Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH TINGKAT INFLASI, SUKU BUNGA DAN NILAI KURS

DOLLAR AS TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN PADA


BURSA EFEK INDONESIA

Vira Yulia Viska, Aminar Sutra Dewi


Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi KBP
Email: virayuliaviska26071995@gmail.com
Email Pembimbing: aminarsutradewi@akbpstie.ac.id

ABSTRACT

This research conducted to find out either simultaneously or partially the influence
of the inflation rate, the interest rate and the exchange rates of the US Dollar on
composite stock price indeks in Indonesia Stock Exchange. This type or research is
quantitative research. Data analysis technique used is multiple linear regression
using the program eviews. The results of this study indicite that : 1) inflation rate
variable has negative effect that is not significant to composite stock price indeks,
2) the interest rate variable has negative effect significantly to composite stock
price indeks, 3) the exchange rates of the US Dollar variable effect significantly
positive to the exchange rates of the US Dollar. Determination of coefficient test
result shows that the three variable used may explain the variable composite stock
price indeks 40,86% while the remaining 59,14% influenced by other variables
outside this research model.

Keyword : Composite Stock Price Indeks, Inflation Rate, Interest Rete and
Exchange Rates Of The US Dollar

PENDAHULUAN memanfaatkan dana tersebut untuk


Pasar modal merupakan salah mengembangkan proyek-proyeknya.
satu instrumen ekonomi dewasa ini Dengan alternatif pendanaan dari
yang mengalami perkembangan pasar modal, perusahaan dapat
sangat pesat. Pasar modal merupakan beroperasi dan mengembangkan
indikator kemajuan perekonomian bisnisnya dan pemerintah dapat
suatu negara serta menunjang membiayai berbagai kegitannya
ekonomi negara yang bersangkutan sehingga meningkatkan kegiatan
(Robert, 1997). Pasar modal memilki perekonomian negara. (Tandelilin,
peran penting bagi perekonomian 2010)
suatu negara. Dengan adanya pasar Kegiatan investasi adalah
modal (capital market), investor yang kegiatan menanamkan atas sejumlah
sebagai pihak yang memiliki dana baik langsung maupun tidak
kelebihan dana dapat langsung dengan tujuan memperoleh
menginvestasikan dananya pada keuntungan dimasa depan. Salah satu
berbagai sekuritas dengan harapan kegiatan yang dapat dipilih oleh
memperoleh imbalan (return). investor adalah berinvestasi di pasar
Sedangkan bagi perusahaan sebagai modal. Di indonesia, investor yang
pihak yang memerlukan dana dapat berminat untuk berinvestasi di pasar

1
modal dapat berinvestasi di Bursa pergerakan indeks harga saham di
Efek Indonesia (BEI). BEI.
Bursa Efek Indonesia Tingkat suku bunga juga
mempunyai satu indikator indeks merupakan salah satu variabel yang
yang sering diperhatikan investor dapat mempengaruhi harga saham.
ketika berinvestasi di Bursa Efek Kenaikan suku bunga yang agresif
Indonesia adalah Indeks Harga bisa memperkuat rupiah, tapi Indeks
Saham Gabungan. Indeks Harga Harga Saham Gabungan (IHSG)
Saham Gabungan dapat menjadi akan anjlok karena investor akan
leading indicator economic pada memilih menabung di bank. Apabila
suatu negara. Pergerakan pasar yang suku bunga mengalami peningkatan
sedang mengalami peningkatan atau maka harga saham akan mengalami
mengalami penurunan dapat dilihat penurunan.
dari nilai-nilai saham yang tercatat Terdapat alternatif investasi lain
dan tercermin melalui pergerakan yang juga dapat mempengaruhi
indeks atau lebih dikenal dengan transaksi saham di bursa efek, yakni
Indeks Harga Saham Gabungan investasi pada valuta asing dalam hal
(IHSG). Indeks Harga Saham ini adalah dollar (USD). Kurs
Gabungan atau Composite Stock mempengaruhi kompetitif suatu
Price Indeks (IHSG) merupakan perusahaan karena perubahan kurs
suatu nilai yang digunakan untuk diikuti perubahan nilai tukar
mengukur kinerja kerja saham yang pendapatan dan biaya operasional
tercatat di suatu bursa efek. IHSG perusahaan, sehingga peruahan kurs
dapat mencerminkan bursa efek, secara langsung mempenngaruhi
apakah pasar sedang dalam keadaan perubahan harga saham.
bullish (harga saham cenderung Indeks Harga Saham Gabungan
bergerak naik) atau dalam keadaan mengalami peningkatan yang
bearish (harga saham cenderung semakin pesat sejak krisis ekonomi
bergerak turun). yang melanda Indonesia pada tahun
Di dalam pasar modal terdapat 1998. Hal ini ditunjukkan dari
beberapa variabel yang juga ikut perkembangan nilai IHSG dan nilai
serta dalam mempengaruhi Indeks transaksi. Nilai IHSG mengalami
Harga Saham Gabungan (IHSG) peningkatan hingga 470 persen dari
antara lain adalah Tingkat Inflasi, tahun 2003 sampai akhir tahun 2007.
Suku Bunga, Nilai Tukar Rupiah Namun krisis ekonomi global mulai
pada US Dollar. awal 2008 bedampak pada pasar
Tingginya tingkat inflasi dapat modal indonesia. Tercermin dari
menurunkan daya beli masyarakat jatuhnya nilai IHSG sebesar 61,62
dan juga meningkatnya harga faktor persen dalam kurun waktu yang
produksi. Hal itu biasanya akan relatif singkat (satu tahun) dan telah
berdampak pada anggapan pesimis mengakibatkan para investor baik itu
mengenai prospek perusahaan yang dari dalam maupun luar negeri lebih
menghasilkan barang atau jasa yang berhati-hati dalam menginvestasikan
terkena dampak inflasi sehingga dananya terutama di pasar modal
dapat mempengaruhi penawaran indonesia. (Hartono,2013).
harga saham perusahaan tersebut dan Fenomena adanya dua krisis
pada akhirnya berakibat pada dunia yang hampir bersamaan yaitu
berkisar pada pertengahan tahun

