Anda di halaman 1dari 39

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC) DAUN

LAMTORO DALAM BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP


PERTUMBUHAN TANAMAN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.)

LAPORAN PENELITIAN

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian yang


dibimbing oleh: Dr. Vivi Novianti, S. Si, M. Si. dan Mardiana Lelitawati, S. Si,
M. Si.

Disusun Oleh:
Kelompok 9 / Offering A 2019
NADYA ROSMA A. C. K.              190341621603
RISZA NURIL SAMSIYAH 190341621627
SEBASTIANUS TEWA 190341421712

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
OKTOBER 2020
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC) DAUN
LAMTORO DALAM BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP
PERTUMBUHAN TANAMAN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.)

LAPORAN PENELITIAN
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian yang
dibimbing oleh: Dr. Vivi Novianti, S. Si, M. Si. dan Mardiana Lelitawati, S. Si,
M. Si.

Disusun Oleh:
Kelompok 9/ Offering A’19
NADYA ROSMA A. C. K.              190341621603
RISZA NURIL SAMSIYAH 190341621627
SEBASTIANUS TEWA 190341421712

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
OKTOBER 2020

ii
RINGKASAN

Kumala, N. R. A. C., Samsiyah, R. N., & Tewa, S. 2020.Pengaruh Pemberian


Pupuk Organik Cair (POC) Daun Lamtoro dalam Berbagai Konsentrasi
terhadap Pertumbuhan Tanaman Bayam Merah (Amaranthus tricolor L).
Tugas Akhir, Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Malang.
Pembimbing : (1) Dr. Vivi Novianti, S.Si., M.Si. (2) Mardiana Lelitawati,
S.Si., M.Si.
Kata kunci : bayam merah, pupuk organik cair, daun lamtoro

Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) merupakan tanaman holikurtural


jenis sayuran yang memiliki kandungan gizi cukup tinggi, sehingga menjadi
incaran banyak konsumen. Namun, produksi bayam merah di Indonesia semakin
menurun. Penurunan produksi bayam merah disebabkan beberapa faktor seperti,
kurangnya pupuk yang digunakan petani, tidak maksimalnya penyerapan pupuk
pada bayam merah, dan kemunduran lahan akibat penggunaan pupuk kimiawi.
Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan penggunaan pupuk
organik cair (POC), yaitu daun lamtoro (Leucaena leucocephala). Daun lamtoro
memiliki unsur hara esensial yang berperan penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Unsur tersebut berupa kandungan nitrogen 2,0 ± 4,3%,
phospor 0,2 ± 0,4%, dan kalium 1,3 ± 4,3%.Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk meneliti pengaruh pemberian dan proporsi POC daun lamtoro yang
tepat untuk mengupayakan pertumbuhan dan produksi bayam merah.
Penelitian ini menggunakan Analisis Varian Tunggal dalam Rancangan
Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan lima perlakuan dan dilakukan
sebanyak empat ulangan, sehingga dalam penelitian ini dibutuhkan dua puluh
petak percobaan. Variabel pengamatan parameter pertumbuhan (tinggi dan jumlah
daun) dilakukan setiap dua hari sekali bersamaan dengan pemberian pupuk
konsentrasi yang berbeda-beda (0%, 5%,10%, 15%, 20%). Hasil yang diperoleh
dari perhitungan statistika, yaitu Uji Anova menunjukkan nilai F hitung (0,779) <
F tabel (α: 0,05= 2,69), sehingga variasi perlakukan tidak memberikan pengaruh
signifikan terhadap pertambahan tinggi tanaman bayam merah. Hasil uji kurskal

iii
wallis nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,735 (p<0,05) jadi variansi
perlakuan juga tidak berpengaruh pada jumlah daun. Dengan demikian dapat
ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi terhadap tinggi dan
jumlah daun tanaman bayam merah.

iv
SUMMARY

Kumala, N. R. A. C., Samsiyah, R. N., & Tewa, S. 2020. The Effect of Liquid
Organic Fertilizer (POC) Lamtoro Leaves in Various Concentrations on the
Growth of Red Spinach (Amaranthus tricolor L). Final Project, Biology
Education Study Program, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Vivi
Novianti, S.Si., M.Si. (2) Mardiana Lelitawati, S.Si., M.Si.
Keywords: red spinach, liquid organic fertilizer, lamtoro leaves

Red spinach (Amaranthus tricolor L.) is a horticultural vegetable type that


has a high nutritional content, so it is the target of many consumers. However, red
spinach production in Indonesia is decreasing. The decline in red spinach
production is due to several factors, such as the lack of fertilizers used by farmers,
the inadequate absorption of fertilizers in red spinach, and the deterioration of
land due to the use of chemical fertilizers.
This problem can be solved by using liquid organic fertilizer (POC),
namely leaves of lamtoro (Leucaena leucocephala). Lamtoro leaves have essential
nutrients that play an important role in plant growth and development. These
elements are in the form of nitrogen content of 2.0 ± 4.3%, phosphorus 0.2 ±
0.4%, and potassium 1.3 ± 4.3%. Therefore, this study aims to examine the effect
of administration and proportion of leaf POC. the right lamtoro to promote the
growth and production of red spinach.
This research used Single Variant Analysis in Completely Randomized
Design (CRD). This study used five treatments and carried out four replications,
so that in this study twenty experimental plots were needed. Observation variables
for growth parameters (height and number of leaves) were carried out once every
two days together with different concentrations of fertilizer (0%, 5%, 10%, 15%,
20%). The results obtained from statistical calculations, namely the Anova test
showed the calculated F value (0.779) <F table (α: 0.05 = 2.69), so that treatment
variations did not have a significant effect on the height increase of red spinach
plants. Kurskal test results obtained a significance value of 0.735 (p <0.05) so the
treatment variance also had no effect on the number of leaves. Thus it can be
concluded that there is no effect of concentration on the height and number of
leaves.
UCAPAN TERIMAKASIH

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT, karena kehendak dan ridha-
Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Penulis menyadari bahwa
penelitian ini tidak akan selesai tanpa doa dan dukungan dari berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd., selaku Rektor Universitas Negeri Malang.
2. Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Si., selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam.
3. Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si., selaku Ketua Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang.
4. Siti Imroatul Maslikah, S.Si, M.Si., selaku Koordinator Program Studi S1
Pendidikan Biologi.
5. Dr. Vivi Novianti, S.Si, M.Si., selaku dosen pengampu matakuliah Metodologi
Penelitian.
6. Mardiana Lelitawati, S.Si., M.Si., selaku dosen pengampu matakuliah Metodologi
Penelitian.
7. Teman-teman Offering A 2019 yang telah berjuang bersama dan selalu
memberikan banyak bantuan, semangat, motivasi, dukungan serta doa dalam
penyelesaian penelitian ini.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dan sangat berperan
penting dalam penyelesaian penelitian ini.

