Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR

PADA MATA PELAJARAN AKUNTANSI DASAR

MATERI MENYUSUN LAPORAN KEUANGAN

PESERTA DIDIK KELAS XI AK 2 SEMESTER GANJIL SMK NEGERI 1 SRAGEN

TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Di susun oleh :
SAPTO PRASETYO, S. Pd, M. Pd
NIP. 19721215 200604 1 011

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 SRAGEN

TAHUN 2020
PENGESAHAN PERPUSTAKAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : SAPTO PRASETYO, S. Pd, M. Pd

Tempat/Tgl Lahir : Sragen, 15 Desember 1972

Pekerjaan : Guru Kompetensi Keahlian Akuntansi dan Keuangan

Lembaga

Menyatakan bahwa Makalah berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Problem


Based Learning Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Pada Mata
Pelajaran Akuntansi Dasar Materi Menyusun Laporan Keuangan Bagi Peserta
Didik Kelas XI AK Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Sragen Tahun
Pelajaran 2019/2020”

Telah Didokumentasikan/disimpan
Diperpustakaan SMK Negeri 1 Sragen
Pada Tanggal :

KoordinatorPerpustakaan

SMK Negeri 1 Sragen Penulis

Dra. ATIK DWI WINARTI SAPTO PRASETYO, S. Pd, M. Pd


NIP.1966103 200502 2 001 NIP.19721215 200604 1 011

Mengetahui

Kepala SMK Negeri 1 Sragen

Drs. SARNO, M. Pd
NIP.19610613 199003 1 003
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1
SRAGEN
Jln. Ronggowarsito, Sragen Kode Pos 57214
Telepon 0271-891163 Faksimile 0271 – 891328 Surat Elektronik : sim_smkn1srg@yahoo.co.id
LEMBAR PENGESAHAN

Nomor: 800.2/284.a

Yang bertanda tanggan dibawah ini :

Kepala SMK Negeri 1 Sragen Mengesahkan makalah yang berjudul :

“Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan


Motivasi Dan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Akuntansi Dasar Materi
Menyusun Laporan Keuangan Bagi Peserta Didik Kelas X AK2 Sekolah
Menengah Kejuruan Negeri 1 Sragen Tahun Pelajaran 2019/2020”
Makalah tersebut dibuat oleh :

Nama : Sapto Prasetyo, S. Pd, M. Pd

NIP : 19721215 200604 1 011

Pangkat/Golongan : Pembina /IV a

Jabatan : Guru Madya

Unit Kerja : SMK Negeri 1 Sragen

Demikian pengesahan ini diberikan sebagai bukti fisik untuk penilaian angka
kredit, kepada yang berkepentingan harap maklum

Sragen, Maret 2020

Kepala SMK Negeri 1 Sragen

Drs. SARNO, M. Pd
NIP.19610613 199003 1 003
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan, Berkat Kuasa dan

Pertolongan-NYA- lah Makalah ini dapat disusun dan di selesaikan dengan baik.

Makalah ini penulis buat dengan judul“Penerapan Model Pembelajaran Problem

Based Learning Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Pada Mata

Pelajaran Akuntansi Dasar Materi Menyusun Laporan Keuangan Bagi Peserta

Didik Kelas X AK 2 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Sragen Tahun

Pelajaran 2019/2020”

Penulisan Makalah ini dapat diselesaikan atas bantuan berbagai pihak,

baik secara moril maupun materiil. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis

mengucapkan terima kasih dan penghargaan, terutama kepada Drs. Sarno, M. Pd

selaku Kepala SMK Negeri 1 Sragen, yang telah memberikan ijin kepada kami

untuk menyusun Makalah ini.

Penulis menyadari dalam penulisan Makalah ini banyak kelemahan dan

kekurangan, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca

yang budiman. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan

umumnya bagi para pembaca yang budiman.

