemungkinan terjadinya pemulihan menyeluruh.
d. Umur
Tidak ada petunjuk bahwa umur berkaitan dengan pemulihan. Disisi lain, tidak
mustahil bahwa umur berperan. Kecepatan proses penyembuhan secara umum
pada usia dewasa lebih lambat dibanding pada usia anak-anak, khususnya pada
stroke, kecepatan penyembuhan pada orang dewasa memiliki prognosis yang
buruk oleh karena neural plasticity (Mc. Caffrey, 2008). Selain itu dengan
bertambah tuanya seseorang, terdapat kemungkinan lebih besar untuk terkena
berbagai penyakit dan cacat tubuh (penyakit jantung dan pembuluh darah,
penyakit gula) yang dapat mempengaruhi proses pemulihan afasia.
e. Intelegensi dan Pendidikan
Ada dugaan bahwa tingkat inteligensi dan pendidikan yang lebih tinggi
merupakan faktor positif bagi pemulihan afasia, tetapi hal ini tidak didukung
oleh bukti. Tingkat inteligensi dan pendidikan yang tinggi diiringi oleh tingkat
aspirasi yang lebih tinggi pula dengan segala frustasinya. Ada kemungkinan
bahwa tingkat inteligensi yang lebih tinggi memacu pemulihan gangguan afasia
yang lebih besar, tetapi hal ini tidak dapat dihubungkan dengan keuntungan
komunikatif yang lebih besar.
f. Keterlibatan keluarga
Penanganan terpadu antara terapis dengan anggota keluarga pasien merupakan
faktor yang cukup penting dan kunci keberhasilan dalam proses penanganan
afasia. Menurut Bullan, Chiki and Stern (2007), keterlibatan anggota keluarga
dan teman dalam latihan dapat meningkatkan efektifitas rehabilitasi. Selain itu
lingkungan keluarga juga merupakan lingkungan yang cocok untuk
menstimulasi kemampuan berbahasa afasia, karena stimulasi tersebut dapat

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


dilakukan secara tidak formal, dapat memilih waktu yang tepat, saat pasien
dalam keadaan bermotivasi dan anggota keluarga cukup tahu mengenal hal
ikhwal keadaan pasien (Prins & Maas, 1993, Kusumoputro, 1992).

Hal yang harus dipahami oleh keluarga adalah bahwa pasien afasia tetap
membutuhkan kesempatan mendengar pembicaraan orang lain secara normal.
Bila keluarga mengabaikan pasien stroke yang mengalami afasia, misalnya
mendiamkan atau menganggap seolah – olah pasien tidak memahami
pembicaraan keluarga, pasien akan merasa frustasi dan sakit hati (Mulyatsih &
Ahmad, 2008).
Anggota keluarga dapat dianjurkan :
1. Mengucapkan bahasa yang sederhana dengan kata – kata pendek dan
kalimat yang sederhana.
2. Mengulang isi kata atau menulis kata kunci untuk menjelaskan arti.
3. Mempertahankan percakapan seperti pada orang dewasa.
4. Mengurangi distraksi seperti bunyi radio atau televisi yang keras, bila
memungkinkan saat berkomunikasi.
5. Melibatkan pasien afasia dalam percakapan dengan menanyakan dan
meminta pendapat pasien.
6. Menganjurkan beberapa jenis komunikasi, seperti bicara, menunjuk,
gambar.
7. Hindari mengkoreksi ketika pasien bicara.
8. Memberikan waktu untuk memahami pembicaraan.
9. Melibatkan pasien dalam kegiatan diluar rumah, seperti mengikutsertakan
dalam klub stroke ( http://www.nidcd.nih.gov).

Menurut Salter, Foley & Teasell, 2010, peningkatan dukungan keluarga yang
tersedia dapat menjadi strategi penting dalam mengurangi atau mencegah tekanan
jiwa dan depresi paska stroke. Dukungan keluarga yang dapat diberikan pada
pasien stroke dengan afasia adalah dalam bentuk empat dimensi seperti dimensi
informasi, emosional, instrumental dan penghargaan.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Dimensi dukungan keluarga menurut Sarafino (2004), Friedman (2010) adalah :
a. Dimensi informasi
Dukungan ini berupa pemberian saran percakapan atau umpan balik tentang
bagaimana seseorang melakukan sesuatu. Aspek-aspek dalam dukungan ini
adalah nasehat, saran, petunjuk dan pemberian informasi.
b. Dimensi emosional
Dukungan ini melibatkan ekspresi, rasa empati dan perhatian terhadap
seseorang, adanya kepercayaan, perhatian dan mendengarkan atau didengarkan
saat mengeluarkan perasaanya sehingga membuat pasien merasa lebih baik,
memperoleh kembali keyakinannya, merasa dimiliki dan dicintai pada saat
stress. Dimensi ini memperlihatkan adanya dukungan dari keluarga, adanya
pengertian dari anggota yang lain terhadap anggota keluarga dengan afasia.
c. Dimensi instrumental
Dukungan yang bersifat nyata, dimana dukungan ini berupa bantuan langsung,
seperti bantuan mengerjakan tugas tertentu pada saat mengalami stress atau
penyediaan sarana untuk mempermudah atau menolong orang lain, termasuk
didalamnya selalu memberikan peluang waktu.dan dalam bentuk uang.
d. Dimensi penghargaan
Dimensi ini terjadi melalui ekspresi berupa sambutan yang positif dengan
orang – orang disekitarnya, dorongan atau pernyataan yang setuju terhadap ide
– ide atau perasaan individu. Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan
umpan balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah.

2.3 Kemampuan Fungsional Komunikasi Pasien Afasia

2.3.1 Konsep Dasar


Afasia tergolong gangguan komunikasi dan komunikasi merupakan bagian
penting dalam kehidupan manusia. Komunikasi verbal meliputi kata – kata yang
diucapkan maupun yang ditulis (Potter & Perry, 2005). Seseorang yang
berkomunikasi akan menggunakan sederetan fungsi seperti simbolisasi, respirasi,
resonansi, fonasi, artikulasi, lafal, prosodi dan kemampuan komunikasi
(Kusumoputro, 1992). Gangguan wicara – bahasa keduanya merupakan gangguan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


komunikasi. Gangguan berbicara secara praktis disebut sebagai disartria yang
terdiri dari gangguan artikulasi, fonasi dan fluensi yang dapat disebabkan lesi pada
sistem neuromuskular untuk wicara, sedangkan afasia merupakan gangguan
berbahasa yang disebabkan oleh lesi pada hemisfer kiri (dominan) (Kusumoputro,
1992; Prins & Maas, 1993; Lumbantobing, 2011).

Bahasa merupakan instrumen dasar bagi komunikasi manusia dan merupakan


dasar dan tulang punggung bagi kemampuan kognitif. Dalam berbahasa tercakup
berbagai kemampuan yaitu bicara spontan, pemahaman, menamai, repetisi
(mengulang), membaca dan menulis (Lumbantobing, 2011). Bahasa akan menjadi
efektif hanya jika setiap orang yang berkomunikasi memahami pesan tersebut
dengan jelas (Potter & Perry, 2005).

Gangguan komunikasi verbal akibat afasia menyebabkan klien mengalami


hambatan dalam melaksanakan aktivitas hidup sehari – hari, sehingga
menyebabkan distres pada pasien. Hal ini terjadi karena komunikasi merupakan
proses pertukaran informasi diantara dua orang atau lebih atau terjadi pertukaran
ide – ide atau pemikiran (Berman, Snyder, Kozier & Erb, 2008). Sedangkan
menurut Sundin & Jonson (2003), melalui komunikasi seseorang dapat
mengekspresikan perasaan dan integritas diri. Lebih lanjut menurut Arwani (2003)
komunikasi mempunyai kegunaan 1) membantu perkembangan intelektual dan
sosial 2) identitas diri 3) membantu memahami kenyataan yang ada disekeliling
kita 4) sarana pembentuk kesehatan mental

Pada pasien afasia karena keterbatasan dalam berkomunikasi verbal, sehingga


menyebabkan klien merasa diisolasi, tidak utuh, tidak berdaya. Jika klien tidak
dapat berinteraksi dengan orang lain karena penyakit, keterbatasan fisik, gangguan
karena terapi atau alasan emosi, maka perawat harus mendorong pasien untuk
meningkatkan kemampuan komunikasinya (Potter & Perry, 2005). Hal ini karena
peran seorang perawat sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan, diharapkan
mampu memberikan asuhan keperawatan kepada pasien stroke secara
komprehensif dan terorganisir sejak fase hiperakut hingga fase pemulihan agar
dapat mempengaruhi outcome pasien paska stroke (Rasyid & Soertidewi, 2007).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Henderson mendefinisikan keperawatan sebagai upaya membantu individu untuk
mendapatkan kebebasan dalam beraktivitas dan berkontribusi dalam mencapai
aktivitas yang mandiri. Salah satu kebutuhan dasar manusia menurut Henderson
(dalam Tomey & Aligood, 2006) adalah berkomunikasi dengan orang lain untuk
mengekspresikan emosi, kebutuhan rasa takut dan mengemukakan pendapat.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi pada pasien afasia
adalah dengan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Keterampilan
mendengar dan juga berbicara ditekankan pada program rehabilitasi. Pasien dapat
dibantu dengan menyediakan papan komunikasi. Papan komunikasi ini berisi
gambar, kata – kata, huruf atau simbol aktivitas kegiatan harian pasien sesuai
dengan kegiatan yang diminta atau diungkapkan. Yang perlu diingat adalah bahwa
papan komunikasi ini sebagai media komunikasi untuk mengantisipasi keinginan
pasien dan mencegah pasien frustasi. Pasien harus dianjurkan untuk
mengungkapkan kebutuhan pribadi dan menggunakan papan tulis bila tidak
mampu mengekspresikan kebutuhan.(Smeltzer & Bare, 2002; Mulyatsih &
Ahmad, 2008; Potter & Perry, 2005).

2.3.2 Pengkajian Kemampuan Fungsional Komunikasi


Kemampuan fungsional komunikasi dapat dinilai dengan Derby Functional
Communication Scale. Instrumen ini dikembangkan oleh Derby et al, pada tahun
1997 untuk pengkajian observasi fungsional komunikasi pada pasien dengan
gangguan komunikasi didapat selama di rumah sakit dan unit rehabilitasi.
Instrumen ini dapat digunakan oleh non speech and language dan petugas
kesehatan. DFCS menunjukkan hubungan yang signifikan dengan pengukuran
komunikasi lain, seperti FAST, Speech Questionnaire (SQ) dan Edinburgh
Functional Communication Profile (EFCP). DFCS terdiri dari tiga skala yaitu
Ekspresi (E), Pemahaman (U) dan Interaksi (I). Setiap skala terdiri dari 8
pertanyaan dengan rentang terendah 0 dan tertinggi 8. Nilai 0 berarti pasien tidak
mampu mengekspresikan kebutuhan, tidak ada pemahaman atau tidak ada
interaksi pada skala E, U dan I dan nilai 8 = tidak menunjukkan gangguan pada
skala E, U dan I. Kesimpulan yang diperoleh semakin tinggi nilai yang diperoleh,

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


maka akan menunjukkan kemampuan fungsional komunikasi yang lebih baik pada
skala E, U dan I. Skor dari ketiga penilaian ekspresi, pemahaman dan interaksi
adalah 0 – 24.

2.4 Augmentative & Alternative Communication (AAC)

2.4.1 Konsep Dasar

Menurut Mustonen et al (1991, dalam Johnson, Hough, King Vos Paul & Jeffs,
2008), AAC merupakan perangkat pendukung atau pengganti kemampuan
komunikasi verbal seseorang. Menurut Garret (2003) intervensi AAC merupakan
multimodal secara alami, seperti isyarat, tanda dan bantuan strategi komunikasi.
Menurut Poslawsky, Schuurmans, Lindeman & Hafsteindottir (2010) AAC
merupakan komunikasi non verbal, seperti isyarat, atau menggunakan perangkat,
seperti papan alfabet, menu – menu bergambar. Dari ketiga pernyataan tersebut
dapat disimpulkan bahwa AAC merupakan alat bantu pengganti komunikasi
verbal, seperti papan alfabet, isyarat dan menu – menu bergambar.

AAC merupakan salah satu media latihan wicara yang efektif sebagai program
rehabilitasi pada pasien stroke dengan afasia. Menurut Schlosser (2008),
intervensi AAC mampu memfasilitasi produksi suara. Hal ini didukung oleh
sistematik review Finke, Light & Kitko (2008), tentang efektivitas komunikasi
perawat pada pasien dengan masalah komunikasi pada pengunaan AAC
menunjukkan bahwa strategi ini dapat membantu perawat dan pasien untuk
berkomunikasi dengan lebih baik satu sama lain, ketika komunikasi verbal bukan
merupakan satu pilihan. Hal ini disebabkan kondisi medis pasien afasia yang
mengalami keterbatasan, sehingga banyak pasien yang tidak mampu untuk
berpartisipasi secara verbal dalam interaksi komunikasi pada saat latihan wicara
(Beukelman et al., 2007).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2.4.2 Tujuan AAC
Tujuan utama penggunaan AAC adalah agar pasien dapat terlibat secara efektif
dalam interaksi dengan keluarga, teman, perawat dan petugas kesehatan lainnya
untuk mengatasi gangguan berkomunikasi (Beukelman et al, 2007 dalam Finke,
Light & Kitko (2008).

2.4.3 Kelompok pengguna AAC


AAC digunakan sebagai pendukung dan pelengkap pada pasien dengan
keterbatasan komunikasi verbal. Beberapa kondisi seperti cerebral palsy,
gangguan intelektual, autisme, dyspraxia, afasia, stroke batang otak, amyotropic
lateral sclerosis, penyakit parkinsosn, multiple skelerosis, dimensia, traumatic
brain injury memerlukan AAC (Wikipedia, 2011). Berbagai hasil penelitian telah
sukses menggunakan AAC sebagai alat bantu dalam berkomunikasi non verbal,
ketika komunikasi verbal bukan merupakan suatu pilihan. Karakteristik pasien
afasia yang memiliki keterbatasan kognitif, motivasi dan situasi sosial, sehingga
AAC memberikan keuntungan pada kemampuan bahasa dan kekuatan komunikasi
(Van de Standt – Koenderman, 2004 dalam Clarkson, 2010). Pasien dengan
gangguan komunikasi berat dan kebutuhan komunikasi yang komplek, umumnya
memerlukan perangkat AAC dan strategi untuk memfasilitasi komunikasi
(Beukelman & Mirenda, 2005 dalam Finke, Light & Kitko, 2008). AAC juga
efektif diberikan pada pasien dengan afasia berat (Diener & Rosario, 2004, dalam
Poslawsky, Schuurmans, Lindeman & Hafsteindottir, 2010).

2.4.4 Klasifikasi AAC dan Keterkaitan dengan NIC (Nursing Intervention


Classification)

AAC diklasifikasikan menjadi tanpa menggunakan perangkat/ unaided atau


menggunakan perangkat/aided (Leonard La Ponte, 2005 dalam Wikipedia, 2011).
Metode komunikasi tanpa menggunakan perangkat fokusnya pada penggunaan
tubuh (user’s body) untuk menyampaikan pesan yang komunikatif. Strategi ini
meliputi komunikasi melalui vokalisasi, tangan, wajah dan/kaki dan tanda manual
(bahasa isyarat Amerika, pantomim, isyarat, ekspresi wajah, pantomim, sistem

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


kedipan mata dan kepala yang dianggukkan (Finke, Light & Kitko, 2008;
Wikipedia, 2011). Sedangkan metode komunikasi yang menggunakan perangkat
mencakup penggunaan kertas dan pensil, gambar, papan alfabet, buku komunikasi
sampai menggunakan komputer laptop dengan sintesis wicara.

Sistem komunikasi yang menggunakan alat diklasifikasikan menjadi AAC


teknologi sederhana/low technology yaitu tanpa menggunakan elektronik mulai
dari kartu bergambar, buku komunikasi dengan kata – kata yang ditampilkan oleh
gambar dan simbol yang dapat ditunjukkan oleh pasien, papan komunikasi yang
sederhana, papan alfabet, alat tulis, majalah/surat kabar. .

Sedangkan AAC yang berteknologi tinggi/high technology menggunakan sistem


komputer/elektronik dengan kemampuan multimedia. Teknologi tinggi
mengandung mikrokomputer yang dapat menyimpan dan memperoleh kembali
informasi pesan/hasil wicara serta dapat dicetak. Software komputer ini dapat
menampilkan kata atau gambar, mengucapkan kata dengan menampikan
kecepatan bicara, mencatat bicara pasien dan mengulang kembali apa yang
diucapkan pasien, sehingga cocok pada kondisi hemiplegi atau paraplegi. AAC
dapat meningkatkan kemampuan komunikasi pasien (Finke, Light & Kitko, 2008;
La Ponte, 2005 dalam Wikipedia, 2011). Hal ini didukung oleh penelitian Salter et
al (2005), terapi komputer dapat meningkatkan kemampuan wicara – bahasa.
Hasil penelitian oleh Pederson et al (2001), dengan melakukan percobaan pada
tiga pasien dengan anomia, seperti afasia ringan, gangguan dalam menemukan
kata setelah menggunakan terapi komputer, ditemukan terjadi peningkatan
kemampuan bahasa.

Sedangkan menurut NIC, intervensi keperawatan pada pasien gangguan


komunikasi verbal bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi pada
pasien afasia. Menurut Dochterman & Bulecheck (2004) peningkatan komunikasi
merupakan bantuan dalam menerima dan mempelajari metode alternatif pada
pasien dengan masalah komunikasi.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Beberapa alat bantu komunikasi yang dapat diberikan pada pasien afasia menurut
NIC dalam (Ackley & Ladwig, 2011; Ackley & Swan, 2008; Dochterman &
Bulecheck, 2004; Smeltzer, Bare, Hinkle & Cheever, 2010), adalah penggunaan
papan alfabet, papan gambar atau flash card yang berisi gambar, isyarat/gerak
tangan, stimulus visual, objek, alat tulis, menggunakan kata – kata yang
sederhana, bahan – bahan yang berisi tulisan yang dapat ditunjuk oleh pasien.

Bila dilihat intervensi keperawatan di atas, intervensi tersebut merupakan bagian


dari AAC. Hanya pada AAC, alat bantu komunikasinya mempunyai banyak
variasi dibandingkan dengan jenis AAC yang terdapat dalam NIC, seperti
pantomim, tanda bahasa, komputer dengan kemampuan multimedia. Berdasarkan
klasifikasi AAC, intervensi keperawatan tersebut merupakan jenis AAC low
technology yang dapat menggunakan alat /tanpa alat. Menurut Fried – Oken et al
(1991 dalam Finke, Light & Kitko, 2008), metode komunikasi tanpa
menggunakan perangkat dan menggunakan perangkat sederhana (gambar, papan
alfabet, kertas dan pensil merupakan AAC yang paling sering digunakan dirumah
sakit pada pasien dengan masalah komunikasi. Hal ini mungkin dapat disebabkan
karena penggunaan AAC yang sederhana lebih familiar, mudah diakses dan
dilakukan untuk memfasilitasi/mendukung komunikasi pada pasien.

Penggunaan komputer yang merupakan AAC modern (high technology) dapat


diberikan pada pasien afasia sebagai alat bantu komunikasi afasia (Ignatavicius &
Workman, 2010). Tetapi penggunaan komputer ini perlu mempertimbangkan
kemampuan pasien dan perawat. Hal ini dapat disebabkan karena tidak seluruh
pasien stroke familiar dengan menu – menu yang ada dikomputer sehingga dapat
menghambat untuk melakukan tugas – tugas yang diberikan melalui komputer.
Kemampuan dan kondisi pasien merupakan komponen utama efektifnya
dilakukan latihan wicara (Greener & Grant dalam Powlasky, Schuurmans,
Lindeman & Hafsteinsdottir, 2010).

Pada umumnya berbagai terapi modalitas pada gangguan komunikasi ini dapat
menggabungkan metode komunikasi yang menggunakan alat atau tidak

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


menggunakan perangkat (Leonard La Ponte, 2005 dalam Wikipedia, 2011).
Metode akses spesifik yang dipilih tergantung pada kemampuan dan keahlian
pengguna (Wikipedia, 2011). Selain itu penggunaan AAC juga perlu
mempertimbangkan faktor – faktor, seperti kemampuan pemahaman pasien,
karakteristik yang berhubungan dengan aspek sosial, kekuatan dan kelemahan
pembelajaran dan kemampuan intelektual.

Gambar 2.3 Low Technology dan High Technology


(Sumber : www. wikipedia.org/wiki, 2011)

2.4.5 Durasi dan intensitas latihan wicara


Berbagai hasil penelitian bervariasi menjelaskan tentang durasi dan intensitas
latihan berkomunikasi, yaitu :
a. Bakheit et al (2007) membandingkan 2 kelompok yang menggunakan media
gambar sebagai latihan wicara (orientasi tugas menyeleksi gambar, penamaan
objek, menjelaskan dan mengenalkan hubungan antara kedua item) dengan
durasi yang berbeda (kelompok intensif = 5 jam dan kelompok standar = 2
jam) yang dimulai sedini mungkin selama 12 minggu, menunjukkan
perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan berbahasa pada kelompok
standar dengan waktu 2 jam (p = 0.002 dibandingkan dengan kelompok
intensif dengan waktu 5 jam (p > 0.05).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


b. Rappaport et al (1999 dalam Powlasky, Schuurmans, Lindeman &
Hafsteindottir, 2010) melakukan penelitian dengan menggunakan media
gambar sebagai latihaan wicara yang diberikan setiap hari selama 5 tahun
dengan lama latihan 3 jam/minggu, sebagian menunjukkan kemampuan
berbahasa, sedangkan sebagian lagi menunjukkan sedikit atau tidak ada
perbaikan.
c. Bhogal, Teasell, Foley & Speechley (2003) yang menggunakan constraint
induced therapi ( menggunakan kartu berisi gambar) sebagai latihan wicara,
membandingkan kelompok yang menerima terapi 3 jam selama 10 hari dan
kelompok standar yang menerima 1 jam selama 4 minggu, menunjukkan
perbedaan signifikan pada kelompok terapi yang menerima 3 jam selama 10
hari dibandingan dengan kelompok standar yang menerima 1 jam selama 4
minggu menunjukkan kemampuan penamaan dan pemahaman bahasa yang
dinilai dengan tes wicara (Token Test).

Dari beberapa hasil penelitian tersebut, menunjukkan variasi tentang intensitas


dan durasi dalam latihan wicara, tetapi yang terpenting latihan harus dimulai
sedini mungkin setelah fase akut dan pasien stabil. Latihan secara intensif dapat
meningkatkan neural plasticity, reorganisasi peta kortikal dan meningkatkan
fungsi motorik. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Xerry, et al
(1998), setelah melakukan percobaan pada binatang dengan lesi otak fokal akut
dengan memberikan latihan perilaku secara intensif (Bakheit et al., 2007).
Penelitian itu didukung oleh hasil penelitian Robey (1998) dengan melakukan
metanalisis pada 55 artikel tentang terapi afasia, bahwa terapi dapat meningkatkan
hasil positif kira – kira 1.83 kali pada individu yang menerima intervensi daripada
yang tidak menerima intervensi (Clarkson, 2010).

Penelitian tentang penyembuhan spontan kemampuan bicara menunjukkan


pemulihan tercepat selama 2 atau 3 bulan dan puncaknya terjadi setelah 1 tahun
(Bathier, 2005). Didukung oleh penelitian Laska (2007) bahwa penyembuhan
bicara tercepat terjadi dalam bulan pertama setelah paska stroke. Menurut Darley
(1977 dalam Kusumoputro, 1992), bahwa terapi yang intensif akan memberikan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


suatu manfaat pemulihan nyata pada pasien apabila diberikan pada waktu terjadi
pemulihan spontan dan hasil maksimal akan didapatkan apabila terapi dimulai
awal dan berlanjut untuk periode beberapa bulan.

2.4.6 Hasil/outcome AAC


Hasil yang dicapai pada pemberian AAC adalah kualitas hidup. Hal ini dapat
terjadi karena pasien yang menggunakan AAC pada umumnya memiliki kepuasan
dalam hubungan dengan keluarga, teman dan aktivitas hidup yang menyenangkan.
Masalah yang berhubungan dengan ketidakpuasan adalah pelayanan dan
dukungan AAC yang menyebabkan hambatan dalam penggunaan AAC (Hamm
& Mirenda, 2000, dalam Wikipedia, 2011). Didukung oleh penelitian Johston et al
(2004 dalam Clarkson, 2010), bahwa AAC dapat meningkatkan kemampuan
komunikasi pasien, memperbaiki kehidupan seseorang dengan meningkatkan
kemandirian dan perkembangan hubungan sosial.

2.4.7 Prosedur Pemberian Latihan Komunikasi dengan AAC


Menurut Bourgeois, Dijkstra, Burgio & Burge (2001); Johnson, Hough, King, Vos
& Jeffs (2008); Costello, Patak & Pritchard (2010) yang telah dimodifikasi,
prosedur pemberian AAC adalah :
a. Pra Kegiatan
1. Sebelum memulai pelaksanaan perawat harus melakukan pengkajian terhadap
tanda – tanda vital, kesadaran pasien komposmentis dan stabil, fungsi
pendengaran, fungsi penglihatan/visual, status emosi pasien, apakah pasien
buta huruf atau tidak untuk memberikan alat bantu komunikasi. Pasien dapat
menggunakan alat bantu dengar, gigi palsu dan kaca mata selama proses
pelaksanaan.
2. Pastikan lingkungan sekitar pasien kondusif, seperti menghindari kebisingan
dengan membawa pasien ke ruangan khusus, untuk memudahkan pasien
berkonsentrasi dalam pelaksanaan kegiatan.
3. Perawat dapat melibatkan keluarga untuk mendampingi pasien,
mengobservasi pelaksanaan dan membantu dalam berkomunikasi dengan
pasien afasia.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


4. Sebelum memulai kegiatan, perawat dapat melakukan pengkajian terhadap
kemampuan wicara – bahasa, seperti kemampuan ekspresi verbal, membaca,
pemahaman, menulis menggunakan format FAST. Dari pemeriksaan FAST
dapat diketahui apakah pasien termasuk afasia motorik, sensorik atau afasia
global.
5. Dalam berkomunikasi, perawat tetap memperhatikan pedoman dalam
berkomunikasi dengan pasien afasia.
6. Pasien dapat diberikan berbagai alat bantu komunikasi, tergantung kondisi dan
kemampuan pasien.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan pemberian AAC pada pasien afasia motorik adalah :
1. Perawat duduk berhadapan dengan pasien/di samping tempat tidur dan
pertahankan kontak mata.
2. Perawat memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada pasien dan keluarga
maksud dan tujuan dilakukan latihan komunikasi dengan suara yang jelas dan
dapat dipahami oleh pasien.
3. Hindarkan berbicara dengan suara yang keras/berteriak pada saat
berkomunikasi dengan pasien karena dapat membuat pasien merasa lebih
frustasi dengan keterbatasannya.
4. Perawat dapat mulai berkomunikasi dengan memberikan AAC sederhana yang
menggunakan bantuan dan tanpa bantuan, seperti :
a) Papan komunikasi/buku komunikasi
Berikan papan komunikasi yang berisi gambar dan tulisan. Papan
komunikasi yang berisi gambar dapat menjadi pilihan bagi pasien yang
tidak dapat membaca (buta huruf). Posisikan papan komunikasi yang
nyaman bagi pasien dan dapat dibaca. Tampilan papan komunikasi berisi
simbol – simbol/gambar dapat berhubungan dengan nyeri/rasa nyaman,
emosi, posisi, kebutuhan aktivitas rutin sehari – hari yang familiar dengan
pasien, seperti mandi, makan dan minum, BAB/BAK dan istirahat.
Ajarkan pasien bagaimana menggunakan alat komunikasi tersebut. Pasien
dan keluarga dapat diperkenalkan penggunaan papan komunikasi yang

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


berisi tampilan gambar. Ajarkan setiap simbol/ gambar yang ada pada
papan komunikasi. Bantu pasien untuk menunjukkan setiap bagian,
misalnya bila pasien sedang marah/sedih, pasien dapat menunjukkan
bagian gambar emosi sedih/marah, bagian tubuh yang menunjukkan pasien
merasa tidak nyaman. Berikan waktu pada pasien untuk memahami
informasi yang diberikan. Jika pasien tidak mampu mengidentifikasi
simbol – simbol gambar tersebut, ganti simbol gambar menjadi yang lebih
familiar, jelaskan hubungan antara simbol dengan artinya dalam bentuk
kalimat dan instruksikan pasien untuk mengulangnya dalam bentuk simbol
lain. Misalnya simbol piring + sendok yang mengidentifikasi saya ingin
makan. Bila pasien tidak dapat mengidentifikasi, perawat dapat membantu
dengan menunjukkan gambar, kemudian perawat menanyakan gambar
apakah ini?

Tunjukkan buku komunikasi yang berisi gambar secara berulang – ulang


dan anjurkan pasien untuk mengucapkan kata- kata dalam suara keras
sehingga dapat melatih diotot – otot wicara dan vokalisasi. Minta klien
untuk menyebutkan nama – nama benda yang ditunjukkan oleh pasien dan
jelaskan nama objek tersebut. Bila pasien tidak mampu menyebutkan kata
tersebut, bantu pasien menyebutkan suku pertama kata tersebut atau
dengan menggunakan kalimat penuntun. Misalnya : pensil. Kita dapat
membantu dengan suku kata pen… atau dengan kalimat : “kita menulis
dengan…”. Instruksikan pasien untuk mengulang kata – kata tersebut. Jika
memungkinkan gunakan ekspresi wajah, gerakan tubuh dan irama suara
sehingga pasien dapat memahami pembicaraan.
b) Papan alfabet
Papan alfabet dapat digunakan pada pasien yang tidak buta huruf. Akses ini
dapat memungkinkan pasien untuk mengatakan apa yang mereka inginkan.
Lakukan pengkajian abjad ABC dan vokal yang diucapkan sebelum
menggunakan papan alfabet. Minta pasien untuk mengeja abjad ABC dan
bantu pasien untuk mengulang kembali mengeja abjad tersebut dengan
suara yang keras.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


c) Alat tulis
Pasien dapat diinformasikan dan dibantu untuk menggunakan pulpen dan
kertas untuk menyatakan keinginannya. Minta pasien untuk menulis setiap
keinginannya dikertas, seperti mau makan, minum, kemudian katakan pada
pasien untuk membaca tulisan yang ditulisnya dan perintahkan pada pasien
untuk mengulang kembali apa yang dibacanya. Minta juga pasien untuk
mengeja kata atau bagian yang ditulisnya.
d) Strategi berkomunikasi dengan mengajak pasien bercakap – cakap,
misalnya acara televisi, apa yang dimakan pasien pada sarapan pagi, bacaan
di koran, dll. Upaya pendekatan ini adalah mengembangkan kemampuan
komunikasi.
e) Mendengarkan musik/lagu – lagu. Dengarkan sebuah lagu yang disenangi
pasien, kemudian pasien diajarkan untuk mengambil lagu – lagu tersebut,
kemudian diajarkan menyanyikan kalimat – kalimat pada melodi dan
pasien diminta meniru menyanyi.
f) Foto – foto keluarga. Menunjukkan foto – foto anggota keluarga pasien,
kemudian pasien diminta menunjukkan dan menyebutkan nama anggota
keluarganya, meminta mengulanginya kembali.
5. Berikan pujian atas setiap keberhasilan yang dilakukan, bila pasien belum
menunjukkan kemajuan, berikan motivasi kepada pasien dan keluarga untuk
tetap melanjutkan latihan.
6. Gunakan perangkat lain, seperti rekaman recorder untuk menilai kemajuan
wicara – bahasa/komunikasi pasien. Perawat dapat memutar kembali hasil
rekaman tentang perkembangan wicara-bahasa dan tunjukkan kepada pasien.
Catat setiap simbol – simbol yang diucapkan untuk menilai kemajuan pasien
dan jelaskan kepada pasien setiap perubahan yang dihasilkan pasien.
7. Jika terlihat pasien merasa tidak mood atau mengalami kelelahan, latihan
dapat dihentikan sementara dan perawat dapat kontrak waktu kembali kepada
pasien dan keluarga untuk melanjutkan latihan.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2.5 Depresi pada Pasien Stroke dengan Afasia

2.5.1 Konsep Dasar


Afasia dan depresi merupakan dua gejala sequalae yang terjadi pada stroke
(Dahlin et al, 2008). Menurut Kneebone & Dunmore (2000); Thomas & Lincoln
(2006) diperkirakan prevalensi depresi paska stroke berkisar sekitar 25-79%.
Pasien afasia tidak mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan, tidak
mampu berbicara melalui telepon, tidak mampu menjawab pertanyaan, atau
berpartisipasi dalam percakapan, sehingga membuat pasien menjadi frustasi,
marah, kehilangan harga diri dan emosi pasien menjadi labil. Keadaan ini pada
akhirnya menyebabkan pasien menjadi depresi (Mulyatsih & Ahmad, 2010;
Smeltzer, Bare, Hinkle & Cheever, 2010).

Meskipun penyebab pasti DPS belum diketahui, tetapi berdasarkan hasil


penelitian yang dilakukan oleh Ross, et al (2010), bahwa faktor risiko terjadi DPS
pada pasien afasia adalah 1) faktor biologi, frekuensi serangan stroke dan
keparahan gangguan berbahasa 2) faktor psikososial, seperti kesepian. Penelitian
lain yang dilakukan oleh Schub & Caple (2010), bahwa DPS dapat disebabkan
oleh meningkatnya derajat afasia, meningkatnya keparahan stroke, menurunnya
intelektual, riwayat pribadi atau keluarga dengan depresi atau tinggal sendirian.

DPS dapat diklasifikasikan dalam 3 bentuk, yaitu: (a) ringan, (b) sedang dan (c)
berat. Depresi berat dapat menyebabkan gangguan berupa perasaan
ketidakberdayaan yang berkepanjangan dan berlebih-lebihan sehingga mendorong
pasien stroke untuk bunuh diri (Schulz et al, 2000). Perasaan takut jatuh,
terjadinya serangan stroke ulangan, dan perasaan tidak nyaman oleh pandangan
orang lain terhadap cacat dirinya dapat menyebabkan pasien stroke membatasi diri
untuk tidak keluar dari lingkungannya. Keadaan ini selanjutnya dapat mendorong
penderita kedalam gejala depresi yang berdampak pada motivasi dan rasa percaya
dirinya (Hill, Payne, & Ward, 2000).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2.5.2 Prevalensi Depresi Paska Stroke

Gangguan mood dan ciri depresi biasa ditemukan, tapi seringkali tidak mudah
dikenali pada pasien paska stroke. Penelitian yang dilakukan Robinson pada tahun
1997 melaporkan bahwa prevalensi DPS sangat bervariasi 20% - 65%.
(Suwantara, 2004). Sebagian besar sekitar 40% pasien akan mengalami depresi
dalam 1 – 2 bulan pertama setelah stroke dan sekitar 10% - 20% pasien baru
mengalami depresi beberapa waktu antara 2 bulan sampai dengan 2 tahun setelah
stroke (Suwantara, 2004). Berbeda dengan penelitian yang dilakukan ole Sit et al
(2007) terhadap 95 pasien stroke menemukan kejadian depresi pada 48 jam
setelah masuk rumah sakit sebesar 69% dan 6 bulan setelahnya sebesar 48%.
Sementara menurut Meifi & Agus (2009), dalam sejumlah besar pustaka,
prevalensi DPS dapat terjadi sekitar 6 – 22% pada 2 minggu pertama, 22 – 53%
setelah 3 – 4 bulan, 16- 47% pada tahun pertama.

Frekuensi depresi lebih tinggi pada pasien afasia motorik daripada afasia global
(71%:44%) (Amir, 2005). Pendapat ini sejalan dengan hasil penelitian Signer et
al, (1989 dalam Amir, 2005) bahwa depresi pada pasien afasia motorik lebih
tinggi daripada global (63%:16%). Tingginya frekuensi depresi pada pasien afasia
motorik disebabkan oleh tingginya kesadaran mereka akan kecacatan
/ketidakmampuan pasien. Selain itu, lesi yang menimbulkan afasia motorik juga
menimbulkan depresi. Menegakkan diagnosis depresi pada pasien dengan defisit
pemahaman yang berat agak sulit. Diagnosis dapat dibuat berdasarkan perilaku
yang dapat diobservasi seperti kurang tidur, menolak makan, gelisah, agitasi, atau
retardasi dan adanya pemeriksaan Dexamethason Serum Test (DST) positif yaitu
suatu peneriksaan darah untuk mengetahui depresi.

2.5.3 Etiologi Depresi

Menurut Amir (2005); Andri & Susanto (2008); Meifi & Agus (2009), penyebab
pasti DPS belum diketahui pasti, namun terdapat beberapa teori yang
menjelaskan faktor penyebab DPS, yaitu :

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


a. Faktor biologi
Walaupun penyebab depresi paska stroke tidak diketahui, namun beberapa
penelitian mengatakan lokasi jejas otak memegang peranan otak. Beberapa
peneliti menyokong teori hubungan lateralisasi dengan DPS, tetapi berdasarkan
review yang dilakukan oleh Singh (1998) dan hasil metaanalisis oleh Carson
(2000), tidak menemukan bukti yang konsisten antara lesi dengan terjadinya
depresi (Caeiro, Ferro, Santos & Luisa, 2006). Gejala DPS dapat ditimbulkan
sebagai akibat lesi pada susunan saraf pusat otak dan bisa juga akibat dari
gangguan penyesuaian karena ketidakmampuan fisik dan kognitif paska stroke
(Hawari, 2006; Storor & Byrne, 2006).

Depresi timbul sebagai akibat lesi pada daerah otak yang menyebabkan
terjadinya penurunan sintesis monoamin sehingga terjadi penurunan serotonin
yang merupakan neurotransmitter untuk mempertahankan keadaan emosi tetap
stabil. Penurunan serotonin menyebabkan gangguan suasana hati, tidur dan
nafsu makan (Schub & Caple, 2010). Gangguan suasana hati dimanifestasikan
dengan marah, frustasi, putus asa dan sering menyebabkan depresi. Penelitian
melaporkan sebuah hasil yang signifikan tergantung pada lokasi lesi otak
dengan kejadian depresi paska stroke dilesi hemisfer kiri. Penelitian tersebut
juga menunjukkan adanya tingkat keparahan depresi dengan jauhnya batas
anterior lobus frontalis walaupun demikian tidak semua lesi pada hemisfer kiri
menyebabkan depresi paska stroke (Andri & Susanto, 2008). Pada kondisi
depresi dapat terjadi disregulasi biogenik-amin, seperti serotonin dan
norepinephrin dan disregulasi neuroendokrin seperti aksis hipotalamik-
pituitary-adrenal.

c. Faktor Psikososial
Faktor psikososial yang terdapat pada pasien akibat dampak serangan stroke
memiliki hubungan dengan terjadinya DPS. Stroke dapat berdampak pada
berbagai fungsi tubuh, seperti gangguan motorik, sensorik, bicara dan bahasa,
penglihatan, afek dan gangguan kognitif (Suwantara, 2004). Kondisi ini
dianggap disability bagi pasien, sehingga menimbulkan perasaan tidak berguna,

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


tidak ada gairah hidup dan keputusasaan. Keadaan ini selanjutnya akhirnya
dapat mendorong penderita kedalam gejala depresi yang berdampak pada
motivasi dan rasa percaya diri pasien. Pada pasien afasia mengalami depresi
akibat ketidakmampuan bercakap – cakap dengan orang lain. Klien juga tidak
dapat berbicara melalui telepon, menjawab pertanyaan atau terlibat melalui
percakapan, sehingga menyebabkan klien marah, frustasi, takut tentang masa
depan dan perasaan hilangnya harapan (Smeltzer & Bare, 2002).

2.5.4 Faktor – faktor yang Berhubungan dengan Depresi


Secara umum, faktor – faktor yang berhubungan dengan depresi paska stroke
adalah :

a. Lokasi lesi di otak.