2
2015 dimana Yunani dan serta China 1. Untuk menguji apakah
sama-sama mengalami krisis yang Tingkat Inflasi berpengaruh
juga sangat berdampak negatif untuk secara signifikan terhadap
Indonesia, IHSG Fluktuatif bergerak IHSG.
naik dan turun secara tajam 2. Untuk menguji apakah Nilai
merespons perkembangan Kurs Dollar berpengaruh
penanganan krisis Eropa pada tahun secara signifikan terhadap
2015 lalu. (Dewantoro,2014). IHSG.
Penurunan Indeks Harga Saham 3. Untuk menguji apakah Suku
Gabungan pada tahun 2015 bukan Bunga berengaruh secara
hanya disebabkan oleh Yunani dan signifikan terhadap IHSG.
China tapi terjadi akibat adanya
spekualsi mengenai kebijakan yang LANDASAN TEORI DAN
akan diambil bank sentral AS atau HIPOTESIS
The FED di tahun 2015 yang A. Indeks Harga Saham
berkaitan dengan kenaikkan tingkat Gabungan
suku bunga dan menguatanya dollar Indeks Harga Saham Gabungan
AS sehingga investor menjadikan atau Composite Stock Price Index
dollar AS sebagai salah satu investasi (IHSG) merupakan suatu nilai yang
secara fisik yang dapat digunakan digunakan untuk mengukur kinerja
pada kondisi tersebut. Keadaan kerja saham yang tercatat di suatu
seperti ini yang menyebabkan bursa efek. Seperti di mayoritas
Penurunan Indeks Harga Saham busra-busra dunia, Indeks yang ada di
Gabungan pada tahun 2015 dimulai BEI dihitung dengan menggunakan
pada pertengan bulan Agustus 2015 metodologi rata-rata tertimbang
di BEI. berdasarkan jumlah saham tercatat
Berdasarkan latar belakang di (nilai pasar) atau Market Value
atas, maka peneliti tertarik untuk Weighted Average Index.
meneliti tentang Pengaruh Tingkat B. Inflasi
Inflasi, Suku Bunga Dan Nilai Menurut Kuncoro (2011) tingkat
Kurs Dollar Terhadap Indeks inflasi adalah kecenderungan dari
Harga Saham Gabungan Pada harga untuk meningkat secara umum
Bursa Efek Indonesia (BEI) dan terus menerus. Kenaikan harga
Periode 2011-2015. dari satu atau dua barang tidak dapat
disebut Inflasi, kecuali bila kenaikan
Rumusan Masalah tersebut meluas atau mengakibatkan
1. Apakah ada pengaruh Tingkat kenaikan kepada barang lainnya.
Inflasi terhadap Indeks Harga Menurut Boediono (1998) definisi
Saham Gabungan (IHSG) singkat dari Inflasi adalah
2. Apakah ada pengaruh Suku kecenderungan dari harga-harga
Bunga terhadap Indeks Harga untuk menaik secara umum dan terus
Saham Gabungan (IHSG) menerus. Kenaikan harga dari satu
3. Apakah ada pengaruh Nilai atau dua barang saja tidak disebut
Kurs Dollar terhadap Indeks Inflasi. Syarat adanya kecenderungan
Harga Saham Gabungan menaik yang terus menerus juga perlu
(IHSG). digaris-bawahi.
Menurut Putong (2002), Inflasi
Tujuan Penelitian dibedakan atas tiga jenis, antara lain:

