Anda di halaman 1dari 9

A.

Menentukan jumlah cairan dan nutrisi


Kebutuhan nutrisi dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain status nutrisi, umur,
keadaan klinis dan penyakit yang diderita. Secara sederhana, umumnya kebutuhan cairan
dan kebutuhan energi nutrisi parenteral lebih sedikit daripada nutrisi enteral. Kebutuhan
energi bayi lebih tinggi dibandingkan anak yang terutama digunakan untuk sintesis
protein dan pertumbuhan.

Energi: Bermacam cara digunakan untuk menentukan besarnya kebutuhan energi antara
kain tabel rumus kebutuhan yang dianjurkan (RDA), rumus Harris-Benedict dan
modifikasinya untuk neonatus/bayi dan mengukur BEE dan REE (kalorimetri indirek).

Umur Kebutuhan Kalori Harian (kkal/kg)


NKB 120-140
<6 bulan 90-120
6-12 bulan 80-100
1-7 tahun 75-90
7-12 tahun 60-75
12-18 tahun 30-60

Protein
Nilai gizi protein ditentukan oleh kadar asam amino esensial. Terdapat dua jenis protein
yaitu:
1. Protein hewani yang didapat dari daging hewan
2. Protein nabati yang didapat dari tumbuh-tumbuhan
Nilai gizi protein hewani lebih besar daripada protein nabati dan lebih mudah diserap
oleh tubuh. Walaupun demikian, kombinasi penggunaan protein hewani dan nabati sangat
dianjurkan dalam pemenuhan protein yang seimbang (Yupi Supartini, 2004).
Fungsi protein merupakan konstituen penting bagi semua jaringan tubuh yaitu:
1. Protein menggantikan protein yang hilang selama proses metabolisme yang normal
dan proses pengausan yang normal. Protein akan hilang dalam pembentukan rambut
serta kuku dan sebagai sel-sel mati yang lepas dari permukaan kulit serta traktus
alimentarius dan dalam sekresi pencernaan.
2. Protein menghasilkan jaringan baru. Jaringan baru terbentuk selama masa
pertumbuhan, kesembuhan dari cidera, kehamilan dan laktasi.
3. Protein diperlukan dalam pembuatan protein-protein yang baru dengan fungsi khusus
di dalam tubuh yaitu sebagai enzim, hormon dan hemoglobin.
4. Protein dapat dipakai sebagai sumber energi (Mary E Beck, 2000)
Jumlah protein hendaknya sebesar 15% dari kalori total serta rasio antara kalori nitrogen
dan kalori non nitrogen sebesar 1:150-200 untuk meningkatkan efisiensi penggunakan
protein oleh tubuh.

Gol. Umur (tahun) Protein (g/KgBB)


0-1 (+BBLR) 2.0-3.5
1-7 2.0-2.5
7-12 2.0
12-18 1.5
>18 1.0

Karbohidrat (KH): sebagai sumber energi di samping lemak, KH diberikan dalam


jumlah 40-45% dari kalori total. Berbagai bentuk KH yang umum digunakan adalah
dekstrosa/glukosa, maltosa (glukosa polimer) dan xilitol dengan berbagai konsentrasi.
Dibawah ini adalah kebutuhan kalori untuk bayi dan anak.

Berat badan Permukaan


No Usia Cal/Kg (kg)
(kg) tubuh (m2)
1 Neonatus 2.5-4 0.2-0.23 50
2 1 minggu-6 bulan 3-8 0.23-0.35 60-70
3 6 bulan-12 bulan 8-12 0.35-0.45 50-60
4 12 bulan-24 bulan 10-15 0.45-0.55 45-50
5 2 tahun-5 tahun 15-20 0.6-0.7 45
6 6 tahun-10 tahun 20-35 0.7-1.1 40-45
7 11 tahun-15 tahun 30-60 1.5-1.7 25-40
8 Dewasa 70 1.75 15-20