Meskipun penyebab pasti DPS belum diketahui, sejumlah peneliti menyatakan
bahwa lokasi lesi di otak memegang peranan penting. Dalam dua dekade
terakhir ini, para peneliti mencoba menemukan korelasi antara lokasi lesi
anatomis dan depresi paska stroke.
Beberapa lesi pada otak yang dianggap dapat menyebabkan DPS adalah:
1. Lesi Korteks dan Subkorteks
Penelitian yang dilakukan terhadap DPS didapatkan sekitar 44% pasien
dengan lesi di korteks kiri mengalami depresi, sedangkan lesi di subkorteks
kiri 39%. Depresi pada lesi korteks kanan 11% dan subkorteks kanan 14%.
Tidak terdapat perbedaan yang bermakna mengenai kejadian depresi antara
lesi korteks dan sub korteks. Perbedaan yang signifikan yaitu terdapat lesi
di hemisfer kiri dengan lesi hemisfer kanan, prevalensi DPS lebih tinggi
pada lesi di hemisfer kiri. Bila dilihat lebih jauh, pasien dengan lesi korteks
frontal kiri anterior mengalami depresi lebih sering bila dibandingkan
dengan lesi di korteks kiri posterior. Lesi pada korteks frontal dorsal lateral
dan lesi basal ganglia kiri menimbulkan depresi mayor lebih berat
(Amir,2005)
2. Lesi sirkulasi serebri media dan posterior
Suatu penelitian yang dilakukan terhadap 37 pasien dengan lesi sirkulasi
serebri posterior dibandingkan dengan 42 pasien dengan lesi sirkulasi

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


serebri media. Mekanisme depresi akibat lesi di arteri serebri media
berbeda dengan lesi di batang otak atau serebellum. Hal ini disebabkan
karena lesi batang otak biasanya ukurannya dan tidak begitu merusak jaras
biogenik amin. Jaras biogenik amin berperan penting dalam memodulasi
emosi (Amir, 2005).
3. Lesi hemisfer kiri
Suatu penelitian yang dilakukan terhadap 54 pasien stroke melaporkan
bahwa 66% dengan depresi mayor, 63% dengan depresi minor mempunyai
lobus parietalis. Lesi pada massa putih (white matter) di parietal
menyebabkan terjadinya depresi lebih tinggi dibandingkan tempat lain
(Amir, 2005).

Meskipun demikian terdapat pendapat beberapa ahli yang menentang


adanya korelasi dan tingkat depresi pada pasien stroke. Pendapat tersebut
dingkapkan oleh Berg, dkk (dalam Suwantara, 2004) yang menyatakan
bahwa pasien lesi hemisfer kiri yang memperlihatkan gejala depresi
jumlahnya tidak bermakna lebih besar dibandingkan dengan pasien lainnya.
DPS tidak dipengaruhi oleh lokasi dari lesi. Berdasarkan hal ini Berg, dkk
menganjurkan supaya berhati – hati dalam melihat hubungan tersebut.

b. Afasia
Afasia adalah gangguan kemampuan berbahasa yang didapat dimana
sebelumnya pasien normal. Afasia merupakan salah satu akibat stroke yang
sering terjadi, dialami sekitar 1/3 pasien pada fase akut. Meskipun secara jelas
gangguan kemampuan berkomunikasi sangat berperan terhadap berat dan
berkepanjangannya depresi, evaluasi psikiatrik terhadap dampak afasia pada
depresi paska stroke sangat terbatas, biasanya antara lain karena pasien afasia
sering mengalami kriteria eklusi (Meifi & Agus, 2009).

c. Umur
Menurut Amir (2005), depresi lebih sering terjadi pada usia muda dengan umur
rata – rata awitan antara 20 – 40 tahun. Walaupun demikian, depresi juga dapat
terjadi pada anak – anak dan lanjut usia. Sedangkan menurut Glemcevski et al

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


(2002) menyatakan bahwa usia lanjut sebagai faktor risiko terjadinya depresi.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitiannya terhadap 80 pasien stroke dengan
umur rata – rata 58 (SD ± 12.5) tahun. Depresi paska stroke di usia lanjut
mungkin memiliki hubungan biologi dasar dengan berkurangnya
neurotransmitter yang berkaitan dengan mood dan emosi. Peneliti lain, Farrel
(2004) menyatakan bahwa depresi cenderung lebih kronis di pasien yang lebih
tua dibandingkan dengan orang dewasa muda. Sedangkan berdasarkan hasil
penelitian depresi paska stroke oleh Darussalam di rumah sakit Blitar (2011),
faktor – faktor seperti usia dan tingkat pendidikan bukan merupakan faktor
yang berpengaruh secara signifikan terhadap depresi paska stroke. Hasil
penelitian oleh Ardi (2011) menjelaskan bahwa usia, jenis kelamin dan tingkat
pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keputusaan. Menurut
Teori Depresi Beck (1967 dalam Dunn, 2005), keputusasaan merupakan gejala
dari depresi.

d. Jenis Kelamin
Jenis kelamin (gender) juga memegang peranan penting di dalam risiko untuk
terjadinya stroke. Dilaporkan laki-laki memiliki risiko stroke lebih tinggi
dibandingkan perempuan, tetapi oleh karena usia rata-rata perempuan lebih
panjang maka pada suatu tingkat usia tertentu jumlah perempuan yang
mengalami serangan stroke lebih banyak dari laki-laki.
Prevalensi selama kehidupan, pada wanita 10%-25% dan pada laki-laki 5%-
12%. Sekitar 15% penderita depresi melakukan usaha bunuh diri. Walaupun
depresi lebih sering pada wanita, kejadian bunuh diri lebih sering pada laki-
laki, terutama lelaki usia muda dan usia tua (Amir, 2005). Sedangkan menurut
Storor & Byrne (2006) tidak ada hubungan yang signifikan yang ditemukan
diantara skor dimensi depresi dan karakteristik usia, jenis kelamin. Sedangkan
menurut penelitian Laska (2007); Thomas & Lincoln, 2008) bahwa faktor –
faktor yang mempengaruhi prevalensi depresi adalah jenis kelamin, usia,
tingkat dukungan sosial, hidup sendiri dan riwayat gangguan mood. Hal ini
kemungkinan bahwa wanita lebih sering terpajan dengan stressor lingkungan
dan ambangnya terhadap stressor lebih rendah bila dibandingkan dengan pria.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Selain itu ketidakseimbangan hormon pada wanita menambah tingginya
prevalensi depresi pada wanita, misalnya depresi premenstruasi, postpartum,
postmenopouse (Amir, 2005).

e. Frekuensi serangan stroke


Faktor bio-anatomi merupakan faktor diluar kendali kita dan merupakan hasil
dari struktur biologis termasuk stroke hemisfer kiri atau kanan, area kortikal
atau subkortikal dan lesi sistem arteri serebral. Lesi pada hemisfer kiri lebih
sering menyebabkan depresi daripada lesi hemisfer kanan dan lebih berat jika
lesi mendekati lobus frontal kiri. Jika lesi diotak bertambah karena mengalami
stroke berulang akan melipatgandakan jenis serta beratnya defisit (Lee, Tang,
Tsoi, Fong & Yu, 2009).

f. Kemampuan fungsional
Kerusakan kemampuan fungsional merupakan efek stroke yang paling jelas
terlihat. Defisit motorik, meliputi kerusakan mobilitas, fungsi respirasi,
menelan dan berbicara, reflek gag dan kemampuan melakukan aktivitas sehari
– hari (Lewis, 2007). Lebih dari 30% pasien stroke membutuhkan bantuan
dalam aktivitas sehari – hari dan sekitar 15% membutuhkan bantuan di fasilitas
pelayanan seperti rumah sakit dan pusat rehabilitasi (Swierzewski, 2010).
Ketidakmampuan fisik menyebabkan hilangnya peran hidup yang dimiliki
pasien, sehingga dapat menyebabkan gangguan persepsi akan konsep diri yang
bersangkutan dan dengan sendirinya mengurangi kualitas hidupnya
(Suwantara, 2004). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Dahlin et al (2006),
menyatakan ada hubungan yang signifikan antara tingkat depresi dengan
gangguan aktivitas sehari – hari (p:0.04). Sedangkan penelitian Fatoye (2009)
menyatakan bahwa ada hubungan antara gangguan fungsi motorik berupa
paresis dengan depresi paska stroke ( p: 0.002). Penelitian Darussalam (2011)
juga menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kemampuan fungsional
dengan depresi responden (p: 0.014). Sedangkan menurut hasil penelitian Ardi
(2011), terdapat hubungan yang signifikan antara ketidakmampuan fisik
dengan keputusasaan pada pasien stroke (p : 0.007).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


g. Dukungan keluarga
Wills & Fegan (2001 dalam Sarafino, 2006) menyatakan bahwa dukungan
keluarga mengacu pada bantuan yang diterima individu dari orang lain atau
kelompok sekitar yang membuat penerima merasa nyaman, dicintai dan
dihargai serta dapat menimbulkan efek positif bagi dirinya. Peningkatan
dukungan keluarga yang tersedia dapat menjadi strategi penting dalam
mengurangi atau mencegah tekanan jiwa dan menangkal depresi paska stroke
(Salter, Foley & Teasell, 2010). Berdasarkan hasil penelitian oleh Mant et al
(2000) menyatakan bahwa ada hubungan keluarga dengan peningkatan
aktivitas sosial dan kualitas hidup pasien stroke. Selain itu dukungan keluarga
dapat membantu perawat dalam perencanaan program penyembuhan stroke,
pendidikan pasien, keefektifan dan efisiensi penggunaan sumber daya
perawatan kesehatan (Huang et al, 2010). Sedangkan berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Darussalam (2011), didapatkan tidak ada
perbedaan yang signifikan (p = 0.681) rata – rata dukungan keluarga antara
tidak depresi dengan depresi.

2.5.5 Mekanisme terjadinya depresi


Penyebab pasti belum diketahui. Ada dugaan DPS disebabkan oleh disfungsi
biogenik amin. Badan sel serotoninergik dan noradrenergik terletak di batang otak
dan ia mengirim proyeksinya melalui bundel forebrain media ke korteks frontal.
Lesi yang mengganggu korteks prefrontal atau ganglia basalis dapat merusak
serabut-serabut ini. Ada dugaan DPS disebabkan oleh deplesi serotonin dan
norepinefrin akibat lesi frontal dan ganglia basalis. Respons biokimia terhadap lesi
iskemik bersifat lateralisasi. Lesi hemisfer kiri menyebabkan penurunan biogenik
amin tanpa adanya kompensasi peninggian regulasi serotonin akibatnya, gejala
depresi dapat muncul. Sebaliknya lesi hemisfer kanan menyebabkan peninggian
regulasi serotonin (karena mekanisme kompensasi) yang bersifat protektif
terhadap depresi (Amir, 2005).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2.5.6 Gejala Depresi
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM)-IV merupakan
salah satu instrumen yang digunakan untuk menegakkan diagnosis depresi
Menurut Diagnostic and Statistik Manual of Mental Disorders (DSM-IV), gejala
depresi utama termasuk mood depresi hampir sepanjang hari, tidak tertarik dalam
beraktivitas, perubahan berat badan, nafsu makan menurun, tingkat energi
menurun, gangguan pola tidur, gangguan fungsi psikomotorik, kesulitan
berkonsentrasi, perasaan negatif tentang dirinya, lekas marah, menghindari kontak
mata dan berpikiran tentang kematian atau bunuh diri (Schub & Caple, 2010; Li,
Wang, & Lin, 2003).

2.5.7 Dampak Depresi


Hal yang penting bahwa depresi dapat menyebabkan kemampuan fungsional yang
jelek (Pohjasvaara et al, 2001 dalam Lightbody, 2007), lama rawat yang lama,
kualitas hidup yang rendah (Meifi, & Agus, 2009), penyembuhan fisik dan
kognitif yang jelek (Moris, et al, 1992 dalam Dahlin, et al, 2007), rehabilitasi yang
lama dan meningkatkan kematian yang lebih tinggi (Salter, et al, 2005). Pasien
afasia dan depresi juga akan mengalami keterbatasan dalam aktivitas sosial
(Dahlin, et al, 2008). Selain itu, beratnya depresi paska stroke sangat erat
hubungannya dengan tingkat gangguan aktivitas hidup sehari-hari (Amir, 2005).
Ketidakmampuan fisik bersama-sama dengan gejala depresi dapat menyebabkan
aktivitas penderita stroke menjadi sangat terbatas pada tahun pertama, namun
dukungan sosial dapat mengurangi dampak dari ketidakmampuan fisik serta
depresi tersebut. Ketidakmampuan fisik yang menyebabkan hilangnya peran
hidup yang dimiliki penderita dapat menyebabkan gangguan persepsi akan konsep
diri yang bersangkutan dan dengan sendirinya mengurangi kualitas hidupnya
(Suwantara, 2004).

2.5.8 Pengkajian Depresi


Pada umumnya diagnosis depresi didasarkan pada observasi informal perilaku
seperti bangun awal, penolakan, menangis, makan atau terlibat dalam kegiatan,
yang dianggap mencerminkan adanya perasaan depresi. Tetapi hal ini sulit pada

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


seseorang yang mengalami afasia yang tidak mampu untuk memahami atau
mengekspresikan kata atau ide, sehingga dikembangkan beberapa instrumen untuk
menilai depresi pada pasien stroke afasia.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk meneliti depresi pada pasien stroke
dengan afasia dan masalah komunikasi dengan berbagai macam alat ukur, seperti
Sign of Depression Scale (SODS), Stroke Aphasic Depression Questionnaire
Hospital (SADQH), Aphasic Depression Rating Scale (ADRS), dan Visual
Analog Mood Scale (VAMS) (Bennet & Lincoln, 2006).

Instrumen penelitian Aphasic Depression Rating Scale (ADRS) dikembangkan


oleh Benaim, Cailly, Perennou & Pelissier pada tahun 2004 untuk mendeteksi dan
mengkaji depresi berdasarkan observasi perilaku pada pasien afasia. ADRS
digunakan pada pasien yang memiliki afasia karena strokedan terdiri dari 9 item
yang dipilih dari Hamilton Depression Rating Scale (HDRS), Montgomery &
Asperg Depression Rating Scale (MADRS) dan Salpetriere Ratardation Rating
Scale (SRRR). Skor diberikan dengan menambahkan setiap item yang berbeda
pada setiap item, dengan jumlah total skor yang diperoleh 32. ADRS memiliki
titik potong 9/32 yang dipakai untuk menentukan adanya depresi pada pasien
dengan afasia, dengan kesimpulan semakin tinggi skor yang diperoleh semakin
menunjukkan gejala depresi.

2.6 Asuhan Keperawatan pada Pasien Stroke dengan Afasia


2.6.1 Pengkajian
Menurut Smeltzer & Bare (2008), setelah fase akut, perawat dapat melakukan
pengkajian pada fungsi-fungsi sebagai berikut :
a. Status mental (memori, lapang perhatian, persepsi, orientasi, afek,
bahasa/bicara)
b. Sensasi/persepsi (biasanya pasien mengalami penurunan kesadaran terhadap
nyeri dan suhu)
c. Kontrol motorik (gerakan ekstremitas atas dan bawah)
d. Fungsi kandung kemih

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Sebelum memberikan latihan wicara pada pasien, penting dalam melakukan
pengkajian dan menentukan jenis/macam gangguan wicara. Dalam proses
pengkajian ini peran perawat sangatlah penting, walaupun dalam pelaksanaan
terapi wicara merupakan tindakan kolaborasi, perawat tetap dituntut dapat
melakukan pengkajian yang tepat, cepat dan cermat, sehingga dapat didentifikasi
jenis gangguan wicara dengan tepat. Identifikasi yang cepat dan tepat
memungkinkan pasien untuk dilakukan latihan wicara – bahasa segera secara
intensif oleh tim rehabilitasi secara multidisiplin.

Pengkajian keperawatan terhadap bahasa – wicara dan kemampuan komunikasi


pada pasien stroke menurut Bronstein (1991); Hoeman (1996); Bulechek & Mc
Closkey (1999) adalah :
a. Kaji riwayat kesehatan klien terutama yang berhubungan dengan predisposisi
dan presipitasi terjadinya gangguan wicara.
b. Kaji tingkat perkembangan klien terhadap kemampuan kognitif, kemampuan
berkomunikasi.
c. Evaluasi secara komprehensif fungsi dari komunikasi, seperti bahasa,
kesadaran, pragmatis dan berbicara.
d. Kaji kemampuan berbahasa, seperti berbicara spontan, pemahaman, membaca,
menulis, mengulang dan menamai
1. Kemampuan mengucapkan (bicara spontan)
Untuk menilai kemampuan mengucapkan, berikan pertanyaan pada klien
atau bercakap – cakap dengan klien. Tanyakan tentang program televisi,
apa yang dimakan pasien pada sarapan pagi, apakah warna mata klien.
Tunjukkan benda – benda yang mudah dikenal, seperti pulpen, kunci atau
jam dan tanyakan nama pasien. Catat adanya kesulitan dalam penamaan
objek (anomia) atau ketidakmampuan untuk menamakan atau
ketidakmampuan untuk memberi nama suatu objek tapi mampu untuk
menjelaskannya (circumlocation). Evaluasi irama bicara, berhenti atau
kalimat monoton. Anjurkan pasien untuk mengulang kata, frase dan
kemudian kalimat. Catat bila respon klien tidak tepat, lambat, adanya
kesulitan dalam menemukan kata – kata. Nilai kuantitas verbal yang

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


dihasilkan, penurunan produksi bicara (penurunan menjawab pertanyaan
dengan satu atau dua kata). Dengarkan adanya paraphrasia verbal“
(mengganti bunyi pisau dengan sendok). Dengarkan adanya neologisme
atau membuat kalimat baru atau kata- kata tidak sesuai.
2. Kaji kemampuan pemahaman
Pemahaman suara harus dinilai dalam beberapa tingkatan. Pertama
cobalah perintah sederhana yang memerlukan respon motorik daripada
verbal, seperti keluarkan lidahmu atau tekan jarimu, duduk, berdiri, minta
klien untuk menunjuk sesuatu dengan tangan sesuai perintah, contoh
tunjuk pintu, jendela, lantai, dan lain – lain. Setelah itu coba perintah yang
lebih komplek, seperti ambil sisir dan sisirlah rambutmu. Tanyakan
pertanyaan “Ya atau “tidak, seperti “apakah anda berada di rumah sakit?”
dan “apakah anda berada digereja?” Hindarkan menggunakan isyarat bila
mungkin, karena pasien akan memberikan respon non verbal. Catat bila
adanya pasien tidak mampu mengikuti perintah sederhana atau komplek
atau adanya ketidak konsistenan dalam memberikan respon sesuai
pertanyaan.
3. Kaji kemampuan membaca
Kemampuan membaca klien perlu dinilai sebelum melakukan pemeriksaan
pemahaman menulis. Perintahkan klien untuk membaca kartu,
kalimat/paragraf yang pendek di koran dan kemudian anjurkan klien untuk
membaca kembali apa yang dibaca klien dengan suara yang keras.
4. Kaji kemampuan menulis
Karena kemampuan menulis sama dengan kemampuan mengungkapkan,
sehingga bila pasien mengalami gangguan mengungkapkan (ekspresi),
maka kemampuan menulis akan terganggu. Jika pasien mampu menulis
(bukan hemiplegi) anjurkan pasien untuk menulis nama dan alamatnya,
apakah pasien sudah sarapan pagi, dan lain – lain. Catat kesalahan
pengejaan, tidak dapat membaca, ketidakmampuan menulis atau menulis
tidak sesuai. Contoh sederhana lain adalah dengan menganjurkan klien
untuk menulis nama- nama objek yang ada diruangan pada selembar
kertas. Minta klien untuk menulis sesuai dengan perintah.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


5. Kaji kemampuan mengulang dengan cara meminta pasien mengulang,
mula – mula kata yang sederhana (satu patah kata), kemudian ditingkatkan
menjadi banyak (satu kalimat). Jadi kita ucapkan kata atau angka dan
kemudian pasien diminta mengulangnya.
6. Kaji kemampuan menamai dan menemukan kata dengan cara :
a) Minta pasien menyebutkan nama objek, bagian dari objek, bagian
tubuh, warna dan bila perlu gambar geometrik, simbol matematik atau
nama suatu tindakan.
b) Bila pasien tidak mampu atau sulit menamai, ia dapat dibantu dengan
memberikan suku kata pertama atau dengan menggunakan kalimat
penuntun, misalnya : pisau. Kita dapat membantu dengan suku kata
pi… atau dengan kalimat “kita memotong daging dengan ….”. Yang
penting kita nilai ialah sampainya pasien pada kata yang dibutuhkan,
kemampuannya memberi nama objek.

Semua pengkajian itu akan lebih baik jika kita tambahkan dari hasil observasi
pada klien dalam situasi komunikasi perawat – klien sehari – hari, tanpa klien
merasa sedang dikaji. Pengkajian ini penting dilakukan secara mendetail untuk
mengetahui jenis gangguan bicara yang terjadi serta penyebab dari gangguan
tersebut, sehingga dapat diberikan intervensi yang tepat. Selama pengkajian
observasi kelemahan, nyeri dan frustasi (Hoeman, 1996). Oleh karena pasien
afasia tidak mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan, sehingga
seringkali pasien menjadi frustasi, marah, kehilangan harga diri dan emosi pasien
menjadi labil. Keadaan ini pada akhirnya menyebabkan pasien menjadi depresi
(Mulyatsih & Ahmad, 2010). Berdasarkan kondisi diatas, maka perawat perlu
melakukan pengkajian psikososial pada pasien afasia untuk memberikan
intervensi yang tepat.

Pengkajian terkait gangguan psikososial pasien stroke berdasarkan NOC dan NIC
(Ackley & Ladwig, 2011; Ignatavacius & Workman, 2010; Wilkinson, 2007)
yaitu :

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


a. Reaksi pasien terhadap penyakit, seperti perubahan gambaran diri, konsep diri
dan kemampuan melakukan ADL, identifikasi beberapa masalah yang
berhubungan dengan koping atau perubahan kepribadian
b. Mekanisme koping meliputi pantau perilaku agresif, nilai dampak dari situasi
kehidupan pasien terhadap peran dan hubungannya dengan orang lain, kaji
kemampuan pasien dalam membuat keputusan, kaji eksplorasi metode yang
digunakan pasien pada masa sebelumnya dalam mengatasi masalah
kehidupannya, dan kaji kemungkinan terjadinya risiko menyakiti diri.
c. Keputusasaan meliputi kaji afek dan kemampuan membuat keputusan, kaji
nutrisi dan berat badan, kaji kebutuhan spiritual, dan kaji keadekuatan
hubungan dan dukungan sosial lain.
d. Isolasi sosial meliputi kaji pola interaksi antara pasien dan orang lain.
e. Kecemasan meliputi kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien, kaji
dukungan yang disediakan oleh orang yang penting bagi pasien, tentukan
sumber ansietas.
f. Harga diri rendah meliputi kaji pernyataan pasien tentang penghargaan diri,
kaji rasa percaya diri pasien dalam penilaian diri, dan kaji frekwensi
pengungkapan diri yang negatif.
g. Tanyakan tentang status finansial dan pekerjaan, karena aspek ini
berhubungan dengan sisa defisit neurologis akibat stroke.
h. Kaji emosional pasien yang labil, khususnya jika lobus frontal terkena.
Dalam beberapa kasus pasien tertawa dan kemudian menangis dengan alasan
yang tidak tepat.

2.6.2 Diagnosa keperawatan


The North American Nursing Diagnosis Association/NANDA (2009)
mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien stroke terkait
dengan gangguan fungsi komunikasi dan bahasa adalah gangguan komunikasi
verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi dalam otak. Diagnosa gangguan
komunikasi verbal didefinisikan oleh Johnson et al (2001); Wilkinson (2005)
sebagai suatu pengalaman individu yang menurun atau tidak ada dalam

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


kemampuan menerima, memproses, mentransfer dan menggunakan simbol –
simbol (Potter & Perry, 2005; Berman, Snyder, Kozier & Erb, 2008).

Masalah gangguan komunikasi verbal oleh karena adanya kesulitan dalam


mengekspresikan diri atau perubahan pola komunikasi ini dapat berkontribusi
pada diagnosa keperawatan lainnya : seperti risiko injuri, perubahan
persepsi/sensori, defisit perawatan diri, kecemasan, perubahan proses keluarga,
tidak efektifnya koping, koping keluarga tidak efektif, ketidakberdayaan dan
gangguan interaksi sosial (Potter & Perry, 2005; Berman, Snyder, Kozier & Erb,
2008).

2.6.3 Rencana keperawatan


Rencana keperawatan memiliki dampak yang signifikan dalam proses
penyembuhan pasien. Pasien dan keluarga dapat ikut disertakan untuk
menentukan tujuan rencana keperawatan bersama dengan perawat. Tujuan yang
ingin dicapai berdasarkan NOC pada klien dengan gangguan komunikasi menurut
Ignatavicius & Workman (2010); Gulanick & Myers (2009); Black & Hawks
(2009) adalah :
a. Pasien dapat mengkomunikasi kebutuhan dasarnya
b. Pasien dapat meningkatkan kemampuan komunikasinya
c. Dapat berkomunikasi tanpa frustasi dan marah
d. Pasien dan keluarga dapat mengungkapkan pemahaman gangguan komunikasi
e. Pasien dan keluarga terlibat dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi

2.6.4 Intervensi Keperawatan


Intervensi keperawatan berdasarkan gangguan komunikasi pada pasien stroke
menurut NIC (Ignatavicius & Workman, 2010; Gulanick/Myers, 2009; Black &
Hawks, 2009) adalah :
a. Peningkatan Komunikasi

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Definisi peningkatan komunikasi menurut Bulecheck & McCloskey (1999)
adalah bantuan dalam menerima dan mempelajari metode alternatif dengan
gangguan bicara.

Tujuan intervensi peningkatan komunikasi menurut Bulecheck & McCloskey


(1999) adalah membantu klien mencapai komunikasi optimal, membantu klien
dalam mencapai arti fungsional dalam berkomunikasi, membantu mencapai
lingkungan yang mendukung komunikasi, mencegah cedera, membantu
meningkatkan harga diri klien, meningkatkan interaksi sosial, membantu klien
dalam mengembalikan peran sosial, memberikan kesempatan dalam
berkomunikasi, menginformasikan kepada klien dan keluarga tentang
gangguan dalam berkomunikasi dan membantu klien dan keluarga dalam
mencapai dukungan yang efektif (Boss & Lewis – Abney, 1996).

Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah : kaji fungsi bicara – bahasa,


seperti bicara spontan, pemahaman dalam mendengar, pemahaman bahasa yang
ditulis, kemampuan menulis, kemampuan membaca, hindarkan pertanyaan “
ya dan tidak” untuk pasien dengan afasia ekspressif karena pasien sering
memberikan respon otomatis yang tidak tepat, berikan dukungan keluarga
dalam memahami bicara pasien, dengarkan dengan penuh perhatian, gunakan
kata – kata sederhana dan kalimat pendek dengan tepat, hindari berteriak,
berkomunikasi dengan pasien harus pelan, kalimat sederhana dan berikan
waktu untuk memahami informasi, gunakan papan komunikasi dengan tepat,
tunjukkan nama – nama objek yang ditulis dan anjurkan pasien untuk
mengulang nama objek tersebut, buat jadual yang konsisten dan rutin serta,
kumpulkan informasi pribadi pasien (tanggal lahir, alamat, nama yang
berkaitan), jangan memaksakan terus berkomunikasi jika pasien lelah
instruksikan pasien dan keluarga untuk menggunakan bantuan wicara, seperti
tracheal – esophageal prosthesis dan artificial larynx, lakukan percakapan satu
arah (one way conversation) dengan tepat, lakukan follow up dengan patologis
bicara setelah pulang (Ignatavicius & Workman (2010); Brunner & Suddarth

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


(2008); Barker (2002) (Bulecheck & McCloskey, 1999) Gulanick & Myers,
2009 ; Hickey, 2003).

b. Mendengarkan secara aktif (active listening)


Mendengarkan secara aktif memiliki arti dengan penuh perhatian terhadap apa
yang disampaikan oleh pasien secara verbal dan non verbal. Tindakan ini dapat
memfasilitasi komunikasi klien (Potter & Perry, 2005).

Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah berbicara kepada pasien bukan


kepada pengunjung, berhadapan dengan pasien, pertahankan kontak mata,
berbicara pelan dan jelas, jangan menghentikan ketika pasien sedang berbicara,
jangan menyelesaikan kata – kata pasien, berikan waktu pada pasien untuk
menjawab, berikan musik atau stimulus visual yang bermakna pada pasien dan
membantu pasien untuk beradaptasi pada keterbatasan yang disebabkan oleh
masalah komunikasi (Ignatavicius & Workman, 2010).

2.7 Kerangka Teori


Stroke hemorhagik dan non hemorhagik dapat menyebabkan lesi pada lobus
frontal, parietal dan temporal yang diperdarahi oleh arteri serebri media. Lesi
tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada area Broca, Wernicke dan jalur
keduanya sehingga menyebabkan gangguan berbahasa. Gangguan berbahasa yang
dapat dialami pasien stroke adalah afasia yang merupakan gangguan memahami
kata yang diucapkan, berbicara, membaca dan menulis. Afasia yang dialami
pasien stroke memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kesejahteraan
klien, kemandirian, partisipasi sosial dan kualitas hidup. Pasien menjadi depresi
berat, karena tidak mampu berbicara atau menyampaikan pesan, menjawab
pertanyaan atau berpartisipasi dalam percakapan, dan merasa tidak ada
seorangpun yang dapat berkomunikasi dengannya, sehingga pasien marah,
frustasi, takut dan tidak berdaya.

Oleh karena itu untuk mengurangi terjadinya depresi dan masalah psikososial
tersebut adalah dengan memfasilitasi komunikasi pasien pasien afasia motorik

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


dengan AAC sebagai alat bantu komunikasi verbal. Kerangka teori penelitian ini
dapat dilihat pada skema 2.1 berikut ini :

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2.1 Kerangka Teori Penelitian

Stroke

Stroke Hemoragik Stroke Non Hemoragik

Penurunan suplai darah


ke otak

Lesi pada lobus frontal,


parietal dan temporal

Kerusakan pada area Broca,


Wernicke dan jalur keduanya

Ekspresi kata – kata bermakna


dan pemahaman secara lisan
atau tulisan terganggu

Gangguan komunikasi verbal

 Tidak mampu mengungkapkan


apa yang diinginkan
 Tidak dapat menjawab
pertanyan dan berpartisipasi
dalam percakapan Nursing Outcome
Criteria :
 Pasien dapat
Depresi
mengkomunika
Faktor berpengaruh : sikan
1. Umur kebutuhan
2. Jenis kelamin Nursing Intervention Clasification: dasarnya
3. Frekuensi serangan  Peningkatan kemampuan  Pasien dapat
komunikasi meningkatkan
stroke
 Mendengarkan secara aktif kemampuan
4. Ketidakmampuan
komunikasiny
fisik
 Pasien`dapat
5. Dukungan keluarga berkomunikasi
Rehabilitasi Nursing
Augmentative and alternative tanpa frustasi
communication therapy/AAC dan marah

(Sumber: Ignatavicius & Workman, 2010; Lumbantobing, 2011; Silbernagl & Lang, 2007; Black
& Hawks, 2009; Potter & Perry, 2005; Gulanick/Myers, 2009)

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


BAB 3
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS
DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep


Berdasarkan penelusuran kepustakaan, variabel yang diukur dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
3.1.1 Variabel terikat (Dependent variable).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan fungsional
komunikasi dan depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik.
3.1.2 Variabel bebas (Independent variable).
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian AAC yang dibagi
dalam 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol yang diberikan terapi standar
rumah sakit, yaitu isyarat/alat tulis dan kelompok intervensi yang diberikan
terapi standar ditambah pemberian AAC yang dirancang oleh peneliti di
RSUD Kabupaten Garut, Kota Tasikmalaya dan Banjar.
3.1.3 Variabel Perancu (Confounding variable)
Variabel perancu yang diteliti dalam penelitian ini adalah umur, jenis
kelamin, frekuensi serangan stroke, ketidakmampuan fisik dan dukungan
keluarga.
a. Umur
Umur berhubungan dengan terjadinya depresi. DPS pada umur lanjut
mungkin memiliki hubungan biologi dasar dengan berkurangnya
neurotransmitter yang berkaitan dengan mood dan emosi. Selain itu
kecepatan pemulihan wicara-bahasa terhadap kemampuan fungsional
komunikasi dan penyembuhan secara umum pada orang dewasa memiliki
prognosis yang buruk oleh karena neuroplastisitas otak/reorganisasi.
b. Jenis kelamin
Jenis kelamin berkorelasi dengan terjadinya depresi. Laki – laki lebih
mudah berisiko terjadinya stroke dibandingkan dengan perempuan,
sehingga laki – laki lebih mudah terjadi depresi akibat disability yang

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


dimilikinya yang menyebabkan gangguan harga diri terkait dengan
perannya sebagai kepala keluarga.
c. Frekuensi serangan stroke
Jumlah serangan stroke akan berpengaruh terhadap kerusakan otak lebih
luas, sehingga dapat mempengaruhi wicara dan bahasa.
d. Ketidakmampuan fisik
Gangguan motorik akibat stroke dapat menyebabkan ketidakmampuan
fisik pada pasien, sehingga mempengaruhi kemampuan fungsional dalam
melakukan aktivitas hidup sehari - hari. Ketidakmampuan fisik
menyebabkan hilangnya peran hidup yang dimiliki pasien, sehingga dapat
menyebabkan gangguan persepsi akan konsep diri yang bersangkutan
yang dapat mempengaruhi harga diri. Harga diri rendah dapat memicu
terjadinya keputusasaan dan akhirnya menjadi depresi.
e. Dukungan keluarga
Dukungan keluarga merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya
depresi. Selain itu lingkungan keluarga juga merupakan lingkungan yang
cocok untuk menstimulasi kemampuan berbahasa afasia yang
mempengaruhi pemulihan wicara pada pasien afasia. Dukungan keluarga
yang tersedia dapat menjadi strategi penting dalam mengurangi atau
mencegah tekanan jiwa dan depresi paska stroke.

Hubungan kedua variabel ini bersifat hubungan satu arah, dimana variabel
independen memberi kontribusi pada variabel dependen. Kemampuan fungsional
komunikasi dan depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik ditentukan oleh
pemberian AAC. Hubungan antara kedua variabel tersebut dapat dilihat pada
skema 3.1

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Skema 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Variabel bebas Variabel terikat

Pemberian komunikasi
 Kemampuan
dengan
KKom augmentative & fungsional komunikasi
alternative  Depresi
communication/AAC

Perancu :
 Umur
 Jenis kelamin
 Frekuensi serangan
stroke
 Ketidakmampuan fisik
 Dukungan keluarga

3.2 Hipotesis Penelitian


Berdasarkan tujuan dan rumusan masalah penelitian, maka hipotesis penelitian ini
adalah :
3.2.1 Hipotesis mayor
Ada pengaruh pemberian AAC terhadap kemampuan fungsional
komunikasi dan depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik.

3.2.2 Hipotesis minor


a. Ada perbedaan kemampuan fungsional komunikasi pada pasien stroke
dengan afasia motorik antara kelompok kontrol dan intervensi.
b. Ada perbedaan depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik antara
kelompok kontrol dan intervensi.
c. Ada hubungan variabel perancu terhadap kemampuan fungsional
komunikasi pasien stroke dengan afasia motorik pada kelompok
intervensi.
d. Ada hubungan variabel perancu terhadap depresi pasien stroke dengan
afasia motorik pada kelompok intervensi.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


3.3 Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan batasan ruang lingkup suatu variabel yang
diamati atau diukur. Definisi operasional juga berguna untuk mengarahkan kepada
pengukuran atau pengamatan terhadap variabel -variabel yang bersangkutan serta
pengembangan instrumen. Definisi operasional variabel-variabel dalam penelitian
ini dijelaskan dalam tabel 3.1

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel Definisi operasional Cara ukur Hasil ukur Skala

Independent
Komunikasi Pemberian alat bantu Menggunakan 1 : kelompok Nominal
dengan komunikasi non verbal yang lembar kontrol yang
augmentative and diberikan oleh peneliti dengan observasi diberikan
alternative menggunakan media perawat yang
komunikasi
communication/ komunikasi seperti buku berisi prosedur
(AAC) komunikasi yang berisikan pelaksanaan non verbal
kebutuhan aktivitas sehari – latihan sesuai standar
hari, foto, majalah, musik/lagu rumah sakit
dan alat tulis untuk 2 = kelompok
memfasilitasi komunikasi intervensi
pasien disertai dengan latihan yang diberikan
komunikasi sederhana komunikasi
berorientasi pada kemampuan dengan AAC
menunjukkan gambar, sesuai
menyebutkan/penamaan, pedoman yang
pengulangan, membaca, disusun oleh
mengeja dan menulis yang peneliti
dilakukan sebanyak 3 kali
dalam sehari dengan frekuensi
waktu 30 menit setiap kali
pemberian selama 10 hari dan
pemberian komunikasi oleh
keluarga menggunakan
pedoman kebutuhan aktivitas
sehari – hari yang disusun oleh
peneliti dengan tugas
menyebutkan/penamaan,
pengulangan, membaca,
mengeja dan menulis dan
dilakukan selama 90 menit
Dependent
Depresi pada Gangguan emosional yang Menggunakan Dinyatakan Interval
pasien afasia terjadi setelah serangan stroke lembar dalam rentang
pada pasien afasia dengan tanda observasi 0 – 32
dan gejala, antara lain Aphasic
insomnia, kecemasan, gejala Depression
somatik fisik/gastrointestinal, Rating Scale

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


kesedihan, agitasi, (ADRS)
hipokondriasis kelelahan atau
kehilangan energi dan diukur
pada hari ke 11 sesudah
pemberian AAC
Kemampuan Kemampuan dalam Menggunakan Dinyatakan Interval
fungsional mengekspresikan, memahami lembar dalam rentang
komunikasi dan berinteraksi dengan orang observasi Derby 0 – 24
lain, keluarga atau perawat Functional
untuk mencapai aktivitas sehari Communication
– hari dan diukur pada hari ke Scale
11 sesudah pemberian AAC
Confounding
Umur Jumlah tahun sejak lahir hingga Menggunakan Umur dalam Interval
ulang tahun terakhir kuesioner dan tahun
status pasien
Jenis kelamin Gender yang dibawa sejak lahir Menggunakan 1 = Laki-laki Nominal
pada pasien stroke yang kuesioner dan 2= Prempuan
dibedakan antara jenis kelamin status pasien
laki – laki dan perempuan
Frekuensi Jumlah kejadian stroke yang Menggunakan 1: 1 kali Nominal
serangan stroke pernah dialami oleh pasien kuesioner dan 2: > 1 kali
status pasien
Ketidakmampuan Kemampuan pasien`untuk Menggunakan Dinyatakan Interval
fisik melakukan aktivitas sehari- hari kuesioner dan dalam rentang
yang meliputi makan, mandi, status pasien 0 – 100
merawat diri, berpakaian, buang
air besar, buang air kecil,
menggunakan toilet, berpindah,
mobilitas dan menggunakan
tangga dengan menggunakan
kuesioner Barthel Index yang
dapat dinilai pada hari ke 11
sesudah melakukan intervensi
pada kelompok kontrol dan
intervensi
Dukungan Bantuan yang diterima individu Menggunakan Jumlah skor Interval
keluarga dari anggota keluarga dalam kuesioner kumulatif
merawat pasien stroke dengan yang terdiri atas jawaban
15 item respon tentang
afasia motorik yang meliputi
pertanyaan dukungan
empat dimensi dan diukur pada dengan alternatif keluarga
hari ke 11 yaitu : jawaban dibagi total
a. Dimensi emosional menggunakan item
Dukungan yang diberikan skala Likert pertanyaan
keluarga kepada pasien untuk yang
afasia yang melibatkan pertanyaan dinyatakan
positif, yaitu : dalam rentang
ekspresi, empati dan 1 : tidak pernah 15 – 60

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


perhatian 2 : jarang
3 : sering
b. Dimensi penghargaan 4 : selalu
Dukungan melalui ekspresi
berupa sambutan yang Pernyataan
positif dari keluarga, negatif, yaitu :
4: tidak pernah,
dorongan atau pernyataan
3 : jarang
setuju terhadap perawatan 2 : sering
pasien stroke dengan afasia 1 : selalu.
motorik

c. Dimensi instrumental
Dukungan keluarga dalam
bantuan langsung
mengerjakan tugas tertentu
atau penyediaan sarana
terkait perawatan pasien
stroke dengan afasia motorik

d. Dimensi informasi
Dukungan keluarga dalam
pemberian saran atau umpan
balik terkait perawatan
pasien stroke dengan afasia
mtorik

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, yang tujuannya untuk menjawab


pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis penelitian (Beck & Hungler, Polit,
2001). Desain penelitian yang peneliti gunakan adalah desain quasi experiment
dengan pendekatan post test non equivalent control group, dimana dilakukan
pengukuran sebanyak 1 kali, yaitu sesudah eksperimen. Desain ini bertujuan untuk
meneliti hubungan sebab akibat dengan cara memberikan intervensi (perlakuan
kepada salah satu kelompok eksperimen, kemudian hasil (akibat) dari intervensi
tersebut dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kesimpulan hasil penelitian
didapat dengan cara membandingkan data post test antara kelompok perlakuan
dengan kelompok kontrol (Dharma, 2011). Adapun skema penelitian ini
digambarkan dalam skema sebagai berikut :

Skema 4.1
Rancangan Penelitian

Komunikasi dengan AAC Pengaruh


Intervensi
(O1)

Dibandingkan

O1 – O2 = X1

Kontrol Perlakuan dari rumah sakit


Pengaruh
(O2)

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Keterangan :

O1 = Kemampuan fungsional komunikasi dan depresi sesudah diberikan


komunikasi dengan AAC
O2= Kemampuan fungsional komunikasi dan depresi sesudah diberikan
komunikasi standar rumah sakit pada kelompok kontrol
O3 = Kemampuan fungsional komunikasi dan depresi antara kelompok kontrol
dan intervensi sesudah dilakukan intervensi.

