Anda di halaman 1dari 120

Ri’ayah

Jurnal Sosial dan Keagamaan


Volume. 5, Number. 01, January-June 2020 ISSN: 2528-049x E-ISSN: 2548-6446

The Journal of Riayah is such a Social and Religious journal which is published by Post Graduate of State Institute of
Islamic Studies Metro – Lampung. The accepted papers are the scientific which are the outcomes of either research or
thoughts that never be published in other medias. The Journal Ri’ayah publishes works and relevanced issue refers to
Social and Religious Journal in some studies such as: Social Phenomenon, Conflict of Religion, Social Violance, Harmony
of Prularism, Multikulturalism, Religous Education, Social Culture, Social Studies, Humaniora, and the others. It is
published for the readers both regional and global. The Ri’ayah is published into two volumes a year ( June and
December). As the peer-review of Indonesian Journal, we accept scientific works on islamic studies which are writen both
in English and Indonesia. Feel free to send the papers through registering OJS or e-mail:pascastain@gmail.com

PUBLISHED BY:
Pascasarjana
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Lampung

EDITOR-IN-CHIEF
Sri Andri Astuti

MANAGING EDITOR
Mahrus As’ad
Abdul Mujib

EDITORS
Suhairi
Ida Umami
Husnul Fatarib
Zainal Abidin
Ervan Nurtawab
Tobibatussaadah
Akla
Yudiyanto
Aguswan Khotibul Umam

EDITORIAL BOARD
Nor Aishah Buang, Universiti Kebangsaan Malaysia, Malaysia
Azhar B. Jaafar, Kolej Yayasan Pahang, Malaysia, Malaysia
Mohd Zaidi Hajazi, Universiti Industri Selangor (UNISEL), Malaysia
Ismail Suardi Wekke, State Islamic College (STAIN) of Sorong, Indonesia
Syarifudin Basyar, State Islamic University (UIN) of Radin Intan Lampung, Indonesia
Eko Ariwidodo, State Islamic Institut (IAIN) of Madura, Indonesia
Syamsul Ma'arif, State Islamic University (UIN) of Walisongo, Indonesia
Arfan Aziz, , State Islamic University (UIN) of Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Indonesia

COVER DESIGNER
Mustika Edi Santosa

ADMINISTRATION
Nur‟aini
Errin Karlina

ENGLISH LANGUAGE ADVISOR


Nyanuar Algiovan
Indah Eftanastarini

ARABIC LANGUAGE ADVISOR


Khoirurrijal

© Copyright Reserved
Editorial Office:
Ri‟ayah, Kantor Pascasarjana IAIN Metro Lampung
Jl. Ki. Hajar Dewantara 15 A. Kota Metro Lampung 34111
Telp. +6272541507 Fax. +6272547298
E-mail: pascasarjanaiainmetro@gmail.com
E-Journal: http://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/riayah/index
Volume. 5, Nomor. 01, Januari-Juni 2020 ISSN: 2528-049x E-ISSN: 2548-6446

Daftar Isi
Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Pengantar Redaksi
Artikel

PEMIKIRAN KRITIS MULYADHI TERHADAP BANGUNAN ILMU


MODERN
Andi Muhammad Ikbal Salam 1-11
PENGEMBANGAN SEKOLAH RAMAH ANAK DI TINGKAT
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Tusriyanto 12-25
KONSTRUKSI DAN ARAH BARU PEMAHAMAN TERHADAP I’JAZ
AL-QURAN
Fathul Mu’in, Rudi Santoso 26-41
PERAN PUSTAKAWAN DALAM PERKEMBANGAN PERGURUAN
TINGGI
S. Manaf 42-51
PEMBERDAYAAN SANTRI MELALUI PENDIDIKAN
ENTREPRENEURSHIP
Nurwadjah Ahmad EQ, Andewi Suhartini, J. Sutarjo 52-64
CULTURE IN DA'WA SONGO WALI
Abdul Mujib 65-72
AKULTURASI BUDAYA JAWA SEBAGAI STRATEGI DAKWAH
Rina Setyaningsih 73-82
WAYANG IN ISLAMIC PHILOSOPHY
Yuyun Yunita 83-95
PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN ISLAM
Syaripudin Basyar 96-102
PEMBELAJARAN KITAB KUNING DALAM MENANGKAL RADIKALISME
Zahdi Taher 103-112
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

HURUF ARAB NAMA HURUF LATIN


‫ا‬ alif tidak dilambangkan
‫ب‬ ba' B
‫ت‬ ta' T
‫ث‬ sa' s.
‫ج‬ jim J
‫ح‬ ha' h.
‫خ‬ kha' Kh
‫د‬ dal D
‫ذ‬ żal Ż
‫ر‬ ra' R
‫ز‬ zai Z
‫س‬ sin S
‫ش‬ syin Sy
‫ص‬ sād s.
‫ض‬ dad d.
‫ط‬ ta' t.
‫ظ‬ za' z.
‫ع‬ 'ain „
‫غ‬ gain G
‫ف‬ fa' F
‫ق‬ qāf Q
‫ك‬ kāf K
‫ل‬ lam L
‫م‬ mim M
‫ن‬ nun N
‫و‬ wawu W
‫ه‬ ha' H
‫ء‬ hamzah '
‫ي‬ ya' Y
KATA PENGANTAR

Sebagai negara-bangsa yang mayoritas muslim dengan sosial budaya dan


kultur yang amat beragam, Indonesia patut untuk mengambil bagian strategis ini
dan sekaligus menjadi barometer tingkat peradaban pendidikan Islam yang
dibanggakan. Pendidikan Islam Indonesia diharapkan mampu untuk menjadi
teladan bagi negara muslim dunia lainnya. Untuk itu, seluruh stakeholders
pendidikan Islam di negeri ini sudah tidak saatnya lagi berorientasi hanya untuk
tingkat nasional, lebih-lebih tingkat wilayah, akan tetapi dunia. Untuk itu, perlu
dimiliki paradigma, perspektif, langkah kebijakan serta orientasi kegiatan yang
bersifat internasional, dengan tanpa menghilangkan penguatan yang bersifat
nasional.
Pemahaman keislaman di Indonesia memiliki karakteristiknya yang khas.
Pemahaman Islam yang berkembang di Indonesia adalah pemahaman Islam
yang moderat, toleran, dan menjunjung tinggi perbedaan. Islam Indonesia
senaniasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai hak-hak asasi
manusia, menghormati ragam budaya dan kultur masyarakat, mengidamkan
kedamaian, keadilan, toleransi, dan sikap yang seimbang (tawazun). Di tengah
pelbagai perbedaan dan keragaman sosio-kultural, agama, adat dan budaya,
bahasa, dan lokalitas dalam ribuan pulau serta lainnya, Indonesia tetap kekar
dalam bingkai persatuan dan kesatuan keindonesiaan.
Relasi Islam dan negara dengan mengambil bentuk substansialistik dengan
dasar Pancasila, tidak mengambil bentuk formalistik atau sekularistik,
menjadikan kondisi Indonesia sangat produktif dalam mengusung nilai-nilai
keislaman dalam konteks kebangsaan. Islam sebagai agama pada satu sisi dan
negara pada sisi yang lain, keduanya saling menguatkan dan saling bersinergi.
Keduanya dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan. Keberislaman warga
negara Indonesia di antaranya adalah menunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan.
Cinta terhadap tanah air merupakan bagian dari implementasi atau wujud
keislamannya. Hal inilah yang menjadikan Islam di Indonesia memiliki
karakternya yang khas.
Paradigma keilmuan inilah yang akan dikembangkan di lingkungan
pendidikan Islam di Indonesia. Integrasi ilmu merupakan karakteristik keilmuan
yang khas di Indonesia, yang sekaligus menjadi pembeda dengan keilmuan yang
dikembangkan oleh sejumlah negara-negara lainnya.
Untuk menguatkan hal di atas, tampaknya perlu dilakukan sejumlah
langkah berikut. Pertama, melakukan rumusan baik secara filosofis maupun hal-
hal teknis tentang moderasi Islam dan integrasi keilmuan itu. Rumusan ini
hendaknya dikuatkan dengan regulasi yang cukup, seperti Peraturan atau
Keputusan Menteri Agama atau dengan keputusan-keputusan lain yang relevan.
Rumusan ini kemudian harus diterjemahkan ke dalam langkah dan kebijakan
yang aplikatif dengan dukungan pendanaan yang mendukung untuk hal itu.
Tahapan dan indikator apa saja yang harus dibuat dan berapa lama, sehingga
terdapat kejelasan atas target, indikator dan waktu.
Kedua, memperbanyak penelitian dan publikasi yang menunjukkan
karakteristik pendidikan Islam Indonesia, lebih-lebih penelitian di tingkat
program Pascasarjana. Memperkuat dan mendorong wacana Islam Indonesia
dengan berbagai varianya sehingga benar-benar menjadi fokus studi penelitian
yang mainstream menjadi kebutuhan bersama.
Sejumlah langkah di atas, dan tentu langkah-langkah lainnya, patut
dipertimbangkan sebagai gerakan untuk melestarikan ajaran dan kebudayaan
Islam di Indonesia. Kedua isu ini, merupakan isu yang sangat khas dan tidak
dapat dipisahkan dari identitas Islam di Indonesia. Oleh karenanya, perlu
adanya ikhtiar untuk menjadikan ajaran dan kebudayaan Islam di Indonesia
tetap alami dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Metro, 6 Juni 2020

Redaksi
PEMIKIRAN KRITIS MULYADHI TERHADAP BANGUNAN
ILMU MODERN

Andi Muhammad Ikbal Salam


Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare
Email: muhammad.ikbal1212@gmail.com

Abstract
Mulyadhi Kartanegara focused his attention on the discourse of Islamic philosophy whose
ideas have been poured into various forms of scientific work. The epistemology of the
integration of science Mulyadhi Kartanegara highlights aspects of the integration of the
source of knowledge and the integration of science methods. The source of knowledge
according to Mulyadhi is senses, reason and intuition, while Western scientists
(materialism-positivism) only recognize the five senses as a source of knowledge. The
science methodology in Mulyadhi's epistemology is the observation or experiment method
for physical objects, the logical method for metaempiric objects, and the intuitive (irfani)
method for recognizing objects directly. While modern scientists only recognize the
science of observation or experimentation and dismiss other scientific methods.
Furthermore, In the epistemological relations and ontological status, Islamic
epistemology recognizes reality in an integrally-holistic manner (material nature, mitzal
and reason and God is the peak of reality). Mulyadhi's critique of the building of modern
science is addressed into empirical-rationalism (Cartesian-Newtonian paradigm) which
provides the paradigm of thought: naturalism, idealism and secularism which is
mechanistic in looking at the reality of the universe. Mulyadhi offered his critical
response to materialism through epistemological Islamization on the aspect of science
classification and science methodology.
Keywords: Mulyadhi, Thought, Modern Science

Abstrak
Mulyadhi Kartanegara memusatkan perhatiannya pada diskursus filsafat Islam yang
ide-idenya telah dituangkan ke dalam berbagai bentuk karya ilmiah. Epistemologi
integarasi ilmu Mulyadhi Kartanegara menyorot aspek integrasi sumber ilmu dan
integrasi metode ilmu. Sumber ilmu menurut Mulyadhi yakni indra, akal dan intuisi,
sedangkan ilmuan Barat (materialisme-positivisme) hanya mengakui panca indra sebagai
sumber ilmu. Metodologi ilmu dalam epistemologi Mulyadhi yakni, metode observasi
atau eksperimen untuk obyek-obyek fisik, metode logis untuk obyek metaempirik, dan
metode intuitif (irfani) untuk mengenal obyek secara langsung. Sedang ilmuan modern
hanya mengakui metode ilmu observasi atau eksperimen dan menampik metode ilmu
yang lain. Selanjutnya, dalam relasi epistemologis dan status ontologis, epistemologi
Islam mengakui realitas secara integral-holistik (alam materi, mitzal dan akal dan Tuhan
yang merupakn puncak realitas). Kritik Mulyadhi terhadap bangunan ilmu modern
adalah tertuju pada rasionalisme-empirik (paradigma Cartesian-Newtonian) yang
melahirkan aliran pemikiran: naturalisme, idealisme dan sekulerisme yang bercorak
mekanistik dalam memandang realitas semesta. Selanjutnya Mulyadhi melontarkan
respon kritisnya pada materialisme melalui islamisasi epistemologis pada aspek klasifikasi
ilmu dan metodologi ilmu.
Kata kunci: Mulyadhi, Pemikiran, Ilmu Modern
Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

A. Pendahuluan
Kenyataan bahwa sains dan teknologi Barat Modern telah memiliki
implikasi-implikasi negatif pada kehidupan manusia dan lingkungannya, salah
satunya adalah hubungan agama dan sains yang tidak harmonis. 1 Sehingga
sebuah upaya dalam merespon tantangan sains modern penulis meminjam
Istilah Isma’il Raji al-Faruqi, merupakan tanggung jawab bagi kaum akademikus
Muslim.2 Sehingga penulis dalam studi ini berupaya dalam merespon sain yang
telah jatuh kepangkuan ilmuan Barat yang telah melahirkan banyak problem-
problem melalui penelusuran terhadap salah satu tokoh intelektual Muslim
Indonesia yakni, Muyadhi Kartanegara.
Mulyadhi adalah sosok yang mungkin masih belum terlalu banyak yang
tahu bahwa dia sebenarnya adalah sosok yang langka. Penulis meminjam asumsi
Haidar Baqir yang memberi komentar terhadap Mulyadhi dalam buku
menembus batas waktu, mengatakan bahwa Mulyadhi adalah sosok yang langka
karena betapa cukup banyak orang belajar filsafat, tetapi lebih sedikit orang yang
melirik filsafat Islam. Karena mungkin mereka beranggapan bahwa buat apa sih
kita belajar filsafat Abad pertengahan.3 Secara umum juga dalam mempelajari
filsafat ada yang berkomentar bahwa buat apa sih belajar filsafat, belajar filsafat
memakan waktu banyak dan menguras energi intelektual,4 lebih sedikit lagi
yang mau belajar disiplin kering nan “kuna” ini secara tekun dan akademis
demikian jauh sehingga menghabiskan waktu studi sejak S-1 hingga mencapai
gelar doktor.
Mulyadhi merupakan salah seorang diantara sekian banyak pemikir
Muslim Indonesia. Melalui karyanya, ia menampilkan keluasan wawasan dan
kecanggihan argumentasinya dalam menepis dan menunjukkan ketidak
konsistenan para obyektifis Ilmuan Barat, yang sangat diagung-agungkan dalam
menjawab tantangan kehidupan di era modern. Menelusuri kehiduapan
entelektual Mulyadhi sesungguhnya merupakan sebuah penelusuran
pengalaman eksperensial autobiografis. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengungkapkan relasi epistemologi dan status ontologis integrasi ilmu
Mulyadhi Kartanegara serta kritik pemikiran Mulyadhi Kartanegara terhadap
bangunan keilmuan Modern?

B. Pembahasan
1. Sosok Mulyadhi Kartanegara
Beliau dilahirkan pada pada tanggal 11 bulan Juni Tahun 1959 di
kampung dukuh kecematan Lego sebelah selatan kota Tanggerang Ayahnya

1 Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam. (Cet. I: Mizan Bandung, 2004), h. 210-211.
2 Lihat Isma’il Raji al-Faruqi, Tanggung jawab Akademikus Muslim dan Islamisasi Ilmu-Ilmu
Sosial, (Jakarta: Minaret, 1987), h. 28.
3 Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, ( Bandung:

Mizan, 2002), h. xi-xii.


4 Donny Gahral Adian, Arus Pemikiran Kontemporer Atheisme: ”Positivisme Logis, Neo

Marxisme, Post Modernisme, Post Ideologi Syndrom”, (Cet. I; Yogyakarta: Jalasutra, 2001), h. i.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 2


Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

bernama R. H. Supriyadi dan Ibunya bernama Hj. Ety Suhaety,5 mereka tinggal
dalam sebuah keluarga komunitas santri yang menganut aliran Ahl Sunnah wa
al-Jama’ah dan merupakan anutan orang-orang di daerah tersebut sebagai
sebuah aliran yang diyakini satu-satunya benar. Masa kecil Mulyadhi dilalui
sebagaimana umumnya, tidak banyak yang istimewa yang dapat mendukung
perkembangan intelektualnya. Setelah tamat dari SDN Legok tahun 1971 atas
anjuran ibunya Mulyadhi melanjutkan pendidikannya di PGAN (Pendidikan
Guru Agama Negeri) yang berarti dia harus pindah dari kampungnya. Namun
dia sarankan untuk berhati-hati karena guru PGA adalah kebanyakan
Muhammadiyah, sebuah istilah yang saat itu mengandung kesan negatif karena
bertentangan aliran yang mereka anut.6 Selanjutnya Mulyadhi pindah Sekolah
Persiapan (SP) IAIN (Institut Agama Islam Negeri) atas izin ayahnya. Selama
dua tahun di SP IAIN Mulyadhi mengalami perkembangan yang cukup berarti
berkat ketekunan membaca.
Pada tahun 1978, Mulyadhi melanjutkan studinya di IAIN Syarif
Hidayatullah Jakarta pada Fakultas Ushuluddin. Tempat inilah yang membuat
Mulyadhi merasa mulai mengalami perkembangan karir intelektual. Setelah
menyelesaikan studinya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Perkembangan
tingkat intelektual yang begitu tinggi dirasakan Mulyadhi ini pulalah yang
memberinya kesan, penghargaan akan tulisan-tulisan akademis konvensional
seperti tesis tidak begitu tinggi jika dibandingkan di Indonesia. Pertimbangan-
pertimbangn ini yang membuat Mulyadhi memutuskan untuk menulis kembali
tentang Rumi karena risetnya tidak dimulai dari awal lagi namun hanya
pengembangan dari skripsi yang pernah ditulisnya.7
Kemudian pada Tahun 1996 Mulyadhi meraih gelar doktor filsafat
dengan disertasi berbahasa Arab Mukhtasar Siwan al-Hikmah, berisi sekitar seribu
kata mutiara dari 60 filosof Yunani dan 13 filosof Muslim. Karya Mulyadhi ini
sesungguhnya tidak tergolong sepenuhnya pada bidang filsafat, tetapi tidak juga
tergolong masuk dalam kategori sastra Arab (filologi) sepenuhnya, melainkan
hasil editing dari manuskrip Umar Ibn Shahlan al-Sawi. Walaupun agak
pragmatis karya Mulyadhi ini, tetapi lebih merupakan kompromi perfeksionisme
dengan mengorbankan keterlibatan eksistensial seorang Mulyadhi yang menjadi
idealisme filosofisnya.
Pragmatisme-intelektual tersebut terpaksa dijalani sebab pada awalnya
Mulyadhi ingin menulis tentang Iqbal tetapi sayangnya tulisan tentang Iqbal di
Universitas Chicago sudah terdapat kurang lebih seribu katalog. Kemudian ia
mencoba memeras pikiran untuk mencari tema lain, dan menghasilkan tiga tema
yaitu; teori atom Asy’ari, kritik Suhrawardi atas logika Aristotelian, dan jawaban

5 Mulyadhi Kartanegara, Mozaik khasanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago, ( Jakarta:
Paramadina, 2000), h. 205.
6 Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, (Bandung:

Mizan, 2003). h. xvi.


7 Mulyadhi Kartanegara, Seni Mengukir Kata: Kiat-Kiat Menulis Efektif-Kreatif, h. 231-234.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 3


Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

Mulla Shadra terhadap kritik Kant. Namun keinginan itu terpaksa diurungkan
dengan alasan wafatnya Prof. Fazlurrahman yang sangat potensial untuk
menjadi pembimbingnya, di samping waktu yang tersedia untuk beasiswanya
sudah sangat mendesak, ditambah lagi dengan kultur Universitas Chicago yang
kurang memperhatikan karya-karya akademis.
Dari beberapa pertimbangan tersebut Mulyadhi kemudian
mengurungkan niatnya dan menerima tawaran Prof. Wadad al-Qadhi untuk
mengedit Mukhtasar Siwan al-Hikmah 8 karena menurut Prof. Al-Qadhi disertasi
lebih seperti “SIM” bagi pengemudi mobil. Jadi disertasi bukanlah akhir tetapi
justru awal karir seorang intelektual, sebagaimana SIM adalah awal karir
seorang sopir. Awal karir seorang cendekiawan justru dimulai setelah meraih
gelar doktor dengan menyelesaikan disertasinya. Dengan demikian dalam
suasana tertentu pengorbanan seperti ini tentu diperlukan demi penyelamatan
karir.

2. Relasi Epistemologi dan Status Ontologis


Berangkat dari pemetaan kontruksi epistemologis Barat dan Islam bahwa
kedua konstruksi tersebut sesuai dengan kepercayaannya kepada dunia
metaempirik, memiliki perbedaan yang fundamental. Lewat cerminan
epistemologi Barat maka menghasilkan keraguan bahkan menampik status
ontologis metaempirik, sementara konstruksi epistemologi Islam mencerminkan
kepercayaan yang kuat terhadap status ontologis dari bukan hanya obyek-obyek
empirikal, namun juga obyek-obyek metaempirik yang tak mampu diserap
hanya melalui persepsi indrawi.9
Dalam salah satu tulisannya, Mulyadhi menyodorkan perbandingan
antara epistemologi barat yang terjebak hanya pada penggunaan indrawi,
sehingga dalam menyorot persoalan ontologi hanya akan melihat dimensi
empirikalnya, dikatakan bahwa jika ilmu dianalogikan “cahaya” dan “kejahilan”
sebagai “kegelapan”, maka cahaya yang dipancarkan ilmu-ilmu yang lahir dari
rahim epistemologi Barat tak ubahnya seperti cahaya redup yang tak cukup
terang menyinari sisi gelap kehidupan manusia modern. Sedangkan
epistemologi Islam menyodorkan tiga alat epistemik yakni: indra, akal dan
intuisi sehingga pada penelusuran ontologi tidak hanya akan menyinari realitas
sebatas pada kenyataan empirik akan tetapi juga menangkap dimensi realitas
metaempirik, sehingga berujung pada penentuan nilai yang integral, holistik dan
absolut. 10
Obyek-obyek empirikal oleh ilmuan Muslim disebut sebagai mahsusat
(obyek-obyek ditangkap oleh indra), dan obyek-obyek metaempirik meraka

8 Mulyadhi Kartanegara, Seni Mengukir Kata: Kiat-Kiat Menulis Efektif-Kreatif, h. 237-243.


9 Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius: Memahami Hakikat Tuhan, Alam dan Manusia, h. 67.
10 Zainal Abidin Baqir, Jarot Wahyudi dan Afnan Anshori, Integrasi Ilmu dan Agama:

Interpretasi Untuk Aksi, h. 206.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 4


Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

sebut sebagai ma’qulat (obyek-obyek yang tidak dapat ditangkap melalui panca
indra, melainkan hanya dapat ditangkap oleh akal manusia).
Kepercayaan hanya pada dimensi empirikal status ontologis, tentu
berimplikasi pada klasifikasi ilmu, demikian pula pada konstruksi keilmuan
Islam, kepercayaanya kepada status ontologis bukan hanya pada dimensi
empirikal, namun melampaui itu yang padanya dilekatkan nama metaempirikal
tentu juga berimplikasi pada klasifikasi ilmu.
Meskipun dalam hal perincian klasifikasi ilmu memiliki variasi, tetapi
para ilmuan atau filosof muslim pada umumnya sepakat untuk membagi ilmu-
ilmu teoritis (Nazhariyat), dan ilmu-ilmu praktis (amaliyyat). Kemudian ilmu-ilmu
teoritis dibagi lagi menjadi metafisika, matematika, dan ilmu-ilmu alam.11 Taqi
Mishbah pun dalam bukunya menyinggung persoalan tersebut, berawal dari
Socrates menyebut dirinya sebagai filosof, lalu istilah filsafat digunakan sebagai
lawan dari sophistry (ke-sofis-an atau kerancuan berpikir), dan memuat seluruh
ilmu hakiki (real science), seperti fisika, kimia, kedokteran, astronomi,
matematika, dan teologi. Atas dasar asumsi tersebut sehingga filsafat dianggap
sebagai kata umum untuk seluruh ilmu hakiki, yang dibagi menjadi dua
kelompok umum: ilmu-ilmu teoritis dan praktis. Ilmu teoritis meliputi ilmu-ilmu
alam, matematika, dan teologi. Ilmu-ilmu alam meliputi kosmogoni, mineralogi,
botani, dan zoologi; matematika meliputi aritmatika, geometri, astronomi, dan
musik. Teologi dipilah menjadi dua kelompok: metafisika atau perbincangan
umum tentang wujud, dan teologi ketuhanan. Ilmu-ilmu praktis memiliki tiga
cabang: etika, moralitas/ akhlak; ekonomi domestik, dan politik.12
Deskripsi di atas maka dapat dipahami bahwa dalam sudut pandang
epistemologi Barat modern, melalui kontruksi sains empiriknya maka
konsekuensi logisnya hanya mengakui status ontologis empirikal, yang
dipertegas melalui pandangan positivistik Comte, yang dianggap ada itu
hanyalah sesuatu yang dapat dijangkau melalaui observasi indrawi dan
verifikasi empirik.13
Sementara itu epistemologi Islam tetap mempertahankan status ontologis
tidak hanya obyek-obyek fisik, tetapi obyek-obyek matematika, dan metafisika,
lebih dari itu ilmuan Islam telah menyusun hierarki wujud, dimulai dari entitas-
entitas metafisika, dengan Tuhan di puncaknya sebagai pemberi wujud bagi
yang lain,14 kemudian menurun melalui alam “antara” (barzakh) yang bisa kita

11 Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius: Memahami Hakikat Tuhan, Alam dan Manusia,

(Jakarta: Erlngga, 2007), h. 68. Lihat juga buku Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah
Respons Terhadap amaodernitas, h. 6.
12 Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, h. 6.
13 Donny Gahral Adian, Arus Pemikiran Kontemporer Atheisme: ”Positivisme Logis, Neo

Marxisme, Post Modernisme, Post Ideologi Syndrom”, h. 34.


14 Isma’il Raji al-Faruqi, Tauhid, diterjemahkan dari judul: Tawhid; Its Implications for Thought

and life, (Bandung: Pustaka, 1988), h. 51.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 5


Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

lihat percampuran antara unsur-unsur metaempirik, dengan bentuk yang unik


menuju alam empirik, tempat kita hidup dan berkembang.15
Pertama yang digambarkan oleh al-Farabi adalah Tuhan yang berada di
puncak hierarki wujud, termasuk al-Kindi memandang bahwa Tuhan adalah
sebab pertama sebagai sebab pertama maka merupakan sebab bagi keberadaan
wujud yang lain, dalam konsep ke-Tuhanan Ibn Sina dia memandang Tuhan
sebagai Wajib al-Wujud (Wujud Niscaya) yang dipersandingkan dengan status
ontologis alam sebagai mumkin-al-wjud (wujud yang mungkin atau potensial).
Alam sebagai wujud potensial keberadaannya sangat bergantung pada wujud
niscaya, dalam arti wujud yang senantiasa aktual, tanpa adanya wujud yang
senantiasa aktual, alam sebagai wujud yang mungkin (potensial) akan tetap
berada dalam keadaan potensial. Ia memang tidak mustahil untuk mengada,
akan tetapi ia bisa mengada hanya apabila ada wujud lain yang telah aktual yang
dapat mengubah potensi alam itu menjadi aktualitas.
Hierarki wujud yang kedua yaitu malaikat, al-Farabi menggambarkan
wujud immateril melalui perspektif filsafat, malaikat memiliki nama dan
deskripsi yang berbeda-beda, terkadang disebut akal oleh al-Farabi dan Ibn Sina,
dianggap cahaya oleh Suhrawardi, adapun status ontologis para malaikat
sebagai hierarki wujud kedua setelah Tuhan, malaikat-malaikat ini dipandang
oleh para filosof Muslim memperoleh status ontologis lebih tinggi dan nyata
daripada alam materil, sebagai bagian wujud dalam hierarki wujud. Akal aktif,
dalam filsafat emanasi al-Farabi dan Ibn Sina, merupakan agen penting dalam
pembentukan (formasi) dunia di bawah bulan dan isinya. Ibn Sina menyebut
agen tersebut sebagai shahib al-suwar, pemberi bentuk. 16
Hierarki wujud yang ketiga dijelaskan oleh al-Farabi yaitu, benda-benda
langit atau benda-benda angkasa (celestial), digambarkan bahwa berbeda dengan
para malaikat yang bersifat immateril, disatu pihak dan benda-benda fisik, yang
terus bersifat materi, dipihak lain, benda-benda angkasa merupakan gabungan
antara benda-benda immateril dan benda-benda fisik. Namun, justru karena
benda-benda ini tidak murni fisik, karena memiliki jiwa menurut Ibn Sina, status
ontologis benda-benda langit lebih tinggi dibanding status ontologis benda-
benda murni fisik.
Hierarki wujud yang terakhir bagi al-Farabi adalah benda-benda bumi
(terrestrial). Al-Farabi menjelaskan lima macam benda-benda bumi mulai dari
yang terendah hingga yang tertinggi yakni, pertama: unsur-unsur, kedua:
mineral, ketiga: tumbuh-tumbuhan, keempat: hewan non rasional, kelima:
manusia. Benda-benda mineral dibagi menjadi dua bagian: batu-batuan dan
logam-logaman, batu-batuan tentu memiliki hierarki mulai dari yang terendah
seperti batu koral hingga batu yang mulia seperti zamrud dan berlian.
Dikatakan oleh Ibn Sina bahwa batu-batuan mengalami gerak vertikal ketika

15 Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, 2003, h. 31.
16 Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respons Terhadap amaodernitas, h. 66.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 6


Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

benda-benda mineral telah sampai pada puncak perkembangannya maka


muncullah jenis makhluk hidup (organik) yang memiliki daya hidup atau (al-
nafs), daya yang dimiliki oleh tumbuhan adalah: tumbuh (growth), makan
(nutritive), dan reproduksi (berkembang biak).
Kemudian selanjutnya benda bumi ialah hewan yang terbagi ke dalam
non-rasioanal (binatang) dan rasional (manusia) yang tidak hanya tumbuh,
makan, dan reproduksi, melainkan memiliki daya sensasi dan gerak. Sensasi
adalah adalah daya pengindraan, dengan indranya hewan mampu melihat hal-
hal di sekelilingnya, ia mampu mengetahui makanan-makanan atau minuman
yang diperlukannya untuk menjaga kelangsungan hidupnya, kesadaran akan
lingkungannya yang diperoleh oleh binatang hanya melalui indranya sehingga
bersifat dangkal. Kesadaran yang dimiliki oleh binatang terhadap
lingkungannya juga sifatnya sementara (temporal) bergantung pada masa kini
dan terputus dari masa lalu dan masa mendatang, binatang tidak tahu barang
sedikit pun tentang dunia dan sejarahnya. Daya yang kedua, adalah gerak, tentu
daya ini merupakan hal yang penting bagi hewan untuk menjaga kelangsungan
hidupnya seperti ayam, membutuhkan gerak untuk mencari makanan dan
sebagainya.
Hewan yang kedua, adalah hewan rasional atau manusia, dibandingkan
dengan hewan non-rasional tentu hewan rasional lebih tinggi hierarkinya,
perbedaan mendasar antara hewan dan manusia adalah terletak pada ilmu dan
imanya,17 manusia dengan ilmunya mampu melahirkan teknologi canggih dan
melalui teknologi tersebut mampu menciptakan peradaban, dan yang tat kalah
pentingnya adalah dengan ilmunya, manusia dapat menilai benar dan salah,
dengan ini manusia mampu memiliki keimanan kepada Tuhan dan dengan
keimanannya mampu taat, berserah diri dan mengikuti tuntunan kebenaran
(ajaran ke-Tuhanan).
Melalui konstruksi gagasan yang berdasar pada bangunan filsafat Islam,
status ontologis tidak hanya terbatas pada obyek-obyek empirikal sebagaimana
apa yang telah disimpulkan oleh positivisme bahwa realitas yang ada hanyalah
sejauh apa dapat dijangkau oleh panca indra melalui observasi dan verifikasi
empirikal, namun juga pada obyek-obyek metaempirik, dan obyek-obyek ilmu
juga berpadanan dengan hierarki wujud. Semakin tinggi posisi wujud dalam
hierarki wujud, maka semaikin nyata dan fundamental status ontologisnya.
Karena obyek-obyek metaempirik menduduki posisi yang lebih tinggi.18

3. Kritik Pemikiran Mulyadhi Terhadap Bangunan Ilmu Modern


Mulyadhi sebagai salah satu pemikir Islam Indonesia juga menyadari hal
tersebut dan mengatakan bahwa memasuki millenium ketiga, ilmu pengetahuan
modern masih akan menjadi faktor dominan dalam kehidupan manusia. Sebagai

17 Murtadha Muthahhari, Membumikan Kitab Suci: Manusia dan Agama, h. 72-75.


18 Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, h. 32-41.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 7


Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

kekuatan raksasa, ilmu bisa saja secara potensial sangat destruktif atau
konstruktif, tergantung pada bagaimana kita mengelolanya. Membiarkan ilmu
dan aplikasinya dalam bentuk teknologi, berkembang begitu saja tanpa
pengarahan yang sistematis bisa sangat berbahaya, mengingat kekuatannya yang
sangat besar. Oleh karena itu segala upaya untuk menjinakkan dan
menyesuaikan kekuatan raksasa ilmu dengan habitat kultur bangsa kita sehingga
berdaya guna secara maksimal, perlu kiranya kita sambut dengan gembira
sebagai bagian dari tanggung jawab moral setiap cendekiawan.19
Respon kritis Mulyadhi terhadap modernitas yang bernuansa positivistik
dan materialistis yang membuat keterputusan terhadap dimensi Ilahiyah
sehingga menjadi biang dari segala macam krisis kehidupan dan melahirkan
sebagian manusia modern yang acapkali telah tercerabut dari akar-akar tradisi
intelektual Islam. Bagi Mulyadhi tentu saja, kritik atau tantangan filosofis yang
begitu serius dan berbahaya terhadap bangunan metaempirik, epistemologis,
dan etis Islam, itu tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa respon dan bahkan
kritik yang dapat dipertanggung jawabkan secara filosofis. Sehingga hal tersebut
merupakan pekerjaan rumah yang begitu penting bagi setiap kaum akademik
dalam bahasa al-Faruqi, karena kritik terhadap sebuah ide atau pendirian akan
dianggap benar selama tidak ada yang membantahnya.20
Setelah menelusuri secara seksama perkembangan ilmu modern,
akhirnya pada kesimpulan bahwa pada kenyataannya pandangan keilmuan
modern telah menimbulkan persoalan-persoalan serius. Pembatasan lingkup
ilmu oleh ilmuan-ilmuan Barat modern hanya pada obyek empirik, pada
awalnya mungkin hanya berupa pembagian kapling antara akal dan agama.
Namun, lambat laun pembatasan tersebut ternyata telah menjadi pembatasan
atau defenisi realitas itu sendiri. Pembatasan lingkup ilmu tersebut ternyata telah
mendorong banyak ilmuan Barat memandang dunia empirikal sebagai satu-
satunya realitas yang ada, seperti tergambar dari paham materialisme dan
positivisme, yakni pandangan-pandangan filosofis yang berakhir dengan
penolakan terhadap realitas metaempirik.
Implikasi yang dilahirkan dari kecenderungan pembatasan lingkup ilmu
hanya pada obyek-obyek fisikal melahirkan paradigma21 positivistik yang
reduksionis dan sekuler, dan pandangan ini tidak terjadi begitu saja melainkan
diupayakan secara sadar dan sistematis sebagaimana yang dikutip oleh
Mulyadhi dari asumsi Holmes Rolston III, sekularisasi ini dilakukan dengan,
“menolak secara programatik kategori-kategori (sebab-sebab) formal, dan final,
dalam setiap penjelasan ilmiah meraka.” Seperti kita ketahui secara seksama

19 Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, h. 1.


20 Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar “ Sebuah Respon Terhadap Modernitas”, h. 27.
21 Paradigma, oleh Thomas Kuhn diberikan pengertian penggunaan dalam banyak arti

diantarnya adalah model atau pola berpikir dan pandangan dunia kaum ilmuan. Penulis kutip dari
kutipan Husain Herianto dalam bukunya Paradigma Holistik: Dialog Filsafat, Sains, dan kehidupan
menurut Shadra dan Whitehead. (Jakarta: Teraju, 2003). 28.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 8


Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

bahwa pada abad pertengahan, berkat pengaruh Aristoles, penjelasan ilmiah


memerlukan empat kategori sebab: efisien, formal, material, dan final. Ilmu
pengetahuan menurut Rolston, telah berhenti untuk melakukan pencarian
makna-makna dalam pencarian mereka, karena menurut mereka pencarian
makna seperti itu lebih pantas masuk kedalam wilayah agama daripada wilayah
pengetahuan.
Positivisme dalam sorotan sejarah dan filosofis tumbuh subur pada abad
ke 19 ketika empirisme mendominasi. Positivisme lahir dan berkembang di
bawah naungan empirisme. Karenanya positivisme menyerang filsafat yang
subyek kajiannya metaempirik, positivisme menyerang konstruksi pemikiran
metafisika dengan tidak hanya menggunakan tuduhan-tuduhan seperti lazimnya
dilontarkan oleh pendukung-pendukung doktrin empirikal. Ia tidak hanya
mengatakan bahwa proposis-proposisi22 filosofis itu tidak bermanfaat bagi
kehidupan praktis dan tidak dapat dibuktikan dengan metode ilmiyah, kaum
positivis mengatakan bahwa proposi-proposisi itu bukanlah proposisi dalam arti
logis, karena hal tersebut tidak mengandung makna. Akan tetapi proposisi
tersebut omong kosong dan tak berarti apa-apa.23
Armahedi Mahzar juga mensinyalir tentang materialisme saintifik
(positivisme), pada dasarnya tidak khusus sekedar meruntuhkan agama atau
dimensi spiritual belaka, akan tetapi seluruh dimensi interior. Citra, simbol,
konsep dianggap tak punya realitas esensial pada dirinya sendiri, melainkan
sekedar representasi alam material yang nyata. Pikiran, kesadaran, jiwa, adalah
properties (sifat-sifat) dari alam indrawi dan dinamika saraf.24
Rasionalisme-materialisme sebagai nafas Barat modern telah
mengantarkan manusia modern menuju pada paradigma parsial terhadap
realitas dan menggiring pada relativitas nilai. Dasar asumsi ini dapat dilihat
pada tergesernya nilai-nilai religius dan realitas metafisik ke sudut kesadaran
manusia modern, yang telah menimbulkan apa yang disebut oleh Sayyed
Hossein Nasr sebagaimana yang dikutip oleh Mulyadhi sebagai krisis spiritual
manusia modern.
Rasio atau akal telah dijadikan ukuran untuk mengetahui apakah sesuatu
itu nyata ataukah hanya sebuah halusinasi. Sigmund Freud mengatakan bahwa,
daripada menyembah Tuhan yang merupakan ciptaan pikiran manusia, lebih
baik menghadapi dunia dengan gagah dan rasional. Sedangkan pengaruh

22 Proposisi biasa berupa ide partikular yang mengacu pada maujud tertentu seperti

gunung bawa karaeng salah satu gunug yang berada di kab. Gowa, dan kadang-kadang berupa
konsep universal yang bisa diterapkan padah contoh yang tak terhingga. Penulis kutip pada buku
Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, h. 136.
23 Muhammad Baqir al-Shadr, Falsafatuna>, diterjemahkan dari judul: Dirasah Mawdhu’iyah fi

Mu’tarak al-Shira’ al-Fikriy al-Qaim baina Mukhtalaf al-Islamiyah wa al-Maddiyah al-Diyaliktikiyah (al-
Marksiyyah), h. 56.
24 Fritjof Capra, The Tao Of Physics: Meyingkap Kesejajaran Fisika Modern dan Mistisisme

Timur, diterjemahkan dari judul, The Tao Of Physics: An Exploration of the Parallels between Modern
Physics and Easter Mysticism, diterjemhakan oleh Aufiya Ilhamal Hafizh, h. xxi .

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 9


Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

materialisme dapat dilihat dari pemihakan sains modern terhadap hal-hal yang
positivistik. Sebuah disiplin ilmu baru dikatakan saintifik, bila obyek-obyeknya
bersifat empiris yang karenanya bisa diukur dan diobservasi secara indrawi.

C. Simpulan
Mulyadhi adalah salah satu di antara banyak intelektual Muslim yang
menyodorkan konsep Islamisasi sains. Mulyadhi dengan konsep Islamisasi
epistemologis sebagai bentuk naturalisasi menyodorkan epistemologi yang
bercorak integral, Mulyadhi kembali memadukan klasifikasi ilmu dan metode
ilmu yang disebut sebagai bentuk naturaliasi, setelah ilmuan Barat memisahkan
bahkan menampik akal dan hati sebagai sumber dan metode ilmu, Sehingga
berimplikasi pada klasifikasi ilmu yang hanya membatasi dirinya hanya pada
sains yang bercorak empiris dan menganggap ilmu selain hal tersebut sebagai
ilmu palsu (pseudo sains). Ilmuan Barat yang membatasi hanya pada panca indra
sebagai satu-satunya sumber ilmu maka melahirkan klasifikasi ilmu pada level
ontologis hanya pada realitas sejauh yang dapat ditangkap melalui panca indra.
Berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh Mulyadhi melalui konsep Islamisasi
epistemologisnya, dia menyodorkan bukan saja panca indra sebagai sumber
ilmu, melainkan akal dan intuisi. Sehingga pada dimensi ontologisnya bangunan
epistemologi Islam bukan hanya mengakui level empirikal, namun level
metaempirik dan trans-metaempirik, sehingga implikasinya pada klasifikasi
ilmu mengakui bukan hanya ilmu fisika, namun ada matematika, dan metafisika.
Adapun kritik Mulyadhi terhadap bangunan ilmu modern yang
dibangun di atas fondasi rasionalisme-empiris adalah pandangannya yang
parsial, mereduksi pandangan alam dengan berdalih bahwa setelah Tuhan
menciptakan alam ini maka dia tidak lagi memiliki campur tangan terhadapnya.
Pandangan tersebut disebut sebagai teori pembuatan jam (clock maker theory)
yang lahir dari rahim paradigma Cartesian-Newtonian. Berawal dari paradigma
Cartesian-Newtonian lalu melahirkan banyak paham seperti, deisme,
naturalisme, materialisme, dan sekulerisme. Aliran pemikiran yang lahir akibat
dari inspirasinya terhadap paradigma Cartesian-Newtonian inilah yang menjadi
sasaran respon kritis Mulyadhi. Mulyadhi dalam menjawab sekaligus
merupakan tepisan atas pandangan tersebut meminjam teori baik dari ilmuan
Barat yang termasuk sebagai penemuan kontemporer, dia juga menggunakan
pandangan ilmuan dan filosof Islam yang lebih komprehensif dalam menjawab
tantangan tersebut.