3
Menurut Sifatnya, Inflasi jika dilihat ditunjukkan dalam valuta lain.
dari penyebabnya dan Inflasi dibagi (Sukirno, 2010).
menjadi dua jika dilihat dari asalnya.
C. Suku Bunga Kerangka Konseptual
Menurut Wibowo dan Suhendra
(2010) bahwa tingkat suku bunga
digunakan pemerintah untuk
mengendalikan tingkat harga, ketika
tingkat harga tinggi dan jumlah uang
yang beredar dalam masyarakat
banyak sehingga konsumsi
masyarakat tinggi akan diantisipasi
oleh pemerintah dengan menetapkan
tingkat suku bunga yang tinggi.
Tingkat suku bunga dapat
didefinisikan sebagai tingkat Hipotesis Penelitian
pengembalian aset yang mempunyai Ha1 :Tingkat Inflasi berpengaruh
risiko mendekati nol. Investor dapat negatif dan tidak signifikan
menggunakan tingkat bunga sebagai terhadap indeks harga saham
patokan (benchmark) untuk gabungan (IHSG).
perbandingan bila ingin berinvestasi. Ha2 :Suku Bunga berpengaruh
Menurut Tandelilin (2010) negatif signifikan terhadap
bahwa tingkat suku mempengaruhi Indeks Harga Saham
harga saham secara terbalik (Cateris Gabungan (IHSG).
Paribus). Bila pemerintah Ha3 :Nilai kurs Dollar AS
mengumumkan tingkat suku bunga berpengaruh positif signifikan
yang lebih tinggi maka investor akan terhadap Indeks Harga Saham
menjual sahamnya dan beralih Gabungan (IHSG).
berinvestasi pada sektor perbankan
seperti deposito dan tabungan. METODE PENELITIAN
D. Nilai Kurs 1. Jenis Penelitian
Kurs valuta asing atau kurs uang Jenis penelitian yang ada
asing menujukkan harga atau nilai dalam penelitian ini adalah penelitian
mata uang sesuatu negara dinyatakan kuantitatif.
dalam nilai mata uang negara lain. 2. Jenis dan sumber data
Kurs valuta asing dapat juga Jenis data yang digunakan
didefinisikan jumlah uang domestik peneliti dalam penelitian ini adalah
yang dibutuhkan, yaitu banyaknya data kuantitatif time seris ( runtut
rupiah yang dibutuhkan untuk waktu) yang bersumber dari data
memper oleh satu unit mata uang sekunder, yaitu data yang diperoleh
asing. Pertukaran antara dua mata secara tidak langsung atau melalui
uang yang berbeda dimana akan informasi yang yang didapatkan dari
terdapat perbandinagan nilai atau buku, dokumen, maupun situs
harga antara kedua mata uang lembaga tertentu. Dalam penelitin ini
tersebut. Perbandingan nilai inilah data IHSG bersumber dari informasi
yang disebut kurs. Kurs valuta adalah http://.yahoofinance.com anuualy
harga satu unit valuta yang 2011-2015, dan data tingnkat inflasi,
suku bunga dan nilai kurs yang

4
bersumber dari Bank Indonesia tiap akhir bulan yang telah
www.bi.go.id. Jumlah data ada setiap ditetapkan oleh Bank Indonesia
bulan selama 5 tahun sehingga ada 60 mulai dari bulan Januari 2011
data Tingkat Inflasi, Tingkat Suku, sampai akhir Desember 2015.
Nilai Kurs Dollar AS dan Indeks Pengukuran yang digunakan
Harga Saham Gabungan. adalah satuan persen.
3. Teknik pengumpulan data d. Nilai Kurs Dollar AS (X3)
Dalam pengumpulan data penulis Dalam peneliti ini data Nilai
menggunakan teknik dokumentasi Kurs Dollar AS yang digunakan
dengan mengumpulkan data, bukti, adalah kurs dollar yang dihitung
dan keterangan. berdasarkan kurs tengah,
4. Definisi Operasional Variabel berdasarkan kurs jual dan kurs
a. Indeks Harga Saham beli disetiap akhir bulan Januari
Gabungan (Y) 2011 sampai akhir Desember
Indeks Harga saham 2015 yang telah ditetapkan oleh
Gabungan (IHSG) adalah indeks Bank Indonesia. Pengukuran
harga yang merupakan gabungan yang digunakan dalam Rp/$
semua harga saham yang tercatat USD.
di Bursa Efek Indonesia (BEI), Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini data IHSG 1. Analisa Statistik Deskriptif
yang digunakan adalah indeks Uji statistik deskriptif berkenaan
harga saham setiap bulan dengan bagaimana data dapat
dihitung menggunakan harga digambarkan/dideskripsikan, baik
saham terakhir (closing price) secara numerik misalnya menghitung
yang dipublikasikan oleh Bursa rata-rata, standar deviasi atau secara
Efek Indonesia pada periode grafis dalam bentuk tabel atau grafik.
tahun 2011-2015. Pengukuran 2. uji stasioneritas
yang digunakan dalam Rp/$ Stasioner merupakan suatu
USD. kondisi data time series yang jika
b. Tingkat Inflasi (X1) rata-rata, varian dan covarian dari
Tingkat Inflasi merupakan perubah tersebut seluruhnya tidak
proses kenaikkan harga barang- dipengaruhi oleh waktu (Junaidi,
barang pada umumnya secara 2103). Model pengujian stasioneritas
terus menerus selama periode dan akar unit yang akan digunakan
tertentu. Data yang digunakan disini adalah metode Augmented
peneliti dalam penelitian ini Dickey Fuller (ADF) dan Philips
adalah data inflasi diperoleh dari Perron (PP). Prosedur untuk
laporan inflasi tiap akhir bulan mengetahui data stasioner atau tidak
yang telah ditetapkan oleh Bank dengan cara membandingkan antara
Indonesia mulai bulan Januari nilai statistik ADF atau PP dengan
2011 sampai akhir Desember nilai kritis distribusi Mac Kinnon.
2015. Pengukuran yang Nilai statistik ADF atau PP
digunakan adalah satuan persen. ditunjukkan oleh nilai t statistik. Jika
c. Tingkat Suku Bunga (X2) nilai absolut statistik ADF atau PP
Data yang digunakan untuk lebih besar dari nilai kritisnya, maka
menghitung suku bunga dalam data yang diamati menunjukkan
penelitian ini adalah data suku stasioner dan jika sebaliknya nilai
bunga Bank Indonesia (BI Rate) statistik ADF atau PP lebih kecil dari