4.2 Populasi dan Sampel


4.2.1 Populasi
Populasi adalah sejumlah besar subjek yang mempunyai karakteristik tertentu
(Sastroasmoro & Ismael, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
pasien stroke yang dirawat di RSUD Kabupaten Garut, Kota Tasikmalaya dan
Banjar.

4.2.2 Sampel
Sampel adalah subjek yaitu sebagian dari populasi yang dinilai karakteristiknya
diukur oleh peneliti dan nantinya dipakai untuk menduga karakteristik dari
populasi (Sabri dan Hastono, 2006). Sesuai dengan desain penelitian, pengambilan
sampel dilakukan secara terpilih sesuai dengan kriteria inklusi. Kriteria inklusi
adalah karakteristik umum yang harus dipenuhi oleh subyek agar dapat ikut dalam
penelitian (Sastroasmoro & Ismael, 2010). Kriteria inklusi sampel tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Pasien yang didiagnosa stroke hemoragik dan non hemoragik yang mengalami
afasia motorik. Penentuan afasia motorik dibuat berdasarkan format Frenchay
Aphasia Screening Test (FAST), yaitu ditandai oleh ketidakmampuan pasien
untuk mengkoordinasikan atau menyusun fikiran, perasaan dan kemauan
menjadi simbol yang bermakna dan dimengerti oleh orang lain, tetapi pasien
masih mempunyai pemahaman yang baik. Bicara lisan tidak lancar, terputus-
putus dan sering ucapannya tidak dimengerti orang lain. Apabila bertutur
kalimatnya pendek-pendek dan monoton. Kemampuan berbicara pasien afasia
setara dengan kemampuan menulis.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


c. Kesadaran komposmentis yang dapat dinilai secara kualitas pada saat
berinteraksi dengan pasien, seperti mampu mengikuti perintah dan ada kontak
mata dengan peneliti.
d. Pasien yang ditunggu oleh keluarganya dan terlibat dalam latihan komunikasi
e. Pasien dan keluarga bersedia menjadi responden

Kriteria ekslusi adalah keadaan yang menyebabkan subyek memenuhi kriteria


inklusi tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian. Kriteria ekslusi pada
penelitian ini adalah :
a. Pasien dengan disartria.
b. Pasien yang mempunyai riwayat depresi sebelum stroke
c. Pasien yang mendapat terapi antidepresan
d. Mengalami peningkatan tekanan intrakranial (adanya muntah proyektil,
pusing, tekanan darah tidak stabil, penurunan kesadaran).

Untuk memperkirakan besar sampel dari dua kelompok independen dengan uji
hipotesis, diperlukan 4 informasi penting yaitu :
a. Simpang baku kedua kelompok, s (dari pustaka)
b. Perbedaan klinis yang diinginkan, x 1 – x2 (clinical judgement)
c. Kesalahan tipe I, α (ditetapkan)
d. Kesalahan tipe II, β (ditetapkan)

Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan estimasi (perkiraan)


untuk menguji hipotesis beda rata-rata 2 kelompok tidak berpasangan dengan
rumus sebagai berikut (Sastroasmoro & Ismael, 2010):

Z +Z S
n =n =2
Χ −Χ
Keterangan :
n1 = n2 : Besar sampel
Zα : Kesalahan Tipe I = 5 %, hipotesis dua arah, Z = 1.96
Zß : Kesalahan Tipe II = 20 %, maka Z = 0.842
S : Simpang baku gabungan = 6.9
X1 – X2 : Selisih rerata minimal yang dianggap bermakna oleh peneliti

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Parameter yang berasal dari kepustakaan, adalah simpang baku (S), dan simpang
baku yang didapatkan dari peneliti sebelumnya yaitu berdasarkan hasil penelitian
tentang depression in acute stroke yang dilakukan oleh Caiero, Ferro, Santos &
Luisa (2006) memiliki rata-rata depresi pada pasien stroke 13.7, sedangkan
standar deviasi 6.9. Nilai rerata minimal yang dianggap bermakna oleh peneliti,
yaitu 5,7.

Adapun derajat kemaknaan 5% dan kekuatan uji 80%. Dengan demikian, maka
besar sampel untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :
Berdasarkan simpang baku diatas, dan nilai Χ − Χ yang ditetapkan oleh peneliti
sebesar 5.7 maka didapatkan jumlah sampel :

(1.96 + 0.842) × 6.9


n =n =2
13.7 − 5.7

2.802 × 6.9
n =n =2
8

19.33
n=n =2
8

n = n = 2 ( 2.416)

n = n = 2 × 5.838

n = n = 11.6 = 12

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, kemudian ditambahkan 10% dari besar


sampel untuk antisipasi adanya sampel yang mengalami drop out maka
didapatkan jumlah sampel 13.3 (dibulatkan 13), sehingga jumlah sampel untuk
kelompok kontrol maupun kelompok intervensi masing-masing adalah 13
responden.

Selama penelitian di RSUD Kota Tasikmalaya, Kota Banjar dan Kabupaten Garut
peneliti mendapatkan jumlah sampel 21 orang yaitu 11 orang kelompok kontrol

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


dan 10 orang kelompok intervensi. Pada saat penelitian, didapatkan 1 orang
responden pada kelompok kontrol drop out karena pindah ke rumah sakit swasta
di Bandung, 2 orang responden pada kelompok intervensi drop out dengan rincian
1 orang responden pindah ke rumah sakit swasta di Bandung dan 1 orang
responden pulang paksa dan menolak dilanjutkan pemberian komunikasi dengan
AAC (hari ke – 2) karena ingin pindah ke Rumah Sakit Cipto Dr. Mangunkusumo
(RSCM) Jakarta .

Dahlan (2006) menyatakan power penelitian perlu dihitung kembali karena besar
sampel yang diperoleh tidak sesuai dengan yang direncanakan. Dari hasil
pengolahan data dari depresi, diperoleh rata-rata depresi pada kelompok kontrol
(n1=11) adalah 9.64 (µ1) dengan SD1 1.29. Sedangkan rata-rata depresi pada
kelompok intervensi (n2=10) adalah 8.30 (µ2) dengan SD2 1.16.

Menurut Dahlan (2006) untuk menghitung power menggunakan rumus sebagai


berikut:

(µ1 - µ2) √n/2


Zβ = ------------------ - Zα
S

Keterangan :
Zβ = Kesalahan tipe II
Zα = Kesalahan tipe I 5% ( dua arah = 1,96)
µ1 = rata - rata yang diamati satu
µ2 = rata - rata yang diamati dua
n = jumlah sampel per kelompok
S = standar deviasi gabungan masing-masing kelompok.

Menurut Dahlan (2006) untuk menghitung standar deviasi gabungan


menggunakan rumus sebagai berikut:

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


S12 (n1 – 1) + S22 (n2 – 1)
2
S = --------------------------------
n1 + n2 -2

Setelah nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam formula diatas diperoleh pada


nilai Zβ (kesalahan tipe II) pada depresi adalah 1.57 yang apabila dikonversi
menjadi nilai power 90% - 95% (Dahlan, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa
walaupun dalam penelitian ini jumlah responden tidak sesuai dengan rencana
namun memiliki nilai power penelitian yang tinggi.

Selain itu menurut Roscoe (1982) dalam Sugiyono (2009), penentuan besar
sampel penelitian ekspremen sederhana adalah sebesar 10-20 sampel untuk setiap
kelompok, sehingga berdasarkan pertimbangan diatas, jumlah sampel dianggap
memenuhi untuk jenis penelitian eksperimen sederhana ini.

4.3 Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik non
probability sampling jenis consecutive sampling, dimana subjek yang datang
untuk dilakukan rawat inap dan memenuhi kriteria inklusi dimasukkan ke dalam
penelitian sampai jumlah sampel terpenuhi (Sastroasmoro & Ismael, 2010).

4.4 Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di RSUD Kabupaten Garut, Kota Tasikmalaya dan Banjar
dengan pertimbangan ketiga rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit
pemerintah (tipe B) yang dilengkapi dengan fasilitas ruang perawatan pasien
stroke serta memiliki karakteristik pasien stroke yang sama. Selain itu belum
pernah dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian komunikasi dengan
AAC terhadap kermampuan fungsional komunikasi dan depresi pada pasien
stroke dengan afasia motorik. Ruangan yang digunakan di RSUD Kabupaten
Garut adalah Cempaka Atas dan Cempaka Bawah. Ruangan yang digunakan di
RSUD Kota Tasikmalaya adalah ruangan V, Batik, VIP dan ruangan di RSUD
Banjar adalah Flamboyan, Mawar, Anggrek dan Dahlia.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


4.5 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan selama empat minggu mulai tanggal 15 November
sampai dengan 15 Desember 2011, setelah peneliti mendapatkan surat ijin
penelitian dari ketiga rumah sakit.

4.6 Etika Penelitian


Selama penelitian, responden dilindungi dengan memperhatikan aspek – aspek
self determination, privacy and anonymity, benefience, maleficience, justice (Polit
& Beck, 2004). Penelitian dilakukan setelah mendapat persetujuan dengan
menekankan masalah etika sebagai berikut :
4.6.1 Self determination
Prinsip self determination diterapkan dengan cara responden diberi
kebebasan oleh peneliti untuk menentukan keputusan sendiri, apakah
bersedia ikut dalam penelitian atau tidak tanpa paksaan (sukarela). Setelah
responden bersedia, selanjutnya peneliti menjelaskan maksud dan tujuan
serta manfaat penelitian, kemudian peneliti menanyakan kesediaan
responden, setelah setuju, responden diminta untuk menandatangani lembar
persetujuan menjadi subyek penelitian atau informed consent yang
disediakan.
4.6.2 Privacy and anonymity
Prinsip etik privacy dan anonymity yaitu prinsip menjaga kerahasiaan
informasi responden dengan tidak mencantumkan nama, tetapi hanya
menuliskan kode inisial dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
Informasi yang dikumpulkan dijamin oleh peneliti kerahasiaannya dengan
memusnahkan data ketika datanya sudah selesai diambil dan dianalisa.
4.6.3 Beneficience
Beneficience merupakan prinsip etik yang mementingkan keuntungan, baik
bagi peneliti maupun responden sendiri. Dalam penelitian ini, peneliti
melakukan intervensi berupa pemberian AAC yang telah melalui
penelaahan terkait manfaat pemberian AAC dari berbagai hasil penelitian
sebelumnya dan konsep – konsep terkait. Intervensi dalam penelitian ini

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


memberikan efek terapeutik untuk memfasilitasi komunikasi, sehingga
mencegah terjadinya depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik.
4.6.4 Maleficience
Peneliti memberikan kesempatan kepada responden untuk menyampaikan
ketidaknyamanan dan tidak melanjutkan kegiatan penelitian bila responden
mengalami ketidaknyamanan atau penurunan kesehatan. Selain itu
responden diberi hak untuk menolak melanjutkan kembali kegiatan
penelitian jika dianggap membahayakan responden.
4.6.5 Justice
Justice merupakan prinsip etik yang memandang keadilan dengan
memberikan keadilan bagi responden. Responden pada kelompok kontrol
diberikan alat tulis/isyarat pada hari 1 – 10 dan pada hari ke 11 diberikan
AAC menggunakan buku komunikasi yang berisi gambar, sedangkan pada
kelompok intervensi diberikan AAC berupa buku komunikasi, papan
alfabet, musik, majalah/ surat kabar, objek disekitar ruangan dan alat tulis
berdasarkan format yang dirancang oleh peneliti.

4.7. Informed Consent


Infomed consent merupakan persetujuan atau izin yang diberikan oleh
responden untuk memperbolehkan dilakukannya suatu tindakan atau
perlakuan.

4.8 Alat Pengumpul Data


Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian adalah :
4.8.1 Kuesioner karakteristik responden
Kuesioner ini terdiri dari pertanyaan yang menggali informasi responden
yang meliputi antara lain umur, jenis kelamin, frekuensi serangan stroke,
ketidakmampuan fisik dan dukungan keluarga.

4.8.2 Lembar observasi skrining afasia dengan menggunakan FAST untuk menilai
apakah pasien mengalami afasia/tidak terhadap kemampuan berbahasa,
seperti pemahaman, mengungkapkan, membaca dan menulis. Instrumen

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


FAST dikembangkan oleh Enderby pada tahun 1987. FAST dapat
digunakan oleh non spesialis, seperti staf medical junior, perawat, terapi
okupasi dan lainnya untuk mengidentifikasi gangguan bahasa. FAST terdiri
18 item dengan skor 0 – 30. Dikatakan afasia ialah bila skor < 27 pada usia
diatas 60 tahun atau bila skor <25 pada usia dibawah 60 tahun. Pada
pengujian validitas construct, berdasarkan hasil penelitian Al- Khawaja,
Wade & Collin (1995) pada 50 pasien yang mengalami afasia, FAST
memiliki korelasi adekuat dengan Barthel Index (r = 0.59) dan FAST
memiliki korelasi yang sangat baik pada aspek kemampuan pemahaman
dengan Sheffield Screening Test for Acquired Language Disorder (SST) (r
= 0.74) dan pada aspek ekspresi memiliki korelasi yang sangat baik (r =
0.92). Validitas FAST terhadap Functional Communication Profile (FCP)
dan Minnesota Test untuk membedakan diagnosa afasia, FAST memiliki
korelasi yang sangat baik diantara kedua instrumen tersebut (r =`0.73 dan r
= 0.91). Pengujian reliabilitas test-retest dan inter-rater reliability,
ditemukan FAST memiliki koefisien Kendall yang tinggi yaitu 0.97. FAST
memiliki sensitivitas yang tertinggi 87% dan spesifitas 80% dibandingkan
dengan instrumen UAS. (www.medicine.mc.gill.ca/strokeengine-
asses/module_fast_psycho-en.html.

4.8.3 Lembar observasi perawat tentang depresi berisi daftar penilaian atau ceklist
untuk menilai depresi/mood pasien pada kelompok kontrol dan kelompok
intervensi dengan menggunakan Aphasic Depression Rating Scale (ADRS).
Aphasic Depression Rating Scale (ADRS) dikembangkan oleh Benaim,
Cailly, Perennou & Pelissier pada tahun 2004 untuk mendeteksi dan
mengkaji depresi berdasarkan observasi perilaku pada pasien afasia. ADRS
digunakan pada pasien yang memiliki afasia dengan stroke dan terdiri dari
9 item yang dipilih dari Hamilton Depression Rating Scale (HDRS),
Montgomery & Asperg Depression Rating Scale (MADRS) dan Salpetriere
Ratardation Rating Scale (SRRR). Skor diberikan dengan menambahkan
setiap item yang berbeda pada setiap item, dengan jumlah total skor yang
diperoleh 32. ADRS memiliki titik potong 9/32 yang dipakai untuk

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


menentukan adanya depresi pada pasien dengan afasia, dengan kesimpulan
semakin tinggi skor yang diperoleh, maka semakin menunjukkan gejala
depresi.

ADRS telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Pengujian validitas secara


concurrent dengan menggunakan nilai Wilks, maka didapatkan nilai untuk
7 item = 0.121 dan 0.116 untuk 8 item. Sedangkan pengujian convergent
validity (construct) ditemukan korelasi ADRS dengan HDRS sangat baik (r
= 0.60 dan 0.77) dan validitas kriteria (predictive validity) memiliki
sensitivitas 0.89 dan spesifisitasnya adalah 0.71 Pada pengujian reliabilitas
dengan test retest, diantara item – item dengan uji Kappa, ditemukan 9 item
memiliki Kappa yang cukup (0.58) (rentang Kappa 0.33 – 1.00). Korelasi
item – item ADRS umumnya sangat baik (r = 0.89). Pada pengujian
interrater reliability dengan uji statistik Kappa menunjukkan 9 item sangat
baik (r = 0.69), skor ADRS secara umum memiliki (r = 0.89).

4.8.4 Lembar kuesioner kemampuan fungsional komunikasi dengan menggunakan


Derby Functional Communication Scale. Instrumen ini dikembangkan oleh
Derby et al, pada tahun 1997 untuk pengkajian observasi fungsional
komunikasi pada pasien dengan gangguan komunikasi didapat selama di
rumah sakit dan unit rehabilitasi. Instrumen ini dapat digunakan oleh non
speech and language dan petugas kesehatan. DFCS menunjukkan
hubungan yang signifikan dengan pengukuran komunikasi lain, seperti
FAST, Speech Questionnaire (SQ) dan Edinburgh Functional
Communication Profile (EFCP) (rs = 0.79 – 0.9, p< 0.01). DFCS terdiri dari
tiga skala yaitu Ekspresi (E), Pemahaman (U) dan Interaksi (I). Setiap skala
terdiri dari 8 pertanyaan dengan rentang terendah 0 dan tertinggi 8. Nilai 0
berarti pasien tidak mampu mengungkapkan kebutuhan, tidak ada
pemahaman atau tidak ada interaksi pada skala E, U dan I dan nilai 8 =
tidak menunjukkan gangguan pada skala E, U dan I. Kesimpulan yang
diperoleh semakin tinggi nilai yang diperoleh, maka akan menunjukkan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


kemampuan fungsional komunikasi yang lebih baik pada skala E, U dan I.
Skor dari ketiga penilaian ekspresi, pemahaman dan interaksi adalah 0 - 24

4.8.5 Lembar kuesioner ketidakmampuan fisik dengan menggunakan Barthel


Index. Instrumen ini diperkenalkan oleh Mahoney FI dan Bathel DW pada
tahun 1965 untuk memeriksa status fungsional pada pasien dewasa yang
dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama dan rehabilitasi.
Instrumen ini didesain untuk memonitor perkembangan mobilitas dan
perawatan diri serta mengkaji kebutuhan perawatan yang terdiri dari 10
item, meliputi makan, berpindah dari tempat tidur, perawatan diri,
penggunaan toilet, mandi, berjalan, naik/turun tangga, berpakaian,
kemampuan untuk mengontrol eliminasi buang air besar dan buang air
kecil. Nilai Barthel Index berada pada rentang 0 – 100.
Barthel Index sering digunakan di bagian neurologi, psikiatri dan
rehabilitasi pasien dengan gangguan neuromuskuler atau muskuloskeletal
dengan reliabilitas dan validitas yang sangat baik dan penggunaannya
membutuhkan waktu 1 – 5 menit (Loretz, 2005). Pada pasien stroke
memiliki nilai test-retest reliabilitas 0.989 dan interreliabilitas 0.994 dengan
Cronbach alpha 0.935 (Oveisgharan, Shirani, Ghorbani, Soltanzade,
Baghaei & Hossini, 2006). Sedangkan menurut Shah, Vanclay & Cooper
(1989 dalam Sit, 2007), barthel index sudah teruji secara validitas
konstruksi dimana alpha cronbach sebesar 0.96.

4.8.5 Lembar kuesioner dukungan keluarga yang diisi oleh keluarga untuk menilai
dukungan keluarga terhadap pasien afasia motorik. Kuesioner dukungan
keluarga dibuat berdasarkan beberapa teori dukungan keluarga dan
modifikasi instrumen dari kuesioner Yenni (2011) tentang hubungan
dukungan keluarga dan karakteristik lansia dengan kejadian stroke pada
lansia hipertensi di wilayah kerja puskesmas perkotaan Bukittinggi.
Dukungan keluarga dinilai pada empat dimensi, yaitu dimensi informasi,
emosi, instrumental dan penghargaan. Dukungan keluarga dinilai pada hari
ke 11 sesudah pemberian komunikasi dengan AAC. Dukungan keluarga

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


mencakup dimensi emosional terdiri dari 3 item (pertanyaan nomor
9,10,11), penghargaan 4 item (pertanyaan nomor 12,13,14,15), instrumental
5 item (pertanyaan nomor 4,5,6,7,8) dan informasi 3 item (pertanyaan
nomor 1,2,3). Dukungan keluarga menggunakan skala Likert untuk
pertanyaan positif, yaitu : 1 : tidak pernah 2 : jarang 3 : sering 4 : selalu.
Sedangkan untuk pernyataan negatif, yaitu : 4: tidak pernah, 3 : jarang : 2 :
sering, 1: selalu. Pertanyaan positif 13 item yaitu nomor
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,12,13,15 dan pertanyaan negatif 2 item yaitu
pertanyaan 11,14. Kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu semakin tinggi
nilai dukungan, maka semakin baik dukungan keluarga.

4.8.5 Validitas dan Reliabilitas


a. Validitas
Validitas berarti sejauh mana ketepatan suatu alat ukur dalam mengukur suatu
data (Hastono, 2007). Validitas menunjukkan ketepatan pengukuran suatu
instrumen, artinya instumen dikatakan valid bila instrumen tersebut mengukur apa
yang seharusnya diukur (Darma, 2011).

Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner, seperti dukungan


keluarga yang dibuat oleh peneliti dengan memodifikasi teori dukungan keluarga
dan modifikasi dari Yenni (2011). Sedangkan lembar observasi penilaian afasia,
kemampuan fungsional komunikasi dan depresi diadopsi dari jurnal berbahasa
Inggris. Kesemua instrumen itu dilakukan uji validitas dan reliabilitas kepada 10
orang responden. Validitas (kesahihan) yaitu seberapa mampu alat ukur
menyatakan apa yang seharusnya diukur. Terdapat 2 tipe validitas yang digunakan
untuk membuktikan validitas, yaitu :

1. Content Validity (validitas isi)


Validitas isi menunjukkan kemampuan item pertanyaan dalam instrumen
mewakili semua unsur dimensi konsep yang sedang diteliti. Untuk
menentukan validitas isi suatu isntrumen dilakukan dengan meminta pendapat
pakar dibidang yang diteliti. Pakar diminta menelaah instrumen dan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


menentukan apakah seluruh item pertanyaan telah mencakup isi dari suatu
konsep yang diteliti. Konsep yang diukur dari instrumen adalah isi yang tepat,
komprehensif, logis, konsisten dan dimengerti oleh responden (Dharma,
2011).

Instrumen ini sudah melalui hasil konsultasi dan persetujuan dosen


pembimbing dan penguji pada sidang proposal tesis. Lembar observasi
penilaian afasia, depresi, kemampuan fungsional komunikasi merupakan
instrumen yang diadopsi dari bahasa Inggris kebahasa Indonesia, maka
peneliti telah melakukan validitas isi dengan meminta pakar bahasa untuk
menterjemahkan instrumen tersebut kedalam bahasa Indonesia yang dapat
dimengerti oleh responden, setelah itu meminta pakar keperawatan melakukan
validasi lagi apakah kesemua instrumen yang diterjemahkan tadi sudah sesuai
dengan lingkup keperawatan yang ingin diteliti. Sedangkan untuk instrumen
dukungan keluarga, peneliti juga menanyakan langsung kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga terhadap pertanyaan dalam instrumen tersebut,
meliputi kejelasan dalam pencetakan, ketepatan bahasa atau kalimat, kejelasan
petunjuk dan kecukupan waktu pengisian.

2. Construct Validity ( validitas konstruk)


Merupakan validitas yang menggambarkan seberapa jauh instrumen memiliki
item – item pertanyaan yang dilandasi oleh konstruk tertentu. Validitas ini
menunjukkan bahwa instrumen disusun berdasarkan aspek – aspek yang akan
diukur dengan berlandaskan teori tertentu, selanjutnya instrumen ini
dikonsulkan kepada ahli. Setelah itu dilakukan uji coba instrumen pada sampel
dari mana populasi diambil. Instumen yang telah memiliki validitas konstruk
mampu membedakan nilai/hasil pengukuran antara satu individu dengan
lainnya (Darma, 2011)

Prosedur yang digunakan untuk menguji validitas alat ukur instrumen


dukungan keluarga adalah dengan teknik homogenitas item (internal
consistency) dengan menggunakan formulasi korelasi Pearson Product
Moment. Metode ini menghubungkan setiap skor item pertanyaan dengan skor

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


totalnya. Menurut Nunnaly (1994 dalam Dharma, 2011), nilai korelasi antara
skor item dan skor total yang baik adalah r ≥ 0.3, sehingga dapat diharapkan
koefisien alpha menjadi lebih tinggi dan dikatakan valid. Pertanyaan yang
tidak valid akan dibuang atau dikeluarkan dari alat ukur.

Instrumen dukungan keluarga telah dilakukan uji validitas terhadap 10 orang


responden yang ada di RSUD Tasikmalaya dan Banjar. Uji validitas dukungan
keluarga tidak dilakukan lagi di RSUD Garut oleh karena peneliti melakukan
penelitian di RSUD Garut mulai minggu ketiga, sehingga peneliti
menggunakan hasil uji validitas yang telah memenuhi kriteria validitas di
RSUD Tasikmalaya dan Banjar saja.

Hasil uji validitas dan reabilitas dengan degree of freedom 10-2 =8 (r tabel
0.632). Pada kuesioner dukungan keluarga terdapat pertanyaan yang tidak
valid yaitu pertanyaan nomor 8, 9,10 dan 13, sehingga pertanyaan tersebut
dikeluarkan dari instrumen. Selanjutnya pertanyaan yang valid adalah 15 item
dengan nilai validitas (r 0.724 – 0.863. Jumlah pertanyaan dukungan keluarga
yang digunakan dalam penelitian ini adalah 15 pertanyaan dengan
pertimbangan ke 15 pertanyaan tersebut telah memenuhi 4 dimensi, yaitu
dimensi informasi, instrumental, emosional dan penghargaan.

b. Reliabilitas (kehandalan) yaitu tingkat konsistensi dari suatu pengukuran.


Reliabilitas menunjukkan apakah pengukuran menghasilkan data konsisten
jika instrumen digunakan kembali secara berulang. Prosedur yang digunakan
untuk menguji reliabilitas instrumen dukungan keluarga dengan memperoleh
hasil Alpha Cronbach ≥ 0.90, jika nilai dari tersebut ≥ 0.90, maka instrumen
tersebut reliable (Dharma, 2011).

Uji reabilitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hasil (nilai alpha)


dengan r tabel dengan ketentuan bila r alpha > r tabel, maka pernyataan
tersebut realiabel. Pada penelitiani ini ditemukan nilai alpha cronbach yang
ditemukan pada instrumen dukungan keluarga adalah nilai reliabelnya > 0.90
(alpha cronbach 0.939).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Untuk tetap menjaga reliabilitas, reliabilitas ini menggunakan metode
ekuivalen yang menunjukkan kesepakatan antar pengukur tentang hasil suatu
pengukuran. Penentuan ekuivalensi suatu alat ukur dilakukan dengan metode
interrater reliability yaitu uji reliabilitas untuk menyamakan persepsi antara
peneliti dengan asisten peneliti. Dalam melakukan penelitian dengan metode
observasi atau quasi eksperimen, sering kali antara peneliti dan numerator
(pengumpul data) terjadi perbedaan persepsi terhadap kejadian yang diamati.

Uji interrater dilakukan terhadap instrumen observasi/pengamatan. Alat yang


digunakan untuk uji interrater adalah uji statistik Kappa. Cohen’s Kappa ini
dilakukan dengan menilai kesepakatan antara dua orang atau lebih observer
terhadap suatu pengukuran yang dilakukan (Dharma, 2011; Hastono, 2007).

Instrumen afasia, depresi dan ketidakmampuan fisik kesemuanya merupakan


instrumen observasi dan pedoman pemberian AAC, maka dilakukan uji
interrater diantara peneliti dan 5 orang asisten peneliti terhadap 13 orang
responden di RSUD Tasikmalaya, Banjar dan Garut. Asisten peneliti yang
diambil dalam penelitian ini merupakan perawat ruangan dengan tingkat
pendidikan SI Keperawatan dengan masa kerja dan pengalaman di ruang
neurologi minimal 5 tahun. Peneliti dan asisten peneliti secara bersamaan
melakukan penilaian skrining afasia, kemampuan fungsional komunikasi,
depresi dan ketidakmampuan fisik pada pasien stroke dengan afasia motorik.

Hasil uji interrater diperoleh dengan nilai koefesien Kappa masing-masing


asisten adalah 1,000 dengan p < 0,05 yang berarti tidak ada perbedaan persepsi
dalam penilaian afasia, depresi, kemampuan fungsional komunikasi dan
ketidakmampuan fisik. Uji interrater juga dilakukan terhadap SOP pemberian
komunikasi dengan AAC antara peneliti dengan 5 orang asisten secara manual
dengan menggunakan list pemberian AAC. Hasil 85% - 100% yang dipakai
sebagai asisten peneliti. Kelima asisten peneliti tersebut memenuhi kriteria
tersebut.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


4.9 Prosedur Pengumpulan Data
Langkah-langkah dalam pengumpulan data sebagai berikut:
Sebagai langkah awal, peneliti melakukan prosedur administrasi yang terkait
dengan kegiatan sebelum penelitian dengan membina hubungan dengan instansi
rumah sakit yang dijadikan tempat penelitian. Adapun prosedur tersebut adalah :
4.9.1 Tahap Administratif
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan setelah mendapat izin penelitian tertulis dari
komite etik FIK UI, persetujuan dari pembimbing, Kepala bidang diklat RSUD
Kabupaten Garut, Kota Tasikmalaya dan Banjar. Peneliti kemudian melakukan
koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait untuk pelaksanaan penelitian ini
yaitu dengan penanggung jawab ruangan rawat inap neurologi RSUD Kabupaten
Garut, Kota Tasikmalaya dan Banjar untuk menjelaskan tujuan penelitian.

4.9.2 Tahap Teknis


Adapun prosedur pengumpulan data sebagai berikut :
Data penelitian dikumpulkan oleh peneliti dan dibantu oleh 5 orang asisten
peneliti yang terdiri dari 1 orang asisten peneliti berasal dari RSUD Kabupaten
Garut, 2 orang asisten peneliti dari RSUD Kota Tasikmalaya dan dan 2 orang
asisten peneliti berasal dari RSUD Kota Banjar dengan latar belakang pendidikan
S1 keperawatan dan memiliki pengalaman di ruang neurologi minimal 5 tahun.

Sebelum melakukan penelitian, maka dilakukan persamaan persepsi antara


peneliti dan asisten peneliti dengan memberikan penjelasan terkait dan aplikasi
pengkajian afasia, kemampuan fungsional komunikasi, penilaian depresi,
ketidakmampuan fisik dan pedoman pemberian komunikasi dengan AAC yang
dibentuk dalam satu metode pelatihan sebagai berikut :
a. Pelatihan ini diberikan kepada 5 orang perawat yang telah dipilih sebelumnya.
b. Materi pelatihan ini (1) pengkajian/skrining FAST berdasarkan aspek
kemampuan pemahaman, pengucapan, menulis dan membaca dan memberikan
skor penilaian (2) cara menilai kemampuan fungsional komunikasi (3)
penilaian depresi (4) penilaian ketidakmampuan fisik (5) cara pemberian

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


komunikasi dengan AAC yang berorientasi pada tugas menunjuk gambar,
penamaan, mengulang, menulis, membaca dan mengeja huruf. .
c. Metode pelatihan berupa ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan pengisian
instrumen pengkajian afasia, kemampuan fungsional komunikasi, depresi dan
ketidakmampuan fisik. Evaluasi yang diharapkan dalam pelatihan ini adalah
dengan cara tanya jawab, kemudian asisten peneliti diminta untuk
medemonstrasikan kembali cara melakukan penilaian afasia, kemampuan
fungsional komunikasi, depresi, ketidakmampuan fisik dan pengisian pedoman
pemberian komunikasi dengan AAC. Setelah itu peneliti meminta asisten
mencoba menggunakan instrumen penelitian kepada pasien serta
mengumpulkan data tentang skor FAST, DFCS, ADRS, Barthel Index dan
dukungan keluarga. Selanjutnya kelima asisten juga diminta
mendemonstrasikan pemberian komunikasi dengan AAC terhadap pasien
stroke dengan afasia motorik.

4.9.3 Tahap Pemilihan Sampel


Pemilihan sampel dimulai dengan peneliti mencari responden yang dirawat di
ruang neurologi RSUD kota Tasikmalaya, Banjar dan Kabupaten Garut dan
menentukan responden penelitian ini berdasarkan kriteria inklusi yang telah
ditetapkan peneliti. Responden yang memenuhi kriteria inklusi diberi penjelasan
tentang prosedur penelitian, seperti tujuan, keuntungan serta kerugian penelitian.
Jika responden bersedia, selanjutnya responden diberi lembar persetujuan
(informed concent) untuk ditandatangani.

4.9.4 Tahap Pelaksanan


Setelah proses perijinan penelitian dilakukan, peneliti datang dan menyampaikan
maksud untuk melakukan penelitian ke RSUD Kota Tasikmalaya dan Banjar dan
Kabupaten Garut. Selanjutnya menentukan responden yang mengikuti penelitian
menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Pada
saat pengumpulan data, kelompok yang peneliti ambil, yaitu kelompok kontrol,
setelah kelompok kontrol terpenuhi, maka peneliti melanjutkan mengambil data
pada kelompok intervensi.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Adapun tahap pelaksanaan pada kedua kelompok adalah :
a. Kelompok kontrol
1. Menentukan responden diruangan neurologi yang memenui kriteria inklusi
sesuai dengan teknik pengambilan sampel.
2. Pada hari ke I, peneliti dan asisten peneliti meminta kesediaan responden
untuk menjadi sampel dengan terlebih dahulu menjelaskan maksud dan
tujuan penelitian, meminta dengan sukarela kepada responden untuk
menandatangani lembar informed consent, mencatat data responden sesuai
dengan tujuan penelitian, melakukan skrining afasia untuk menilai
afasia/tidak, selanjutnya ditentukan afasia motorik menggunakan format
FAST.
3. Pada hari ke I- X, kelompok kontrol diberikan alat tulis/ isyarat untuk
memfasilitasi komunikasi pasien stroke dengan afasia motorik.
4. Pada hari ke XI peneliti melakukan pengukuran kemampuan fungsional
komunikasi, depresi, ketidakmampuan fisik dan dukungan keluarga.

b. Kelompok intervensi
1. Menentukan responden diruangan neurologi yang memenui kriteria inklusi
sesuai dengan teknik pengambilan sampel.
2. Pada hari ke I, peneliti dan asisten peneliti meminta kesediaan responden
untuk menjadi sampel dengan terlebih dahulu menjelaskan maksud dan
tujuan penelitian, meminta dengan sukarela kepada responden untuk
menandatangani lembar informed consent, mencatat data responden sesuai
dengan tujuan penelitian, melakukan skrining afasia untuk menilai
afasia/tidak, selanjutnya ditentukan afasia motorik menggunakan format
FAST.
3. Pada hari ke I-X, kelompok intervensi diberikan AAC. Objek yang
digunakan dalam pelaksanaan komunikasi ini adalah buku komunikasi
yang berisi kegiatan sehari – hari, koran/majalah, foto keluarga, kartu
bergambar, alat tulis, papan alfabet dan lagu/musik.
4. Pada kelompok intervensi, peneliti melibatkan peran serta keluarga untuk
mendampingi pasien, mengobservasi pelaksanaan dan melakukan latihan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


komunikasi dengan pasien afasia motorik. Latihan komunikasi dilakukan
oleh peneliti dan dibantu oleh keluarga dengan tugas, yaitu :
a) Peneliti mengajarkan penggunaan AAC kepada pasien dan keluarga
menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan demonstrasi, terkait
penggunaan gambar yang ada dibuku komunikasi untuk memfasilitasi
komunikasi pasien dan meminta keluarga mencoba
mendemonstrasikan seperti yang diajarkan oleh peneliti.
b) Peneliti memberikan AAC yang dilakukan 3x setiap hari dengan waktu
pagi hari jam 09.00, siang hari jam 13.00 dan sore hari pada jam 16.00
selama 10 hari dengan frekuensi waktu pelaksanaan setiap 30 menit
berorientasi pada tugas menunjuk gambar, penamaan, pengulangan,
membaca, mengeja dan menulis.
c) Prosedur pemberian AAC dilakukan selama 10 hari berturut-turut.
Sebelum dan sesudah pelaksanaan latihan komunikasi, peneliti
mengukur tanda-tanda vital dan menilai keadaan umum pasien untuk
memastikan bahwa pasien dalam keadaan stabil.
d) Untuk memastikan bahwa program latihan dilaksanakan oleh peneliti
dengan baik dan teratur, dikontrol menggunakan lembar checlist
pemberian komunikasi.

e) Latihan komunikasi yang dilakukan oleh keluarga kepada pasien


adalah kegiatan pasien sehari – hari yang selalu dilakukan, seperti
setiap pasien mau makan, minum, mandi, menggosok gigi, menyisir
rambut, berpakaian, BAB, BAK, penggunaan toilet, istirahat dan tidur,
miring kanan/kiri, duduk bersandar, minum obat, mobilisasi dan lain -
lain merupakan suatu latihan dan komunikasi dengan waktu 5 menit x
20 kegiatan sehari-hari (total latihan setiap hari = 100 menit).
f) Keluarga dapat berperan secara mandiri melakukan latihan komunikasi
dengan tugas menunjuk gambar, menyebutkan, penamaan,
pengulangan, membaca, mengeja dan menulis, tetapi kegiatan ini tetap
dievaluasi oleh peneliti setiap hari untuk memonitor perkembangan
dan pelaksanaan latihan.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


c) Untuk memastikan bahwa program latihan mandiri dilaksanakan
keluarga dengan baik dan teratur, dikontrol menggunakan lembar
observasi dalam bentuk rapport.

5. Pada hari ke XI, peneliti melakukan penilaian kemampuan fungsional


komunikasi, depresi, ketidakmampuan fisik dan dukungan keluarga,
selanjutnya didokumentasikan pada lembar hasil pengukuran.

Tahapan hari I – X yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan latihan


komunikasi dijabarkan kedalam pertemuan sebagai berikut :
Pertemuan 1 : (Tugas pengenalan dan menyebutkan gambar)
a) Peneliti menjelaskan tujuan dan manfaat dilakukan AAC.
b) Peneliti memperkenalkan penggunaan gambar untuk memfasilitasi komunikasi
pasien afasia kepada pasien dan keluarga.
c) Peneliti mengajarkan gambar – gambar yang ada dibuku komunikasi
Mengajarkan setiap simbol/ gambar yang ada pada buku komunikasi kepada
pasien dan keluarga. Bantu pasien untuk menunjukkan setiap bagian/ label,
misalnya bila pasien mau mandi. Berikan waktu pada pasien untuk memahami
informasi yang diberikan. Jelaskan hubungan antara simbol dengan artinya
dalam bentuk kalimat dan instruksikan pasien untuk mengulangnya dalam
bentuk gambar lain. Misalnya simbol piring + sendok yang mengidentifikasi
saya ingin makan, seperti saya mau sikat gigi, perintahkan pasien untuk
menunjukkan pada gambar “sikat gigi” sebagai simbol ingin sikat gigi.
d) Keluarga mendemonstrasikan seperti yang dicontohkan oleh peneliti
e) Peneliti memberikan masukan terkait dengan demonstrasi yang dilakukan oleh
keluarga
f) Keluarga mempraktekkan langsung gambar – gambar kepada pasien.
g) Mencatat adanya kesulitan dalam penamaan objek (anomia) atau
ketidakmampuan untuk memberi nama suatu objek. .

