Anda di halaman 1dari 18

Tugas Kelompok : Dosen Mata Kuliah :

Menulis Makalah Ricca Angreini Munthe, S. Psi, M.A.

Intervensi dalam Pendekatan Psikoanalisa

Kelompok 1:
1. Aldawiyah (11761201928)
2. Dini Rahayu Ningtias (11761200258)
3. Khairu Akmaludin (11761100416)
4. Siti Maisarah (11760124769)
5. Siti Mariyanti (11761202044)

Kelas : VII-E

Jurusan Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Tahun 2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ilmiah
yang berjudul “Intervensi dalam Pendekatan Psikoanalisa”. Dalam menulis
makalah ini, penulis tidak mendapatkan kendala-kendala, sehingga
penyelesaiannya dapat dikerjakan dengan baik. Adapun pembuatan makalah
ilmiah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Intervensi Non Klinis dari
Ibu Ricca Anggreini Munthe, S.Psi., M.A selaku dosen pembimbing.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat hal-hal
yang tidak sesuai dengan harapan. Maka dari itu penulis dengan senang hati
menerima masukan, kritikan dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun
demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ilmiah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca.

Pekanbaru, 9 November 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................................ii
Daftar Isi..........................................................................................................iii
Bab I Pendahuluan.........................................................................................1
1. Latar Belakang.......................................................................................1
2. Rumusan Masalah..................................................................................2
3. Tujuan Penulisan...................................................................................2
Bab II Pembahasan.........................................................................................6
1. Prinsip-prinsip teori psikoanalisa.........................................................6
2. Intervensi dalam pendekatan psikoanalisa............................................10
3. Contoh intervensi non klinis psikoanalisa............................................14
Bab III Penutup..............................................................................................16
1. Kesimpulan............................................................................................16
2. Saran......................................................................................................17
Daftar Pustaka................................................................................................18

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Intervensi merupakan upaya unuk mengubah perilaku, pikiran atau atau
perasaan seseorang yang dilakukan secara sistematis dan terencana untuk
mengubah keadaan seseorang menjadi lebih baik. Intervensi yang dilakukan
berdasarkan assesmen terlebih dahulu. Intervensi dilakukan sebagai tindakan
pencegahan (preventif), penyelesaian (kuratif), dan tindak lanjut (rehabilitatif).
Bentuk intervensi terdiri dari intervensi individual dan intervensi
kelompok. Secara garis besar intervensi dapat dikelompokkan berdasarkan
masalah yang dihadapi yaitu intervensi klinis dan intervensi non klinis. Dalam
melakukan intervensi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai
pendekatan psikologi, salah satunya intervensi dalam pendekatan psikoanalisa.
Pendekatan psikoanalisis menganggap bahwa tingkah laku abnormal di
sebabkan oleh faktor-faktor intropsikis (konflik tidak sadar, represi,
kecemasan) yang menggangu penyesuaian diri. Menurut Freud, esensi pribadi
seseorang bukan terletak pada apa yang ia tampilkan secara sadar, melainkan
apa yang tersembunyi dalam ketidaksadarannya. Intervensi dalam pendekatan
psikonalisa lebih banyak diterapkan dalam masalah klinis seperti psikoterapi.
Namun dalam masalah non klinis pendekatan psikoanalisa juga dapat
diterapkan.
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk
membahas dan menulis makalah mengenai intervensi dalam pendekatan
psikoanalisa.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis berikan ada
beberapa rumusanan sebagai pertanyaan dalam makalah ini. Berikut rumusan
masalah dari makalah ini.
a. Bagaimana prinsip-prinsip teori psikoanalisa?
b. Bagaimana intervensi dalam pendekatan psikoanalisa?
c. Apa saja contoh intervensi non klinis psikoanalisa ?

4
3. Tujuan
Tujuan dari permasalahan ini sesuai dari rumusan masalah yang telah
disampaikan. Hal tersebut untuk memudahkan hal yang harus dilakukan
berdasarkan masalah yang akan dibahas. Berikut tujuan dari permasalahan
dari makalah ini.
a. Untuk mengetahui Prinsip-prinsip teori psikoanalisa
b. Untuk mengetahui intervensi dalam pendekatan psikoanalisa
c. Untuk mengetahui Apa saja contoh intervensi non klinis
psikoanalisa.