Lipid: Pada dasarnya lemak tidak banyak dibutuhkan dalam jumlah besar kecuali lemak
esensial yaitu asam linoleat dan asam arakhinonat. Pada bayi sampai kurang lebih 3
bulan, lemak merupakan sumber gliserida dan kolestrol yang tidak dapat dibuat dari
karbohidrat. Lemak berfungsi untuk mempermudah absorpsi vitamin yang larut dalam
lemak yaitu vitamin A, D, E, dan K (Yupi Supartini, 2000).
Fungsi dari lemak sebagai berikut:
1. Sumber energi, lemak dioksidasi di dalam tubuh untuk memberikan energi bagi
aktivitas jaringan dan guna mempertahankan suhu tubuh.
2. Ikut serta membangun jaringan tubuh. Sebagian lemak masuk ke dalam sel-sel tubuh
dan merupakan bagian esensial dari struktur sel tersebut.
3. Perlindungan. Endapan jaringan lemak di sekitar organ tubuh yang penting akan
mempertahankan organ tubuh dalam posisinya dan melindunginya terhadap cedera
4. Penyekat (isolasi). Jaringan lemak subkutan akan mencegah kehilangan panas dari
tubuh.
5. Perasaan kenyang. Adanya lemak di dalam chime ketika lewat dalam duodenum
mengakibatkan penghambatan peristaltik lambung dan sekresi asam, sehingga
menunda waktu pengosongan lambung dan mencegah timbulnya rasa lapar.
6. Vitamin larut dalam lemak. Membantu proses penyerapan dari dalam usus dan
melarutkan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak.

Vitamin: vitamin merupakan komponen nutrisi yang esensial dan berperan sebagai ko-
enzim pada berbagai reaksi metabolik.

Berat Tinggi Vit


Vit A Tiamin Riboflavin Niasin Vit C
Usia badan Badan B12
(RE) (mg) (mg) (mg) (mg)
(kg) (cm) (mg)
0-6
6 60 375 0.3 0.3 2 0.4 40
bulan
7-12
8.5 71 400 0.4 0.4 4 0.5 40
bulan
1-3
12 90 400 0.5 0.5 6 0.9 40
tahun
4-6
17 110 450 0.6 0.6 8 5 45
tahun
7-9
25 120 500 0.9 0.9 10 1.5 45
tahun

Mineral dan elektrolit: Kebutuhan mineral dan elektrolit pada bayi dan anak-anak
terdapat pada tabel di bawah ini.

Elektrolit/mineral Jumlah/kg/hari

Na (mEq) 2.0-4.0

K (mEq) 2.0-3.0

Cl (mEq) 2.0-3.0

Asetat (mEq) 1.0-4.0


PO4 (mM) 0.2-2.0

Ca (glukonat) mg 50-500

Mg (mEq) 0.25-0.5
Jumlah Kalsium dan Fosfor yang dianjurkan

Golongan Umur Ca glukonat (mg/kg/h) Fosfat (mM/kg/h)

Prematur 300-500 1.0-1.5


Neonatus aterm 300-400 1.0-1.5
Bayi/anak 100-200 1.0
Adolesen (remaja) 50-100 0.5-1.0

Cairan: Kebutuhan cairan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, ukuran tubuh,
suhu tubuh dan lingkungan serta keadaan hidrasi pasien. Jumlah cairan tubuh anak lebih
banyak dari dewasa (75% : 60%). Jumlah cairan dapat dinaikkan bertahap untuk
menambah asupan energi yang dikehendaki selama tubuh mentoleransi.
Bayi: dinaikkan sebanyak 10 mL/kg/hari, sampai maksimum 200 mL/kg/hari.
BB>10kg : dinaikkan sebanyak 10% dari volume awal per hari dengan maksimum 2000
mL/m2 /hari.
Kebutuhan cairan berdasarkan BB dan Umur

Golongan Umur BB (Kg) Kebutuhan


Bayi prematur/BBLR <2 150mL/kg
Neonatus dan bayi 2-10 100mL/kg
Bayi dan anak 10-20 1000mL + 50mL/kg
Diatas 10 kg
Anak >20 1500mL + 20mL/kg
Diatas 20 kg

B. Masalah-masalah yang berkaitan dengan pemberian nutrisi


1. Obesitas
Obesitas merupakan peningkatan berat badan yang melebihi 20% batas normal berat
badan seseorang. Obesitas terjadi karena adanya kelebihan asupan kalori dari
kebutuhan normal dan diiringi dengan penurunan penggunaan kalori (kurang aktivitas
fisik).
2. Malnutrisi
Malnutrisi merupakan masalah yang berhubungan dengan kekurangan gizi pada
tingkat seluler atau dapat dikatakan sebagai masalah asupan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan tubuh.

