Anda di halaman 1dari 8

PROPOSAL TERAPI KELUARGA (HOME VISIT)

PADA NY.S DENGAN MASALAH RISIKO PERILAKU KEKERASAN


DI TAMANTIRTO KASIHAN BANTUL
YOGYAKARTA

Disusun Oleh:
Tia Rista Meilani 1910206157
Wanhar 1910206056

PROGRAMSTUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2020
PROPOSAL TERAPI KELUARGA

A. LatarBelakang
Terapi keluarga adalah memberikan pembelajaran kepada keluarga tentang
mengasuh anggota keluarga gangguan jiwa dengan menggunakan berbagai metode
belajar. Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting karena dipandang sebagai
sumber pertama dalam proses sosialisasi, keluarga juga dipandang sebagai institusi atau
lembaga yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi
pengembang kepribadiannya.
Pentingnya peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa dapat
dipandang dari berbagai segi. Pertama keluarga merupakan tempat dimana individu
memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan institusi
pendidikan pertama dan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan
keyakinan, sikap, nilai dan perilaku. Kedua, jika keluarga dipandang sebagai satu sistem,
maka gangguan yang terjadi pada salah satu anggota dapat mempengaruhi seluruh
sistem. Sebaliknya, disfungsi keluarga dapat pula merupakan salah satu penyebab
terjadinya gangguan psikologis pada anggotakeluarga.
Ketiga, berbagai pelayanan kesehatan jiwa bukan merupakan tempat klien seumur
hidup, namun hanya fasilitas yang membantu klien dan keluarga dalam mengembangkan
kemampuan dalam mencegah terjadinya masalah, menanggulangi berbagai masalah dan
mempertahankan keadaan adaptif. Keempat, dari beberapa penelitian menunjukkan
bahwa salah satu faktor penyebab kekambuhan gangguan jiwa adalah keluarga yang
tidak tahu cara menangani perilau klien dirumah, dan kurang faham dengan penanganan
yang harus dilakukan ketika pasien mengalami gejala atau tanda-tanda kekambuhan.
Paparan diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga berperan penting dalam
peristiwa terjadinya gangguan jiwa dan proses penyesuaian/penyembuahan kembali
setiap klien. Seorang psikoterapi dari Amerika Serikat yaitu Virginia Satir, mencoba
menghadirkan anggota keluarga yang lain, bahwa klien yang sedang dikonseling
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh anggota lain. Jadi didalam terapi anggota, yang
hadir tidak hanya individu yang dianggap bermasalah, tetapi juga anggota keluarga
lainnya (yang mungkin menganggap dirinya tidak bermasalah).
TERAPI KELUARGA

1. Ciri – ciri fungsional keluarga :


a. Mempertahankan keseimbangan, fleksibel & adaptif
b. Emosi merumasan bagian dari fungsi tiap individu
c. Kontak emosi dipertahankan oleh tiap generasi dan diantara anggota keluarga
d. Perbedaan antar anggota keluarga untuk mendorong mempertahankan, dan
meninngkatkan kreativitas individu
e. Orang tua dan anak  hubungan terbuka dan bersahabat

2. Suasana emosi yang sehat dalam keluarga :


a. Saling percaya (trust)
b. Hangat (warmth)
c. Perhatian (concern)
d. Menerima (acceptance)
e. Mengharapkan kesemasatan tanpa mengabaikan keunikan individu
f. Memandang konflik sebagai proses transisi.

3. Disfungsi keluarga;
a. Emosi
b. Fisik
c. Sosial

4. Konsep sistem keluarga tidak berfungsi:


a. Perbedaan diri : Hubungan keluarga yang tertutup
b. Triangles : Konflik emosi orang tua ditransfer pada anak
c. Hubungan emosi yang terputus
d. Proses trasmisi beberapa generasi
e. Proses proyeksi keluarga
f. Posisi sibling
1) Keluarga bermasalah atau disfungsi keluarga:
a. Ketrampilan berhubungan tidak adekuat
b. Kesulitan berhubungan
Individu
c. Masalah kesehatan mental
d. Gangguan perilaku

2) Reaksi keluarga ≈ pencarian pertolongan:


a. Mengidentifikasi masalah yang dimiliki
b. Mempunyai perhatian yang besar  rahasia
c. Mengidentifikasi penerimaan sosisl
d. Menerima tanggung jawab  terlibat
e. Tidak mau terlibat

3) Reaksi keluarga berbeda – beda: KONFLIK (Reinhard, 1994)


a. Keadaan klien tergantung VS mandiri
b. Efek samping dari pengobatan
c. Tingkah laku yang aneh & komunikasi
d. Intoleransi aktivitas & pemenuhan ADL
e. Sikap eksploitasi & provokative
f. Isolasi sosial
g. Ide bunuh diri yang muncul
h. Sulit bekerja sama
i. Banyak perilaku / sikap yang dihindari
j. Perubahan mood yang cepat

