Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

LANDASAN ILMIAH ILMU PENDIDIKAN


MODUL 6: PENILAIAN PEMBELAJARAN

Dosen Pembina :
Prof. Dr. Prayitno, M.Sc., Ed.
Dr. Yarmis Syukur, M.Pd., Kons.

Oleh Kelompok 5 :

FARDHATUL RIANI PUTRI (19151012)


HAMIDAH NASUTION (19151016)
SUCIANA FITRIANI (19151050)

PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN


JURUSAN BIMBINGAN KONSELING
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
BAB III

BELAJAR TUNTAS

DAN MAJU BERKELANJUTAN

A. Konsep Dasar dan Pokok-Pokok Kaidahnya

Sasaran penilaian hasil pembelajaran sesungguhnyalah sangat luas dan boleh


dikatakan menjangkau seluruh latar belakang dan latar depan kehidupan peserta didik.
Terkait dengan upaya Pendidikan, sasaran penilaian menjangkau wilayah yang
tercakup di dalam unsur-unsur dimensi belajar (dimensi tahu, bisa, mau, biasa, dan
ikhlas), unsur-unsur lima-I (iman dan takwa, inisiatif, industrius, individual, dan
interaksi), serta unsur-unsur pembelajaran transformative (transformsai potensi,
WPKNS, social ekonomi, budaya dan antar generasi, serta dunia-akhirat). Dalam
kaitan itu semua, kenyataan tentang gambaran hasil pembelajaran sesaat yang telah
diperbincangan terlebih dahulu sesungguhnyalah ibarat setitik air di tengan lautan
perkembangan (seorang) peserta didik. Adalah menjadi sangat ironis apabila setitik air
itu justru ternyata nila ataupun virus yang lebih banyak sisi negitfnya sebagai buah
malapraktik dan kecelakaan Pendidikan.

Mengacu kepada realisasi fungsi transformative Pendidikan dengan ideologi


lima-I, apa yang dinamakan hasil pembelajaran yang bersifat sesaat itu perlu
dikembangkan menjadi catatan perkembangan yang berposisi jelas dalam peta
perkembangan perserta didik. “Data sesaat” hendaknya tidak dibiarkan berkeadaan
sendiri dan ditafsirkan secara sendirian pula, melainkan dikaitkan kepada dan
Bersama berbagai data lain, sehingga makna keseluruhannya menjadi lebih
komprehensif dan benar-benar bernilai transformative. Dalam kaitan ini sampailah
kita pada pembahasan tentang Belajar Tuntas dan Maju Berkelanjutan dalam proses
pembelajaran.

1. Makna Belajar Tuntas


Apa artinya tuntas? Tuntas artinya “tidak tersisa”; seluruhnya telah di……:
misalnya dikerjakan; dibicarakan; dipelajari; dikuasai; diambil; dimakan;
dibaca; diajarkan; ditangani; dibuang; dicapai; dijalani; dan sebagainya.
Apanya yang di … itu, sehingga tidak tersisa? Yaitu sesuatu yang menjadi target
untuk di… itu. Misalnya setumpuk sampah dengan volume kira-kira 5 meter
kubik dibakar. Apa targetnya? Yaitu membakar semua sampah sebanyak 5 m3 itu.
Petugas pembakar sampah harus membakar smapah itu seluruhnya, sampai habis,
tidak tersisa. Mampukah petugas menuntaskan tugasnya itu? Contoh lain: seorang
mahasiswa menerima kiriman novel baru setebal 456 halaman. Ia berminat
membaca novel itu sampai tamat dalam seminggu. Dapatkah mahasiswa itu
mencapai target membaca novel itu, semua halaman, dalam seminggu?
Menuntuskannya, membaca sampai habis, tidak tersisa dalam seminggu? Contoh
lain lagi : sebagai program kegiatannya yang paling awal, seorang camat baru
hendak berdialog secara pribadi dengan semua lurah (kepala desa) di wilayah
kecamatannya yang berjumlah 17 orang dalam 8 hari. Pertanyaannya: mampukah
sang camat baru menuntaskan program awalnya itu dalam waktu yang ditetapkan,
tanpa tersisa? Semua lurah ditemui dan diajak berdialog dalam 8hari?