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Pertemuan 2 :
a) Evaluasi kemampuan pasien dalam penggunaan gambar dengan meminta
pasien menunjukkan buku komunikasi yang berisi gambar dan anjurkan
pasien untuk mengucapkan kata- kata dalam suara keras. Minta pasien untuk
menyebutkan nama – nama benda yang ditunjukkan oleh pasien dan jelaskan
nama objek tersebut. Bila pasien tidak mampu menyebutkan kata tersebut,
bantu pasien menyebutkan suku pertama kata tersebut atau dengan
menggunakan kalimat penuntun. Misalnya : pensil. Kita dapat membantu
dengan suku kata pen… Atau dengan kalimat : “kita menulis dengan…”.
Instruksikan pasien untuk mengulang kata – kata tersebut. Jika memungkinkan
gunakan ekspresi wajah, gerakan tubuh dan irama suara sehingga pasien dapat
memahami pembicaraan.
b) Keluarga dianjurkan untuk selalu terlibat dalam aktivitas komunikasi pada hal
- hal rutin dilakukan pasien, misalnya pada saat pasien mau mandi, sikat gigi
atau makan, dengan menanyakan hal – hal yang berhubungan dengan aktivitas
tersebut.

Pertemuan 3 :
a) Peneliti bercakap cakap kepada pasien tentang pekerjaan/ keluarga pasien.
Catat irama bicara, berhenti atau kalimat monoton, produksi suara.
b) Peneliti meminta pasien menunjukkan objek disekitar ruangan, seperti
jendela, pintu, lampu, meja, kursi yang disebutkan oleh peneliti.

6. Hari II ( Tugas mengeja, pengulangan dan membaca)


Pertemuan 1 :
a) Peneliti memperkenalkan penggunaan papan alfabet kepada pasien dan
keluarga.
(1) Peneliti mengajarkan penggunaan papan alfabet. Peneliti melakukan
pengkajian terhadap abjad ABC dan vokal yang diucapkan, sebelum
menggunakan papan alfabet. Instruksikan kepada pasien untuk
mengeja abjad ABC dan bantu pasien untuk mengulang kembali
mengeja abjad tersebut dengan suara yang keras.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


(2) Keluarga mendemonstrasikan seperti yang dicontohkan oleh peneliti
(3) Peneliti memberikan masukan terkait dengan demonstrasi yang
dilakukan oleh keluarga
(4) Keluarga mempraktekkan langsung terhadap kepada pasien.

b) Mencatat adanya kemampuan penggunaan papan alfabet, kesulitan dalam


menyebutkan huruf dan jumlah huruf yang diucapkan.

Pertemuan 2 :
a) Peneliti mengevaluasi penggunaan papan alfabet kepada pasien dengan
meminta pasien untuk menunjukkan huruf dan meminta menyebutkannya
secara berulang – ulang.
b) Peneliti meminta pasien untuk menyebutkan huruf pertama dari suatu
benda yang ada didekat pasien, misalnya piring, gelas (menyebutkan huruf
“p”, “g”).

Pertemuan 3 :
a) Minta pasien untuk membaca kartu, kalimat/paragraf yang pendek di koran
dan kemudian minta pasien untuk membaca kembali apa yang dibaca
pasien dengan suara yang keras.
b) Peneliti meminta pasien untuk mengeja huruf yang ada dibuku
komunikasi/ koran/majalah.
c) Peneliti dapat meminta keluarga mendengarkan lagu – lagu yang disukai
pasien.

7. Hari III (Tugas menunjukkan dan menyebutkan gambar) :


Pertemuan 1 :
a) Pasien diminta untuk menunjukkan gambar pada buku komunikasi yang
disebutkan oleh keluarga dan meminta untuk menyebutkan gambar yang
ditunjuk.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


b) Keluarga diminta untuk terlibat dalam aktivitas komunikasi pada hal - hal
rutin dilakukan pasien, misalnya pada saat pasien mau mandi, sikat gigi
atau makan.
c) Peneliti dapat menanyakan benda – benda yang ada disekitar pasien,
seperti tunjukkan lampu, jendela, pintu, meja dan memerintahkan untuk
mengulangi kata – kata tersebut.
Pertemuan 2 :
a) Peneliti mengevaluasi penggunaan papan alfabet kepada pasien dengan
meminta pasien untuk menunjukkan huruf dan meminta menyebutkannya
secara berulang – ulang.
b) Peneliti meminta pasien untuk menyebutkan huruf pertama dari suatu
benda yang ada didekat pasien, misalnya meja, pintu (menyebutkan huruf
“m”, “p”).
c) Menunjukkan foto – foto anggota keluarga pasien, kemudian pasien
diminta menunjukkan dan menyebutkan nama anggota keluarganya,
mengulanginya kembali.

Pertemuan 3 :
a) Meminta pasien menceritakan mengapa sampai dirawat di rumah sakit,
atau minta pasien menceritakan mengenai pekerjaannya atau hobinya.
Jangan memutuskan pembicaraan pasien, apabila pasien mengalami
kesulitan atau menyelesaikan percakapannya.
b) Meminta keluarga mendengarkan musik/ lagu kesenangan pasien
(mengingatkan memori pasien tentang kata – kata dalam lagu dan
mendorong pasien untuk menyenandungkan lagu tersebut).

Hari IV (mengekspresikan, menulis dan membaca) :


Pertemuan 1:
a) Pasien diinformasikan dan dibantu menggunakan alat tulis untuk
menyatakan keinginannya. Minta pasien untuk menulis setiap
keinginannya dikertas atau apa yang difikirkan, seperti nama dan
alamatnya, nama anak/keluarga, mau makan, minum. Jika pasien tidak

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


bisa bantu pasien dengan memberikan tuntunan, seperti tulislah kalimat
yang berhubungan dengan makan pagi hari ini.
b) Katakan pada pasien untuk membaca tulisan yang ditulisnya dan
perintahkan untuk mengulang kembali apa yang dibacanya. Instruksikan
juga kepada pasien untuk mengeja kata atau bagian yang ditulisnya.
c) Mencatat kesalahan pengejaan, tidak dapat membaca, ketidakmampuan
menulis atau menulis tidak sesuai.

Pertemuan 2 :
a) Mengajak pasien bercakap – cakap, misalnya melalui pengalaman pasien
yang ada dibuku komunikasi, seperti acara televisi, apa yang dimakan
pasien pada sarapan pagi, bacaan di koran, dll.
b) Tunjukkan benda – benda yang mudah dikenal, seperti pulpen, kunci atau
jam dan tanyakan nama benda tersebut. Catat adanya kesulitan dalam
penamaan objek (anomia).
c) Keluarga dianjurkan untuk selalu terlibat dalam aktivitas komunikasi pada
hal - hal rutin dilakukan pasien, misalnya pada saat pasien mau minum
obat, buang air besar atau pada saat akan istirahat, dengan menanyakan hal
– hal yang berhubungan dengan aktivitas tersebut.

Pertemuan 3 :
a) Keluarga memberikan komunikasi dengan AAC pada tugas – tugas
pengucapan, penamaan, pengulangan, membaca, mengeja dan menulis
yang berhubungan dengan kegiatan sehari – hari, menunjukkan gambar
yang ada dibuku komunikasi atau yang ada disekitar pasien, keluarga/
hobi.

8. Hari V (Tugas menunjukkan dan menyebutkan gambar) :


Pertemuan 1 :
a) Pasien diminta untuk menunjukkan gambar pada buku komunikasi yang
disebutkan oleh keluarga dan meminta untuk menyebutkan gambar yang
ditunjuk.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


b) Keluarga diminta untuk terlibat dalam aktivitas komunikasi pada hal - hal
rutin dilakukan pasien, misalnya pada saat pasien mau mandi, sikat gigi
atau makan.
c) Peneliti dapat menanyakan benda – benda yang ada disekitar pasien,
seperti tunjukkan lampu, jendela, pintu, meja dan meminta pasien untuk
mengulangi kata – kata tersebut.
Pertemuan 2 :
a) Peneliti mengevaluasi penggunaan papan alfabet kepada pasien dengan
meminta pasien untuk menunjukkan huruf dan meminta menyebutkannya
secara berulang – ulang.
b) Peneliti meminta pasien untuk menyebutkan huruf pertama dari suatu
benda yang ada didekat pasien, misalnya meja, pintu (menyebutkan huruf
“m”, “p”).
c) Menunjukkan foto – foto anggota keluarga pasien, kemudian pasien
diminta menunjukkan dan menyebutkan nama anggota keluarganya,
mengulanginya kembali kata yang diucapkannya.

Pertemuan 3 :
a) Mengajak pasien bercakap – cakap, seperti apa yang dimakan pasien pada
sarapan pagi, bacaan di koran, dll.
b) Tunjukkan benda – benda yang mudah dikenal, seperti pulpen dan
meminta pasien untuk menyebutkannya.

9. Hari VI : (Tugas menyebutkan, menulis, mengeja huruf pertama, sebagian


kata/kata lengkap)
Pertemuan 1 :
a) Pasien diinformasikan menggunakan alat tulis untuk menyatakan
keinginannya. Minta pasien untuk menulis setiap keinginannya dikertas
atau apa yang difikirkan dalam bentuk kalimat, seperti pasien mau minum.
b) Katakan pada pasien untuk membaca tulisan yang ditulisnya dan
perintahkan untuk mengulang kembali apa yang dibacanya. Minta kepada
pasien untuk mengeja kata atau bagian yang ditulisnya.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Pertemuan 2 :
a) Meminta pasien untuk menceritakan tentang team olahraga favoritnya,
acara favorit ditelevisi, pekerjaannya.
b) Minta pasien untuk mengeja kata, huruf pertama, sebagian kata, minta
pasien untuk menuliskannya dikertas.

Pertemuan 3 :
a) Meminta pasien menunjukkan pada buku komunikasi apa yang disebutkan
peneliti, seperti “saya memerlukan sepatu”, “saya lapar dan ingin makan”,
“saya capek , saya ingin tidur”, “diluar gelap, tolong hidupkan lampu”.
b) Minta pasien untuk menunjukkan benda disekitar pasien, seperti lemari,
meja, roti, sandal, obat. Kemudian minta pasien untuk menyebutkan benda
yang ditunjukkan tersebut dan mengulangnya kembali.

10. Hari VII :


Pertemuan 1 :
a) Meminta keluarga mendengarkan musik/ lagu kesenangan pasien,
kemudian pasien diajarkan untuk mengambil alih lagu – lagu dan
menyanyikan kalimat pada melodi, mula – mula dengan turut menyanyi
bersama asisten peneliti/keluarga lalu meniru menyanyi
b) Meminta pasien untuk menunjukkan benda – benda yang ada disekitar
pasien, seperti “tutup pintu”, ‘sisir’, gelas, sendok, selimut, bantal, guling.

Pertemuan 2 :
a) Minta pasien untuk mencari dibuku komunikasi dan menunjukkan
kata/kalimat yang disebutkan peneliti, seperti : buah, gatal, cuaca, sabun,
shampoo.
b) Minta pasien untuk mengulang apa yang ditunjukkannya dengan
menyebutkan suku pertama, sebagian kata.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Pertemuan 3:
a) Meminta pasien untuk menyebutkan nama hewan, nama teman -
temannya, nama perawat/istri yang merawatnya
b) Minta pasien untuk mengulangnya, mengeja huruf pertama/sebagian
kata

11. Hari VIII :


Pertemuan 1 :
a) Menunjukkan majalah kepada pasien. Minta pasien untuk membaca tulisan
yang terdapat di majalah tersebut
b) Minta pasien untuk menulis dikertas tulisan yang dibacanya, minta pasien
mengejanya

Pertemuan 2 :
a) Minta pasien untuk mencari kata yang diucapkan oleh peneliti, kemudian
mencari kata tersebut dalam buku komunikasi tersebut, seperti “saya mau
menelepon”, saya mau wudhu, cuaca diluar dingin, saya mau buang air
kecil, buang air besar, saya memerlukan kacamata, saya ingin duduk
bersandar, saya ingin miring ke kanan.

Pertemuan 3 :
a) Meminta pasien untuk menyebutkan nama teman - temannya, nama pasien
disampingnya/anaknya
b) Minta pasien untuk mengulangnya, mengeja huruf pertama/sebagian
kata.

12. Hari IX :
Pertemuan 1 :
a) Meminta pasien untuk menunjuk nama anggota keluarganya yang ada di
hp atau foto, teman atau orang disekitarnya sesuai yang disebutkan oleh
peneliti, pasien diminta meniru ucapan dan memberi namanya

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


b) Kemudian minta pasien untuk menuliskannya di kertas atau papan yang
disediakan.

Pertemuan 2 :
a) Bercakap – cakap dengan pasien dalam melakukan kegiatan sehari – hari,
seperti mandi, mengenakan pakaian. Keluarga/peneliti dapat bercerita
tentang tempat tinggal atau hobi. Kita dapat menanyakan kepada pasien
tentang keluarganya atau bidang minatnya.

Pertemuan 3 :
a) Membacakan sesuatu (dari koran, misalnya), atau bersama – sama
mendengarkan lagu yang disukai pasien. Minta pasien untuk
menyebutkan yang disebutkan peneliti/keluarga dan mengulangnya
kembali.

13. Hari X :
Pertemuan 1 :
a) Tunjukkan buku komunikasi dan minta pasien untuk menyebutkan
gambar – gambar yang ada dibuku komunikasi, seperti kebutuhan
makan, minum, istirahat dan tidur.
b) Minta pasien menyebutkan benda – benda yang ada disekitar pasien,
seperti bantal, selimut, lemari.

Pertemuan 2 :
a) Dengarkan sebuah lagu yang disenangi pasien, peneliti bersama pasien
bernyanyi bersama, minta pasien menyanyikan kata/kalimat pada lagu,
dan meminta mencoba mengulangi menyanyi.

Pertemuan 3:
a) Minta pasien menyebutkan nama perawat/istri/anak yang merawatnya dan
mengulang apa yang disebutkannya.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Langkah – langkah pada penelitian ini dapat dilihat pada skema 4.2 berikut ini :

Skema 4.2
Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Memastikan diagnosa pasien adalah stroke
hemoragik dan non hemoragik (melalui status)

Sampel : Pasien stroke hemoragik dan non


hemoragik dengan afasia motorik yang dirawat di
RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar

Sampling : Consecutive sampling

Sampel yang memenuhi kriteria inklusi

Pengumpulan data karakteristik pasien ( umur, jenis kelamin, frekuensi


serangan stroke, keluarga yang merawat)

Kelompok kontrol n = 11 orang Kelompok intervensi n = 10 orang

Hari I-X : Pemberian isyarat/alat tulis Hari I-X: Pemberian buku komunikasi,
selama 10 hari (Hari I –X) papan alfabet, majalah/surat kabar, musik
alat tulis berdasarkan format yang
dirancang oleh peneliti dengan melibatkan
keluarga

Hari XI : Hari XI :
Penilaian kemampuan fungsional Penilaian kemampuan fungsional
komunikasi, depresi, ketidakmampuan komunikasi, depresi,
fisik dan dukungan keluarga ketidakmampuan fisik dan
dukungan keluarga

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


4.10 Pengolahan dan Analisis Data
4.10.1 Pengolahan Data
Setelah semua data terkumpul, maka data dianalisis melalui beberapa tahap, yaitu:
a. Pengecekan data (Editing)
Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan kelengkapan, kejelasan dan kesesuaian
data, mulai dari karakteristik responden, skrining afasia, penilaian kemampuan
fungsional komunikasi, depresi, ketidakmampuan fisik dan dukungan
keluarga.
b. Pemberian kode (Coding)
Koding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data
berbentuk angka/bilangan. Kode ini meliputi : kelompok (kelompok kontrol =
1 dan intervensi = 2), kode jenis kelamin (laki – laki 1 dan perempuan 2),
kode frekuensi serangan stroke =1 kali =1 dan > 1 kali = 2).
c. Pemrosesan data (Entry)
Pada tahap ini dilakukan kegiatan memasukan data ke paket program
komputer sesuai dengan variabel masing-masing secara teliti untuk
meminimalkan kesalahan.
d. Pembersihan data (Cleaning)
Merupakan upaya untuk memastikan data yang dimasukkan saat entry data
telah seluruhnya dan tidak ada kesalahan.

4.10.2 Analisis Data


a. Analisis Univariat
Dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik masing – masing variabel yang
diteliti. Variabel yang dianalisis adalah karakteristik responden, variabel bebas
dan variabel terikat. Variabel yang diteliti adalah umur, jenis kelamin,
frekuensi serangan stroke, ketidakmampuan fisik, dukungan keluarga,
kemampuan fungsional komunikasi dan depresi. Hasil dari analisis ini berupa
variabel kategorik dengan distribusi frekuensi dan prosentase dari masing-
masing variabel sedangkan variabel numerik dengan mean, median, standar
deviasi, serta nilai minimal dan maksimal pada 95% confidence interval (CI).
Analisis univariat masing – masing variabel dapat dilihat pada tabel 4.1.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Tabel 4.1 Analisis Univariat Variabel Dependen
dan Karakteristik Responden (Variabel Perancu)

No Variabel Jenis Data/ Skala Data Deskripsi

Variabel Dependen
1 Kemampuan Fungsional Numerik/Interval Mean, Median, SD, Min-
Komunikasi Mak, 95% CI
2. Depresi Numerik/Interval Mean, Median, SD, Min-
Mak, 95% CI
Variabel Confounding
3 Umur Numerik/ Interval Mean, Median, SD, Min-
Mak, 95% CI
4 Jenis Kelamin Kategorik/Nominal Jumlah, Persentase (%)
5 Frekuensi serangan stroke Kategorik/Nominal Jumlah, Persentase (%)
6 Ketidakmampuan fisik Numerik/ Interval Mean, Median, SD, Min-
Mak, 95% CI
7 Dukungan keluarga Numerik/Interval Mean, Median, SD, Min-
Mak, 95% CI

b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh signifikan antara
dua variabel. Untuk menentukan jenis uji yang digunakan terlebih dahulu, maka
dilakukan uji homogenitas dan normalitas. Uji homogenitas dilakukan pada setiap
data antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Untuk data kategorik diuji
dengan uji Chi-Square dan untuk data numerik digunakan uji Independent t-test.
Apabila nilai p > 0.05, maka data disebut homogen. Hasil yang didapatkan semua
data yang didapat homogen, artinya semua data memiliki kesetaraan pada variabel
perancu, seperti umur, jenis kelamin, frekuensi stroke, ketidakmampuan fisik dan
dukungan keluarga. Sedangkan untuk uji normalitas data dilakukan pada variabel
numerik dengan membagi nilai skewness dengan standar error. Hasil uji
normalitas untuk variabel umur, dukungan keluarga, ketidakmampuan fisik,
kemampuan komunikasi verbal dan depresi didapatkan hasil bahwa data
terdistribusi dengan normal, sehingga uji statistik yang digunakan adalah uji
parametrik dengan tingkat kemaknaan 95% (alpha 0,05). Artinya jika p value <
0.05, maka hasilnya bermakna yang berarti Ho ditolak atau ada pengaruh. Tetapi
jika p value > 0.05, maka hasilnya tidak bermakna yang berarti Ho diterima atau
tidak ada pengaruh. Analisis bivariat yang digunakan dapat dilihat dibawah ini:

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Tabel 4.2 Uji Statistik Analisis Bivariat
Analisis Homogenitas Kelompok Kontrol, lntervensi
dan Variabel Perancu

No Jenis Uji Statisitik


Variabel Kelompok

1 Umur (Numerik) Kontrol – Intervensi T test independent


2 Jenis kelamin (Kategorik) Kontrol – Intervensi Chi-Square
3 Frekuensi serangan stroke Chi-Square
Kontrol – Intervensi
(Kategorik)
]4 Ketidakmampuan fisik T test independet
Kontrol - Intervensi
(Numerik)
5 Dukungan keluarga (Numerik) Kontrol - intervensi T test independet

Tabel 4.3 Analisis Bivariat antara Kelompok Kontrol


Dan Kelompok Intervensi

No. Variabel Penelitian Uji Statistik

1. Perbedaan rata-rata kemampuan komunikasi verbal


sesudah diberikan komunikasi dengan AAC antara T test independent
kelompok kontrol dan kelompok intervensi

2. Perbedaan rata – rata depresi sesudah diberikan


komunikasi dengan AAC antara kelompok kontrol dan T test independent
kelompok intervensi

Tabel 4.4 Analisis Bivariat Variabel Confounding Dengan Variabel Dependen

No
Variabel Kelompok Jenis Uji Statisitik
1 Umur (Numerik) Intervensi Korelasi Person
2 Jenis kelamin (Kategorik) Intervensi T test Independent
3 Frekuensi serangan stroke T test Independent
Intervensi
(Kategorik)
]4 Ketidakmampuan fisik (Numerik) Intervensi Korelasi Person
5 Dukungan keluarga (Numerik) Intervensi Korelasi Person

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


BAB 5
HASIL PENELITIAN

Pada bab ini akan disajikan data tentang pengaruh pemberian komunikasi dengan
ugmentative and alternative communication terhadap kemampuan fungsional
komunikasi dan depresi berupa analisis univariat dan bivariat. Sebelum dilakukan
analisis bivariat dilakukan uji normalitas data dan uji kesetaraan pada variabel
perancu. Pada analisa univariat akan disajikan hasil distribusi frekuensi variabel
konfounding, dan variabel kemampuan fungsional komunikasi dan depresi.
Sedangkan pada analisa bivariat akan disajikan analisis kesetaraan, perbedaan rata
– rata kemampuan fungsional komunikasi dan depresi pada kelompok kontrol dan
intervensi beserta hubungan variabel perancu terhadap kemampuan fungsional
komunikasi dan depresi sesudah diberikan komunikasi dengan AAC.

5.1 Analisis univariat karakteristik responden

Karakteristik responden yaitu pasien stroke dengan afasia motorik yang


diidentifikasi berdasarkan umur, jenis kelamin, frekuensi serangan stroke,
ketidakmampuan fisik dan dukungan keluarga. Data yang bersifat numerik
dianalisis sehingga didapatkan nilai rata – rata, median dan standar deviasi. Data
kategorik dianalisis dan didapatkan hasil berupa persentase. Hasil analisis masing
– masing variabel ditunjukkan dalam tabel berikut.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur, Ketidakmampuan Fisik,
Dukungan Keluarga, Kemampuan Fungsional Komunikasi dan Depresi
Pada Pasien Afasia Motorik di RSUD Garut, Tasikmalaya & Banjar
November - Desember 2011

Variabel n Mean SD Min. – Mak. 95% CI


Umur
Kontrol 11 61.55 5.98 53 -70 57.52 – 65.57
Intervensi 10 62.70 11.89 42 - 76 54.19 – 71.21
Gabungan 21 62.10 9.055 42-76 57.97 – 66.22
Ketidakmampuan Fisik
Kontrol 11 25.00 8.062 10 - 40 19.58 – 30.42
Intervensi 10 26.00 6.58 15 - 40 21.29 – 30.71
Gabungan 21 25.48 7.229 10 - 40 22.19 – 28.77
Dukungan keluarga
Kontrol 11 45.73 3.524 39 - 53 43.36 – 48.09
Intervensi 10 47.30 2.31 44 - 50 45.65 – 48.9
Gabungan 21 46.48 3.043 39 - 53 45.09 – 47.86
Kemampuan fungsional
komunikasi
Kontrol 11 10.64 1.74 8 - 14 9.46 – 11.81
Intervensi 10 11.10 1.66 8 - 13 9.91 – 12.29
Gabungan 21 10.86 1.682 8 - 14 10.09 – 11.62
Depresi
Kontrol 11 9.64 1.28 8 - 13 8.77 – 10.50
Intervensi 10 8.30 1.16 7 - 10 7.47 – 9.13
Gabungan 21 9.00 1.378 7 - 13 8.37 – 9.63

5.1.1 Umur

Berdasarkan pada data tabel 5.1, didapatkan rata-rata umur pada kelompok kontrol
adalah 61.55 tahun (SD = 5.98) dengan umur termuda adalah 53 tahun dan usia
tertua 70 tahun. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95%
diyakini bahwa umur rata-rata antara 57.52 tahun sampai dengan 65.57 tahun.

Sedangkan rata-rata umur pada kelompok intervensi adalah 62.70 tahun (SD =
11.89) dengan umur termuda 42 tahun dan umur tertua 76 tahun. Dari hasil
estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa umur rata-rata
antara 54.19 tahun sampai dengan 71.21 tahun.

Rata – rata umur pada kelompok kontrol dan intervensi adalah 62.10 tahun (95%
CI : 57.97 – 66.22) dengan standar deviasi 9.055 tahun. Umur termuda 42 tahun
dan umur tertua 76 tahun, hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95%

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


diyakini rata – rata umur pada kelompok kontrol dan intervensi adalah diantara
57.97 tahun sampai dengan 66.22 tahun.

5.1.2 Ketidakmampuan fisik

Berdasarkan pada data tabel 5.1, didapatkan rata-rata ketidakmampuan fisik pada
kelompok kontrol adalah 25.00 (SD = 8.062) dengan ketidakmampuan fisik
terendah adalah 10 dan tertinggi 40. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan
bahwa 95% diyakini bahwa ketidakmampuan fisik rata-rata antara 19.58 sampai
dengan 30.42.

Sedangkan rata-rata ketidakmampuan fisik pada kelompok intervensi adalah 26.00


(SD = 6.58) dengan ketidakmampuan fisik terendah adalah 15 dan tertinggi 40.
Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa
ketidakmampuan fisik rata-rata antara 21.29 sampai dengan 30.71.

Rata – rata ketidakmampuan fisik pada kelompok kontrol dan intervensi adalah
25.48 (95% CI : 22.19 – 28.77) dengan standar deviasi 7.229. Ketidakmampuan
fisik terendah 10 dan tertinggi 40, hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa
95% diyakini rata – rata ketidakmampuan fisik pada kelompok kontrol dan
intervensi adalah diantara 22.19 sampai dengan 28.77.

5.1.3 Dukungan keluarga

Berdasarkan pada data tabel 5.1, didapatkan rata-rata dukungan keluarga pada
kelompok kontrol adalah 45.73 (SD = 3.52) dengan dukungan keluarga terendah
adalah 39 dan tertinggi 53. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa
95% diyakini bahwa dukungan keluarga rata-rata antara 43.36 sampai dengan
48.09.

Sedangkan rata-rata dukungan keluarga pada kelompok intervensi adalah 47.30


(SD = 2.31) dengan dukungan keluarga terendah adalah 44 dan tertinggi 50. Dari
hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa dukungan
keluarga rata-rata antara 45.65 sampai dengan 48.95.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Rata – rata dukungan keluarga pada kelompok kontrol dan intervensi adalah 46.48
(95% CI : 45.09 – 47.86) dengan standar deviasi 3.043. Dukungan keluarga
terendah 39 dan tertinggi 53, hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95%
diyakini rata – rata dukungan keluarga pada kelompok kontrol dan intervensi
adalah diantara 45.09 sampai dengan 47.86.

5.1.4 Kemampuan fungsional komunikasi

Berdasarkan tabel 5.1, didapatkan rata-rata kemampuan fungsional komunikasi


pada kelompok kontrol adalah 10.64 (SD = 1.74) dengan kemampuan komunikasi
verbal terendah adalah 8 dan tertinggi 14. Dari hasil estimasi interval dapat
disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa kemampuan fungsional komunikasi rata-
rata antara 9.46 sampai dengan 11.81.

Sedangkan rata-rata kemampuan fungsional komunikasi pada kelompok intervensi


adalah 11.10 (SD = 1.66) dengan kemampuan fungsional komunikasi terendah
adalah 8 dan tertinggi 13. Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa
95% diyakini bahwa kemampuan fungsional komunikasi rata-rata antara 9.91
sampai dengan 12.29.

Rata – rata kemampuan fungsional komunikasi pada kelompok kontrol dan


intervensi adalah 10.86 (95% CI : 10.09 – 11.62) dengan standar deviasi 1.682.
Kemampuan fungsional komunikasi terendah 8 dan tertinggi 14, hasil estimasi
interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini rata – rata kemampuan fungsional
komunikasi pada kelompok kontrol dan intervensi adalah diantara 10.09 sampai
dengan 11.62.

5.1.5 Depresi
Berdasarkan tabel 5.1, didapatkan rata-rata depresi pada kelompok kontrol adalah
9.64 (SD = 1.28) dengan depresi terendah adalah 8 dan tertinggi 13. Dari hasil
estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa depresi rata-rata
antara 8.77 sampai dengan 10.50.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Sedangkan rata-rata depresi pada kelompok intervensi adalah 8.30 (SD = 1.16).
Depresi terendah adalah 7 dan tertinggi adalah 10. Dari hasil estimasi interval
dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa depresi rata-rata antara 7.47
sampai dengan 9.13.

Rata – rata depresi pada kelompok kontrol dan intervensi adalah 9.00 (95% CI :
8.37 – 9.63) dengan standar deviasi 1.378. Depresi terendah 7 dan tertinggi 13,
hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini rata – rata depresi
pada kelompok kontrol dan intervensi adalah diantara 8.37 sampai dengan 9.63.

Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan


Frekuensi Serangan Stroke Pada Pasien Afasia Motorik
di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar
November – Desember 2011

Kontrol Intervensi Total


Variabel (n=11) (n=10)
∑ % ∑ % ∑ %
Jenis kelamin
Laki – laki 7 63.6 6 60.00 13 61.90
Perempuan 4 36.4 4 40.00 8 38.10
Total 11 100 10 100 21 100
Frekuensi serangan stroke
1 kali 6 54.5 5 50.00 11 52.38
> 1 kali 5 45.5 5 50.00 10 47.62
Total 11 100 10 100 21 100

5.1.6 Jenis Kelamin


Berdasarkan hasil analisa tabel 5.2 didapatkan sebagian besar responden memiliki
jenis kelamin laki – laki yaitu 13 orang (61.90%). Pada kelompok kontrol
sebagian besar memiliki jenis kelamin laki – laki, yakni 7 orang (63.6%). Pada
kelompok intervensi jenis kelamin responden sebagian besar responden memiliki
jenis kelamin laki – laki, yaitu 6 orang (60%).

5.1.7 Frekuensi stroke


Distribusi karakteristik responden berdasarkan banyaknya jumlah serangan stroke
menunjukkan bahwa dari 21 orang responden, lebih banyak responden memiliki
jumlah serangan stroke 1 kali sebanyak 11 orang (52.38%). Pada kelompok
kontrol memiliki hampir merata memiliki jumlah serangan stroke 1 kali yaitu 6

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


orang (54.5%). Pada kelompok intervensi responden memiliki hasil yang sama
antara responden memiliki jumlah serangan stroke 1 kali dan > 1 kali yaitu 5
orang (50.0%).

5.2 Analisis Bivariat


Analisis bivariat diantaranya digunakan untuk mengetahui kesetaraan variabel
perancu antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi melalui uji
homogenitas dan uji untuk membuktikan perbedaan kemampuan fungsional
komunikasi dan depresi pada kelompok kontrol dan intervensi.

5.2.1 Uji Normalitas dan Homogenitas


Pada bagian ini diuraikan tentang analisis kesetaraan variabel perancu, yaitu
umur, jenis kelamin, frekuensi serangan stroke, ketidakmampuan fisik dan
dukungan keluarga. Adapun tujuan analisis ini adalah untuk meyakinkan bahwa
perbedaan kemampuan fungsional komunikasi dan depresi yang didapat pada
pengukuran akhir perlakuaan adalah merupakan efek perlakuan dan bukan akibat
karakteristik responden. Uji yang digunakan adalah independent t test untuk
mengetahui kesetaraan umur, ketidakmampuan fisik dan dukungan keluarga dan
uji chi- square untuk mengetahui kesetaraan jenis kelamin dan frekuensi serangan
stroke pada kelompok kontrol dan intervensi. Uji normalitas dilakukan untuk
variabel numerik, seperti umur, ketidakmampuan fisik, dukungan keluarga,
kemampuan fungsional komunikasi dan depresi. Jika didapatkan distribusi data
yang normal maka, syarat untuk dilakukan uji t terpenuhi. Hasil penelitian
didapatkan semua data terdistribusi dengan normal, maka analisis bivariat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah uji t independen.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Tabel 5.3 Hasil Analisis Kesetaraan Umur, Ketidakmampuan Fisik dan
Dukungan Keluarga antara Kelompok Kontrol dan Intervensi
pada Pasien Afasia Motorik di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar
November – Desember 2011

Variabel n Mean SD SE t p value

Umur
Kontrol 11 61.55 5.98 1.81 - 0.277 0.786
Intervensi 10 62.70 11.89 3.76
Ketidakmampuan Fisik
Kontrol 11 25.00 8.06 2.43 -0.309 0.760
Intervensi 10 26.00 6.58 2.08
Dukungan Keluarga
Kontrol 11 45.73 3.52 1.06 -1.195 0.247
Intervensi 10 47.30 2.31 0.73

Berdasarkan hasil analisis tabel 5.3, didapatkan kesetaraan berdasarkan umur


antara kelompok kontrol dan intervensi dengan nilai p > 0.05. Ketidakmampuan
fisik responden didapatkan kesetaraan pada kelompok kontrol dan intervensi
dengan nilai p > 0.05. Sedangkan dukungan keluarga responden didapatkan
kesetaraan pada kelompok kontrol dan intervensi dengan nilai p > 0.05.

Tabel 5.4 Hasil Analisis kesetaraan Berdasarkan Jenis Kelamin dan


Frekuensi Serangan Stroke pada Pasien Afasia Motorik di RSUD
Garut, Tasikmalaya dan Banjar November – Desember 2011

Variabel Kontrol Intervensi Total OR


(n = 11) (n = 10) X2 p value
∑ % ∑ % ∑ % 95% CI
Jenis Kelamin
Laki – laki 7 53.85 6 46.15 13 100 1.167
Perempuan 4 50.00 4 50.00 8 100 0.2101 0.200 – 6.805 1.00
Total 11 52.38 10 47.62 21 100
Frekuensi Serangan Stroke
1 kali 6 54.54 5 45.45 11 100 1.200
>1 kali 5 50.00 5 50.00 10 100 0.1727 0.216 – 6.676 1.00
Total 11 52.38 10 47.62 21 100

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 5.4 didapatkan kesetaraan karakteristik


responden berdasarkan jenis kelamin antara kelompok kontrol dan intervensi
dengan p > 0.05. Sedangkan hasil analisis kesetaraan karakteristik responden
berdasarkan frekuensi serangan stroke antara kelompok kontrol dan intervensi
didapatkan kesetaraan atau homogen dengan p > 0.05.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


5.2.2 Analisis Perbedaan rata-rata kemampuan fungsional komunikasi sesudah
diberikan komunikasi dengan AAC antara kelompok kontrol dan kelompok
intervensi

Berikut ini akan disajikan perbedaan kemampuan fungsional komunikasi pada pasien
afasia motorik sesudah diberikan komunikasi dengan augmentative and alternative
communication antara kelompok kontrol dan intervensi

Tabel 5.5 Hasil Analisis Perbedaan Kemampuan Fungsional Komunikasi


antara Kelompok Kontrol dan Intervensi pada Pasien Afasia Motorik
di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar
November – Desember 2011

Mean Diff
Variabel n Mean SD SE T p value
95%
Kemampuan Fungsional Komunikasi
Kontrol 11 10.64 1.748 0.527 -0.464
-0.621 -2.026 – 1.099 0.542
Intervensi 10 11.10 1.663 0.526

Berdasarkan hasil analisis tabel 5.5 didapatkan rata-rata kemampuan fungsional


komunikasi responden kelompok kontrol adalah 10.64 dengan standar deviasi
1.748, sedangkan rata-rata kemampuan fungsional komunikasi responden
kelompok intervensi adalah 11.10 dengan standar deviasi 1.663. Hasil analisis
lebih lanjut menunjukkan nilai p > 0.05 (p = 0.542 pada α = 0.05). Artinya tidak
terdapat perbedaan yang bermakna rata-rata kemampuan fungsional komunikasi
antara kelompok kontrol dengan intervensi.

5.2.3 Analisis perbedaan depresi pada pasien afasia motorik antara


kelompok kontrol dan kelompok intervensi
Berikut ini akan disajikan perbedaan depresi pada pasien afasia motorik setelah
diberikan komunikasi dengan AAC antara kelompok kontrol dan intervensi.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Tabel 5.6 Hasil Analisis Perbedaan Depresi antara Kelompok Kontrol dan
Kelompok intervensi Pada Pasien Afasia Motorik
di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar
November – Desember 2011

Mean Diff
Variabel n Mean SD SE t p value
95%
Depresi
Kontrol 11 9.64 1.1 0.388 1.336
Intervensi 10 8.30 1.160 0.367 2.491 0.213 – 2.459 *0.022
* Bermakna pada α 0.05

Berdasarkan hasil analisis tabel tabel 5.6 didapatkan rata-rata depresi pada kelompok
kontrol adalah 9,64, sedangkan rata – rata depresi kelompok intervensi adalah 8.30. Hasil
uji statistik didapatkan p = 0.022 pada α = 0.05. Artinya terdapat perbedaan yang
bermakna rata-rata depresi antara kelompok kontrol dan intervensi.

5.2.3 Analisis Variabel Perancu terhadap Kemampuan Fungsional


Komunikasi dan Depresi pada Kelompok Intervensi

Berikut ini akan disajikan pengaruh variabel perancu terhadap kemampuan


fungsional komunikasi dan depresi pada pasien afasia motorik setelah diberikan
komunikasi dengan AAC pada kelompok intervensi.

Tabel 5.7 Hasil Analisis Pengaruh Umur, Ketidakmampuan Fisik dan Dukungan
Keluarga terhadap Kemampuan Fungsional Komunikasi pada
Kelompok Intervensi pada Pasien Afasia Motorik
di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar
November – Desember 2011

Variabel r p value
Umur -0.144 0.691
Ketidakmampuan fisik -0.264 0.461
Dukungan Keluarga -0.124 0.732

Dari tabel 5.7 di atas diperoleh nilai r = - 0,144 dan nilai p = 0,691. Artinya
hubungan antara umur responden dengan kemampuan fungsional komunikasi
menunjukkan hubungan yang lemah dan berpola negatif. Semakin bertambah
umur responden, semakin berkurang kemampuan fungsional komunikasinya .

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Hasil uji statistik diperoleh tidak ada hubungan yang signifikan antara umur
dengan kemampuan fungsional komunikasi (p = 0,691).

Sedangkan pada variabel ketidakmampuan fisik diperoleh nilai r = -0,264 dan


nilai p = 0,461. Artinya hubungan antara ketidakmampuan fisik responden dengan
kemampuan fungsional komunikasi menunjukkan hubungan yang sedang dan
berpola negatif. Artinya semakin bertambah ketidakmampuan fisik responden,
semakin menurun kemampuan fungsional komunikasinya. Hasil uji statistik
diperoleh tidak ada hubungan yang signifikan antara ketidakmampuan fisk dengan
kemampuan fungsional komunikasi (p = 0,461).

Variabel dukungan keluarga diperoleh nilai r = -0,124 dan nilai p = 0,732.


Artinya hubungan antara dukungan keluarga responden dengan kemampuan
fungsional komunikasi menunjukkan hubungan yang lemah dan berpola negatif
Dukungan keluarga berbanding terbalik dengan kemampuan fungsional
komunikasi. Hasil uji statistik diperoleh tidak ada hubungan yang signifikan
antara dukungan keluarga dengan kemampuan fungsional komunikasi (p = 0,732).

Tabel 5.8 Hasil Analisis Pengaruh Jenis Kelamin dan Frekuensi Serangan Stroke
terhadap Kemampuan Fungsional Komunikasi pada Kelompok Intervensi
di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar
November – Desember 2011

p value
Variabel n Mean SD SE
Jenis Kelamin
Laki – laki 6 11.00 2.098 0.856
Perempuan 4 11.25 0.957 0.479 0.831
Frekuensi serangan stroke
1 kali 5 12.00 1.225 0.548
>1 kali 5 10.20 1.643 0.735 0.085

Sesuai tabel 5.8 di atas menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara jenis
kelamin dengan kemampuan fungsional komunikasi dengan nilai p > 0.05 (p =
0.831). Sedangkan pada frekuensi serangan stroke menunjukkan tidak ada

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


hubungan bermakna dengan kemampuan fungsional komunikasi dengan nilai p >
0.05 (p = 0.085).