5
nilai kritisnya maka data tidak antara -2 sampai 2 berarti tidak terjadi
stasioner. autokorelasi (Gujarti, 2003).
3. uji asumsi klasik 4. Analisis Regresi Berganda
Uji asumsi klasik digunakan Analisis regresi liner berganda
untuk mendapatkan penduga bertujuan untuk membuktikan ada
koefisien regresi yang mempunyai atau tidaknya hubungan fungsional
error terkecil atau model regresi antara tiga buah variabel bebas X
yangn dihasilkan adalah mempunyai (tingkat inflasi, suku bunga dan nilia
sifat BLUE (Best Linier Unbiased kurs dollar AS) dari sebuah variabel
Estimate) atau mempunyai sifat yang terikat Y (IHSG). Dalam penelitian
linier, tidak bias dan varian minimum. ini analisis tersebut digunakan untuk
Adapun uji asumsi klasik adalah mengetahui. Seberapa besar variabel
sebagai berikut: independen mempengaruhi variabel
a. Uji Normalitas data dependen dihitung dengan persamaan
Uji normalitas bertujuan untuk regresi berganda sebagai berikut :
menguji apakah dalam model regresi Y = a + bX1 + bX2 + bX3 + e.
variabel terikat dan variabel bebas Keterangan :
keduanya mempunyai distribusi Y = IHSG sektor pertambangan
normal atau tidak. (a) = Nilai Konstanta
b. Uji Multikolinearitas (b) = Koefisien Regresi Berganda
Uji multikolinearitas bertujuan untuk (X1) = tingkat inflasi
melihat apakah model regresi yang (X2) = suku bnga
digunakan atas korelasi antara (X3) = nilai kurs dollar AS
variabel bebas. Model regresi yang (e) = Standart Error.
baik seharusnya bebas 5. Uji hipotesis
multikolinearitas atau tidak terjadi a. Uji f (Silmutan)
kolerasi antara variabel independen. Pengujian ini dilakukan untuk
Syarat tidak terjadi Multikolinearitas mengetahui apakah semua variabel
adalah jika nilai korelasi antar bebas yang digunakan dalam model
variabel independen < 0,8. regresi secara bersama-sama
c. uji heteroskedastisitas berpengaruh terhadap variabel terikat
Uji heteroskedastisitas dilakukan dan tingkat kesalahan atau
dengan cara mellihat white probabilitas yang diinginkan P = 5%
heteroskedastisity test, dimana nilai (Ghozali, 2010) :
probability Obs*R-squared > 0,05 b. Uji t (Parsial)
(alpha). Oleh karena itu nilai Pengujian secara parsial,
probability Obs*R-squared > 0,05 dilakukan uji-t untuk menguji
maka tidak terjadi heteroskedastisitas. pengaruh masing masing variabel
bebas terhadap variabel terikat dan
tingkat kesalahan atau probabilitas
d. Uji Autokorelasi yang diinginkan P = 5% (Ghozali,
Uji autokorelasi yang digunakan 2005) :
untuk mendeteksi adanya gejala 6. Koefisien Determinasi (R2)
otokolerasi adalah Durbin-Waston
Statistic Test. Jika Durbin-Wastonnya
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN
1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian

6
Tabel 1.1
Hasil Uji Deskripsi Statistik Variabel Penelitian

standar
Variabel N Minimum Maksimum Mean
deviasi
X1 (Tingkat Inflasi) 60 0.033500 0.087900 0.058852 0.015422
X2 (Suku Bunga) 60 0.057500 0.077500 0.067750 0.007643
X3 (Nilai Kurs) 60 8532.000 14396.10 10775.49 1760.346
Y (IHSG) 60 3409.170 5518.670 4456.763 539.4253