5
BAB II
PEMBAHASAN
1. Prinsip-Prinsip Teori Psikoanalisa
Teori psikoanalisis adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan
perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah
motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan
bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek
psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak atau usia dini.
Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005), kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat
kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar
(unconscious). Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan
hanya melibatkan ketiga unsur tersebut. Pada tahun 1923, Freud memperkenalkan
tiga model struktural yang lain, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Struktur
baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi gambaran mental
terutama dalam fungsi dan tujuannya (dalam Alwisol, 2005).
Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat
tentang sifat manusia dan metode psikoterapi. Psikoanalisis berasal dari uraian
tokoh psikoanalisa yaitu Sigmund Freud yang mengatakan bahwa gejala neurotic
pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada,
ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai
hal-hal yang traumatic dari pengalaman seksual pada masa kecil.
Selain itu, Freud juga mengatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh
kekuatan irasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri
psikoseksual tertentu pada masa lima tahun pertama dalam kehidupannya.
Psikoanalisis merupakan salah satu aliran di dalam disiplin ilmu psikologi yang
memiliki beberapa definisi dan sebutan. Adakalanya psikoanalisis didefinisikan
sebagai metode penelitian, sebagai teknik penyembuhan dan juga sebagai
pengetahuan psikologi.
Dasar utama psikoanalisis adalah ketidaksadaran, ialah bahwa seorang yang
terganggu jiwanya karena terdapat represi atas pengalaman atau ingatan yang
mencemaskan ke alam tak sadar. Aliran psikoanalisa mengabaikan potensi-potensi

6
yang ada pada diri manusia, melihat dari sisi negatif individu, alam bawah sadar,
mimpi dan masa lalu.
Teori psikoanalisis adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan
perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah
motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan
bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek
psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak atau usia dini
Freud (Kuntjojo, 2009) berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu
sistem yang terdiri dari 3 unsur, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich (dalam
bahasa Inggris dinyatakan dengan the Id, the Ego, dan the Super Ego), yang
masing memiliki asal, aspek, fungsi, prinsip operasi, dan perlengkapan sendiri.
Ketiga unsur kepribadian tersebut dengan berbagai dimensinya disajikan dalam
tabel berikut.
Tabel 2.1
Struktur Kepribadian

No UNSUR
ID EGO SUPER EGO
DIMENSI

1 Asal Pembawaan Hasil interaksi Hasil internalisasi


dengan lingkungan nilai-nilai dari figur

2 Aspek Biologis Psikologis Sosiologis

3 Fungsi Mempertahankan Mengarahkan 1) Sebagai


konstansi individu pada pengendali id
realitas 2) Mengarahkan id
dan ego pada
perilaku yang
lebih bermoral
4 Prinsip Operasi Pleasure principle Reality principle Idealistic principle

5 Perlengkapan 1) Reflex Proses sekunder 1) Conscientia


2) Proses primer 2) Ego ideal

7
a. Id (Das Es)
Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id ini
kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua
aspek psikologi yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada
dan beroperasi dalam daerah tak sadar, mewakili subjektivitas yang tidak
pernah sisadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk
mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari
struktur kepribadian lainnya.
Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle),
yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Plesure
principle diproses dengan dua cara :
a) Tindak Refleks (Refleks Actions) adalah reaksi otomatis yang dibawa
sejak lahir seperti mengejapkan mata dipakai untuk menangani pemuasan
rangsang sederhana dan biasanya segera dapat dilakukan.
b) Proses Primer (Primery Process) adalah reaksi
membayangkan/mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau
menghilangkan tegangan – dipakai untuk menangani stimulus kompleks,
seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya.
Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan
khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan.
Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-benar salah, tidak tahu
moral. Alasan inilah yang kemudian membuat id memunculkan ego.
b. Ego (Das Ich)
Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita sehingga
ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle) usaha memperoleh
kepuasan yang dituntut id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau
menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat
memuaskan kebutuhan.
Ego adalah eksekutif atau pelaksana dari kepribadian, yang memiliki
dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan

8
atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan.
Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai
dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Ego sesungguhnya
bekerja untuk memuaskan id, karena itu ego yang tidak memiliki energi
sendiri akan memperoleh energi dari id.
c. Superego (Das Ueber Ich)
Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang
beroperasi memakai prinsip idealistik (edialistic principle) sebagai lawan dari
prinsip kepuasan id dan prinsip realistik dari ego. Superego berkembang dari
ego, dan seperti ego, ia tak punya sumber energinya sendiri. Akan tetapi,
superego berbeda dari ego dalam satu hal penting – superego tak punya
kontak dengan dunia luar sehingga tuntutan superego akan kesempurnaan pun
menjadi tidak realistis.
Prinsip idealistik mempunyai dua sub prinsip yakni suara hati
(conscience) dan ego ideal. Freud tidak membedakan prinsip ini secara jelas
tetapi secara umum, suara hati lahir dari pengalaman-pengalaman
mendapatkan hukuman atas perilaku yang tidak pantas dan mengajari kita
tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan, sedangkan ego ideal
berkembang dari pengalaman mendapatkan imbalan atas perilaku yang tepat
dan mengarahkan kita pada hal-hal yang sebaiknya dilakukan.
Superego bersifat non-rasional dalam menuntut kesempurnaan,
menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun
baru dalam fikiran. Ada tiga fungsi superego; (1) mendorong ego
menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan moralistik, (2) merintangi
impuls id terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan
standar nilai masyarakat, (3) mengejar kesempurnaan.
2. Intervensi dalam Pendekatan Psikoanalisa
A. Konseling
Pendekatan merupakan pengembangan dari konsep-konsep utama
ke dalam penerapan dan implementasi praktis. Pendekatan
psikoanalisis dalam konseling merupakan pendekatan yang banyak

9
mempengaruhi timbulnya pendekatan-pendekatan lain dalam
konseling. Konseling psikoanalisis memberikan perhatian terhadap
kemampuan konselor untuk menggunakan apa yang terjadi, dalam
hubungan antara konseli dan konselor yang bersifat segera dan terbuka
dalam rangka mengeksplorasi tipe perasaan dan dilema hubungan yang
mengakibatkan kesulitan bagi konseli dalam kehidupan sehari-hari.
1. Konsep Dasar Konseling Psikoanalisa
a. Hakikat Manusia
 Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis
sebelumnya.
 Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak
merupakan proses mental yang berciri biasa.
 Pendekatan ini didasari oleh teori Freud, bahwa kepribadian
seseorang mempunyai tiga unsur, yaitu id, ego, dan super
ego.
2. Tujuan Konseling Psikoanalisa
a. Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus
menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri.
b. Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan
mengembalikan hal-hal yang tak disadari menjadi sadar
kembali, dengan menitikberatkan pada pemahaman dan
pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak, terutama
usia 2-5 tahun, untuk ditata, disikusikan, dianalisis dan
ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi.
3. Teknik Konseling Psikoanalisis
a. Asosiasi bebas, yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan
atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan
pemikiran sehari-hari sekarang, sehingga klien mudah
mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Klien diminta
mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Tujuan
teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa

10
lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan
pengalaman traumatik masa lalu. Hal ini disebut juga katarsis.
b. Analisis mimpi. Dalam analisis mimpi klien diminta untuk
mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya
dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Teknik ini
digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum
terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada
waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang
terdesak pun muncul ke permukaan. Menurut Freud, mimpi ini
ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-
keinginan dan kecemasan yang tidak disadari.
c. Interpretasi, yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik
apa yang dikatakan klien, baik dalam asosiasi bebas, mimpi,
resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan,
menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna
perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas,
resitensi dan transferensi.
d. Analisis resistensi. Resistensi berarti penolakan, analisis
resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-
alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Konselor meminta
perhatian klien untuk menafsirkan resistensi.
e. Analisis transferensi. Transferensi adalah mengalihkan, bisa
berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam hal ini, klien
diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan
konflik masa lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian,
kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan
dilemparkan ke konselor. Biasanya klien bisa membenci atau
mencintai konselor. Konselor menggunakan sifat-sifat netral,
objektif, anonim, dan pasif agar bisa terungkap tranferensi
tersebut.