Referensi
Armahedi Mahzar, Revolusi Integralisme Islam. Cet. I: Mizan Bandung, 2004
Donny Gahral Adian, Arus Pemikiran Kontemporer Atheisme: ”Positivisme Logis, Neo
Marxisme, Post Modernisme, Post Ideologi Syndrom”, Yogyakarta: Jalasutra,
2001

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 10


Andi Muhammad Ikbal Salam Pemikiran Kritis Mulyadhi...

Husain Herianto, Paradigma Holistik: Dialog Filsafat, Sains, dan kehidupan menurut
Shadra dan Whitehead. (Jakarta: Teraju, 2003
Isma’il Raji al-Faruqi, Tanggung jawab Akademikus Muslim dan Islamisasi Ilmu-Ilmu
Sosial, Jakarta: Minaret, 1987
Isma’il Raji al-Faruqi, Tauhid, diterjemahkan dari judul: Tawhid; Its Implications for
Thought and life, (Cet I; Bandung: Pustaka, 1988
Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, Mizan Bandung, 2003
Mulyadhi Kartanegara, Seni Mengukir Kata: Kiat-Kiat Menulis Efektif-Kreatif,
Bandung: MLC, 2005.
Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, Bandung:
Mizan, 2002
Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respons Terhadap
amaodernitas, Erlangga, Jakarta, 2007
Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam,
Bandung: Mizan, 2003
Mulyadhi Kartanegara, Mozaik khasanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago,
Jakarta: Paramadina, 2000
Murtadha Muthahhari, Membumikan Kitab Suci: Manusia dan Agama, diterbitkan
oleh: Free Islamic Literature, Inc. Housto, Texas. Penyunting Haidar
Baqir, Bandung, Mizan 2007
Zainal Abidin Baqir, Jarot Wahyudi dan Afnan Anshori, Integrasi Ilmu dan Agama:
Interpretasi Untuk Aksi, Bandung, Mizan 2005

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 11


PENGEMBANGAN SEKOLAH RAMAH ANAK DI TINGKAT
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Tusriyanto
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro
Email: tusriyanto@metrouniv.ac.id

Abstract
The phase of children aged 0-6 years (golden age) is a period where children must get
special education so that their physical and mental growth and development are
appropriate in order to be able to receive and respond to stimulation obtained from the
environment. The most important thing that must be carried out by the management of
education, especially at the level of Early Childhood Education is to seek Child Friendly
Schools. Child-friendly schools are defined as an open school concept, trying to apply
learning that pays attention to students' psychological and psychological development.
The development of SRA can be implemented in Early Childhood Education (PAUD),
through collaboration from families, communities and schools.
Keywords: Child Friendly School , family, community, and PAUD

Abstrak
Fase anak usia 0-6 tahun (golden age) adalah masa dimana anak harus mendapatkan
pendidikan khusus agar pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mentalnya secara
tepat agar mampu menerima dan memberi respon terhadap stimulasi yang didapatkan
dari lingkungan. Hal terpenting yang harus dilakukan pengelolan pendidikan khususnya
di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini adalah mengupayakan Sekolah Ramah Anak
(SRA). Sekolah ramah anak diartikan sebagai sebuah konsep sekolah yang terbuka,
berusaha mengaplikasi pembelajaran yang memperhatikan perkembangan psikis maupun
psikologis siswanya. Pengembangan SRA dapat dilaksanakan pada Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD), melalui kerjasama dari keluarga, masyarakat maupun sekolah.
Kata kunci: Sekolah Ramah Anak, keluarga, masyarakat, dan PAUD

A. Pendahuluan
Usia prasekolah atau balita merupakan fase yang sangat fundamental
bagi perkembangan individu. Usia balita sebagai masa terbentuknya kepribadian
dasar individu, usia prasekoah sebagai masa yang penuh dengan kejadian-
kejadian penting dan unik (a highly eventful and unique period of life) yang
meletakkan dasar bagi kehidupan seseorang di masa dewasa. Fernie menyakini
bahwa pengalaman-pengalaman belajar awal tidak akan pernah bisa diganti oleh
pengalaman-pengalaman berikutnya, kecuali dimodifikasi. Goleman
menjelaskan bahwa periode tiga atau empat tahun pertama merupakan periode
subur bagi pertumbuhan otak manusia hingga dapat mencapai kurang lebih dua
pertiga dari ukuran otak orang dewasa.1

1 Kristanto, dkk. Identifikasi Model Sekolah Ramah Anak (Sra) Jenjang Satuan Pendidikan Anak

Usia Dini Se-Kecamatan Semarang Selatan. Artikel dimuat dalam jurnal “Jurnal Penelitian PAUDIA”,
Volume 1 No. 1 Tahun 2011.
Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

Anak berusia 0-6 tahun (golden age) perlu mendapat perhatian khusus
karena masa tersebut merupakan masa terjadinya perkembangan dan
pertumbuhan yang pesat sekaligus kritis karena merupakan langkah awal masa
depan anak. Masa ini adalah suatu proses menuju kematangan fisik dan mental
sehingga mereka siap menerima dan memberi respon terhadap stimulasi yang
didapatkan dari lingkungan. Menurut Laurens, lingkungan fisik sekitar
seseorang sangat mempengaruhi mental dan perilakunya. Segala informasi dan
stimulasi dari lingkungan akan langsung diterima sehingga memberikan
pengaruh yang besar di kehidupan mereka.2 Dengan demikian, jelaslah bahwa
pada masa anak usia dini merupakan fase yang harus diperhatikan secara serius
bagi pendidik, orang tua, serta semua pihak yang terlibat dalam pendidikan
karena merupakan fase yang sangat penting bagi perkembangan anak menuju
fase selanjutnya.
Berikut adalah gambaran lingkungan awal yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak menurut Sari:

Gambar 1. Lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak


(sumber: Sari, 2009)
Berdasarkan gambar diatas terlihat jelas lingkungan yang mepengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak terbagi menjadi dua, yaitu lingkungan
rumah (orang tua, fisik, faktor lain) serta lingkungan luar rumah (masyarakat
dan lembaga formal: RA, dll.). Laurens menjelaskan bahwa setiap kelompok
memiliki kebutuhan dasar yang berbeda sesuai penggunanya. Kebutuhan dasar
anak-anak dalam berperilaku dalam sebuah lingkungan fisik berbeda dengan
orang dewasa sehingga dalam sebuah lingkungan fisik pada suatu RA,
dibutuhkan perlakuan yang sesuai dengan anak.3 Intinya untuk mendapatkan
pendidikan yang terbaik bagi anak usia dini (RA/TK/PAUD) diperlukan
kerjasama dari orang tua, masyarakat dan sekolah.
Selanjutnya, menurut Ornstein tentang fungsi belahan otak, salah
satunya, menunjukkan bahwa anak yang pada masa prasekolahnya mendapat

2 Ayu Oktira Diyanti, dkk. Lingkungan Ramah Anak pada Sekolah Taman Kanak-Kanak.

Dimuat dalam “Jurnal RUAS” Vol. 12 No. 2, Desember 2014.


3 Ibid.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 13


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

rangsangan yang cukup dalam mengembangkan kedua belah otaknya akan


memperoleh kesiapan yang menyeluruh untuk belajar secara sukses di saat
memasuki SD. Marcon menjelaskan bahwa kegagalan anak dalam belajar pada
tahap awal akan menjadi prediktor penting bagi kegagalan belajar pada kelas-
kelas berikutnya. Begitu pula, kekeliruan belajar awal bisa menjadi penghambat
bagi proses belajar selanjutnya.4 Hal lain yang menjadi faktor pentingnya
pendidikan anak usia dini dilihat dari tuntutan-tuntutan non-edukatif lainnya.
Dewasa ini tidak jarang di antara orang tua khusunya di kota-kota besar, yang
keduanya menghabiskan sebagian besar waktu mereka di kantor, tempat kerja,
atau untuk kepentingan bisnis. Sementara itu, kakek, nenek, atau saudara-
saudara lainnya tidak lagi berada di samping mereka. Atau kalau pun ada,
mereka semua juga sibuk dengan urusan masing-masing. Perubahan pola dan
sikap hidup serta struktur keluarga tersebut menuntut masyarakat untuk segera
memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan atau penitipan anak
secara dini.
Budaya belajar harus menjadi “Petualangan seumur hidup” dan
“Perjalanan eksplorasi tanpa akhir”, sehingga pertumbuhan seluruh kepribadian
terintegrasi dengan nilai-nilai yang dipelajari. Dengan demikian “Belajar” akan
menjadi sangat bermakna dan mampu mencetak pribadi-pribadi berkualitas
yang lebih dikenal dengan konsep pendidikan ramah anak yang selanjutnya
akan disebut sekolah ramah anak.5 Sekolah ramah anak adalah sebuah konsep
sekolah yang terbuka, berusaha mengaplikasi pembelajaran yang
memperhatikan perkembangan psikis maupun psikologis siswanya.
Mengembangkan kebiasan belajar sesuai dengan kondisi psikis dan kejiwaan
anak. Ditambahkan pula Aqib model sekolah ramah anak lebih banyak
memberikan prasangka baik kepada anak, guru menyadari tentang potensi yang
berbeda dari semua peserta didiknya sehingga dalam memberikan kesempatan
kepada siswanya dalam memilih kegiatan dan aktivitas bermain yang sesuai
minatnya.
Partisipasi adalah hak untuk bertindak yang digunakan siswa untuk
mengungkapkan kebebasan berpendapat, bertanya, berargumentasi, berperan
aktif di kelas dan di sekolah. Kebebasan berekspresi, bertanya, menjawab harus
ditanamkan sejak anak usia dini karena pada usia ini karakter individu mulai
terbentuk.6 Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pengembangan Sekolah
Ramah Anak (SRA) khususnya di tingkat pendidikan anak usia dini
(RA/TK/PAUD) merupakan suatu keniscayaan agar dapat membantu anak
menyelesaikan pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mentalnya secara

4 Kristanto, dkk. Identifikasi Model Sekolah Ramah Anak (Sra) Jenjang Satuan Pendidikan Anak

Usia Dini Se-Kecamatan Semarang Selatan. Artikel dimuat dalam jurnal “Jurnal Penelitian PAUDIA”,
Volume 1 No. 1 Tahun 2011.
5 Ibid.
6 Senowarsito, dkk., Implementasi Pendidikan Ramah Anak Dalam Konteks Membangun

Karakter Siswa Di Sekolah Dasar Negeri Di Kota Semarang. Artikel ini dimuat dalam “FPBS IKIP PGRI
Semarang” Vol. 6 No. 1 Tahun 2012.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 14


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

tepat agar mampu menerima dan memberi respon terhadap stimulasi yang
didapatkan dari lingkungan.

B. Sekolah Ramah Anak


1. Pengertian Sekolah Ramah Anak
Menurut Kristanto, Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang terbuka
melibatkan anak dan remaja untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, serta
mendorong tumbuh kembang dan kesejahteraan anak.7 Menurut Ratnasari
Sekolah Ramah Anak dapat diartikan sebagai sekolah atau tempat pendidikan
yang secara sadar menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek
kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. 8 Sekolah Ramah Anak
adalah program untuk mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan
berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin pemenuhan hak dan
perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya,
selama anak berada di satuan pendidikan, serta mendukung partisipasi anak
terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran dan pengawasan.9
Dengan demikian Sekolah Ramah Anak bukanlah membangun atau membuat
sekolah baru, tetapi menjadikan sekolah menjadi tempat nyaman bagi anak, serta
memastikan sekolah memenuhi hak anak dan melindunginya, karena sekolah
menjadi rumah kedua bagi anak, setelah rumahnya sendiri.
Adapun dasar pengembangan Sekolah Ramah Anak adalah “Pasal 4 UU
No.23/2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan setiap anak berhak untuk
dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan
harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dan
kekerasan dan diskriminasi. Salah satu hak dasar anak tersebut adalah hak
berpartisipasi yang diartikan sebagai hak untuk mengeluarkan pendapat dan
didengarkan suaranya. Anak mempunyai posisi yang strategis”. Menurut
Hariwijaya dalam keluarga, anak adalah prioritas utama sebagai tumpuan masa
depan keluarga. Pada anak seluruh harapan dan cita-cita orang tua tertumpah.
Namun seringkali hal ini menjadi beban berat yang harus dipikul oleh anak.
Manakala orang tua menjadikan anak sebagai pelampiasan obsesi mereka yang
belum tercapai. Anak dijadikan sarana untuk mengejawantahkan impian

7 Kristanto, dkk. Identifikasi Model Sekolah Ramah Anak (Sra) Jenjang Satuan Pendidikan Anak
Usia Dini Se-Kecamatan Semarang Selatan. Artikel dimuat dalam jurnal “Jurnal Penelitian PAUDIA”,
Volume 1 No. 1 Tahun 2011.
8 Ratnasari, dkk. Implementasi Penerapan Sekolah Ramah Anak Pada Penyelenggaraan

Pendidikan Sekolah Dasar. Artikel dimuat dalam “The 5th Urecol Proceeding”, UAD Yogyakarta 18
Februari 2017.
9 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Panduan Sekolah

Ramah Anak. Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Peberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak Tahun 2015., h. 14.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 15


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

mereka. sehingga hal ini menjadi tidak sehat bagi anak, mereka dipaksa berjalan
menurut rel yang telah diariskan orang tua mereka tanpa bisa melawan.10
Dalam sebuah komunitas anak juga mempunyai posisi yang strategis.
Anak adalah “embrio”, sebuah komunitas baru. Dengan demikian anak menjadi
penentu nasib perjalanan suatu komunitas. Anak juga dipandang sebagai tunas
muda yang akan menjadi generasi baru penentu masa depan komunitas. Maka
anak harus dipandang dan diberlakukan sebagai komunitas terpilih dalam
komunitas besarnya. Anak akan tumbuh dan berkembang dengan optimal bila
berada pada lingkungan yang mendukung (lingkungan keluarga, sekolah
maupun lingkungan masyarakat sekitarnya). Secara garis besar ada beberapa
ruang lingkup dimana anak tinggal dan hidup, dimana lingkungan ini sangat
berpengaruh terhadap terciptanya Sekolah Ramah Anak ini. Yang pertama
adalah keluarga kemudian lingkungan masyarakat (baik lingkungan desa, kota
ataupun negara). Ruang lingkup yang lebih besar lagi adalah dunia
internasional.11 Anak akan tumbuh berkembang secara optimal dengan
dukungan masyarakat, sekolah serta keluarga.
Dalam pelaksaaan Sekolah ramah Anak perlu dibuat tim pelaksana
program, dapat dibuat struktur organisasi yang bertugas sebagai koordinator
sekolah ramah anak, sehingga diharapkan dengan adanya koordinator tersebut
pelaksanaan program sekolah ramah anak dapat optimal.12 Pelaksanaan SRA
membutuhkan perencanaan yang baik salah satunya adalah perlu dibentuk tim
khusus yang mengurusi hal itu.

2. Indikator Sekolah Ramah Anak


Menurut Kristanto, dkk. Sekolah Ramah Anak ini bisa terwujud apabila
pusat pendidikan (sekolah, keluarga dan masyarakat) bisa bahu membahu
membangun Sekolah Ramah Anak (SRA) ini. Keluarga adalah komunitas
terdekat bagi anak didik. Lingkungan keluarga yang ideal bagi anak adalah
sebuah lingkungan keluarga yang harmonis, sehat baik lahir maupun batin.
Lingkungan semacam ini hanya dapat tercipta manakala sebuah keluarga dapat
memenuhi beberapa indikator sebagai berikut:
“a. Mampu memberikan hidup yang layak bagi (sandang, pangan,
papan), kesehatan dan pendidikan yang memadai bagi anak. b. Mampu
memberikan ruang kepada anak untuk berkreasi, berekspresi, dan berpartisipasi
sesuai dengan tingkat umur dan kematangannya. c. Mampu memberikan
perlindungan dan rasa aman bagi anak. d. Dalam sebuah keluarga yang
harmonis, sejahtera dan terlindungi anak akan tumbuh dan berkembang secara

10 Kristanto, dkk. Identifikasi Model Sekolah Ramah Anak (Sra) Jenjang Satuan

Pendidikan Anak Usia Dini Se-Kecamatan Semarang Selatan. Artikel dimuat dalam jurnal “Jurnal
Penelitian PAUDIA”, Volume 1 No. 1 Tahun 2011.
11Ibid.
12 Kiki, dkk., Implementasi Sekolah Ramah Anak (SRA) Pada Sekolah Percontohan Di SD

Pekunden 01 Kota Semarang Sebagai Upaya Untuk Mendukung Program Kota Layak Anak (KLA).
Artikel ini dmuat dalam “Jurnal ISOSPOL” Tahun 2016.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 16


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

wajar dan mampu mengoptimakan setiap potensi yang ada dalam dirinya. e.
Lingkup selanjutnya adalah lingkungan (masyarakat). Lingkungan masyarakat
yang mampu melindungi, nyaman dan aman akan sangat mendukung
perkembangan anak. Anak sebagai pribadi yang berkembang dan mencari jati
diri. Dalam pencariannya anak mempunyai kecenderungan untuk mencoba hal
baru serta mencari pengakuan dari sekitarnya. Dalam kerangka ini anak
seringkali berusaha meniru atau menjadi beda dengn sekitarnya. f. Sebuah
komunitas yang sehat bagi anak adalah komunitas yang mampu menerima dan
menghargai anak sebagai pribadi, apa adanya. Komunitas ini juga harus
mengakomodir kepentingan anak untuk berekspresi, berapresiasi dan
berpartisipasi. Selain itu yang tak kalah penting adalah bagaimana komunitas
mampu memberikan perlindungan pada anak sehingga anak meraasa aman
tinggal dan berinteraksi di dalam komunitasnya.”13
Jelaslah bahwa untuk mengembangkan Sekolah Ramah Anak (SRA)
diperlukan sinergitas antara (sekolah, keluarga dan masyarakat) yang
merupakan tri pusat pendidikan sebagaimana yang dituliskan oleh Ki Hajar
Dewantara. Pengembangan SRA tidak akan terlaksana dengan baik apabila
dilaksanakan secara sepihak, oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik
dari semua pihak,
Lebih lanjut menurut Kristanto untuk mencapai itu semua diperlukan
indiaktor untuk bisa mencapainya, diantaranya adalah sebagai berikut: a.
Inklusif secara proaktif, yang meliputi: 1) Secara proaktif mencari semua anak
yang termarginalisasi dari pendidikan. 2) Mempromosikan dan membantu anak
untuk memonitor hak-hak dan kesejahteraan semua anak di masyarakat 3)
Menghargai keberagaman dan memastikan kesetaraan kesempatan. 4)
Memberikan pendidikan yang bebas biaya dan wajib serta murah dan aksesibel.
5) Sehat, Aman dan Protektif b. Fasilitas toilet yang bersih, yang meliputi: 1)
Akses kepada air minum yang bersih. 2) Tidak ada kuman fisik atau gangguan.
3) Pencegahan HIV dan AIDS dan non diskriminasi. 4) Partisipasi Masyarakat c.
Terfokus pada keluarga: 1) Bekerja untuk memperkuat keluarga sebagai pemberi
asuhan dan pendidikan utama bagi anak. 2) Membantu anak, orang tua dan guru
membangun hubungan harmonis dan kolaboratif. d. Berbasis komunitas, yang
meliputi: 1) Mendorong kemitraan setempat dalam pendidikan. 2) Bertindak
dalam dan dengan masyarakat untuk kepentingan. e. Efektif dan berpusat pada
anak 1) Bertindak menurut kepentingan terbaik tiap anak. 2) Peduli kepada anak
“seluruhnya”; kesehatan, status gizi dan kesejahteraan. 3) Peduli tentang apa
yang terjadi kepada anak sebelum mereka masuk sekolah dan setelah pulang
dari sekolah. 4) Metode yang kreatif di dalam ruang kelas. f. Kesetaraan gender:
1) Mempromosikan kesetaraan gender dalam penerimaan dan prestasi. 2) Bukan
hanya kesempatan yang sama tetapi kesetaraan. 3) Menghilangkan stereotipe

13Ibid.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 17


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

gender. 4) Menjamin fasilitas, kurikulum, buku dan pengajaran yang sesuai


untuk anak perempuan.”
Untuk mencapai tujuan Sekolah Ramah Anak beberapa hal di atas dapat
dijadikan sebagai salah satu alternatifnya.

3. Ciri-ciri Sekolah Ramah Anak


Menurut Kristianto, ada beberapa ciri-ciri Sekolah Ramah Anak yang
ditinjau dari beberapa aspek:
“a. Sikap terhadap murid; Perlakuan adil bagi murid laki-laki dan
perempuan, cerdas-lemah, kaya-miskin, normal-cacat, anak pejabat-anak buruh,
Penerapan norma agama, sosial dan budaya setempat. Serta Kasih sayang
kepada murid, memberikan perhatian bagi mereka yang lemah dalam proses
belajar karena memberikan hukuman fisik maupun nonfisik bisa menjadikan
anak trauma. Saling menghormati hak-hak anak, baik antar murid, antar tenaga,
kependidikan serta antara tenaga kependidikan dan murid. b. Metode
Pembelajaran: Terjadi proses belajar sedemikian rupa sehingga siswa merasakan
senang mengikuti pelajaran, tidak ada rasa takut, cemas dan waswas, siswa
menjadi lebih aktif dan kreatif serta tidak merasa rendah diri karena bersaing
dengan teman siswa lain. Terjadi proses belajar yang efektif yang dihasilkan oleh
penerapan metode pembelajaran yang variatif dan inovatif. Misalnya: belajar
tidak harus di dalam kelas, guru sebagai fasilitator proses belajar menggunakan
alat bantu untuk meningkatkan ketertarikan dan kesenangan dalam
pengembangan kompetensi, termasuk lingkungan sekolah sebagai sumber
belajar (pasar, kebun, sawah, sungai, laut, dll). c. Proses belajar mengajar
didukung oleh media ajar seperti buku pelajaran dan alat bantu ajar/peraga
sehingga membantu daya serap murid. Guru sebagai fasilitator menerapkan
proses belajar mengajar yang kooperatif, interaktif, baik belajar secara individu
maupun kelompok. Terjadi proses belajar yang partisipatif. Murid lebih aktif
dalam proses belajar. Guru sebagai fasilitator proses belajar mendorong dan
memfasilitasi murid dalam menemukan cara/ jawaban sendiri dalam suatu
persoalan. d. Murid dilibatkan dalam berbagai aktifitas yang mengembangkan
kompetensi dengan menekankan proses belajar melalui berbuat sesuatu
(learning by doing, demo, praktek, dll). e. Penataan Kelas; Murid dilibatkan
dalam penataan bangku, dekorasi dan ilustrasi yang menggambarkan ilmu
pengetahuan, dll. Penataan bangku secara klasikal (berbaris ke belakang)
mungkin akan membatasi kreatifitas murid dalam interaksi sosial dan kerja
dikursi kelompok, Murid dilibatkan dalam menentukan warna dinding atau
dekorasi dinding kelas sehingga murid menjadi betah di dalam kelas, Murid
dilibatkan dalam memajang karya murid, hasil ulangan/ test, bahan ajar dan
buku sehingga artistik dan menarik serta menyediakan space untuk baca (pojok
baca). Bangku dan kursi sebaiknya ukurannya disesuaikan dengan ukuran
postur anak Indonesia serta mudah untuk digeser guna menciptakan kelas yang

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 18


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

dinamis. f. Lingkungan Kelas; Murid dilibatkan dalam mengungkapkan


gagasannya dalam menciptakan lingkungan sekolah (penentuan warna dinding
kelas, hiasan, kotak saran, majalah dinding, taman kebun sekolah), Tersedia
fasilitas air bersih, higienis dan sanitasi, fasilitas kebersihan dan fasilitas
kesehatan, Fasilitas sanitasi seperti toilet, tempat cuci, disesuaikan dengan postur
dan usia anak, Di sekolah diterapkan kebijakan/peraturan yang mendukung
kebersihan dan kesehatan. Kebijakan/peraturan ini disepakati, dikontrol dan
dilaksanakan oleh semua murid (dari-oleh-dan untuk murid)”.14
Demikianlah beberapa ciri-ciri Sekolah Ramah Anak yang dapat
dijadikan sebagai panduan bagi pengelola pendidikan.

4. Prinsip Mengembangkan Sekolah Ramah Anak


Menurut Kristianto ada beberapa prinsip yang mungkin bisa diterapkan
untuk mengembagkan sekolah yang ramah anak, diantaranya adalah:
“a. Sekolah dituntut untuk mampu menghadirkan dirinya sebagai sebuah
media, tidak sekedar tempat yang menyenangkan bagi anak untuk belajar. b.
Dunia anak adalah “bermain”. Dalam bermain itulah sesungguhnya anak
melakukan proses belajar dan bekerja. Sekolah merupakan tempat bermain yang
memperkenalkan persaingan yang sehat dalam sebuah proses belajarmengajar. c.
Sekolah perlu menciptakan ruang bagi anak untuk berbicara mengenai nilai-nilai
positif. Tujuannya agar terjadi dialektika antara nilai yang diberikan oleh
pendidikan kepada anak. d. Para pendidik tidak perlu merasa terancam dengan
penilaian peserta didik karena pada dasarnya nilai tidak menambah realitas atau
substansi para obyek, melainkan hanya nilai. Nilai bukan merupakan benda atau
unsur dari benda, melainkan sifat, kualitas, suigeneris yang dimiliki obyek
tertentu yang dikatakan “baik”. e. Hasil pertemuan dapat menjadi bahan refleksi
dalam sebuah materi pelajaran yang disampaikan di kelas. Cara ini merupakan
siasat bagi pendidik untuk mengetahui kondisi anak karena disebagian
masyarakat, anak dianggap investasi keluarga, sebagai jaminan tempat
bergantung di hari tua”.15
Prinsip membangun Sekolah Ramah Anak di atas bahwsanya sekolah
harus dapat dijadikan sebagai media belajar, sekolah merupakan tempat bermain
bagi anak, sekolah merupakan ruang untuk mengembangkan nilai-nilai positif,
pendidik tidak perlu merasa terancam dengan penilaian peserta didik,
melakukan refleksi bersama untuk mengetahui perkembangan anak.
Untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak menurut Wuri, ada enam
indikator yang dikembangkan untuk mengukur capaian SARA. Indikator
tersebut meliputi: 1) kebijakan SRA, 2) pelaksanaan kurikulum, 3) pendidikan
dan tenaga kependidikan terlatih hak-hak anak, 4) sarana dan prasarana SRA, 5)

14 Kristanto, dkk. Identifikasi Model Sekolah Ramah Anak (Sra) Jenjang Satuan Pendidikan Anak

Usia Dini Se-Kecamatan Semarang Selatan. Artikel dimuat dalam jurnal “Jurnal Penelitian PAUDIA”,
Volume 1 No. 1 Tahun 2011.
15 Ibid.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 19


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

partisipasi anak, dan 6) partisipasi orang tua, lembaga masyarakat, dunia usaha,
pemangku kepentingan lainnya, dan alumni. idealnya keenam indikator tersebut
harus dipenuhi dalam rangka mewujudkan SRA.16 Jelaslah dari kedua pendapat
tersebut di atas bahwasanya dalam mengembangkan SRA diperlukan
dukuangan dari semua pihak yang berupa kebijakan, fasilitas maupun kerjasama
dari orang tua, lembaga masyarakat, dunia usaha, pemangku kepentingan
lainnya, dan alumni.
Dengan masih tingginya kasus kekerasan yang terjadi selama kurun
waktu tahun 2013 Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA)
melaporkansebanyak 3.023kasus pelanggaran hak anak terjadi di Indonesia dan
58 persen atau 1.620 anak jadi korban kejahatan seksual. Dilihat dari klasifikasi
usia, dari 3.023 kasus tersebut, sebanyak 1.291 kasus (45 persen) terjadi pada
anak berusia 13 hingga 17 tahun, korban berusia 6 hingga 12 tahun sebanyak 757
kasus (26 persen), dan usia 0 hingga 5 tahun sebanyak 849 kasus atau 29 persen
(kompas).17 Berdasarkan data ini terlihat masih tingginya kasus kekearasan yang
dilakukan terhadap anak.
Merujuk pada hasil riset dari KPAI tersebut menunjukkan bahwa sekolah
hingga detik ini belum bisa menjadi tempat yang ramah bagi anak (siswa).
Meskipun disebut sebagai lembaga pendidikan, akan tetapi kekerasan justru
sering lahir dari tempat ini. Hal tersebut tentu sangat kontra produktif dengan
makna sekolah itu sendiri, yaitu sebagai tempat untuk belajar, bukan tempat
untuk melakukan kekerasan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat begitu
menyenangkan bagi anak, karena di lembaga pendidikan inilah anak-anak akan
di didik untuk saling mengenal, menyayangi satu dengan yang lain bukan untuk
bermusuhan atau saling menindas.18 Dengan demikian pengembangan SRA
menjadi sangat mutlak untuk menuntaskan serta mencegah terjadinya berbagai
kekerasan yang dilakukan terhadap anak serta untuk memenuhi hak-haknya.
Selanjutnya dalam kegiatan pembelajaran, pendidik dapat
mengimplementasikan pendidikan ramah anak yang berbasis 3 P (Provisi,
Proteksi, dan Partisipasi) dalamproses pembelajaranya dapat lebih
meningkatkan pada peran siswa dalam keaktifannya berekspresi, bertanya,
menjawab, berargumentasi, bahkan siswa diperkenankan untuk menginterupsi
pada saat pendidik sedang menjelaskan. Pendidikan ramah anak yang
diimplementasikan di sekolah secara langsung maupun tidak langsung dapat
membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter tidak saja merupakan tuntutan

16Wuri W., dkk., Implementasi Pemenuhan Hak Anak Melalui Sekolah Ramah Anak. Artikel ini
dimuat dalam “Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan”. Vol. 15 No. 1 Tahun 2018, h. 32.
17 Agus Yulianto. Pendidikan Ramah Anak: Studi Kasus SDIT Nur Hidayah Surakarta. Artikel

dimuat dalam “At-Tarbawi: Jurnal Kajian Kependidikan Islam” Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2016, h. 45.
18 Ibid.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 20


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

undang-undang dan peraturan pemerintah, tetapi juga oleh agama, karena setiap
agama mengajarkan karakter atau akhlak pada pemeluknya19.

5. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini


Menurut UU Sisdiknas No. 20/2003, Pasal. 1 ayat 14 berbunyi:
“Pendidikan Anak Usia Dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan lebih lanjut yang diselenggarakan pada jalur formal,
nonformal, dan informal.”20
Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu proses pembinaan tumbuh
kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup
aspek fisik dan non fisik dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan
jasmani, rohani (moral dan spiritual), motorik, akal fikir, emosional, dan sosial
yang tepat dan benar agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal.
Adapun upaya yang dilakukan mencakup stimulasi intelektual, pemeliharaan
kesehatan, pemberian nutrisi, dan penyediaan kesempatan-kesempatan yang
luas untuk mengeksplorasi dan belajar secara aktif Pendidikan Anak Usia Dini
merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang
menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan
fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta,
kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku
serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahaptahap
perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.21
Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003
ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan
penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8
tahun. Adapun ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini, yaitu:
a. Masa Bayi - Infant (0-1 tahun)
b. Masa Balita-Toddler (2-3 tahun)
c. Masa prasekolah – Preschool/Kindergarten children (3-6 tahun)
d. Masa Sekoah Dasar Awal-Early Primary School (6-8 tahun).22
Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:
a. Tujuan utama untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu
anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat
perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam

19 Hardi P.,Peran Bimbingan dan Konseling Dalam Pendidikan Ramah Anak Terhadap

Pembentukan Karakter Sejak Usia Dini. Artikel ini dimuat dalam “Jurnal CARE (Children Advisory
Research and Education)” Volume 04 Nomor 1 Juni 2016.
20 Ibid.
21 Ibid.
22 Ibid.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 21


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa


dewasa.
b. Tujuan penyerta untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan
belajar (akademik) di sekolah.23
Sedangkan tujuan umum dan khusus didirikannya PAUD adalah sebagai
berikut:
a. Tujuan umum didirikannya PAUD adalah “Mengembangkan berbagai
potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungannya di masa depan, termasuk siap
memasuki pendidikan dasar”.
b. Tujuan khusus didirikannya PAUD adalah:
1) Mampu merangsang perkembangan fisiknya, antara lain:
menggunakan keterampilan gerak tubuh, melakukan ibadah,
mengenal dan percaya kepada Tuhan YME dan mencintai sesama.
2) Mampu merangsang perkembangan moral, antara lain: menggunakan
bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi
secara efektif yang bermanfaat dalam proses berpikir dan belajar.
3) Mampu merangsang perkembangan kognitif, antara lain: berpikir
logis, kritis, kreatif mengenal lingkungan alam, sosial, memberi
alasan, berperan di masyarakat dan menghargai keragaman sosial
budaya.
4) Mampu merangsang perkembangan sosial anak, antara lain: peka
terhadap irama, nada, birama, berbagai bunyi, bertepuk tangan, serta
menghargai hasil karya yang kreatif.
5) Penigkatan kualitas kesehatan status gizi anak, melalui kegiatan PMT
dan peningkatan pengetahuan dan pemahaman orang tua tentang
tumbuh kembang anak. Kemudian manfaat PAUD bagi anak pra
sekolah adalah mereka yang belum berumur 6 tahun bisa bersekolah
melalui PAUD ini, karena didalam PAUD itu sendiri bukan hanya
pendidikan formal yang diajarkan melainkan pendidikan non formal.
Pada dasarnya mengarahkan pendidikan kepada anak sebelum umur
6 tahun itu lebih baik, karena anak bisa merasakan kegiatan
bersekolah meskipun belum mencapai umur. Misalkan, mereka bisa
bermain dengan teman sebayanya dan pendidik pun akan
mengarahkan ke arah permainan yang bermanfaat bagi si anak. Jadi,
manfaat PAUD bagi anak pra sekolah, mereka bisa merasakan
sekolah sebelum memasuki sekolah yang sebenarnya dan mempunyai
bekal pendidikan yang telah di ajarkan di PAUD.24
Oleh karena itu, hasil yang diharapkan dari PAUD adalah anak
mendapatkan rangsangan dan kesempatan serta peluang yang besar untuk

23 Ibid.
24 Ibid.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 22


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

mengembangkan potensi sepenuhnya. Anak yang merupakan subyek sentral


memiliki bakat, minat dan potensi yang tidak terbatas untuk dikembangkan oleh
pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadapnya di dalam suasana penuh kasih
sayang, aman, terpenuhi kebutuhan dasarnya, dan kaya stimulasi. Program-
program Pendidikan anak usia dini di Indonesia dewasa ini antara lain
dilaksanakan melalui kegiatan : a. Taman kanak-kanak (TK) b. Raudhatul Athfal
(RA) c. Kelompok Bermain (KB) d. Taman Penitipan Anak (TPA) e. Pos
Pelayanan Terpadu (Posyandu) f. Pos-pos PAUD. g. Sekolah Dasar awal h. Bina
Keluarga Balita (BKB) i. Dan satuan pos PAUD lain sejenis.25
Richen Dorji (2008) yang telah melakukan kajian terhadap lembaga
pendidikan formal di Bhutan dengan mengaplikasikan model sekolah ramah
anak pada beberapa lembaga formal jenjang sekolah Dasar di Bhutan yang
mencakup komponen program pembelajaran yang didasarkan pada konvensi
hak anak internasional. Penelitian tersebut memberikan implikasi terhadap
peningkatan hasil prestasi siswa dan peningkatan kualitas mengajar guru yang
ramah anak. Selain itu hasil penelitian Phnom Penh, Kamboja juga telah
mengukur keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan dengan
mengaplikasikan konsep sekolah ramah anak yang sudah dijadikan sebuah
kebijakan pemerintah Kamboja. Peningkatan itu terlihat dari fasilitas sekolah
yang sudah memperhatikan kebersihan dan higienitas bagi para siswanya.
Sanitasi lingkungan sekolah yang sudah teratur dan peningkatan kualitas
mengajar guru yang non diskriminasi.26
Hasil identifikasi satuan PAUD di Kecamatan Semarang Selatan yang
berkaitan dengan konsep sekolah ramah anak yang meliputi sikap terhadap
murid, metode pembelajaran, penataan kelas dan lingkungan yang sehat untuk
jenjang satuan Pendidikan Anak usia Dini dapat diklasifikasikan ke dalam
beberapa kategori, dari 32 Satuan PAUD yang ada di kecamatan Semarang
Selatan, terdapat Sebanyak 28 satuan PAUD sudah menunjukan perlakuan dan
penerapan norma agama, sosial, dan budaya setempat dan hanya empat satua
PAUD belum menunjukan perlakuan tersebut. Selain itu dalam perlakuan
terhadap murid dengan indikator kasih sayang kepada murid, memberikan
perhatian bagi mereka yang lemah dalam proses belajar. Memberikan hukuman
fisik maupun non fisik bisa menjadikan anak trauma sudah ditunjukan oleh
sebanyak 25 satuan PAUD dan sisanya sebanyak tujuh satuan PAUD. 27
Selanjutnya, hasil penelitian ratnasari, dkk. menunjukkan bahwa: Sekolah Ramah
Anak dapat diartikan sebagai sekolah atau tempat pendidikan yang secara sadar
menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara

25 Ibid.
26 Ibid.
27 Ibid.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 23


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

terencana dan bertanggung jawab.28 Berdasarkan beberapa hasil penelitian ini


dirasa perlu untuk mengembangkan SRA di PAUD untuk menjamin dan
memenuhi hak-hak anak.

C. Simpulan
Berdasarkan beberapa kajian teori serta beberapa penelitian yang
dilakukan berkaitan dengan Sekolah Ramah Anak diperoleh kesimpulan yaitu,
Pengembangan Sekolah Ramah Anak di PAUD adalah suatu keniscayaan
sebagai upaya untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan fisik
maupun mentalnya secara tepat agar mampu menerima dan memberi respon
terhadap stimulasi yang didapatkan dari lingkungan. Kemudian, untuk
melaksanakan Sekolah Ramah Anak diperlukan perencanaan yang baik, oleh
karena itu perlu dibentuk tim khusus agar kegiatannya terorganisir dengan baik.
Selain itu pengembangan Sekolah Ramah Anak di PAUD sebagai upaya untuk
menjamin dan memenuhi hak-hak anak. Serta Pengembangan Sekolah Ramah
Anak di PAUD dilaksanakan sebagai upaya untuk mengurangi serta mengatasi
maraknya kekerasan terhadap anak.

Referensi
Agus Yulianto. Pendidikan Ramah Anak: Studi Kasus SDIT Nur Hidayah
Surakarta. Artikel dimuat dalam “At-Tarbawi: Jurnal Kajian Kependidikan
Islam” Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2016,
Ayu Oktira Diyanti, dkk. Lingkungan Ramah Anak pada Sekolah Taman Kanak-
Kanak. Dimuat dalam “Jurnal RUAS” Vol. 12 No. 2, Desember 2014.
Hardi P., Peran Bimbingan dan Konseling Dalam Pendidikan Ramah Anak
Terhadap Pembentukan Karakter Sejak Usia Dini. Artikel ini dimuat
dalam “Jurnal CARE (Children Advisory Research and Education)” Volume
04 Nomor 1 Juni 2016.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Panduan
Sekolah Ramah Anak. Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian
Peberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2015., h. 14.
Kiki, dkk., Implementasi Sekolah Ramah Anak (SRA) Pada Sekolah Percontohan
Di SD Pekunden 01 Kota Semarang Sebagai Upaya Untuk Mendukung
Program Kota Layak Anak (KLA). Artikel ini dmuat dalam “Jurnal
ISOSPOL” Tahun 2016.
Kristanto, dkk. Identifikasi Model Sekolah Ramah Anak (Sra) Jenjang Satuan
Pendidikan Anak Usia Dini Se-Kecamatan Semarang Selatan. Artikel
dimuat dalam jurnal “Jurnal Penelitian PAUDIA”, Volume 1 No. 1 Tahun
2011.

28 Ratnasari, dkk., Implementasi Penerapan Sekolah Ramah Anak Pada Penyelenggaraan

Pendidikan Sekolah Dasar. Artikel ini dimuat dalam “Artikel dimuat dalam “The 5th Urecol
Proceeding”, UAD Yogyakarta 18 Februari 2017.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 24


Tusriyanto Pengembangan Sekolah Ramah...