Dengan ketiga contoh diatas, dapat diketahui dengan jelas apa yang menjadi
target ketiga orang yang dimaksud, yaitu petugas sampah, mahasiswa dan camat.
Ketiganya berhadapan dengan satu tugas atau kegiatan berkenaan dengan
ketuntasan tertentu; yaitu melaksanakan sesuatu semuanya sampai habis; tidak
tersisa sedikitpun. Petugas sampah membakar sampah, mahasiswa membaca
novel, dan camat berdialog secara pribadi dengan lurah.

Berkenaan dengan masalah ketuntasan sebagaimana digambarkan di atas,


dalam dunia Pendidikan di tanah air dikenal dan dipraktikkan apa yang disebut
belajar tuntas, yang mestinya berarti semua bahan pelajaran dipelajari sampai
habis, tidak tersisa. Dapat dipahami bahwa hal-hal yang dimaksudkan dengan
belajar tuntas itu semestinyalah terarah pada upaya yang diharapkan dapat
mengoptimalkan hasil pembelajaran peserta didik. Jika demikian halnya, istilah
“tuntas” itu agaknya terkait langsung dengan istilah “optimal” yang seringkali
digunakan dalam pembicaraan tentang pengembangan potensi peserta didik. Lebih
jauh, istilah “tuntas” dan “optimal” itu sering secara akrab dikaitkan pula dengan
proses pengembangan peserta didik dari waktu ke waktu, setahap demi setahap,
yang diharapkan terus maju berkelanjutan.
2. Target Belajar Tuntas

Upaya Pendidikan yang terwujud melalui penyelenggaraan proses


pembelajaran memang diharapkan dapat menuntaskan pengembangan potensi
peserta didik. Sebagai suatu upaya, ketuntasan proses pembelajaran yang
menghasilkan optimalisasi pengembangan potensi tidaklah berjalan begitu saja,
atau berlangsung apa adanya, apalagi jatuh dari langit. Ketiga komponen utama
upaya Pendidikan, yaitu peserta didik, pendidik, dan pengelola Pendidikan
memegang peran amat penting dalam upaya penuntasan proses pembelajaran ity.

a. Target Umum Belajar Tuntas

Dipandang dari semua sisi, peserta didik adalah bintang penuh makna dan
energi yang diharapkan dapat menuntaskan perkembangan dirinya. Pertanyaan
adalah: perkembangan tuntas yang bagaimana? Dalam hal ini perlu dibicarakan apa
yang menjadi target perkembangan peserta didik. Target ini terletak pada berbagai
wilayah perkembangan dan kehidupan peserta didik, terutama berkenaan dengan
potensi diri dan tugas-tugas perkembangannya. Di samping itu target-target dalam
proses pembelajaran yang dijalani peserta didik, seperti standar konrpetensi
lulusan (SKL) yang di dalamnya dapat dimuatkan dimensi belajar, scperti dimensi
tahu, dimensi bisa, dimensi mau dan dimensi terbiasa yang memerlukan perhatian
sungguh-sungguh.

b. Ketuntasan Belajar pada Satuan Pendidikan

Dari literatur dapat dijumpai istilah mastery learning, yang arti katanya
adalah: belajar untuk menguasai. Memang demikianlah; belajar adalah usaha
untuk menguasai. Menguasai apa? Menguasai sesuatu yang baru, sebagaimana
telah diuraikan terdahulu. Di sana disebutkan ada lima dimensi dari sesuatu yang
baru yang perlu dikuasai melalui kegiatan belajar, yaitu dimensi tahu (dari tidak
tahu menjadi tahu), dimensi bisa (dari tidak bisa menjadi bisa), dimensi mau (dari
tidak mau menjadi mau), dimensi biasa (dari tidak biasa menjadi terbiasa), dan
dimensi ikhlas (dari tidak ikhlas menjadi ikhlas).
Kelima dimensi bclajar ini sepenuhnya menjadi muatan dari substansi semua
materi pembelajaran.

Di Indonesia dikenal istilah belajar tuntas sebagai terjemahan mastery


learning, padahal di dalam istilah learning itu belum terimplisitkan pengertian
ketuntasan sebagaimana dimaksudkan pada awal bagian ini, vaitu dilakukannya
suatu kegiatan habis-habisan, seluruh targetnya diselesaikan tanpa tersisa.
Memang, antara belajar tuntas dan mastery learning ada kesamaan nuansa,
terutama dalam hal keseriusan pelaksanaan kegiatan dengan mengerahkan segenap
energi pembelajaran yang ada. Di atas kesamaan nuansa itu, di dalam mastery
learning belum ditetapkan target tertentu, sedangkan di dalam belajar tuntas
semestinyalah sudah ditetapkan adanya target-target yang hendak dituntaskan
pembelajarannya.