Tabel 5.9 Hasil Analisis Pengaruh Umur, Ketidakmampuan Fisik dan


Dukungan Keluarga Terhadap Depresi Pada Pasien Afasia Motorik
Pada Kelompok Intervensi di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar
November – Desember 2011

Variabel r p value
Umur -0.395 0.258
Ketidakmampuan fisik 0.539 0.108
Dukungan Keluarga -0.493 0.147

Dari tabel 5.9 di atas diperoleh nilai r = - 0,395 dan nilai p = 0,258. Artinya
hubungan antara umur responden dengan depresi menunjukkan hubungan yang
sedang dan berpola negatif. Semakin bertambah umur responden, semakin
menurun depresinya. Hasil uji statistik diperoleh tidak ada hubungan yang
signifikan antara umur dengan kemampuan fungsional komunikasi (p = 0,258).

Sedangkan pada variabel ketidakmampuan fisik diperoleh nilai r = 0,539 dan nilai
p = 0,108. Artinya hubungan antara ketidakmampuan fisik responden dengan
depresi menunjukkan hubungan yang kuat dan berpola positif. Semakin
bertambah ketidakmampuan fisik responden, semakin bertambah depresinya.
Hasil uji statistik diperoleh tidak ada hubungan yang signifikan antara
ketidakmampuan fisk dengan depresi (p = 0,108).

Variabel dukungan keluarga diperoleh nilai r = -0,493 dan nilai p = 0,147. Artinya
hubungan antara dukungan keluarga responden dengan depresi menunjukkan
hubungan yang sedang dan berpola negatif. Artinya semakin bertambah dukungan
keluarga responden, semakin menurun depresinya. Hasil uji statistik diperoleh
tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan depresinya
(p = 0,147).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Tabel 5.10 Hasil Analisis Pengaruh Jenis Kelamin dan Frekuensi Serangan Stroke
terhadap Depresi pada Pasien Afasia Motorik pada Kelompok Intervensi
di RSUD Garut, Tasikmalaya dan Banjar November – Desember 2011

p value
Variabel n Mean SD SE
Jenis Kelamin
Laki – laki 6 8.00 1.265 0.516
Perempuan 4 8.75 0.957 0.479 0.346
Frekuensi serangan stroke
1 kali 5 9.00 1.000 0.447 0.048*
>1 kali 5 7.60 0.894 0.400
* Bermakna pada α 0.05

Sesuai tabel 5.10 di atas, menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara
jenis kelamin dengan depresi dengan nilai p > 0.05 ( p = 0,346). Sedangkan pada
frekuensi serangan stroke menunjukkan hubungan bermakna dengan depresi
dengan nilai p < 0.05 (p = 0.048).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


BAB 6
PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan dan dijelaskan makna hasil penelitian yang meliputi :
interpretasi dan diskusi hasil penelitian seperti yang telah dipaparkan pada bab
lima, keterbatasan penelitian yang telah dilakukan serta bagaimana implikasi hasil
penelitian ini terhadap pelayanan keperawatan dan pengembangan penelitian
berikutnya guna peningkatan kualitas asuhan keperawatan.

6.1 Interpretasi dan Diskusi Hasil Penelitian


Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi umur, jenis kelamin, frekuensi
serangan stroke, ketidakmampuan fisik dan dukungan keluarga responden
kelompok kontrol dan intervensi adalah homogen (p>0.05). Hal ini menunjukkan
bahwa sebelum perlakuan kedua kelompok adalah kondisi yang setara, sehingga
kemampuan fungsional komunikasi dan depresi pada kelompok intervensi adalah
efek dari pemberian komunikasi dengan AAC.

6.1.1 Karakteristik Pasien Stroke

a. Umur

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden kontrol dalam


skala umur rata – rata 61.55 tahun dan responden intervensi rata – rata 62.70
tahun. Umur termuda adalah 42 tahun dan umur tertua 76 tahun.

Secara konsep, faktor umur merupakan salah satu faktor risiko yang tidak dapat
diubah, menurut AHA/ASA (2006) menyatakan bahwa seseorang yang sudah
berumur diatas 55 tahun akan berisiko menderita stroke dua kali lipat dibanding
usia dibawah 55 tahun. Stroke pada usia ini diprediksi berkaitan dengan masalah
aterosklerosis yang banyak dialami oleh pasien-pasien usia lanjut. Berdasarkan
hasil wawancara selama penelitian, semua responden memiliki faktor resiko
hipertensi. Pada klien-klien dengan hipertensi, tekanan darah yang tinggi secara

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


perlahan akan merusak dinding pembuluh darah dengan memperkeras arteri dan
mendorong terbentuknya bekuan darah dan aneurisma, inilah yang memicu
terjadinya stroke pada klien dengan hipertensi.Hal ini juga diperkuat oleh Feigin
(2004) bahwa risiko terkena stroke meningkat sejak umur 45 tahun, setelah
mencapai umur 50 tahun dan setiap penambahan umur tiga tahun meningkatkan
risiko stroke sebesar 11 – 20%.

Umur termuda responden pada kelompok intervensi adalah 42 tahun, ini tergolong
sebagai stroke umur muda. Menurut Pinzon (2009), definisi umum yang
digunakan pada berbagai penelitian epidemiologi untuk stroke umur muda adalah
stroke yang terjadi pada umur kurang dari 45 tahun. Menurut hasil penelitian
Lipska, et al (2007) menunjukkan bahwa stroke usia muda paling banyak
disebabkan oleh sindrom metabolik. Komponen sindrom metabolik yang dapat
teramati dalam penelitiannya adalah : peningkatan trigliserida (> 150 mg/dl),
penurunan kolesterol HDL (dibawah 40 mg/ dl), peningkatan tekanan darah
(diatas 130 mmHg untuk sistolik atau diatas 85 mmHg untuk diastolik), dan
peningkatan kadar gula puasa diatas 100 mg/ dl. Pasien akan dinyatakan pula
mengalami salah satu dari komponen sindroma metabolik tersebut, bila sudah
terkonfirmasi menderita penyakit yang termasuk dalam sindroma metabolik, atau
sedang mendapat terapi (misalnya mendapat terapi statin untuk dislipidemia).

Selain itu, hasil penelitian Lipska, et al (2007) juga menemukan bahwa komponen
sindroma metabolik yang paling teramati pada kasus stroke umur muda adalah
kadar HDL yang rendah (65% kasus) dan peningkatan tekanan darah (50% kasus).
Hal ini sesuai dengan apa yang ditemukan pada responden penelitian. Stroke
paling muda berusia 42 tahun, merupakan pasien stroke yang dirawat untuk kedua
kalinya. Faktor resiko yang dimiliki oleh responden ini diantaranya adalah
tingginya kadar kolesterol dan trigliserida serta riwayat hipertensi. Hipertensi dan
hiperlipidemia merupakan dua faktor resiko terjadinya stroke. Hiperlipidemia
terutama kolesterol dan trigliserida, peningkatannya akan memicu terjadinya
aterosklerosis yang bisa mencetuskan terjadinya stroke. Aterosklerosis merupakan
suatu proses dimana terjadi penebalan dan hilangnya elastisitas arteri. Umumnya

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


proses arteroskeloris ditandai oleh plak berlemak pada lapisan intima arteri besar.
Bagian intima arteri serebri menjadi tipis berserabut, sedangkan sel-sel ototnya
menghilang. Lamina elastika interna robek dan berjumbai, sehingga lumen
pembuluh darah sebagian terisi oleh materi sklerotik tersebut. Kondisi inilah yang
memicu terjadinya penurunan sirkulasi darah ke otak yang menyebabkan
terjadinya stroke.

b. Jenis Kelamin

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki jenis kelamin


laki – laki sebanyak 13 orang (61.90%) dan 8 orang responden (38.10%) memiliki
jenis kelamin perempuan. Proporsi jenis kelamin dalam penelitian ini lebih
banyak laki – laki. Menurut Iskandar (2003), bahwa laki-laki lebih cenderung
lebih berisiko dibandingkan wanita dengan perbandingan 1.3 : 1, kecuali pada
umur lanjut risiko stroke pada laki-laki dan wanita hampir sama. Kondisi ini dapat
dipengaruhi oleh faktor gaya hidup laki-laki antara lain seperti : merokok, minum
minuman beralkohol dan stress (baik dalam pekerjaan, keuangan, sosial). Menurut
Feigin (2004) stres dalam jangka panjang dapat memicu faktor-faktor yang
berhubungan dengan penyebab stroke.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti, sebagian besar responden


laki – laki mengatakan mempunyai kebiasaan merokok dan jarang berolahraga
bahkan ada satu responden yang merokok 20 batang dalam sehari. Menurut Feigin
(2004), mereka yang menghisap 20 atau lebih batang rokok sehari memiliki risiko
stroke dua kali lipat dibanding yang merokok lebih sedikit. Semakin lama
seseorang merokok, semakin besar risiko mengalami stroke.

Walaupun wanita jumlahnya sedikit dibandingkan responden laki – laki dalam


penelitian ini, faktor risiko seperti wanita berumur lebih dari 35 tahun, merokok
dan hipertensi serta menggunakan kontrasepsi oral sangat besar kemungkinan
terkena stroke (AHA/ASA, 2006; Price & Wilson, 2006). Pendapat ini sesuai
dengan yang ditemukan oleh peneliti selama wawancara dengan responden bahwa
sebagian besar wanita menggunakan kontrasepsi oral (pil) dan terdapat 1 orang

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


responden wanita yang merokok sejak dari mudanya. Hasil penelitian ini sesuai
dengan pendapat Feigin (2004), bahwa sebagian besar kontrasepsi oral
mengandung estrogen dan progesteron. Pil ini dapat meningkatkan tekanan darah
serta menyebabkan darah menjadi kental dan lebih mudah membentuk bekuan.
Kontrasepsi oral kombinasi meningkatkan risiko stroke iskemik, terutama pada
wanita perokok yang berusia lebih dari 30 tahun.

c. Frekuensi Serangan Stroke

Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden memiliki jumlah


serangan 1`kali sebanyak 11 orang (52.38%). Selain stroke yang 1 kali, ditemukan
10 orang responden (47.62%) mengalami stroke >1 kali.

Secara konsep sekitar sepertiga dari semua pasien stroke yang sembuh dari stroke
akan mengalami serangan ulang dalam 5 tahun, 5-14% dari mereka akan
mengalami stroke ulang pada tahun pertama (Iskandar, 2003). Menurut National
Stroke Association (2009), 3- 10% stroke ulang terjadi dalam 30 hr, 5-14% pasien
stroke akan mengalami stroke ulang dalam 1 tahun, dan 25-40% dalam waktu 5
tahun.

Pasien yang terkena stroke memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami serangan
stroke ulang. Serangan stroke ulang berkisar antara 30%-43% dalam waktu 5
tahun. Setelah serangan otak sepintas, 20% pasien mengalami stroke dalam waktu
90 hari, dan 50% diantaranya mengalami serangan stroke ulang dalam waktu 24-
72 jam. Tekanan darah yang tinggi (tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan
tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg) akan meningkatkan risiko terjadinya stroke
ulang. Stroke ulang memiliki tingkat mortalitas dan kecacatan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan stroke pertama, karena pada saat terjadi stroke ulang,
jaringan otak masih belum pulih akibat serangan pertama sehingga akan
berdampak lebih berat (Bethesda Stroke Centre, 2007)

Pengendalian faktor risiko yang tidak baik merupakan penyebab utama


munculnya serangan stroke ulang. Serangan stroke ulang pada umumnya dijumpai
pada individu dengan hipertensi yang tidak terkendali dan merokok. Black &

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Hawk (2009) juga menyatakan bahwa pengurangan berbagai faktor risiko, seperti
hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, hiperlipidemia, merokok, dan
obesitas saat serangan stroke pertama dapat mencegah serangan stroke berulang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden merupakan


kasus dengan serangan pertama. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian
yang dilakukan oleh Almborg, Ulander, Thulin dan Berg (2009), melaporkan 79%
responden mengalami stroke pertama kali. Hal serupa dilaporkan Yea, Suh, Sien
dan Mien (2008) yang melaporkan 55.1% responden merupakan stroke yang
pertama kali. Data tersebut menunjukkan bahwa pasien yang mengalami stroke 1
kali lebih tinggi dibandingkan dengan stroke berulang.

d. Ketidakmampuan Fisik

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa ketidakmampuan fisik responden yang


diukur berdasarkan Barthel Indeks, sebagian besar mempunyai 25.48. Kerusakan
kemampuan fungsional merupakan efek stroke yang paling jelas terlihat. Stroke
merupakan penyakit motor neuron atas yang mengakibatkan kehilangan kontrol
volunter terhadap gerakan motorik. Gangguan motorik meliputi kerusakan
mobilitas, fungsi respirasi, menelan dan berbicara, reflek gag dan kemampuan
melakukan aktivitas sehari – hari (Lewis, 2007).

Berdasarkan hasil pengamatan dalam penelitian ini hampir sebagian besar


responden mengalami hemiplegi karena gangguan pusat bicara dihemisfer kiri
dominan, sehingga untuk melakukan kegiatan yang bersifat motorik mengalami
gangguan, seperti Ketidakmampuan fisik dalam memenuhi kebutuhan sehari –
hari seperti makan, mandi, merawat diri, berpakaian, buang air besar, buang air
kecil, menggunakan toilet, berpindah, nobilitas dan menggunakan tangga.makan.
Menurut Saxena, Ng, Yong, Fong & Koh (2006), ketergantungan melakukan
aktivitas hidup sehari – hari didefinisikan dengan nilai Barthel Index ≤ 50. Pasien
dengan paska stroke afasia mempunyai mortalitas yang lebih tinggi dan
kemampuan fungsional yang rendah daripada pasien tanpa afasia (Kirshner,
2009).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


e. Dukungan Keluarga

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar dukungan keluarga adalah
46.48. Hasil penelitian ini juga menunjukkan tidak banyak perbedaan yang
didapatkan rata – rata dukungan keluarga antara kelompok kontrol (45.73) dan
intervensi (47.30). Berdasarkan penilaian dukungan keluarga yang dimodifikasi
dari teori dukungan keluarga dan kuesioner dukungan keluarga Yenni (2011),
dukungan keluarga dalam penelitian ini memiliki rentang 15 – 60. Kesimpulan
yang dapat diperoleh adalah semakin tinggi nilai dukungan maka semakin baik
dukungan keluarga.

Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap


penderita yang sakit (Friedman, 2010). Dukungan keluarga memang selalu
diberikan keluarga pada pasien stroke. Gangguan pada pasien stroke memberikan
efek sosial pada pasien dan keluarganya. Aktivitas sehari – hari dan kontak sosial
dengan lingkungan sekitarnya menurun drastis, sehingga akan mengganggu
keharmonisan keluarga (Sarafino, 2006). Hal ini sesuai dengan Mant et al (2000)
bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan peningkatan aktivitas sosial dan
kualitas hidup pasien stroke.

Berdasarkan hasil pengamatan penelitian didapatkan bahwa keluarga selalu


menunggu pasien dan memberikan perawatan selama pasien dirawat di rumah
sakit, sehingga pasien merasa nyaman dan diperhatikan oleh keluarganya.
Menurut peneliti rasa nayaman yang timbul pada diri pasien afasia motorik akan
muncul karena adanya dukungan baik emosional, penghargaan, instrumental dan
informasi dari keluarga. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Taylor,
(2006), bahwa dukungan yang dimiliki oleh seseorang dapat mencegah
berkembangnya masalah akibat tekanan yang dihadapi. Seseorang dengan
dukungan keluarga yang tinggi akan lebih berhasil menghadapi dan mengatasi
masalahnya dibandingkan dengan yang tidak memiliki dukungan. Kondisi ini
akan mencegah munculnya depresi pada pasien stroke dengan afasia motorik.
Depresi akan mempengaruhi pasien dalam rehabilitasi, sehingga akan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


memperlambat penyembuhan wicara pasien, keterbatasan dalam aktivitas sosial
dan meningkatkan lama hari rawat.

Keluarga merupakan sistem pendukung yang memberikan perawatan langsung,


terutama bantuan terhadap keterbatasan fisiknya pada setiap keadaan sehat sakit
anggota keluarganya. Selain itu dukungan keluarga dapat membantu perawat
dalam perencanaan program penyembuhan stroke, pendidikan pasien, keefektifan
dan efisiensi penggunaan sumber daya perawatan kesehatan (Huang, et al, 2010).

6.1.2 Pengaruh pemberian komunikasi dengan AAC terhadap kemampuan


fungsional komunikasi pada pasien stroke dengan afasia motorik

Penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol yang mendapatkan


intervensi isyarat/alat tulis, kemampuan fungsional komunikasi tertinggi 14 dan
terendah 8, sedangkan pada kelompok intervensi yang mendapatkan AAC
menggunakan buku komunikasi berisi gambar, musik, papan alfabet,
majalah/surat kabar dan alat tulisertinggi 13 dan terendah 8. Bila dilihat keduanya
memiliki kemampuan fungsional komunikasi yang sangat jauh dari penilaian
Derby Functional Communication Scale (DFCS) yaitu memiliki rentang tertinggi
24 dan terendah 0. Lebih lanjut hasil yang diperoleh pada penelitian ini
menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan kemampuan fungsional
komunikasi setelah diberikan komunikasi dengan AAC selama sepuluh hari.
Secara konsep afasia motorik terjadi akibat lesi pada area Broca pada lobus frontal
yang ditandai dengan kesulitan dalam mengkoordinasikan pikiran, perasaan dan
kemauan menjadi simbol bermakna dan dimengerti oleh orang lain dalam bentuk
ekspresi verbal atau tulisan. Kesulitan dalam berkomunikasi mempunyai efek
langsung pada penyembuhan penyakit, jika klien tidak memahami instruksi.
Kondisi ini menyebabkan pasien terisolasi dari keluarga, teman komunitas yang
lebih luas. Pasien tidak mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan, tidak
mampu berbicara melalui telepon, menjawab pertanyaan atau berpartisipasi dalam
percakapan, sehingga seringkali pasien menjadi frustasi, marah, kehilangan harga
diri dan emosi pasien menjadi labil. Keadaan ini pada akhirnya menyebabkan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


pasien menjadi depresi (Mulyatsih & Ahmad, 2010; Smeltzer, Bare, Hinke &
Cheever, 2010).

Beberapa alat bantu komunikasi yang dapat dilakukan pada pasien afasia menurut
NIC adalah penggunaan perangkat elektronik, papan alfabet, papan gambar/ flash
card yang berisi gambar kebutuhan dasar, stimulus visual, alat tulis, menggunakan
kata – kata yang sederhana, memberikan bahan – bahan yang berisi tulisan atau
gambar yang dapat ditunjuk oleh pasien (Ackley & Ladwig (2011); Ackley &
Swan (2008); Dochterman & Bulecheck (2004); Smeltzer, Bare, Hinkle &
Cheever (2010). Bila dilihat intervensi keperawatan komunikasi diatas, intervensi
tersebut merupakan bagian dari AAC.

Beberapa penelitian terdahulu telah memberikan gambaran mengenai pengaruh


pemberian AAC terhadap kemampuan fungsional komunikasi pada pasien stroke
yang mengalami afasia. Menurut hasil penelitian Bhogal, Teasell, Foley &
Speechley (2003) yang menggunakan constraint induced therapy (menggunakan
kartu bergambar dalam latihan wicara, terdapat perbedaan yang signifikan antara
kelompok yang menerima latihan 3 jam selama 10 hari dibandingkan kelompok
standar yang menerima latihan 1 jam selama 4 minggu terhadap kemampuan
penamaan dan pemahaman yang dievaluasi dengan tes wicara, seperti Token Test.
Selanjutnya penelitian case control yang dilakukan oleh Garret & Beukelman
(1995) pada pasien dengan trauma pembuluh darah cerebral kiri yang
menggunakan AAC dengan metode low technology (gambar yang berisi tulisan)
selama 1.5 bulan terbukti dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan dalam
komunikasi (Ackley, Ladwig, Swan & Tucker, 2008)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bakheit et al (2007) membandingkan 2


kelompok dengan durasi yang berbeda dengan menggunakan media gambar pada
pasien afasia motorik sebagai latihan wicara (orientasi tugas menyeleksi gambar,
penamaan objek, menjelaskan dan mengenalkan hubungan antara kedua item)
pada kelompok intensif menerima latihan wicara selama 5 jam dan kelompok
standar yang menerima latihan wicara selama 2 jam selama 12 minggu,

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan berbahasa pada
kelompok standar dengan waktu 2 jam (p = 0.002 dibandingkan dengan kelompok
intensif dengan waktu 5 jam (p > 0.05). Sementara hasil penelitian Rappaport et al
(1999 dalam Powlasky, Schuurmans, Lindeman & Hafsteindottir, 2010)
melakukan penelitian dengan memberikan latihan wicara menggunakan media
gambar pada afasia motorik yang dilakukan setiap hari selama 5 tahun dengan
lama latihan wicara selama 3 jam/minggu, didapatkan sebagian pasien
menunjukkan kemampuan berbahasa, sedangkan sebagian lagi menunjukkan
sedikit atau tidak ada perbaikan.

Dari beberapa hasil penelitian tersebut, menunjukkan berbagai variasi tentang


intensitas dan lamanya latihan. Latihan intensif, dimulai secara dini dan
dilanjutkan beberapa bulan dapat mempengaruhi kemampuan komunikasi pasien.
Menurut pendapat Darley (1977 dalam Kusumoputro, 1992), terapi yang intensif
akan memberikan suatu manfaat pemulihan nyata pada pasien apabila diberikan
pada waktu terjadi pemulihan spontan dan hasil maksimal akan didapatkan apabila
terapi dimulai awal dan berlanjut untuk periode beberapa bulan. Lamanya latihan
dapat dihubungkan dengan lamanya pemulihan bicara pasien. Menurut Bathier
(2005), penyembuhan spontan menunjukkan pemulihan bicara tercepat selama 2
atau 3 bulan dan puncaknya terjadi setelah 1 tahun. Hasil penelitian ini didukung
oleh penelitian Laska (2007) penyembuhan bicara tercepat terjadi dalam bulan
pertama setelah paska stroke. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil sistematik
review Poslawsky, Schuurmans, Lindeman & Hafsteinsdottir (2010), bahwa
sekitar 40% penyembuhan komplit afasia atau hampir komplit terjadi dalam 1
tahun setelah stroke tetapi sekitar 60% penyembuhan yang terjadi tidak lengkap
(Salter et al, 2005).

Faktor – faktor yang mempengaruhi pemulihan wicara – bahasa terhadap


kemampuan fungsional komunikasi pada afasia adalah luas cedera yang
berhubungan erat dengan kemungkinan adanya gangguan tambahan, seperti
gangguan visual, motoris (terutama bila berkaitan dengan proses berbicara),
gangguan auditif, gangguan daya ingat dan gangguan emosional akibat kerusakan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


otak dapat menghambat pemulihan. Keparahan afasia, umur dan lateralisasi juga
menjadi faktor – faktor prognosis dalam pemulihan wicara afasia (Kusumoputro,
1992).

Selain itu latihan secara intensif juga dapat meningkatkan neural plasticity,
reorganisasi peta kortikal dan meningkatkan fungsi motorik (Bakheit et al (2007).
Neuroplastisitas otak merupakan perubahan dalam aktivasi jaringan otak yang
merefleksikan kemampuan adaptasi otak. Dengan adanya kemampuan ini
kemampuan-kemampuan motorik klien yang mengalami kemunduran karena
stroke dapat dipelajari kembali. Proses neuroplastisitas otak terjadi melalui proses
substitusi yang tergantung pada stimulus eksternal melalui terapi latihan dan
proses kompensasi yang dapat tercapai melalui latihan berulang untuk suatu
fungsi tertentu, pemberian alat bantu dan atau ortosis, perubahan perilaku atau
perubahan lingkungan (Wirawan, 2009).
Pada saat pelaksanaan latihan komunikasi dengan AAC, media yang digunakan
pemberian latihan komunikasi lebih memfokuskan bagaimana memfasilitasi
komunikasi tanpa melihat keparahan afasia dalam memberikan latihan. Tentu saja
hal ini bisa memberikan kondisi yang berbeda-beda antara setiap responden
dengan lamanya pemulihan bicara terhadap kemampuan fungsional komunikasi.

Selama melakukan penelitian, latihan komunikasi melibatkan keluarga dalam


pelaksanaannya. Menurut Kusumoputro (1992), efektifitas terapi akan meningkat
bila melibatkan keluarga, teman dalam rehabilitasi afasia. Hal ini didukung oleh
Kelley et al (2010 dalam dalam Salter, Teasell, Bhogal, Zettler, Foley, 2010)
bahwa latihan wicara dapat dilakukan oleh volunteer dan dapat memberikan hasil
yang sama dengan terapi wicara. Volunteer dapat berupa keluarga atau orang
terdekat dengan pasien. Keluarga dapat berperan membantu latihan komunikasi
tentang kegiatan pasien sehari – hari yang selalu dilakukan, seperti setiap pasien
mau makan, minum, mandi, menggosok gigi, menyisir rambut, berpakaian, BAB,
BAK, penggunaan toilet, istirahat dan tidur, miring kanan/kiri, duduk bersandar,
minum obat, mobilisasi dan lain - lain merupakan suatu latihan dan komunikasi
dengan waktu 5 menit x 20 kegiatan sehari - hari ( total latihan setiap hari = 100

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


menit). Keluarga dapat berperan secara mandiri melakukan latihan komunikasi
dengan tugas menunjuk gambar, menyebutkan, penamaan, pengulangan,
membaca, mengeja dan menulis.

Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Johnson, Hough, King, Vos &
Jeffs (2008) yang melakukan penelitian penggunaan komunikasi dengan AAC
terhadap 3 orang pasien afasia berat kronik menggunakan high technology dengan
melibatkan keluarga dalam waktu 1 jam, 3 – 4 hari/minggu selama 3 bulan
didapatkan hasil 1 orang menunjukkan pemahaman dan penamaan objek,
sedangkan 2 orang pasien terdapat peningkatan dalam pemahaman pendengaran,
sedangkan ke 3 orang pasien terdapat penurunan dalam pengulangan. Sedangkan
hasil penelitian yang dilakukan oleh David et al (1989 dalam Salter, Teasell,
Bhogal, Zettler, Foley, 2010) terhadap latihan wicara yang dirandom untuk
mendapat latihan wicara oleh terapi wicara dan volunter tidak terlatih didapatkan
tidak ada perbedaan signifikan diantara kedua kelompok terhadap skor tes wicara
menggunakan Functional Profile Communication (FCP).

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menjadi tidak
signifikan dapat disebabkan karena latihan komunikasi yang terlalu singkat hanya
10 hari. Waktu 10 hari ini mungkin tidak maksimal untuk memperbaiki
kemampuan fungsional komunikasi pada semua subjek penelitian karena berat
stroke dan derajat keparahan afasia subjek penelitian bervariasi dan terdapat
variasi pada setiap individu dalam hal waktu pemulihan. Pada penelitian ini
intervensi yang diberikan oleh peneliti diberikan sama kepada kedua kelompok
tanpa menilai keparahan afasia dan berdasarkan tingkat gangguan, apakah
gangguan pada kata, kalimat atau simbol, sehingga dapat mempengaruhi
kemampuan fungsional komunikasi pasien afasia. Faktor lain seperti kemampuan
kognitif, umur tua dan kehadiran beberapa anggota keluarga yang mendampingi
pasien berganti-ganti yang ditemukan pada hari ke 8 dan 9 (terdapat 2 keluarga)
yang bergantian menunggu pasien, sehingga peneliti harus memberikan latihan
dan penjelasan yang berulang – ulang kepada keluarga. Semua faktor ini tentunya
dapat mempengaruhi kemampuan fungsional komunikasi pasien.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Meskipun demikian, walaupun tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap
kemampuan fungsional komunikasi setelah pemberian komunikasi dengan AAC,
tetapi terdapat perbedaan rata–rata antara kelompok kontrol (10.64) dengan
kelompok intervensi (11.10) setelah diberikan komunikasi dengan AAC.
Perkembangan yang ditemukan dalam penelitian ini terlihat 2 orang responden
pada kelompok intervensi terjadi peningkatan produksi suara, walaupun tidak
terdapat peningkatan kemampuan berkomunikasi, responden tersebut
menggunakan komunikasi non verbal dengan isyarat dan menunjuk yang ada
dibuku komunikasi atau benda yang ada disekitarnya untuk mengkomunikasikan
kebutuhan dasarnya. Kedua pasien tersebut dapat merespon salam yang
disampaikan melalui ekspresi wajah dan dapat berinteraksi dengan peneliti walau
sebentar.

Secara keseluruhan pasien mampu menunjukkan gambar yang ada dibuku


komunikasi dan benda – benda yang ada diruangan untuk mengkomunikasikan
kebutuhannya. Terdapat 3 orang pasien yang berada pada nilai 3 pada penilaian
ekspresi yang ditunjukkan dengan kemampuan memberikan respon ya/tidak dan
mengekspresikan kata–kata sederhana, seperti makan, minum,tidur tetapi
mengalami kesulitan ketika berbicara dalam kalimat panjang, hanya kata – kata
benda, makan, mandi. Aspek penilaian pemahaman sebagian besar pasien
mengalami kesulitan dalam memahami kalimat yang rumit.

6.1.2 Pengaruh pemberian komunikasi dengan AAC terhadap depresi pada


pasien stroke dengan afasia motorik

Menurut Schub & Caple (2010) depresi paska stroke adalah gangguan mood yang
dapat terjadi setiap saat setelah stroke tapi biasanya dalam beberapa bulan
pertama. Depresi paska stroke mempengaruhi sekitar 20-50% pasien stroke dalam
tahun pertama setelah stroke, dan kejadian puncaknya diperkirakan pada 6 bulan
poststroke. Sit et al (2004) dalam penelitiannya terhadap 95 pasien stroke
menemukan kejadian depresi pada 48 jam setelah masuk rumah sakit sebesar 69%
dan 6 bulan setelahnya sebesar 48%.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Menurut Amir (2005) frekuensi depresi lebih tinggi pada pasien afasia motorik
daripada afasia global (71%:44%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Signer
et al, (1989 dalam Amir, 2005), menjelaskan bahwa depresi pada pasien afasia
motorik lebih tinggi daripada global (63%:16%). Tingginya frekuensi depresi
pada pasien afasia motorik disebabkan oleh tingginya kesadaran mereka akan
kecacatan/ketidakmampuan pasien (Amir, 2005).

Depresi dapat terjadi sebagai akibat langsung dari proses infark otak atau dapat
terjadi sebagai reaksi akibat cacat atau ketidakberdayaan yang disebabkan oleh
stroke. Berbagai dampak stroke terjadi pada berbagai fungsi tubuh, seperti
gangguan motorik, sensorik, bicara dan bahasa, penglihatan, afek dan gangguan
kognitif (Suwantara, 2004). Kondisi ini dianggap disability bagi pasien, sehingga
menimbulkan perasaan tidak berguna, tidak ada gairah hidup dan keputusasaan.
Keadaan ini selanjutnya dapat mendorong penderita kedalam gejala depresi yang
berdampak pada motivasi dan rasa percaya diri pasien. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Ross, et al (2010), bahwa faktor biologi seperti
frekuensi serangan stroke, keparahan gangguan berbahasa dan faktor psikososial,
seperti kesepian merupakan faktor risiko yang signifikan terjadinya depresi pada
afasia. Selain itu menurut Schub & Caple (2010), meningkatnya derajat afasia,
peningkatan keparahan stroke, penurunan intelektual, riwayat pribadi atau
keluarga depresi atau tinggal sendirian merupakan faktor yang berpengaruh
terjadinya depresi.

Depresi paska stroke memiliki efek negatif terhadap pemulihan fungsi kognitif,
aktivitas hidup sehari – hari dan dapat meningkatkan kematian (Caiero, Ferro,
Santos & Luis, 2006). Pasien juga akan menarik diri dari kegiatan sosial, menjadi
rendah diri setelah stroke, hasil rehabilitasi yang jelek, serta berdampak pada
orang yang merawat pasien dan menghambat komunikasi diantara perawat dan
pasien (Meifi & Agus, 2009; Finke, Light & Kitko, 2008). Kondisi ini
menyebabkan pasien akan merasa frustasi dengan keadaannya. Hal ini akan
memiliki dampak negatif terhadap masa pemulihan dan hubungan sosial dengan
lingkungan sekitarnya. (Ginkel et al, 2010).

Pemulihan stroke membutuhkan waktu yang lama dan proses yang sulit. Program
rehabilitasi yang diikuti oleh pasien stroke kadang dirasakan tidak memberikan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


efek pada dirinya dan kurangnya bimbingan dari program rehabilitasi sebelum
mereka meninggalkan rumah sakit mengakibatkan mereka mulai berfokus
terhadap defisit yang terjadi pada dirinya. Akhirnya mereka merasa hopelessness
dan tak berdaya. Kondisi ini menambah semakin parah depresinya (Sarafino,
2006).

Selama penelitian, beberapa alat bantu komunikasi non verbal digunakan untuk
memfasilitasi pasien afasia, seperti foto, musik, gambar, buku komunikasi, papan
alfabet dan alat tulis. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyatsih & Ahmad,
(2010), bahwa berbagai cara digunakan untuk memfasilitasi komunikasi pada
pasien afasia serta mendorong pasien berkomunikasi, bahkan yang kecil sekalipun
untuk mengurangi frustasi, depresi dan isolasi sosial. Pasien dapat dibantu dengan
menyediakan papan komunikasi. Papan komunikasi ini berisi gambar, kata – kata,
huruf atau simbol aktivitas kegiatan harian pasien sesuai dengan kegiatan yang
diminta atau diungkapkan. Pasien dianjurkan untuk mengungkapkan kebutuhan
pribadi dan menggunakan papan tulis bila tidak mampu mengekspresikan
kebutuhan

Penggunaan alat bantu visual seperti gambar, tulisan dengan beberapa kata kunci,
alat tulis dapat memfasilitasi pemahaman dan ekspresi pasien afasia (Clarkson,
2010). Hal ini sejalan dengan pendapat Kusumoputro (1992) bahwa efektifitas
terapi afasia akan meningkat jika latihan menggunakan bentuk stimulus audio
dalam bentuk musik dan stimulus visual dalam bentuk gambar – gambar serta
lukisan. Jenis stimulus ini sebaiknya digunakan secara rutin selama mengikuti sesi
terapi afasia. Sedangkan mengajak pasien bercakap – cakap merupakan terapi
dengan pendekatan strategi komunikasi untuk mengembangkan kemampuan
komunikasi (Holland, 1982 dalam Kusumoputro, 1992).

Terapi intonasi lagu dapat digunakan pada pasien afasia dengan kemampuan
ekspresi verbal minim (Kusumoputro, 1992; Prins & Maas, 1993; Wirawan,
2009). Pemberian stimulasi melalui lagu, menyanyikan dan menyuarakan lagu
sebelum pasien sakit akan lebih bermanfaat dengan memfungsikan hemisfer
kanan karena hemisfer kiri (dominan) mengalami kerusakan. Selain itu terapi

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


musik juga dapat digunakan pasien depresi untuk mengekspresikan emosinya,
sehingga dapat mengurangi depresi paska stroke (American Music Association,
2005). Penggunaan media, seperti musik bermanfaat untuk meningkatkan
relaksasi dan memberikan rasa nyaman sehingga dapat menghambat sensasi
kecemasan, ketakutan, ketegangan serta mengalihkan perhatian dari pikiran-
pikiran yang tidak menyenangkan. Hal ini sejalan dengan penelitian Kemper &
Danheur (2005) bahwa musik dapat memberikan efek bagi peningkatan kesehatan,
mengurangi stres dan mengurangi nyeri.

Musik yang sesuai dengan selera pasien mempengaruhi sistem limbik dan saraf
otonom, menciptakan suasana rileks, aman dan menyenangkan sehingga
merangsang pelepasan zat kimia Gamma Amino Butyric Acid (GABA), enkefalin
dan beta endorphin yang akan mengeliminasi neurotransmitter rasa nyeri maupun
kecemasan sehingga menciptakan ketenangan dan memperbaiki suasana hati
pasien (Greer, 2004).

Hasil penelitian ini setelah diberikan komunikasi dengan AAC pada kelompok
intervensi ditemukan penurunan nilai depresi. Berdasarkan hasil pengamatan
pasien mampu mengkomunikasikan kebutuhannya melalui pemberian buku
komunikasi dan objek yang ada disekitar ruangan dengan menunjukkan gambar,
sehingga pasien dapat berinteraksi dengan keluarga dan petugas kesehatan.
Menurut hasil penelitian Finke, Light & Kitko, (2008), komunikasi dengan AAC
dapat membantu perawat berkomunikasi pada pasien yang mengalami
keterbatasan komunikasi verbal. Penelitian ini diperkuat oleh hasil penelitian
Johston et al (2004 dalam Clarkson, 2010), bahwa AAC dapat meningkatkan
kemampuan komunikasi pasien, memperbaiki kehidupan seseorang dengan
meningkatkan kemandirian dan perkembangan hubungan sosial, sehingga akan
mempengaruhi kualitas hidup. Hal ini dapat terjadi karena pasien yang
menggunakan AAC pada umumnya memiliki kepuasan dalam hubungan dengan
keluarga, teman dan aktivitas hidup yang menyenangkan (Wikipedia, 2011).
Lebih lanjut, berdasarkan hasil penelitian didapatkan adanya perbedaan yang
signifikan terhadap depresi sesudah diberikan komunikasi dengan AAC selama

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


sepuluh hari. Nilai depresi pada kelompok kontrol adalah 9.64 dan nilai depresi
pada kelompok intervensi adalah 8.30. Menurut instrumen observasi depresi
(ADRS), dikatakan depresi bila skor pasien ≥ 9. Kesimpulan yang diperoleh
adalah semakin tinggi nilai yang diperoleh, semakin menunjukkan pasien depresi
(Benaim, Cailly, Perennou & Pelissier, 2004) .

6.1.3 Hubungan variabel perancu dengan kemampuan fungsional


komunikasi

a. Umur

Afasia tergolong gangguan komunikasi. Komunikasi merupakan bagian penting


dalam kehidupan manusia. Menurut Berman, Snyder, Kozier & Erb, (2008),
komunikasi merupakan proses pertukaran informasi diantara dua orang atau lebih
atau terjadi pertukaran ide – ide atau pemikiran. Sedangkan menurut Sundin &
Jonson (2003), melalui komunikasi seseorang dapat mengekspresikan perasaan
dan integritas diri.

Beberapa hasil penelitian dan literatur menjelaskan bahwa faktor umur dapat
mempengaruhi efektifitas rehabilitasi afasia, antara lain kecepatan pemulihan
wicara pasien, kemampuan fungsional dan munculnya penyakit penyerta/ faktor
risiko, sehingga dapat mempengaruhi kemampuan fungsional komunikasi.
Pendapat ini didukung oleh hasil penelitian Chefez, Dickstein, Laufer dan
Marcovitz (2001) menyimpulkan bahwa proses pemulihan pada pasien stroke
tergantung dari umur pasien, faktor serangan, stroke berulang dan status sosial.
Pendapat ini didukung oleh hasil penelitian Mc. Caffrey (2008), bahwa kecepatan
proses penyembuhan secara umum pada usia dewasa lebih lambat dibanding pada
usia anak-anak, khususnya pada stroke. Menurutnya kecepatan penyembuhan
pada orang dewasa memiliki prognosis yang buruk oleh karena neural plasticity.
Pendapat ini didukung oleh Kusumoputro (1992) dari hasil observasinya dijumpai
bahwa proses pemulihan afasia dewasa dapat terjadi dalam waktu lama.
Menurutnya banyak pasien yang masih mengalami derajat afasia berat dalam 3
bulan dan dapat mengalami perbaikan bermakna setelah 3 atau 12 bulan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


kemudian. Berbeda dengan hasil penelitian oleh Culton (1971) dan Sarno (1981)
yang menjelaskan bahwa faktor umur tidak mempengaruhi penyembuhan
berbicara (Kusumoputro, 1992).

Selanjutnya faktor bertambahnya umur, seperti umur tua memungkinkan


seseorang untuk terkena berbagai faktor risiko, seperti penyakit jantung dan
pembuluh darah, DM, sehingga dapat mempengaruhi proses pemulihan afasia.
Faktor umur diketahui memiliki hubungan yang cukup signifikan dengan
perbaikan fungsi neurologis klien. Umur tua diketahui memiliki kemampuan
memori jangka panjang kurang baik dibandingkan dengan usia muda, sehingga
hal ini berdampak pada pemulihan kemampuan bahasa pasca stroke. Hal ini
didukung oleh hasil penelitian Smith (2001), menjelaskan bahwa pemulihan pada
pasien stroke umur lanjut sangat terbatas, hal ini berhubungan dengan keadaan
mental dan adaptasi. Biasanya pemulihan pada pasien stroke umur muda lebih
cepat karena umur muda lebih cepat beradaptasi.