Ratnasari, dkk. Implementasi Penerapan Sekolah Ramah Anak Pada


Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Dasar. Artikel dimuat dalam “The
5th Urecol Proceeding”, UAD Yogyakarta 18 Februari 2017.
Senowarsito, dkk., Implementasi Pendidikan Ramah Anak Dalam Konteks
Membangun Karakter Siswa Di Sekolah Dasar Negeri Di Kota Semarang.
Artikel ini dimuat dalam “FPBS IKIP PGRI Semarang” Vol. 6 No. 1 Tahun
2012.
Wuri W., dkk., Implementasi Pemenuhan Hak Anak Melalui Sekolah Ramah
Anak. Artikel ini dimuat dalam “Jurnal Civics: Media Kajian
Kewarganegaraan”. Vol. 15 No. 1 Tahun 2018.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 25


KONSTRUKSI DAN ARAH BARU PEMAHAMAN TERHADAP I’JAZ
AL-QURAN

Fathul Mu’in
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Email: fathulmuin@radenintan.ac.id

Rudi Santoso
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Email: rudisantoso@radenintan.ac.id

Abstract
I'jaz is the ability to subdue and show it self above all others. when this term is pinned to
the qur'an, it demands that the holy book brought by the Prophet Muhammad be able to
subdue all the writings that have ever existed, while converting the qur’an into the most
noble and undisputed book. The miracles of the qur’an cannot be matched. This is
manifested in the aspect of the beauty of language, the stories contained in it, in addition
to monotheism, the rules of the Shari'a, and others, as well as extraordinary complete
scientific information when examined in depth. To appreciate the miracle of this Qur’an,
every Muslim should fulfill the right of the Qur'an by reading and memorizing it,
analyzing it and applying it in daily life as a guide for those who believe and devout.
Keyword: I'jaz, the Miracle, the Holy Qur'an

Abstrak
I’jaz merupakan kemampuan untuk menundukkan dan menunjukkan dirinya melebihi
yang lainnya. Ketika istilah ini disematkan kepada Alquran, maka kitab suci yang dibawa
oleh Rasulullah ini dapat menundukkan seluruh tulisan-tulisan yang pernah ada,
sekaligus juga menobatkan Alquran menjadi mu’jizat sekaligus kitab paling mulia dan
tidak terbantahkan. Kemukjizatan Al-Qur’an tidak mungkin bisa tertandingi. Hal ini
terwujud dalam aspek keindahan bahasa, kisah yang terkandung di dalamnya, selain
tauhid, aturan syariat, dan sebagainya, serta informasi ilmiah yang luar biasa
lengkapnya jika ditelaah secara mendalam. Untuk mengapresiasi kemukjizatan Alquran
ini, hendaknya setiap umat Islam memenuhi hak Alquran yaitu dengan membaca,
menghafal, mengkaji, menganalisa serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa.
Kata Kunci : I’jaz, Mu’jizat, Al-Qur’an

A. Pendahuluan
Al-Qur’an adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizatnya diperkuat
oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Allah menurunkan Al-Qur’an secara
berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Berbeda dengan kitab-kitab suci
yang diturunkan kepada paraRasul sebelum Nabi Muhammad SAW. Seperti
Nabi Ibrahim AS yang diberi shuhuf (lembaran-lembaran suci) dalam satu waktu
alias sekaligus. Demikian pula dengan Nabi Musa aAS dan Nabi Isa AS yang
menerima al-alwâh(lembaran-lembaran suci) yang di dalamnya terdapat teks-teks
Taurat dalam satu waktu.Nabi Isa AS juga menerima kitab suci Injil sekaligus.
Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

Sedangkan kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWTmenurunkannya dengan


sebuah proses yang cukup panjang. Di balik hal itu, tentu terdapat hikmah-
hikmah ilahiyah, sebagaimana diisyaratkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an.1
Mu’jizat yang diperlihatkan oleh seorang Rasul, merupakan sesuatu
yangdari sebelumnya telah diketahui oleh manusia secara umum. Dapat
dikatakan jugasesuatu yang dapat dipahami oleh manusia akan tetapi tidak
dapat dilakukan ataudiperoleh oleh manusia awam. Maka mu’jizat bukanlah
sesuatu yang sangat barudan tidak dapat dipahami oleh siapa pun. Mu’jizat
merupakan hal yang menyalahi sesuatu yang biasanya terjadi akan tetapi masih
dalam batas pengetahuan yangdapat dipahami manusia, sehingga dapat
dibukitkan dan disaksikan oleh manusiapada umumnya. Karena apabila
mu’jizat bukan sesuatu yang dapat dimengerti maka tidak akan memberikan
manfaat bagi umat yang diperlihatkan mu’jizat tersebut. Akan tetapi kalau dapat
dipahami dan ia menyadari kekerdilan dirinya dihadapan mu’jizat tersebut
sehingga tergerak untuk mengimaninya secara objektif.2
Al-Qur’an yang secara harfiah berarti bacaan sempurnamerupakan suatu
nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak
manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi
Al-Qur’an Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu. Tiada bacaan semacam Al-
Qur’an yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau
tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal huruf demi huruf oleh
orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Tiada bacaan melebihi Al-Qur’an dalam
perhatian yang diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi
ayatdemi ayat, baik dari segi masa, musim, dan saat turunnya, sampai
kepadasebab-sebab serta waktu-waktu turunnya.3
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang bersifat mu’jizat yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantara Jibril dengan lafal dan
maknanya dari Allah swt, yang dinukilkan secara mutawatir; membacanya
merupakan ibadah; dimulai dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah
an-Nas.4 Al-Qur’an Al-Karim terdiri dari 30 juz, 114 surat dan susunannya
ditentukan oleh Allah swt. Dengan cara tawqifi(berdasarkan petunjuk Alah),
tidak menggunakan metode sebagimana metode-metode penyusunan buku
ilmiah. Buku ilmiah yang membahas satu masalah selalu menggunakan satu
metode tertentu, metode ini tidak terdapat dalam Al-Qur’an Al-Karim, yang di
dalamnya banyak persoalan induk silih berganti diterangkan.5
Al-Qur`an sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Nabi
Muhammad saw. sebagai penuntun dalam rangka pembinaan umatnya

Abdul Shabur Syahin, Saat Al-Qur’an Butuh Pembelaan (Jakarta: Erlangga, 2014), h. 11.
1
2Az-Zarqani, Muhammad, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Alquran, Jilid. 1,tahqiq: Fawwaz
Ahmad Zamarli, (Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, 1415 H/1995 M), h. 63.
3 M. Quraish Shihab, Wawasan AL-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996), h. 3.
4 M. Quraish Shihab, et. all., Sejarah dan Ulum Al-Qur‟an, (Jakarta: Pusataka Firdaus, 2008),

h. 1.
5 Ibid, h. 14.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 27


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

sangatlah fenomenal. Lantaran di dalamnya sarat nilai-nilai yang unik, pelik dan
rumit sekaligus luar biasa. Hal ini lebih disebabkan karena eksistensinya yang
tidak hanya sebagai ajaran keagamaan saja, melainkan ajaran kehidupan yang
mencakup total tata nilai semenjak hulu peradaban umat manusia hingga
hilirnya. Diantara nilai-nilai tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-
isyarat ilmiah dan muatan hukum yang terkandung didalamnya. Saking pelik,
unik, rumit dan keluar biasanya tak pelak ia menjadi objek kajian dari berbagai
macam sudutnya, yang darinya melahirkan ketakkjuban bagi yang beriman dan
cercaan bagi yang ingkar.
Namun demikian, seiring dengan waktu dan kemajuan intelkstualitas
manusia yang diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, sedikit
demi sedikit nilai-nilai tersebut dapat terkuak dan berpengaruh terhadap
kesadaran manusia akan keterbatasan dirinya, sebaliknya mengokohkan posisi
Al-Qur`an sebagai kalam Tuhan yang kudus yang berfungsi sebagai petunjuk
dan bukti terhadap kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Serentetan nilai Al-Qur`an yang unik, pelik, rumit sekaligus luar biasa hingga
dapat menundukkan manusia dengan segala potensinya itulah yang lazimnya
disebut dengan mukjizat. Makalah ini ditulis untuk mengetahui mu’jizat yang
terkandung dalam kitab suci umat Islam yang bernama Al-Qur’an.

B. Pembahasan
1. Pengertian Mukjizat
Secara bahasa, kata I'jaz berasal dari kata 'ajz yang berartikelemahan atau
ketidak rnarnpuan. Kata I'jaz adalah bentuk nominaverbal dati kata 'ajaza yang
berarti mendahului. Dengan dernikianistilah al-l'jaz al-Tmi (kemukjizatan
ilmiah) Alquran atau al-Hadismisalnya mengandung makna bahwa kedua
sumber ajaran agama itutelah mengabarkan kepada kita tentang fakta-fakta
ilmiah yang kelakditernukan dan dibuktikan oleh eksperiment sains umat
manusia, danterbukti tidak dapat dicapai atau diketahui dengan sarana
kehidupanyang ada pada zaman Rasulallah saw. Hal itu membuktikan
kebenaranyang disampaikan oleh Rasulallah saw.6
Kata i’jaz atau mukjizat memang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an
maupun oleh para penulis terdahulu. Sebaliknya, mereka menggunakan kata-
kata Ayah atau Karamah, sampai Al-Wasithi memilih i’jazul-Qur’an sebagai judul
tulisan beliau yang terkenal. Kata Mu’jizah memberi makna baru yang
didefinisikan oleh para teolog sebagai sesuatu yang di luar nalar atau
kemampuan akal manusia, menantang dan tidak mungkin dikalahkan.7Kata
mukjizat diambil dari bahasa Arab ‫أعجز‬a’jaza-i’jazyang mengandungarti

6 Ahmad Fuad Pasya, Dimensi Sains AI-Qur'an, cet.I, (Solo: PT. TigaSerangkai Pustaka
Mandiri, 2004), h. 23.
7 Yusuf Al-Hajj Ahmad, Mukjizat Al-Qur’an yang Tak Terbantahkan (Solo: Aqwam, 2016), h.

39.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 28


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

ketidakmampuan.8Mukjizat ialah membuat orang menjadi tunduk, sesuatu yang


datang kemudian, dan membuat orang menjadi lemah karena tidak mempunyai
kemampuan menghadapi sesuatu.
Manna al-Qattan, ahli tafsir dan fikih dari Mesir mendefinisikan mukjizat
dengan sesuatu yang di luar adat kebiasaan yang tidak satu tantangan pun dapat
menandinginya. Sementara itu, Abdul Karim az-Zarqani mengatakan bahwa
mukjizat adalah suatu kejadian luar biasa yang dapat melemahkan manusia atau
makhluk lain. Manusia tidak mampu membuat tandingan yang serupa, baik
secara individu maupun kelompok.9Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya
berpendapat bahwa mukjizata dalah adalah perbuatan-perbuatan yang tidak
dapat ditiru oleh manusia.10
Dengan redaksi yang berbeda, mukjizat didefinisikan pula sebagai
sesuatu luar biasa yang diperlihatkanAllah melalui para Nabi dan Rasul-Nya,
sebagai bukti atas kebenaranpengakuan kenabian dan kerasulannya.11
Sedangkan menurut M. Qurais Shihab ada empat unsur yang harus menyertai
sesuatu sehingga ia dinamakan mukjizat. Keeempat unsur itu adalah:
a. Hal atau peristiwa yang luar biasa.
Yang dimaksud luar biasa adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan
sebab akibat yang diketahui secara umum hukum-hukumnya.
b. Terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku nabi.
Apabila hal-hal yang luar biasa terjadi bukan dari seseorang yang
mengaku nabi, ia tidak dinamai mukjizat.
c. Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian.
Tantangan ini harus berbarengan dengan pengakuannya sebagai nabi,
bukan sebelumnya.
d. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani.
Bila yang ditantang berhasil melakukan hal yang serupa, maka ini berarti
bahwa pengakuan sang penantang tidak terbukti.12
Manusia mengalami perkembangan dalam pemikirannya. Umat
paraNabi khususnya sebelum Nabi Muhammad membutuhkan bukti kebenaran
yang sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Bukti tersebut harus demikian
jelas dan langsung terjangkau oleh indramereka. Akan tetapi, setelah manusia
mulai menanjak ke tahap kedewasaan berpikir, bukti yang bersifat indrawi tidak
dibutuhkan lagi.13

8 Ibn Manzur, Lisan al-Arab Jilid II, (Beirut: Dar Sodir, t.t.), h. 369.
9 Tim Penyusun, Ensiklopedi Hukum Islam Jilid 4 (Jakarta: PT. Bachtiar Baru Van Houve,
1997), h. 1223.
10 Ibnu Ahmad ‘Alimi, Menyingkap Rahasia Mukjizat Al-Qur’an, (Surabaya: Mashur, 2004) ,

h. 3.
11 Said Agil Husain Al-Munawwar, I’jaz Al-Qur’an dan Metodologi Tafsir (Semarang: Dimas,

1994), h. 1.
12 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan

Pemberitaan Ghaib (Bandung: Mizan, 2004), h. 36.


13 Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumul Qur’an, penrj. Tim Editor Indiva, Ulumul

Qur’an, Studi Al-Qur’an Komprehensif Jilid 2 (Solo: Indiva Media Kreasi, 2009), h. 662.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 29


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

2. Mukjizat Al-Qur’an
Mukjizat Al-Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang yang
menggunakan akalnyadi mana dan kapanpun.14 Bentuk lain dari i’jaz yang
banyak dibicarakan, bahkan menjadi diskursus pada saat ini adalah mukjizat
ilmiah dalam Al-Qur’an. Seseorang yang mempelajari secara khusus ilmu-ilmu
Al-Qur’an tidak akan ragu untuk menyatakan bahwa di dalam Al-Qur’an
terkandung isyarat-isyarat ilmiah, bahkan fakta-fakta ilmiah yang bersifat i’jaz.
Karena, hal itu melampaui batas-batas masa, umat, bahkan Nabi Muhammad
sendiri sebagai penerima Al-Qur’an.15
Para ulama sepakat bahwasanya Al-Quran tidaklah melemahkan
manusia untuk mendatangkan sepadan Al-Qur’an hanya karena satu aspek saja,
akan tetapi karena beberapa aspek, baik aspek lafzhiyah (morfologis), ma’nawiyah
(semantik) dan ruhiyah (psikologis). Semuanya bersandarkan dan bersatu,
sehingga melemahkan manusia untuk melawannya.16
Walaupun telah disepakati sebagai mukjizat (bahkan mukjizat terbesar),
tetapi para ulama berbeda pandangan dalam menentukan letak nilai
kemukjizatan Al-Qur’an. Unsur apa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai
mukjizat masih menjadi perbincangan hingga saat ini, dan belum juga
terselesaikan. Menurut Aisyah Abdurrahman (lebih dikenal sebagai Bintu Syati),
seorang cendekiawan Mesir yang mendalami kajian kemukjizatan Al-Qur’an,
setiap ulama yang membahas tentang kemukjizatan Al-Qur’an selalu merasa
pendapatnya sebagai pendapat akhir yang paling sahih. Akan tetapi, seiring
bejalannya waktu akan terbukti bahwa ulama tersebut masih meninggalkan
celah kosong yang mendorong ulama setelahnya untuk mengisi kekosongan
tersebut.17
Namun demikian mereka berbeda pendapat dalam meninjau segi
kemukjizatan Al-Qur’an. Perbedaan itu adalah sebagai berikut:
a. Sebagian ulama berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Qur’an adalah
sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur’an itu sendiri, yaitu susunan
yang tersendiri dan berbeda dengan bentuk puisi orang Arab maupun
bentuk prosanya, baik dalam permulaannya, maupun suku kalimatnya.
b. Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Qur’an itu
terkandung dalam lafal-lafalnya yang jelas, redaksinya yang bernilai
sastra dan susunannya yang indah, karena nilai sastra yang terkandung
dalam Al-Qur’an itu sangat tinggi dan tidak ada bandingannya.
c. Ulama lain berpendapat bahwa kemukjizatan itu karena Al-Qur’an
terhindar dari adanya pertentangan, dan mengandung arti yang lembut

14 Ibid, h. 36.
15 Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gema
Insani Press, 1998), h. 319.
16 Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, cet. 8, terj. Noer Iskandar al-Barsany dan Moh.

Tolchah Mansoer, (Kairo: Dar al-‘Ilm:1978), h. 30.


17 Aisyah Abdurrahman, Al-I’jaz Al-Bayani lil Quran, (Kairo: Darul Maarif, t.th.), h. 13.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 30


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

dan memuat hal-hal ghaib diluar kemampuan manusia dan diluar


kekuasaan mereka untuk mengetahuinya.
d. Ada lagi ulama yang berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Qur’an
adalah keistimewaan-keistimewaan yang nampak dan keindahan-
keindahan yang terkandung dalam Al-Qur’an, baik dalam permulaan,
tujuan maupun dalam menutup setiap surat.18
Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya al-Jami’i Ahkamil Qur’an menyebutkan
sepuluh segi kemukjizatan al-Quran, sementara al-Zarkani dalam kitabnya
Manahilul Irfan mencatat empat belas segi kemukjizatan al-Quran.19 Perbedaan
pendapat ulama diatas diketahui sesuai dengan kemampuan mereka masing-
masing. Jadi bukan berbeda dalam menentukan batasan-batasan kemukjizatan
Al-Qur’an, karena aspek-aspek kemukjizatan al-Quran tidak hanya terbatas pada
aspek-aspek tertentu yang mereka sebutkan.20
Adapun aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’an adalah:
a. Susunan bahasanya yang indah, berbeda dengan susunan bahasa Arab.
b. Uslubnya (susunannya) yang menakjubkan, jauh berbeda dengan segala
bentuk susunan bahasa Arab.
c. Keagungan yang tidak mungkin bagi makhluk untuk mendatangkan
sesamanya.
d. Syariat yang sangat rinci dan sempurna melebihi setiap undang-undang
buatan manusia.
e. Mengabarkan hal-hal ghaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan
wahyu.
f. Tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.
g. Al-Quran memenuhi setiap janji dan ancaman yang dikabarkannya.
h. Luasnya ilmu-ilmu pengetahuan yang terkandung didalamnya.
i. Kesanggupannya dalam memenuhi segala kebutuhan manusia.
j. Berpengaruh terhadap hati para pengikutnya dan orang-orang yang
memusuhinya.21

3. Jenis Mukjizat Al-Qur’an


a. Mukjizat Dari Segi Bahasa
Menghayati keindahan, ketelitian, serta kecematan pembahasan Al-
Qur’an tidaklah mudah, terutama bagi bangsa kita yang pada umumnya kurang
mempunyai apresiasi terhadap sastra Arab. Tetapi kemukjizatan Al-Qur’an
justru dari segi kebahasaan, selain isi dan ilustrasi-ilustrasinya. Sejarah
memperlihatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan berdasarkan urutan kejadian dan

18 Muhammad Ali al-Shabuniy, Studi Ilmu al-Quran, terj. Aminuddin, (Bandung: Pustaka

Setia, 1999), h. 137.


19 Muhammad Abdul ‘Azim al-Zarkani, Manahilul Irfan fi Ulum al-Quran, Juz II, (Beirut:

Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1988), h. 355.


20 T.M. Hasbi Al-Shiddiqiey, Mu’djizat al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), h. 33.
21 Muhammad Ali al-Shabuniy, Studi Ilmu al-Quran, terj. Aminuddin, (Bandung: Pustaka

Setia, 1999), h. 138.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 31


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

tidak berdasarkan urutan ayat atau surah yang terlihat dalam mushaf baku.
Bahkan ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan secara spontan untuk menjawab
persoalan-persoalan pelik yang dihadapi Nabi.
Para peneliti menemukan keajaiban yang luar biasa yang dimiliki Al-
Qur’an, yang mustahil manusia mampu menandinginya. Abdul Razak Naufal
ketika meneliti Al-Qur’an menemukan keseimbangan-keseimbangan dalam
bilangan kata yang dipergunakan Al-Qur’an. Sementara Rasyad Khalifah
menemukan konsistensi pemakaian jumlah huruf pembuka surah dalam surah
yang bersangkutan. Sedang al-Rumani, al-Baqilani, dan Rasyid Ridha melihat
sudut keindahan bahasa Al-Qur’an yang jauh melebihi keindahan sastra Arab.22
Setiap nabi yang diutus, senantiasa disesuaikan dengan keahlian
masyarakatnya. Menurut Shihab, hal ini karena suatu keistimewaan baru dapat
menjadi bukti bila aspek yang dikemukakan dapat dimengerti oleh mereka yang
ditantang; dan bahwa bukti tersebut, akan semakin membungkamkan bila aspek
tantangan dimaksud menyangkut sesuatu yang dinilai sebagai keunggulan yang
ditantang. Sangat populer kita ketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam
bahasa Arab karena masyarakat yang kepadanya pertama kali Al-Qur’an
menggunakan bahasa Arab dalam berkomunikasi. Walaupun demikian, Al-
Qur’an secara tegas menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan semata-mata untuk
orang-orang Arab, melainkan untuk seluruh alam.
Al-Qur’an pertama kali berinteraksi dengan masyarakat Arab pada masa
Nabi Muhammad. Keahlian mereka adalah bahasa Arab dan sastra Arab. Di
mana-mana terjadi musabakah (perlombaan) dalam menyusun syair atau
khutbah, petuah, dan nasihat. Syair-syair yang dinilai indah, digantung di
ka’bah, sebagai penghormatan kepada penggubahnya sekaligus untuk dinikmati
oleh yang melihat atau membacanya. Penyair mendapat kedudukan yang
istimewa dalam masyarakat Arab. Mereka dinilai sebagai pembela kaumnya.
Dengan syair dan gubahan mereka reputasi suatu kaum atau seseorang dan
juga—sebaliknya—dapat menjatuhkannya.
Karena alasan inilah, Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang khas yang
tidak dapat ditiru oleh para sastrawan Arab, karena susunannya yang indah
yang berlainan dengan setiap susunan dalam bahasa Arab. Mereka menyaksikan
Al-Qur’an memakai bahasa dan lafal mereka, tetapi Al-Qur’an bukan puisi,
prosa atau syair dan mereka tidak mempu membuat yang seperti itu (meniru Al-
Qur’an).
Susunan gaya bahasa dalam Al-Qur’an tidak bisa disamakan oleh
apapun, karena Al-Qur’an bukan susunan syair dan bukan pula susunan prosa,
namun ketika Al-Qur’an dibaca maka ketika itu terasa dan terdengar
mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya. Cendikiawaan Inggris,
Marmaduke Pickthall dalam The Meaning of Glorious Quran, menulis: “Al-Qur’an

22 M. Quraish Shihab, et. all., Sejarah dan Ulum Al-Qur‟an, (Jakarta: Pusataka Firdaus,

2008), h. 114.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 32


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

mempunyai simfoni yang tidak ada taranya dimana setiap nada-nadanya bisa
menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka-cita”.23
Kajian mengenai Style Al-Qur`an, Shihabuddin menjelaskan dalam
bukunya Stilistika Al-Qur`an, bahwa pemilihan huruf dalam Al-Qur`an dan
penggabungannya antara konsonan dan vocal sangat serasi sehingga
memudahkan dalam pengucapannya. Lebih lanjut–dengan mengutip Az-
Zarqoni-keserasian tersebut adalah tata bunyi harakah, sukun,mad dan ghunnah
(nasal). Dari paduan ini bacaan Al-Qur`an akan menyerupai suatu alunan musik
atau irama lagu yang mengagumkan. Perpindahan dari satu nada ke nada yang
lain sangat bervariasi sehingga warna musik yang ditimbulkanpun beragam.
Keserasian akhir ayat melebihi keindahan puisi, hal ini dikarenakan Al-
Qur`an mempunyai purwakanti beragam sehingga tidak menjemukan. Misalnya
dalam surat Al-Kahfi(18: 9-16) yang diakhiri vocal “a” dan diiringi konsonan
yang berfariasi, sehingga tak aneh kalau mereka (masyarakat Arab) terenyuh dan
mengira Muhammad berpuisi. Namun Walid Al-mughiroh membantah karena
berbeda dengan kaidah-kaidah puisi yang ada, lalu ia mengira ucapan
Muhammad adalah sihir karena mirip dengan keindahan bunyi sihir (mantra)
yang prosais dan puitis. Sebagaimana pula dilontarkan oleh Montgomery Watt
dalam bukunya “bell’s Introduction to the Qoran” bahwa style Quran adalah
Soothsayer Utterance (mantera tukang tenung), karena gaya itu sangat tipis
dengan ganyanya tukang tenung, penyair dan orang gila.24
Kalimat-kalimat dalam Al-Qur`an mampu mengeluarkan sesuatu yang
abstrak kepada fenomena yang konkrit sehingga dapat dirasakan ruh
dinamikanya, termasuk menundukkan seluruh kata dalam suatu bahasa untuk
setiap makna dan imajinasi yang digambarkannya. Kehalusan bahasa dan uslub
Al-Qur`an yang menakjubkan terlihat dari balaghoh25 dan fasohah26nya, baik yang
konkrit maupun abstrak dalam mengekspresikan dan mengeksplorasi makna
yang dituju sehingga dapat komunikatif antara Autor (Allah) dan penikmat
(umat).27
Penulis ketika memperhatikan dengan seksama, bahwa dalam Al-Qur’an
Allah hanya menuliskan satu profesi yang kemudian dijakikan judul surat, yakni
Q.S. Asy-Syua’ara (26) yang berarti para penyair. Hal ini menunjukkan bahwa
Al-Qur’an sendiri boleh jadi adalah kitab sastra. Ini juga menegaskan kepada kita
bahwa Al-Qur'an yang merupakan karya sastra terbesar sepanjang zaman bisa

23 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan

Pemberitaan Ghaib (Bandung: Mizan, 2004), h. 123.


24 Shihabuddin Qulyubi, Stilistika Al-Quran, (Yogyakarta: Titan Ilahi Pers, 1997, h. 41.
25 Balaghah secara etimologi berarti “sampai ke puncak”, sedangkan secara terminologi

Balaghah adalah menyampaikan suatu gagasan melalui ungkapan yang benar, fasih, dan
menyentuh jiwa serta sesuai denga tuntutan keadaan (kontekstual).
26 Menurut etimologi fashāhah berarti jelas, terang dan gamblang. Secara terminologi

fashāhah berarti lafaz yang jelas, terang maknanya, mudah dipahami dan sering dipergunakan
para penyair dan penulis. Ia bernilai indah dan bagus ketika dibaca dan didengar.
27 Said Agil Hussein al-Munawwar. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Cet. ke-

2. (Jakarta: Ciputat Pres, 2002), h. 34.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 33


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

didekati dengan pendekatan sastrawi: sebuah pendekatan yang sejatinya sudah


dirintis sejak zaman Nabi dan berkembang pada era klasik Islam. Dengan
menggunakan piranti keilmuan kontemporer penulis telah meyakinkan pembaca
bahwa pendekatan susastra bukan saja sah, bahkan salah satu pendekatan
penting ketika hendak memahami kitab suci Al-Our'an.28
Allah swt. berfirman dalam Q.S. An-Nahl ayat 44 sebagai berikut:

َ‫س إمانُ َِّز إ َِّللإ ْي ِّه ْم إولإعإلَّه ُْميإتإفإ َّك ُرو إن‬ ِّ ‫الزبُ ِّرَ إۗوأ إ ْن إز ْلنإاإِّلإ ْيك‬
ِّ ‫إالذك إْر ِّلتُبإيِّنإلِّلنَّا‬ ‫بِّا ْلبإيِّنإات إ‬
ُّ ‫َِّو‬

Artinya ;“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan


kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah
diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”29
Al-Qur’an kitab suci umat Islam merupakan mukjizat yang kekal dan
abadi. Ia adalah warisan nabi Muhammad saw. yang layak untuk diperebutkan
dengan dipelajari dan diamalkan, guna mencapai kebagaiaan.30 Salah satu ciri
gaya bicara Nabi Muhammad saw. adalah berkomunikasi dengan sejelas-
jelasnya. Beliau mengulang-ulang ucapan, seperti mengulang-ulang salam.
Dengan begitu, lawan bicara dapat menangkap maksudnya, juga memahami
tujuannya secara menyeluruh dengan lengkap, sehingga menakar dalam pikiran
dan kesadaran.31
Al-Qur’an dapat menggetarkan hati pengikut dan penantangnya.
Seseorang yang sangat memusuhi Al-Qur’an bisa berbalik di bawah
lindungannya. Umar bin Khattab, Sa’ad bin Mu’az, dan Usaid bin Hudhair
misalnya, mereka adalah orang-orang yang paling kejam terhadap kaum
muslimin tetapi disebabkan mendengarkan beberapa ayat Al-Qur’an maka
hatinya luluh dan masuk islam. Filosof Perancis mengatakan “Sesungguhnya
Muhammad saw., membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, sopan dan rendah hati,
untuk menarik hati manusia agar beriman kepada Allah, dan hal ini melebihi
pengaruh yang ditimbulkan semua mukjizat nabi-nabi terdahulu.32

b. Mukjizat Dari Segi Pemberitaan Kisah


1) Pemberitaan Kisah Masa Lalu
Salah satu kekuatan Al-Qur’an yang sekaligus menjadi mukjizatnya
adalah pemaparan kisah-kisah lama yang sudah tidak hidup lagi dalam cerita-
cerita rakyat Arab saat itu, dan tidak mungkin akan ditemukan secara
keseluruhan dalam kajian-kajian kesejarahan. Bahkan, Al-Qur’an memuat Surah

28 M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur'an Kitab Sastra Terbesar (Sleman: Elsaq Press, 2007), h.
379.
29 Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Tehazed,

2010), h. 370.
30 Zainal Arifin Zakaria, Tafsir Inspirasi (Medan: Duta Azhar, 2015), h. 333
31 Wahbah Az-Zuhaili, Ensiklopedi Akhlak Muslim (Jakarta: Noura Books, 2014), h. 164
32 Muhammad Ali al-Shabuniy, Studi Ilmu al-Quran, terj. Aminuddin, (Bandung: Pustaka

Setia, 1999), h. 220

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 34


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

Al-Qashash (kisah-kisah) meskipun jika ditelaah tak hanya pada surah ini Allah
mengabarkan kisah masa lalu, melainkan ada pada hampir setiap surah.
Diantara hal yang menarik dari Al-Qur`an adalah bahwa Al-Qur`an
memuat beberapa cerita kaum-kaum terdahulu, hingga jauh ke hulu sejarah
peradaban umat manusia yang tak mungkin buku sejarah manapun mampu
mengcover secara akurat. Memang Al-Qur`an tidak memaparkan secara
kronologis-histories, karena memang Al-Qur`an bukanlah buku sejarah. Al-
Qur`an menggunakan sejarah purba tersebut hanya sebagai icon terhadap
sebuah fenomena tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu. Sehingga starting
pointnya dalam memahami kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur`an bukan
dari dimensi histories, melainkan dari dimensi agama kisah merupaka metode
Tuhan dalam rangka menyampaikan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Rangkaian kisah-kisah dalam Al-Qur’an diungkapkan untuk
menguraikan ajaran-ajaran keagamaan, serta menggambarkan akibat-akibat bagi
yang menentangnya .Ini merupakan salah satu keistimewaan dan kekuatan Al-
Qur’an. Kisah-kisah tersebut bukanlah sesuatu yang fiktif, tetapi dapat diyakini
sebagai sesuatu yang pernah terjadi di muka bumi. 33
2) Pemberitaan Peristiwa Yang Akan Datang
Di samping mengangkat peristiwa-peristiwa silam lewatrangkaian kisah-
kisah, Al-Qur’an juga mengungkapkan perstiwa-peristiwa yang akan terjadi,
baik di dunia maupun di akhirat nanti.Peristiwa-peristiwa yang digambarkan
Al-Qur’anakan terjadi, danbeberapa telah terbukti dalam sejarah.
Adanya kisah-kisah misterius dalam Al-Qur`an, menempatkannya
sebagai ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai mulai hulu peradaban
umat manusia hingga hilirnya. Bahwa peristiwa-peristiwa tersebut sengaja
dihadirkan oleh Tuhan agar manusia mampu menjadikannya sebagai ‘ibrah
(pelajaran) kehidupan. Ia merupakan sebuah metode yang dipilih Tuhan untuk
menuangkan nilai yang terkandung didalamnya.
Allah swt. berfirman pada Q.S. An-Nisa ayat 82 untuk memberitahu
bahwa Al-Qur’an memanglah diturunkan oleh Allah swt. sebagai berikut :

ً ‫َاخت إَِّلفًا إكث‬


‫ِّيرا‬ ‫أإفإ إَلَيإت إ إدبَّ ُرونإ َالْقُ ْرآ إنَ إۚولإ ْوكإانإمِّ ْن ِّع ْن ِّد إ‬
ْ ‫غي ِّْراللَّ ِّهلإ إو إجدُوافِّي ِّه‬

Artinya;“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran


itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya.”34

c. Mukjizat Dari Segi Isyarat Keilmuan dan Ilmiah


Selain memiliki kekuatan dalam segi kebahasaan dan pemberitaan, Al-
Qur’an juga memperlihatkan keistimewaannya melalui ilustrasi-ilustrasi

33 Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h. 448
34 Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Tehazed,
2010), h. 118.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 35


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

ajarannya yang memberi isyarat kearah pengembangan ilmu pengetahuan dan


teknologi. Ilustrasi ajaran-ajarannya menyoroti banyak hal yang ada dalam
kehidupan alamini, baik mengenai proses terjadinya alam, mekanisme
kehidupan makhluk-makhluk-Nya termasuk manusia, hewan dan tumbuh-
tumbuhan.35 Yang dimaksud dengan kemukjizatan saintifik adalah bahwa Al-
Qur’an telah memuat isyarat kebenaran ilmiah yang belum diketahui
masyarakat ketika turunnya Al-Qur’an.36
Al-Qur’an mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an
mendorong umat Islam untuk memerdekakan akal dari belenggu keraguan,
melepas belenggu-belenggu berfikir, dan mendorong untuk mengamati
fenomena alam atau lebih dikenaldengan ayat-ayat kauniyah.37 Pembahasan
mukjizat ilmiah dari ayat-ayat kauniyah (yang menyebutkan tentang fenomena
alam) dalam Al-Qur’an sangat berkaitan dengan gejala-gejala alam dan
keterangan hadis nabiterhadap ilmu ini, sehingga termasuk ke dalam bidang
ilmu tafsir yang lebih dikenal dengan tafsir ilmi.38
Mengenai boleh tidaknya tafsir ilmi digunakan dalam penafsiran Al-
Qur’an berbeda pendapat ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak
memperbolehkan. Terlepas dari hal itu, yang jelas bahwa Al-Qur’an telah
mengisyaratkan atau mengabarkan kita tentang fakta-fakta ilmiah yang kelak
ditemukan dan dibuktikan oleh eksperimen sains umat manusia.
Dari hasil penelitian, pengamatan dan kesimpulan para ilmuwan Muslim,
yang secara serius melakukan kajian terhadap dimensi keilmuan dalam Al-
Qur’an, terlihat bahwa Al-Qur’an telah mengisyaratkan pertumbuhan berbagai
bidang ilmu, baik ilmu-ilmu keamanan maupun sosial kemasyarakatan.
Penelitian dan kajian tentang isyarat-isyarat Al-Qur’an terhadap ilmu
pengetahuan masih terus dilakukan para ilmuwan Muslim, untuk menjadikan
Al-Qur’an sebagai salah satu bahan informasi awal atau sumber inspirasi untuk
mengembangkan kajian-kajian sains, baik ilmu murni maupun terapan.
Dari sekian banyak ayat-ayat yang mengisyaratkan ilmu pengetahuan,
para ilmuwan telah mampu merekonstruksi ayat sehingga terlihat gagasan
konsepsional yang dikemukakannya dalam bidang-bidangilmu tertentu. Di
antara cabang-cabang ilmu yang memperoleh perhatian serius dari Al-Qur’an
dan terekonstruksi secara baik olehpara saintis adalah fisika, biologi, astronomi,
kimia, dan geologi. Sedang lainnya masih terus dalam proses kajian dan
penelaahan dengan bantuan ilmu-ilmu empirik hasil rumusan para ilmuwan.39

35 Muhammad Ismail Ibrahim, Al-Qur’an wa I’jazuhu al-‘Ilmi, (Kairo: Dar al-Fikr, t.t.),
h. 17.
36 Zaghlul An-Najjar, Min Ayat Al-I'jaz Al-Ilmi, (Kairo: Maktabah Asy-Syuruq Ad-

Dauliyah, 2008), h. 36.


37 Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2004), h. 170.
38 Abdul Majid al-Zindani, Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah Mengenai IPTEK, (Jakarta:

Gema Insani Press, 1997), h. 26.


39 Ahmad Baiquni, Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern, (Bandung: Pustaka, 1983), h. 17.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 36


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

Berikut ini adalah sedikit contoh ayat dalam Al-Qur’an yang


menunjukkan isyarat ilmiah, antara lain:
a. Cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan
pantulan. Terdapat dalam Q.S. Yunus: 5.
b. Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakan napas, hal ini
terdapat pada surat Al-An’am: 25
c. Perbedaan sidik jari manusia. Terdapat dalam surat Al-Qiyamah: 4
d. Aroma/bau manusia berbeda-beda. Terdapat dalam surat Yusuf: 94
e. Masa penyusuan yang tepat dan kehamilan minimal. Terdapat dalam
surat Al-Baqarah: 233
f. Adanya nurani (super ego) dan bawah sadar manusia. Terdapat dalam
surat Al-Qiyamah: 14

4. Aspek Kemukjizatan Syariat


Sudah banyak ditemukan dalam sejarah kehidupan manusia tentang
upaya-upaya yang dilakukan untuk mewujudkan kehidupan yang damai dan
adil, tapi sering kali upaya itu tidak sampai pada tujuan yang diinginkan.
Sehingga kehidupan harmonis yang diharapkan tidak pernah terealisasi. Islam
datang membawa keadilan, membawa syariat untuk menciptakan kenyaman
dalam hidup bermasyarakat. Dalam pembentukan masyarakat yang baik tidak
dapat terlepas dari upaya awal untuk membentuk dan mendidik kepribadian
yang baik pula.
Sehingga bila setiap individu yang menjadi anggota masyarakt telah baik,
secara tidak langsung kebaikan itu akan memunculkan kebaikan koletif. Al-
Qur`an menuntun setiap muslim untuk memegang teguh ketauhidan yang
merupakan landasan pokok dalam beramal. Ketauhidan ini akan menjauhkan
dirinya dari keyakinan terhadap khurafat, keraguan, dan dari menjadi budak
nafsu serta penyembahan terhadap syahwat. Sehingga ia menjadi seorang hamba
yang bersih keyakinannya pada Allah. Yang hanya patuh dan tunduk pada
Tuhan yang satu. Tidak butuh kepada selain-Nya. Tuhan yang memiliki
kesempurnaan. Yang darinya datang segala kebaikan untuk segenap
makhlukNya.
Dialah tuhan yang satu, pencipta yang satu, yang maha kuasa atas segala
sesuatu. Apabila akidah seorang muslim telah lurus dan benar maka hendaklah
ia mengambil konsep hidupnya sesuai dengan tuntunan syariat yang dinyatakan
dalam Al-Qur`an. Setiap ibadah fardhu yang ditujukan untuk kemaslahatan
individu akan tetapi pada waktu yang bersamaan ia juga bertujuan untuk
kemaslahatan hidup bersama. Ibadah shalat bertujuan untuk mencegah
seseorang dari berperilaku keji dan mungkar (Al-Angkabut : 45). Dengan
terlaksananya shalat dengan baik, akan terpancarlah pada diri seorang muslim
sikap yang baik pula, tenang dan membawa kedamaian pada orang yang ada
disekitarnya.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 37


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

Zakat membuang dari diri sikap bakhil, kecintaan pada dunia,


ketamakan pada harta. Disisi lain zakat akan menjadi sarana saling tolong
menolong antara yang kaya pada yang miskin. Dimana yang kaya memberikan
sebahagian dari hartanya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan
dan berhak. Ibadah haji adalah sarana untuk latihan diri menempuh kesulitan.
Pada saat haji semua manusia akan berkumpul pada satu tempat, semuanya
dengan pakaian yang sama, dan tidak ada yang membedakan mereka kecuali
ketakwaan. Sedangkan puasa melatih seseorang untuk mengendalikan hawa
nafsunya. Ketika berpuasa seseorang akan dilatih untuk menahan amarahnya.
Disamping akan terlatih kejujurannya. Semua ibadah diatas bila
dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya akan melahirkan dalam diri setiap
muslim pribadi yang soleh, Al-Qur`an juga mengajarkan untuk berlaku sabar,
jujur, bersikap adil, ihsan, memaafkan orang lain dan sikap-sikap mulia lainnya.
Al-Quran juga telah menetapkan perlindungan terhadap dharuriyah al-
khomsahatau (lima kebutuhan primer) bagi kehidupan manusia yaitu: agama,
jiwa, kehormatan,harta benda,dan akal. Lalu menerapkan hukuman-hukuman
yang tegas pada setiap poin-poinya sehingga dikenal dalam fiqih islam hukum
jinayat dan hudud.
Al-Quran juga menetapkan hukum terntang hubungan internasional
antara kaum muslimin dengan negara tetangga atau dengan merika yang
mengadakan perjanjian damai (mu’ahad). Juga kekuasaan legislatif dalam sistem
pemerintahan islam diatur dalam al-Quran. Ringkasnya al-quran meupakan
Dustur Tasyri’i (sistem perundang-undangan) paripurna yang membangun
kehidupan manusia diatas dasar konsep yang paling tinggi dan mulia.
Kemukjizatan Tasyri’inya ini tidak bisa dipisahkan dari kemukjizatan ilmiah dan
kemukjizatan bahasanya. Ketiganya akan senantiasa eksis bersama tak
seorangpun dapat mengingkari bahwa al-Quran memiliki kemukjizatan sebagai
bukti kekuasaan Allah.