Terkait dengan istilah belajar tuntas dan pemaknaannya, pada satuan-satuan


pendidikan di Indonesia berkembang dua fenomena yang cukup menonjol, yaitu
ketetapan tentang (a) standar kompetensi lulusan (SKL), dan (b) kriteria ketuntasan
rninirnal (KKM). SKL merupakan ketetapan pemerintah melalui Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan, sedangkan KKM merupakan ketentuan yang ditetapkan oleh
satuan pendidikan (sekolah/madrasah) tentang sampai sejauh mana peserta didik
(siswa) diharapkan minimal rnenguasai materi pembelajaran untuk mata pelajaran
tertentu.

1) Standar Kompetensi Lulusan

SKL merupakan kctentuan tcntang batas minimal pcnguasaan hasil


pcmbelajaran yang diperoleh peserta didik untuk dapat dinyatakan lulus
atau tamat dari satuan pendidikan tertentu (dalam hal ini sekolah/madrasah
atau yang sederajat). SKL itu ditetapkan untuk setiap satuan pendidikan,
setiap kelompok mata pelajaran, dan setiap mata pelajaran yang
dibelajarkan pada satuan pendidikan yang dimaksud. SKL untuk mata
pelajaran tertentu merupakan akumulasi dari standar kompetensi (SK) dan
kompetensi dasar (KD) mata pelajaran yang dimaksud.

SKL dengan SK dan KD-nya mcrupakan arahan yang cukup jelas dan
cermat untuk disusunnya materi bagi diselenggarakannya proses
pembelajaran menuju penguasaan kompetensi standar pada akhir pembe-
lajaran. Lebih jauh, adalah kewajiban guru untuk secara konsisten tetapi
secara dinamik menerapkan ketentuan tentang SKL dengan SK dan KD-nya
itu menjadi proses pembelajaran yang mengoptimalkan pengembangan
potensi peserta didik.

2) Kriteria Ketuntasan Minimal

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) merupakan acuan untuk


menetapkan seorang peserta didik/siswa secara minimal memenuhi
persyaratan penguasaan atas materi pclajaran tertentu. Misalnya,
pelajaran IPS di suatu SMP KKM-nya adalah 70. Hal ini berarti bahwa
scorang siswa di SMP tcrscbut dinyatakan “tuntnas" dalam mata
pelajaran IPS apabila ia menguasai 70% dari scluruh materi IPS yang
dibelajarkan; pcnguasaan di bawah 70% berarti "belum tuntas".
Pertanyaannya adalah: apa artinya tuntas dan belum tuntas itu? Mengapa
70% dianggap tuntas, padahal tuntas maknanya adalah habis-habisan,
tanpa bersisa? Dalam pengertian "habis-habisan, tanpa tersisa" itu, tuntas
berkonotasi 100%. Dengan demikian, ketuntasan penguasaan materi IPS
di satuan pendidikan (SMP) itu semestinya adalah 100%. Penguasaan di
bawah 100% adalah penguasaan yang belum tuntas. Dengan demikian
KKM dengan nilai atau 70 itu sebenarnyalah belum tuntas.

Agaknya, latar belakang disusun dan ditetapkannya KKM dengan


nilai atau harga tertentu (yang setiap kali dapat berubah) adalah karena
anggapan bahwa tidak semua siswa mampu mencapai penguasaan 100%
atas materi pelajaran; oleh karenanya, perlu diambil patokan untuk
menetapkan siswa yang "lulus" dan "tidak lulus" dalam mata pelajaran
tertentu. Patokan yang dimaksudkan itu biasanya diambil dari
penguasaan rata-rata scmua siswa yang mengikuti mata pelajaran
tersebut pada akhir mata pelajaran (biasanya dalam satuan waktu satu
semester). Penguasaan rata-rata itu tidak sama untuk berbagai kondisi
yang berbeda; oleh karenanya KKM itupun dapat tidak sama, terutama
berkaitan dengan kompleksitas dan kesulitan materi pelajaran, kualitas
intake (yaitu tingkat kemampuan dasar atau potensi siswa yang
mengikuti mata pelajaran), dari kualitas prasana dan sarana. Makin
kompleks dan sulit materi pelajaran, makin rendah kualitas intake, serta
makin rendah kualitas prasarana dan sarana, maka patokan berupa KKM
makin diturunkan.