Malang, 18 Desember 2020

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL........................................................................................i
HALAMAN JUDUL............................................................................................ii
RINGKASAN.......................................................................................................iii
SUMMARY..........................................................................................................v
UCAPAN TERIMAKASIH................................................................................vi
DAFTAR ISI........................................................................................................vii
DAFTAR TABEL................................................................................................viii
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................ix

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah......................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................3
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................3
1.4 Hipotesis Penelitian.............................................................................3
1.5 Manfaat Penelitian...............................................................................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Bayam Merah............................4
2.2 Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Daun Lamtoro...........................5
2.3 Kandungan Nutrisi Pupuk Organik Cair Daun Lamtoro dan
Pengaruhnya terhadap Tanaman Bayam Merah.................................5
2.4 Konsentrasi Efektif Pupuk Organik Cair Daun Lamtoro terhadap
Pertumbuhan Bayam Merah...............................................................6
2.5 Mekanisme Penyerapan Unsur Hara Tanaman Bayam Merah...........8

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Waktu dan Tempat Penelitian...........................................................10
3.2 Alat dan Bahan Penelitian.................................................................10
3.3 Prosedur Penelitian............................................................................10
3.4 Rancangan Penelitian........................................................................11

vii
3.4 Analisis Data Penelitian....................................................................12

BAB IV HASIL ANALISIS


4.1 Pertumbuhan Tinggi Tanaman Bayam Merah..................................13
4.2 Pertumbuhan Jumlah Daun Tanaman Bayam Merah........................14

BAB V PEMBAHASAN
5.1 Pertumbuhan Tinggi Tanaman Bayam Merah..................................15
5.2 Pertumbuhan Jumlah Daun Tanaman Bayam Merah........................17

BAB VI PENUTUP
5.1 Kesimpulan........................................................................................19
5.2 Saran..................................................................................................19

DAFTAR RUJUKAN..........................................................................................20
LAMPIRAN.........................................................................................................22
RIWAYAT HIDUP.............................................................................................27

viii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman

4.1 Distribusi Frekuensi Tinggi Tanaman Bayam Merah ....................................24

4.2 Hasil Uji Normalitas Tinggi Tanaman Bayam Merah....................................24


4.3 Hasil Uji Homogenitas Tinggi Tanaman Bayam Merah.................................24
4.4 Hasil Uji Anova Tinggi Tanaman Bayam Merah............................................25
4.5 Distribusi Frekuensi Jumlah Daun Tanaman Bayam Merah...........................26
4.3 Urutan Rerata (Mean Rank) Jumlah Daun Tanaman Bayam Merah...............26
4.3 Hasil Uji Kurskal Wallis Jumlah Tanaman Bayam Merah.............................26

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Dokumentasi Penelitian Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Daun

Lamtoro terhadap Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.)


.........................................................................................................................

22

2 Dokumentasi Penelitian Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Daun


Lamtoro terhadap Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.)
.........................................................................................................................
23
3 Perhitungan Data Pengaruh Variasi Pupuk Oragnik Cair Daun Lamtoro
erhaap Tinggi Tanaman Bayam Merah
.........................................................................................................................
24
4 Perhitungan ANOVA Data Pengaruh Variasi Pupuk Oragnik Cair Daun
Lamtoro terhaap Tinggi Tanaman Bayam Merah
.........................................................................................................................
25
5 Perhitungan Data Pengaruh Variasi Pupuk Oragnik Cair Daun Lamtoro
terhaap Jumlah Daun Tanaman Bayam Merah
.........................................................................................................................
26

x
xi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan negara agraris karena sebagaian besar penduduk
Indonesia bekerja sebagai petani. Petani memiliki peranan penting dalam
penyedian kebutuhan pangan di Indonesia. Petani menyediakan bahan pangan
pokok seperti beras, buah-buahan, dan sayuran. Dalam penyediaan bahan pangan,
petani lebih banyak mengembangkan tanaman holikutura terutama jenis sayuran
dibandingkan dengan jenis tanaman holikurtural lainnya. 4.Pengembangan ini
harus dilakukan dengan pola pembinaan yang tepat, baik dibidang produksi,
pemasaran, dan sarana [1].
Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) menjadi tanaman holikurtural jenis
sayuran yang banyak dikembangkan oleh petani Indonesia. Bayam merah banyak
dikembangkan karena dalam produksinya dapat ditanam di berbagai macam
tempat. Selain itu, kandungan gizi yang tinggi menyebabkan kenaikan permintaan
bayam merah. Kenaikan permintaan ini seharunya sejalan dengan kenaikan
produksi bayam merah oleh petani Indonesia [2].
Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) Indonesia tahun 2017
produksi tanaman bayam adalah 148.288 ton. Data ini menurun dari tahun 2016
dimana produksi bayam mencapai 160.276 ton [1]. Penurunan ini menjadi
perhatian khusus petani Indonesia. Untuk menjaga konsistensi memperoleh hasil
panen yang melimpah dalam waktu yang singkat, petani dapat menggunakan
pupuk sebagai solusinya.
Pupuk adalah suatu bahan yang memiliki kandungan nutrisi untuk
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk berdasarkan kandungan
senyawanya dibedakan menjadi pupuk organik dan pupuk anorgani. Pupuk
anorganik paling digemari masyarakat karena mudah untuk diaplikasikan.
Menurut [3]penggunaan pupuk anorganik tanpa diimbangi penggunaan pupuk
organik dapat mendegradasi lahan pertanian. Lahan pertanian akan mengalami
kemunduran sifat fisik dan biologis. Kemunduran ini berakibat pada penurunan
produksi tanaman [2].

1
Kemunduran lahan dapat diperbaiki menggunakan pupuk organik. Pupuk
organik atau pupuk kompos memiliki kandungan senyawa organik yang mampu
meningkatkan kesuburan fisik, kimia, dan biologis tanah. Kualitas dan komposisi
pupuk organik tergantung pada proses pembuatannya. Pupuk ini diproduksi dalam
padat dan cair. Pupuk organik cair menyediakan unsur hara yang lebih cepat
diserap tanaman[4][5].
Salah satu bahan pupuk cair yang sering digunakan masyarakat yaitu
pupuk cair daun lamtoro (Leucaena leucocephala). Menurut [6] daun lamtoro
memiliki unsur hara esensial yang berperan penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Unsur tersebut berupa kandungan nitrogen 2,0 ± 4,3%,
phospor 0,2 ± 0,4%, dan kalium 1,3 ± 4,3%. Kandungan N, P, dan K pada daun
lamtoro basah lebih tinggi dibandingkan dengan daun lamtoro kering [4] [6].
Pupuk cair daun lamtoro ini akan bermanfaat jika digunakan dengan
aturan yang tepat. Pupuk organik cair daun lamtoro konsentrasi 10% efisen untuk
meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah buah pertanaman
tomat [7]. Hasil penelitian yang lain menunjukkan pupuk cair daun lamtoro
konsentrasi 10% paling efektif dalam meningkatkan jumlah daun, berat basah, dan
berat kering tanaman sawi caisium[8]. Kemudian, hasil penelitian terkait pupuk
organik cair daun lamtoro pada tumbuhan bayam merah, pertumbuhan terbaik
ditemukan pada konsentrasi 10,75 g kompos / 3000 g media tanam [4].
Di indonesia, penelitian mengenai pengaruh konsentrasi pupuk organik
cair daun lamtoro sudah dilakukan pada berbagai jenis varietas tanaman, seperti
tomat, sawi, dan jenis tanaman lainnya. Namun, penelitian mengenai pengaruh
pupuk cair daun lamtoro terhadap daun bayam masih sangat terbatas. Pada
penelitian [2] pupuk cair masih berupa campuran antara daun
lamtoro dan kertas. Belum diketahui secara pasti pengaruh pupuk organik cair
yang berasal dari daun lamtoro murni.
Oleh karena itu, perlu digali informasi lebih dalam mengenai konsentrasi
yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan (tinggi dan jumlah daun) dari
tanaman bayam merah. Sehubung dengan kandungan daun lamtoro yang memiliki
hara esensial bagi tanah. Hasil penelitian diharapkan dapat menambahkan
pengetahuan tentang konsentrasi pupuk cair daun lamtoro yang efektif dalam

2
pertumbuhan tanaman bayam. Sehingga, produksi bayam di indonesia dapat
meningkat seiring dengan perbaikan tanah menggunakan pupuk organik cair.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimanakah pengaruh pemberian pupuk cair daun lamtoro terhadap
pertumbuhan (tinggi daun dan jumlah daun) tanaman bayam merah (Amaranthus
tricolor L.)?