5. Kearah Baru dalam Memahami I’jaz


Banyak orang terjebak dalam kesalahan ketika mereka menginginkan
agar Al-quran mengandung segala teori ilmiah. Setiap lahir teori baru mereka
mencarikan untuknya kemungkinannya dalam ayat, lalu ayat ini mereka
takwilkan sesuai dengan teori ilmiah tersebut. Kemukjizatan ilmiah Alquran
bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru
dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan
pengamatan. Tetapi terletak pada dorongannya untuk berfikir dan
menggunakan akal. Alquran mendorong manusia agar memperhatikan dan
memikirkan alam.Ia tidak membatasi aktivitas dan kreatifitas akal dalam

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 38


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

memikirkan alam semesta, atau menghalanginya dari penambahan ilmu


pengetahuan yang dapat dicapainya.40
Alquran menjadikan pemikiran yang lurus dan perhatian yang tepat
terhadap alam dan segala apa yang ada di dalamnya sebagai sarana terbesar
untuk beriman kepada Allah. Alquran mendorong manusia untuk melakukan
aktivitas intelektual sebagaimana dijabarkan dalam ayat-ayatnya. Pertama, Ia
mendorong kaum Muslimin agar memikirkan makhluk makhluk Allah yang ada
di langit dan di bumi, seperti dalam firman Allah pada (Q.S. Ali Imran : 190-
191):“Sesunggguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu)
mereka yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (saya
bersaksi): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha
suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Kedua, Alquran mendorong umat Islam agar memikirkan dirinya sendiri,
bumi yang ditempatinya dan alam yang mengitarinya, seperti dalam firman
Allahpada Q.S. ar-Rum: 8:“Dan mengapakah mereka tidak memikirkan tentang
(kejadian) dirimereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang
ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang
ditentukan.
Ketiga, Alquran membangkitkan pada diri setiap Muslim kesadaran
ilmiah untuk memahami dan melakukan perbandingan, seperti dalam
firmanAllah (Q.S. al-Baqarah :219):“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-
Nya kepadamu supayakamu berpikir.”“Dan perumpamaan-perumpamaan itu
Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Q.S. al-Hasyr : 21).
Ketiga tuntunan di atas menghimbau manusia untuk tidak hanya
membaca Alquran dengan hanya sekedar membaca, akan tetapi sekaligus
mengajak manusia menerapkan bacaan dan kandungan Alquran dalam
kehidupan, sebagaimana pesan M. Quraish Shihab yaitu membumikan Alquran.

C. Simpulan
Jurnal ini menyimpulkan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak
mungkin bisa tertandingi. Hal ini terwujud dalam aspek keindahan bahasa, kisah
yang terkandung di dalamnya, selain tauhid, aturan syariat, dan sebagainya,
serta informasi ilmiah yang luar biasa lengkapnya jika ditelaah secara mendalam.
Untuk mengapresiasi kemukjizatan Al-Qur’an ini, hendaknya setiap umat Islam
memenuhi hak Al-Qur’an yaitu dengan membaca, menghafal, menganalisa serta
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai petunjuk bagi orang yang
bertakwa. Al-qur’an juga mendorong manusia untuk melakukan aktivitas
intelektual agar memikirkan makhluk-makhluk Allah yang ada di langit dan di

40 Manna Khalil al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu al-Alquran, (Bogor: Pustaka Litera Antar

Nusa, 2001), h. 386.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 39


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

bumi. Alquran juga membangkitkan pada diri setiap Muslim kesadaran ilmiah
untuk memahami dan melakukan perbandingan serta melakukan pemharuan.

Referensi
Abdurrahman, Aisyah, Al-I’jaz Al-Bayani lil Quran. Kairo: Darul Maarif, t.th.
Ahmad, Yusuf Al-Hajj. Mukjizat Al-Qur’an yang Tak Terbantahkan. Solo: Aqwam,
2016.
Ahmad Fuad Pasya, Dimensi Sains AI-Qur'an, cet.I, Solo: PT.TigaSerangkai
Pustaka Mandiri, 2004.
Alimi, Ibnu Ahmad. Menyingkap Rahasia Mukjizat Al-Qur’an. Surabaya: Mashur,
2004.
Al-Munawwar, Said Agil Husain. I’jaz Al-Qur’an dan Metodologi Tafsir.
Semarang: Dimas, 1994.
------- Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Cet. ke-2. Jakarta: Ciputat
Pres, 2002.
al-Zindani, Abdul Majid. Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah Mengenai IPTEK.
Jakarta: Gema Insani Press, 1997.
Anwar, Rosihon. Ilmu Tafsir. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2004.
An-Najjar, Zaghlul. Min Ayat Al-I'jaz Al-Ilmi. Kairo: Maktabah Asy-Syuruq Ad-
Dauliyah, 2008.
As-Shabuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu al-Quran, terj. Aminuddin. Bandung:
Pustaka Setia, 1999.
As-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008.
As-Shiddiqiey, T.M. Hasbi. Mu’djizat al-Qur’an. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.
Az-Zarkani, Muhammad Abdul ‘Azim Manahilul Irfan fi Ulum al-Quran, Juz II.
Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1988.
Az-Zarqani, Muhammad, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Alquran, Jilid. 1,tahqiq:
Fawwaz Ahmad Zamarli, Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, 1415 H/1995 M.

Az-Zuhaili, Wahbah. Ensiklopedi Akhlak Muslim. Jakarta: Noura Books, 2014.


Baiquni, Ahmad. Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern. Bandung: Pustaka, 1983.
Ibrahim, Muhammad Ismail. Al-Qur’an wa I’jazuhu al-‘Ilmi. Kairo: Dar al-Fikr, t.t.
Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta:
Tehazed, 2010.
Khallaf, Abdul Wahab. Ilmu Ushul Fiqh, cet. 8, terj. Noer Iskandar al-Barsany dan
Moh. Tolchah Mansoer. Kairo: Dar al-‘Ilm:1978.
Manna Khalil al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu al-Alquran,Bogor: Pustaka Litera
AntarNusa, 2001.
Manzur, Ibn. Lisan al-Arab Jilid II. Beirut: Dar Sodir, t.t.
Setiawan, M. Nur Kholis. Al-Qur'an Kitab Sastra Terbesar. Sleman: Elsaq Press,
2007.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 40


Fathul Mu’in dan Rudi Santoso Kontruksi dan Arah...

Shihab, M. Quraish. et. all., Sejarah dan Ulum Al-Qur‟an. Jakarta: Pusataka
Firdaus, 2008.
------- Mukjizat Al-Qur’an, Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan
Pemberitaan Ghaib. Bandung: Mizan, 2004.
------- Wawasan AL-Qur’an. Bandung: Mizan, 1996.
Syahin, Abdul Shabur. Saat Al-Qur’an Butuh Pembelaan. Jakarta: Erlangga, 2014.
Tim Penyusun, Ensiklopedi Hukum Islam Jilid 4. Jakarta: PT. Bachtiar Baru Van
Houve, 1997.
Qardhawi, Yusuf. Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta:
Gema Insani Press, 1998.
Qulyubi, Shihabuddin. Stilistika Al-Quran. Yogyakarta: Titan Ilahi Pers, 1997.
Zakaria, Zainal Arifin. Tafsir Inspirasi. Medan: Duta Azhar, 2015.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 41


PERAN PUSTAKAWAN DALAM PERKEMBANGAN
PERGURUAN TINGGI

S. Manaf
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro
Email: s.manaf@gmail.com

Abstrack
The role of the Librarian, has progressed over time. Now librarians are not only serving
the circulation of books, but are required to be able to provide information quickly,
precisely, accurately, and efficiently in terms of time and cost. Librarians are required to
develop competence in themselves in order to support the implementation of tertiary
education programs. Competency and librarians play an important role in supporting the
achievement of the vision of higher education. In this paper, it is explained and explained
matters relating to the competence and role of librarians in supporting the establishment
of international universities. Also explained the problems faced by librarians, problem
analysis, solutions, and efforts that must be made to achieve goals in support of
international universities.
Keywords: Librarian, University

Abstrak
Peran Pustakawan, semakin berkembang dari waktu ke waktu. Kini pustakawan tidak
hannya melayani sirkulasi buku, tetapi dituntut untuk dapat memberikan informasi
secara cepat, tepat, akurat, dan efisen dari segi waktu dan biaya. Pustakawan di tuntut
untuk mengembangkan kompetensi yang ada dalam dirinya guna mendukung
pelaksanaan program tridarma perguruan tinggi. Kompetensi dan pranpustakawan
sangat berperan dalam mendukung tercapainya visi perguruan tinggi. Dalam tulisan ini
dipaparkan dan di jelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kompetensi dan peran
pustakawan dalam mendukung terwujudnya perguruan tinggi bertaraf internasional. Di
jelaskan pula permasalahan yang di hadapi pustakawan, analisis masalah, solusi, serta
upaya yang harus dilakukan guna meraih tujuan dalam mendukung perguruan tinggi
bertaraf internasional.
Kata Kunci: Pustakawan, Perguruan Tinggi

A. Pendahuluan
Pada era global ini, pendidikan merupakan sesuatu yang penting. Karena
pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan telah
menjadi kebutuhan dasar yang setiap orang harus memiliki untuk memenuhi
tantangan kehidupan.Untuk pendidikan, banyak cara yang dapat kita capai.
Termasuk di perpustakaan. Karena di perpustakaan berbagai sumber informasi
bisa kita dapatkan, di samping banyak manfaat lain yang bisa diperoleh melalui
perpustakaan. Ketika kita mendengar kata perpustakaan, pikiran kita langsung
terbayang deretan buku tersusun rapi di rak-rak sebuah ruangan. Pandangan ini
tampaknya benar, tetapi jika kita memperhatikan lebih, itu selesai. Karena
setumpuk buku yang diatur di rak-rak perpustakaan tidak bisa disebut sebagai
perpustakaan.
S. Manaf Peran Pustakawan Dalam...

Bahkan, konsep perpustakaan kadang-kadang bingung dengan istilah -


jangka panjang, pustakawan, pustakawan, dan ilmu perpustakaan. Secara
harfiah, perpustakaan sendiri sedang dipertimbangkan sebagai gedung
perpustakaan fisik - buku atau bahan pustaka. Untuk tujuan ini, pembahasan
kali ini akan dibahas secara mendalam di perpustakaan pengenalan umum
meliputi: memahami perpustakaan, maksud dan tujuan penciptaan
perpustakaan, jenis - jenis fungsi perpustakaan, tugas dan fungsi perpustakaan,
kegiatan utama perpustakaan, dan perpustakaan sebagai suatu disiplin.
Visi IAIN Metro menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, ilmu,
agama, teknologi dan seni, yang menonjol internasional berdasarkan nilai-nilai
luhur, budaya nasional mengacu pada visi universitas secara umum Anda ingin
mencapai tingkat nasional antara lain. Jelas kebutuhan yang ditargetkan,
kerjasama direncanakan, kerjasama, sinergi, dan terus di antara semua guru
akademik. Perpustakaan sangat penting dalam mendukung pengetahuan dan
informasi dari siswa di pendidikan tinggi, dan karena itu perpustakaan sering
disebut sebagai jantung pendidikan. Di universitas, perpustakaan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Perpustakaan adalah
fasilitas baik untuk siswa atau guru sebagai pemustaka untuk mendukung
pengajaran dan pembelajaran di pendidikan tinggi. Joseph (2007, p. 3)
menunjukkan bahwa tujuan dari pembentukan "perpustakaan universitas tidak
dapat dipisahkan dari tujuan diselenggarakannya pendidikan tinggi secara
keseluruhan, yaitu untuk penyediaan keterampilan dasar kepada siswa dan
mempersiapkan mereka untuk pendidikan menengah ". Lebih jelas, Prastowo,
mengatakan bahwa "perpustakaan universitas adalah fasilitas pendidikan nyata
yang membantu menentukan pencapaian tujuan dari lembaga perlindungan."
Oleh karena itu, diharapkan bahwa perpustakaan untuk menciptakan kondisi
yang sepenuhnya mendukung pencapaian proses pembelajaran yang efektif di
universitas. Dalam rangka mendukung perpustakaan universitas, menurut
kurikulum dan pembelajaran, harus tahu bagaimana peran, tujuan, fungsi
perpustakaan universitas itu sendiri. Peran perpustakaan universitas adalah
untuk memenuhi kebutuhan informasi dari pengguna, dalam hal ini siswa dan
guru dalam mendukung kegiatan proses belajar di universitas. Peran penting
dari perpustakaan tidak dapat dipisahkan dengan fasilitas dan pelayanan yang
ditawarkan perpustakaan. Jadi perpustakaan dapat menjadi sasaran penting
dalam mencari informasi tentang pendidikan tinggi.
Pesatnya perkembangan perpustakaan seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan, pemustaka dapat mengambil keuntungan dari perpustakaan
dengan baik dan bijaksana sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Untuk ini kita
perlu keprihatinan yang mendalam untuk kebaikan perpustakaan manajer atau
staf perpustakaan untuk dapat memberikan bimbingan yang lebih baik kepada
siswa menggunakan perpustakaan secara efektif dan efisien. Alamat yang
diberikan tentunya sesuai dengan kebutuhan siswa dan bukan hak dan

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 43


S. Manaf Peran Pustakawan Dalam...

kewajiban siswa dan pengguna perpustakaan. Alamat yang diberikan untuk


bagaimana menggunakan fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan,
bagaimana mencari dan menerima informasi dapat diperoleh di perpustakaan,
dan bagaimana menggunakan koleksi yang tersedia di perpustakaan. Oleh
karena itu, peran pustakawan sangat penting, bagaimana dapat memberikan
bimbingan yang tepat dan dapat diterima oleh siswa. Kemudian pengetahuan
tentang karakteristik dan kebutuhan siswa akan membuat penyediaan langkah
yang menentukan dalam membimbing siswa.
Arah pustakawan, pemustaka harapan untuk membuat motivasi lebih
untuk menggunakan perpustakaan yang terpisah dan aman dan mempercepat
proses pencarian informasi yang mereka butuhkan. pendidikan pemustaka
untuk aplikasi ini sangat penting untuk mendukung pemenuhan kebutuhan
informasi secara memadai. Menurut Sutarno (2006 hlm.215), "memberikan
pendidikan pengguna, kegiatan yang dilakukan oleh petugas servis untuk
menjelaskan rincian dari perpustakaan. Diantara manfaat perpustakaan,
bagaimana menjadi anggota, persyaratan keanggotaan, peraturan, jenis layanan
dan partisipasi masyarakat di perpustakaan. "
Tujuan pendidikan dapat membuat pemustaka perpustakaan yang lebih
maju dan dapat digunakan secara optimal untuk siswa. pendidikan pemustaka
tidak diragukan lagi memperluas siswa bahwa perpustakaan tidak hanya
sekelompok bangunan yang menyimpan buku-buku, tetapi perpustakaan
merupakan bagian penting yang tidak dilepaskan dari kegiatan siswa dalam
proses belajar dan hal-hal lain yang dapat bermanfaat untuk memahami
informasi.

B. Pembahasan
1. Pengertian Pustakawan
Pustakawan adalah seseorang yang bekerja di perpustakaan dan bantuan
orang menemukan buku, majalah dan informasi lainnya. Di tahun 2000-an,
pustakawan mulai membantu orang menemukan informasi menggunakan
komputer, database elektronik dan perangkat pencarian Internet. Ada berbagai
jenis pustakawan, antara anak-anak lainnya, remaja, dewasa, sejarah, hukum, dll
Wanita Pustakawan bernama pustakawan.
Menjadi seorang pustakawan, seseorang perlu dididik tentang tingkat
perpustakaan S2 dan D2. Kebanyakan pustakawan yang bekerja di perpustakaan
di perguruan tinggi, universitas, atau tingkat kota, provinsi dan negara.
Beberapa pustakawan bekerja untuk perusahaan swasta untuk membantu
mereka mengelola dokumen dan laporan.
a. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia pustakawan adalah orang yang
bergerak di bidang perpustakaan atau ahli perpustakaan.
b. Kemudian menurut kode etik Ikatan Pustakawan Indonesia dikatakan
bahwa yang disebut pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 44


S. Manaf Peran Pustakawan Dalam...

kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada


masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu
perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui
pendidikan.
c. menurut kamus istilah perpustakaan karangan Lasa, H.S. Librarian –
pustakawan, penyaji informasi adalah tenaga profesional dan fungsional
di bidang perpustakaan, informasi maupun dokumentasi. Dari ketiga
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah orang
yang memiliki pendidikan perpustakaan atau ahli perpustakaan atau
tenaga profesional di bidang perpustakaan dan bekerja di perpustakaan.
Jadi pustakawan adalah seseorang yang profesional atau ahli dalam
bidang perpustakaan.
d. Menurut Pandji Amoraga dalam psikologi kerja bahwa profesional
mengharuskan tidak hanya pengetahuan dan keahlian khusus melalui
persiapan dan latihan, tetapi dalam arti profesional terpaku juga suatu
panggilan, suatu calling, suatu strong inner impulse yang pertama adalah
unsur keahlian dan kedua unsur panggilan. Sehingga seorang profesional
harus memadukan dalam diri pribadinya kecakapan teknik yang
diperlukan untuk menjalankan pekerjaannya, dan juga kematangan etika.
Penguasaan teknik saja tidak membuat seseorang menjadi profesional
keduanya harus manunggal. Jadi seorang pustakawan yang profesional
tidak hanya dituntut untuk menguasai penguasaan teknik perpustakaan
saja, tetapi juga harus mempunyai kematangan etika, harus merasa
terpanggil untuk menjadi pustakawan karena pustakawan adalah
pelayan masyarakat yang selalu berhadapan dengan berbagai kalangan
masyarakat. Sehingga dengan demikian pustakawan akan disenangi oleh
masyarakat pengguna perpustakaan.
e. Poerwadarminta dalam menambahkan bahwa, “Pustakawan adalah ahli
perpustakaan. Dengan pengertian tersebut berarti pustakawan sebagai
tenaga yang berkompeten dibidang perpustakaan, dokumentasi, dan
informasi”. Selanjutnya Aziz menambahkan bahwa, “Pustakawan
merupakan tenaga profesi dalam bidang informasi, khususnya informasi
publik, informasi yang disediakan merupakan informasi publik melalui
lembaga kepustakawanan yang meliputi berbagai jenis perpustakaan”.

2. Kompetensi Pustakawan
Kompetensi didefinisikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-
nilai inti tercermin dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Arti lain dari
yurisdiksi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan dan sikap
seseorang dan penerapannya dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja
yang dibutuhkan oleh pengadilan.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 45


S. Manaf Peran Pustakawan Dalam...

Berdasarkan pemahaman ini, standar kompetensi pustakawan adalah


pernyataan kriteria yang dibutuhkan ditentukan dan disepakati dalam bentuk
akuisisi pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk pustakawan untuk
dipanggil kompeten.
Tujuan dari standar adalah kompetensi pustakawan sebagai jaminan
terhadap pemustaka memberikan pelayanan terbaik, untuk menciptakan
perpustakaan suasana, memberikan copy dan mempertahankan reputasi
lembaga dan posisi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab.
Kompetensi dapat dibagi menjadi dua jenis. Ketik pertama disebut
keterampilan 'soft skill'. Ketik kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan
untuk mengatur proses kerja dan berinteraksi dengan orang lain. Termasuk
dalam keterampilan umum meliputi kemampuan manajemen, kemampuan
memimpin (leadership), kemampuan komunikasi, dan kemampuan untuk
hubungan membangun dengan orang lain (interpersonal). Sedangkan tipe kedua
keterampilan yang "keterampilan yang sulit." Jenis kedua keterampilan yang
berkaitan dengan kapasitas fungsional atau pekerjaan teknis. Dengan kata lain,
yurisdiksi teknis yang berkaitan dengan pekerjaan digelar. Contoh keterampilan
yang sulit di bidang perpustakaan, antara lain, kemampuan untuk mengklasir,
katalog, mengindek, abstrak, data entry, pemustaka layanan, mencari, dll
informasi.
Dari perspektif lain, keterampilan Asosiasi Perpustakaan Khusus
membedakan ke dalam kompetensi profesional dan / kompetensi individual
pribadi. kompetensi profesional adalah keterampilan pada pengetahuan
pustakawan di bidang sumber daya informasi, teknologi, manajemen dan
penelitian, dan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan sebagai dasar
untuk menyediakan layanan informasi dan Perpustakaan. Sementara
keterampilan pribadi keterampilan yang menggambarkan kesatuan
keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang pustakawan untuk bekerja secara efektif,
menjadi komunikator yang baik, terus-menerus meningkatkan pengetahuan,
dapat memperhatikan nilai sisa, dan dapat menahan perubahan dan
perkembangan di dunia kerja.
Di perpustakaan hukum mencatat bahwa pelaksanaan, manajemen,
perpustakaan pengembangan perpustakaan berdasarkan standar nasional. Titik
adalah staf dari standar nasional perpustakaan perpustakaan standar. penjelasan
yang lebih rinci dari Undang-Undang menyatakan bahwa staf perpustakaan
referensi standar termasuk kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikasi. Hal
ini jelas bahwa kompetensi pustakawan merupakan elemen penting, selain
kualifikasi akademik dan sertifikasi. Pertanyaannya adalah bagaimana
mengukur pustakawan kompeten atau tidak? Oleh karena itu, kita perlu standar
kompetensi pustakawan.
Untuk menemukan pustakawan kompeten atau tidak, bagaimana tingkat
keterampilan yang diperlukan untuk referensi. Referensi disebut standar.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 46


S. Manaf Peran Pustakawan Dalam...

standar pustakawan kompetensi mereka sangat penting. Setidaknya tiga pihak


yang memiliki kepentingan dengan standar kompetensi pustakawan. Yang
pertama adalah perpustakaan. Untuk perpustakaan, pustakawan standar
kompetensi dapat digunakan sebagai panduan bagi pustakawan untuk merekrut
dan mengembangkan program pelatihan bagi staf perpustakaan memiliki
keterampilan atau meningkatkan keterampilan mereka. yang kedua adalah
mengorganisir lembaga sertifikasi pustakawan. Untuk sertifikasi pustakawan,
standar kompetensi pustakawan dapat digunakan sebagai acuan untuk
mengevaluasi kinerja pustakawan dan pustakawan uji sertifikasi. Sedangkan
ketiga adalah pustakawan. Pustakawan untuk standar pustakawan kompetensi
dapat digunakan sebagai acuan untuk mengukur kemampuan untuk menduduki
jabatan pustakawan.
Sayangnya, standar kompetensi pustakawan di Indonesia masih sedang
disusun. Namun, dalam rangka untuk memaksa perpustakaan dan pustakawan
dapat mempersiapkan tertunda standar kompetensi pustakawan, perlu untuk
mengetahui apa keterampilan yang harus dipenuhi oleh seorang pustakawan.
Asosiasi Perpustakaan pada tahun 2003 didefinisikan keterampilan pustakawan
khusus. Meskipun formulasi ini secara efektif sebutan untuk pustakawan yang
bekerja di perpustakaan khusus, tetapi dapat digunakan sebagai referensi
sementara dan tentunya membutuhkan beberapa penyesuaian. Seperti yang
telah disebutkan di atas bahwa keterampilan Asosiasi Perpustakaan Khusus
membedakan menjadi dua jenis, yaitu kompetensi profesional dan / kompetensi
individual pribadi.
Berikut adalah kompetensi profesional yang seharusnya dimiliki oleh
pustakawan:
a. Memiliki pengetahuan keahlian tentang isi sumber-sumber informasi,
termasuk kemampuan untuk mengevaluasi dan menyaring sumber-
sumber tersebut secara kritis.
b. Memiliki pengetahuan tentang subjek khusus yang sesuai dengan
kegiatan organisasi pelanggannya.
c. Mengembangkan dan mengelola layanan informasi dengan baik,
accessable (dapat diakses dengan mudah) dan cost-effective (efektif
dalam pembiayaan) yang sejalan dengan aturan strategis organisasi.
d. Menyediakan bimbingan dan bantuan terhadap pengguna layanan
informasi dan perpustakaan.
e. Memperkirakan jenis dan kebutuhan informasi, nilai jual layanan
informasi dan produk-produk yang sesuai kebutuhan yang diketahui.
f. Mengetahui dan mampu menggunakan teknologi informasi untuk
pengadaan, pengorganisasian, dan penyebaran informasi.
g. Mengetahui dan mampu menggunakan pendekatan bisnis dan manjemen
untuk mengkomunikasikan perlunya layanan informasi kepada
manajemen senior.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 47


S. Manaf Peran Pustakawan Dalam...

h. Mengembangkan produk-produk informasi khusus untuk digunakan di


dalam atau di luar lembaga atau oleh pelanggan secara individu.
i. Mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan menyelenggarakan
penelitian yang berhubungan dengan pemecahan masalah-masalah
manajemen informasi.
j. Secara berkelanjutan memperbaiki layanan informasi untuk merespon
perubahan kebutuhan.
k. Menjadi anggota tim manajemen senior secara efektif dan menjadi
konsultan organisasi di bidang informasi. Sebelas butir di atas tidak
semuanya harus dimiliki oleh seorang pustakawan Kemampuan, yang
harus dimiliki seorang pustakawan mesti disesuaikan dengan tingkatan
atau levelnya
Sedangkan kompetensi personal/individu bagi pustakawan meliputi:
1) Memiliki komitmen untuk memberikan layanan terbaik.
2) Mampu mencari peluang dan melihat kesempatan baru baik di
dalam maupun di luar perpustakaan.
3) Berpandangan luas.
4) Mampu mencari partner kerja.
5) Mampu menciptakan lingkungan kerja yang dihargai dan
dipercaya.
6) Memiliki ketrampilan bagaimana berkomunikasi yang efektif.
7) Dapat bekerjasama secara baik dalam suatu tim kerja.
8) memiliki sifat kepemimpinan.
9) mampu merencanakan, memprioritaskan dan memusatkan pada
suatu yang kritis.
10) memiliki komitmen untuk selalu belajar dan merencanakan
pengembangan kariernya.
11) mampu mengenali nilai dari kerjasama secara profesional dan
solidaritas.
12) memiliki sifat positif dan fleksibel dalam menghadapi perubahan.

3. Peran Pustakawan
Peran Pustakawan membantu pengguna untuk mendapatkan informasi
dari cara diarahkan sebagai pencarian informasi bisa efektif, efisien, efektif dan
tepat waktu. Dengan perkembangan informasi, peran pustakawan tegnologi
lebih diperkuat sehingga dapat bekerja sebagai mitra bagi para pencari
informasi. Sebagai fungsi tradisionalnya, pustakawan dapat pecari langsung
untuk Sohih informasi dan informasi bertanggung jawab.
Pustakawan juga dapat memberikan informasi yang dapat berguna,
tetapi kehadirannya sering tersembunyi, sebagai sastra abu-abu (grey literature).
Bahkan pustakawan dapat berfungsi sebagai mitra penelitian dalam penelitian.
Mengacu pada di atas, jelas bahwa hubungan erat antara pustakawan sebagai

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 48


S. Manaf Peran Pustakawan Dalam...

manajer informasi dalam perannya dalam Tri Dharma dukungan pendidikan


tinggi.
Selain melakukan pelayanan lalu lintas, pengadaan dan pengolahan
bahan pustaka, pustakawan harus mampu menangani laporan administrasi;
mengelola Web OPAC catatan retensi menjadi (termasuk pengolahan dokumen
telah menjadi bentuk digital). Mengelola layanan dan pinjaman antar (PAP)
untuk memantau keamanan bahan pustaka, mengelola media (CD / DVD /
kaset audio / X-ray) mengelola dan kode bar cetak, mengelola keanggotaan
pengguna, penyusunan anggaran make, membuat katalog (pra dan katalog
posting) ke layanan SDI untuk mengkonversi data email mengengola, membuat
laporan, mengelola waktu ke waktu, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan.
Dengan lembar kinerja rutin diisi oleh pustakawan setiap hari, mau tidak
mau, pustakawan didorong untuk menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Laporan ini dapat menjadi indikator kinerja, produktivitas dan peran
pustakawan dalam profesi mereka.
Peran pustakawan sebagai mitra bagi siswa, guru dan masyarakat sekitar,
diakui lebih baik tahun -ketahun, hal ini tercermin dalam meningkatnya jumlah
pengguna yang menggunakan layanan perpustakaan, cetak dan dokumen
elektronik datang langsung keperpustakaan atau tidak langsung (untuk sastra
melalui e-mail atau browsing katalog online), misalnya, statistik pengunjung
perpustakaan pada tahun 1998 adalah 16 200 orang pada tahun 1999, 2000 Total
224,5 255,4 264 204 orang-tahun dan 2005 adalah 248,02 orang.
Dari data tersebut, tampaknya tren jumlah pengunjung meningkat 1998-
2005 dan berikut untuk 20.019 jumlah pengunjung dapat meningkat indikator
kualitas layanan yang terkait dengan kompetensi dan peran pustakawan dalam
melaksanakan fungsinya.
Pada dasarnya, pustakawan adalah orang yang bekerja perpustakaan
disebuah atau pusat-pusat dokumentasi dan informasi lainnya dengan kondisi
tertentu. Di lapangan, peran pustakawan dapat melayani penggunanya dengan
berbagai cara. Sebagai contoh, dalam sebuah lembaga perpustakaan perguruan
tinggi, selain bertindak sebagai pustakawan biasanya dapat juga berfungsi ganda
sebagai pembicara. Sebuah perguruan tinggi juga dapat ganda sebagai dosen
atau peneliti. Di Perpustakaan Khusus, disamping sebagai pustakawan, dapat
pula menjadi peneliti, minimal sebagai mitra peneliti. Dengan demikian
pustakawan memiliki peran ganda yang dapat disingkat dengan akronim EMAS
dengan penjelasan sebagai berikut :
a. Edukator. Dalam hal ini pustakawan dalam setiap melaksanakan
tugasnya harus bisa mempunyai jiwa pendidik, Ia harus melaksanakan
fungsi pendidikan yaitu mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik
adalah mengembangkan kepribadian baik kepada pemustaka ataupun
yang lain, mengajar adalah mengembangkan kemampuan berfikir dan
melatih adalah membina dan mengembangkan keterampilan. Sebagai

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 49


S. Manaf Peran Pustakawan Dalam...

pustakawan pendidik, pustakawan juga harus memahami prinsip-


prinsip yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarsa
Sang Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
b. Manajer. Pada hakikatnya pustakawan adalah manajer informasi yang
mengelola informasi pada satu sisi, dengan pengguna informasi pada sisi
lain. Dalam hal ini pustakawan harus bisa mengelola informasi yang
berada di perpustakaaan dengan baik, agar para pemustaka mudah
dalam menemukan informasi yang ia cari. Pustakawan dalam
peranannya sebagai manajer juga harus dapat memanajemen dengan
baik, artinya ia harus dapat mengawasi sumber daya yang tersedia, baik
sumber daya manusia, atau sumber daya lainnya secara optimal dan
efisien agar visi dan misinya dapat tercapai.
c. Administrator. Sebagai administrator, pustakawan harus mampu
menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi program perpustakaan,
serta dapat melakukan analisis atas hasil yang telah dicapai, kemudian
melakukan langkah-langkah untuk mencapai visi dan misinya. seorang
pustakawan harus mempunyai pengetahuan yang luas dibidang
organisasi, sistem dan prosedur kerja. Dengan demikian setiap pekerjaan
atau tugas yang dihadapinya dapat terselesaikan dengan mudah dan
berkualitas.
d. Supervisor Sebagai supervisor, maka pustakawan harus melakukan hal-
hal sebagai berikut; Dapat melaksanakan pembinaan professional, untuk
mengembangkan sikap kerukunan dan kerja sama antar pustakawan.
Sehinnga dalam melaksanakan tugasnya dapat berjalan lancar sesuai
dengan prosedur.Dapat meningkatkan prestasi, pengetahuan dan
ketrampilan, baik antara sesama pustakawan atau kepada para
pemustaka.Mempunyai Ilmu atau wawasan yang luas serta bersikap
sabar tetapi tegas, adil dan obyektif dalam melaksanakan tugasnya.
Mampu berkoordinasi dengan baik, sehingga ketika ada masalah ataupun
kendala, dapat terselesaikan dengan mudah.

C. Simpulan
Pustakawan sangat berharap standar mereka dan memegang sertifikat
kompetensi pustakawan.Dengan keselarasan dari semua elemen
(profesionalisme sumber daya manusia, infrastruktur dan fasilitas modern, serta
sarana subsistensi dan pendanaan yang memadai cukup memadai) mungkin
percaya, visi perguruan tinggi mencapai tingkat internasional akan tercapai.
keterampilan pustakawan jika dibangun dan mapan, itu akan dapat membantu
mencapai perguruan tinggi internasional. Sulit untuk masuk, tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Semuanya harus dicari dan diperjuangkan,
dibutuhkan waktu dan sedikit pengorbanan untuk mencapai visi perguruan
tinggi dengan kompetensi dan peran pustakawan.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 50


S. Manaf Peran Pustakawan Dalam...

Referensi
Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai pustaka. 1989
Etienne Wenger, (et.al.). Cultivating communities of practice: a guide to managing
knowledge. Boston: Harvard Business School Press. 2002.
Hartono. Menggali Potensi Pustakawan Menuju Manajemen Perpustakaan Profesional.
Buletin, 2015.
Hendro Wicaksono, Kompetensi Perpustakaan Dan Pustakawan dalam Implementasi
Teknologi Informasi di Perpustakaan. Perpustakaan Nasional : Majalah Visi
Pustaka Edisi : Vol. 6 No. 2 - Desember 2004.
http://www.growthcopusoft.com/librarian/management Diakses 22
Indonesia.Perpustakaan Nasional.http://www.pnri.go.id/.Diakses tanggal 23
Maret 2006.

Lien, Diao Ali. Peranan Perpustakaan dalam meningkatkan Daya saing Perguruan
Tinggi. Maret.2006
Marshall, Joane; Linda Moulton; Roberta Piccoli. Kompetensi Pustakawan Khusus di
Abad Ke-21.BACA.Jurnal Dokumentasi vol.27(2),2003.

Perpustakaan Nasional RI. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi


Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2012 tentang Penetapan Rancangan
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial
Budaya, Hiburan, dan Perorangan Lainnya Bidang Perpustakaan menjadi Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
2012.
Perpustakaan Nasional RI. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang
Perpustakaan ,2006.
Sri Rumani,. Sertifikasi Profesi Pustakawan Berbasis Kinerja Sebagai Upaya
Menghadapi Era Global. Perpustakaan Nasional RI : Media Pustakawan Vol.
21 No. 2 Tahun 2014.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 51


PEMBERDAYAAN SANTRI MELALUI PENDIDIKAN
ENTREPRENEURSHIP

Nurwadjah Ahmad EQ
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung
Email: nurwadjah.ahmad@gmail.com

Andewi Suhartini
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung
Email: andewi.suhartini@gmail.com

J. Sutarjo
Insitut Agama Islam Neberi (IAIN) Metro
Email: j.sutarjo@metrouniv.ac.id

Abstract
Global economic challenges especially in Asia it’s enough to invite response some actors
especially in Islamic education field at Islamic boarding school. Entrepreneurship
education into something that is urgent in addition to knowledge of Islam itself. The
students are prepared not only to be a scientist of Islam but also being an entrepreneur
who is able to survive in the global competition in the economic field. The boarding school
is able to supplement the curriculum with a variety of entrepreneurial activities such as
trading, farming, herding fish, herding cow, herding goat, and home industry. This is an
educational system that is not unusual during the time in the education boarding school
in Indonesia.
Keywords: Santri, Entrepreneurship

Abstrak
Tantangan ekonomi global terutama di Asia sudah cukup mengundang respons beberapa
pelaku terutama di bidang pendidikan Islam di pondok pesantren. Pendidikan
kewirausahaan menjadi sesuatu yang mendesak di samping pengetahuan Islam itu
sendiri. Para siswa dipersiapkan tidak hanya untuk menjadi ilmuwan Islam tetapi juga
menjadi wirausaha yang mampu bertahan dalam persaingan global di bidang ekonomi.
Pesantren ini dapat melengkapi kurikulum dengan berbagai kegiatan wirausaha seperti
perdagangan, bertani, menggiring ikan, menggembala sapi, menggembala kambing, dan
industri rumahan. Ini adalah sistem pendidikan yang tidak biasa selama ini di sekolah
berasrama pendidikan di Indonesia.
Kata Kunci: Santri, Kewirausahaan

A. Pendahuluan
Dunia pendidikan dewasa ini dihadapkan dengan berbagai persoalan
yang semakin kompleks, salah satu persoalan yang menjadi tantangan yang
sudah di depan mata diantaranya adalah adanya pencanangan MEA
(Masyarakat Ekonomi Asean) pada awal tahun 2016. Pencanangan pasar tunggal
yang lazim disebut dengan MEA ini selanjutnya akan menjadikan negara-negara
di wilayah Asean dapat memasarkan produk dan jasa secara legal ke negara-
Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

negara lain di seluruh Asia Tenggara, dampaknya adalah persaingan akan


semakin meningkat.
Situasi ini memunculkan kerisuan tersendiri bagi bangsa Indonesia
khususnya, dikarenakan kompetisi yang sangat ketat yang akan terjadi, baik
dalam produk yang dipasarkan maupun skill atau kualitas sumberdaya manusia
yang dimiliki. Tidak mustahil jika produk-produk dalam negeri kalah dalam
kualitasnya, dan akan digantikan dengan produk yang berasal dari luar negeri.
Begitu juga dengan sumberdaya manusianya, jika skill atau jasa dan sumber
daya manusia yang dimiliki rendah kualitasnya maka akan tergeser oleh tenaga-
tenaga ahli dari negara-negara Asean lainnya. Untuk mengantisipasi dari
ketertinggalan, perlu berbagai upaya yang dipersiapkan oleh semua pihak di
masyarakat, salah satunya adalah dengan peningkatan kualitas produk,
peningkatan profesionalitas kerja, serta mengembangkan berbagai usaha.
Dalam hal ini pemerintah sudah mempersiapkan sejak dini dalam
menyongsong pasar tunggal tersebut, diantaranya yaitu dengan memunculkan
program-program yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, seperti
yang tertuang dalam permendagri RI Nomor 7 Tahun 2007 tentang Kader
Pemberdayaan Masyarakat, dinyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat
adalah suatu strategi yang digunakan dalam pembangunan masyarakat sebagai
upaya untuk mewujudkan kemampuan dan kemandirian dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Pasal 1, ayat (8).
Berbagai upaya dalam pemberdayaan masyarakat pada saat ini sangat
beraneka ragam bentuk dan macamnya, serta banyak dilakukan oleh seluruh
elemen mayarakat, di antaranya yaitu lembaga swadaya masyarakat, perguruan
tinggi, organisasi massa, organisasi politik, berbagai yayasan maupun lembaga-
lembaga pendidikan.
Di negara yang sedang berkembang, peranan para wirausahawan adalah
sangat penting terutama dalam penyelenggaraan pembangunan. Suatu bangsa
dapat berkembang lebih cepat jika memiliki para wirausahawan yang memilki
kreatifitas dan inovasi secara optimal yaitu dengan mewujudkan gagasan-
gagasan baru yang dikonfersikan menjadi kegiatan yang nyata dalam setiap
usahanya. Indonesia adalah salah satu negara yang sedang berkembang
berusaha dengan giat dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sektor
penting dalam meningkatkan taraf hidup rakyatnya adalah pendidikan.
Pendidikan merupakan prasyarat untuk mempertahankan martabat manusia
dan memiliki kesempatan dalam mengembangkan potensi dan membina
kehidupan dalam masyarakat.
Dalam dunia pendidikan beberapa upaya sudah dilakukan untuk
menyongsong adanya program MEA. Beberapa institusi/lembaga pendidikan
berupaya untuk menghasilkan para lulusan/alumni yang memiliki kepribadian
mandiri dan berjiwa entrepreneurship/wirausaha, sehingga mampu memainkan
peran yang signifikan di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan life skill yang

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 53


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

dimiliki. Di antaranya adalah memberikan keterampilan/keahlian yang beragam


sesuai dengan karakter yang ada di lingkungan sekolah tersebut.

B. Pembahasan
1. Pengertian Pemberdayaan
Kata pemberdayaan dalam bahasa Inggris “empowerment” yang juga
dapat bermakna “pemberian kekuasaan” karena power bukan hanya sekedar
“daya”, melainkan juga berupa “kekuasaan”, sehingga kata “daya” tidak saja
bermakna “mampu”, tetapi juga “mempunyai kuasa”. Keberdayaan dalam
konteks masyarakat (dalam hal ini masyarakat adalah santri pondok pesantren)
adalah kemampuan individu yang bersenyawa dalam masyarakat dan
membangun keberdayaan masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat yang
mayoritas anggotanya sehat fisik dan mental, terdidik dan kuat serta inovatif,
pasti memiliki keberdayaan yang tinggi. Namun, selain kemampuan fisik, ada
pula nilai-nilai intrinsik dalam masyarakat yang juga menjadi sumber
keberdayaan seperti kekeluargaan, kegotongroyongan, kejuangan, dan yang
khas pada masyarakat Indonesia, yaitu kebhinekaan. Seperti halnya pada
masyarakat, begitu banyak yang memiliki kearifan lokal sehingga dapat menjadi
modal dasar dalam kegiatan pemberdayaan masyarakatnya.1
Memberdayakan masyarakat adalah suatu upaya untuk meningkatkan
harkat dan martabat bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat khususnya
yang dalam kondisi sekarang belum mampu melepaskan diri dari kemiskinan
dan ketertinggalan. Dengan kata lain, memberdayakan adalah upaya
memampukan dan memandirikan masyarakat. Dapat dikatakan bahwa
pemberdayaan merupakan sebuah “proses menjadi” bukan sebuah “proses
instan”. Sebagai proses, pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu,
penyadaran, pengkapasitasan dan pendayaan.
Pemberdayaan dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada tahap pertama
adalah upaya penyadaran. Pada tahap ini target yang hendak diberdayakan
melaui pemebrian “pencerahan” dalam bentuk penyadaran bahwa mereka
mempunyai hak untuk memiliki “sesuatu”. Seperti, targetnya adalah kelompok
masyarakat miskin. Kepada mereka diberikan pemahaman bahwa mereka dapat
menjadi orang-orang berada, dan itu dapat dilakukan jika mereka mempunyai
kapasitas untuk keluar dari kemiskinan. Kegiatan yang dapat dilakukan pada
tahap ini misalnya dalam bentuj pemberikan pengetahuan yang bersifat kognisi
(wawasan/pengetahuan), belief (rasa percaya diri), dan healing (solusi). Prinsip
dasarnya adalah membuat target mengerti bahwa mereka perlu membangun
“demand” (permintaan) untuk diberdayakan dan proses pemberdayaan itu
dimulai dari dalam diri mereka sendiri bukan dari orang lain.