Selain itu faktor umur juga mempengaruhi kemampuan fungsional paska stroke
terhadap pelaksanan rehabilitasi. Pendapat ini didukung oleh penelitian yang
dilakukan oleh Bagg, Pombo & Hopman (2002) tentang efek umur terhadap
kemampuan fungsional pasca stroke didapatkan hasil bahwa umur merupakan
faktor yang menentukan kemampuan fungsional pasca stroke terhadap
pelaksanaan program rehabilitasi. Menurut Petrina (2007) pasien lanjut usia
seringkali tidak dapat mengikuti program rehabilitasi sebagaimana yang dilakukan
pada pasien stroke dengan umur yang lebih muda karena intoleransi yang dialami
oleh mereka dalam melakukan aktivitas latihan.

Penlitian ini sejalan dengan penelitian oleh Paolucci et al (2003), bahwa umur tua
memiliki risiko 10 kali lipat untuk mendapatkan respon yang buruk dalam
rehabilitasi dibandingkan umur lebih muda.

Hasil penelitian ini sesuai yang didapatkan pada waktu penelitian yaitu sebagian
besar responden berumur tua, sehingga kadang-kadang responden tampak kurang

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


konsentrasi dengan pelaksanaan latihan sehingga mempengaruhi outcome
penelitian. Tetapi umur ini bukan merupakan satu-satunya faktor yang
mempengaruhi kemampuan bicara pasien stroke, faktor selain luar umur ikut juga
mempengaruhinya seperti tingkat keparahan stroke dan status fungsional sebelum
stroke.

Walaupun secara konsep umur responden memiliki hubungan dengan pemulihan


bicara/perbaikan neurologis, akan tetapi hasil penelitian secara statistik tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan kemampuan fungsional
komunikasi pasien stroke dengan afasia motorik. Hal ini ditunjukkan dengan
hasil analisis bivariat yang menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara
umur dengan kemampuan fungsional komunikasi (p : 0.691) dan memiliki
kekuatan hubungan yang lemah dan arahnya negatif (r = -0.144). Artinya dapat
disimpulkan bahwa semakin bertambah umur maka semakin menurun
kemampuan fungsional komunikasinya. Hal ini dapat dihubungkan bahwa
sebagian besar responden berumur lanjut yang dapat mempunyai faktor risiko
seperti hipertensi, jantung, DM untuk menjadi stroke, dimana 1/3 pasien stroke
akan berkembang menjadi afasia (Bakheit, et al, 2007, Van der Gaag, 2005).
Adanya faktor selain umur, seperti keparahan afasia, luas/letak cedera dan
frekuensi serangan stroke, sehingga pada akhir penelitian kemampuan fungsional
komunikasi tidak banyak mengalami peningkatan.

b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin diketahui memiliki hubungan dengan pemulihan pasca stroke. Hal
ini sesuai dengan penelitian tentang perbedaan jenis kelamin dalam tingkat
mortalitas dan outcome pasien stroke di Korea. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa wanita stroke memiliki harapan hidup yang lebih panjang dibandingkan
dengan laki-laki, tetapi memiliki status fungsional pasca stroke yang lebih buruk
dibandingkan dengan laki-laki (Oh, Yu, Roh, & Lee, 2009). Dijelaskan bahwa
buruknya status fungsional pada pasien pasca stroke disebabkan karena wanita
lebih sering mengalami kardioemboli akibat fibrilasi atrium, memiliki umur yang

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


lebih tua, saat serangan datang ke rumah sakit lebih lambat dan memiliki tingkat
keparahan stroke yang lebih berat (Oh, Yu, Roh, & Lee, 2009).
Walaupun menurut jumlah ada perbedaan antara responden laki-laki dengan
responden perempuan dalam kemampuan fungsional komunikasi, akan tetapi
dalam hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis
kelamin dengan kemampuan fungsional komunikasi pasien stroke dengan afasia
motorik.(p : 0.831). Hal ini dapat dilihat dengan tidak adanya perbedaan nilai
kemampuan fungsional pada laki-laki dan perempuan antara kedua kelompok,
sehingga dapat disimpulkan terdapat faktor lain yang mempengaruhi kemampuan
fungsional komunikasi, seperti kapan pasien mendapat penanganan sejak serangan
stroke muncul. Waktu 3-6 jam (golden period) merupakan waktu yang penting
untuk penanganan stroke, karena dalam waktu ini terbukti efektif dalam
pemulihan fungsi otak dan memperkecil kerusakan neuron setelah serangan
stroke.

Hasil penelitian Martini (2002) tentang pengaruh admision time terhadap


gangguan kognitif pasien stroke, menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara admision time dengan gangguan kognitif yang dialami pasien
stroke. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa pasien-pasien yang datang
dalam window period (12 jam setelah onset serangan) hanya 38 % yang
mengalami gangguan kognitif sedangkan pasien yang datang diluar window
period (setelah 12 jam) 75% mengalami gangguan kognitif. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa kecepatan penderita stroke datang ke rumah sakit merupakan
faktor yang penting dalam memberikan outcome yang baik bagi penderita stroke,
termasuk kemampuan fungsional komunikasi

c. Frekuensi serangan stroke

Berdasarkan hasil analisis didapatkan rata – rata kemampuan fungsional


komunikasasi dengan frekuensi serangan 1 kali lebih tinggi daripada frekuensi
serangan stroke > 1 kali. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang
dapat meningkatkan risiko stroke seperti hipertensi, diabetes mellitus serta
coronary arteri disease yang diperberat oleh kurangnya kesadaran untuk

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


melakukan pola hidup sehat serta pemeriksaan kesehatan secara teratur. Seseorang
yang pernah mengalami stroke sebelumnya akan meningkatkan risiko mengalami
stroke sebesar 10 – 20% (Pinto & Caple, 2010).

Masalah kesehatan yang timbul akibat stroke sangat bervariasi tergantung kepada
luasnya daerah otak yang mengalami infark dan lokasi yang terkena. Hal ini
sejalan dengan pendapat Silbernagl & Lang (2007) yang menyebutkan bahwa
manifestasi klinis stroke ditentukan berdasarkan tempat perfusi yang terganggu,
yakni daerah yang disuplai oleh pembuluh darah tersebut, seperti arteri serebri
media, arteri serebri posterior, arteri serebri anterior, arteri karotis atau basillar.
Bila stroke mengenai arteri serebri media, kemungkinan pasien akan mengalami
afasia.

Namun berbeda yang peneliti dapatkan, hasil analisis statistik bivariat


menunjukkan bahwa frekuensi serangan stroke tidak mempunyai pengaruh
signifikan terhadap kemampuan fungsional komunikasi dengan nilai p : 0,085. Hal
ini kemungkinan disebabkan dalam penelitian ini jumlah responden kelompok
intervensi yang sedikit (n = 10), sehingga tidak didapatkan pengaruh frekuensi
serangan stroke terhadap kemampuan fungsional komunikasi pada afasia motorik.

d. Ketidakmampuan fisik

Ketidakmampuan fisik dapat terjadi pada stroke hemoragik dan non hemoragik.
Stroke menyebabkan penurunan perfusi serebral sehingga dapat terjadi kerusakan
pada korteks motorik. Kerusakan pada area ini menyebabkan terjadinya gangguan
transmisi impuls yang ditandai adanya paresis atau paralisis (Silbernagl & Lang,
2000). Hal ini sesuai dengan pengamatan selama penelitian ditemukan sebagian
besar responden mengalami hemiplegi dan ditunjukkan dengan nilai barthel indek
pada kelompok intervensi sebesar 26.00, sehingga dapat mempengaruhi hasil
rehabilitasi.

Namun demikian berdasarkan hasil penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara ketidakmampuan fisik dengan kemampuan
fungsional komunikasi responden (p : 0.461) dan menunjukkan hubungan yang

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


lemah dan berpola negatif (r = -0.264). Hal ini kemungkinan disebabkan karena
dalam penelitian ini jumlah responden kelompok intervensi yang sedikit (n = 10),
sehingga tidak didapatkan perbedaan dalam kemampuan fungsional komunikasi
pada afasia motorik. Selain itu waktu penelitian yang relatif singkat (10 hari)
kemungkinan dapat mempengaruhi hasil terhadap kemampuan fungsional
komunikasi.

e. Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga merupakan faktor yang mempengaruhi pemulihan wicara


pada afasia. Sikap keluarga merupakan faktor penting dalam menolong pasien
afasia untuk mengatasi ketidakmampuannya. Menurut Bullian, Chiki & Stern
(2007), keterlibatan anggota keluarga dan teman dalam latihan dapat
meningkatkan efektifitas rehabilitasi. Selain itu lingkungan keluarga juga
merupakan lingkungan yang cocok untuk menstimulasi kemampuan berbahasa
afasia, karena stimulasi tersebut dapat dilakukan secara tidak formal, dapat
memilih waktu yang tepat, saat pasien dalam keadaan bermotivasi dan anggota
keluarga cukup mengenal hal ikhwal keadaan pasien (Kusumoputro, 1992).
Dengan adanya pendampingan keluarga pasien merasa nyaman, tenang dan lebih
kuat menerima keadaan fisiknya, sehingga diharapkan akan memberi dampak
yang baik terhadap proses penyembuhan penyakitnya. Dukungan yang diberikan
dalam penelitian ini dapat mencakup empat dimensi, yaitu dukungan informasi,
emosional, penghargaan dan instrumental terkait dengan perawatan pasien stroke
dan pemberian komunikasi pada pasien afasia motorik.

Namun berbeda dengan hasil penelitian, hasil uji statistik menunjukkan tidak ada
hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga terhadap kemampuan
fungsional komunikasi (p : 0,732). Hubungan tersebut lemah dan berpola negatif
(r = -0.124). Hal ini kemungkinan dapat disebabkan berdasarkan variabel
dukungan keluarga, tidak adanya variasi nilai dukungan keluarga pada kelompok
intervensi, sehingga dukungan keluarga tidak memberikan kontribusi terhadap
kemampuan fungsional komunikasi. Dukungan keluarga yang diberikan kepada
pasien kemungkinan belum maksimal, hal ini terlihat pada hari ke 8 dan 9

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


kehadiran beberapa anggota keluarga yang mendampingi pasien berganti-ganti,
sehingga peneliti harus memberikan latihan dan penjelasan yang berulang – ulang
kepada keluarga. Kondisi ini kemungkinan dapat mempengaruhi kemampuan
fungsional komunikasi pasien afasia motorik.

6.1.4 Hubungan variabel perancu dengan depresi

a. Umur

Beberapa penelitian menjelaskan bahwa depresi paska stroke dapat terjadi pada
umur tua. Menurut Glemcevski, et al (2002) bahwa umur lanjut sebagai faktor
risiko terjadinya depresi (p:0.034). Hasil penelitian ini didukung oleh Farrel
(2004) menyatakan bahwa depresi cenderung lebih kronis di pasien yang lebih tua
dibandingkan dengan orang dewasa muda. Periode depresi pada lansia lebih
panjang dan kemungkinan kambuh meningkat dengan umur. Depresi paska stroke
di umur lanjut mungkin memiliki hubungan biologi dasar dengan berkurangnya
neurotransmitter yang berkaitan dengan mood dan emosi.
Berbeda dengan hasil penelitian Amir (2005), bahwa depresi lebih sering terjadi
pada umur muda dengan umur rata – rata awitan antara 20 – 40 tahun. Selanjutnya
menurut Gum, Snyder & Duncan (2006) bahwa pasien stroke yang lebih tua
cenderung melaporkan gejala depresi lebih sedikit dibandingkan dengan pasien
yang lebih muda (p: 0.12).

Namun berbeda dengan hasil analisis bivariat yang menunjukkan tidak ada
hubungan signifikan antara umur dengan depresi (p : 0.258) dan memiliki
kekuatan hubungan yang lemah dan arahnya negatif (r = -0.395). Artinya semakin
bertambah umur, semakin menurun depresinya. Hal ini dapat dipengaruhi oleh
faktor selain umur, seperti pengalaman/informasi yang didapatkan sehingga
mempengaruhi mekanisme koping pasien untuk meningkatkan adaptasinya.
Walaupun demikian, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Fatoye (2009)
yang menyatakan tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian depresi paska
stroke (p= 0.82). Hasil penelitian ini juga didukung oleh Arslan, Celebioglu dan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Tezel (2009) yang melaporkan tidak adanya hubungan umur dengan depresi dan
keputusasaan.

b. Jenis kelamin

Berdasarkan jenis kelamin, pada beberapa penelitian didapatkan bahwa depresi


paska stroke sedikit lebih banyak diantara wanita dibandingkan pria. Menurut
Amir (2005) pada umumnya wanita dapat terjadi depresi karena wanita lebih
sering terpajan dengan stressor lingkungan dan ambang terhadap stressornya lebih
rendah dibandingkan laki – laki. Ketidakseimbangan hormon pada wanita
menambah tingginya prevalensi depresi pada wanita, misalnya depresi
premenstruasi, postpartum dan postmenopouse (Amir, 2005). Hal ini sejalan
dengan peneltian Paradiso & Robinson, 1998 didapatkan bahwa depresi paska
stroke terjadi dua kali lebih banyak pada wanita dibandingkan pria (Meifi & Agus,
2009). Sedangkan menurut penelitian Ghoge dkk (dalam Suwantara, 2004), bahwa
angka prevalensi depresi paska stroke adalah 10-25% untuk perempuan dan 5-
12% untuk laki-laki. Pada wanita beratnya depresi berkaitan dengan lesi di
hemisfer kiri, gangguan fungsi psikiatrik sebelumnya. Sementara pada pria
beratnya depresi berkaitan dengan gangguan kemampuan melakukan kehidupan
sehari – hari dan gangguan fungsi sosial (Amir, 2005).

Meskipun depresi secara konsep dan beberapa hasil penelitian lebih banyak
terjadi pada perempuan dibandingkan laki – laki, namun dalam penelitian ini jenis
kelamin tidak memiliki hubungan dengan depresi. Hasil analisis bivariat
ditemukan tidak adanya perbedaan depresi antara laki – laki dan perempuan (p :
0.346). Tidak adanya perbedaan disebabkan oleh adanya manifestasi yang dialami
pasien stroke yaitu kelemahan fisik memiliki dampak yang sama terhadap
ketidakmampuan dalam memenuhi aktivitas sehari – hari, seperti makan, mandi,
merawat diri, berpindah dan lain – lain. Ketidakmampuan fisik yang dialami dapat
menimbulkan berbagai respon psikologis seperti takut, sedih, marah, depresi,
kehilangan kontrol dan keputusasaan. Respon yang ditimbulkan dapat berbeda –
beda tergantung kepribadian, pengalaman masa lalu dan mekanisme koping
(Gorman & Sultan, 2008). Hasil analisis bivariat ini juga sejalan dengan penelitian

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


yang dilakukan oleh Arslan, Celebioglu dan Tezel (2009) yang melaporkan bahwa
tidak ada perbedaan yang signifikan keputusasaan pada perempuan dan laki – laki.
Lebih lanjut menurut Storor & Byrne (2006) bahwa tidak ada hubungan yang
signifikan yang ditemukan diantara skor dimensi depresi dan karakteristik usia
dan jenis kelamin.

c. Frekuensi serangan Stroke

Berdasarkan hasil analisis didapatkan rata- rata depresi pada frekuensi serangan
stroke 1 kali lebih tinggi dibandingkan dengan rata – rata depresi pada frekuensi >
1 kali. Jumlah serangan stroke akan berpengaruh terhadap kerusakan otak lebih
luas, sehingga dapat mempengaruhi wicara dan bahasa. Menurut pendapat
Silbernagl & Lang (2007) bahwa manifestasi klinis stroke ditentukan berdasarkan
area serebri yang terkena. Walaupun frekuensi serangan stroke terjadi 1 kali,
namun bila stroke mengenai lobus frontalis pada hemisfer kiri dominan,
kemungkinan pasien akan mengalami afasia dan gangguan mood. Menurut
pendapat Price & Wilson (2002), lobus frontalis mengatur fungsi berbahasa,
kemampuan motorik dan kepribadian. Menurut hasil penelitian Lee, Tang, Tsoi,
Fong & Yu, (2009) bahwa lesi pada hemisfer kiri lebih sering menyebabkan
depresi daripada lesi hemisfer kanan dan lebih berat jika lesi mendekati lobus
frontal kiri. Jika lesi diotak bertambah karena mengalami stroke berulang akan
melipatgandakan jenis serta beratnya defisit. Hasil penelitian ini didukung oleh
Amir (2005); Andri & Susanto (2008); Meifi & Agus (2009), bahwa terdapat
beberapa teori yang menjelaskan faktor penyebab DPS, yaitu faktor biologik
seperti lesi otak dan faktor psikososial. Depresi timbul sebagai akibat lesi pada
daerah otak yang menyebabkan terjadinya penurunan sintesis monoamin sehingga
terjadi penurunan serotonin yang merupakan neurotransmitter untuk
mempertahankan keadaan emosi tetap stabil. Penurunan serotonin menyebabkan
gangguan suasana hati, tidur dan nafsu makan (Schub & Caple, 2010). Gangguan
suasana hati dimanifestasikan dengan marah, frustasi, putus asa dan sering
menyebabkan depresi.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka luasnya kerusakan otak pada serangan
stroke yang memperberat gangguan dapat dinilai dari hasil pemeriksaan CT-Scan.
CT-Scan merupakan salah satu prosedur diagnostik penting untuk menentukan
klasifikasi stroke (iskemik, perdarahan intraserebral dan subarakhnoid), letak lesi,
jumlah perdarahan dan deteksi proses patologik diotak secara langsung (Rasyid &
Soertidewi, 2007; Iskandar,2003). Menurut Iskandar (2003) semakin cepat waktu
waktu antara timbulnya perdarahan subaraknoid (PSA) dengan saat pemeriksaan,
maka tingkat keberhasilan diagnosa lebih tinggi, umumnya sebelum 24 jam
pertama. Pendapat ini berbeda dengan hasil penelitian pada 6 orang responden
kelompok intervensi yang dilakukan CT-Scan, didapatkan lesi pada hemisfer kiri
pada lobus frontalis. Walaupun prosedur ini sangat penting untuk dilakukan,
namun tidak seluruh pasien dilakukan pemeriksaan diagnostik. Faktor biaya yang
harus dikeluarkan secara pribadi bagi pasien yang memilih jalur umum, sehingga
sering menolak pelaksanaan prosedur ini. Selain itu belum adanya fasilitas CT-
Scan dirumah sakit, seperti RSUD Kabupaten Garut, sehingga harus merujuk
pasien ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung bila pasien ingin
melakukan CT-Scan dan membayar sendiri.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil analisis statistik frekuensi serangan stroke
terhadap depresi pada pasien afasia motorik menunjukkan hubungan yang
signifikan dengan nilai p : 0.048 dengan frekuensi serangan stroke 1 kali
mempunyai rata - rata depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan frekuensi
serangan stroke > 1 kali. Frekuensi serangan stroke 1 kali juga didapatkan pada
sebagian besar responden pada kelompok kontrol.

d. Ketidakmampuan Fisik

Ketidakmamampuan fisik yang dialami pasien stroke menyebabkan sebagian


pasien berfikiran negatif dan percaya bahwa sedikit perubahan terhadap penyakit
yang dialami dan hal ini meningkatkan risiko keputusasaan (Dunn, 2005).
Menurut Dunn (2005) depresi dan hopelessness merupakan respon dari kerusakan
fisik. Hal ini sesuai dengan penelitian Swierzewski ( 2010) bahwa lebih dari 30%
pasien stroke membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari hari dan sekitar 15%

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


membutuhkan bantuan di fasilitas pelayanan seperti rumah sakit dan pusat
rehabilitasi. Kombinasi antara mekanisme fisik dan psikologis menyebabkan
gangguan suasana hati pada pasien stroke.

Status fungsional pasien stroke dapat dinilai dengan menggunakan penilaian


barthel Index yang sering digunakan dalam mengevaluasi ketidakmampuan saat
pasien masuk rumah sakit dan selama dirawat (Rasyid, 2007). Hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian lain yang dilakukan oleh Dahlin et al (2006) yang
menyatakan ada hubungan antara depresi dengan gangguan aktivitas sehari – hari
(p : 0.04). Hal ini diperkuat oleh penelitian Sit et al (2007) bahwa gangguan
aktivitas sehari – hari mempunyai hubungan dengan korelasi sedang dengan
depresi, dimana pada 48 jam setelah masuk rumah sakit r:-0.473 dengan p:0.001.
Penelitian Fatoye (2009) juga menyatakan ada hubungan antara gangguan fungsi
motorik berupa paresis dengan depresi paska stroke (p:0.002). Hal ini bisa
diakibatkan karena perubahan besar pada fungsi fisiknya yang berakibat pada
segala aspek kehidupan pasien stroke. Ketidakmampuan fisik bersama – sama
dengan gejala depresi dapat menyebabkan aktivitas penderita stroke menjadi
sangat terbatas pada tahun pertama, namun dukungan sosial dapat mengurangi
dampak dari ketidakmampuan fisik serta depresi tersebut. Ketidakmampuan fisik
yang menyebabkan hilangnya peran hidup yang dimiliki penderita dapat
menyebabkan gangguan persepsi akan konsep diri yang bersangkutan dan dengan
sendiri mengurangi kualitas hidupnya (Suwantara, 2004).

Namun demikian, hasil analisis statistik ketidakmampuan fisik terhadap depresi


ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan dengan p: 0.108. Hal ini
dapat terjadi karena sebagian besar merupakan umur tua sehingga tidak
mempengaruhi aktivitas bekerja karena sudah pensiun. Permasalahan akan timbul
ketika responden masih berumur produktif yang menjadi tujuan proses
penyembuhan bukan hanya melakukan aktivitas sehari-hari, tetapi mampu bekerja
kembali secara normal. Ketidakmampuan responden bekerja kembali menjadikan
stressor yang tinggi untuk terjadinya depresi apalagi jika responden merupakan
pencari nafkah satu-satunya dalam keluarga dan masih mempunyai anak yang
membutuhkan biaya sekolah. Selain itu tidak adanya variasi nilai Barthel Index

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


pada kelompok intervensi, sehingga ketidakmampuan fisik tidak memberikan
kontribusi yang bermakna terhadap kemampuan fungsional komunikasi dan
depresi secara statistik. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Cassidy, Connor & O’Keane (2004) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan
antara kemampuan fungsional dengan depresi paska stroke. Hal ini disebabkan
karena jumlah sampel yang sedikit yaitu 50 responden, sehingga besar
kemungkinan hasilnya menjadi bias.

e. Dukungan keluarga

Wills & Fegan (2001 dalam Sarafino, 2006) menyatakan bahwa dukungan
keluarga mengacu pada bantuan yang diterima individu dari orang lain atau
kelompok sekitar yang membuat penerima merasa nyaman, dicintai dan dihargai
serta dapat menimbulkan efek positif bagi dirinya. Peningkatan dukungan
keluarga yang tersedia dapat menjadi strategi penting dalam mengurangi atau
mencegah tekanan jiwa dan depresi paska stroke (Salter, Foley & Teasell, 2010).

Lebih lanjut Bosworth (2009) menyatakan bahwa dukungan keluarga sangat


berpengaruh terhadap kesehatan mental anggota keluarganya. Kondisi fisik yang
dialami oleh pasien yang menderita stroke akan mengakibatkan pasien tidak
percaya pada dirinya, merasa tidak mampu, tidak berarti dan tidak berharga.
Selain itu proses penyembuhan dan rehabilitasi pada stroke dapat terjadi dalam
waktu yang lama, sehingga membutuhkan bantuan keluarga dalam memberikan
perencanaan dan memberikan aspek perencanaan (Smeltzer & Bare, 2002).
Hal yang terlihat selama penelitian semua responden mendapatkan dukungan
keluarga secara nyata yang dapat dilihat secara langsung ketika keluarga selalu
mendampingi responden, merawat dan memberikan alat bantu komunikasi.
Namun demikian hasil analisa hubungan dukungan keluarga dengan depresi
menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga
terhadap depresi (p : 0.147). Hal ini kemungkinan disebabkan dalam penelitian
ini, jumlah responden kelompok intervensi yang sedikit (n = 10), sehingga tidak
didapatkan pengaruh dukungan keluarga terhadap depresi pada afasia motorik.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


6.2 Keterbatasan Penelitian

Peneliti menyadari adanya keterbatasan dalam penelitian ini, diantaranya :


a. Sampel Penelitian
Subjek penelitian yang didapatkan tidak sesuai dengan target penelitian
karena beberapa responden mengalami drop out dalam penelitian. Jumlah
responden yang tidak sesuai dengan target penelitian tidak dapat memberi
gambaran sesuai dengan tujuan penelitian terutama yang berkaitan dengan
kemampuan fungsional komunikasi pasien afasia motorik dan pengaruh
variabel perancu terhadap kemampuan fungsional komunikasi dan depresi
pada pasien afasia motorik secara keseluruhan.

b. Waktu Penelitian
Waktu latihan komunikasi pada penelitian ini tergolong singkat yaitu selama
10 hari. Hal ini mungkin tidak maksimal untuk memperbaiki kemampuan
fungsional komunikasi pada semua subjek penelitian karena berat stroke dan
derajat keparahan afasia subjek penelitian bervariasi dan terdapat variasi pada
setiap individu dalam hal waktu pemulihan. Sebaiknya latihan ini dilakukan
satu sampai dengan tiga bulan untuk mengevaluasi kemajuan komunikasi. Hal
ini disesuaikan dengan lama pemulihan pasien afasia yang berkisar 3 – 6
bulan.

c. Instrumen penelitian
Keterbatasan yang dirasakan selama penelitian adalah instrumen yang
digunakan untuk menilai kemampuan fungsional komunikasi dan depresi
dalam rentang nilai ini melibatkan asisten peneliti serta menggunakan ukuran
acuan kurang terstruktur/terarah. Walaupun sudah dilakukan uji interrater,
tetapi pada instrumen kemampuan fungsional komunikasi masih
membutuhkan acuan/alat yang membuat penilaian menjadi lebih objektif
diantara peneliti dan asisten peneliti. Untuk instrumen penilaian depresi, tidak
semuanya dilakukan observasi dan ada beberapa item observasi yang perlu
dikembangkan agar penilaian observasi lebih objektif.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


d. Proses pelaksanaan penelitian
Selama proses penelitian, terdapat beberapa kendala yang kurang memenuhi
sasaran pemberian komunikasi dengan AAC (rehabilitasi), yaitu kehadiran
beberapa anggota keluarga yang mendampingi pasien berganti-ganti, sehingga
peneliti harus memberikan latihan dan penjelasan yang berulang – ulang
kepada keluarga. Selain itu pelaksanaan AAC diberikan sama kepada semua
afasia motorik tanpa mempertimbangkan keparahan afasia, sehingga kondisi
ini kemungkinan dapat mempengaruhi outcome.

6.3 Implikasi dalam Pelayanan Keperawatan

Pemberian komunikasi dengan AAC pada pasien stroke dengan afasia motorik
mempunyai dampak positif mampu mengkomunikasikan kebutuhannya melalui
pemberian buku komunikasi, majalah, foto, musik/lagu dan alat tulis, sehingga
dapat menurunkan depresi pada pasien afasia motorik. Komunikasi merupakan
salah satu kebutuhan dasar menurut Henderson untuk mengekspresikan pikiran,
pendapat dan perasaan.

Meskipun dalam meningkatkan kemampuan komunikasi selama 10 hari tidak ada


hubungan yang bermakna, tetapi adanya pemberian AAC pada hari pertama
sampai hari ke sepuluh dapat meningkatkan neuroplastisitas, reorganisasi peta
kortikal dan meningkatkan fungsi motorik pada hari selanjutnya sehingga pada 3-
6 bulan selanjutnya pemulihan wicara – bahasa menjadi optimal. Proses deteksi
yang dini dan memberikan intervensi keperawatan yang tepat dan dimulai sejak
dini terkait dengan afasia dan depresi dapat meningkatkan proses pemulihan paska
stroke dengan afasia motorik.

Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi penelitian terhadap kemampuan


fungsional komunikasi menjadi kurang signifikan adalah waktu yang relatif
singkat untuk memperbaiki kemampuan fungsional komunikasi pasien afasia.
Selain itu pemberian media dilakukan kepada seluruh pasien afasia tanpa

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


mempertimbangkan keparahan afasia. Keadaan ini tentunya dapat mempengaruhi
efek terapi yang diharapkan, seperti kemampuan fungsional komunikasi.

Selain berdampak positif terhadap kemampuan fungsional komunikasi, pemberian


AAC juga berdampak positif terhadap kejadian depresi. Disisi lain akan
mengurangi jumlah biaya yang harus dikeluarkan dan lamanya pengobatan di
rumah sakit. Hal tersebut dikarenakan AAC dapat memfasilitasi komunikasi
pasien afasia karena keterbatasannya dalam berkomunikasi verbal, meningkatkan
interaksi antara pasien dengan keluarga, petugas kesehatan dan membantu
perkembangan hubungan sosial sehingga akan mempengaruhi kualitas hidup
pasien afasia. Pemberian AAC juga meningkatkan waktu sentuhan perawat
kepada pasien, sehingga perawat dapat menjadi teman dalam mengekspresikan
emosi. Sikap caring yang ditunjukkan perawat kepada pasien akan menimbulkan
efek positif untuk mengurangi kejadian depresi.

Penanganan pasien stroke yang mengalami afasia pada saat ini hanya berfokus
pada penanganan fisik saja. Pemberian alat bantu komunikasi pada pasien afasia
hanya diberikan isyarat atau alat tulis tanpa diberikan stimulasi latihan, sehingga
tidak sepenuhnya mendukung pasien untuk memfasilitasi komunikasi dan
meningkatkan komunikasi pasien selama di rumah sakit. Perawat tidak
mengetahui kalau pasien mengalami afasia, karena tidak mendeteksi adanya
afasia, sehingga latihan komunikasi terlambat/tidak dilakukan. Keadaan ini
tentunya akan menimbulkan berbagai dampak negatif seperti memperlambat pola
penyembuhan dan pasien akan mengalami depresi karena ketidakmampuan dalam
berkomunikasi.

Sesuai dengan peran perawat dalam rehabilitasi stroke, perawat dapat berperan
sebagai caregiver, educator dengan memberikan informasi tentang pentingnya
keterlibatan keluarga dalam pelaksanaan latihan komunikasi dan fasilitator dalam
penyembuhan pasien dan manajer perawatan. Perawat juga sebaiknya menerapkan
caring dalam memberikan asuhan keperawatan, memberikan motivasi agar tidak
mengalami depresi. Selain perawat, keterlibatan keluarga juga merupakan salah

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


satu bentuk dukungan yang diperlukan dalam pelaksanaan latihan komunikasi,
baik selama di rumah sakit ataupun di rumah.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut :
a. Karakteristik pasien stroke dengan afasia motorik di RSUD Garut, Banjar dan
Tasikmalaya adalah sebagian besar berumur 62.10 tahun, sebagian besar
berjenis kelamin laki-laki, sebagian besar memiliki frekuensi serangan stroke 1
kali, sebagian besar memiliki nilai ketidakmampuan fisik 25.48 dan sebagian
besar memiliki nilai dukungan keluarga 46.48.
b. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna kemampuan fungsional komunikasi
pada pasien stroke dengan afasia motorik yang diberikan komunikasi dengan
AAC dengan yang tidak diberikan AAC.
c. Terdapat perbedaan yang bermakna nilai depresi pada pasien stroke dengan
afasia motorik yang diberikan komunikasi dengan AAC dengan yang tidak
diberikan AAC.
d. Tidak terdapat hubungan yang bermakna variabel perancu terhadap kemampuan
fungsional komunikasi pada pasien stroke dengan afasia motorik yang
diberikan AAC.
e. Terdapat hubungan bermakna frekuensi serangan stroke 1kali terhadap depresi
pada pasien stroke dengan afasia motorik yang diberikan AAC.

7.2 Saran
Berkaitan dengan beberapa kesimpulan di atas, ada beberapa hal yang disarankan
pada penelitian ini yaitu :
a. Bagi Pelayanan Keperawatan
1. Mensosialisasikan penggunaan AAC untuk memfasilitasi komunikasi pasien
afasia motorik, seperti papan gambar/buku komunikasi, majalah, foto,
musik/lagu dan alat tulis untuk menurunkan depresi pada pasien afasia
motorik.
2. Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait pemberian AAC pada
pasien stroke dengan afasia motorik.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


3. Menjadikan AAC sebagai intervensi keperawatan untuk memfasilitasi
komunikasi sehingga dapat menurunkan depresi pada pasien stroke dengan
afasia motorik mengingat tugas perawat saat ini hanyak berfokus pada
penanganan penanganan fisik saja. Perawat juga tidak mengetahui pasien
mengalami afasia, karena tidak mendeteksi adanya afasia, sehingga latihan
komunikasi terlambat/tidak dilakukan. Keadaan ini tentunya akan
memperlambat pola penyembuhan dan pasien akan mengalami depresi
karena ketidakmampuan dalam berkomunikasi.
4. Mengadakan pelatihan AAC pada pasien stroke dengan afasia, seperti
melakukan pengkajian afasia, depresi dan pelaksanaan pemberian
komunikasi dengan AAC.

b. Bagi Peneliti Keperawatan


Membuat penelitian sejenis yang menilai kemampuan fungsional komunikasi
dengan memperhatikan tingkat keparahan afasia, luas dan lokasi lesi serta lama
waktu pemberian latihan. Mengembangkan alat ukur untuk penilaian
kemampuan fungsional komunikasi serta mengembangkan instrumen observasi
depresi pada afasia. Selain itu perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan
membandingkan metode sederhana (low technologi), seperti alat tulis, gambar,
musik, papan alfabet dan metode modern (high technology), seperti komputer,
atau penelitian dengan metode kualitatif seperti pengalaman pasien afasia yang
sudah mendapatkan rehabilitasi wicara dan mengalami penyembuhan wicara-
bahasa dalam berkomunikasi dengan orang lain/ pengalaman keluarga dalam
merawat pasien afasia.

c. Bagi Institusi Pendidikan


Perlu memperkenalkan terapi modalitas, seperti augmentative and alternative
communication dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien stroke
dengan gangguan komunikasi.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


DAFTAR PUSTAKA

Abramson, L.Y., Metalsky, G. I., & Alloy, L.B. (1989). Hopelessness Depression
: A Theory-Based Subtype of Depression. Psychological Review, 96 (2), 358
-372.

Ackley, B. J. & Ladwig, G. B. (2011). Nursing diagnosis handbook: An evidence


based guide to planning care (9th ed.). USA: Mosby Elseiver.

Ackley, B.J., Swan, B.A., Ladwig, G.B & Tucker, S.J. (2008). Evidence – based
nursing care guidelines medical surgical interventions. USA : Mosby
Elseiver.

AHA/ASA. (2006). Primary prevention of ischemic stroke.


http://stroke.ahajournals.org/cgi/content/full/37/6/1583#FIG 1173987
diperoleh tanggal 14 Juni 2011.

American Music Association (2005). Music Therapy.


http://www.musictherapy.org diperoleh tanggal 14 Desember 2011.

Andri., Susanto, M. (2008). Tatalaksana depresi pasca stroke. Tinjauan pustaka.


Majalah Kedokteran Indonesia, 58(3):81-85, diperoleh pada tanggal 17
Oktober 2011.

Aini, F. (2006). Speech therapy pada klien stroke.


http://nardinurses.files.wordpress.com/2008/01/makalah-speech-therapy.pdf
diperoleh pada tanggal 20 April 2011.

Amir, N. (2005). Depresi : Aspek Neurobiologi Diagnosis dan Tatalaksana.


Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Ariawan, I. (1998). Besar dan metode sampel pada penelitian kesehatan. Jakarta:
FKM UI.

Ardi, M. (2011). Analisis hubungan ketidakmampuan fisik dan kognitif dengan


keputusasaan pada pasien stroke di Makassar. Depok : Program Studi Pasca
Sarjana FIK UI. Tidak dipublikasikan.

Arslan, S., Celebioglu, A., & Tezel, A. (2009).`Depression and Hopelessness in


Turkish Patients with Cancer Undergoing Chemotherapy. Japan Journal of
Nursing Science,6, 105-110.

Arwani. (2003). Komunikasi dalam keperawatan. Jakarta : EGC.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2008). Laporan nasional


riskesda 2007, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen
Kesehatan, Republik Indonesia. Diakses dari http://www.litbang.depkes.go.id.
Diperoleh pada tanggal 20 Juli 2011.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Bakheit., Shaw, S., Barret, L., Wood,J., Carrington, S., Griffith, S., Searle, K., &
Koutsi, F. (2007). A prospective, randomized, parallel group, controlled study
of the effect of intensity of speech and language therapy on early recovery
from post stroke aphasia. Clinical rehabilitation . 21: 885–894.

Barker, E. (2002). Neuroscience nursing : A spectrum of care (2nd ed.).


Philadelphia: Mosby Incorporation.
Bazzano, L. (2000). High alcohol consumption increase stroke risk.
http://www.eurekalert.org/pub_releases/2007-08/tu-hac081707.php diperoleh
tanggal 5 Juni 2011.

Beery, A.T. (2007). Diseases & disorders : A Nursing therapeutic manual (3rd
ed.). Philadelphia : F.A Davis Company.

Beck, A.T., Weissman., Lester, D., & Trexler, L. (1974). The measurement of
pessimism : The hopelessness scale. Journal of Consulting and Clinical
Psychology, 42 (6), 861-865.

Benneth, H.E., Thomas, S.A., Austeen, R., Moris, A.M.S., & Lincoln, N.B.
(2006). Validation of screening measures for assessing mood in stroke
patients. British Journal of Clinical Psychology, 45 (Part 3), 367 – 376.
September 2006.

Benneth, H.E., & Lincoln, N.B. (2006). Potential screening measures for
depressions and anxiety after stroke. International Journal of Therapy and
Rehabilitation. Vol.13(9). diperoleh pada tanggal 20 Juni 2011.

Berman., Snyder., Kozier., & Erb. (2008). Fundamentals of Nursing : Concepts,


Process and Practice (8th ed.). New Jersey : Pearson International Edition.
Berthier, M.L. (2005). Post Stroke. Review Article.

Bethesda Stroke Centre. (2007). Faktor resiko stroke usia muda.


http://www.strokebethesda.com. Diperoleh pada tanggal 20 Juni 2011.

Beukelman, D.R., Ball, L.J., & Fager, S. (2008). An AAC personnel framework :
adults acquired complex communication needs, 24 (3), 255 – 267. 2008
September.

Bhogal, S.K., Teasel., Foley., & Speechley. (2004). Lesion location and poststroke
depression: systematic review of the methodological limitations in the
literature. U.S. National Library of Medicine. Stroke. 2004 Mar;35(3):794-
802.
Black, J.M., & Jacob, E.M. (2005). Medical surgical nursing clinical management
for positive outcomes (7th ed.). St. Louis : Elsevier Saunders.

------------- (2009). Medical surgical nursing clinical management for positive


outcomes (8th ed.). St. Louis : Elsevier Saunders.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Bosworth, H. (2009). Friends & Family Support Improve Heart Health. Diperoleh
dari http://www.selfhelpmagazine.com/article/ support-and-heart-health pada
tanggal 10 2011.

Bourgeois, M.S., Dijkstra, K., Burgio, L., & Burge, R.A. (2001). Memory aid as
an augmentative and alternative communication strategy for nursing home
residents with dimentia. AAC Augmentative and Alternative Communication,
Volume 17: 196-210.

Browndyke, J.N. (2002). Aphasia assesment.


http://www.neuropsychologycentral.com diperoleh pada tanggal 20 Juni
2011.

Bulecheck, G.M., & McCloskey, J.C. (1999). Nursing interventions : Effective


nursing treatment (3rd ed.). Philadelphia : W.B. Saunders Company.

Bullain, S.S., Chiki, L.S & Stern, T.A. (2007). Aphasia : Associated disturbance
in affect. Behaviour and cognition in the setting of speech and language
difficulties. Psychomatics, 48: 259-264. May – June 2007.

Caeiro, L., Ferro, J.M., Santos, C.O., & Luisa, F. (2006). Depression in acute
stroke. Journal of Psychiatry Neuroscience, 31(6): 377- 383. Nov 2006.

Castello,J.M., Patak, L.,& Pritchard, J. (2010). Communication vulnerable


patients in the pediatric ICU: Enhancing care through augmentative and
alternative communication therapy. Journal of Pediatric Rehabilitation
Medicine : An Interdiciplinary Approach 3, 289 – 301.