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk cair
daun lamtoro terhadap pertumbuhan (tinggi daun dan jumlah daun) bayam merah
(Amaranthus tricolor L.).

1.4 Hipotesis
Pemberian pupuk cair daun lamtoro berpengaruh terhadap pertumbuhan
bayam merah (Amaranthus tricolor L.).

1.5 Manfaat Penelitian


Mengetahui konsentrasi pupuk cair daun lamtoro yang efektif terhadap
pertumbuhan bayam merah untuk meningkatkan produksi bayam merah
(Amaranthus tricolor L.) di Indonesia

3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Bayam Merah


Klasifikasi tanaman bayam merah menurut [9]:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Hamamelidae
Ordo : Caryphyllales
Famili : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus tricolor L
Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) merupakan tanaman sayuran yang
bergizi tinggi dan banyak digemari oleh masyarakat. Selain itu, bayam merah
banyak mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin B, dan zat besi yang sangat
berguna untuk pertumbuhan. Daun bayam merah juga dapat dimanfaatkan sebagai
pewarna alami pada makanan.
Bayam merupakan sayuran dengan gizi tinggi yang sangat diperlukan
tubuh. Dalam 100 g bayam merah terkandung kalori, karbohidrat, protein, lemak,
vitamin (A, B1, E, dan C), dan mineral (kalsium, fosfor, dan zat besi)[9].
Kandungan zat besi pada bayam merah lebih tinggi dibandingkan sayuran lainnya.
Zat besi dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah pada manusia sehingga
akan sangat berguna bagi penderita anemia.
Daun bayam merah bertentuk bulat telur dengan ujung yang agak
meruncing dan memiliki warna kemerahan pada bagian tepi dan tengah daun.
Batang bayam merah tumbuh tegak, tebal, berdaging, dan banyak mengandung air
(herbaceus). Bayam merah memiliki bunga yang tumbuh tegak dan keluar dari
ujung tanaman ataupun ketiak daunnya. Akar bayam merah merupakan akar

4
tunggang yang menyebar dangkal pada kedalaman antara 20-40 cm [9].
2.2 Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Lamtoro
Klasifikasi tanaman lamtoro menurut[7]:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Leucaena
Spesies : Leucaena leucocephala
Tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala) merupakan tanaman yang
banyak tumbuh di Indonesia. Lamtoro termasuk tumbuhan perdu yang memiliki
tinggi ±2-10m. Batang lamtoro berbentuk silindris dengan tekstur yang keras.
Diameter batang lamtoro tidak begitu besar. Daun lamtoro termasuk daun
majemuk, menyirip genap dengan ukuran kecil-kecil. Ujung daun lamtoro
berbentuk runcing dengan tepi yang rata. Tanaman lamtoro memiliki buah dengan
ukuran yang kecil dan titpis. Lamtoro termasuk polong-polongan dimana bijinya
berwarna hijau Ketika muda dan berwarna kecoklatan setelah tua. Tanaman ini
memiliki banyak manfaat sebagai bahan makanan manusia, pakan ternak, dan
sebagai pupuk kompos.

2.3 Kandungan Nutrisi Pupuk Organik Cair Daun Lamtoro dan


Pengaruhnya terhadap Tanaman Bayam Merah
Pupuk organik cair daun lamtoro mengandung nitrogen yang bermanfaat
bagi tumbuhan. Menurut [10] nitrogen merupakan unsur hara utama bagi
pertumbuhan tanaman. Nitrogen dibutuhkan tanaman untuk membentuk bagian-
bagian vegetatif dan pertumbuhannya. Nitrogen dapat menyehatkan pertumbuhan
daun dan meningkatkan kadar protein pada tanaman. Kandungan nitrogen juga
dapat meningkatkan perkembangan mikroorganisme di dalam tanah untuk
pelapukan bahan organik. Menurut [11] unsur nitrogen pada pupuk organik cair
merupakan penyusun dan pembentuk bahan organik dalam biji seperti asam
amino, koenzim, protein, klorofil, dan bahan-bahan lain dalam biji. Oleh karena

5
itu, pemberian pupuk yang mengandung nitrogen pada tanaman dapat
meningkatkan berat kering biji [10].
Tanaman lamtoro juga mengandung unsur hara lain, yaitu fosfor (P),
kalsium (Ca), kalium (K), dan magnesium (Mg) [Palimbungan]. Kandungkan
fosfor dalam pupuk berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme
dalam tanaman, memperbesar jaringan sel, dan merangsang pembelahan sel.
Unsur fosfor juga berguna untuk merangsang pembungaan dan pembentukan biji.
Menurut [12] tanaman akan menggunakan fosfor dengan maksimal ketika
tanaman pada masa pertumbuhan dan pembentukan bunga sampai kira-kira
sepuluh hari sebelum berkembanya biji dengan sempurna.
Menurut [11] kalium (K) berperan dalam meningkatkan kualitas daun dan
biji, mempercepat pertumbuhan jaringan meristematik, mengaktifkan enzim-
enzim pertumbuhan, metabolisme nitrogen, sintesis protein, dan menetralkan
asam-asam organik yang penting bagi proses fisiologis tanaman. Selain itu,
kalium juga berfungsi bagi pertumbuhan dinding sel tanaman sehingga membuat
tanaman tidak cepat layu.
Unsur kalsium (Ca) berperan pentung dalam pertumbuhan akar pada
bagian ujung dan bulu-bulunya. Sedangkan magnesium berperan penting dalam
pembentukan klorofil pada daun [11]. Menurut [11] bahwa pemberian ekstrak
daun lamtoro berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman sawi. Pada tanaman
sawi, ekstrak daun lamtoro 250 ml memberikan pengaruh terbaik terhadap
pertumbuhan tanaman sawi.