11
B. Psikoterapi
Psikoterapi adalah terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-
cara psikologik, dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang
menjalin hubungan kerjasama secara profesional dengan seorang pasien
dengan tujuan untuk menghilangkan, mengubah atau menghambat gejala-
gejala dan penderitaan akibat penyakit. Definisi yang lain yaitu bahwa
psikoterapi adalah cara-cara atau pendekatan yang menggunakan teknik-
teknik psikologik untuk menghadapi ketidakserasian atau gangguan
mental. Psikoterapi disebut sebagai pengobatan, karena merupakan suatu
bentuk intervensi dengan berbagai macam cara dan metode yang bersifat
psikologik untuk sebuah tujuan. Psikoterapi adalah proses redukasi yang
bertujuan membantu seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan,
terutama dengan intervensi psikologis yang merupakan kebalikan dari
pengobatan fisik, seperti yang menggunakan obat-obatan.
Tujuan dari terapi psikoanalisa adalah untuk mengubah kesadaran
individu, sehingga segala sumber permasalahan yang ada didalam diri
individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar, serta memperkuat ego
individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang realita. Terapi
psikoanalisis sangat dibutuhkan sifat dari terapeutik, maksudnya adalah
adanya hubungan interpersonal dan kerja sama yang profesional antara
terapis dan klien, terapis harus bisa menjaga hubungan ini agar klien dapat
merasakan kenyamanan, ketenangan dan bisa rileks menceritakan
permasalahan serta tujuannya untuk menemui terapis. Karena fokus utama
dalam proses terapi ini adalah menggali seluruh informasi permasalahan
dan menganalisis setiap kata-kata yang diungkapkan oleh klien.
C. Teori Psikoanalisis Klasik Sebagai Teknik Penyembuhan (Terapi)
1. Teknik Talking Care
Teknik ini pada dasarnya adalah tentang membangun hubungan
baik dengan klien/pasien. Sehingga para pasien dapat menceritakan
pengalaman masa lalunya. Freud membuat ajang bagi para pasien
untuk mengalirkan rasa sehingga hati mereka lega dari apa yang

12
membebaninya. Meski begitu, Freud menganggap teknik ini
memiliki kelemahan karena apa yang diceritakan oleh pasien
adalah hal yang berada pada alam sadar. Dianggap kurang tepat
karena permasalahan sesungguhnya terjadi pada alam
ketidaksadaran.
2. Teknik Kartasis
Freud berusaha memasuki alam bawah sadar pasien dengan
metode ini. Ia menggabungkan momen setengah sadar, untuk bisa
mengavaluasi persoalan pasien. Istilah yang biasa kita dengar
berkaitan dengan teknik ini adalah metode hipnosis. Meski Freud
pernah berhasil menangani pasien penderita gangguan saraf.
Namun kemudian ia menyatakan kurang puas dengan metode ini,
dan mulai mengembangkan teknik terapinya.
3. Asosiasi Bebas
Teknik ini banyak dikembangkan oleh para psikolog
kontemporer dan bisa kita temui sehari-hari. Teknik ini meminta
para pasien untuk rileks dan beristirahat sejenak dari pikiran yang
biasanya  meliputi para pasien setiap hari. Kemudian mereka
diminta untuk menceritakan hal-hal yang membuat dirinya trauma.
4. Teknik Penafsiran Mimpi
Menurut Freud, mimpi merupakan hasil psikis yang tergambar
ketika kita tidur. Tidak puas dengan teknik sebelumnya karena
mereka bekerja pada alam sadar, Freud menggunakan mimpi
sebagai materi yang muncul ketika seseorang tidak sadar. Dari hal
yang diceritakan pasien lewat mimpinya, Freud mendapat
kepuasan karena ia dapat mengupas memori pasien pada masa lalu.
3. Contoh Intervensi Non Klinis Psikoanalisa
a. Meditasi
Meditasi merupakan teknik atau metode latihan yang bertujuan
untuk melatih perhatian guna meningkatkan kesadaran, yang
selanjutnya dapat membuat proses-proses mental menjadi lebih