Sumber : Data Diolah Data nilai kurs memiliki nilai


Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa minimum sebesar 8532.000 dan nilai
tingkat inflasi memiliki nilai maksimum sebesar 14396.10. Nilai-
minimum sebesar 0.0335 dan nilai nilai tersebut menunjukkan bahwa
maksimum sebesar 0.0879. Nilai- respon terhadap kurs mata uang
nilai tersebut menunjukkan bahwa Rupiah atas Dollar AS adalah antara
respon terhadap tingkat inflasi adalah 8532.000 sampai dengan 14396.10.
antara 0.0335 sampai dengan 0.0879. Sementara standar deviasi sebesar
Sementara standar deviasi tingkat 1760.346 lebih kecil dari nilai rata-
inflasi sebesar 0.0154 lebih kecil dari rata yaitu 10775.49 menunjukkan
nilai rata-rata yaitu 0,0588 bahwa kurs mata uang Rupiah atas
menunjukkan bahwa tingkat suku Dollar AS sebaran nilainya semakin
bunga sebaran nilainya semakin dekat dekat dari nilai rata-ratanya, yang
dari nilai rata-ratanya, yang mengidenitifikasi data kurs mata uang
mengidenitifikasi data tingat suku Rupiah atas Dollar AS tidak
bunga tidak bervariasi. bervariasi.
Data tingkat suku bunga Data Indeks Harga Saham
memiliki nilai minimum sebesar Gabungan (IHSG) memiliki nilai
0.0575 dan nilai maksimum sebesar minimum sebesar 3409.170 dan
0.0775. Nilai-nilai tersebut maksimum sebesar 5518.670. Nilai-
menunjukkan bahwa respon terhadap nilai tersebur menunjukkan bahwa
tingkat suku bunga adalah antara respon terhadap Indeks Harga Saham
0.0575 sampai dengan 0.0775. Gabungan (IHSG) adalah antara
Sementara standar deviasi 0.0076 3409.170 sampai dengan 5518.670 .
lebih kecil dari nilai rata-rata yaitu Sementara standar deviasi sebesar
0.0677 menunjukkan bahwa tingkat 539.4253 lebih kecil dari nilai rata-
suku bunga sebaran nilainya semakin rata yaitu 4456.763 menunjukkan
dekat dari nilai rata-ratanya, yang bahwa Indeks Harga Saham
mengidenitifikasi data tingat suku Gabungan (IHSG) sebaran nilainya
bunga tidak bervariasi. semakin dekat dari nilai rata-ratanya,

2. Uji Stasioneritas
Tabel 2

7
Hasil Uji Stasioneritas
b. Uji Multikolinearitas

Tingkat Stasioneritas Tabel 4


Level
Hasil Uji Normalitas Data
Variabel
t- X1 X2 X3
Probability Keterangan
statistic -
X1 1.000000 0.432953
X1 -5.0199 0.0001 Stasioneritas 0.601646
- -
X2 1.000000
X2 -7.5092 0.0000 Stasioneritas 0.601646 0.793407
-
X3 -6.1347 0.0000 Stasioneritas X3 0.432953 1.000000
0.793407
Y -6.8716 0.0000 Stasioneritas Sumber: Data Diolah
Sumber: Data Diolah
Berdasarkan hasil olahan data pada Tabel 4
Pada tabel 2 diatas menunjukkan terlihat nilai kolerasi antara sesama variabel
bahwa semua variabel baik independen < 0,8 sehingga dapat dikatakan
independen maupun dependen telah bahwa sesama variabel independen tidak
stasioner dengan test for unit root in memiliki hubungan multikolinearitas.
“level”. Level yang dipakai pada uji
stasioneritas adalah level 5% karena c. Uji Autokolerasi
persyaratan probabilitynya < 5%.
Tabel 5
3. Uji Asumsi Klasik Hasil Uji Durbin-Watson
a. Uji Normalitas data
Model Durbin watson
Tabel 3
Hasil Uji Normalitas Data 1 0.247698
Sumber: Data Dioalah
Jarque- Probabili Keterang
Variabel N
Bera ty an Dari uji Darbin-Watson pada Tabel 5 terlihat
X1 bahwa tidak terjadi otokolrasi karena nilai
(Tingkat 60 4.002683 0.135154 Nornal Durbin-Watson antara -2 < 0.247698 < 2.
Inflasi)
X2 (Suku
60 5.112295 0.077603 Normal d. Uji Heteroskedastisitas
Bunga)
X3 (Nilai
60 5.257625 0.072164 Normal Tabel 6
Kurs)
Y (IHSG) 60 2.463306 0.291810 Normal Hasil Uji Heteroskedastisitas
Sumber: data diolah F-
0.733262 Probability 0.6162
Berdasarkan tabel 3 hasil dapat statistic
dilihat bahwa semua variabel baik Obs*R-
0.999841 Probability 0.6486
dependen maupun independen telah squared
terdistribusi normal. Karena nilai Sumber: Data Diolah
signifikan lebih dari 0,05, sehingga
data dalam penelitian ini dapat Pada tabel 6 terlihat tidak terjadi
disimpulkan sudah berdistribusi heteroskedastisitas karena nilai probability
normal memenuhi syarat model Obs*R-squared yaitu 0.6486 > 0,05.
regresi karena sudah normal.