1 Wrihatnolo, Randi & Dwitjoto, Rian Nugroho, Manajemen pemberdayaan sebuah pengantar

dan panduan untuk pemberdayaan masyarakat, (Jakarta: Elex Media, 2007) h. 1.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 54


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

Tahap kedua adalah pengkapasitasan. Inilah yang sering disebut dengan


capacity building, atau dalam bahasa yang lebih sederhana memampukan atau
enabling. Untuk diberikan daya atau kuasa, yang bersangkutan harus mampu
terlebih dahulu. Misalnya, sebelum memberikan otonomi daerah, seharusnya
daerah-daerah yang hendak diotonomkan diberi program pemampuan atau
capacity building untuk membuat mereka “cakap” (skilfull) dalam mengelola
otonomi yang diberikan. Proses capacity building terdiri atas tiga jenis, yaitu
manusia, organisasi, dan sistem nilai.
Tahap ketiga adalah pemberian daya itu sendiri – atau empowerment
dalam makna sempit. Pada tahap ini target diberikan daya, kekuasaan, otoritas,
atau peluang. Pemberian ini sesuai dengan kualitas kecakapan yang telah
dimiliki.2

2. Pengertian Santri
Istilah santri di Indonesia yang sudah sangat popular khususnya di
kalangan umat Islam. Hal ini tentu dikarenakan oleh eksistensi pondok
pesantren yang sudah ratusan tahun dan sudah melahirkan banyak tokoh
bangsa sekaligus membentuk karakter bangsa Indonesia. Kata “Pesantren”, yang
menurut para ahli adalah sebuah tempat perkumpulan para santri, atau secara
segi bahasa pesantren sendiri merupakan kata serapan dari santri itu sendiri
dengan menambahkan tambahan pe- di awalnya dan –an diakhirnya, yang bisa
disimpulkan asal katanya ialah pesantrian, sehingga bertransformatif menjadi
pesantren.3
Kata santri sendiri didefinisan dalam Wikipedia sebagai sebutan bagi
seseorang yang mengikuti pendidikan Ilmu Agama Islam di suatu tempat yang
dinamakan Pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga
pendidikannya selesai.4 Definisi ini tentu sangat diterima kendatipun di
lapangan santri sendiri terbagi menjadi dua; ada santri yang menetap di pondok
pesantren dan ada santri yang ke pesantren hanya ketika mengikuti kegiatan di
pesantren sementara tempat tinggal tetap dengan keluarga karena lokasi
berdekatan dengan pesantren dan lazin disebut sebagai “santri kalong
(kelelawar)”.

3. Pendidikan Entrepreneurship
a. Pengertian Pendidikan
Kata pendidikan berasal dari kata didik, lalu kata ini mendapat awalan
kata “me” sehingga menjadi mendidik artinya memelihara dan memberi latihan.
Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan
pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Kata pendidikan yang

2 Wrihatnolo, Randi & Dwitjoto, Rian Nugroho, Manajemen pemberdayaan..., h. 2.


3 https://hafizhuddin30.wordpress.com/2015/10/25/definisi-dan-makna-santri-sebuah-
pengantar.
4 https://id.wikipedia.org/wiki/Santri.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 55


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

digunakan sekarang, dalam bahasa Arabnya adalah tarbiyah, dengan kata kerja
rabba. Kata pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah ta’lim dengan kata kerjanya
’allama. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arab adalah tarbiyah wa ta’lim.
Sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arabnya adalah Tabiyah Islamiyah.5
Dalam Undang-Undang Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negera.6
Adapun pengertian pendidikan dari segi istilah, dapat merujuk kepada
berbagai sumber yang diberikan para ahli yaitu bahwa pendidikan adalah
memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seorang anak (yang
belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju ke arah kedewasaan, dalam arti
dapat berdiri dan bertanggung jawab susila atas segala tindakan-tindakannya
menurut pilihannya sendiri.

b. Pengertian Entrepreneurship
Pada umumnya pengertian-pengertian yang ada dari berbagai para ahli
menyatakan bahwa, wirausaha adalah seorang yang memilki potensi dalam
melihat peluang mencari dana, dan sumber dana lain yang diperlukan untuk
meraih peluang tersebut dan berani mengambil resikonya dengan tujuan
tercapainya kesejahteraan individu dan nilai tambah bagi masyarakat. Menurut
Dun Steinhoff dan John F. Burgess wirausaha merupakan orang yang
mengorganisasikan, mengelola, dan berani menanggung resiko untuk
menciptakan usaha baru dan peluang berusaha.7 Sedangkan dalam konteks
manajemen pengertian entrepreneur adalah seorang yang memiliki kemampuan
dalam mengunakan sumber daya seperti financial (money) ,bahan mentah
(matrials),dan tenaga kerja (labors), untuk menghasilkan produk baru,bisnis
baru,proses produksi atau pengembangan organisasi usaha8
Makna kewirausahaan sendiri selanjutnya berkembang seiring dengan
evolusi pemikiran para pakar ekonomi di dunia Barat, kemudian menyebar ke
negara-negara lain, termasuk ke Indonesia. Di Indonesia, konsep entrepreneurship
tersebut diterjemahkan sebagai kewiraswastaan dan kewirausahaan, sementara
entrepreneur sebagai pelakunya yaitu wirausaha. Menurut Kemendiknas,
kewirausahaan adalah suatu sikap jiwa dan kemampuan untuk menciptakan

5 Zakiah Darajat,dkk, Ilmu pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2009), h. 25-28.


6 Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang sistem Pendidikan Nasional Bab 1
Pasal 1.
7 Yuyus Suryana dan Kartib Bayu, Kewirausahaan Pendekatan Karakteristik wirausahawan

Sukses, (Jakarta: Kencana, 2011), h. 27.


8 Mudjiarto Aliaras Wahid, Membangun Karakter dan Kepribadian Kewirausahaan,

(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), h. 2.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 56


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

sesuatu yang baru, yang sangat bernilai dan berguna, baik bagi dirinya sendiri
maupun bagi orang lain.
Sifat wirausaha adalah orang yang mendobrak system ekonomi yang ada
dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan
bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru. Dengan demikian orang
tersebut melakukan kegiatannya melalui organisasi bisnis yang baru ataupun
bisa pula dilakukan dalam organisasi bisnis yang sudah ada. Dalam definisi ini
ditekankan bahwa seorang wirausaha adalah orang yang mengetahui peluang
kemudian menciptakan sebuah organisasi untukmemanfaatkan peluang
tersebut. Pengertian wirausaha di sinimenekankan pada setiap orang yang
memulai sesuatu bisnis yang baru. Sedangkan proses kewirausahaan meliputi
semua kegiatan fungsi dan tindakan untuk mengejar dan memanfaatkan peluang
dengan menciptakan suatu organisasi.9
Menjadi seorang entrepreneur berarti memadukan perwatakan pribadi,
keuangan dan sumber-sumber daya di dalam lingkungan. Menjadi entrepreneur
berarti memiliki kemampuan menemukan dan mengevaluasi peluang-peluang,
mengumpulkan sumber-sumber daya yang diperlukan dan bertindak untuk
memperoleh keuntungan dari peluangpeluang itu. Para entrepreneur merupakan
pemimpin dan mereka menunjukkan sifat kepemimpinan dalam pelaksanaan
sebagian besar kegiatan-kegiatan mereka. Mereka mengambil risiko yang telah
diperhitungkan dan menyukai tantangan dengan risiko moderat. Para
entrepreneur percaya teguh pada dirinya dan kemampuannya dalam mengambil
keputusan yang tepat. Kemampuan mengambil keputusan inilah yang
merupakan ciri khas para entrepreneur.10 Disamping itu semua yang tidak kalah
pentingnya dari kemampuan seorang entrepreneur yaitu kemampuan dalam
memanajemen dan menggunakan waktu secara efektif.
Jadi pengertian entrepreneur menurut penulis adalah individu-individu
yang berorientasi pada tindakan dan bermotivasi tinggi untuk mandiri dengan
berani mengambil risiko dalam mengejar tujuannya. Sifat kemandirian yang
dimilikinya akan sangat berguna dalam menjalankan kepemimpinannya
terutama dalam mengambil suatu keputusan dan kemauan bertanggungjawab
atas tindakannya.

c. Ciri-ciri Khusus Entrepreneur


Adapun ciri khusus yang harus dimiliki oleh seorang
entrepreneur/wirausahawan adalah sebagai berikut: 11

1) Mempuyai mimpi mimpi yang realistis dan tinggi yang mampu diubah
menjadi cita cita yang harus ia capai. Hidup ingin berubah karena

9 Bukhori Alma, Kewirausahaan, ( Bandung: Alfabeta, 2010), h. 24.


10 Geoffreg G Meredith, Kewirausahaan Teori dan Praktek, Penterjemah: Andre Asparsayogi
(Jakarta: PPMI, 2000), h. 4.
11 Hendro, Dasar-Dasar Kewirausahaan, (Jakarta: Erlangga, 2011), h. 45.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 57


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

kekuaan emosianalnya yang tinggi dan keyakinannya yang kuat,


sehingga mimpi itu bisa terwujud (power of dream).
2) Mempuyai empat karakter dasar kekuatan emosianal yang saling
mendukung untuk sukses: Determenasi, persistence, keberanian,
struggle.
3) Menyukai tantangan dan tidak pernah puas dengan apa yang di dapat.
4) Mempuyai tantangan dan tidak puas dengan apa yang didapat.
5) Memiliki keyakinan yang kuat akan kemampuanya bahwa “dia bisa.
6) Seorang yang visioner dan mempunyai daya kreativitas yang tinggi.
7) Risk manager, not just risk taker.
8) Memiliki strong emotional attachment (kekuatan emosional).
9) Seorang problem solver.
10) Mampu menjual dan memasarkan produknya (seller).
11) Ia mudah bosan dan terkesan sulit diatur.
12) Seorang kreator ulung.

d. Karakteristik Kewirausahaan
David Mc Clelland menyatakan ada 9 karakteristik utama yang terdapat
dalam diri seorang wirausaha sebagai berikut:12
1) Dorongan berprestasi: semua wirausahawan yang berhasil memiliki
keinginan besar untuk mencapai suatu prestasi.
2) Bekerja keras; sebagian besar wirausahawan mabuk kerja demi mencapai
sasaran yang ingin dicita citakan.
3) Memperhatikan kualitas; wirausahawan menangani dan mengawasi
sendiri bisnisnya sampai mandiri sebelum dia memulai dengan usaha
baru lagi.
4) Sangat bertanggung jawab; wirausahawan sangat bertanggung jawab atas
usaha mereka, baik secara moral, legal, maupun mental.
5) Berorientasi pada imbalan; wirausahawan mau berprestasi ,kerja keras
dan bertanggung jawab, dan mereka menerapkan imbalan yang sepadan
dan berorientasi pada imbalan; wirausahawan mau berprestasi ,kerja
keras dan bertanggung jawab, dan mereka menerapkan imbalan yang
sepadan dengan usaha. Imbalan itu tidak hanya berupa uang tetapi juga
pengakuan dan penghormatan.
6) Optimis; Wirausahawan hidup dengan doktrin semua waktu baik untuk
bisnis, dan segala sesuatu mungkin.
7) Berorientasi pada hasil karya yang baik.
8) Mampu mengorganisasikan.
Berorientasi pada uang. Uang yang dikejar oleh para wirausahawan tidak
semata mata hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan pengembangan
usaha saja, tetapi juga dilihat sebagai ukuran prestasi kerja dan keberhasilan.

12 Mudjiarto Aliaras Wahid, Membangun Karakter…, h. 3-4.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 58


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

e. Pendidikan Entrepreneurship di Pondok Pesantren.


Dalam pengembangan pesantren, misi utamanya adalah menciptakan
kader ulama, konsentrasinya adalah program Tafaqquh Fiddin dan solusinya
adalah melalui program Pendidikan Diniyah Formal.
Disamping itu ada tujuh program prioritas yang akan dilaksanakan pada
tahun 2015, Program 10.000 Hafizh Al-Quran, Pendidikan Kader Ulama.
Program Takhasus Tafaqquhfiddin, Pengembangan Pesantren berwawasan Bahari.
Pengembangan lifeskill dan Enterpreneurship, Pendidikan Keagamaan Terpadu di
Daerah P3T (Tertinggal, Terluar dan Terdepan), terakhir Kemitraan Lembaga.
Untuk mensukseskan program tersebut, perlu adanya dukungan seluruh elemen
pemangku kebijakan, termasuk kepala bidang PAKIS seluruh Indonesia. Oleh
karena itu, jalinan kerjasama yang kuat antara pusat dan daerah dalam
mendukung program dan anggaran menjadi keniscayaan, sehingga tujuan
program pengembangan pesantren tersebut dapat tercapai.13
Pada saat ini peran strategis pondok pesantren yang diharapkan dapat
menjadi mitra pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan.Karena
pondok pesantren pada umumnya lahir dan berbasis di daerah-daerah pedesaan
yang masyarakatnya masih memegang teguh sikap gotong royong dan
kekeluargaan. Keberadaan pondok pesantren di masyarakat mempunyai peran
yang sangat strategis dalam pendidikan, yang sangat mengakar di masyarakat
menjadi kekuatan tersendiri dalam membangkitkan semangat masyarakat untuk
mencapai kemajuan dan kehidupan yang lebih sejahtera.
Di samping berfungsi dan berperan sebagai agen pemberdayaan
masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan, pondok pesantren
diharapkan juga mampu memberdayakan diri agar mandiri, terutama dalam
aktifitas ekonomi.

4. Program Entrepreneurship di Pondok Pesantren


Dalam upaya pengembangan pesantren di Indonesia, Direktorat
pendidikan madrasah dan pondok pesantren mengembalikan kemandirian
pondok pesantren melalui dua aspek yaitu; Menciptakan kewirausahaan pada
pondok pesantren dan memberikan keterampilan kepada para santri. Program
enterpreneur di pondok pesantren adalah sebagai salah satu program yang
digunakan sebagai alternatif untuk melatih jiwa santri sehingga bisa memiliki
jiwa wirausahawan yang salah satunya adalah memiliki rasa mandiri atau tidak
selalu merasa ketergantungan dengan orang lain. Program ini dijadikan sebagai
salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan santri sehari-hari, biaya operasional
pondok pesantren maupun biaya operasional pendidikan formal mereka.

13http://ditpdpontren.kemenag.go.id/direktur-menyapa/direktur-pd-pontren-

singkronisasi-program-menjadi-keharusan/, diakses pada tanggal 22 September 2015, pukul 09.30.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 59


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

Mendidik anak untuk mempunyai watak jiwa wirausaha tidaklah


mudah, sering kali rasa takut gagal, gengsi dan tidak percaya diri menghantui
diri seseorang. Untuk mengatasi hal tersebut, hendaknya membuka program
pelatihan entrepreneur dengan tujuan selain untuk melatih jiwa santri menjadi
semangat berproduksi, program tersebut bertujuan untuk sumber pendapatan
pesantren, Dengan adanya kegiatan wirausaha setiap harinya, diharapkan semua
kebutuhan santri dan pimpinan pondok pesantren (Kiyai) dapat terpenuhi.
Demikian hasil atau manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini dan dapat
dirasakan sangat membantu dan bermanfaat, terutama untuk santri.

5. Jenis-Jenis Kegiatan Entrepreneurship di Pondok Pesantren


Kegiatan yang termasuk dalam program entrepreneur yang dilaksanakan
di pesantren, dilaksanakan dengan cara bertahap, jika satu program sudah
berjalan dengan baik, maka akan dikembangkan lagi kegiatan-kegiatan yang
lainnya dan terus akan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan
yang ada.
Adapun kegiatan yang mungkin dalam program entrepreneurship di
pesantren ini di antaranya adalah:

a. Perdagangan.
Perdagangan yang ada disini adalah berupa pemasaran produk-produk
yang dihasilkan para santri. Produk-produk tersebut meliputi usaha pengolahan
kedelai menjadi beberapa olahan, kemudian dari kedelai tersebut dibuat susu
kedelai yang biasa orang menyebut sule. Bila seseorang tidak boleh atau tidak
dapat makan daging atau sumber protein hewani lainnya, kebutuhan protein
sebesar 55 gram per hari dapat dipenuhi dengan makanan atau minuman yang
berasal dari 157,14 gram kedelai.14 ada pula olahan kedelai tersebut menjadi
nugget. Nugget adalah suatu bentuk produk olahan daging yang terbuat dari
daging giling yang dicetak dalam bentuk potongan empat persegi dan dilapisi
dengan tepung berbumbu.
Memang pada umumnya nuggets kebanyakan berbahan dasar daging,
baik ayam ataupun ikan.alternatif terbaru nugget nabati berbahan dasar kedelai
ini memiliki protein tinggi. Biasanya, ampas tahu hanya dijual oleh pemilik
pabrik tahu dan digunakan untuk campuran makanan ternak, utamanya sapi.
Namun, siapa sangka limbah tahu dapat dijadikan makanan berupa nugget yang
memiliki nilai gizi tinggi dan aman dikonsumsi anak-anak. Pasalnya, meski
limbah ternyata pada ampas tahu masih mengandung protein dan karbohidrat.15

14 http://bisnisukm.com/peluang-usaha-berbagai-macam-olahan-kedelai.html, diakses

pada tanggal 25 Agustus 2015.Pukul 11.00.


15 Kreasi inilah yang dilakukan oleh para santri dan pelajar SMK Integral Minhajut Tullab

Pekalongan Lampung Timur, yang memanfaatkan limbah tahu untuk dijadikan nugget, hal ini
dilakukan supaya tidak ada yg mubadzir dari sisa pengolahan tersebut. Semua produk yang
dihasilkan tersebut dipasarkan oleh para santri pada waktu pagi hari di toko-toko dan perumahan

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 60


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

Dari kegiatan tersebut di atas, ada dua keuntungan dalam bidang kewirausahaan
yang bisa diperoleh para santri, yaitu mendapatkan pengetahuan dan
keterampilan tentang pembuatan susu kedelai dan nugget, serta mendapatkan
pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana memasarkan barang kepada
konsumen.

b. Perikanan
Untuk kegiatan budidaya ikandapat dibuat beberapa kolam ikan,
kegiatan perikanan yang dilakukan oleh para santri hanya sebatas pembesaran
tanpa memperbanyak atau pengembangbiakan. Untuk bibit ikan, para santri
dapat membeli dari daerah-daerah yang menyediakan bibit ikan, kemudian
dibesarkan di kolam-kolam. Adapun jenis ikan yang dapat diternak ternak di
antaranya adalah ikan nila. Karena ikan nila pertumbuhannya tidak terlalu lama,
hanya menunggu empat bulan ikan nila siap untuk dipanen. Disamping ikan
nila juga ada ikan lele dan gurame, Setelah dipanen, ikan tersebut dijual kepada
pedagang-pedagang ikan atau konsumen-konsumen yang ada di daerah sekitar
pondok pesantren. Pengetahuan serta keterampilan dalam budidaya ikan sangat
penting, karena dalam memelihara ikan tidaklah mudah, ada hal-hal yang perlu
diketahui agar ikan tidak banyak mati dan cepat besar. Dalam program
budidaya ikan ini, para santri mendapat pengetahuan tentang cara memelihara
ikan dan ilmu tentang cara pemasarannya.

c. Pertanian
Metode pertanian yang dapat digunakan para santri adalah sistem
tumpangsari, yaitu usaha pertanian untuk menanam beberapa jenis tanaman
pada sebidang tanah. Adapun jenis tanaman yang ditanam adalah sayur mayur
dan dan ubi-ubian (Bayam, Kacang panjang, Kangkung, Ubi Jalar, singkong, dll)
dengan lahan tidak terlalu luas kurang lebih setengah hektar mampu digunakan
untuk lahan yang produktif. Dalam program pertanian ini para santri dididik
untuk terampil dalam memanfaatkan lahan yang kosong, sehingga bisa
dimanfaatkan untuk menanam sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan
bahkan bisa menghasilkan pendapatan tambahan.

d. Peternakan
Dalam bidang peternakan, para santri dapat diberi bekal bagaimana
merawat, membesarkan dan sekaligus memasarkan binatang ternak hasil
peliharaannya. Adapun program peternakan yang dapat dikembangkan adalah
peternakan kambing, sapi, kerbau, ayam dan lain-lain. Tujuan dari program
peternakan ini adalah untuk melatih para santri tentang bagaimana beternak

warga yang ada di sekitar pondok pesantren tersebut, sebagian dengan mengendarai motor dan
sebagian lagi dengan berjalan kaki.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 61


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

yang baik, sehingga menghasilkan hewan ternak yang berkualitas (gemuk dan
sehat) dan bagaimana memasarkan hasil ternaknya kepada pedagang atau
konsumen yang ada.
Semua kegiatan tersebut di atas dilakukan oleh semua santri, adapun
waktu yang dapat mereka manfaatkan untuk melaksanakan kegiatan
enterpreneur ini sangat terbatas karena kegiatan ini hanya sebatas sampingan
untuk memenuhi kebutuhan dan opersional pendidikan mereka. Para santri
hanya dapat memulainya setelah subuh hingga pukul 8.00 WIB. mereka harus
bersiap-siap untuk berangkat melanjutkan kegiatan belajar formal untuk
menunjang bidang akademisi mereka. Setiap pagi setelah selesai menunaikan
sholat Shubuh, para santri yang mendapat bagian pertanian, mereka langsung
terjun ke lahan pertanian, ada yang bagiannya menyangkul, membersihkan
rumput, memupuk, menyemprot memetik sayuran yang sudah layak dipetik dll.
Sedangkan yang mendapat tugas pengolahan sule, nuget, dan pengolahan kecap
Mereka bergegas sesuai tugasnya masing-masing tanpa harus diperintah lagi.
Begitu pula ketika pagi mulai cerah, para santri berkeliling ke masyarakat
setempat untuk menjual produk-produk mereka dengan mendatangi dari satu ke
rumah lainnya tanpa ada rasa gengsi selagi hal itu halal. Mereka harus kembali
pada pukul 08.00 tepat guna mempersiapkan pendidikan formal mereka karena
waktu masuk pendidikan formal pukul 08.30 WIB.16

6. Kebutuhan dalam Program Entrepreneurship


Program entrepreneurship yang lakukan di pondok pesantren tentunya
tidak terlepas dari berbagai kebutuhan untuk mendukung. Dari ketiga sektor itu
yang pertama masalah penjualan. Pada bagian perikanan kendalanya yang
sering dihadapi para santri adalah masalah pembinaan. Sumber dana untuk
modal operasional. Untuk mengoptimalkan kegiatan entrepreneur ini yang
pertama diberikan suntikan modal.
Selanjutnya kebutuhan terkait dengan pengaturan waktu pelaksanaan
kegiatan entrepreneurship. Padatnya pembelajaran di pondok pesantren
hendaknya dapat atur sedemikian rupa supaya kegiatan entrepreneurship dapat
berjalan dan menghasilkan keuntungan sebagaimana yang diharapkan. Di antara
cara pengaturan waktu adalah membuat jadwal piket santri yang bertanggung
jawab mengurusi usaha-usaha yang ada di pondok pesantren.

C. Simpulan
Dari uraian-uraian mengenai gagasan tentang pemberdayaan santri
melalui Pendidikan entrepreneurship dapat ditarik kesimpulan yaitu bahwa,
kegiatan entrepreneurship dapat dilakukan di pondok pesantren dengan tetap
mengutamakan tafaqquh fi addin (memperdalam ilmu-ilmu agama) karena tujuan
utama belajar di pondok pesantren adalah untuk mendalami ilmu-ilmu atau

16 Studi Kasus di Pondok Pesantren Minhajut Tulab Pekalongan Lampung Timur.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 62


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

pengetahuan tentang agama Islam. Adapun jiwa wirausaha adalah sebagai


pelengkap yaitu terutama santri memiliki jiwa berdikari atau mandiri terutama
dalam bidang kewirausahaan. Selanjutnya, pendidikan entrepreneurship di
pondok pesantren bertujuan untuk menciptakan santri yang mempunyai jiwa
wirausahawan. Kemampuan dan keberanian untuk melakukan suatu usaha
dalam meraih keuntungan yang bersifat ekonomis membutuhkan latihan dan
pembiasaan. Dengan kegiatan pengelolaan usaha diharapkan akan tumbuh dan
melekat mental yang berani melakukan kegiatan-kegiatan wirausaha. Namun
yang harus ditekankan yaitu pola pendidikan entrepreneurship yang ada di
pondok pesantren hendaknya sesuai dengan landasan serta tujuan yang ada di
beberapa teori tentang pendidikan entrepreneurship. Baiknya dalam menjalankan
kegiatan wirausaha dipandu oleh teori-teori yang berkaitan dengan wirausaha.
Hal ini diharapkan wirausaha yang dilakukan tidak sia-sia dalam artian akan
memberikan keuntungan-keuntungan yang signifikan yang dapat dimanfaatkan
oleh santri khususnya dan pondok pesantren pada umumnya. Disamping itu,
pengaturan waktu dalam melaksanakan kegiatan entrepreneurship dapat
dilakukan dengan pembagian tugas misalnya dalam bentuk piket secara
bergantian. Kembali pada tujuan utama dari kegiatan Pendidikan
entrepreneurship merupakan tambahan atau pelengkap maka waktu belajar
mendalami ilmu-ilmu agama hendaknya tetap menjadi prioritas bagi santri.
Selebihnya baru dimanfaatkan untuk kegiatan pengembangan Pendidikan
entrepreneurship.

Referensi
Bukhori Alma, Kewirausahaan, ( Bandung: Alfabeta, 2010)
Hendro, Dasar-Dasar Kewirausahaan, (Jakarta: Erlangga, 2011)
Geoffreg G Meredith, Kewirausahaan Teori dan Praktek, Penterjemah:
AndreAsparsayogi (Jakarta: PPMI,2000)
http://ditpdpontren.kemenag.go.id/direktur-menyapa/direktur-pd-pontren-
singkronisasi-program-menjadi-keharusan/, diakses pada tanggal 22
September 2015, pukul 09.30
http://bisnisukm.com/peluang-usaha-berbagai-macam-olahan-kedelai.html),
diakses pada tanggal 25 Agustus 2015.Pukul 11.00.
https://id.wikipedia.org/wiki/Santri
https://hafizhuddin30.wordpress.com/2015/10/25/definisi-dan-makna-santri-
sebuah-pengantar,diakses pada tanggal 22 September 2015
Mudjiarto Aliaras Wahid, Membangun Karakter dan Kepribadian Kewirausahaan,
(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006)
Undang undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang sistem Pendidikan Nasional
Bab 1 Pasal 1.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 63


Nurwadjah Ahmad EQ dkk Pemberdayaan Santri Melalui...

Wrihatnolo, Randy R & Riant Nugroho Dwidjowijoto. 2007. Manajemen


Pemberdayaan. Sebuah Pengantar dan Panduan untuk Pemberdayaan
Elex Media. Jakarta: 2007)
Yuyus Suryana dan Kartib Bayu, Kewirausahaan Pendekatan Karakteristik
wirausahawan Sukses, (Jakarta: Kencana, 2011)
Zakiah Darajat, dkk, Ilmu pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009)

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 64


CULTURE IN DA'WA SONGO WALI

Abdul Mujib
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro
Email: abdulmujib0510@gmail.com

Abstrak
Pertumbuhan dan Perkembangan Islam pada periode awal ditandai adanya temuan nisan
makam Fatimah binti Maemun (wafat 1082 M), di Leran, Gresik, Jawa Timur. Estafeta
dakwah islamiyah tak kenal henti hingga silih berganti lahirnya sejumlah tokoh yang
handal, antara lain Wali Songo, mereka adalah Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Sunan
Ampel di Surabaya, Sunan Giri di Gresik, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di
Lamongan, Sunan Kudus di Kudus, Sunan Muria di Kudus, Sunan Kalijaga di
Kadilangu Demak, dan Sunan Gunung Jati di Cirebon. Sukses-sukses besar dakwah
islamiyah telah memberikan keteladanan antara lain dalam aspek ekonomi. Melalui
kekuatan ekonomi, Islam di Pulau Jawa bangkit melahirkan kekuatan politik dalam wujud
Kesultanan Demak. Kehadiran Kesultanan Demak tidak terlepas dari peran Wali Songo
yang dianggap sebagai pimpinan dari sejumlah besar muballigh Islam dalam dakwah
islamiyah di daerah-daerah di Pulau Jawa.
Kata kunci: Wali Songo, Dakwah

Abstract
The growth and development of Islam in the early period marked the findings of the tomb
of Nisan Fatimah binti Maemun (died 1082 A.D.), in Leran, Gresik, East Java. Estafeta
Da'wa Islamiyah unrelenting until the change of the birth of a number of reliable figures,
among others, Wali Songo, they are Maulana Malik Ibrahim in Gresik, Sunan Ampel in
Surabaya, Sunan Giri in Gresik, Sunan Bonang in Tuban, Sunan Drajat in Lamongan,
Sunan Kudus in Kudus, Sunan Muria in Kudus, Sunan Kalijaga in Kadilangu Demak,
and Sunan Gunung Jati in Cirebon. The great success of Da'wa Islamiyah has given such
an example in the economic aspects. Through economic strength, Islam in Java Island
emerged to give birth to political power in the form of Demak Sultanate. The presence of
Demak Sultanate is not separated from the role of Wali Songo which is considered as the
leader of a large number of Islamic Muballigh in Da'wa Islamiyah in areas in the island
of Java.
Keywords: Wali Songo, Da'wa

A. Introduction
It is agreed that the propagations of Islam in the Java land are the scholars
called Wali Songo. "Wali Songo" means nine guardians. They are Maulana Malik
Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan
Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, and Sunan Gunung Jati. They do not live at
the exact same time. But each other has a close connection, if not in the blood
bond also in the teacher-pupil relationship. They are the intellectuals who
become the reformer of society in their time. They introduced various forms of
the new civilization from health, farming, commerce, culture and arts,
community to government.
Abdul Mujib Culture In Da'wa...

The story of Wali Songo is actually full of controversy, but the story itself
is quite interesting and captivated. Even many of the wisdom gained to fight
through the da'wa of Islam and their strategy in the capture of society, such as
Java, Sunda and Madura to embrace the religion of Islam, they are gentle in view
of Javanese culture. Strategy through the stages of preaching them, really proud.
They can be accepted in various communities, from lower to upper classes i.e.
nobles and kings. During preaching, they made a lot of breakthrough in the
stages of preaching strategy among the community. Until now, Wali Songo is
considered as a pioneer and a great scholar who has provided an act of
preaching, both with oral and deed. The achievement was made phenomenal and
also made the big name respected by every layer of society, especially the
Javanese people.

B. Discussion
1. Definition of Wali Songo
The phrase ' Wali ' in Arabic can mean ' a loving person ' or a loved one.
The word ' Wali ' in this context is actually short for Waliyullah meaning a
person who loves and is loved by God. Some also mean ' guardians ' with '
closeness '. So Waliyullah mean also ' the person whose position is close to Allah
swt '. The word ' Songo ' is a Javanese language which means ' nine '. But there is
an opinion that the word Songo is a confusion of the pronunciation of the word '
Sana ' which in Javanese language relates to a particular place. For the first, Wali
Songo means guardian of nine people. And the second, Wali Songo (Wali Sana),
means Wali for a certain place. The word ' Sana ' is a closeness to the Arabic
pronunciation of the word ' Tsana ' meaning ' praiseworthy '. So that Wali Songo
means ' the praised Guardian '.1
In the Islamic encyclopedia it is said that Wali Songo is the nine scholars
who are pioneers and fighters of Islamic development in the island of Java in the
fifteenth century (the period of Demak Sultanate). The word "guardian" (Arabic)
means ' defender ', ' close friend ', and ' leader '. In the use of the word ' guardian '
is usually interpreted as ' close to God ' (Waliyullah). The word "Songo"
(Javanese) means nine. So Wali Songo is generally interpreted as the nine
guardians who are considered to have been close to Allah SWT, continue to
worship him, and have the power and other abilities beyond human habits. The
word ' Songo ' or nine for some Javanese society is considered a sacred number,
the highest considered figure. The Da'wa council was deliberately named Wali
Songo to attract sympathy of the people who at the time still do not understand
what the religion actually is Islam.
Wali Songo means nine guardians, in fact the number is not just nine. If
there is a guardian Songo dies or return to the country across, it will be replaced

1 Budi Sulistiono, Wali Songo in the historical stage of Nusantara, (Jakarta: UIN Syarif

Hidayatullah, 2014), p. 2.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 66


Abdul Mujib Culture In Da'wa...

by new members. With this kind of character-in the long time range, the number
of guardians in the composition of Songo Wali is not only nine, but more.
Sometimes the name Sheikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) is not
included as a member of Wali Songo. This does not mean Sheikh Maulana Malik
Ibrahim (Sunan Gresik) is not a member of Wali Songo, but the data is taken in
accordance with a certain period where Sheikh Maulana Malik Ibrahim has
passed away, so the oldest guardian or elder Wali Songo at that time is Sunan
Ampel, and Raden Patah or Sunan City entered in the member of Wali Songo.2
Presumably, the nine guardians were those who held positions in the
government as companions of the king or the elders of the Sultanate alongside
their roles as missionary and teachers. Because they held the position of
government, they were given the title of Sunan, short for the Susuhunan or
Sinuhun, meaning "a man of high rank". Even sometimes accompanied by the
designation Kanjeng, short for Kang Jumeneng, prince or other designations
commonly worn by kings or rulers of government in the area of Java.

2. The meaning of Wali Songo


Guardians and humans are two different entities. In order to be needed
the awareness that the guardians are a person who has an advantage, because of
his proximity to Allah SWT. Guardians can be a Wasilah or intermediary that
connects people with God. To be aware must necessarily have or fulfill the
requirements of proximity and chastity or become a saint.
The proximity is obtained through the individual efforts of a person in
dealing with God through a systematic and structured dhikr or Wirid and
Riyadha. Through the closeness (Taqarrub) will bring up an aura called purity.
Thus chastity is the second level gained by one after the first level is fulfilled, and
through the purity of Wasilah can be interpreted. Guardians have supernatural
powers and ordinary humans only have natural powers. In order to come to
consciousness necessary awareness that is coupled with the reinforcement-
strengthening kel9ebihan the evidence and the Nash that gives the to
Prophet Muhammad SAW.
The Walisanga or Walisongo mentioned in the source of the Chronicle as
a propagation of Islam, is quite interesting if viewed as a propagation of religion
or as a cultural heroi according to the theory of Geertz, especially when viewed
from the context of the process of acculturation. In one party there is a tradition
of Kraton Hindu Buddha with the growing, namely the tradition of the group of
traders and farmers have absorbed the elements of Islam. The new cultural
supporters are the middle class, such as merchants, Kyai, teachers, and Tarekat.
Walisongo occupies an important position in Muslim society in Java especially in
the area where they were buried. The number and names mentioned in
traditional sources are not always the same. The number of nine or eight is

2 Ibid, p. 3.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 67


Abdul Mujib Culture In Da'wa...

estimated to be taken from the gods Astadikspalaka or Nawasanga as in Bali. The


word Walisongo, a similar word is considered Walisana. The word Walisongo
consists of two words Wali and Songo. Here we see the combination of two
words that come from different cultural influences. Guardians come from the
Arabic language (the influence of the Qur'an) and Songo. Here we see the
combination of two words derived from the influence of Javanese culture. So
from the Segikata Walisongo is the interrelated of the influence of two cultures.
In Javanese Kawi language, Wali is Walya or Wididyardya. But this word
is not used. The word Waly in Arabic means "the adjacent one". Whereas Auliya
plural of the word Waly. In the Qur'an the Epistle of Jonah 62 can be understood
a guardian is a person who is always faithful and fear God, they convey the truth
from God, and in conveying the truth because it gets the karomah from Allah,
there is no taste of the people and sad. This privilege is in fact the same as the
apostles, which distinguishes lies in the revelations received by the Apostle.
Guardians do not receive revelation, nor will it ever be a prophet or apostle, but
guardians get Caromah, an ability beyond the customs of the human habit. The
word Walisongo in another view is a compound word derived from the words
Wali and Songo. The word Wali comes from the Arabic language, a form of
Waliyullah, meaning the person who loves and loved Allah SWT. Songo is
derived from the Javanese language which means nine. As such, Walisongo
means Regent of nine, the nine who loves and is loved by God.

3. Da'wa Wali Songo


Broadcast Islam is an obligation for every Muslim, because it is ordered
by Islam. Islamic religion began to enter Indonesia in the beginning of Java
Island. The oldest spreading centers of Islamic religion are in Gresik and
Surabaya area. As mentioned in the northern coastal areas of Java, such as
Gresik, Tuban, Jepara was a bustling port visited by foreign merchants. Through
the road Islam entered the coastal area of North Java.
As for the lead of the spread of Islam to the island of Java today is
Walisongo, they are the ones who have been in charge of leading the
development of Islamic religion throughout the island of Java, which then spread
throughout other islands in Indonesia. The title given to Walisongo is a title
given because it has a holistic expertise especially in the field of Islamic. The
target of da’wa by Walisongo in the Islamic Land of Java, first of all to be seen the
main character is Raden Rahmat (Sunan Ampel). Since Raden Rahmat in
Surabaya precisely in the area of Ampel Denta, the population of Muslims has
grown. Demekian with the development of boarding school, although the
boarding school was first established by Syeh Maulana Ibrahim in Gresik but
Raden Rahmat was the most successful to educate scholars and develop
pesantren. Thus in a short time the name Ampel Denta so famous.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 68


Abdul Mujib Culture In Da'wa...

The rapid growth and development of Ampel Denta is essentially


supported by several factors. Firstly, because of its strategic location at the gate of
Majapahit so that the trade is passed the Majapahit. Secondly, Raden Rahmat
does not restrict a person who wants to seek religious knowledge from him.
After Raden Rahmat felt that Maulana and his Santrys had made it possible to
preach, then they were in turn propagated to various places to spread and
develop the Islamic religion. But the da’wa movement for the first generation
was not all successful, but at least their struggle had become a foundation for
their climbers. Then Raden Rahmat continued his tactics for the next generation
until the formation of the Walisongo Council.
Walisongo even deliberately took the local cultural instrument to promote
Islamic values. In other words, Islamic values are promoted with local cultural
instruments. Here it is necessary to be expressed three examples of cultural
strategies developed by Walisongo, the mosque's aristektour as a representation
of the egalitarian social order, wayang as the building of people's theology, and
the creation of Islamic art in local culture.

4. Architecture of the mosque as a representation of egalitarian social order


The mosque's architecture can be seen as a form of adoption of a mosque
concept in the Middle East with monasteries, temples, and temples. At least,
there are three architectural entities that need to be elaborated, namely the roof of
three-stacked mosque, Mustaka form, and tower shape. The architecture Model
of this mosque is not found in the country of origin of Islam, namely Saudi
Arabia specialized in the Middle East in general.
Firstly, the roof of the mosque is composed of the top three layers of roofs
as can be seen in the Great Mosque of Demak and other mosques can be seen as a
form of adoption of the temple. In the Hindu tradition that terms with the social
class, the number of roofing arrangement of each temple shows the person who
builds and the community that is entitled to use it. The eleven-roofed temple was
a temple built by the great King (the king who had conquered areas), and could
only be used to worship the kings and the nobility. The temple with a seven-
stacked roof shows that the temple was constructed by kings or nobles, and was
used only for kings and nobles. The temple with a three-stacked roof is a temple
built by ordinary people, and used as their place of worship. The temple of this
model could be built by the king or nobility, but it is used for the worship of
commoners. Perhaps, Walisongo deliberately adopted the architectural
philosophy of the temple with the three-stacked roof to make the commoners not
awkward to join in the place. However, Walisongo did not make the mosque
with the three-stacked roofs only for the commoners, but for the Muslims as a
whole, including the nobles and even the king. In addition, Raden Patah was also
a priest in the Great Mosque of Demak which was followed by nobles and
commoners. Thus, Walisongo has actually been culturally striving to make a

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 69


Abdul Mujib Culture In Da'wa...

strong public governance with the caste system and social status into an
egalitarian and equitable society that is part of the essence of Islamic teachings.
Secondly, the mosque that is like pineapple is typical of Indonesia. It is
more of a model of the temple or Vihara architecture in Javanese culture. The
author suspects that the semicircular Mustaka topped the taper is then found
Diakhir-akhir 18th century in Indonesia after the Islamic kingdoms, such as the
ocean Pasaidi ACEH, strong and have a direct relationship with the Islamic
countries in the Middle East, especially Saudi Arabia. Mosques with a model of
half-circle is mainly found in Aceh. The mosque in Java is still dominated by
pineapple-shaped model until the mid-20th century. It shows that the
architecture of the mosque as the center of Muslim community Development
designed by Walisongo according to local culture. Walisongo does not seem to
worry that the temple-style Mustaka will eliminate Islamic identity. It can be
interpreted that Walisongo is more emphasis on the dimension of essence than
the artificial dimension in religion. They can distinguish between the core
teachings of the surrounding culture. They are more concerned about the essence
or substance of religious teachings by the public than the rise of religious
symbols. They strive for Islam to be able to make real contributions to society
rather than to make the Islamic accepted formalistic and Formalistic also
understood.
Thirdly, the towers of mosques built during the time of Walisongo and
later are very distinctive with Javanese culture. In fact, the tower of Holy Sunan
Mosque utilizes the tower from the former Pura tower. This phenomenon also
emphasises Walisongo's attitude towards local culture. The phenomenon of the
mosque architecture developed by Walisongo represents a new, egalitarian,
inclusive and transformative setting. The egalitarian society is demonstrated by
the recognition of the dignity of each person to perform proportionately social
interactions. In fact, in the field of religion, as shown at the time of praying in
congregation, there is no difference between people based on social status.
Walisongo also forms a society that is not merely able to appreciate the beliefs
and religion of the local people, but Walisongo accultuate Islamic values with the
cultural instruments of local people.