13
terkontrol (Walsh, dalam Tejena & Sukmayanti, 2018). Jika melihat
meditasi dari sudut pandang psikoanalisis, meditasi merupakan bentuk
melatih kesadaran untuk mengendalikan id manusia. Dalam kehidupan
sehari-hari banyak perbuatan manusia yang tidak sesuai dengan
prinsip realitas. Dalam hal ini id ditekan atau pikiran serta hasrat
manusia kedalam alam bawah sadar.
Seperti yang dikatan Freud semakin menekan pikiran yang
tidak sesuai dengan prinsip realitas maka akan semakin kuat pula
pikiran atau hasrat itu muncul dari alam bawah sadar ke alam
kesadaran. Hal tersebut sejalan dengan manfaat dari meditasi.
Manusia melatih kesadarannya untuk mengendalikan id dan egonya
yang tertanam didalam alam bawah sadar. Melalui kesadaran yang
sudah terlatih membiarkannya dan menghapusnya.
b. Yoga
Yoga adalah suatu mekanisme penyatuan dari tubuh (body),
pikiran (mind) dan jiwa (soul). Yoga bermanfaat untuk menenangkan
pikiran, mengurangi stres, memberikan peningkatan kesadaran dan
kesiagaan tubuh (Kadiyono dan Anmarlina, 2016). Saat melakukan
yoga individu diminta untuk mengikuti gerakan-gerakan dari yoga itu
sendiri, ditambah dengan pengaturan nafas dan meditasi. Hal tersebut
merupakan teknik relaksasi pada individu. Latihan relaksasi dan
konsentrasi pada yoga merupakan sesi latihan yang menggunakan
pemusatan pikiran oleh setiap individu.
c. Psikodrama
Menurut Sanyata (2016) psikodrama adalah sebuah pendekatan
agar klien bertindak menggambarkan peran masa lalu, sekarang atau
diantisipasi dan situasi kehidupan. Hal tersebut dilakukan untuk
memahami lebih dalam, mengeksplorasi perasaan dan mendapatkan
pelepasan emosional serta mengembangkan keterampilan perilaku.
Psikodrama dilakukan berdasarkan peristiwa penting yang diambil

14
untuk membantu klien berhubungan dengan perasaan yang tidak
diakui dan terpendam.
Hal ini berhubungan dengan konseling analisis transferensi
psikoanalisa. Menurut Feist (2017) transferens mengacu pada
perasaan seksual atau agresif yang kuat baik positif maupu negatif
yang dikembangkan oleh pasien selama penanganan terhadap terapis
mereka.
d. Terapi Bermain
Klein dalam Pranawati (2009) terapi bermain berfungsi untuk
mengetahui permainan anak sebagai simbol ekspresi dari konflik-
konflik dan kecemasan-kecemasannya. Anak-anak sulit untuk
melakukan asosiasi bebas, ekpresi mereka lebh terlihat alami dengan
bermain. Klein melakukan terapi bermain sama seperti asosiasi bebeas
dan menggunakan makna simbolik mereka untuk interpretasi.
Menurut Anna Freud, bermain sebagai terapi sama seperti
membiarkan anak untuk berbicara tentang perasaan dan pikiran
mereka yang didasari serta megeluarkan konflik tidak didasari yang
ditekannya.

15
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Teori psikoanalisis adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat
dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini
adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini
mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-
konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi
pada anak-anak atau usia dini. Menurut Freud terdapat 3 tingkat kesadaran
yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious).
Kemudian Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yaitu das Es,
das Ich, dan das Ueber Ich.
Terdapat beberapa intervensi yang digunakan pada pendekatan
psikoanalisa yaitu:
a. Konseling
Konseling psikoanalisis memberikan perhatian terhadap
kemampuan konselor untuk menggunakan apa yang terjadi, dalam
hubungan antara konseli dan konselor yang bersifat segera dan
terbuka dalam rangka mengeksplorasi tipe perasaan dan dilema
hubungan yang mengakibatkan kesulitan bagi konseli dalam
kehidupan sehari-hari. Terdapat beberapa teknik konseling
psikoanalisis yaitu : asosiasi bebas, analisis mimpi, interpretasi,
analisis resistensi, dan analisis transferensi.
b. Psikoterapi
Tujuan dari terapi psikoanalisa adalah untuk mengubah
kesadaran individu, sehingga segala sumber permasalahan yang ada
didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar, serta
memperkuat ego individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang
realita.
Terdapat beberapa contoh intervensi non-klinis melalui pendekatan
psikoanalisa, diantaranya:

16
a. Meditasi
Meditasi merupakan teknik atau metode latihan yang bertujuan
untukmelatih perhatian guna meningkatkan kesadaran, yang
selanjutnya dapat membuat proses-proses mental menjadi lebih
terkontrol (Walsh dalam Tejena dan Sukmayanti, 2018)
b. Yoga
Yoga adalah suatu mekanisme penyatuan dari tubuh (body),
pikiran (mind) dan jiwa (soul). Yoga bermanfaat untuk menenangkan
pikiran, mengurangi stres, memberikan peningkatan kesadaran dan
kesiagaan tubuh (Kadiyono dan Anmarlina, 2016)
c. Psikodrama
Menurut Sanyata (2016) Psikodrama adalah sebuah pendekatan
dimana klien bertindak menggambarkan peran masa lalu, sekarang
atau diantisipasi dan situasi kehidupan
d. Terapi Bermain
Klein dalam Pranawati (2009) terapi bermain berfungsi untuk
mengetahui permainan anak sebagai simbol ekspresi dari konflik-
konflik dan kecemasan-kecemasannya.
2. Saran
Berpedoman kepada pembahasan yang telah diuraikan dalam makalah
ini, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat menjadi masukan bagi
pembaca maupun penulis berikutnya. Saran ini diharapkan bisa bermanfaat
bagi pembaca untuk dilakukan nantinya. Agar makalah ini dapat berlanjut dan
memberikan kontribusi lebih besar bagi ilmu psikologi lainnya.

17
Daftar Pustaka

Alwisol. (2005). Psikologi Kepribadian. Malang: Penerbit Universitas


Muhammadyah Malang.
Kuntjojo. (2009). Psikologi Kepribadian. Kediri: Universitas Nusantara PGRI
Kediri.
Helaludin, & Syawal, S. (t.t). Psikoanalisis Sigmund Freud dan Implikasinya
dalam Pendidikan. Artikel, hlm. 1-16.
Kadiyono, A. L., & Anmarlina, F. 2016. “Teknik Yoga Sebagai Intervensi dalam
Melakukan Anger Management pada Wanita Dewasa Awal”. Jurnal
Intervensi Psikologi, 8(2). hal. 185-201.
Pradhika, A. (2016). Psikoanalisis sebagai Pendekatan dalam Bimbingan
Konseling (Studi Pemikiran Sigmund Freud). Skripsi. Universitas Islam
Negeri Sultan Kalijaga Yogyakarta.
Pranawati, S. 2009. “Terapi Bermain Pendekatan Psikoanalisa”. Article, hlm. 12-
14.
Purnama, C. I. (2015). Terapi Psikoanalisis (Sigmund Freud). Artikel.
https://cahyaintanp.wordpress.com/2015/04/04/terapi-psikoanalisis-
sigmund-freud/ Diakses pada tanggal 09 November 2020 pukul 21.07
wib.
Sanyata, S. 2016. “Review Buku: The Art Of Integrative Counseling”. Jurnal
Bimbingan Konseling, 5(2), hal. 225-235.
Savitra, K. (t.t). Teori Psikoanalisis Klasik Menurut Sigmund Freud. Artikel.
https://dosenpsikologi.com/teori-psikoanalisis-klasik#:~:text=Teori
%20psikoanalisis%20klasik%20merujuk%20pada,mereka%20yang
%20menderita%20gangguan%20psikis. Diakses tanggal 09 November
2020 pukul 21.08 wib.
Sudrajat, A. (2008). Pendekatan dan Teknik Konseling Psikoanalisis. Artikel.
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/08/pendekatan-
konseling-psikoanalisis/ Diakses pada tanggal 11 November 10.00 wib.
Tejena, N. R., & Sukmayanti. 2018. “Meditasi Meningkatkan Regulasi Emosi
pada Remaja”. Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus Psikologi Positif,
hal 147-158.
Wahidah, E. Y. (2017). Resistensi dalam Psikoterapi Terhadap Trauma KDRT
pada Anak (Perspektif Psikoanalisa). Al Murabbi, 3(2), hlm. 159-177.

18