8
4. Analisis Regresi Linier Berganda

Tabel 7
Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 11/14/16 Time: 11:44
Sample: 2011M01 2015M12
Included observations: 60

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -24.39461 106.7778 -0.228461 0.8201


X1 -11.32092 44.02475 -0.257149 0.7980
X2 -24.62072 106.7590 -0.230620 0.0485
X3 0.217184 0.050613 4.291064 0.0001

R-squared 0.438689 Mean dependent var 4456.763


Adjusted R-squared 0.408619 S.D. dependent var 539.4253
S.E. of regression 414.8252 Akaike info criterion 14.95793
Sum squared resid 9636475. Schwarz criterion 15.09755
Log likelihood -444.7380 Hannan-Quinn criter. 15.01255
F-statistic 14.58881 Durbin-Watson stat 0.247698
Prob(F-statistic) 0.000000

Sumber : Data Eviews

Dari tabel 7 diatas, dapat menurun 1% maka IHSG akan


dituliskan persamaan sebagai berikut: mengalami peningkatan sebesar
Y = -243,9461 – 11,32092 X1 – 11,32092 poin.
24,62072 X2 + 0,217184 X3 + e. Koefisien kolerasi Suku Bunga
Dimana nilai konstanta sebesar - (X2) sebesar -24,62072. Tanda
24,39461. Nilai koefisien ini negatif menunjukkan arah
menunjukkan jika tidak ada berlawanan atau berbanding terbalik.
perubahan pada variabel tingkat Jika variabel tingkat suku bunga
inflasi, suku bunga dan kurs rupiah meningkat 1% maka IHSG akan
maka IHSG akan mengalami mengalami penurunan sebesar
penurunan sebesar 24,39461 poin. 24,62072 poin, dan sebaliknya
Ini menunjukkan koefisien apabila tingkat inflasi menurun 1%
kolerasi Tingkat Inflasi (X1) sebesar - maka IHSG akan mengalami
11,32092. Tanda negatif peningkatan sebesar 24,62072 poin.
menunjukkan arah berlawanan atau
berbanding terbalik. Jika variabel
tingkat inflasi meningkat 1% maka
IHSG akan mengalami penurunan
sebesar 11,32092 poin, dan
sebaliknya apabila tingkat inflasi

9
5. Uji Hipotesis Dari hasil pengolahan data
a. Uji Koefisiensi Regresi Secara ditemukan nilai R-Square 0.408619
Simultan ( Uji f) ini berarti bahwa variabel bebas X1
Dari tabel 7 dihasilkan nilai F- (Tingakt Inflasi),X2 (Suku Bunga)
statistic sebesar 14.58881 dengan dan X3 (Nilai Kurs) mempengaruhi
nilai signifikan probability F-statistic IHSG (Indeks Harga Saham
adalah 0.000000, tingkat Gabungan) sebesar 40,86%
probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 sedangkan sisanya 59,14%
atau < 0,05. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor lain.
mengidentifikasi bahwa semua
variabel independen (X1,X2 dan X3) PEMBAHASAN
berpengaruh secara signifikan 1. Pengaruh Tingkat Inflasi
terhadap variabel dependen (IHSG). terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan
b. Uji Koefisiensi Regresi Secara Dari Tabel 7 dihasilkan nilai
Parsial (Uji t) koefisien regresi untuk variabel
Dari hasil pengolahan data tingkat inflasi yang diproxy oleh
dihasilkan tingkat inflasi (IHSG) sebesar -11,32092 bertanda
menunjukkan thitung -0,257149 negatif dengan nilai probability
dengan nilai yang tidak signifikan 0.7980 > 0,05 yang berarti bahwa
0,7980 lebih dari tingkat alpha 0,05 inflasi mempunyai pengaruh negatif
dan koefisien β sebesar -11,32092 dan tidak signifikan terhadap
menunjukkan nilai negatif. Hal ini probabilitas yang diproxy oleh IHSG
berarti bahwa tingkat inflasi (Indeks Harga Saham Gabungan).
berpengaruh negatif dan tidak Dengan demikian dapat disimpulkan
signifikan terhadap indeks harga hipotesis pertama ditolak.
saham gabungan (IHSG). Tidak signifikannya pengaruh
Suku bunga menunjukkan thitung - inflasi pada penelitian ini dikarenakan
0,230620 dengan nilai yang selama periode pengamatan tingkat
signifikan 0,0485 kecil dari alpha inflasi berada dalam katergori inflasi
0,05 dan koefisien β sebesar - ringan berkisar pada 3,35% sampai
24,62072 menunjukkan negatif. Hal 8,37% atau bisa dikatakan bahwa
ini berarti bahwa suku bunga tingkat inflasi masih dibawah 10%.
berpengaruh negatif dan signifikan Namun, bila inflasi menembus angka
terhadap Indeks Harga Saham 10%, maka pasar modal akan
Gabungan (IHSG). terganggu.
Sedangkan untuk nilai kurs Hal ini menandakan bahwa
menunjukkan thitung 4,291064 dengan tingkat inflasi tidak berpengaruh
nilai yang signifikan 0,001 kecil dari banyak terhadap keputusan investor
alpha 0,05 dan koefisien β sebesar dalam menanamkan modalnya pada
0,217184 menunjukkan positif. Hal periode pengamatan dikarenakan
ini berarti bahwa nilai kurs tidak adanya pengaruh yang
berpengaruh positif dan signifikan signifikan antara tingkat inflasi
terhadap Indeks Harga Saham dengan IHSG.
Gabungan (IHSG). Penelitian ini mempunyai hasil
yang sama dengan penelitian yang
c. Koefisien Determinasi (R2) dilakukan oleh Kumalasari, dkk.
(2016) melakukan penelitian tentang