Penulis
ABSTRAK

SAPTO PRASETYO), S. Pd, M. Pd NIP 19721215 200604 1 011. “Penerapan


Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Motivasi Dan
Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Akuntansi Dasar Materi Menyusun Laporan
Keuangan Bagi Peserta Didik Kelas X AK 2 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri
1 Sragen Tahun Pelajaran 2019/2020”

Berdasarkan hasil penelitian,pengunaan Model Pembelajaran Problem

Based Learning dapat merubah Motivasi dan Hasil Belajar untuk Mata Pelajaran

Akuntansi Dasar Materi Menyusun Laporan Keuangan pada peserta didik kelas X

AK 2 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Sragen. Khususnya pada Kompetensi

Keahlian Akuntansi. Hal inididukung oleh hasil penelitian sebagai berikut:

Setelah diterapkannya Model Pembelajaran Problem Based Learning terjadi

perubahan pada motivasi dan hasil belajar peserta didik, sebelum diterapkan

model pembelajaran problem based learning keaktifan belajar peserta didik sangat

rendah tetapi setelah diterapkannya model pembelajaran problem based learning

terjadi perubahan yang sangat baik. Hal ini ternyata juga berdampak pada

perubahan hasil prestasi belajar peserta didik yang juga mengalami perubahan

menjadi lebih baik setelah diterapkannya model pembelajaran problem based

learning

KataKunci :Problem Based Learning Untuk Pemecahan Permasalahan

Pembelajaran Akuntansi Dasar


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………… i

PENGESAHAN …………………… ………………………………….. ii

KATA PENGANTAR …………………………………………………. iv

ABSTRAKSI …………………………………………………………… v

DAFTAR ISI …………………………………………………………… vi

DAFTAR LAMPIRAN…………… …………………………………… vii

I. PENDAHULUAN........................................................................ 1

II. KAJIAN TEORI……………………………………………….. 4

III. PEMBAHASAN……………………………………………… 16

IV. PENUTUP…………………………………………………….. . 19

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………. 21


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Hasil Observasi keaktifan Peserta Didik Sebelum Penerapan Model

Pembelajaran Problem Based Learning dan Sesudah Penerapan

Model Pembelajaran Problem Based Learning……………………… 23

Lampiran 2

Hasil Observasi Kompetensi Pengetahuan Peserta Didik Sebelum

Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan

Sesudah Penerapan Model Pembelajaran Problem Based

Learning…………………………………………………………….. 24
MAKALAH

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR

PADA MATA PELAJARAN AKUNTANSI DASAR

MATERI MENYUSUN LAPORAN KEUANGAN

PESERTA DIDIK KELAS X AK 2

SMK NEGERI 1 SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2019/2020

I. PENDAHULUAN

Pendidikan secara umum menjadi dasar mutlak masa depan sebuah

negara, secara khusus bagi setiap pribadi menjadi sebuah identitas. Hal ini

mendorong semua negara membangun struktur pendidikan dengan sebaik-

baiknya. Pendidikan harus mendapat porsi yang besar dalam hal dana dan

perhatian secara berkesimbungan karena menyangkut harkat dan martabat

bangsa.

Berbicara masalah Pendidikan skala Nasional, banyak faktor yang

dapat kita temukan.Faktor itu bahkan semakin kompleks, memerlukan

penanganan yang lebih detail. Satu diantaranya adalah faktor model

pembelajaran. Model Pembelajaranyang beragam mampu mengakomodasi

setiap kesulitan dan permasalahan yang dialami oleh guru di dalam kelas.

Guru harus mampu memilih model pembelajaranyang tepat agar proses

pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Karakter siswa, jenis mata

pembelajaran bahkan lokasi tempat mengajar menjadi faktor penentu

1
model pembelajaranapa yang akan kita pilih. Model Pembelajaran yang

tepat akan menentukan keberhasilan pembelajaran dan keberhasilan siswa.

Dengan demikian modelpembelajaran adalah salah satu cara untuk

mencapai tujuan pembelajaran. Semakin tepat penggunaan

modelpembelajaran semakin efektif dan efisien dalam mencapai tujuan

pembelajaran. Untuk menetapkan apakah modelpembelajaran dianggap

tepat diperlukan prinsip yang bersumber dari beberapa faktor - faktor

utama untuk menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Nana

Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari

tujuan pembelajaran, yaitu :

a) Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar

mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan

belajarnya secara mandiri.

b) Memudahkan guru memilih dan Menyusun bahan ajar.

c) Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media

pembelajaran.

d) Memudahkan guru mengadakan penilaian.

Tujuan– tujuan pembelajaran di atas akan berujung kepada

keberhasilan apabila dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Namun dalam kenyataan banyak hal yang menjadi pendukung

keberhasilan tujuan pembelajaran tersebut tidak terlaksana dengan baik.