Memperhatikan beberapa pertimbangan dalam penetapan KKM di


atas, beberapa catatan dapat diberikan, sebagai berikut. Pertama, dalam
penetapan KKM, matapelajaran-matapelajaran yang diklarifi-kasikan ke
dalam kategori tertentu, misalnya mata pelajaran yang sulit, sedang, dan
mudah. Misalnya, pelajaran Matematika dan IPA diklasifikasikan sulit,
Bahasa sedang, IPS mudah. Pertanyaannya: atas dasar apa klarifikasi itu
ditetapkan? Padahal, sukar dan mudahnya materi pelajaran tidak semata-
mata terletak pada kondisi inheren materi itu sendiri, melainkan terutama
sekali ditentukan oleh kondisi operasional pembelajaran yang melibatkan
peranan peserta didik dan kondisi lingkungan. Peranan guru sangat
dominan untuk menjadikan suatu materi pelajaran menjadi mudah atau
sulit dipelajari siswa.

Kedua, penetapan kualitas intake bernuansa pendegradasian potensi


siswa ke arah rata-rata. Kemampuan awal atau potensi siswa
disamaratakan, padahal di antara mereka pasti ada sejumlah siswa yang
berpotensi tinggi. Tugas guru adalah mendorong pengembangan potensi
siswa secara optimal. Potensi yang tinggi di dorong berkembang semakin
tinggi, dan potensi yang sedang bahkan yang kurang pun, juga didorong
untuk mencapai hasil yang setinggitingginya sesuai potensinya itu.
Penetapan patokan pada posisi rata-rata itu dikhawatirkan tidak
merangsang siswa yang berpotensi tinggi untuk mencapai tingkat
pencapaian yang tinggi. Di samping itu, guru-guru yang sekedar
mengandalkan KKM kurang berusaha mendorong siswa-siswanya
mencapai penguasaan yang lebih tinggi, apalagi tertinggi.

Ketiga, penetapan kualitas (apalagi dengan asumsi kualitas rendah)


prasarana dan sarana di awal proses pembelajaran dapat mendorong
guru, dan juga siswa, untuk mengarah pada kondisi prasarana dan sarana
apa adanya. Guru, dan juga siswa, akan cenderung bersikap pasif: “untuk
apa bekerja atau belajar keras, kalau prasarana dan sarana kurang
mendukung”, Atau : “Ya pantaslah kalau hasil belajar-nya rendah,
prasarana dan sarana kan tidak mendukung”. Sikap seperti itu secara
pasti tidak menguntungkan bagi penyelenggaraan proses pembelajaran
yang aktif dan dinamis demi pengembangan potensi siswa secara
optimal. Dalam hal ini, guru berkewajiban dan bertanggung jawab untuk
mengsinergikan sebesar-besarnya kondisi liigkungan (yang di dalamnya
terdapat prasarana dan sarana) yang ada. Kewiyataan dalam proses
pembelajran yang berprinsip alam takambang jadi guru perlu diterapkan
berkenaan dengan kondisi prasarana dan sarana itu.