10
Pengaruh Nilai Tukar, Bi Rate, investor menjual sahamnya dan
Tingkat Inflasi dan Pertumbuhan beralih pada investasi pada sektor
Ekonomi terhadap Indeks Harga perbankan baik dalam bentuk
Saham Gabungan dimana tingkat tabungan maupun deposito. Hal ini
inflasi berpengaruh negatif dan tidak menyebabkan penurunan pada harga
signifikan terhadap Indeks Harga saham dan IHSG.
Saham Gabungan (IHSG). Hasil penelitian ini sama dengan
Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
penelitian yang dilakukan Kewal Maurina, dkk. (2015) yang berjudul
(2012) melakukan penelitian tentang Pengaruh Tingkat Inflasi, Kurs
Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs Rupiah dan Tingkat Suku Bunga Bi
dan Pertumbuhan PDB terhadap Rate terhadap IHSG menunjukkan
Indeks Harga Saham Gabungan yang terdapat pengaruh negatif dan
menemukan bahwa Tingakt Inflasi signifikan antara tingkat suku bunga
berpengaruh negatif dan tidak BI Rate terhadap IHSG.
signifikan terhadap IHSG.
3. Pengaruh Nilai Kurs Dollar AS
2. Pengaruh Suku Bunga terhadap Indeks Harga Saham
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
Gabungan Dari Tabel 7 dihasilkan nilai
Dari Tabel 7 dihasilkan nilai koefisien regresi untuk variabel Nilai
koefisien regresi untuk variabel Suku Kurs yang diproxy oleh IHSG (Indeks
Bunga yang diproxy oleh IHSG Harga Saham Gabungan) 0.217184
(Indeks Harga Saham Gabungan) bertanda positif dengan nilai
sebesar -246,2072 bertanda negatif probability 0.0001 < 0,05 yang
dengan nilai probability 0.0485 < berarti bahwa nilai kurs mempunyai
0,05 yang berarti bahwa suku bunga pengaruh positif dan signifikan
mempunyai pengaruh negatif terhadap IHSG (Indeks Harga Saham
signifikan terhadap IHSG (Indeks Gabungan). Dengan demikian dapat
Harga Saham Gabungan). Dengan disimpulkan hipotesis ketiga
demikian dapat disimpulkan hipotesis diterima.
kedua diterima. Pengaruh positif yang diberikan
Tanda negatif pada koefesien variabel kurs rupiah terhadap IHSG
menunjukkan adanya pengaruh yang menujukkan bahwa penguatan kurs
berlawanan. Apabila tingkat suku US dollar (rupiah terdepresiasi) justru
bunga naik, maka IHSG akan turun, akan meningkatkan IHSG. Hal ini
dan sebaliknya apabila tingkat suku terjadi karena penurunan nilai tukar
bunga turun maka IHSG akan naik. rupiah mengakibatkan makin
Pengaruh negatif yang diberikan murahnya produk ekspor asal
variabel tingkat suku bunga terhadap Indonesia di pasar mancanegara. Hal
IHSG sesuai dengan pendapat ini akan menyeabkan meningkatnya
Tandelin (2010) yang menyebutkan permintaan akan produk ekspor
bahwa suku bunga mempengaruhi indonesia. Hal ini dapat membuat
harga saham secara terbalik (cateris pengeluaran agregat atas output dapat
paribus). meningkat, persedian menurun, dan
Apabila tingkat suku bunga naik PDB riil akan meningkat. Maka dapat
maka return investasi dalam bentuk disimpulkan bahwa depresiasi mata
perbankan akan naik sehingga banyak uang suatu negara cenderung