4) Efek gangguan mental pada keluarga:


a. Ingkar, marah, cemas
b. Kehilangan pengharapan, integritas, & optimis
c. Gangguan interaksi keluarga
d. Perpanjangan proses parenting & fungsi perawatan
e. Tambahan biaya untuk tindakan & medikasi
f. Keterbatasan income keluarga
g. Keterbatasan aktivitas sosial & sosial support
h. Berhubungan dengan RS & pusat rehabilitas
B. Tujuan
Berdasarkan uraian di atas, dapat diyakini bahwa keluarga mempunyai tanggung
jawab yang penting dalam proses perawatan di rumah sakit, persiapan pulang dan
perawatan waktu dirumah agar adaptasi klien berjalan dengan baik, kualitas dan
efektivitas peran serta keluarga dalam upaya peningkatan peran serta dalam perawatan
klien dengan gangguan jiwa dalam hal ini Ny.S bertujuan sebagai berikut:
1. Tujuan umum
Meningkatkan pemahaman dan kemampuan keluarga dalam merawat anggota
keluarga dengan gangguan jiwa.
2. Tujuan khusus
a. Kelurga dapat mengenal masalah gangguan jiwa pada Ny.S
b. Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat Ny.S dengan gangguan
jiwa
c. Keluarga dapat merawat dan memberikan asuhan kepada klien Ny.S dengan
gangguan jiwa sesuai kebutuhan klien selama dirumah
d. Keluarga dapat memahami keadaan atau permasalahan yang dimiliki klien
e. Keluarga dapat memotivasi klien untuk hidup nyaman dan dapat bersosialisasi
dengan lingkungan
f. Keluarga dapat memodifikasi lingkungan dalam merawat Ny.S
g. Keluarga dapat memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada seperti
puskesmas, RSU dan RSJ untuk merawat klien.
h. Keluarga mampu mengetahui pentingnya minum obat bagi Ny.S dan
pendampingan minum obat.

C. Sasaran
Keluarga Ny.S

D. Manfaat
1. Bagi keluarga
a. Terjalin kerjasama yang baik antar perawat/petugas dengan keluarga.
b. Keluarga mampu untuk mengungkapkan perasaan sehubungan dengan kondisi
klien.
c. Keluarga mampu memberi dukungan moral yang tepat bagi klien.
d. Kelurga memahami, mengetahui keadaan klien dan mengetahui bagaimana cara
perawatan klien dirumah.
e. Keluarga mampu membimbing klien untuk mentaati aturan berobat secara
teratur.
2. Bagi perawat
a. Terbina hubungan saling percaya antara keluarga dan tenaga kesehatan
b. Perawat mampu mengamati sikap keluarga terhadap klien
c. Terbina komunikasi terapeutik untuk mencapai kesembuhan klien
d. Perawat mampu memberikan dorongan dan motivasi kepada keluarga

E. Metode
Wawancara dan diskusi

F. Alat Bantu
Leaflet

G. Kontrak Waktu
Hari/tanggal : Kamis, 30 Januari 2020
Waktu : 16.00 WIB
Tempat : Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

H. Strategi Pelaksanaan
1. Fase Pra interaksi
a. Perawat mempersiapkan pengkajian pada keluarga klien
b. Perawat menggunakan teknik komunikasi terapeutikpada keluarga klien
c. Perawat menyiapkan mental dan fisik
d. Perawat menyiapkan diri untuk melakukan terapi keluarga dan berkunjung
kerumah Ny.S
2. Fase orientasi
a. Datang kerumah klien
b. Menemui anggota keluarga klien
c. Memberi salam terapeutik
d. Memperkenalkan diri
e. Menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan keluarga
f. Menyampaikan kontrak waktu dan menanyakan kesediaan keluarga
3. Fase kerja
a. Menanyakan kepada keluarga keadaan klien sebelum dirawat dirumah sakit
b. Memberi kesempatan kepada keluarga untuk mengungkapkan perasaannya
terhadap apa yang dialami klien
c. Diskusikan dengan keluarga tentang apa yang dialami klien
d. Menjelaskan tentang konsep gangguan yang dialami klien
e. Menjelaskan pentingnya minum obat secara teratur bagi klien
f. Memberikan reinforcement positif bila keluarga telah merawat klien dengan benar
g. Menyampaikan perkembangan klien selama dirawat
h. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya
i. Menjelaskan pentingnya dukungan keluarga untuk merawat klien
4. Fase terminasi
a. Mengevaluasi hal-hal yang telah didiskusikan dengan keluarga
b. Memberikan reinforcement positif bila keluarga berhasil menjelaskandengan benar
c. Menanyakan kebutuhan tindak lanjut
d. Salam terapeutik
DAFTAR PUSTAKA

Agustarika,B., Raka. I. M. 2017. Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Kemampuan


Keluarga Dalam Merawat Anggota Keluarga Dengan Skizofrenia di Kota Sorong. E-
Journal Nursing Arts Vol 10, 11 (02).
Taufik, Y., Mamnu’ah. 2014. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kekambuhan
Pada Pasien Skizofreni di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Grhasia DIY.
Wanti Y, At Al. 2016. Gambaran Strategi Koping Keluarga Dalam Merawat Anggota
Keluarga
Yang Menderita Gangguan Jiwa Berat. Vol 4 No.1.