5. Wayang as a means to build theology and social construction


Wayang is a Hindu-Buddhist form of culture adopted by Walisongo as a
means to introduce Islamic teachings. In fact, the folk art was construction of
Walisongo with Islamic theology as a substitute for Hindu theology. To date, the
original Pakem stories are still stories from the Mahabarata and Ramayana that
are part of the Hindu scriptures. Walisongo adopted the stories by incorporating
elements of Islamic values in the plot. In principle, Walisogo only adopted Hindu
cultural instruments in the form of puppet, and incorporated Islamic values to

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 70


Abdul Mujib Culture In Da'wa...

replace Hindu philosophy and theology (and certainly also Buddhist theology) in
it.
For example, Walisongo modifies the meaning of "charms of Kalimah
Shada" which originally meant "amulets of the Maha Usada" that Hindu theology
has become meaningful "azimah sentence Shahada". The last phrase is a person's
statement of belief that there is no God but Allah, and that Muhammad is the
messenger of Allah. The belief is a life and lifesaver spirit for everyone. In the
puppet story, Walisongo continues to use the term to personalise the most
powerful weapons for mankind. Only, if the perspective of the Hindu, the amulet
is manifested in the form of a symbolic object that is regarded as the gift of God,
then the Walisongo despize the formula so that it is merely a statement of belief
in God and his apostle.
In the Islamic perspective, the creed is the "Key of Heaven" which means
as a formula that will bring people to salvation in the world and the hereafter.
That is, the "Creed" in Muslim perspective has a spiritual power to pronounce it.
It is a Muslim statement to live firmly on the principles of Islamic teachings and
to achieve success in the world and the hereafter. The new usage would not
modify the Pakem story, but was able to build Islamic values in the puppet story.
Walisongo also uses puppet art to build social construction, namely to build a
civilized and cultured society. To build a different direction from the original
puppet, Walisongo added in the story of the standard puppet with a plot that
contains the social vision of the Islamic community, both from the system of
government, neighboring relations, to the pattern of family life and personal life.

6. Islamic Art creations local culture nuance


If the inventory is done intensively, it will be found many forms of
Islamic cultural creations developed by Walisongo in order to adapt Islam to the
local culture. From the art side, we can note the Walisongo creations in the form
of Javanese songs, religious hymns, Dolanan songs, and forms of games for
children and teenagers. Walisongo develops lyrics and songs that have been
known and developed widely in the community. Only Walisongo also provide
Islamic values through the contents of the song. Among the Javanese idioms that
are sliced Walisongo are gambuh, Sinom, Mijil, and Dandanggula. Walisongo
also created religious praise songs with a lyric model that was a kind of
consolation song (Uyon-Uyon), such as Ilir-Ilir, for the general public.
For children and teenagers, Walisongo creates Dolanan songs, such as
Jublak-Jublak Suweng and Jamuran. They also created a game model (Dolanan)
for children and teenagers, such as Jitungan and Trempolo Kendang. In many
ways, the game is played with the singing of Dolanan songs. The songs and toys
were widely performed around the mosque to bring the youth and children
closer to the mosque. In addition, the songs of Dolanan, the models of games and
Macapa songs are designed in a philosophical so they have a pedagogical value.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 71


Abdul Mujib Culture In Da'wa...

C. Conclusion
The nation of Indonesia has mostly embraced Islam and is mostly
domiciled in the island of Java. All that if we examine is a result of the work of
da’wa Walisongo in his day. The form of a method of da’wa Walisongo which is
inspiring to be an example of the movement of da’wa Prophet Muhammad SAW,
such as preaching through the family/marriage line. If it were seen from
Geneology, the Guardians in East Java and Java in general have kinship. The
process of Islamization that took place in Nusantara is essentially within the
framework of the acculturation process. As Islam was disseminated in the
archipelago including the peninsula and Brunei as normative rules in addition to
the art and cultural aspects. The guardians try to develop Javanese culture.
Walisongo in the development of Javanese culture gives a huge contributed. Not
just education and teaching but also in the arts and cultural aspects in general.
The weakness of this Walisongo da’wa is where the practices and methods
undertaken by the Walisongo are no longer appropriate to the present day. But
as a fact of history, especially for members of da’wa still remains the price.
Unfortunately, during this time Walisongo history almost disappears behind a
colourful legend. But many lessons and wisdom that can be learned from the gait
of their preaching.

Reference
Kholil, Akhmad. Javanese Islam: Sufism in Javanese ethics and traditions. Malang:
UIN Maliki Press, 2008.
Sulistiono, Budi. Wali Songo in an archipelago history stage. Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah, 2014.
Anita, Dewi Evi. "Walisongo: Islamic Land of Java (a review of the literature)."
Wahana Akademika: Journal of Islam and Social Studies 1.2 (2016): 243-
266.
Bakri, Syamsul. Javanese culture (Islam adaptation in Javanese culture) In DINIKA,
2014, 12.2.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 72


AKULTURASI BUDAYA JAWA SEBAGAI STRATEGI DAKWAH

Rina Setyaningsih
Institut Agama Islam An Nur Lampung
Email: rina.setyaningsih15@gmail.com

Abstract
Culture was inherent in Indonesian society before Islam came. Especially in Hindu-
Buddhist communities, people do not know Islam. Many groups still believe in animism-
dynamism. Especially the Javanese community that smells mystical is still often done.
Culture is divided into three phases namely: Javanese culture pre-Hindu-Buddhist, the
prominent feature of the structure of society at that time was based on the rules of
customary law and its religious system, namely animism-dynamism which is the core of
culture that colors all activities of the lives of the people. Customary law is so binding
that the people are static and conservative. Javanese Hindu Culture, In this phase the
development process of Javanese culture is a strong influence of Indian culture
(Hinduism). In Javanese society, Hindu-Buddhist influences are expansive, while
Javanese culture which accepts the influence and absorbs Hinduism-Buddhist elements
after going through the acculturation process does not only affect the cultural system, but
also affects the religion. And Javanese culture in the phase of spreading and
institutionalizing propaganda in Java. In this last phase Islam has entered Indonesia and
the community has begun to embrace Islam through propaganda with cultural media so
that it can be accepted by all parties.
Keywords: Culture, Islam, Kejawen

Abstrak
Budaya sudah melekat dalam masyarakat Indonesia sebelum Islam datang. Terutama di
komunitas Hindu-Budha, orang tidak mengenal Islam. Banyak kelompok masih percaya
pada animisme-dinamisme. Terutama masyarakat Jawa yang berbau mistis masih sering
dilakukan. Budaya dibagi menjadi tiga fase yaitu: budaya Jawa pra-Hindu-Buddha, ciri
menonjol dari struktur masyarakat pada waktu itu didasarkan pada aturan hukum adat
dan sistem keagamaannya, yaitu animisme-dinamisme yang merupakan inti dari budaya
yang mewarnai semua aktivitas kehidupan rakyat. Hukum adat sangat mengikat
sehingga masyarakatnya statis dan konservatif. Budaya Hindu Jawa, Pada fase ini proses
pengembangan budaya Jawa merupakan pengaruh kuat budaya India (Hindu). Dalam
masyarakat Jawa, pengaruh Hindu-Budha bersifat ekspansif, sementara budaya Jawa
yang menerima pengaruh dan menyerap unsur-unsur Hindu-Buddha setelah melalui
proses akulturasi tidak hanya mempengaruhi sistem budaya, tetapi juga mempengaruhi
agama. Dan budaya Jawa dalam fase menyebarkan dan melembagakan propaganda di
Jawa. Pada fase terakhir ini Islam telah masuk ke Indonesia dan masyarakat sudah mulai
memeluk Islam melalui propaganda dengan media budaya sehingga bisa diterima oleh
semua pihak.
Kata kunci: Budaya, Islam, Kejawen

A. Pendahuluan
Ketika Islam belum datang di Indonesia, kebudyaan sudah berkembang
bahkan sudah menjadi tradisi bagi beberapa jenis suku di negeri ini, seperti
budaya jawa. Kebudayaan jawa sudah ada jauh sebelum Islam datang,
Rina Setyaningsih Akulturasi Budaya Jawa...

masyarakat jawa masih mempercayai mistis, mereka beraliran animism dan


dinamissme, yang berkeyakinan bahwa nenek moyang adalah pengemongnya,
masih banyak tradisi yang dilakukan seperti selametan, ruwatan yang bertujuan
untuk meminta keselamatan terhindar dari segala mala petaka. Namunketika
Islam datang ke Indonesia dengan proses sedemikian rupa lambat laun
masyarakat ikut terbawa dengan kepandaian para wali yang berdakwah dengan
melalui kebudayaan salah satunya adalah kesenian pewayangan yang pada
akhirnya dapat menarik masyarakat untuk masuk Islam tanpa menghilangkan
tradisi terdahulu namun hanya terjadi peralihan sehingga tradisi terdahulu
menjadi bernuansa religious. 1

B. Pembahasan
1. Definisi Akulturasi
Akulturasi merupakan perpaduan antara komponen-komponen
kebudayaan yang berbeda dan Bersatu dalam usaha membentuk kebudayaan
baru tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan yang asli. Hal ini berbeda
dengan asimilasi, definisi asimilasi yakni adanya penggabungan dua
kebudayaan baru dan menghilangkan kebudayaan yang lama. Contoh dari
akulturasi budaya yaitu semisal adanya perpaduan antara music melayu dengan
musik spanyol maka akan tercipta musik keroncong, dimana musik keroncong
merupakan bagian dari kedua musik tersebut namun tidak menghilangkan ciri
khasnya. Contoh akulturasi di Indonesia yaitu adanya sistem dakwah melalui
wayang, seni bangunan masjid dengan atap tumpang yang menunjukkan
adanya akulturasi Islam dengan budaya hindu. Peran kebudayaan adalah
sebagai berikut :
a. suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompoknya.
b. Wadah untuk menyalurkan perasaan dan kemampuan-kemampuaan
lain.
c. Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia.
d. Pembeda manusia dan binatang.
e. Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan
berprilaku di dalam pergaulan.
f. Pengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana harud bertindak,
berbuat .
g. Sebagai modal dasar pembangunan.2

1
Limyah Al-Amri And Muhammad Haramain, “Akulturasi Islam Dalam Budaya Lokal,”
Kuriositas: Media Komunikasi Sosial Dan Keagamaan 10, No. 2 (November 24, 2017): 192,
Https://Doi.Org/10.35905/Kur.V10i2.594.
2
Laode Monto Bauto, “Perspektif Agama Dan Kebudayaan Dalam Kehidupan
Masyarakat Indonesia (Suatu Tinjauan Sosiologi Agama),” Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial 23, No.
2 (2014): 19, Https://Doi.Org/10.17509/Jpis.V23i2.1616.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 74


Rina Setyaningsih Akulturasi Budaya Jawa...

2. Definisi Islam
Secara harfiah, Islam berarti damai, selamat, tunduk, dan bersih. Maka
dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang membawa keselamatan
hidup di dunia dan di akhirat.
Menurut istilah, Islam adalah ketundukkan seorang hamba kepada
wahyu ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya
Muhammad saw. Untuk dijadikan pedoman hidup dan sebagai aturan allah swt.
Islam juga merupakan agama terakhir yang diturunkan oleh allah kepada nabi
Muhammad untuk menuntun umat ke jalan yang lurus dan meraih kebahagiaan
di dunia dan juga di akhirat. Nabi Muhammad merupakan rasul terakhir utusan
allah berlaku sepanjang zaman serta ajarannya bersumber dari al-qur’an dan
sunnah.3

3. Dakwah
Dakwah berasal dari kata ‫ د عا – يدعو – دعوه‬yang berarti panggilan , seruan
dan ajakan . sedangkan menurut istilah, banyak yang mendefinisikan dakwah.
Diantaranya seperti saifudin azhari, menurutnya dakwah adalah segala aktivitas
yang mengubah suatu situasi lain yang lebih baik menurut ajaran Islam. Tetapi
juga berupa usaha meneruskan dan menyampaikan kepada perorangan dan
umat.4

4. Budaya Jawa Sebagai Media Dakwah


Salah satu media yang digunakan dalam berdakwah adalah dengan
menggunakan kulturalisasi atau strategi dakwah dengan kebudayaan sebagai
perantara. Berikut ini merupakan fase-fase perkembangan kebudayaan
jawa.Dalam fase-fase pertumbuhan kebudayaan jawa bertujuan untuk melihat
sejauh mana pergumulan budaya jawa sesudah Islam datang. Dalam hal ini
dikaji untuk mengupas sistem serta karakteristik budaya jawa. Berikut ini
pertumbuhan budaya jawa.

a. Kebudayaan Jawa Pra-Hindu-Budha


Ciri yang menonjol dari struktur masyarakat pada waktu itu didasarkan
pada aturan-aturan hukum adat serta sistem religinya, yakni animism-
dinamisme yang merupakan inti kebudayaan yang mewarnai seluruh aktivitas
kehidupan masyarakatnya. Hukum adat istiadat yang adat begitu mengikat
sehingga masyarakatnya bersifat statis dan konservatif.
Kuatnya ikatan solidaritas sosial dan hubungan pertalian darah
merupakan ciri masyarakat Indonesia lama. Dalam masyarakat jawa, pendewaan

3
Septiana Purwaningrum And Habib Ismail, “Akulturasi Islam Dengan Budaya Jawa:
Studi Folkloris Tradisi Telonan Dan Tingkeban Di Kediri Jawa Timur,” Fikri : Jurnal Kajian
Agama, Sosial Dan Budaya 4, No. 1 (June 14, 2019): 35, Https://Doi.Org/10.25217/Jf.V4i1.476.
4
Masykurotus Syarifah, “Budaya Dan Kearifan Dakwah,” Al-Balagh : Jurnal Dakwah
Dan Komunikasi 1, No. 1 (June 8, 2016): 29, Https://Doi.Org/10.22515/Balagh.V1i1.43.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 75


Rina Setyaningsih Akulturasi Budaya Jawa...

dan pemitosan terhadap ruh nenek moyang melahirkan penyembahan ruh nenek
moyang “ancestor worship” yang menghasilkan adat dan relasi-relasi
pendukungnya. Dengan upacara-upacara selametan, ruh nenek moyang menjadi
berbentuk dewa pelindung bagi keluarga yang masih hidup.
Seni pewayangan dan gamelan menjadi sarana upacara ritual keagamaan
untuk mendatangkan ruh nenek moyang. Dalam ritual seperti ini, nenek moyang
berfungsi sebagai ‘pengemong’ dan pelindung keluarga yang masih hidup.
Dalam lakon wayang, ruh nenek moyang di ibaratkan dalam bentuk
‘punakawan’. Agama asli mereka disebut sebagai ‘religion magic’ dan
merupakan sistem budaya yang mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia,
khususnya masyarakat jawa.
Adanya ruh dan kekuatan-kekuatan gaib dipandang sebagai tuhan yang
dapat menolong ataupun dapat mencelakakan. Oleh sebab itu, w. Robertson
smith menyatakan bahwa upacara religi yang biasa dilakukan masyarakat pada
waktu itu berfungsi sebagai motivasi yang dimaksudkan tidak saja untuk
berbakti kepadda dewa ataupun untuk mencari kepuasan batiniah yang bersifat
individual, tetapi juga karena mereka menganggap melaksanakan upacara
agama adalah bagian dari kewajiban sosial.

b. Kebudayaan Jawa Masa Hindu-Budha


Pada fase ini proses perkembangan budaya jawa adalah adanya
pengaruh yang kuat dari budaya india (hindu-budha). Dalam masyarakat jawa,
pengaruh hindu-budha bersifat ekspansif, sedangkan budaya jawa yang
menerima pengaruh dan menyerap unsur-unsur hinduisme-budhisme setelah
melalui proses akulturasi tidak hanya berpengaruh pada sistem budaya, tetapi
juga berpengaruh terhadap agama.
Sejak awal, budaya jawa yang dihasilkan pada masa hindu-budha bersifat
terbuka untuk menerima agama apapun dengan pemahaman bahwa semua
agama itu baik, maka sangatlah wajar jika kebudayaan jawa bersifat
sinkretis(bersifat momot atau serba memuat). Agama hindu-budha di negeri
asalnya justru saling bermusuhan tetapi keduanya dapat dipersatukan menjadi
konsep agama yang sinkretis, yaitu agama ‘syiwa budha.
Contoh lain dari budaya jawa pada waktu itu adalah sangat bersifat
teokratis. Pengkultusan terhadap raja-raja sebagai titisan dewa adalah salah satu
buktinya. Dalam hal ini, onghokham menyatakan : penanaman watak teokratis
dan watak supremasi raja kepada rakyatnya melalui media hiburan rakyat, yaitu
melalui pementassan wayang. Dalam pertunjukkan wayang, dipaparkan sebagai
tatakrama feodal yang halus, dan berlaku di keraton, serta lagu-lagu (tembang)
merdu beserta gamelannya. Dalam cerita wayang juga disodorkan pula konsep
binathara dengan segala kesaktiannya dan pusaka-pusaka keraton yang berdaya
magis.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 76


Rina Setyaningsih Akulturasi Budaya Jawa...

c. Penyebaran Dan Pelembagaan Dakwah Di Jawa


Islam datang, berkembang dan melembaga di nusantara melalui proses
yang Panjang. Pergumulan di dalam proses Islamisasi di nusantara sekurang-
kurangnya menghasilkan empat teori besar tentang dimana, kapan, dan dari
mana Islam datang dan berkembang di nusantara.
Pertama, menyatakan bahwa Islam datang dari anak benua india. Teori ini
awalnya diperkenalkan oleh G.W.J. Drewes, kemudian dikembangkan oleh
snouck hurgronje. Drewes beralasan orang-orang arab bermazhab syafi’I yang
menetap di Gujarat dan Malabar, itulah yang mengembangkan Islam di
nusantara. Paling tidak, indicator yang jelas adalah terdapat kesamaan antara
orang Islam yang menetap di Malabar dan Gujarat dengan orang Islam
nusantara.
Kedua, teori yang menyatakan bahwa Islam masuk ke nusantara berassal
dari Bengal, sebagaimana diungkapkan oleh S.Q.Fatimi. dia beranggapan bahwa
teori batu nisan di makam malik al-shalih sama sekali berbeda dengan makan
yang ada di Gujarat. Akan tetapi, batu nisan Fatimah binti maimun di leran jawa
timur bertahun 475 H/1082 M,justru memiliki kesamaan batu nisan di Bengal.
Teori ini mengandung kelemahan, sebab antara Bengal dan nusantara terdapat
perbedaan mazhab, yaitu wilayah di Bengal bermazhab hanafisedangkan
muslim di nusantara bermazhab syafi’i.
Ketiga, teori yang menyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia melalui
colomader dan Malabar. Sejarahwan yang berpendapat demikian adalah Thomas
w. Arnold. Ia beralassan wilayah ini memiliki kesamaan mazhab dengan wilayah
nusantara waktu itu. Teori ini mendapat dukungan dari morrison. Ia
berpendapat, tidak mungkin Islam datang ke nusantara dari Gujarat, sebab
secara politis tidak mungkin Gujarat menjadi sumber penyebaran Ketika itu,
belum menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan antara wilayah
nusantara dengan wilayah timur tengah.
Keempat, teori yang menyatakan bahwa Islam datang dari sumber aslinya,
yaitu arab. Sejarahwan asia tenggara yang menyatakan teori ini adalah naquib al-
attas. Teori ini beranggapan bahwa untuk melihat Islam di asia tenggara itu
datang dari mana, maka yang harus dipertimbangkan adalah kajian terhadap
teks-teks atau literatur Islam melayu Indonesia dan sejarah Panjang melayu
terhadap berbagai istilah atau konsep kunci yang digunakan oleh para penulis
Islam di asia tenggara pada abad ke -10-11 H/16-17 M. pendapat ini selarass
dengan hasil kesimpulan seminar sejarah masuknya inslam di Indonesia di aceh,
yang dinyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia melalui saluran kangsung
dari araba bad pertama hijriyah, dan daerah yang awalnya masuk Islam adalah
aceh.
Dengan demikian para ahli sejarah sepakat bahwa Islam datang di jawa
pada masa pemerintahan raja-raja hindu. Keberadaan Islam di jawa ditemukan
dalam prassasti makam di laren gresik, yaitu Fatimah binti maimun, wafat tahun

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 77


Rina Setyaningsih Akulturasi Budaya Jawa...

1807 M, yang diidentifikasi sebagai keturunan nabi dan menjadi penyebar agama
Islam di gresik. Prasasti ini menjadi bukti otentik bahwa Islam telah menyebar di
jawa, khususnya di jawa timur pada masa pemerintahan raja hindu tepatnya raja
airlangga. Jaringan perdagangan antara timur tengah dengan nusantara terjalin
atas dasar relasi saling menguntungkan dengan mengambil jalur laut sehingga
daerah pesisir jawa merupakan daerah yang lebih dahulu mengenal Islam.
Perkembangan Islam diluar jawa relative lebih cepat penyebarannya
karena tidak banyak berhadapan dengan budaya-budaya lain, kecuali budaya
hindu-budha. Di jawa, Islam menghadapi suasana yang kompleks dan halus,
yang dipertahankan oleh para penguasa/raja. Oleh sebab itu, perkembangan
Islam di tanah jawa menghadapi sua jenis lingkungan budaya, yaitu budaya
lapisan petani atau lapisan bawah yang merupakan bagian kelompok terbesar
yang masih dipengaruhi oleh urabay-dinamisme. Kemudian kebudayaan isstana
yang merupakan tradisi agung dan menjadi unsur filsafat hindu-budha yang
diperhalus budaya lapis atas.
Pemyebaran Islam di jawa untuk beberapa abad tidak mampu menembus
benteng pengaruh kerajaan hindu yang kejawen. Penyebaran Islam harus
merangkak dari kalangan bawah, yaitu ke daerah-daerah pedesaan sepanjang
pesisir yang ada. Pada akhirnya penyebaran itu melahirkan komunitas baru
yang berpusat di pesantren.
Sejak kerajaan jawa hindu majapahit (1518 M) runtuh dan kerajaan Islam
demak berdiri, makai slam dimulai sebagai kekuatan politik. Zaman peralihan
tampak Ketika berdirinya kerajaan demak, yaitu peralihan dari zaman
“kabudhan”(tradisi hindu budha) ke zaman “kawalen” (wali). Peralihan ini
merupakan pengIslaman dan penyesuaian dengan suasana Islam, bukan berarti
membuang budaya adiluhung zaman hindu budha. Peralihan ini menghasilkan
bentuk berupa “sinkretisme” antara warisan budaya animism-dinamisme dan
unsur-unsur Islam.
Dakwah Islam tampak dari interaksi dengan lingkungan sosial budaya
setempat, berkembang dengan dua pendekatan, yakni pendekatan
nonkompromis dan pendekatan kompromis. Yang dimaksud dengan
pendekatan nonkompromis adalah dakwah ilam dengan tetap bertahan dengan
identitas agama dan tidak mau menerima budaya luar kecuali budaya tersebut
selaras dengan ajaran Islam. Pendekatan kompromis (akomodatif) merupakan
suatu pendekatan yang berupaya menciptakan suasana damai, penuh toleransi,
sedia hidup berdampingan dengan pengikut agama, dan tradisi lain yang
berbeda tanpa mengorbankan agama dan tradisi agama masing-masing (cultural
approach).
Dalam berdakwah, para wali tampaknya lebih memilih pendekatan
kompromistik mengingat tradisi nenek moyang masyarakat jawa yang
melatarbelakanginya. Para wali memulai dakwahnya di kalangan bawah melalui
daerah pesisir yang jauh dari majapahit. Para wali dan masyarakat pedesaan

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 78


Rina Setyaningsih Akulturasi Budaya Jawa...

membangun tradisi / budaya baru melalui pesantren sebagai basis kekuatan.


Kekuatan yang dibangun ini akhirnya dapat menandingi kekuatan wibawa
kebesaran kerajaan jawa hindu yang lambat laun semakin surut dan pada
akhirnya runtuh.
Gambaran dari adanya akulturasi unsur Islam dan jawa pada akhirnya
menciptakan budaya sintesis. Berikut ini adalah sebuah sintesis yang ada dalam
kitab babad tanah djawi(sejarah tanah jawa).
‘inilah sejarah kerajaan tanah jawa, mulai dari nabi adam yangberputrakan sis.
Sis berputrakan nur-cahyo, nur-cahyo berputrakan nur-rassa, nur-rasa berputrakan sang
hyang tunggal…..istana batara guru di sebut sura laya (nama taman _urabay hindu).’
Pada kutipan naskah babad tanah djawi tersebut, jelas terlihat adanya
akulturasi timbal balik antara Islam dan budaya jawa dengan mengakomodir
kepentingan masing-masing. Pada proses interaksi ini, masuknya Islam di jawa
tidaklah membentuk komunitas baru yang sama sekali berbeda dengan
masyarakat sebelumnya. Sebaliknya, Islam mencoba untuk masuk ke dalam
struktur budaya jawa dan mengadakan penyaringan ajaran-ajaran kejawen
dengan nuansa Islami.
Gambaran kehidupan manusia dalam menemukan tuhannya sering
disimbolkan dengan pementasan wayang. Lakon yang biasanya ditampilkan
merupakan ajaran -ajaran syariat untuk membawa penonton pada nuansa
religious. Oleh sebab itu, wayang dianggap sebagai bagian dari acara religious
untuk mengajarkan ajaran-ajaran ilahi. Seorang dalang diibaratkan sebagai tuhan
yang dapat memainkan peran dan nasib orang (wayang). Penggambaran ini
dimaknai secara ortodoks sebagai deskripsi puitis mengenai takdir.
Jika dilihat dari pengamalan ajaran-ajaran agama, masyarakat jawa
terbagi menjadi dua , yaitu kelompok santri dan kelompok abangan. Kelompok
yang perbuatannya didassarkan pada ajaran-ajaran agama merupakan kelompok
santri sedangkan kelompok abangan masih mendasarkan panddangan dunianya
pada tradisi hindu-budha atau kebudayaan jawa. Misalnya di jawa tengah
bagian selatan pergulatan santri dan abangan justru didominasi oleh kelompok
abangan. Contoh dari tradisi budaya jawa antara lain: selametan, yang
merupakan tradisi turun temurun dari masyarakat jawa kuno dan hingga kini
masih banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat jawa, kususnya
masyarakat Yogyakarta adalah tradisi ruwatan, yang menarik dari tradisi ini
yang pada awalnya berbau mistik, setelah terjadi akulturasi dengan ajaran Islam
beralih menjadi bernuansa Islam.5
Setelah kekuasaan kerajaan hindu jawa majapahit hilang, pada
seperempat abad ke 15 . pada zaman itu juga menandai berkuassanya sejumlah
tokoh-tokoh muslim di bidang politik seperti ampel(Surabaya), gresik, tuban,
demak, jepara, dan Cirebon. Meraka adalah pemimpin pertama “religious

5
Andik Wahyun Muqoyyidin, “Islam Jawa, Distingsi Tradisi, Transformasi Spirit
Profetik, Dan Globalisasi,” Akademika: Jurnal Pemikiran Islam 21, No. 1 (April 17, 2016): 110.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 79


Rina Setyaningsih Akulturasi Budaya Jawa...

politik” jawa Islam. Para tokoh agama/wali proses dakwahnya melalui


pembauran dengan keluarga istana, melalui perkawinan atau keturunan.
Dengan demikian, kedatangan Islam membawa perubahan masyarakat
atau pengalihan bentuk sosial menuju kea rah yang lebih baik. Misalnya sunan
kalijaga dalam melakukan Islamisasi tanah jawa menggunakan pendekatan
budaya, yakni menggunakan seni pewayangan untuk menentang feodalisme
kerajaan majapahit. Dalam seni pewayangan ia berusaha menggunakan unsur-
unsur local sebagai media dakwahnya dengan mengadakan perubahan-
perubahan lakon juga fisik dan alat-alatnya. Kepandaian sunan kalijaga dalam
berkreasi wayang pada akhirnya dapat menarik masyarakat untuk datang
melihat pertunjukkan wayang tersebut, sehingga pada akhirnya mereka mau
memeluk agama Islam berkat syarat yang dianjurkan oleh sunan kalijaga yaitu
dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Cara ini merupakan strategi sunan
kalijaga dalam menjalankan misinya untuk berdakwah dengan perantara
kesenian wayang. Dengan cara tersebut dakwah yang disampaikan oleh sunan
kalijaga dapat diterima semua pihak. Metode dakwah dengan cara ini sepertinya
cukup efektif sehingga Islam bida tersebar secara luas karena pada dasarnya
Islam mampu menunjukkan wajah Islam yang akomodatif.6 Menurut babad
janah djawi ,penyebaran agama Islam dijawa dilakukan oleh walisongo, yakni
para wali yang berjumlah Sembilan orang : 1. Maulana malik ibrahin (sunan
gresik), 2. Raden rahmat (sunan ampel) _urabaya, 3. Makdhun Ibrahim (sunan
bonang), 4. Sunan drajat, 5. Sunan giri atau raden paku yang mengarang
nyanyian asmarandana, 6. Sunan kudus atau ja’far shadiq, 7. Sunan muria atau
raden prawoto yang menggubah lagu-lagu jawa seperti sinom atau kinanthi, 8.
Sunan gunung jati atau syarif hidayatulah, 9. Sunan kalijaga atau raden syahid.
Mulai saat itulah, ada proses peralihan dari zaman hindu-budha berpindah
menjadi zaman para wali(zaman kejawen).7

5. Model Budaya Pada Produk Dakwah


Model budaya pada produk dakwah diantaranya sebagai berikut:
a. Budaya lokal dapat menentukan keoptimalan keberhasilan dakwah.
b. Budaya lokal dapat mendukung tingkat ketepatan produk dakwah sesuai
dengan tuntutan mendesak masyarakat mad’u yang dihadapinya.
c. Budaya lokal bahkan turut menentukan tingkat kepuasan masyarakat
atas produk suatu kegiatan dakwah Ketika ia melibatkan pertimbangan
budaya lokal.

6
Nor Kholis, “Syiar Melalui Syair (Eksistensi Kesenian Tradisional Sebagai Media
Dakwah Di Era Budaya Populer),” Al-Balagh: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi 3, No. 1 (2018):
109.
7
Sulkhan Chakim, “Dakwah Clan Dialektika Budaya Jawa Dalam Lintasan Sejarah,”
Komunika: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi 2, No. 1 (2008): 51,
Https://Doi.Org/10.24090/Komunika.V2i1.809.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 80


Rina Setyaningsih Akulturasi Budaya Jawa...

d. Budaya lokal dapat mendorong tindak lanjut pengamalan pesan-pesan


dakwah itu sendiri oleh masyarakat , sehingga suatu kegiatan dakwah
memberikan manfaat praktis dan dakwah tidak terhenti sebatas kegiatan
seremonial belaka yang tanpa kegunaan nyata bagi masyarakat.
e. Frekuensi dan intensitas dakwah itu sendiri bisa meningkat dengan
motivasi sosial yang tumbuh dari perlibatan budaya lokal.8

C. Simpulan
Dalam penjelasan diatas dapat disimpulkan. Sebelum Islam datang ke
Indonesia, masyarakat Indonesia masih mempercayai animism-dinamisme
sehingga tradisi masih melekat pada masyarakat khususnya masyarakat jawa.
Kebudayaan jawa terbagi atas tiga fase yakni : fase kebudayaan jawa pra hindu-
budha, fase kebudayaan masa hindu-budha dan fase penyebaran dan
pelembagaan dakwah di jawa. Pada fase terakhir ini Islam mulai masuk,
sehingga para wali mencari strategi untuk menyebarluaskan Islam di tanah jawa.
Kemudian mereka menggunakan strategi dakwah melalui perantara kebudayaan
yaitu media pewayangan, ternyata cukup signifikan sehingga dapat menarik
masyarakat untuk memeluk agama Islam. Karena berdakwah menggunakan
media kebudayaan ini dapat diterima oleh semua pihak sehingga Islam
berkembang pesan dan dapat disebarluaskan.

Referensi:
Al-Amri, Limyah, and Muhammad Haramain. “Akulturasi Islam Dalam Budaya
Lokal.” Kuriositas: Media Komunikasi Sosial Dan Keagamaan 10, no. 2
(November 24, 2017): 87–100. https://doi.org/10.35905/kur.v10i2.594.
Arifani, Moch Anif. “Model Pengembangan Dakwah Berbasis Budaya Lokal.”
Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies 5, no. 15 (2010): 849–78.
https://doi.org/10.15575/idajhs.v5i15.425.
Bauto, Laode Monto. “Perspektif Agama Dan Kebudayaan Dalam Kehidupan
Masyarakat Indonesia (Suatu Tinjauan Sosiologi Agama).” Jurnal
Pendidikan Ilmu Sosial 23, no. 2 (2014): 11–25.
https://doi.org/10.17509/jpis.v23i2.1616.
Chakim, Sulkhan. “Dakwah clan Dialektika Budaya Jawa dalam lintasan
Sejarah.” KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi 2, no. 1 (2008): 42–
53. https://doi.org/10.24090/komunika.v2i1.809.
Kholis, Nor. “Syiar Melalui Syair (Eksistensi Kesenian Tradisional Sebagai Media
Dakwah Di Era Budaya Populer).” Al-Balagh: Jurnal Dakwah Dan
Komunikasi 3, no. 1 (2018): 103–125.

8
Moch Anif Arifani, “Model Pengembangan Dakwah Berbasis Budaya Lokal,” Ilmu
Dakwah: Academic Journal For Homiletic Studies 5, No. 15 (2010): 861,
Https://Doi.Org/10.15575/Idajhs.V5i15.425.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 81


Rina Setyaningsih Akulturasi Budaya Jawa...

Muqoyyidin, Andik Wahyun. “Islam Jawa, Distingsi Tradisi, Transformasi Spirit


Profetik, Dan Globalisasi.” Akademika: Jurnal Pemikiran Islam 21, no. 1
(April 17, 2016): 99–116.
Purwaningrum, Septiana, and Habib Ismail. “Akulturasi Islam Dengan Budaya
Jawa: Studi Folkloris Tradisi Telonan Dan Tingkeban Di Kediri Jawa
Timur.” Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial Dan Budaya 4, no. 1 (June 14,
2019): 31–42. https://doi.org/10.25217/jf.v4i1.476.
Syarifah, Masykurotus. “Budaya dan Kearifan Dakwah.” al-Balagh : Jurnal
Dakwah dan Komunikasi 1, no. 1 (June 8, 2016): 23–38.
https://doi.org/10.22515/balagh.v1i1.43.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 82


WAYANG IN ISLAMIC PHILOSOPHY

Yuyun Yunita
Institut Agama Islam An Nur Lampung
Email: azkianaziha4@gmail.com

Abstract
Wayang kulit is named after Javanese wayang which means shadow or taken meaning
that wayang is a depiction of life or a reflection of the various human traits found in
various souls of the human conscience itself. The universe itself is divided into various
types into two basic traits such as wrath and kindness. The history of the story of Dewa
Ruci as one of the puppet plays is a cousin of the many ways and rich in philosophical
values of religious diversity that is so profound. The history of this story depicts a man or
man who has a lot of strong will to find the best ways that can be considered to bring
people to happiness. In the search for happiness, it is not easy to do because it will be
many and there are obstacles or prevention that may be faced by many. This is where the
aesthetic value or beauty is packaged and wrapped up in the history of the gods of Ruci
and becomes the first and foremost doctrine of the conception of the divine, humanity, and
respect of the human beings with the creator or than. the story of the goddess Ruci
outlines or philosophically symbolizes how human beings must go through and make an
inner journey to find their true identity or look for paraning dumadi the origin and
purpose of life in human beings or tackle the human gusti, the conception of God and how
humans lead to God, the wayang kulit is very much, the art of wayang puppets cannot be
retracted from history, which the bags are retold through wayang.
Keywords: Pupet Play And Divinity

Abstrak
Wayang kulit dinamai sesuai dengan wayang Jawa yang berarti bayangan atau diambil
artinya bahwa wayang adalah penggambaran kehidupan atau refleksi dari berbagai sifat
manusia yang ditemukan dalam berbagai jiwa nurani manusia itu sendiri. Alam semesta
itu sendiri dibagi menjadi berbagai jenis menjadi dua sifat dasar seperti murka dan
kebaikan. Sejarah kisah Dewa Ruci sebagai salah satu lakon wayang adalah sepupu dari
banyak cara dan kaya akan nilai-nilai filosofis keanekaragaman agama yang begitu
mendalam. Sejarah kisah ini menggambarkan seorang lelaki atau lelaki yang memiliki
banyak kemauan kuat untuk menemukan cara terbaik yang bisa dianggap membawa
orang menuju kebahagiaan. Dalam mencari kebahagiaan, tidak mudah dilakukan karena
akan banyak dan ada kendala atau pencegahan yang mungkin dihadapi banyak orang. Di
sinilah nilai estetika atau keindahan dikemas dan dibungkus dalam sejarah para dewa
Ruci dan menjadi doktrin pertama dan terpenting dari konsepsi ilahi, kemanusiaan, dan
rasa hormat manusia dengan pencipta atau dibandingkan. kisah dewi Ruci menguraikan
atau secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus melalui dan melakukan
perjalanan batin untuk menemukan identitas sejati mereka atau mencari paraning
dumadi asal dan tujuan hidup manusia atau menangani manusia gusti, konsepsi Tuhan
dan bagaimana manusia mengarah kepada Tuhan, wayang kulit sangat banyak, seni
wayang tidak bisa ditarik dari sejarah, yang tasnya diceritakan kembali melalui wayang.
Kata kunci: Permainan Wayang dan Keilahian
Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

A. Introduction
Wayang is a part of an old cultural expression of the Indonesian state that
according to the story, found in 861 M in Jayabaya kingdom in Mamenang
Kediri. Therefore, for Indonesian people precisely in Java (west, Central, and
east) is not escaped from the puppet show to be the structure of its life. Wayang
is recognized as a culture of exhibition that Edipeni-Adiluhung, which means the
exhibition in which there is a positive matter of beauty and charge the teachings
of deep spiritual moral. Through puppet show, in the sense of good behavior and
useful high for the creation of character building all of them become a good
lesson for people and society. Through the Wayang exhibition, the lack of good
things and the failure of the art is now again in the life of the civilization of the
cultural art of our country Indonesia, slowly will be eliminated to refer to the real
direction of potential regional art that means important to us and a big useful for
the actors who will bring the best way.1
The learning of religious Islam is a race to give birth and produce the
ability of students who have a character and Islamic religious characters and do
not escape the various mistakes and deficiencies of students and girls in Islamic
learning. The ever-present and undisputed, good and well-established resources
that spur only for the control of the nation's bureaucracy in today's Islamic
learning.2
Wayang is a Javanese traditional art culture that is still present and
sustainable, is still appreciated by the community, and gives a sign of Kehidpan.
Puppet can also be divided into one-Satnya artistic inheritance that has moral
and very high values. Wayang Kulit is one of the historical relics in the past one
of the various cultural heritages in Indonesia that still can still be upright and
straight and become good entertainment and still be liked by Javanese and made
good entertainment and still have good things according to Javanese people.3
The continuity of the tradition of puppet plays in our country has a good
praise and flattery and the UN Council issued an opinion of praise is actually
puppet plays is a great craft of making throughout the entire kingdom. Good
habits that are a puppet show is still a part that lives in Javanese culture. Wayang
Kulit, as a great culture like life, as well as other exhibitions, almost undergo
displacement or material to be the difference and change of indigenous social
culture and state.
An example of a large sample of tourism that carries a change in form
dimension or formation, dimension of space and time, and cultural review of
good exhibition culture such as puppet. From the opinions of some experts from
Wayang, the division of the Authority certainly produces a good artwork and

1 Cahya, "value, meaning, and symbol in Wayang Golek puppet Show as a representation of the Media
of the establishment of the ethics" (2016), p. 118.
2 Darori Amin Islam and Javanese Culture (2000), p. 178.
3Asrul Anan and Siti Jawariyah, "Analysis of Islamic education values in puppet character

Punakwanan" (2017), p. 327.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 84


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

more advanced or cultural wrapped neatly with some characteristic


characteristics such as: (1) A mock of the original or its origin, (2) a short varied
or clear solid, (3) Full of varied innovations, (4) The values of nobility,
symbolically and miracles of the magic are deposited or set aside, (5) cheap The
reach of the purchase.
Purwa Leather puppet show shows the Lakon that is based on a brief
history of the Mlai of the true stories of the Gods, Prophets, DJs, and natural man
in the first early civilization, on a tsp of the story from the Toral Lokapala,
Arjunasasrabahu, Ramayana and Mahabharata. This Purwa wayang puppet is
up about philosophical morality that can be used into a measure until the
distance of Javanese art. Wayang Purwa Leather Puppet is also a business of the
results of the original Javanese people that spread through the idea that best
relates to the events of the relationship of life relationships with other
communities, people with nature, and society with the creator. The origin of this
Purwa leather puppet is famous around human beings, because in it there are
figures, events, and a background that is done in accordance with the will of the
author, in this case a mastermind or director. It concerns the values of human life
and Javanese art, such as religion, arts, culture, language and literature, the
philosophy of wayang intelligence skills also is the media of the nation as a
cultural art performance that attracts wayang puppet can unite the different
tribes in Indonesia.4

B. Discussion
The guidance points that there is a puppet show in the puppet show
through the cast and the Alrnya have authority in teaching and parenting to
explore the nature of the state. Therefore wayang has become a result of a wealth
of Indonesian traditions, it should be developed and used as a utilization in
presenting State art that will be the result of the Indonesian people until the time
is. The results of philosophers contained in the puppet always invite the
community to do good and avoid evil, and to instill the spirit of "Amar Ma'ruf
nahi mungkar" or the term in the puppet "Memayu hayuning great Bebrayan",
according to the teachings of religion and beliefs of each. In the story of this
puppet that is exemplary is the role of the character Sri Rama and Arjuna who
has the nature of always promoting truth and justice, in its immaculate
appearance, full of smiles, the language is subtle, the behavior is measurable and
seems to be uninterested to make people difficult to anyone. The leadership role
of Aordinary personage who is also exemplary, because of the time he became a
ruler in the land of Astina always loved and paid attention to his people, has a

4 Darmoko, "Javanese morality in the Purwa leather puppet review on the Lakon Semar" (T.T.): p.
119.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 85


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

strong and consistent personality, has a high visionary and integrity, so that he is
loved and trusted by his followers.5

1. Meaning of type in Wayang


Puppet show is not merely entertainment, but puppet show has a deep
meaning. In pre-Islamic times, puppet is interpreted as a shadow of ancestral
spirits. When Islam enters Java through Wali Songo, puppet Puppet is no longer
intended as a reflection of the spirit of the ancestors because according to Islamic
teachings it is a prohibition 7 because it is regarded as a form of shirk. Further
explained that since the time of Wali Songo also puppet is intended as a symbol
of human character. As an example is the puppet figure Buto Cakil which is a
symbol of the character spiteful, envy, Jahil, his face is red as a symbol of the
character is angry, the eyes are squinted like a date of a young moon called a
calendar currency or a kriyipan, symbolizing a spiteful character and less open.
The mouth is wide open, the lower jaw is up to the nose.6

2. Meaning of type in Wayang


Puppet show is not merely entertainment, but puppet show has a deep
meaning. In pre-Islamic times, puppet is interpreted as a shadow of ancestral
spirits. When the mouth of the Cakil as a type of arrogant character, many talk
about things that are not good. Likewise, with other figures, Bima figures such as
high size and big impressive, sturdy, mighty and tough. Bima type of abstinence
character, honest, straightforward, decisive and brave because honest and true.
His face to bow and black symbolize the nature of sincerity, honesty, and
tranquility, his eyes Thelengan (whole round) effectively and bold, dressed
modestly and not wearing a lot of jewellery that gives a straightforward and
simple sense of character. Bima also wore a poleng cloth (a two-color box motif of
black and white) that is memorable and magical. Every form of puppet figure is
an image or a type of Temperai, character and Bob. The type implied in the form
of each puppet figure and this pronunciation is called Wanda and Antawecana.
Wanda and Antawecana. Islam entered into Java through Wali Songo, puppet
Puppet is no longer intended as a reflection of the spirit of the ancestors because
according to Islamic teachings it is a prohibition because it is considered a form
of shirk. Further explained that since the time of Wali Songo also puppet is
intended as a symbol of human character. As an example is the puppet figure
Buto Cakil which is a symbol of the character spiteful, envy, Jahil, his face is red
as a symbol of the character is angry, the eyes are squinted like a date of a young

5 Otok Hermawan Marwoto, "Islamic values in Wayang kulit makes an important role in the

development of Islamic Arts in Indonesia" (T.T.), p. 82.