Penulis mengalami permasalahan di kelas saat menyampaikan mata

pelajaran Akuntansi Dasar Materi Menyusun Laporan Keuangan.Mata

2
pelajaran dengan kombinasi 30 % teori dan 70 % praktek adalah

pengalaman pengalaman yang baru peserta didik. Kondisi ini menuntut

konsentrasi, disiplin dan ingatan yang baik bagi peserta didik agar dapat

mengikuti pembelajaran dengan ritme yang cepat dan berkesinambungan.

Apabila kondisi peserta didik tidak siap, mereka akan tertingggal bahkan

tidak mampu mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini akan membua

tmereka kurang memperhatikan saat pembelajaran berlangsung, tidak

fokus, melamun sendiri, bercengkrama dengan teman semeja, gaduh.

Rendahnya hasil belajar Akuntansi Dasar Materi Menyusun

Laporan Keuangan disebabkan kurang efektifnya proses pembelajaran di

kelas. Faktor negatif yang lain adalah rendahnya aktivitas belajar peserta

didik secara mandiri.Sudah menjadi kebiasan pada pembelajaran

Kompetensi Keahlian Akuntansi dan Keuangan Lembaga, praktik menjadi

bagian yang penting untuk meningkatkan skill setiap peserta didik.

Indikasi kurangnya keaktifan peserta didik antara lain peserta didik

cenderung takut bertanya, penyajian materi kurang menarik dan

keterbatasan kemampuan guru dalam menerapkan variasi metode

pembelajaran.

Untuk mengatasipermasalahan proses belajar Menyusun Laporan

Keuangan diperlukan perubahan kualitas pendidik. Semata-mata bukan

hanya penyusunan kembali kurikulum dalam bentuk rencana pelaksanaan

pembelajaran atau RPP yang lebih sempurna, melainkan pembenahan

3
modelpembelajaran yang tepat dengan memperhatikan mata pelajaran,

fasilitas dan kondisi peserta didik sebagai subyek penelitian yakni

motivasi belajar yang dimiliki, minat, ketekunan dan karakteristik.

Semakin baik modelpembelajaran yang digunakan makin efektif pula

dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang dimaksud.

Berdasarkan uraian diatas maka muncul pertanyaan“ Apakah

Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dapat mengatasi

permasalahan pembelajaran Akuntansi Dasar Materi Menyusun Laporan

Keuangan yaitu meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar peserta didik?

II. KAJIAN TEORI

A. Pengertian MotivasiBelajar

Melakukan kegiatan mengajar secara relative tidak semudah melakukan

kebiasaan yang rutin dilakukan. Oleh karena itu diperlukan adanya

sesuatu yang mendorong kegiatan belajar agar semua tujuan yang

diinginkan dapat tercapai. Hal tersebut adalah adanya motivasi.

Menurut Syamsu (1994: 36) motivasi berasal dari kata motif yang

berarti keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk

bertindak melakukan suatu kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan.

Motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan

keefektifan proses pembelajaran. Menurut Callahan and Clark, motivasi

adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya

tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu (Mulyasa, 2007: 112).

4
Sehubungan dengan motivasi, Maslow menyusun suatu teori tentang

kebutuhan manusia yang bersifat hierarkhis, dan dikelompokkan

menjadi lima tingkat, yaitu: kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman,

kebutuhan kasih sayang, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan akan

aktulisasi diri.

Menurut Whittaker yang dikutipDarsono (2000: 61) motivasi adalah

suatu istilah yang sifatnya luas yang digunakan dalam psikologi yang

meliputi kondisi-kondisi atau keadaan internal yang mengaktifkan atau

member kekuatan pada organisme dan mengarahkan tingkah laku

organism mencapai tujuan. Sedangkan menurut Winkel motivasi adalah

motif yang sudah menjadi aktif pada saat-saat melakukan percobaan,

sedangkan motif sudah ada dalam diri seseorang jauh sebelum orang itu

melakukan suatu perbuatan. Menurut Nasution (2000: 73) motivasi

adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan

sesuatu.