C. Tindakan Untuk Meminimalkan Masalah Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi


1. Pemberian Nutrisi Melalui Oral
Definisi: Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan pada pasien yang tidak
mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri. Tindakan yang dilakukan adalah
dengan membantu memberikan makanan atau nutrisi melalui oral (mulut).
Tujuan: Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dan membangkitkan selera
makan pasien.
Persiapan Alat dan Bahan:
a. Piring
b. Sendok
c. Garpu
d. Gelas
e. Serbet
f. Mangkok cuci tangan
g. Pengalas
h. Jenis diet
Prosedur Kerja:
a. Cuci tangan
b. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
c. Atur posisi pasien
d. Pasang pengalas
e. Anjurkan pasien untuk berdoa sebelum makan
f. Bantu untuk melakukan makan dengan menyuapkan makanan sedikit demi sedikit
dan berikan minum sesudah makan
g. Bila selesai makan, bersihkan mulut pasien dan anjurkan duduk sebentar
h. Catat hasil atau respons pemenuhan terhadap makan
i. Cuci tangan
2. Pemberian Nutrisi Melalui NGT
Definisi: Pemberian nutrisi melalui naso gastric tube (NGT) dengan alasan lebih
aman dan sedikit lebih murah. Pemasangan dilakukan dengan memasukkan selang
melalui hidung hingga makanan dapat masuk ke dalam lambung.
Tujuan:
a. Memenuhi kebutuhan nutrien tubuh yang adekuat
b. Mempertahankan nutrisi oral adekuat
Indikasi
a. Pasien dengan gawat nafas atau tidak sadar
b. Pasien dengan masalah saluran pencernaan atas (stenosis esofagus, tumor mulut
atau faring)
c. Pasien yang tidak mampu menelan
d. Pasien pasca operasi pada faring atau esofagus
Persiapan Alat dan Bahan
a. APD yang terdiri atas:
1) Apron
2) Masker
3) Handscon
b. Makanan cair yang hangat (ASI)
c. Bak instrumen
d. Spuit 20-60 cc
e. Tisu
f. Gelas yang berisi air minum hangat
g. Stetoskop
h. Perlak
i. Plester
j. Bengkok
Prosedur Kerja
a. Cek kebutuhan pasien
b. Mempersiapkan alat
c. Salam terapeutik
d. Menjaga privasi pasien
e. Mencuci tangan
f. Memakai APD (apron dan masker)
g. Menyiapkan alat di samping tempat tidur pasien
h. Mengkaji adanya alergi makanan, bising usus, masalah-masalah yang berkaitan
dengan pemberian makanan melalui NGT (muntah, diare, konstipasi, distensi
abdomen).
i. Membantu klien dalam mengatur posisi kepala bayi dalam posisi semi fowler atau
ekstensi.
j. Memasang perlak dan pengalas pada pasien
k. Melakukan pengecekkan kepatenan posisi NGT: aspirasi isi lambung dengan
menggunakan stetoskop atau dengan menggunakan kertas lakmus
l. Menutup klem dan memasang corong
m. Memasukkan air hangat dengan membuka selang setinggi 30 cm.
n. Menutup klem sebelum air habis
o. Memasukkan makanan cair dan membuka klem kembali
p. Menutup kembali klem sebelum makanan habis
q. Membilas selang dengan air minum
r. Menutup kembali ujung NGT dengan menggunakan klem.
s. Setelah semua makanan dan minuman masuk, cek kembali kebersihan NGT, bila
perlu bersihkan NGT dengan air bersih (air minum)
t. Bila perlu ganti plester di sekitar pemasangan NGT
u. Merapikan klien
v. Evaluasi
w. Membereskan peralatan
x. Cuci tangan
y. Dokumentasi
Hal-hal yang harus diperhatikan
a. Perlu diperhatikan cara pemberian nutrisi melalui NGT tidak perlu didorong
dengan spuit, biarkan cairan mengalir secara perlahan.\
b. Perlu diperhatikan jadwal pemberian makanan, ada makanan yang dibersihkan
setiap 4 jam, 6 jam dan 8 jam.
c. Ajarkan klien dan pemberi makan untuk tetap menutup klem NGT selama