6 Sri Mulyono "puppet and Philosophy Nusantara" (2002), p. 16.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 86


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

moon called a calendar currency or a kriyipan, symbolizing a spiteful character


and less open. The mouth is wide open, the lower jaw is up to the nose.7

3. Puppet Research Method


The channeled research in this design is quantitative research. Material
Data obtained from the study of the literature books such as The Wayang
Encyclopedia, Panakawan Yogyakarta and several journals discussing
Punakawan in the iconography and as a medium of education in the language
Hall, BPNB and Sunarto collection (academics and book writers). The interview
was conducted by the group (Pengangeng Kraton Yogyakarta), Aris Wahudi
(Kajur Pedalangan ISI Yogyakarta), Sunarto (Senior faculty Kriya Kulit ISI
Yogyakarta), Edi Suwandha (Chairman PEPADI), Karbit Art and Film culture
department Yogyakarta, the caretaker measure puppet, several puppeteer and
Wayang observer in Yogyakarta. Ask for a view on the meaning of Punakawan
characters and physical characteristics. Observation is done at Kekayon Museum
and several puppet shows that are scattered in Yogyakarta area such as
Yogyakarta Sultan Palace in Sasana Hinggil, Pendapa Cultural Office and others.
Questionnaires were conducted to support data from Target audience (TA) of 48
participants, which were spread online according to the criteria TA and people
sample consumer journey. Questions are asked to learn insights about
Punakawan and their participation in cultural preservation. Data collection and
processing takes place from the beginning of February until the end of May 2016.
Analyzed using SWOT and 5W1H with iconography theory-Iconologierwin
Panofsky and Hermeneutika Paul Recouer who supported the cultural theory
and communication of visual research continued and deepened the previous
process, by reading the sources of relevant studies and meeting with a variety of
competent speakers. The design process begins with crafting ideas of materials
and problems, in the form of material and visual ideas. Interpretation and
hermeneutics are used in the material processing so it is suitable for the target
audience. Ethnic and a elements may be included in visual terms, although the
approach is quite modern. The thing that is quite a highlight is how to bring the
material closer to the target audience. The authors seek it by taking the case that
the target audience is often responded to with Punakawan material. It is a
personified person who represents the personality of today's young generation.
What is not less important is the process of media publication when it is
completed. Consistency becomes key to taking attention of target audience.
Social Adminmedia who plays as a figure Punakawan also have to be responsive,
so that the target audience who have been interested can continue to follow the
development of the publication.8

7 Dessi Stifa Ningrum, "The role of Punakawan character in Wayang Kulit as a Media character

planting in the village of Tulun District, district of Indonesia, Blitar” (T.T.), p. 3 – 4.


8 A. M. Arif, "Visual communication planning for the personality of Wayang Kulit, Yogyakarta, and

his physical characteristics" (T.T.), p. 93.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 87


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

It has been long since the Punakawan figures (both individually and
simultaneously) appear as a brand of various products for the community (food,
health and household needs), delivery of messages (posters for community
services, glass paintings, comics), promotional means (advertising products and
services) and so forth. As the picture above was made to remind the public, so as
not to be greedy when occupying a position (either as a government official, tutor
or community leader). It was made as a glass painting depicting the character
Petruk to be king (Petruk Dadi Ratu) with the Javanese alphabet headline which
means Ojo Dumeh (do not greedy) as a medium of presenter Punakawan
message can be present in various media, while in Indonesia still has one
television station (TVRI) then Punakawanyang character portrayed by the Alm.
Ateng and friends were present through the show ' Ria Jenaka ' which had
survived for 15 years. They can convey social criticism, counseling, and even
discuss social issues that are again warm at the time of itu8Jaman constantly
changing, nowadays has many private television stations, Punakawanpun still
present with a different technical, one of the private television stations every
Sunday aired a series of Punakawan animation produced by Jogjakartoon,
Jogjakarta. Similarly, other private televisions continuously display leather
puppet performances every weekend, and Punakawan was present in the session
of Goro-Goro with the topic of problems that are more warm at the moment,
even invites dialogue with the audience. Because of the difference in segments,
then for Punakawan which is shown in the form of animation more discuss the
problems that often faced by children (more about the problem of kindness,
virtue and truth) that is more digestible by children. It shows that Punakawan
can communicate with all walks of life, age and education. Along with the rapid
development of multi-media technology, it will be easier to deliver the intentions
and objectives of the Punakawan leaders, such as the animation company
Jogjakartoon, in addition to cooperation with multinational companies and its
works aired by one of the national private television stations, they also produce it
in the form of VCD chips. Punakawan people are also considered effective to
convey the advertising message of both products and services (Punakawan
philosophy is considered relevant in all times.9
Wayang and ethical norm Puppet is actually not known only by Javanese
people, although according to an expert from the West named Brandes said that
Wayang is typical Javanese. As stated above, Javanese people know the world of
puppet. It can even be claimed, the world of Puppet is the world and the
distinctive culture of the Javanese people because wayang his characters is a
picture of life and ethical norms with all the multidimensionality of Javanese
people. Wayang is also a picture of a concrete human life with all the
characteristics of unique characters that exist in a variety of individual human,

9
Selu Margaretha Kushendrawati, "Puppet and ethical Values: a picture of the Javanese attitude of
life" (T.T.), p. 109.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 88


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

participatory. The inner smoothness manifested in the prudent behavior or


behavior the cradle of the wrath of the inner beauty can be revealed and reflected
in the Javanese puppet figures. So talking about wayang means talking about
humans or Javanese people. In the Mahabharata story, for example, the Kurawa
is symbolised as a force the cradle of Wrath while on the other hand Pandawa is
always a reflection of the power of noble traits, fair, good and such. As is
commonly known, puppet stories such as the Mahabharata epic and Ramayana
are originally from India. But through some kind of initiation then puppet stories
are changing and become a special culture of Indonesia especially Java beside
there are various forms of puppet such as Wayang Golek, Wayang orang, puppet
Potehi, Wayang Krucil and others. But the most popular form in Java is wayang
kulit. Wayang Kulit is taken from the classic story of Purwa puppet. While
Wayang Purwa plays mostly taken from the material stories derived from the
stories of the Mahabharata epic, Ramayana and the spate of both through the
contextualise become as we now see. Therefore, epic like Mahabharata,
Ramayana originating from India as in reality clearly appears a fundamental
difference in manifestations with in Indonesia. For Javanese puppet stories
symbolize human behavior and character in achieving the goal of life both born
and inner. In a puppet performance, viewers can get to know ethical teachings
about what is good and what is bad. The actions of each puppet figure in certain
plays are often used by Javanese people to understand the meaning of life or
various concrete reality. Puppet performances especially leather puppets are
always loaded with certain missions, essential moral values such as the
relationship of affection between parents with children, loyal state, responsibility
to the environment, and others. For example, it is illustrated in episodes. ' Karna
died, when the goddess Kunti cried and banned her son not to go to Kurusetra
field against her own brother, namely Harjuna. Because if Karna fought against
Harjuna surely he would lose. But the request of his mother was rejected because
of Karna loyal to Duryudana (which although Duryudana was an antagonist)
who had given him the welfare and life worthiness while the mother himself had
thrown it away because of the shame of having a child cheating with the god
Surya and his own siblings/Pandawa also mixed him. In the story can be learned
the meaning of a loyalty, a sense of allegiance to the state of a real rational Karna.
In this case Karna can clearly demonstrate an ethical personality to the goodness
of Duryudana regardless Duryudana is the enemy of his own mother and
siblings.10
Wayang has a strong influence and the favored people of Indonesia,
almost all of Indonesia know the puppet. Wayang is a dominant culture for
Indonesian people and is a part of the sublime cultural heritage of the nation.
History shows that wayang as a culture is experiencing development and
integrating with local cultures and flavours. So it develops by itself ranging from

10 Bing Bedjo Tanudjaja, "Punakawan as Visual efficacy Media" 6 (2004),p. 44.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 89


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

the form, variation, and performances of puppet in such a way to be interesting


and easy to understand by society. In conveying the mission and objectives, such
as Da'wah or counsel in the form of philosophical admonitions, as well as the
moral values of a puppeteer let him through one of the wayang kulit characters,
Punakawan characters, where punakawanis the characters in the form of strange
and funny puppet, including also the character and behavior of his pattern.
Punakawan, consisting of four figures namely Semar, Gareng, Petruk and
Bagong with various characters unique in it. The method of research
implemented is quantitative method of quantitative is a method initiated to
understand the phenomenon of what has passed studied with a natural context 11
This person is often used as the symbol of an ideal figure who has a
humble nature, likes to help others, is not greedy, does without, reduces food
and sleep, and performs other practices. Human traits in Javanese mythology are
often symbolized by the nature and character of the characters in the puppet
world. What happens in the world of puppet will happen in the real world. As if
what is happening in the puppet story depicting a real state of things, both
already happened and that will happen.12
A researcher in implementing a study should understand, and
understand in implementing a research method. According to Sugiyono the
research method is a scientific way to get data with specific purpose and
usability. In the research method there are several components that are
approaches and types of research, the presence of researchers, site researchers,
data sources, data collection procedures, data analysis, checking the validity of
the findings and the stages of research. According to Moleong qualitative
research is a study used to understand the phenomenon of what is experienced
by the subjects of research holistically by means of descriptions in the form of
words and language a special context by utilizing various scientific methods.
This research uses a qualitative approach of the research Descriptionbecause
researchers want to see and describe the phenomenon that occurs in wayang
kulit shows by puppeteer Ardianto in Bendosewu village, the district of Blitar,
which is related to the way of planting Punakawan character in the community.
With a qualitative approach this type of descriptive researchers collect and
discredit the data obtained thoroughly.13
How is the puppet character Punakawan in the puppet Punakawan
(Ponakawan, Panakawan). Punakawan is derived from the word puna which
means understand, and friend who means friends (Warih Jatirahayu and
Suwarna Pringgawidagda,. In another sense, as expressed in the Sabangangit's
web, Puna or pana in Javanese terminology means to understand, light, clear,

11 Priyanto "To know the values of the leadership of nobility in puppet show" (2019), h. 3.
12 Asrul Anan and Siti Jawariyah, "Analysis of Islamic education values in Wayang character
Punakwanan," (2017),h. 336.
13 Dessi Stifa Ningrum, "The role of Punakawan character in Wayang Kulit as a Media character

planting in the village of Tulun District, district of Indonesia, Blitar" (T.T.), p. 3 – 4.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 90


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

careful, understand, astute in noticing or observing the meaning of the nature


behind the natural events and events in human life. Meanwhile, friend means
tutor or friend, who has the ability to observe, analyze, and take on all
phenomena and events of nature and events in human life. Punakawan can also
be interpreted as a nanny, a mentor who has an intelligence of thought, inner
acuity, akal-budi ingenuity, broad insight, thoughtful attitude, and expedient in
all sciences. Speak trustworthy, and the same words and actions are not
contradictory. Javanese cultural treasures refer to it as "responsiveness ing
sasmita. "Punakawan" In general consists of four characters with a unique
character. There is Semar, Petruk, Nala Gareng, Bagong. Having an existing
character, Semar is described as a wise human being and rich in knowledge of
both the naked eye and the unseen, and has a great contribution to his master
through the admonitions presented, although sometimes with a style of kidding.
Meanwhile, Gareng is a figure who is not proficient in speaking even though it
actually has extraordinary, erdic and clever thoughts. Gareng's results are more
often the characters behind the scenes with his ideas that are run by others.
Another character, Petruk, has a character that does not have the advantage of
anything but a lot of nonsense. As for the bagongs, he is more in the shadows of
Semar, intelligent in conveying criticism through the humorous humor, may be
likened to the figure of Abu Nawas or Nasrudin in the stories of Sufi humor.14
Sunan Kalijaga is believed as the creator of the Punakawan figure as one
of the efforts to spread the religion of Islam in the land of Java, he also uses the
implied nature of it in carrying out the activity so that his mission can be done in
a good way. It certainly attributes the name of the character adapted to the
objectives and characters concerned. In Javanese puppet stories, they are divided
into two groups which each have the same role as spiritual and political
counselors, but each nurture a character whose characters contradict each other.
First, the group Ki Lurah Semar Badranaya.15

4. Study
Public information is information that is created, compiled or attempted
by the government. Here public information is intended as information required
by the people, managed based on the trust of the people by the Government and
already should be available to the interests of the people, unless otherwise
stipulated by the laws and regulations. In this limitation, the people have the
right to the information produced by the government agencies, with the
requirement that the exclusion of the abandonment of the people's rights can
only be done based on the provisions stated in the laws and regulations. In this
kind of concept, clear public information is an important aspect in the

14Burhan Nriyanto, "puppet and character development of the Nation" (2011), p. 27.
15Bayu Anggoro, "Puppet and Performing Arts: Historical Study of the history of the art of Wayang
Ditanah Javanese as the art of Preaching" (2018), p. 127.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 91


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

implementation of democratic State as the right and obligation of all elements of


the nation.16
The study of cultural puppets in Indonesia is one of the areas that show
Wayang puppet as a culture that means a wide meaning of the release marks or
attitudes that are shown in the real world. Culture of function that is great for
people and human environment of all kinds of strength that must be overtaken
by many people is the power of nature. It could be big because the Puppet is very
exotic for Javanese custom.17 Community rights to their own freedom of
information can actually be seen from two approaches. Through the approach of
public accountability, information freedom is the obligation of the service or
public agency to disseminate the products of policies, rules, plans and results of
its wealth and humidity to the wider community; and the rights of society to
know the policies, rules, plans, and outcomes as a knowledge to follow the
implementation of a transparent state and patterned feedback. Meanwhile, in a
socially responsible community approach, freedom of information is a broad
community obligation to provide data and information about itself or its
institution correctly and completely, and the right of service or public agency to
acquire it as a thorough development material. In this context, either the agency
or the public body has the right and obligation to realize the implementation of
healthy information. Both approaches above demonstrate the needs of the
pranata and the role of service or public agency to provide public information to
the community to the fullest. However, the provision of a clear public
information system will be very beneficial for our country as an indication of the
country running the democratic government consistently.
Public information includes: first, information about national policies that
have a wide impact and influence on community life, therefore known and
understood by society. Second, the information needed by the community as an
explanation of the emerging issues in society. Public information is information
that is generated, managed, owned, assembled, or mastered by a public body in
connection with the duties, functions, and authorities that are executed and
viewed on that body and have a direct or indirect impact on people's lives.18
Puppet art was originally developed by the Brahmana people as the
media broadcasting of Hinduism, around the IV century CE with reference to the
two great books of Ramayana and Mahabharata. However, this opinion gets a
disclaimer with the existence of a dugaanthat the puppet is considered to have
existed in the land of Java long before the Hindu religion came to the
archipelago. As for the figures that are often known in the world of the crossing
such as Petruk, Semar, Gareng and Bagong are not part of the original story in

16 Kanti Walujo, "the spread of Wayang and public information dissemination" (T.T.), p. 146.
17 Sulhatul Habilah "Study of Cultural studies on the Bima puppet Show Ontology Perspective"
(2003), p. 178.
18 Masroer Ch. Jb, "Islamic spirituality in the culture of Javanese Sundanese leather Puppet Society"

(2015), p. 50.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 92


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

the Book of Ramayana and Mahabharata but the original story from Java. Brief
History of Wayang, accessed through in the context of West Java, the puppet first
developed in Cirebon, precisely during the time of Sunan Gunung Jati around
the 15th century AD. In the early 16th century in West Java began to be
introduced type Wayang Golek slab or Cepak. Basically, people know this type
of puppet with the name Wayang Purwa, namely as the artificial puppet that is
in the flow.
The form of performances demonstrated by the mastermind selection
participants gives an idea that in the identity of the process of encounter and
negotiation. The collective style is understood as something that loosely adopts
the personal identity. In that looseness there are endless choices. It is no longer
possible to formulate a kind of fixed essence of identity, because the identity is
more as a result of the process of contestation-while against the other, not a
fixation. This is what the participants of the professional puppeteer selection
Yogyakarta. Although it remains within the Yogyakarta-style corridor, but
individual freedoms still emerge as an important factor, as shown in the first
Kasidi theory that the mixing or crossword style is currently flexible. People no
longer care whether that is displayed or seen comes from a style in its own
community or from another community. This kind of fact has been noted by
Umar Kayam as an important fact in the case of the style boundary until the
formation of a new order.19
Wayang is an ancestral cultural heritage that has been estimated to have
existed since ± 1500 year BC. Wayang as one of the performances is often
interpreted as a shadow that is unclear or vague, moving here and there. The
faint shadow is interpreted as a depiction of human growth. In Indonesia,
especially in Java, there are hundreds of puppets that can be classified according
to the story, how to show Puppet, and the material used to make wayang. About
half of the number of puppets is now not performed anymore, even among them
are extinct. Among the most major performances and still present is the wayang
kulit in Central Java. The popularity of wayang kulit is solid with philosophical,
pedagogical, historical, and symbolic values.20
The claims of antiquinity authenticity are always attributed to puppet
theaters around the world, especially by those who seek to link from heritage
institutions, financial inclusion of the tourism industry, or legitimacy, at the time
of responding to a diminishing audience. However, all that we know about
puppet theater indicates that in reality, the tradition is never static but it is
continuously adapted for contemporary audiences with ever-changing
performance contexts. Even the forms of puppet Theater at a glance appear
stagnant or ' toss ', as marionette performances are displayed on public holidays

19 Bambang Slanjari, "the ideology and identity of the puppeteer in Yogyakarta professional Selection"
(2017), h. 188.
20 Bayu Anggoro, "Puppet and Performing Arts: A History study of the historical development of

Wayang puppet art in Java as the performing arts of Da'wah,", 2, 2018, p. 124.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 93


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

in America, Japanese-subsidized Bunraku society, or the theater of Shadows that


are always staged in relation to rituals such as the Tógalugómbeaṭa in India
(Singh,1999), in fact, are always updated and revamped in sometimes subtle,
sometimes dramatic ways. Innovation is not the opposition of tradition; The
change is necessary to keep the tradition vital and meaningful as emphasized by
sociologist Edward Shils years ago.21

C. Conclusion
Based on what was conveyed in the material above I concluded in the role
of the revelation of the position of the Punakawan so very important and
prominent than others have been faithful to accompany Janaka in the journey.
Punakawan is a symbolism of the karsa, copyright, taste and work turned into a
human culture of wayang message was delivered during Goro-Goro when the
title of the man Semar.The various aspects above, there are several sophisticated
research methods to examine and observe the plays and also the studies that are
used to study the various things carried out also the results of research and study
as evidence of good and correct observation results. Wayang as depictions of old
historical life, controlled by a mastermind tell about events such as the Brahmin
story. Although the Puppet is an ancient Javanese tradition Lakon wayangpun
many like it because of the interesting storyline and good story to experience.
Wayang is a symbol of Javanese culture that can relate to Islam.

Reference
Cahya, "value, meaning, and symbol in Wayang Golek puppet Show as a representation
of ethics" (2016)
Darori Amin Islam and Javanese Culture (2000)
Asrul Anan and Siti Jawariyah, "Analysis of Islamic education values in Wayang
Punakwanan character" (2017)
Darmoko, "Javanese morality in the Purwa leather puppet review on the Lakon Semar"
(T.T.)
Otok Hermawan Marwoto, "Islamic values in Wayang kulit makes an important role
in the development of Islamic Arts in Indonesia" (T.T.)
Sri Mlyono "puppet and Philosophy Nusantara" (2002)
Dessi Stifa Ningrum, "The role of Punakawan character in Wayang Kulit as a Media
character planting in the village of Tulun District, district of Indonesia, Blitar" 9
(T.T.)
A. M. Arif, "Visual communication planning for the personality of Wayang Kulit,
Yogyakarta, and his physical characteristics" (T.T.)
Bing Bedjo Tanudjaja, "Punakawan as Visual efficacy Media" (2004)
Priyanto "To know the values of the leadership of nobility in puppet show" (2019)

21 Matthew Isac Cohen, “Wayang Kulit Tradisional Dan Pasca Tradisional Dijawa Masa Kini” 01

(2014), p. 11.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 94


Yuyun Yunita Wayang In Islamic...

Sulhatul Habilah "Study of Cultural studies on the Bima puppet Show Ontology
Perspective" (2003)
Burhan Nuriyanto, "Wayang Dan character Development Nation" (2011).
Bayu Anggoro, "Puppet and Performing Arts: Historical Study of the history of the art
of Wayang Ditanah Javanese as the art of Preaching" (2018).
Kanti Walujo, "the spread of Wayang and public information dissemination" (T.T.): 146.
Masroer Ch. Jb, "Islamic spirituality in the culture of Javanese Sundanese leather
Puppet Society" (2015)
Bambang Slanjari, "the ideology and identity of the puppeteer in Yogyakarta
professional Selection" (2017)
. Matthew Isac Cohen, "traditional Javanese puppet and traditional post in present-day
Java" (2014).
Selu Margaretha Kshendrawati, "Puppet and ethical Values: a picture of the Javanese
attitude of life,".
Barnas Sabunga, Dasim Budimansyah, Sofyan Sauri, "character values in Wayang
Golek Purwa puppet Show" (2016).
Wisma Nugraha, "role and function of the people of Semar-Bagong in the Pagelaran of
the East Java style leather Show" (2003).

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 95


PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN ISLAM

Syaripudin Basyar
Institus Agama Islam Negeri (IAIN) Metro
Email: basyarsyarip@gmail.com

Abstract
Educations is guidance, leadrship,from educators to students with phsyical and spritual
development, educations shapes the character, nature, and, behavior of student
systematically. Educations is a development of students to develop the potential, reason.
And abilities possessed by students. In educations have several figures in the science of
educations. Understanding education is a conscious and planned effort to create an
atmosphere learning procces for students to actively develop their potential to have
spritual strength, self control, personality, intelligence, noble character, and the skills
needed by themselves and the community. Undestanding education can be interpreted as
as conscious and systematic efferots to achieve a standard of living or for better progrees,
simply put, understanding educations is a learning procces for students to be able to
understand, and make humans more critical in thingking.
Keywords: Educational Figure, Works, Educational Science

Abstrak
Pendidikan adalah bimbingan, kepemimpinan, dari pendidik kepada siswa dengan
perkembangan fisik dan spritual, pendidikan membentuk karakter, sifat, dan, perilaku
siswa secara sistematis. Pendidikan adalah pengembangan siswa untuk mengembangkan
potensi, alasan. Dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Dalam dunia pendidikan ada
beberapa tokoh dalam ilmu pendidikan. Memahami pendidikan adalah upaya sadar dan
terencana untuk menciptakan suasana proses pembelajaran bagi siswa untuk secara aktif
mengembangkan potensi mereka untuk memiliki kekuatan spritual, kontrol diri,
kepribadian, kecerdasan, karakter mulia, dan keterampilan yang dibutuhkan oleh diri
mereka sendiri dan masyarakat. Pengertian pendidikan dapat diartikan sebagai efferot
yang sadar dan sistematis untuk mencapai standar hidup atau untuk program yang lebih
baik, sederhananya, memahami pendidikan adalah proses pembelajaran bagi siswa untuk
dapat memahami, dan membuat manusia lebih kritis dalam berpikir.
Kata kunci: Tokoh Pendidikan, Karya-Karya, Ilmu Pendidikan

A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan terutama
pada anak-anak bangsa. Karna pendidikan salah satu indikator keberhasilan
kesuksesaan untuk masa depan yang cerah bagi siswa, beberapa faktor integra
dalam pendidikan yaitu, tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, alat
pendidikan , dan lingkungan pendidikan. Dari beberapa faktor tersbut satu
kesatuan faktor yang tidak dapat di pisahkan atau berjalan sendiri. Tetapi juga
harus berjalan dengan teratur , dan komplementer. Di dalam pendidikan
mempunyai tokoh-tokoh ilmuan yang berpengaruh di dalam ilmu pendidikan
yaitu seperti, ibnu sina, ibnu khaldun,al-kindi, al-khawarizmi,dan al-ghazali.
Pendikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan
kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke genarasi lalu
Syaripudin Basyar Pemikiran Tokoh Pendidikan...

berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, ataupun penelitian, pendidikan sering


terjadi di bawah bimbangan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara
otodidak.

B. Pembahasan
1. Ibnu Sina
a. Biografi Ibnu Sina
Ibnu Sina adalah salah satu tokoh pemikir muslim yang paling banyak
menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. (yaiu dalam bidang, kedokteran,
ilmu agama, sains,dan humaniora) nama lengkap Ibnu Sina adalah Ali al-Husein
bin Abdullah al-Hasan bin ali bin sina. Beliau di lahirkan di desa Afsyanah,
dekat bukhara di kawasan asia tengah pada tahun 370 H dan beliau meninggal
dunia di Hamadzan pada tahun 428 H (1038 M ) dalam usia 57 tahun dan
negara-negara barat yang lebih di kenal dengan sebutan avicena. Namun, orang
turki, persia, dan arab mengkalim bahwa Ibnu Sina adalah bangsanya. Hal ini di
karnakan sosok dari Ibnu Sina berkebangsaan turki, sedangkan ayah beliau
adalah berkebangsaan arab.1

b. Pola pemikiran Ibnu Sina


Pola pemikiran ibnu sina dalam ilmu pendidikan adalah pendidikan
adalah sarana utama untuk mempetahankan unsur-unsur pembeda dai mahluk
lain “karamah” yang di anugrahkan allah kepada manusia (Q.S al isra ;70) hal ini
menunjukan bahwa pendidikan tidak akan pernah lepas dari kajian tentang
hakikat manusia. Pentingnya membidik manusia sebagai segala konsep
pendidikan karena manusia adalah unsur vital di setiap dalam usaha
pendidikan. Selain di pandang sebagi subjek , Pembelajaran pendidikan agama
memikiki kelemahan, pendidikan agama cendrungbertumpu dengan aspek
kogniif dari pada aspek efektif dan aspek psikomotorik peserta didik.2

c. Karya-karya Ibnu Sina


Di usia 10 tahun ibnu sina menyelesaikan pelajaran Al-Qur’an,sastra, dan
bahasa arab .beliau mempelajari ilmu fiqih , setalah itu beliau mempelajari
tentang ilmu metematika, beliu belajar membaca berbagai buku, termasuk buku
syarh sehingga ibnu sina menguasai ilmu sematik, beliau mempelajari tentang
ilmu kedokteran, di usia 18 taun beliau telah menguasai semua ilmu tersebut.
Lalu karya beliau adalah mempunyai kitab Al- Qanun fi Al-Tibb, kitab ini adalah

1Aris Try Andreas Putra, “Pemikiran Filosofis Pendidikan Ibnu Sina Dan Implikasinya Pada
Pendidikan Islam Kontemporer,” Literasi (Jurnal Ilmu Pendidikan) 6, no. 2 (5 Agustus 2016), h. 191–
201,.191-201.
2Abdullah Nur, “Ibnu Sina: Pemikiran Fisafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs, Al-

Nubuwwah, Dan Al-Wujûd,” Hunafa: Jurnal Studia Islamika 6, no. 1 (15 April 2009), h. 105–16.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 97


Syaripudin Basyar Pemikiran Tokoh Pendidikan...

buku yang berisi tentang ilmu kedokteran, al-shifa bukufilsafat,al-najat


ringkasan dari al-shifa,al isharat ,al-hikmatwa al tanbihat.3

2. Ibnu Khaldun
a. Biografi Ibnu Khaldun
Nama lengkap ibnu khaldun adalah Abdurahhman Zaid Waliudin Ibnu
Muhammad bin Muhammad Ibnu Al-hassan bin Jabir Ibnu Ibrahim Ibnu
Abdirahmman Ibnu khaldun Al-khadlrami Al-tunisi lalu Termashur dengan
nama ibnu khaldun. Beliau di lahirkan pada tanggal 27 mei 1332 M/734H di
tunisia dari keluarga arab dan spanyol dan beliau di kenal sebagai sejarahwan
dan bapak sosiologi islam beliau hafal al-qur’an sejak dini.4

b. Pola pemikiran Ibnu Khaldun


Ibnu Khaldun pemikiran beliau sangat lah rasional yang di latar
belakangi oleh Al-ghazali dan Ibn rusyd. Beliau mampu memsintesiskan
pemikiran kedua tokoh yang bertentangan, pemikiran tersebut bersifat
rasionalistik-sufistik.dan juga dalam pandangan mengenai pendidikan islam
berpijak pada filosofis dam empiris. Lalu pendekatan ini memberikan arah baru
bagi pemikiran visi pendidikan islam secara ideal dan praktis. Sebagai sosok
ilmuan Ibnu Khaldun berhasil melahirkan pemikiran sintesa antara idealis dan
realisme. Dan juga ibnu khaldun adalah sosok muslim tasawuf di dalam dunia
ilmiah.5

c. Karya karyanya Ibnu Khaldun


Ibnu Khaldun sudah menguasai beberapa disiplin ilmu islam klasik,
yaitu ilmu kefilsafatan,tasawuf dan metafisika. Ibnu Khaldun mempunyai
beberapa karya-karya beliau menulis banyak buku seperti, syarh al-burdah, kitab
al-mahsul sebuah buku tentang matematika Al-ibar wa diwan al-mubtada wa
al-khabar fi tarikh al-arab wa al-ajam wa al-bar yaitu sebuah buku tentang
sejarah, al muqodimah ibnu khaldun yaitu buku tentang ilmu pengetahuan. 6

3. Al-kindi
a. Biografi Al-Kindi
Nama lengkap Al-Kindi adalah abu yusuf yakub ibn ishaq ibn shabbah
ibn imran ibn ismail al-ash’ats ibn qais al kindi. Beliau lahir di kufah , iraq

3Deswita Deswita, “Konsep Pemikiran Ibnu Sina Tentang Pendidikan Akhlak,” Ta’dib 16,
no. 2 (28 September 2016), h. 168–76.
4 Choirul Huda, “Pemikiran Ekonomi Bapak Ekonomi Islam; Ibnu Khaldun,” Economica:

Jurnal Ekonomi Islam 4, no. 1 (31 Mei 2013), h. 103–24.


https://doi.org/10.21580/economica.2013.4.1.774. 105
5 Pasiska Pasiska, “Epistemologi Metode Pendidikan Islam Ibnu Khaldun,” El-Ghiroh 17, no.

02 (September 2019): 127–49, https://doi.org/10.37092/el-ghiroh.v17i02.104.


6 Moh Nahrowi, “Konsep Pendidikan Islam Dalam Perspektif Ibnu Khaldun,” Falasifa :

Jurnal Studi Keislaman 9, no. 2 (2 September 2018), h. 77–90.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 98


Syaripudin Basyar Pemikiran Tokoh Pendidikan...

sekarang, pada tahun 801 M meninggal pada tahun 873 M . Al kindi pelopor
dalam ilmu pengetahuan.Beliau belajar belajar Al-Qur’an, membaca, menulis,
dan berhitung. Beliau mahir dalam dalam berbagai ilmu yaitu, kedokteran
,filsafat, astronomi,geometri, ilmu hitung, dan ilmu logika.7

b. Pola pemikiran Al-Kindi


Rekonsilasi agama dengan filsafat Ilmu filsafat merupakan ilmu tentang
hakikat segala sesuatu di pelajari orang menurut kadar kemapuanya, yang
mencakup ilmu ketuhana, keesaan, serta ilmu-ilmu semua yang
bermanfaat..Filsafat ketuhanan Al-kindi mengungkapkan bahwa allah
merupakan wujud yang hak yang tidak ada ketiadaan selamanya, yang akan
selalu demikian wujudnya secara abadi, tuhan adalah wujud yang paling
sempurna, dan tuhan hanya lah esa atau satu.Filsafat jiwaJiwa merupakan
kesempurnaan dari jisim alamiyang mmiliki kehidupan potensial,al kindi
memberi definisi jiwa sebagai kesempurnaanjisim alamiyang organis menerima
kehidupan.8

c. Karya karya Al-Kindi.


Al-kindi mempunyai karya sebanyak 260 judul antara lain seperti,filsafat,
logika,komologi. Karya al kindi sangat sedikit yang telah ke tangan orang-orang.
Sabagian riwayat mengklaim bahwa karya-karya al-kindi hilang semasa
kepemimpinan khalifah almutawakil. Ia juga tersohor sebagai kimiawan,ahli
musik,astronomi,dokter.

4. Al-Khawarizmi
a. Biografi Al-Khawarizmi
Al-khawarizmi adalah tokoh ilmuan muslim yang konsen di bidang
matematika dan memberikan di bidang al jabar. Nama lengkap beliau adalah
Abu Jafar Muhammad bin Musa Al-khawarizmi. Beliau adalah matematikawan
mengajarkan al jabar dengan elementer. Beliau dilahirkan pada tahun 780 dan
beliau meninggal pada tahun 850 di baghdad. Beliau bekerja sebagai dosen di
sekolah kehormatan di baghdad. Al-Khawarizmi di juluki sebagai bapak al jabar.
beliau ahli matematika,astronomi,astrologi,dan geografi.9

b. Pola pemikiran Al-Khawarizmi


Pemikiran al-khawarizmi di pengarunghi dalam perkembangan
astronomi yang telah berkembang sebelumnya. Dari perkembangan ilmu
astronomi, bahwa pemikiran Al-Khawarizmi dalam periodisasi abad

7 Muhammad Asrul Pattimahu Ma, “Filosof Islam Pertama (Al-Kindi),” Konfrontasi: Jurnal
Kultural, Ekonomi Dan Perubahan Sosial 6, no. 1 (2017), h. 1–9.
8 Abu Bakar Madani, “Pemikiran Filsafat Al-Kindi,” Lentera 17, no. 2 (2015), h. 109.
9 Fathurrahman Muhtar, “Abu Abdullah Ibn Musa Al-Khawarizmi (Pelopor Matematika

Dalam Islam),” Beta: Jurnal Tadris Matematika 7, no. 2 (28 November 2014): h. 82–97.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 99


Syaripudin Basyar Pemikiran Tokoh Pendidikan...

pertengahan, yakni pada masa masa kejayaan dan dalam puncak keemasan
islam. Selain itu Al-Khawarizmi di pengaruhi dalam perkembangan matematika
dan al jabar. Pola pemikiran beliau juga tersusun di dalam karya-karya beliau.10

c. Karya karya Al-Khawarizmi


Karya-karya Al-Khawarizmi yaitu, al jabar wa’l muqabalah ia mencipta
pemakaian secans tangens dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi.
Beliau mengajukan contoh persoalan matematika dan mengumukakakn 800
buah masalah. Hisab al jabr wa al muqaballa (pengutuhan dan pembandingan)
al jama wa at-tafriq bi hisab al hind (menambah dan mengurangi dalam
matematika hindu),kedua karya tersebut sangatlah penting dalam matematika.
Zij al-shindind adalah buku keempat dari karya Al-Khawarizmi . Al-Khawarizmi
menulis tentang peninggalan yahudi (risala fi istikharaj tarikh al yahud,
petunjuk penenggalan yahudi). Lalu buku beliau adalah tentang aritmatika.11

5. Al-Ghazali
a. Biografi Al-Ghazali
Al-Ghazali yang bernama lengkapkan Abu Hamid Muhammad Ibn
Muhammad ibn Muhammad Ibn Muhammad Al tusi Al-Ghazali, beliau
dilahirkan di tus, dekat masyhad,khurusan, pada tahun 450 H ata 1058 M. Dan
sosok ayah yang penenun wol (ghazzal), sehingga beliau di juluki sebagai Al-
Ghazali. Ia wafat pada 11 jumadil akhir 505H bertepatan dengan tanggal 1
desember 111M. Al-Ghazali mempelajari ilmu ushuludin, ilmu fiqih,ilmu
mantiq, ilmu akidah ahlak, usul fiqh ,dan filstafa.12

b. Pola pemikiran Al-Ghazali


Pola pemikiran al ghazali dalam sistem pendidikan ahlak yaitu ada dua
cara dalam mendidik nya. Yang pertama ilmu ladunniah yaitu ilmu yang
memohon karunia allah swt dan semua fitrahnya dengan kesempurnaan, patuh
kepada akal dan agama. Dan yang kedua adalah ilmu riyadhah yaitu ilmu yang
membawa diri kepada perbuatan yang di kehendaki dengan ahlak tersebut.13
Arti yang di maksud pendidikan akidah ahlak adalah cara menanakan
nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai agama,dan memberi karakteer terhadap siswa.
Pendidikan akidah ahlak mempunyai tujuan untuk anak didik mempunyai
karakter baik dalam agama islam, yaitu bersikap baik kepada allah swt, baik

10 Achmad Mulyadi, “Pemikiran Al-Khawarizmi Dalam Meletakkan Dasar Pengembangan

Ilmu Astronomi Islam,” International Journal Ihya’ ’Ulum al-Din 20, no. 1 (2 Agustus 2018), h. 63–86.
11 Riana Afliha Eka Kurnia, “Teori Aljabar Al-Khawarizmi,” Jurisdictie 0, no. 0 (20 November

2012), h. 164-165.
12 Agung Setiyawan, “Konsep Pendidikan Menurut Al- Ghazali Dan Al-Farabi (Studi

Komparasi Pemikiran),” Tarbawiyah Jurnal Ilmiah Pendidikan 13, no. 01 (16 Mei 2016), h. 51–71.
13 Eko Setiawan, “Konsep Pendidikan Akhlak Anak Perspektif Imam Al Ghazali,” Jurnal

Kependidikan 5, no. 1 (31 Mei 2017): h. 46-47.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 100


Syaripudin Basyar Pemikiran Tokoh Pendidikan...

kepada diri sendiri mapun kepada orang lain dan terhadap lingkungan serta
kepada bangsa dan tanah air.14

c. Karya-karya Al-Ghazali
Al-Ghazali telah menulis 70 ribu lebih terbesar diantaranta yaitu,
keruntuhan para filosuf (tahafutul falasifah), ibnu rusyd telah mebantah tentang
buku Al-Ghazali yaitu buku yang berjudulkan runtuhnya keruntuhan (tahafu
tahafutul falasifah). Lalau karaya terbesar beliau adalah buku yang berjudul
fatihatul ulum yaitu buku yang berisi pandangan yang mengenai persoalan
tentang pendidikan. Lalu karya terbesar beliau adalah ihya ulummudin
(menghidupakan ilmu agama), karya ini berisi tentang paduan yang indah
antara fiqih,tasawuf, filasafat. Karya Al-ghazali bukan saja hanya terkenal di
kalangan kaum muslim tetapi juga di kalangan dunia barat.15

C. Simpulan
Jadi pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk peserta didik,
supaya peserta didik menuju kearah kedewasan dan membentuk
watak,sifat,akal, dan prilaku dari peserta didik. Tujuan dari pendidikan adalah
untuk membentuk ahlak, prilaku dari peserta didik tersebut. Supaya perserta
didik mempunyai karakter dan bersikap baik terhadap diri sendiri maupun
terhadap orang lain. Di dalam ilmu pendidikan mempunyai sosok tokoh-tokoh
islam dalam ilmu pendidikan yaitu seperti, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Kindi,
Al-Khawarizmi, dan Al-Ghazali. Dari beberapa tokoh di atas beliau semua
adalah tokoh yang sangat penting dan berpengaruh didunia didalam ilmu
pendidikan.