Dalam psikologi motivasi diartikan sebagai suatu kekuatan yang

terdapat dalam diri manusia yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya

untuk melakukan kegiatan. Sedangkan menurut Ahmadi (2004: 83),

motivasi sebagai factor inner(batin) berfungsi menimbulkan, mendasari

dan mengarahkan perbuatan belajar. "Dalamkegiatanbelajar, motivasi

dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri

peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin

kelangsungan kegiatan belajar dan yang memberikan arah kegiatan

5
belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itudapat

tercapai" (Sardiman, 2006: 75).

Sedangkan menurut Mc. Donald yang dikutip oleh Sardiman (2006: 73)

motivasia dalah perubahan energy dalam diri seseorang yang ditandai

dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap

adanya tujuan. Jadi dalam penelitian ini motivasi belajar diartikan

sebagai dorongan yang ada dan timbul dalam diri peserta didik untuk

belajar atau meningkatkan pengetahuan serta pemahaman akuntansinya.

Sesuai dengan pengertian motivasi yang dijelaskan di atas, bahwa tidak

perlu dipertanyakan lagi pentingnya motivasi bagi peserta didik dalam

belajar. Di dalam kenyataan motivasi belajar tidak selalu timbul dalam

diri peserta didik. Ada sebagian peserta didik yang mempunyai

motivasi tinggi namun ada juga yang rendah motivasinya. Oleh karena

itu seorang guru harus bisa membangkitkan motivasi yang terdapat

dalam diri peserta didik agar dapat mencapai tujuan belajar. Bagi

peserta didik yang sudah mempunyai motivasi, guru bertugas untuk

meningkatkan motivasinya, jika guru dapat membangun motivasi

peserta didik terhadap pelajaran yang diajarkan, diharapkan seterusnya

peserta didik akan meminati pelajaran tersebut.

B. Pengertian Hasil belajar

Menurut Hamalik memberikan pengertian tentang hasil belajar

adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang

6
yang dapat diamati dan diukur bentuk pengetahuan, sikap dan

keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan sebagai terjadinya

peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dari sebelumnya dan

yang tidak tahu menjadi tahu Hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil

maksimum yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mengalami

proses belajar mengajar dalam mempelajari materi pelajaran tertentu.

Hasil belajar tidak mutlak berupa nilai saja, akan tetapi dapat berupa

perubahan atau peningkatan sikap, kebiasaan, pengetahuan, keuletan,

ketabahan, penalaran, kedisiplinan, keterampilan dan lain sebagainya

yang menuju pada perubahan positif. Hasil belajar menunjukkan

kemampuan peserta didik yang sebenarnya yang telah mengalami

proses pengalihan ilmu pengetahuan dari seseorang yang dapat

dikatakan dewasa atau memiliki pengetahuan kurang. Jadi dengan

adanya hasil belajar, orang dapat mengetahui seberapa jauh peserta

didik dapat menangkap, memahami, memiliki materi pelajaran

tertentu. Atas dasar itu pendidik dapat menentukan strategi belajar

mengajar yang lebih baik.

Hasil belajar Akuntansi Dasar menurut Kurikulum 13 Pendidikan

adalah peserta didik mampu memahami konsep Akuntasi, menjelaskan

keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma,

secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.

Pesertadidik juga diharapkan mampu memiliki sikap menghargai

kegunaan akuntansi keuangan dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu,

7
perhatian, dan minat dalam mempelajari akuntansi, serta sikap ulet dan

percaya diri dalam pemecahan masalah

1. Indikator dalam Hasil Belajar

Pada prinsipnya, pengungkapanhasilbelajar ideal meliputi

segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman

dan proses belajar peserta didik. Kunci pokok untuk memperoleh

ukuran dan data hasil belajar peserta didik adalah mengetahui garis

besar indikator dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak

diungkapkan atau diukur.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Belajar merupakan proses yang sangat kompleks dan

tidak dapat berjalan sendiri yang dipengaruhi oleh

berbagai faktor dan situasi disekitarnya. Faktor-faktor

yang mempengaruhi proses belajar dapat berasal dari dalam diri

peserta didik atau dari luar dirinya seperti guru atau seorang

pengajar, lingkungan belajar, sarana yang tersedia dan

sebagainya. MenurutMuhibbinsyah (2006: 132-139)

faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar digolongkan

menjadi tiga yaitu :

a). Faktor Internal

Faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, faktor

internal digolongkan menjadi dua golongan yaitu:

b). FaktorFisik

8
Faktor fisik adalah faktor yang berkenaan dengan keadaan

fisik anak yang pada umumnya sangat berpengaruh terhadap

kemampuan belajar peserta didik. Faktor fisik meliputi: usia,

kesehatan tubuh, kelainan atau cacat tubuh, kemalangan,

panca indera, dan keadaan lain yang berhubungan dengan

fisik. Panca indera merupakan pintu gerbang masuknya

pengaruh ke dalam individu berupa berbagai informasi dan

pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar. Baik

buruknya fungsi panca indera sangat menentukan bias

tidaknya peserta didik belajar dengan baik.