2.4 Konsentrasi Efektif Pupuk Organik Cair Daun Lamtoro terhadap


Pertumbuhan Bayan Merah
Pupuk organik memiliki hara esensial yang dibutuhkan untuk
memperbaiki kualitas tanah. Pupuk organik mengandung suatu nutrisi yang dibuat
dari tanaman atau kotoran hewan yang telah mengalami proses perombakan
secara fisik maupun biologis[5]. Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat
berbentuk padat ataupun cair. Menurut [11] pupuk organik cair dapat memberikan
hara sesuai dengan kebutuhan tanaman dibandinkan dengan pupuk organik padat.
Hara esensial pada pupuk organik cair berasal dari bentuknya cair, jika terjadi

6
kelebihan kapasitas pupuk pada tanah, tanaman akan mengatur penyerapan sesuai
dengan kebutuhan. Selain itu, pupuk organik cair dapat membantu pembentukan
klorofil pada daun[13].
Salah satu contoh pupuk organik cair adalah daun lamtoro. Daun lamtoro
berpotensi baik dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena daun
lamtoro mengandung hara esensial yang dibutuhan untuk pertumbuhan dan
perkembangan tanaman[7]. Sehingga, pupuk organik cair daun lamtoro dapat
digunakan dalam meningkatkan produksi tanaman bayam merah.
Pupuk organik cair daun lamtoro akan efektif ketika digunakan pada
konsentrasi yang tepat. Konsentrasi merupakan ukuran banyaknya zat terlarut
dalam satu campuran dibagi dengan volume total dari campuran tersebut.
Sedangan konsentrasi efektif pupuk organik cair daun lamtoro merupakan ukuran
banyaknya zat terlalu (ektrak daun lamtoro) dalam campuran dibagi dengan
volume total dari campuran yang nilainya sesuai dengan kebutuhan hara tanaman
bayam. Konsetrasi yang tepat akan memudahan kita dalam mencapai peningkatan
produksi dan ketepatan penggunaan biaya. Sehingga, tujuan tercapai secara tepat
tanpa membuang faktor-faktor produksi yang tidak penting[6].
Menurut [11] konsentrasi 10 % lebih efisien dalam meningkatkan tinggi
tanaman, diameter batang, dan jumlah tanaman buah tomat. Pada penelitian
[14]pengaruh pupuk organik cair terhadap hasil tanaman pakcoy dijelaskan dosis
500L Ha−1 menunjukkan hasil terbaik pada setiap variabel pengamatan, yaitu
bobot basah per tanaman, bobot basah per petak, dan nisbah pupus akar.
Selanjutnya pupuk organik cair daun lamtoro dosis 500L Ha−1 mampu memacu
metabolisme tanaman pakcoy secara optimum. Menurut [6] konsentrasi 10%
memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan (jumlah daun, berat basah dan berat
kering) tanaman pakcoy. Pada konsentrasi lebih dari 10% tidak menunjukan
adanya pertambahan tinggi, sehingga tinggi tanaman pakcoy telah maksimum.
Pada penelitiannya dijelaskan urutan kelompok yang paling baik dalam
meningkatkan jumlah daun, yaitu perlakuan dengan 10%, 30%, 50%. Kemudian
penelitian pupuk cair campuran antara air kelapa dan daun lamtoro pada tanaman
sawi casium, konsentrasi 10,75g kompos/ 3000g media tanam menunjukkan hasil
pertumbuhan terbaik[4].

7
Berdasarkan hasil beberapa penelitian tersebut diketahui bahwa
konsentrasi 10% menunjukan hasil pertumbuhan paling efektif. Konsentrasi tinggi
belum tentu menghasilkan produksi yang optimal. Setiap tumbuhan memiliki
batas maksimum sendiri-sendiri terakait unsur hara yang dibutuhkan, dinama
untuk mengetahuinya perlu dilakukan kajian penelitian terlebih dahulu.

2.5 Mekanisme Penyerapan Unsur Hara Tanaman Bayam Merah


Produktivitas tanaman yang tinggi dipengaruhi oleh ketersediaan unsur
hara yang dibutuhkan tanaman. Unsur hara yang cukup harus diimbangi dengan
mekanisme penyerapan dan pengedaran yang baik, sehingga unsur hara mampu
terserap secara maksimal dan hasil fotosintesis dapat diedaran pada sink yang
membutuhkan.
Mekanisme penyerapan unsur hara pupuk organik cair daun lamtoro
melalui akar atau dengan disemprotkan pada daun[2]. Penyerapan dengan akar
terjadi dengan 3 cara: (1) aliran massa, (2) difusi, dan (3) intersepsi akar. Pupuk
organik cair daun lamtoro yang disiram di sekitar tanaman bayam akan diserap
akar melalui dua proses, yaitu proses aktif dan proses selektif. Proses aktif
merupakan penyerapan unsur hara melalui energi, sedangkan proses selektif
merupakan penyerapan unsur hara yang terjadi secara selektif[10].
Proses aktif terjadi ketika tersedia energi metabolik. Energi metabolik
berasal dari proses pernapasan akar tanaman. Apabila pernapasan akar menurun
berpengaruh pada penyerapan hara tanaman bayam merah. Bagian akar yang
berperan dalam pernapasan, yaitu rambut akar. Kemudian proses selektif
dilakukan oleh sel-sel bagian terluar dari akar yang terdiri dari dinsing sel,
memberan sel, dan protoplasma. Dinding sel merupakan bagian akar yang
bersinggungan langsung dengan tanah, sedangkan bagian dalam terdiri dari
protoplasma yang dikelilingi oleh memberan. Memberan tersebut memiliki
kemampuan untuk melaukan seleksi unsur hara dari pupuk organik cair daun
lamtoro. Proses penyerapan selektif ini melalui memberan yang mengandung
suatu carier (pembawa). Carier (pembawa) hanya dapat mengangangkut unsur
hara (ion) terpilih. Unsur hara yang terpilih dibawa masuk ke prtoplasma dengan

8
menembus memberan sel. Secara detailnya sebagai berikut: (1) Akar menyerap
+ ¿¿
2+¿ , danNH 4 ¿
2+ ¿, Mg
unsur hara katio ( K +¿ ,Ca ) dengan mengeluarkan H +¿¿ dalam jumlah yang
¿
¿

setara (2) Ketika akar menyerap unsur hara dalam anion ¿ ¿) akan dikeluarkan
HCO 3−¿¿ dengan jumlah yang setara[4].
Gangunan mekanisme penyerapan dapat mengganggu penyerapan unsur
hara dari pupuk organik cair daun lamtoro. Hal ini berakibat pada kekurangan
nutrisi yang dialami tanaman, sehingga produksivitas tanaman bayam merah dapat
menurun.

9
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian experimental ini dillaksanakan selama 2 minggu, mulai tanggal
29 Oktober – 12 November 2020, terhitung sejak persiapan tanaman hingga
pengambilan data selesai. Penelitian dilaksanakan di pekarangan rumah Saudara
Nadya, Desa Ngubalan, Kabupaten Tulungagung.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian


Penelitian ini menggunakan beberapa alat dan bahan yang perlu
disiapakan. Bahan yang digunakan dalam penelitian experimental ini adalah benih
bayam merah, tanah, air, dan daun lamtoro segar.
Alat yang digunakan dalam penelitian experimental ini adalah gelas ukur,
pisau, benang, penggaris, neraca, wadah plastik, penghalus, saringan, tisu, alat
tulis, dan polybag ukuran 8×9cm.