Cherney, L.R., Small, S.L., Stein, J., (2009). Aphasia, alexia and oral reading. In
Stroke Recovery and Rehabilitation. Demos Medical Publishing. 155 – 181.

Cigna. (2010). Speech therapy. http://www.cigna.com diperoleh pada tanggal 15


April 2010.

Clarkson, K. (2010). Aphasia after stroke enabling communication through speech


and language therapy. British Journal of Neuroscience Nursing, 6(5), 227–
231. Jun – Jul 2010.

Coffman, M.J. (2008). Effects of tangible social support and depression on


diabetes self-efficacy. Journal of Gerontological Nursing, 34 (40, 32 – 39.

Dahlan, M. S. (2008). Besar sampel dalam penelitian kedokteran dan kesehatan.


Jakarta : PT. Arkans.

Dahlin, F., Billing, E., Nasman, P., Martenson, B., Wreding, R., & Murray, V.
(2006). Post-stroke depression effect on the life situation of the significant
other. Scandinavian Journal of Caring Sciences , 20(4): 412-6 (34 ref).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Dahlin, A.F., Laska, A.C., Larson, J., Wredling., Billing, E., & Murray, F. (2007).
Predictors of life situation among significant others of depresses or aphasia
stroke patients. Journal of Clinical Nursing, 17: 1574 – 1580. September
2007.

Darussalam, M. (2011). Analisis faktor – faktor yang berhubungan dengan depresi


dan Hopelessness pada pasien stroke di Blitar. Depok : Program Studi Pasca
Sarjana FIK UI. Tidak dipublikasikan.

Darma, K.K. (2011). Metodologi penelitian keperawatan. Panduan melaksanakan


dan menerapkan hasil penelitian. Edisi I. Jakarta : TIM.

Dunn, S. L. (2005). Hopelessness as a Response to Physical Illness. Journal Of


Nursing Scholarship, 37:2, 148-154.
Dochterman & Bulecheck. (2004). Nursing Intervention Classification (4th ed.).
St. Louis : Mosby Incorporation.

Enderby, P., Crow, F. (1996). Frenchay aphasia screening test: validity and
comparability. Disability & Rehabilitation. 18, 238–240.
http://www.amazon.com/Frenchay-Aphasia-Screening-Pamela-
Enderby/dp/1861564422 diperoleh pada tanggal 23 Mei 2011.

Farrell, C. (2004). Poststroke Depression in Elderly Patients. Journal of Dimens


Critical Care Nursing, 23(O5):264-269.

Fatoye, F. O. (2009). Depressive symptoms and associated factors following


cerebrovascular accident among Nigerians. Journal of Mental Health, June
2009; 18(3): 224–232.

Feigin, V. (2007). Stroke : Panduan bergambar tentang pencegahan dan


pemulihan stroke. Jakarta ; PT. Bhuana Ilmu Populer.

Finke, E.H., Light, J., & Kitko, L. (2008). A systematic review of the
effectiveness of nurse communication with patients with complex
communication needs with a focus on the use of augmentative and alternative
communication. Journal of Clinical Nursing. 2008 Aug; 17 (16) : 2102 - 2115.

Friedman, M.M ., Bowden, V.R., & Jones. (2010). Buku ajar keperawatan
keluarga : Riset, teori dan praktek. Jakarta : EGC.

Ganong. (1998). Fisiologi kedokteran. Jakarta : EGC.


Gaag, A. (2005). Therapy and support services for people with long-term stroke
and aphasia and their relatives: a six - month follow-up clinical rehabilitation,
19: 372 -/380.

Garret, K.L. (2003). Strategy use in context: AAC, supported conversation and
group therapy intervention for people with severe aphasia, 1-21.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Ginkel, D. M., Gooskens, F., Schuurmans, M.J., Lindeman, E., & Hafsteinsdottir,
T.B. (2010). A systematic review of therapeutic interventions for poststroke
depression and the role of nurses. Journal of Clinical Nursing, 19(23/24):
3274-90 (76 ref).

Ginsberg, L. (2007). Lecture notes : Neurologi (Indah Retno Wardhani,


Penerjemah.). Edisi 8. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Glamcevski, M. T., Mihaljo., Pierson., & Jane. (2002). Factors associated with
post-stroke depression, a Malaysian study. Neurol J Southeast Asia, 7 : 9 –
12.
Groom, M.J., Lincoln, N.B., Francis, F.M., & Stephan, T.F. (2003). Assessing
mood in patients with multiple sclerosis. Clinical Rehabilitation (17) : 847 -
857.
Gordon, C, et al. (2008). The use of Conversational Analysis : Nurse – Patient
Interaction in Communication Disability After Stroke. Journal of Advanced
Nursing.
Gulanick., & Myers. (2009). Nursing care plan. Nursing diagnosis and
intervention. (6th ed.). Mosby. Inc

Gupta. A, Pansari. K, & Shetty, H. (2002). Post-stroke depression. International


Journal of Clinical Practice, 56(7): 531-7 (89 ref).

Guyton, A.C., & Hall, J.E. (1997). Buku ajar fisiologi kedokeran. Edisi 3. Jakarta
: EGC.
Hammond, M.F., O’Keeffe, S.T., Barer, D.H.(2000). Development and validation
of a brief observer-rated screening scale for depression in elderly medical
patients. Age and Ageing (29) : 511-515.
Hasnita, E. & Sanusi, R. (2006). Ciri-ciri, iklim organisasi, dan kinerja tenaga
perawat di instalasi rawat inap RS dr. Achmad Moechtar Bukittinggi tahun
2005. Yogyakarta: KMPK UGM.
Hastono, S.P. (2007). Basic data analysis for health research training : Analisis
data kesehatan. Depok : FKM UI.

Hawari, D. (2006). Manajemen stress, cemas, dan depresi. Jakarta: Balai penerbit
FKUI.

Hickey, J.V. (2003). The clinical practice of neurological and neurosurgical


nursing. (5th ed.). Philadelphia : J.B. Lippincott Company.
Hill, E., Payne, S., & Ward, C. (2000). Self-body split: issues of identity in
physical recovery following a stroke. Disability Rehabilitation, 22: 725-33.

Hemsley, B. (2001). Nursing the patient with severe communication impairment.


Journal Advance Nursing, 35 (6), 827 – 835.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Hoeman., & Shirley, P. (1996). Rehabilitation nursing : Process and application
(2nd ed.). A Times Mirror Company : St. Louis.

Hsdc. (2011). Speech disorder post stroke. http://www.hsdc.org. diperoleh pada


tanggal 15 April 2011.

Huang, C. Y. Hsu, M.C., Hsu, S.P., Cheng, P.C., Lin, S.F., & Chuang, C.H.
(2010). Mediating roles of social support on poststroke depression and quality
of life in patients with ischemic stroke. J Clin Nurs.Volume 19, Issue 19-20
pages 2671–2956.

Hudak, C.M., & Gallo, B.M. (1996). Keperawatan kritis pendekatan holistik.
Edisi 6. Editor Yasmin Asih. Jakarta : EGC.

Ignatavicius, D.D. & Workman, M.L. (2010). Medical surgical nursing patient –
centered collaborative care. (6th ed.). Volume 2 . St. Louis : Elsevier Inc.

Johnson, R.K., Hough, M.S., King, K.A., Vos Paul., & Jeffs, T.A. (2008).
Functional communication in individual with chronic severe aphasia using
augmentative communication. Informa Healthcare.Vol. 24(4) : 269 – 280.

Kirshner. (2009). Post stroke aphasia.


Kusumoputro, S. (1992). Afasia : Gangguan berbahasa. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.

Laska, A.C. (2007). Aphasia in acute stroke. Department of Clinical Sciences


Danderyd Hospital. Karolinska Institutet. Stocholm, Sweden.
http://publications.ki.se/jspui/bitstream/10616/39894/1/thesis.pdf diperoleh
pada tanggal 15 juni 2011.
Lee, A.C.K., Tang, S.W., Tsoi, T.H., Fong, D.Y.K., & Yu, G.K.K. (2009).
Predictors of poststroke of life in older chinese adults. Journal of Advanced
Nursing. 65(3), 554-564.

Lewis, S.M., Heitkemper, M.M., & Dirksen, S.H. (2000). Medical surgical
nursing : assesment and management of clinical problem (5th ed.). Vol. 2
Chapter 37 – 64 : 1011 – 1998. St. Louis : Mosby Inc.

Lewis., Heitkemper., Dirksen., O’Brien., & Bucher. (2007). Medical surgical


nursing. (7th ed.). St.Louis : Missouri. Mosby-Year Book, Incorporation.

Li, S. C, Wang, K. Y., & Lin, J. C. (2003). Depression and related factors in
elderly patients with occlusion stroke. Journal of Nursing Research .Vol II.
No. I.

Lipska, et al. (2007). Risk factor for acute ischaemic stroke in young adults in
south India. Diakses dari JNNP.com tanggal 8 Juli 2011.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Loretz, L.(2005). Primary care tools for clinician a compendium of forms,
questionnaires and rating scales for everyday practice. St.Louis, Missouri:
Mosby, Inc.

Lumbantobing, S.M. (2011). Neurologi klinik pemeriksaan fisik dan mental.


Cetakan 14. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Lund, S.K., & Light, J. (2003). The effectiveness of grammar instruction for
individuals who use augmentative and alternative system : A preliminary
study. Journal of Speech Language and Hearing Research, 46 (5), 1110 –
1123. Oktober 2003.
Lund , S.K., & Light, J. (2007). Long term outcomes for individuals who use
augmentative and alternative communication : Part III – contributing factors.
Augmentative and alternative communication , vol 23 (4),323 – 335.
Martini,S. (2002). Gangguan kognitif pasca stroke dan faktor resikonya. Berita
Kedokteran Masyarakat XVIII (4) 2002 hal.195.

Mc Dowell, J., & Nowell, D.K. (2001). Dimension of the event that influence
psychological distress. An evaluation and synthesis of the literature. In H.B.
Kaplan (Ed). Psychosocial stress. Trends in theory and research, h. 33 – 103.
Newyork : Academic Press.
Meifi., & Agus, D. (2009). Stroke dan depresi paska stroke. Majalah kedokteran
Damianus. Vol.8 No.1. Januari 2009. Diperoleh pada tanggal 20 Mei 2011.

Misbach, J. (1999). Stroke aspek diagnostik, patofisiologi, manajemen. Jakarta :


Balai Penerbit FKUI.

Misbach, J., & Kalim, H. (2007). Stroke mengancam usia produktif.


http://www.medicastore. com/stroke/ diperoleh tanggal 14 Mei 2011.

Mudie, M. H., & Matyas, T. A. (2000). Can simultaneous bilateral movement


involve the undamaged hemisphere in reconstruction of neural networks
damaged by stroke? Disability & Rehabilitation, 22(1/2), 23-37.

Mulyatsih, E., & Ahmad, A.A. (2010). Stroke : Petunjuk perawatan pasien pasca
stroke di rumah. Cetakan 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

NANDA International. (2009). Diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi


2009-2011. Penerjemah Sumarwati dkk. Jakarta: EGC.

Nursalam. (2008). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu


keperawatan pedoman skripsi, tesis, dan instrumen penelitian keperawatan.
Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.

Nys, G., Zandvoort, M. J. E., Worp, V. D., Haan, D., Kort, D., & Kappelle, L. J.
(2005). Early depressive symptoms after stroke: neuropsychological correlates

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


and lesion characteristics. Journal of the Neurological Sciences.Volume 228,
Issue 1.

Oh, M., Yu, K., Roh, J., & Lee, B. (2009). Gender Differences in the Mortality
and Outcome of Stroke Patients in Korea. Cerebrovascular Diseases, 28(5),
427.

Pdpersi (2010). Stroke peringkat pertama penyebab Kematian di Indonesia.


http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=5621&tbl=cakrawala
diperoleh tanggal 20 Mei 2011.
Petrina, B. (2007). Motot recovery in stroke. http://emedicine.medscape.com.
Diakes 12 Juli 2010.

Pinzon, R. (2009). Stroke usia muda. http://artikel Indonesia.com. Diakses tanggal


14 Juli 2011.

Polit, D.F., Beck, C.T., & Hungler, B.P. (2001). Essentials of nursing research
methods, appraisal, and utilization (5th ed.). Philadelphia : Lippincott.

Polit, D.F., Beck, C.T., & Hungler, B.P. (2004). Nursing research, principles and
methods, 7th ed. Lippincott Williams and Wilkins.
Potter, P.P., & Perry, A.G. (2005). Fundamental of nursing concept : Theory and
practice. (6th ed.). Philadelphia : Mosby Year Book.

Powlawsky, I.E., Schuurmans, M.J., Lindeman, E., & Hafsteinsdottir, T.B. (2010).
A systematic review of nursing rehabilitation of stroke patients with aphasia.
Journal of Clinical Nursing. 2010 Jan; 19 (1-2) : 17-32.

Price, S.A., & Wilson, L.M. (2006). Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses
penyakit. Edisi 6. (Terj.dari Pathophysiologi Clinical Concepts of Disease
Process, Brahm U. Pendit…⌠etal.⌡). Jakarta : EGC.

Purdy, M., & Diez, A. (2010). Factors influencing AAC usage by individuals with
aphasia. Speech Language Pathologi/ Audiology, 19 (3) : 8 – 70.

Rasyid, A., & Soertidewi, L. (2007). Unit stroke. Manajemen stroke secara
komprehensif. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.

Rekam Medis RSUD Kota Tasikmalaya. (2011). Data Rekam Medis RSUD Kota
Tasikmalaya Tahun 2009-2010.

Rice, D.A. (2001). Life events and depressions. The plot thickens. American
Journal of Community Psychology.20 (2)`: 179 – 193.

Rowat, A., Lawrence, M., Horsburgh, D., Legg, L., & Smith L. (2009). Stroke
research questions : A nursing perspective. British Journal of Nursing, 18(2),
99-105. Januari 2009.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Sabri, L., & Hastono, S.P. (2006). Statistik kesehatan. Edisi revisi. Jakarta: FKM
UI.

Salter, K., Jutai, J., Foley, N., Hellings, C., & Teasell, R. (2006). Identification of
aphasia poststroke : A review screening assesment tools. Brain injury, 20(6) :
559- 568. June 2006.

Sarafino, E. P. (2006). Health psychology : biopsychosocial interaction. (5th ed.).


Unites States of America : John willey & Sons, Inc.

Sastroasmoro, S & Ismael, S. (2010). Dasar – dasar metodologi penelitian klinis.


(Ed.2). Jakarta : Sagung Seto.

Schlosser, R.W., & Wendt, O. (2008). Effect of augmentative and alternative


communication intervention on speech production in children with autism : A
systematic review. American Journal of Speech Language Pathology. Vol.17 ;
212 – 230.

Schub, E., & Caple, C. (2010). Stroke complication : post stroke depression.
California: cinahl information system.

Schulz, R., Beach, S.R., Ives, D.G., Martire, L.M., Ariyo, A.A., & Kop, W.J.
(2000). Association between depression and mortality in older adults. Arch
Intern Med 2000; 160: 1761-8.

Silbernagl, S., & Lang, F. (2007). Teks dan atlas berwarna patofisiologi. Alih
Bahasa Iwan Setiawan & Iqbal Mochtar . Cetakan I. Jakarta : EGC.

Sit, J.W.,Wong, T.K.S., Clinton.,Li,L.S.W., & Fong, Y.M. (2004). Stroke care in
the home : The impact of social support on the general health of family
caregivers. Journal of Clinical Nursing, 13: 816-824.

-------------. (2007). Associated factors of post-stroke depression among Hong


Kong Chinese: A longitudinal study. Psychology, Health & Medicine,March;
12(2): 117 – 125.

Smeltzer , S.C., & Bare, B.G. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah
Brunner & Suddarth. Alih Bahasa Andri Hartono, dkk. Edisi 8. Volume 3.
Jakarta: EGC.

Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle, J.L., & Cheever, K.H. (2008). Brunner &
Suddarth’s textbook of medical surgical nursing (11th ed.). Philadelphia :
Lippincott Williams & Wilkins.

--------------. (2010). Brunner & Suddarth’s textbook of medical surgical nursing


(12th ed.). Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.
Storor, D.L., & Byrne, G.J.A. (2006). Premorbid personality and depression
following stroke. Australia.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Sundin, K., & Jansson, L. (2003). Understanding and being understood as a
creative caring phenomenon in care of patient with stroke and aphasia. Journal
of Clinical Nursing. Vol.12 : 107 – 116.

Sundin, K., Jansson, L., & Norberg, A. (2000). Communicating with people with
stroke and aphasia : understanding throught sensation without words. Journal
of Clinical Nursing. Vol.9 : 481 – 488.

Suwantara, J. R. (2004). Depresi pasca-stroke : epidemiologi, rehabilitasi dan


psikoterapi. Jurnal kedokteran Trisakti. Oktober-Desember 2004, Vol. 23 No.
4.

Swierzewski, S.J. (2010). Stroke Treatment. January 30, 2011.


http://www.neurologychannel.com/stroke/treatment.shtml.

Tarigan, I. (2009). Terapi afasia perbaiki gangguan bahasa.


http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2009/04/28/
1109/13/Terapi-Afasia-Perbaiki-Gangguan-Bahasa diperoleh pada tanggal 20
Juli 2011.

Taylor, S.E. (2006). Health psychology. 6th edition. New York: McGraw-Hill
Companies, Inc.
Thomas, S.A., & Lincoln, N.B. (2008). Predictors of emotional distress after
stroke. Journal of the American Heart Association, Vol.39, 1240 – 1245. Feb
21 2008. Diperoleh pada tanggal 24 Juni 2011.
Thommessen. (1999). Screening by nurses for aphasia in stroke – the ullevaal
aphasia screening (UAS) test. Disability and Rehabilitation Journal. Vol. 21,
No. 3, 110 – 115.
Wikipedia. (2011). Augmentative and alternative communication therapy.
http://en.wikipedia.org/wiki/Augmentative_and_alternative_communication
diperoleh pada tanggal 15 April 2011.

Wikipedia. (2011). Anatomi otak. http://id.wikipedia.org/wiki/Otak diperoleh


pada tanggal 15 Oktober 2011.

Wilkinson, J. M. (2007). Buku saku diagnosis keperawatan dengan intervensi NIC


dan kriteria NOC. Alih bahasa:Widyawati dkk. Jakarta: EGC.

Wirawan, R.P. (2009). Rehabilitasi stroke pada pelayanan kesehatan primer.


Majalah Kedokteran Indonesia. Vol (59), nomor 2 : 61 – 73.

World Health Report (2007). Stroke statistics.


http://www.strokecenter.org/patients/stat.htm, diperoleh tanggal 14 Mei 2011.

Yastroki (2011). Stroke penyebab kematian urutan pertama di Rumah Sakit di


Indonesia. http://www.yastroki.or.id/read.php?id=276 diperoleh tanggal 15
Agustus 2011.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Jadual Kegiatan TESIS
Lampiran I
Sentester Gasall0fln0l2
Program Pascasarjana Ilmu Keperawatan
Kekhususan Medikal Bedah Fakultas llmu Keperawntan
Universitas Indonesia

' Janrlp,ri2012
No Kegiatan Juli - September 2011 Oktober 2011 Novernber 2011 Desember 2011
I il m IV I il n ry I I NI ru I n ilI ry I il m ru
1 Penvelesaian Pronosal (Bab I-IV)
2 Uiian Proposal
3 Revisi Proposal
4 Permohonan lzin dan Lolos Kaii Etik
5 Pensumoulan Data
6 Analisis Data
7 Penvelesaian Laooran (Bab V-VII)
8 Uiian Hasil Penelitian

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


PENJELASAN PENELITIAN

Saya menyatakan bahwa di bawah ini :

Peneliti : Amila
NPM : 0906505086

Peneliti adalah mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Keperawatan Universitas


Indonesia, bermaksud mengadakan penelitian untuk mengetahui pengaruh
pemberian alat bantu komunikasi terhadap kemampuan fungsional komunikasi
dan depresi pasien stroke dengan afasia motorik. Penelitian ini dilatarbelakangi
oleh meningkatnya jumlah pasien stroke di Indonesia. Pasien stroke mempunyai
risiko terjadinya berbagai komplikasi diantaranya adalah mengalami gangguan
komunikasi dan depresi. Gangguan komunikasi dapat menurunkan partisipasi
sosial, meningkatkan angka kematian dan menurunkan kemampuan fungsional
pasien stroke. Depresi meningkatkan angka kematian dan kesakitan pada pasien
stroke dan menghambat rehabilitasi pasien stroke.

Peneliti akan memberikan alat bantu komunikasi untuk memfasilitasi komunikasi


pasien dengan gangguan komunikasi. Adapun hasil penelitian ini nanti akan
direkomendasikan sebagai masukan dalam pencegahan terjadinya komplikasi
pada stroke.

Penelitian ini tidak bersifat memaksa, apabila Bapak/Ibu/Saudara/I bersedia


menjadi peserta penelitian, silahkan menandatangani kolom di bawah ini dan
mengisi kuesioner yang tersedia. Dengan persetujuan yang diberikan saya
mengharapkan partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/I untuk memberikan tanggapan atau
jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Peneliti akan menjamin kerahasiaan
identitas peserta penelitian dengan hanya akan mencantumkan nomor sebagai
kode peserta penelitian.
Hormat Saya,

Amila

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI
RESPONDEN PENELITIAN

Setelah membaca penjelasan mengenai penelitian ini dan mendapatkan jawaban


dari pertanyaan yang saya ajukan kepada peneliti, saya mengerti dan memahami
tujuan, manfaat dan tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian ini.
Saya meyakini bahwa peneliti menghargai dan menjunjung tinggi hak-hak
saya/anak/suami/istri/ayah/ibu sebagai responden dan penelitian ini tidak
berdampak buruk terhadap kesehatan saya/anak/suami/istri//ayah/ibu. Saya
mengerti keikutsertaan saya/anak/suami/istri/ayah/ibu dalam penelitian ini sangat
besar manfaatnya bagi kemajuan dunia keperawatan.

Selanjutnya, saya bersedia secara sukarela dan tanpa ada paksaan dari pihak
manapun untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

,...............................2011

Responden Peneliti

(......................................) (Amila)

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


KUISIONER PENELITIAN

Petunjuk Pengisian
Pengisian dilakukan oleh peneliti dengan mengisi titik-titik dan memberi tanda
ceklis (√ ) pada kolom yang disediakan

Identitas responden
No. responden :
Alamat : ..................................................................................
..........................................................................
No Telp/HP : ............................................... .........................
Keterangan : kelompok kontrol/kelompok intervensi

Karakteristik pasien

Umur : …… tahun

Jenis kelamin

Perempuan
Laki-laki

Frekuensi serangan stroke


1 kali
>1 kali

Keluarga yang selama ini merawat :


Suami Istri Anak Ayah/Ibu

Yang lain sebutkan ……………………………………………….

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Kode Responden

FORMAT PENGKAJIAN AFASIA


Frenchay Aphasia Screening Test (FAST)
Petunjuk Pengisian :
Mohon kesedian Bapak/Ibu/Saudara untuk mengisi lembar pengkajian afasia
sesuai dengan kondisi sebenarnya.FAST mengkaji kemampuan bahasa dalam
empat area utama, seperti pemahaman, ungkapan verbal, membaca dan menulis.

Persiapan Tes :
Pastikan pasien dapat mendengar kita dengan baik, suara harus jelas
Alat : kertas bergambar (kartu bergambar), pensil, kertas, stopwatch
No Aspek Item Penilaian Skoring
Komunikasi
1. Pemahaman Perhatikan gambar pemandangan dan
gambar bentuk ini, dengarkan apa yang
saya katakan dan tunjukkan gambar yang
dimaksud. Jika meminta pengulangan
instruksi berarti nilainya error. Berikan
skor 1 untuk setiap jawaban yang benar.
Skor 0 – 10.
1. Skema pemandangan alam
a. Sawah
b. Gunung
c. Pohon
d. Orang ditengah sawah
e. Rumah dipinggir sawah
2. Gambar bentuk :
a. Persegi panjang
b. Persegi empat
c. Kerucut dan lingkaran
d. Kerucut
e. Segilima (Piramida)
2. Pengucapan a. Tunjukkan pasien gambar pemandangan
alam dan katkan “Sebutkan sebanyak
mungkin gambar yang dapat kamu lihat
atau namai segala sesuatu yang kamu
lihat pada gambar ini. Range skor 0 – 5
1. Tidak mampu menyebutkan nama
objek satu pun

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


2. Dapat menamai 1 – 2 objek
3. Dapat menamai 3 – 4 objek
4. Dapat menamai 5 – 7 objek
5. Dapat menamai 8 – 9 objek
6. Dapat menamai 10 objek

b. Pindahkan kartu bergambar dari


hadapan pasien dan informasikan bahwa
sekarang kamu mencoba kondisi yang
sedikit berbeda, kemudian katakan
padanya menyebutkan nama – nama
binatang yang dia mampu/yang ada
dalam pikirannya selama 1 menit. Skor
0–5

1. Tidak mampu menyebutkan satupun


binatang
2. Dapat menyebutkan 1 – 2
3. Dapat menyebutkan 3 – 5
4. Dapat menyebutkan 6 – 9
5. Dapat menyebutkan 10- 14
6. Dapat menyebutkan 15 atau lebih
3. Membaca Tunjukkan pasien skema pemandangan
alam dan kartu membaca, katakan pada
pasien agar membaca di dalam hati saja,
tidak dengan suara keras dan lakukan
instruksi yang dia baca. Berikan skor 1
untuk setiap jawaban yang benar. Skor 0 –
5
1. Tidak dapat melakukan instruksi
2. Tunjuk gambar pohon
3. Ambil kertas bergambar
4. Ambil pensil
5. Tunjuk gambar gunung
6. Tunjuk gambar orang ditengah sawah
4. Menulis Tunjukkan skema pemandangan alam pada
pasien dan katakan “tuliskan sebanyak
mungkin yang kamu bisa tentang apa yang
terjadi di dalam gambar. Jika tangan
dominan yang terkena, maka gunakan
tangan tidak dominan selama 5 menit. Skor
0–5
1. Tidak mampu menuliskan satupun
2. Dapat menuliskan 1- 2
3. Dapat menuliskan 2 – 3
4. Dapat menuliskan 4

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


5. Dapat menuliskan 5 (tetapi ada yang
tidak sesuai dengan gambar)
6. Dapat menuliskan 5 dengan tepat
Total Skor :

Kesimpulan hasil tes :


Afasia : Jika skor >
Jenis Afasia : Afasia motorik Afasia sensorik
Afasia global

Hasil penilaian, dikatakan afasia jika :


Usia sampai 60 tahun mempunyai nilai dibawah 27
Usia diatas 60 mempunyai nilai dibawah 25

Keterangan :
c. Afasia sensorik, yaitu jika pasien sering menyebutkan kata/kalimat yang tidak
sesuai dan tidak bermakna. Pasien kesulitan dalam pemahaman
(komprehensif). Hal ini ditandai dengan bahasa yang lancar tapi tidak sesuai
(nyambung) dengan pertanyaan, panjang kalimat normal, artikulasi baik.
d. Afasia motorik jika pasien dapat mengerti instruksi, tapi sulit
mengungkapkannya dalam kata atau membentuk kalimat secara lengkap. Hal
ini dapat ditandai dengan bicara lisan tidak lancar, terputus-putus dan sering
ucapannya tidak dimengerti orang lain. Apabila bertutur kalimatnya pendek-
pendek dan monoton.
e. Afasia global jika pasien mengalami afasia sensorik ataupun motorik. Hal ini
ditandai dengan
Keadaan ini ditandai oleh tidak adanya lagi bahasa spontan atau berkurang
sekali dan menjadi beberapa patah kata yang diucapkan secara stereotip ( itu –
itu saja, berulang), pemahaman menghilang atau sangat terbatas. Membaca
dan menulis juga terganggu berat.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Kode Responden

SKALA KOMUNIKASI FUNGSIONAL DERBY

Petunjuk Penggunaan :
1. Instrumen ini diisi oleh peneliti berdasarkan hasil observasi dengan responden.
2. Tujuan utama penilaian adalah untuk mengidentifikasi tingkat kemampuan
fungsional komunikasi pasien melalui tiga skala, yaitu kemampuan
mengungkapkan, pemahaman dan interaksi
3. Kemampuan pasien ditentukan berdasarkan bukti yang ada. Menanyakan
kepada teman/keluarga, dan perawat dapat memberikan informasi, tetapi
observasi langsung juga penting.
Ekspresi (E) Pemahaman (P) Interaksi (I)

0 Tidak mampu Kurang atau tidak Sedikit atau tidak ada


mengekspresikan kebutuhan menunjukkan pemahaman. interaksi. (Tidak
dan tidak berusaha menarik (Tidak menunjukkan merespon salam, bisa
perhatian. ekspresi muka apapun, tidak tertawa atau tersenyum
ada respon atau memberikan dalam situasi yang tidak
respon yang tidak sesuai) pantas.)
1 Tidak mampu Menunjukkan tanda-tanda Menyadari adanya
mengekspresikan kebutuhan, pemahaman bahwa orang kehadiran orang lain,
tetapi menunjukkan usaha lain sedang berusaha untuk melalui kontak mata dan
pasien untuk berkomunikasi. mengkomunikasikan postur tubuh, tetapi tidak
sesuatu, tetapi tidak dapat mampu berinteraksi secara
memahami bahkan pilihan spesifik (misalnya melalui
sederhana ya/tidak. salam).
2 Menggunakan komunikasi Memahami beberapa pilihan Merespon salam dan
non-verbal (misalnya isyarat, sederhana dengan dukungan signal sosial yang
menunjuk dengan jari, non-verbal (misalnya disampaikan melalui
ekspresi wajah) dan/atau menunjukkan sebuah ekspresi wajah (misalnya
suara untuk mengekpresikan cangkir, menunjuk tersenyum dan cemberut).
kebutuhan dasar (misalnya teh/kopi), tetapi tidak dapat Dapat berinteraksi dengan
untuk pergi ke toilet). memahami kata-kata atau satu orang, tetapi hanya
Respon ya/tidak tidak dapat simbol-simbol. untuk waktu sebentar.
diharapkan.
3 Respon ya/tidak dapat Memahami ekspresi Dapat berinteraksi dengan
diharapkan. sederhana ya/tidak dan satu orang secara
Dapat mengekspresikan dapat memahami beberapa konsisten dengan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


konsep sebuah tindakan atau kata-kata atau simbol- menggunakan kata-kata
benda (misalnya ‘buku’, simbol konkret yang dan/atau komunikasi non-
‘makan’, ‘kursi’). sederhana. verbal.
4 Mengekspresikan ide-ide Memahami ide-ide Dapat berinteraksi dengan
sederhana secara verbal atau sederhana yang dua orang secara
dengan berbicara singkat disampaikan melalui kata- konsisten dan
(misalnya dapat meminta kata yang diucapkan satu berpartisipasi
supaya buku diletakkan di persatu atau secara non sebagaimana mestinya.
atas kursi). verbal.
5 Mengekspresikan ide-ide Memahami ide-ide yang Dapat berinteraksi dengan
yang lebih rumit tetapi harus hanya bisa diekspresikan beberapa orang tetapi
didukung oleh komunikasi secara lengkap melalui kata- membutuhkan dukungan
non-verbal (misalnya dapat kata. untuk berpartisipasi secara
meminta supaya diberikan efektif.
minum nanti).
6 Mengekspresikan ide-ide Memahami beberapa Berinteraksi secara
abstrak yang memerlukan percakapan yang rumit mandiri dengan berapapun
kata-kata (misalnya ‘ayah (rangkaian kalimat),tetapi banyaknya jumlah orang,
saya kecewa’). sering kehilangan arah tetapi hanya bertahan
Dapat kehilangan kelancaran pembicaraan. sebentar dan dapat
bicara saat gelisah, lelah dll. mengalami beberapa
kesulitan (misalnya giliran
berbicara).
7 Dapat mengekspresikan ide – Benar-benar memahami Dapat mempertahankan
ide dalam bentuk komunikasi komunikasi kompleks, interaksi dengan
yang kompleks, tetapi tetapi kadang-kadang berapapun banyaknya
kelancaran berbicaranya mengalami kesulitan. jumlah orang dengan
berkurang. mengalami hanya sedikit
kesulitan.
8 Tidak ada masalah yang Tidak ada masalah yang Tidak ada masalah dalam
terdeteksi. terdeteksi. interaksi sosial.

Masukkan angka dari daftar Masukkan angka dari daftar Masukkan angka dari
di atas yang menggambarkan di atas yang daftar di atas yang
tingkat ekspresi paling menggambarkan tingkat menggambarkan tingkat
akurat pasien dalam kondisi pemahaman paling akurat interaksi paling akurat
sekarang: E= pasien dalam kondisi pasien dalam kondisi
sekarang: sekarang:
P= I=

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Kode Responden
FORMAT OBSERVASI DEPRESI
Aphasic Depression Rating Scale (ADRS)

Petunjuk Penggunaan :
1. Instrumen ini diisi oleh peneliti berdasarkan hasil observasi dengan responden.
2. Tujuan utama penilaian adalah untuk mengidentifikasi terjadinya depresi
melalui penilaian adanya insomnia, kecemasan, gejala somatik, adanya
kesedihan, hipokondriasis, agitasi, ekspresi (mimik) dan kelelahan.
3. Penilaian adanya depresi pada pasien ditentukan berdasarkan bukti yang ada.
Menanyakan kepada keluarga yang selalu mendampingi pasien dan perawat
dapat memberikan informasi atau kepada pasien dengan memberikan pilihan
bila ya = mengangguk, tidak = menggelengkan kepala, tetapi observasi
langsung juga penting.
N BAGIAN NILAI
O
1. Insomnia – Sedang 0= Tidak ada kesulitan
Pasien gelisah dan terganggu sepanjang 1= Pasien menunjukkan kegelisahan dan gangguan
malam, bangun dimalam hari pada waktu malam /observasi gangguan pola
tidur
2 = Sering bangun pada waktu malam hari; bangun
dari tempat tidur (kecuali pergi kekamar mandi)
2. Kecemasan – Fisik 0 = Tidak ada kesulitan
Tegang dan mudah marah 1 = Tegang dan mudah marah
Mengkhawatirkan hal yang kecil/ 2 = Mengkhawatirkan hal yang kecil/sederhana
sederhana 3 = Sikap cemas tampak pada wajah atau cara bicara
Menunjukkan sikap khawatir dan pasien
gelisah 4= Ketakutan yang ditunjukkan (ekspresi verbal/non
Takut verbal) secara jelas
3. Kecemasan – Somatik 0 = Tidak ada
Gastrointestinal : Gangguan pencernaan 1 = Ringan
Kardiovaskuler : Palpitasi, nyeri kepala 2 = Sedang
Respirasi, gangguan perkemihan dan 3 = Berat
lain-lain 4 = Tidak dapat ditangani

4. Gejala Somatik – Gastrointestinal 0 = Tidak ada


Hilang nafsu makan, perasaan 1 =Hilang nafsu makan tetapi tetap makan, perasaan
penuh/berat diabdomen, konstipasi penuh pada abdomen
2= Kesulitan makan (bukan karena paresis lengan)
memerlukan pengobatan untuk gangguan
pencernaan, misal karena konstipasi
5. Hipokondriasis 0 = Tidak ada
Keyakinan seseorang memiliki penyakit 1 = Khawatirkan pada penampilan diri (pada tubuh)

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


medis yang serius, meski tidak ada 2 = Mengkhawatirkan kesehatan
dasar untuk keluhan yang dapat 3 = Banyak keluhan, permintaan bantuan & lain –
ditemukan lain
4 = Delusi hipokondria (khayalan adanya penyakit
yang serius)
6. Agitasi 0 = Tidak ada gejala
Gelisah berhubungan dengan 1 = Gejala sedikit atau meragukan
kecemasan 2 = Gejala tampak nyata
7. Kesedihan yang tampak 0 = Tidak sedih
1 = Antara 0 dan 2
2 = Tampak tidak bersemangat, tetapi mudah menjadi
riang kembali
3 = Antara 2 dan 4
4= Sering tampak sedih dan tidak bahagia
5 = Antara 4 dan 6
6 = Tampak menderita sepanjang waktu, sangat
murung
8. Mimik- Pergerakan Ekspresi Wajah 0= Kepala bergerak dengan bebas, fleksibilitas pada
tubuh dengan pandangan menatap ruangan atau
pandangan tetap pada pemeriksa atau minat
pada objek yang lain dengan sikap yang sesuai
1 = Mungkin terjadi pengurangan gerakan, tidak bisa
dipastikan dengan mudah
2 = Berkurangnya gerakan tetapi ringan, menatap
ruangan, mimik, walaupun monoton, masih
ekspresif
3 = Tidak menggerakkan kepala, biasanya menatap
lantai, jarang menatap pemeriksa; pasien lambat
tersenyum; ekspresi tidak berubah
4 = Muka benar-benar tidak bergerak dan sulit
berekspresi
9. Kelelahan 0 = Kelelahan tidak ditunjukkan secara
spontan/setelah pertanyaan langsung
1 = Kelelahan tidak ditunjukkan secara spontan,
tetapi bukti kelelahan didapatkan saat
wawancara berlangsung
2 = Pasien mengalami distres karena kelelahan dalam
kehidupan sehari - harinya (makan, berpakaian,
atau aktivitas fisik yang biasanya dapat
dilakukan oleh pasien, meskipun mengalami
gangguan motorik (lambat)
3 = Kelelahan sangat tampak, sehingga pasien harus
mengendalikan beberapa aktivitas (lesu)
4 = Pengurangan pada hampir semua aktivitas yang
disebabkan oleh kelelahan yang berlebihan
(lemas)
Total nilai

Kesimpulan : Dikatakan depresi bila skor pasien ≥ 9. Semakin tinggi nilai yang
diperoleh, semakin menunjukkan pasien depresi

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Kode Responden

INSTRUMEN STATUS FUNGSIONAL


(The Barthel Index)

Instrumen status fungsional digunakan untuk menilai ketidakmampuan fisik.


Ketidakmampuan fisik merupakan ketidakmampuan dalam memenuhi aktivitas
sehari-hari berupa makan, mandi, merawat diri, berpakaian, buang air besar,
buang air kecil, menggunakan toilet, berpindah, mobilitas dan menggunakan
tangga.

Petunjuk Penggunaan :
1. Instrumen ini diisi oleh peneliti berdasarkan hasil wawancara dengan
responden.
2. Barthel Index digunakan untuk melaporkan apa yang pasien lakukan, bukan
melaporkan apa yang pasien mampu lakukan.
3. Tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi tingkat kebutuhan pasien akan
bantuan dalam beraktivitas, baik berupa bantuan fisik maupun verbal, sekecil
apapun itu.
4. Jika dalam melakukan pasien masih membutuhkan pengawasan, berarti pasien
belum mandiri.
5. Kemampuan pasien ditentukan berdasarkan bukti yang ada. Menanyakan
kepada pasien, teman/keluarga, dan perawat dapat memberikan informasi,
tetapi observasi langsung juga penting. Meskipun pemeriksaan langsung tidak
dibutuhkan.
6. Pengamatan sebenarnya cukup dilakukan selama 24-48 jam, akan tetapi
kadang-kadang periode waktu yang lebih lama akan lebih relevan.
7. Skala menengah berarti pasien mampu melakukan 50% atau lebih dari aktivitas.
8. Pasien dianggap mandiri jika mampu melakukan sendiri meskipun
menggunakan alat bantu.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Aktivitas Skor
Makan
0 = Tidak dapat makan
5 = Memerlukan bantuan, seperti memotong makanan, mengoleskan mentega,
atau memerlukan diet khusus
10 = Mandiri
Mandi
0 = Tidak mampu mandiri
5 = Mandiri
Merawat diri
0 = Memerlukan bantuan dalam perawatan diri
5 = Mandiri untuk gosok gigi, membasuh wajah, menyisir rambut dan bercukur
Berpakaian
0 = Tidak mampu mandiri
5 = Butuh bantuan tapi dapat melakukan sebagian
10 = Mandiri (mampu mengancing baju, menutup resliting, merapikan pakaian)
Buang air besar
0 = Tidak dapat mengontrol (butuh enema)
5 = Kadang-kadang mengalami kesulitan
10 = Dapat mengontrol buang air besar
Buang air kecil
0 = Tidak dapat mengontrol, dikateter dan tidak bisa mengurus sendiri
5 = Kadang-kadang mengalami kesulitan
10 = Dapat mengontrol buang air kecil
Penggunaan toilet
0 = Tidak mampu mandiri
5 = Butuh beberapa bantuan, tapi tidak tergantung penuh
10 = Mandiri
Berpindah (dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya)
0 = Tidak mampu, tidak dapat duduk seimbang
5 = Butuh banyak bantuan (1 atau 2 orang) untuk bisa duduk
10 = Butuh bantuan minimal (hanya diarahkan)
15 = Mandiri
Mobilitas (berjalan pada permukaan yang rata)
0 = Tidak mampu atau berjalan < 50 meter
5 = Mandiri dengan kursi roda
10 = Berjalan > 50 meter dengan bantuan 1 orang
15 = Mandiri (tapi menggunakan alat bantu seperti tongkat)
Menggunakan tangga
0 = Tidak dapat menggunakan tangga
5 = Butuh bantuan (verbal, fisik, menggunakan alat bantu)
10 = Mandiri
TOTAL 0 – 100

Sumber : Loretz (2005)

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Kode Responden

INSTRUMEN DUKUNGAN KELUARGA

Petunjuk Pengisian :
1. Bacalah setiap pertanyaan di bawah ini dengan seksama sebelum
bapak/ibu/saudara menentukan jawaban .
2. Berilah tanda ceklist (V) pada kolom yang sesuai dengan pilihan atau kondisi
sesungguhnya yang bapak /ibu saudara/ketahui atau alami.
3. Tidak ada jawaban yang benar atau salah.