makanan tidak diberikan.
3. Pemberian Nutrisi Melalui OGT
Definisi: pemberian nutrisi melalui Oral Gastric Tube adalah memberikan makanan
kepada klien sesuai dengan diet melalui selang OGT (Ambarwati, 2009).
Tujuan:
a. Menurut Kusiyati (2009), tujuan dari pemberian nutrisi melalui OGT yaitu untuk
memberikan makanan cair ke dalam lambung dengan menggunakan sonde
lambung melalui mulut.
b. Menurut Ambarawati (2009), tujuan dari pemberian nutrisi melalui OGT yaitu
untuk memperbaiki atau mempertahankan status nutrisi klien dan untuk
memberikan obat.
Indikasi
a. Pasien dengan gawat nafas atau tidak sadar
b. Pasien dengan masalah saluran pencernaan atas (stenosis esofagus, tumor mulut
atau faring)
c. Pasien yang tidak mampu menelan
d. Pasien pasca operasi pada faring atau esofagus
Persiapan Alat dan Bahan
a. APD yang terdiri atas
1) Apron
2) Masker
3) Handscon
b. Bak instrumen
c. Makanan cair yang hangat (ASI)
d. Spuit 20-40 cc
e. Tisu
f. Gelas yang berisi air minum hangat
g. Bengkok
Prosedur Kerja
a. Cek kebutuhan pasien
b. Mempersiapkan alat
c. Salam terapeutik
d. Menjaga privasi pasien
e. Mencuci tangan
f. Memakai APD (apron, masker)
g. Menyiapkan alat disamping tempat tidur pasien
h. Mengkaji adanya alergi makanan, bising usus, masalah-masalah yang berkaitan
dengan pemberian makanan melalui OGT (muntah, diare, konstipasi, distensi
abdomen)
i. Membantu klien dalam mengatur posisi kepala bayi dalam posisi semi fowler atau
ekstensi.
j. Mengecek penempatan/kepatenan OGT
k. Menggunakan sarung tangan
l. Membuka spuit yang telah terpasang, ketika akan membuka spuit pada pangkal
selang OGT klem terlebih dahulu dengan cara menekuk pangkal selang,
kemudian lepaskan spuit dari pangkal selang OGT dan lepaskan klem.
m. Melakukan aspirasi dengan menggunakan spuit yang telah terpasang untuk
memastikan kadar residu lambung.
n. Selanjutnya ambil air minum hangat terlebih dahulu yang sudah tersedia dalam
gelas dengan menggunakan spuit dan masukkan ujung spuit pada ujung pangkal
selang OGT tinggikan 45 cm dari atas abdomen klien hingga air minum masuk.
o. Kemudian ambil makanan cair yang telah disediakan dalam gelas dengan
menggunakan spuit, lap ujung spuit dengan menggunakan tisu dan masukkan
ujung spuit pada pangkal selang OGT, tinggikan 45 cm dari atas abdomen klien
hingga makanan masuk.
p. Berikan minuman hangat kembali
q. Sendawakan bayi agar tidak terjadi gumoh
r. Posisikan kembali klien ke dalam posisi semula.
s. Merapikan klien
t. Evaluasi
u. Membereskan peralatan
v. Cuci tangan
w. Dokumentasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Makanan dan minuman yang diberikan adalah makanan cair, makanan yang
diblender halus, dan formula khusus makanan internal.
b. Sebelum dan sesudah makan dianjurkan untuk memberi air matang hangat
terlebih dahulu.
c. Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam selang saat memberikan makan
dan minum
d. Pastikan selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makanan.
e. Residu lambung harus dicek sebelum memberikan makanan. Residu >50 cc maka
tunda pemberian sampai 1 jam. Jika setelah satu jam jumlah residu tetap,
kolaborasi dengan dokter untuk tindakan selanjutnya.
f. Hindari mendorong makanan untuk mencegah iritasi lambung. Kecepatan yang
direkomendasikan adalah pemberian dengan ketinggian 45 cm dari abdomen.
g. Perhatikan interaksi obat dengan makanan, terutama dengan susu jika ada
pemberian obat per oral.

Anda mungkin juga menyukai