3.3 Prosedur Penelitian


Kegiatan penelitian yang dilaksanakan, yaitu:

3.3.1 Persiapan Media Tanam


Media tanam yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah dari Kebun
Biologi Universitas Negeri Malang. Tanah dari Kebun Biologi Universitas Negeri
Malang merupakan jenis tanah humus yang tidak berpasir. Komponen media
tanam dalam penelitian ini adalah tanah yang diletakkan dalam polybag sebagai
tempat tumbuh tanaman, tanpa campuran pupuk eksternal

3.3.2 Persiapan Tanaman


Persiapan tanaman dilakukan dengan menanam bibit bayam merah
(Amaranthus tricolor L.) pada media tanam yang telah disiapkan. Masing-masing
bibit bayan merah ditanam dalam media tanam

10
3.3.3 Persiapan Pupuk Tanaman
Pupuk organik cair daun lamtoro (Leucaena leucocephala) (POC daun
lamtoro) dibuat dalam berbagai konsentrasi, yaitu 0%, 5 %, 10%, 15%, dan 20%.
Pembuatan POC daun lamtoro diawali dengan menimbang daun lamtoro yang
masih basah masing-masing 5g, 10g, 15g, dan 20g. Kemudian, masing-masing
berat basah daun lamtoro tersebut ditumbuk dan dilarutkan dalam 100 ml air.
Setelah dilarutkan dalam 100 ml air, campuran daun lamtoro dan air tersebut
disaring sehingga hanya menyisakan sari daun lamtoro sebagai POC daun lamtoro
yang akan diujicobakan pada tanaman bayam merah (Amaranthus tricolor L.)

3.3.4 Pemberian Pupuk pada Tanaman


POC daun lamtoro yang telah disiapkan dalam berbagai konsentrasi
diujicobakan pada masing-masing tanaman bayam merah (Amaranthus tricolor
L.). Pemberian POC daun lamtoro dalam konsentrasi yang berbeda dilakukan dua
hari sekali pada masing-masing tanaman bayam merah. Pemberian POC daun
lamtoro ini dilakukan saat pukul sepuluh pagi hari. Proses pemberian POC daun
lamtoro pada tanaman bayam merah dilakukan selama empat belas sat hari (dua
minggu)

3.3.5 Pengukuran Parameter Tanaman


Parameter yang digunakan pada penelitian ini adalah pertambahan tinggi
tanaman bayam merah. Pengukuran parameter ini dilakukan dalam dua hari sekali
selama empat belas hari. Sehingga peneliti mendapatkan tujuh data dalam
penelitian ini. Dalam setiap pengamatan pertambahan tinggi tanaman bayam
merah (Amaranthus tricolor L.) dan jumlah daunnya.

3.4 Rancangan Penelitian


Penelitian ini menggunakan Analisis Varian Tunggal dalam Rancangan
Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan lima perlakuan, yaitu:
L0 = POC Daun Lamtoro Konsentrasi 0% (Kontrol)
L1 = POC Daun Lamtoro Konsentrasi 5%
L2 = POC Daun Lamtoro Konsentrasi 10%

11
L2 = POC Daun Lamtoro Konsentrasi 15%
L3 = POC Daun Lamtoro Konsentrasi 20%
Dari lima perlakuan tersebut dilakukan sebanyak empat ulangan, sehingga
dibutuhkan dua puluh petak percobaan dalam penelitian ini. Variabel pengamatan
parameter pertumbuhan (tinggi dan jumlah daun tanaman bayam merah)
dilakukan setiap dua hari sekali bersamaan dengan pemberian pupuk.

3.5 Analisis Data Penelitian


Analisis data dilakukan dengan menggunakan Analisi Sidik Ragam (uji F)
atau disebut juga sebagai Analisis Varian Tunggal sesuai dengan perlakuan yang
digunakan, yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Apabila hasil analisis data
menunjukan adanya pengaruh yang berbeda nyata, maka akan dilakukan uji lanjut
BNT taraf 5%. Sedangkan jumalah daun menggunakan uji non-parametrik
Kruskal wallis.

12
BAB IV
HASIL ANALISIS

4.1 Pertumbuhan Tinggi Tanaman Bayam Merah


Tinggi tanaman bayam merah diukur selama dua kali sehari bersama
dengan penyiraman pupuk selama dua minggu, yaitu dimulai pada tanggal 29
Oktober sampai 12 November. Pengukuran tinggi tanaman bayam merah tersebut
dilakukan dengan mistar dan diperoleh urutan rerata pengukuran tertinggi sampai
terendah, yaitu perlakukan 10%, 15%, 5%, 0%, dan 20%. Berdasarkan hasil uji
distribusi frekuensi yang terdapat pada Tabel 4.1, rerata pertumbuhan tinggi
tanaman bayam tertinggi adalah tanaman dengan perlakuan 10% dengan rata-rata
tinggi tanaman 2,7786 cm, sedangkan rerata pertumbuhan tinggi tanaman bayam
terendah terdapat padat perlakuan 20%, yaitu 2,3014.
Setelah diketahui rerata dari tinggi tanaman bayam, analisis data
dilanjutkan pada Uji Normalitas dan Homogenitas dengan menggunakan aplikasi
SPSS versi 25.0. Berdasarkan analisis data SPSS versi 25.0 dengan uji Normalitas
menunjukan bahwa populasi data berasal dari populasi berdistribusi normal yang
menunjukkan nilai taraf signifikan dari kelima perlakuan > 0,05 seperti yang
terdapat pada Tabel 4.2.
Setelah dilakukan uji normalitas, uji yang dilakukan selanjutnya adalah uji
homogenitas. Tests homogeneity of variances menunjukkan nilai taraf
signifikannya > 0,05, yaitu sebesar 0,431. Hasil uji homogenitas terdapat pada
Tabel 4.3. Berdasarkan uji homogenitas, didapatkan nilai taraf signifikan> 0,05,
sehingga dapat diasumsikan bahawa keempat varian populasi adalah homogen.
Dengan data tersebut diketahui bahwa data penelitian ini memenuhi syarat untuk
dilakukan uji Anova, yaitu data memiliki sebaran yang normal dan homogen.

Uji anova dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh data F hitung (0,779) < F
tabel (α: 0,05= 2,69) jadi hipotesis nol (H0) diterima dan (H1) ditolak, sehingga
tidak dilakukan uji lanjut karena variasi perlakukan tidak memberikan pengaruh

13
signifikan terhadap pertambahan tinggi tanaman bayam merah. Hasil uji anova
tinggi tanaman bayam merah terdapat pada Tabel 4.4.
4.2 Pertumbuhan Jumlah Daun Tanaman Bayam Merah
Jumlah daun tanaman bayam merah diukur selama dua kali sehari bersama
dengan penyiraman pupuk selama dua minggu, yaitu dimulai pada tanggal 29
Oktober sampai 12 November. Pengukuran jumlah daun tanaman bayam merah
diperoleh urutan rerata pengukuran tertinggi sampai terendah, yaitu perlakukan
10%, 15%, 5%, 0%, dan 20% . Berdasarkan distribusi frekuensi pada Tabel 4.5,
dapat diketahui rerata jumlah daun terbanyak adalah pada konsentrasi 5% yaitu
3,3182 dan rerata jumlah daun paling sedikit adalah konsentrasi 0% 2,8636.
Berdasarkan urutan rerata pada Tabel 4.6, dapat diketahui Mean Rank atau rerata
rangking berdasarkan jumlah daun terbanyak adalah pada konsentrasi 5% yaitu
31,55 dan rerata rangking jumlah daun paling sedikit adalah konsentrasi 0% yaitu
23,64.
Selanjutnya dilakukan uji kurskal wallis untuk mengetahui adanya
pengaruh pemupukan terhadap jumlah daun tanaman bayam merah. Hasil uji
kurskal wallis terdapat pada Tabel 4.7. Berdasarkan uji kurskal wallis, nilai
signifikansi yang diperoleh sebesar 0,735 (p<0,05). Dengan demikian dapat
ditarik kesimpulan bahwa tidak terdapat pengaruh konsentrasi terhadap jumlah
daun.