No Pertanyaan Tidak Jarang Sering Setiap saat


pernah
Dimensi Informasi
1. Keluarga memberikan informasi yang pasien
yang dibutuhkan terkait dengan masalah stroke
dan perawatannya
2. Keluarga mengingatkan pasien pentingnya
meminum obat secara teratur
3. Keluarga memberikan informasi kepada pasien
tentang penggunaan alat bantu bila pasien
kesulitan berkomunikasi
Dimensi Instrumental
4. Keluarga membantu ketika pasien cemas
dengan gangguan bicara
5. Keluarga menggunakan kata – kata sederhana
dan kalimat pendek ketika bicara dengan pasien
6. Keluarga mengajak pasien bercakap – cakap
seperti menanyakan apa yang dimakan pasien
pada sarapan pagi, bagaimana tidurnya
7. Keluarga memberikan waktu pada pasien untuk
menjawab pertanyaan atau memahami informasi
8. Keluarga membantu pasien membiayai
pengobatan akibat stroke dengan gangguan
bicaranya
Dimensi Emosional
9. Keluarga menjaga dan merawat pasien dengan
penuh kasih sayang
10. Keluarga memberikan semangat ketika pasien
merasa frustasi dengan gangguan bicara dan
keterbatasannya
11. Keluarga menghentikan pembicaraan pasien
apabila pasien mengalami kesulitan atau
menyelesaikan percakapannya

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Dimensi Penghargaan
12. Keluarga mengikutsertakan pasien dalam setiap
musyawarah keluarga
13. Keluarga menerima pasien apa adanya dengan
segala keterbatasannya
14. Keluarga mengkoreksi langsung kesalahan
bicara pasien ketika pasien sedang berbicara
15. Keluarga mendengarkan dengan penuh perhatian
jika pasien berusaha berbicara

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


KISI – KISI KUISIONER
DUKUNGAN KELUARGA DALAM PEMBERIAN KOMUNIKASI DENGAN
AUGMENTATIVE AND ALTERNATIVE COMMUNICATION

Variabel Penelitian Dimensi Jumlah pertanyaan


Dukungan keluarga
Informasi 3 pernyataan
Instrumental 5 pernyataan
Dukungan Keluarga Emosional 3 pernyataan
Penghargaan 4 pernyataan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBERIAN KOMUNIKASI DENGAN
AUGMENTATIVE AND ALTERNATIVE COMMUNICATION
No :
No. RM :
Nama pasien :
Jenis Kelamin :
Diagnosa :
Tanggal Mulai Pelaksanan :

No Dilakukan pada hari ke -


Kegiatan Orientasi
Tugas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Sebelum pelaksanaan, lakukan pengkajian terhadap : TTV, kesadaran
pasien, fungsi pendengaran dan penglihatan, pasien buta huruf atau tidak
untuk memberikan alternatif komunikasi. Anjurkan pasien menggunakan
alat bantu dengar, gigi palsu dan kaca mata selama proses pelaksanaan
2. Pastikan lingkungan sekitar pasien kondusif, seperti menghindari
kebisingan dengan membawa pasien ke ruangan khusus, untuk
memudahkan pasien berkonsentrasi.
3. Perawat dapat melibatkan keluarga untuk mendampingi pasien dan
membantu dalam berkomunikasi dengan pasien afasia.
4. Perawat duduk berhadapan dengan pasien/di samping tempat tidur dan
pertahankan kontak mata
5. Perawat memperkenalkan diri dan jelaskan kepada pasien/ keluarga
maksud dan tujuan dilakukan latihan berkomunikasi dengan suara yang

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


jelas dan dipahami oleh pasien
6. Hindarkan berbicara dengan suara yang keras/berteriak pada saat
berkomunikasi dengan pasien afasia karena dapat membuat pasien merasa
lebih frustasi dengan keterbatasannya
7. Instruksikan pasien bagaimana menggunakan alat komunikasi tersebut
8. Hari I : Pengenalan
Pertemuan 1 : Menyebutkan
h) Peneliti menjelaskan tujuan dan manfaat dilakukan AAC. gambar
i) Peneliti memperkenalkan penggunaan gambar untuk memfasilitasi
komunikasi pasien afasia kepada pasien dan keluarga.
j) Peneliti mengajarkan gambar – gambar yang ada dibuku
komunikasi.

Mengajarkan setiap simbol/ gambar yang ada pada buku komunikasi


kepada pasien dan keluarga. Bantu pasien untuk menunjukkan setiap
bagian/ label, misalnya menunjukkan pasien merasa tidak nyaman.
Berikan waktu pada pasien untuk memahami informasi yang
diberikan. Jika pasien tidak mampu mengidentifikasi simbol –
simbol gambar tersebut, ganti simbol gambar menjadi yang lebih
familiar, jelaskan hubungan antara simbol dengan artinya dalam
bentuk kalimat dan instruksikan pasien untuk mengulangnya dalam
bentuk simbol lain. Misalnya simbol piring + sendok yang
mengidentifikasi saya ingin makan. Bila pasien tidak dapat
mengidentifikasi, peneliti dapat membantu dengan menunjukkan
gambar, kemudian peneliti menanyakan gambar apakah ini? Berikan
stimulus lain, seperti saya mau sikat gigi perintahkan pasien untuk
menunjukkan pada gambar “sikat gigi” sebagai simbol ingin sikat

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


gigi.

k) Keluarga mendemonstrasikan seperti yang dicontohkan oleh peneliti


l) Peneliti memberikan masukan terkait dengan demonstrasi yang
dilakukan oleh keluarga
m) Keluarga mempraktekkan langsung gambar – gambar kepada pasien.
n) Mencatat adanya kemampuan penggunaan gambar, kesulitan dalam
penamaan objek (anomia) atau ketidakmampuan untuk memberi
nama suatu objek, jumlah kata yang diucapkan
Pertemuan 2 :
c) Evaluasi kemampuan pasien dalam penggunaan gambar dengan
meminta pasien menunjukkan buku komunikasi yang berisi gambar
dan anjurkan pasien untuk mengucapkan kata- kata dalam suara
keras sehingga dapat melatih diotot – otot wicara dan vokalisasi.
Minta klien untuk menyebutkan nama – nama benda yang
ditunjukkan oleh pasien dan jelaskan nama objek tersebut. Bila
pasien tidak mampu menyebutkan kata tersebut, bantu pasien
menyebutkan suku pertama kata tersebut atau dengan menggunakan
kalimat penuntun. Misalnya : pensil. Kita dapat membantu dengan
suku kata pen… Atau dengan kalimat : “kita menulis dengan…”.
Instruksikan pasien untuk mengulang kata – kata tersebut. Jika
memungkinkan gunakan ekspresi wajah, gerakan tubuh dan irama
suara sehingga pasien dapat memahami pembicaraan.
d) Keluarga dianjurkan untuk selalu terlibat dalam aktivitas komunikasi
pada hal - hal rutin dilakukan pasien, misalnya pada saat pasien mau
mandi, sikat gigi atau makan, dengan menanyakan hal – hal yang
berhubungan dengan aktivitas tersebut.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


. Pertemuan 3 :
c) Peneliti bercakap cakap kepada pasien tentang pekerjaan/ keluarga
pasien. Catat irama bicara, berhenti atau kalimat monoton, produksi
suara.
d) Peneliti meminta pasien menunjukkan objek disekitar ruangan, seperti
jendela, pintu, lampu, meja, kursi yang disebutkan oleh peneliti.
9. Hari II : Mengeja
Pertemuan 1 : Pengulangan
c) Peneliti memperkenalkan penggunaan papan alfabet kepada pasien Membaca
dan keluarga.
d) Peneliti mengajarkan penggunaan papan alfabet. Peneliti melakukan
pengkajian terhadap abjad ABC dan vokal yang diucapkan, sebelum
menggunakan papan alfabet. Instruksikan kepada pasien untuk
mengeja abjad ABC dan bantu pasien untuk mengulang kembali
mengeja abjad tersebut dengan suara yang keras.
e) Keluarga mendemonstrasikan seperti yang dicontohkan oleh peneliti
f) Peneliti memberikan masukan terkait dengan demonstrasi yang
dilakukan oleh keluarga
g) Keluarga mempraktekkan langsung terhadap kepada pasien.
h) Mencatat adanya kemampuan penggunaan papan alfabet, kesulitan
dalam menyebutkan huruf dan jumlah huruf yang diucapkan.
Pertemuan 2 :
c) Peneliti mengevaluasi penggunaan papan alfabet kepada pasien
dengan meminta pasien untuk menunjukkan huruf dan meminta
menyebutkannya secara berulang – ulang.
d) Peneliti meminta pasien untuk menyebutkan huruf pertama dari
suatu benda yang ada didekat pasien, misalnya piring, gelas

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


(menyebutkan huruf “p”, “g”).
Pertemuan 3 :
d) Instruksikan pasien untuk membaca kartu, kalimat/paragraf yang
pendek di koran dan kemudian anjurkan klien untuk membaca
kembali apa yang dibaca klien dengan suara yang keras.
e) Peneliti meminta pasien untuk mengeja huruf yang ada dibuku
komunikasi/ koran/majalah.
f) Peneliti dapat meminta keluarga mendengarkan lagu – lagu yang
disukai pasien.
10. Hari III : Menunjukkan
Pertemuan 1 : Menyebutkan
c) Pasien diminta untuk menunjukkan gambar pada buku komunikasi
yang disebutkan oleh keluarga dan meminta untuk menyebutkan
gambar yang ditunjuk.
d) Keluarga diminta untuk terlibat dalam aktivitas komunikasi pada hal -
hal rutin dilakukan pasien, misalnya pada saat pasien mau mandi,
sikat gigi atau makan.
e) Peneliti dapat menanyakan benda – benda yang ada disekitar pasien,
seperti tunjukkan lampu, jendela, pintu, meja dan memerintahkan
untuk mengulangi kata – kata tersebut.
Pertemuan 2 :
d) Peneliti mengevaluasi penggunaan papan alfabet kepada pasien
dengan meminta pasien untuk menunjukkan huruf dan meminta
menyebutkannya secara berulang – ulang.
e) Peneliti meminta pasien untuk menyebutkan huruf pertama dari suatu
benda yang ada didekat pasien, misalnya meja, pintu (menyebutkan
huruf “m”, “p”).

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


f) Menunjukkan foto – foto anggota keluarga pasien, kemudian pasien
diminta menunjukkan dan menyebutkan nama anggota keluarganya,
mengulanginya kembali.
Pertemuan 3 :
c) Meminta pasien menceritakan mengapa sampai dirawat di rumah
sakit, atau minta pasien menceritakan mengenai pekerjaannya atau
hobinya. Jangan memutuskan pembicaraan pasien, apabila pasien
mengalami kesulitan atau menyelesaikan percakapannya.
d) Meminta keluarga mendengarkan musik/ lagu kesenangan pasien
(mengingatkan memori pasien tentang kata – kata dalam lagu dan
mendorong pasien untuk menyenandungkan lagu tersebut).
11. Hari IV : Mengekspresikan
Pertemuan 1 : Mengeja
d) Pasien diinformasikan dan dibantu menggunakan alat tulis untuk Menulis
menyatakan keinginannya. Instruksikan pasien untuk menulis setiap
keinginannya dikertas atau secara spontan apa yang difikirkan dalam
bentuk kalimat, seperti nama dan alamatnya, nama anak/keluarga,
mau makan, minum. Jika klien tidak bisa bantu pasien dengan
memberikan tuntunan, seperti tulislah kalimat yang berhubungan
dengan makan pagi hari ini.
e) Katakan pada pasien untuk membaca tulisan yang ditulisnya dan
perintahkan untuk mengulang kembali apa yang dibacanya.
Instruksikan juga kepada pasien untuk mengeja kata atau bagian yang
ditulisnya.
f) Mencatat kesalahan pengejaan, tidak dapat membaca,
ketidakmampuan menulis atau menulis tidak sesuai.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Pertemuan 2 :
d) Mengajak pasien bercakap – cakap, misalnya melalui pengalaman
pasien yang ada dibuku komunikasi, seperti acara televisi, apa yang
dimakan pasien pada sarapan pagi, bacaan di koran, dll.
e) Tunjukkan benda – benda yang mudah dikenal, seperti pulpen, kunci
atau jam dan tanyakan nama benda tersebut. Catat adanya kesulitan
dalam penamaan objek (anomia).
f) Keluarga dianjurkan untuk selalu terlibat dalam aktivitas komunikasi
pada hal - hal rutin dilakukan pasien, misalnya pada saat pasien mau
minum obat, buang air besar atau pada saat akan istirahat, dengan
menanyakan hal – hal yang berhubungan dengan aktivitas tersebut.
Pertemuan 3 :
a) Keluarga dapat memberikan komunikasi dengan AAC pada
tugas – tugas mengungkapkan, penamaan, pengulangan,
membaca, mengeja dan menulis yang berhubungan dengan
kegiatan sehari – hari, menunjukkan gambar yang ada dibuku
komunikasi atau yang ada disekitar pasien, keluarga/ hobi.
Mencatat perkembangan komunikasi setiap hari.
Hari V Menunjukkan
Pertemuan 1 : Menyebutkan
d) Pasien diminta untuk menunjukkan gambar pada buku komunikasi gambar
yang disebutkan oleh keluarga dan meminta untuk menyebutkan
gambar yang ditunjuk.
e) Keluarga diminta untuk terlibat dalam aktivitas komunikasi pada hal
- hal rutin dilakukan pasien, misalnya pada saat pasien mau mandi,
sikat gigi atau makan.
f) Peneliti dapat menanyakan benda – benda yang ada disekitar pasien,
seperti tunjukkan lampu, jendela, pintu, meja dan memerintahkan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


untuk mengulangi kata – kata tersebut.
Pertemuan 2 :
d) Peneliti mengevaluasi penggunaan papan alfabet kepada pasien
dengan meminta pasien untuk menunjukkan huruf dan meminta
menyebutkannya secara berulang – ulang.
e) Peneliti meminta pasien untuk menyebutkan huruf pertama dari
suatu benda yang ada didekat pasien, misalnya meja, pintu
(menyebutkan huruf “m”, “p”).
f) Menunjukkan foto – foto anggota keluarga pasien, kemudian pasien
diminta menunjukkan dan menyebutkan nama anggota keluarganya,
mengulanginya kembali kata yang diucapkannya.

Pertemuan 3 :
c) Mengajak pasien bercakap – cakap, misalnya melalui pengalaman
pasien yang ada dibuku komunikasi, seperti acara televisi, apa yang
dimakan pasien pada sarapan pagi, bacaan di koran, dll. Tunjukkan
benda – benda yang mudah dikenal, seperti pulpen, kunci atau jam
dan tanyakan nama pasien.
12. Hari VI Menyebutkan
Pertemuan 1 : Mengeja
c) Pasien diinformasikan menggunakan alat tulis untuk menyatakan Menulis
keinginannya. Instruksikan pasien untuk menulis setiap
keinginannya dikertas atau secara spontan apa yang difikirkan dalam
bentuk kalimat, seperti pasien mau minum. Jika pasien tidak bisa
bantu pasien dengan memberikan tuntunan, seperti tulislah kalimat
yang berhubungan dengan makan pagi hari ini.
d) Katakan pada pasien untuk membaca tulisan yang ditulisnya dan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


perintahkan untuk mengulang kembali apa yang dibacanya.
Instruksikan juga kepada pasien untuk mengeja kata atau bagian
yang ditulisnya.
Pertemuan 2 :
c) Meminta pasien untuk menceritakan tentang team olahraga
favoritnya, acara favorit ditelevisi, pekerjaannya.
Minta pasien untuk mengeja kata, huruf pertama, minta pasien untuk
menuliskannya dikertas.
Pertemuan 3 :
c) Meminta klien menunjukkan pada buku komunikasi dan
menggunakan isyarat Bagaimana anda mengatakan “ saya
memerlukan sepatu”, “saya lapar dan ingin makan”, “saya capek ,
saya ingin tidur”, “diluar gelap, tolong hidupkan lampu”.
Minta pasien untuk menunjukkan benda disekitar pasien, seperti
lemari, meja, roti, sandal, obat. Kemudian minta pasien untuk
menyebutkan benda yang ditunjukkan tersebut dan mengulangnya
kembali.
13. Hari VII Menunjukkan
Pertemuan 1 : Pengulangan
c) Meminta keluarga mendengarkan musik/ lagu kesenangan pasien Mengeja
dan mendorong pasien untuk menyenandungkan lagu tersebut.
d) Meminta klien untuk menunjukkan benda – benda yang ada disekitar
pasien, seperti “tutup pintu”, ‘sisir’, gelas, sendok, selimut, bantal,
guling.
Pertemuan 2 :
c) Minta pasien untuk mencari dibuku komunikasi dan menunjukkan
kata/kalimat yang disebutkan peneliti, seperti : buah, kitab, gatal,

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


cuaca, sabun, shampoo.
d) Minta pasien untuk mengulang apa yang ditunjukkannya dengan
menyebutkan suku pertama, sebagian kata
Pertemuan 3 :
c) Meminta pasien untuk menyebutkan nama hewan, nama teman -
temannya, nama perawat/istri yang merawatnya
d) Minta pasien untuk mengulangnya, mengeja huruf pertama
14. Hari VIII Menyebutkan
Pertemuan 1 : Membaca
c) Menunjukkan majalah kepada pasien. Minta pasien untuk membaca Menulis
tulisan yang terdapat di majalah tersebut
d) Minta pasien untuk menulis dikertas tulisan yang dibacanya, minta
pasien mengejanya
Pertemuan 2 :
Minta pasien untuk mencari kata yang diucapkan oleh peneliti, kemudian
mencari kata tersebut dalam buku komunikasi tersebut, seperti “saya
mau menelepon”, saya mau wudhu, cuaca diluar dingin, saya mau buang
air kecil, buang air besar, saya memerlukan kacamata, saya ingin duduk
bersandar, saya ingin miring ke kanan.
Pertemuan 3 :
a) Minta pasien untuk menunjukkan benda disekitar pasien, seperti
lemari, meja, roti, sandal, obat. Kemudian minta pasien untuk
menyebutkan benda yang ditunjukkan tersebut dan mengulangnya
kembali.
b) Kemudian minta pasien untuk menuliskannya di kertas atau papan
yang disediakan.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


15. Hari IX Menunjukkan
Pertemuan 1 : Pengulangan
a) Meminta pasien untuk menunjuk nama anggota keluarganya yang ada Penamaan/menye
butkan
di hp atau foto, teman atau orang disekitarnya sesuai yang disebutkan
Membaca
oleh peneliti, pasien diminta meniru ucapan dan memberi namanya Menulis
b) Kemudian minta pasien untuk menuliskannya di kertas atau
papan yang disediakan.
Pertemuan 2 :
b) Bercakap – cakap dengan pasien dalam melakukan kegiatan sehari –
hari, seperti mandi, mengenakan pakaian. Keluarga/peneliti dapat
bercerita tentang tempat tinggal atau hobi. Kita dapat menanyakan
kepada pasien tentang keluarganya atau bidang minatnya.
Pertemuan 3 :
b) Membacakan sesuatu (dari koran, misalnya), atau bersama – sama
mendengarkan lagu yang disukai pasien. Minta pasien untuk
menyebutkan yang disebutkan peneliti dan mengulangnya kembali.
16. Hari X Isyarat
Pertemuan 1 : Meniru
c) Tunjukkan buku komunikasi dan minta pasien untuk menyebutkan Pengulangan
gambar – gambar yang ada dibuku komunikasi, seperti kebutuhan
makan, minum, istirahat dan tidur.
d) Minta pasien menyebutkan benda – benda yang ada disekitar pasien,
seperti bantal, selimut, lemari.
Pertemuan 2 :
a) Dengarkan sebuah lagu yang disenangi pasien, kemudian pasien
diajarkan untuk mengambil lagu – lagu tersebut, kemudian diajarkan
menyanyikan kalimat – kalimat pada melodi, kemudian pasien
diminta meniru menyanyi.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Pertemuan 3 :
b) Minta pasien menyebutkan nama perawat/istri/anak yang merawatnya
dan mengulang apa yang disebutkannya
17. Berikan pujian atas setiap keberhasilan yang dilakukan, bila pasien
belum menunjukkan kemajuan, berikan motivasi kepada pasien dan
keluarga untuk tetap melanjutkan latihan.
18. Catat setiap simbol – simbol yang diucapkan untuk menilai kemajuan
pasien dan jelaskan kepada pasien setiap perubahan yang dihasilkan
pasien.
19. Jika terlihat pasien merasa tidak mood atau kelelahan, latihan dapat
dihentikan sementara dan perawat dapat kontrak waktu kembali kepada
pasien dan keluarga untuk melanjutkan latihan.

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


CHECKLIST PEMBERIAN KOMUNIKASI DENGAN
AUGMENTATIVE AND ALTERNATIVE COMMUNICATION

Nama : .............................................................................

Tanggal mulai latihan : ............................................................................


Tanggal selesai latihan : ..............................................................................

Waktu H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10
Pagi
Siang
Sore

Peneliti,

(..............................................)

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Kode responden

FORMAT OBSERVASI PELAKSANAAN PEMBERIAN KOMUNIKASI DENGAN


AUGMENTATIVE AND ALTERNATIVE COMMUNICATION OLEH KELUARGA

Petunjuk Pengisian :
1. Mohon kesedian Bapak/Ibu/Saudara untuk mengisi lembar observasi pelaksanaan pemberian komunikasi sesuai pedoman observasi
2. Berikan tandatangan dan tanggal setiap kegiatan pemberian komunikasi dengan pasien pada kolom yang disediakan
3. Tulislah setiap perkembangan yang didapatkan pasien dalam setiap pelaksanaan komunikasi.

Dilakukan pada hari ke -


No Kegiatan Keluarga Orientasi Tugas
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Membantu memfasilitasi gambar yang ada dibuku komunikasi Menunjukkan
Menyebutkan
2. Berbicara/ Bercakap – cakap dengan pasien berhubungan dengan Menunjukkan
kegiatan sehari – hari : Menyebutkan
a. Makan Pengulangan
b. Piring Membaca
c. Minum Mengeja
d. Gelas Menulis
e. Sendok
f. Garpu
g. Sabun
h. Mandi
i. Handuk

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


j. Sikat gigi
k. shampo
l. Celana
m. Baju
n. Sisir
o. Pispot
p. Toilet
q. Tidur
r. Miring kanan/kiri
s. Bantal
t. Duduk
u. Selimut
v Buku
w. Pena
x. Lain – lain, Sebutkan dan tuliskan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012
Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012
Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012
Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012
Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012
Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012
Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKU LTAS ILM U KEPERAWATAN
Kampus Ul Depok Telp. (021)7884912A,78849121 Faks. 7864124
Email : humasfik.ui.edu Web Site :www.fikui.ac.id

KETERANGAN LOLOS KAJI ETIK

Komite Etik Penelitian, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dalam upaya
melindungi hak azasi dan kesejahteraan subyek penelitian keperawatan, telah mengkaji
dengan teliti proposal berjudul :

Pengaruh Pemberian Komunikasi dengan Augmentotive and Alternative Communication


terhadap Kemampuan Fungsional Komunikasi dan Depresi pada Pasien Stroke
Iskemik dengan Afasia Motorik di RSUD Kota Tasikmalaya dan Banjar.

Nama peneliti utama : AMILA

Nama institusi : Fakultas llmu Keperawatan Universitas lndonesia

Dan telah menyetujui proposal tersebut.

Jakarta, 15 Nopember 2071

Dekan, Ketua,

Dewilrawaty, MA, PhD

NlP. 195206 ot tg741,t 2 007


ffi*Yeni Rustina, PHD

NtP. 19550207 198003 2 00i

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


UNIVERSITAS INDONESIA
FAKU LTAS ILMU KEPERAWATAN
Kampus Ul Depok Telp. (021)7SS49120,78849121 Faks. 7864124
'Email : humasfik.ui.edu Web Site : rrvlrnru.fikui'ac'id

' zgry ttz.F1 2.D/PDP.o4.oo/201 1 2 November 2011


Nomor
Lampiran :--
Perihal : Permohonan ljin Penelitian

Yth. Direktur
RSUD Kota TasikmalaYa
Jawa Barat

Pendidikan
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Tesis mahasiswa Program (FlK-Ul) dengan
Magister Fakultas llrnu Keperawatan Universitas lndonesia
Peririnatan Keperawatan I'"4edikal Bedah atas nama:

Sdri. Amila
c906505086

akan mengadakan penelitian dengan judul "Pengaruh


Pemberian Komunikasi
dengan .Augmentative and Altern"tiu. Communication
terhadap Depresi
pada pasien str;k; dengan Afasia Motorik di RsuD Kota Tasikmalaya dan
Kota Baniar".
dengan hormat
sehubungan dengan hal tersebut, bersama ini kami mohon
kesediaan SaudJra mengijinkan yang bersangkutan untuk mengadakan
penelitian di RSUD kota Tasikmalaya'
terima kasih
Atas perhatian Saudara dan kerjasama yang baik, disampaikan

-rl AS

C'I$
z
*
, PhD
19520601 1 97411 2 001
Tembusan Yth. :
1. Wakil Dekan FIK-UI
2. Sekretaris FIK-Ul
3. Kepala Bidang Diklat RSUD Kota Tasikmalaya
4. Kepala Ruangan Neurologi RSUD Kota Tasikmalaya
5. Manajer Pendidikan dan Riset FIK-Ul
6. Ketua Program Magister dan Spesialis FIK-Ul
7. Koordinator M.A.Tesis FIK-Ul
8. Pertinggal

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS ILM U KE PENEWATEru
Kampus ul D.epok rerp.. (021)TBB4}120, TBB4}121
Fgks. rg64124
Emair : humasfik.ui.eciu \.reb site ***ntui.ac.id
'
Nomor :30/rH2.F12.DtPDp.O4.0Ot2011 2 November 2011
Lampiran : --
Perihal : Permohonan ljin Penelitian
Y'th. Direktur
RSUD Kota Banjar
Jawa Barat

D-alam rangka pelaksanaan kegiatan Tesis mahasiswa program pendidikan


Magister Fakultas llmu Keperawatan Universitas lndonesia
Peminatan Kepei'awatan Medikal Bedah atas nama:
lflX-Uty dengan

Sdri. Amita
0906505086

akan mengadakan penblitian dengan juciul "Pengaruh Pemberian Komunikasi


denglt Augmentative and, Alternative Gommunication terhadap Depresi
pada Pasien Stroke dengan Afasia Motorik di RSUD Kota Tasikmalaya dan
Kota Banjar".

Sehubungan dengan hal tersebut, bersama ini kami rnohon dengan hormat
kesediadn Saudara mengijinkan yang bersangkutan untuk niengadakan
penelitian di RSUD kota Tasikmalaya. 1

Atas perhatian Saudara dan kerjasama yang baik, disampaikan terima kasih

lrawaty, A, PhD
tP 19520601 197411 2 001
Tembusan Yth :
1. Wakil Dekan FtK-Ul
2. Sekrbtaris FIK-UI
3. Kepala Bidang Diklat RSUD Kota Banjar
4 Kepala Ruangan Neurologi RSUD Kota Banjar
5. Manajer Pendidikan dan Riset FIK-Ul
6. Ketua Program Magister dan Spesialis FIK-Ul
7. Koordinator M.A.Tesis FIK-Ul
B. Pertinggal

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


UNIVERSITAS INDONES]A
FAKU LTAS I LM U KE PERAVI/ATAN
Kampus Ul Depok Telp. (021)78849120,78849121 Fgks. 7864124
Email : humasfik.ui.edu Web Site : www.fikui.ac.id

Nomor '. 4/ v/ tnz. F 1 2. D/PDP .04.00t201 1 25 November 2011


Lampiran :

Perihal : Permohonan ljin Penelitian

Yth. Direktur
RSUD. Kota Garut
Jawa Barat

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Tesis mahasiswa Program Pendidikan


Magister Flkultas llmu Keperawatan Universitas lndonesia (FIK-Ul) dengan
Peminatan Keperawatan Medikal Bedah atas nama:

Sdri. Amila
NPM 0906505086

akan mengadakan penelitian dengan judul "Pengaruh Pemberian Komunikasi


Dengan Augmentative and Alternative Communication terhadap
Kem-ampu"n Frngsional Komunikasi dan Depresi pada pasien Stroke
dengan Afasia Motorik"

Sehubungan dengan hal tersebut, bersama ini kami mohon dengan hormat
kesediadn Saudara mengijinkan yang bersangkutan untuk mengadakan
penelitian di RSUD. Kota Garut.

Atas perhatian Saudara dan kerjasama yang baik, disampaikan terima kasih

.-$A9 tNo^
C CIe-'%*ou*"2
1M'{\fu'x M.App,Sc. PhD,
"",,ffi*ffi1'Jili'l ff i ?! r'J:? 002
Tembusan Yth. :
1. Dekan (sebagai laporan)
2. Sekretaris FIK-ul
3. Kepala Diklit RSUD Kota Garut
4. Kepala Ruang Neurologi RSUD Kota Garut
5. Ketua Program Magister dan Spesialis FIK-Ul
6. Manajer Pendidikan dan Riset FIK-Ul
7, Koordinator M.A.Tesis FIK-Ul
8. Pertinggal

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


PEMERINTATI KOTA TASIKMALAYA
RU1UAH SAKIT T}MTIM DAERAH
Jln. Rilrmh salit No33 Tasilrmahp Telp.(0265) 331683, Far(0265)33 174?

Ncmor : 4}0lfiF-lRsltDnff20ll Tasikmalayq Novernber20ll


I^upiran :
Periht : Ilin Pqelitirn KepadaYth:
D*m Fakultas Ilmu Kepereirdan
Universitas Indonesia (FU(-UD
di
Depok

Menindaklmj*i stnat S&dara Nomor : 39l4lll2.Fl2.D/PDP.04.00/2011

tanggal2 November 2011 perihal Permohonan ljin Penelitian Mahasisura Progfm


p€didikan Ldagist€r Fakultas Ilmu trkperawatan Unive'rcias Indonesia (Fil(-ttD
Peminafan Kopraurahn Mdikal Bdalt &ngan id kami mcngifinken kepada :

Nama : AMILA
NIM : 0fr)6505086
ndul : "Pengutfit Pemberian Komnikasi dengan
Augme*aive and Alternative Cowttwtlcdion
terM,ry Depresi pada Pasien Stroke dengan Af6b
Motarik di i4SUD Koto Tasilonalaya dm Kota
Bqtjai"

Untuk mel*ukan peirelitian di RSUD Kob Tasikmalaya, sepqiang tidak


m€nggsnggupelapnan.
Oe,milim, atas peftdim dm keriasma 1169 baik kami ucapkm tedma
l<asih.

ffi#r*
\!/
&riK{i $iilt {t}{iJH 0A[Ri]i
ffi"s.af.m

129 l98l t2 I 002

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


PEMERINTAH KOTA fi*T.{.IAR
RUMAH SAKIT UMUM BANJAR
Jl. Rumah sakit No. 5 Telp.(0265) 74r032Eax,744730 Banjar 46322

I-ampiran :
Perihal : ljin Penelitian

Kepada Yth,
Ketua Dekan X'akultas Ilmu Kepcrawatan
Universitas Indonesia

Di
Tempat

iVierrindaklarjuli surat saudara Nogror. 39lsllf2.F.l2,DlpDp.04.00/201 1


tanggal 2 November 2011, perihal Pennohonan Ijin penelitian mahasiswa
Fakultas Iknu Keperawatan universitas Indonesia, yang akan dilaksanakan
oleh:

Nama AMILA
NIM 0906s0s086
Jurusan S-2 Keperawatan Peminatan Medikal Bedah
Instittrsi { Jn i versitas Indonesia Faku lta"s Il mu Keperawatan
Judul "PFNGARUH PEMBERIAN KOMI]NIKASI DENGAN
AAGMENTATTW AND ALTERNATIVE
COT,ThTI,TUNICATION TERIIADAP DEPNESI PADA
PASIEN STROKE DENGAN AFASIA MOTOMK DI
RAMAE SAKIT T]MAM DAERAE KOTA
TASIKMALa|YA DAIY RUtuIAH SAKIT {JMAMI
DAERAH KOTA BANJAR'
Tanggal 11 November s.d 11 Desember 2011

Pada prinsipnya kauri tidak keberatan sepanjang mengikuti peraturan yang


berlaku di Rumah Sakit Umunn Daerah Kota Banjar.

Demikian agar maklurn untuk menjadi bahan pertimbangan lebih lanjut, atas
perhafi an dan keg asamanya kami men gucapkan terima kasih.

C9
s.
G
3#ffm
Nip. 1966 0201 198s12 I 001

Tembusarr:
1. Wadir Pelayanan
2. Ka Bag Sekertariat
3. Instalasi Rawat Inap
4. CM
5. PPL
Opfr.
l(Eqi
Itrl@
:lm
:b1
: 2ll
o!ffi
RMgDotda
Bog@il,c
:m
ims
i 212
K.patmirE
BdrtFvir.
i
fvlrnrRbs :
:
20I
205
213
ffi
Wrdir Ut@ :
D.ilL t
b7
,ta
ApdA
K.a*G3ifE
r 20:t
i 206
I( Fred :41
Edrnm i ,.@
OtGtls. Jb
Di..&r
i
:
tt' -
210
Antrrlf : 2lt gedhlin : 219 rcu :rn B.d$Sdnl: 2t
SuFdid i 215 M4tl : 216 WiislSoh : 2fi
lP6S rU Kns tZX H rm Tlnp :
| 2Il : 2:B l{h T&ggr i zu
n diologi | 732 LstEai@ : Zt3 IPAL | 2!1 Kofdrd
2lE thdtoF i tlg Tlddf :80 &ddll 23t
o, : l,O m. : l4l | ,g; ffi 1 tt1 Foluiot i 23t IMT
IGD iUz .{d6i.rloD : ts Lafr i74 K Mad IN
: E9

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


PEMERINTAH KAB{IPATEN GARUT
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dT' SLAMET
Alamat : Jl. Rumah Sakit No. 1 2 Telp. ( 0262 ) 73272A Garut 44 1 5 I
Rekening : Bank Jabar Carul Kelas : B Non Pendidikan, Statu$ : Unit Swadana

Garut,2 Desember 2011


Nomor : 80Akz4i RSU/)CV2011
Lampiran : 1 (satu)lembar Kepada:
Perihal : Iztn Penelltian Yth. Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
UNTVERSTTAS TNDONESIA
di
TemPat

Menindak lanjuti surat dari Kepala Kesbang, Politik dan Perlindungan


Masyarakax Kab. Garut tanggal 29 November 2011 nomor : 072/503-Kesbangpol'
Linmas/20llperihal : Rekomendasi Researcl/Survey, pada prinsipnye karni tidak
keberatan dan mengizinkan mahasiswa saudar&, atas :

Nama : Amila
NPM : $06505086

Untuk melaksanakan Penelitian di RSU Dr. Slamet Garut dengan


catatan harus mentaati segala peraturan dan ketentuan yang berlaku, izin ini berlaku

sesuai dengan permintaan yaitu dari tanggal 29 November s/d29 Desember 2011.

Demikian agar menjadi maklum dan atas kepercayaan dan perhatiannya


kami ucapkan terima kasih.

.1962CI7t2t987031009

Tembusan Disampaikan Kepada yth :

1. Direktur RSU dr. Slamet Garut ( Sebegai laporan )


2. Wadir Pelayanan
3. WadirKeuangan
4. Ka. Bidang Keperawatan

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012


r
PEMERINTAH KABUFATEN GARUT
l(A[lT0R ffi$ATUN BAlt0$A poilTtK DN pERLtMtJil0Al-| iIAgyARAtfil
Jalan Patriot No. 10 A Telp. (0262) 22469116 Garut 44151

Nomor :072 I 5A3- Kesbangrollinmas /ZAn


Menindak lanjuti surat dari PLH Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas IndonesiaNomor
: 4146ft12.F12.D/PDP.04.0012011 Tanggal 25 November 2011 Perihal Permohonan Izin Penelitian
dengan ini karni memberikan Rekomendasi untuk melaksanakan Kegiatan tersebut dalam rangka
memenuhi pe$yaratan pembuatan Tesis dengan Judul :

..
PENGARUH PEMBERIAN KOMI]NIKASI DENGAN AUGMENTATIVS AND
ALTtrRNATTVE COMMTIMCATION TERHADAP KEMAMPUAN FI'NGSIONAL
KOMUNIKASI DAN DEPRESI PADA PASIEN STROKE DENGAN AFASIA MOTORIK
'
Dengan mengambil Lokasi di : RSUD Kabupaten Garut
Waktu dari tanggal : 29 November s/d 29 Desember 20l l

Kepada nama sebagaimana tersebut di bawah ini

No Nama NPM Keterangan

I AMILA 090650s086 Mahasiswi Universitas Indonesia


Fakultas Ilmu Keperawatan

Pada prinsipnya kami tidak keberatan yang bersangkutan tersebut di atas untuk melaksanakan
Kegiatan
tersebut dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

1. Mentaati segala ketentuan yang berlaku;


2. Menghormati ketentuan Dinas / Badan i
/ Lembaga Kantor yang bersangkutan serta adat
istiadat masyarakat setempat;
3 Turut menjaga jangan sampai menimbulkan kerawanan di kalangan masyarakat;
4. Melaporkan lebih.dulu
lcepada
pejabat setempat untuk mendapatkan petunjuk pengamanannya;
5. Mengirimkan hasil kegiatan penelitaian, rangkap I (satu) tepaoa t<ami.

Surat Rekomendasi ini dianggap batal apabila tidak rnentaati ketentuan tersebut di atas.

Garut, 29 November 20tl


Kesbangpol dan Linmas

i--
Tembusan, disampaikan kepada yth :
1. KepalaBAPPEDA Kabupaten Garut;
2. Kepaia Dinas Kesehatan Kabupaten Garut;
3. Dekan Fakultas Ilnu Keperawatan Universitas Indonesia
4, KepalaRSUD Kabupaten Garut:Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Amila
Tempat/Tanggal Lahir : NAD, 21 Januari 1976
Alamat Rumah : Perum BKP BKP Blok P No. 53 RT/RW 004/004
Kelurahan Kemiling Permai Kecamatan Kemiling
Bandarlampung 35153
Alamat Kantor : Universitas Malahayati
Jl.Pramuka No. 27 Kemiling Bandarlampung
Email : mila_difa@yahoo.co.id
Riwayat Pendidikan : 1. S2 Keperawatan Medikal Bedah FIK-UI Jakarta,
angkatan 2009
2. S1 Keperawatan FIK-UNPAD, lulus tahun 2000
3. DIII Keperawatan Poltekkes NAD, lulus tahun 1997
4. Akta Mengajar III UT Bandung, lulus tahun 2001
5. SMA YKPP Pertamina Rantau (NAD), lulus tahun
1994
6. SMP Negeri Rantau (NAD), lulus tahun 1991
7. SD YKPP Pertamina Rantau (NAD), lulus tahun
1988
Riwayat Pekerjaan : 1. RSU Zaenal Abidin (NAD) tahun 1997 – 1998
2. Akper Bhakti Kencana Bandung, tahun 2001-2003
3. Universitas Malahayati, tahun 2003- 2010

Pengaruh pemberian..., Amila, FIK UI, 2012