c) Faktor Psikologis

Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis, oleh

karena itu semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja

mempengaruhi belajar seseorang.

C. Metode Pembelajaran

Pembelajaran menurut Sudjana (dalam buku psikologi pendidikan,

2007: 80) merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja

oleh pendidik yang dapat menyebabkan peserta didik melakukan

kegiatan belajar. Gulo mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu

aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya

dan menghubungkannya dengan anak didik sehingga terjadi proses

belajar. Biggs (dalam buku psikologi pendidikan, 2007: 80-81)

membagi konsep pembelajaran dalam 3 pengertian, yaitu:

9
1. Pembelajaran dalam pengertian kuantitatif

Secara kuantitatif pembelajaran berarti penularan

pengetahuan dari guru kepada murid. Dalam hal ini guru dituntut

untuk menguasai pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat

menyampaikan kepada peserta didik dengan sebaik-baiknya.

2. Pembelajaran dalam pengertian institusional

Secara institusional pembelajaran berarti penataan segala

kemampuan mengajar sehingga dapat berjalan efisien. Dalam

pengertian ini guru di tuntut untuk selalu siap mengadaptasikan

berbagai teknik mengajar untuk bermacam-macam peserta didik

yang memiliki berbagai perbedaan individual.

3. Pembelajaran dalam pengertian kualitatif

Secara kualitatif pembelajaran berarti upaya guru untuk

memudahkan kegiatan belajar peserta didik Dalam pengertian ini

peran guru dalam pembelajaran tidak sekedar menjejalkan

pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga melibatkan peserta

didik dalam aktivitas belajar yang efektiif dan efisien.

Menurut Sugihartono, (2007:81-85) metode pembelajaran

berarti cara yang dilakukan dalam proses pembelajaran

sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal. Dalam

pembelajaran terdapat beragam jenis metode pembelajaran.

Berikut ini berbagai metode pembelajaran yang dapat dipilih guru

dalam kegiatan pembelajaran :

10
a. Metode ceramah

Metode ceramah merupakan metode penyampaian materi dari

guru kepada peserta didik dengan cara guru menyampaikan

materi melalui bahasa lisan baik verbal maupun non verbal.

b. Metode latihan

Metode latihan merupakan metode penyampaian materi

melalui upaya penanaman terhadap kebiasaan-kebiasaan

tertentu.

c. Metode tanya jawab

Metode Tanya jawab merupakan cara penyajian materi

pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang harus dijawab oleh

anak didik. Dengan metode ini dikembangkan keterampilan

mengamati,menginterpretasi, mengklasifikasikan, membuat

kesimpulan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.

d). Metode karyawisata

Metode karyawisata merupakan metode penyampaian materi

dengan cara membawa langsung anak didik langsung ke

objek di luar kelas atau lingkungan kehidupan nyata agar

peserta didik dapat mengamati atau mengalami secara

langsung.

e). Metode demonstrasi

11
Metode demonstrasi merupakan metode pembelajaran dengan

cara memperlihatkan suatu proses atau cara kerja suatu

benda yang berkaitan dengan bahan pelajaran.

f) Metode sosiodrama

Metode sosiodrama merupakan metode pembelajaran

yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk

melakukan kegiatan memainkan peran tertentu yang terdapat

dalam kehidupan sosial.

g). Metode bermain peran

Metode bermain peran merupakan metode pembelajaran

melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan anak

didik dengan cara anak didik memerankan suatu tokoh baik

tokoh hidup atau bend amati.

h) Metode diskusi

Metode diskusi merupakan metode pembelajaran melalui

pemberian masalah kepada peserta didik dan peserta didik

diminta memecahkan masalah secara kelompok.

i) Metode pemberian tugas dan resitasi

Metode pemberian tugas dan resitasi merupakan

metode pembelajaran melalui pemberian tugas kepada peserta

didik. Misalnya guru menugaskan peserta didik membaca

materi tertentu, selanjutnya guru dapat menambahkan tugas

lain misalnya membaca buku lain sebagai pembanding.