14
BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Pertumbuhan Tinggi Tanaman Bayam Merah

Tinggi tanaman merupakan salah satu indeks pertumbuhan sebagai wujud


dari pembelahan dan pembesaran sel yang dapat diukur karena bersifat kuantitatif
[6]. Pembelahan dan pembesaran sel terkait tinggi tanaman dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti faktor lingkungan, fisiologi, agregrat, dan genetik. Faktor
lingkungan salah satunya yaitu terkait ketersediaan unsur hara di tanah yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan dari tinggi tanaman.
Pada penelitian ini faktor lingkungan digunakan sebagai tolak ukur dalam
pertumbuhan tinggi tanaman bayam, yaitu dengan memeberikan variasi perlakuan
pemupukan untuk menguji konsetrasi pupuk yang tepat dalam mensuplai
ketersediaan unsur hara untuk pertumbuhan, khususnya pertumbuhan tinggi dari
tanaman bayam merah. Variasi perlakuan tersebut berupa pemberian konsentrasi
pupuk organik cair daun lamtoro yang berbeda-beda, yaitu konsetrasi 0%, 5%,
10%, 15%, dan 20%.
Hasil yang diperoleh dari perhitungan statistika, yaitu Uji Anova
menunjukkan nilai F hitung (0,779) < F tabel (α: 0,05= 2,69), sehingga variasi
perlakukan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pertambahan tinggi
tanaman bayam merah yang menyebabkan belum diketahui konsentrasi pupuk
organik cair daun lamtoro yang tepat untuk pertumbuhan tinggi tanaman bayam
merah. Jika dilihat dari rerata pertumbuhan tinggi tanaman diperoleh urutan dari
tertinggi ke terendah sebagai berikut: perlakukan 10%, 15%, 5%, 0%, dan 20%.
Hasil yang tidak berpengaruh tersebut bukan berarti pupuk organik cair
daun lamtoro tidak bermanfaat pada pertumbuhan tanaman. Menurut [15]
kekurangan unsur hara pada tanaman akan memperlambat bahkan membuat kerdil
tanaman. Hal ini terbukti pada pertumbuhan tanaman perlakuan 0% yang seiring
waktu pertambahan tingginya akan melambat dan menjadi kerdil. Pada
pengukuran selama 2 minggu ini pengkerdilan tanaman masih belum terlihat dari

15
tanaman dengan perlakuan 0% sehingga rerata pertumbuhan tingginya masih
menempati urutan ke-4 dengan perkembangan yang lambat. Namun, untuk
visualisasi tanaman setelah dua minggu di luar pengukuran tanaman terlihat
paling kerdil diantara tanaman yang lainnya sehingga pemberian pupuk ini tetap
bermanfaat untuk tanaman walaupun pengaruh perlakuan pada penelitian ini tidak
signifikan.
Tanaman dengan perlakuan 20% menunjukkan pertumbuhan yang berbeda
juga dari tanaman yang tidak diberi pupuk sama sekali. Kelebihan unsur hara pada
tanaman dengan perlakuan 20% ini menyebabkan biji berkecambah lebih lambat
dan tanaman tidak tumbuh dengan baik dilihat dari rerata tinggi yang dimiliki
yaitu terletak pada urutan paling terakhir selama 2 minggu pengukuran. Untuk
kondisi saat ini tanaman dengan perlakuan 20% telah mati terlebih dahulu.
Menurut [15] kadar pupuk yang berlebih dapat menyebabkan penumpukan zat
hara yang berakibat pada perubahan morfologi. Sedangkan pada perlakuan 5%
rerata tingginya paling tinggi diantara perlakuan lainnya. Untuk urutan kedua
ditempati oleh perlakuan 10%.
Namun, pemberian perlakuan tersebut memang tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman bayam merah. Pada penelitian
yang lain, telah dibuktikan bahwa pupuk organik cair daun lamtoro konsentrasi
10% efisen untuk meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah
buah pertanaman tomat [7]. Selain itu, hasil penelitian yang lain juga
menunjukkan pupuk cair daun lamtoro konsentrasi 10% paling efektif dalam
meningkatkan jumlah daun, berat basah, dan berat kering tanaman sawi
caisium[8].
Pada penelitian ini, variais konsetrasi pupuk organik cair daun lamtoro
yang tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman bayam dapat
disebabkan oleh beberapa faktor internal dan eksternal, yaitu lingkungan,
fisiologi, dan genetik. Salah satu contohnya adalah intensitas cahaya. Penelitian
ini tidak dilakukan ditempat khusus seperti rumah kaca, melainkan hanya di
halam rumah peneliti. Pada pelaksaan penelitian ini diikuti dengan keaadaan
cuaca yang cukup terik di daerah Tulungagung sehingga tanaman bayam
mendapatkan intensitas cahaya yang berlebihan.

16
Intesitas cahaya yang berlebih di Tulungagung dapat menghambat kerja
salah satu hormon yang berperan dalam pertumbuhan tinggi tanaman bayam
merah, yaitu hormone auksin. Menurut [6] hormone auksin berperan dalam
memacu proses pemanjangan sel pada tumbuhan dan intesitas cahaya yang tinggi
dapat membuat kinerja hormone tersebut tidak aktif. Sehingga pada penelitian ini
variasi konsetrasi pupuk tidak berpengaruh pada pertumbuhan tinggi tananaman
dapat disimpulkan sebagai akibat dari faktor internal, yaitu hormone. Pengujian
pupuk organik cair daun lamtoro juga tidak berpengaru pada penelitian tanaman
sawi pakcoy akibat intensitas cahaya yang tinggi [6].

5.2 Jumlah Dauh Tanaman Bayam Merah


Jumlah daun tanaman merupakan salah satu indeks pertumbuhan sebagai
wujud dari pembelahan dan pembesaran sel yang dapat diukur karena bersifat
kuantitatif [6]. Daun menjadi indikator pertumbuhan tanaman karena
menunjukkan bahwa tanaman tersebut dapat melakukan proses kehidupannya
dengan baik karena fungsi daun yang sangat penting bagi tanaman
Pada penelitian ini faktor lingkungan digunakan sebagai tolak ukur dalam
pertumbuhan tinggi tanaman bayam, yaitu dengan memeberikan variasi perlakuan
pemupukan untuk menguji konsetrasi pupuk yang tepat dalam memberikan
ketersediaan unsur hara untuk pertumbuhan, khususnya pertumbuhan tinggi dari
tanaman bayam merah. Variasi perlakuan tersebut berupa pemberian konsentrasi
pupuk organik cair daun lamtoro yang berbeda-beda, yaitu konsetrasi 0%, 5%,
10%, 15%, dan 20%.
Hasil yang diperoleh dari perhitungan statistika, yaitu uji kurskal wallis
menunjukkan tidak adanya pengaruh pemupukan terhadap jumlah daun tanaman
bayam merah. Berdasarkan uji kurskal wallis, nilai signifikansi yang diperoleh
sebesar 0,735 (p<0,05), sehingga variasi perlakukan tidak memberikan pengaruh
signifikan terhadap pertambahan tinggi tanaman bayam merah yang menyebabkan
belum diketahui konsentrasi pupuk organik cair daun lamtoro yang tepat untuk
pertumbuhan tinggi tanaman bayam merah.
Pemberian perlakuan tersebut memang tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap jumlah daun tanaman bayam merah. Pada penelitian yang lain, telah