Catatan lain perlu dikemukakan adalah berkenaan dengan


keterkaitan antara KKM dengan SKL. Sebagaimana dikemukakan
terdahulu, SKL dihasilkan melalui diterapkannya SK dan KD mata
pelajaran. Diketahui pula bahwa SKL adalah standar minimal
terselesaikan: sampai habis, tidak tersisa: sampai tuntas Namun
demikian, peserta didik, lebih-lebih peserta didik berusia muda tidak
boleh dibiarkan mencapai target-target ini sendirian. Pendidik harus
membangun sistem sehingga prosedur pembelajaran yang dikembangkan
menjadi arena bagi peserta didik mengaktifkan dirinya mencapai target-
target itu. Dalam arena pembelajaran yang mengaktif-kan itu peserta
didik diharapkan tidak mengalami hambatan yang berarti untuk maju.
“Maju terus, anakku sayang”, kata sang pendidik “Kamu pasti bisa. Ayo
maju lagi: maju lagi, maju terus, terus maju". Kesempatan untuk maju
perlu dan selalu dipacu sehingga peserta didik tanpa henti meraih
prestasi sesuai dengan potensi mereka. Peserta didik dengan potensi
tinggi maju dengan langkah tegap dan panjang: peserta didik yang
potensinya pas-pasan atau bahkan kurang pun terus dipacu untuk maju.
Mereka yang kurang kuat diperkuat dengan berbagai cara: ibaratnya
yang tertatih-tatih dibimbing dan disangga sehingga mampu bergerak
maju, dengan cara. merangkak pun oke juga, yang penting peserta didik
terus maju. Demikianlah suasana maju berkelanjutan dalam proses
pembelajaran”, Untuk memungkinkan peserta didik menjalani proses
pembelajaran dalam suasana maju berkelanjutan pendidik perlu aktif
menetapkan target-target pembelajaran, merentang jalan dan
mengembangkan suasana bagi kehangatan dan kegairahan peserta didik
meraih satu demi satu target pembelajaran itu, Jika diperlukan bahkan
pendidik membangun jembatan dan merintis titian agar peserta didik
dapat menyeberangi riak dan menembus rintangan utnuk mencapai target
yang perlu digapai dan diraihnya itu ',

Target minimal (seperti SKL) adalah sasaran terdekat bagi peserta


didik berbakat, untuk selanjutnya maju terus mencapai target-target
berikutnya seoptimal mungkin. Bagi peserta didik yang kurang berbakat
target-target minimal merupakan sasaran harapan yang terus dengan
segenap daya diupayakan pencapaiannya. Jika diperlukan, bagi peserta
didik yang kurang beruntung, target minimal yang telah ditetapkan
terdahulu dapat diturunkan dan disesuaikan dengan kemampuan mereka.
Jalan atau pola maju berkelanjutan dalam pengelolaan proses
pembelajaran setiap kali disesuai-kan dengan kemampuan dasar dan
kondisi kemajuan yang diperoleh peserta didik dari waktu ke waktu.
Pengembangan suasana pembelajaran yang memungkinkan maju
berkelanjutan bagi peserta didik sangat memerlukan penerapan
kewibawaan dan kewiyataan oleh pendidik. Dalam Operasionalnya,
pengembangan suasana maju berkelanjutan jbagi peserta didik
memerlukan di selenggarakannya pokok'pokok berikut.

a. Identifikasi potensi/kemampuan peserta didik


Setiap peserta didik perlu diketahui potensi dengan
kemampuannya sebagai dasar untuk “mengarahkan dan mengatur”
kecepatan dan langkah-langkah kemajuannya yang berkelanjutan.
Mereka yang lebih berpotensi berkemampuan akan melangkah lebih
cepat dan lurus sedangkan yang kurang berpotensi/berkemampuan
lebih lambat dan mungkin harus berbelok atau bahkan berliku-liku.
Data tentang potensi/kemampuan peserta didik itu perlu dibenahi
dengan tepat dan lengkap oleh pendidik dan dapat digunakan secara
tepat dan berdaya guna terhadap peserta didiknya terkait dengan hal-
hal selanjutnya sebagai berikut.

b. Tersusunnya target-target pembelajaran

Target-target minimal, seperti SKL, untuk semua siswa ditetapkan


untuk setiap mata pelajaran, semester dan tingkatan. SKL ini disertai
SK dan KD digunakan sebagai acuan operasional pembelajaran dari
waktu ke waktu. Untuk praktis pelaksanannya, SK dan KD dapat
dirinci agar lebih konkrit dan terjangkau bagi peserta didik yang
mengikuti pembelajarannya. Berbagai target yang ditetapkan itu perlu
diketahui oleh peserta didik agar mereka sadar dan termotivasi untuk
mencapainya.

Lebih jauh, target-target yang melebihi (di atas) minimal juga


perlu disusun dan diperkenalkan kepada peserta didik. Mereka yang
berpotensi/berkemampuan tinggi biasanya terpicu untuk meraih
target-target di atas minimal itu.

c. Kesempatan peserta didik beraktivitas optimal

Penegakan kewibawaan (high-touch) dengan suasana ing ngarso


sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani dan
penerapan kewiyataan (high-tech) dengan prinsip alam takambang
jadi guru secara konsisten dan efektif akan melicinkan jalan bagi
perjalanan peserta didik yang maju berkelanjutan dalam proses
pembelajaran. Suasana kondusif, pengarahan strategis, dan pelayanan
efektif diperoleh peserta didik sepanjang proses pembelaajran dan
kegiatan belajarnya.