12
D. Materi Akuntansi Dasar

1. Pengertian LaporanKeuangan.

Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi

keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas.Tujuan laporan

keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan,

kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi

sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan

keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil

pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang

dipercayakan kepada mereka.

2. Macam-macam laporan keuangan

a) Laporan laba rugi

Laporan laba-rugi perusahaan dagang menyajikan informasi

mengenai penjualan, harga pokok penjualan, beban usaha,

pendapatan lain-lain, dan biaya lain-lain yang dirangkai kan

untuk mengetahui laba atau rugi. Laporan laba-rugi dapat

disusun dalam bentuk single step (langsung) dan multiple step

(bertahap).

b) Laporan perubahan ekuitas

Laporan perubahan ekuitas/modal merupakan suatu daftar yang

dicatat secara sistematis, yang menjelaskan perubahan modal

setelah perusahaan melakukan kegiatannya selama periode

tertentu. Modal akan bertambah jika laba bersih lebih besar

13
daripada pengambilan prive dan modal akan berkurang jika laba

bersih lebih kecil dari pada pengambilan prive.

c) Neraca

Neraca merupakan suatu daftar yang mencatat secara sistematis

mengenai dari mana perusahaan mendapat uang (berupa uang

dan modal dan dari penjualan barang dagangan) serta

bagaimana perusahaan menggunakan uang itu pada tanggal

tertentu (dan dinyatakan dengan jumlah uang. Penyusunan

neraca bias dalam bentuk skontro maupun bentuk stafel.

3. Kompetensi Dasar Akuntansi Dasar materi Menyusun Laporan

Keuangan

Kompetensi Dasar pelajaran Akuntansi Dasar materi

Menyusun Laporan Keuangan adalah sebagai berikut:

(a) Menganalisis perkiraan untuk menyusun

neraca lajur sebagai pembantu dalam menyusun laporan

keuangan.

(b) Menyusun laporan keuangan.

E. Pengertian Problem Based Learning

Problem Based Learning (PBL) merupakan model kurikulum

yang berhubugan dengan masalah dunia nyata siswa. Masalah yang

diseleksi mempunyai dua karakteristik penting, pertama masalah harus

autentik yang berhubungan dengan kontek sosial siswa, kedua masalah

14
harus berakar pada materi subjek dari kurikulum”. Terdapat tiga ciri

utama dari model Problem Based Learning (PBL).

Pertama, problem based learning merupakan rangkaian aktivitas

pembelajaran, artinya dalam implementasi PBL ada sejumlah kegiatan

yang harus dilakukan siswa, siswa tidak hanya mendengar, mencatat,

kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi melalui model problem

based learning (PBL) siswa menjadi aktif berpikir, berkomunikasi,

mencari dan mengolah data, dan akhirnya membuat kesimpulan.

Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan

masalah. Problem based learning ini menempatkan masalah sebagai

kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya tanpa masalah

pembelajaran tidak akan mungkin bisa berlangsung. Ketiga,

pemecahan masalah menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.

2. PEMBAHASAN

Pembelajaran Akuntansi Dasar yang dilakukan oleh peneliti

selama ini menggunakan metode pembelajaran yang konvensional dan

kurang variatif, monoton sehingga peserta didik merasa jenuh yang

menyebabkan keaktifan belajar menjadi rendah dan mengakibatkan

hasil prestasi belajar belum maksimal.

15
Berdasarkan analisis dan refleksi terhadap kondisi awal maka

peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan

model problem based learning guru membagi peserta didik menjadi 8

kelompok yang terdiridari 4 orang dari masing-masing kelompok,

kemudian guru memberikan latihan-latihan yang harus di laksanakan

dalam kelompok dengan suasana menyenangkan. Kemampuan setiap

peserta didik dalam kelompok terasah karena mereka lebih leluasa

menyampaikan pendapat agar tugas dapat diselesaikan dengan baik.

Peserta didik dalam kelompok saling member masukan serta saran

untuk mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dalam

kelompok tersebut.