17
dibuktikan bahwa pupuk organik cair daun lamtoro konsentrasi 10% efisen untuk
meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah buah pertanaman
tomat [7]. Selain itu, hasil penelitian yang lain juga menunjukkan pupuk cair daun
lamtoro konsentrasi 10% paling efektif dalam meningkatkan jumlah daun, berat
basah, dan berat kering tanaman sawi caisium[8].
Pada penelitian ini, variais konsetrasi pupuk organik cair daun lamtoro
yang tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman bayam dapat
disebabkan oleh beberapa faktor internal dan eksternal, yaitu lingkungan,
fisiologi, dan genetik. Salah satu contohnya adalah intensitas cahaya. Penelitian
ini tidak dilakukan ditempat khusus seperti rumah kaca, melainkan hanya di
halam rumah peneliti. Pada pelaksaan penelitian ini diikuti dengan keadaan cuaca
yang cukup terik di daerah Tulungagung sehingga tanaman bayam mendapatkan
intensitas cahaya yang berlebihan.

18
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan, dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1. Uji Anova menunjukkan nilai F hitung (0,779) < F tabel (α: 0,05= 2,69),
sehingga penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) daun lamtoro tidak
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman bayam
merah, Amaranthus tricolor L.
2. Hasil uji kurskal wallis nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,735
(p<0,05), penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) daun lamtoro tidak
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap jumlah daun tanaman
bayam merah, Amaranthus tricolor L.
5.2 Saran
Pengujian pengaruh pupuk seperti pupuk organik cair daun lamtoro
maupun jenis pupuk lain sebaiknya dilakukan di tempat yang benar-benar dapat
dikontrol dengan baik seperti rumah kaca agar keakuratan dari penelitian lebih
tinggi. Benih yang digunakan usahakan benih yang masih baru agar ketika
penyemaian biji dapat berkecambah dengan baik. Selain itu, senantiasa sabar dan
ulet dalam melakukan penelitian apapun.

19
DAFTAR RUJUKAN

[1] H. La Kamisi, “Analisis Usaha Tani Bayam (Studi Kasus di Kelurahan


Sasa Kecamatan Ternate Selatan Kota Ternate),” Agrikan J. Ilm. Agribisnis
dan Perikan., vol. 6, no. 1, p. 58, Mei 2013, doi: 10.29239/j.agrikan.6.1.58-
63.
[2] S. H. Agil, R. Linda, and Rafdinal, “Pengaruh Konsentrasi Biourin Kelinci
Terhadap Pertumbuhan,” Protobiont., vol. 8, no. 2, pp. 17–23, 2019.
[3] A. Simanjuntak, R. R. Rosanty, and E. Purba, "Respon Pertumbuhan dan
Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) terhadap Pemberian
Pupuk NPK dan Kompos Kulit Buah Kopi, " Jurnal Online
Agroekoteknologi ., Vol.1, No.4, September 2013 ISSN No. 2337-,” vol. 1,
no. 4, pp. 1444–1452, 2013.
[4] R. Zuliyati, “Pengaruh Penambahan Daun Lamtoro terhadap Kualitas
Kompos Kertas-Lamtoro dan Pemanfaatannya terhadap Pertumbuhan
Tanaman Bayam Merah,” LenteraBio Berk. Ilm. Biol., vol. 2, no. 1, pp.
149–154, 2013.
[5] W. Hartatik, Husnain, and L. R. Widowati, “Peranan Pupuk Organik dalam
Peningkatan Produktivitas Tanah dan Tanaman,” Peran Pupuk Organik
dalam Peningkatan Produktivitas Tanah dan Tanam., vol. 9, no. 2, pp.
107–120, 2015, doi: 10.2018/jsdl.v9i2.6600.
[6] A. A. Roidi, “Pengaruh Pemberian Pupuk Cair Daun Lamtoro (Leucaena
leucocephala) terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Sawi
Pakcoy (Brasicca chinensis L.),” Pertanian, p. 137, 2016, [Online].
Available: https://repository.usd.ac.id/8151/2/121434023_full.pdf.
[7] T. Septirosya, R. H. Putri, and T. Aulawi, “Aplikasi Pupuk Organik Cair
Lamtoro Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat,” AGROSCRIPT J.

20
Appl. Agric. Sci., vol. 1, no. 1, 2019, doi: 10.36423/agroscript.v1i1.185.
[8] M. I. Pozo and H. Jacquemyn, “Addition of Pollen Increases Growth of
Nectar-living Yeasts,” FEMS Microbiol. Lett., vol. 366, no. 15, pp. 1–5,
2019, doi: 10.1093/femsle/fnz191.
[9] T. Setiawati, F. Rahmawati, and T. Supriatun, “Pertumbuhan Tanaman
Bayam Cabut ( Amaranthus tricolor L .) dengan Aplikasi Pupuk Organik
Kascing dan Mulsa Serasah Daun Bambu,” Jurnal Ilmu Dasar.,vol. 19, no.
1, pp. 37–44, 2018.
[10] T. Meirina, S. Darmanti, and S. Haryanti, “Produktivitas Kedelai (Glycine
max (L.) Merril var. Lokon) yang Diperlakukan dengan Pupuk Organik
Cair Lengkap pada Dosis dan Waktu Pemupukan yang Berbeda,” Produkt.
KEDELAI (Glycine max Merril var. Lokon) YANG DIPERLAKUKAN
DENGAN PUPUK ORGANIK CAIR LENGKAP PADA DOSIS DAN
WAKTU PEMUPUKAN YANG BERBEDA, vol. 17, no. 2, 2009, doi:
10.14710/baf.v17i2.2559.
[11] F. Oviyanti and N. Hidayah, “PENGARUH PEMBERIAN PUPUK
ORGANIK CAIR DAUN GAMAL (Gliricidia sepium (Jacq.) Kunth ex
Walp.) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI (Brassica
juncea L.),” J. Biota, vol. 2, no. 1, pp. 61–67, 2016.
[12] H. Karamina, E. Indawan, A. T. Murti, and T. Mujoko, “Respons
pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun terhadap aplikasi pupuk NPK
dan pupuk organik cair kaya fosfat,” Kultivasi, vol. 19, no. 2, pp. 1150–
1155, 2020, doi: 10.24198/kultivasi.v19i2.26316.
[13] S. Brassica et al., “TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL
TANAMAN,” vol. XIII, no. 1, pp. 33–40, 2014.
[14] O. Hidayat and A. Suharyana, “Pengaruh Dosis Pupuk Organik Cair Daun
Lamtoro terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa
l.) Varietas Nauli-F1,” Paspalum J. Ilm. Pertan., vol. 7, no. 2, p. 57, 2019,
doi: 10.35138/paspalum.v7i2.118.