Pencapaian setiap target, baik target kecil, target antara, dan


target akhir ditempuh dengan memanfaatkan kelengkapan yang ada,
seperti berbagai surbber dan peralatan belajar. Peserta didik yang
lebih berpotensi" berkemampuan dapat pula dimanfaatkan untuk
membantu peserta lainnya yang memerlukan”. Efek ganda akan
diperoleh melalui kegiatan seperti ini, peserta didik yang membantu
semakin percaya dan memantapkan diri, sedangkan peserta didik yang
dibantu memperoleh apa yang mereka perlukan melalui cara yang
lebih mudah dan langsung.

d. Pencapaian target dan penilaian berkelanjutan

Kegiatan belajar untuk mencapai target tidak dihambat ataupun


dibatasi. Setiap peserta didik ibarat berlari secepat dirinya bisa dan
satu persatu mencapai finish target-target itu. Dalam waktu yang
bersamaan target-target yang dicapai oleh berbagai peserta didik tidak
perlu sama, Peserta didik yang satu lebih maju, peserta didik yang
satu lagi masih berbenah diri, dan peserta didik yang lain sedang
membantu teman menekuni target tertentu melalui kegiatan BBTS.
Tidak seorang pun peserta didik terhambat atau harus menunggu atau
terganggu oleh peserta didik lainnya mencapai target tertentu. Mereka
berpacu dan bersaing secara sehat tanpa saling mengganggu atau
menjegal, saling menanti atau membebani, bahkan sedapat-dapatnya
saling membantu dan bersekutu.

Dalam mengamati dan mendorong gerak langkah peserta didik


mencapai target-target pembelajarannya pendidik selalu tanggap dan
sigap dalam menangkap sinyal tentang kemampuan dan/atau kondisi
kemajuan peserta didik. Pendidik memberikan penilaian tentang
kemampuan dan kemajuan peserta didik berkenaan dengan target-
target yang hendak dicapainya. Pendidik memiliki catatan
perkembangan tentang kemajuan belajar peserta didik. Pemberian
kesempatan arahan dan dorongan untuk maju berkelanjutan bagi
peserta didik didasarkan atas catatan perkembangan yang tepat dan
dinamik yang berkelanjutan dari waktu ke waktu.

e. Tindak lanjut atas kondisi pencapaian target


Sampai berapa jauh peserta didik mencapai target tertentu dan
kondisi yang mengiringinya dari waktu ke waktu mendapat
pemantauan secara cermat oleh pendidik. Atas dasar penilaian yang
bersifat kondusional berkelanjutan seperti itu pendidik dapat
memberikan upaya tindak lanjut tertentu. Pengajaran perbaikan atau
bahkan pengajaran ulang diberikan kepada peserta didik yang
memerlukan untuk mampu mencapai target tertentu, dan pemberian
pengayaan bagi mereka yang telah mencapai target sebagaimana
diharapkan. Pemberian kesempatan untuk menjalani pembelajaran
untuk mencapai target lebih cepat dari yang direncanakan dan/atau
pencapaian target di atas standar minimal pada dasarnya merupakan
pengayaan atau bonus bagi mereka yang kesempatan/kemajuan
belajarnya cukup besar.

Tindak lanjut atas kondisi pencapaian target tersebut di atas,


selain diberikan dalam bentuk kegiatan pengajar-an oleh guru,
hendaknya juga diberikan dalam wujud (a) pelayanan konseling untuk
memperkuatkan kemampuan belajar mereka dan pengembangan
kemampuan pribadi, sosial dan orientasi karir peserta didik, serta (b)
kegiatan ekstra kurikuler yang tepat. Baik secara langsung ataupun
tidak langsung pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler
tersebut dapat menunjang penyelenggaraan pengajaran perbaikan stau
pengajaran ulangan dan pengayaan, di samping menunjang
pengembangan secara penuh dan optimal potensi peserta didik.

Pola maju berkelanjutan dalam pengelolaan pembelajar-an membuka


kesempatan seluas-luasnya bagi setiap peserta didik untuk mengembangkan
segenap potensi dirinya secara optimal. Tiada seorang pun peserta didik akan
dihambat dalam menjalani proses pembelajaran, baik hambatan tegal
struktural maupun Operasional. Segenap peraturan perundangan menjamin
semua siswa berkembang dan maju sesuai dengan potensi dan kemampuan
dirinya sendiri tanpa hambatan. Segenap perangkat pendidikan
penyelenggara proses pembelajaran wajib mengupayakan terselenggaranya
hal tersebut secara konsisten. Oleh karena itu pola maju berkelanjutan diberi
sifat dinamik dan pola terminal diberi sifat statik.