A. Perubahan Keaktifan Belajar Peserta Didik

Selama pelaksanaan tindakan guru telah menggunakan metode

problem based learning dalam pelaksanakan pembelajaran secara

maksimal sehingga hasilnya sudah bias dikatakan memenuhi target

yang diinginkan.Perbaikan langkah-langkah pembelajaran yang

dilakukan pada tindakan ternyata membuahkan hasil yang signifikan

yaitu terjadi perubahan yang sangat baik terhadap keaktifan dan hasil

belajar peserta didik.

Setelah diterapkan model pembelajaran problem based learning

terjadi beberapa perubahan sebagai berikut:

a. Partisipasi Peserta didik menjadi lebih baik

16
b. Peserta didik yang mengumpulkan tugas tepat waktu lebih banyak

dari pada sebelum penerapan metode

c. Nilai rata-rata sikap peserta didik mengalami perubahan yang sangat

baik

d. Kerja sama peserta didik mengalami perubahan yang sangat baik

setelah mengunakan model pembelajaran problem based learning

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan

diterapkannya model pembelajaran problem based learning dapat

merubah keaktifan belajar peserta didik menjadi lebih baik. Peserta

didik yang sebelumnya tidak terlihat antusias terhadap pembelajaran,

acuh tak acuh, menjadi bersemangat dalam mengikuti jalannya

pembelajaran. Sehingga jalannya pembelajaran semakin bermakna dan

lebih baik. Hal ini dapat dikatakan bahwa telah terjadi perubahan

keaktifan belajar dari peserta didik, perubahan tersebut dapat dikatakan

perubahan yang sangat baik karena peserta didik mejadi termotivasi

untuk mengikuti jalannya pembelajaran

B. Perubahan Hasil /PrestasiBelajarPesertaDidik

Disamping dampak terhadap keaktifan belajar, ternyata penerapan

model pembelajaran problem based learning berdampak juga pada

perubahan hasil belajar peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari

perubahan hasil belajar peserta didik sebelum penerapan model

17
pembelajaran problem based learning dan setelah penerapan model

pembelajaran problem based learning sebagai berikut :

1. Nilai terendah peserta didik sebelum diterapkannya model

pembelajaran adalah 70 sedangkan setelah diterapkannya model

pembelajaran problem based learning menjadi 76 berarti telah terjadi

perubahan.

2. Nilai tertinggi peserta didik sebelum diterapkannya model

pembelajaran problem based learning adalah 83 dan setelah

diterapkannya model pembelajaran problem pembelajaran menjadi

92 berarti telah terjadi perubahan yang baik.

3. Nilai rata-rata kelas sebelum diterapkannya model pembelajaran

problem based learning adalah 75 dan setelah diterapkannya

pembelajaran dengan mengunakan model pembelajaran problem

based learning menjadi 82 berarti terjadi perubahan yang baik.

4. Ketuntasan klasikal sebelum diterapkannya model pembelajaran

problem based learning adalah 68,75 % dan setelah diterapkannya

model pembelajaran problem based learning menjadi 83,75 % berarti

telah terjadi perubahan yang baik.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta

didik yang sebelum dilaksanakannya model pembelajaran problem

based learning masih rendah jauh dari harapan, tetapi setelah

diterapkannya Model Pembelajaran problem based learning hasil

belajar peserta didik menjadi lebih baik sesuai dengan harapan dari guru

18
yaitu diatas nilai KKM yang ditentukan serta ketuntasan klasikal pun

berubah. Ini menunjukan bahwa dengan diterapkannya model

pembelajaran problem based learning dapat merubah hasil/prestasi

belajar peserta didik dalam mapel akuntansi dasar menjadi lebih baik.