21
LAMPIRAN

Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian Pengaruh Pupuk Organik Cair


(POC) Daun Lamtoro terhadap Pertumbuhan Bayam
Merah (Amaranthus tricolor L.)

Gambar 1. Tanah Gambar 2. Persipan Pupuk


dimasukan ke dalam 20 Organik Cair Daun Lamtoro (0 %,
polybag (Sumber: Dok. 5%, 10%, 15%, 20%) (Sumber:
Pribadi, 2020) Dok. Pribadi, 2020)

Gambar 3. Penyemaian Gambar 4. Bayam Merah


Biji Bayam Merah Tanggal 31 Oktober 2020
(Sumber: Dok. Pribadi, (Sumber: Dok. Pribadi,
2020) 2020)

22
Gambar 5. Bayam Merah Gambar 6 Bayam Merah
Tanggal 2 November 2020 Tanggal 4 November 2020
LAMPIRAN
(Sumber: Dok. Pribadi, (Sumber: Dok. Pribadi,
2020) 2020)Organik Cair
Lampiran 2. Dokumentasi Penelitian Pengaruh Pupuk
(POC) Daun Lamtoro terhadap Pertumbuhan Bayam
Merah (Amaranthus tricolor L.)

Gambar 7. Bayam Merah Gambar 8. Bayam Merah


Tanggal 6 November 2020 Tanggal 8 November 2020
(Sumber: Dok. Pribadi, (Sumber: Dok. Pribadi,
2020) 2020)

Gambar 9. Bayam Merah Gambar 11. Bayam Merah


Tanggal 10 November 2020 Tanggal 12 November 2020
(Sumber: Dok. Pribadi, (Sumber: Dok. Pribadi,
2020) 2020)

23
LAMIPRAN

Lampiran 3. Perhitungan Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Daun Lamtoro


terhadap Tinggi Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.)

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Tinggi Tanaman Bayam Merah


95% Confidence Interval for
Std. Mean
N Mean Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maximum
0% 7 2.4457 .28924 .10932 2.1782 2.7132 2.03 2.83
5% 7 2.5071 .49752 .18804 2.0470 2.9673 1.60 3.08
10% 7 2.7786 .64875 .24521 2.1786 3.3786 1.58 3.38
15% 7 2.6100 .69287 .26188 1.9692 3.2508 1.28 3.18
20% 7 2.3014 .45429 .17171 1.8813 2.7216 1.45 2.70
Total 35 2.5286 .52936 .08948 2.3467 2.7104 1.28 3.38

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas pada Tinggi Tanaman Bayam Merah
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Perlakuan Statistic df Sig. Statistic df Sig.
*
Rerata 0% .132 7 .200 .972 7 .910
*
5% .153 7 .200 .947 7 .700
10% .209 7 .200* .884 7 .245
15% .211 7 .200* .844 7 .108
*
20% .194 7 .200 .872 7 .195

Tabel 4.3 Hasil Uji Homogenitas Tinggi Tanaman Bayam Merah


Levene Statistic df1 df2 Sig.
Rerata Based on Mean .984 4 30 .431

24
Based on Median .688 4 30 .606
Based on Median and with .688 4 22.493 .608
adjusted df
Based on trimmed mean .905 4 30 .474

LAMPIRAN

Lampiran 3. Hasil Uji ANOVA Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Daun
Lamtoro terhadap Tinggi Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.)

Tabel 4.4 Hasil Uji Anova Tinggi Tanaman Bayam Merah


Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups .896 4 .224 .779 .548
Within Groups 8.631 30 .288
Total 9.527 34

25
LAMIPRAN

Lampiran 4. Perhitungan Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Daun Lamtoro


terhadap Tinggi Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.)

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Jumlah Daun Tanaman Bayam Merah

95% Confidence Interval for


Mean

Std. Std. Lower Upper Minimu Maximu


N Mean Deviation Error Bound Bound m m

0% 1 2.863
.88997 .26834 2.2657 3.4615 2.00 4.75
1 6
5% 1 3.318
1.29466 .39035 2.4484 4.1879 2.00 5.50
1 2
10 1 3.181
1.06120 .31996 2.4689 3.8947 2.00 4.75
% 1 8
15 1 2.977
.89760 .27064 2.3743 3.5803 2.00 4.50
% 1 3
20 1 3.250
1.23996 .37386 2.4170 4.0830 2.00 5.00
% 1 0
Total 5 3.118
1.06268 .14329 2.8309 3.4055 2.00 5.50
5 2

Tabel 4.6 Urutan Rerata (Mean Rank) Jumlah Daun Tanaman Bayam Merah

Konsentrasi N Mean Rank

Jumlah_Daun 0% 11 23.64

5% 11 31.55

10 % 11 28.82

15 % 11 25.59

26
20 % 11 30.41

Total 55

Tabel 4.7 Uji Kurskal Wallis Jumlah Daun Tanaman Bayam Merah

Jumlah_Daun

Chi-Square 2.003
df 4
Asymp. Sig. .735

RIWAYAT HIDUP

Nadya Rosma Anggi Cinta Kumala dilahirkan di Kabupaten Sragen


pada tanggal 08 Juni 2000, anak pertama dari dua bersaudara, pasangan Bapak
Imam Patoni dan Ibu Suwarsi. Pendidikan menengah ditempuh di SMA Negeri 1
Kedungwaru dan selesai pada tahun 2019. Selanjutnya penulis melanjutkan studi
ke jenjang sarjana pada program studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri
Malang. Semasa menjadi mahasiswa , penulis aktif dalam kegiatan dikampus.

Risza Nuril Samsiyah dilahirkan di Kediri pada tanggal 12 Juli 2000,


anak ketiga dari tiga bersaudara, pasangan Bapak Moch. Munir dan Ibu Ponisih.
Pendidikan Sekolah Dasar (SD) ditempuh di SDN Wanengpaten dan tamat SD
pada tahun 2012. Pendidikan Menengah Pertama ditempuh di SMPN 1
Gampengrejo dan tamat pada tahun 2015. Selanjutnya, penulis menempuh
pendidikan di SMAN 2 Pare dan tamat pada tahun 2018. Pada tahun 2019, penulis
melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Malang pada Program Studi
Pendidikan Biologi. Selain menjadi mahasiswa, penulis juga merupakan santri di
Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Pada tahun 2020, penulis mendapatkan

27
amanah menjadi Majelis Santri 2020/2021 pada Departemen Peribadatan. Saat ini,
penulis aktif dalam Forum Kajian Fiqih (FORKAFI) Lembaga Tinggi Pesantren
Luhur Malang pada Divisi Sorogan. Penulis juga aktif menjadi sekretaris Luhur
Language Club (LLC), dan menjadi Sie Humas dalam organisasi daerah, Barisan
Nganjuk Kediri Trenggalek Tulungagung (BANGKITT).

Sebastianus Tewa dilahirkan di Umar Arerau pada tanggal 21 Oktober


1999, anak pertama dari dua bersaudara, pasangan Bapak Agustinus Tewa dan Ibu
Klasina Timakonama. Pendidikan Menengah ditempuh di SMK Negeri 5
Perikanan dan Kelautan Mimika dan selesai pada tahun 2018. Selanjutnya penulis
melanjutkan studi ke jenjang sarjana pada program studi S1 Pendidikan Biologi
Universitas Negeri Malang. Semasa menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam
kegiatan kampus.

28