Peraturan perundangan menegaskan, misalnya, anak yang telah berusia


tahun berhak mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar (SD), padahal wajib
belajar (masuk SD) dimulai umur tujuh tahun. Aturan ini menegaskan bahwa
proses pendidikan formal dapat dimulai lebih awal dari yang diwajibkan.
Lebih jauh, peserta didik pun memiliki kesempatan untuk menyelesaikan
masa studi pada satuan pendidikan lebih singkat dari masa studi standar
satuan pendidikan yang dimaksud. Siswa SD misalnya, dapat menyelesaikan
studi SDnya kurang dari enam tahun: siswa SLTP dan SLTA kurang dari tiga
tahun mahasiswa dapat menyelesaikan masa studi di perguruan tingginya
kurang dari masa studi standar program Studi masing-masing di perguruan
tinggi yang dimaksudkan.

Pelaksanaan proses pembelajaran tidak diperkenankan menghambat,


apalagi mencederai berlangsungnya maju berkelanjutan peserta didik.
Tindakan mengeluarkan siswa dari sekolah, melarang siswa masuk sekolah
(skorsing), sistim mengulang kelas, termasuk ke dalam tindakan yang
menghambat seperti itu Praktik pembelajaran yang tertunda, karena guru
berhalangan hadir misalnya, penggunaan metode mengajar yang menolak
penerapan pelayanan berdasarkan perbedaan individual peserta didik semua
itu termasuk hambatan, terhadap terlaksananya maju berkelanjutan bagi
peserta didik. Adalah tanggung jawab sepenuhnya pendidik untuk secara
konsisten memberikan kesempatan kepada peserta didik maju berkelanjutan
untuk pengembangan potensi mereka secara optimal.

BAB IV
DIMENSI HASIL PEMBELAJARAN

A. Konsep Dasar dan Pokok- Pokok Kaidahnya


Pendidikan adalah hajat hidup orang banyak, bahkan hajat hidup semua orang.

Pendidikan adalah akar yang mengalirkan zat- zat makanan bagi tumbuh kembangnya

pohon pribadi individu dan kehidupan. Tanpa pendidikan manusia akan merana,

meranggas dan mengering, serta kehilangan roh kehidupanya itu sendiri. Tanpa

pendidikan harkat dan martabat manusia (HMM) yang seharusnya dimuliakan akan

kehilangan arah dan maknanya.

1. Hasil yang Berguna

Suatu yang berguna merupakan kondisi yang menjuruk kepada kondisi

yang berbeda di luar sesuatu itu sendiri. Sepiring nasi tidak berguna bagi nasi

itu sendiri; nasi itu amat berguna bagi orang y7ang lapar; amat berguna bagi

suatu penelitian untuk melihat perubahan kimia yang terjadi dari jamur apa

saja yang tumbuh setelah nasi itu dibiarkan terletak dimeja dapur selama

beberapa hari dan seterusnya. Dengan demikian kegunaan sesuatu akan terasa

di perlukan dan terwujud apabila sesuatu itu dikaitkan dengan yang lain.

Dengan pemahaman diatas suatu hasil pembelajaran akan bernilai

berguna dengan suatu yang lain, sesuatu itu dikaitkan dengan fungsi dan

pentingnya pendidikan adalah pemenuhan hajat hidup stimulasi tumbuh

kembang pribadi dan kehidupanya, realisasu optimal potensi individu. Hail

belajar yang bergua, yaitu:

a. Dapat terwujud, kongkrit, dapat diakses melalui pancaindra, oleh hati,

oleh rasa dan oleh pikiran dan dapat di ukur

b. Normatif, sesuai dengan norma;


c. Berpotensi setelah nilai tambah;

d. Diskusi dapat direplikasi dan dikembangkan;

e. Menyumbang pada kemaslahatan kehidupan.

Dapat di katakan bahwa hasil belajar yang berguna bukanlah sekedar

pada apa yang dinamakan hasil belajar, melainkan hasil pembelajaran yang

minimal mengandung makna tertentu. Dalam tiga arah itu maka hasil

pembelajaran yang berguna memiliki tiga karateristik, yaitu maknaguna,

dayaguna dan karyaguna.