3. PENUTUP

Pendidikan memang tidak bisa kita lepaskan dari peran seorang guru

sebagai ujung tombak pendidikan formal, suatu negara dapat

meningkatkan taraf kehidupan warganya dengan memberikan

pendidikan yang baik dan layak. Hal ini bisa terwujud jika seorang

pendidik mampu dan mau menerapkan berbagai metode pembelajaran

agar terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan. Dengan

suasana pembelajaran yang menyenangkan maka akan mampu

memperbaiki keaktifan belajar peserta didik, yang pada akhirnya juga

akan mampu memperbaiki pula hasil belajar peserta didik menjadi

lebih baik.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut : Bahwa keaktifan belajar peserta didik

mengalami perubahan yang sangat singnifikan, sebelum di terapkan

Model Pembelajaran problem based learning keaktifan belajar peserta

didik sangat rendah. Setelah diterapkan model pembelajaranproblem

based learning keaktifan belajar peserta didik menjadi lebih baik. Hal

ini juga berdampak pada perubahan hasil belajar peserta didik, yang

19
mana sebelum diterapkannya model pembelajaran problem based

learning hasil prestasi belajar peserta didik rata-rata masih di bawah

KKM. Namun setelah diterapkannya model pembelajaran problem

based learning hasil belajar peserta didik menjadi lebih baik yaitu rata-

rata nilai diatas KKM.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa pengunaan

model pembelajaran problem based learning dapat mengatasi

permasalahan pembelajaran mata pelajaran Akuntansi Dasar Materi

Menyusun Neraca Lajur pada peserta didik kelas X AK 2 Sekolah

Menengah Kejuruan Negeri 1 Sragen Kabupaten Sragen.

20
DAFTAR PUSTAKA

Arends R.I 1997 Classroom Intruction and Management .New York: MC Graw-
Hill Companies, Inc

Ahmadi, Abu, dkk. 2004. PsikologiBelajar. Jakarta: RinekaCipta.

Darsono, Max. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: CV. IKIP Semarang
Press.

Muhibbin Syah. 2012. Psikologi Belajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan:  Suatu Panduan  Praktis
.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nasution. 2001. BerbagaiPendekatandalam Proses Belajar dan Mengajar.


Jakarta: BumiAksara.

Oemar, Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Ormrod, Jeanne  Ellis.  (2009).  Psikologi  Pendidikan:  Membantu  Siswa  Tum
buhdan Berkembang. Jakarta: Erlangga.

Rusmono.  2012.  Strategi  Pembelajaran  dengan  Problem  Based  Learning  i
tu
perlu. Bogor: Ghalia Indonesia

Sardiman, AM. 2006. Interaksi dan MotivasiBelajarMengajar. Jakarta: PT. Raja


GrafindoPersada

Sardiman AM. 1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi, Arikunto., Suhardjono. & Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: PT Bumi Aksara

Suprihatiningrum,Jamil.2013.StrategiPembelajaranTeori&Aplikasi.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Syamsu. 1994. TeoriBelajar Orang Dewasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan.

Wahyudin, Agus.2013. Akuntansi Dasar. Semarang: UNNES Press.

21
Wiriaatmadja, Rochiati. 2007. MetodePenelitian Tindakan Kelas. Bandung:
RemajaRosdakarya.

22
LAMPIRAN-LAMPIRAN

LAMPIRAN 1

Hasil ObservasiPeningkatan MotivasiBelajar Peserta didik

SebelumPenerapan dan Setelah Penerapan Model Pembelajaran Problem Based

Learning

Hasil Hasil
Meningkat
PengamatanS Pengamatan
No Peserta Dididk
(%)
ebelum Sesudah
∑ % ∑ %
Peserta didik meresponApersepsi
1 14 60,16 31 79,69 20%
pembelajarandari guru
Peserta didik

2 meresponpenyampaiankompetensi dan 15 62,50 30 77,34 15%

rencanakegiatanpembelajarandari guru
Peserta didik
3 15 62,50 31 78,91 16%
tepatwaktudalammengumpulkan tugas
Peserta didik

4 beranimenyampaikanpendapat pada saat 16 57,81 29 75,78 18%

diskusi kelompok
Pesertadidikmampumenjawabpertanyaa
5 16 57,81 30 78,59 21%
n

Rata-rata 15 60% 30 78% 18%

LAMPIRAN 2

23
Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas X Akuntansi 2

Pada Mata Pelajaran Akuntansi Dasar Materi Menyusun

LaporanKeuanganSebelum dan SesudahPenerapan Model Pembelajaran Problem

Based Learning

Hasil Belajar Peserta Didik


No Uraian Keterangan
Sebelum Sesudah
1 Nilai Terendah 70 70 Meningkat
2 Nilai Tertinggi 90 Meningkat
3 Nilai Rata-rata 85 79 Meningkat
4 Prosentase peningkatan 79% Meningkat
76

76%

24