Referansi:
Deswita, Deswita. “Konsep Pemikiran Ibnu Sina Tentang Pendidikan Akhlak.”
Ta’dib 16, No. 2 (28 September 2016): 168–76.
Huda, Choirul. “Pemikiran Ekonomi Bapak Ekonomi Islam; Ibnu Khaldun.”
Economica: Jurnal Ekonomi Islam 4, No. 1 (31 Mei 2013): 103–24.
Kurnia, Riana Afliha Eka. “Teori Aljabar Al-Khawarizmi.” Jurisdictie 0, No. 0 (20
November 2012).
Ma, Muhammad Asrul Pattimahu. “Filosof Islam Pertama (Al-Kindi).”
Konfrontasi: Jurnal Kultural, Ekonomi Dan Perubahan Sosial 6, No. 1 (2017):
1–9.
Madani, Abu Bakar. “Pemikiran Filsafat Al-Kindi.” Lentera 17, No. 2 (2015).

14 Dedi Wahyudi dan Nelly Agustin, “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata
Pelajaran Akidah Akhlak Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Naturalistik
Eksistensial Spiritual,” Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam 9, no. 1 (8 Juni 2018), h. 37–59.
15 Sumanto, “Tuhan Dalam Pandangan Filosuf (Studi Komparatif Arestoteles Dengan Al-

Kindi).” h. 83-90.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 101


Syaripudin Basyar Pemikiran Tokoh Pendidikan...

Muhtar, Fathurrahman. “Abu Abdullah Ibn Musa Al-Khawarizmi (Pelopor


Matematika Dalam Islam).” Beta: Jurnal Tadris Matematika 7, No. 2 (28
November 2014): 82–97.
Mulyadi, Achmad. “Pemikiran Al-Khawarizmi Dalam Meletakkan Dasar
Pengembangan Ilmu Astronomi Islam.” International Journal Ihya’ ’Ulum
Al-Din 20, No. 1 (2 Agustus 2018): 63–86.
Nahrowi, Moh. “Konsep Pendidikan Islam Dalam Perspektif Ibnu Khaldun.”
Falasifa : Jurnal Studi Keislaman 9, No. 2 (2 September 2018): 77–90.
Nur, Abdullah. “Ibnu Sina: Pemikiran Fisafatnya Tentang Al-Fayd, Al-Nafs, Al-
Nubuwwah, Dan Al-Wujûd.” Hunafa: Jurnal Studia Islamika 6, No. 1 (15
April 2009): 105–16.
Pasiska, Pasiska. “Epistemologi Metode Pendidikan Islam Ibnu Khaldun.” El-
Ghiroh 17, No. 02 (September 2019): 127–49.
Putra, Aris Try Andreas. “Pemikiran Filosofis Pendidikan Ibnu Sina Dan
Implikasinya Pada Pendidikan Islam Kontemporer.” Literasi (Jurnal Ilmu
Pendidikan) 6, No. 2 (5 Agustus 2016): 191–201.
Setiawan, Eko. “Konsep Pendidikan Akhlak Anak Perspektif Imam Al Ghazali.”
Jurnal Kependidikan 5, No. 1 (31 Mei 2017): 43–54..
Setiyawan, Agung. “Konsep Pendidikan Menurut Al- Ghazali Dan Al-Farabi
(Studi Komparasi Pemikiran).” Tarbawiyah Jurnal Ilmiah Pendidikan 13, No.
01 (16 Mei 2016): 51–71.
Sumanto, Edi. “Tuhan Dalam Pandangan Filosuf (Studi Komparatif Arestoteles
Dengan Al-Kindi).” El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Tafsir Hadis 7,
No. 1 (12 Juni 2018): 83–90.
Wahyudi, Dedi, Dan Nelly Agustin. “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Mata Pelajaran Akidah Akhlak Dengan Menggunakan Model
Pembelajaran Berbasis Naturalistik Eksistensial Spiritual.” Al-Tadzkiyyah:
Jurnal Pendidikan Islam 9, No. 1 (8 Juni 2018): 37–59..

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 102


PEMBELAJARAN KITAB KUNING DALAM MENANGKAL RADIKALISME

Zahdi Taher
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro
Email: zahdi@metrouniv.ac.id

Abstract
Kitab Kuning is a book that becomes an identity in a learning of Islamic values in a
pesantren. Because pesantren is a place for a person to insist on knowledge taught
directly by a cleric or religious teacher, as the oldest educational model and learning
system in Indonesia. The pesantren has also undergone a transformation due to social
change that is developing so fast. The learnig methods are methods to compere in the
midst of global currents to counteract the flourishing of radicalism in yhe era of
modernization the can affect many generations. The yellow book has existed very much
since before independence, precisely in the colonial era, this book has become a means of
educating Muslims in the field of religion. Also the role of Pesantren which is at the
forefront in preserving the yellow book treasury, which consist of various materials such
as fiqh, monotheism, interpretation, hadith, morals, to sufism, This research uses
literature study with a historical approach, which is a method for gathering informaton
relevant to the topic or problem thar is the object of research, then brought to the present.
This research is expected to be able to add knowlwdge in the study of the yellow book that
can give birth to the attitude of tasamuh in every santri.
Keywords: Yellow Book, Pesantren, Radicalism

Abstrak
Kitab Kuning adalah buku yang menjadi identitas dalam pembelajaran nilai-nilai Islam
di sebuah pesantren. Karena pesantren adalah tempat bagi seseorang untuk menuntut
ilmu yang diajarkan langsung oleh seorang ulama atau guru agama, sebagai model
pendidikan tertua dan sistem pembelajaran di Indonesia. Pesantren juga telah mengalami
transformasi karena perubahan sosial yang berkembang begitu cepat. Metode
pembelajaran adalah metode untuk bersaing di tengah arus global untuk menangkal
berkembangnya radikalisme di era modernisasi yang dapat mempengaruhi banyak
generasi. Buku kuning sudah ada sejak sebelum kemerdekaan, tepatnya di era kolonial,
buku ini telah menjadi sarana mendidik umat Islam di bidang agama. Juga peran
Pesantren yang berada di garis depan dalam melestarikan perbendaharaan buku kuning,
yang terdiri dari berbagai bahan seperti fiqh, tauhid, interpretasi, hadits, moral, hingga
tasawuf. Penelitian ini menggunakan studi literatur dengan pendekatan historis, yang
merupakan metode pengumpulan informasi yang relevan dengan topik atau masalah
yang menjadi objek penelitian, kemudian dibawa ke masa kini. Penelitian ini diharapkan
dapat menambah pengetahuan dalam studi buku kuning yang dapat melahirkan sikap
tasamuh di setiap santri.
Kata kunci: Buku Kuning, Pesantren, Radikalisme

A. Pendahuluan
Kitab kuning adalah sebuah alat untuk mencerdaskan anak bangsa
melalui pendidikan pesantren. Pesantren adalah model pendidikan tertua di
Indonesia. Keberadaan pesantren di penjuru dunia serta sistem-sistem
pendidikan yang ada saat ini adalah eksistensi pesantren tidak lapuk digerus
Zahdi Taher Pembelajaran Kitab kuning...

zaman dengan segala sesuatu perubahan yang ada. Kitab kuning juga
merupakan variabel penting yang mempunyai posisi menarik di dalam
membedakan muslim tradisionalis dengan modernis. Tradisionalis yaitu
kelompok muslim yang identik dengan santri-santri pondok salaf di dalam
pesantren yang sangat kuat dengan tradisi kitab kuningnya yang sangat dekat
beragam pembelajaran seperti fikih, tauhid, tafsir, hadis, akhlak, dan tasawuf.
Sedangkan kelompok modernis terdiri dari ulama atau para pelajar muslim yang
tertarik dengan gagasan pemurnian ajaran Islam yang mempunyai konsep
purifikasi keagamaan. Perbedaan ini semakin lama semakin terlihat dengan jelas
seiring dengan polarisasi dan preferensi politik kedua kelompok ini. Peran Kitab
Kuning sangatlah penting didalam bemberantas atau menangkal radikalisme di
dalam agama Islam, karena sampai sekarang kitab kuning tersebut masih
dipelajari oleh banyak generasi muda muslim terutama bagi para santri yang
menuntut ilmu melalui pesantren-pesantren yang ada di Indonesia ini.1 Karena
Pesantren di sini mempunyai peran yang sangat penting sebagai garda terdepan
dalam pelestarian khazanah kitab kuning di bumi Nusantara di dalam
menangkal radikalisme ini yang mana sudah mencapai pada taraf yang sangat
menghawatirkan.2 Kekuasaan kolonial di Jawa ini masih sangatlah kuat, artinya
ada banyak persoalan kesejahteraan yang menjadi masalah nyata umat Islam
saat itu. Beberapa masalah nyatanya yaitu fakta maraknya radikalisme dan
intoleransi yang terjadi di Indonesia, bahwa pelakunya adalah alumni pesantren
atau aktivis majelis taklim sehingga pesantren menjadi ciri negatif yang
menempel pada diri seseorang karena adanya pengaruh dari lingkungannya
atau sebagai pelaku radikalisme.3 Pembahasan ini yangat penting untuk dikupas
guna mengetahui bagaimana kebenaran dan pembahasannya secara lengkap
serta bengetahui apa saja hal-hal terpenting mengenai peran kitab kuning dalam
menangkal radikalisme yang ada di Indonesia ini.

B. Pembahasan
1. Ruang Lingkup Kitab Kuning
Kitab kuning adalah kitab klasik yang ada di pesantren-pesantren dimana
pola pengajarannya di didik langsung oleh seorang ustad atau kiyai, karena
perkataan kiyai atau perbuatannya tidak jarang dijadikan pedoman oleh para
santri, dan bahkan bukan hanya santri saja yang menjadikan kiyai sebagai

1 Ali Muqoddas, “Syeikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi Ilmuan Spesialis Ahli Syarah

Kitab Kuning,” Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam 11, No. 1 (1 Januari 2014): 2–4,
Https://Doi.Org/10.34001/Tarbawi.V11i1.186.
2 Fathur Rohman, “Pendidikan Islam Anti Radikalisme Melalui Nadham (Telaah

Kitab Shifa’ Al-Ummah Karya Kh. Taufiqul Hakim Bangsri Jepara),” Tadris: Jurnal
Pendidikan Islam 13, No. 1 (30 Juni 2018): 2, Https://Doi.Org/10.19105/Tjpi.V13i1.1757.
3 Afwah Mumtazah, “Kajian Multikulturalisme Dalam Kitab Kuning,” Jurnal

Educationem 1, No. 01 (30 Juni 2019): 1–5.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 104


Zahdi Taher Pembelajaran Kitab kuning...

panutan, yaitu para masyarakat sekitar juga.4 Karena kiyai tidak hanya sekedar
membacakan dan menterjemahkan teks saja, tetapi juga memberikan mengenai
bagaimana saja pandangan-pandangan (interpretasi) pribadi secara faktual, baik
mengenai isi maupun bahasa pada teks tersebut dengan menerjemahkan kata
demi kata, kemudian dilengkapi dengan uraian panjang mengenai maksud dari
pada kalimat-kalimat tersebut yang disertai contoh-contohnya dalam kehidupan
masyarakat dalam pemahaman agama tersebut, dan setelah itu juga akan
diberikan oleh ustad penguatan yang harus dimiliki oleh setiap santri yaitu
berupa motivasi-motivasi dan semangat untuk menjaga dan menjalankannya.5
Yang kemudian menumbuhkan nilai-nilai keagamaan dalam jiwa seorang santri
dengan tidak menggunakan cara kekerasan yang dapat menimbulkan
kemunculan paham radikalisme dalm diri seorang santri karena adanya
pengaruh dari pihak lain.6
Mengapa dinamakan kitab kuning karena tulisannya dicetak pada sebuah
kertas berwarna kuning sebagai ciri khas dan penamaannya, juga sebagaimana
tradisi awal kitab itu dicetak dan dibukukan ditunjukkan bahwa kitab kuning
adalah suatu alat atau media pembelajaran adab yang sudah melalui proses serta
perubahan-perubahan karena adanya interaksi. Peran kitab kuning dalam
pesantren sangatlah strategis. Karena pada umumnya, kitab kuning menjadi
pelajaran wajib pesantren dengan beragam tema yang kemudian diterapkan
dalam pembelajaran, seperti: fikih, tauhid, tafsir, hadis, tasawuf, nahwu, shorof,
dan lain sebagainya. Yang kemudian diajarkan kepada santri secara berurutan,
dimulai dari yang paling ringan, sedang, hingga yang secara mendalam.
Semangat anti radikalisme yang tidak bisa lepas dari diri seorang santri,
masyarakat atau kalangan lainnya. Adapun nilai-nilai dasar yang menjadi
keyakinan serta terapan di dalam pesantren yaitu meliputi ajaran Ahl al-Sunnah
wal-Jama’ah yang didalamnya mengajarkan tentang prinsip toleransi terhadap
sesama, sederhana didalam kehidupan, serta penuh dengan keseibangan dalam
hidupnya. Karena dalam dunia pesantren, aspek kemandirian betul-betul
ditekankan kepada para santri. Kesehariannya ia lalui hari-harinya dalam sebuah
asrama yang terpisah dengan orang tua. Segala macam aktivitas dilakukan
secara mandiri didalam pondok pesantren, lengkap dengan perilaku hariannya
yang lebih mengajarkan sikap sosial dibandingkan dengan pembelajaran di
sekolah umum kepada para santri. Didalam ranah kehidupan di pesantren,

4 M. Syaifuddien Zuhriy, “Budaya Pesantren Dan Pendidikan Karakter Pada Pondok

Pesantren Salaf,” Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 19, No. 2 (6 Desember
2011): 15–19, Https://Doi.Org/10.21580/Ws.19.2.159.
5 Abdul Malik, Ajat Sudrajat, Dan Farida Hanum, “Kultur Pendidikan Pesantren

Dan Radikalisme,” Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi Dan Aplikasi 4, No. 2 (2016): 4–
7, Https://Doi.Org/10.21831/Jppfa.V4i2.11279.
6 Ahmad Fawaid, “Survei Bibliografi Kajian Tafsir Dan Fikih Di Pondok Pesantren:

Kajian Atas Materi Radikalisme Dalam Literatur Pesantren Dan Respon Kiai
Terhadapnya,” Proceedings Of Annual Conference For Muslim Scholars, No. Series 1 (22
April 2018), h. 6.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 105


Zahdi Taher Pembelajaran Kitab kuning...

seorang santri memang sudah dilatih atau digembleng dari sejak dini untuk
mandiri, serta saling bekerja sama antar sesama.. Kegiatan harian semisal
mempersiapkan makanan dilakukan bersama-sama. Oleh karena itu di era
modernisasi seperti ini jangan sampai meninggalkan kajian-kajian yang ada di
dalam kitab tersebut, guna terhindar dari gerakan-gerakan radikalisme yang
sangat menghawatirkan di era seperti ini.7
Kitab kuning menjadi ruh ataupun jiwa pembelajaran pesantren, juga
sebagai pemandu pembelajaran sorogan kitab kuning bagi para santri di sebuah
pesantren. Pembelajaran sorogan juga dipakai dalam metode ini tujuannya
untuk melatih keterampilan santri di dalam mengomunikasikan kajian ataupun
kandungan yang terdapat dalam ajaran kitab kuning tersebut. Kitab kuning yang
dipilih diantaranya adalah al-Ghoyah wa al-Taqrib untuk santri tahun kedua dan
Fatḥal-Qorib al-Mujib untuk santri tahun ketiga.8 Dan menjadi identitas
karakteristik pesantren itu sendiri sebagai alat pembelajaran dari sebuah
subkultur tersebut. Tanpa adanya kitab kuning, tradisi pengetahuan bangsa di
Indonesia tidak akan keluar dari jeratan sufi ataupun fikih ekstrem.9 Dengan
demikian, kitab kuning ini di dalam pesantren ialah, suatu ajaran yang bisa
menjadi landasan atau acuan seorang santri didalam memahami sekaligus
merumuskan kembali pemikiran keislaman dalam merespon kemajuan.
Keberadaan kitab kuning juga menjadi sangat penting yang harus dipelajari di
kalangan santri karena dijadikan sebagai pedoman tata cara beragama,
difungsikan sebagai maraji’atau sumber rujukan universal dalam menyikapi
segala problem kehidupan. Pesanten dengan identitas keagamaan dipandang
eksklusif dan tidak bisa kompromistis untuk melahirkan santri yang anti raikal,
anti kekerasan, bermoral, santun dan jujur.10

2. Ruang Lingkup Radikalisme


Radikalisme yaitu sebuah kata yang berasal dari bahasa latin yang
artinya pangkal atau bagian bawah, atau bisa diartikan sebagai tuntutat
seseorang dalam menuntut keadilan atau perubahan. Secara terminologi yaitu
pandangan paham radikal terhadap politik. Sedangkan radikalisme secara
umum yaitu yang sering dikenal sebagai suatu gerakan sosial yang gerakannya
mengarah kepada hal-hal yang negatif seperti gerakan radikal atau kekerasan

7 Pradjarta Dirdjosanjoto, Memelihara Umat ; Kiai Pesantren-Kiai Langgar Di Jawa (Lkis


Pelangi Aksara, 1997), h. 6–15.
8 Adib Rifqi Setiawan, “Pendidikan Literasi Finansial Melalui Pembelajaran Fiqh

Mu’āmalāt Berbasis Kitab Kuning,” Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam 3, No. 1 (1 Maret
2020): 2–5, Https://Doi.Org/10.31538/Nzh.V3i1.522.
9 Dian Mohammd Hakim, “Transformasi Kurikulum Pesantren Melalui Metode

Pembelajaran Kitab Kuning Dalam Mengembangkan Pesantren : Studi Kasus Di Pondok


Pesantren Al-Hikam Malang,” Jurnal Andragogi 1, No. 2 (10 Januari 2020), h. 7–9.
10 Mujib Ridlwan, “Dialektika Pesantren Dan Radikalisme Di Pesisir Utara

Lamongan,” Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi Dan Pemikiran Hukum Islam
11, No. 1 (20 September 2019): 6–7, Https://Doi.Org/10.30739/Darussalam.V11i1.448.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 106


Zahdi Taher Pembelajaran Kitab kuning...

antar individu itu sendiri maupun berkelompok. Gerakan radikalisme ini


mempunyai dua level yaitu pemikiran dan tindakan. Level pemikiran itu sendiri
adalah suatu rencana yang sedang direncanakan atau difikirkan untuk
berjalannya suatu tencana, sedangkan level tindakan yaitu tindakan yang
dilaksanakan secara langsung seperti tindak teror yang dilakukan oleh seorang
pelaku radikalisme. Kata teror di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
suatu kegiatan ataupun gerakan yang menciptakan ketakutan serta rasa trauma
kepada diri seseorang karena adanya kekerasan maupun kekejaman yang
dilakukan oleh sang pelaku terorisme tersebut. yang mana gerakan itu akan
mereka lakukan secara terus menerus dengan tidak memendang orang
disekitarnya baik itu orang tua, anak kecil, serta lainnya guna mencapai tujuan
yang mereka inginkan.11 Aksi teror ini adalah suatu gerakan yang semakin lama
semakin intens yang merupakan masalah ataupun pukulan keras di dalam
kalangan umat muslim itu sendiri.12 Seperti yang dipersepsikan oleh oleh
Lukman Hakim atau wakil kepala LIPI, dalam pengantar buku Islam dan
Radikalisme diIndonesia.13
Dimana pemberitaan mengenai gerakan radikalisme yang terdapat pada
pesantren itu, sudah berlangsung sejak adanya proses perencanaan berita di
rapatredaksi sehingga proses penyusunan berita melalui peliputan dan
penulisan itu ada pada peristiwa peledakan bom yang terjadi di Pesantren Umar
bin Khattab, Bima, Nusa Tenggara Barat yang terjadi tepatnya pada tanggal 11
Juli 2011 yang juga dipertimbangkan pada rapat perencanaan isu majalah
GATRA. Majalah Gatra itu memandang bahwa peristiwa yang terjadi itu
memiliki nilai berita tinggi, karena berita yang dipertimbangkan untuk isu
tersebut di antaranya adalah kehangatan, magnitude, eksklusif, adapun sudut-
sudut pandang lain yaitu dramatis, dan misi. Sedangkan menurut wakil kepala
pusat liputan Gatra Mujib Rahman, peristiwa ini adalah peristiwa yang cukup
mengejutkan karena sebuah pesantren di pedalaman Bima, yang tidak pernah
menjadi sorotan sebelumnya ternyata diam-diam pengajarnya malah merakit
bom.14 Radikalisme disini yaitu suatu paham konspirasi yang didalamnya
menganung unsur kekerasan (terorisme) yang bisa dilakukan secara individu
maupun berkelompok terhadap seseorang.
Baik yang terdapat didalam lingkungan masyarakat, orang luar, maupun
dalam sebuah pesantren. gambaran secara lengkap mengenai pesantren di

11 Fuadi Isnawan, “Program Deradikalisasi Radikalisme Dan Terorisme Melalui

Nilai-Nilai Luhur Pancasila,” Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial Dan Budaya 3, No. 1 (31 Juli
2018): 7–8, Https://Doi.Org/10.25217/Jf.V3i1.275.
12 Muh Sya’roni, “Strategi Integrasi Pendidikan Anti Radikalisme Dalam Kurikulum

Sma/Ma,” Karangan: Jurnal Bidang Kependidikan, Pembelajaran, Dan Pengembangan 1, No.


01 (16 November 2019), h. 2–6.
13 Abdul Halim, “Pendidikan Pesantren Dalam Menghadapi Tantangan
Radikalisme,” Falasifa: Jurnal Studi Keislaman 8, No. 1 (19 Maret 2017), h. 9–12.
14 Ken Andari, Dadang Rahmat Hidayat, Dan Efi Fadilah, “Konstruksi Majalah Gatra

Tentang Radikalisme Di Pesantren,” Students E-Journal 1, No. 1 (2012), h. 2–8.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 107


Zahdi Taher Pembelajaran Kitab kuning...

Indonesia ini adalah baru diperoleh melalui beberapa sumber-sumber Belanda


pada abad ke-19. Berdasarkan data penelitian resmi pemerintah Kolonial, pada
abad ke-19 terdapat sekitar 15.000 pesantren yang tersebar luas di Jawa dan
Madura, dan dengan perkiraan jumlah santri sekitar 230.000 orang yang
diperkuat juga dengan catatan perjalanan Snouck Hurgronje, yang juga ada pada
abad ke-19 ke berbagai daerah yang ada di Indonesia. Dari catatan perjalanan ini,
tergambar dengan jelas bahwa pesantren pada abad ini telah berkembang
sedemikian rupa menjadi satu-satunya sarana pendidikan bagi Muslim
Indonesia yang sudah ada sejak dahulu.15 Radikalisme agama ini muncul karena
adanya pendistribusian wewenang yang tidak merata serta pernyataan bahwa
pelaku radikalisme adalah alumni pesantren16 atau aktivis majelis taklim
sehingga pesantren menjadi ciri negatif yang menempel pada diri seseorang
karena adanya pengaruh dari lingkungannya atau sebagai pelaku radikalisme.
Dan di era keterbukaan seperti sekarang ini, sudah begitu banyak sekali
permasalahan yang terjadi, salah satu permasalahan yang terjadi yaitu seperti
isu-isu politis mengenai radikalisme Islam yang merupakan tantangan besar bagi
pemeluk agama Islam dalam menyikapi dan menjawabnya. Isu radikalisme
Islam ini sebenarnya sudah lama mencuat di permukaan wacana internasional
karena sudah sejak dahulu permasalahan ini selalu diperbincangkan.
Yang menyebabkan gerakan radikalisme marak dimana-mana sehingga
terjadinya konflik atar individu maupun secara berkelompok yang malah itu
akan menambah pandangan buruk atau ciri negarif terhadap pesantren itu
sendiri. Secara logika agama manapun tentu saja tidak akan mengajarkan untuk
melakukan tindakan radikalisme.17 Semua agamabaik muslim ataupun non
muslim menginginkan kedamainan baik di dunia maupun akhirat, dan tidak ada
ang tidak menginginkan itu. Namun pada kenyataannya sering sekali terjadi
ataupun ditemukan kondisi berbeda, yaitu dimana keterlibatan antar sesama
muslim dalam gerakan radikal dan juga agama sering terlibat maupun sering
dilibatkan di dalam gerakan radikalisme yang dilakukan oleh umat sebagai ajang
adu domba antar sesama bagi penyandang dan pemeluk agama tersebut yang
kemudian memunculkan tudingan yang menjadikan masalah bahwa agama
sebagai penyebab utama yang menjadikan dunia berantakan, serta ciri negatif
yang penuh dengan anarkisme. Sampai-sampai ada juga yang mengatakan
bahwa agama harus mati, karena agama merupakan penyebab atau dasar dari

15 Rahman Mantu, “Bina-Damai Dalam Komunitas Pesantren: Sebuah Upaya

Counter-Radikalisme,” Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 23, No. 1 (15 Juni
2015): 4–6, Https://Doi.Org/10.21580/Ws.23.1.227.
16 Tsabita Shabrina Alfanani, “Konstruksi Sosial Komunitas Pesantren Mengenai Isu

Radikalisme (Studi Kasus Pada Pesantren Salaf & Modern Di Kota Malang),” Jurnal
Sosiologi Agama 10, no. 2 (20 Juli 2017): 2–7, https://doi.org/10.14421/jsa.2016.102-01.
17 Abu Rokhmad, “Radikalisme Islam Dan Upaya Deradikalisasi Paham Radikal,”

Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 20, No. 1 (30 Mei 2012): 2–5,
Https://Doi.Org/10.21580/Ws.20.1.185.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 108


Zahdi Taher Pembelajaran Kitab kuning...

munculnya gerakan radikalisme yang melanda dunia, termasuk semua


persoalan baik sosial, persoalan ekonomi seta persoalan ekologi.18 Walaupun
pada dasarnya semua itu tidak benar, tetapi bagi sebagian orang yang sudah
terkena pengaruh negatif dari masyarakat lainnya yang sudah terpengaruh,
semua itu adalah sebuah kebenaran, dan tugas kita sebagai umat yang beragama
yaitu adalah dengan menumbuhkan raya sosial yang tinggi, memiliki jiwa
bersatu, bermoral dan juga menjauhi lah kekerasan menegakkan kebenaran serta
mencintai kedamaian.19 M. Dawam Raharjo mengemukakan bahwa ada 4
hipotesis yang melatar belakangi berkembangnya Islam radikal di Indonesia,
yaitu:
a. Adanya pengaruh gerakan-gerakan radikal yang semuanya itu
menginginkan tegaknya syariat Islam di semua bidang kehidupan.
b. Adanya pengaruh perasaan gembira yang berlebihan terhadap
demokratisasi di Indonesia, yang biasanya dimaknai sebagai peluang
bagi munculnya gerakan Islam radikal yang pada masa Orde Baru.
c. Terjadinya kegagalan di dalam penegakan negara hukum demokratis,
sehingganya menimbulkan kembali banyak inspirasi untuk menegakkan
syariat Islam, atau sesuatu yang pada dasarnya bertolak belakang dengan
sistem hukum demokratis yang sekuler itu sendiri.
d. Adanya kegagalan gerakan dakwah yang raḥmatan lil-alamin, juga yang
toleran terhadap keyakinan antar umat beragama yang menerima
perbedaan dan sangat bersifat inklusif. Serta berkembangnya gerakan
dakwah yang sangat eksklusif serta intoleransi terhadap keragaman yang
ada.20

C. Simpulan
Kitab Kuning ini adalah suatu kitab yang lebih dari 1000 kitab, yang amat
banyak sekali karagannya, misal satu imam saja sebagai contoh seperti Imam
Nawawi Al-bantani mempunyai tafsir munir 4 jilid, satu orang pun mempunyai
kitab sebanyak 115 kitab dan masalah-masalah yang dikaji salah satunya
menangkal radikalisme-radikalisme yang ada di Indonesia ini dengan penerapan
pembelajaran akhlak dan ilmu tasawuf yang selalu digabungkan. Dan adapun
upaya memahami radikalisme dan anti radikalisme di dunia pesantren dengan
pendekatan logika dialektik, dialektika radikalisme dan antiradikalisme dalam
kehidupan pesantren bergerak pada aras wacana dan praksis. Keduanya saling

18 Angga Natalia, “Faktor-Faktor Penyebab Radikalisme Dalam Beragama (Kajian

Sosiologi Terhadap Pluralisme Agama Di Indonesia),” Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas


Agama 11, No. 1 (2016): 9–12, Https://Doi.Org/10.24042/Ajsla.V11i1.1436.
19 Nanang Hasan Susanto, “Menangkal Radikalisme Atas Nama Agama Melalui

Pendidikan Islam Substantif,” Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam 12, No. 1 (2018), h. 2–6.
20 Thohir Yuli Kusmanto, Moh Fauzi, Dan M. Mukhsin Jamil, “Dialektika

Radikalisme Dan Anti Radikalisme Di Pesantren,” Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial


Keagamaan 23, No. 1 (15 Juni 2015): 6–9, Https://Doi.Org/10.21580/Ws.23.1.221.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 109


Zahdi Taher Pembelajaran Kitab kuning...

terkait sebagai realitas yang seringkali kontradiktif dan saling memperkuat maka
tidak bisa keluar dari cara berpikir yang melihat inti segala sesuatu adalah
kontradiksi, baik di dalam alam maupun di dalam kehidupan manusia. Oleh
karena itu, kontradiksi adalah segala sesiatu atau tindakan yng berpust pada
alam. Proposisi tersebut sangat relevan untuk menjelaskan dinamika radikalisme
dan anti radikalisme di pesantren maupun oleh masyarakat sekitar pesantren
sebagai sesuatu diantara realitas nyata dan tidak nyata. Adapun yang perlu
dipraktekkan yaitu berupa nilai-nilai kehidupan di dalam keseharian santri itu
sendiri, sehingganya hal tersebut membentuk suatu kebudayaan dan peradaban
yang budaya tersebut mempunyai ciri khas tersendiri itulah yang memebedakan
tradisi pendidikan pesantren dengan tradisi yang terdapat pada lembaga
pendidikan lainnya. Pembelajaran Kitab kuning di dalam pesantren itu bisa
menjadi landasan bagi para santri untuk terus menjadikan kitab kuning sebagai
acuan di dalam memahami sekaligus usaha respon terhadap kemajuan yang
merumuskan kembali pemikiran keislaman. Keberadaan kitab kuning juga
menjadi sangat penting yang harus dipelajari di kalangan santri karena dijadikan
sebagai pedoman tata cara beragama, difungsikan sebagai maraji’atau sumber
rujukan universal dalam menyikapi segala problem kehidupan. Pesanten dengan
identitas keagamaan dipandang eksklusif dan tidak bisa kompromistis untuk
melahirkan santri yang anti raikal, anti kekerasan, bermoral, santun dan jujur.

Referensi:
Alfanani, Tsabita Shabrina. “Konstruksi Sosial Komunitas Pesantren Mengenai
Isu Radikalisme (Studi Kasus Pada Pesantren Salaf & Modern Di Kota
Malang).” Jurnal Sosiologi Agama 10, No. 2 (20 Juli 2017): 1–24.
Https://Doi.Org/10.14421/Jsa.2016.102-01.
Andari, Ken, Dadang Rahmat Hidayat, Dan Efi Fadilah. “Konstruksi Majalah
Gatra Tentang Radikalisme Di Pesantren.” Students E-Journal 1, No. 1
(2012): 18.
Dirdjosanjoto, Pradjarta. Memelihara Umat ; Kiai Pesantren-Kiai Langgar Di
Jawa. Lkis Pelangi Aksara, 1997.
Fawaid, Ahmad. “Survei Bibliografi Kajian Tafsir Dan Fikih Di Pondok
Pesantren: Kajian Atas Materi Radikalisme Dalam Literatur Pesantren
Dan Respon Kiai Terhadapnya.” Proceedings Of Annual Conference For
Muslim Scholars, No. Series 1 (22 April 2018): 161–72.
Hakim, Dian Mohammd. “Transformasi Kurikulum Pesantren Melalui Metode
Pembelajaran Kitab Kuning Dalam Mengembangkan Pesantren : Studi
Kasus Di Pondok Pesantren Al-Hikam Malang.” Jurnal Andragogi 1, No.
2 (10 Januari 2020): 39–49.
Halim, Abdul. “Pendidikan Pesantren Dalam Menghadapi Tantangan
Radikalisme.” Falasifa : Jurnal Studi Keislaman 8, No. 1 (19 Maret 2017):
165–78.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 110


Zahdi Taher Pembelajaran Kitab kuning...

Isnawan, Fuadi. “Program Deradikalisasi Radikalisme Dan Terorisme Melalui


Nilai-Nilai Luhur Pancasila.” Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial Dan
Budaya 3, No. 1 (31 Juli 2018): 1–28.
Https://Doi.Org/10.25217/Jf.V3i1.275.
Kusmanto, Thohir Yuli, Moh Fauzi, Dan M. Mukhsin Jamil. “Dialektika
Radikalisme Dan Anti Radikalisme Di Pesantren.” Walisongo: Jurnal
Penelitian Sosial Keagamaan 23, No. 1 (15 Juni 2015): 27–50.
Https://Doi.Org/10.21580/Ws.23.1.221.
Malik, Abdul, Ajat Sudrajat, Dan Farida Hanum. “Kultur Pendidikan Pesantren
Dan Radikalisme.” Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi Dan
Aplikasi 4, No. 2 (2016): 103–14.
Https://Doi.Org/10.21831/Jppfa.V4i2.11279.
Mantu, Rahman. “Bina-Damai Dalam Komunitas Pesantren: Sebuah Upaya
Counter-Radikalisme.” Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
23, No. 1 (15 Juni 2015): 131–50. Https://Doi.Org/10.21580/Ws.23.1.227.
Mumtazah, Afwah. “Kajian Multikulturalisme Dalam Kitab Kuning.” Jurnal
Educationem 1, No. 01 (30 Juni 2019): 1–18.
Muqoddas, Ali. “Syeikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi Ilmuan Spesialis Ahli
Syarah Kitab Kuning.” Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam 11, No. 1 (1
Januari 2014). Https://Doi.Org/10.34001/Tarbawi.V11i1.186.
Natalia, Angga. “Faktor-Faktor Penyebab Radikalisme Dalam Beragama (Kajian
Sosiologi Terhadap Pluralisme Agama Di Indonesia).” Al-Adyan: Jurnal
Studi Lintas Agama 11, No. 1 (2016): 36–56.
Https://Doi.Org/10.24042/Ajsla.V11i1.1436.
Ridlwan, Mujib. “Dialektika Pesantren Dan Radikalisme Di Pesisir Utara
Lamongan.” Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi Dan
Pemikiran Hukum Islam 11, No. 1 (20 September 2019): 36–55.
Https://Doi.Org/10.30739/Darussalam.V11i1.448.
Rohman, Fathur. “Pendidikan Islam Anti Radikalisme Melalui Nadham (Telaah
Kitab Shifa’ Al-Ummah Karya Kh. Taufiqul Hakim Bangsri Jepara).”
Tadris: Jurnal Pendidikan Islam 13, No. 1 (30 Juni 2018): 133–48.
Https://Doi.Org/10.19105/Tjpi.V13i1.1757.
Rokhmad, Abu. “Radikalisme Islam Dan Upaya Deradikalisasi Paham Radikal.”
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 20, No. 1 (30 Mei 2012):
79–114. Https://Doi.Org/10.21580/Ws.20.1.185.
Setiawan, Adib Rifqi. “Pendidikan Literasi Finansial Melalui Pembelajaran Fiqh
Mu’amalat Berbasis Kitab Kuning.” Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam 3,
No. 1 (1 Maret 2020): 138–59. Https://Doi.Org/10.31538/Nzh.V3i1.522.
Susanto, Nanang Hasan. “Menangkal Radikalisme Atas Nama Agama Melalui
Pendidikan Islam Substantif.” Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam 12, No. 1
(2018): 65–88.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 111


Zahdi Taher Pembelajaran Kitab kuning...

Sya’roni, Muh. “Strategi Integrasi Pendidikan Anti Radikalisme Dalam


Kurikulum Sma/Ma.” Karangan: Jurnal Bidang Kependidikan,
Pembelajaran, Dan Pengembangan 1, No. 01 (16 November 2019): 37–45.
Zuhriy, M. Syaifuddien. “Budaya Pesantren Dan Pendidikan Karakter Pada
Pondok Pesantren Salaf.” Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
19, No. 2 (6 Desember 2011): 287–310.
Https://Doi.Org/10.21580/Ws.19.2.159.

RI’AYAH, Vol. 5, No. 01, Januari-Juni 2020 112


PETUNJUK PENULISAN JURNAL

Petunjuk Penulisan
1. Naskah ditulis rapi dengan program Microsoft Word (Rich Text Format) pada kertas berukuran A4 (satu sisi), dan setiap
lembar tulisan diberi nomor halaman dengan jumlah halaman maksimal 20. Jarak spasi 1,15 kecuali abstrak dan daftar
pustaka yang mempunyai jarak spasi 1. Model huruf yang digunakan adalah Book Antiqua dengan font 11 kecuali judul
berupa huruf kapital dengan font 14. Margin masing-masing adalah 3, 4 3, 3 cm. Naskah diserahkan dalam bentuk soft copy
dan hard copy;
2. Naskah yang ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris mencantumkan abstrak, dan sebaliknya dengan jumlah
kata antara 150 sampai 200. Kata kunci harus dipilih untuk menggambarkan isi makalah dan paling sedikit 4 (empat) kata
kunci;
3. Sistematika artikel hasil penelitian:
a. Judul,
b. Nama penulis (tanpa gelar akademik), nama lembaga/institusi, dan email,
c. Abstrak,
d. Kata kunci,
e. Pendahuluan (latar belakang dan dukungan kepustakaan yang diakhiri dengan tujuan penelitian),
f. Metode,
g. Hasil,
h. Pembahasan,
i. Simpulan dan saran,
j. Ucapan terima kasih (bila ada),
k. Daftar rujukan/daftar pustaka (hanya memuat sumber yang dirunjuk), dan
l. Lampiran (bila ada)

4. Sumber rujukan sedapat mungkin merupakan pustaka mutakhir (terbitan 10 tahun terkahir) dan diutamakan dari sumber
data primer berupa artikel-artikel penelitian dalam jurnal atau majalah ilmiah dan/atau laporan penelitian;

5. Daftar rujukan (pustaka) disusun dengan tata cara seperti contoh berikut, dan diurutkan berdasarkan nama penulis secara
alfabetis. Berikut adalah contoh-contoh pustaka dari berbagai sumber.
(a) Buku
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor.
(b) Buku Kumpulan Artikel
Dahuri, R. dan Sulistiono. (eds.). 2004. Metode dan Teknik Analisa Biota Perairan. (edisi ke-2, cetakan ke-1). Lembaga
Penelitian IPB, Bogor.
(c) Artikel Dalam Buku Kumpulan Artikel
Huffman, G.J., R.F. Adler, D.T. Bolvin, and E.J. Nelkin. 2010. “The TRMM Multi-satellite Precipitation Analysis
(TMPA)”. In M. Gebremichael and F. Hossain (Ed.). Satellite Rainfall Applications for Surface Hydrology (pp. 3-22).
Springer Verlag, Netherlands.
(d) Artikel Dalam Jurnal atau Majalah
Haylock, M. and J.L. McBride. 2003. “Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall”.
Journal of Climate, 14. 3882–3887.
(e) Artikel Dalam Dokumen Resmi
KLH. 1997. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kementrian Lingkungan
Hidup Republik Indonesia, Jakarta.
(f) Buku Terjemahan
Hempel, L.C. 1996. Pengelolaan Lingkungan: Tantangan Global. Terjemahan oleh Hardoyo dan Jacobs. 2005. Penerbit
Kanisius,Yogyakarta.
(g) Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian
Rastina, I.K. 2004. Studi Kualitas Air Sungai Ho Kabupaten Tabanan, Bali. Tesis. Program Pascasarjana Universitas
Udayana, Denpasar.
(h) Makalah Seminar, Lokakarya, Penataran
Waseso, M.G. 2001. “Isi dan Format Jurnal Ilmiah”. Makalah disajikan dalam Seminar Lokakarya Penulisan Artikel
dan Pengelolaan Jurnal Ilmiah. Universitas Lambungmangkurat, Banjarmasin tanggal 9-11 Agustus 2001.
(i) Prosiding
Franke, J. and D.D. Lichti. 2008. MillMapper - A Tool for Mill Liner Condition Monitoring and Mill Performance
th
Optimization. Proceedings of the 40 Annual Meeting of the Canadian Mineral Processors. Ottawa-Canada, 22-24
January 2008. 391-400.
(j) Artikel Dalam Internet (bahan diskusi)
USGS. 2010. Water Quality. http://ga.water.usgs.gov/edu/waterquality.html. diakses tanggal 15 Desember 2010.
(k) Artikel atau berita dalam Koran
Bagun, R. 31 Juli 2006. Identitas Budaya Terancam. KOMPAS, hlm 40.
Nusa Bali. 31 Juli 2006. Mengukur Kedasyatan Tsunami di Laut Selatan Bali. hlm. 1 & 11.

Naskah dikirim ke:


Kantor Pascasarjana IAIN Metro Lampung
Jl. Ki. Hajar Dewantara Kampus 15 A Iringmulyo Kota Metro Lampung 34111
Telp. (0725) 41507 , Fax. (0725) 47296
HP. 081273307316
Email : pascasarjanaiainmetro@gmail.com
dharmasetyawan405@gmail.com