Materi matriks 1, 2 dan 3 yang masing- masing merupakan matriks dua

dimensi dapat digabungkan/ diintegraiskan menjadi matriks- matriks tiga dimensi

dengan mengintegrasikan variabel WPKNS dimensi belajar (TBMTbI) dan

dimenis lima-i dengan dimensi hasil pembelajaran

2. Dimensi Maknaguna

Setiap sel matriks 1,2 dan 3 di atas sebagai pembelajaran, dituntut

mengandung makna apabila hal itu merupakan hasil pembelajaran yang

berguna. Demikianlah hendaknya;

a. Wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap

Matriks 1 No. 1, 4, 7,10 dan 13 yang dimiliki peserta didik sebagai

hasil pembelajaran dituntut untuk memiliki makna tertentu yang

seyogyanya cukup mendalam atau sangat mendalam.

b. Kondisi tahu, bisa, mau, terbiasa dan ikhlas

Matriks 2 No. 16,19,22,25 dan 28 pelu diisi dengan hal- hal yang

penuh makna. Perhatikan ungkapan kondisi tahu;

Sesungguhya tahu yang di maksud bukanlah sekedar tahu, melaikan

tahu yang disertai pemahaman. Tahu yang disertai pemahaman ini di


dalamnya terkandung lima kopetensi yang secara bertingkat sebagai

berukut:

1) Menyebutkan apa yang diketahuinya

2) Menjelakan apa yang diketahui

3) Menjawab pertanyaan apa yang diketahui

4) Mengait- ngaitkan apa yang diketahui

5) Menunjukan data atau setidaknya mampu mencari data

berkenaan dengan apa yang diketahuinya.

c. Isi iman dan taqwa, inisiatif, industrius, individu dan interaksi

Matriks 3 No. 31, 34, 37 40 dan 43. Apa arti dan gunanya apabila

keimanan dan ketaqwaan yang dimiliki atau bahkan dilaksanakan

tanpa makna yang disadari. Inisiatif yang tanpa makna akan menjadi

inisiatif tanpa arah mandul atau dalam kondisi yang negatif brutal.

Kondisi industrius tanpa makna adalah tidak ada artinya tidak mungkin

ada kondisi nol untuk yang dimaksud industrius itu. Dan individual

tanpa maknaberarti tidak memahami diri sendiri.

3. Dimensi Dayaguna

Sesuai dengan tingkatan perkembangan peserta didik dalam status

pembelajaran, hasil pembelajaran bermakna yang dicapai peserta didik

diharapkan berdayaguna mendorong untuk lebih maju lagi dalam belajar,

dalam rangka maju berkelanjutan serta berkehidupan yang KES.

4. Dimensi Karyaguna

Hasil pembelajaran yang penuh makna akan mendorong peserta didik

untuk berkehidupan dan berprestasi lebih tinggi. Hal iu, lebih jauh

memungkinkan peserta didik menampilkan secara nyata perilaku, tindakan


dan kegiatan produktif dalam bentuk dan hasil nyata, yang berdampaknpositif

dan dapat dinikmati oleh peserta didik itu sendiri, orang lain dan lingkungan.

Karya- karya nyata dalam kaitanya dengan kegiatan pembelajaran,

pengembangan diri dan kehidupanya merupakan keberhasilan yang diperoleh

peserta didik melalui proses pembelajaran yang diikutinya.

Ketiga dimensi hasil pembelajaran saling terkait satu dengan lainya dan menjadi

kesatuan yang menentukan kualitas hasil pembelajaran secara menyeluruh. Makin kuat

ketiga dimensi makin tinggi kualitas hasil pembelajaran. Kesatuan ketiga dimensi hasil

pembelajaran itu membentuk apa yang disebut triguna hasil pembelajaran, sebagaimana

gambar 1 dimensi karyaguna adalah puncak hasil pembelajaran didasarkan pada

maknaguna dan dayaguna.


KEPUSTAKAAN

Prayitno. (2009). Dasar Teori dan Praktis Pendidikan. Jakarta: Grasindo

Prayitno. (2020). Modul Pendidikan Keahlian Kependidikan. Modul ke- Enam: Penilaian

Pembelajaran. Padang: UNP Press