11
meningkatkan PDB negara tersebut dimana nilai tukar berpengaruh
dan kenaikan PDB ini dapat positif dan suku bunga
mendorong kenaikan investasi di berpengaruh negatif, sedangkan
dalam negeri, sehingga hal ini juga inflasi tidak signifikan terhadap
dapat mendorong kenaikan IHSG. IHSG. Koefisien determinasi
Kenaikan tingkat kurs juga dapat dalam penelitian ini adalah
mendorong kenaikan tingkat harga. sebesar 40,86% sedangkan
Menurut Case dan Fair (2007) sisanya 100% - 40,86% = 59,14%
kenaikan mata uang suatu negara dipengaruhi oleh faktor lain.
cenderung meningkatkan tingkat 2. Tingkat inflasi berpengaruh
harganya. Ada dua alasan efek ini negatif dan tidak signifikan
terjadi. Pertama, ketika mata uang Indeks Harga Saham Gabungan
suatu negara lebih murah, produknya (IHSG).
lebih kompetitif di pasar dunia, 3. Tingkat suku bunga berpengaruh
sehingga ekspor naik. Di samping itu, negatif dan signifikan terhadap
pembeli domestik cenderung indeks harga saham gabungan.
mensubtitusi barang (impor yang 4. Nilai kurs berpengaruh positif
lebih) dengan produk domestik. Oleh dan signifikan terhadap IHSG
karena itu, pengeluaran agregat yang (Indeks Harga Saham
direncanakan pada barang dan jasa Gabungan).
buatan dalam negeri naik. Hasilnya
adalah tingkat harga yang lebih SARAN
tinggi, output yang lebih tinggi, atau 1. Bagi Akademis
keduanya. Kedua, depresiasi Bagi akademis diharapkan hasil
membuat input yang diimpor lebih penelitian ini dapat menambah
mahal. pengembangan ilmu pengetahuan,
Hasil penelitian ini sama dapat membantu mahasiswa untuk
dengan penelitian yang dilakukan menambah wawasan yang baru
oleh Palatte dan Akbar yang berjudul bahwa faktor-faktor ekonomi makro
Pengaruh Nilai Tukar Mata Uang Dan juga berpotensi mempengaruhi
Tingkat Suku Bunga Terhadap kinerja IHSG, jadi tidak hanya
Perkembangan Indeks Harga Saham faktor-faktor internal bursa itu
Gabungan Di Bursa Efek Indonesia sendiri saja.
Periode 2009-2013 menunjukkan 2. Bagi Investor
terdapat pengaruh positif dan Berdasarkan hasil penelitian
signifikan terhadap Indeks Harga menyebutkan bahwa terdapat
Saham Gabungan pengaruh antara tingkat inflasi, suku
bunga dan nilai kurs terhadap IHSG,
KESIMPULAN sehingga penting bagi para investor
1. Hasil uji F (simultan) sebelum menentukan keputusan
menunjukkan bahwa semua untuk berinvestasi agar lebih
variabel independen berpengaruh memperhatikan dan menganalisis
secara signifikan terhadap perkembangan keadaan ekonomi
variabel dependen (IHSG). Hasil makro sebagai salah satu upaya
uji t (parsial) menunjukkan memprediksi IHSG di pasar modal.
bahwa hanya nilai tukar dan suku
bunga yang berpengaruh 3. Bagi Peneliti selanjutnya
signifikan terhadap IHSG,

12
a. Untuk penelitian dengan topik Tingkat Suku Bunga BI Rate
yang sama terutama mengenai Tetrhadap IHSG (Studi Pada
IHSG, sebaiknya peneliti Bursa Efek Indonesia Periode
berikutnya menambahkan jumlah 2010-2014)”. Jurnal administrasi
tahun sampel mulai tahun 1997 bisnis (JAB). Vol. 27 No.2
awal mulai krisis ekonomi di Oktober 2015.
indonesia dan krisis finansial Palatte, Muh.Halim dan Akbar. 2014.
global sehingga akan diketahui “Pengaruh Nilai Tukarmata
konsistensi variabel tersebut Uang Dan Tingkat Suku Bunga
dalam melihat pengaruh faktor- Terhadap Perkembangan Indeks
faktor yang mempengaruhi Harga Saham Gabungan Di
Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia Periode
(IHSG). 2009-2013”. Jurnal Manajemen.
b. Untuk penelitian selanjutnya Vol. 01 No.02. Juli 2014
sebaiknya menambahkan Putong, Iskandar. 2002.” Ekonomi
beberapa variabel yang belum mikro & makro”. Edisi 2. Ghalia
disebutkan dalam penelitian ini. Indonesia
Berdasarkan uji koefisien Sukirno, Sadono. 2010. Makro
determeniasi menyebutkan Ekonomi Teori Pengantar. Edisi
bahwa terdapat 51,13% varians Ketiga. Jakarta: Kelapa Gading..
variabel IHSG yang dapat Syahfitri, O., & Dewi, A. S. (2019).
dijelaskan oleh variabel Pengaruh Kondisi Fundamental,
independen diluar model regresi. Inflasi dan Suku Bunga
Sertifikat Bank Indonesia
DAFTAR PUSTAKA terhadap Harga Saham (Studi
Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Kasus Perusahaan Real Estate
Analisis Multivariate Dengan dan Property yang Terdaftar di
Program SPSS. Semarang: Bursa Efek Indonesia). INA-
Badan Penerbit Universitas Rxiv, 1–17.
Diponegor. Tandelin, Eduardus. 2010 “Potofolio
Gujarati, Damodar. 2003. Dan Investasi Teori Dan
Ekonometrika Dasar. Erlangga: Aplikasi”.Edisi pertama.Penerbit
Jakarta. KANISIUS Yogyakarta.
Kewal, Suramaya suci. Yulianti, Y. D., & Yusra, I. (2019).
2012.”Pengaruh Inflasi, Suku Pergerakan indeks harga saham
Bunga, Dan Pertumbuhan PDB gabungan sebagai dampak dari
Terhadap Indeks Harga Saham variabel makro. INA-Rxiv, 1–11.
Gabungan”. Jurnal ekonomi. Yusra, I. (2019). Composite Indeks
Volume 8. Nomor 1. April 2012 Berbasis Variabel Makro:
Kuncoro, mudrajad. 2001. Metode Analisis Kausalitas Data Time
Kuantitatif Teori Dan Aplikasi Series. Economac, 3(5).
Untuk Bisnis Dan Ekonomi. Edisi
1, Cetakan 1 Unit Penerbitan Dan
Percetakan AMP YKPN,
Yogyakarta.
Maurina. Yenita, R. Rustam Hidayat,
Sri Sulasmiyati. 2015.”Pengaruh
Tingkat Inflasi, Kurs Rupiah Dan

13